Jun 10, 2009

Indro Kimpling Suseno : "Kabare" Kimpling, "bupati" EO

"Kabare" Kimpling, "Bupati" EO
Oleh : Djoko Poernomo

Total memilih jalan hidup sebagai event organizer atau EO membuat KRMT Indro Kimpling Suseno SH mampu menyusun dua buku berjudul Cara Pinter Event Organizer dan Cara Pinter Mengelola Keuangan Event Organizer.

Judul pertama sempat naik cetak tiga kali dalam tempo enam bulan, adapun judul kedua naik cetak dua kali hanya dalam waktu tiga bulan. Ini membuktikan bahwa buku mungil terbitan Galangpress, Yogyakarta, tersebut laris manis.

Padahal, seperti disebutkan oleh penulisnya, "... Saya sendiri tak pernah memiliki impian atau bayangan sebagai penulis buku."

"Maka, yang terjadi pada buku ini adalah sebuah transformasi pengalaman semata. Sekecil apa pun sebuah pengalaman, saya yakin akan bermanfaat," tutur pemilik nama asli RM Indro Suseno, yang kemudian ditambahi Kimpling, julukan akrab sejak di kelas II SMA Negeri III Padmanaba, Yogyakarta.

Nama julukan itu kini justru menjadi trademark di bidang EO di kota kelahirannya, Yogyakarta. Ia sekarang berusia 44 tahun. Jadi, julukan Kimpling sudah menenggelamkan nama aslinya lebih dari 20 tahun.

Adapun yang memanggil dengan sebutan Seno tinggal ibunya, Prof Dr Noerhayati Soeripto (73), guru besar emeritus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), yang ditinggal Raden Mas Soeripto Notohadisoeryo sejak dekade 1970-an.

Kimpling kini menjadi direktur di tiga badan usaha terpisah, berturut-turut Kabare Magazine, Kabare Event, dan Jogja Gallery. Kesemuanya berkat keaktifan di dunia EO.

Bupati Anom

Menyangkut nama, Kimpling merasa repot ketika tahun 2003 memperoleh pangkat Bupati Anom dari Pura Pakualaman, Yogyakarta, dengan risiko namanya harus diganti menjadi Prodjo Notohadisoerjo diawali gelar KRMT alias Kanjeng Raden Mas Tumenggung.

"Kalau pakai nama baru, tak ada yang kenal. Lama-lama tak ada lagi yang memanfaatkan jasa saya...," tutur suami dari Wahyuningrum SE (41), seorang wiraswastawan, ini. Jiwa panggung yang begitu kental membuat calon istri pun dikenal saat sama- sama mengelola event pentas Artis Video Musik Indonesia tahun 1994 di Yogyakarta.

Sebagai langkah kompromi, "hadiah" dari Pura Pakualaman hanya ia ambil KRMT-nya, sementara nama asli dan panggilan akrab tetap dipertahankan. Jadilah KRMT Indro Kimpling Suseno diimbuhi gelar SH dari FH UGM, setelah menempuh kuliah sekitar tujuh tahun. Meski demikian, Kimpling semasa kuliah (1986) pernah menerima penghargaan sebagai Pembina Mahasiswa dari Rektor UGM dan Dekan FH UGM.

"Kuliah saya memang tak lancar. Ya, itu tadi, karena banyak bergerak di luar, ngurusin EO," tutur Kimpling. Prof Noerhayati sebelumnya berharap anak sulungnya menjadi dosen.

Pria berkacamata tebal ini selalu mengutamakan pendidikan dan pembinaan bagi anak buahnya dengan menanamkan visi bahwa profesionalitas adalah jerih payah keringat hasil proses belajar dan tingkat keterampilan yang tinggi, bukan dari tawar- menawar honor semata. Pedoman yang selalu ditanamkan kepada tim kerjanya, seperti tertulis dalam kedua buku, adalah T-E-E atau teliti-efektif-efisien.

"Hidup adalah hiburan dalam keseriusan. Hidup adalah serius yang santai. Hidup adalah santai yang serius," tutur Kimpling mencoba berpuisi ketika ditemui di Jogja Gallery—galeri paling gres—tengah malam empat hari setelah Lebaran.

Di tempat ini pula Kimpling sering menggelar rapat redaksi untuk majalah bulanan Kabare terbitan Kabare Magazine, serta rapat penyusunan EO untuk Kabare Event.

70 "item" acara

Kabare Event baru saja menyelesaikan gawe besar ketika diserahi tanggung jawab pemerintah kota setempat menangani bermacam kegiatan dalam rangka HUT Ke-250 Kota Yogyakarta. Sebanyak 70 item acara digelar selama tiga bulan dari 16 Juli sampai 7 Oktober. Di antara item acara juga terselenggara JAFF (Jogja Netpac Asian Film Festival) 2006.

"Netpac adalah singkatan The Network for the Promotion of Asian Cinema," tutur Kimpling, penggagas acara bersama sutradara kondang kelahiran Yogyakarta, Garin Nugroho. Bintang film dari beberapa negara di Asia hadir dalam hajatan tersebut.

Kimpling yang di dalam kepanitiaan HUT Ke-250 Kota Yogyakarta duduk sebagai ketua—jabatan yang sama untuk tahun 2003 dan 2004—sempat mengubah tema peringatan sehubungan gempa bumi 27 Mei 2006. Tema semula "Semangat Kearifan Yogya Menuju Dunia", kemudian diubah menjadi "Semangat Kebersamaan Menuju Yogya Bangkit". Beberapa mata acara juga dibatalkan untuk disesuaikan dengan suasana kota yang masih berkabung.

Keluar dari PNS

Begitu lulus sarjana tahun 1988, Kimpling diterima bekerja di Bagian Organisasi Tata Laksana Pemerintah Provinsi DIY. Namun, jiwa EO-nya menjadikan ia tak betah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga memutuskan keluar dan pindah kerja di bagian promosi surat kabar harian di Yogyakarta, sebelum akhirnya bergabung ke Exist Communication pada tahun 2003.

"Baru tahun 2005 saya mendirikan EO sendiri, yaitu Kabare Event untuk mendukung Kabare Magazine," tutur Kimpling, yang pernah memandu acara Kedai 24 di radio Geronimo FM tahun 1989-1997.

"Perihal ilmu EO yang saya peroleh, sungguh merupakan proses dari kecil dan dari bawah. Tentu banyak suka dan dukanya. Tetapi, yang penting the show must go on! Kita boleh mengubah semua rencana awal, tetapi tidak menghentikannya," tandas Kimpling, yang emoh pindah bekerja di Jakarta, misalnya. Bagi dia, Kota Budaya Yogyakarta adalah segala-galanya.

Sumber : Kompas, Senin, 20 November 2006

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks