Jun 19, 2009

Ismail Haniya : Haniya dan Masa Depan Palestina

Haniya dan Masa Depan Palestina
Oleh : Budi Suwarna

Hamas akhirnya menunjuk Ismail Haniya sebagai Perdana Menteri Palestina. Di tangan Haniya-lah masa depan Palestina akan ditentukan. Namun, siapakah Haniya dan bagaimana sikap politiknya?

Dibanding pemimpin Hamas lainnya, Haniya dianggap sosok yang lebih pragmatis dan moderat. Sikap ini, antara lain, dia perlihatkan beberapa saat setelah Hamas dipastikan memenangi pemilu parlemen pada Januari 2006 lalu.

Ketika para pemimpin Hamas lainnya menyatakan bahwa Hamas akan membentuk pemerintahan sendiri, Haniya justru menyatakan, ”Saya akan berkonsultasi dengan Presiden Mahmoud (pemimpin Fatah yang dikalahkan Hamas) untuk membicarakan kemitraan politik.”

Haniya juga termasuk segelintir pemimpin Hamas yang membuka diri untuk berdialog dengan Israel. Meski, dia menetapkan syarat bahwa Israel harus mengakui terlebih dahulu hak-hak warga Palestina sebelum berdialog.

Sikap Haniya yang moderat mematahkan anggapan Barat dan Israel bahwa Hamas adalah ”organisasi tempat berkumpulnya kaum militan dan teroris”.

Anggapan ini ditolak mentah-mentah warga Palestina yang justru menganggap Hamas sebagai pejuang sejati.

Anggapan negatif Barat semakin pupus jika kita menyimak visi Haniya yang cenderung reformis untuk membangun masa depan Palestina kelak. Ketika memberikan wawancara khusus kepada Kompas, 7 Februari 2006, di Cairo, Mesir, Haniya menjelaskan, misi utama Hamas adalah mewujudkan cita-cita berdirinya negara Palestina dengan ibu kota Jerusalem Timur. Setelah itu, rakyat Palestina-lah yang akan menentukan identitas negara, bukan Hamas, Fatah, atau faksi lainnya.

Sikap reformis Hamas di bawah kepemimpinan Haniya Cs juga bisa dilacak jauh sebelum organisasi itu memutuskan terlibat pemilu. Ketika pejabat partai-partai lain sibuk berebut kekuasaan, Hamas justru memilih membangun jaringan sosial untuk rakyat miskin. Hamas mendirikan sekolah, masjid, puskesmas, tempat kursus komputer, hingga salon dan tempat senam untuk perempuan.

Secara perlahan mereka juga menanamkan pemahaman politik kepada mahasiswa dan kaum perempuan yang kebanyakan buta politik. Hasilnya, mereka mendapat dukungan dalam jumlah sangat besar dari mahasiswa dan perempuan.

Namun, apa yang dilakukan Hamas jauh sebelum pemilu jarang disorot media. Padahal, gerakan pemberdayaan inilah yang menjadi kunci keberhasilan Hamas.

Pemimpin kunci

Berdasarkan catatan BBC, Haniya lahir pada tahun 1962 di sebuah kamp pengungsi di Shati, sebelah barat Gaza. Orangtuanya tinggal di kamp itu setelah melarikan diri dari rumah mereka di Ashkelon ketika Perang Arab-Israel meletus tahun 1948.

Pengalaman masa kecilnya di pengungsian, kelak membuat Haniya sadar betapa tidak enaknya hidup di bawah kaki penjajah Israel.

Seperti kebanyakan tokoh politik Palestina, menurut BBC, Haniya tumbuh dari gerakan intifada. Dia terlibat gerakan itu sejak tahun 1987 ketika dia baru saja lulus dari Universitas Islam di Gaza. Akibat keterlibatannya, dia ditahan untuk beberapa lama oleh Otoritas Israel. Sejak saat itulah dia menjadi langganan penjara Israel.

Tahun 1988, Haniya dijebloskan lagi ke dalam penjara selama enam bulan. Tahun berikutnya, ketika Israel kewalahan mengatasi perlawanan Palestina, Haniya kembali ditahan dan dihukum selama tiga tahun.

Setelah Haniya dibebaskan pada tahun 1992, dia dideportasi bersama pemimpin senior Palestina lainnya, yakni Abdel-Aziz Rantissi, Mahmoud Zahar, dan lebih dari 400 aktivis lainnya ke Lebanon Selatan. Mereka tinggal di Marj al-Zahour selama setahun. Di tempat inilah mereka justru mendapatkan tempat di media massa sehingga mereka mulai dikenal dunia.

Pada tahun 1993 Haniya kembali ke Gaza dan ditunjuk sebagai dekan Universitas Islam. Tahun 1997, Haniya berhubungan dekat dengan Sheikh Yassin, pendiri dan tokoh spiritual Hamas. Tidak lama, Haniya pun diangkat sebagai asisten Yassin.

Kedekatannya dengan Yassin, selanjutnya, membawa Haniya menjadi salah satu pemimpin terkemuka di Hamas. Di sisi lain, Haniya menjadi target pembunuhan pasukan Israel. Pada September 2003, Haniya dan Yassin hampir saja terbunuh akibat serangan udara di sebuah apartemen di Gaza City. Keduanya selamat karena berhasil melarikan diri dari bangunan begitu mereka mendengar suara pesawat Israel mendekat.

Enam bulan kemudian, Sheikh Yassin tidak bisa lolos dari pembunuhan oleh Israel. Pada April 2004, giliran pengganti Yassin, Abdel-Aziz Rantissi, yang dibunuh Israel. Dua pembunuhan itu membuat Hamas memilih merahasiakan pemimpin baru mereka di Gaza agar tidak menjadi target pembunuhan Israel.

Namun BBC menuliskan, sumber di Palestina mengatakan, Haniya merupakan salah satu anggota kepemimpinan kolektif Hamas bersama Mahmoud Zahar dan Sayyid al-Sayyam yang mengendalikan organisasi tersebut.

Setelah hampir dua tahun ”menyembunyikan identitasnya”, Haniya akhirnya muncul sebagai caleg nomor satu Hamas. Sekarang, dia melangkah lebih tinggi menjadi PM pertama Hamas untuk Otoritas Palestina, sekaligus menggenggam masa depan negara itu. Bagaimana kiprahnya? Kita tunggu saja.

Sumber : Kompas, Selasa, 21 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks