Jun 20, 2009

Iman Soleh : Iman Bangun CCL Melalui Teater

Iman Bangun CCL Melalui Teater
Oleh : Tjahja Gunawan

Pada pertengahan September 2005, serombongan warga dari Cisarua, Lembang, datang berbondong-bondong dengan menggunakan dua truk untuk menonton pementasan teater bertema Ozon yang diselenggarakan Center of Cultural Ledeng atau CCL di sebuah gang sempit bernama Gang Bapak Eni di daerah Ledeng, Bandung.

Pementasan teater itu dilakukan di panggung berukuran 8 x 6 meter, sedangkan keseluruhan lahan terbuka di sekitar panggung itu sekitar 600 meter persegi. Apresiasi terhadap pementasan Ozon juga datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikirim melalui faksimile dan surat elektronik (e-mail) kepada seniman teater Iman Soleh (43).

Di dalam suratnya, PBB mengucapkan terima kasih atas pertunjukan teater Ozon karena pada tanggal 16-24 September 2005 juga dilangsungkan Konferensi tentang Ozon yang dibuka Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan di Markas PBB di New York, Amerika Serikat (AS).

Iman Soleh merasa kaget mendapat ucapan terima kasih dari PBB karena sebelumnya dia tidak pernah menghubungi PBB. Menjelang pementasan Ozon di CCL, kata Iman, pihaknya memang pernah memberitahukan teman-temannya sesama seniman di luar negeri, termasuk yang ada di AS.

Setiap pementasan teater di CCL, termasuk soal Ozon, selalu digelar di panggung terbuka yang di sekelilingnya terdapat kamar-kamar kos yang dihuni sekitar 120 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Tempat kos itu sendiri sudah ada sejak tahun 1958, yang dibangun oleh orangtua Iman Soleh.

Ketua RW jadi sutradara

Tidak hanya mahasiswa yang ikut terlibat dalam setiap kali pementasan teater di CCL, tetapi juga hampir seluruh masyarakat di sekitar Ledeng ikut memberikan kontribusi terhadap setiap kegiatan kebudayaan khususnya pementasan teater. Bahkan, untuk teater tradisional, salah seorang Ketua Rukun Warga (RW) di Ledeng bertindak selaku sutradara.

Iman Soleh adalah motor penggerak untuk seluruh kegiatan itu. Seniman ini dibesarkan orangtua dan hingga kini hidup tinggal bersama warga Ledeng di Gang Bapak Eni. Sebagai seorang seniman, Iman merasa beruntung karena para tetangganya banyak yang sudah lama berkesenian.

Iman menyebut sejumlah nama tetangga yang menjadi pesinden, tukang calung, reog, dan dalang wayang golek. Namun, di era rezim Orde Baru talenta berkesenian para tetangga Iman itu tidak terekspresikan secara optimal karena berbagai kendala, seperti masalah tempat, dana, dan perizinan.

Orang-orang yang berkesenian di Ledeng sudah ada sejak dulu. Namun, dalam perjalanan selanjutnya, mereka tidak berkesenian lagi karena adanya keterbatasan ruang dan tempat, ujar Iman Soleh, yang dosen penyutradaraan dan pemeranan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Baru pada tahun 1998, berbarengan dengan tumbangnya rezim Orde Baru, komunitas masyarakat Ledeng mulai bergairah kembali dalam berkesenian. Terbentuknya CCL juga didasarkan pada keinginan agar masyarakat Ledeng memiliki tempat untuk berkesenian tanpa harus menyewa gedung.

Dorongan lain, agar saya sebagai seniman tidak terasing dari masyarakat sekitar, tambah Iman. Dia lebih cenderung menyebut CCL sebagai wadah atau kantong kebudayaan bagi masyarakat sekitar untuk berkesenian dan berekspresi secara bebas.

Dari hasil perjalanan kesenian ke beberapa negara, seperti Afrika, Eropa, dan beberapa negara di Asia, Iman Soleh sangat meyakini kalau sebuah rumah sudah menjadi mesin kebudayaan, maka niscaya penghuni rumah itu sudah benar-benar menjadi manusia.

Dengan keyakinannya itu pula, Iman Soleh rela menyumbangkan seluruh, pikiran, tenaga, dan bahkan biaya untuk keperluan kebudayaan, khususnya teater. Suami dari Ny Candra Wardani ini meyakini bahwa rezeki tidak selalu berhubungan dengan profesi, tetapi dengan akhlak seseorang.

Meskipun sebagian besar biaya untuk pementasan teater diambil dari tabungan pribadinya, Iman Soleh menyebutkan banyak pula sumbangan dari pihak lain untuk berbagai keperluan pementasan teater di CCL, seperti pengadaan sound system. Sepanjang tahun 2005, jumlah pementasan teater yang telah digelar di CCL sebanyak 17 kali dengan biaya keseluruhan sebesar Rp 38 juta.

Demi teater dan CCL, Iman Soleh juga rela mengesampingkan kebutuhan keluarganya yang bersifat sekunder. Urusan materi memang penting, tetapi dalam pandangan Iman Soleh yang lebih penting lagi kalau dirinya bisa berguna bagi orang lain.

Orang Bandung itu pasti merindukan kebudayaan dan rumah untuk silaturahmi yang bersifat langsung untuk membicarakan berbagai hal dalam kehidupan masyarakat. Hal seperti itu perlu untuk sharing emosi dan berbagi kecemasan, ujar Iman Soleh, bapak dari Mahesa El Ghassani (12) dan Jal Al Biruni (7).

Sumber : Kompas, Selasa, 29 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks