HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label I. Show all posts
Showing posts with label I. Show all posts

Irene Zubaida Khan : Irene Khan, Pendekar HAM dan Mosaik Kehidupan

Jun 28, 2009
Irene Khan, Pendekar HAM dan Mosaik Kehidupan
Oleh : Simon Saragih

PELANGGARAN hak asasi manusia oleh tentara AS di Guantanamo, Kuba, dan penjara Abu Ghraib, Irak, menjadi salah satu kecaman dalam laporan Amnesti Internasional yang diluncurkan pada 25 Mei lalu di London. Sekjen Amnesti Internasional Irene Zubaida Khan membacakan sendiri ringkasan laporan itu.

SIAPA itu Khan? Ia adalah Sekjen Amnesti Internasional (AI) ketujuh yang mulai menjabat pada Agustus 2001. Dia adalah wanita Asia dan Muslimah pertama yang menjadi Sekjen AI. Ia lahir pada 1958 di Dhaka, ketika Banglades masih menjadi wilayah timur Pakistan.

Lahir dari keluarga relatif makmur yang tinggal di lingkungan miskin dan porak-poranda oleh perang sipil ketika Banglades berada di bawah Pemerintahan Pakistan, jalan hidupnya berperan besar membuatnya mengapresiasi keanekaragaman anutan manusia.

Khan mengatakan, ibunya melahirkan tiga putri, di lingkungan yang mendambakan anak lelaki. Ibunya ingin membuktikan tidak ada perbedaan antara wanita dan pria. Ibunya yakin, jika diberi kesempatan, wanita bisa melakukan yang terbaik sebagaimana halnya pria.

Ia keturunan dari kakek yang seorang pengacara lulusan Cambridge University di Inggris dan ayah yang seorang dokter.

"Jadi saya hidup di keluarga yang berpandangan liberal, dikombinasikan dengan nilai tradisional. Kombinasi itu begitu mengharukan," kata Khan.

Dari garis ibu, ia adalah keturunan ulama asal Irak. Khan menikah secara Islam dengan pria non-Muslim kelahiran Jerman, seorang ekonom.

Ia dididik oleh suster-suster Katolik, sebagaimana semua gadis Muslim dan Hindu yang mumpuni.

Sikap untuk memerhatikan nasib orang lain terbentuk ketika terjadi sektarianisme di Pakistan.

"Saya memiliki teman wanita Hindu yang kehilangan ayahnya karena ditembak tentara Pakistan. Ketika itu saya berusia 13 tahun, hal itu membuat saya terkejut dan terus membayangi hidup," kata Khan. "Saya tidak bisa membedakan mereka karena mereka adalah teman-teman saya dan tidak pernah bisa menganggap mereka sebagai Hindu."

Ketika terjadi konflik SARA, ayahnya menutup toko-tokonya yang disewa oleh orang Hindu agar tidak diserang tentara Pakistan dengan geng yang dibentuk untuk merusak aset-aset milik Hindu.

"Saya Muslim, itu milik saya, Anda tidak bisa menciduk mereka," ujar Khan mengenang ayahnya saat berhadapan dengan tentara Pakistan. "Hal itu sangat berkesan dan tertanam dalam di benak saya. Saya menyadari bahwa kita bisa berdiri tegak menentang kezaliman dan melakukan hal yang baik."

Tidak betah dengan perang sipil, dia pergi ke Irlandia Utara. Di sana ia juga melihat gerakan sektarian, di mana penganut Protestan dan Katolik berseteru.

Di Irlandia, selagi berwisata dari Kilkeel ke Dublin, ada seorang pria memasuki bus yang mereka tumpangi.

"Saya ditanya bersekolah di mana. Saya jawab di St Louis. Pria itu mengatakan, oh, Anda Katolik! Saya menjawab: Tidak! Pria itu mengatakan, kalau begitu Anda Protestan? saya jawab lagi, tidak! Pria itu bertanya, apa agama Anda? Saya jawab, saya Muslim! Lalu pria itu menanyakan apakah saya Muslim Protestan atau Muslim Katolik?" demikian Khan bercerita soal pengalaman hidupnya.

"Jadi Anda bisa membayangkan, kita harus ada di kubu teman atau lawan, padahal saya tidak ada di antara keduanya. Saudari saya belajar di sekolah Protestan. Saya melihat sisi lain Irlandia Utara dan dia melihat sisi lain Irlandia Utara, lalu kami membandingkan catatan. Mengharukan untuk berdiri di satu sisi dan mengamati negara indah itu (Irlandia) harus tercabik-cabik oleh gerakan sektarian," katanya.

LEPAS dari hiruk-pikuk kehidupan itu, ia belajar di University of Manchester, Inggris, dan Harvard Law School, AS, dengan spesialisasi hukum publik internasional dan HAM. Setelah itu ia tertarik bekerja langsung dengan orang untuk mengubah hidup mereka dan membentuk organisasi Concern Universal pada 1977 dan menjadi aktivis HAM dengan bekerja di International Commission of Jurists pada 1979.

Setelah itu ia bergabung dengan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada 1980, dan bekerja dengan berbagai posisi di markas UNHCR dan di lapangan untuk melindungi pengungsian internasional.

Pada 1991-1995 Khan adalah Senior Executive Officer untuk Sadako Ogata, saat itu Komisaris Ketua UNHCR. Lalu ia diangkat sebagai Kepala Misi UNHCR di India pada 1995, perwakilan termuda saat itu, dan pada 1998 mengepalai UNHCR Centre for Research and Documentation.

Dia memimpin tim UNHCR di eks negara bagian Yugoslavia, Macedonia, saat terjadi krisis Kosovo pada 1999, dan diangkat sebagai Deputi Direktur Perlindungan Internasional UNHCR pada 2000.

Setelah itu ia menjadi Sekjen AI. Pada tahun pertama jabatannya, Khan mereformasi AI sehingga bisa memberi respons krisis kemanusiaan dan memimpin misi ke Pakistan saat terjadi pengeboman AS di Afganistan. Ia juga mengunjungi Israel dan Palestina yang diduduki setelah Israel menduduki Jenin dan mengunjungi Kolombia sebelum pemilu presiden pada Mei 2003.

Dia sangat memerhatikan pelecehan atas wanita dan menyerukan perlindungan yang lebih baik terhadap wanita saat bertemu dengan Presiden Pakistan Pervez Musharraf dan Presiden Lebanon Emile Lahoud serta Perdana Menteri Banglades Khaleda Zia.

Dia memulai sebuah proses konsultasi dengan para wanita aktivis untuk merancang kampanye AI atas tindak kekerasan atas wanita.

Khan sangat memerhatikan pelanggaran HAM yang dicoba ditutup-ditutupi. Di Australia, ia meniupkan isu soal pengungsi yang sengsara. Di Burundi, ia bertemu dengan para korban pembantaian dan mendesak Presiden Pierre Buyoya dan pihak lainnya untuk mengakhiri konflik dan pelanggaran HAM. Di Bulgaria, ia memimpin kampanye untuk mengakhiri diskriminasi atas para warga yang memiliki keterbelakangan mental. Atas karyanya, Khan menerima berbagai penghargaan seperti Ford Foundation Fellowship dan Pilkington "Woman of the Year" Award 2002.

Irene Khan hampir menghabiskan seluruh hidupnya sebagai seorang aktivis HAM. AI memiliki 1,8 juta anggota dari 77 negara.

"Jadi kita memiliki warga dengan segala jenis iman, warna, kepercayaan, dan kelas," katanya. (SIMON SARAGIH)

Sumber : Kompas, Rabu, 1 Juni 2005
Read Full 0 comments

Irdika Mansur : Selamatkan Jati Muna Unggul dari Kepunahan

Jun 26, 2009
Selamatkan Jati Muna Unggul dari Kepunahan
Oleh : FX Puniman

Kerusakan hutan di Indonesia kini sudah mencapai tingkatan luar biasa. Bayangkan, tak kurang dari 2,8 juta hektar per tahun atau setara enam lapangan sepak bola per menit. Seiring dengan kerusakan hutan, ikut hilang pula spesies pohon hutan, khususnya pohon komersial.

Kerusakan luar biasa ini tentu saja membuat khawatir kalangan rimbawan, seperti halnya Dr Ir Irdika Mansur, Ketua Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

”Kita semua, terutama kalangan rimbawan, khawatir akan kepunahan spesies pohon hutan unggul seperti yang terjadi di Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Karena itu harus diselamatkan sebelum punah,” kata pria kelahiran Manokwari, Papua, 23 Mei 1966, anak pertama dari enam bersaudara pasangan Dachlan Soekemiatmodjo (kini guru di Pusat Pendidikan Perhutani di Madiun) dan Kusmiatun ini.

Hutan jati di Sulawesi Tenggara , menurut Irdika, yang ditemui Kompas, Selasa (5/7) di Kampus Fakultas Kehutanan IPB di Darmaga, Kabupaten Bogor, (mengutip keterangan Menteri Kehutanan MS Kaban), semula seluas 70.000 hektar kini tinggal 100-an hektar.

”Sultra, khususnya Kabupaten Muna, adalah tempat penyebaran jati terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa. Jati dari Sultra dikenal dengan sebutan jati muna. Di Provinsi Sultra, jati tersebar di Kabupaten Konawe Selatan (daerah Ewa), Kabupatan Muna (di daerah Raha, Matakidi, dan Wukuru), serta Kabupaten Buton (daerah Sampolawa). Dengan tempat tumbuh yang kurang subur dan curah hujan yang rendah membuat kayu jati muna dari daerah ini tampak lebih gelap dan lebih indah nilai dekoratifnya dibandingkan dengan kayu jati jawa,” kata Irdika, yang meraih sarjana kehutanan IPB tahun 1988, kemudian melanjutkan studi S2 di School of Forestry University of Canterbury New Zealand 1994, dan menamatkan studi S3-nya pada Departemen of Biosciences University of Kent England tahun 2000.

Sayangnya, menurut Irdika, tak satu pun dari bibit-bibit jati yang tersedia di pasaran saat ini menggunakan sumber daya genetik jati muna. Sementara itu, kondisi hutan jati muna di berbagai tempat memprihatinkan. Lahannya dikapling masyarakat untuk ditanami jagung. Penebangan liar juga merebak. Di Konawe Selatan, yang hutan tanaman jati munanya merupakan cerita sukses pembangunan hutan tanaman industri (HTI), jati yang baru berumur 11 tahun dengan diameter 15-20 cm pun tidak luput dari penjarahan.

Usaha menghentikan pencurian saja, lanjut Irdika, tidak akan menambah populasi atau luasan hutan jati muna. ”Menyadari akan hal itu, Rektor IPB Prof AA Mattjik menugaskan tenaga ahlinya atas biaya IPB dengan misi utama menyelamatkan sumber daya genetik jati muna, yang secara fisik menunjukkan sifat-sifat unggul, seperti batang lurus, silindris, bebas cabang tinggi, berdiameter besar, serta bebas dari hama dan penyakit,” kata Irdika, yang sejak awal tahun ini melakukan pengembangan jati muna unggul.

Tim IPB yang diketuainya, dengan dukungan Dinas Kehutanan Provinsi Sultra dan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo (Unhalu), Kendari, telah mengambil materi genetik dari 42 pohon jati muna dan tiga jati malabar yang tumbuh di Muna. Materi genetik berupa tunas sebagian diokulasi (ditempel ke bibit jati muna) di Kendari dan sebagian lagi di Fakultas Kehutanan IPB. ”Saat ini tunas telah tumbuh, termasuk jati malabar. Selanjutnya dapat diperbanyak melalui setek pucuk maupun kultus jaringan,” kata Irdika, yang menikah dengan Ir Novi Waskitasari dan telah dikaruniai dua anak, Pradana Iqomatulhaq dan Pradita Azahrahaq.

Pemanfaatan materi genetik menurut faham IPB, kata Irdika, adalah pemanfaatan yang dinamis bukan statis dalam arti konservasi yang sempit. ”Materi genetik ini diharapkan dapat dikembangkan dan dikomersialisasi sehingga memberi manfaat finansial bagi IPB dan daerah pemilik materi genetik tersebut,” kata Irdika. Dalam waktu tidak lama lagi bibit jati muna unggul akan diproduksi oleh IPB bersama-sama dengan Pemprov Sultra, dan Unhalu Kendari.

Usaha bibit unggul jati muna, ujarnya menambahkan, diperkirakan juga akan mendatangkan keuntungan yang besar secara finansial dan bahkan mungkin juga bisa diekspor.

”Pembibitan jati tidak memerlukan biaya tinggi. Setiap lima meter persegi tanah dapat menampung 500-1.000 bibit jati unggul. Jika harga bibit Rp 5.000, setiap 5 meter persegi akan memberikan hasil sebesar Rp 2,5 juta-Rp 5 juta tiap empat bulan,” katanya. Kegiatan persemaian juga akan menyerap banyak tenaga kerja untuk mengisi media ke kantong plastik, membuat setek, menyapih, memelihara, dan mengangkut bibit. Dengan demikian, akan membuka lapangan kerja baru.

Dengan bekerja sama dengan Tim Penggerak Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sultra, IPB berharap dapat menggerakkan masyarakat untuk menanam jenis-jenis pohon lokal, khususnya jati muna. ”IPB beranggapan bahwa PKK adalah organisasi wanita potensial yang belum pernah dilibatkan dalam usaha-usaha rehabilitasi hutan dan penyelamatan jenis-jenis pohon lokal,” kata Irdika menjelaskan.

Dengan demikian, jika program TP PKK Sultra untuk menanamkan jati muna ini mulai bergulir dan ibu-ibu diberi pelatihan mengenai bagaimana menanam dan memelihara jati muna, diharapkan populasi jati muna akan meningkat lagi.

”Jati itu prospek pasarnya tak pernah turun. Saat ini Indonesia merupakan penghasil jati terbesar di dunia. Kalau kita lengah dan tak berbuat apa-apa terhadap kekayaan alam kita yang terancam punah itu, kita pasti dikejar oleh negara-negara lain, seperti Amerika Latin yang kini sudah mengembangkan jati. Jangan biarkan hutan jati kita yang tinggal hanya seluas sejuta hektar lebih itu punah,” pinta Irdika Mansur.

Sumber : Kompas, Sabtu, 9 Juli 2005
Read Full 0 comments

Ida Ayu Surayin, Memahami Dunia Orang Buta

Jun 25, 2009
Ida Ayu Surayin, Memahami Dunia Orang Buta
Oleh : Agnes Suharsiningsih

Saat pertama melihat anak-anak buta di sekolah luar biasa di Bandung, saya tergugah untuk membantu menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Karena itulah saya memilih jalan ini.... Ida Ayu Surayin (74), seorang tokoh pendidikan yang lebih dikenal sebagai pendiri sekolah luar biasa untuk anak-anak buta di Denpasar, Bali, memulai kisahnya.

Ditemui di rumahnya yang asri di Denpasar, pekan lalu, wanita energik ini bercerita, tahun 1952 di Bandung, Jawa Barat, dibuka sekolah guru untuk mengajar anak-anak buta, bisu-tuli, dan lemah ingatan. Mendengar pengumuman itu, Ida Ayu Surayin yang sudah dua tahun hidup menjadi guru di Denpasar tertarik mengikuti pendidikan.

Persyaratan pun segera dia penuhi. Saat berangkat ke Bandung, sebenarnya Ida Ayu Surayin berniat masuk ke jurusan pendidikan bagi anak-anak lemah ingatan. Namun, pengalamannya saat bertemu anak-anak buta yang bermain tanpa bisa melihat mengubah haluannya. Akhirnya, dalam program pendidikan yang memang membolehkan para guru memilih spesialisasinya, Ida Ayu Surayin memilih jurusan pendidikan guru bagi anak-anak buta.

Saya mudah jatuh kasihan kepada orang-orang lemah. Ini terasa sejak saya masih kecil, di mana tiap hari saya melihat ibu saya menolong orang-orang yang tidak mampu. Beliau menanamkan pendidikan luhur tanpa kata-kata, tapi langsung mengerjakannya, kenang Ida Ayu Surayin.

Itulah yang membuat istri pensiunan jaksa ekonomi satu-satunya di Bali, Ida Bagus Manthara (75), ini gigih berjuang dan tidak mengenal lelah untuk memahami dunia orang buta dan keluarganya. Tidak mudah kala itu di Denpasar mengajak anak-anak buta bersekolah. Hambatan itu tidak melulu dari si anak, tetapi juga dari orangtua.

Pada masa itu, cacat dianggap sebagai hal yang memalukan bagi keluarga. Banyak orangtua, baik dari kalangan kaya maupun miskin, memilih menyembunyikan anak mereka ketimbang menyekolahkan. Bahkan, tak jarang, orangtua mengurung si anak di rumah, sementara mereka bekerja di ladang.

Merintis sekolah

Sesudah menyelesaikan pendidikan di Bandung, Ida Ayu Surayin sempat mengajar di sekolah bagi anak cacat di kota kembang itu. Namun, keinginan hatinya untuk mengembangkan pendidikan serupa di Bali tidak terbendung. Setelah menikah, tahun 1955, ia benar-benar kembali ke tanah kelahirannya.

Perjuangan untuk merintis pendirian sekolah bagi anak cacat tidak mudah. Kendalanya, selain belum ada sekolah serupa di Bali, Ida Ayu Surayin juga harus menemukan orang yang peduli terhadap kehidupan anak cacat. Bersama merekalah dia memulai perjuangan itu, antara lain dengan mencari donatur.

Usaha dan doanya membuahkan hasil ketika tanggal 6 September 1957 Yayasan Panti Guna Dria Raba berdiri. Yayasan ini dikhususkan untuk mengasuh anak-anak tunanetra. Selanjutnya tanggal 1 Agustus 1958 sekolah bagi anak tunanetra pun dibuka.

Saat pertama buka, murid hanya tiga orang. Itu pun saya yang mencari hingga ke pelosok desa, ujarnya.

Perempuan yang dikaruniai tujuh anak dan hampir semuanya mengabdikan diri di dunia pendidikan ini mempunyai keyakinan bahwa orang cacat adalah orang normal yang karena keterbatasannya tidak dapat berbuat banyak bagi sesamanya. Namun, saat orang cacat tersebut dapat berbuat sesuatu untuk menolong manusia di sekitarnya, maka sangat berartilah pertolongan dan hidupnya.

Berbekal dari itulah Ida Ayu Surayin berjuang keras membina anak didiknya. Dia ingin menunjukkan bahwa orang cacat yang mendapat pendidikan seperti layaknya orang normal lainnya juga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bahkan sesamanya. Dan memang, empat bulan sekolah berjalan, anak didiknya sudah mampu menyuguhkan seni musik di publik.

Pengalaman tidak terlupakan oleh Ida Ayu Surayin, salah satu anak didiknya kini memiliki sekolah khusus untuk anak buta di Lombok. ”Laki-laki tunanetra yang pernah mengenyam pendidikan di Dria Raba itu kini telah memiliki seorang istri yang bisa melihat dan dikaruniai empat anak. Dan hebatnya dia mampu mendirikan sekolah serupa di kampung halamannya,” ceritanya penuh semangat.

Pensiun tahun 1991 tak membuat cita-citanya untuk berbuat ini-itu surut. Ia masih memiliki cita-cita mendirikan yayasan yang bertujuan memasyarakatkan penyandang cacat dengan kebebasannya yang produktif.

Kentara sekali memang, semangat juang tidak pernah luntur dari dalam dirinya. Pemerhati pendidikan bagi anak cacat itu tanggal 15 Agustus lalu mendapat penghargaan Widya Kusuma. Penghargaan tertinggi bagi tokoh pendidikan itu diberikan Gubernur Bali dalam suatu upacara khusus. Bersama Ida Ayu Surayin, beberapa tokoh seni budaya dan pariwisata juga mendapat penghargaan.

Sumber : Kompas, Rabu, 24 Agustus 2005
Read Full 0 comments

Iman Soleh : Iman Bangun CCL Melalui Teater

Jun 20, 2009
Iman Bangun CCL Melalui Teater
Oleh : Tjahja Gunawan

Pada pertengahan September 2005, serombongan warga dari Cisarua, Lembang, datang berbondong-bondong dengan menggunakan dua truk untuk menonton pementasan teater bertema Ozon yang diselenggarakan Center of Cultural Ledeng atau CCL di sebuah gang sempit bernama Gang Bapak Eni di daerah Ledeng, Bandung.

Pementasan teater itu dilakukan di panggung berukuran 8 x 6 meter, sedangkan keseluruhan lahan terbuka di sekitar panggung itu sekitar 600 meter persegi. Apresiasi terhadap pementasan Ozon juga datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikirim melalui faksimile dan surat elektronik (e-mail) kepada seniman teater Iman Soleh (43).

Di dalam suratnya, PBB mengucapkan terima kasih atas pertunjukan teater Ozon karena pada tanggal 16-24 September 2005 juga dilangsungkan Konferensi tentang Ozon yang dibuka Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan di Markas PBB di New York, Amerika Serikat (AS).

Iman Soleh merasa kaget mendapat ucapan terima kasih dari PBB karena sebelumnya dia tidak pernah menghubungi PBB. Menjelang pementasan Ozon di CCL, kata Iman, pihaknya memang pernah memberitahukan teman-temannya sesama seniman di luar negeri, termasuk yang ada di AS.

Setiap pementasan teater di CCL, termasuk soal Ozon, selalu digelar di panggung terbuka yang di sekelilingnya terdapat kamar-kamar kos yang dihuni sekitar 120 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Tempat kos itu sendiri sudah ada sejak tahun 1958, yang dibangun oleh orangtua Iman Soleh.

Ketua RW jadi sutradara

Tidak hanya mahasiswa yang ikut terlibat dalam setiap kali pementasan teater di CCL, tetapi juga hampir seluruh masyarakat di sekitar Ledeng ikut memberikan kontribusi terhadap setiap kegiatan kebudayaan khususnya pementasan teater. Bahkan, untuk teater tradisional, salah seorang Ketua Rukun Warga (RW) di Ledeng bertindak selaku sutradara.

Iman Soleh adalah motor penggerak untuk seluruh kegiatan itu. Seniman ini dibesarkan orangtua dan hingga kini hidup tinggal bersama warga Ledeng di Gang Bapak Eni. Sebagai seorang seniman, Iman merasa beruntung karena para tetangganya banyak yang sudah lama berkesenian.

Iman menyebut sejumlah nama tetangga yang menjadi pesinden, tukang calung, reog, dan dalang wayang golek. Namun, di era rezim Orde Baru talenta berkesenian para tetangga Iman itu tidak terekspresikan secara optimal karena berbagai kendala, seperti masalah tempat, dana, dan perizinan.

Orang-orang yang berkesenian di Ledeng sudah ada sejak dulu. Namun, dalam perjalanan selanjutnya, mereka tidak berkesenian lagi karena adanya keterbatasan ruang dan tempat, ujar Iman Soleh, yang dosen penyutradaraan dan pemeranan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Baru pada tahun 1998, berbarengan dengan tumbangnya rezim Orde Baru, komunitas masyarakat Ledeng mulai bergairah kembali dalam berkesenian. Terbentuknya CCL juga didasarkan pada keinginan agar masyarakat Ledeng memiliki tempat untuk berkesenian tanpa harus menyewa gedung.

Dorongan lain, agar saya sebagai seniman tidak terasing dari masyarakat sekitar, tambah Iman. Dia lebih cenderung menyebut CCL sebagai wadah atau kantong kebudayaan bagi masyarakat sekitar untuk berkesenian dan berekspresi secara bebas.

Dari hasil perjalanan kesenian ke beberapa negara, seperti Afrika, Eropa, dan beberapa negara di Asia, Iman Soleh sangat meyakini kalau sebuah rumah sudah menjadi mesin kebudayaan, maka niscaya penghuni rumah itu sudah benar-benar menjadi manusia.

Dengan keyakinannya itu pula, Iman Soleh rela menyumbangkan seluruh, pikiran, tenaga, dan bahkan biaya untuk keperluan kebudayaan, khususnya teater. Suami dari Ny Candra Wardani ini meyakini bahwa rezeki tidak selalu berhubungan dengan profesi, tetapi dengan akhlak seseorang.

Meskipun sebagian besar biaya untuk pementasan teater diambil dari tabungan pribadinya, Iman Soleh menyebutkan banyak pula sumbangan dari pihak lain untuk berbagai keperluan pementasan teater di CCL, seperti pengadaan sound system. Sepanjang tahun 2005, jumlah pementasan teater yang telah digelar di CCL sebanyak 17 kali dengan biaya keseluruhan sebesar Rp 38 juta.

Demi teater dan CCL, Iman Soleh juga rela mengesampingkan kebutuhan keluarganya yang bersifat sekunder. Urusan materi memang penting, tetapi dalam pandangan Iman Soleh yang lebih penting lagi kalau dirinya bisa berguna bagi orang lain.

Orang Bandung itu pasti merindukan kebudayaan dan rumah untuk silaturahmi yang bersifat langsung untuk membicarakan berbagai hal dalam kehidupan masyarakat. Hal seperti itu perlu untuk sharing emosi dan berbagi kecemasan, ujar Iman Soleh, bapak dari Mahesa El Ghassani (12) dan Jal Al Biruni (7).

Sumber : Kompas, Selasa, 29 November 2005
Read Full 0 comments

Idrus Paturusi, Spesialis Kerusuhan

Jun 19, 2009
Idrus Paturusi, Spesialis Kerusuhan
Oleh : Subhan SD dan Fahmy Myala*

Setiap ada bencana dan kerusuhan, dia selalu merasa berutang. Dokter bedah ini akan datang ke daerah bencana untuk mengurus korban-korban yang bergelimpangan seakan tak terurus.

Kalau ada bencana, saya merasa harus membayar utang, kata Prof Dr Idrus Paturusi, dokter ahli bedah tulang dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Dia tak peduli dengan segala aral yang merintanginya.

”Kalau punya niat baik, pasti ada saja yang akan membantu. Yang penting berangkat dulu, nanti ada kemudahan,” kata mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unhas yang pada 8 Februari 2006 dilantik sebagai Rektor Unhas.

Dalam 14 tahun terakhir ini Idrus telah menjelajah ke mana-mana. Memimpin tim medis menembus daerah-daerah terisolasi akibat gempa, tsunami, atau banjir seperti di Flores (1992-1993), Papua (1997), Mangole Maluku (1998), Makassar (1999), Bengkulu (2000), Aceh dan Sumut (2004), bahkan sampai ke luar negeri di Afganistan dan Pakistan (2001), dan Bam di Iran (2004).

Ketika gempa dan tsunami terdahsyat sepanjang abad ini di Aceh dan Nias terjadi 26 Desember 2004, Idrus sudah tiba di lokasi pada 29 Desember sebagai Koordinator Nasional Bantuan Medis Aceh, Sumatera Utara, dan Nias. Dalam waktu tiga bulan, Idrus berhasil memfungsikan kembali RS Zainoel Abidin, Banda Aceh, yang rusak disapu tsunami.

Konflik medan perang

Kepedulian Idrus bukan hanya di tengah bencana alam. Konflik kekerasan pun menyeretnya untuk terjun ke ”medan perang” yang berbahaya. Konflik di Ambon, Poso, dan Maluku Utara yang menimbulkan korban jiwa ribuan orang sepanjang 1999–2000 tak membuat nyalinya ciut. Tak peduli perbedaan politik, warna kulit, golongan, atau agama, Idrus memimpin tim medis ke daerah-daerah itu tatkala api masih membara.

Begitu juga saat api berkobar di Timor Timur pascajajak pendapat tahun 1999 silam. Idrus yang kala itu menjadi Ketua Tim Medis Penanggulangan Pengungsi setiap hari merawat, mengobati, atau mengoperasi para korban. Belum pernah sebelumnya ia ke daerah itu.

”Bagaimana saya mesti masuk ke perbatasan Atambua, padahal saya bawa obat satu truk. Tetapi karena keyakinan itulah, ada saja yang menjemput,” kenang pria kelahiran Makassar, 31 Agustus 1950 silam.

Bagi Idrus, masalah krusial yang harus ditangani setiap ada bencana atau kerusuhan adalah luka. ”Luka adalah kasus akut. Dokter bedah yang harus segera menangani sebelum diambil alih dokter lainnya. Ini yang mendorong saya karena tidak banyak juga yang mau melakukan. Apalagi pada saat konflik, kita tidak pernah tahu kapan akan selesai,” kata penerima Satya Lencana Kebaktian Sosial tahun silam itu.

Pengalaman di kancah konflik semakin membuatnya peduli terhadap misi kemanusiaan. ”Saya merasakan kenikmatan ketika bantuan yang kita berikan benar-benar dirasakan oleh orang yang membutuhkan,” ujar Idrus yang tak pernah melupakan pengalaman saat dikawal pasukan Thaliban masuk Afganistan.

Karena misi seperti itu amat penting, dia pun menyiapkan dana khusus saat memimpin FK (2002-2006). ”Kami memang menyiapkan dana untuk itu, ya rata-rata Rp 200 juta dana yang standby. Jadi diminta atau tidak kami tetap berangkat,” kata Koordinator Brigade Siaga Bencana Regional Indonesia Timur itu.

Baginya, kepedulian terhadap korban itu harus dimiliki oleh banyak dokter muda, tak hanya memikirkan buka praktik yang memikirkan penghasilan. Karena itu, di Unhas tidak hanya ditekankan kemampuan medis, tetapi juga search and resque (SAR). Kini Idrus telah memberi pelatihan penanganan trauma bencana kepada sekitar 20.000 dokter dari berbagai daerah.

Memimpin FK

Idrus lulus FK Unhas tahun 1977 dan dokter spesialis bedah tahun 1981. Subspesialisnya adalah bedah tulang (ortopedi) yang diraihnya di FK UI Jakarta tahun 1984. Suami Andi Rushanti Beso dan ayah tiga anak ini meraih doktor di almamaternya tahun 1999.

Idrus juga pernah mengikuti post graduate orthopaedic training di Singapura (1978) dan pendidikan di Hospital Raymond Point Care, Paris (1986–1987). Berbagai kursus dan perantauan menimba ilmu dilakukannya di berbagi negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Banglades, India, Jepang, Kanada, Swiss, dan Amerika Serikat.

Sebagai nakhoda baru Unhas, Idrus diharapkan mampu menyemai perubahan dan pembaruan di Unhas. Terlebih lagi, belakangan ini di Unhas sering tercium hal-hal yang negatif, seperti tawuran mahasiswa dan kasus korupsi.

Tak pelak lagi, dia ingin menggiring mahasiswa untuk aktif dan terus belajar sehingga tak ada waktu lagi untuk berkelahi. Idrus juga bertekad akan membersihkan universitas terbesar di wilayah Indonesia timur itu.

Seperti kepeduliannya menangani korban bencana dan konflik, Idrus diharapkan bisa ”mengobati” pasien baru bernama Unhas. ”Pengalaman di daerah konflik mudah-mudahan jadi modal untuk bisa menyelesaikan di kampus sendiri,” katanya.

*Fahmy Myala, Wartawan, tinggal di Makassar

Sumber : Kompas, Jumat, 10 Februari 2006
Read Full 0 comments

Ismail Haniya : Haniya dan Masa Depan Palestina

Haniya dan Masa Depan Palestina
Oleh : Budi Suwarna

Hamas akhirnya menunjuk Ismail Haniya sebagai Perdana Menteri Palestina. Di tangan Haniya-lah masa depan Palestina akan ditentukan. Namun, siapakah Haniya dan bagaimana sikap politiknya?

Dibanding pemimpin Hamas lainnya, Haniya dianggap sosok yang lebih pragmatis dan moderat. Sikap ini, antara lain, dia perlihatkan beberapa saat setelah Hamas dipastikan memenangi pemilu parlemen pada Januari 2006 lalu.

Ketika para pemimpin Hamas lainnya menyatakan bahwa Hamas akan membentuk pemerintahan sendiri, Haniya justru menyatakan, ”Saya akan berkonsultasi dengan Presiden Mahmoud (pemimpin Fatah yang dikalahkan Hamas) untuk membicarakan kemitraan politik.”

Haniya juga termasuk segelintir pemimpin Hamas yang membuka diri untuk berdialog dengan Israel. Meski, dia menetapkan syarat bahwa Israel harus mengakui terlebih dahulu hak-hak warga Palestina sebelum berdialog.

Sikap Haniya yang moderat mematahkan anggapan Barat dan Israel bahwa Hamas adalah ”organisasi tempat berkumpulnya kaum militan dan teroris”.

Anggapan ini ditolak mentah-mentah warga Palestina yang justru menganggap Hamas sebagai pejuang sejati.

Anggapan negatif Barat semakin pupus jika kita menyimak visi Haniya yang cenderung reformis untuk membangun masa depan Palestina kelak. Ketika memberikan wawancara khusus kepada Kompas, 7 Februari 2006, di Cairo, Mesir, Haniya menjelaskan, misi utama Hamas adalah mewujudkan cita-cita berdirinya negara Palestina dengan ibu kota Jerusalem Timur. Setelah itu, rakyat Palestina-lah yang akan menentukan identitas negara, bukan Hamas, Fatah, atau faksi lainnya.

Sikap reformis Hamas di bawah kepemimpinan Haniya Cs juga bisa dilacak jauh sebelum organisasi itu memutuskan terlibat pemilu. Ketika pejabat partai-partai lain sibuk berebut kekuasaan, Hamas justru memilih membangun jaringan sosial untuk rakyat miskin. Hamas mendirikan sekolah, masjid, puskesmas, tempat kursus komputer, hingga salon dan tempat senam untuk perempuan.

Secara perlahan mereka juga menanamkan pemahaman politik kepada mahasiswa dan kaum perempuan yang kebanyakan buta politik. Hasilnya, mereka mendapat dukungan dalam jumlah sangat besar dari mahasiswa dan perempuan.

Namun, apa yang dilakukan Hamas jauh sebelum pemilu jarang disorot media. Padahal, gerakan pemberdayaan inilah yang menjadi kunci keberhasilan Hamas.

Pemimpin kunci

Berdasarkan catatan BBC, Haniya lahir pada tahun 1962 di sebuah kamp pengungsi di Shati, sebelah barat Gaza. Orangtuanya tinggal di kamp itu setelah melarikan diri dari rumah mereka di Ashkelon ketika Perang Arab-Israel meletus tahun 1948.

Pengalaman masa kecilnya di pengungsian, kelak membuat Haniya sadar betapa tidak enaknya hidup di bawah kaki penjajah Israel.

Seperti kebanyakan tokoh politik Palestina, menurut BBC, Haniya tumbuh dari gerakan intifada. Dia terlibat gerakan itu sejak tahun 1987 ketika dia baru saja lulus dari Universitas Islam di Gaza. Akibat keterlibatannya, dia ditahan untuk beberapa lama oleh Otoritas Israel. Sejak saat itulah dia menjadi langganan penjara Israel.

Tahun 1988, Haniya dijebloskan lagi ke dalam penjara selama enam bulan. Tahun berikutnya, ketika Israel kewalahan mengatasi perlawanan Palestina, Haniya kembali ditahan dan dihukum selama tiga tahun.

Setelah Haniya dibebaskan pada tahun 1992, dia dideportasi bersama pemimpin senior Palestina lainnya, yakni Abdel-Aziz Rantissi, Mahmoud Zahar, dan lebih dari 400 aktivis lainnya ke Lebanon Selatan. Mereka tinggal di Marj al-Zahour selama setahun. Di tempat inilah mereka justru mendapatkan tempat di media massa sehingga mereka mulai dikenal dunia.

Pada tahun 1993 Haniya kembali ke Gaza dan ditunjuk sebagai dekan Universitas Islam. Tahun 1997, Haniya berhubungan dekat dengan Sheikh Yassin, pendiri dan tokoh spiritual Hamas. Tidak lama, Haniya pun diangkat sebagai asisten Yassin.

Kedekatannya dengan Yassin, selanjutnya, membawa Haniya menjadi salah satu pemimpin terkemuka di Hamas. Di sisi lain, Haniya menjadi target pembunuhan pasukan Israel. Pada September 2003, Haniya dan Yassin hampir saja terbunuh akibat serangan udara di sebuah apartemen di Gaza City. Keduanya selamat karena berhasil melarikan diri dari bangunan begitu mereka mendengar suara pesawat Israel mendekat.

Enam bulan kemudian, Sheikh Yassin tidak bisa lolos dari pembunuhan oleh Israel. Pada April 2004, giliran pengganti Yassin, Abdel-Aziz Rantissi, yang dibunuh Israel. Dua pembunuhan itu membuat Hamas memilih merahasiakan pemimpin baru mereka di Gaza agar tidak menjadi target pembunuhan Israel.

Namun BBC menuliskan, sumber di Palestina mengatakan, Haniya merupakan salah satu anggota kepemimpinan kolektif Hamas bersama Mahmoud Zahar dan Sayyid al-Sayyam yang mengendalikan organisasi tersebut.

Setelah hampir dua tahun ”menyembunyikan identitasnya”, Haniya akhirnya muncul sebagai caleg nomor satu Hamas. Sekarang, dia melangkah lebih tinggi menjadi PM pertama Hamas untuk Otoritas Palestina, sekaligus menggenggam masa depan negara itu. Bagaimana kiprahnya? Kita tunggu saja.

Sumber : Kompas, Selasa, 21 Februari 2006
Read Full 0 comments

Imam Chambali, Juragan Anak

Imam Chambali, Juragan Atak
Oleh : Ingki Rinaldi

Jika Anda seorang pemilik kendaraan roda empat, bukan tidak mungkin salah satu suku cadang kendaraan Anda buatan PT Atak Otomotif Indo Metal. Perusahaan ini adalah salah satu perintis pembuatan suku cadang otomotif generik.

Perintis usaha ini adalah H Achmad Thoyib Abdul Kadir (almarhum) pada tahun 1962. Nama Atak merupakan akronim nama pendiri usaha itu.

Satu tahun sejak badai krisis menghantam Indonesia pada 1997, usaha itu diserahkan kepada putranya, Haji Imam Chambali (49).

”Saat diwarisi usaha ini, aset perusahaan tinggal Rp 1,3 miliar. Sekarang berkembang menjadi Rp 3,4 miliar,” ungkap Imam. Pada tahun itu pula Atak beroleh sertifikat ISO-9002 di Bandung dengan registrasi bernomor 24-98/29-3843-3.

Saat ini Imam menjabat direktur utama, dibantu sang adik, Hajah Nihayati, sebagai komisaris, dan kakak sepupu, Haji Kusnan, sebagai manajer teknis. Tidak mudah melanjutkan usaha warisan orangtua, seperti terlihat dari banyak pengalaman perusahaan keluarga.

Berbagai usaha lantas dilakukan Imam demi menyelamatkan usaha keluarga itu. Antara lain menerapkan manajemen profesional dengan menarik batas tegas antara sanksi dan penghargaan bagi karyawan.

Ia juga tidak mau berspekulasi dalam membeli bahan baku serta distribusi barang dengan sistem bayar di belakang. ”Pokoknya ada uang ada barang,” katanya sembari menambahkan, bantuan tenaga magang dari sejumlah institusi pendidikan juga turut memperingan beban kas perusahaan.

Ia lalu mendiversifikasi produk suku cadangnya dengan aneka barang logam untuk alat pertanian dan sektor konstruksi. Jika sebelumnya konsentrasi produksi bagi suku cadang otomotif 80 persen dari total produksi, kini menjadi 70 persen.

Perusahaan yang dipimpinnya itu pun kemudian beroleh kepercayaan untuk memproduksi hingga 100.000 roda traktor bajak berbahan baja guna rekonstruksi lahan pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pascatsunami. Sejumlah usaha kecil dan menengah di sekitar Sidoarjo dia libatkan demi memenuhi target produksi alat itu hingga akhir tahun ini.

Barang sederhana

Jika ditelusuri sejarahnya, PT Atak Otomotif Indo Metal memang penghasil tradisional barang-barang pandai besi sederhana serupa cangkul dan sabit. Imam bercerita, latar belakang ayahnya sebagai ahli perbengkelan TNI AD yang berjuang pada zaman revolusi memang banyak membantu beralihnya konsentrasi perusahaan untuk memproduksi suku cadang sejak tahun 1970-an.

Seiring permintaan yang semakin banyak, pada tahun 1980-an, mulailah didatangkan berbagai mesin untuk proses produksi. Kini tidak kurang dari 2.600 jenis suku cadang yang proses pengerjaannya juga disubkontrakkan kepada sejumlah usaha kecil menengah di Sidoarjo, Pasuruan, Surabaya, dan Malang bisa dihasilkan dari perusahaan yang mengeluarkan sedikitnya Rp 16 juta per minggu untuk menggaji 89 karyawannya.

”Kebanyakan suku cadang yang kami buat untuk kendaraan niaga karena kendaraan jenis inilah yang suku cadangnya sering aus dan cepat minta diganti,” ujar Imam. Suku cadang mobil niaga yang paling dicari adalah braket, penahan kaca, pedal, gagang spion, dan aneka baut.

Menyebut peta persaingan industri yang dilakoninya telah berubah, Imam tidak juga gentar. Jika sebelum tahun 2000-an hanya ada sekitar 10 pemain dalam industri tersebut, kini tidak kurang 300 pengusaha meramaikan industri ini.

”Kuncinya menjaga kepercayaan dan bekerja profesional,” kata Imam soal kesetiaan sejumlah distributor dan konsumen. Selain itu, dia mempertahankan spesialisasinya, yaitu suku cadang berpresisi tinggi seperti braket dan pedal gas dengan mengerjakannya sendiri.

Pelanggannya antara lain sekitar 15 grosir di Asemreges, Proyek Senen, Krekot, Tomang Tinggi, dan Kelapa Gading di Ibu Kota. Dari titik-titik distribusi itulah, suku cadang made ini Sidoarjo itu mengelana hingga ke pelosok Nusantara.

Imam yang tidak menyelesaikan pendidikannya di Universitas Merdeka dan Universitas Negeri Surabaya (dahulu IKIP) itu menghabiskan masa pendidikan dasar hingga menengahnya di Sidoarjo.

Sulung dari dua bersaudara itu bercerita, terjun bebasnya ke bisnis keluarga lantaran telanjur jatuh cinta sejak kesempatan pertama. ”Saya juga putus kuliah karena sejak kelas lima SD lebih sering kerja di sini,” tutur Imam.

Untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan warisan, Imam berharap banyak pada anak pertamanya, Ali N (25). Latar belakang pendidikan Ali yang S-1 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi 10 November Surabaya dirasa pas bagi Imam menggantikannya kelak.

Imam sendiri sudah cukup puas dengan pencapaiannya yang berhasil menggerakkan serta menginspirasi sejumlah pengusaha sekelasnya. Ia pun tidak terlampau bernafsu mengejar pengakuan setelah mendapat gelar kedua sebagai pengusaha berprestasi tingkat menengah ke bawah se-Jawa Timur yang diperolehnya dari Gubernur Jawa Timur pada 2003.

Lompatan ala katak bagi Atak yang membesarkannya sejak kecil sudah memberi Imam demikian banyak kenikmatan. Kini ia tinggal merasakan hasilnya dan berharap ada lompatan serupa yang dibuat penerusnya.

Sumber : Kompas, Sabtu, 25 Februari 2006
Read Full 0 comments

Indi Sahindi : Indi, Bangga Jadi Guru Tunarungu

Jun 18, 2009
Indi, Bangga Jadi Guru Tunarungu
Oleh : Yenti Aprianti

Menjadi guru sekolah luar biasa adalah anugerah, ujar Indi Sahindi (52). Ketika mengatakan anugerah, intonasinya amat tegas dan matanya berbinar-binar.

Lelaki asal Ciamis, Jawa Barat, ini sudah menghabiskan hampir separuh usianya untuk menjadi guru dan ahli terapi bicara bagi anak-anak tunarungu. Saya bangga bisa mengajar mereka, lanjut Indi yang amat senang jika murid-muridnya dari Sekolah Luar Biasa (SLB) B II Yayasan Penyelenggara Pendidikan Pengajaran Anak Tunarungu (YP3ATR), Jalan Cicendo, Kota Bandung, berhasil kuliah di perguruan tinggi atau mendapat pekerjaan. Meskipun, jumlahnya tidak banyak.

Perkenalan Indi dengan dunia orang-orang berkemampuan berbeda terjadi pada tahun 1970-an. Waktu itu, selepas dari sekolah menengah atas di Ciamis, ia menetap di rumah saudaranya di Jalan Buahbatu, Bandung, dekat Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Karena lowongan pekerjaan bagi guru masih sangat terbuka, Indi meneruskan pendidikan di SGPLB itu.

Awalnya ia mengambil jurusan tunadaksa, tetapi lulus dari SGPLB ia justru mendapatkan pekerjaan di SLB B II YP3ATR Bandung tahun 1976. Sejak menginjakkan kaki di SLB tersebut, Indi sudah yakin akan mampu memotivasi muridnya agar berhasil. Apalagi, para guru senior banyak membimbingnya.

Pelajaran berharga yang didapatnya adalah mengajar dengan sabar. Adakalanya saya ingin marah karena anak-anak tidak dapat cepat mengerti pelajaran yang saya sampaikan. Padahal sudah diulang berkali-kali, kata Indi.

Namun, karena sering mengalami hal tersebut, Indi jadi berpikir, Apakah justru saya yang salah hingga murid-murid tidak juga paham pelajaran yang diberikan?

Agar murid-muridnya cepat memahami pelajaran yang diberikan, hampir setiap malam Indi menggambar berbagai benda untuk menjelaskan pada murid semua konsep kata yang terkait dalam pelajarannya. Selama ini anak-anak tidak bisa memahami pelajaran karena asing dengan kata-katanya.

Misalnya saat menjelaskan soal energi, muridnya tidak tahu konsep tentang gas. Indi pun menggambarkan sebuah panci berisi air yang dididihkan di atas kompor menyala. Lalu menghasilkan kabut putih yang tipis. Seperti itulah kira-kira yang disebut gas.

Usaha kanvas

Banyak konsep kata yang mereka tahu bendanya tetapi tidak tahu namanya, ujar Indi yang sebetulnya lebih berharap metode pengajaran bagi tunarungu dilakukan di luar sekolah agar siswa bisa kaya pengetahuannya tentang kata dan benda.

Selama ini, orang tidak tahu bagaimana berbicara dengan tunarungu. Kadang saat berbicara temponya terlalu cepat atau berbicara sambil memalingkan kepala sehingga penyandang tunarungu jadi bingung dan tidak bisa membaca gerak mulut, ujar Indi, pegawai negeri sipil golongan III dengan gaji kotor Rp 1,5 juta per bulan ini.

Ayah dari Rina Gustina (23) dan Lia Yulianti (18) pernah mencoba menambah penghasilan selama empat tahun dengan cara mengajar di sekolah umum, tetapi akhirnya ditinggalkan karena telah mengganggu konsentrasinya.

Tugas utama saya mengajar murid tunarungu. Jadi konsentrasi harus penuh. Kalau saya capek, kasihan anak-anak karena mungkin saya jadi tidak sabar mengajar mereka, kata Indi yang pernah membuka klinik audiologi di Jalan Balong Gede pada tahun 2001.

Pada saat itu, dalam sehari ia menangani dua pasien. Tidak semua pasiennya tunarungu. Ada juga yang tidak mampu mengatakan huruf r atau orang yang berbicara sengau.

Klinik tersebut ditutup dua tahun lalu karena ia tengah berkonsentrasi untuk menjalankan usahanya membuat kanvas. Usaha kanvas ini pun juga dia manfaatkan untuk memberikan pekerjaan pada anak didiknya.

Yayasan sudah mengizinkan sekolah dipakai untuk bengkel kerja siswa dan alumni. Sekarang saya sedang berusaha mencari sponsor untuk permodalan. Modal awal berkisar Rp 5 juta-Rp 10 juta, kata Indi.

Ide ini didapatnya akibat terenyuh melihat nasib teman- teman istrinya yang sudah setengah baya tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Kebetulan istri Indi, Tini Rostini (42), adalah tunarungu alumni dari SLB tempat Indi bekerja.

Indi amat mendukung perkembangan pengetahuan bahasa istrinya. Setiap bulan ia selalu menyisihkan uang untuk membayar tabloid dan majalah langganan istrinya. Media cetak dan buku menjadi media belajar yang baik agar istrinya bisa menyusun kalimat dengan tepat.

Layanan pesan pendek (SMS) dari telepon seluler juga amat membantu istrinya belajar menyusun kalimat. Sebelum mengirim SMS, istrinya sering bertanya kepada Indi, apakah kalimat yang dibuatnya sudah benar. Makin hari struktur kalimat yang dibuat istrinya makin baik.

Tiba-tiba, saat bercerita tentang istrinya, telepon seluler Indi berbunyi. Sebuah SMS masuk, dari istrinya. Isinya, Pak, kalau punya uang tolong belikan obat dan roti tawar.

Nah, struktur kalimatnya sudah benar, kan. Sebelum ada SMS, dia suka menulis kalimat terbalik-balik, ujar Indi menunjukkan pesan dari istrinya sambil tersenyum.

Sumber : Kompas, Kamis, 9 Maret 2006
Read Full 0 comments

Irwandi Jaswir : Irwandi, Bangga Jadi Peneliti

Irwandi, Bangga Jadi Peneliti
Oleh : Djoko Poernomo

Produk makanan olahan kini menjadi lebih aman dikonsumsi, sehubungan status kandungan lemak di dalamnya—termasuk lemak nonhalal—bisa diketahui secara tepat dan cepat.

Ini berkat metode yang ditemukan peneliti muda Indonesia kelahiran Medan dan besar di Bukittinggi, Irwandi Jaswir (36), alumnus Institut Pertanian Bogor tahun 1993. Menurut dia, karakteristik sifat kimiawi lemak nonhalal (babi) dapat dibedakan dengan lemak hewani lain kurang dari satu menit. "Tingkat akurasinya pun sangat tinggi," katanya.

Temuan Irwandi mengantarkan dia meraih medali emas dan perak dalam lomba rekacipta dan inovasi tingkat dunia ke-34 (The 34th International Exhibition of Inventions, New Techniques and Products of Geneva) di Geneva, Swiss, 5-9 April 2006.

Meskipun demikian, kepergiannya ke Swiss membawa bendera Malaysia, berkait dana penelitian diterima dari Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia (MOSTI) melalui universitas tempatnya mengajar, International Islamic University Malaysia (IIUM).

Sebelum masuk ke IIUM, Irwandi terlebih dulu menempuh pendidikan S2 (1994-1996) di Universitas Pertanian Malaysia (UPM), disusul pendidikan S3 (1997-2000) di UPM dan The University of British Columbia, Kanada, lewat twinning programme. "Saya menjadi dosen di IIUM mulai tahun 2001 setelah memperoleh gelar MSc dan PhD," kata anak nomor enam pasangan wiraswastawan, Jaswir dan Sudarni.

Kembangkan sistem

Dalam perjumpaan dengan Kompas di Jakarta pekan lalu, Irwandi menuturkan, "Kami berhasil mengembangkan sebuah sistem di mana berdasarkan karakteristik sifat kimiawi lemak babi, bisa dibedakan dari lemak hewani lain."

Cara kerjanya adalah sampel terlebih dulu di-scan menggunakan gelombang inframerah. Cahaya yang diteruskan akan ditangkap dengan detektor. Hasil spektrum sampel yang dideteksi dalam rentang panjang gelombang inframerah akan dianalisa. Dalam kajian dapat diidentifikasi beberapa titik panjang gelombang yang begitu sinonim dengan struktur trigleserida lemak babi.

"Kami sudah mencoba untuk hampir semua lemak hewani yang biasa dimakan serta produk cokelat," ungkapnya. Kelebihan metode ini cepat (kurang dari satu menit), tidak perlu persiapan sampel (bisa langsung di-scan), ramah lingkungan (karena tidak memerlukan bahan kimia), serta murah.

Ketika ditanya mengapa lemak makanan nonhalal yang dijadikan obyek penelitian, ia memberi alasan, "Ini sebagai wujud keprihatinan akan berbagai kasus kontroversi lemak yang sering muncul di tengah- tengah masyarakat."

Awal bulan April, Irwandi membawa temuan ke Geneva. Tim juri kemudian menyatakan ia berhak memperoleh anugerah tertinggi untuk inovasi yang berjudul Rapid Method for Detection of Non-Halal Substances in Food (Metode Cepat Pendeteksian Kandungan Non-Halal dalam Makanan). Anugerah tertinggi ini diwujudkan dalam selembar piagam dan medali emas.

Irwandi juga menerima medali perak untuk satu penelitian lain, Novel Rapid Analytical Techniques for Fats and Oils Industry, yang dikembangkan sebagai alternatif menggantikan analisa bahan kimia yang sering membutuhkan banyak waktu dan biaya.

Ingat Indonesia

Medali (emas dan perak) serta dua lembar piagam yang diperoleh di Geneva itu, hari Senin (24/4/2006) diperlihatkan kepada Dewan Rektorat IIUM di Kampus IIUM, kawasan Gombak, pinggir Kuala Lumpur. Dalam kesempatan itu, acting Rektor IIUM Prof Dr Azmi Omar menyerahkan uang prestasi. "Jumlahnya tak etis disebutkan. Tetapi, lumayan juga, he-he-he. Beberapa bulan gaji...," ujarnya. Prof Omar juga menjanjikan Irwandi dikirim ke lomba sejenis di Seoul, Korea Selatan, akhir tahun ini, serta ke Pitsburg, AS, tahun berikutnya.

Meski demikian, "Ketika saya menerima ucapan selamat dari para tamu, saya merasa sedih, lantaran saya tidak mewakili Indonesia," tuturnya per telepon.

Kesedihan Irwandi juga muncul saat mengetahui tidak ada satu peserta pun dari Indonesia yang ambil bagian di Geneva. Padahal, ajang tahunan ini menghimpun lebih dari 1.000 peneliti terbaik dari seluruh dunia. "Kamerun saja ikut," kata penggemar berat olahraga tenis tersebut.

"Karya kontestan dinilai 75 juri profesional dari seluruh dunia. Sungguh memberi kepuasan tersendiri bagi seorang peneliti," ungkap Irwandi, bapak dua anak, Uzma Nadhirah (4,5) dan Balqis Afifah (2). Istri Irwandi, drg Fitri Octavianti, kini tengah mengambil spesialisasi di bidang ortodonti di Universitas Padjadjaran, Bandung. Fitri yang tinggal di Bandung bersama kedua anaknya sebelumnya berdinas di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Di Malaysia dana penelitian tidaklah begitu sulit didapat. Faktor ini yang antara lain menyebabkan Irwandi tidak buru- buru menyatakan "pulang" ke Indonesia. Apalagi ia baru saja ditetapkan sebagai Associate Professor di Departemen Bioteknologi, Fakultas Sains, IIUM, dan menerima tawaran dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) untuk melakukan penelitian post doctoral di National Food Research Institut (NFRI) Jepang selama dua tahun dengan dana penelitian tidak terbatas.

"Program ini prestisius sekali karena NFRI hanya menyeleksi 5 peneliti muda dari 100 orang lebih yang masuk nominasi," tutur Irwandi yang sejak enam tahun lalu menjadi kontributor tabloid Bola. Di Jepang ia akan melakukan penelitian berbagai teknik molekuler modern untuk mengetahui dosis terbaik pengaruh karotenoid atas sel kanker.

Sumber : Kompas, Sabtu, 29 April 2006
Read Full 0 comments

Imran Kurkunda, Guru Kerapu

Imran Kurkunda, Guru Kerapu
Oleh : Emilius Caesar Alexey

Dengan lincah Imran Kurkunda (46) melompat dari satu gubuk ke gubuk lain. Lompatan itu tidak sembarangan karena gubuk-gubuk itu merupakan pelindung keramba jaring apung di tengah perairan Selat Nasik, antara Pulau Mendanau dan Pulau Langgir, Kabupaten Belitung.

Jika gagal melompat, Imran bakal tercebur ke dalam laut yang dalamnya sampai lima meter. Namun, pria yang sudah menekuni bisnis budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung selama 23 tahun itu tidak pernah ragu sedikit pun.

"Saya menekuni budidaya kerapu sejak tahun 1983. Ketika itu, budidaya dalam keramba jaring apung ini hanya usaha sampingan. Kini, usaha ini menjadi andalan pencarian dan saya ajarkan juga kepada sekitar 30 nelayan lain," ungkap Imran.

Budidaya kerapu menjadi andalan sebagian penduduk Desa Selat Nasik karena hasilnya dapat mencapai puluhan juta rupiah. Selain itu, usaha penangkapan ikan di laut sekarang ini mengalami banyak kendala, mulai dari harga solar yang mahal sampai cuaca yang tidak bersahabat.

Imran sebenarnya bukan penduduk asli Desa Selat Nasik. Pada tahun 1979, selepas menamatkan pendidikan sekolah guru atas, setingkat SMA, di Ternate, Maluku Utara, Imran memilih merantau ke Jawa. Dia belajar di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, selama satu tahun.

Tidak betah dengan kehidupan asrama ala pesantren, Imran pergi ke Surabaya dan menjadi nelayan. Dia tidak kesulitan menjalani pekerjaan ini karena sudah terbiasa menjadi nelayan saat di Ternate.

Imran muda hidup berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain. Pada tahun 1983 petualangannya berhenti di Pulau Mendanau, Kabupaten Belitung. Dia memilih bekerja pada perusahaan penangkapan ikan di pulau itu.

Mulai mencoba

Jiwa wirausaha Imran muncul di sana. Sebagai pekerja, Imran memerhatikan pola perilaku ikan kerapu di sekitar terumbu karang. Pada saat bersamaan, dia juga mempelajari pola perdagangan ikan di perairan Bangka-Belitung.

Semula Imran hanya menyiapkan jebakan kerapu sebagai salah satu cara mendapat kerapu dalam jumlah besar, selain dengan penangkapan manual.

Ikan-ikan kerapu yang masuk ke perangkap maupun hasil tangkapan di laut dijual ke perusahaan penangkapan ikan yang dulu menjadi tempat kerja Imran. Hal itu dilakukan sampai tahun 1986.

Setelah tiga tahun, Imran mengerti kerapu dapat dibudidayakan dalam lingkungan mirip terumbu karang. Karena itu, bapak dua anak itu kemudian mencoba membudidayakan ikan kerapu memakai keramba jaring apung.

Dengan mencoba-coba Imran memberanikan diri membudidayakan kerapu sunu (Plectropomus leopardus), kerapu bebek (Cromileptes altiveles), dan kerapu macan (Cromileptes fuscogatus). Modal yang diperlukan untuk membuat keramba jaring apung saat itu Rp 6 juta. Saat ini, biaya dapat membengkak menjadi Rp 20 juta-Rp 50 juta per gubuk, tergantung jumlah keramba di setiap gubuk.

Percobaan itu dimulai dari jenis makanan, tambahan oksigen dengan kompresor, sampai perlakuan detail lainnya. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Imran menemukan beberapa formula makanan yang cocok dan perlakuan yang dibutuhkan kerapu. Makanan kerapu adalah ikan kecil yang dicacah atau digiling halus sesuai bukaan mulut ikan dan diberikan dua kali setiap hari.

"Cara budidaya ikan kerapu saya pelajari secara otodidak. Dari pengamatan, saya mengerti kerapu itu pemakan daging alias kanibal. Oleh karena itu, setiap keramba jaring apung harus berisi ikan dalam ukuran sama," kata Imran.

Ia menambahkan, biaya pemeliharaan kerapu relatif murah karena pakannya diperoleh dari nelayan yang mendarat. Pemeliharaan yang agak rumit, yaitu keharusan membersihkan jaring tiap tiga pekan sekali agar kesehatan kerapu tetap terjaga.

Membagi ilmu

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya Imran menetapkan waktu 16 bulan sebagai masa panen bagi kerapu mengingat beratnya sudah mencapai enam ons per ekor.

Yang mencengangkan, dengan 20 keramba jaring apung setiap bulan Imran dapat memanen lebih dari 100 kilogram kerapu. Satu kilogram kerapu bebek laku Rp 325.000, kerapu sunu Rp 150.000, dan kerapu macan Rp 90.000.

Keberhasilan itu tidak menjadikan Imran egois. Dia mengajarkan ilmunya kepada nelayan lokal agar mereka dapat membudidayakan kerapu, mengingat populasi ikan karang itu mulai turun. Imran juga mau memberi pinjaman kepada nelayan yang mengalami kekurangan modal membuat keramba jaring apung.

Kemauan Imran berbagi ilmu justru mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Semua nelayan yang membudidayakan kerapu meminta Imran menjadi pedagang pengumpul dan mengekspornya ke Singapura. Dia juga mendapat julukan "Imran Kerapu", julukan penghormatan karena dianggap sebagai guru budidaya kerapu.

Kini, Imran sedang mempersiapkan kolam pembibitan kerapu karena selama ini mereka masih mendatangkan bibit dari Bali. "Meskipun pendidikan kurang, saya mau terus memajukan ekonomi dari dunia bahari. Negeri kita memiliki banyak potensi perikanan, sayang jika tidak dimanfaatkan," kata Imran.

Sumber : Kompas, Rabu, 10 Mei 2006
Read Full 0 comments

Irene Fernandez, Pantang Surut

Jun 17, 2009
Irene Fernandez, Pantang Surut
Oleh : Maria Hartiningsih

"Keadilan adalah kesadaran, bukan kesadaran personal, tetapi kesadaran seluruh umat manusia. Mereka yang mengakui suara kesadarannya biasanya juga mengakui suara keadilan."

Kata-kata Alexander Solzhenitsyn, novelis Rusia penerima Nobel Sastra tahun 1970, itu dikutip sebagai kalimat penutup sambutan Dr Irene Fernandez (60), pejuang hak-hak asasi manusia asal Malaysia, saat menerima penghargaan The Right Livelihood Award tahun 2005 tanggal 9 Desember tahun lalu.

The Right Livelihood Award adalah penghargaan Nobel alternatif bagi para pejuang HAM. Almarhum Munir menerimanya pada tahun 2000.

Irene Fernandez tidak terpisahkan dari perjuangan buruh migran di Malaysia. Ia menempatkan separuh hidupnya di wilayah yang sangat berisiko secara politis.

Tenaganita yang didirikannya tahun 1991 mengampanyekan hak-hak buruh migran, yang lebih dari tiga juta di antaranya berada di Malaysia. Organisasi itu juga bekerja dengan organisasi sejenis di negara-negara pengirim buruh migran ke Malaysia.

"Tenaganita artinya kekuatan perempuan," ujar Irene yang ditemui di Jakarta, Kamis (18/5) lalu.

Sebagai warga negara, tindakannya membela buruh migran dan mengecam kesewenang-wenangan negara dengan mudah dapat dikategorikan sebagai "subversif".

Tahun 1995, ia menerbitkan laporan tentang pelanggaran HAM buruh migran dilengkapi daftar tentang kekerasan fisik maupun seksual dan gizi buruk. Juga mengungkapkan kondisi kamp-kamp tahanan yang tidak manusiawi, yang menyebabkan banyak buruh migran meninggal.

Meskipun pemerintah akhirnya mengakui 46 buruh migran meninggal di kamp-kamp tahanan karena berbagai masalah medis, Irene tetap dituduh menyebarkan berita fitnah.

Pada tahun 1996, ia berstatus tahanan rumah. Paspornya disita dan ia tak boleh ikut pemilu.

Proses pengadilan untuk kasusnya ditunda sampai tiga tahun, dan dalam kurun waktu itu sebagian dari 300 buruh migran tawanan yang menjadi respondennya sudah dideportasi.

Kasusnya mulai disidangkan tahun 2000 dan berakhir tahun 2003, dengan lebih dari 300 kali persidangan—terpanjang dalam sejarah pengadilan di Malaysia. Irene diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman setahun penjara.

Tidak menyerah

"Selama 10 tahun terakhir, kalau mau ke luar negeri saya harus membuat surat ke pengadilan dan imigrasi untuk mengambil paspor saya. Kalau pulang, paspornya dikembalikan," tuturnya. Sekarang ia tengah mengajukan banding ke pengadilan tinggi.

Namun, semua itu tidak membuatnya surut. Di Jakarta, ia berkomentar pedas mengenai beberapa butir isi memorandum of understanding (MOU) antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia tentang rekrutmen dan penempatan pekerja rumah tangga Indonesia di Malaysia, yang ditandatangani di Bali pada 13 Mei lalu.

"MOU itu merupakan kemenangan Pemerintah Malaysia untuk terus berlaku sewenang-wenang," ujarnya menegaskan.

Pemerintah Indonesia tak hanya menelan kekalahan, tetapi juga terus membiarkan kesewenang-wenangan terjadi terhadap warganya di luar negeri.

Dengan MOU itu kedua pemerintah semakin menegaskan pandangannya bahwa perempuan buruh migran adalah komoditas yang diperdagangkan. "Pemerintah hanya berkepentingan dengan devisa dari ’industri’ ini," ucapnya.

Bagi Irene, sepanjang perempuan tak diakui sebagai manusia dengan pemenuhan hak dan harga dirinya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan ruang, waktu, serta upah yang layak, MOU itu hanya melegalisasi perdagangan manusia dan melembagakan pergadaian tenaga perempuan sebagai buruh migran.

"Dari 22 poin yang didefinisikan sebagai tanggung jawab majikan, hanya empat poin yang menyangkut kesejahteraan pekerja rumah tangga," ujar Irene lagi.

Standar kontrak kerja dinilai Irene sebagai "kontrak pergadaian", dan melanggar standar minimum peraturan ketenagakerjaan di Malaysia.

Sejarah

Pengalaman hiduplah yang membuat Irene memahami benar kesakitan, ketakutan, dan diskriminasi terhadap buruh migran.

"Ayah saya adalah buruh migran asal Kerala, India. Ia bekerja di perkebunan karet saat Malaysia dijajah Inggris," ungkapnya.

Ibu tiga anak ini memulai kariernya sebagai guru sekolah lanjutan atas. Ketika mulai aktif di Young Christian Workers Movement tahun 1970 ia memutus kariernya sebagai guru dan sepenuhnya aktif di gerakan pekerja.

Sejak itulah ia mengabdikan hidupnya pada pergerakan dan perjuangan menolak diskriminasi, rasisme, serta ketidakadilan dalam arti luas.

Ia memunculkan wajah perempuan dalam setiap persoalan yang terkait dengan kemiskinan dalam arti luas. "Kekerasan terhadap perempuan tidak berdiri sendiri," tuturnya.

Irene memimpin kampanye penghapusan kekerasan terhadap perempuan tahun 1986, disusul menjamurnya kelompok-kelompok perempuan yang bekerja untuk isu tersebut.

UU Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan perlindungan perempuan dari pelecehan seksual serta perubahan dalam hukum dan perundangan di Malaysia terkait dengan masalah perkosaan tak bisa dipisahkan dari seluruh aktivitas itu.

Di tingkat regional Irene ikut mendirikan Asia Pacific Women Law and Development dan menjadi direkturnya selama 10 tahun.

Langkah Irene tidak terhentikan. Tubuhnya yang menua bukan hambatan. Bagi perjuangannya, ia bersemboyan, "Ageless body, tireless mind, and endless love...."

Sumber : Kompas, Senin, 29 Mei 2006
Read Full 0 comments

Isnawati Angkat Kain Cual

Isnawati Angkat Kain Cual
Oleh : Emilius Caesar Alexey

"Bangka Belitung sudah menjadi provinsi, maka sudah selayaknya kita mengangkat kain cual sebagai kain adat yang menjadi identitas masyarakat Bangka," kata Isnawati (50) menirukan ucapan Abdul Hadi (almarhum), suaminya, sebelum mendirikan toko dan kerajinan kain cual, enam tahun yang lalu.

Pada saat Kepulauan Bangka Belitung masih tergabung dalam Provinsi Sumatera Selatan, kepulauan ini nyaris tidak memiliki identitas budaya tersendiri. Semua identitas budaya, termasuk kain adat, selalu berkiblat pada provinsi induknya.

Karena tergabung dalam Sumsel, kain adat yang dipopulerkan di Bangka adalah songket palembang. Kenyataan yang ironis karena Bangka mempunyai kain cual sebagai kain adat yang sudah berkembang sejak abad XVI.

Oleh karena itu, Isnawati dan Abdul Hadi bertekad untuk kembali memperkenalkan kain cual kepada masyarakat ketika Provinsi Bangka Belitung berdiri.

Impian mereka cukup sederhana, yakni agar masyarakat Bangka tahu bahwa kain adat mereka adalah kain cual, bukan songket palembang.

Kain cual pada dasarnya adalah kain tenun seperti songket, dengan warna-warna yang cerah dan menyala, khas kain tradisional Melayu. Motif yang ada juga hampir mirip dengan motif kain songket palembang, tetapi lebih luwes dan memiliki banyak lengkungan serta selalu dihiasi motif flora dan fauna.

Untuk mewujudkan impian itu, keduanya mendirikan toko kain cual yang diberi nama Ishadi Kain Cual. Ishadi dari nama Isnawati dan Abdul Hadi (meninggal Januari 2006). Toko yang didirikan di Jalan A Yani, Nomor 46, Pangkal Pinang, itu masih berdiri sampai sekarang.

Usaha memasyarakatkan kain cual ternyata tidak mudah. Kain cual yang ada saat itu hanya berupa kain-kain tua peninggalan kakek dan leluhur mereka. Tidak ada perajin maupun pemasok kain cual.

Kemudian, mereka mulai melatih sepuluh orang untuk menenun kain dengan motif khas kain cual, seperti bebek-bebekan, naga bertarung, kucing tidur, kembang gajah besar, dan kembang gajah kecil. Mereka mempunyai kain-kain cual dengan motif tersebut dari peninggalan leluhur Abdul Hadi, yang merupakan demang, setingkat lurah, pada zamannya.

Sangat mahal

Dengan sistem tenun manual dan proses pembuatan yang memakan waktu satu sampai tiga bulan, harga kain cual menjadi sangat mahal, antara Rp 1,5 juta dan Rp 7,5 juta per lembar. Harga yang mahal itu sangat tidak mendukung untuk memasyarakatkan kain cual karena hanya dapat dibeli oleh kalangan masyarakat kaya.

Selain tetap memproduksi tenun cual secara manual, Isnawati mencoba melakukan eksperimen produksi kain cual dengan pola produksi yang lain. Pola produksinya merupakan produksi massal dengan pabrik, yaitu melalui proses pembatikan dengan cap, dan proses pembatikan tulis. Tentu, semuanya dengan motif khas kain cual.

Produksi kain cual dengan sistem printing massal dilakukan di Bandung, dengan bantuan adik Isnawati. Adapun proses pembatikan dengan sistem tulis dan cap dilakukan di Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Proses yang sama dilakukan oleh para pedagang kain khas Jambi dan Kalimantan.

Bahan yang digunakan untuk kain cual juga bervariasi, mulai dari kain sutra sampai katun. Hasilnya positif. Ketiga pola produksi itu menghasilkan berbagai jenis kain cual dengan harga yang bertingkat, mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 750.000 per set pakaian.

Harga yang terjangkau itu membuat Pemerintah Kota Pangkal Pinang mulai memesan seragam dari kain cual produksi Isnawati pada tahun 2002. Sejak saat itu banyak instansi yang memesan kain cual sebagai seragam mereka.

Keuntungan mengalir dari banyaknya jumlah pemesanan kain cual. Namun, hal itu tidak membuat Isnawati berpuas diri. Ibu empat anak itu mengerti pentingnya melakukan variasi produk agar konsumen tidak cepat menjadi bosan.

Karena itu, Isnawati menciptakan beberapa motif baru yang lebih menarik dan mudah untuk diterima kalangan muda. Selain itu, Isnawati juga menciptakan beberapa model pakaian, dari seragam taman kanak-kanak sampai pakaian kebaya bagi perempuan dewasa. Kreasi yang cukup baik mengingat sebelumnya profesi Isnawati adalah asisten apoteker, bukan desainer.

Dampaknya sangat baik. Pesanan dan pembelian dari masyarakat maupun instansi tidak berhenti mengalir. Pembelian dari para pengunjung Pulau Bangka untuk oleh-oleh juga terus berlangsung.

Masih merisaukan

Seiring berjalannya waktu, kain cual semakin diterima banyak masyarakat Bangka sebagai kain khas mereka. Namun, ada satu kondisi yang masih merisaukan Isnawati, yaitu ketiadaan perajin kain cual dengan sistem pembatikan di Bangka.

"Saya ingin mendatangkan para pelatih pembuatan batik dari Pekalongan atau Yogyakarta untuk melatih putri-putri Bangka. Namun, niat ini masih terkendala dana karena proses pelatihan membutuhkan waktu dua bulan," ungkapnya.

Menurut Isnawati, jika sudah memiliki banyak perajin yang mampu membatik dengan sistem tulis dan cap, jumlah produksi dan variasi kain cual dapat ditingkatkan. Dengan demikian, Bangka akan menjadi salah satu produsen kain khas tradisional, seperti daerah-daerah penghasil batik di Jawa.

Mimpi Isnawati untuk memasyarakatkan kain cual di Bangka perlahan tetapi pasti mulai terwujud. Mayoritas masyarakat Bangka sudah tahu bahwa kain cual merupakan kain tradisional mereka meskipun belum semua memilikinya.

Hal itu membuat Isnawati memiliki mimpi baru. Dia ingin membangun sebuah toko dan restoran dengan sistem one stop service yang memungkinkan siapa saja untuk datang dan menikmati makanan serta membeli pernak-pernik khas Bangka.

"Semua harus saya mulai dengan mimpi agar terpacu mewujudkannya demi kemajuan Bangka," tutur ibu empat anak ini sambil tersenyum.

Sumber : Kompas, Senin, 5 Juni 2006
Read Full 0 comments

Idham Samawi : Idham, Cabai Merah yang Mengering

Idham, Cabai Merah yang Mengering
Oleh : Siwi Yunita Cahyaningrum dan Putu Fajar Arcana

Beberapa menit setelah gempa berkekuatan 5,9 skala Richter meluluhlantakkan Bantul, Idham Samawi (56) berada di tengah-tengah ribuan korban. Halaman Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati, Bantul, pukul 07.20 penuh dengan mayat serta korban luka tak terurus. Sabtu (27/5/2006) pagi itu Bantul menjadi kota penuh duka.

Idham Samawi, Bupati Bantul, kebingungan berdiri di antara ratusan orang yang panik. Idham, yang terbiasa tampil dengan baju rapi, saat itu memakai kaus oblong putih dan hanya menggenggam telepon seluler yang jaringannya nyaris lumpuh.

Beberapa kali ia mencoba berputar, mungkin mencari paramedis, tetapi gagal. "Waktu itu di RSUD hanya ada tiga dokter dan beberapa paramedis. Di situ untuk pertama kalinya sebagai pemimpin, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk rakyat," kata Idham dalam percakapan dua pekan setelah peristiwa gempa bumi. Idham mengaku hanya mampu mengikat kaki seorang anak muda yang patah untuk menghentikan kucuran darahnya. Ia tak tahu apakah itu cukup membantu.

Ketika mengisahkan Sabtu pagi yang kelabu di Bantul itu, mata suami Sri Surya Widati ini berkaca-kaca. Sejenak ia menaruh rokoknya dalam asbak. Sejak gempa, Idham memilih membuka kantornya di ruang tamu rumah jabatan di Jalan Juanda, Kota Bantul.

Serombongan tamu lain telah menunggu ketika kami berbincang. Beberapa kali Idham melirik arloji di tangan kirinya. Ia tampak lelah. Saat bersalaman pada awal perjumpaan kami, tangannya terasa dingin. Ketika bersentuhan, tangan itu tidak menggenggam, tetapi sekadar ditempelkan….

Berubah drastis

Gempa tiga pekan lalu membuat Bantul berubah hampir 180 derajat. Kabupaten di Provinsi DIY yang biasanya adem ayem menjadi ramai dengan mobil pembawa sembako, relawan, dan obat-obatan. Setiap orang mengeluh lapar dan dingin karena rumahnya roboh dan rusak.

Jalan, jembatan, kantor instansi, sekolah, bahkan rumah sakit rusak. Korban tewas mencapai sekitar 4.000 orang. Bantul seolah kembali di tapal batas di mana mereka harus memulai sesuatu dari nol.

Seluruh warga yang selamat dari amukan gempa bumi kini sibuk mengurus puing rumah mereka atau berhitung terus untuk tetap bertahan hidup sehingga membuat ratusan hektar sawah telantar. Bahkan, di Desa Srigading, Sanden, Bantul, tak kurang dari 600 hektar tanaman cabai terbengkalai.

Siang itu, cabai yang memerah di persawahan dibiarkan membusuk. Bahkan, kata Idham, setidaknya 1.200 hektar dari sekitar 16.000 hektar lahan padi terancam gagal panen. "Bulan Juli- Agustus akan panen raya. Di sawah itu terhampar uang ratusan miliar rupiah," tutur Idham.

Di bawah Idham Samawi yang menjadi bupati sejak tahun 1999, tumpuan ekonomi daerah itu digantungkan pada pertanian. "Lebih dari 42 persen ekonomi kami didukung pertanian," ujar dia. Itu sebabnya mantan wartawan ini sementara menolak mal dan kompleks perumahan di kota itu.

Tiga hari sebelum gempa, masih ada pengusaha menemuinya meminta izin mendirikan mal. "Saya tolak. Sementara ini rakyat Bantul belum butuh karena daya beli mereka masih rendah," tutur ayah tiga anak ini.

Idham sungguh khawatir, mal akan memakan lahan pertanian dan mematikan pasar tradisional. "Kami punya 29 pasar tradisional. Di situlah masyarakat bisa berinteraksi. Prinsipnya, kami menolak konsumerisme," tutur Idham.

Keberpihakannya kepada pertanian ia buktikan dengan membeli produk pertanian milik penduduk dalam kondisi krisis kini. Dia juga mendatangkan 150 ton bibit bawang merah dari Filipina karena panen bawang petani gagal. "Kami akan bagikan kepada petani, mungkin berupa pinjaman lunak, dikembalikan nanti saat panen," ujar lelaki kelahiran 22 Juni 1950 ini.

Tinggal cerita

Sementara ini seluruh rencana itu tinggal cerita. Rakyat Bantul belum lagi sembuh dari cedera. Karena itulah, Idham mempercepat masa tanggap darurat menjadi sebulan.

"Masa penyelamatan yang terlalu panjang akan memengaruhi kemandirian masyarakat dan produktivitas mereka, ini paling berbahaya," ujarnya.

Menurut Idham, terlenanya masyarakat dalam banjir bantuan menyebabkan mereka lupa mengurus sawah yang nantinya menjadi aset hidup. Perbaikan mental adalah salah satu tantangan terberat bagi bangkitnya Bantul.

Konsekuensi dari bergantinya masa penyelamatan ke rekonstruksi adalah penghentian bantuan langsung. "Kalau tak berhenti jadi peminta-minta, masyarakat tidak akan cepat pulih. Lantas siapa yang akan memproduksi tahu, tempe, dan sebagainya," ujar Idham.

Idham sadar benar berbagai kebijakannya di sektor pertanian sungguh tak populer dalam pembangunan kota di Indonesia. Investasi modal besar, terutama berupa mal, dianggap menjadi simbol kemajuan dan modernisme.

"Kami tak malu dibilang ndeso, yang penting cerdas dan berakhlak, yang terpenting berjiwa Indonesia," kata dia. Dalam menggapai kecerdasan itulah, sejak awal menjabat, Idham telah membiayai anak putus sekolah dari SD hingga SMA.

Sebelum gempa, ia baru saja akan melangsungkan penjelajahan dari rumah ke rumah mencari mereka yang putus sekolah. "Belajar di tenda pun tak masalah, bila perlu di bawah pohon pun jadi…," tekad Idham.

Berbagai bantuan yang mengalir tiada henti pada batas tertentu akan berhenti. "Rakyat Bantul harus bangkit, kembali ke sawah…," tekad Idham.

Sumber : Kompas, Jumat, 16 Juni 2006
Read Full 0 comments

Ira Sukira : Melanjtukan Riwayat yang Hilang

Jun 16, 2009
Melanjutkan Riwayat yang Hilang
Oleh : Yenti Aprianti

Sejak masih di lorong Gang Kelurahan Sukapakir, Kota Bandung, anak-anak yang bertemu dengannya langsung menyapa. Beberapa bahkan membuntutinya sambil memanggil-manggil mencari perhatian. "Kak Ira…, Kak Ira…."

Pasukan" anak-anak lelaki dan perempuan makin banyak saja ketika beberapa gang sudah dilewati. Ira Sukira (26) dengan riang membalas sapaan mereka. "Ikut, yuk…. Kita main ke pos," kata lelaki berambut gondrong itu.

Pos yang dimaksud adalah rumah kecil di gang sempit. Dindingnya lembab. Namun, di rumah itu Ira biasa mengajak anak-anak bermain dan membaca buku yang bisa dipinjam. Selain itu, tersedia juga peralatan menggambar.

Sambil bermain di pos kreativitas yang dibangun lembaga swadaya masyarakat (LSM) Solidaritas Masyarakat Anak (Semak) tempatnya bekerja, Ira menggali masalah yang dihadapi anak. Tidak sedikit anak-anak yang bercerita tentang kekerasan yang mereka alami di jalanan atau di rumah.

Ira memberi keterampilan hidup agar mereka terhindar dari kekerasan. Jika pelakunya orangtua, Ira juga mendatangi orangtua anak-anak tersebut. "Biasanya saya dekati dengan cara membantu orangtua memasak sambil membicarakan anak yang bermasalah itu dan meminta agar orangtuanya mengubah sikap," tutur Ira.

Pada awal bekerja sebagai pendamping anak jalanan, ia datang ke kantung-kantung anak jalanan. Lalu, ia mendekati masyarakat di sekitar dengan mengobrol sambil minum kopi di warung, dan bermain bersama anak-anak di lapangan.

Masyarakat awalnya tidak begitu mudah menerima. "Mereka khawatir anak-anaknya bergaul dengan orang dewasa, takut jadi korban sodomi," ungkapnya.

Dia pernah dijambak dan dibenturkan kepalanya oleh salah satu orangtua anak jalanan karena dikira membuat anaknya menangis. Tak jarang juga ia didatangi orangtua yang sebagian besar tidak bekerja, atau pemabuk, yang kesal karena Ira dianggap menghalang-halangi anaknya mencari uang.

Sudah tiga tahun Ira bekerja mendampingi anak jalanan dengan cara belajar dan bermain. Awalnya ia bekerja lima hari seminggu mendampingi anak jalanan di daerah Sukapakir, Kiaracondong, Sukajadi, dan di rumah tahanan. Dalam sehari ia bisa menghabiskan delapan jam bersama 30-45 anak.

Bekas anak jalanan

Ira tidak pernah bermimpi hidupnya berubah 180 derajat, menjadi "guru" bagi anak jalanan, membuka wawasan anak-anak dan orangtua di perkampungan kumuh mengenai hak anak.

"Dulu, saya kira saya akan jadi kriminal atau preman sebab sejak kecil saya sudah jadi anak jalanan," tutur Ira.

Yang dia ketahui tentang hidupnya, ia lahir dari keluarga jalanan. Neneknya pernah menjadi pengemis, sedangkan kedua orangtuanya bertemu saat sama-sama menjadi anak jalanan. Mereka semua berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Ketika adiknya lahir, orangtuanya memutuskan mengadu nasib, bertransmigrasi di Jambi. Semua anaknya diserahkan kepada kakek. Karena tidak mampu, kakeknya kemudian membagikan kakak beradik itu kepada orang lain. Ira sendiri tinggal bersama neneknya. Ira adalah anak kelima dari sembilan bersaudara.

Ketika ibunya meninggal, ayahnya kembali lagi ke Garut, lantas menggelandang lagi di Kota Bandung.

Karena kehidupan neneknya sangat miskin, Ira memutuskan kabur dari rumah neneknya di Garut, mencari ayahnya di Kota Bandung dan terdampar di Terminal Kebon Kelapa, Bandung. Sejak itulah ia menjadi anak jalanan.

Ia tidak menyangka kota tersebut begitu besar sehingga menelan harapannya bertemu ayahnya. Setiap hari ia tidur di terminal dan emper toko serta mengais makanan basi di tong sampah. Ia juga memulung sampah untuk dijual agar bisa membeli makanan yang lebih layak.

"Waktu itu saya masih kecil sekali. Setiap disergap rasa takut, saya menangis," ungkap Ira. Ia kemudian bertemu anak-anak jalanan yang lebih dewasa, mereka mengajarinya mencopet, mencuri, menodong, berkelahi, dan "ngelem" atau mengisap aroma lem kayu yang menyengat hingga mabuk.

Direngkuh masyarakat

Saat usianya sekitar sembilan tahun, Ira bertemu dengan pemuda anggota LSM Merdeka, yang kemudian menjadi LSM Semak. Para pemuda yang sebagian besar mahasiswa itu mengajaknya bermain sambil belajar, dan tinggal di rumah singgah yang sekaligus dijadikan bengkel kreativitas, di Parakan Panjang, Kota Bandung.

Sejak itu ia mulai gemar menggambar dan melukis. Sekarang, Ira telah memamerkan karya-karya lukisannya di berbagai acara dan galeri di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Harga lukisannya antara Rp 400.000-Rp 1,5 juta.

Ira juga punya semangat belajar tinggi. Ia sering memulung kertas dan alat tulis bekas dari tong sampah, yang lalu dia gunakan untuk belajar menulis, membaca, dan berhitung, serta menyablon.

Ira, yang diperkirakan lahir pada tahun 1980 ini, suatu kali bisa dipertemukan dengan ayah kandungnya berkat bantuan LSM dan komunitas anak jalanan yang dibinanya. Namun, pertemuan tersebut tidak banyak mengubah hubungannya dengan keluarga aslinya.

"Kini saya bahagia. Bisa hidup seperti orang lain, meskipun pernah kehilangan riwayat hidup karena tidak tahu kapan sesungguhnya saya dilahirkan," ujar Ira, yang kini membuka usaha bengkel sablon bersama teman-temannya.

Sumber : Kompas, Kamis, 20 Juli 2006
Read Full 0 comments

Indro Kimpling Suseno : "Kabare" Kimpling, "bupati" EO

Jun 10, 2009
"Kabare" Kimpling, "Bupati" EO
Oleh : Djoko Poernomo

Total memilih jalan hidup sebagai event organizer atau EO membuat KRMT Indro Kimpling Suseno SH mampu menyusun dua buku berjudul Cara Pinter Event Organizer dan Cara Pinter Mengelola Keuangan Event Organizer.

Judul pertama sempat naik cetak tiga kali dalam tempo enam bulan, adapun judul kedua naik cetak dua kali hanya dalam waktu tiga bulan. Ini membuktikan bahwa buku mungil terbitan Galangpress, Yogyakarta, tersebut laris manis.

Padahal, seperti disebutkan oleh penulisnya, "... Saya sendiri tak pernah memiliki impian atau bayangan sebagai penulis buku."

"Maka, yang terjadi pada buku ini adalah sebuah transformasi pengalaman semata. Sekecil apa pun sebuah pengalaman, saya yakin akan bermanfaat," tutur pemilik nama asli RM Indro Suseno, yang kemudian ditambahi Kimpling, julukan akrab sejak di kelas II SMA Negeri III Padmanaba, Yogyakarta.

Nama julukan itu kini justru menjadi trademark di bidang EO di kota kelahirannya, Yogyakarta. Ia sekarang berusia 44 tahun. Jadi, julukan Kimpling sudah menenggelamkan nama aslinya lebih dari 20 tahun.

Adapun yang memanggil dengan sebutan Seno tinggal ibunya, Prof Dr Noerhayati Soeripto (73), guru besar emeritus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), yang ditinggal Raden Mas Soeripto Notohadisoeryo sejak dekade 1970-an.

Kimpling kini menjadi direktur di tiga badan usaha terpisah, berturut-turut Kabare Magazine, Kabare Event, dan Jogja Gallery. Kesemuanya berkat keaktifan di dunia EO.

Bupati Anom

Menyangkut nama, Kimpling merasa repot ketika tahun 2003 memperoleh pangkat Bupati Anom dari Pura Pakualaman, Yogyakarta, dengan risiko namanya harus diganti menjadi Prodjo Notohadisoerjo diawali gelar KRMT alias Kanjeng Raden Mas Tumenggung.

"Kalau pakai nama baru, tak ada yang kenal. Lama-lama tak ada lagi yang memanfaatkan jasa saya...," tutur suami dari Wahyuningrum SE (41), seorang wiraswastawan, ini. Jiwa panggung yang begitu kental membuat calon istri pun dikenal saat sama- sama mengelola event pentas Artis Video Musik Indonesia tahun 1994 di Yogyakarta.

Sebagai langkah kompromi, "hadiah" dari Pura Pakualaman hanya ia ambil KRMT-nya, sementara nama asli dan panggilan akrab tetap dipertahankan. Jadilah KRMT Indro Kimpling Suseno diimbuhi gelar SH dari FH UGM, setelah menempuh kuliah sekitar tujuh tahun. Meski demikian, Kimpling semasa kuliah (1986) pernah menerima penghargaan sebagai Pembina Mahasiswa dari Rektor UGM dan Dekan FH UGM.

"Kuliah saya memang tak lancar. Ya, itu tadi, karena banyak bergerak di luar, ngurusin EO," tutur Kimpling. Prof Noerhayati sebelumnya berharap anak sulungnya menjadi dosen.

Pria berkacamata tebal ini selalu mengutamakan pendidikan dan pembinaan bagi anak buahnya dengan menanamkan visi bahwa profesionalitas adalah jerih payah keringat hasil proses belajar dan tingkat keterampilan yang tinggi, bukan dari tawar- menawar honor semata. Pedoman yang selalu ditanamkan kepada tim kerjanya, seperti tertulis dalam kedua buku, adalah T-E-E atau teliti-efektif-efisien.

"Hidup adalah hiburan dalam keseriusan. Hidup adalah serius yang santai. Hidup adalah santai yang serius," tutur Kimpling mencoba berpuisi ketika ditemui di Jogja Gallery—galeri paling gres—tengah malam empat hari setelah Lebaran.

Di tempat ini pula Kimpling sering menggelar rapat redaksi untuk majalah bulanan Kabare terbitan Kabare Magazine, serta rapat penyusunan EO untuk Kabare Event.

70 "item" acara

Kabare Event baru saja menyelesaikan gawe besar ketika diserahi tanggung jawab pemerintah kota setempat menangani bermacam kegiatan dalam rangka HUT Ke-250 Kota Yogyakarta. Sebanyak 70 item acara digelar selama tiga bulan dari 16 Juli sampai 7 Oktober. Di antara item acara juga terselenggara JAFF (Jogja Netpac Asian Film Festival) 2006.

"Netpac adalah singkatan The Network for the Promotion of Asian Cinema," tutur Kimpling, penggagas acara bersama sutradara kondang kelahiran Yogyakarta, Garin Nugroho. Bintang film dari beberapa negara di Asia hadir dalam hajatan tersebut.

Kimpling yang di dalam kepanitiaan HUT Ke-250 Kota Yogyakarta duduk sebagai ketua—jabatan yang sama untuk tahun 2003 dan 2004—sempat mengubah tema peringatan sehubungan gempa bumi 27 Mei 2006. Tema semula "Semangat Kearifan Yogya Menuju Dunia", kemudian diubah menjadi "Semangat Kebersamaan Menuju Yogya Bangkit". Beberapa mata acara juga dibatalkan untuk disesuaikan dengan suasana kota yang masih berkabung.

Keluar dari PNS

Begitu lulus sarjana tahun 1988, Kimpling diterima bekerja di Bagian Organisasi Tata Laksana Pemerintah Provinsi DIY. Namun, jiwa EO-nya menjadikan ia tak betah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga memutuskan keluar dan pindah kerja di bagian promosi surat kabar harian di Yogyakarta, sebelum akhirnya bergabung ke Exist Communication pada tahun 2003.

"Baru tahun 2005 saya mendirikan EO sendiri, yaitu Kabare Event untuk mendukung Kabare Magazine," tutur Kimpling, yang pernah memandu acara Kedai 24 di radio Geronimo FM tahun 1989-1997.

"Perihal ilmu EO yang saya peroleh, sungguh merupakan proses dari kecil dan dari bawah. Tentu banyak suka dan dukanya. Tetapi, yang penting the show must go on! Kita boleh mengubah semua rencana awal, tetapi tidak menghentikannya," tandas Kimpling, yang emoh pindah bekerja di Jakarta, misalnya. Bagi dia, Kota Budaya Yogyakarta adalah segala-galanya.

Sumber : Kompas, Senin, 20 November 2006
Read Full 0 comments

Ian Thorpe : "Ikan" Itu Tidak Berenang Lagi

"Ikan" Itu Tidak Berenang Lagi
Oleh : Irving R Noor

Bagi kebanyakan orang, mundurnya Ian Thorpe dari kolam renang dirasa mengejutkan. Betapa tidak, pada usia 24 tahun dan sarat prestasi, Thorpe mengumumkan mundur dari cabang olahraga yang ikut membesarkan namanya itu.

Thorpe yang dijuluki si "Flipper" atau si "Thorpedo" mengumumkan mundur pada 21 November 2006 di Sydney, Australia. Sebenarnya, desas-desus sudah terbetik tahun 2005 saat dia memutuskan tidak ambil bagian di sebuah Kejuaraan Renang Dunia. Alasan yang disebutkan kubu Thorpe kala itu, perenangnya sedang mengisi ulang "baterai"-nya.

Namun, pada 7 Maret 2006, Thorpe kembali menyatakan tidak bisa tampil di pentas olahraga Persemakmuran di Melbourne, Australia. Kubu Thorpe kembali dituntut memberikan alasan. Saat itu, Thorpe disebutkan menderita sakit misterius dan juga bronchitis.

Puncak dari kesemuanya itu, Thorpe akhirnya membeberkan persoalan mengapa dia mundur dari renang. Bagi kebanyakan orang maupun penggemarnya, keputusan mundur yang disampaikan Thorpe dinilai nekat.

Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan saat Thorpe mengadakan jumpa pers. Di antaranya, bagaimana bisa seorang bintang mundur pada usia puncak prestasi? Bahkan, Thorpe dituduh mengempaskan harapan banyak orang Australia, termasuk lawan-lawannya yang menunggu di pertarungan paling bergengsi di Olimpiade Beijing 2008.

Tentu saja, berhentinya Thorpe sebagai perenang juga menjadi perbincangan hangat di Eropa dan China. Berita mundurnya Thorpe, sebagaimana diketengahkan kantor berita Reuters, menjadi berita utama sejumlah koran di China yang bakal menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2008. Thorpe yang dinilai sebagai ikon di cabang renang bakal mengurangi persaingan ketat perebutan medali emas di Beijing 2008 nanti.

Goyahkah Thorpe akan keputusannya itu? Ternyata tidak! Perenang yang memecahkan 13 rekor baru dunia individual serta merengkuh lima medali emas di empat nomor lomba berbeda di dua Olimpiade, Sydney 2000 dan Atlanta 2004, dengan tegar menjawab semua pertanyaan. Dia bahkan terlihat amat rileks.

Thorpe yang mengenal renang sejak usia lima tahun menyatakan, dirinya sudah sampai di pengujung karier.

Kakak kandung

Thorpe menyukai renang ketika dia menemani kakak kandungnya Christina berlatih renang. Saat itu, si kecil Thorpe berkomentar, berenang itu tidak mudah. Apalagi dia didiagnosa alergi zat chlorine. Untuk mengantisipasi hal itu, hidung Thorpe dijepit dengan jepitan hidung dan berenang dengan kepala di atas air. Beruntunglah penyakit alerginya berkurang dan Thorpe untuk pertama kalinya merebut juara di akhir usia sembilan tahun.

Ibu Thorpe, Margaret adalah guru sedangkan ayahnya Ken adalah seorang tukang kebun. Tetapi, Thorpe yang lahir pada 13 Oktober 1982 di Sydney, menjadi piawai di kolam renang karena bimbingan kakak kandungnya Christina dan pelatih renang Tracey Menzies. Prestasi besar terus direngkuh Thorpe. Sampai suatu ketika dia diterpa sakit migrain.

Puncak sakit migrain dirasakan Thorpe tahun 1999 saat dia memecahkan rekor dunia renang baru di Hongkong. Dari kejadian itu, selama empat bulan di awal tahun 2000, Thorpe dilanda sejumlah masalah.

Tangannya cedera. Dia juga dituduh mengonsumsi obat terlarang oleh seorang pelatih renang dari Jerman. Thorpe kemudian juga digoyang karena memakai pakaian renang yang dinilai menguntungkan dirinya. Pakaian renang kontroversial yang dipakai Thorpe kala itu disebut "pakaian kodok" atau "Mr Condom."

Atas berbagai terpaan itu, perenang dengan tinggi badan 1,94 meter ini tidak goyah. Prestasinya bahkan terus melejit. Di Olimpiade Sydney, Thorpe memperlihatkan kedigdayaannya dengan merebut tiga medali emas di 400 meter gaya bebas, 4X100 meter gaya ganti bebas dan 4X200 meter gaya ganti bebas. Lalu di Olimpiade Athena empat tahun kemudian, Thorpe merebut dua medali emas di nomor 400 meter dan 200 meter gaya bebas.

Kalau saja dia merebut satu medali emas di Olimpiade Beijing 2008 maka namanya akan sejajar dengan perenang pendahulunya yakni Mark Spit, Matt Biondi dan Alexander Popov. Sebagaimana atlet punya yang nama besar, kekayaan kemudian mengiringinya.

Legenda

Begitu banyak tawaran. Dari menjadi model sampai tawaran menjadi bintang iklan. Thorpe bahkan sempat muncul di catwalk bersama si petenis cantik asal Swiss Martina Hingis, juara tiga kali Australia Open. Pundi-pundi Thorpe bertambah tebal. Dia bahkan merambah ke dunia televisi dan menjadi komentator.

Dia adalah legenda. Itu komentar rival Thorpe dari Belanda, Pieter van den Hoogenband. "Adalah menyenangkan berlomba dalam sejarah renang bersama dia," tambah Hoogenband yang merasa begitu kehilangan.

"Thorpe tidak sendiri," kilah Shane Gold yang mundur dari kolam renang saat berusia 16 tahun. Gold yang merebut tiga medali emas di Olimpiade Munchen 1972 menyebutkan, keputusan Thorpe untuk mundur adalah langkah yang tepat.

Rekan Thorpe, Dawn Fraser juga bisa mengerti kenapa Thorpe mundur. "Adalah sesuatu yang egois apabila saya minta dia terus berenang. Thorpe tahu persis kapan harus berhenti," ujar Fraser, salah satu dari dua perenang wanita Australia yang juga ambil bagian di Olimpiade.

Terlalu banyak pilihan Bagi Thorpe, entah sebagai aktor, perwakilan PBB, tamu di acara televisi atau berpolitik. "Untuk saat ini saya ingin rileks dan melupakan kolam renang," kata Thorpe dengan senyum lebar.

Sumber : Kompas, Jumat, 24 November 2006
Read Full 0 comments

Haryanto Wito Atmodjo & Indriati : Harry dan Iin dalam Mandarin

Jun 7, 2009
Harry dan Iin dalam Mandarin
Oleh : Frans Sartono

Di tengah bisnis musik yang meriah di Tanah Air, duet penyanyi Harry dan Iin memberi warna lain. Selain membawakan lagu pop Mandarin, mereka juga menyanyikan lagu daerah atau keroncong dalam bahasa Mandarin, seperti Ayo Mama, Sing Sing So, sampai Bengawan Solo.

Sabtu (17/2/2007) ini duet Harry dan Iin dijadwalkan tampil di Ambon. Pulau ini mempunyai arti tersendiri bagi mereka. Ayo Mama, salah satu lagu daerah Maluku, sering mereka bawakan dalam bahasa Mandarin di depan publik China.

Mereka membawakan lagu daerah Indonesia di kota-kota di China, seperti Shanghai, Nanning, sampai Shatou. Lirik lagu diubah dalam bahasa Mandarin agar lebih komunikatif. Mereka pernah datang di sebuah kampung di Nanning, Guang Xi, di mana banyak bermukim bekas warga negara Indonesia.

"Waktu kami menyanyikan lagu Ayo Mama, penonton ikut menirukan sambil bertepuk tangan dari intro sampai akhir lagu," kenang Harry (40), pria kelahiran Solo yang bernama lengkap Haryanto Wito Atmodjo.

"Waktu kami nyanyi Halo Halo Bandung mereka nangis. Selesai show, ada ibu-ibu membawakan kami sambal terasi," tutur Iin (34), putri Solo yang bernama lengkap Indriati.

"Bengawan Solo"

Lagu-lagu daerah yang dibawakan Harry dan Iin disukai warga China yang pernah tinggal di Indonesia dan mereka yang mengenal lagu-lagu Indonesia. Duet Harry dan Iin semula dibentuk untuk melayani publik pengguna bahasa Mandarin yang menyukai lagu Indonesia.

Alkisah pada pertengahan era 1990-an, seorang warga negara China datang ke Jakarta memburu kaset-kaset lagu keroncong dan lagu daerah. Ia mendapatkan lagu-lagu seperti Sing Sing So dan Bengawan Solo dari kaset produksi perusahaan rekaman Gema Nada Pertiwi (GNP).

Tahun 1996, dinas kebudayaan di Shanghai mengundang produser GNP, Hendarmin Susilo, untuk berpartisipasi pada Malam Bengawan Solo di kota itu.

Hendarmin lalu membentuk pasangan duet putra-putri untuk menyanyikan lagu daerah dalam bahasa Mandarin. Lewat audisi terpilih pasangan Harry dan Iin. Mereka bergabung dengan rombongan lain, seperti Waldjinah dan Gesang, penggubah Bengawan Solo.

Di Shanghai, Harry dan Iin membawakan lagu daerah seperti Ayo Mama dan Laju-Laju dalam bahasa Mandarin. Publik Shanghai terkesan. Setelah itu, setiap tahun mereka diundang tampil ke kota-kota di China, seperti Nanning, Shatou, sampai Guang Zhou.

Selain lagu daerah, Harry dan Iin juga memperkenalkan lagu Indonesia dalam bahasa Mandarin, seperti Sepanjang Jalan Kenangan yang diubah menjadi Zai Wo Men Ai De Lu Tu Shang. Mereka juga me-mandarin-kan lagu Ismail Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa.

Kini, dalam album "Chinese New Year Special" yang dirilis GNP dalam rangka Imlek, Harry dan Iin ikut membawakan lagu Tapanuli, Sinanggar Tulo, dalam versi Mandarin. Mereka juga melantunkan Keroncong Kemayoran versi Mandarin, sedangkan versi bahasa Indonesia dibawakan Mus Mulyadi dan Sundari Sukoco.

Anak sinden

Harry dan Iin sama-sama berangkat dari hobi. Harry anggota kelompok vokal saat duduk di SMA Negeri III Solo. Iin tumbuh dalam keluarga pesinden. Ibunya, Nyi Sudarmi, adalah pesinden pada karawitan Jawa RRI Surakarta yang mendapat nama dari Keraton Surakarta sebagai Nyi Raras Madu.

"Sejak kecil saya didorong untuk ikut lomba macapat, menyanyi tembang Jawa," kata Iin yang berasal dari Kampung Slembaran, Serengan, Solo.

Kemampuan vokal mereka teruji lewat kontes nyanyi Bintang Radio dan Televisi (BRTV) di RRI Surakarta. Mereka masing-masing pernah menjadi juara pertama pada tahun yang berbeda.

Sekitar akhir 1980-an, keduanya melihat peluang menjanjikan untuk menyanyi lagu Mandarin di Solo. Mereka masing-masing—tidak berduet—bernyanyi di rumah makan, kafe, atau perhelatan perkawinan di Solo dan sekitarnya. Lagu seperti Yue Liang Dai Biao Wo De Xin (Bulan Mewakili Hatiku) yang dipopulerkan biduan Taiwan terkenal Teresa Teng, merupakan lagu wajib mereka.

"Awalnya saya cuma belajar dari dengerin kaset lagu-lagu Teresa Teng. Saya cuma menirukan saja, dan tak mengerti artinya," tutur Iin.

Pada awal tahun 1990-an Harry hijrah ke Jakarta. Iin menyusul pada pertengahan 1990-an setelah diajak Harry untuk beraudisi di GNP.

Belakangan, setelah bergabung dengan GNP mereka lebih intensif melatih kemampuan melafalkan lirik Mandarin. Pasalnya, untuk berhadapan dengan publik berbahasa Mandarin, lafal mereka harus benar-benar pas. Oleh Hendarmin, mereka dikirim ke Shanghai untuk belajar bahasa.

"Kami menggunakan bahasa Mandarin agar mereka bisa mengerti arti lagu. Kami ingin mengenalkan Indonesia lewat lagu-lagu daerah yang indah," kata Iin.

Sumber : Kompas, Sabtu, 17 Februari 2007
Read Full 0 comments

Iriani Setia pada Puisi

Jun 5, 2009
Iriani Setia pada Puisi
Oleh : Irma Tambunan

Iriani (47) pernah mengalami perlakuan tak mengenakkan dari teman-temannya semasa SMP. Namun, keteguhan hatinya dengan menerima keadaan itu justru telah mendorongnya untuk melahirkan karya-karya sastra.

Sejumlah sastrawan menilai Iriani sebagai penyair konvensional. Dia membiarkan saja "cap" itu melekat padanya. Mungkin, ia malah bangga. Pada pertemuan sastrawan se-Sumatera awal 2000-an, Sapardi Djoko Damono justru menyebutkan puisi Iriani terasa berbeda dari umumnya sastrawan masa kini.

Salah satu karyanya, Doa Ibu, Untukmu, kemudian dibahas dalam pertemuan tersebut. Puisi itu kemudian diterbitkan dalam buku Senandung Kecil yang merupakan antologi dirinya, berisi 36 judul, diterbitkan Dewan Kesenian Jambi.

"Saya memang cenderung menggunakan alam sebagai pengandaian-pengandaian. Mungkin karena itu saya jadi sering dibilang konvensional," tuturnya, Jumat (23/3).

Iriani, kelahiran Jambi, 2 Juli 1960. Wanita berdarah China ini semasa remaja tumbuh berbaur dengan anak-anak setempat dan bersekolah di SMPN 1 Kota Jambi. Pada masa itu, kebanyakan anak keturunan China lebih memilih mengenyam pendidikan di sekolah swasta. Iriani justru menikmati belajar di sekolah umum, bersama tiga pelajar keturunan China lainnya.

Ini bukan karena alasan kesulitan ekonomi, namun lebih pada keinginannya sejak lulus SD belajar di sekolah umum.

"Saya ingin berbaur dengan teman-teman setempat, tidak hanya mereka yang keturunan China," ungkapnya.

Ia juga merasakan perlakuan tak adil dari sebagian teman-temannya. "Hampir setiap hari saya mengalami dipalak teman satu sekolah," ujar Iriani mengenang.

Tak nyaman dengan perlakuan tersebut, Iriani pun meminta gurunya untuk mengizinkan dia tetap di kelas selama waktu istirahat sekolah. Waktu-waktu senggang inilah yang kemudian dimanfaatkannya untuk membaca berbagai buku dan menulis catatan harian.

Dalam kegundahan hati, Iriani selalu menulis kata-kata kiasan dalam buku harian, yang kemudian berkembang menjadi puisi-puisi. Sejak itulah, pengalaman hidupnya selalu dicurahkan lewat puisi.

Punya kelebihan

Agar tidak diperlakukan secara semena-mena oleh teman-teman sekolah, Iriani merasa harus memiliki suatu kelebihan. Dengan demikian, dia berharap teman-temannya bisa menghargai keberadaannya.

Suatu saat, ketika diadakan perlombaan puisi di sekolah, dan berlanjut dengan lomba-lomba puisi pada tingkat kecamatan, kota, dan tingkat provinsi di Jambi, Iriani selalu tampil dan berhasil menjadi juara.

"Sejak itulah saya tidak pernah lagi diolok-olok hanya karena keturunan China. Teman-teman mulai bisa menghargai, saya jadi lebih tenang," ucapnya.

Selepas SMA, Iriani membulatkan tekad untuk menjadi penyair. Puisi-puisi yang telah ia hasilkan—kini diperkirakan 1.000 judul puisi—dikirim ke sejumlah media massa.

Puisi karya Iriani kebanyakan panjang-panjang, namun puisinya yang pertama kali diterbitkan majalah sastra Horizon (1979) justru hanya berisi dua baris. Puisi itu berjudul Hidup. Isinya:

Bercinta dengan diri//
Berbincang dengan jam dan tanggalan hari.

"Selama bertahun-tahun saya mencoba merenung, mengapa justru puisi-puisi pendek ini yang diambil. Tetapi, saya akhirnya berpikir, ini justru yang disebut kekuatan bahasa," tuturnya.

Pada era 1980-an, puisi-puisi Iriani cukup banyak muncul di berbagai media cetak berskala nasional dan sejumlah koran lokal di Jambi. Sebagian karyanya diterbitkan juga dalam antologi bersama. Satu puisinya, Invitation for the Grandmother’s Time termasuk dalam buku International Library of Poetry tahun 2003.

Tuntutan batin

Ibu dua anak ini pernah bercita-cita menjadi dokter, namun kenyataannya, dia menjadi penyembuh luka bagi jiwa manusia melalui bait-bait puisi. Baginya, menulis puisi adalah memenuhi tuntutan batin. Kecenderungannya pada seni sastra ini tampaknya mengikuti naluri ayahnya, Rustana Tandy yang pemain biola.

Puisi Iriani tak lepas dari filosofi China yang mengutamakan keselarasan; lewat kata-kata menciptakan harmoni. Akan tetapi, ia juga tak meninggalkan kelugasan gaya sastra Melayu. Iriani mengaku terpengaruh pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan merasa gayanya "sehaluan".

Peristiwa kerusuhan di Jakarta tahun 1998, yang antara lain menelan korban perempuan keturunan China, menimbulkan emosi dan kegundahan dalam diri Iriani, lalu tertuang lewat puisi Chung Kuok Zen, Ingni Zen, Zen (Bangsa Tionghoa, WNI Keturunan, dan Pribumi).

Ia menulis,

Chung Kuok Zen/
cari makan di negeri ini/
makan angin di belahan lain/
buang hajat dan hasrat di negeri ini//

Igni Zen, Zen/
Chung kuok Zen, bukan sapi, kelinci, domba, dan tikus/
buat dimartil digiring ke penjagalan.

Kelugasan juga dia sampaikan ketika melihat hutan di Jambi yang makin gundul. Seperti dalam puisi Suatu Senja di Tanggo Rajo, dengan penggalan:

Mak mano caronyo supayo Mak samo Bapak//
kami dak lagi ngeraso miskin, dak punyo beras//
di tanahnyo dewek!//

Dan kami ko dak jadi orang buto huruf, pacak//
Besekolah nuntut ilmu setinggi langit//
Walaupun rimbo-rimbo kami lah habis galo//
punah ranah, di mano-mano lah gundul galo//

Pabilo musim hujan tibo, yang ado banjir//
cuma banjir bae di mano-mano.


Sumber : Kompas, Selasa, 27 Maret 2007
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks