Jun 26, 2009

Irdika Mansur : Selamatkan Jati Muna Unggul dari Kepunahan

Selamatkan Jati Muna Unggul dari Kepunahan
Oleh : FX Puniman

Kerusakan hutan di Indonesia kini sudah mencapai tingkatan luar biasa. Bayangkan, tak kurang dari 2,8 juta hektar per tahun atau setara enam lapangan sepak bola per menit. Seiring dengan kerusakan hutan, ikut hilang pula spesies pohon hutan, khususnya pohon komersial.

Kerusakan luar biasa ini tentu saja membuat khawatir kalangan rimbawan, seperti halnya Dr Ir Irdika Mansur, Ketua Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

”Kita semua, terutama kalangan rimbawan, khawatir akan kepunahan spesies pohon hutan unggul seperti yang terjadi di Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Karena itu harus diselamatkan sebelum punah,” kata pria kelahiran Manokwari, Papua, 23 Mei 1966, anak pertama dari enam bersaudara pasangan Dachlan Soekemiatmodjo (kini guru di Pusat Pendidikan Perhutani di Madiun) dan Kusmiatun ini.

Hutan jati di Sulawesi Tenggara , menurut Irdika, yang ditemui Kompas, Selasa (5/7) di Kampus Fakultas Kehutanan IPB di Darmaga, Kabupaten Bogor, (mengutip keterangan Menteri Kehutanan MS Kaban), semula seluas 70.000 hektar kini tinggal 100-an hektar.

”Sultra, khususnya Kabupaten Muna, adalah tempat penyebaran jati terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa. Jati dari Sultra dikenal dengan sebutan jati muna. Di Provinsi Sultra, jati tersebar di Kabupaten Konawe Selatan (daerah Ewa), Kabupatan Muna (di daerah Raha, Matakidi, dan Wukuru), serta Kabupaten Buton (daerah Sampolawa). Dengan tempat tumbuh yang kurang subur dan curah hujan yang rendah membuat kayu jati muna dari daerah ini tampak lebih gelap dan lebih indah nilai dekoratifnya dibandingkan dengan kayu jati jawa,” kata Irdika, yang meraih sarjana kehutanan IPB tahun 1988, kemudian melanjutkan studi S2 di School of Forestry University of Canterbury New Zealand 1994, dan menamatkan studi S3-nya pada Departemen of Biosciences University of Kent England tahun 2000.

Sayangnya, menurut Irdika, tak satu pun dari bibit-bibit jati yang tersedia di pasaran saat ini menggunakan sumber daya genetik jati muna. Sementara itu, kondisi hutan jati muna di berbagai tempat memprihatinkan. Lahannya dikapling masyarakat untuk ditanami jagung. Penebangan liar juga merebak. Di Konawe Selatan, yang hutan tanaman jati munanya merupakan cerita sukses pembangunan hutan tanaman industri (HTI), jati yang baru berumur 11 tahun dengan diameter 15-20 cm pun tidak luput dari penjarahan.

Usaha menghentikan pencurian saja, lanjut Irdika, tidak akan menambah populasi atau luasan hutan jati muna. ”Menyadari akan hal itu, Rektor IPB Prof AA Mattjik menugaskan tenaga ahlinya atas biaya IPB dengan misi utama menyelamatkan sumber daya genetik jati muna, yang secara fisik menunjukkan sifat-sifat unggul, seperti batang lurus, silindris, bebas cabang tinggi, berdiameter besar, serta bebas dari hama dan penyakit,” kata Irdika, yang sejak awal tahun ini melakukan pengembangan jati muna unggul.

Tim IPB yang diketuainya, dengan dukungan Dinas Kehutanan Provinsi Sultra dan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo (Unhalu), Kendari, telah mengambil materi genetik dari 42 pohon jati muna dan tiga jati malabar yang tumbuh di Muna. Materi genetik berupa tunas sebagian diokulasi (ditempel ke bibit jati muna) di Kendari dan sebagian lagi di Fakultas Kehutanan IPB. ”Saat ini tunas telah tumbuh, termasuk jati malabar. Selanjutnya dapat diperbanyak melalui setek pucuk maupun kultus jaringan,” kata Irdika, yang menikah dengan Ir Novi Waskitasari dan telah dikaruniai dua anak, Pradana Iqomatulhaq dan Pradita Azahrahaq.

Pemanfaatan materi genetik menurut faham IPB, kata Irdika, adalah pemanfaatan yang dinamis bukan statis dalam arti konservasi yang sempit. ”Materi genetik ini diharapkan dapat dikembangkan dan dikomersialisasi sehingga memberi manfaat finansial bagi IPB dan daerah pemilik materi genetik tersebut,” kata Irdika. Dalam waktu tidak lama lagi bibit jati muna unggul akan diproduksi oleh IPB bersama-sama dengan Pemprov Sultra, dan Unhalu Kendari.

Usaha bibit unggul jati muna, ujarnya menambahkan, diperkirakan juga akan mendatangkan keuntungan yang besar secara finansial dan bahkan mungkin juga bisa diekspor.

”Pembibitan jati tidak memerlukan biaya tinggi. Setiap lima meter persegi tanah dapat menampung 500-1.000 bibit jati unggul. Jika harga bibit Rp 5.000, setiap 5 meter persegi akan memberikan hasil sebesar Rp 2,5 juta-Rp 5 juta tiap empat bulan,” katanya. Kegiatan persemaian juga akan menyerap banyak tenaga kerja untuk mengisi media ke kantong plastik, membuat setek, menyapih, memelihara, dan mengangkut bibit. Dengan demikian, akan membuka lapangan kerja baru.

Dengan bekerja sama dengan Tim Penggerak Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sultra, IPB berharap dapat menggerakkan masyarakat untuk menanam jenis-jenis pohon lokal, khususnya jati muna. ”IPB beranggapan bahwa PKK adalah organisasi wanita potensial yang belum pernah dilibatkan dalam usaha-usaha rehabilitasi hutan dan penyelamatan jenis-jenis pohon lokal,” kata Irdika menjelaskan.

Dengan demikian, jika program TP PKK Sultra untuk menanamkan jati muna ini mulai bergulir dan ibu-ibu diberi pelatihan mengenai bagaimana menanam dan memelihara jati muna, diharapkan populasi jati muna akan meningkat lagi.

”Jati itu prospek pasarnya tak pernah turun. Saat ini Indonesia merupakan penghasil jati terbesar di dunia. Kalau kita lengah dan tak berbuat apa-apa terhadap kekayaan alam kita yang terancam punah itu, kita pasti dikejar oleh negara-negara lain, seperti Amerika Latin yang kini sudah mengembangkan jati. Jangan biarkan hutan jati kita yang tinggal hanya seluas sejuta hektar lebih itu punah,” pinta Irdika Mansur.

Sumber : Kompas, Sabtu, 9 Juli 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks