Jun 19, 2009

Imam Chambali, Juragan Anak

Imam Chambali, Juragan Atak
Oleh : Ingki Rinaldi

Jika Anda seorang pemilik kendaraan roda empat, bukan tidak mungkin salah satu suku cadang kendaraan Anda buatan PT Atak Otomotif Indo Metal. Perusahaan ini adalah salah satu perintis pembuatan suku cadang otomotif generik.

Perintis usaha ini adalah H Achmad Thoyib Abdul Kadir (almarhum) pada tahun 1962. Nama Atak merupakan akronim nama pendiri usaha itu.

Satu tahun sejak badai krisis menghantam Indonesia pada 1997, usaha itu diserahkan kepada putranya, Haji Imam Chambali (49).

”Saat diwarisi usaha ini, aset perusahaan tinggal Rp 1,3 miliar. Sekarang berkembang menjadi Rp 3,4 miliar,” ungkap Imam. Pada tahun itu pula Atak beroleh sertifikat ISO-9002 di Bandung dengan registrasi bernomor 24-98/29-3843-3.

Saat ini Imam menjabat direktur utama, dibantu sang adik, Hajah Nihayati, sebagai komisaris, dan kakak sepupu, Haji Kusnan, sebagai manajer teknis. Tidak mudah melanjutkan usaha warisan orangtua, seperti terlihat dari banyak pengalaman perusahaan keluarga.

Berbagai usaha lantas dilakukan Imam demi menyelamatkan usaha keluarga itu. Antara lain menerapkan manajemen profesional dengan menarik batas tegas antara sanksi dan penghargaan bagi karyawan.

Ia juga tidak mau berspekulasi dalam membeli bahan baku serta distribusi barang dengan sistem bayar di belakang. ”Pokoknya ada uang ada barang,” katanya sembari menambahkan, bantuan tenaga magang dari sejumlah institusi pendidikan juga turut memperingan beban kas perusahaan.

Ia lalu mendiversifikasi produk suku cadangnya dengan aneka barang logam untuk alat pertanian dan sektor konstruksi. Jika sebelumnya konsentrasi produksi bagi suku cadang otomotif 80 persen dari total produksi, kini menjadi 70 persen.

Perusahaan yang dipimpinnya itu pun kemudian beroleh kepercayaan untuk memproduksi hingga 100.000 roda traktor bajak berbahan baja guna rekonstruksi lahan pertanian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pascatsunami. Sejumlah usaha kecil dan menengah di sekitar Sidoarjo dia libatkan demi memenuhi target produksi alat itu hingga akhir tahun ini.

Barang sederhana

Jika ditelusuri sejarahnya, PT Atak Otomotif Indo Metal memang penghasil tradisional barang-barang pandai besi sederhana serupa cangkul dan sabit. Imam bercerita, latar belakang ayahnya sebagai ahli perbengkelan TNI AD yang berjuang pada zaman revolusi memang banyak membantu beralihnya konsentrasi perusahaan untuk memproduksi suku cadang sejak tahun 1970-an.

Seiring permintaan yang semakin banyak, pada tahun 1980-an, mulailah didatangkan berbagai mesin untuk proses produksi. Kini tidak kurang dari 2.600 jenis suku cadang yang proses pengerjaannya juga disubkontrakkan kepada sejumlah usaha kecil menengah di Sidoarjo, Pasuruan, Surabaya, dan Malang bisa dihasilkan dari perusahaan yang mengeluarkan sedikitnya Rp 16 juta per minggu untuk menggaji 89 karyawannya.

”Kebanyakan suku cadang yang kami buat untuk kendaraan niaga karena kendaraan jenis inilah yang suku cadangnya sering aus dan cepat minta diganti,” ujar Imam. Suku cadang mobil niaga yang paling dicari adalah braket, penahan kaca, pedal, gagang spion, dan aneka baut.

Menyebut peta persaingan industri yang dilakoninya telah berubah, Imam tidak juga gentar. Jika sebelum tahun 2000-an hanya ada sekitar 10 pemain dalam industri tersebut, kini tidak kurang 300 pengusaha meramaikan industri ini.

”Kuncinya menjaga kepercayaan dan bekerja profesional,” kata Imam soal kesetiaan sejumlah distributor dan konsumen. Selain itu, dia mempertahankan spesialisasinya, yaitu suku cadang berpresisi tinggi seperti braket dan pedal gas dengan mengerjakannya sendiri.

Pelanggannya antara lain sekitar 15 grosir di Asemreges, Proyek Senen, Krekot, Tomang Tinggi, dan Kelapa Gading di Ibu Kota. Dari titik-titik distribusi itulah, suku cadang made ini Sidoarjo itu mengelana hingga ke pelosok Nusantara.

Imam yang tidak menyelesaikan pendidikannya di Universitas Merdeka dan Universitas Negeri Surabaya (dahulu IKIP) itu menghabiskan masa pendidikan dasar hingga menengahnya di Sidoarjo.

Sulung dari dua bersaudara itu bercerita, terjun bebasnya ke bisnis keluarga lantaran telanjur jatuh cinta sejak kesempatan pertama. ”Saya juga putus kuliah karena sejak kelas lima SD lebih sering kerja di sini,” tutur Imam.

Untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan warisan, Imam berharap banyak pada anak pertamanya, Ali N (25). Latar belakang pendidikan Ali yang S-1 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi 10 November Surabaya dirasa pas bagi Imam menggantikannya kelak.

Imam sendiri sudah cukup puas dengan pencapaiannya yang berhasil menggerakkan serta menginspirasi sejumlah pengusaha sekelasnya. Ia pun tidak terlampau bernafsu mengejar pengakuan setelah mendapat gelar kedua sebagai pengusaha berprestasi tingkat menengah ke bawah se-Jawa Timur yang diperolehnya dari Gubernur Jawa Timur pada 2003.

Lompatan ala katak bagi Atak yang membesarkannya sejak kecil sudah memberi Imam demikian banyak kenikmatan. Kini ia tinggal merasakan hasilnya dan berharap ada lompatan serupa yang dibuat penerusnya.

Sumber : Kompas, Sabtu, 25 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks