Jun 18, 2009

Irwandi Jaswir : Irwandi, Bangga Jadi Peneliti

Irwandi, Bangga Jadi Peneliti
Oleh : Djoko Poernomo

Produk makanan olahan kini menjadi lebih aman dikonsumsi, sehubungan status kandungan lemak di dalamnya—termasuk lemak nonhalal—bisa diketahui secara tepat dan cepat.

Ini berkat metode yang ditemukan peneliti muda Indonesia kelahiran Medan dan besar di Bukittinggi, Irwandi Jaswir (36), alumnus Institut Pertanian Bogor tahun 1993. Menurut dia, karakteristik sifat kimiawi lemak nonhalal (babi) dapat dibedakan dengan lemak hewani lain kurang dari satu menit. "Tingkat akurasinya pun sangat tinggi," katanya.

Temuan Irwandi mengantarkan dia meraih medali emas dan perak dalam lomba rekacipta dan inovasi tingkat dunia ke-34 (The 34th International Exhibition of Inventions, New Techniques and Products of Geneva) di Geneva, Swiss, 5-9 April 2006.

Meskipun demikian, kepergiannya ke Swiss membawa bendera Malaysia, berkait dana penelitian diterima dari Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia (MOSTI) melalui universitas tempatnya mengajar, International Islamic University Malaysia (IIUM).

Sebelum masuk ke IIUM, Irwandi terlebih dulu menempuh pendidikan S2 (1994-1996) di Universitas Pertanian Malaysia (UPM), disusul pendidikan S3 (1997-2000) di UPM dan The University of British Columbia, Kanada, lewat twinning programme. "Saya menjadi dosen di IIUM mulai tahun 2001 setelah memperoleh gelar MSc dan PhD," kata anak nomor enam pasangan wiraswastawan, Jaswir dan Sudarni.

Kembangkan sistem

Dalam perjumpaan dengan Kompas di Jakarta pekan lalu, Irwandi menuturkan, "Kami berhasil mengembangkan sebuah sistem di mana berdasarkan karakteristik sifat kimiawi lemak babi, bisa dibedakan dari lemak hewani lain."

Cara kerjanya adalah sampel terlebih dulu di-scan menggunakan gelombang inframerah. Cahaya yang diteruskan akan ditangkap dengan detektor. Hasil spektrum sampel yang dideteksi dalam rentang panjang gelombang inframerah akan dianalisa. Dalam kajian dapat diidentifikasi beberapa titik panjang gelombang yang begitu sinonim dengan struktur trigleserida lemak babi.

"Kami sudah mencoba untuk hampir semua lemak hewani yang biasa dimakan serta produk cokelat," ungkapnya. Kelebihan metode ini cepat (kurang dari satu menit), tidak perlu persiapan sampel (bisa langsung di-scan), ramah lingkungan (karena tidak memerlukan bahan kimia), serta murah.

Ketika ditanya mengapa lemak makanan nonhalal yang dijadikan obyek penelitian, ia memberi alasan, "Ini sebagai wujud keprihatinan akan berbagai kasus kontroversi lemak yang sering muncul di tengah- tengah masyarakat."

Awal bulan April, Irwandi membawa temuan ke Geneva. Tim juri kemudian menyatakan ia berhak memperoleh anugerah tertinggi untuk inovasi yang berjudul Rapid Method for Detection of Non-Halal Substances in Food (Metode Cepat Pendeteksian Kandungan Non-Halal dalam Makanan). Anugerah tertinggi ini diwujudkan dalam selembar piagam dan medali emas.

Irwandi juga menerima medali perak untuk satu penelitian lain, Novel Rapid Analytical Techniques for Fats and Oils Industry, yang dikembangkan sebagai alternatif menggantikan analisa bahan kimia yang sering membutuhkan banyak waktu dan biaya.

Ingat Indonesia

Medali (emas dan perak) serta dua lembar piagam yang diperoleh di Geneva itu, hari Senin (24/4/2006) diperlihatkan kepada Dewan Rektorat IIUM di Kampus IIUM, kawasan Gombak, pinggir Kuala Lumpur. Dalam kesempatan itu, acting Rektor IIUM Prof Dr Azmi Omar menyerahkan uang prestasi. "Jumlahnya tak etis disebutkan. Tetapi, lumayan juga, he-he-he. Beberapa bulan gaji...," ujarnya. Prof Omar juga menjanjikan Irwandi dikirim ke lomba sejenis di Seoul, Korea Selatan, akhir tahun ini, serta ke Pitsburg, AS, tahun berikutnya.

Meski demikian, "Ketika saya menerima ucapan selamat dari para tamu, saya merasa sedih, lantaran saya tidak mewakili Indonesia," tuturnya per telepon.

Kesedihan Irwandi juga muncul saat mengetahui tidak ada satu peserta pun dari Indonesia yang ambil bagian di Geneva. Padahal, ajang tahunan ini menghimpun lebih dari 1.000 peneliti terbaik dari seluruh dunia. "Kamerun saja ikut," kata penggemar berat olahraga tenis tersebut.

"Karya kontestan dinilai 75 juri profesional dari seluruh dunia. Sungguh memberi kepuasan tersendiri bagi seorang peneliti," ungkap Irwandi, bapak dua anak, Uzma Nadhirah (4,5) dan Balqis Afifah (2). Istri Irwandi, drg Fitri Octavianti, kini tengah mengambil spesialisasi di bidang ortodonti di Universitas Padjadjaran, Bandung. Fitri yang tinggal di Bandung bersama kedua anaknya sebelumnya berdinas di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Di Malaysia dana penelitian tidaklah begitu sulit didapat. Faktor ini yang antara lain menyebabkan Irwandi tidak buru- buru menyatakan "pulang" ke Indonesia. Apalagi ia baru saja ditetapkan sebagai Associate Professor di Departemen Bioteknologi, Fakultas Sains, IIUM, dan menerima tawaran dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) untuk melakukan penelitian post doctoral di National Food Research Institut (NFRI) Jepang selama dua tahun dengan dana penelitian tidak terbatas.

"Program ini prestisius sekali karena NFRI hanya menyeleksi 5 peneliti muda dari 100 orang lebih yang masuk nominasi," tutur Irwandi yang sejak enam tahun lalu menjadi kontributor tabloid Bola. Di Jepang ia akan melakukan penelitian berbagai teknik molekuler modern untuk mengetahui dosis terbaik pengaruh karotenoid atas sel kanker.

Sumber : Kompas, Sabtu, 29 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks