Minto, Merancang Energi Surya dari Buku SD
Jun 29, 2009
Minto, Merancang Energi Surya dari Buku SD
Oleh : Runik Sri Astuti
MESKI dikenal sebagai penemu dan perancang tenaga surya, Minto (52) "hanyalah" guru kelas VI Sekolah Dasar Prambon 1 Madiun, Jawa Timur. Tahun 1990 ia melahirkan karya inovasi pertamanya tentang energi alternatif terbarukan yang kekal sepanjang masa berupa kompor bertenaga surya.
KOMPOR berbiaya Rp 75.000 dan terbuat dari cermin datar yang biasa dipasang di lemari itu kemudian bisa difungsikan sebagai parabola setelah ditambahkan receiver. Cermin itu ia sambung hingga berbentuk lingkaran dengan diameter dua meter. Bentuknya yang mirip cermin cekung jika diarahkan ke matahari dapat membentuk fokus yang menghasilkan energi panas sampai 600 derajat Celsius.
"Panci aluminium tanpa air ditaruh di fokus akan meleleh. Kompor dengan diameter 190 sentimeter ini bisa mendidihkan satu liter air hanya dalam lima sampai enam menit," ujar pria kelahiran Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Madiun, ini.
Minto menelurkan ide-idenya berdasarkan buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD. Hasilnya antara lain kompor surya yang menghasilkan uap panas bertekanan rendah untuk memasak di dalam rumah. Cita-citanya yang sederhana, yakni menjadi menjadi orang berguna bagi masyarakat, mendorong penerima penghargaan Direktur Energi Terbarukan tahun 1992 ini terus berkarya.
Tahun 1992 lahir ciptaannya, pemanas air tenaga surya. Selanjutnya, penerima penghargaan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2002 ini membuat pengering serbaguna bertenaga surya. Tahun 2003 ia membuat penyulingan air bertenaga surya yang menghasilkan air suling dengan kadar oksigen tinggi, yang dipercaya bagus untuk kesehatan.
Atas penemuannya itu, putra ketiga dari empat bersaudara anak pasangan Kartokayat dan Tukimah ini diusulkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset dan Teknologi untuk mendapat penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ini atas jasa Minto memanfaatkan energi surya di bidang kesehatan.
Sekarang ia mendapat pesanan membuat percontohan rumah tenaga surya dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Energi dan Ketenagalistrikan Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset dan Teknologi.
Proyek yang didanai Rp 90 juta oleh pemerintah itu kini sudah rampung hampir 40 persen. Selain difungsikan sebagai hunian, rumah yang tersusun dari bahan pengantar panas itu memiliki banyak keuntungan. "Bisa untuk memasak, sebagai pengering, juga sebagai tempat penyulingan air yang semuanya bertenaga surya," papar suami Sutjiati ini.
Meski bertenaga surya, pengering dan penyuling air buatannya bisa beroperasi sepanjang musim, termasuk saat musim penghujan. Hebatnya, dalam keadaan mendung seharian pun kemampuannya bisa 50 atau 30 persen.
Minto berkemeja batik dipadu celana hitam ketika mempresentasikan salah satu karyanya dalam acara seminar "Penghematan Energi dan Pemanfaatan Energi Alternatif yang Terbarukan di Era Energi Mahal" yang diadakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Rabu (23/2/2005).
Tanpa merasa canggung, lulusan Sekolah Pendidikan Guru ini berbicara tentang teknologi terbarukan di depan mahasiswa, dosen, peneliti, bahkan Manager Bidang Perencanaan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur.
Hampir setiap minggu ia diminta menjadi pembicara terkait dengan bidang teknologi. Namanya terkenal sampai ke kancah nasional, bahkan internasional. Rumahnya pun tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari ada saja mahasiswa berbagai perguruan tinggi yang datang menimba ilmu.
Sukses yang diraih bapak dua putra ini tentu tidak jatuh dari langit. Perjuangan panjang dan berliku telah dilalui pria yang menjadi guru sejak tahun 1975.
Ayah Bambang Sujatmiko dan Ervin Puspita Sari ini mengaku ide pembuatan teknologi tenaga surya muncul saat sedang mencari kayu bakar di hutan. Sebagai pemuda desa yang setiap hari harus mencari kayu bakar, pegawai negeri yang mendapat kenaikan pangkat istimewa dari III/c menjadi III/d ini suatu hari bingung karena kayu di hutan semakin habis. Di sisi lain, bahan bakar yang dibutuhkan terus bertambah seiring dengan pertambahan penduduk.
Beristirahat di pinggir sawah, Minto memandang ke arah sinar matahari yang memancar ke bumi. Pria yang menamatkan SMP tahun 1969 di Uteran, Madiun, ini terilhami untuk membuat berbagai formulasi supaya sinar matahari yang memancarkan panas itu bisa dimanfaatkan manusia. Ketika itu, yang ada dalam pikirannya sederhana, bagaimana bisa memasak dengan matahari yang juga menghasilkan panas sehingga ia tidak perlu mencari kayu bakar lagi.
"Saya ingat buku IPA kelas V dan VI SD. Lalu saya pelajari konsep perpindahan panas mulai radiasi, konveksi, dan konduksi," katanya.
Konsep yang dipakai adalah prinsip kerja lensa cembung dan pantulan cermin, di mana lensa cembung saat diarahkan ke matahari bisa membakar kertas. Agar menghasilkan panas tinggi, diperlukan sebuah alat. Lima tahun kemudian ia membuat rancangannya.
Karya-karya Minto telah dinikmati masyarakat. Kompornya, yang sudah dimodifikasi, bisa dibeli Rp 1,75 juta dengan daya tahan sampai 30 tahun. Ia tidak pernah mengambil keuntungan. Biaya yang dikenai setara dengan ongkos yang dikeluarkan untuk membeli bahan dan alat yang diperlukan. Bahkan untuk urusan paten, dia menyerahkan kepada pemerintah.
Kini ada 100 unit kompor yang sudah dibuat. Sebanyak 33 unit pengering terdistribusi di Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Lombok. Rata-rata mesin pengering Minto dibeli oleh bakul jamu untuk mengeringkan rempah-rempah. Ia juga sedang mengerjakan penyulingan air tenaga surya pesanan beberapa pengusaha.
Minto mengaku tidak pernah kekurangan meski gajinya sebagai guru SD tidak besar. Namun, ia mampu menyekolahkan anaknya sampai mencapai gelar sarjana. Bagi pria yang ingin menjadi ilmuwan ini, yang terpenting adalah memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Kini Minto ingin membuat teknologi pembangkit listrik dengan tenaga terbarukan untuk mengatasi kelangkaan sumber energi. (RUNIK SRI ASTUTI)
Sumber : Kompas, Kamis, 31 Maret 2005
Oleh : Runik Sri Astuti
MESKI dikenal sebagai penemu dan perancang tenaga surya, Minto (52) "hanyalah" guru kelas VI Sekolah Dasar Prambon 1 Madiun, Jawa Timur. Tahun 1990 ia melahirkan karya inovasi pertamanya tentang energi alternatif terbarukan yang kekal sepanjang masa berupa kompor bertenaga surya.
KOMPOR berbiaya Rp 75.000 dan terbuat dari cermin datar yang biasa dipasang di lemari itu kemudian bisa difungsikan sebagai parabola setelah ditambahkan receiver. Cermin itu ia sambung hingga berbentuk lingkaran dengan diameter dua meter. Bentuknya yang mirip cermin cekung jika diarahkan ke matahari dapat membentuk fokus yang menghasilkan energi panas sampai 600 derajat Celsius.
"Panci aluminium tanpa air ditaruh di fokus akan meleleh. Kompor dengan diameter 190 sentimeter ini bisa mendidihkan satu liter air hanya dalam lima sampai enam menit," ujar pria kelahiran Desa Mruwak, Kecamatan Dagangan, Madiun, ini.
Minto menelurkan ide-idenya berdasarkan buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD. Hasilnya antara lain kompor surya yang menghasilkan uap panas bertekanan rendah untuk memasak di dalam rumah. Cita-citanya yang sederhana, yakni menjadi menjadi orang berguna bagi masyarakat, mendorong penerima penghargaan Direktur Energi Terbarukan tahun 1992 ini terus berkarya.
Tahun 1992 lahir ciptaannya, pemanas air tenaga surya. Selanjutnya, penerima penghargaan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2002 ini membuat pengering serbaguna bertenaga surya. Tahun 2003 ia membuat penyulingan air bertenaga surya yang menghasilkan air suling dengan kadar oksigen tinggi, yang dipercaya bagus untuk kesehatan.
Atas penemuannya itu, putra ketiga dari empat bersaudara anak pasangan Kartokayat dan Tukimah ini diusulkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset dan Teknologi untuk mendapat penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ini atas jasa Minto memanfaatkan energi surya di bidang kesehatan.
Sekarang ia mendapat pesanan membuat percontohan rumah tenaga surya dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Energi dan Ketenagalistrikan Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset dan Teknologi.
Proyek yang didanai Rp 90 juta oleh pemerintah itu kini sudah rampung hampir 40 persen. Selain difungsikan sebagai hunian, rumah yang tersusun dari bahan pengantar panas itu memiliki banyak keuntungan. "Bisa untuk memasak, sebagai pengering, juga sebagai tempat penyulingan air yang semuanya bertenaga surya," papar suami Sutjiati ini.
Meski bertenaga surya, pengering dan penyuling air buatannya bisa beroperasi sepanjang musim, termasuk saat musim penghujan. Hebatnya, dalam keadaan mendung seharian pun kemampuannya bisa 50 atau 30 persen.
Minto berkemeja batik dipadu celana hitam ketika mempresentasikan salah satu karyanya dalam acara seminar "Penghematan Energi dan Pemanfaatan Energi Alternatif yang Terbarukan di Era Energi Mahal" yang diadakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Rabu (23/2/2005).
Tanpa merasa canggung, lulusan Sekolah Pendidikan Guru ini berbicara tentang teknologi terbarukan di depan mahasiswa, dosen, peneliti, bahkan Manager Bidang Perencanaan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur.
Hampir setiap minggu ia diminta menjadi pembicara terkait dengan bidang teknologi. Namanya terkenal sampai ke kancah nasional, bahkan internasional. Rumahnya pun tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari ada saja mahasiswa berbagai perguruan tinggi yang datang menimba ilmu.
Sukses yang diraih bapak dua putra ini tentu tidak jatuh dari langit. Perjuangan panjang dan berliku telah dilalui pria yang menjadi guru sejak tahun 1975.
Ayah Bambang Sujatmiko dan Ervin Puspita Sari ini mengaku ide pembuatan teknologi tenaga surya muncul saat sedang mencari kayu bakar di hutan. Sebagai pemuda desa yang setiap hari harus mencari kayu bakar, pegawai negeri yang mendapat kenaikan pangkat istimewa dari III/c menjadi III/d ini suatu hari bingung karena kayu di hutan semakin habis. Di sisi lain, bahan bakar yang dibutuhkan terus bertambah seiring dengan pertambahan penduduk.
Beristirahat di pinggir sawah, Minto memandang ke arah sinar matahari yang memancar ke bumi. Pria yang menamatkan SMP tahun 1969 di Uteran, Madiun, ini terilhami untuk membuat berbagai formulasi supaya sinar matahari yang memancarkan panas itu bisa dimanfaatkan manusia. Ketika itu, yang ada dalam pikirannya sederhana, bagaimana bisa memasak dengan matahari yang juga menghasilkan panas sehingga ia tidak perlu mencari kayu bakar lagi.
"Saya ingat buku IPA kelas V dan VI SD. Lalu saya pelajari konsep perpindahan panas mulai radiasi, konveksi, dan konduksi," katanya.
Konsep yang dipakai adalah prinsip kerja lensa cembung dan pantulan cermin, di mana lensa cembung saat diarahkan ke matahari bisa membakar kertas. Agar menghasilkan panas tinggi, diperlukan sebuah alat. Lima tahun kemudian ia membuat rancangannya.
Karya-karya Minto telah dinikmati masyarakat. Kompornya, yang sudah dimodifikasi, bisa dibeli Rp 1,75 juta dengan daya tahan sampai 30 tahun. Ia tidak pernah mengambil keuntungan. Biaya yang dikenai setara dengan ongkos yang dikeluarkan untuk membeli bahan dan alat yang diperlukan. Bahkan untuk urusan paten, dia menyerahkan kepada pemerintah.
Kini ada 100 unit kompor yang sudah dibuat. Sebanyak 33 unit pengering terdistribusi di Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Lombok. Rata-rata mesin pengering Minto dibeli oleh bakul jamu untuk mengeringkan rempah-rempah. Ia juga sedang mengerjakan penyulingan air tenaga surya pesanan beberapa pengusaha.
Minto mengaku tidak pernah kekurangan meski gajinya sebagai guru SD tidak besar. Namun, ia mampu menyekolahkan anaknya sampai mencapai gelar sarjana. Bagi pria yang ingin menjadi ilmuwan ini, yang terpenting adalah memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Kini Minto ingin membuat teknologi pembangkit listrik dengan tenaga terbarukan untuk mengatasi kelangkaan sumber energi. (RUNIK SRI ASTUTI)
Sumber : Kompas, Kamis, 31 Maret 2005
Komalasari, Belut untuk Pemberdayaan Petani
Komalasari, Belut untuk Pemberdayaan Petani
Oleh : Evy Rachmawati
Para petani puas dengan menangkap belut untuk dikonsumsi sendiri, tetapi Komalasari (49) mengolahnya sehingga bernilai ekonomis tinggi. Kini ia dikenal sebagai perintis usaha pengolahan belut yang sukses di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Produknya dikenal luas di sejumlah daerah di provinsi itu.
Setiap hari Komalasari beserta para anggota kelompok usaha pengolahan ikan Flamboyan yang dipimpinnya membutuhkan 100 kilogram belut segar untuk menghasilkan 10 kilogram produk jadi. Omzet penjualannya mencapai Rp 41,6 juta per bulan. Harga dendeng belut goreng berkisar Rp 90.000 per kg, sedangkan harga dendeng mujair goreng Rp 50.000 per kg.
Mereka terus menambah variasi produk. Kini terdapat 12 jenis produk pengolahan belut yang diproduksi, di antaranya belut dendeng, belut tepung, belut balado, belut pepes, belut kerupuk, belut santan kari, dan abon. Belut juga diolah dalam bentuk jamu atau kapsul.
Proses pembuatan produk pengolahan belut itu relatif sederhana. Untuk membuat dendeng belut, misalnya, daging ikan itu dibedah dan dibersihkan kotorannya. Setelah dikeringkan, daging belut itu lalu dibumbui dengan lengkuas, gula, bawang putih, dan beberapa bahan masak lainnya. Daging belut yang telah dibumbui itu kemudian dijemur sampai kering. “Belut yang akan diolah harus segar, sehingga bisa awet sampai beberapa bulan," tutur istri dari Zaenal Abidin itu.
Melalui usaha pengolahan belut itu, Komalasari mampu menggali potensi persawahan dan memberi lapangan kerja bagi para petani kecil dengan cara menampung hasil penangkapan belut yang dilakukan secara tradisional. Oleh karena itu, ia dipercaya menjadi ketua kelompok usaha “Flamboyan" yang beranggotakan 190 orang dan terdiri dari enam kelompok tani.
“Saya ingin meningkatkan pendapatan para petani agar bisa menyekolahkan anak-anak mereka," tutur ibu dari tiga anak ini.
Sukses itu membuatnya mendapat sejumlah penghargaan di tingkat nasional dan Jawa Barat. Pada tahun 1997, ia mendapat penghargaan Lencana Keluarga Berencana, karena mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga di daerahnya melalui pengembangan usaha pengolahan belut.
Ia diminta mengajar di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, dan memberikan ceramah mengenai usaha pengolahan ikan tawar di berbagai seminar kendati tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang teknologi pangan. Banyak mahasiswa dan pelaku usaha menimba ilmu di tempat usaha “Flamboyan" dengan cara magang.
“Belut itu sangat bermanfaat bagi kesehatan," kata perempuan kelahiran Cianjur, 21 Mei 1955, ini. Selain mampu menguatkan daya tahan tubuh, ikan berbentuk menyerupai ular itu juga menormalkan tekanan darah, menghaluskan kulit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingat, dan mencegah hepatitis. Kepala belut jantan membantu meningkatkan hormon vitalitas pria dan menghilangkan pegal-pegal pada pinggang.
Komalasari mengenal belut sejak usia dini dengan membantu orangtuanya membuat dendeng belut. Lulus dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri (SMEAN), ia bekerja sebagai tenaga pembukuan. Ia berpindah tempat kerja beberapa kali. “Waktu itu kan masih jarang orang yang sekolah sampai SMEA. Jadi, saya bisa dengan mudah kerja di perkantoran seperti bank maupun perusahaan swasta," ujarnya.
Meski bergaji lumayan besar, pada tahun 1980-an ia berhenti bekerja dan terjun langsung mengurus usaha keluarga di bidang pengolahan belut itu. Ia melanjutkan usaha keluarga yang telah berjalan selama puluhan tahun itu.
Setelah berjuang keras memasarkan produk pengolahan belut, hasil kolam miliknya tidak mampu memenuhi kebutuhan produksi, sehingga harus dipasok oleh sejumlah tengkulak. “Saya jadi ingin melibatkan warga sekitar dalam usaha pengolahan belut, karena selama ini masyarakat hanya menjadikan belut sebagai makanan tambahan," ungkapnya.
Pada tahun 1989, keinginan itu terwujud ketika ia aktif menjadi kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) dan Keluarga Berencana (KB) lestari di lingkungan rumahnya. Berawal dari kegiatan penyuluhan kesehatan, ia mengajak para ibu rumah tangga itu untuk terlibat dalam pembuatan dendeng belut sehingga dapat menambah pendapatan rumah tangga. “Saya ingin agar mereka bisa mandiri," ujarnya.
Kediaman sekaligus tempat usahanya yang terletak di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, hampir tiap hari dipadati para ibu rumah tangga. Setiap kali mengikuti pelatihan teknologi pangan di berbagai tempat, ia berbagi ilmu kepada mereka.
Komalasari mendatangi para buruh tani dan meminta mereka untuk menangkap belut di sela-sela kegiatan bercocok tanam. “Saya kasih dulu uang muka pembelian belut yang masih dalam kondisi segar," tuturnya.
Semula hanya sepuluh petani yang bekerja sama dengannya dalam bidang pengadaan belut segar. Pada 21 Mei 1990, Komalasari membentuk kelompok usaha pengolahan belut “Flamboyan" yang beranggotakan 20 petani kecil. Kelak jumlah anggotanya lebih dari 100 petani. Nama “Flamboyan" dijadikan label dagang produk pengolahan ikan mereka.
Para penggarap sawah ini memperoleh tambahan penghasilan dengan menjual bibit dan belut segar. Mereka menangkap belut hingga lebih dari empat kg per hari, dengan harga berkisar Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kg.
Komalasari mendidik mereka untuk. Setiap kali menerima setoran belut, ia menyisihkan sebagian hasil penjualan belut itu ke dalam tabungan masing-masing petani. Uang tabungan itu hanya bisa diambil ketika terdesak kebutuhan dan untuk biaya pendidikan anak.
Para ibu rumah tangga selain membuat dendeng belut dan aneka jenis produk pengolahan perikanan, juga membuat berbagai jenis makanan ringan. Hasil produksi mereka dipasarkan bersama di satu toko di tepi Jalan Raya Sukaraja, Sukabumi.
Kini Komalasari mengembangkan usaha serupa yang melibatkan masyarakat daerah lain di Sukabumi seperti Cisaat. “Kami berharap bisa memiliki showroom dan mobil operasional untuk memasarkan hasil produksi," tuturnya. (EVY RACHMAWATI)
Sumber : Kompas, Jumat, 1 April 2005
Oleh : Evy Rachmawati
Para petani puas dengan menangkap belut untuk dikonsumsi sendiri, tetapi Komalasari (49) mengolahnya sehingga bernilai ekonomis tinggi. Kini ia dikenal sebagai perintis usaha pengolahan belut yang sukses di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Produknya dikenal luas di sejumlah daerah di provinsi itu.
Setiap hari Komalasari beserta para anggota kelompok usaha pengolahan ikan Flamboyan yang dipimpinnya membutuhkan 100 kilogram belut segar untuk menghasilkan 10 kilogram produk jadi. Omzet penjualannya mencapai Rp 41,6 juta per bulan. Harga dendeng belut goreng berkisar Rp 90.000 per kg, sedangkan harga dendeng mujair goreng Rp 50.000 per kg.
Mereka terus menambah variasi produk. Kini terdapat 12 jenis produk pengolahan belut yang diproduksi, di antaranya belut dendeng, belut tepung, belut balado, belut pepes, belut kerupuk, belut santan kari, dan abon. Belut juga diolah dalam bentuk jamu atau kapsul.
Proses pembuatan produk pengolahan belut itu relatif sederhana. Untuk membuat dendeng belut, misalnya, daging ikan itu dibedah dan dibersihkan kotorannya. Setelah dikeringkan, daging belut itu lalu dibumbui dengan lengkuas, gula, bawang putih, dan beberapa bahan masak lainnya. Daging belut yang telah dibumbui itu kemudian dijemur sampai kering. “Belut yang akan diolah harus segar, sehingga bisa awet sampai beberapa bulan," tutur istri dari Zaenal Abidin itu.
Melalui usaha pengolahan belut itu, Komalasari mampu menggali potensi persawahan dan memberi lapangan kerja bagi para petani kecil dengan cara menampung hasil penangkapan belut yang dilakukan secara tradisional. Oleh karena itu, ia dipercaya menjadi ketua kelompok usaha “Flamboyan" yang beranggotakan 190 orang dan terdiri dari enam kelompok tani.
“Saya ingin meningkatkan pendapatan para petani agar bisa menyekolahkan anak-anak mereka," tutur ibu dari tiga anak ini.
Sukses itu membuatnya mendapat sejumlah penghargaan di tingkat nasional dan Jawa Barat. Pada tahun 1997, ia mendapat penghargaan Lencana Keluarga Berencana, karena mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga di daerahnya melalui pengembangan usaha pengolahan belut.
Ia diminta mengajar di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, dan memberikan ceramah mengenai usaha pengolahan ikan tawar di berbagai seminar kendati tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang teknologi pangan. Banyak mahasiswa dan pelaku usaha menimba ilmu di tempat usaha “Flamboyan" dengan cara magang.
“Belut itu sangat bermanfaat bagi kesehatan," kata perempuan kelahiran Cianjur, 21 Mei 1955, ini. Selain mampu menguatkan daya tahan tubuh, ikan berbentuk menyerupai ular itu juga menormalkan tekanan darah, menghaluskan kulit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingat, dan mencegah hepatitis. Kepala belut jantan membantu meningkatkan hormon vitalitas pria dan menghilangkan pegal-pegal pada pinggang.
Komalasari mengenal belut sejak usia dini dengan membantu orangtuanya membuat dendeng belut. Lulus dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri (SMEAN), ia bekerja sebagai tenaga pembukuan. Ia berpindah tempat kerja beberapa kali. “Waktu itu kan masih jarang orang yang sekolah sampai SMEA. Jadi, saya bisa dengan mudah kerja di perkantoran seperti bank maupun perusahaan swasta," ujarnya.
Meski bergaji lumayan besar, pada tahun 1980-an ia berhenti bekerja dan terjun langsung mengurus usaha keluarga di bidang pengolahan belut itu. Ia melanjutkan usaha keluarga yang telah berjalan selama puluhan tahun itu.
Setelah berjuang keras memasarkan produk pengolahan belut, hasil kolam miliknya tidak mampu memenuhi kebutuhan produksi, sehingga harus dipasok oleh sejumlah tengkulak. “Saya jadi ingin melibatkan warga sekitar dalam usaha pengolahan belut, karena selama ini masyarakat hanya menjadikan belut sebagai makanan tambahan," ungkapnya.
Pada tahun 1989, keinginan itu terwujud ketika ia aktif menjadi kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) dan Keluarga Berencana (KB) lestari di lingkungan rumahnya. Berawal dari kegiatan penyuluhan kesehatan, ia mengajak para ibu rumah tangga itu untuk terlibat dalam pembuatan dendeng belut sehingga dapat menambah pendapatan rumah tangga. “Saya ingin agar mereka bisa mandiri," ujarnya.
Kediaman sekaligus tempat usahanya yang terletak di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, hampir tiap hari dipadati para ibu rumah tangga. Setiap kali mengikuti pelatihan teknologi pangan di berbagai tempat, ia berbagi ilmu kepada mereka.
Komalasari mendatangi para buruh tani dan meminta mereka untuk menangkap belut di sela-sela kegiatan bercocok tanam. “Saya kasih dulu uang muka pembelian belut yang masih dalam kondisi segar," tuturnya.
Semula hanya sepuluh petani yang bekerja sama dengannya dalam bidang pengadaan belut segar. Pada 21 Mei 1990, Komalasari membentuk kelompok usaha pengolahan belut “Flamboyan" yang beranggotakan 20 petani kecil. Kelak jumlah anggotanya lebih dari 100 petani. Nama “Flamboyan" dijadikan label dagang produk pengolahan ikan mereka.
Para penggarap sawah ini memperoleh tambahan penghasilan dengan menjual bibit dan belut segar. Mereka menangkap belut hingga lebih dari empat kg per hari, dengan harga berkisar Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kg.
Komalasari mendidik mereka untuk. Setiap kali menerima setoran belut, ia menyisihkan sebagian hasil penjualan belut itu ke dalam tabungan masing-masing petani. Uang tabungan itu hanya bisa diambil ketika terdesak kebutuhan dan untuk biaya pendidikan anak.
Para ibu rumah tangga selain membuat dendeng belut dan aneka jenis produk pengolahan perikanan, juga membuat berbagai jenis makanan ringan. Hasil produksi mereka dipasarkan bersama di satu toko di tepi Jalan Raya Sukaraja, Sukabumi.
Kini Komalasari mengembangkan usaha serupa yang melibatkan masyarakat daerah lain di Sukabumi seperti Cisaat. “Kami berharap bisa memiliki showroom dan mobil operasional untuk memasarkan hasil produksi," tuturnya. (EVY RACHMAWATI)
Sumber : Kompas, Jumat, 1 April 2005
Terrence B Adamson : Terry dan Jendela Kuning "National Geographic"
Terry dan Jendela Kuning "National Geographic"
Oleh : Edna C Pattisina
Berbicara tentang majalah National Geographic, kita tidak bisa lepas dari Terrence B Adamson, Executive Vice President National Geographic Society. Pria yang biasa dipanggil Terry ini berperan dalam membuat edisi-edisi lokal yang kini berjumlah 27 edisi, selain edisi internasionalnya yang berbahasa Inggris.
BERDIRI sejak tahun 1888, National Geographic Society yang didirikan sebagai organisasi nirlaba untuk menyebarluaskan pengetahuan yang bersifat geografis mengeluarkan publikasinya dalam bentuk majalah National Geographic.
Terry bercerita, majalah National Geographic adalah jendela untuk melihat dunia. Persis filosofi dari bingkai kuning yang menjadi ciri khas karena selalu memagari sampul majalah tersebut. "Warna kuning itu berarti jendela dunia, di mana kita bisa orang dan tempat yang jauh lewat majalah ini," katanya.
Berasal dari keluarga sederhana yang memiliki toko kecil di daerah pedesaan Georgia, Amerika Serikat, Terry berusia sembilan tahun saat mendapat hadiah Natal berlangganan majalah National Geographic dari neneknya.
Setiap bulan Terry kecil bisa melakukan "perjalanan intelektual" ke tempat-tempat yang sangat jauh dan menurut dia hampir tidak mungkin bisa ia datangi secara fisik sepanjang hidupnya. "Saya ingat, saya paling suka membaca tentang China dan Indonesia," kata Terry.
TAK disangka, saat untuk pertama kali ke luar negeri ia mendapat kesempatan untuk datang ke Indonesia. Ia dan 14 pemuda yang mendapat beasiswa dari yayasan Henry Luce Scholar magang di Jepang. Dari sana mereka memilih ke Indonesia, tempat yang sudah lama ada di benak Terry. Rombongan orang muda berbakat ini sempat menghabiskan waktu selama seminggu di Yogyakarta. "Itu tahun 1976, saya sempat ke Candi Borobudur, pengalaman yang tidak akan saya lupakan," kata pria yang lahir di Rome, Georgia, 13 November 1946, ini.
Karier di bidang hukum menjadi jalan yang dipilihnya. Lulus sebagai sarjana sejarah dari Universitas Emory, Atlanta, tahun 1968, ia melanjutkan ke jurusan hukum di universitas yang sama. Terry menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya dengan predikat cum laude tahun 1973.
Setelah itu, selama bertahun-tahun ia dekat dengan dunia politik dan hukum. Tidak hanya menjadi partner di biro hukum ternama di New York, ayah dari Kate (16) dan Elizabeth (13) ini juga bekerja sama dalam dunia birokrasi AS. Beberapa jabatan formal penting sempat disandangnya, seperti Juru Bicara Departemen Kehakiman AS (1978-1979) dan tiga kali menjadi anggota Dewan Pengawas State Justice Institute.
Di organisasi nonpemerintah, Terry menjadi anggota Dewan Pengawas di Asia Foundation tahun 1994-1999. Ia juga aktif dalam Carter Center, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Jimmy Carter. Selain bersahabat dekat, Terry juga menjadi pengacara pribadi mantan presiden AS itu. Carter meminta Terry mendampinginya saat tokoh itu menerima Nobel Perdamaian tahun 2002. "Saya tidak pernah mengira akan punya sahabat yang menerima Nobel Perdamaian, " kata suami Ede Holiday ini.
Lalu apa yang dicarinya di majalah National Geographic? "Bukan uang tentunya ya," kata Terry sambil tersenyum.
Bagi Terry, adalah sebuah keberuntungan dan kesempatan besar bagi dirinya untuk terlibat dalam usaha pendidikan dan penyebarluasan pengetahuan ke seluruh dunia. "Saya percaya, pengetahuan tentang orang lain, kebudayaan lain, dan tempat lain di dunia penting untuk menyatukan kita semua," katanya.
MULAI menjadi tenaga sukarela tahun 1995, ia menjadi tenaga aktif untuk majalah yang dibaca sekitar 50 juta orang sedunia ini tahun 1998. Terrylah yang merealisasikan rencana pembentukan National Geographic Channel, memperbanyak edisi-edisi lokal yang dimulai di Jepang tahun 1995, dan menjalankan berbagai macam publikasi dari National Geographic Society, mulai dari majalah hingga buku.
Ia juga anggota Corporate Secretary dari Educational Foundation Board National Geographic Society yang mendanai berbagai kegiatan pendidikan geografi untuk anak sekolah. "Saya merasakan sendiri bagaimana mendapat berbagai pengetahuan dari majalah ini, maka saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami hal yang sama," katanya.
Hingga kini, dengan jumlah uang ratusan juta dollar AS dari berbagai sumber, National Geographic tetap menjadi organisasi nonprofit. Sembilan puluh persen uang digunakan untuk dana pendidikan dan riset di seluruh dunia.
Dukungan tidak hanya datang dari 10 juta anggota National Geographic Society, tetapi juga dari pemerintah dan perusahaan di berbagai penjuru dunia. "Dana untuk penelitian di Indonesia pertama kali tahun 1936, sementara majalah National Geographic telah menulis tentang Indonesia sejak tahun 1898, tentang Sumatera," katanya.
MAJALAH ilmiah ini mendasari tulisannya pada hasil-hasil riset yang dilakukan para ahli rekanan. Menurut Editorial Director International Editions Amy Kolczak, yang membuat National Geographic bisa bertahan hingga sekitar 125 tahun adalah akurasi dari tulisan yang dihadirkan. Totalitas menjadi cara hidup di majalah ini. Untuk membuat sebuah foto atau sebuah tulisan, misalnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk riset. "Fotografer Jodi Cobb menghabiskan waktu empat tahun di berbagai negara untuk meliput perdagangan manusia," cerita Terry.
Harapannya, majalah National Geographic bisa menjadi perekat yang menghubungkan masyarakat dunia dan berbagai kebudayaan yang ada di dalamnya. Bayangkan, saat orang- orang di Indonesia membaca tentang kebudayaan dan segala hal yang berkaitan dengan negara antah-berantah seperti Skandinavia, Armenia, dan Turki, sementara mereka juga membaca tentang Indonesia.
"Dari pengetahuan tentang kebudayaan, kebiasaan, dan kepercayaan orang lain, kita bisa menemukan persamaan dan merayakan perbedaan," katanya.
Jendela kuning itu membawa dunia ke depan kita untuk dikenal dan diterima.... (EDNA C PATTISINA)
Sumber : Kompas, Sabtu, 2 April 2005
Oleh : Edna C Pattisina
Berbicara tentang majalah National Geographic, kita tidak bisa lepas dari Terrence B Adamson, Executive Vice President National Geographic Society. Pria yang biasa dipanggil Terry ini berperan dalam membuat edisi-edisi lokal yang kini berjumlah 27 edisi, selain edisi internasionalnya yang berbahasa Inggris.
BERDIRI sejak tahun 1888, National Geographic Society yang didirikan sebagai organisasi nirlaba untuk menyebarluaskan pengetahuan yang bersifat geografis mengeluarkan publikasinya dalam bentuk majalah National Geographic.
Terry bercerita, majalah National Geographic adalah jendela untuk melihat dunia. Persis filosofi dari bingkai kuning yang menjadi ciri khas karena selalu memagari sampul majalah tersebut. "Warna kuning itu berarti jendela dunia, di mana kita bisa orang dan tempat yang jauh lewat majalah ini," katanya.
Berasal dari keluarga sederhana yang memiliki toko kecil di daerah pedesaan Georgia, Amerika Serikat, Terry berusia sembilan tahun saat mendapat hadiah Natal berlangganan majalah National Geographic dari neneknya.
Setiap bulan Terry kecil bisa melakukan "perjalanan intelektual" ke tempat-tempat yang sangat jauh dan menurut dia hampir tidak mungkin bisa ia datangi secara fisik sepanjang hidupnya. "Saya ingat, saya paling suka membaca tentang China dan Indonesia," kata Terry.
TAK disangka, saat untuk pertama kali ke luar negeri ia mendapat kesempatan untuk datang ke Indonesia. Ia dan 14 pemuda yang mendapat beasiswa dari yayasan Henry Luce Scholar magang di Jepang. Dari sana mereka memilih ke Indonesia, tempat yang sudah lama ada di benak Terry. Rombongan orang muda berbakat ini sempat menghabiskan waktu selama seminggu di Yogyakarta. "Itu tahun 1976, saya sempat ke Candi Borobudur, pengalaman yang tidak akan saya lupakan," kata pria yang lahir di Rome, Georgia, 13 November 1946, ini.
Karier di bidang hukum menjadi jalan yang dipilihnya. Lulus sebagai sarjana sejarah dari Universitas Emory, Atlanta, tahun 1968, ia melanjutkan ke jurusan hukum di universitas yang sama. Terry menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya dengan predikat cum laude tahun 1973.
Setelah itu, selama bertahun-tahun ia dekat dengan dunia politik dan hukum. Tidak hanya menjadi partner di biro hukum ternama di New York, ayah dari Kate (16) dan Elizabeth (13) ini juga bekerja sama dalam dunia birokrasi AS. Beberapa jabatan formal penting sempat disandangnya, seperti Juru Bicara Departemen Kehakiman AS (1978-1979) dan tiga kali menjadi anggota Dewan Pengawas State Justice Institute.
Di organisasi nonpemerintah, Terry menjadi anggota Dewan Pengawas di Asia Foundation tahun 1994-1999. Ia juga aktif dalam Carter Center, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Jimmy Carter. Selain bersahabat dekat, Terry juga menjadi pengacara pribadi mantan presiden AS itu. Carter meminta Terry mendampinginya saat tokoh itu menerima Nobel Perdamaian tahun 2002. "Saya tidak pernah mengira akan punya sahabat yang menerima Nobel Perdamaian, " kata suami Ede Holiday ini.
Lalu apa yang dicarinya di majalah National Geographic? "Bukan uang tentunya ya," kata Terry sambil tersenyum.
Bagi Terry, adalah sebuah keberuntungan dan kesempatan besar bagi dirinya untuk terlibat dalam usaha pendidikan dan penyebarluasan pengetahuan ke seluruh dunia. "Saya percaya, pengetahuan tentang orang lain, kebudayaan lain, dan tempat lain di dunia penting untuk menyatukan kita semua," katanya.
MULAI menjadi tenaga sukarela tahun 1995, ia menjadi tenaga aktif untuk majalah yang dibaca sekitar 50 juta orang sedunia ini tahun 1998. Terrylah yang merealisasikan rencana pembentukan National Geographic Channel, memperbanyak edisi-edisi lokal yang dimulai di Jepang tahun 1995, dan menjalankan berbagai macam publikasi dari National Geographic Society, mulai dari majalah hingga buku.
Ia juga anggota Corporate Secretary dari Educational Foundation Board National Geographic Society yang mendanai berbagai kegiatan pendidikan geografi untuk anak sekolah. "Saya merasakan sendiri bagaimana mendapat berbagai pengetahuan dari majalah ini, maka saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami hal yang sama," katanya.
Hingga kini, dengan jumlah uang ratusan juta dollar AS dari berbagai sumber, National Geographic tetap menjadi organisasi nonprofit. Sembilan puluh persen uang digunakan untuk dana pendidikan dan riset di seluruh dunia.
Dukungan tidak hanya datang dari 10 juta anggota National Geographic Society, tetapi juga dari pemerintah dan perusahaan di berbagai penjuru dunia. "Dana untuk penelitian di Indonesia pertama kali tahun 1936, sementara majalah National Geographic telah menulis tentang Indonesia sejak tahun 1898, tentang Sumatera," katanya.
MAJALAH ilmiah ini mendasari tulisannya pada hasil-hasil riset yang dilakukan para ahli rekanan. Menurut Editorial Director International Editions Amy Kolczak, yang membuat National Geographic bisa bertahan hingga sekitar 125 tahun adalah akurasi dari tulisan yang dihadirkan. Totalitas menjadi cara hidup di majalah ini. Untuk membuat sebuah foto atau sebuah tulisan, misalnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk riset. "Fotografer Jodi Cobb menghabiskan waktu empat tahun di berbagai negara untuk meliput perdagangan manusia," cerita Terry.
Harapannya, majalah National Geographic bisa menjadi perekat yang menghubungkan masyarakat dunia dan berbagai kebudayaan yang ada di dalamnya. Bayangkan, saat orang- orang di Indonesia membaca tentang kebudayaan dan segala hal yang berkaitan dengan negara antah-berantah seperti Skandinavia, Armenia, dan Turki, sementara mereka juga membaca tentang Indonesia.
"Dari pengetahuan tentang kebudayaan, kebiasaan, dan kepercayaan orang lain, kita bisa menemukan persamaan dan merayakan perbedaan," katanya.
Jendela kuning itu membawa dunia ke depan kita untuk dikenal dan diterima.... (EDNA C PATTISINA)
Sumber : Kompas, Sabtu, 2 April 2005
Sunan bin Mariyat : Ustaz Sunan, Kepala Sekolah yang Tak Pernah Bersekolah
Ustaz Sunan, Kepala Sekolah yang Tak Pernah Bersekolah
Oleh : Runik Sri Astuti
MESKI menjadi kepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum, Ustaz Sunan (52), duduk di sekolah dasar pun ia belum pernah. Meski demikian, sejak memimpin sekolah itu tahun 1986 tak pernah ada permasalahan yang berarti. Bahkan, para guru yang pendidikannya rata-rata sarjana strata satu itu menaruh hormat padanya.
Salah satu tokoh masyarakat lokal jebolan Pondok Pesantren Attaroqi Sampang ini menangis saat melihat anak- anak yang seharusnya pergi ke sekolah malah berjalan menuju ladang mencari rumput untuk pakan ternak.
Banyak faktor yang membuat keadaan menjadi sulit. Di antaranya, sedikitnya gedung sekolah di daerahnya. Satu-satunya sekolah dasar negeri yang ada lokasinya lebih dari dua kilometer. Padahal, tidak ada kendaraan umum untuk menuju ke sana. Anak-anak yang rata-rata dari keluarga miskin itu juga tidak memiliki sepeda yang bisa dikayuh menuju sekolah.
ORANGTUA mereka rata-rata petani penggarap ladang yang gersang, nelayan, atau pemelihara ternak orang lain dengan sistem gaduh, yakni pemeliharaan yang upahnya didapat dari bagi hasil setelah penjualan. Untuk kehidupan sehari-hari saja susah apalagi menyekolahkan anak.
Di musim paceklik banyak warga yang makan jagung atau ketela pohon yang dikeringkan sebagai pengganti beras. Jarang warga makan dengan lauk-pauk. Ketidakberdayaan masyarakat, yang salah satu faktornya diyakini Sunan akibat kebodohan mereka, telah membangkitkan semangatnya. "Modal saya hanya nekat dan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti memberi jalan," katanya.
Sebagai anak petani yang disegani di desa kecil yang letaknya 45 kilometer dari Kota Sampang, pria yang kenyang hidup susah di Kalimantan ini mendapat warisan sebidang tanah yang luasnya seperempat hektar. Di atas tanah itu berdiri bangunan rumah sederhana milik orangtuanya Mariyat dan Bu Sikin yang letaknya di pojok. Di sebelahnya dibangun masjid. Di atas sisa tanah itulah didirikan sekolah.
Pada tahap awal pembangunan lima gedung sekolah menghabiskan dana Rp 17 juta. Sunan sempat bingung mencari uang karena tabungan hasil bekerjanya di perantauan yang menurut rencana akan digunakan untuk memperbaiki rumah, jumlahnya pas-pasan. Maka ia mengumpulkan warga sekitar, bahkan sampai ke tetangga desa. Dibeberkannya rencana pendirian sekolah gratis.
Ada warga yang memberi uang. Ada yang membantu tenaga. Dibantu beberapa donatur, terkumpullah uang. Biaya operasional sekolah tidak pernah dipikirkan karena Sunan tidak bekerja.
Departemen Agama yang menaungi sekolah dengan status terdaftar itu tidak pernah memberikan bantuan dana operasional. Bahkan, subsidi biaya minimal pendidikan, yakni program bantuan dana untuk siswa miskin yang digembar-gemborkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tidak pernah sampai. Namun, selalu saja ada orang datang menyumbang. Kebanyakan justru orang-orang yang tidak dikenalnya, yang disebutnya sebagai "kemurahan Tuhan".
Berdirilah lima gedung pada tahap berikutnya. Ia juga mampu membayar gaji guru Rp 17.500 untuk sehari mengajar dan membeli buku serta kapur tulis.
MEMASUKI kompleks Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Ketabang Daya, Kecamatan Ketabang, Kabupaten Sampang Madura sama sekali tidak tampak adanya aktivitas belajar mengajar. Seluruh bangunan kelas berlantai tanah yang jumlahnya 12 ruang itu tampak berantakan. Tidak ada kaca penutup jendela. Meja dan kursi di ruang kelas tidak teratur.
Di depan bangunan kelas terletak dua buah balai dari bambu sebagai tempat duduk. Di sinilah para guru berdiskusi seusai menunaikan kewajiban mengajarnya. Saat ini jumlah guru 10 orang dengan latar pendidikan berbeda. Ada yang bergelar sarjana pendidikan, sarjana ekonomi, dan guru agama.
Para guru diterima tanpa perekrutan formal. Asalkan mau mengajar dengan ikhlas, pasti diterima. Semua guru merupakan tenaga honorer. Ia pernah mengajukan mendapat guru bantu, tetapi sampai sekarang belum juga diberikan.
Aktivitas belajar dibagi dua kelompok. Pagi hari digunakan untuk sekolah madrasah ibtidaiyah setara dengan pendidikan sdasar. Sore dipakai untuk diniyah, yakni sekolah khusus agama.
Selain sebagai kepala sekolah, Sunan juga mengajar materi pendidikan agama untuk kelas satu dan kelas dua di madrasah ibtidaiyah, yang kurikulumnya ia pelajari secara autodidak. Khusus sekolah diniyah, ia mengajar di semua kelas.
Tidak ada seragam atau sepatu khusus bagi murid Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum. "Mereka mau sekolah saja saya sudah senang. Nanti kalau dipaksa-paksa, malah tidak masuk," ujarnya.
Selain mendirikan sekolah dan menjadi tokoh masyarakat, Sunan juga membantu puskesmas setempat. Ia menjadi leader dalam program pencarian penderita kusta.
DI sela-sela kesibukannya mengajar, Sunan mendatangi rumah-rumah warga. Selain untuk mengajak anak-anak yang belum sekolah agar mau bersekolah, ia mencari informasi tentang penderita kusta yang cenderung mengasingkan diri. Berkat ketekunan dan keuletannya, ada 50 lebih penderita kusta yang berhasil diantarkan berobat ke puskesmas. Setiap bulan ia pula yang mengambil obat yang harus diminum penderita dan mengantarkannya ke rumah.
Sunan bekerja tanpa pamrih. Jika para gurunya setiap hari mengajar pasti menerima gaji Rp 17.500, Sunan tidak menerima sepeser pun. Istrinya, Wasilah (29), yang ia nikahi pada tahun 1990, dan enam anaknya, hidup sederhana. Rumahnya berdinding tembok tanpa kulit luar dan jendelanya hanya tertutup kayu tipis.
Kini Sunan yang tak begitu lancar berbahasa Indonesia ingin mendirikan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas agar anak-anak di desanya bisa menikmati pendidikan secara gratis. (Runik Sri Astuti)
Sumber : Kompas, Senin, 4 April 2005
Oleh : Runik Sri Astuti
MESKI menjadi kepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum, Ustaz Sunan (52), duduk di sekolah dasar pun ia belum pernah. Meski demikian, sejak memimpin sekolah itu tahun 1986 tak pernah ada permasalahan yang berarti. Bahkan, para guru yang pendidikannya rata-rata sarjana strata satu itu menaruh hormat padanya.
Salah satu tokoh masyarakat lokal jebolan Pondok Pesantren Attaroqi Sampang ini menangis saat melihat anak- anak yang seharusnya pergi ke sekolah malah berjalan menuju ladang mencari rumput untuk pakan ternak.
Banyak faktor yang membuat keadaan menjadi sulit. Di antaranya, sedikitnya gedung sekolah di daerahnya. Satu-satunya sekolah dasar negeri yang ada lokasinya lebih dari dua kilometer. Padahal, tidak ada kendaraan umum untuk menuju ke sana. Anak-anak yang rata-rata dari keluarga miskin itu juga tidak memiliki sepeda yang bisa dikayuh menuju sekolah.
ORANGTUA mereka rata-rata petani penggarap ladang yang gersang, nelayan, atau pemelihara ternak orang lain dengan sistem gaduh, yakni pemeliharaan yang upahnya didapat dari bagi hasil setelah penjualan. Untuk kehidupan sehari-hari saja susah apalagi menyekolahkan anak.
Di musim paceklik banyak warga yang makan jagung atau ketela pohon yang dikeringkan sebagai pengganti beras. Jarang warga makan dengan lauk-pauk. Ketidakberdayaan masyarakat, yang salah satu faktornya diyakini Sunan akibat kebodohan mereka, telah membangkitkan semangatnya. "Modal saya hanya nekat dan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti memberi jalan," katanya.
Sebagai anak petani yang disegani di desa kecil yang letaknya 45 kilometer dari Kota Sampang, pria yang kenyang hidup susah di Kalimantan ini mendapat warisan sebidang tanah yang luasnya seperempat hektar. Di atas tanah itu berdiri bangunan rumah sederhana milik orangtuanya Mariyat dan Bu Sikin yang letaknya di pojok. Di sebelahnya dibangun masjid. Di atas sisa tanah itulah didirikan sekolah.
Pada tahap awal pembangunan lima gedung sekolah menghabiskan dana Rp 17 juta. Sunan sempat bingung mencari uang karena tabungan hasil bekerjanya di perantauan yang menurut rencana akan digunakan untuk memperbaiki rumah, jumlahnya pas-pasan. Maka ia mengumpulkan warga sekitar, bahkan sampai ke tetangga desa. Dibeberkannya rencana pendirian sekolah gratis.
Ada warga yang memberi uang. Ada yang membantu tenaga. Dibantu beberapa donatur, terkumpullah uang. Biaya operasional sekolah tidak pernah dipikirkan karena Sunan tidak bekerja.
Departemen Agama yang menaungi sekolah dengan status terdaftar itu tidak pernah memberikan bantuan dana operasional. Bahkan, subsidi biaya minimal pendidikan, yakni program bantuan dana untuk siswa miskin yang digembar-gemborkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tidak pernah sampai. Namun, selalu saja ada orang datang menyumbang. Kebanyakan justru orang-orang yang tidak dikenalnya, yang disebutnya sebagai "kemurahan Tuhan".
Berdirilah lima gedung pada tahap berikutnya. Ia juga mampu membayar gaji guru Rp 17.500 untuk sehari mengajar dan membeli buku serta kapur tulis.
MEMASUKI kompleks Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Ketabang Daya, Kecamatan Ketabang, Kabupaten Sampang Madura sama sekali tidak tampak adanya aktivitas belajar mengajar. Seluruh bangunan kelas berlantai tanah yang jumlahnya 12 ruang itu tampak berantakan. Tidak ada kaca penutup jendela. Meja dan kursi di ruang kelas tidak teratur.
Di depan bangunan kelas terletak dua buah balai dari bambu sebagai tempat duduk. Di sinilah para guru berdiskusi seusai menunaikan kewajiban mengajarnya. Saat ini jumlah guru 10 orang dengan latar pendidikan berbeda. Ada yang bergelar sarjana pendidikan, sarjana ekonomi, dan guru agama.
Para guru diterima tanpa perekrutan formal. Asalkan mau mengajar dengan ikhlas, pasti diterima. Semua guru merupakan tenaga honorer. Ia pernah mengajukan mendapat guru bantu, tetapi sampai sekarang belum juga diberikan.
Aktivitas belajar dibagi dua kelompok. Pagi hari digunakan untuk sekolah madrasah ibtidaiyah setara dengan pendidikan sdasar. Sore dipakai untuk diniyah, yakni sekolah khusus agama.
Selain sebagai kepala sekolah, Sunan juga mengajar materi pendidikan agama untuk kelas satu dan kelas dua di madrasah ibtidaiyah, yang kurikulumnya ia pelajari secara autodidak. Khusus sekolah diniyah, ia mengajar di semua kelas.
Tidak ada seragam atau sepatu khusus bagi murid Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum. "Mereka mau sekolah saja saya sudah senang. Nanti kalau dipaksa-paksa, malah tidak masuk," ujarnya.
Selain mendirikan sekolah dan menjadi tokoh masyarakat, Sunan juga membantu puskesmas setempat. Ia menjadi leader dalam program pencarian penderita kusta.
DI sela-sela kesibukannya mengajar, Sunan mendatangi rumah-rumah warga. Selain untuk mengajak anak-anak yang belum sekolah agar mau bersekolah, ia mencari informasi tentang penderita kusta yang cenderung mengasingkan diri. Berkat ketekunan dan keuletannya, ada 50 lebih penderita kusta yang berhasil diantarkan berobat ke puskesmas. Setiap bulan ia pula yang mengambil obat yang harus diminum penderita dan mengantarkannya ke rumah.
Sunan bekerja tanpa pamrih. Jika para gurunya setiap hari mengajar pasti menerima gaji Rp 17.500, Sunan tidak menerima sepeser pun. Istrinya, Wasilah (29), yang ia nikahi pada tahun 1990, dan enam anaknya, hidup sederhana. Rumahnya berdinding tembok tanpa kulit luar dan jendelanya hanya tertutup kayu tipis.
Kini Sunan yang tak begitu lancar berbahasa Indonesia ingin mendirikan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas agar anak-anak di desanya bisa menikmati pendidikan secara gratis. (Runik Sri Astuti)
Sumber : Kompas, Senin, 4 April 2005
Arif Havas Oegroseno, di Balik Pertahanan Ambalat
Arif Havas Oegroseno, di Balik Pertahanan Ambalat
Oleh : Rakaryan S
SETAHUN sebelum persoalan "perebutan" klaim atas wilayah perairan di Laut Sulawesi yang kita namakan blok Ambalat dan Ambalat Timur mencuat ke permukaan, Arif Havas Oegroseno SH LLM (42) telah sibuk memperdalam pemahamannya atas wilayah di Laut Sulawesi itu dan hak Indonesia atas wilayah tersebut.
SEBAGAI Direktur Perjanjian Internasional, Keamanan, dan Kewilayahan Departemen Luar Negeri, Havas menyurati Pemerintah Malaysia ketika negara itu meributkan pemberian konsesi baru oleh Indonesia untuk mengeksplorasi kekayaan minyak dan gas di blok Ambalat Timur. Pada intinya, ditegaskan bahwa wilayah Ambalat dan Ambalat Timur adalah milik Indonesia.
"Sejak tahun 1960-an kita juga sudah melakukan eksplorasi di wilayah itu, dan mereka tidak pernah ribut. Bahkan setelah peta Malaysia tahun 1979 diumumkan, kita juga memberikan beberapa konsesi minyak di sekitar itu, Malaysia juga diam saja. Itu kan artinya mereka mengakui kedaulatan kita atas wilayah itu. Mengapa mereka sekarang ribut dan mengklaimnya?" kata bapak dua anak ini.
Maka dari itu, ketika Malaysia meneruskan klaim mereka dengan mengeluarkan konsesi untuk eksplorasi migas di sekitar blok Ambalat dan Ambalat Timur, Havas langsung menyiapkan "amunisi" untuk menghadapi para pemikir Malaysia. Untuk perundingan dengan Malaysia, tim perunding Indonesia memiliki 10 kasus serupa dan sejumlah perjanjian antarnegara yang bisa mendukung posisi Indonesia dalam penarikan garis landas kontinen dan ZEE di laut Sulawesi.
HAVAS mencapai kursi Direktur Perjanjian Internasional, Keamanan, dan Kewilayahan sejak 31 Desember 2003 melalui perjalanan panjang. Lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, ini mendapat gelar LLM dari Harvard Law School, Amerika Serikat.
Putra keluarga pegawai negeri Amir Fattah dan Yuniarti ini sempat pulang ke Indonesia untuk meminang Sartika, putri pelukis kenamaan Barli Sasmitawinata. Ia kemudian mengambil cuti kerja setahun dari Deplu dan bekerja di Lawyer, Bracewell and Patterson Law Firm, sebuah kantor hukum yang terbilang kecil di Houston, AS.
"Saya hanya ingin mencari pengalaman. Di sana saya bertugas di legal advice department, jadi bukan orang yang tampil di pengadilan. Tapi sampai akhir saya bekerja di sana, saya lulus tes jadi lawyer di Amerika," ungkap pria kelahiran Semarang 12 Maret 1963 ini.
Menyadari Indonesia memiliki beberapa persoalan perbatasan dengan negara-negara tetangganya, pada tahun 2004 ia mengikuti kursus khusus mengenai hukum perbatasan di satu-satunya tempat untuk studi perbatasan, yaitu International Boundaries Research, Durham University, Inggris.
Pada kursus itu, Havas mempelajari sejumlah kasus perbatasan dan tinjauan dari sisi aturan hukumnya, termasuk kasus yang mirip dengan persoalan Indonesia-Malaysia sekarang ini terkait blok Ambalat.
Dosen pengajar di Kursus Studi Perbatasan itu antara lain David Anderson, negosiator kawasan Inggris untuk soal delimitasi yang sekarang menjadi hakim di tribunal Konvensi Hukum Laut PBB (United Nations Convention On the Law of the Sea/Unclos); Rodman Bondy, pengacara kawakan delimitasi batas laut yang sudah sering berperkara di Mahkamah Internasional; Prof Morris Mandelson, pakar public international law; Dr Fox Smith, pakar US Ocean Policy Division.
Hasilnya, Havas pun kini semakin yakin akan kebenaran garis-garis perbatasan yang sudah dibuat para pakar hukum laut Indonesia terdahulu. Cara Indonesia menentukan batas-batas wilayahnya sudah berpegangan pada aturan-aturan hukum internasional, khususnya Konvensi Hukum Laut PBB.
LULUSAN pendidikan calon diplomat Deplu angkatan 13 (1986-1987) dengan peringkat kelulusan terbaik di angkatannya itu semakin terasah setelah bertugas sebagai petugas urusan hak asasi manusia (HAM) di Perwakilan Tetap RI Geneva (1993-1997). Di kota ini pula Havas membesarkan Faiz (11) yang lahir di Jakarta dan mendapatkan putra kedua, Nabila (8).
Havas sempat menduduki jabatan Kepala Seksi HAM Direktorat Organisasi Internasional Deplu (1997-1998), kemudian merintis dibukanya kembali hubungan diplomatik antara Indonesia dan Portugal yang dibekukan tahun 1989. Diawali dari petugas Kantor Urusan Kepentingan Portugal (1999-2000) bersama seorang karyawan Deplu lainnya, dia kemudian menjabat sebagai Kepala Bagian Informasi dan Sosial-Budaya (2000-2003) setelah Kedutaan Besar RI secara resmi hadir di Lisabon, Portugal.
"Setelah masalah Timtim selesai, hubungan kita dengan Portugal jadi luar biasa. Dari dua negara yang tadinya akan berkelahi, kini menjadi sangat dekat sekali. Kami menyelenggarakan cultural week Indonesia, tetapi hampir sebulan penuh di Lisabon. Kita menggelar tarian Bali, dan tiketnya sudah habis dipesan sebulan sebelumnya. Saya juga menyelenggarakan festival film Indonesia, memutarkan film Cut Nyak Dien, Daun di Atas Bantal, dan Bulan Tertusuk Ilalang, juga sambutannya sangat baik," kenang Havas.
Ketika itu dia memang bertekad mengubah wajah Indonesia, yang di kalangan warga Portugal hanya dikenal karena soal Timor Timur, menjadi wajah sebuah negeri yang sepatutnya dikunjungi. Hasilnya, kunjungan warga Portugal ke Indonesia yang semula rata-rata lima orang per hari menjadi hampir 100 orang per hari.
Meninggalkan Portugal, Havas dioleh-olehi Pemerintah Portugal sebuah buku mewah, yaitu buku puisi karya-karya Luis De Camoes bertitel Lusiadas. "Kita mewarisi banyak dari Portugal. Prosesi Paskah yang sekarang ada di Flores, itu persis sama dengan yang pernah ada di Portugal, dan terakhir kali dilaksanakan di sana tahun 1950," papar Havas, yang tinggal empat tahun tiga bulan di negeri itu.
Meski hari-harinya sangat padat dengan masalah, seperti masalah perbatasan dengan Malaysia, Timor Timur, Singapura, serta menyelesaikan sejumlah perjanjian internasional, dalam keseharian Havas tetap terlihat tenang dan riang. Ketenangan itu pula yang dipertunjukkannya sebagai Ketua Tim Perunding Indonesia saat berunding dengan tim teknis Malaysia, beberapa pekan lalu di Bali.
Hasilnya? "Nothing to worry about…. Di lihat dari sisi mana pun, posisi kita sangat kuat," ungkap diplomat yang hobi membaca dan menonton itu. (RAKARYAN S)
Sumber : Kompas, Selasa, 5 April 2005
Oleh : Rakaryan S
SETAHUN sebelum persoalan "perebutan" klaim atas wilayah perairan di Laut Sulawesi yang kita namakan blok Ambalat dan Ambalat Timur mencuat ke permukaan, Arif Havas Oegroseno SH LLM (42) telah sibuk memperdalam pemahamannya atas wilayah di Laut Sulawesi itu dan hak Indonesia atas wilayah tersebut.
SEBAGAI Direktur Perjanjian Internasional, Keamanan, dan Kewilayahan Departemen Luar Negeri, Havas menyurati Pemerintah Malaysia ketika negara itu meributkan pemberian konsesi baru oleh Indonesia untuk mengeksplorasi kekayaan minyak dan gas di blok Ambalat Timur. Pada intinya, ditegaskan bahwa wilayah Ambalat dan Ambalat Timur adalah milik Indonesia.
"Sejak tahun 1960-an kita juga sudah melakukan eksplorasi di wilayah itu, dan mereka tidak pernah ribut. Bahkan setelah peta Malaysia tahun 1979 diumumkan, kita juga memberikan beberapa konsesi minyak di sekitar itu, Malaysia juga diam saja. Itu kan artinya mereka mengakui kedaulatan kita atas wilayah itu. Mengapa mereka sekarang ribut dan mengklaimnya?" kata bapak dua anak ini.
Maka dari itu, ketika Malaysia meneruskan klaim mereka dengan mengeluarkan konsesi untuk eksplorasi migas di sekitar blok Ambalat dan Ambalat Timur, Havas langsung menyiapkan "amunisi" untuk menghadapi para pemikir Malaysia. Untuk perundingan dengan Malaysia, tim perunding Indonesia memiliki 10 kasus serupa dan sejumlah perjanjian antarnegara yang bisa mendukung posisi Indonesia dalam penarikan garis landas kontinen dan ZEE di laut Sulawesi.
HAVAS mencapai kursi Direktur Perjanjian Internasional, Keamanan, dan Kewilayahan sejak 31 Desember 2003 melalui perjalanan panjang. Lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, ini mendapat gelar LLM dari Harvard Law School, Amerika Serikat.
Putra keluarga pegawai negeri Amir Fattah dan Yuniarti ini sempat pulang ke Indonesia untuk meminang Sartika, putri pelukis kenamaan Barli Sasmitawinata. Ia kemudian mengambil cuti kerja setahun dari Deplu dan bekerja di Lawyer, Bracewell and Patterson Law Firm, sebuah kantor hukum yang terbilang kecil di Houston, AS.
"Saya hanya ingin mencari pengalaman. Di sana saya bertugas di legal advice department, jadi bukan orang yang tampil di pengadilan. Tapi sampai akhir saya bekerja di sana, saya lulus tes jadi lawyer di Amerika," ungkap pria kelahiran Semarang 12 Maret 1963 ini.
Menyadari Indonesia memiliki beberapa persoalan perbatasan dengan negara-negara tetangganya, pada tahun 2004 ia mengikuti kursus khusus mengenai hukum perbatasan di satu-satunya tempat untuk studi perbatasan, yaitu International Boundaries Research, Durham University, Inggris.
Pada kursus itu, Havas mempelajari sejumlah kasus perbatasan dan tinjauan dari sisi aturan hukumnya, termasuk kasus yang mirip dengan persoalan Indonesia-Malaysia sekarang ini terkait blok Ambalat.
Dosen pengajar di Kursus Studi Perbatasan itu antara lain David Anderson, negosiator kawasan Inggris untuk soal delimitasi yang sekarang menjadi hakim di tribunal Konvensi Hukum Laut PBB (United Nations Convention On the Law of the Sea/Unclos); Rodman Bondy, pengacara kawakan delimitasi batas laut yang sudah sering berperkara di Mahkamah Internasional; Prof Morris Mandelson, pakar public international law; Dr Fox Smith, pakar US Ocean Policy Division.
Hasilnya, Havas pun kini semakin yakin akan kebenaran garis-garis perbatasan yang sudah dibuat para pakar hukum laut Indonesia terdahulu. Cara Indonesia menentukan batas-batas wilayahnya sudah berpegangan pada aturan-aturan hukum internasional, khususnya Konvensi Hukum Laut PBB.
LULUSAN pendidikan calon diplomat Deplu angkatan 13 (1986-1987) dengan peringkat kelulusan terbaik di angkatannya itu semakin terasah setelah bertugas sebagai petugas urusan hak asasi manusia (HAM) di Perwakilan Tetap RI Geneva (1993-1997). Di kota ini pula Havas membesarkan Faiz (11) yang lahir di Jakarta dan mendapatkan putra kedua, Nabila (8).
Havas sempat menduduki jabatan Kepala Seksi HAM Direktorat Organisasi Internasional Deplu (1997-1998), kemudian merintis dibukanya kembali hubungan diplomatik antara Indonesia dan Portugal yang dibekukan tahun 1989. Diawali dari petugas Kantor Urusan Kepentingan Portugal (1999-2000) bersama seorang karyawan Deplu lainnya, dia kemudian menjabat sebagai Kepala Bagian Informasi dan Sosial-Budaya (2000-2003) setelah Kedutaan Besar RI secara resmi hadir di Lisabon, Portugal.
"Setelah masalah Timtim selesai, hubungan kita dengan Portugal jadi luar biasa. Dari dua negara yang tadinya akan berkelahi, kini menjadi sangat dekat sekali. Kami menyelenggarakan cultural week Indonesia, tetapi hampir sebulan penuh di Lisabon. Kita menggelar tarian Bali, dan tiketnya sudah habis dipesan sebulan sebelumnya. Saya juga menyelenggarakan festival film Indonesia, memutarkan film Cut Nyak Dien, Daun di Atas Bantal, dan Bulan Tertusuk Ilalang, juga sambutannya sangat baik," kenang Havas.
Ketika itu dia memang bertekad mengubah wajah Indonesia, yang di kalangan warga Portugal hanya dikenal karena soal Timor Timur, menjadi wajah sebuah negeri yang sepatutnya dikunjungi. Hasilnya, kunjungan warga Portugal ke Indonesia yang semula rata-rata lima orang per hari menjadi hampir 100 orang per hari.
Meninggalkan Portugal, Havas dioleh-olehi Pemerintah Portugal sebuah buku mewah, yaitu buku puisi karya-karya Luis De Camoes bertitel Lusiadas. "Kita mewarisi banyak dari Portugal. Prosesi Paskah yang sekarang ada di Flores, itu persis sama dengan yang pernah ada di Portugal, dan terakhir kali dilaksanakan di sana tahun 1950," papar Havas, yang tinggal empat tahun tiga bulan di negeri itu.
Meski hari-harinya sangat padat dengan masalah, seperti masalah perbatasan dengan Malaysia, Timor Timur, Singapura, serta menyelesaikan sejumlah perjanjian internasional, dalam keseharian Havas tetap terlihat tenang dan riang. Ketenangan itu pula yang dipertunjukkannya sebagai Ketua Tim Perunding Indonesia saat berunding dengan tim teknis Malaysia, beberapa pekan lalu di Bali.
Hasilnya? "Nothing to worry about…. Di lihat dari sisi mana pun, posisi kita sangat kuat," ungkap diplomat yang hobi membaca dan menonton itu. (RAKARYAN S)
Sumber : Kompas, Selasa, 5 April 2005
Avril Lavigne : Lagu Pembebasan Avril Lavigne
Lagu Pembebasan Avril Lavigne
Oleh : Frans Sartono
SEKITAR 3.000 penonton yang didominasi remaja belasan tahun berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu Sk8er Boi-dibaca Skater Boy-yang dibawakan Avril Lavigne. Itulah yang terjadi pada penampilan penyanyi Kanada, Avril Lavigne (20), yang menggelar konser Bonez Tour 2005 di Stadion Tenis Tertutup, Senayan, Jakarta, Senin (4/4/2005) malam.
Avril tampil dengan celana blue jeans dan kaus hitam. Keempat personel band pendukung mengenakan kostum serupa, jeans dan kaus hitam. Ia menenteng gitar elektrik dengan body kotak-kotak hitam-putih. Strap atau tali selempang gitar bergambar deretan tengkorak di atas tulang bersilang. Gambar itu menjadi ikon resmi konser Bonez Tour 2005.
Di pentas yang diterangi lampu berkekuatan 200.000 watt, ia tampak kurang komunikatif. Ia tidak banyak bicara untuk menjalin komunikasi dengan penonton kecuali sekadar ucapan thank you. Boleh jadi ia memang tak suka basa-basi. Persona Avril di atas pentas terkesan nyaris dingin, tidak ramah. Di panggung ia hanya menjadi sekadar tontonan. Kebetulan lagu-lagu Avril dikenal baik oleh penggemarnya dan itulah yang menghidupkan konser.
Avril memuncaki konser dengan lagu Sk8er Boi. Usai lagu tersebut panggung gelap dan penonton memanggil Avril untuk manggung lagi. Muncullah kembali Avril menabuh drum untuk sebuah lagu. Ia kemudian maju ke depan dan menyanyikan lagu Complicated sebagai gong konser yang disambut koor seru dari penonton.
LIRIK lagu Avril bertutur soal kehidupan sehari-hari kaum muda. Sk8er Boi bertutur tentang gadis yang menolak cinta seorang lelaki penggemar skate board. Belakangan cowok itu menjadi bintang rock yang sering muncul di MTV. Avril yang lahir pada 27 September 1984 itu memang tumbuh dan besar di era MTV, sebuah era ketika rock menjadi santapan harian remaja.
Pada peta belantika musik pop dunia, jika diukur dari zaman Michael Jackson, Avril terbilang sebagai "anak kemarin sore". Ia lahir ketika Michael Jackson sedang bertakhta di belantika musik sebagai King of Pop.
Akan tetapi, belantika musik tidak mengenal senioritas. Yang lebih penting adalah daya jual. Avril yang hadir di jagat musik pada tahun 2000 itu mampu menjual hampir 20 juta kopi album di seluruh dunia. Di Indonesia, album Avril yang berada di bawah label Sony-BMG terjual sebanyak 420.000 kopi dengan perincian, 320.000 untuk album pertama Let Go dan 100.000 untuk Under My Skin, album keduanya keluaran tahun 2004. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah. Dari dua albumnya, ia juga mendapat delapan unggulan Grammy.
Avril yang datang dari Napnee, kota kecil di Ontario, Kanada, itu datang ke belantika musik yang sedang diramaikan oleh musik jenis pop rock, atau ada yang menyebutnya sebagai pop alternatif. Anak kedua dari tiga bersaudara itu tumbuh dari lingkungan yang dekat dengan musik country dan folk.
"Waktu saya masih kecil, setiap ada kesempatan, ibu selalu mengajak saya untuk tampil di acara nyanyi. Entah itu di acara gereja atau di pasar malam di kota kami. Saat itu saya nyanyi lagu apa saja yang bisa. Seperti anak-anak sebaya, saya juga nyanyi lagu country atau folk," tutur Avril menjawab pertanyaan Kompas dalam jumpa pers Senin siang di Hilton Executive Club, Jakarta.
"Waktu mendapat kesempatan rekaman, saya mengembangkan kemampuan dalam menulis lagu dan kemudian yang muncul musik seperti yang saya bawakan sekarang, yaitu pop rock," kata Avril yang mulai belajar gitar pada usia 12 tahun.
AVRIL hadir di belantika musik hampir bersamaan dengan Michelle Branch, Norah Jones, atau juga Vanessa Carlton. Mereka masing-masing mempunyai jalur musik tersendiri. Norah Jones, misalnya, cenderung dekat dengan gaya jazz dan country.
Avril memilih jalur pop rock-ada yang menyebutnya sebagai alt(ernative) rock dan adult alternative. Menjelang tahun 2000-an, slot atau celah pasar untuk alt rock yang pernah diramaikan Alanis Morissette memang terbuka lebar. Avril muncul sebagai bintang muda pop rock-setidaknya Avril sepuluh tahun lebih muda dari Alanis. Akan tetapi, Avril menolak jika dikatakan bahwa keberadaannya merupakan hasil fabrikasi para pelaku bisnis musik.
"Saya bukan hasil fabrikasi. Saya menulis lagu saya sendiri," katanya.
Seperti banyak artis lain, Avril pun merasa tidak membakukan diri ke satu jenis musik tertentu, termasuk punk.
"Saya sama sekali tidak pernah mengklaim sebagai artis punk. Medialah yang memberi label pada saya sebagai penyanyi punk atau apa. Itu semata karena saya gadis remaja dan bukan tipikal artis pop yang manis," kata Avril yang bertinggi tubuh 160 cm.
Cara berpakaian Avril memang mengingatkan pada gaya artis punk. Setidaknya Avril lebih banyak tampil apa adanya, dalam pengertian santai, tidak formal. Dalam konser-konsernya dia lebih sering mengenakan blue jeans dan tank top. Jangan kaget jika pada konser Avril di Jakarta tampak gadis-gadis muda mengenakan tank top mengekor artis yang mereka tonton.
DALAM wawancara dengan majalah Rolling Stone, Avril pernah mengatakan tidak betah jika harus berpakaian seperti Britney Spears yang serba cantik dengan sepatu hak tinggi atau celana ketat hingga membuatnya tidak bisa duduk. Dia memang tidak tunduk pada protokoler belantika musik yang kadang mengasingkan artis dari jatidirinya.
"Saya ungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan. Saya membuat keputusan sendiri. Orang tidak bisa mendiktekan apa yang harus saya lakukan, atau mengatur ke mana saya harus pergi. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan," kata Avril menanggapi anggapan bahwa dia hanyalah produk industri musik.
Boleh jadi itu bagian dari "ideologi" pembebasan Avril. Persis kata yang tertera pada bagian dada di kaus Avril yang dikenakan dalam konser: "Freedom". (Frans Sartono)
Sumber : Kompas, Rabu, 6 April 2005
Oleh : Frans Sartono
SEKITAR 3.000 penonton yang didominasi remaja belasan tahun berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu Sk8er Boi-dibaca Skater Boy-yang dibawakan Avril Lavigne. Itulah yang terjadi pada penampilan penyanyi Kanada, Avril Lavigne (20), yang menggelar konser Bonez Tour 2005 di Stadion Tenis Tertutup, Senayan, Jakarta, Senin (4/4/2005) malam.
Avril tampil dengan celana blue jeans dan kaus hitam. Keempat personel band pendukung mengenakan kostum serupa, jeans dan kaus hitam. Ia menenteng gitar elektrik dengan body kotak-kotak hitam-putih. Strap atau tali selempang gitar bergambar deretan tengkorak di atas tulang bersilang. Gambar itu menjadi ikon resmi konser Bonez Tour 2005.
Di pentas yang diterangi lampu berkekuatan 200.000 watt, ia tampak kurang komunikatif. Ia tidak banyak bicara untuk menjalin komunikasi dengan penonton kecuali sekadar ucapan thank you. Boleh jadi ia memang tak suka basa-basi. Persona Avril di atas pentas terkesan nyaris dingin, tidak ramah. Di panggung ia hanya menjadi sekadar tontonan. Kebetulan lagu-lagu Avril dikenal baik oleh penggemarnya dan itulah yang menghidupkan konser.
Avril memuncaki konser dengan lagu Sk8er Boi. Usai lagu tersebut panggung gelap dan penonton memanggil Avril untuk manggung lagi. Muncullah kembali Avril menabuh drum untuk sebuah lagu. Ia kemudian maju ke depan dan menyanyikan lagu Complicated sebagai gong konser yang disambut koor seru dari penonton.
LIRIK lagu Avril bertutur soal kehidupan sehari-hari kaum muda. Sk8er Boi bertutur tentang gadis yang menolak cinta seorang lelaki penggemar skate board. Belakangan cowok itu menjadi bintang rock yang sering muncul di MTV. Avril yang lahir pada 27 September 1984 itu memang tumbuh dan besar di era MTV, sebuah era ketika rock menjadi santapan harian remaja.
Pada peta belantika musik pop dunia, jika diukur dari zaman Michael Jackson, Avril terbilang sebagai "anak kemarin sore". Ia lahir ketika Michael Jackson sedang bertakhta di belantika musik sebagai King of Pop.
Akan tetapi, belantika musik tidak mengenal senioritas. Yang lebih penting adalah daya jual. Avril yang hadir di jagat musik pada tahun 2000 itu mampu menjual hampir 20 juta kopi album di seluruh dunia. Di Indonesia, album Avril yang berada di bawah label Sony-BMG terjual sebanyak 420.000 kopi dengan perincian, 320.000 untuk album pertama Let Go dan 100.000 untuk Under My Skin, album keduanya keluaran tahun 2004. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah. Dari dua albumnya, ia juga mendapat delapan unggulan Grammy.
Avril yang datang dari Napnee, kota kecil di Ontario, Kanada, itu datang ke belantika musik yang sedang diramaikan oleh musik jenis pop rock, atau ada yang menyebutnya sebagai pop alternatif. Anak kedua dari tiga bersaudara itu tumbuh dari lingkungan yang dekat dengan musik country dan folk.
"Waktu saya masih kecil, setiap ada kesempatan, ibu selalu mengajak saya untuk tampil di acara nyanyi. Entah itu di acara gereja atau di pasar malam di kota kami. Saat itu saya nyanyi lagu apa saja yang bisa. Seperti anak-anak sebaya, saya juga nyanyi lagu country atau folk," tutur Avril menjawab pertanyaan Kompas dalam jumpa pers Senin siang di Hilton Executive Club, Jakarta.
"Waktu mendapat kesempatan rekaman, saya mengembangkan kemampuan dalam menulis lagu dan kemudian yang muncul musik seperti yang saya bawakan sekarang, yaitu pop rock," kata Avril yang mulai belajar gitar pada usia 12 tahun.
AVRIL hadir di belantika musik hampir bersamaan dengan Michelle Branch, Norah Jones, atau juga Vanessa Carlton. Mereka masing-masing mempunyai jalur musik tersendiri. Norah Jones, misalnya, cenderung dekat dengan gaya jazz dan country.
Avril memilih jalur pop rock-ada yang menyebutnya sebagai alt(ernative) rock dan adult alternative. Menjelang tahun 2000-an, slot atau celah pasar untuk alt rock yang pernah diramaikan Alanis Morissette memang terbuka lebar. Avril muncul sebagai bintang muda pop rock-setidaknya Avril sepuluh tahun lebih muda dari Alanis. Akan tetapi, Avril menolak jika dikatakan bahwa keberadaannya merupakan hasil fabrikasi para pelaku bisnis musik.
"Saya bukan hasil fabrikasi. Saya menulis lagu saya sendiri," katanya.
Seperti banyak artis lain, Avril pun merasa tidak membakukan diri ke satu jenis musik tertentu, termasuk punk.
"Saya sama sekali tidak pernah mengklaim sebagai artis punk. Medialah yang memberi label pada saya sebagai penyanyi punk atau apa. Itu semata karena saya gadis remaja dan bukan tipikal artis pop yang manis," kata Avril yang bertinggi tubuh 160 cm.
Cara berpakaian Avril memang mengingatkan pada gaya artis punk. Setidaknya Avril lebih banyak tampil apa adanya, dalam pengertian santai, tidak formal. Dalam konser-konsernya dia lebih sering mengenakan blue jeans dan tank top. Jangan kaget jika pada konser Avril di Jakarta tampak gadis-gadis muda mengenakan tank top mengekor artis yang mereka tonton.
DALAM wawancara dengan majalah Rolling Stone, Avril pernah mengatakan tidak betah jika harus berpakaian seperti Britney Spears yang serba cantik dengan sepatu hak tinggi atau celana ketat hingga membuatnya tidak bisa duduk. Dia memang tidak tunduk pada protokoler belantika musik yang kadang mengasingkan artis dari jatidirinya.
"Saya ungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan. Saya membuat keputusan sendiri. Orang tidak bisa mendiktekan apa yang harus saya lakukan, atau mengatur ke mana saya harus pergi. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan," kata Avril menanggapi anggapan bahwa dia hanyalah produk industri musik.
Boleh jadi itu bagian dari "ideologi" pembebasan Avril. Persis kata yang tertera pada bagian dada di kaus Avril yang dikenakan dalam konser: "Freedom". (Frans Sartono)
Sumber : Kompas, Rabu, 6 April 2005
Jalal Talabani, Orang Kurdi yang Jadi Presiden Irak
Oleh : Musthafa Abd Rahman
SETIAP berakhirnya sebuah rezim di Irak ibarat suatu anugerah yang jatuh dari langit bagi Jalal Talabani. Puncak anugerah itu adalah tumbangnya rezim Saddam Hussein yang kini mengantarkannya ke kursi presiden.
TATKALA berakhir sistem monarki Irak tahun 1958, Talabani dibebaskan dari penjara yang didiaminya sejak tahun 1956 lantaran aktivitas politiknya yang antimonarki. Jatuhnya rezim Presiden Abdel Karim Kasim tahun 1962 membuka jalan pula bagi Talabani menjadi juru runding tangguh dengan presiden baru Irak, Abdel Salam Arif.
Era baru di Irak ternyata selalu memihak Talabani. Majelis Nasional Irak (parlemen) hari Rabu (6/4/2005) menggores sejarah dengan memilih Talabani, seorang pemimpin Kurdi, sebagai presiden di negeri yang mengusung atribut negara Arab. Memang kedengaran aneh, seorang Kurdi bisa menjadi presiden di negara Arab.
Seorang analis politik asal Irak, Mustafa Kadhimi, dalam artikelnya pada harian Asharq Al Awsat edisi Sabtu (2/4/2005), mengatakan, fenomena tampilnya tokoh-tokoh Kurdi pada posisi strategis di Irak, seperti Hoshyar Zebari sebagai menteri luar negeri dan Jalal Talabani sebagai presiden, memberi kesan positif bagi kehidupan demokrasi di negeri itu.
"Tampilnya Talabani sebagai presiden adalah sebuah era baru bagi negeri Irak yang ditandai oleh semakin kuatnya prinsip persamaan hak antara warga negaranya, tanpa melihat latar belakang etnis, agama, dan mazhab agama. Prinsip itu bisa berandil memperkuat persatuan Irak," kata Kadhimi.
MENURUT Kadhimi, terpilihnya Talabani sebagai presiden akan berandil besar mengurangi kecenderungan sektarianisme di Irak yang semakin mencemaskan karena sudah terhapus stigma bahwa presiden harus dari Sunni, perdana menteri dari Syiah, dan ketua parlemen dari Kurdi.
Talabani dilahirkan tahun 1933 di Desa Kelkan dekat Danau Dokan. Ia menjalani sekolahnya, dari SD sampai SMP, di kota Koy Sanjak. Kemudian dia pindah ke Erbil dan Kirkuk untuk melanjutkan ke SMA. Pada masa SMA, Talabani sudah dipercaya sebagai pengarah organisasi bawah tanah pelajar Kurdi di Irak yang misinya membangkitkan nasionalisme kaum Kurdi.
Seusai SMA, Talabani bergabung dengan Partai Demokrasi Kurdistan pimpinan Mulla Mustafa Barzani. Pada tahun 1951 ia terpilih sebagai anggota komite pusat partai tersebut.
Mungkin karena aktivitas politiknya, Talabani ditolak masuk pada sebuah fakultas bergengsi meskipun nilainya lebih dari mencukupi. Pada tahun 1953 Talabani diterima pada Fakultas Hukum Universitas Baghdad.
Semasa mahasiswa, Talabani menjadi sekretaris umum persatuan mahasiswa Kurdi di Baghdad. Pada tahun 1956 aparat keamanan menangkap Talabani karena aktivitas politiknya yang membuat studinya terhenti.
Seusai kudeta tahun 1958 yang mengakhiri sistem monarki di Irak, Talabani melanjutkan studinya. Ia sempat menjabat pemimpin redaksi dua koran terkemuka Kurdi yang menjadi corong sosialisasi misi Partai Demokrasi Kurdistan.
Lepas dari perguruan tinggi pada tahun 1959, ia menjalani latihan kemiliteran yang membuka jalan ke arah bergabungnya dengan Peshmerga (milisi bersenjata Kurdistan-Red). Ambruknya koalisi antara Kurdistan dan rezim Abdel Karim Kasim pada akhir tahun 1960 memaksa Talabani hengkang ke wilayah Kurdistan.
Pada bulan September 1961 meletus pertempuran antara pasukan pemerintah Irak dan Peshmerga. Talabani menjadi komandan militer di front Kirkuk dan Sulaimaniyah, melawan pasukan pemerintah Baghdad. Pada bulan Maret 1962 ia memimpin serangan balik untuk mengembalikan wilayah Sharbazhar dari tangan pasukan pemerintah Baghdad.
PERTEMPURAN kedua belah pihak berlanjut hingga jatuhnya rezim Abdel Karim Kasim. Pada masa pemerintahan Presiden Abdel Salam Arif tercapai kesepakatan gencatan senjata. Di tahun 1963 Talabani memimpin perundingan dengan Presiden Abdel Salam Arif, namun juga mengalami kegagalan.
Ketika Partai Baath kembali berkuasa di Baghdad pada tahun 1968, partai yang berbasis pada ideologi nasionalisme Arab itu berhasil memecah belah kesatuan Kurdi, antara kubu Talabani dan kubu Barzani, dalam tubuh Partai Demokrasi Kurdistan.
Perundingan antara pemerintah Baghdad dan Barzani menghasilkan kesepakatan pemberian otonomi pada kaum Kurdi. Kesepakatan itu ditolak oleh Talabani yang menilainya merugikan pihak Kurdi karena tidak memasukkan kota Kirkuk ke dalam wilayah otonomi.
Talabani lalu membentuk organisasi baru dengan nama Uni Patriot Kurdistan pada tahun 1975. Pecahnya Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 memberi peluang kepada Talabani yang berbasis di wilayah perbatasan dengan Iran untuk membangun kembali kekuatan militer Kurdi, guna melawan pasukan Pemerintah Irak yang sedang sibuk berperang dengan Iran.
Ia memanfaatkan Perang Iran-Irak itu untuk berunding dengan Baghdad, namun pemerintah Baghdad tetap menolak memberi konsesi kepada kaum Kurdi. Pasca-Perang Teluk I tahun 1991 dan didirikannya zona aman di wilayah Kurdistan menaikkan kembali bintang Talabani.
Pada pemilu parlemen pertama di wilayah Kurdistan Mei 1992, ia terpilih sebagai anggota parlemen serta juru bicara Kurdi pada forum regional dan internasional.
Pada tahun 1994 meletup konflik berdarah antara dua kekuatan utama Kurdi, yakni Partai Demokrasi Kurdistan di bawah pimpinan Masoud Barzani dan Uni Patriot Kurdistan di bawah pimpinan Jalal Talabani, menewaskan sekitar 3.000 orang. Keduanya mencapai gencatan senjata pada tahun 1998 di Washington dan setuju membagi wilayah Kurdistan menjadi dua bagian, dengan Barzani bermarkas besar di kota Erbil dan Talabani di Sulaimaniyah.
PADA tahun 2000 mereka sepakat melakukan normalisasi hubungan dan mengaktifkan kembali parlemen Kurdi yang beku total selama enam tahun. Perkembangan politik di Irak pascatumbangnya rezim Saddam Hussein semakin memuluskan rekonsiliasi Talabani-Barzani. Puncaknya menjelang pemilu 30 Januari lalu, ketika terbentuk Daftar Koalisi Kurdistan yang berintikan dari dua faksi utama Kurdistan tersebut.
Bersatunya dua kekuatan utama Kurdi itu mengantarkan mereka menduduki urutan kedua pada pemilu lalu dengan meraih 75 kursi parlemen dan membentangkan jalan terpilihnya Talabani sebagai presiden Irak. (MUSTHAFA ABD RAHMAN, dari Cairo)
Sumber : Kompas, Kamis, 7 April 2005
Oleh : Musthafa Abd Rahman
SETIAP berakhirnya sebuah rezim di Irak ibarat suatu anugerah yang jatuh dari langit bagi Jalal Talabani. Puncak anugerah itu adalah tumbangnya rezim Saddam Hussein yang kini mengantarkannya ke kursi presiden.
TATKALA berakhir sistem monarki Irak tahun 1958, Talabani dibebaskan dari penjara yang didiaminya sejak tahun 1956 lantaran aktivitas politiknya yang antimonarki. Jatuhnya rezim Presiden Abdel Karim Kasim tahun 1962 membuka jalan pula bagi Talabani menjadi juru runding tangguh dengan presiden baru Irak, Abdel Salam Arif.
Era baru di Irak ternyata selalu memihak Talabani. Majelis Nasional Irak (parlemen) hari Rabu (6/4/2005) menggores sejarah dengan memilih Talabani, seorang pemimpin Kurdi, sebagai presiden di negeri yang mengusung atribut negara Arab. Memang kedengaran aneh, seorang Kurdi bisa menjadi presiden di negara Arab.
Seorang analis politik asal Irak, Mustafa Kadhimi, dalam artikelnya pada harian Asharq Al Awsat edisi Sabtu (2/4/2005), mengatakan, fenomena tampilnya tokoh-tokoh Kurdi pada posisi strategis di Irak, seperti Hoshyar Zebari sebagai menteri luar negeri dan Jalal Talabani sebagai presiden, memberi kesan positif bagi kehidupan demokrasi di negeri itu.
"Tampilnya Talabani sebagai presiden adalah sebuah era baru bagi negeri Irak yang ditandai oleh semakin kuatnya prinsip persamaan hak antara warga negaranya, tanpa melihat latar belakang etnis, agama, dan mazhab agama. Prinsip itu bisa berandil memperkuat persatuan Irak," kata Kadhimi.
MENURUT Kadhimi, terpilihnya Talabani sebagai presiden akan berandil besar mengurangi kecenderungan sektarianisme di Irak yang semakin mencemaskan karena sudah terhapus stigma bahwa presiden harus dari Sunni, perdana menteri dari Syiah, dan ketua parlemen dari Kurdi.
Talabani dilahirkan tahun 1933 di Desa Kelkan dekat Danau Dokan. Ia menjalani sekolahnya, dari SD sampai SMP, di kota Koy Sanjak. Kemudian dia pindah ke Erbil dan Kirkuk untuk melanjutkan ke SMA. Pada masa SMA, Talabani sudah dipercaya sebagai pengarah organisasi bawah tanah pelajar Kurdi di Irak yang misinya membangkitkan nasionalisme kaum Kurdi.
Seusai SMA, Talabani bergabung dengan Partai Demokrasi Kurdistan pimpinan Mulla Mustafa Barzani. Pada tahun 1951 ia terpilih sebagai anggota komite pusat partai tersebut.
Mungkin karena aktivitas politiknya, Talabani ditolak masuk pada sebuah fakultas bergengsi meskipun nilainya lebih dari mencukupi. Pada tahun 1953 Talabani diterima pada Fakultas Hukum Universitas Baghdad.
Semasa mahasiswa, Talabani menjadi sekretaris umum persatuan mahasiswa Kurdi di Baghdad. Pada tahun 1956 aparat keamanan menangkap Talabani karena aktivitas politiknya yang membuat studinya terhenti.
Seusai kudeta tahun 1958 yang mengakhiri sistem monarki di Irak, Talabani melanjutkan studinya. Ia sempat menjabat pemimpin redaksi dua koran terkemuka Kurdi yang menjadi corong sosialisasi misi Partai Demokrasi Kurdistan.
Lepas dari perguruan tinggi pada tahun 1959, ia menjalani latihan kemiliteran yang membuka jalan ke arah bergabungnya dengan Peshmerga (milisi bersenjata Kurdistan-Red). Ambruknya koalisi antara Kurdistan dan rezim Abdel Karim Kasim pada akhir tahun 1960 memaksa Talabani hengkang ke wilayah Kurdistan.
Pada bulan September 1961 meletus pertempuran antara pasukan pemerintah Irak dan Peshmerga. Talabani menjadi komandan militer di front Kirkuk dan Sulaimaniyah, melawan pasukan pemerintah Baghdad. Pada bulan Maret 1962 ia memimpin serangan balik untuk mengembalikan wilayah Sharbazhar dari tangan pasukan pemerintah Baghdad.
PERTEMPURAN kedua belah pihak berlanjut hingga jatuhnya rezim Abdel Karim Kasim. Pada masa pemerintahan Presiden Abdel Salam Arif tercapai kesepakatan gencatan senjata. Di tahun 1963 Talabani memimpin perundingan dengan Presiden Abdel Salam Arif, namun juga mengalami kegagalan.
Ketika Partai Baath kembali berkuasa di Baghdad pada tahun 1968, partai yang berbasis pada ideologi nasionalisme Arab itu berhasil memecah belah kesatuan Kurdi, antara kubu Talabani dan kubu Barzani, dalam tubuh Partai Demokrasi Kurdistan.
Perundingan antara pemerintah Baghdad dan Barzani menghasilkan kesepakatan pemberian otonomi pada kaum Kurdi. Kesepakatan itu ditolak oleh Talabani yang menilainya merugikan pihak Kurdi karena tidak memasukkan kota Kirkuk ke dalam wilayah otonomi.
Talabani lalu membentuk organisasi baru dengan nama Uni Patriot Kurdistan pada tahun 1975. Pecahnya Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 memberi peluang kepada Talabani yang berbasis di wilayah perbatasan dengan Iran untuk membangun kembali kekuatan militer Kurdi, guna melawan pasukan Pemerintah Irak yang sedang sibuk berperang dengan Iran.
Ia memanfaatkan Perang Iran-Irak itu untuk berunding dengan Baghdad, namun pemerintah Baghdad tetap menolak memberi konsesi kepada kaum Kurdi. Pasca-Perang Teluk I tahun 1991 dan didirikannya zona aman di wilayah Kurdistan menaikkan kembali bintang Talabani.
Pada pemilu parlemen pertama di wilayah Kurdistan Mei 1992, ia terpilih sebagai anggota parlemen serta juru bicara Kurdi pada forum regional dan internasional.
Pada tahun 1994 meletup konflik berdarah antara dua kekuatan utama Kurdi, yakni Partai Demokrasi Kurdistan di bawah pimpinan Masoud Barzani dan Uni Patriot Kurdistan di bawah pimpinan Jalal Talabani, menewaskan sekitar 3.000 orang. Keduanya mencapai gencatan senjata pada tahun 1998 di Washington dan setuju membagi wilayah Kurdistan menjadi dua bagian, dengan Barzani bermarkas besar di kota Erbil dan Talabani di Sulaimaniyah.
PADA tahun 2000 mereka sepakat melakukan normalisasi hubungan dan mengaktifkan kembali parlemen Kurdi yang beku total selama enam tahun. Perkembangan politik di Irak pascatumbangnya rezim Saddam Hussein semakin memuluskan rekonsiliasi Talabani-Barzani. Puncaknya menjelang pemilu 30 Januari lalu, ketika terbentuk Daftar Koalisi Kurdistan yang berintikan dari dua faksi utama Kurdistan tersebut.
Bersatunya dua kekuatan utama Kurdi itu mengantarkan mereka menduduki urutan kedua pada pemilu lalu dengan meraih 75 kursi parlemen dan membentangkan jalan terpilihnya Talabani sebagai presiden Irak. (MUSTHAFA ABD RAHMAN, dari Cairo)
Sumber : Kompas, Kamis, 7 April 2005
Okky Asokawati, Perjalanan dari Panggung ke Panggung
Okky Asokawati, Perjalanan dari Panggung ke Panggung
Oleh : Ninuk MP
PADA tahun 1980-an nama Okky Asokawati identik dengan peragawati top Indonesia. Hampir semua desainer meminta perempuan kelahiran Jakarta, 6 Maret 1961, ini memeragakan rancangan mereka. Bahkan, Okky selalu membawakan gaun terakhir, karya puncak sang perancang. Tepuk tangan selalu mengiringi penampilannya.
LALU suatu saat saya ikut pergelaran Edward Hutabarat. Ternyata, saya tidak lagi membawakan gaun penutup. Saya terpukul, bertanya-tanya, apa yang salah dengan saya," cetus Okky awal pekan ini dalam percakapan di Jakarta Selatan.
Okky dihibur Firman Ichsan, suaminya ketika itu, bahwa dari segi fisik, pengalaman, dan kemampuan Okky tidak kalah. "’Orang hanya bosan dengan kamu,’ kata Mas Firman. Tentu saja saya sangat terpukul. Lalu saya mesti bagaimana?" kenang Okky.
Di situlah Okky mengalami ujian yang kesekian kali dalam hidup. Bagaimana memenuhi kebutuhan untuk menjadi terkenal seperti keinginannya sejak kecil? Menurut lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, bila orang ingin hidup sehat bukan hanya fisik yang mendapat cukup makan, tetapi ego juga harus kenyang. Kalau masa di fashion sudah lewat, ke mana bisa mengenyangkan ego?
Saat itu sebuah majalah perempuan meminta Okky menjadi pembicara dalam seminar pengembangan kepribadian. Okky mati-matian menyiapkan makalah untuk presentasi itu. Dari situ Okky merasa panggung seminar bisa memuaskan egonya karena dia menjadi pusat perhatian.
Sebelumnya, dia mendirikan sekolah model OQ (1988) yang kini ada di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, selain memberi in house training. Okky sempat pula terjun dalam multilevel marketing (MLM) produk kesehatan dan gaya hidup, bermain sinetron, dan menjadi pembawa acara gaya hidup di sebuah stasiun televisi.
"SAYA ketika kecil itu minder, tidak percaya diri. Saya merasa tidak cantik. Tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Tetapi, sejak kecil saya punya keinginan menjadi orang terkenal," kata Okky, anak kelima dari enam bersaudara.
Kebutuhan menjadi terkenal itu tumbuh dari situasi masa kecil. Dia ingin dihargai, diperhatikan, sementara keluarganya yang sangat sederhana menurut Okky membuat dia tidak diperhatikan teman-temannya.
Ketika Okky baru kelas I sekolah dasar (SD), ayahnya yang polisi di Jakarta, (almarhum) A Tanuamidjaja, diadili dengan tuduhan terlibat G30S/PKI dan 14 tahun berada di tahanan. Ibunya, Sutardjiah, harus menghidupi enam anak yang masih bersekolah dengan memberi les piano dan bahasa Inggris. Ke mana-mana mereka naik bus.
Tanpa sadar Okky belajar, bila dia menonjol orang akan berteman dengannya. "Pertama kali saya rasakan nikmatnya sebagai orang menonjol ketika kelas II SD. Mulanya saya tidak bisa kali-kalian, tetapi kakak memaksa belajar. Ketika nilai saya bagus, teman-teman mengajak bermain. Saya lalu belajar harus cerdas supaya dihargai karena saya tidak punya apa-apa lainnya," ujar Okky yang memaparkan pengalaman hidupnya itu dalam buku Jangan Menoleh ke Belakang, yang ditulis Muara Bagdja dengan editor Threes Emir dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.
Perjalanan Okky sebagai peragawati bisa dikatakan berawal ketika dia memenangi Putri Remaja Berpakaian Malam Terbaik dalam lomba Putri Remaja yang diadakan majalah Gadis pada tahun 1978. Okky mendaftar sendiri untuk ikut lomba itu karena memimpikan bisa seterkenal remaja yang sering muncul di majalah yang dia pinjam dari temannya karena tidak punya uang untuk membeli.
"Saya punya kebiasaan menulis impian saya dalam dream book, saya tempeli gambar-gambar. Radar otak kita akan bergerak ke arah impian itu," kata Okky yang memajang di kamarnya gambar penyanyi Emilia Contessa menjelang masuk ke SMAN XI Bulungan, Jakarta Selatan. Di antara daftar impian Okky saat tahun 2000 adalah gaji Rp 50 juta per bulan, pensiun (dari MLM) dengan peringkat Diamond, umroh, ajak Diva (putrinya) ke Disneyland, deposito Rp 100 juta, pembantu punya TV di kamar belakang, great artist great mother, punya rumah besar di Pondok Indah, dan buka OQ Modelling di Bandung dan Surabaya. Beberapa mimpinya itu sudah terwujud.
"Ketika disalami Mas Iwan Tirta yang jadi salah satu juri, dia mengatakan, ’Suatu saat kamu akan jadi model saya’," papar Okky. Setelah itu berkali-kali Okky menjadi model Iwan Tirta dan membawakan gaun pengantin perancang dan seniman batik yang saat itu menjadi barometer model top Indonesia.
PERAN model Okky adalah ibu dan ayahnya. Dari ibunya, Okky ingat nasihat untuk tidak pernah menyandarkan diri kepada orang lain. Sementara dari ayahnya, Okky belajar hidup bermanfaat bagi banyak orang dan jangan pernah minder kepada siapa pun karena dasarnya setiap orang egois, selalu ingin didengar, tidak mau dipotong percakapannya.
Nasihat itu diterapkan Okky ketika masuk dunia MLM, dunia yang jauh dari gemerlap panggung mode, karena merasa tertantang saat ada yang mengatakan dia tidak akan bisa. Okky memandang MLM adalah akademi kehidupan sesungguhnya karena dia harus merendahkan ego untuk membuat orang merasa nyaman dengan mendengar pembicaraan mereka.
Kini kesibukannya antara lain mengajar di sekolah model OQ dan memberi ceramah, membesarkan putrinya dari pernikahan dengan Firman Ichsan, Diva (9), serta mengurus rumah tangganya dengan Nono Padmodimuljo, pengusaha di bidang pemasaran minyak dan gas bumi.
Tentang perpisahannya dari bekas suaminya, Firman Ichsan, yang diakui Okky mengajarinya mandiri dan menghormati komitmen kerja, menurut Okky, justru merupakan keberhasilan dalam arti menyelesaikan secara baik-baik perbedaan yang tidak mungkin dipersatukan lagi. "Saya merasa ini pelajaran yang baik. Saya jadi bisa mengatakan perkawinan yang baik itu bagaimana," katanya.
Dia juga tidak menampik bila ada orang mengatakan Okky selalu ingin menjadi nomor satu sehingga kelihatan amat berambisi. "Saya tidak apa-apa dibilang berambisi, yang penting dalam mencapai itu tidak menjegal orang lain," katanya.
Satu lagi pelajaran hidup yang dia dapat adalah jangan pernah merasa tidak enak berbeda dari orang lain. "Selama kita menjaga integritas dan berada dalam nilai-nilai yang benar, jalan terus. Ini juga yang saya ajarkan kepada murid-murid saya," katanya.
Sumber : Kompas, Jumat, 8 April 2005
Oleh : Ninuk MP
PADA tahun 1980-an nama Okky Asokawati identik dengan peragawati top Indonesia. Hampir semua desainer meminta perempuan kelahiran Jakarta, 6 Maret 1961, ini memeragakan rancangan mereka. Bahkan, Okky selalu membawakan gaun terakhir, karya puncak sang perancang. Tepuk tangan selalu mengiringi penampilannya.
LALU suatu saat saya ikut pergelaran Edward Hutabarat. Ternyata, saya tidak lagi membawakan gaun penutup. Saya terpukul, bertanya-tanya, apa yang salah dengan saya," cetus Okky awal pekan ini dalam percakapan di Jakarta Selatan.
Okky dihibur Firman Ichsan, suaminya ketika itu, bahwa dari segi fisik, pengalaman, dan kemampuan Okky tidak kalah. "’Orang hanya bosan dengan kamu,’ kata Mas Firman. Tentu saja saya sangat terpukul. Lalu saya mesti bagaimana?" kenang Okky.
Di situlah Okky mengalami ujian yang kesekian kali dalam hidup. Bagaimana memenuhi kebutuhan untuk menjadi terkenal seperti keinginannya sejak kecil? Menurut lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, bila orang ingin hidup sehat bukan hanya fisik yang mendapat cukup makan, tetapi ego juga harus kenyang. Kalau masa di fashion sudah lewat, ke mana bisa mengenyangkan ego?
Saat itu sebuah majalah perempuan meminta Okky menjadi pembicara dalam seminar pengembangan kepribadian. Okky mati-matian menyiapkan makalah untuk presentasi itu. Dari situ Okky merasa panggung seminar bisa memuaskan egonya karena dia menjadi pusat perhatian.
Sebelumnya, dia mendirikan sekolah model OQ (1988) yang kini ada di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, selain memberi in house training. Okky sempat pula terjun dalam multilevel marketing (MLM) produk kesehatan dan gaya hidup, bermain sinetron, dan menjadi pembawa acara gaya hidup di sebuah stasiun televisi.
"SAYA ketika kecil itu minder, tidak percaya diri. Saya merasa tidak cantik. Tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Tetapi, sejak kecil saya punya keinginan menjadi orang terkenal," kata Okky, anak kelima dari enam bersaudara.
Kebutuhan menjadi terkenal itu tumbuh dari situasi masa kecil. Dia ingin dihargai, diperhatikan, sementara keluarganya yang sangat sederhana menurut Okky membuat dia tidak diperhatikan teman-temannya.
Ketika Okky baru kelas I sekolah dasar (SD), ayahnya yang polisi di Jakarta, (almarhum) A Tanuamidjaja, diadili dengan tuduhan terlibat G30S/PKI dan 14 tahun berada di tahanan. Ibunya, Sutardjiah, harus menghidupi enam anak yang masih bersekolah dengan memberi les piano dan bahasa Inggris. Ke mana-mana mereka naik bus.
Tanpa sadar Okky belajar, bila dia menonjol orang akan berteman dengannya. "Pertama kali saya rasakan nikmatnya sebagai orang menonjol ketika kelas II SD. Mulanya saya tidak bisa kali-kalian, tetapi kakak memaksa belajar. Ketika nilai saya bagus, teman-teman mengajak bermain. Saya lalu belajar harus cerdas supaya dihargai karena saya tidak punya apa-apa lainnya," ujar Okky yang memaparkan pengalaman hidupnya itu dalam buku Jangan Menoleh ke Belakang, yang ditulis Muara Bagdja dengan editor Threes Emir dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.
Perjalanan Okky sebagai peragawati bisa dikatakan berawal ketika dia memenangi Putri Remaja Berpakaian Malam Terbaik dalam lomba Putri Remaja yang diadakan majalah Gadis pada tahun 1978. Okky mendaftar sendiri untuk ikut lomba itu karena memimpikan bisa seterkenal remaja yang sering muncul di majalah yang dia pinjam dari temannya karena tidak punya uang untuk membeli.
"Saya punya kebiasaan menulis impian saya dalam dream book, saya tempeli gambar-gambar. Radar otak kita akan bergerak ke arah impian itu," kata Okky yang memajang di kamarnya gambar penyanyi Emilia Contessa menjelang masuk ke SMAN XI Bulungan, Jakarta Selatan. Di antara daftar impian Okky saat tahun 2000 adalah gaji Rp 50 juta per bulan, pensiun (dari MLM) dengan peringkat Diamond, umroh, ajak Diva (putrinya) ke Disneyland, deposito Rp 100 juta, pembantu punya TV di kamar belakang, great artist great mother, punya rumah besar di Pondok Indah, dan buka OQ Modelling di Bandung dan Surabaya. Beberapa mimpinya itu sudah terwujud.
"Ketika disalami Mas Iwan Tirta yang jadi salah satu juri, dia mengatakan, ’Suatu saat kamu akan jadi model saya’," papar Okky. Setelah itu berkali-kali Okky menjadi model Iwan Tirta dan membawakan gaun pengantin perancang dan seniman batik yang saat itu menjadi barometer model top Indonesia.
PERAN model Okky adalah ibu dan ayahnya. Dari ibunya, Okky ingat nasihat untuk tidak pernah menyandarkan diri kepada orang lain. Sementara dari ayahnya, Okky belajar hidup bermanfaat bagi banyak orang dan jangan pernah minder kepada siapa pun karena dasarnya setiap orang egois, selalu ingin didengar, tidak mau dipotong percakapannya.
Nasihat itu diterapkan Okky ketika masuk dunia MLM, dunia yang jauh dari gemerlap panggung mode, karena merasa tertantang saat ada yang mengatakan dia tidak akan bisa. Okky memandang MLM adalah akademi kehidupan sesungguhnya karena dia harus merendahkan ego untuk membuat orang merasa nyaman dengan mendengar pembicaraan mereka.
Kini kesibukannya antara lain mengajar di sekolah model OQ dan memberi ceramah, membesarkan putrinya dari pernikahan dengan Firman Ichsan, Diva (9), serta mengurus rumah tangganya dengan Nono Padmodimuljo, pengusaha di bidang pemasaran minyak dan gas bumi.
Tentang perpisahannya dari bekas suaminya, Firman Ichsan, yang diakui Okky mengajarinya mandiri dan menghormati komitmen kerja, menurut Okky, justru merupakan keberhasilan dalam arti menyelesaikan secara baik-baik perbedaan yang tidak mungkin dipersatukan lagi. "Saya merasa ini pelajaran yang baik. Saya jadi bisa mengatakan perkawinan yang baik itu bagaimana," katanya.
Dia juga tidak menampik bila ada orang mengatakan Okky selalu ingin menjadi nomor satu sehingga kelihatan amat berambisi. "Saya tidak apa-apa dibilang berambisi, yang penting dalam mencapai itu tidak menjegal orang lain," katanya.
Satu lagi pelajaran hidup yang dia dapat adalah jangan pernah merasa tidak enak berbeda dari orang lain. "Selama kita menjaga integritas dan berada dalam nilai-nilai yang benar, jalan terus. Ini juga yang saya ajarkan kepada murid-murid saya," katanya.
Sumber : Kompas, Jumat, 8 April 2005
Raisa Aurora, Menulis dengan Penuh Perasaan
Raisa Aurora, Menulis dengan Penuh Perasaan
Oleh : Elok Dyah Messwati
USIANYA masih 13 tahun, tetapi kemampuan berpikir dan menulisnya melebihi teman-teman seusianya. Tak heran jika Raisa Aurora, siswa Kelas II SMP Negeri 12 Bekasi, Jawa Barat, mendapatkan penghargaan untuk penulis muda Indonesia bersama dengan Pratitou Arafat (siswa SMA Negeri 3 Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam).
PADA Lomba Penulisan Esai Remaja yang diselenggarakan oleh Unicef dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Raisa mengirim esai berjudul "Dari Temanku Asih, Aku Belajar Banyak".
Esainya bertutur tentang pengalamannya bergaul dengan Asih, teman sekelasnya saat kelas I SMP yang menderita down syndrom. Asih dipaksa bersekolah di sekolah umum, padahal kemampuannya mencerna pelajaran jauh di bawah rata-rata.
"Betapa ingin aku mengatakan padanya bahwa engkau punya hak untuk dimengerti, engkau punya hak untuk mendapat perawatan, pengasuhan, kasih sayang, dan pendidikan yang dibutuhkan seorang anak ’istimewa’ sepertimu," demikian cuplikan esainya.
Perasaan Raisa memang tertumpah dalam tulisannya. Bahkan ketika menerima penghargaan pekan lalu, ia sempat berhenti sejenak saat bertutur tentang Asih. Matanya berkaca-kaca. Beberapa juri menitikkan air mata ketika membaca karyanya.
Raisa mengaku, ia berusaha menulis dengan penuh perasaan, pengaruh dari tulisan Pramoedya Ananta Toer dan Lemony Snicket yang menulis A Series of Unfortunate Events.
Ketika hendak mengikuti lomba esai, sebenarnya Raisa ingin menulis mengenai hak anak-anak jalanan. Namun, saat ia memikirkan ide itu, ia bertemu dengan Asih. Asih bercerita tentang keluarganya, teman-temannya, dan apa yang ia rasakan. Muncullah keinginan Raisa untuk menulis kehidupan Asih.
Anak tunggal pasangan Abubakar Soeis (54) dan Jenny Rianita (40) ini kemudian membuat poin-poin tulisan per paragraf, lalu ia kembangkan saat mengetik di komputer-yang sudah ia kuasai sejak kelas III SD.
RAISA gemar menulis sejak kelas I SD. Saat itu ia minta dibelikan buku harian di mana ia bisa menuliskan semua perasaannya. Sejak kecil ia juga membuat puisi. Prestasi pertamanya diraih saat kelas III SD sebagai juara ketiga lomba mengarang "Andai Aku Punya Sayap" yang diselenggarakan sebuah restoran waralaba.
Kelas IV SD Raisa mengikuti lomba Konferensi Anak tentang Lingkungan Hidup yang diselenggarakan majalah Bobo dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2001. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota delegasi terpilih. Itu pengalaman yang sangat menyenangkan baginya. Seluruh delegasi dikarantina selama tiga hari di Hotel Santika Jakarta. Mereka belajar tentang lingkungan dengan suasana yang fun.
"Saya bertemu dengan Pak Emil Salim, Pak Sonny Keraf (Menteri Negara LH saat itu-Red), saya dapat kenang-kenangan pohon matoa. Kami diajar banyak hal tentang lingkungan hidup," kata Raisa, yang mengisi kesehariannya dengan kursus bahasa Inggris, berenang, dan gitar.
Berbagai prestasi ia raih. Ia, antara lain, menjadi pemenang harapan kedua Lomba "Menulis Surat untuk Presiden" tahun 2000, pemenang kedua Lomba Mengarang Esai tingkat SMP yang diselenggarakan oleh IKAP DKI Jaya tahun 2003.
Tahun 2004, tulisannya terpilih pada lomba yang sama yang diselenggarakan YKAI-Unicef. Ia pun menjadi pemenang pertama Lomba Membalas Surat Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer". Total 20 penghargaan ia dapatkan.
Menurut ibunya, Raisa bisa menulis puisi dengan unik. "Yang aneh, saat dia menulis puisi, puisinya tidak seperti puisi anak-anak. Kata-katanya tidak seperti anak-anak. Saya tidak mengerti dari mana ia mendapatkan kata-kata untuk puisinya," kata Jenny.
Raisa mengaku mendapatkan kata-kata untuk puisinya dari buku-buku yang ia baca. Saat kecil, selain berlangganan majalah Bobo, ia juga membaca buku dongeng yang halamannya tebal-tebal. Raisa memang suka sekali menulis karena melalui tulisan ia bisa mengungkapkan jalan pikirannya.
"Menulis itu sangat menyenangkan dan saya jadi lebih dewasa. Teman-teman sekelas saya bilang saya sok tua," tutur Raisa.
Kalau bicara dengan teman sebayanya, Raisa dianggap berbeda. Cara bicaranya seperti orang dewasa. "Padahal saya bicara biasa saja, tapi dianggap berbeda. Mungkin karena saya banyak membaca," kata Raisa, yang koleksi bukunya sampai empat lemari.
MENULIS tentu berkaitan dengan mengarang. Namun anehnya, Raisa tak terlalu menyukai cara pengajaran mengarang (pelajaran Bahasa Indonesia) di sekolah. Jika diminta mengarang, biasanya tema sudah ditentukan oleh guru, termasuk paragraf-paragrafnya.
"Kalau seperti itu caranya, isi paragraf sudah ditentukan, saya merasa terkekang. Mau nulis apa saya? Dari awalnya sudah tidak enak menulis kalau semua sudah ditentukan, tidak sesuai dengan jalan pikiran saya," kata Raisa.
Menurut Raisa, seharusnya pelajaran mengarang itu memberikan keleluasaan kepada murid. Murid cukup diberi tema yang menarik. Dengan demikian, minat untuk mengarang bisa bertumbuh.
Ia mengkritik pelajaran mengarang yang hanya menekankan pada teori dan jarang mengajarkan materi mengarang. "Padahal kalau menulis sendiri, kita bisa berkembang sendiri tanpa harus menggunakan teori," ucap Raisa.
Raisa juga mengungkapkan keprihatinannya atas isi majalah dinding (mading) di sekolahnya yang jarang diisi artikel yang bermanfaat untuk remaja, tetapi justru diisi dengan artikel seputar percintaan remaja. "Saya pikir itu karena pengaruh sinetron, sesuatu yang tidak nyata dan kita membuatnya menjadi kenyataan. Saya buat puisi dan artikel di mading, tidak ada yang baca. Saya tersiksa sekali menghadapi hal seperti itu," keluhnya.
Pengetahuannya yang demikian luas membuatnya kadang tak "nyambung" jika berbicara dengan temannya. "Saya bilang, ’Kemarin aku menang lomba membalas surat kepada Pramoedya lho.’ Teman saya balik tanya, ’Pramoedya itu siapa?’" tutur Raisa.
Raisa bercita-cita menjadi dokter hewan sekaligus penulis seperti James Herriot. Ia memiliki 15 kucing di rumahnya. "Saya sayang pada binatang, jadi saya tergerak jadi dokter hewan. Tapi saya juga ingin jadi wartawan BBC, bisa merambah ke mana-mana, subyeknya mendunia," kata Raisa Aurora yang bertekad terus menulis.
Sumber : Kompas, Sabtu, 9 April 2005
Oleh : Elok Dyah Messwati
USIANYA masih 13 tahun, tetapi kemampuan berpikir dan menulisnya melebihi teman-teman seusianya. Tak heran jika Raisa Aurora, siswa Kelas II SMP Negeri 12 Bekasi, Jawa Barat, mendapatkan penghargaan untuk penulis muda Indonesia bersama dengan Pratitou Arafat (siswa SMA Negeri 3 Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam).
PADA Lomba Penulisan Esai Remaja yang diselenggarakan oleh Unicef dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Raisa mengirim esai berjudul "Dari Temanku Asih, Aku Belajar Banyak".
Esainya bertutur tentang pengalamannya bergaul dengan Asih, teman sekelasnya saat kelas I SMP yang menderita down syndrom. Asih dipaksa bersekolah di sekolah umum, padahal kemampuannya mencerna pelajaran jauh di bawah rata-rata.
"Betapa ingin aku mengatakan padanya bahwa engkau punya hak untuk dimengerti, engkau punya hak untuk mendapat perawatan, pengasuhan, kasih sayang, dan pendidikan yang dibutuhkan seorang anak ’istimewa’ sepertimu," demikian cuplikan esainya.
Perasaan Raisa memang tertumpah dalam tulisannya. Bahkan ketika menerima penghargaan pekan lalu, ia sempat berhenti sejenak saat bertutur tentang Asih. Matanya berkaca-kaca. Beberapa juri menitikkan air mata ketika membaca karyanya.
Raisa mengaku, ia berusaha menulis dengan penuh perasaan, pengaruh dari tulisan Pramoedya Ananta Toer dan Lemony Snicket yang menulis A Series of Unfortunate Events.
Ketika hendak mengikuti lomba esai, sebenarnya Raisa ingin menulis mengenai hak anak-anak jalanan. Namun, saat ia memikirkan ide itu, ia bertemu dengan Asih. Asih bercerita tentang keluarganya, teman-temannya, dan apa yang ia rasakan. Muncullah keinginan Raisa untuk menulis kehidupan Asih.
Anak tunggal pasangan Abubakar Soeis (54) dan Jenny Rianita (40) ini kemudian membuat poin-poin tulisan per paragraf, lalu ia kembangkan saat mengetik di komputer-yang sudah ia kuasai sejak kelas III SD.
RAISA gemar menulis sejak kelas I SD. Saat itu ia minta dibelikan buku harian di mana ia bisa menuliskan semua perasaannya. Sejak kecil ia juga membuat puisi. Prestasi pertamanya diraih saat kelas III SD sebagai juara ketiga lomba mengarang "Andai Aku Punya Sayap" yang diselenggarakan sebuah restoran waralaba.
Kelas IV SD Raisa mengikuti lomba Konferensi Anak tentang Lingkungan Hidup yang diselenggarakan majalah Bobo dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2001. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota delegasi terpilih. Itu pengalaman yang sangat menyenangkan baginya. Seluruh delegasi dikarantina selama tiga hari di Hotel Santika Jakarta. Mereka belajar tentang lingkungan dengan suasana yang fun.
"Saya bertemu dengan Pak Emil Salim, Pak Sonny Keraf (Menteri Negara LH saat itu-Red), saya dapat kenang-kenangan pohon matoa. Kami diajar banyak hal tentang lingkungan hidup," kata Raisa, yang mengisi kesehariannya dengan kursus bahasa Inggris, berenang, dan gitar.
Berbagai prestasi ia raih. Ia, antara lain, menjadi pemenang harapan kedua Lomba "Menulis Surat untuk Presiden" tahun 2000, pemenang kedua Lomba Mengarang Esai tingkat SMP yang diselenggarakan oleh IKAP DKI Jaya tahun 2003.
Tahun 2004, tulisannya terpilih pada lomba yang sama yang diselenggarakan YKAI-Unicef. Ia pun menjadi pemenang pertama Lomba Membalas Surat Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer". Total 20 penghargaan ia dapatkan.
Menurut ibunya, Raisa bisa menulis puisi dengan unik. "Yang aneh, saat dia menulis puisi, puisinya tidak seperti puisi anak-anak. Kata-katanya tidak seperti anak-anak. Saya tidak mengerti dari mana ia mendapatkan kata-kata untuk puisinya," kata Jenny.
Raisa mengaku mendapatkan kata-kata untuk puisinya dari buku-buku yang ia baca. Saat kecil, selain berlangganan majalah Bobo, ia juga membaca buku dongeng yang halamannya tebal-tebal. Raisa memang suka sekali menulis karena melalui tulisan ia bisa mengungkapkan jalan pikirannya.
"Menulis itu sangat menyenangkan dan saya jadi lebih dewasa. Teman-teman sekelas saya bilang saya sok tua," tutur Raisa.
Kalau bicara dengan teman sebayanya, Raisa dianggap berbeda. Cara bicaranya seperti orang dewasa. "Padahal saya bicara biasa saja, tapi dianggap berbeda. Mungkin karena saya banyak membaca," kata Raisa, yang koleksi bukunya sampai empat lemari.
MENULIS tentu berkaitan dengan mengarang. Namun anehnya, Raisa tak terlalu menyukai cara pengajaran mengarang (pelajaran Bahasa Indonesia) di sekolah. Jika diminta mengarang, biasanya tema sudah ditentukan oleh guru, termasuk paragraf-paragrafnya.
"Kalau seperti itu caranya, isi paragraf sudah ditentukan, saya merasa terkekang. Mau nulis apa saya? Dari awalnya sudah tidak enak menulis kalau semua sudah ditentukan, tidak sesuai dengan jalan pikiran saya," kata Raisa.
Menurut Raisa, seharusnya pelajaran mengarang itu memberikan keleluasaan kepada murid. Murid cukup diberi tema yang menarik. Dengan demikian, minat untuk mengarang bisa bertumbuh.
Ia mengkritik pelajaran mengarang yang hanya menekankan pada teori dan jarang mengajarkan materi mengarang. "Padahal kalau menulis sendiri, kita bisa berkembang sendiri tanpa harus menggunakan teori," ucap Raisa.
Raisa juga mengungkapkan keprihatinannya atas isi majalah dinding (mading) di sekolahnya yang jarang diisi artikel yang bermanfaat untuk remaja, tetapi justru diisi dengan artikel seputar percintaan remaja. "Saya pikir itu karena pengaruh sinetron, sesuatu yang tidak nyata dan kita membuatnya menjadi kenyataan. Saya buat puisi dan artikel di mading, tidak ada yang baca. Saya tersiksa sekali menghadapi hal seperti itu," keluhnya.
Pengetahuannya yang demikian luas membuatnya kadang tak "nyambung" jika berbicara dengan temannya. "Saya bilang, ’Kemarin aku menang lomba membalas surat kepada Pramoedya lho.’ Teman saya balik tanya, ’Pramoedya itu siapa?’" tutur Raisa.
Raisa bercita-cita menjadi dokter hewan sekaligus penulis seperti James Herriot. Ia memiliki 15 kucing di rumahnya. "Saya sayang pada binatang, jadi saya tergerak jadi dokter hewan. Tapi saya juga ingin jadi wartawan BBC, bisa merambah ke mana-mana, subyeknya mendunia," kata Raisa Aurora yang bertekad terus menulis.
Sumber : Kompas, Sabtu, 9 April 2005
Makarim Wibisono
Lebih Jauh Dengan : Makarim Wibisono
Pewawancara : Nugroho F Yudho
ADA yang menarik dalam Sidang Ke-51 Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Komisi HAM PBB) yang digelar di Geneva, Swiss, mulai 15 Maret dan akan berakhir 22 April 2005 mendatang. Untuk tahun 2005, sidang Komnas HAM dipimpin oleh diplomat Indonesia, Makarim Wibisono. Menarik, karena Indonesia yang sering dicitrakan sebagai negara pelanggar HAM, kini justru tampil untuk pertama kali memimpin forum tertinggi di PBB untuk promosi dan perlindungan HAM.
Makarim, yang juga menjabat Wakil Tetap Indonesia di PBB Geneva, memang bukan orang baru di dunia diplomasi multilateral. Mantan wartawan lulusan Fisipol Universitas Gadjah Mada yang bergabung ke Departemen Luar Negeri sejak tahun 1972 itu, memang sudah malang melintang di dunia diplomasi. Awalnya, hingga tahun 1982, dia memang masih berkutat di dalam negeri dengan menjalani hampir semua direktorat di Departemen Luar Negeri. Setelah mengambil gelar master di The Paul Nitze School di John Hopkins University Washington DC (1984) dilanjutkan dengan master sekaligus gelar doktor di Political Economy di Ohio State University, Columbus, Ohio (1987), Makarim kembali ke Indonesia untuk setahun. Tapi sejak tahun 1988, ketika dia kembali ke AS menjadi Minister Counsellor di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Makarim mulai bergaul dengan perundingan multilateral sejak tahun 1991, ketika diangkat menjadi Minister Counsellor di Perwakilan Tetap RI di PBB, New York. Sejak itulah lelaki kelahiran Mataram, 8 Mei 1947 ini terus mengukir prestasinya sebagai diplomat multilateral mulai dari Grup 77, UNCTAD UNDP, ESCAP ASEAN, APEC, sampai IOR-ARC. Dia pernah menjadi Deputi Wakil Tetap Permanent Mission of Indonesia di PBB New York (1994-1997) dan Ketua Grup 77 (1998). Dia juga menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat President Economic and Social Council di PBB New York. Dia juga menjadi Ketua World Peace Assembly on Interreligious and Dialogue Among Civilizations di PBB (2000), serta Ketua Tim Antiterorisme untuk APEC (2003).
Terpilihnya Makarim bukan urusan mudah. Menurut Eddi Hariyadhi, Wakil Duta Besar RI di PTRI Geneva, setelah disetujui pemerintah di Jakarta, nama Makarim diusung lewat lobi di kelompok negara Asia di PBB. Makarim diajukan di tengah persaingan India, Pakistan, dan Jepang yang juga menginginkan posisi ketua Komisi HAM PBB untuk tahun 2005. Namun setelah melewati lobi intensif, justru ketiga negara itu ditambah China dan Korea Selatan yang memuluskan jalan Makarim memperebutkan posisi prestisius itu. Beberapa negara Asia serta kawasan dunia lain, akhirnya harus menerima kuatnya dukungan terhadap Makarim.
Empat bulan setelah ditugaskan memimpin Perwakilan Tetap RI di PBB Geneva September 2004, Makarim menduduki jabatan Ketua Sidang Komisi HAM PBB. Makarim kini tinggal di rumah dinas yang padat lalu lintas di Geneva bersama istrinya, Eny Sekarwati, yang dinikahinya sejak baru saja lulus kuliah tahun 1972. Tiga anaknya, yaitu Aria Teguh Mahendra (31), Adhy Surya Sidharta (30), dan Aryanti Wulan Savitri (29) tak satu pun yang ikut dengannya karena sudah tinggal di AS dan Indonesia. Di tengah tugas beratnya sekarang, Makarim harus menerima cobaan lain. Istrinya Eny sejak beberapa waktu lalu menderita penyakit kanker yang cukup berat. Tapi Eny terus mendampingi Makarim di Geneva. "Dari begitu banyak dukungan yang saya terima, yang paling memotivasi adalah dorongan istri saya. Dialah yang mendorong saya agar bisa membuktikan kemampuan dan kepemimpinan di Komisi HAM PBB ini. Tak ada yang lebih berarti dari dorongan istri saya," ujar Makarim yang di tengah ketatnya jadwal sidang menyediakan waktu untuk wawancara. Berikut petikannya.
SELAMA bertahun-tahun Indonesia sering menjadi sorotan, sasaran tembak sebagai pelanggar hak asasi manusia, kok berani tampil memimpin Sidang Komisi HAM PBB?
Isu hak asasi manusia adalah diplomatic matters, masalah diplomatik. Ada beberapa cara menghadapinya. Pertama, kita bersikap reaktif saja, yaitu defensif. Sehingga kita hanya bereaksi dan membela diri jika ada negara atau organisasi yang mempersoalkan pelaksanaan HAM di Indonesia. Tapi pendekatan defensif rasanya hanya cocok untuk masa lalu. Kini kita ccnderung memakai cara proaktif. Artinya, kita secara aktif menentukan agenda setting, kita yang mengarahkan pembahasan atau bahkan konsensus. Sekarang dan di masa-masa akan datang, kita harus tunjukkan kita sudah menjadi Indonesia baru.
Kita sudah memilih demokrasi sebagai cara kita hidup, cara berpolitik yang ingin kita tegakkan, termasuk hak asasi manusianya. Kita tunjukkan bahwa kita bangsa bermartabat. Sejarah menunjukkan bahwa kita mampu berkontribusi pada civilization, budaya luhur. Bahwa kita punya kisah hitam selama 32 tahun tidak demokratis, tidak berarti kita akan tetap begitu selamanya. Sejarah hitam itu sudah lewat. Sudah tutup buku. Dengan cara proaktif, kita bisa menunjukkan kita sudah berbeda. Kita tidak bisa menutup realitas bahwa masih ada kekurangan di sana-sini, tapi kita harus melihatnya secara menyeluruh. Kita harus berupaya agar masalah-masalah HAM tidak lagi dilihat secara selektif.
Selama ini kalau pelanggaran HAM terjadi di negara berkembang, sorotan begitu tajam diarahkan. Tapi jika terjadi di negara-negara maju, tidak dipersoalkan. Kita jangan cuma melihat HAM secara sepotong-sepotong. Jangan cuma persoalkan kebebasan berbicara (freedom of speech) atau kebebasan pers (freedom of the press) dan informasi (freedom of information), tapi juga right to food (hak untuk makan) atau right to shelter (hak atas perumahan yang layak) dan hak untuk membangun (right to develop). Jangan lagi kita memolitisasi isu HAM di forum-forum internasional.
Tapi bukankah pembahasan isu HAM memang sangat politis?
Justru karena itulah kita berinisiatif mengambil posisi pimpinan sidang. Kita ingin agar usaha promosi dan perlindungan HAM tidak selalu dipolitisasi. Sering kita terjebak pada perdebatan yang tidak menyentuh substansi pelanggaran HAM, tapi malah menuntut perubahan sistem politik sebuah negara, menjatuhkan atau mengganti pemerintahannya. Dengan memimpin Sidang Komisi HAM PBB, kita tunjukkan bahwa upaya yang harus dilakukan adalah memperbaiki keadaan agar perlindungan HAM bisa dilakukan maksimal, apa pun sistem pemerintahannya siapa pun penguasanya. Setelah perang dingin usai, masalah ideologi tidak lagi menggigit, tidak lagi banyak dipersoalkan. Yang kini berkembang adalah tema-tema yang perdebatannya bisa sekuat ideologi, seperti HAM, lingkungan hidup, atau prinsip-prinsip good governance.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan maupun High Level Panels Report yang dibentuknya, mengusulkan adanya reformasi di tubuh PBB. Apa masalahnya?
Begini. Tahun 2005 ini, PBB genap berusia 60 tahun. Di usianya yang sudah cukup lama ini, gereget PBB justru berkurang. Kepercayaan terhadap multilateralisme kini sedang di ambang bahaya. Gaungnya makin mengecil. Kini banyak langkah-langkah unilateral yang dilakukan tanpa mengindahkan lagi Piagam PBB. Negara bisa menyerang negara lain, tanpa otorisasi dari PBB, seperti yang dilakukan AS di Irak.
Berkurangnya kepercayaan terhadap multilateralisme ini juga terjadi dalam bidang HAM, seperti juga terasa di Komisi HAM PBB. Komisi ini kini juga punya masalah kredibilitas. Semakin banyak resolusi yang dilahirkan komisi tidak bisa secara efektif dilaksanakan di lapangan.
Apa Anda sendiri masih percaya pada efektivitas multilateralisme? Bukankah forum regional atau terbatas lebih efektif?
Saya sudah menekuni masalah-masalah di PBB sejak 1991. Selama itu pula saya melihat adanya dua kubu yang berkembang dalam manajemen di forum internasional. Ada yang percaya pada forum multilateral. Tapi tidak banyak juga yang meragukan efektivitas multilateral karena dianggap bertele-tele dan hanya bisa merumuskan hal-hal berjangka panjang. Mereka memilih untuk penyelesaian lebih mudah, cepat, dan responsif terhadap perkembangan masalah, lewat pengelompokan yang lebih kecil. Barangkali di satu sisi hal itu ada betulnya. Tapi yang harus disadari adalah inti dari multilateralisme adalah kerja sama internasional yang inklusif dengan hasil yang lebih kokoh, karena melibatkan semua pihak.
Semua pihak, semua negara, duduk bersama-sama, mencari konsensus dengan prinsip kesetaraan. Tidak ada eksklusivisme. Tidak ada satu negara yang lebih penting dari negara lain sehingga bisa diberi hak veto atau keistimewaan apa pun. Cara-cara eksklusif seperti yang terjadi di Dewan Keamanan PBB adalah cara yang menjauhkan masyarakat internasional dari prinsip demokrasi. Mengapa harus ada negara-negara yang punya hak veto. Anehnya negara-negara yang mengaku pendekar demokrasi-dan setiap saat mendesak negara berkembang agar menjunjung tinggi demokrasi-justru mengingkari prinsip demokrasi dalam forum internasional. Mana mau Dewan Keamanan PBB bicara dengan Indonesia secara setara? Itu tidak fair, itu tidak demokratis.
Prinsip demokrasi harusnya tidak hanya diterapkan di tingkat nasional, tapi juga kerja sama internasional. Saya yakin multilateralisme adalah cara paling baik dan benar, apalagi di Komisi HAM PBB ini. Kita harus democratize Komisi HAM PBB. Tidak boleh ada bangsa yang dibiarkan merasa lebih tinggi dari bangsa lain. Saya percaya pada multilateralisme dan itulah yang harus kita perjuangkan.
Apa ada hasil konkretnya?
Ada. Saya baru saja berhasil mengajak semua negara-negara anggota Komisi HAM PBB untuk mau menggelar informal meeting atau pertemuan informal pada 12 April minggu depan untuk membahas upaya reformasi Komisi HAM PBB, seperti yang diusulkan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan serta High Level Panels bentukan Sekjen PBB. Ini bukan forum special sitting, yang memang dimungkinkan oleh mekanisme sidang Komisi HAM PBB. Special sitting bisa digelar secara paralel dengan sidang untuk membahas isu tertentu. Tapi biasanya pesertanya terbatas pada negara-negara yang berkaitan dengan isu tertentu. Kali ini, informal meeting melibatkan semua anggota.
Sejak dibentuk 59 tahun lalu, baru dalam sidang kali inilah, kita punya forum baru yang namanya informal meeting, yang digelar bersamaan dengan berlangsungnya sidang Komisi HAM PBB. Awalnya tidak ada negara yang setuju dengan gagasan itu. Beberapa negara malah bereaksi keras menolak. Tapi lewat lobi dan pendekatan, saya mempertanyakan sikap mereka yang menolak. Mengapa kita harus menolak munculnya gagasan atau konsep baru tentang perlindungan HAM. Kalau Komisi HAM PBB tidak mau membahas, forum apa lagi yang akan membahas.
Akhirnya semua mendukung gagasan informal meeting itu. Maklumlah, karena sudah terbiasa dengan politisasi isu-isu HAM, hal-hal yang bersifat konsep malah sering diabaikan, hanya karena dampak politiknya kurang kuat. Informal meeting itu memang belum tentu menghasilkan konsensus yang konkret. Tapi apa pun hasilnya, acara ini akan memberi gaung baru pada bekerjanya mekanisme multilateral di Komisi HAM PBB.
Saya sendiri tidak yakin reformasi Komisi HAM PBB akan terlaksana dalam waktu dekat. Sebab, dengan reformasi itu, Kofi Anan mengusulkan agar Komisi HAM PBB diubah menjadi Human Rights Council, tidak lagi berada di bawah Ecosoc, tapi menjadi sejajar dengan Dewan Keamanan PBB dan Sidang Umum (General Assembly) PBB. Ini ideal sekali. Tapi harus diakui bukan hal mudah, karena negara-negara maju cenderung menolak, apalagi di dalamnya tidak ada eksklusivitas. Tidak ada negara yang punya hak veto seperti di DK PBB.
Bagaimana dengan gagasan agar Komisi HAM PBB membuat global report atas pelaksanaan HAM di seluruh dunia?
Gagasan itu bagus sekali dan sudah muncul sejak tiga-empat tahun terakhir. Masalahnya, Komisi HAM PBB tak punya kapasitas untuk melakukan global report atas seluruh 191 negara. Kita tidak cukup equipped untuk melakukan itu. Sekretariat Komisi HAM PBB hanya punya 200 staf dan anggarannya hanya dua persen dari total budget PBB. Tanpa adanya global report saja, Komisi HAM PBB menerima sekitar 17.000 laporan pelanggaran HAM setiap tahun. Gagasan agar semua negara menyerahkan 0,7 persen dari GNP-nya sampai sekarang tidak juga jalan.
Buat Indonesia sendiri, apa arti kepemimpinan Anda di Komisi HAM PBB?
Saya berharap bisa membuka mata hati semua elemen bangsa di Indonesia bahwa masalah HAM sudah menjadi arus utama global. Jangan lagi memandang HAM sebagai masalah yang harmful, yang merugikan kepentingan nasional. Penghargaan dan perlindungan HAM justru akan meningkatkan kualitas hidup bangsa. HAM adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan kita sebagai bangsa. Indonesia adalah bangsa bermartabat, yang tahu apa arti humanisme. Artinya, dalam kompetisi globalisasi, kita bukan bangsa nomor dua. Kita jangan lagi punya inferiority complex. Kita harus punya dignity. Pelanggaran HAM adalah masalah dunia yang terjadi di mana saja, termasuk di negara-negara maju yang dikenal sebagai pendekar demokrasi.
Bagaimana rasanya memimpin Komisi HAM PBB, berbanding lembaga lain di PBB?
Sejak hampir 15 tahun bermain di dunia diplomasi multilateral, Komisi HAM PBB adalah tempat paling berat. Ini menyangkut dignity, sehingga semua negara, apalagi NGO (nongovernmen organization) menjadi sangat sensitif soal HAM. Di sini dimensi sensitivitasnya tinggi. Di sini semua delegasi bicara dengan nada tinggi, cepat meledak. Di Ecosoc, misalnya, kita bisa bicara soal ketimpangan negara maju dan negara berkembang dari tahun ke tahun dengan nada bicara yang sama. Tapi di sini, pelanggaran HAM begitu bervariasi. Inggris yang dikenal pembela HAM, misalnya, tiba-tiba menjadi begitu defensif ketika delegasi dari Irlandia Utara mempersoalkan terbunuhnya hakim di sana. Semuanya emosi. Sebagai ketua saya harus belajar untuk mendengar dan secara sabar menampung semua ledakan emosi itu. Level kemarahan orang di sini, tiga sampai empat kali lebih peka dibanding semua lembaga PBB yang pernah saya masuki.
NGO menambah ramai sidang, apa tidak menyulitkan?
Dibanding semua lembaga PBB lain, tidak ada lembaga lain yang seperti Komisi HAM PBB, yang memberikan keterlibatan begitu besar pada NGO. Ini menjadi bagian penting dari perlindungan HAM, karena dari tangan merekalah pelanggaran berbagai aspek HAM diangkat untuk dicari jalan keluarnya. Ada yang memang berangkat dari humanisme, tapi tidak sedikit juga yang membawa agenda tertentu atau menjadi kelompok penekan untuk kepentingan negara tertentu. Tapi itu sah-sah saja dalam demokrasi kan. Ide melibatkan NGO itu merupakan terobosan penting yang bagus. Kalaupun ada yang mengganjal adalah jumlahnya terlalu banyak dan masalah yang mereka sampaikan sering kali sama atau tumpang tindih.
Anda lihat sendiri kan, untuk satu topik saja, jumlah NGO yang bicara bisa 110 delegasi. Padahal kita punya belasan topik di sidang. Mengapa begitu banyak, maka yang mesti menjawab adalah komite NGO di Ecosoc. Sebab, merekalah yang memberi dan mengevaluasi akreditasi sekitar 1.200 NGO setiap tahun. Syukur-syukur kalau di antara mereka sendiri ada kerja sama sehingga untuk masalah-masalah yang sama, mereka bisa bergabung. Saya sendiri banyak meluangkan waktu untuk berdialog dengan mereka, sebelum atau bahkan secara paralel dengan sidang-sidang. Memang dibanding lembaga PBB lain, Komisi HAM PBB terasa agar hiruk-pikuk, ramai oleh pernyataan, aksi, atau diskusi paralel yang digelar bersamaan dengan sidang. Pengambilan keputusan memang dilakukan hanya oleh negara. Tapi sebelum keputusan, biasanya di luar sidang lobi gencar dilakukan, bukan saja antarnegara, tapi juga melibatkan NGO. Tapi bukankah itu bagian dari indahnya demokrasi.
Sumber : Kompas, Minggu, 10 April 2005
Pewawancara : Nugroho F Yudho
ADA yang menarik dalam Sidang Ke-51 Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Komisi HAM PBB) yang digelar di Geneva, Swiss, mulai 15 Maret dan akan berakhir 22 April 2005 mendatang. Untuk tahun 2005, sidang Komnas HAM dipimpin oleh diplomat Indonesia, Makarim Wibisono. Menarik, karena Indonesia yang sering dicitrakan sebagai negara pelanggar HAM, kini justru tampil untuk pertama kali memimpin forum tertinggi di PBB untuk promosi dan perlindungan HAM.
Makarim, yang juga menjabat Wakil Tetap Indonesia di PBB Geneva, memang bukan orang baru di dunia diplomasi multilateral. Mantan wartawan lulusan Fisipol Universitas Gadjah Mada yang bergabung ke Departemen Luar Negeri sejak tahun 1972 itu, memang sudah malang melintang di dunia diplomasi. Awalnya, hingga tahun 1982, dia memang masih berkutat di dalam negeri dengan menjalani hampir semua direktorat di Departemen Luar Negeri. Setelah mengambil gelar master di The Paul Nitze School di John Hopkins University Washington DC (1984) dilanjutkan dengan master sekaligus gelar doktor di Political Economy di Ohio State University, Columbus, Ohio (1987), Makarim kembali ke Indonesia untuk setahun. Tapi sejak tahun 1988, ketika dia kembali ke AS menjadi Minister Counsellor di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Makarim mulai bergaul dengan perundingan multilateral sejak tahun 1991, ketika diangkat menjadi Minister Counsellor di Perwakilan Tetap RI di PBB, New York. Sejak itulah lelaki kelahiran Mataram, 8 Mei 1947 ini terus mengukir prestasinya sebagai diplomat multilateral mulai dari Grup 77, UNCTAD UNDP, ESCAP ASEAN, APEC, sampai IOR-ARC. Dia pernah menjadi Deputi Wakil Tetap Permanent Mission of Indonesia di PBB New York (1994-1997) dan Ketua Grup 77 (1998). Dia juga menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat President Economic and Social Council di PBB New York. Dia juga menjadi Ketua World Peace Assembly on Interreligious and Dialogue Among Civilizations di PBB (2000), serta Ketua Tim Antiterorisme untuk APEC (2003).
Terpilihnya Makarim bukan urusan mudah. Menurut Eddi Hariyadhi, Wakil Duta Besar RI di PTRI Geneva, setelah disetujui pemerintah di Jakarta, nama Makarim diusung lewat lobi di kelompok negara Asia di PBB. Makarim diajukan di tengah persaingan India, Pakistan, dan Jepang yang juga menginginkan posisi ketua Komisi HAM PBB untuk tahun 2005. Namun setelah melewati lobi intensif, justru ketiga negara itu ditambah China dan Korea Selatan yang memuluskan jalan Makarim memperebutkan posisi prestisius itu. Beberapa negara Asia serta kawasan dunia lain, akhirnya harus menerima kuatnya dukungan terhadap Makarim.
Empat bulan setelah ditugaskan memimpin Perwakilan Tetap RI di PBB Geneva September 2004, Makarim menduduki jabatan Ketua Sidang Komisi HAM PBB. Makarim kini tinggal di rumah dinas yang padat lalu lintas di Geneva bersama istrinya, Eny Sekarwati, yang dinikahinya sejak baru saja lulus kuliah tahun 1972. Tiga anaknya, yaitu Aria Teguh Mahendra (31), Adhy Surya Sidharta (30), dan Aryanti Wulan Savitri (29) tak satu pun yang ikut dengannya karena sudah tinggal di AS dan Indonesia. Di tengah tugas beratnya sekarang, Makarim harus menerima cobaan lain. Istrinya Eny sejak beberapa waktu lalu menderita penyakit kanker yang cukup berat. Tapi Eny terus mendampingi Makarim di Geneva. "Dari begitu banyak dukungan yang saya terima, yang paling memotivasi adalah dorongan istri saya. Dialah yang mendorong saya agar bisa membuktikan kemampuan dan kepemimpinan di Komisi HAM PBB ini. Tak ada yang lebih berarti dari dorongan istri saya," ujar Makarim yang di tengah ketatnya jadwal sidang menyediakan waktu untuk wawancara. Berikut petikannya.
SELAMA bertahun-tahun Indonesia sering menjadi sorotan, sasaran tembak sebagai pelanggar hak asasi manusia, kok berani tampil memimpin Sidang Komisi HAM PBB?
Isu hak asasi manusia adalah diplomatic matters, masalah diplomatik. Ada beberapa cara menghadapinya. Pertama, kita bersikap reaktif saja, yaitu defensif. Sehingga kita hanya bereaksi dan membela diri jika ada negara atau organisasi yang mempersoalkan pelaksanaan HAM di Indonesia. Tapi pendekatan defensif rasanya hanya cocok untuk masa lalu. Kini kita ccnderung memakai cara proaktif. Artinya, kita secara aktif menentukan agenda setting, kita yang mengarahkan pembahasan atau bahkan konsensus. Sekarang dan di masa-masa akan datang, kita harus tunjukkan kita sudah menjadi Indonesia baru.
Kita sudah memilih demokrasi sebagai cara kita hidup, cara berpolitik yang ingin kita tegakkan, termasuk hak asasi manusianya. Kita tunjukkan bahwa kita bangsa bermartabat. Sejarah menunjukkan bahwa kita mampu berkontribusi pada civilization, budaya luhur. Bahwa kita punya kisah hitam selama 32 tahun tidak demokratis, tidak berarti kita akan tetap begitu selamanya. Sejarah hitam itu sudah lewat. Sudah tutup buku. Dengan cara proaktif, kita bisa menunjukkan kita sudah berbeda. Kita tidak bisa menutup realitas bahwa masih ada kekurangan di sana-sini, tapi kita harus melihatnya secara menyeluruh. Kita harus berupaya agar masalah-masalah HAM tidak lagi dilihat secara selektif.
Selama ini kalau pelanggaran HAM terjadi di negara berkembang, sorotan begitu tajam diarahkan. Tapi jika terjadi di negara-negara maju, tidak dipersoalkan. Kita jangan cuma melihat HAM secara sepotong-sepotong. Jangan cuma persoalkan kebebasan berbicara (freedom of speech) atau kebebasan pers (freedom of the press) dan informasi (freedom of information), tapi juga right to food (hak untuk makan) atau right to shelter (hak atas perumahan yang layak) dan hak untuk membangun (right to develop). Jangan lagi kita memolitisasi isu HAM di forum-forum internasional.
Tapi bukankah pembahasan isu HAM memang sangat politis?
Justru karena itulah kita berinisiatif mengambil posisi pimpinan sidang. Kita ingin agar usaha promosi dan perlindungan HAM tidak selalu dipolitisasi. Sering kita terjebak pada perdebatan yang tidak menyentuh substansi pelanggaran HAM, tapi malah menuntut perubahan sistem politik sebuah negara, menjatuhkan atau mengganti pemerintahannya. Dengan memimpin Sidang Komisi HAM PBB, kita tunjukkan bahwa upaya yang harus dilakukan adalah memperbaiki keadaan agar perlindungan HAM bisa dilakukan maksimal, apa pun sistem pemerintahannya siapa pun penguasanya. Setelah perang dingin usai, masalah ideologi tidak lagi menggigit, tidak lagi banyak dipersoalkan. Yang kini berkembang adalah tema-tema yang perdebatannya bisa sekuat ideologi, seperti HAM, lingkungan hidup, atau prinsip-prinsip good governance.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan maupun High Level Panels Report yang dibentuknya, mengusulkan adanya reformasi di tubuh PBB. Apa masalahnya?
Begini. Tahun 2005 ini, PBB genap berusia 60 tahun. Di usianya yang sudah cukup lama ini, gereget PBB justru berkurang. Kepercayaan terhadap multilateralisme kini sedang di ambang bahaya. Gaungnya makin mengecil. Kini banyak langkah-langkah unilateral yang dilakukan tanpa mengindahkan lagi Piagam PBB. Negara bisa menyerang negara lain, tanpa otorisasi dari PBB, seperti yang dilakukan AS di Irak.
Berkurangnya kepercayaan terhadap multilateralisme ini juga terjadi dalam bidang HAM, seperti juga terasa di Komisi HAM PBB. Komisi ini kini juga punya masalah kredibilitas. Semakin banyak resolusi yang dilahirkan komisi tidak bisa secara efektif dilaksanakan di lapangan.
Apa Anda sendiri masih percaya pada efektivitas multilateralisme? Bukankah forum regional atau terbatas lebih efektif?
Saya sudah menekuni masalah-masalah di PBB sejak 1991. Selama itu pula saya melihat adanya dua kubu yang berkembang dalam manajemen di forum internasional. Ada yang percaya pada forum multilateral. Tapi tidak banyak juga yang meragukan efektivitas multilateral karena dianggap bertele-tele dan hanya bisa merumuskan hal-hal berjangka panjang. Mereka memilih untuk penyelesaian lebih mudah, cepat, dan responsif terhadap perkembangan masalah, lewat pengelompokan yang lebih kecil. Barangkali di satu sisi hal itu ada betulnya. Tapi yang harus disadari adalah inti dari multilateralisme adalah kerja sama internasional yang inklusif dengan hasil yang lebih kokoh, karena melibatkan semua pihak.
Semua pihak, semua negara, duduk bersama-sama, mencari konsensus dengan prinsip kesetaraan. Tidak ada eksklusivisme. Tidak ada satu negara yang lebih penting dari negara lain sehingga bisa diberi hak veto atau keistimewaan apa pun. Cara-cara eksklusif seperti yang terjadi di Dewan Keamanan PBB adalah cara yang menjauhkan masyarakat internasional dari prinsip demokrasi. Mengapa harus ada negara-negara yang punya hak veto. Anehnya negara-negara yang mengaku pendekar demokrasi-dan setiap saat mendesak negara berkembang agar menjunjung tinggi demokrasi-justru mengingkari prinsip demokrasi dalam forum internasional. Mana mau Dewan Keamanan PBB bicara dengan Indonesia secara setara? Itu tidak fair, itu tidak demokratis.
Prinsip demokrasi harusnya tidak hanya diterapkan di tingkat nasional, tapi juga kerja sama internasional. Saya yakin multilateralisme adalah cara paling baik dan benar, apalagi di Komisi HAM PBB ini. Kita harus democratize Komisi HAM PBB. Tidak boleh ada bangsa yang dibiarkan merasa lebih tinggi dari bangsa lain. Saya percaya pada multilateralisme dan itulah yang harus kita perjuangkan.
Apa ada hasil konkretnya?
Ada. Saya baru saja berhasil mengajak semua negara-negara anggota Komisi HAM PBB untuk mau menggelar informal meeting atau pertemuan informal pada 12 April minggu depan untuk membahas upaya reformasi Komisi HAM PBB, seperti yang diusulkan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan serta High Level Panels bentukan Sekjen PBB. Ini bukan forum special sitting, yang memang dimungkinkan oleh mekanisme sidang Komisi HAM PBB. Special sitting bisa digelar secara paralel dengan sidang untuk membahas isu tertentu. Tapi biasanya pesertanya terbatas pada negara-negara yang berkaitan dengan isu tertentu. Kali ini, informal meeting melibatkan semua anggota.
Sejak dibentuk 59 tahun lalu, baru dalam sidang kali inilah, kita punya forum baru yang namanya informal meeting, yang digelar bersamaan dengan berlangsungnya sidang Komisi HAM PBB. Awalnya tidak ada negara yang setuju dengan gagasan itu. Beberapa negara malah bereaksi keras menolak. Tapi lewat lobi dan pendekatan, saya mempertanyakan sikap mereka yang menolak. Mengapa kita harus menolak munculnya gagasan atau konsep baru tentang perlindungan HAM. Kalau Komisi HAM PBB tidak mau membahas, forum apa lagi yang akan membahas.
Akhirnya semua mendukung gagasan informal meeting itu. Maklumlah, karena sudah terbiasa dengan politisasi isu-isu HAM, hal-hal yang bersifat konsep malah sering diabaikan, hanya karena dampak politiknya kurang kuat. Informal meeting itu memang belum tentu menghasilkan konsensus yang konkret. Tapi apa pun hasilnya, acara ini akan memberi gaung baru pada bekerjanya mekanisme multilateral di Komisi HAM PBB.
Saya sendiri tidak yakin reformasi Komisi HAM PBB akan terlaksana dalam waktu dekat. Sebab, dengan reformasi itu, Kofi Anan mengusulkan agar Komisi HAM PBB diubah menjadi Human Rights Council, tidak lagi berada di bawah Ecosoc, tapi menjadi sejajar dengan Dewan Keamanan PBB dan Sidang Umum (General Assembly) PBB. Ini ideal sekali. Tapi harus diakui bukan hal mudah, karena negara-negara maju cenderung menolak, apalagi di dalamnya tidak ada eksklusivitas. Tidak ada negara yang punya hak veto seperti di DK PBB.
Bagaimana dengan gagasan agar Komisi HAM PBB membuat global report atas pelaksanaan HAM di seluruh dunia?
Gagasan itu bagus sekali dan sudah muncul sejak tiga-empat tahun terakhir. Masalahnya, Komisi HAM PBB tak punya kapasitas untuk melakukan global report atas seluruh 191 negara. Kita tidak cukup equipped untuk melakukan itu. Sekretariat Komisi HAM PBB hanya punya 200 staf dan anggarannya hanya dua persen dari total budget PBB. Tanpa adanya global report saja, Komisi HAM PBB menerima sekitar 17.000 laporan pelanggaran HAM setiap tahun. Gagasan agar semua negara menyerahkan 0,7 persen dari GNP-nya sampai sekarang tidak juga jalan.
Buat Indonesia sendiri, apa arti kepemimpinan Anda di Komisi HAM PBB?
Saya berharap bisa membuka mata hati semua elemen bangsa di Indonesia bahwa masalah HAM sudah menjadi arus utama global. Jangan lagi memandang HAM sebagai masalah yang harmful, yang merugikan kepentingan nasional. Penghargaan dan perlindungan HAM justru akan meningkatkan kualitas hidup bangsa. HAM adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan kita sebagai bangsa. Indonesia adalah bangsa bermartabat, yang tahu apa arti humanisme. Artinya, dalam kompetisi globalisasi, kita bukan bangsa nomor dua. Kita jangan lagi punya inferiority complex. Kita harus punya dignity. Pelanggaran HAM adalah masalah dunia yang terjadi di mana saja, termasuk di negara-negara maju yang dikenal sebagai pendekar demokrasi.
Bagaimana rasanya memimpin Komisi HAM PBB, berbanding lembaga lain di PBB?
Sejak hampir 15 tahun bermain di dunia diplomasi multilateral, Komisi HAM PBB adalah tempat paling berat. Ini menyangkut dignity, sehingga semua negara, apalagi NGO (nongovernmen organization) menjadi sangat sensitif soal HAM. Di sini dimensi sensitivitasnya tinggi. Di sini semua delegasi bicara dengan nada tinggi, cepat meledak. Di Ecosoc, misalnya, kita bisa bicara soal ketimpangan negara maju dan negara berkembang dari tahun ke tahun dengan nada bicara yang sama. Tapi di sini, pelanggaran HAM begitu bervariasi. Inggris yang dikenal pembela HAM, misalnya, tiba-tiba menjadi begitu defensif ketika delegasi dari Irlandia Utara mempersoalkan terbunuhnya hakim di sana. Semuanya emosi. Sebagai ketua saya harus belajar untuk mendengar dan secara sabar menampung semua ledakan emosi itu. Level kemarahan orang di sini, tiga sampai empat kali lebih peka dibanding semua lembaga PBB yang pernah saya masuki.
NGO menambah ramai sidang, apa tidak menyulitkan?
Dibanding semua lembaga PBB lain, tidak ada lembaga lain yang seperti Komisi HAM PBB, yang memberikan keterlibatan begitu besar pada NGO. Ini menjadi bagian penting dari perlindungan HAM, karena dari tangan merekalah pelanggaran berbagai aspek HAM diangkat untuk dicari jalan keluarnya. Ada yang memang berangkat dari humanisme, tapi tidak sedikit juga yang membawa agenda tertentu atau menjadi kelompok penekan untuk kepentingan negara tertentu. Tapi itu sah-sah saja dalam demokrasi kan. Ide melibatkan NGO itu merupakan terobosan penting yang bagus. Kalaupun ada yang mengganjal adalah jumlahnya terlalu banyak dan masalah yang mereka sampaikan sering kali sama atau tumpang tindih.
Anda lihat sendiri kan, untuk satu topik saja, jumlah NGO yang bicara bisa 110 delegasi. Padahal kita punya belasan topik di sidang. Mengapa begitu banyak, maka yang mesti menjawab adalah komite NGO di Ecosoc. Sebab, merekalah yang memberi dan mengevaluasi akreditasi sekitar 1.200 NGO setiap tahun. Syukur-syukur kalau di antara mereka sendiri ada kerja sama sehingga untuk masalah-masalah yang sama, mereka bisa bergabung. Saya sendiri banyak meluangkan waktu untuk berdialog dengan mereka, sebelum atau bahkan secara paralel dengan sidang-sidang. Memang dibanding lembaga PBB lain, Komisi HAM PBB terasa agar hiruk-pikuk, ramai oleh pernyataan, aksi, atau diskusi paralel yang digelar bersamaan dengan sidang. Pengambilan keputusan memang dilakukan hanya oleh negara. Tapi sebelum keputusan, biasanya di luar sidang lobi gencar dilakukan, bukan saja antarnegara, tapi juga melibatkan NGO. Tapi bukankah itu bagian dari indahnya demokrasi.
Sumber : Kompas, Minggu, 10 April 2005
Endang Wiharso, Energi Seni Kulit Telur
Jun 28, 2009
Entang Wiharso, Energi Seni Kulit Telur
Oleh : Efix Mulyadi
Para bakul telur puyuh mendapat rekanan baru yang unik: seorang perupa. Sang perupa tidak membeli isi untuk dimakan, melainkan hanya kulit semata untuk bahan pembuatan karya-karya seni.
"Semula saya beli telur puyuh untuk mendapat kulitnya. Lama-lama terpikir, wah, jadi mahal banget nih. Akhirnya saya temui bakul untuk membeli khusus kulitnya saja," tutur Entang Wiharso selagi asyik mengawasi pemasangan sejumlah patung atau obyek dari seni instalasinya untuk pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tanggal 8-17 April 2005. Pameran tunggalnya yang ke-14 ini bertajuk "Inter-Eruption".
Bagian permukaan patung dari bahan resin ia lapisi kulit telur dengan lem kayu. Jadilah permukaan patung, yang umum menggambarkan manusia atau makhluk mirip manusia, menjadi kasar. Warnanya didominasi oleh bercak coklat tua atau putih padam, yaitu warna asli kulit telur itu.
"Saya minta para bakul itu mengupas telur dengan hati-hati sehingga bisa diperoleh kulit-kulit dengan bentangan luas. Mereka mau. Rupanya mereka senang karena menjual kulit itu artinya sekaligus membuang sampah basah yang bau bukan main. Giliran saya yang terkena bau, he-he-he...," katanya tentang kulit telur yang mesti dijemur sampai setengah kering agar masih tetap lentur, sementara bau ikut pergi.
Justru berkat sifat gampang retak atau pecah itulah kulit telur menjadi berharga bagi dunia seni.
"Tiga teman yang mengerjakannya menjadi lebih berhati-hati agar tetap utuh ketika ditempel. Fragility itu yang saya cari. Saya menempelnya ke patung manusia seperti memberi sifat rapuh manusia kepada karya-karya tersebut," tutur Entang yang menampilkan karya kulit telur puyuh pertama kali untuk pamerannya di CP Artspace Jakarta pada tahun 2004.
Butuh berbulan-bulan lamanya untuk menemukan metafor yang tepat seperti itu. Pada awalnya ia tertarik pada cara tradisional ketika mencari telur ayam yang baik, yaitu dengan cara menerawangnya. Hal itu muncul untuk karyanya In the Name of President seiring dengan kesibukan orang Indonesia memilih pemimpin yang baru.
Ia lukis tubuh-tubuh yang koyak di kanvas ekstra besar untuk mengungkap kecemasan, ketegangan, atau teror yang membuat masyarakat sakit jiwa. Ia memasang ratusan biji mata seukuran kepalan tangan, gergaji, atau boneka untuk seni instalasinya di dalam kisah senada.
Memang berbagai pengalaman personal, yang tak jarang ternyata juga menyuarakan pengalaman bersama, menjadi semangat keseniannya. Tinggal di berbagai wilayah budaya, yaitu Tegal, Yogyakarta, dan sempat di Jakarta, menyuburkan pengalaman tersebut. Pengalaman Indonesia yang bangkrut, munculnya ancaman diskriminasi atas nama nilai tertentu, ikut memicu pencarian metafor yang tepat guna seperti kulit telur puyuh.
Belakangan, sesudah menikah dengan warga Amerika Serikat keturunan Italia, ia memasuki kancah perbenturan budaya juga dengan intensitas yang berbeda. Bersama keluarga ia bermukim di Kalasan, Yogyakarta, dan di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ketegangan budaya itu diimbuh dengan peristiwa 11 September, yang membuat banyak warga Amerika paranoid.
"Waktu itu keluar rumah sendirian terasa ngeri. Suhu patriotisme naik. Kalau paspor kita Indonesia, diperiksanya lebih lama dan rumit," tutur Entang tentang pengalaman tidak enak pada bulan-bulan selepas kejadian mencekam tersebut. "Saya naik pesawat Northwest, pesawat pertama yang masuk ke AS selepas 11 September. Saya diinterogasi selama tiga jam di Amsterdam."
Pengalaman seperti itu memicu kelahiran sejumlah karya, antara lain Portrait in the Gold Rain-disertakan di dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini. Lukisan tersebut membuat batal pameran tunggalnya di Rhode Island, AS, bulan Januari 2003. Ia menolak permintaan pihak galeri agar lukisan itu tidak disertakan karena menganggapnya illegal, jorok, dan menjurus seksual. Isi lukisan menonjolkan satu sosok lelaki telanjang tengah berjongkok.
"Saya tidak suka hal jorok, dan persoalan di lukisan itu juga bukan seksual. Saya ingin menggambarkan manusia yang ditindas oleh sistem, didiskriminasi, dilabelisasi, disisihkan, sampai terkentut-kentut," kata Entang.
Pencekalan itu memicu solidaritas para seniman setempat maupun para kurator, yang memindahkan pameran Entang ke tempat lain. Peristiwa yang terjadi di negara kampiun demokrasi itu menyulut dukungan di berbagai media massa terhadap seniman warga Indonesia tersebut. Sempat dibuat pula diskusi untuk membela haknya sebagai seniman.
Tinggal di AS juga membuatnya akrab dengan ikon dunia kartun seperti Bart Simpson, yang kemudian ia comot untuk karyanya. "Kartun Bart Simpson itu mengungkap masalah kita, manusia biasa di dalam kehidupan sehari-hari, bukan manusia super," tuturnya.
Belakangan sejumlah lukisan maupun karya instalasinya menampilkan sosok berkuping lebar mirip Teddy Bear. Boneka kesayangan anak itu ia sulap menjadi simbol Amerika, yang banyak dipuja tetapi lebih banyak lagi yang membenci.
"Saya tertarik ketika Dominic lahir, banyak kado berupa Teddy Bear. Saya tanya ke istri, apa maknanya? Ternyata itu berangkat dari kisah seorang Teddy Roosevelt, pemimpin Amerika saat itu, menyelamatkan bayi beruang," tutur Entang. Dominic Ensar Wiharso dan Marco Emil Wiharso adalah buah pernikahannya dengan Christine Cocca tahun 1997. Christine seorang ahli sejarah seni dan kini mengurus aktivitas seni suaminya.
Lelaki kelahiran Tegal, 19 Agustus 1967, ini menjalani masa mahasiswanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan kerja keras. Ia sempat cuti kuliah untuk membantu keluarga mengelola bisnis makanan kaki lima di Jakarta, yang dikenal sebagai "warung tegal".
Kini secara ekonomi kehidupannya sangat baik, tetapi sebagai seniman ia tak hendak mapan di dalam arti berhenti "mencari". Pamerannya di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Jumat (8/4) malam lalu membuktikan hal itu. Ia terpilih bersama tiga seniman lain untuk tampil di dalam Biennale Venesia pada bulan Juni tahun ini. (EFIX MULYADI)
Sumber : Kompas, Senin, 11 April 2005
Oleh : Efix Mulyadi
Para bakul telur puyuh mendapat rekanan baru yang unik: seorang perupa. Sang perupa tidak membeli isi untuk dimakan, melainkan hanya kulit semata untuk bahan pembuatan karya-karya seni.
"Semula saya beli telur puyuh untuk mendapat kulitnya. Lama-lama terpikir, wah, jadi mahal banget nih. Akhirnya saya temui bakul untuk membeli khusus kulitnya saja," tutur Entang Wiharso selagi asyik mengawasi pemasangan sejumlah patung atau obyek dari seni instalasinya untuk pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tanggal 8-17 April 2005. Pameran tunggalnya yang ke-14 ini bertajuk "Inter-Eruption".
Bagian permukaan patung dari bahan resin ia lapisi kulit telur dengan lem kayu. Jadilah permukaan patung, yang umum menggambarkan manusia atau makhluk mirip manusia, menjadi kasar. Warnanya didominasi oleh bercak coklat tua atau putih padam, yaitu warna asli kulit telur itu.
"Saya minta para bakul itu mengupas telur dengan hati-hati sehingga bisa diperoleh kulit-kulit dengan bentangan luas. Mereka mau. Rupanya mereka senang karena menjual kulit itu artinya sekaligus membuang sampah basah yang bau bukan main. Giliran saya yang terkena bau, he-he-he...," katanya tentang kulit telur yang mesti dijemur sampai setengah kering agar masih tetap lentur, sementara bau ikut pergi.
Justru berkat sifat gampang retak atau pecah itulah kulit telur menjadi berharga bagi dunia seni.
"Tiga teman yang mengerjakannya menjadi lebih berhati-hati agar tetap utuh ketika ditempel. Fragility itu yang saya cari. Saya menempelnya ke patung manusia seperti memberi sifat rapuh manusia kepada karya-karya tersebut," tutur Entang yang menampilkan karya kulit telur puyuh pertama kali untuk pamerannya di CP Artspace Jakarta pada tahun 2004.
Butuh berbulan-bulan lamanya untuk menemukan metafor yang tepat seperti itu. Pada awalnya ia tertarik pada cara tradisional ketika mencari telur ayam yang baik, yaitu dengan cara menerawangnya. Hal itu muncul untuk karyanya In the Name of President seiring dengan kesibukan orang Indonesia memilih pemimpin yang baru.
Ia lukis tubuh-tubuh yang koyak di kanvas ekstra besar untuk mengungkap kecemasan, ketegangan, atau teror yang membuat masyarakat sakit jiwa. Ia memasang ratusan biji mata seukuran kepalan tangan, gergaji, atau boneka untuk seni instalasinya di dalam kisah senada.
Memang berbagai pengalaman personal, yang tak jarang ternyata juga menyuarakan pengalaman bersama, menjadi semangat keseniannya. Tinggal di berbagai wilayah budaya, yaitu Tegal, Yogyakarta, dan sempat di Jakarta, menyuburkan pengalaman tersebut. Pengalaman Indonesia yang bangkrut, munculnya ancaman diskriminasi atas nama nilai tertentu, ikut memicu pencarian metafor yang tepat guna seperti kulit telur puyuh.
Belakangan, sesudah menikah dengan warga Amerika Serikat keturunan Italia, ia memasuki kancah perbenturan budaya juga dengan intensitas yang berbeda. Bersama keluarga ia bermukim di Kalasan, Yogyakarta, dan di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ketegangan budaya itu diimbuh dengan peristiwa 11 September, yang membuat banyak warga Amerika paranoid.
"Waktu itu keluar rumah sendirian terasa ngeri. Suhu patriotisme naik. Kalau paspor kita Indonesia, diperiksanya lebih lama dan rumit," tutur Entang tentang pengalaman tidak enak pada bulan-bulan selepas kejadian mencekam tersebut. "Saya naik pesawat Northwest, pesawat pertama yang masuk ke AS selepas 11 September. Saya diinterogasi selama tiga jam di Amsterdam."
Pengalaman seperti itu memicu kelahiran sejumlah karya, antara lain Portrait in the Gold Rain-disertakan di dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini. Lukisan tersebut membuat batal pameran tunggalnya di Rhode Island, AS, bulan Januari 2003. Ia menolak permintaan pihak galeri agar lukisan itu tidak disertakan karena menganggapnya illegal, jorok, dan menjurus seksual. Isi lukisan menonjolkan satu sosok lelaki telanjang tengah berjongkok.
"Saya tidak suka hal jorok, dan persoalan di lukisan itu juga bukan seksual. Saya ingin menggambarkan manusia yang ditindas oleh sistem, didiskriminasi, dilabelisasi, disisihkan, sampai terkentut-kentut," kata Entang.
Pencekalan itu memicu solidaritas para seniman setempat maupun para kurator, yang memindahkan pameran Entang ke tempat lain. Peristiwa yang terjadi di negara kampiun demokrasi itu menyulut dukungan di berbagai media massa terhadap seniman warga Indonesia tersebut. Sempat dibuat pula diskusi untuk membela haknya sebagai seniman.
Tinggal di AS juga membuatnya akrab dengan ikon dunia kartun seperti Bart Simpson, yang kemudian ia comot untuk karyanya. "Kartun Bart Simpson itu mengungkap masalah kita, manusia biasa di dalam kehidupan sehari-hari, bukan manusia super," tuturnya.
Belakangan sejumlah lukisan maupun karya instalasinya menampilkan sosok berkuping lebar mirip Teddy Bear. Boneka kesayangan anak itu ia sulap menjadi simbol Amerika, yang banyak dipuja tetapi lebih banyak lagi yang membenci.
"Saya tertarik ketika Dominic lahir, banyak kado berupa Teddy Bear. Saya tanya ke istri, apa maknanya? Ternyata itu berangkat dari kisah seorang Teddy Roosevelt, pemimpin Amerika saat itu, menyelamatkan bayi beruang," tutur Entang. Dominic Ensar Wiharso dan Marco Emil Wiharso adalah buah pernikahannya dengan Christine Cocca tahun 1997. Christine seorang ahli sejarah seni dan kini mengurus aktivitas seni suaminya.
Lelaki kelahiran Tegal, 19 Agustus 1967, ini menjalani masa mahasiswanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan kerja keras. Ia sempat cuti kuliah untuk membantu keluarga mengelola bisnis makanan kaki lima di Jakarta, yang dikenal sebagai "warung tegal".
Kini secara ekonomi kehidupannya sangat baik, tetapi sebagai seniman ia tak hendak mapan di dalam arti berhenti "mencari". Pamerannya di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Jumat (8/4) malam lalu membuktikan hal itu. Ia terpilih bersama tiga seniman lain untuk tampil di dalam Biennale Venesia pada bulan Juni tahun ini. (EFIX MULYADI)
Sumber : Kompas, Senin, 11 April 2005
Soedjono : Pak Jon dan Keprihatinan Tembang "Dolanan" Jawa
Pak Jon dan Keprihatinan Tembang "Dolanan" Jawa
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari
Kidang Talun,
nduwe anak, talun
mil ketemil, mil ketemil,
si kidang mangan lembayung…
BISA dipastikan, petikan syair lagi dolanan bocah berjudul Kidang Talun itu tak lagi akrab di telinga anak zaman sekarang. Justru lagu-lagu bertema dewasa, seperti Cucak Rowo, Rondho Kempling, serta Bojo Loro, yang lebih mereka kenal.
Bukan karena lagu-lagu itu kurang bagus, tetapi rasanya sangat tidak tepat untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi, anak-anak pun tidak bisa disalahkan karena minimnya lagu-lagu yang baik bagi mereka." Kalimat itu meluncur dari bibir Soedjono (45), seorang guru agama yang juga pencipta lagu di Salatiga, sebuah kota sejuk nan alami di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Ia prihatin dengan kondisi itu. Katanya, "Setiap generasi mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan di segala sektor, termasuk budaya." Tidak adanya tembang dolanan anak-anak, lanjutnya, menjauhkan anak-anak dari kehidupan dan budaya yang seharusnya.
Pak Jon, begitu ia biasa dipanggil, lalu memberi contoh tembang dolanan berjudul Plek-emplek Ketepu.
"Plek-emplek ketepu, wong lanang goleko kayu, lamun golek aja dha menek, lamun menek aja dha mencit, lamun mencit aja dha tiba, lamun tiba aja nganti lara".
Lagu ini mengingatkan tentang peran seorang lelaki yang kelak menjadi kepala keluarga. Ia harus "mencari kayu", dalam arti mencari nafkah, tetapi tidak perlu ngoyo dan selalu waspada dalam hidup.
Dalam tembang Jago Kate, misalnya, Soedjono mengatakan, lagu yang bersyair "jago kate te te te, kukukluruuk … Kok! Amecece ce ce ce, kukuklurukkk… dibalang watu bocah kuncung, keok… mari umuk, mari ngece, sikate katon yen tukung" itu memang sebuah ledekan. Sasarannya seseorang bertubuh kecil, pendek, yang berlagak seperti jagoan tetapi ternyata gampang dikalahkan. Lagu itu menyiratkan sindiran kepada Jepang ketika menjajah Indonesia di era tahun 1942-an.
Katanya dengan tandas, "Kita, para orang tua dan guru, cukup risih ketika menyaksikan penampilan anak-anak di media audio visual, di mana mereka diperlakukan sebagai obyek eksploitasi untuk kepentingan komersial semata dengan mengabaikan perkembangan jiwa anak."
MAKA Soedjono tergerak untuk mengumpulkan, kemudian melestarikan tembang dolanan bocah tersebut. "Bagi saya, tembang dolanan bocah ini adalah warisan kebudayaan yang adiluhung, karena itu harus dilestarikan," ujarnya.
Selain itu, ia pun menangkap keresahan rekan-rekan seprofesi, khususnya guru taman kanak-kanak, sekolah dasar, atau pun madrasah aliah. Dalam arti, animo para guru untuk tetap mengajarkan filosofi dan nilai-nilai budaya kepada anak-anak cukup tinggi. Kendalanya, bahan maupun media tidak tersedia.
Hingga saat ini, ia berhasil mengumpulkan sekitar 70 lagu dolanan. Dari jumlah itu, 15 lagu telah ia kemas dalam bentuk satu rekaman kaset. "Semua itu semata-mata untuk keperluan sekolah karena banyak guru yang merasa tidak memiliki bahan dan media untuk mengajarkan tembang dolanan itu," ujarnya.
"Saya hanya berharap, anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya mereka. Selain itu, lagu adalah bahasa universal, karena itu tidak akan pernah lekang," katanya. Melalui volume I, rekaman yang telah ia buat, Soedjono sengaja mengambil lagu-lagu yang sudah jarang dinyanyikan. Sebut saja, misalnya, Kidang Talun, Dodo Satrio, Esuk-esuk Srengengene, Sinten Numpak Sepur, Jago Kate, ataupun Pitik Tukung.
Sengaja ia memilih lagu-lagu yang kurang top karena lagu lain, seperti Gundhul-gundhul Pacul dan Cublak-cublak Suweng, masih cukup sering dinyanyikan. Selain itu, ia mengaku bahwa upaya itu masih menggunakan modal sendiri. Untuk menelurkan volume I kumpulan tembang dolanan bocah itu, ia telah menghabiskan setidaknya Rp 70 juta, jumlah yang memang tidak sedikit.
Sementara itu, masih ada sekitar 55 lagu yang perlu dilestarikan. "Yah, pelan-pelanlah. Yang penting, sekarang ini para guru sudah bisa memiliki media untuk mengajar, dan sedikit demi sedikit tembang dolanan ini bisa dilestarikan," katanya perlahan.
SOEDJONO memang sosok yang unik. Tak terlalu salah rasanya jika mengatakan ia hidup di dua "dunia". Untuk menopang kehidupan sehari-hari, lulusan Fakultas Tarbiah IAIN ini mengajarkan Ilmu Agama Islam di sekolah dasar negeri di Salatiga. Selain itu, lebih karena seorang teman, ia diminta mengajar seni teater dan musik di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, serta khusus teater di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, juga di Salatiga.
Terlepas dari itu, ia adalah salah satu vokalis Ken Arok, kelompok musik dangdut ternama di Salatiga. Dengan kata lain, di siang hari ia bicara soal agama, sedangkan di malam hari ia sibuk dengan kegiatan musik yang sarat dengan goyang. Pria kelahiran Susukan, Kabupaten Semarang, 12 Agustus 1959, itu hanya tersenyum menghadapi "benturan" tersebut, jika kedua hal itu memang dibenturkan.
Bagi ayah empat anak ini, kedua soal itu tidaklah saling berlawanan. "Kita bicara agama adalah untuk mendasari hidup, sementara seni, khususnya musik dangdut, adalah realita," ujarnya.
Ia merasa tidak perlu membenturkan kedua hal tersebut.
"Bagi saya, semua ini justru membawa kita pada proses pendewasaan dan pematangan diri dalam beragama," kata pria berkulit sawo matang itu. "Malah yang saya takutkan adalah satu hal, jangan sampai saya mengharamkan orang lain, dan yang tidak baik lagi adalah jika saya munafik," ujarnya.
Di belantika musik dangdut, ia memang bukan orang asing, bahkan pada tingkat nasional. Tahun 1995, ia menerima penghargaan HDX Award untuk lagu Jodoh yang ia ciptakan.
"Lagu itu meledak cukup luar biasa ketika dinyanyikan kelompok (dangdut) Manis Manja," katanya sambil tersenyum.
Sumber : Kompas, Selasa, 12 April 2005
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari
Kidang Talun,
nduwe anak, talun
mil ketemil, mil ketemil,
si kidang mangan lembayung…
BISA dipastikan, petikan syair lagi dolanan bocah berjudul Kidang Talun itu tak lagi akrab di telinga anak zaman sekarang. Justru lagu-lagu bertema dewasa, seperti Cucak Rowo, Rondho Kempling, serta Bojo Loro, yang lebih mereka kenal.
Bukan karena lagu-lagu itu kurang bagus, tetapi rasanya sangat tidak tepat untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi, anak-anak pun tidak bisa disalahkan karena minimnya lagu-lagu yang baik bagi mereka." Kalimat itu meluncur dari bibir Soedjono (45), seorang guru agama yang juga pencipta lagu di Salatiga, sebuah kota sejuk nan alami di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Ia prihatin dengan kondisi itu. Katanya, "Setiap generasi mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan di segala sektor, termasuk budaya." Tidak adanya tembang dolanan anak-anak, lanjutnya, menjauhkan anak-anak dari kehidupan dan budaya yang seharusnya.
Pak Jon, begitu ia biasa dipanggil, lalu memberi contoh tembang dolanan berjudul Plek-emplek Ketepu.
"Plek-emplek ketepu, wong lanang goleko kayu, lamun golek aja dha menek, lamun menek aja dha mencit, lamun mencit aja dha tiba, lamun tiba aja nganti lara".
Lagu ini mengingatkan tentang peran seorang lelaki yang kelak menjadi kepala keluarga. Ia harus "mencari kayu", dalam arti mencari nafkah, tetapi tidak perlu ngoyo dan selalu waspada dalam hidup.
Dalam tembang Jago Kate, misalnya, Soedjono mengatakan, lagu yang bersyair "jago kate te te te, kukukluruuk … Kok! Amecece ce ce ce, kukuklurukkk… dibalang watu bocah kuncung, keok… mari umuk, mari ngece, sikate katon yen tukung" itu memang sebuah ledekan. Sasarannya seseorang bertubuh kecil, pendek, yang berlagak seperti jagoan tetapi ternyata gampang dikalahkan. Lagu itu menyiratkan sindiran kepada Jepang ketika menjajah Indonesia di era tahun 1942-an.
Katanya dengan tandas, "Kita, para orang tua dan guru, cukup risih ketika menyaksikan penampilan anak-anak di media audio visual, di mana mereka diperlakukan sebagai obyek eksploitasi untuk kepentingan komersial semata dengan mengabaikan perkembangan jiwa anak."
MAKA Soedjono tergerak untuk mengumpulkan, kemudian melestarikan tembang dolanan bocah tersebut. "Bagi saya, tembang dolanan bocah ini adalah warisan kebudayaan yang adiluhung, karena itu harus dilestarikan," ujarnya.
Selain itu, ia pun menangkap keresahan rekan-rekan seprofesi, khususnya guru taman kanak-kanak, sekolah dasar, atau pun madrasah aliah. Dalam arti, animo para guru untuk tetap mengajarkan filosofi dan nilai-nilai budaya kepada anak-anak cukup tinggi. Kendalanya, bahan maupun media tidak tersedia.
Hingga saat ini, ia berhasil mengumpulkan sekitar 70 lagu dolanan. Dari jumlah itu, 15 lagu telah ia kemas dalam bentuk satu rekaman kaset. "Semua itu semata-mata untuk keperluan sekolah karena banyak guru yang merasa tidak memiliki bahan dan media untuk mengajarkan tembang dolanan itu," ujarnya.
"Saya hanya berharap, anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya mereka. Selain itu, lagu adalah bahasa universal, karena itu tidak akan pernah lekang," katanya. Melalui volume I, rekaman yang telah ia buat, Soedjono sengaja mengambil lagu-lagu yang sudah jarang dinyanyikan. Sebut saja, misalnya, Kidang Talun, Dodo Satrio, Esuk-esuk Srengengene, Sinten Numpak Sepur, Jago Kate, ataupun Pitik Tukung.
Sengaja ia memilih lagu-lagu yang kurang top karena lagu lain, seperti Gundhul-gundhul Pacul dan Cublak-cublak Suweng, masih cukup sering dinyanyikan. Selain itu, ia mengaku bahwa upaya itu masih menggunakan modal sendiri. Untuk menelurkan volume I kumpulan tembang dolanan bocah itu, ia telah menghabiskan setidaknya Rp 70 juta, jumlah yang memang tidak sedikit.
Sementara itu, masih ada sekitar 55 lagu yang perlu dilestarikan. "Yah, pelan-pelanlah. Yang penting, sekarang ini para guru sudah bisa memiliki media untuk mengajar, dan sedikit demi sedikit tembang dolanan ini bisa dilestarikan," katanya perlahan.
SOEDJONO memang sosok yang unik. Tak terlalu salah rasanya jika mengatakan ia hidup di dua "dunia". Untuk menopang kehidupan sehari-hari, lulusan Fakultas Tarbiah IAIN ini mengajarkan Ilmu Agama Islam di sekolah dasar negeri di Salatiga. Selain itu, lebih karena seorang teman, ia diminta mengajar seni teater dan musik di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, serta khusus teater di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, juga di Salatiga.
Terlepas dari itu, ia adalah salah satu vokalis Ken Arok, kelompok musik dangdut ternama di Salatiga. Dengan kata lain, di siang hari ia bicara soal agama, sedangkan di malam hari ia sibuk dengan kegiatan musik yang sarat dengan goyang. Pria kelahiran Susukan, Kabupaten Semarang, 12 Agustus 1959, itu hanya tersenyum menghadapi "benturan" tersebut, jika kedua hal itu memang dibenturkan.
Bagi ayah empat anak ini, kedua soal itu tidaklah saling berlawanan. "Kita bicara agama adalah untuk mendasari hidup, sementara seni, khususnya musik dangdut, adalah realita," ujarnya.
Ia merasa tidak perlu membenturkan kedua hal tersebut.
"Bagi saya, semua ini justru membawa kita pada proses pendewasaan dan pematangan diri dalam beragama," kata pria berkulit sawo matang itu. "Malah yang saya takutkan adalah satu hal, jangan sampai saya mengharamkan orang lain, dan yang tidak baik lagi adalah jika saya munafik," ujarnya.
Di belantika musik dangdut, ia memang bukan orang asing, bahkan pada tingkat nasional. Tahun 1995, ia menerima penghargaan HDX Award untuk lagu Jodoh yang ia ciptakan.
"Lagu itu meledak cukup luar biasa ketika dinyanyikan kelompok (dangdut) Manis Manja," katanya sambil tersenyum.
Sumber : Kompas, Selasa, 12 April 2005
Wayan Sadha : sadha, Kartun, dan Anjing "Sompret"
Sadha, Kartun, dan Anjing "Sompret"
Oleh : Putu Fajar Arcana
BAGI orang "desa" seperti Wayan Sadha (57), pariwisata Bali menimbulkan banyak ironi. Kurang dari 10 tahun, Jimbaran, di mana ia dilahirkan 29 Juli 1948, berubah pesat. Dulu desa di selatan kota Denpasar itu hanyalah dusun nelayan kecil yang hanya memiliki akses ke kota lewat laut. Kini kata Jimbaran sendiri mengenangkan akan seafood cafe yang berderet di sepanjang pantai. Lalu turis-turis yang bersantai sembari meneguk berbotol-botol bir.
SECARA ekonomi, gerusan perubahan itu jauh meninggalkan Sadha seorang diri. Ia tetap tidak terangkut oleh mesin industri yang bergerak cepat meraih obsesi "kemakmuran". Sebagai manusia "masa lalu", tetapi hidup di riuh industri masa kini, Sadha hadir sebagai paradoks.
Sebelum memutuskan hidup sebagai kartunis, Sadha menjalani beragam profesi, yang erat kaitannya dengan kelaparan yang menyertainya sejak kecil.
IA pernah menjadi pedagang ikan keliling dengan sepeda ontel di kawasan Denpasar Selatan. Desa-desa seperti Jimbaran, Pecatu, Kedonganan, Suwung, Sesetan, Pemogan, dan sekitarnya adalah wilayah-wilayah yang jadi pasaran ikannya. Tahun-tahun 1970-an, bisa jadi Sadha adalah sedikit dari lelaki Bali yang mau berjualan. Tak lama sesudah itu, dengan sepeda yang sama ia hidup sebagai tukang foto keliling.
"Mungkin waktu itu saya satu-satunya tukang foto keliling di wilayah Denpasar Selatan," tutur Sadha. Bagi desa-desa tadi, berfoto menjadi ritual yang "mahal" dan "aneh" karena masih sangat jarang orang yang memiliki kamera.
Justru Sadha yang hanya sampai kelas I SR (sekolah rakyat) mengisi peluang itu. Ia belajar memotret dari pengalaman, sebagaimana pula nantinya ia lakukan ketika memutuskan menjadi kartunis.
"Saya selalu dipanggil kalau ada upacara, terutama perkawinan. Bahkan pernah pula memotret untuk pembuatan KTP, hi-hi-hi," kenang Sadha terkekeh. Ketika kemudian banyak orang memiliki kamera dan studio foto merebak di mana- mana, profesi tukang potret keliling itu tak lagi laku. Sadha pun kehilangan pekerjaan, padahal ia menanggung enam orang adik.
Ibunya, Ni Ketut Jegu, meninggal tahun 1969. Sementara, kata Sadha, ayahnya, I Nyoman Cateng, termasuk nelayan yang kurang rajin. "Jadi sebagai anak tertua saya harus menanggung hidup keluarga," katanya. Tadinya pekerjaan ibunya sebagai buruh angkut di Pasar Badung cukup membantu kehidupan keluarga mereka.
SEKITAR awal tahun 1980-an, setelah bersentuhan dengan antropolog asal Perancis Jean Couteau, Sadha memutuskan menjadi kartunis sekaligus wartawan untuk sebuah majalah berbahasa Inggris terbitan lokal Bali bernama Archipelago. Tentulah itu sebuah "profesi" yang sungguh asing bagi orang "desa" seperti dia. Menggambar kartun hampir-hampir tak dikenal dalam tradisi rupa di Bali. Kalau toh sekarang banyak kartunis berasal dari Bali, itu terjadi bukan karena kesadaran tradisi. Profesi kartunis secara langsung "diadopsi" dari dunia Barat.
Pada Sadha soalnya menjadi unik. Mungkin kartun-kartunnya ia bikin untuk kepentingan siaran di media massa, tetapi secara bentuk dan isi ia mencerminkan "kedesaan". Gambar-gambarnya mengingatkan pada ilustrasi-ilustrasi yang dibikin untuk dongeng-dongeng Bali. Sementara isinya, yang diungkapkan dalam bahasa Bali, sebagian besar mengisahkan ironi-ironi hidup di alam tradisi yang digempur pariwisata.
Dalam satu kartun yang dimuat pada buku Bali To Day karya Jean Couteau, Sadha "menyindir" perilaku para gigolo di Bali. Ia melukiskan seorang gigolo sedang membeli bensin. Seorang karyawan bertanya, "Ngudiang diketone ngejang pipis." (Kok pada itumu menyimpan duit). Dijawab, "Mapan icang ngalih gae nganggon ikut." (Itu karena aku kerja dengan ekor). Gambarnya memperlihatkan seorang lelaki di atas sepeda motor bermerek "Gigolo", membonceng turis perempuan, sedang mengeluarkan uang dari dalam celananya.
Tanpa harus menjelaskan modal kerja seorang gigolo untuk meraih uang, kita sudah paham apa yang dimaksudkan Sadha. Di luar soal itu, inilah ironi-ironi yang dibangun Sadha untuk mengkritik berbagai kepincangan yang dihasilkan pariwisata. Ia tidak berangkat dari narasi-narasi di dalam buku, tetapi menjadi saksi pola perilaku "saudara-saudaranya" ketika "bergembira" menyambut pariwisata.
HAMPIR pada setiap karyanya suami dari Ni Made Kondri ini memunculkan tokoh anjing bernama Sompret. "Sompret adalah anjing kacang, di mana tak seorang majikan pun yang sudi merawatnya," ujar Sadha. Sompret selalu nyeletuk untuk menyuarakan kepincangan, ketidakadilan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.
Mungkin Sompret hanya metafor. Dalam bahasa Indonesia sompret artinya terompet. Dan anjing kacang adalah terompet untuk menyuarakan aspirasi orang-orang marjinal, seperti Sadha.
Apa yang dilakukan Sadha mengingatkan kita kepada cerita-cerita rakyat di Bali tentang tokoh-tokoh yang bodoh dan miskin, tetapi justru selalu beruntung, atau dengan kebodohannya bisa memperdayai orang lain. Ini juga cerminan hidup Sadha sehari-hari sekarang, yang sepenuhnya bergantung pada kebisaannya menggambar kartun di media-media lokal.
Kartun bagi Sadha tak sekadar media untuk menyindir. Ia juga cerminan dari kondisi-kondisi sosial yang kini melanda Bali dengan perspektif lokal. Oleh karena itu, ujar Sadha, apa yang ia kerjakan itulah yang sesungguhnya terjadi. "Tidak ada bumbu-bumbu, saya hanya mengucapkan apa yang saya lihat sehari-hari," tuturnya.
Selain tidak terangkut oleh gemuruh industri pariwisata, sebagai kartunis Sadha juga sesungguhnya sebuah anomali. Ia tidak mengikuti arus besar diskursus gambar dan isi kartun di Tanah Air. Bahasa Bali yang digunakannya adalah bahasa rakyat, tetapi ia memotret sebuah realitas aktual yang sedang riuh rendah melanda daerah ini. Maka di situlah ironi-ironi itu berkembang menjadi penggambaran sebuah pencapaian yang timpang dari cita-cita "kemakmuran".
Karya-karya Sadha kini tersebar di berbagai penerbitan lokal Bali. Bahkan, tahun 2006 ia berhasrat memamerkan karya-karyanya sebagaimana orang menikmati lukisan. Karya-karya Sadha merupakan cermin yang lain di dalam memahami Bali secara lebih menyeluruh.
Sumber : Kompas, Rabu, 13 April 2005
Oleh : Putu Fajar Arcana
BAGI orang "desa" seperti Wayan Sadha (57), pariwisata Bali menimbulkan banyak ironi. Kurang dari 10 tahun, Jimbaran, di mana ia dilahirkan 29 Juli 1948, berubah pesat. Dulu desa di selatan kota Denpasar itu hanyalah dusun nelayan kecil yang hanya memiliki akses ke kota lewat laut. Kini kata Jimbaran sendiri mengenangkan akan seafood cafe yang berderet di sepanjang pantai. Lalu turis-turis yang bersantai sembari meneguk berbotol-botol bir.
SECARA ekonomi, gerusan perubahan itu jauh meninggalkan Sadha seorang diri. Ia tetap tidak terangkut oleh mesin industri yang bergerak cepat meraih obsesi "kemakmuran". Sebagai manusia "masa lalu", tetapi hidup di riuh industri masa kini, Sadha hadir sebagai paradoks.
Sebelum memutuskan hidup sebagai kartunis, Sadha menjalani beragam profesi, yang erat kaitannya dengan kelaparan yang menyertainya sejak kecil.
IA pernah menjadi pedagang ikan keliling dengan sepeda ontel di kawasan Denpasar Selatan. Desa-desa seperti Jimbaran, Pecatu, Kedonganan, Suwung, Sesetan, Pemogan, dan sekitarnya adalah wilayah-wilayah yang jadi pasaran ikannya. Tahun-tahun 1970-an, bisa jadi Sadha adalah sedikit dari lelaki Bali yang mau berjualan. Tak lama sesudah itu, dengan sepeda yang sama ia hidup sebagai tukang foto keliling.
"Mungkin waktu itu saya satu-satunya tukang foto keliling di wilayah Denpasar Selatan," tutur Sadha. Bagi desa-desa tadi, berfoto menjadi ritual yang "mahal" dan "aneh" karena masih sangat jarang orang yang memiliki kamera.
Justru Sadha yang hanya sampai kelas I SR (sekolah rakyat) mengisi peluang itu. Ia belajar memotret dari pengalaman, sebagaimana pula nantinya ia lakukan ketika memutuskan menjadi kartunis.
"Saya selalu dipanggil kalau ada upacara, terutama perkawinan. Bahkan pernah pula memotret untuk pembuatan KTP, hi-hi-hi," kenang Sadha terkekeh. Ketika kemudian banyak orang memiliki kamera dan studio foto merebak di mana- mana, profesi tukang potret keliling itu tak lagi laku. Sadha pun kehilangan pekerjaan, padahal ia menanggung enam orang adik.
Ibunya, Ni Ketut Jegu, meninggal tahun 1969. Sementara, kata Sadha, ayahnya, I Nyoman Cateng, termasuk nelayan yang kurang rajin. "Jadi sebagai anak tertua saya harus menanggung hidup keluarga," katanya. Tadinya pekerjaan ibunya sebagai buruh angkut di Pasar Badung cukup membantu kehidupan keluarga mereka.
SEKITAR awal tahun 1980-an, setelah bersentuhan dengan antropolog asal Perancis Jean Couteau, Sadha memutuskan menjadi kartunis sekaligus wartawan untuk sebuah majalah berbahasa Inggris terbitan lokal Bali bernama Archipelago. Tentulah itu sebuah "profesi" yang sungguh asing bagi orang "desa" seperti dia. Menggambar kartun hampir-hampir tak dikenal dalam tradisi rupa di Bali. Kalau toh sekarang banyak kartunis berasal dari Bali, itu terjadi bukan karena kesadaran tradisi. Profesi kartunis secara langsung "diadopsi" dari dunia Barat.
Pada Sadha soalnya menjadi unik. Mungkin kartun-kartunnya ia bikin untuk kepentingan siaran di media massa, tetapi secara bentuk dan isi ia mencerminkan "kedesaan". Gambar-gambarnya mengingatkan pada ilustrasi-ilustrasi yang dibikin untuk dongeng-dongeng Bali. Sementara isinya, yang diungkapkan dalam bahasa Bali, sebagian besar mengisahkan ironi-ironi hidup di alam tradisi yang digempur pariwisata.
Dalam satu kartun yang dimuat pada buku Bali To Day karya Jean Couteau, Sadha "menyindir" perilaku para gigolo di Bali. Ia melukiskan seorang gigolo sedang membeli bensin. Seorang karyawan bertanya, "Ngudiang diketone ngejang pipis." (Kok pada itumu menyimpan duit). Dijawab, "Mapan icang ngalih gae nganggon ikut." (Itu karena aku kerja dengan ekor). Gambarnya memperlihatkan seorang lelaki di atas sepeda motor bermerek "Gigolo", membonceng turis perempuan, sedang mengeluarkan uang dari dalam celananya.
Tanpa harus menjelaskan modal kerja seorang gigolo untuk meraih uang, kita sudah paham apa yang dimaksudkan Sadha. Di luar soal itu, inilah ironi-ironi yang dibangun Sadha untuk mengkritik berbagai kepincangan yang dihasilkan pariwisata. Ia tidak berangkat dari narasi-narasi di dalam buku, tetapi menjadi saksi pola perilaku "saudara-saudaranya" ketika "bergembira" menyambut pariwisata.
HAMPIR pada setiap karyanya suami dari Ni Made Kondri ini memunculkan tokoh anjing bernama Sompret. "Sompret adalah anjing kacang, di mana tak seorang majikan pun yang sudi merawatnya," ujar Sadha. Sompret selalu nyeletuk untuk menyuarakan kepincangan, ketidakadilan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.
Mungkin Sompret hanya metafor. Dalam bahasa Indonesia sompret artinya terompet. Dan anjing kacang adalah terompet untuk menyuarakan aspirasi orang-orang marjinal, seperti Sadha.
Apa yang dilakukan Sadha mengingatkan kita kepada cerita-cerita rakyat di Bali tentang tokoh-tokoh yang bodoh dan miskin, tetapi justru selalu beruntung, atau dengan kebodohannya bisa memperdayai orang lain. Ini juga cerminan hidup Sadha sehari-hari sekarang, yang sepenuhnya bergantung pada kebisaannya menggambar kartun di media-media lokal.
Kartun bagi Sadha tak sekadar media untuk menyindir. Ia juga cerminan dari kondisi-kondisi sosial yang kini melanda Bali dengan perspektif lokal. Oleh karena itu, ujar Sadha, apa yang ia kerjakan itulah yang sesungguhnya terjadi. "Tidak ada bumbu-bumbu, saya hanya mengucapkan apa yang saya lihat sehari-hari," tuturnya.
Selain tidak terangkut oleh gemuruh industri pariwisata, sebagai kartunis Sadha juga sesungguhnya sebuah anomali. Ia tidak mengikuti arus besar diskursus gambar dan isi kartun di Tanah Air. Bahasa Bali yang digunakannya adalah bahasa rakyat, tetapi ia memotret sebuah realitas aktual yang sedang riuh rendah melanda daerah ini. Maka di situlah ironi-ironi itu berkembang menjadi penggambaran sebuah pencapaian yang timpang dari cita-cita "kemakmuran".
Karya-karya Sadha kini tersebar di berbagai penerbitan lokal Bali. Bahkan, tahun 2006 ia berhasrat memamerkan karya-karyanya sebagaimana orang menikmati lukisan. Karya-karya Sadha merupakan cermin yang lain di dalam memahami Bali secara lebih menyeluruh.
Sumber : Kompas, Rabu, 13 April 2005
Ko Houw Houw : Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten
Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten
Oleh : MH Samsul Hadi
Sebagai Ko Houw Houw, ia tak dikenal. Namun, jika Iwan Nit-Net (40) yang disebut, warga Kampung Pamarican di Banten Lama hingga orang Baduy Dalam di Kampung Cibeo sekalipun akrab.
BERBEKAL kamera, ia suka keluar masuk kampung untuk mencatat dan merekam berbagai informasi seputar budaya Banten. Akibat hobinya itu, anak tunggal pasangan Ko Kian Hoe-Tjioe Lan Eng ini pernah dijuluki "China Edan".
"Saya bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari," tutur Iwan. "Saya kumpulkan data-data kesenian tradisional dan budaya Banten, mumpung orangnya (pelaku kesenian) masih ada."
Dokumentasi kesenian tradisional dan budaya Banten itu berupa catatan-yang juga ia simpan di komputer usang berperangkat Pentium 3-selain foto, rekaman kamera, dan barang antik. Semua terserak di ruang kerja yang sempit pada lantai dua rumahnya di Jalan Diponegoro, Kota Serang.
ADA juga tumpukan koran lama yang menyentuh langit-langit rumah. Tersimpan juga beberapa barang antik seperti Jejodog (tempat duduk) karya pahatan pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) yang diabadikan dalam lukisan Aku dan Istriku di Lonceng Kedua.
"Waktu aktif di lingkungan seni kampus, saya kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Orang-orang sini pun ketika ditanya soal itu, banyak yang tidak tahu," papar pria bernama lengkap Muhammad Iwan Subakti Koharjaya soal awal mula minatnya pada dokumentasi budaya Banten.
Sejak itulah ia berkelana dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Banten. Ia bertemu kiai, tokoh pendekar, hingga para kokolot (tokoh adat). Asal-usulnya yang keturunan Tionghoa tidak menghambat interaksinya dengan mereka.
Ia mampu menjalin persahabatan dengan Jaro Karis, tokoh jawara karismatik dari Lebak, sejak tahun 1985 dan sejumlah kokolot Baduy sejak tahun 2001. "Tidak benar kalau orang Banten fanatik. Kuncinya adalah komunikasi yang kita bangun," kata pria kelahiran Bandung, 23 November 1965, itu.
Iwan juga mengumpulkan benda-benda cagar budaya. Data tentang budaya Banten dan benda-benda cagar budaya tersebut menjadikan rumahnya seperti "bank data" budaya Banten.
Benda cagar budaya itu berupa gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno buatan Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Eropa. Sebagian dari benda-benda itu diserahkan pemiliknya karena bosan atau ingin ada yang merawatnya.
"Sebagian benda-benda tersebut masih disimpan pemiliknya sampai saya mempunyai mitra untuk membuat sebuah tempat penyimpanan," ujar Iwan. Ia bercita-cita benda-benda cagar budaya itu kelak mengisi museum daerah Banten, yang tengah dia rintis bersama rekan-rekannya.
"Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah tangan, berpindah tempat bahkan hingga ke luar negeri. Ini sangat merugikan Banten yang kelak sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten," kata ayah dari Mimosa Pudica Koharjaya (11), hasil perkawinannya dengan wanita asli Serang, Lia Mulyasih (35).
MINAT Iwan pada dokumentasi budaya Banten terbangun sejak ia masih di sekolah dasar. Saat itu ia sering diajak berkeliling ke berbagai tempat oleh ayahnya, Ko Kian Hoe (72) alias Sianfu atau Chemy SNF, wartawan dan pendiri majalah bulanan Oetoesan Banten, media cetak pertama di Banten setelah Indonesia merdeka, yang terbit tahun 1954.
Berbekal kamera yang dibelikan ayahnya waktu itu, ia mulai mengasah kemampuannya di bidang fotografi. Sebagian koleksi fotonya tentang budaya Banten telah dimuat di beberapa media cetak. Berkat kekayaan data-datanya, jebolan Fakultas Teknik Sipil Sekolah Teknik Tinggi Tirtayasa Cilegon tanpa ijazah itu dipercaya menggarap Menara Banten, majalah bulanan yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten, tahun 2003-2004.
Iwan sering didatangi mahasiswa yang menyusun skripsi tentang Banten maupun wartawan yang memerlukan foto-foto itu. "Semua itu saya berikan secara gratis dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.
Foto-foto mengenai budaya Banten tidak dia jual, kecuali kepada perusahaan, seperti kepada PT Angkasa Pura II yang membeli 50 lembar foto berukuran 10R untuk dipasang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ia sering diminta memandu para pemburu khazanah budaya Banten. Beberapa peneliti di Badan Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Universitas Leiden (Belanda), Universitas Kyoto (Jepang), dan Pusat Kebudayaan Jepang juga sering mengontaknya untuk berdiskusi soal budaya Banten.
SEPERTI diakuinya, Iwan telah keluar dari stereotip tentang keturunan Tionghoa: piawai berbisnis, kurang peduli sekitar, dan pasti kaya raya. Berkali-kali usahanya gagal, mulai dari layanan jasa desain, perusahaan furnitur, hingga usaha warnet. Tidak ada peninggalan dari bekas usahanya kecuali nama "Nit-Net" yang dikutip dari nama warnetnya.
Selain menekuni jalur budaya, ia juga aktif dalam Yayasan Seng Pho-bergerak di bidang pendidikan dan dokumentasi sejarah-di mana ia menjadi salah satu pendiri dan sekretarisnya.
Iwan menggalang komunitas Wong Banten sebagai basis gerakan untuk membentuk karakter masyarakat lokal, dengan jaringan para warga Banten yang tersebar hingga ke luar negeri. Komunitas itu berupaya menggali identitas budaya lokal, yang hingga 4,5 tahun setelah Provinsi Banten berdiri, masih menjadi tanda tanya.
Belakangan ini ia mulai menggarap komunitas pertanian dengan menawarkan pupuk gratis kepada para petani sebagai uji coba meningkatkan produksi padi. "Jika produksi padi mereka meningkat lebih dari satu ton, petani memberikan gabahnya 50 kilogram yang dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan," tuturnya.
Dengan begitu, Iwan ingin membuktikan: bergerak di jalur budaya bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, teoretis, dan elitis. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bagaimana mau bicara soal character building plan jika perut masih kosong." (MH SAMSUL HADI)
Sumber : Kompas, Kamis, 14 April 2005
Oleh : MH Samsul Hadi
Sebagai Ko Houw Houw, ia tak dikenal. Namun, jika Iwan Nit-Net (40) yang disebut, warga Kampung Pamarican di Banten Lama hingga orang Baduy Dalam di Kampung Cibeo sekalipun akrab.
BERBEKAL kamera, ia suka keluar masuk kampung untuk mencatat dan merekam berbagai informasi seputar budaya Banten. Akibat hobinya itu, anak tunggal pasangan Ko Kian Hoe-Tjioe Lan Eng ini pernah dijuluki "China Edan".
"Saya bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari," tutur Iwan. "Saya kumpulkan data-data kesenian tradisional dan budaya Banten, mumpung orangnya (pelaku kesenian) masih ada."
Dokumentasi kesenian tradisional dan budaya Banten itu berupa catatan-yang juga ia simpan di komputer usang berperangkat Pentium 3-selain foto, rekaman kamera, dan barang antik. Semua terserak di ruang kerja yang sempit pada lantai dua rumahnya di Jalan Diponegoro, Kota Serang.
ADA juga tumpukan koran lama yang menyentuh langit-langit rumah. Tersimpan juga beberapa barang antik seperti Jejodog (tempat duduk) karya pahatan pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) yang diabadikan dalam lukisan Aku dan Istriku di Lonceng Kedua.
"Waktu aktif di lingkungan seni kampus, saya kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Orang-orang sini pun ketika ditanya soal itu, banyak yang tidak tahu," papar pria bernama lengkap Muhammad Iwan Subakti Koharjaya soal awal mula minatnya pada dokumentasi budaya Banten.
Sejak itulah ia berkelana dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Banten. Ia bertemu kiai, tokoh pendekar, hingga para kokolot (tokoh adat). Asal-usulnya yang keturunan Tionghoa tidak menghambat interaksinya dengan mereka.
Ia mampu menjalin persahabatan dengan Jaro Karis, tokoh jawara karismatik dari Lebak, sejak tahun 1985 dan sejumlah kokolot Baduy sejak tahun 2001. "Tidak benar kalau orang Banten fanatik. Kuncinya adalah komunikasi yang kita bangun," kata pria kelahiran Bandung, 23 November 1965, itu.
Iwan juga mengumpulkan benda-benda cagar budaya. Data tentang budaya Banten dan benda-benda cagar budaya tersebut menjadikan rumahnya seperti "bank data" budaya Banten.
Benda cagar budaya itu berupa gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno buatan Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Eropa. Sebagian dari benda-benda itu diserahkan pemiliknya karena bosan atau ingin ada yang merawatnya.
"Sebagian benda-benda tersebut masih disimpan pemiliknya sampai saya mempunyai mitra untuk membuat sebuah tempat penyimpanan," ujar Iwan. Ia bercita-cita benda-benda cagar budaya itu kelak mengisi museum daerah Banten, yang tengah dia rintis bersama rekan-rekannya.
"Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah tangan, berpindah tempat bahkan hingga ke luar negeri. Ini sangat merugikan Banten yang kelak sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten," kata ayah dari Mimosa Pudica Koharjaya (11), hasil perkawinannya dengan wanita asli Serang, Lia Mulyasih (35).
MINAT Iwan pada dokumentasi budaya Banten terbangun sejak ia masih di sekolah dasar. Saat itu ia sering diajak berkeliling ke berbagai tempat oleh ayahnya, Ko Kian Hoe (72) alias Sianfu atau Chemy SNF, wartawan dan pendiri majalah bulanan Oetoesan Banten, media cetak pertama di Banten setelah Indonesia merdeka, yang terbit tahun 1954.
Berbekal kamera yang dibelikan ayahnya waktu itu, ia mulai mengasah kemampuannya di bidang fotografi. Sebagian koleksi fotonya tentang budaya Banten telah dimuat di beberapa media cetak. Berkat kekayaan data-datanya, jebolan Fakultas Teknik Sipil Sekolah Teknik Tinggi Tirtayasa Cilegon tanpa ijazah itu dipercaya menggarap Menara Banten, majalah bulanan yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten, tahun 2003-2004.
Iwan sering didatangi mahasiswa yang menyusun skripsi tentang Banten maupun wartawan yang memerlukan foto-foto itu. "Semua itu saya berikan secara gratis dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.
Foto-foto mengenai budaya Banten tidak dia jual, kecuali kepada perusahaan, seperti kepada PT Angkasa Pura II yang membeli 50 lembar foto berukuran 10R untuk dipasang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ia sering diminta memandu para pemburu khazanah budaya Banten. Beberapa peneliti di Badan Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Universitas Leiden (Belanda), Universitas Kyoto (Jepang), dan Pusat Kebudayaan Jepang juga sering mengontaknya untuk berdiskusi soal budaya Banten.
SEPERTI diakuinya, Iwan telah keluar dari stereotip tentang keturunan Tionghoa: piawai berbisnis, kurang peduli sekitar, dan pasti kaya raya. Berkali-kali usahanya gagal, mulai dari layanan jasa desain, perusahaan furnitur, hingga usaha warnet. Tidak ada peninggalan dari bekas usahanya kecuali nama "Nit-Net" yang dikutip dari nama warnetnya.
Selain menekuni jalur budaya, ia juga aktif dalam Yayasan Seng Pho-bergerak di bidang pendidikan dan dokumentasi sejarah-di mana ia menjadi salah satu pendiri dan sekretarisnya.
Iwan menggalang komunitas Wong Banten sebagai basis gerakan untuk membentuk karakter masyarakat lokal, dengan jaringan para warga Banten yang tersebar hingga ke luar negeri. Komunitas itu berupaya menggali identitas budaya lokal, yang hingga 4,5 tahun setelah Provinsi Banten berdiri, masih menjadi tanda tanya.
Belakangan ini ia mulai menggarap komunitas pertanian dengan menawarkan pupuk gratis kepada para petani sebagai uji coba meningkatkan produksi padi. "Jika produksi padi mereka meningkat lebih dari satu ton, petani memberikan gabahnya 50 kilogram yang dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan," tuturnya.
Dengan begitu, Iwan ingin membuktikan: bergerak di jalur budaya bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, teoretis, dan elitis. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bagaimana mau bicara soal character building plan jika perut masih kosong." (MH SAMSUL HADI)
Sumber : Kompas, Kamis, 14 April 2005
Catharina Wijanto : Rini Akan Mengantarkan Anda di Hamburg
Rini Akan Mengantarkan Anda di Hamburg
Oleh : Taufik H Minhardja
Ayahnya bilang begini,"Sebelum usia kamu 40 tahun, kamu itu mesti kerja mati-matian. Kalau kamu tidak bisa melakukan itu, maka hidupmu gagal."
PESAN almarhum ayahnya itu terngiang-ngiang terus dalam pikiran perempuan paruh baya bernama Catharina-yang akrab dipanggil Rini. Karena itu, ia ingin selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari supaya ia tidak termasuk dalam orang-orang yang hidupnya gagal.
Ayahnya yang keturunan China meninggal tahun 1995, sedangkan ibunya yang berdarah Betawi meninggal berbarengan dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember tahun lalu.
Tahun 1988 Rini dinikahi Hermann Wijanto, seorang pelaut yang sudah selama 30 tahun bekerja di kapal Jerman. Hermann mengajaknya pindah ke Hamburg. Di sana Rini gigih mencari pekerjaan, yang membawanya ke dunia yang selama ini digeluti kaum pria, yakni menjadi sopir taksi. Profesi itu sudah ia jalani selama delapan tahun terakhir.
PERTEMUAN Kompas dengan Rini pada hari Sabtu, 9 April, itu tidak disengaja. Cuaca yang dingin di bawah 10 derajat Celsius yang disertai angin kencang pada petang itu memaksa kami berempat untuk naik taksi, daripada berjalan kaki, dari sebuah kantor di pusat kota ke hotel, yang jaraknya sekitar tiga kilometer.
Kami berjalan ke arah taksi yang sedang berjejer menunggu penumpang di seberang mal C & A. Kepada sopir taksi yang terdepan itu, kami bertanya apakah empat orang boleh naik dalam satu taksi. Tanpa diduga, sopir itu menjawab dalam bahasa Indonesia, "Boleh!"
Suaranya terdengar suara perempuan. Rupanya jaket penghangat tubuh berwarna kuning serta topi putih yang dikenakannya tidak serta-merta menunjukkan bahwa sopir itu seorang perempuan.
Mendapat jawaban seperti itu, kami lalu menaiki taksi tersebut dengan penuh keriangan disertai kekaguman. Sambil ngobrol macam-macam, Rini lalu mengantarkan kami ke Suitehotel. Sesampainya di depan hotel, kami lalu menyerahkan ongkos taksi 6 euro atau sekitar Rp 75.000.
Sayang Rini waktu itu menolak diajak makan malam bersama. "Saya malam ini sudah punya janji untuk ngerumpi dengan ibu-ibu asal Indonesia," kata Rini, sambil menyebutkan sebuah tempat. Ia menyatakan tidak enak kepada tuan rumah kalau ia harus membatalkan janji begitu saja. Apalagi pertemuan itu diselenggarakan hanya sebulan sekali.
Perempuan asal Cibubur, Jakarta Timur, itu kini memakai nama Catharina Wijanto dan tinggal di Marienthaler Strasse, Hamburg. Pasangan ini memiliki tiga anak: dua anak perempuan yang dilahirkan di Indonesia dan bungsu laki-laki lahir di Jerman.
Ketiganya masih bersekolah. Yang terbesar akan menjadi guru taman kanak- kanak, yang kedua ingin menjadi asisten dokter, sedangkan yang ketiga masih di tingkat SMP.
Sebagai seorang ibu, Rini biasa bangun pagi, pukul 06.00 atau 08.00. Lalu ia mengerjakan pekerjaan seperti ibu-ibu lainnya, misalnya mempersiapkan masakan bagi anak-anaknya dan mencuci. Sekitar pukul 10.00 ia baru memulai pekerjaannya sebagai sopir taksi hingga sekitar pukul 16.00 atau 18.00.
Dengan begitu, ia bisa membantu suami dalam menghidupi kebutuhan keluarganya pada tingkat yang cukup.
"Saya harus membayar sewa apartemen 700 euro sebulan (sekitar Rp 8,6 juta). Belum lagi kebutuhan sehari-hari, urusan listrik, dan macam-macam," katanya.
RINI bercerita, selama menjadi sopir taksi, ia tidak mengalami kesulitan apa- apa karena hanya membawa kendaraannya siang hari. "Malam hari giliran suami saya membawa mobil ini," ujarnya.
Suaminya yang dulu pelaut kini beralih profesi, dengan memiliki taksi yang bermesin Mercedes Benz itu. Di Jerman, kata Rini, setiap taksi harus dimiliki oleh sebuah perusahaan. Tidak peduli apakah perusahaan itu hanya memiliki satu taksi saja, seperti perusahaannya itu.
Menjadi sopir taksi, kata Rini, tidak gampang. Rini harus melalui dua tahap, yakni memiliki SIM biasa, lalu SIM taksi, yang keseluruhannya baru bisa dimiliki dalam waktu enam bulan. Tesnya macam-macam. Salah satu jenis tes yang harus dijalani adalah mencari alternatif jalan terdekat untuk satu tujuan tertentu.
Tes itu penting, ujar Rini, sebab berdasarkan kuitansi pembayaran taksi itu, penumpang bisa mengajukan tuntutan kalau ternyata ia dibawa melalui rute yang jauh, apalagi berputar-putar dengan sengaja.
"Jarang di sini penumpang yang kurang ajar. Mereka baik-baik. Biasanya kita yang mengucapkan selamat pagi atau siang terlebih dahulu. Di sini sering sekali saya disapa lebih dulu oleh mereka," ujar Rini.
Sering juga Rini membawa penumpang nenek-nenek. "Mereka paling banyak ngoceh-nya. Ngomong melulu sepanjang jalan. Mungkin karena di rumahnya sendiri jarang ngomong ya," kata Rini sambil tersenyum.
Dulu Rini sering bertemu dengan ibu-ibu dari Konsulat RI. "Sekarang enggak pernah sejak Dharma Wanita bubar. Paling-paling pertemuan sebulan sekali, seperti nanti malam, dengan ibu-ibu lainnya. Kangen-kangenan bercanda dalam bahasa Indonesia," kata Rini.
Selama menjadi sopir taksi selama delapan tahun, Rini juga belum pernah bertemu dengan sopir perempuan.
Rini mengatakan tidak tahu lagi harus bekerja di mana di Hamburg untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tetapi, menjadi sopir taksi secara bergantian dengan suaminya, menurut Rini, sudah bisa mencukupi kebutuhan standar hidupnya di Hamburg.
"Pilihannya memang kita harus bekerja 24 jam untuk cari duit, ya untuk anak-anak saya itu," kata Rini.
Kepada Rini ditawarkan untuk mengantarkan kami dari hotel ke bandara Hamburg keesokan harinya, Minggu siang. Namun Rini mengatakan tidak bisa memberikan janji, apalagi Minggu merupakan hari libur, kesempatan yang jarang bagi dirinya untuk bercengkerama dengan keluarga.
AKHIRNYA Rini berpamitan, menyetir sendiri lagi taksinya, berharap mendapatkan penumpang baru.
Kalau Anda ke Hamburg, mudah-mudahan Anda berkesempatan bertemu dengan Rini, seorang pejuang yang dengan senang hati akan mengantarkan Anda dengan Mercedes Benz kuning bernomor HH UM 2521 itu.... (TAUFIK H MIHARDJA)
Sumber : Kompas, Jumat, 15 April 2005
Oleh : Taufik H Minhardja
Ayahnya bilang begini,"Sebelum usia kamu 40 tahun, kamu itu mesti kerja mati-matian. Kalau kamu tidak bisa melakukan itu, maka hidupmu gagal."
PESAN almarhum ayahnya itu terngiang-ngiang terus dalam pikiran perempuan paruh baya bernama Catharina-yang akrab dipanggil Rini. Karena itu, ia ingin selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari supaya ia tidak termasuk dalam orang-orang yang hidupnya gagal.
Ayahnya yang keturunan China meninggal tahun 1995, sedangkan ibunya yang berdarah Betawi meninggal berbarengan dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember tahun lalu.
Tahun 1988 Rini dinikahi Hermann Wijanto, seorang pelaut yang sudah selama 30 tahun bekerja di kapal Jerman. Hermann mengajaknya pindah ke Hamburg. Di sana Rini gigih mencari pekerjaan, yang membawanya ke dunia yang selama ini digeluti kaum pria, yakni menjadi sopir taksi. Profesi itu sudah ia jalani selama delapan tahun terakhir.
PERTEMUAN Kompas dengan Rini pada hari Sabtu, 9 April, itu tidak disengaja. Cuaca yang dingin di bawah 10 derajat Celsius yang disertai angin kencang pada petang itu memaksa kami berempat untuk naik taksi, daripada berjalan kaki, dari sebuah kantor di pusat kota ke hotel, yang jaraknya sekitar tiga kilometer.
Kami berjalan ke arah taksi yang sedang berjejer menunggu penumpang di seberang mal C & A. Kepada sopir taksi yang terdepan itu, kami bertanya apakah empat orang boleh naik dalam satu taksi. Tanpa diduga, sopir itu menjawab dalam bahasa Indonesia, "Boleh!"
Suaranya terdengar suara perempuan. Rupanya jaket penghangat tubuh berwarna kuning serta topi putih yang dikenakannya tidak serta-merta menunjukkan bahwa sopir itu seorang perempuan.
Mendapat jawaban seperti itu, kami lalu menaiki taksi tersebut dengan penuh keriangan disertai kekaguman. Sambil ngobrol macam-macam, Rini lalu mengantarkan kami ke Suitehotel. Sesampainya di depan hotel, kami lalu menyerahkan ongkos taksi 6 euro atau sekitar Rp 75.000.
Sayang Rini waktu itu menolak diajak makan malam bersama. "Saya malam ini sudah punya janji untuk ngerumpi dengan ibu-ibu asal Indonesia," kata Rini, sambil menyebutkan sebuah tempat. Ia menyatakan tidak enak kepada tuan rumah kalau ia harus membatalkan janji begitu saja. Apalagi pertemuan itu diselenggarakan hanya sebulan sekali.
Perempuan asal Cibubur, Jakarta Timur, itu kini memakai nama Catharina Wijanto dan tinggal di Marienthaler Strasse, Hamburg. Pasangan ini memiliki tiga anak: dua anak perempuan yang dilahirkan di Indonesia dan bungsu laki-laki lahir di Jerman.
Ketiganya masih bersekolah. Yang terbesar akan menjadi guru taman kanak- kanak, yang kedua ingin menjadi asisten dokter, sedangkan yang ketiga masih di tingkat SMP.
Sebagai seorang ibu, Rini biasa bangun pagi, pukul 06.00 atau 08.00. Lalu ia mengerjakan pekerjaan seperti ibu-ibu lainnya, misalnya mempersiapkan masakan bagi anak-anaknya dan mencuci. Sekitar pukul 10.00 ia baru memulai pekerjaannya sebagai sopir taksi hingga sekitar pukul 16.00 atau 18.00.
Dengan begitu, ia bisa membantu suami dalam menghidupi kebutuhan keluarganya pada tingkat yang cukup.
"Saya harus membayar sewa apartemen 700 euro sebulan (sekitar Rp 8,6 juta). Belum lagi kebutuhan sehari-hari, urusan listrik, dan macam-macam," katanya.
RINI bercerita, selama menjadi sopir taksi, ia tidak mengalami kesulitan apa- apa karena hanya membawa kendaraannya siang hari. "Malam hari giliran suami saya membawa mobil ini," ujarnya.
Suaminya yang dulu pelaut kini beralih profesi, dengan memiliki taksi yang bermesin Mercedes Benz itu. Di Jerman, kata Rini, setiap taksi harus dimiliki oleh sebuah perusahaan. Tidak peduli apakah perusahaan itu hanya memiliki satu taksi saja, seperti perusahaannya itu.
Menjadi sopir taksi, kata Rini, tidak gampang. Rini harus melalui dua tahap, yakni memiliki SIM biasa, lalu SIM taksi, yang keseluruhannya baru bisa dimiliki dalam waktu enam bulan. Tesnya macam-macam. Salah satu jenis tes yang harus dijalani adalah mencari alternatif jalan terdekat untuk satu tujuan tertentu.
Tes itu penting, ujar Rini, sebab berdasarkan kuitansi pembayaran taksi itu, penumpang bisa mengajukan tuntutan kalau ternyata ia dibawa melalui rute yang jauh, apalagi berputar-putar dengan sengaja.
"Jarang di sini penumpang yang kurang ajar. Mereka baik-baik. Biasanya kita yang mengucapkan selamat pagi atau siang terlebih dahulu. Di sini sering sekali saya disapa lebih dulu oleh mereka," ujar Rini.
Sering juga Rini membawa penumpang nenek-nenek. "Mereka paling banyak ngoceh-nya. Ngomong melulu sepanjang jalan. Mungkin karena di rumahnya sendiri jarang ngomong ya," kata Rini sambil tersenyum.
Dulu Rini sering bertemu dengan ibu-ibu dari Konsulat RI. "Sekarang enggak pernah sejak Dharma Wanita bubar. Paling-paling pertemuan sebulan sekali, seperti nanti malam, dengan ibu-ibu lainnya. Kangen-kangenan bercanda dalam bahasa Indonesia," kata Rini.
Selama menjadi sopir taksi selama delapan tahun, Rini juga belum pernah bertemu dengan sopir perempuan.
Rini mengatakan tidak tahu lagi harus bekerja di mana di Hamburg untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tetapi, menjadi sopir taksi secara bergantian dengan suaminya, menurut Rini, sudah bisa mencukupi kebutuhan standar hidupnya di Hamburg.
"Pilihannya memang kita harus bekerja 24 jam untuk cari duit, ya untuk anak-anak saya itu," kata Rini.
Kepada Rini ditawarkan untuk mengantarkan kami dari hotel ke bandara Hamburg keesokan harinya, Minggu siang. Namun Rini mengatakan tidak bisa memberikan janji, apalagi Minggu merupakan hari libur, kesempatan yang jarang bagi dirinya untuk bercengkerama dengan keluarga.
AKHIRNYA Rini berpamitan, menyetir sendiri lagi taksinya, berharap mendapatkan penumpang baru.
Kalau Anda ke Hamburg, mudah-mudahan Anda berkesempatan bertemu dengan Rini, seorang pejuang yang dengan senang hati akan mengantarkan Anda dengan Mercedes Benz kuning bernomor HH UM 2521 itu.... (TAUFIK H MIHARDJA)
Sumber : Kompas, Jumat, 15 April 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)

