Showing posts with label V. Show all posts
Showing posts with label V. Show all posts
Venus Williams : Juara Wimbledon, Hadiah Ketegaran Venus Williams
Jun 26, 2009
Juara Wimbledon, Hadiah Ketegaran Venus Williams
Oleh : Yunas Santhani Azis
Final tunggal putri Wimbledon, Sabtu (2/7/2005), Venus Williams yang tertinggal 4-5 membuat kesalahan servis ganda, membuat lawannya, Lindsay Davenport, tinggal mencari satu angka untuk juara. Namun, itu bukan akhir cerita. Venus jadi pemenang dan menjadi orang pertama dalam 70 tahun terakhir yang bisa menjuarai Wimbledon meski lawan sudah championships point.
Venus (25) mengikuti jejak adiknya, Serena Williams, dan putri Belgia, Justine Henin-Hardenne. Mereka adalah tiga petenis putri yang tahun ini mampu kembali merebut lambang supremasi tertinggi tenis perseorangan dunia, grand slam, setelah kariernya terpuruk berbulan-bulan oleh sakit dan cedera.
Serena lebih dulu mengumumkan kebangkitannya dengan menjuarai Australia Terbuka, Januari silam. Henin-Hardenne mengikuti dengan kemenangan di Perancis Terbuka, awal Juni lalu.
Namun, dibandingkan dengan Serena dan Henin-Hardenne, Venus sebelumnya dipandang paling sulit untuk bisa bangkit kembali. Semua orang punya teori untuk itu seperti yang ditulis wartawan Associated Press, Howard Fendrich.
Pertama, dia selalu di bawah bayang-bayang adiknya, Serena, khususnya di tahun 2002-2003. Dalam dua tahun itu, Venus selalu kalah dari Serena di enam final grand slam meski sebelumnya dia adalah ratu Wimbledon dan AS Terbuka yang jadi juara dua kali berturut-turut.
Teori kedua, kesibukannya di luar tenis, terutama bisnis desain interior, dianggap semakin memupuskan perhatiannya pada pertandingan. Ketiga, cedera tangan, otot perut, dan bahu sejak medio tahun 2003 terlalu bertubi untuk diatasi. Keempat, Venus perlu pelatih lain menggantikan ayah-ibunya, Richard dan Oracene. Kelima, kematian adik yang sangat dia sayangi, Yetunde, awal tahun lalu, merupakan pukulan yang sangat pedih.
Semua teori semakin pas dengan kenyataan karena setelah absen enam bulan dan balik lagi ke arena awal tahun lalu, Venus yang merupakan putri kebanggaan AS hanya dua kali juara sepanjang tahun 2004.
Tahun ini, sebelum Wimbledon, pun dia cuma sekali jadi pemenang, yaitu di Istanbul, medio Mei lalu. Turnamen Piala Istanbul sesungguhnya bukanlah kelas Venus di masa-masa jayanya dalam kurun tahun 1998-2003.
Grafik prestasi yang melorot demikian nyata. Dalam dua tahun terakhir hingga Istanbul, Venus cuma bisa empat kali mengusung trofi kemenangan. Dalam periode lima tahun sebelumnya, 1998-2002, Venus meraup 28 gelar juara.
Wimbledon titik balik
Wimbledon akhirnya menjadi kebangkitan Venus meski dia tampil hanya sebagai unggulan ke-14 atau dengan kata lain, bukan menjadi pemain yang diperhitungkan bakal menang. Namun, tak ada istilah keberuntungan bagi Venus Williams.
”Dalam hati saya selalu merasa sebagai juara karena saya melakukan yang terbaik dalam setiap langkah yang saya ayunkan di lapangan. Apa pun keadaannya, saya selalu bermain 100 persen,” ujar Venus.
Keteguhan hati seperti itu tidaklah datang sekejap. Usaha Venus untuk membentuk mental juara sejak kecil jelas tergambar dalam biografi Dave Rineberg, My Seven Years as Hitting Coach for The Williams Sisters. Rineberg adalah pelatih yang berperan sebagai lawan tanding (hitting coach) sejak Venus berumur 12 tahun dan Serena 11 tahun di Florida Selatan.
Di mata Rineberg, Venus sudah mencoba tegar sejak usia itu. Ujian pertama dia hadapi ketika Richard, sang ayah, tak puas dengan bentuk latihan di Delray Beach Tennis Academy, tempat Venus berlatih. Richard menginginkan karakter putrinya lebih agresif dengan meminta Venus terus maju ke lapangan depan menyongsong bola.
Instruksi Richard tidak sejalan dengan kurikulum akademi yang menekankan Venus untuk terampil memukul bola dari garis belakang. Venus terjepit di antara dua ”kekuasaan”, ayahnya dan pelatih akademi.
Akibatnya sering tidak menyenangkan. Venus sering tampil kikuk, membuat banyak kesalahan, tetapi satu yang tak pernah dia lakukan, menyerah atau menangisi keadaan.
Richard pernah marah besar dengan kekikukan Venus dan Rineberg yang datang mencoba menghibur. Bukannya merajuk atau mengadu, Venus justru menampik tangan Rineberg yang mencoba merangkul bahunya.
”Saya tidak punya masalah,” ujar Venus tegas dan terus kembali memasuki lapangan untuk meneruskan latihan. Setahun pertama melatih Venus di awal tahun 1994, Rineberg membubuhkan nilai sangat baik (excellent) untuk faktor ketangguhan mental (mental toughness) muridnya itu.
Ada dua kalimat yang menjelaskan nilai tersebut. Pertama, Venus membenci melihat bola memantul dua kali dalam lapangannya. Kedua, Venus tak pernah terlihat terintimidasi dalam posisi terdesak atau tertinggal.
Lebih dari 10 tahun kemudian, penilaian Rineberg dalam buku rapor itu masih tetap berlaku. Masa-masa sulit dalam dua tahun terakhir tak mampu mengintimidasi Venus. Dia mengatasi semua tekanan dan keluar sebagai juara Wimbledon.
Sumber : Kompas, Selasa, 5 Juli 2005
Oleh : Yunas Santhani Azis
Final tunggal putri Wimbledon, Sabtu (2/7/2005), Venus Williams yang tertinggal 4-5 membuat kesalahan servis ganda, membuat lawannya, Lindsay Davenport, tinggal mencari satu angka untuk juara. Namun, itu bukan akhir cerita. Venus jadi pemenang dan menjadi orang pertama dalam 70 tahun terakhir yang bisa menjuarai Wimbledon meski lawan sudah championships point.
Venus (25) mengikuti jejak adiknya, Serena Williams, dan putri Belgia, Justine Henin-Hardenne. Mereka adalah tiga petenis putri yang tahun ini mampu kembali merebut lambang supremasi tertinggi tenis perseorangan dunia, grand slam, setelah kariernya terpuruk berbulan-bulan oleh sakit dan cedera.
Serena lebih dulu mengumumkan kebangkitannya dengan menjuarai Australia Terbuka, Januari silam. Henin-Hardenne mengikuti dengan kemenangan di Perancis Terbuka, awal Juni lalu.
Namun, dibandingkan dengan Serena dan Henin-Hardenne, Venus sebelumnya dipandang paling sulit untuk bisa bangkit kembali. Semua orang punya teori untuk itu seperti yang ditulis wartawan Associated Press, Howard Fendrich.
Pertama, dia selalu di bawah bayang-bayang adiknya, Serena, khususnya di tahun 2002-2003. Dalam dua tahun itu, Venus selalu kalah dari Serena di enam final grand slam meski sebelumnya dia adalah ratu Wimbledon dan AS Terbuka yang jadi juara dua kali berturut-turut.
Teori kedua, kesibukannya di luar tenis, terutama bisnis desain interior, dianggap semakin memupuskan perhatiannya pada pertandingan. Ketiga, cedera tangan, otot perut, dan bahu sejak medio tahun 2003 terlalu bertubi untuk diatasi. Keempat, Venus perlu pelatih lain menggantikan ayah-ibunya, Richard dan Oracene. Kelima, kematian adik yang sangat dia sayangi, Yetunde, awal tahun lalu, merupakan pukulan yang sangat pedih.
Semua teori semakin pas dengan kenyataan karena setelah absen enam bulan dan balik lagi ke arena awal tahun lalu, Venus yang merupakan putri kebanggaan AS hanya dua kali juara sepanjang tahun 2004.
Tahun ini, sebelum Wimbledon, pun dia cuma sekali jadi pemenang, yaitu di Istanbul, medio Mei lalu. Turnamen Piala Istanbul sesungguhnya bukanlah kelas Venus di masa-masa jayanya dalam kurun tahun 1998-2003.
Grafik prestasi yang melorot demikian nyata. Dalam dua tahun terakhir hingga Istanbul, Venus cuma bisa empat kali mengusung trofi kemenangan. Dalam periode lima tahun sebelumnya, 1998-2002, Venus meraup 28 gelar juara.
Wimbledon titik balik
Wimbledon akhirnya menjadi kebangkitan Venus meski dia tampil hanya sebagai unggulan ke-14 atau dengan kata lain, bukan menjadi pemain yang diperhitungkan bakal menang. Namun, tak ada istilah keberuntungan bagi Venus Williams.
”Dalam hati saya selalu merasa sebagai juara karena saya melakukan yang terbaik dalam setiap langkah yang saya ayunkan di lapangan. Apa pun keadaannya, saya selalu bermain 100 persen,” ujar Venus.
Keteguhan hati seperti itu tidaklah datang sekejap. Usaha Venus untuk membentuk mental juara sejak kecil jelas tergambar dalam biografi Dave Rineberg, My Seven Years as Hitting Coach for The Williams Sisters. Rineberg adalah pelatih yang berperan sebagai lawan tanding (hitting coach) sejak Venus berumur 12 tahun dan Serena 11 tahun di Florida Selatan.
Di mata Rineberg, Venus sudah mencoba tegar sejak usia itu. Ujian pertama dia hadapi ketika Richard, sang ayah, tak puas dengan bentuk latihan di Delray Beach Tennis Academy, tempat Venus berlatih. Richard menginginkan karakter putrinya lebih agresif dengan meminta Venus terus maju ke lapangan depan menyongsong bola.
Instruksi Richard tidak sejalan dengan kurikulum akademi yang menekankan Venus untuk terampil memukul bola dari garis belakang. Venus terjepit di antara dua ”kekuasaan”, ayahnya dan pelatih akademi.
Akibatnya sering tidak menyenangkan. Venus sering tampil kikuk, membuat banyak kesalahan, tetapi satu yang tak pernah dia lakukan, menyerah atau menangisi keadaan.
Richard pernah marah besar dengan kekikukan Venus dan Rineberg yang datang mencoba menghibur. Bukannya merajuk atau mengadu, Venus justru menampik tangan Rineberg yang mencoba merangkul bahunya.
”Saya tidak punya masalah,” ujar Venus tegas dan terus kembali memasuki lapangan untuk meneruskan latihan. Setahun pertama melatih Venus di awal tahun 1994, Rineberg membubuhkan nilai sangat baik (excellent) untuk faktor ketangguhan mental (mental toughness) muridnya itu.
Ada dua kalimat yang menjelaskan nilai tersebut. Pertama, Venus membenci melihat bola memantul dua kali dalam lapangannya. Kedua, Venus tak pernah terlihat terintimidasi dalam posisi terdesak atau tertinggal.
Lebih dari 10 tahun kemudian, penilaian Rineberg dalam buku rapor itu masih tetap berlaku. Masa-masa sulit dalam dua tahun terakhir tak mampu mengintimidasi Venus. Dia mengatasi semua tekanan dan keluar sebagai juara Wimbledon.
Sumber : Kompas, Selasa, 5 Juli 2005
Valentino Rossi MEngubah Peta Motor Dunia
Jun 21, 2009
Valentino Rossi Mengubah Peta Motor Dunia
Oleh : L Sastra Wijaya*
Dia adalah Michael Schumacher-nya balap motor dunia dan menurut pengakuannya sendiri, dia telah mengubah peta balap motor. Valentino Rossi sudah merebut seluruh gelar juara dunia yang ada di balapan motor, mulai dari 125 cc, 250 cc, 500 cc, dan sekarang MotoGP.
Di Italia, yang tidak pernah kekurangan bintang pujaan di bidang olahraga, Rossi menjadi bintang paling terkenal sekarang ini. Dan meski ia tidak menyelesaikan pendidikannya sampai SMA, Rossi mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Urbino, kota kelahirannya di Italia.
Inilah semua yang ditulis oleh Valentino Rossi, yang sekarang baru berusia 26 tahun, dalam otobiografinya, yang baru saja diterbitkan dalam bahasa Italia dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Bukan karena Rossi sekarang tinggal di London, yang membuat buku ini menjadi salah satu buku terlaris di Inggris dalam enam pekan terakhir. Namun, dalam buku berjudul What if I had never tried it? (Apa yang terjadi kalau saya dulu tidak mencobanya?), Rossi menulis dengan tajam mengenai pengalaman dalam 10 tahun terakhir, di dunia balap motor.
Tak hanya pengalamannya menjadi juara dunia yang menarik perhatian banyak orang. Namun, soal kepindahannya dari tim juara Honda ke tim Yamaha dua tahun lalu menjadi alasan utama bagi Rossi untuk mengatakan bahwa dia sudah mengubah peta balap motor dunia.
Dalam bukunya, Rossi juga bercerita mengenai uji coba yang dilakukannya untuk tim balapan Formula Satu, Ferrari, dan tidak tertutup kemungkinan, dalam tahun-tahun ke depan dia berubah posisi dari pembalap motor menjadi pembalap Formula Satu.
Ketika pada tahun 2003 Rossi memutuskan pindah dari Honda ke tim Yamaha, hampir semua yang berkecimpung di dunia balap motor tercengang. Perpindahan itu boleh disebut tidak menuruti pemikiran logis.
Di tahun itu, Rossi baru saja menjuarai MotoGP yang kedua kalinya, bersama tim Honda. Tim asal Jepang tersebut sangat efisien dan motor mereka merupakan yang terbaik di dunia saat itu.
Hal yang berkebalikan dengan keadaan tim Yamaha. Mereka hampir tidak pernah memenangi satu balapan pun karena memang mesin motornya lebih lambat dibandingkan dengan tim-tim lain.
Pada awalnya, Rossi tidak betul-betul serius berpikir untuk pindah ke Yamaha. Namun, dalam dua tahun (2002-2003) balap MotoGP, Honda betul-betul mendominasi, dan mereka yang berkecimpung di Honda (mulai dari bos perusahaan maupun tim mekanik) beranggapan kemenangan di setiap balapan sudah menjadi keharusan, bukan lagi jadi tantangan.
Honda, menurut Rossi, mulai beranggapan bahwa yang menentukan kemenangan sebuah balapan adalah mesin motor, bukan pembalapnya. Honda beranggapan, siapa pun pembalapnya kalau mesinnya Honda, mereka pasti menang.
Alasan utama Honda terlibat dalam balapan adalah untuk menonjolkan sepeda motor mereka dan bahwa perusahaan mereka nomor satu. Saya merasa terperangkap dalam keadaan seperti itu. Pada tahun 2003 itu, saya merasa harus membuktikan bahwa manusia lebih penting daripada mesin, bahwa pembalap sangat dipentingkan dalam mengembangkan sebuah mesin, tulis Rossi.
Oleh karena itu, tambah Rossi, bergabung dengan Yamaha adalah tantangan terbesar dan tergila yang diambilnya. Tantangan yang bagi orang lain mungkin tidak akan bisa tercapai, tulis Rossi.
Semua boleh disebut sudah menjadi sejarah sekarang ini. Dalam lomba pertama di tahun 2004, di Welkom, Afrika Selatan, Rossi membuktikan hal yang mustahil tersebut, dia menjadi juara pertama bersama tim Yamaha.
Ada kalimat di dunia balap motor yang mengatakan kalau ingin jadi juara dunia, balaplah dengan Honda. Namun, sejak di Afrika Selatan ini orang mulai menyadari betapa pentingnya masukan dari manusia, dari pembalap. Saya telah membuktikan hal tersebut, kata Rossi.
Filosofi Rossi yang juga menarik adalah tekadnya untuk merebut gelar juara dunia secara bertingkat. Rossi, yang membalap serius mulai tahun 1996, pada usia 17 tahun merebut gelar juara dunia kelas 125 cc di tahun 1998.
Dia kemudian pindah ke kelas 250 cc, dan di sana dia sempat ditawar oleh tim lain untuk pindah ke 500 cc. Namun, Rossi bertekad untuk merebut gelar juara dunia 250 cc dahulu, sebelum berpindah ke kelas di atasnya.
Tentu saja dalam buku ini, Rossi berbicara mengenai masa kecilnya di Italia, bagaimana dia mulai berkecimpung di dunia balap. Ayahnya, Graziano, adalah bekas pembalap, namun semula mengharapkan anaknya menggeluti balap mobil karena lebih aman.
Semula Rossi memilih balap motor karena faktor biaya, lebih murah. Ternyata pilihannya tidak salah sama sekali. Coba, kalau dulu saya tidak mencobanya?
Prestasi Rossi: juara 125 cc bersama Aprilia pada tahun 1997, juara 250 cc bersama Aprilia pada tahun 1999, dan juara 500 cc bersama Honda pada tahun 2001. Empat tahun terakhir ini Rossi menjadi juara MotoGP (dua bersama Honda dan dua mewakili Yamaha, timnya saat ini).
Rossi banyak menyebut Sirkuit Sepang di Malaysia karena hampir setiap tahun dia membalap di sana. Dan hanya menyebut sekali dia pernah ke Indonesia, di sirkuit Sentul 1996. Sepang menjadi sirkuit bagi tim-tim balap motor untuk mengadakan uji mesin di luar musim lomba.
Ketika di Eropa sedang musim dingin, tim-tim besar ini memindahkan kegiatan mereka ke Sepang. Di sini juga Rossi pertama kali menguji coba motor Yamaha yang membawanya menjadi juara dunia dua kali MotoGP pada tahun 2004 dan 2005.
*L Sastra Wijaya Kontributor Kompas dan Penyiar Radio BBC di London
Sumber : Kompas, Jumat, 21 Oktober 2005
Oleh : L Sastra Wijaya*
Dia adalah Michael Schumacher-nya balap motor dunia dan menurut pengakuannya sendiri, dia telah mengubah peta balap motor. Valentino Rossi sudah merebut seluruh gelar juara dunia yang ada di balapan motor, mulai dari 125 cc, 250 cc, 500 cc, dan sekarang MotoGP.
Di Italia, yang tidak pernah kekurangan bintang pujaan di bidang olahraga, Rossi menjadi bintang paling terkenal sekarang ini. Dan meski ia tidak menyelesaikan pendidikannya sampai SMA, Rossi mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Urbino, kota kelahirannya di Italia.
Inilah semua yang ditulis oleh Valentino Rossi, yang sekarang baru berusia 26 tahun, dalam otobiografinya, yang baru saja diterbitkan dalam bahasa Italia dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Bukan karena Rossi sekarang tinggal di London, yang membuat buku ini menjadi salah satu buku terlaris di Inggris dalam enam pekan terakhir. Namun, dalam buku berjudul What if I had never tried it? (Apa yang terjadi kalau saya dulu tidak mencobanya?), Rossi menulis dengan tajam mengenai pengalaman dalam 10 tahun terakhir, di dunia balap motor.
Tak hanya pengalamannya menjadi juara dunia yang menarik perhatian banyak orang. Namun, soal kepindahannya dari tim juara Honda ke tim Yamaha dua tahun lalu menjadi alasan utama bagi Rossi untuk mengatakan bahwa dia sudah mengubah peta balap motor dunia.
Dalam bukunya, Rossi juga bercerita mengenai uji coba yang dilakukannya untuk tim balapan Formula Satu, Ferrari, dan tidak tertutup kemungkinan, dalam tahun-tahun ke depan dia berubah posisi dari pembalap motor menjadi pembalap Formula Satu.
Ketika pada tahun 2003 Rossi memutuskan pindah dari Honda ke tim Yamaha, hampir semua yang berkecimpung di dunia balap motor tercengang. Perpindahan itu boleh disebut tidak menuruti pemikiran logis.
Di tahun itu, Rossi baru saja menjuarai MotoGP yang kedua kalinya, bersama tim Honda. Tim asal Jepang tersebut sangat efisien dan motor mereka merupakan yang terbaik di dunia saat itu.
Hal yang berkebalikan dengan keadaan tim Yamaha. Mereka hampir tidak pernah memenangi satu balapan pun karena memang mesin motornya lebih lambat dibandingkan dengan tim-tim lain.
Pada awalnya, Rossi tidak betul-betul serius berpikir untuk pindah ke Yamaha. Namun, dalam dua tahun (2002-2003) balap MotoGP, Honda betul-betul mendominasi, dan mereka yang berkecimpung di Honda (mulai dari bos perusahaan maupun tim mekanik) beranggapan kemenangan di setiap balapan sudah menjadi keharusan, bukan lagi jadi tantangan.
Honda, menurut Rossi, mulai beranggapan bahwa yang menentukan kemenangan sebuah balapan adalah mesin motor, bukan pembalapnya. Honda beranggapan, siapa pun pembalapnya kalau mesinnya Honda, mereka pasti menang.
Alasan utama Honda terlibat dalam balapan adalah untuk menonjolkan sepeda motor mereka dan bahwa perusahaan mereka nomor satu. Saya merasa terperangkap dalam keadaan seperti itu. Pada tahun 2003 itu, saya merasa harus membuktikan bahwa manusia lebih penting daripada mesin, bahwa pembalap sangat dipentingkan dalam mengembangkan sebuah mesin, tulis Rossi.
Oleh karena itu, tambah Rossi, bergabung dengan Yamaha adalah tantangan terbesar dan tergila yang diambilnya. Tantangan yang bagi orang lain mungkin tidak akan bisa tercapai, tulis Rossi.
Semua boleh disebut sudah menjadi sejarah sekarang ini. Dalam lomba pertama di tahun 2004, di Welkom, Afrika Selatan, Rossi membuktikan hal yang mustahil tersebut, dia menjadi juara pertama bersama tim Yamaha.
Ada kalimat di dunia balap motor yang mengatakan kalau ingin jadi juara dunia, balaplah dengan Honda. Namun, sejak di Afrika Selatan ini orang mulai menyadari betapa pentingnya masukan dari manusia, dari pembalap. Saya telah membuktikan hal tersebut, kata Rossi.
Filosofi Rossi yang juga menarik adalah tekadnya untuk merebut gelar juara dunia secara bertingkat. Rossi, yang membalap serius mulai tahun 1996, pada usia 17 tahun merebut gelar juara dunia kelas 125 cc di tahun 1998.
Dia kemudian pindah ke kelas 250 cc, dan di sana dia sempat ditawar oleh tim lain untuk pindah ke 500 cc. Namun, Rossi bertekad untuk merebut gelar juara dunia 250 cc dahulu, sebelum berpindah ke kelas di atasnya.
Tentu saja dalam buku ini, Rossi berbicara mengenai masa kecilnya di Italia, bagaimana dia mulai berkecimpung di dunia balap. Ayahnya, Graziano, adalah bekas pembalap, namun semula mengharapkan anaknya menggeluti balap mobil karena lebih aman.
Semula Rossi memilih balap motor karena faktor biaya, lebih murah. Ternyata pilihannya tidak salah sama sekali. Coba, kalau dulu saya tidak mencobanya?
Prestasi Rossi: juara 125 cc bersama Aprilia pada tahun 1997, juara 250 cc bersama Aprilia pada tahun 1999, dan juara 500 cc bersama Honda pada tahun 2001. Empat tahun terakhir ini Rossi menjadi juara MotoGP (dua bersama Honda dan dua mewakili Yamaha, timnya saat ini).
Rossi banyak menyebut Sirkuit Sepang di Malaysia karena hampir setiap tahun dia membalap di sana. Dan hanya menyebut sekali dia pernah ke Indonesia, di sirkuit Sentul 1996. Sepang menjadi sirkuit bagi tim-tim balap motor untuk mengadakan uji mesin di luar musim lomba.
Ketika di Eropa sedang musim dingin, tim-tim besar ini memindahkan kegiatan mereka ke Sepang. Di sini juga Rossi pertama kali menguji coba motor Yamaha yang membawanya menjadi juara dunia dua kali MotoGP pada tahun 2004 dan 2005.
*L Sastra Wijaya Kontributor Kompas dan Penyiar Radio BBC di London
Sumber : Kompas, Jumat, 21 Oktober 2005
Viviana Maharani Pradotokoesomo : Kegigihan dr Viviana Mengoperasikan RSUD Wamena
Jun 20, 2009
Kegigihan dr Viviana Mengoperasikan RSUD Wamena
Oleh : Kornelis Kewa Ama
Di tengah kesuraman pembangunan Kabupaten Jayawijaya, dr Viviana Maharani Pradotokoesoemo mempertahankan keberlangsungan Rumah Sakit Umum Daerah Wamena yang dipimpinnya. Pelayanan pun tetap berjalan meski di bawah standar mutu pelayanan kesehatan.
Ditemui di Wamena sekitar pertengahan Desember, dr Vivi, begitu dia biasa disapa, tampak gembira. Modal utama mengabdi 12 tahun sebagai dokter di pedalaman Jayawijaya sampai ke kota Wamena hanyalah kesabaran.
Meski sering dicerca kata-kata menyakitkan dari bawahan dan pasien karena kekurangan sarana dan fasilitas pendukung rumah sakit, dia tetap tegar. Dengan keterbatasan yang ada, ia tetap berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien.
Pernah suatu hari di bulan November 2005 listrik dipadamkan oleh PLN pada pukul 03.00 WIT. Ia bersitegang dengan Kepala PLN Wamena. Dia bersikukuh agar listrik tetap menyala karena kegiatan operasi dini hari itu masih berlangsung. Namun, pihak PLN tidak mau berkompromi.
Tidak puas atas perlakuan PLN, Vivi kemudian menelepon Menteri Kesehatan di Jakarta. Pukul 05.00 WIT listrik menyala kembali. Ternyata, Menkes langsung menelepon Direktur Utama PLN di Jakarta yang langsung memerintahkan Kepala Ranting PLN Wamena untuk menghidupkan listrik di rumah sakit itu.
Tak ada dana
Sebetulnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena memiliki satu unit genset, tetapi tidak ada bahan bakar solar. Rumah sakit tidak memiliki dana operasional untuk membeli solar. Dana untuk makanan pasien juga tidak ada.
Perawat-perawat minta rumah sakit ditutup saja karena tidak ada dana operasional sama sekali, tidak ada makanan pasien, tidak ada obat-obatan, tabung gas, dan seterusnya. Pasien sampai pingsan karena tidak diberi makan. Tetapi saya tetap pertahankan. Para perawat mengatakan, dokter takut jabatan hilang sehingga mati-matian mempertahankan rumah sakit ini, tutur ibu dua putra kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, ini.
Perawat dan lima dokter umum di rumah sakit itu tidak dapat insentif atau tunjangan apa pun. Dokter dan perawat jaga malam pun tidak dibayar selama dua tahun (2003-2005), tetapi mereka tetap kerja atas dorongan dan ajakan Vivi.
Sejak tahun 2003 hingga 2005, beberapa kali perawat dan dokter melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tetapi tidak ada perhatian. Pernah 143 karyawan di rumah sakit itu melakukan aksi demo damai, tetapi tetap sama hasilnya.
Jumlah pasien rawat jalan dalam satu hari 70-100 pasien, sementara rawat inap 15-20 pasien. Mereka yang datang berobat di sini sebagian besar penduduk asli, dan pengobatan cuma-cuma. Kami tidak tarik dana dari pasien untuk mengatasi kondisi di rumah sakit. Mereka pun sangat miskin dan tidak punya uang sepeser pun, katanya.
Instansi lain boleh macet, tetapi rumah sakit harus tetap beroperasi melayani masyarakat. Namun, bagaimana mungkin sebuah rumah sakit dapat beroperasi kalau tidak ditunjang dana pemerintah daerah, apalagi rumah sakit melayani masyarakat secara gratis setiap hari?
Penyakit yang lebih dominan di kalangan pasien adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), malaria, diare, cacingan, TB paru, amuba, dan pneumonia.
Utang menumpuk
Masuk sebagai dokter PTT, dr Vivi bertugas di Kecamatan Tiom tahun 1992-1994. Kemudian ditarik masuk ke BKKBN Wamena 1994-2003. Akhir 2003 ditunjuk menjadi Kepala RSUD Wamena sampai hari ini. Ia masuk mengelola rumah sakit itu ketika kondisi rumah sakit sudah sangat parah.
Tahun 2004 RSUD hanya membuka pelayanan unit gawat darurat karena hak-hak karyawan tidak dibayar, tidak ada obat-obatan, dan tidak ada sarana pendukung rumah sakit lain. Tahun 2005 kondisi rumah sakit makin parah, obat-obatan kosong sama sekali.
Tahun 2003 utang RSUD Wamena kepada PT Kimia Farma sebesar Rp 1,4 miliar. Tahun 2004 utang kembali menumpuk menjadi Rp 2 miliar. Tahun 2005 utang tinggal Rp 300 juta. Karena utang belum lunas, rumah sakit sulit mendatangkan obat-obatan lagi.
Sementara itu, utang dari rekanan kerja sebesar Rp 138 juta juga belum dibayar. Bahkan dr Vivi dilaporkan rekanan itu ke Kepolisian Resor Jayawijaya sehingga dipanggil tiga kali. Kejadian itu membuat hatinya sedih.
Belum lagi menyaksikan rumah sakit berutang Rp 1,6 miliar per tahun 2005 untuk biaya makanan pasien. Dana tersebut baru dibayar Rp 500 juta, sisanya sebanyak Rp 1,1 miliar masih menjadi kewajiban rumah sakit. Pasien yang datang dari Yahukimo, Tolikara, dan distrik-distrik sering pingsan di rumah sakit karena tidak pernah makan.
Rambut dan kulitku tidak akan pernah menjadi hitam dan keriting, tetapi hati dan pikiran sudah lama menjadi keriting dan hitam, katanya.
Sumber : Kompas, Rabu, 28 Desember 2005
Oleh : Kornelis Kewa Ama
Di tengah kesuraman pembangunan Kabupaten Jayawijaya, dr Viviana Maharani Pradotokoesoemo mempertahankan keberlangsungan Rumah Sakit Umum Daerah Wamena yang dipimpinnya. Pelayanan pun tetap berjalan meski di bawah standar mutu pelayanan kesehatan.
Ditemui di Wamena sekitar pertengahan Desember, dr Vivi, begitu dia biasa disapa, tampak gembira. Modal utama mengabdi 12 tahun sebagai dokter di pedalaman Jayawijaya sampai ke kota Wamena hanyalah kesabaran.
Meski sering dicerca kata-kata menyakitkan dari bawahan dan pasien karena kekurangan sarana dan fasilitas pendukung rumah sakit, dia tetap tegar. Dengan keterbatasan yang ada, ia tetap berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien.
Pernah suatu hari di bulan November 2005 listrik dipadamkan oleh PLN pada pukul 03.00 WIT. Ia bersitegang dengan Kepala PLN Wamena. Dia bersikukuh agar listrik tetap menyala karena kegiatan operasi dini hari itu masih berlangsung. Namun, pihak PLN tidak mau berkompromi.
Tidak puas atas perlakuan PLN, Vivi kemudian menelepon Menteri Kesehatan di Jakarta. Pukul 05.00 WIT listrik menyala kembali. Ternyata, Menkes langsung menelepon Direktur Utama PLN di Jakarta yang langsung memerintahkan Kepala Ranting PLN Wamena untuk menghidupkan listrik di rumah sakit itu.
Tak ada dana
Sebetulnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena memiliki satu unit genset, tetapi tidak ada bahan bakar solar. Rumah sakit tidak memiliki dana operasional untuk membeli solar. Dana untuk makanan pasien juga tidak ada.
Perawat-perawat minta rumah sakit ditutup saja karena tidak ada dana operasional sama sekali, tidak ada makanan pasien, tidak ada obat-obatan, tabung gas, dan seterusnya. Pasien sampai pingsan karena tidak diberi makan. Tetapi saya tetap pertahankan. Para perawat mengatakan, dokter takut jabatan hilang sehingga mati-matian mempertahankan rumah sakit ini, tutur ibu dua putra kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, ini.
Perawat dan lima dokter umum di rumah sakit itu tidak dapat insentif atau tunjangan apa pun. Dokter dan perawat jaga malam pun tidak dibayar selama dua tahun (2003-2005), tetapi mereka tetap kerja atas dorongan dan ajakan Vivi.
Sejak tahun 2003 hingga 2005, beberapa kali perawat dan dokter melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tetapi tidak ada perhatian. Pernah 143 karyawan di rumah sakit itu melakukan aksi demo damai, tetapi tetap sama hasilnya.
Jumlah pasien rawat jalan dalam satu hari 70-100 pasien, sementara rawat inap 15-20 pasien. Mereka yang datang berobat di sini sebagian besar penduduk asli, dan pengobatan cuma-cuma. Kami tidak tarik dana dari pasien untuk mengatasi kondisi di rumah sakit. Mereka pun sangat miskin dan tidak punya uang sepeser pun, katanya.
Instansi lain boleh macet, tetapi rumah sakit harus tetap beroperasi melayani masyarakat. Namun, bagaimana mungkin sebuah rumah sakit dapat beroperasi kalau tidak ditunjang dana pemerintah daerah, apalagi rumah sakit melayani masyarakat secara gratis setiap hari?
Penyakit yang lebih dominan di kalangan pasien adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), malaria, diare, cacingan, TB paru, amuba, dan pneumonia.
Utang menumpuk
Masuk sebagai dokter PTT, dr Vivi bertugas di Kecamatan Tiom tahun 1992-1994. Kemudian ditarik masuk ke BKKBN Wamena 1994-2003. Akhir 2003 ditunjuk menjadi Kepala RSUD Wamena sampai hari ini. Ia masuk mengelola rumah sakit itu ketika kondisi rumah sakit sudah sangat parah.
Tahun 2004 RSUD hanya membuka pelayanan unit gawat darurat karena hak-hak karyawan tidak dibayar, tidak ada obat-obatan, dan tidak ada sarana pendukung rumah sakit lain. Tahun 2005 kondisi rumah sakit makin parah, obat-obatan kosong sama sekali.
Tahun 2003 utang RSUD Wamena kepada PT Kimia Farma sebesar Rp 1,4 miliar. Tahun 2004 utang kembali menumpuk menjadi Rp 2 miliar. Tahun 2005 utang tinggal Rp 300 juta. Karena utang belum lunas, rumah sakit sulit mendatangkan obat-obatan lagi.
Sementara itu, utang dari rekanan kerja sebesar Rp 138 juta juga belum dibayar. Bahkan dr Vivi dilaporkan rekanan itu ke Kepolisian Resor Jayawijaya sehingga dipanggil tiga kali. Kejadian itu membuat hatinya sedih.
Belum lagi menyaksikan rumah sakit berutang Rp 1,6 miliar per tahun 2005 untuk biaya makanan pasien. Dana tersebut baru dibayar Rp 500 juta, sisanya sebanyak Rp 1,1 miliar masih menjadi kewajiban rumah sakit. Pasien yang datang dari Yahukimo, Tolikara, dan distrik-distrik sering pingsan di rumah sakit karena tidak pernah makan.
Rambut dan kulitku tidak akan pernah menjadi hitam dan keriting, tetapi hati dan pikiran sudah lama menjadi keriting dan hitam, katanya.
Sumber : Kompas, Rabu, 28 Desember 2005
Vennetia Ryckerens Danes : Vennetia Danes Kejutkan Peraih Nobel
Jun 18, 2009
Vennetia Danes Kejutkan Peraih Nobel
Oleh : Freddy Roeroe
Vennetia Ryckerens Danes (44) membuat dua pemegang Nobel kedokteran dari Max Plank Institute (Jerman), Prof Bert Sakmann dan Prof Erwin Neher, berdecak kagum. Kedua guru besar itu tidak menduga dokter kelahiran Manado, 27 Maret 1962, ini menyimpan potensi sebagai peneliti berkelas dunia.
Ketika menyaksikan penelitian yang sangat rumit yang dilakukan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado itu, selain terkagum-kagum, Bert Sakmann juga dengan terus terang menyatakan rasa bangganya. Terutama ketika Prof Sakmann ikut mencarikan jalan keluar saat teknologi patch clamping yang digunakan dalam penelitian Vennetia tidak mampu mengeluarkan data yang dibutuhkan.
Alat atau teknologi patch clamping temuan Sakmann dan Erwin Neher, yang mengantarkan kedua ahli kenamaan itu berhak atas hadiah Nobel bidang kedokteran, ternyata saat digunakan Vennetia sempat tidak berfungsi. Padahal, saat digunakan Sakmann dan Neher, teknologi itu berhasil meneliti sel-sel saraf guna mendapatkan solusi atas penyakit epilepsi.
Alat itu pula yang digunakan oleh Vennetia untuk meneliti sel-sel jantung. Vennetia hampir frustrasi ketika berbulan-bulan di laboratorium ia tidak menemukan apa-apa, padahal teknologi tersebut sudah menghasilkan Nobel bagi penemunya.
Waktu itu di suatu malam di Melbourne, Australia, ujar Vennetia, tepatnya pukul 23.00, dia keluar dari laboratorium untuk menghirup udara segar. ”Istirahat sejenak karena kebetulan peralatannya tidak bisa mengeluarkan data apa-apa. Di sebelah ruangan lab saya tampak Prof Sakmann, guru besar tamu kehormatan pembimbing saya masih aktif bekerja. Saya kemudian memberanikan diri memasuki ruangannya dan menjelaskan kebuntuan di lab saya. Ternyata Prof Sakmann malah mau mendatangi lab saya dan menerangkan banyak hal,” kata Vennetia yang telah memublikasikan 10 jurnal ilmiah internasional.
Keduanya berdiskusi sambil mengutak-atik sejumlah sel jantung yang masih hidup. Upaya pemecahan kebuntuan itu berlanjut hingga sehari penuh esoknya. Sakmann juga mengakui, penelitian sel-sel jantung dengan menggunakan alat patch clamping jauh lebih rumit ketimbang meneliti sel-sel saraf.
”Esoknya seluruh departemen gempar karena pagi-pagi benar, sekitar pukul 08.00, si Nobel sudah duduk langsung di lab saya, menerangkan sambil menggambar desain struktur alat baru yang akan diorder,” ujar Vennetia.
Prof Sakmann sendiri mengantar Vennetia turun ke lantai basement di workshop untuk memesan alat yang sudah didesain sendiri oleh Sakmann. Sepanjang hari itu Sakmann menyisihkan waktu untuk memecahkan persoalan yang dihadapi Vennetia.
Menurut Venne, panggilan akrab Vennetia, lewat teknologi patch clamping, aktivitas ion yang masuk keluar pada sel saraf neuron pada penderita epilepsi bisa diukur. Penemuan teknik itu telah membawa revolusi sangat berarti di bidang kedokteran, terutama di bidang sel, molekul, dan elektrofisiologi. Teknik ini dapat mengukur voltase, aliran listrik, serta aplikasi molekuler lainnya terhadap sel mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku, termasuk sel jantung.
Vennetia, istri tercinta dari Mochtar Siby, dosen Fakultas Teknik Unsrat, mengatakan, melalui teknologi itu pula ia melahirkan terobosan dalam penelitian bidang molecular and cellular cardiology yang kemudian mengantarkannya menemukan channel baru penyebab lain pembesaran dan kegagalan jantung. Lewat temuan itu pula, ibu dua anak, Nicky (18) dan Victoria (15), itu berhak atas gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya berjudul ”Cardiomyocyte Calcium and pH Regulation in Primary Cardiac Hypertrophy” pada Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, Victoria, Australia.
”Channel” baru
Channel baru penyebab pembesaran dan kegagalan jantung itu disebut LVACC (low voltage activated calcium current) di membran sel jantung yang mengatur masuk keluar kalsium di sel jantung dan juga mengatur ritme jantung. Sebelumnya (pada penemuan lebih dulu oleh ilmuwan lain), untuk masuknya kalsium di sel jantung kebanyakan melalui calcium channel tipe L dan sebagian kecil melalui tipe T dan sodium calcium exchanger yang ada di membran sel.
Ternyata, kata Vennetia, pada kasus penderita jantung membesar dan kegagalan jantung ditemukan kelainan aktivitas LVACC yang memengaruhi faktor arrhythmia (atau ketidakberaturan irama jantung). Protein- protein lain di membran, seperti Na/H exchanger (yang mengatur antara lain pH sel jantung), L dan T-type calcium channels serta sodium-calcium exchanger (yang mengatur mekanisme kerja kontraktilitas jantung), juga berubah. Akibatnya, itu memengaruhi perkembangan penyakit jantung membesar yang selanjutnya menuju ke kegagalan jantung.
Didapatkan pula, lanjut Vennetia, bahwa perbedaan pengaturan terhadap asam dan ion kalsium yang memengaruhi respons kontraktilitas dan elektikal dari sel-sel otot jantung ditentukan oleh faktor genetika yang mendasari setiap model pembesaran jantung. Menurut Vennetia, dari tingkat molekuler dan seluler penemuan kelainan pengaturan ionik di jantung sel ini akan dapat memberikan kontribusi pemahaman mekanisme kerja jantung pada keadaan patologis, yakni pada saat jantung membesar dan perjalanannya ke arah kegagalan memompa.
Anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Jan FA Danes dan Beatrice Adeleida Tirayoh ini mengungkapkan, sedikitnya 20 profesor kenamaan dunia di bidang jantung sempat bekerja sama dan jadi mitra diskusinya.
Dengan mereka, Vennetia berjanji akan bekerja sama meneruskan penelitiannya.
Mungkinkah suatu saat dapat Nobel? ”Saya bekerja bukan untuk mendapat Nobel, tetapi untuk kemanusiaan meskipun beberapa mitra saya sudah mengatakan, ’Venne, Anda telah memulai sesuatu yang besar di bidang kedokteran’,” kata penerima tujuh award dari berbagai lembaga internasional itu.
Sumber : Kompas, Jumat, 24 Maret 2006
Oleh : Freddy Roeroe
Vennetia Ryckerens Danes (44) membuat dua pemegang Nobel kedokteran dari Max Plank Institute (Jerman), Prof Bert Sakmann dan Prof Erwin Neher, berdecak kagum. Kedua guru besar itu tidak menduga dokter kelahiran Manado, 27 Maret 1962, ini menyimpan potensi sebagai peneliti berkelas dunia.
Ketika menyaksikan penelitian yang sangat rumit yang dilakukan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado itu, selain terkagum-kagum, Bert Sakmann juga dengan terus terang menyatakan rasa bangganya. Terutama ketika Prof Sakmann ikut mencarikan jalan keluar saat teknologi patch clamping yang digunakan dalam penelitian Vennetia tidak mampu mengeluarkan data yang dibutuhkan.
Alat atau teknologi patch clamping temuan Sakmann dan Erwin Neher, yang mengantarkan kedua ahli kenamaan itu berhak atas hadiah Nobel bidang kedokteran, ternyata saat digunakan Vennetia sempat tidak berfungsi. Padahal, saat digunakan Sakmann dan Neher, teknologi itu berhasil meneliti sel-sel saraf guna mendapatkan solusi atas penyakit epilepsi.
Alat itu pula yang digunakan oleh Vennetia untuk meneliti sel-sel jantung. Vennetia hampir frustrasi ketika berbulan-bulan di laboratorium ia tidak menemukan apa-apa, padahal teknologi tersebut sudah menghasilkan Nobel bagi penemunya.
Waktu itu di suatu malam di Melbourne, Australia, ujar Vennetia, tepatnya pukul 23.00, dia keluar dari laboratorium untuk menghirup udara segar. ”Istirahat sejenak karena kebetulan peralatannya tidak bisa mengeluarkan data apa-apa. Di sebelah ruangan lab saya tampak Prof Sakmann, guru besar tamu kehormatan pembimbing saya masih aktif bekerja. Saya kemudian memberanikan diri memasuki ruangannya dan menjelaskan kebuntuan di lab saya. Ternyata Prof Sakmann malah mau mendatangi lab saya dan menerangkan banyak hal,” kata Vennetia yang telah memublikasikan 10 jurnal ilmiah internasional.
Keduanya berdiskusi sambil mengutak-atik sejumlah sel jantung yang masih hidup. Upaya pemecahan kebuntuan itu berlanjut hingga sehari penuh esoknya. Sakmann juga mengakui, penelitian sel-sel jantung dengan menggunakan alat patch clamping jauh lebih rumit ketimbang meneliti sel-sel saraf.
”Esoknya seluruh departemen gempar karena pagi-pagi benar, sekitar pukul 08.00, si Nobel sudah duduk langsung di lab saya, menerangkan sambil menggambar desain struktur alat baru yang akan diorder,” ujar Vennetia.
Prof Sakmann sendiri mengantar Vennetia turun ke lantai basement di workshop untuk memesan alat yang sudah didesain sendiri oleh Sakmann. Sepanjang hari itu Sakmann menyisihkan waktu untuk memecahkan persoalan yang dihadapi Vennetia.
Menurut Venne, panggilan akrab Vennetia, lewat teknologi patch clamping, aktivitas ion yang masuk keluar pada sel saraf neuron pada penderita epilepsi bisa diukur. Penemuan teknik itu telah membawa revolusi sangat berarti di bidang kedokteran, terutama di bidang sel, molekul, dan elektrofisiologi. Teknik ini dapat mengukur voltase, aliran listrik, serta aplikasi molekuler lainnya terhadap sel mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku, termasuk sel jantung.
Vennetia, istri tercinta dari Mochtar Siby, dosen Fakultas Teknik Unsrat, mengatakan, melalui teknologi itu pula ia melahirkan terobosan dalam penelitian bidang molecular and cellular cardiology yang kemudian mengantarkannya menemukan channel baru penyebab lain pembesaran dan kegagalan jantung. Lewat temuan itu pula, ibu dua anak, Nicky (18) dan Victoria (15), itu berhak atas gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya berjudul ”Cardiomyocyte Calcium and pH Regulation in Primary Cardiac Hypertrophy” pada Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, Victoria, Australia.
”Channel” baru
Channel baru penyebab pembesaran dan kegagalan jantung itu disebut LVACC (low voltage activated calcium current) di membran sel jantung yang mengatur masuk keluar kalsium di sel jantung dan juga mengatur ritme jantung. Sebelumnya (pada penemuan lebih dulu oleh ilmuwan lain), untuk masuknya kalsium di sel jantung kebanyakan melalui calcium channel tipe L dan sebagian kecil melalui tipe T dan sodium calcium exchanger yang ada di membran sel.
Ternyata, kata Vennetia, pada kasus penderita jantung membesar dan kegagalan jantung ditemukan kelainan aktivitas LVACC yang memengaruhi faktor arrhythmia (atau ketidakberaturan irama jantung). Protein- protein lain di membran, seperti Na/H exchanger (yang mengatur antara lain pH sel jantung), L dan T-type calcium channels serta sodium-calcium exchanger (yang mengatur mekanisme kerja kontraktilitas jantung), juga berubah. Akibatnya, itu memengaruhi perkembangan penyakit jantung membesar yang selanjutnya menuju ke kegagalan jantung.
Didapatkan pula, lanjut Vennetia, bahwa perbedaan pengaturan terhadap asam dan ion kalsium yang memengaruhi respons kontraktilitas dan elektikal dari sel-sel otot jantung ditentukan oleh faktor genetika yang mendasari setiap model pembesaran jantung. Menurut Vennetia, dari tingkat molekuler dan seluler penemuan kelainan pengaturan ionik di jantung sel ini akan dapat memberikan kontribusi pemahaman mekanisme kerja jantung pada keadaan patologis, yakni pada saat jantung membesar dan perjalanannya ke arah kegagalan memompa.
Anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Jan FA Danes dan Beatrice Adeleida Tirayoh ini mengungkapkan, sedikitnya 20 profesor kenamaan dunia di bidang jantung sempat bekerja sama dan jadi mitra diskusinya.
Dengan mereka, Vennetia berjanji akan bekerja sama meneruskan penelitiannya.
Mungkinkah suatu saat dapat Nobel? ”Saya bekerja bukan untuk mendapat Nobel, tetapi untuk kemanusiaan meskipun beberapa mitra saya sudah mengatakan, ’Venne, Anda telah memulai sesuatu yang besar di bidang kedokteran’,” kata penerima tujuh award dari berbagai lembaga internasional itu.
Sumber : Kompas, Jumat, 24 Maret 2006
Vladimir Klitschko, Fenomena Tinju Kelas Berat
Vladimir Klitschko, Fenomena Tinju Kelas Berat
OLeh : Syahnan Rangkuti
Tidak banyak petinju seperti Vladimir Klitschko. Mungkin hanya dia dan kakaknya, Vitali Klitschko, yang menjadi juara dunia kelas berat dengan latar belakang pendidikan cukup tinggi. Vladimir yang lahir di Semipalatinsk, Kazakhstan, 25 Maret 1976, adalah seorang doktor di bidang olahraga dan filosofi dari Universitas Kiev, Ukraina.
Berbeda dengan Valentino Rossi, juara dunia MotoGP asal Italia, boleh memakai gelar "The Doctor" karena kepiawaiannya menunggang sepeda motor, Vladimir memperoleh gelar doktor karena belajar sekuat tenaga sembari bertinju. Vladimir memang sebuah fenomena olahraga tinju kelas berat dunia.
Di antara begitu banyak manusia yang memilih karier di ring tinju, tidak banyak yang berasal dari keluarga mapan dengan latar belakang pendidikan tinggi. Tinju lebih banyak menjadi penyaluran bakat kekerasan anak-anak jalanan.
Tidak demikian dengan Vladimir Klitschko yang Sabtu (22/4) lalu menjadi juara dunia tinju kelas berat versi IBF dan IBO setelah menumbangkan Chris Byrd di Berlin, Jerman.
Pria setinggi dua meter dan berat 109 kilogram ini memang bukan dari keluarga kaya raya. Ayahnya, Vladimir Rodionovich, adalah kolonel Angkatan Udara bekas Uni Soviet. Ibunya, Nadezhda Ulyanovna, cukup berpunya dan sangat mementingkan sekolah buat anak-anaknya.
Vladimir tumbuh mengikuti penempatan sang ayah. Setelah pindah dari satu kota ke kota lain, akhirnya mereka bermukim di Ukraina pada tahun 1985. Semasa kecil, Vladimir lebih gemar bermain bola dan berkelahi. Namun, ayahnya justru mengarahkan ke jalur yang lebih pas dengan mengenalkan olahraga tinju dan kickboxing.
Tahun 1996, mata dunia mulai mengarah kepada Vladimir setelah ia mempersembahkan medali emas Olimpiade Atlanta kepada negaranya pada usia 20 tahun. Seusai meraih prestasi di dunia amatir, Vladimir menjalani debut profesionalnya pada Universum Box Promotion di bawah asuhan Fritz Sdunek di Hamburg, Jerman. Debutnya melawan Fabian Meza di Sporthall, Wandsbek, Jerman, dia menangi dengan KO pada ronde pertama.
Kariernya di ring tinju terus menanjak. Dalam kurun dua tahun sejak masuk ke profesional, 24 pertandingan keras dia menangi seluruhnya dengan KO (knock out) dan TKO (technical knock out). Baru di pertandingan ke-25 dia kalah TKO. Namun, namanya mulai diperhitungkan di percaturan kelas berat dunia setelah menumbangkan juara dunia IBF, Chris Byrd, pada 14 November 2000.
Byrd sempat dia jatuhkan dua kali pada ronde ke-9 dan ke-11 dan dinyatakan kalah angka mutlak. Menariknya, kemenangan Vladimir dia persembahkan buat kakaknya, Vitali, yang tujuh bulan sebelumnya dikalahkan Byrd.
Kemudian, di tengah kesibukannya bertinju melawan Derrick Jefferson dan Charles Shufford pada tahun 2001, Vladimir menyelesaikan kuliah S3 dan meraih gelar PhD dari Universitas Kiev, Ukraina, dengan hasil memuaskan.
Bonyok dan kalah
Sebelum bertanding, Chris Byrd sesumbar lebih baik pulang dengan muka bonyok daripada kalah dari Vladimir untuk kedua kalinya. Namun, Vladimir justru membuat Chris Byrd pulang dari Berlin dengan muka bonyok sekaligus kalah menyakitkan dengan dua kali sempat mencium kanvas.
Di saat tinju dunia kelas berat sedang gelap gulita, kemenangan Vladimir merobohkan Chris Byrd langsung menghidupkan lentera untuk menerangi langkah ke depan. Vladimir dinilai sudah memiliki nilai jual standar Amerika.
Di luar ring, Vladimir dan sang kakak, Vitali, memiliki reputasi yang sangat meyakinkan. Keluarga penggemar musik ini— Vladimir penggemar saksofon dan Vitali senang gitar—secara bersama menulis buku best seller, Our Fitness, dan menjadi Presiden Yayasan "Sports-Abad 21" yang bekerja sama dengan badan PBB, UNESCO, dalam program pendidikan bagi anak-anak.
Vladimir juga bekerja pada perusahaan besar Hugo Boss. Perjalanan keliling dunia dengan berbagai tujuan membuat mereka berteman dengan banyak orang besar, seperti Bill Clinton, Arnold Schwarzenegger, Giorgio Armani, dan Muhammad Ali. Wajahnya yang ganteng, atletis, dan pintar membuat Vladimir kerap mengisi acara televisi.
Beberapa promotor tinju sempat mendorong Vladimir bertanding melawan sang kakak, Vitali, yang mengundurkan diri saat masih memegang gelar juara dunia. Vladimir jelas menolak keras.
"Kakak saya lebih hebat dan lebih kuat dari saya. Saya pasti kalah. Lagi pula, kalau kami bertanding, ibu akan menangis," kata Vladimir.
Sumber : Kompas, Selasa, 25 April 2006
OLeh : Syahnan Rangkuti
Tidak banyak petinju seperti Vladimir Klitschko. Mungkin hanya dia dan kakaknya, Vitali Klitschko, yang menjadi juara dunia kelas berat dengan latar belakang pendidikan cukup tinggi. Vladimir yang lahir di Semipalatinsk, Kazakhstan, 25 Maret 1976, adalah seorang doktor di bidang olahraga dan filosofi dari Universitas Kiev, Ukraina.
Berbeda dengan Valentino Rossi, juara dunia MotoGP asal Italia, boleh memakai gelar "The Doctor" karena kepiawaiannya menunggang sepeda motor, Vladimir memperoleh gelar doktor karena belajar sekuat tenaga sembari bertinju. Vladimir memang sebuah fenomena olahraga tinju kelas berat dunia.
Di antara begitu banyak manusia yang memilih karier di ring tinju, tidak banyak yang berasal dari keluarga mapan dengan latar belakang pendidikan tinggi. Tinju lebih banyak menjadi penyaluran bakat kekerasan anak-anak jalanan.
Tidak demikian dengan Vladimir Klitschko yang Sabtu (22/4) lalu menjadi juara dunia tinju kelas berat versi IBF dan IBO setelah menumbangkan Chris Byrd di Berlin, Jerman.
Pria setinggi dua meter dan berat 109 kilogram ini memang bukan dari keluarga kaya raya. Ayahnya, Vladimir Rodionovich, adalah kolonel Angkatan Udara bekas Uni Soviet. Ibunya, Nadezhda Ulyanovna, cukup berpunya dan sangat mementingkan sekolah buat anak-anaknya.
Vladimir tumbuh mengikuti penempatan sang ayah. Setelah pindah dari satu kota ke kota lain, akhirnya mereka bermukim di Ukraina pada tahun 1985. Semasa kecil, Vladimir lebih gemar bermain bola dan berkelahi. Namun, ayahnya justru mengarahkan ke jalur yang lebih pas dengan mengenalkan olahraga tinju dan kickboxing.
Tahun 1996, mata dunia mulai mengarah kepada Vladimir setelah ia mempersembahkan medali emas Olimpiade Atlanta kepada negaranya pada usia 20 tahun. Seusai meraih prestasi di dunia amatir, Vladimir menjalani debut profesionalnya pada Universum Box Promotion di bawah asuhan Fritz Sdunek di Hamburg, Jerman. Debutnya melawan Fabian Meza di Sporthall, Wandsbek, Jerman, dia menangi dengan KO pada ronde pertama.
Kariernya di ring tinju terus menanjak. Dalam kurun dua tahun sejak masuk ke profesional, 24 pertandingan keras dia menangi seluruhnya dengan KO (knock out) dan TKO (technical knock out). Baru di pertandingan ke-25 dia kalah TKO. Namun, namanya mulai diperhitungkan di percaturan kelas berat dunia setelah menumbangkan juara dunia IBF, Chris Byrd, pada 14 November 2000.
Byrd sempat dia jatuhkan dua kali pada ronde ke-9 dan ke-11 dan dinyatakan kalah angka mutlak. Menariknya, kemenangan Vladimir dia persembahkan buat kakaknya, Vitali, yang tujuh bulan sebelumnya dikalahkan Byrd.
Kemudian, di tengah kesibukannya bertinju melawan Derrick Jefferson dan Charles Shufford pada tahun 2001, Vladimir menyelesaikan kuliah S3 dan meraih gelar PhD dari Universitas Kiev, Ukraina, dengan hasil memuaskan.
Bonyok dan kalah
Sebelum bertanding, Chris Byrd sesumbar lebih baik pulang dengan muka bonyok daripada kalah dari Vladimir untuk kedua kalinya. Namun, Vladimir justru membuat Chris Byrd pulang dari Berlin dengan muka bonyok sekaligus kalah menyakitkan dengan dua kali sempat mencium kanvas.
Di saat tinju dunia kelas berat sedang gelap gulita, kemenangan Vladimir merobohkan Chris Byrd langsung menghidupkan lentera untuk menerangi langkah ke depan. Vladimir dinilai sudah memiliki nilai jual standar Amerika.
Di luar ring, Vladimir dan sang kakak, Vitali, memiliki reputasi yang sangat meyakinkan. Keluarga penggemar musik ini— Vladimir penggemar saksofon dan Vitali senang gitar—secara bersama menulis buku best seller, Our Fitness, dan menjadi Presiden Yayasan "Sports-Abad 21" yang bekerja sama dengan badan PBB, UNESCO, dalam program pendidikan bagi anak-anak.
Vladimir juga bekerja pada perusahaan besar Hugo Boss. Perjalanan keliling dunia dengan berbagai tujuan membuat mereka berteman dengan banyak orang besar, seperti Bill Clinton, Arnold Schwarzenegger, Giorgio Armani, dan Muhammad Ali. Wajahnya yang ganteng, atletis, dan pintar membuat Vladimir kerap mengisi acara televisi.
Beberapa promotor tinju sempat mendorong Vladimir bertanding melawan sang kakak, Vitali, yang mengundurkan diri saat masih memegang gelar juara dunia. Vladimir jelas menolak keras.
"Kakak saya lebih hebat dan lebih kuat dari saya. Saya pasti kalah. Lagi pula, kalau kami bertanding, ibu akan menangis," kata Vladimir.
Sumber : Kompas, Selasa, 25 April 2006
Vincentius Jeremy Suhardi : Jeremy, Kimia Membawanya ke Rusia
May 31, 2009
Jeremy, Kimia Membawanya ke Rusia
Oleh : Kris Razianto Mada
Vincentius Jeremy Suhardi tidak salah ketika ikut kompetisi kimia tingkat sekolah waktu duduk di kelas I SMA St Louis 1 Surabaya. Kompetisi itu menjadi awal keberhasilannya meraih medali perunggu pada Olimpiade Kimia Internasional Ke-39 di Moskwa, 15-25 Juli 2007.
"Padahal saat itu saya bingung, memilih matematika atau kimia. Saya suka matematika karena itu dasar untuk mempelajari semua yang terkait IPA. Tapi, saya juga mulai tertarik pada kimia," tutur Jeremy. Kimia adalah lanjutan dari ketertarikannya kepada pelajaran eksakta. Ketertarikan itu dimulai sejak ia masih di SD. "Saya merasa ada banyak hal di alam bisa dipahami dengan IPA," tuturnya.
Ensiklopedi sains untuk anak menambah ketertarikannya kepada kimia. "Saya belajar lebih banyak lewat buku itu," tuturnya.
Sampai sekarang orangtuanya juga terus memasok berbagai buku tentang kimia. Sebagai notaris sukses di Surabaya, ayahnya, Iwan Suhardi, relatif tidak kesulitan menyediakan buku-buku kimia.
Di SMP, ketertarikan Jeremy kepada IPA sudah lebih spesifik. Di antara fisika dan biologi, ia memilih biologi. Pilihan itu tidak lepas dari sistem pengajaran fisika yang lazim diterapkan di berbagai sekolah. "Lebih banyak teori daripada praktikum," ujarnya.
Sebaliknya di biologi, ia punya lebih banyak kesempatan praktikum. Selain itu, ia merasa biologi bisa menjelaskan cara kerja tubuh manusia. "Saya kagum bagaimana tubuh bisa bekerja secara sistematis. Penjelasan soal itu bisa ditemukan di biologi," tuturnya.
Ketertarikan terhadap biologi dialihkan ke kimia saat ia masuk SMA. Ia merasa kimia memberikan jawaban lebih tepat dan sederhana atas banyak pertanyaan di benaknya tentang kerja tubuh. "Kimia menjelaskan kerja makhluk hidup lewat serangkaian reaksi yang mudah dipahami," ujarnya.
Matematika telah dipelajarinya sejak SD, sementara kimia baru dikenalnya dalam waktu satu setengah semester. Itu pun masih pada tahap dasar, sebatas kurikulum untuk pelajar kelas satu SMA. Padahal, ia harus menghadapi kakak kelas yang telah belajar sedikitnya dua tahun pada kompetisi tingkat sekolah.
Namun, juara ketiga pada kompetisi sekolah itu membuktikan pilihannya tidak salah. Peringkat tersebut juga membuat dia dan empat temannya berhak mewakili SMA St Louis 1 Surabaya mengikuti kompetisi di Surabaya.
Di kompetisi tingkat kota ini, ia menduduki peringkat kedua. Sekali lagi ia melaju ke tahap kompetisi yang lebih tinggi, tingkat provinsi. Di sini peringkatnya melorot ke posisi 9 dari 14 peserta. "Saya merasa itu cambukan untuk berusaha lebih keras. Saya harus menambah jam belajar," tuturnya.
Olimpiade Sains Nasional
Ia dan 13 peserta lain yang memperoleh medali dinyatakan berhak mewakili Jawa Timur pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2006 di Semarang. Hanya saja, Jeremy tidak mendapat bimbingan cukup untuk bersaing di kompetisi itu.
Untung ia tidak mengandalkan bimbingan dari Pemerintah Provinsi Jatim semata. Dengan dukungan orangtua, ia mencari pembimbing sendiri dari sekolah lain dan dari para mahasiswa.
Wajar bila ia tidak berharap banyak di OSN. Ia ikut kompetisi itu dengan status pelajar kelas II SMA. Berarti, ia baru mempelajari kimia kurang dari 2,5 semester. Itu pun dilakukan di sela-sela mempelajari bidang studi lain di sekolah. Padahal, lawan-lawannya boleh jadi telah duduk di kelas III SMA.
"Ia tidak menyepelekan pelajaran lain meski berprestasi di kimia. Dari 12 mata pelajaran di sekolah, ia mendapat nilai rata-rata 91,0 dengan skala nilai 0 sampai 100," tutur Ny Yuliati Prayitno, ibunya.
Usaha keras Jeremy membuahkan hasil cukup lumayan. Dari 30 peraih medali bidang kimia di OSN 2006, ia menduduki peringkat ke-25. Dengan demikian, ia termasuk salah satu pelajar yang berhak ikut seleksi pembentukan tim Olimpiade Kimia Internasional 2007 di Moskwa.
Hasil seleksi hampir membuatnya kembali kecewa. Dari 16 pelajar yang dinyatakan lolos, ia menduduki peringkat 16. "Saya kemudian berpikir setidaknya ada kemajuan dari 25 ke 16. Selain itu, saya mendapat lebih banyak pelajaran selama masa persiapan," tuturnya.
Pada seleksi kali kedua untuk memilih tujuh peserta, ia kembali menjadi juru kunci. Seleksi itu diikuti 17 pelajar. Satu pelajar diberi kursi karena berprestasi di Olimpiade Kimia Internasional 2006, 15 lainnya ikut seleksi tahap pertama bersama Jeremy.
Saat seleksi terakhir untuk memilih empat anggota tim inti, lagi-lagi Jeremy menduduki urutan terakhir. "Saya tetap puas. Meski sedikit, kerja keras saya menunjukkan hasil," tuturnya.
Ke Rusia
Kerja keras Jeremy membuahkan hasil. Ia berhak berangkat ke Moskwa bersama tiga pelajar Indonesia lain pada pertengahan Juli 2007. Setelah bertanding selama 10 hari sejak 15 Juli, ia dinyatakan meraih medali perunggu dan menduduki peringkat ke-101. Dengan peringkat itu, ia berada di posisi ketiga di antara empat anggota tim Indonesia. "Saya senang. Dari kompetisi itu saya menilai kualitas pelajar Indonesia tidak lebih buruk dibandingkan dengan pelajar negara lain. Kalau mau, kita bisa mengalahkan Jepang yang disebut sebagai terbaik di Asia," tuturnya.
Medali pada kompetisi itu juga membukakan kesempatan bagi dia untuk belajar kimia di Rusia. Pada malam pembukaan, panitia menyatakan ada beasiswa dan tempat tinggal gratis bagi para juara yang ingin mendalami kimia lewat universitas-universitas di Rusia. Meski demikian, "Saya belum menentukan pilihan. SMA masih setahun lagi," tuturnya.
Di Rusia ia membidik Moscow State University. Juga mengincar kursi pada departemen kimia Massachusetts Institute of Technology dan Melbourne University.
"Saya tidak mau setengah-setengah mendalami ini," ujarnya penuh keyakinan.
Kesibukan Remaja Alim
Selain sibuk dengan berbagai macam soal kimia, Vincentius Jeremy Suhardi termasuk pemuda alim. Setiap akhir pekan, pelajar SMA ini sibuk di Gereja Hati Kudus Yesus yang terletak di sebelah sekolahnya.
Sejak SMP, ia telah menjadi putra altar di gereja itu. "Ini salah satu cara saya mengatasi kejenuhan akibat belajar dan sekolah. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang tanpa hambatan," ujar Jeremy. Putra altar adalah mereka yang membantu pastor dalam perayaan ekaristi.
Sulung dari tiga bersaudara ini lebih menikmati peran itu daripada menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan. "Kalau di gereja tidak lelah. Hanya sesekali saja jalan di lorong antarkursi jemaat," tuturnya.
Peran itu dipilihnya terutama atas dorongan kedua orangtuanya, yang menyarankan dia menyeimbangkan penguasaan ilmu dengan agama. "Kalau hanya sibuk dengan ilmu pengetahuan, jiwa bisa kosong dan tidak tahu harus ke mana," tuturnya. (RAZ)
Sumber : Kompas, Selasa, 28 Agustus 2007
Oleh : Kris Razianto Mada
Vincentius Jeremy Suhardi tidak salah ketika ikut kompetisi kimia tingkat sekolah waktu duduk di kelas I SMA St Louis 1 Surabaya. Kompetisi itu menjadi awal keberhasilannya meraih medali perunggu pada Olimpiade Kimia Internasional Ke-39 di Moskwa, 15-25 Juli 2007.
"Padahal saat itu saya bingung, memilih matematika atau kimia. Saya suka matematika karena itu dasar untuk mempelajari semua yang terkait IPA. Tapi, saya juga mulai tertarik pada kimia," tutur Jeremy. Kimia adalah lanjutan dari ketertarikannya kepada pelajaran eksakta. Ketertarikan itu dimulai sejak ia masih di SD. "Saya merasa ada banyak hal di alam bisa dipahami dengan IPA," tuturnya.
Ensiklopedi sains untuk anak menambah ketertarikannya kepada kimia. "Saya belajar lebih banyak lewat buku itu," tuturnya.
Sampai sekarang orangtuanya juga terus memasok berbagai buku tentang kimia. Sebagai notaris sukses di Surabaya, ayahnya, Iwan Suhardi, relatif tidak kesulitan menyediakan buku-buku kimia.
Di SMP, ketertarikan Jeremy kepada IPA sudah lebih spesifik. Di antara fisika dan biologi, ia memilih biologi. Pilihan itu tidak lepas dari sistem pengajaran fisika yang lazim diterapkan di berbagai sekolah. "Lebih banyak teori daripada praktikum," ujarnya.
Sebaliknya di biologi, ia punya lebih banyak kesempatan praktikum. Selain itu, ia merasa biologi bisa menjelaskan cara kerja tubuh manusia. "Saya kagum bagaimana tubuh bisa bekerja secara sistematis. Penjelasan soal itu bisa ditemukan di biologi," tuturnya.
Ketertarikan terhadap biologi dialihkan ke kimia saat ia masuk SMA. Ia merasa kimia memberikan jawaban lebih tepat dan sederhana atas banyak pertanyaan di benaknya tentang kerja tubuh. "Kimia menjelaskan kerja makhluk hidup lewat serangkaian reaksi yang mudah dipahami," ujarnya.
Matematika telah dipelajarinya sejak SD, sementara kimia baru dikenalnya dalam waktu satu setengah semester. Itu pun masih pada tahap dasar, sebatas kurikulum untuk pelajar kelas satu SMA. Padahal, ia harus menghadapi kakak kelas yang telah belajar sedikitnya dua tahun pada kompetisi tingkat sekolah.
Namun, juara ketiga pada kompetisi sekolah itu membuktikan pilihannya tidak salah. Peringkat tersebut juga membuat dia dan empat temannya berhak mewakili SMA St Louis 1 Surabaya mengikuti kompetisi di Surabaya.
Di kompetisi tingkat kota ini, ia menduduki peringkat kedua. Sekali lagi ia melaju ke tahap kompetisi yang lebih tinggi, tingkat provinsi. Di sini peringkatnya melorot ke posisi 9 dari 14 peserta. "Saya merasa itu cambukan untuk berusaha lebih keras. Saya harus menambah jam belajar," tuturnya.
Olimpiade Sains Nasional
Ia dan 13 peserta lain yang memperoleh medali dinyatakan berhak mewakili Jawa Timur pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2006 di Semarang. Hanya saja, Jeremy tidak mendapat bimbingan cukup untuk bersaing di kompetisi itu.
Untung ia tidak mengandalkan bimbingan dari Pemerintah Provinsi Jatim semata. Dengan dukungan orangtua, ia mencari pembimbing sendiri dari sekolah lain dan dari para mahasiswa.
Wajar bila ia tidak berharap banyak di OSN. Ia ikut kompetisi itu dengan status pelajar kelas II SMA. Berarti, ia baru mempelajari kimia kurang dari 2,5 semester. Itu pun dilakukan di sela-sela mempelajari bidang studi lain di sekolah. Padahal, lawan-lawannya boleh jadi telah duduk di kelas III SMA.
"Ia tidak menyepelekan pelajaran lain meski berprestasi di kimia. Dari 12 mata pelajaran di sekolah, ia mendapat nilai rata-rata 91,0 dengan skala nilai 0 sampai 100," tutur Ny Yuliati Prayitno, ibunya.
Usaha keras Jeremy membuahkan hasil cukup lumayan. Dari 30 peraih medali bidang kimia di OSN 2006, ia menduduki peringkat ke-25. Dengan demikian, ia termasuk salah satu pelajar yang berhak ikut seleksi pembentukan tim Olimpiade Kimia Internasional 2007 di Moskwa.
Hasil seleksi hampir membuatnya kembali kecewa. Dari 16 pelajar yang dinyatakan lolos, ia menduduki peringkat 16. "Saya kemudian berpikir setidaknya ada kemajuan dari 25 ke 16. Selain itu, saya mendapat lebih banyak pelajaran selama masa persiapan," tuturnya.
Pada seleksi kali kedua untuk memilih tujuh peserta, ia kembali menjadi juru kunci. Seleksi itu diikuti 17 pelajar. Satu pelajar diberi kursi karena berprestasi di Olimpiade Kimia Internasional 2006, 15 lainnya ikut seleksi tahap pertama bersama Jeremy.
Saat seleksi terakhir untuk memilih empat anggota tim inti, lagi-lagi Jeremy menduduki urutan terakhir. "Saya tetap puas. Meski sedikit, kerja keras saya menunjukkan hasil," tuturnya.
Ke Rusia
Kerja keras Jeremy membuahkan hasil. Ia berhak berangkat ke Moskwa bersama tiga pelajar Indonesia lain pada pertengahan Juli 2007. Setelah bertanding selama 10 hari sejak 15 Juli, ia dinyatakan meraih medali perunggu dan menduduki peringkat ke-101. Dengan peringkat itu, ia berada di posisi ketiga di antara empat anggota tim Indonesia. "Saya senang. Dari kompetisi itu saya menilai kualitas pelajar Indonesia tidak lebih buruk dibandingkan dengan pelajar negara lain. Kalau mau, kita bisa mengalahkan Jepang yang disebut sebagai terbaik di Asia," tuturnya.
Medali pada kompetisi itu juga membukakan kesempatan bagi dia untuk belajar kimia di Rusia. Pada malam pembukaan, panitia menyatakan ada beasiswa dan tempat tinggal gratis bagi para juara yang ingin mendalami kimia lewat universitas-universitas di Rusia. Meski demikian, "Saya belum menentukan pilihan. SMA masih setahun lagi," tuturnya.
Di Rusia ia membidik Moscow State University. Juga mengincar kursi pada departemen kimia Massachusetts Institute of Technology dan Melbourne University.
"Saya tidak mau setengah-setengah mendalami ini," ujarnya penuh keyakinan.
Kesibukan Remaja Alim
Selain sibuk dengan berbagai macam soal kimia, Vincentius Jeremy Suhardi termasuk pemuda alim. Setiap akhir pekan, pelajar SMA ini sibuk di Gereja Hati Kudus Yesus yang terletak di sebelah sekolahnya.
Sejak SMP, ia telah menjadi putra altar di gereja itu. "Ini salah satu cara saya mengatasi kejenuhan akibat belajar dan sekolah. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang tanpa hambatan," ujar Jeremy. Putra altar adalah mereka yang membantu pastor dalam perayaan ekaristi.
Sulung dari tiga bersaudara ini lebih menikmati peran itu daripada menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan. "Kalau di gereja tidak lelah. Hanya sesekali saja jalan di lorong antarkursi jemaat," tuturnya.
Peran itu dipilihnya terutama atas dorongan kedua orangtuanya, yang menyarankan dia menyeimbangkan penguasaan ilmu dengan agama. "Kalau hanya sibuk dengan ilmu pengetahuan, jiwa bisa kosong dan tidak tahu harus ke mana," tuturnya. (RAZ)
Sumber : Kompas, Selasa, 28 Agustus 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)





