HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label P. Show all posts
Showing posts with label P. Show all posts

Paul Tedjasurya, Kenangan Memotret KAA

Jun 28, 2009
Paul Tedjasurya, Kenangan Memotret KAA
Oleh : Y09

BERBEKAL sebuah emblem segitiga bertulisan Asia Africa Conference dan emblem bulat bertulisan 18/4 55 yang tertempel pada kemeja, Paul Tedjasurya yang berdandan rapi lengkap dengan dasi bisa bergerak bebas mendekati 29 kepala negara dari Asia Afrika serta ribuan tamu negara saat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Kota Bandung.

KETIKA itu Paul tidak menghiraukan beratnya beban kamera dan aki blitz sebesar 10 kilogram yang ia pikul seharian di pundaknya. Hari-harinya ia isi untuk mengabadikan berbagai adegan penting yang terjadi pada peristiwa Konferensi Asia-Afrika (KAA) 50 tahun lalu.

"Tidak banyak orang bisa memiliki kesempatan berdekatan dengan para kepala negara meskipun saat itu pengawalan untuk mereka tidak ketat seperti sekarang," kenang Paul Tedjasurya (75), fotografer senior Indonesia yang karya-karya fotonya terus dipakai untuk menceritakan sejarah dunia yang pernah terjadi di Indonesia.

"Saya sangat bersyukur bisa ikut mengalami 50 tahun KAA meskipun itu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya," kata Paul yang saat KAA tahun 1955 masih berusia 25 tahun. KAA bukan hanya sejarah besar untuk dunia, tetapi juga untuk Paul Tedjasurya.

Lelaki asal Surabaya itu mengenal fotografi dari teman mainnya. Waktu itu ia masih murid MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs-setingkat sekolah menengah pertama.

Paul kagum melihat sebuah adegan bisa terekam dan tercetak dalam sebuah kertas. Setelah melihat temannya memotret, Paul pun mulai mencoba melakukannya dengan kamera pinjaman dari temannya.

PAUL hidup dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Ibunya bekerja sebagai penjahit untuk menghidupi keluarga. Sejak Paul berusia 14 tahun, ayahnya dipenjara oleh tentara Jepang karena tertangkap sedang mendengarkan siaran radio dari luar negeri. Saat itu Jepang melarang hal tersebut.

Lulus dari MULO, Paul segera bekerja di Kantor Sosial. Tetapi keinginannya mendalami fotografi membuatnya melepaskan pekerjaan yang baru digelutinya beberapa bulan. Seorang pamannya di Surabaya menyarankan Paul agar mendatangi seorang kerabat jauh di Bandung yang masih pamannya bernama Oom Nyoo. Anak sulung dari dua bersaudara itu pun berangkat ke Bandung pada tahun 1951.

Oom Nyoo bekerja sebagai pegawai di Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Barat, tetapi ia memiliki sebuah studio foto di Jalan Naripan, Bandung. Kini bangunan bekas studio itu ditempati Bank Jabar. Di Bandung, Paul Tedjasurya belajar tentang fotografi secara otodidak dengan kamera Leica III F pemberian Oom Nyoo.

Studio pamannya itu berfungsi seperti agensi foto. Sewaktu itu sangat jarang ada orang memotret dirinya ke studio, tetapi fotograferlah yang rajin mendatangi acara-acara untuk mengabadikan peristiwa dan orang-orang dalam sebuah acara.

Paul biasanya memotret acara pemerintahan di Bandung lalu mengirimkan foto-fotonya itu ke media massa di kota tersebut, seperti Pikiran Rakjat, Bandung Pos, dan Warta Bandung. Saat itu media massa belum memiliki fotografer. "Biasanya mereka mengandalkan foto-foto dari kantor berita Antara atau Indonesian Press Photo Service," ujar Paul.

Ketika peristiwa internasional KAA terjadi di Bandung tahun 1955, Paul segera mendaftar untuk meliput dan mendapat dua emblem tanda pengenal wartawan. Sebelum KAA dilangsungkan pada tanggal 18 April hingga 24 April 1955, Paul sudah mengabadikan persiapan yang dilakukan panitia di Bandung, seperti perbaikan Gedung Merdeka.

SAAT KAA berlangsung, Paul memotret para kepala negara, baik saat berjalan dari Hotel Savoy Homann ke Gedung Merdeka maupun saat mereka bersidang, dan ikut resepsi makan malam. Kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang. Apalagi, saat itu fotografer masih sangat langka.

Selain dirinya, fotografer-fotografer yang ikut meliput KAA tahun 1955 adalah fotografer lepas, Nico Nurya dan AS James, serta fotografer Antara Dr Koo, Jo Han Beng, dan Lan Ke Tung. Kelima fotografer itu sudah meninggal dunia.

Setiap hari selama KAA, Paul berangkat dari rumah Oom Nyoo di Jalan Pasirkaliki dengan motor Jawa 250 cc menuju Jalan Raya Timur atau Jalan Asia Afrika. Biasanya, ia membawa tiga rol film. Paul harus memilih momen terbaik sebab harga film sangat mahal. Ia tidak bisa seenaknya menjepret objek.

Ia berangkat pukul 07.00. Jika para kepala negara melakukan resepsi makan malam, pekerjaannya baru selesai pukul 21.00. Sebelum pulang ke rumah, Paul menyempatkan diri ke studio untuk mencuci filmnya di kamar gelap. Esoknya, jika ada kesempatan pulang sebentar ke studio, ia bisa sekalian mencetak filmnya.

Selama KAA berlangsung, Paul mengaku jarang bergaul dengan fotografer dunia sebab ia masih merasa junior. Tetapi diam-diam ia sering memerhatikan para fotografer itu bekerja. Dari situlah ia selalu mendapat pengetahuan baru.

"Tetapi meliput KAA membuat saya lebih percaya diri. Hal itu menjadi bekal bagi saya untuk bergaul dengan lebih banyak orang," tutur Paul. Setelah KAA, banyak kegiatan bertaraf internasional diselenggarakan di Bandung, antara lain Konferensi Mahasiswa Asia Afrika, Konferensi Islam Asia Afrika, dan Konferensi Wartawan Asia Afrika.

PAUL pun tidak hanya mengirim fotonya ke koran-koran di Bandung, tetapi juga ke media massa di Jakarta, seperti Pedoman, Indonesia Raya, dan Star Weekly. "Honor pertama dari Star Weekly saya belikan mesin tik," kenang Paul. Seorang temannya mengatakan, sebaiknya ia tidak hanya bisa memotret, tetapi juga menulis. Dengan mesin tik tersebut, aktivitas kewartawanannya pun semakin terbantu.

Setelah menjadi fotografer lepas selama puluhan tahun, akhirnya Paul yang selalu membekali diri dengan biskuit karena kapok terkena mag itu menjadi karyawan tetap Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1981 dan pensiun pada tahun 2000.

Di hari tuanya ia dan istrinya, Irawati (70), lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-cucunya di Jakarta. Irawati adalah anak dari Oom Nyoo. Mereka menikah tahun 1956 dan memiliki tiga anak.

Sampai kini Paul masih aktif memotret. "Tapi sekarang lebih banyak memotret cucu," kata Paul sambil tertawa kecil. Paul mengaku lebih senang menggunakan kamera digital yang praktis, tidak seperti saat ia masih muda, untuk memotret repotnya bukan main.

Kamera yang ia pakai saat KAA sudah ia jual. Ia hanya memiliki dua emblem sebagai tanda pengenal yang wajib dipakai para wartawan pada KAA tahun 1955 dan sebuah kesempatan langka merayakan ulang tahun emas KAA.

Itu sebabnya, pekan lalu Paul Tedjasurya sengaja datang dari Jakarta ke Bandung untuk ikut mengenang peristiwa KAA. Merayakan 50 tahun KAA merupakan kesempatan langka yang tidak pernah ia bayangkan, sama langkanya saat ia mendapat kesempatan meliput KAA. (y09)

Sumber : Kompas, Sabtu, 23 April 2005
Read Full 0 comments

Prakoso Heryono, Ingin Lengkeng Pingpong jadi Unggulan

suntycicPrakoso Heryono, Ingin Lengkeng Pingpong Jadi Unggulan
Oleh : Yovita Arika dan Robert Adhi KSP

MEMBANJIRNYA buah-buahan impor yang akhir-akhir ini diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional membuat Prakoso Heryono (47) prihatin. Dari lima jenis buah-buahan yang dijual di beberapa pasar tradisional di Kota Semarang, tiga di antaranya adalah buah impor. Buah lokal yang dijual seperti salak, mangga, dan rambutan sesuai dengan musimnya.

KALAU ada jeruk, yang dijual jeruk dari China, apel washington, lengkeng bangkok, anggur juga impor. Padahal, buah-buahan itu kan bisa dihasilkan di Indonesia, ada apel malang, jeruk pontianak, lengkeng pringsurat (Temanggung), dan anggur bali. Tanaman-tanaman buah impor itu pun kalau kita mau mengembangkan, pasti bisa ditanam di sini," kata Prakoso.

Mengapa Indonesia tak mampu menggandakan bibit seperti yang dilakukan Thailand? Plasma nuftah lebih banyak, tanah lebih luas. "Thailand berhasil karena pemerintahnya menggratiskan ke kelompok tani, sedangkan kita, di Indonesia, malah lebih kental nuansa proyek," katanya dalam percakapan dengan Kompas di rumahnya di Demak, pekan lalu.

PRAKOSO tak sekadar berbicara atau melemparkan ide karena ia telah membuktikan bahwa buah-buahan impor tersebut bukan tidak dapat dikembangkan di Indonesia, khususnya di daerah dataran rendah yang iklimnya relatif panas. Ini dibuktikannya dengan menanam dan mengembangkan berbagai jenis tanaman buah dari luar negeri, bukan hanya dari negara tropis, tetapi juga subtropis, dan terbukti berhasil berbuah di kebunnya. Ada ratusan tanaman buahan-buahan dengan puluhan varietas dari berbagai negara di kebunnya.

Bagi Prakoso, jangan pernah mengatakan tak bisa jika belum mencoba. Oleh karena itu, ia tidak memedulikan cibiran orang ketika berupaya mengembangkan tanaman buah lengkeng varietas pingpong di dataran rendah (panas). Selama ini tanaman lengkeng identik dengan iklim sejuk seperti di Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga. Tiga daerah ini terkenal sebagai penghasil lengkeng lokal.

"Tanaman lengkeng seperti di Pringsurat itu kan tidak bisa dikembangkan di daerah lain yang iklimnya berbeda. Akibatnya, perkembangannya terbatas, apalagi tanaman lengkeng di sana (Pringsurat) buahnya belum tentu stabil sehingga tak jarang warga Pringsurat menjual lengkeng bangkok dengan latar belakang tanaman lengkeng lokal. Ini kan memprihatinkan," kata lelaki kelahiran Yogyakarta, 4 November 1958 itu.

Oleh karena itu, ketika ke Thailand, Prakoso melihat pengembangan tanaman lengkeng di sana sangat menjanjikan. Buahnya besar-besar sehingga disebut lengkeng pingpong dan masa berbuahnya pun relatif pendek. Berbekal keyakinan, Prakoso membawa beberapa pucuk tanaman lengkeng tersebut ke Demak. Agar tidak layu, pangkal pucuk tanaman lengkeng dibalut tisu basah dan dimasukkan ke dalam koper.

Sampai di rumahnya di Demak, pucuk tanaman lengkeng disambungnya dengan tanaman lengkeng bangkok yang berasal dari biji. Hasilnya, satu tahun kemudian tanaman lengkengnya berbuah dan besar-besar, lingkar buahnya bisa mencapai 11 sentimeter. Melihat hasil percobaannya ini, Prakoso mempunyai obsesi menjadikan lengkeng pingpong sebagai buah unggulan di Demak.

"Saya undang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Demak. Mereka datang, tetapi tidak ada tanggapan. Saya ditanya kenapa harus tanaman buah dari luar, kan ada yang dalam negeri. Bagi saya mengapa harus anti dari luar kalau memang bisa dikembangkan di sini daripada kita impor buahnya," kata Prakoso.

Akhirnya, Prakoso bergerak sendiri dengan menggandeng kelompok-kelompok tani dan teman-temannya sesama penggemar tanaman di Jawa Tengah untuk memperkenalkan dan mengembangkan lengkeng pingpong. Hasilnya, tanggapan mereka sangat positif, terutama kalangan kelompok tani.

Meski sebenarnya bisa mengembangkan sendiri tanaman lengkeng pingpong, Prakoso memilih berbagi pembudidayaan bibit pada petani. "Tujuan saya penyebaran dulu. Saya ingin membantu petani karena merekalah ujung tombak pertanian. Soal produksi (memproduksi sendiri) nanti dulu," kata Prakoso yang tidak pernah khawatir orang lain memanfaatkan ilmunya.

SAAT ini puluhan ribu bibit lengkeng pingpong sudah tersebar ke seluruh Indonesia, sekitar 40.000 batang ke kelompok tani, 20.000 batang ke masyarakat umum, dan 15.000 batang ke kalangan penggemar. Harga bibit siap tanam Rp 150.000 per batang, usia empat bulan atau pascasambung pucuk Rp 40.000 per batang.

Sebagai permulaan, Prakoso mulai mengembangkan sendiri tanaman lengkeng pingpong di Boja (70 batang) dan di Kendal (120 batang). Prakoso juga menjadi konsultan tanaman, menangani kebun-kebun buah milik beberapa pengusaha di Semarang, beberapa di antaranya juga mengembangkan tanaman lengkeng pingpong dan itoh.

Dari usahanya di bidang tanaman dan juga konsultan tanaman, Prakoso boleh dibilang cukup berhasil. Perkenalannya pada dunia ini awalnya karena hobi sang ayah, Sarjono, yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resor Demak tahun 1969-1975. "Ayah sejak dulu suka bercocok tanam di rumah dinas, mulai dari belimbing sampai mangga lokal," ceritanya. Hobi itu ditekuni Prakoso sejak ia duduk di bangku SMA sampai kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Setelah lulus dari Unissula tahun 1979, Prakoso mulai merintis usaha pembibitan ini.

"Kalau bisa ditanam di sini, mengapa tidak dikerjakan?" demikian pikirnya saat itu. Dia pun berburu bibit sampai ke Vietnam, Thailand, dan berbagai daerah di Indonesia. Prakoso membangun jaringan penggemar atau pehobi, kemudian membantu kelompok tani mengembangkan bibit-bibit itu.

Kini di halaman rumahnya seluas 7.000 meter persegi dan dipenuhi bibit tanaman, Prakoso menikmati hidupnya sebagai petani. "Saya lebih suka disebut petani daripada wiraswasta atau pengusaha," ucapnya. "Saya ini petani, kalau pengusaha itu kan tinggal memerintah. Saya menangani sejak awal tanaman itu tumbuh sampai berbuah. Istri pun saya tantang, mau tidak jadi mbok tani, hidup di desa," kata suami Ratih Maya Ningrum (47), mantan karyawan sebuah perusahaan di Jakarta.

Meski semula tak mau mengikuti langkah Prakoso kembali ke Demak, akhirnya Ratih mau menjadi mbok tani di Demak, mengikuti suaminya. Awalnya, Ratih stres karena terbiasa sibuk di Jakarta sebelum akhirnya terbiasa. Prakoso berpendapat, apa yang dicapainya kini terwujud karena dia melakukannya dengan senang hati dan tekun. "Itu kuncinya. Saya senang dengan tanaman sehingga saya kerjakan urusan tanam-menanam ini seperti mengerjakan hobi," kata Prakoso.

DENGAN usahanya tersebut, ayah Vera Eka (21) dan Danny Dwi (19) ini tetap mengejar obsesinya menjadikan buah produksi petani sebagai raja di negeri sendiri. Ini akan memberi nilai tambah pada petani buah yang selama ini hanya gigit jari menyaksikan maraknya buah impor di pasaran. (YOVITA ARIKA/ROBERT ADHI KSP)

Sumber : Kompas, Rabu, 4 Mei 2005
Read Full 0 comments

Pascal Lamy : Dirjen WTO Harus Adil

Pascal Lamy: Dirjen WTO Harus Adil
Oleh : Simon Saragih

ISU perdagangan dunia dalam beberapa tahun terakhir ini sarat dengan tudingan bahwa negara maju mengeksploitasi negara-negara berkembang. Negara maju memaksa negara berkembang membuka pasar, sementara negara maju sendiri tidak mau membuka pasarnya bagi produk negara berkembang. Muncullah gelombang demonstrasi yang seakan tidak ada hentinya.

Muncul tekanan agar negara maju mengurangi subsidi ratusan miliar dollar AS untuk melindungi petani di Eropa dan AS. Subsidi itu telah membuat petani di negara maju bisa menjual produk murah dan menutup kesempatan bagi produk negara berkembang. Produk kapas di Botswana, yang punya kualitas serupa dengan Eropa, tidak bisa memasuki pasar negara maju.

Oleh karena itu, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO) ditantang untuk menyeimbangkannya.

Menurut Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, selain memberi bantuan dana kepada negara berkembang, salah satu cara untuk menolong warga miskin di negara berkembang adalah dengan membuat pasar negara maju bagi produk negara miskin.

"Bukan a free trade but a fair trade (bukan perdagangan bebas, tetapi perdagangan yang adil)!" demikian teriak para aktivis perdagangan adil di dunia. Karena itu, negara berkembang menaruh harapan pada seorang Direktur Jenderal (Dirjen) WTO. Mulai 1 September 2005 mendatang Pascal Lamy (58) menjabat sebagai dirjen menggantikan posisi Supachai Panitchpakdi asal Thailand. Bisakah Lamy diandalkan oleh negara berkembang?

Lamy sadar, rekam jejaknya sebagai pembela subsidi pertanian Uni Eropa (UE) selama lima tahun menjabat Ketua Komisi Perdagangan UE (1999-2004) merupakan catatan yang jelas bagi banyak orang.

"Itu adalah masa lalu. Kali ini saya berpindah ke sebuah posisi berbeda," kata Lamy, yang suka tenis, joging, dan maraton. "Seberapa banyak saya beranjak ke posisi baru masih semacam rahasia dapur yang belum bisa saya utarakan ke publik," ujarnya lebih lanjut.

Lamy tampil sebagai Dirjen WTO setelah pesaing terakhirnya Carlos Perez del Castillo (asal Uruguay, yang sudah lama malang melintang di WTO) mengundurkan diri, Jumat (13/5/2005). Ia mendengar Lamy unggul di dalam konsensus di ruang tertutup di Kantor WTO di Geneva.

Harap maklum, pemilihan dirjen di WTO bukan bergantung pada voting, bahkan hal itu sebisa mungkin dihindari. Pilihan dirjen didasarkan pada opini atas seorang calon bahwa seorang calon sebaiknya tidak saja diterima di negara atau kawasan, tetapi juga oleh negara maju.

Terkesan tidak adil memang mengingat negara maju memainkan lobi yang kuat dengan pengaruh uang dan juga janji- janji akan membuka pasar pada negara yang mendukung calon negara maju. Tidak heran jika Lamy unggul karena dia juga didukung Afrika dan Karibia, yang dijanjikan akan mendapatkan akses ke pasar UE.

Lepas dari itu, meski mengatakan bersedia berubah, Lamy tetap dicurigai karena tidak melakukan upaya keras mengurangi subsidi pertanian. Di sisi lain dia dituduh negara asalnya memberi konsesi terlalu banyak.

LEPAS dari kontroversi tentang Lamy, secara pribadi ia adalah orang yang mempunyai pengalaman dan kompeten untuk menduduki posisi dirjen. Lamy adalah produk dari elite pemerintah Perancis. Dia meniti karier di belakang meja sebagai ahli strategi dan pendorong perkembangan UE selama dua dekade.

Dia dekat dengan mantan Ketua Komisi UE Jacques Delors dan dijuluki sebagai "mesin yang brilian". Dia dipandang sebagai pekerja keras, pengagum permainan kekuasaan.

Ia lahir di dekat kota Paris, persisnya di Levallois-Perret, pada 8 April 1947. Pada 1972 ia menikahi seorang pengacara bernama Married Genevieve Luchaire dan dikaruniai tiga anak bernama Julien, David, dan Quentin.

Dia lulus dari sekolah elite Perancis bernama National School of Public Administration (ENA), setelah lulus dari sekolah-sekolah top Perancis di bidang ekonomi dan politik. Lamy adalah orang kepercayaan dari mantan PM Pierre Mauroy, 1983-1984.

Sebelumnya ia adalah penasihat Delors sejak 1981 hingga 1983, saat Delors menjabat Menteri Perekonomian Perancis. Dia tetap mengikuti Delors ke UE dengan menjadi anggota Komite Eksekutif UE. Pada posisi ini dia bekerja di balik layar sebagai Kepala Staf Komisi UE selama 10 tahun. Lepas dari sana ia bergabung dengan manajemen Credit Lyonnais (sebuah bank milik Perancis), 1994-1999.

Selepas itu ia menjadi Ketua Komisi Perdagangan UE (1999-2004). Dalam lima tahun terakhir ini dia selalu bertemu dan berurusan dengan WTO, dalam perannya sebagai Ketua Komisi Perdagangan UE, 1999-2004.

Lamy adalah tokoh yang mengupayakan sebuah globalisasi yang terkontrol, tidak liar. Sebuah globalisasi yang terlalu bebas bukan sesuatu yang menguntungkan.

PADA Januari 2005, saat melakukan presentasi di Dewan Umum WTO dalam rangka penyeleksian, ia berjanji menjembatani perbedaan antara negara-negara maju dan negara-negara miskin di WTO yang beranggotakan 148 negara. Pada masa-masa terakhir sebagai Ketua Komisi Perdagangan UE, Lamy memang berjuang bersama negara berkembang untuk mengurangi subsidi pertanian di negara maju.

Itulah yang membuat dia dikecam di negara asalnya. Namun, di sisi lain dia mendapatkan simpati dari negara maju karena dalam pertemuan WTO di Singapura, dia berperan melahirkan Isu Singapura, liberalisasi lebih jauh sektor investasi, transparansi pembelian barang-barang untuk keperluan pemerintahan, dan pentingnya undang-udang yang menjamin kebijakan persaingan.

Dalam hal ini Lamy berbeda dengan kepentingan negara berkembang, yang menuduh Isu Singapura adalah bentuk lain dari tikaman pisau negara maju, yang di sisi lain tidak serius mengurangi subsidi pertanian. Namun, dia tetap dinilai sebagai orang yang tepat sebagai Dirjen WTO.

Dia sebenarnya penganut perdagangan bebas yang berarti akan dibenci oleh kelompok antiglobalisasi dan sebagian sayap kiri Perancis meskipun dia beraliran kiri.

Saat melakukan pemaparan pada Januari lalu dia mengatakan, pembukaan pasar dan pengurangan hambatan pasar merupakan hal terpenting untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan. "Saya akan menjadi broker yang harus adil," katanya, merujuk pada penyeimbangan kepentingan negara maju dan negara miskin. (SIMON SARAGIH)

Sumber : Kompas, Rabu, 18 Mei 2005
Read Full 0 comments

Muslikun, Ahmad, PArjono, Sulipin, Maftuhin, Rohmat, dan Sumali : Toedjoeh Koeli Djawa di Tanah Rentjong

Toedjoeh Koeli Djawa di Tanah Rentjong
Oleh : Samiaji Bintang

TELEPON berdering di rumah Muslikun di Dusun Tirem. Ketika itu Senin siang di akhir bulan Maret. Sebagian besar warga sibuk bekerja di ladang, tetapi Muslikun memilih istirahat di rumah.

Bapak dua anak ini belum genap sepekan pulang kampung. Selama berbulan-bulan dia jadi tukang batu dan kuli bangunan di Jakarta. Anaknya yang bungsu juga turut mengadu nasib di ibukota republik itu, jadi buruh konveksi di Pejagalan, Jakarta Utara.

Dusun Tirem terletak di kecamatan Mbrati, Grobogan, Jawa Tengah. Tirem bukan dusun yang kaya sumberdaya alam. Tak banyak aktivitas ekonomi yang berkembang di situ. Sebagian anak muda memilih pergi ke kota-kota besar di Jawa, macam Semarang, Surabaya, atau Jakarta. Mereka yang tinggal di kampung umumnya bekerja sebagai buruh tani.

“Muslikun, kamu mau berangkat ke Aceh ndak?” tanya lelaki di seberang sana.

Lelaki itu tetangga dan sahabat Muslikun. Namanya, Marzuki. Dia sudah beberapa hari berada di Aceh. Marzuki menjadi kuli bangunan untuk proyek pemukiman korban tsunami.

“Kalau kamu ndak kerja, kamu ndak punya modal. Ngapain kamu di kampung?” desak Marzuki di telepon.

Marzuki kemudian mengungkap nikmatnya pengalaman jadi kuli di daerah yang porak-poranda dilanda tsunami itu. Jika memilih menjadi tukang, upah bersih sehari Rp 45 ribu. Lembur sampai jam 10 malam, dihitung kerja sehari. Jadi dalam sehari kerja, dari pagi hingga malam, sudah bisa mengantongi uang Rp 90 ribu.

Mendengar cerita Marzuki, Muslikun segera membayangkan bakal kerja enak di Aceh. Bak kalkulator, otaknya segera menghitung jumlah uang yang didapat dalam sebulan kerja: Rp 2,7 juta. Nilai ini belum pernah didapat Muslikun selama sebulan jadi kuli bangunan di Pulo Gadung, Slipi, Cililitan, Grogol, Bintaro atau tempat lain di Jakarta.

“Iya, aku mau ke sana,” sahut Muslikun.

Hari itu juga Muslikun mengundang beberapa tetangga untuk berkumpul di rumahnya. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas tawaran Marzuki. Perhitungan upah yang bakal diterima juga diungkap. Empat belas tamu datang, termasuk Ahmad, Sulipin, Sumali, Parjono, Rohmat dan Maftuhin. Sulipin peserta rapat termuda. Usianya belum 20.

Kesimpulan rapat hari itu sudah bulat. Mereka sepakat menyusul Marzuki ke Serambi Mekkah.

Namun, ganjalan lain masih ada. Pasalnya, tiap orang harus menyediakan sendiri ongkos pesawat. Minimal Rp 1 juta per orang.

“Saya terpaksa gadaikan BPKB motor bebek saya untuk ongkos,” kisah Muslikun kepada saya. Selain itu, dia juga merasa beruntung, karena sempat menabung ketika jadi kuli di Jakarta. Surat kepemilikan kendaraan dihargai Rp 1,5 juta. Sebanyak satu juta digunakan buat ongkos ke Aceh. Sisanya untuk keluarga di rumah selama ia tinggalkan.

“Kalau saya terpaksa pinjam duit di bank BRI,” ujar Ahmad.

Parjono menempuh cara lain, “Saya keliling cari pinjaman ke teman-teman tetangga.”

Sulipin, Maftuhin, Rohmat, dan Sumali melakukan hal serupa, mulai dari pinjam ke teman sampai ke bank.

Kini masalah ongkos beres. Tujuh orang positif berangkat. Perbekalan pun disiapkan. Hari Kamis, selang tiga hari setelah rapat di rumah Muslikun, mereka naik bus dari terminal bus Purwodadi ke Jakarta. Jumat tujuh lelaki itu tiba di Jakarta. Ongkos mereka selanjutnya hanya cukup untuk beli tiket pesawat.

“Kami numpang menginap semalam di rumah teman, dan cari pinjaman ke teman-teman di Jakarta,” tutur Sumali.

Nasib mereka mujur. Pinjaman segera diperoleh. Sabtu pagi di awal April, mereka berangkat dari bandar udara Soekarno-Hatta menuju Aceh.


BAYANGAN bakal kerja enak, upah lembur tinggi, dan gaji lancar pupus begitu tiga pekan bekerja di PT BJM, sebuah subkontraktor lokal yang membangun pemukiman korban tsunami di daerah Bitai, Banda Aceh. Saat saya menanyakan nama lengkap perusahaan tersebut, tak seorang pun dari mereka yang tahu! Upah yang semula dijanjikan bakal dibayar tiap dua pekan sekali pada hari Selasa ternyata omong kosong.

“Mundur terus, kata orang BJM dimundurkan jadi Jumat. Pas hari Jumat, bilangnya Selasa. Selasa-Jumat, begitu terus,” ungkap Ahmad.

Parjono menimpali, “Memang dapat makan. Tapi gaji kami ndak dibayar.”

“Rombongan kami tidak ada yang dibayar. Saya mandornya di BJM. Sebelum terlalu banyak persoalan di situ, saya dan teman-teman langsung kabur dari situ,” kata Muslikun.

Kendati ada surat perjanjian kerja, itu tak menjamin para kuli bangunan akan menerima haknya sesuai isi perjanjian.

“Saya langsung sobek-sobek. Saya jengkel, buat apa (surat perjanjian) itu… Kami merasa dibohongi.” Dahi Muslikun berkerut. Ujung-ujung alisnya ikut naik.

Tujuh kuli itu pun memilih angkat kaki dari bedeng tempat mereka menginap ketimbang bekerja tanpa upah.

Soal subkontraktor nakal juga dikeluhkan Syaiful. Dia kepala tukang alias mandor proyek untuk pembangunan tepi pembatas jalan di ruas jalan Lampeneureut, Aceh Besar. Di samping itu Syaiful bersama sejumlah anak buahnya juga tengah menyelesaikan beberapa unit rumah bantuan.

Meski antara sesama orang Aceh, tidak berarti bebas dari kecurangan. Syaiful asli Aceh, kelahiran Banda Aceh. Dia kemudian menguraikan modus yang jamak dilakukan, “Jika pemborong A dapat proyek, dia akan cari sub lagi. Lalu kasih tawaran harga proyek lebih rendah dari yang dia dapat sebelumnya ke pemborong B. Ujung-ujungnya upah yang di bawah sampai ke kuli jadi ikut rendah. Padahal kebutuhan hidup di Aceh sudah makin mahal. Makanya saya tidak mau menerima tawaran kalau harga penyelesaian per unitnya sudah di bawah standar.”

Menurut Syaiful, harga standar penyelesaian satu unit rumah senilai Rp 15 juta. Namun angka itu masih bisa ditawar hingga Rp 12 juta. Di bawah angka tadi, jangan harap kehidupan layak bisa didapat para kuli.

“Tapi ada kontraktor dari Medan atau dari Jawa yang berani memasang harga Rp 8 juta. Kulinya diambil dari Jawa. Mereka pikir biaya hidup di Aceh sama dengan di Jawa, yang sepiring nasi bisa dapat Rp 3.000?”

Hendra, mandor yang saya temui di Lampuuk, Aceh Besar, membenarkan adanya pemborong curang. Untuk menjamin kesejahteraan anak buahnya yang umumnya orang Jawa kelahiran Medan, Hendra selalu meminta surat perjanjian, lengkap dengan alamat jelas masing-masing pihak.

“Biar jelas. Kalau ada apa-apa masing-masing bisa menuntut,” katanya.

Muslikun dan kawan-kawan sudah jadi korban. Tapi tujuh kuli itu tak putus asa. Mereka segera melamar ke Waskita Karya, kontraktor pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara, yang membangun pemukiman dengan dana Turkish Red Cross Society.

Waskita Karya tengah membutuhkan banyak kuli bangunan. Mereka memperoleh proyek miliaran rupiah untuk membangun ratusan unit rumah. Di Bitai, Banda Aceh, mereka menggarap 350 unit rumah tipe 45. Total anggaran lebih dari Rp 30 miliar. Di Lampuuk, Aceh Besar, Waskita Karya kebagian mengerjakan 200 unit rumah bertipe sama. Pembangunan rumah-rumah itu juga didanai Turkish Red Cross Society. Beberapa waktu lalu, Waskita Karya pernah masuk daftar hitam Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias, karena jumlah rumah yang dibangun jauh di bawah target dan tenggat waktu. Padahal dana sudah keburu diberikan.


LAMPUUK adalah satu dari ratusan kampung yang paling parah dilanda tsunami. Ratusan rumah rata tanah, kecuali Masjid Rahmatullah yang memiliki tiang dan pondasi kokoh. Letak gampong ini sekitar satu kilometer dari pantai.

Ratusan pekerja tampak sibuk. Rencananya akan dibangun 700 unit rumah tipe 45 di sini. Rumah yang sudah selesai dibangun 200 unit. Sisanya akan dikerjakan subkontraktor Waskita Karya.

Seperti juga di Bitai, rata-rata kuli dari Jawa. Waskita sengaja memilih kuli dari Jawa. Mereka mendatangkan secara khusus kuli-kuli asal Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, hingga Jawa Barat. Sebanyak 400 orang. Di Bitai, lebih banyak lagi, 1.500 orang. Para kuli secara bertahap dipulangkan begitu target unit rumah dipenuhi.

“Pertama karena kemauan kerja. Mereka lebih bisa dipacu, karena mereka ‘kan kerja di rantau. Kalau yang lokal, mereka ‘kan bisa cepat pulang setelah bekerja, apa yang bisa dipacu. Kedua karena ketrampilan mereka sedikit di atas daripada orang lokal,” ujar Muchdir Arrys kepada saya. Muchdir kepala lapangan Waskita Karya untuk proyek pemukiman di Lampuuk.

“Tapi itu bukan berarti kami tidak mementingkan orang lokal. Kami juga mempekerjakan orang lokal kok,” lanjutnya.

Bukan hanya Waskita yang mengirim kuli dari Jawa untuk proyek di Lampuuk. Beberapa kontraktor di Lampuuk juga mempekerjakan kuli Jawa. Bedanya, kuli-kuli itu didatangkan dari Medan, Sumatera Utara.

Meski lahir dan hidup di Medan, nenek moyang mereka dari Jawa. Marsidi, contohnya. Lelaki 36 tahun yang kini bekerja di PT Kuala Batee Ind itu punya orangtua asli Wonosobo, Jawa Tengah. Di Medan dia sempat bekerja sebagai buruh tani. Namun penghasilan buruh tani amat rendah. Itu sebabnya Marsidi mengangguk saja ketika ada teman yang menawarinya kerja di Aceh.

Contoh lain, Priadi, 19 tahun. Nenek, kakek hingga paman dan bibi pemuda yang baru lulus sekolah menengah atas di Medan ini berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.

Mereka juga masih menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, kawasan Lampuuk tak ubah perkampungan orang Jawa.

Mereka tinggal di bedeng-bedeng berdinding anyaman rumbia, beratap seng. Ada juga yang berdinding tripleks. Beberapa. Atap seng membuat terik matahari siang bakal “merebus” siapa pun yang berada dalam bangunan itu.

Luas bedeng sekitar 6 x 4 meter persegi. Daya tampung satu bedeng bisa mencapai 20 orang, seperti bedeng yang dihuni Marsidi. Baju, celana, dan handuk bergelantungan di seluruh dinding!

“Kalau tidur, ya jempol jumpa jempol.” Marsidi terkekeh. Belum lagi keringat beradu keringat, pikir saya.

Muslikun dan enam kawannya juga merasakan kondisi yang sama di Bitai. Baru beberapa hari ini mereka memilih pindah dari bedeng ke rumah yang hampir selesai dibangun. Alasan mereka, bedeng itu dihuni terlalu banyak orang. Jarak bedeng ke tempat kerja pun lumayan jauh.

Meski berada di bangunan yang lebih baik, tujuh kuli itu tetap tidur dengan alas seadanya, seperti tikar plastik, tripleks, terpal, atau kardus bekas.

Ketika malam datang, yang ada cuma gelap. Letak warung cukup jauh dari tempat mereka menginap. Jika mereka lapar, maka terpaksa masak sendiri ketimbang pergi ke warung.

Program berhemat dijalankan. Ongkos berangkat ke Aceh yang dihimpun dengan cara berutang kiri-kanan itu belum lunas. Bahkan, di hari Minggu atau hari libur mereka tetap bekerja untuk mengumpulkan uang lebih banyak agar utang terbayar.

“Kalau libur ya rugi. Kalau ndak sakit, ya lebih baik kerja saja. Buat apa libur, sudah datang jauh-jauh, ya rugi tho,” kata Muslikun, dengan logat Jawa Tengahan yang kental.

Mereka benar-benar seperti pekerja rodi atau kuli kontrak Jawa di masa penjajahan Belanda. Bedanya, mereka dibayar dan bekerja tak kenal waktu atas keinginan sendiri.

“Kalau di Waskita sudah tidak ada kerja, kita mau cari di tempat lain. Rencananya mau Lebaran baru kami pulang ke Jawa, setelah duit terkumpul.” Muslikun mengungkap impiannya.


PADA 1863, kapal Josephine melego jangkar di pelabuhan Sumatra Timur. Kapal itu mengangkut ratusan kuli kontrak asal Jawa yang didatangkan Jacobus Nienhuijs. Dia pengusaha Belanda yang membuka perkebunan tembakau di Deli.

Keharuman tembakau Deli sudah tersohor di pasar Eropa. Nienhuijs berencana memperluas lahan kebunnya agar produksi tembakau Deli bertambah dan menghasilkan keuntungan berlipat ganda.

Semula Nienhuijs hanya memakai tenaga orang Tionghoa dari Penang yang disebut laukeh. Tapi kemudian dia juga mempekerjakan puluhan kuli harian asal Melayu.

Pasokan kuli dari Tiongkok tersendat, ketika pemerintah negeri itu mempersulit warganya ke Deli. Di lain pihak, pemerintah Inggris di India juga mengajukan berbagai syarat bagi pekerja Tamil yang hendak ke Deli. Namun, calo buruh kebun di Penang dan Singapura tak kekurangan akal. Mereka mendatangkan kuli ke Deli, dengan dalih hendak mempekerjakan mereka di Johor.

Bagi tuan-tuan kebun, penduduk setempat, seperti orang Melayu dan Karo, dianggap tidak cocok jadi kuli. Mereka suka melawan.

“Tenaga kuli bangsa-bangsa Sumatera tidak laku dan tidak diterima di Deli, sebab mereka tidak patuh dan taat seperti kuli-kuli kontrak Jawa. Begitu pula mereka meminta gaji lebih dari kuli-kuli Jawa. Jika kuli-kuli Jawa tidak mau bekerja, mereka akan dimasukkan dalam penjara, siapa yang membantu mereka untuk lari akan dikenakan hukuman juga,” ungkap Nienhuijs dalam Oos-Indische Spiegel, yang terbit di Amsterdam pada 1876.

Istilah resmi Koelie-Ordonnantie atau Contract-Koelie yang disebut juga kuli kontrak muncul pada 1889. Aturan ini hanya berlaku bagi kuli asal luar negeri (Tiongkok dan Tamil) serta orang Indonesia dari luar Sumatra Timur. Karena itu jumlah kuli asal Jawa terus bertambah setelah Nienhuijs membawa mereka ke Deli. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah buruh kebun asal Tiongkok dan Tamil.

Kata “koelie” diperkirakan berasal dari bahasa Inggris “cooli” yang mengadopsi kata “kuli” dari bahasa Tamil, yang artinya orang upahan untuk pekerjaan kasar. Kuli kontrak adalah sebutan bagi orang-orang miskin di Jawa yang kemudian mengikatkan diri pada perjanjian kerja. Tapi hidup yang mereka dapat di kebun jauh dari sejahtera. Banyak yang menderita berkepanjangan. Dalam Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt 1870-1979, Ann Laura Stoler menulis, “kuli adalah binatang yang harus dijinakkan, karena kuli adalah modern slavery.” Kuli sama dengan budak!

Saat perkebunan tembakau beralih ke karet pada 1926, kuli kontrak laki-laki Jawa terus bertambah hingga berjumlah 142.000 orang, sedangkan buruh perempuan asal Jawa 52.400 orang. Menurut catatan pemerintah Belanda, pada tahun 1920 jumlah orang Jawa di Sumatra Timur mencapai 353.551 orang, melebihi jumlah orang Melayu yang tercatat 285.553 orang.

Sama seperti kuli-kuli Jawa di Aceh masa kini, para kuli kebun ini pun tinggal di bedeng-bedeng. Tak sedikit yang disiksa dengan kejam ketika terjadi perkelahian atau pemberontakan atau pembunuhan di kebun. Sejarah masa lalu terus berlanjut. Pulau Jawa tak hanya pusat kekuasaan, melainkan juga pulau pemasok kuli atau orang upahan terbesar sampai ke milenium ini.


SENJA turun di Lampuuk awal Juni lalu. Pertanda gelap bakal menyelimuti perkampungan kuli. Saya mendengar dentam house music dari deretan warung.

Sebagian warung sudah menyalakan televisi dan memacak antena parabola yang akan menayangkan pertandingan sepak bola di ajang Piala Dunia di Jerman. Siaran itu menjadi obat lelah ratusan kuli di malam hari. Tapi tontonan tadi baru bisa disaksikan selepas sholat Isya.

“Sejak Maghrib sampai Isya, tidak ada warung yang buka. Setelah itu baru ada tontonan bola,” kata Hendra, salah seorang mandor.

Sebaliknya di Bitai, ketujuh kuli asal tanah Jawa tak banyak menikmati gempita Piala Dunia yang disaksikan jutaan pemirsa. Lewat jam 10 malam, mereka memilih mendekam di bangunan yang belum selesai. Beristirahat setelah lembur.

“Capek Mas,” kata Ahmad. Sulipin malah sudah rebah di lantai.

“Warung yang punya TV juga sudah tutup. Jadi mendingan istirahat saja. Besok ‘kan mesti kerja lagi,” imbuh Muslikun, sebelum saya berpamitan.

*) Samiaji Bintang adalah kontributor Aceh Feature di Banda Aceh.

Sumber : Aceh Feature, 27 Juni 2006
Read Full 0 comments

Purnawirman : Persembahan Terakhir Sang Juara

Jun 26, 2009
Persembahan Terakhir Sang Juara
Oleh : Nasrullah Nara

Bangsa Indonesia pantas berterima kasih kepada lima pelajar SMA yang merebut dua medali emas dan tiga medali perunggu dalam Olimpiade Fisika Internasional, 3-12 Juli lalu di Salamanca, Spanyol. Prestasi mereka membuktikan Indonesia belum habis.

Dalam ajang yang diikuti 340 pelajar dari 76 negara, Indonesia menjadi negara yang disegani dalam kompetisi sains. Berdasarkan perolehan medali, Indonesia unggul atas Amerika Serikat, Jerman, Australia, dan Vietnam yang masing-masing meraih satu emas. Posisi Indonesia sejajar dengan Iran, India, dan Korea (dua emas). Posisi teratas ditempati China dan Taiwan (lima emas), disusul Rusia (empat emas), dan Hongaria (tiga emas).

Dua emas untuk Indonesia disumbangkan oleh Andika Putra (SMA Sutomo 1 Medan) dan Ali Sucipto (SMA Xaverius 1 Palembang). Adapun medali perunggu diraih oleh Purnawirman (SMA Negeri 1 Pekanbaru), Michael Adrian (SMA Regina Pacis Bogor), dan Ario Prabowo (SMA Taruna Nusantara Magelang).

Prestasi yang diukir anak bangsa tersebut menjadi penyejuk kalau mengingat nasib bangsa ini sekarang yang terengah-engah dalam berbagai krisis.

Medali terakhir

Lima medali tersebut persembahan terakhir dari mereka sejak berkecimpung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia satu-dua tahun lalu. Mereka bergabung dalam tim olimpiade fisika sejak duduk di kelas I dan II. Tahun ini, kecuali Andika, mereka sudah tamat SMA. Ajang olimpiade fisika hanya terbuka bagi siswa SMA.

Ali, Purnawirman, Michael, dan Ario sudah mendapat tiket gratis untuk kuliah di Nanyang Technological University, Singapura. Setelah melepas kerinduan bersama orangtua di kampung masing-masing, pekan ini mereka sudah harus terbang ke Singapura untuk mulai kuliah.

Akan halnya Andika, ada satu cerita unik. Remaja kelahiran Medan, 28 Agustus 1988, ini memutuskan ”pensiun dini” dari anggota tim olimpiade fisika. Padahal, tahun depan ia sebetulnya masih berpeluang membela Indonesia untuk olimpiade fisika Asia dan internasional. Bahkan, dengan catatan prestasinya yang kian baik ia sangat potensial meraih lagi medali emas.

Terakhir, di Salamanca, putra dari pasangan Suwardi-Hou Lie Tjhing ini menempati urutan ketujuh dari 10 peraih nilai tertinggi. Ia meraih nilai 48,3. Urutan pertama berasal dari Hongaria atas nama Gabor Halasz (49,5). Urutan keenam yang diraih pelajar dari China, Li Han Han (48,7), hanya beda tipis dari nilai Andika.

Mengapa Andika membuang-buang kesempatan emas itu? ”Beri kesempatan buat anak-anak lain untuk berprestasi,” katanya. Alasan lain, dia ingin berkonsentrasi penuh pada pelajaran di kelas III SMA agar kelak mampu menembus perguruan tinggi terkemuka di Amerika.

Akhir yang gemilang

Dari prestasi di Spanyol itu, satu hal yang patut dicatat, Ali dan Andika benar-benar menutup ”kariernya” sebagai anggota tim olimpiade fisika dengan catatan sangat gemilang. Kemilau medali emas dari tahun ke tahun bisa jadi tak ada bedanya. Tetapi, kali ini, ”nilai karat” medali emas yang diraih kedua remaja tersebut sangat murni.

Menurut para pendamping/pembina tim Indonesia yang terdiri dari Rahmat Widodo Adi, Edi Gunanto, dan Yudhistira Virgus, yang dimoderasikan adalah gabungan antara nilai ujian teori dan eksperimen. Namun, tanpa dimoderasikan pun Indonesia sudah pasti meraih dua emas. Total nilai Andika (48,3) dan Ali (46,6) melewati batas bawah nilai emas (45). Moderasi adalah ajang debat bagi para pembina/pendamping tim untuk mengompromikan nilai batas bawah dan batas atas peraih medali.

Nilai ”karat” emas yang dicapai kali ini bahkan lebih ”murni” dibandingkan dengan tahun lalu. Nilai emas Andika dan Ali lebih tinggi dari daripada nilai emas yang diraih Indonesia dalam olimpiade di Korea tahun 2004. Kala itu, Yudhistira Virgus menyumbang satu medali emas dengan nilai 44,8.

Namun, catatan prestasi Andika dan Ali bukan tak luput dari kegagalan. Dalam Olimpiade Fisika Asia, Mei 2004 di Hanoi, Vietnam, keduanya sama sekali tak mendapat medali. Saat itu Indonesia boleh dibilang gagal total karena satu perunggu pun tak tergapai. Ali hanya bisa membawa pulang honorable mention (penghargaan di bawah perunggu).

Tiga bulan kemudian dalam Olimpiade Internasional tahun 2004, Andika mulai bersinar dengan meraih perak. Ali lagi-lagi harus puas dengan honorable mention.

Menggapai puncak butuh proses dan kerja keras. Inilah beda mereka dibandingkan dengan jutaan remaja lain, yang tergila-gila mengejar popularitas lewat acara ”idol-idol”-an.

Sumber : Kompas, Sabtu, 16 Juli 2005
Read Full 0 comments

Pascal Couchepin : Tips Nol Korupsi Pascal Couchepin

Jun 20, 2009
Tips Nol Korupsi Pascal Couchepin
Oleh : Pieter P Gero

Pikiran langsung teringat pada Pascal Couchepin, begitu muncul berbagai kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat tinggi di negeri ini. Couchepin adalah Konsuler Federal sekaligus Menteri Dalam Negeri Swiss. Sebagai pejabat dari negeri yang dikenal zero corruption alias nol korupsi, Couchepin banyak menyampaikan pandangannya soal korupsi yang masih pantas untuk disimak.

Pria tinggi besar dan suka humor ini suka bicara belak-belakan. Kalangan Kedubes Swiss di Jakarta sempat wanti-wanti untuk tidak mengutip begitu saja semua pembicaraan dengan Couchepin.

Bertemu pada suatu petang di kantornya di Bern, Swiss, beberapa waktu lalu, Couchepin memang bicara seperti tanpa beban. Apalagi ketika kepada mantan Presiden Konfederasi Swiss pada tahun 2003, dilontarkan pertanyaan mengapa Swiss bisa dikenal sebagai negeri tanpa korupsi, sementara Indonesia termasuk negeri ”superkorup”.

”Ini memang perlu waktu. Tetapi suatu hal yang utama adalah bahwa jangan pernah kompromi menghadapi korupsi,” ujarnya tegas. ”Berupayalah untuk tidak pernah menaruh respek kepada mereka yang korupsi. Di Swiss, begitu ada yang korup, langsung dimusuhi. Kalau dia pegawai negeri, maka akan dibenci seluruh rakyat,” tambahnya.

Karena itu, aksi pemberantasan korupsi ini, ujar Couchepin, harus melibatkan seluruh masyarakat. Di Swiss, masyarakat di tingkat canton (provinsi) bisa mengumpulkan tanda tangan untuk mengajukan petisi untuk meminta dilakukan referendum berkaitan dengan segala masalah yang timbul. Tentunya juga berkaitan dengan pemerintahan lokal ataupun pusat yang tak becus dan korup.

Keterlibatan rakyat dan juga kebencian yang diperlihatkan warga masyarakat pada yang korup membuat siapa saja takut dan segan.

Harus lebih baik

Couchepin yang lahir di Martigny, Valais, pada 5 April 1942, ini punya karier politik panjang. Begitu diwisuda sebagai sarjana hukum dari Universitas Lausanne, dia langsung terjun ke politik sebagai anggota Dewan Komunal di Martigny pada tahun 1968.

Dia terpilih sebagai deputi wali kota Martigny pada tahun 1976 dan selanjutnya wali kota tahun 1984 hingga tahun 1998. ”Saya selalu berprinsip harus menjadi lebih baik dari sebelumnya, terutama pada akhir dari setiap jabatan saya,” ujar Couchepin soal hidup dan karier politiknya.

Prinsip ini yang membuatnya menanjak dan bergabung ke arena politik federal (nasional) tahun 1979, saat terpilih sebagai anggota Dewan Nasional mewakili Partai Demokratik Liberal (LDP). Dia menjadi ketua Fraksi LDP di parlemen sejak tahun 1989 hingga 1996. Dia juga menjabat ketua Komite Sains dan Riset pada Dewan Nasional.

Perjalanan mulus membawanya mencapai Dewan Federal (Pemerintahan Pusat) di Bern pada 11 Maret 1998. Couchepin menjabat menteri ekonomi sampai Desember 2002. Dari sana, Couchepin pun menjabat menteri dalam negeri yang bertanggung jawab atas jaminan sosial, kesehatan, pendidikan, perguruan tinggi, riset, dan budaya.

Sesuai dengan sistem konfederasi Swiss, di mana jabatan presiden bergilir di antara tujuh anggota Dewan Federal, maka Couchepin pun menjabat posisi tertinggi dalam pemerintahan Swiss itu tahun 2003. Pengalaman panjang dan padat dalam politik ini yang membuatnya paham benar jangan sekali-kali korup.

Misalnya, Couchepin berpesan agar pejabat atau tokoh selalu mengawasi orang-orang di sekitarnya. ”Karena ketika kita keras dan menolak sogokan, maka pihak penyogok akan datang ke orang-orang sekitar kita,” ujarnya.

Couchepin juga berbicara soal uang politik. Memberi uang pada seseorang saat kampanye bukan suatu uang politik jika uang tadi hanya cukup untuk makan dan minum dalam sehari. Lain halnya jika uang yang diberikan itu ternyata bisa untuk hidup dalam jangka panjang.

Begitu juga setiap pejabat di Swiss diingatkan hanya bisa menerima hadiah atau suvenir dengan nilai tak lebih dari 500 franc Swiss (sekitar Rp 400.000). ”Saya pernah mendapat suvenir terbuat dari emas. Ketika ditanya harganya sekitar 2 juta dollar AS. Segera saja suvenir tadi dikembalikan,” ujarnya saat berkunjung ke sebuah negara di Timur Tengah.

Diakuinya, perlu waktu untuk mengatasi korupsi. Bisa dua sampai tiga generasi. ”Di Rusia tindakan korupsi kini banyak berkurang karena para koruptor yang bersalah langsung dikirim ke Siberia. Menurut saya, Indonesia sudah mulai melakukan langkah pemberantasan korupsi yang cukup baik,” ujarnya. Artinya, harus dikirim juga ke ”Siberia”.

Ayah dari tiga anak ini pun terlihat begitu antusias ketika kepadanya diberikan sepasang wayang golek yang bercerita soal Rama dan Shinta. ”Ini tidak apa-apa, karena harganya masih jauh di bawah 500 franc,” ujarnya sambil tertawa lepas ketika diberi tahu harga wayang golek tadi kurang dari 10 dollar AS.

Sumber : Kompas, Sabtu, 29 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Purnama Darmadji : Melawan Formalin dengan Asap Cair

Jun 19, 2009
Melawan Formalin dengan Asap Cair
Oleh : Lukas Adi Prasetya

Tahun 1995, Dr Ir Purnama Darmadji MSc mencoba membuat ikan asap yang proses pembuatannya tanpa asap. Yang kemudian ditemukan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada itu adalah sebuah teknologi asap cair multiguna dengan sekian banyak varian.

Asap cair bisa dihasilkan antara lain dari kayu, batok kelapa, dedaunan, cangkang kelapa sawit, atau rempah-rempah, menggunakan tungku pembakar stainless dengan suhu 400 derajat Celsius selama semenit, kemudian dikondensasi. Setelah dicampur air dengan perbandingan 1 : 50, ikan cukup dicelup paling lama dua menit, lalu dikeringkan.

”Pengasapan adalah salah satu cara pengawetan ikan yang dikenal manusia. Namun, pada ikan asap yang proses pembuatannya konvensional, hanya diasapi dengan bara api, masih mengandung tar dan benzopyrene. Keduanya adalah penyebab kanker, sedangkan ikan yang diawetkan dengan asap cair tidak berbahaya bagi kesehatan, juga masih layak dikonsumsi hingga sebulan, sama seperti ikan yang diasapkan dengan cara konvensional,” ujar Purnama.

Tambahnya lagi, ”Meski tidak sehebat formalin yang bisa mengawetkan makanan hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan, atau bertahun-tahun, asap cair yang sudah saya teliti ini aman bagi kesehatan.” Asap cair bisa memperpanjang umur simpan makanan, seperti tahu, daging ikan segar, mi, atau bakso.

Rasa asap

Bagi lidah yang peka, makanan-makanan yang kesegarannya diperlama dengan asap cair itu memang masih berasa asap, walaupun konsentrasinya sudah sangat sedikit. Namun, setelah diolah atau dicampur bumbu-bumbu masak, rasa asap bisa tertutup.

”Asap cair yang saya buat ini masih dalam batasan skala laboratorium. Namun, untuk ke depan, bisa saja industri makanan, baik kecil atau besar menggunakannya karena asap cair pada dasarnya bisa dibuat sendiri dan murah,” ujarnya.

Hasil samping berupa arang juga bisa dipakai sebagai bahan bakar. Arang lebih menguntungkan dibanding kayu bakar karena memberikan kalor pembakaran lebih tinggi dan asap yang sedikit. Selain itu, tungku pembakar stainless yang dirakitnya tahun 1995, hanya menelan biaya sekitar Rp 5 juta.

Di pasaran, asap cair memang sudah beredar dengan harga per liternya sekitar Rp 6.000. Namun, itu adalah asap cair yang bukan untuk mengawetkan makanan, melainkan pembeku dan pengawet karet alam. Ia sendiri pada tahun 2002 sudah menjalin kerja sama dengan PT Global Deorub Industry—perusahaan pembuat karet alam yang berorientasi ekspor di Palembang.

Beberapa perusahaan importir karet yang cukup ternama di luar negeri, lanjutnya, sempat khawatir asap cair hasil penelitiannya itu mengganggu pangsa pasarnya. Karena, asap cair (sebagai pembeku karet) lebih tahan busuk hingga 24 hari, jauh dari asam formiat—pembeku karet yang selama ini mereka dipakai—yang hanya bertahan dua hari. ”Karet yang diawetkan dengan asap cair, kualitasnya lebih bagus,” ujarnya.

Keyakinan bahwa kegunaan asap cair itu multifungsi membuat dirinya bertekad terus menggali apa lagi yang bisa dilakukan dengan asap cair. ”Saya berpikiran bisa menghasilkan asap cair dari sampah bahan organik sebagai bahan bakar pengganti minyak bakar (seperti minyak tanah). Saya tengah meneliti itu, dan jika profilnya sudah jadi, akan saya tawarkan ke Pemerintah Kota Yogyakarta,” kata pria kelahiran Yogyakarta, 29 Maret 1957, ini.

Kini, Purnama mengatakan, dia sedang menyiapkan buku tentang asap cair ini, serta buku tentang teknologi karet dan teh. Buku-buku itu direncanakan selesai ditulis pertengahan tahun 2007.

Ketertarikan suami dari Agnes Pety Sekarjati (44) dan ayah dari Rahmi Sekaringtyas (22) serta Oscar Gilang Purnajati (14) ini akan asap cair, mendorongnya pula untuk berbagi ilmu dengan para mahasiswanya.

”Saya tidak ingin disebut mengajari mahasiswa, namun mengajak mereka mencari sesuatu. Jadi, yang saya tekankan adalah bagaimana memotivasi mahasiswa untuk mencari dan meneliti produk-produk apa yang pada beberapa tahun ke depan berprospek untuk dikembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat. Jangan dulu puas dan berhenti ketika sudah menemukan satu-dua hal, karena masih banyak rimba belantara ilmu pengetahuan baru yang belum terjamah dan menanti diteliti,” kata Purnama yang juga bendahara di Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Yogyakarta itu.

Doktor lulusan Okayama University, Jepang, ini merasa prihatin bahwa industri di Indonesia belum banyak berdiskusi dengan kalangan ilmiah di perguruan tinggi. ”Di negara-negara maju, Jepang misalnya, kalangan industri mencari sesuatu yang baru dari perguruan tinggi. Karena itu, pengembangan riset dan industri mereka pesat dan saling mendukung. Pengawasan terhadap produk-produk yang dikeluarkan industri juga lebih terkontrol,” ungkapnya.

Sumber : Kompas, Selasa, 17 Januari 2006
Read Full 0 comments

Reese Witherspoon & Philip Hoffman : Oscar buat Ketekunan Reese Witherspoon dan Philip Hoffman

Jun 18, 2009
Oscar buat Ketekunan Reese Witherspoon dan Philip Hoffman
Oleh : Frans Sartono

Penghargaan Oscar merupakan buah ketekunan kerja Reese Witherspoon (30) dan Philip Hoffman (38). Reese menerima gelar aktris terbaik lewat film Walk the Line, sedangkan Philip mendapat gelar aktor terbaik dalam Capote.

Reese dan Philip tak pernah membayangkan akan menerima Oscar. Di panggung perfilman Hollywood yang dihuni nama-nama angker, Reese dan Philip hanya bisa bekerja ekstra keras.

Oh, my goodness, selama hidup sebagai orang Tennessee, saya tak pernah mengira akan berada di tempat ini, kata Reese saat menerima Oscar di Kodak Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (5/3/2006) malam waktu LA.

Alih-alih Oscar, mendengar nama-nama besar di pentas Hollywood saja membuat Reese keder. Setidaknya itu di awal karier Reese, sekitar lima belas tahun lalu. Jean Laura Reese Witherspoon harus ke sana kemari mengikuti casting, semacam uji peran.

Saat mengikuti audisi film Cape Fear (1991), gadis kelahiran Baton Rouge, Louisiana, 22 Maret 1976, itu belum mengenal benar kaliber sutradara Martin Scorsese serta aktor Robert De Niro, yang terlibat dalam film tersebut.

Di dalam pesawat, dengan polos ia bercerita kepada penumpang yang duduk di sebelahnya bahwa ia akan beraudisi di depan Scorsese dan De Niro. Orang itu terperangah lalu bercerita tentang kehebatan Scorsese dan De Niro. Giliran Reese yang terperangah. Ia bahkan menjadi panik karena tak menyangka akan berhadapan dengan dua raksasa Hollywood.

Konon saking paniknya, Reese gugup dan gagal dalam audisi. Peran tersebut akhirnya jatuh pada aktris remaja saat itu, Juliette Lewis. Akan tetapi, tahun itu juga ia mendapat peran dalam film The Man in the Moon.

Sepuluh tahun setelah peristiwa gugup itu, nama Reese sudah dikenal luas lewat film komedi Legally Blonde (2001). Film laris itu menempatkan Reese dalam jajaran aktris terkenal Hollywood. Setahun kemudian nama Reese semakin populer lewat film Sweet Home Alabama (2002).

Sosok Reese telah berada di pentas selebritas dunia. Majalah People memasukkan Reese dalam daftar 25 tokoh yang menggoda. Majalah Rolling Stone memasukkan Reese dalam deretan People of the Year.

Sebelum dua sukses itu, Reese bermain di dua film yang dianggap kurang berhasil secara komersial, yaitu Fear dan Freeway (1996).

Film Walk the Line arahan sutradara James Mangold diangkat dari kisah nyata perjalanan pemusik country Johnny Cash. Reese memerankan tokoh June Carter Cash, istri Johnny Cash. June Carter sendiri, sebelum meninggal pada tahun 2003, menunjuk Reese untuk memerankan dirinya.

Dari aktris culun lima belas tahun lalu, kini dikabarkan Reese akan mengalahkan Julia Roberts dalam urusan honor. Reese dikabarkan dibayar 29 juta dollar AS untuk film Our Family Trouble yang akan dia bintangi.

Untuk ibu

Oscar menjadi momentum yang menyentuh sendi-sendi personal penerimanya. Ada ketakterdugaan yang datang tiba-tiba di tengah kultur kerja keras para penerima penghargaan. Rasa kaget dan kagum menerima Oscar juga dirasakan Philip Seymour Hoffman yang akrab disapa Phil.

Wow, saya berada dalam satu kategori dengan great, great, great actors. Saya bahagia luar biasa, kata Phil saat menerima Oscar.

Phil meminta hadirin untuk memberi ucapan selamat kepada sang ibu yang membesarkan empat anak, termasuk dirinya hingga mendapat Oscar.

Kami sedang berpesta Mom! Berbanggalah ibu, karena aku bangga kepadamu, kata pria kelahiran New York, 23 Juli 1967, itu, seperti dikutip kantor berita Reuters dan AP.

Akting Phil baru dianggap solid oleh kritisi film setelah bermain dalam sekitar 40 judul film layar lebar dan televisi, yaitu lewat film Capote. Lewat peran sebagai tokoh Truman Capote dalam Capote garapan sutradara Bennett Miller itu, Phil mendapat predikat aktor terbaik oleh kritisi film Los Angeles. Oscar kemudian memperkukuh kualitas kerja Phil.

Lulusan Tisch School of Drama, New York, ini berkiprah di pentas teater sebelum kemudian masuk pentas film. Debutnya dimulai lewat Scent of a Woman yang dibintangi Al Pacino dan Chris ODonnel. Setelah beberapa peran dalam film populer seperti When a Man Loves a Woman, Phil baru mendapat peran penting dalam Twister (1996) dan kemudian Red Dragon, serta Cold Mountain.

Oscar benar-benar jauh dari bayangan Phil. Sewaktu SMA ia ingin menjadi atlet. Cita-cita itu pupus setelah ia menderita cedera leher sewaktu bertanding gulat. Ia beralih menekuni bidang drama. Ketekunan Phil itu berbuah Oscar.

Sumber : Kompas, Selasa, 7 Maret 2006
Read Full 0 comments

Petrus Kaseke, Pelestari Kolintang

Petrus Kaseke, Pelestari Kolintang
Oleh : C Wahyu Haryo PS

Kolintang yang merupakan alat musik tradisional rakyat Minahasa sempat dilarang dimainkan pada masa penjajahan Belanda. Pasalnya, kolintang pada awalnya digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh masyarakat setempat.

Selama seabad lebih, eksistensi kolintang semakin terdesak dan hampir punah. Baru setelah Perang Dunia II, sekitar tahun 1952, seorang tunanetra bernama Nelwan Katuuk menghadirkan kembali instrumen musik ini lewat pagelaran musik yang disiarkan RRI Minahasa.

Permainan kolintang dari Nelwan Katuuk ternyata menginspirasi seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun dari Ratahan, Minahasa Utara, untuk membuat alat musik kolintang. Cita rasa bermusik dari lingkungan keluarganya yang membentuk kepekaannya terhadap nada berpadu dengan keterampilan menukang kayu yang diperolehnya dari sang kakek.

Hasilnya, pada tahun 1954 sang bocah berhasil membuat kolintang dengan dua setengah oktaf nada diatonis. Dengan petunjuk sejumlah orang tua yang pernah mendengar bunyi alat musik kolintang, ia terus belajar dan mengembangkan instrumen ini hingga bisa menciptakan tangga nada sampai tiga setengah oktaf dalam satu kruis, naturel, serta satu mol pada tahun 1960.

Dialah Petrus Kaseke, putra tunggal Pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig. Korelasi tingginya kepekaan terhadap nada dengan tingginya tingkat kecerdasan tampaknya terbukti pada diri Petrus Kaseke. Meski hidup dari keluarga kurang mampu, di usianya ke-20, Petrus meraih predikat pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

”Beasiswa yang saya terima waktu itu Rp 1.000, hanya cukup untuk biaya kos dan makan selama tiga bulan. Di saat kondisi perekonomian sangat labil, inflasi meningkat tajam hingga ada kebijakan pemotongan uang Rp 1.000 menjadi Rp 1, saya bertahan hidup dengan main musik kolintang di Yogyakarta,” kenang Petrus, saat ditemui di rumahnya di Jalan Osamaliki 4 Salatiga, Jawa Tengah, pekan lalu.

Kala itu kolintang belum banyak dikenal di Pulau Jawa. Di luar dugaan, sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar, ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat itu sempat menjadi salah satu media kampanye Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sehingga ia dan rekan-rekannya menerima banyak job bermain musik kolintang.

Beban hidup semakin berat, merantau seorang diri di tanah Jawa, sementara beasiswa dari bupati juga diputus. Setelah enam tahun dan baru meraih sarjana muda, Petrus terpaksa tak melanjutkan kuliahnya. Kondisi ini justru membuat Petrus semakin berketetapan hati menggeluti alat musik kolintang. ”Saya memulai usaha membuat kolintang bermodalkan ’dengkul’. Uang yang saya peroleh selama mementaskan kolintang, saya gunakan untuk modal usaha,” kata suami dari Tjio Kioe Giok (62) ini.

Waktu terus berlalu, usaha Petrus semakin berkembang. Ia juga memiliki kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia, seperti Singapura (1970), Australia (1971), Belanda dan sekitarnya, hingga di Jerman Barat (1972), Amerika Serikat dan Inggris (1973), serta Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia (1974). Pada tahun-tahun itu pula, ia hijrah ke Salatiga dan membangun usahanya di sana.

”Bahan baku kolintang berupa kayu waru mudah didapatkan di sekitar Rawapening sehingga saya memilih membuka usaha di Salatiga. Kayu ini kualitasnya tidak kalah dengan kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik dari Minahasa. Selain ringan, serat kayunya cukup padat dan membentuk garis sejajar sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring,” ujar bapak dua anak, Leufrand Kaseke (26) dan Adeline Kaseke (22).

Di era 1989 hingga 1990-an, alat musik kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri. Pembuat kolintang pun mulai menjamur. Dalam sebulan Petrus bisa melayani pembuatan alat musik kolintang hingga 10 set. Kala itu ia bisa mempekerjakan sekitar 20 tukang kayu untuk membuat instrumen ini.

Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain dari Australia, China, Korea, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengoleksi alat musik kolintang buatannya. Juga Twilite Orchestra pimpinan Addie MS memercayakan penggunaan alat musik kolintang dalam konser yang menggunakan alat musik kolintang.

Era krisis moneter akhir tahun 1990 ternyata juga menandai jatuhnya industri alat musik kolintang. Satu per satu perusahaan alat musik kolintang rontok, bangkrut. Petrus menjadi salah satu dari sekian perajin alat musik kolintang yang masih bertahan meski pemesanan anjlok, hanya berkisar 1-2 set per bulan.

”Dari sisi harga, kolintang yang saya jual memang relatif lebih mahal daripada produksi di pasaran. Harganya mulai dari Rp 6 juta per set kolintang yang dimainkan lima orang serta Rp 25 juta untuk 10 pemain,” katanya. Namun, ketepatan nada dan kualitas bunyi menjadi resep Petrus masih bisa bertahan usahanya hingga saat ini. Bahkan saat ditemui di rumahnya, ia tengah menyelesaikan pesanan dari Australia.

”Ketepatan nada masih bisa tertolong dengan adanya komputer pengukur nada. Tetapi, untuk kualitas bunyi, tetap perlu kepekaan telinga dan keahlian memilih bahan baku. Meski nada sudah tepat, bila kualitas bunyinya tidak baik, batang kayu tersebut langsung saya buang,” kata pria kelahiran Ratahan, 2 Oktober 1942, ini.

Kepiawaian Petrus membuat alat musik tradisional Minahasa yang hampir punah ini memang belum pernah mendapat penghargaan yang sebanding dengan sepak terjangnya selama ini. Ia memang bukan satu-satunya perajin alat musik kolintang yang masih bertahan. Namun, di tangan dia jua, alat musik ini mulai merebak ke Pulau Jawa dan merambah seantero dunia.

Sumber : Kompas, Rabu, 15 Maret 2006
Read Full 0 comments

Purwaningsih : Berpacu dengan Pembabatan Hutan

Berpacu dengan Pembabatan Hutan
Oleh : Haryo Damardono

"Anggrek yang kami lihat dan potret minggu lalu, belum tentu ada lagi di alam pada minggu ini, sebab laju pembabatan hutan sangat cepat. Kami harus berpacu dengan kecepatan para pembabat hutan," ungkap Chairani Siregar, salah seorang trio peneliti anggrek dari Kalimantan Barat, .

Trio itu adalah Chairani Siregar (57), Agustina Listiawati (43), dan Purwaningsih (47). Sebagai ilmuwan dan pencinta anggrek, tiga perempuan ini aktif meneliti dan juga menulis anggrek spesies alam maupun hibrida dari Kalimantan Barat.

Buku yang mereka susun diluncurkan di Pontianak, Kalimantan Barat, awal Mei silam. Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Gubernur Kalbar Usman Jaffar menandatangani peluncuran buku itu.

Buku yang mengulas 193 spesies anggrek yang berada di Kalbar itu merupakan yang pertama tentang anggrek Kalimantan Barat, menyusul buku anggrek dari Kalimantan Timur, dan buku anggrek yang diterbitkan pencinta anggrek di Jakarta.

Optimisme menerbitkan volume selanjutnya didasarkan pada anggrek Kalimantan Barat yang jumlahnya 2.500-3.000 spesies. Jika semua diulas, dapat menghasilkan puluhan buku anggrek.

Lagi pula, selama Musyarawah Nasional Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) X, bertepatan dengan usia ke-50 PAI, buku buah karya trio peneliti anggrek Kalbar tersebut hampir ludes, yang jadi tanda kerinduan pencinta anggrek terhadap buku anggrek dari Indonesia.

Menurut Purwaningsih, mereka harus pontang-panting menyusun karya tersebut, terutama karena diburu cepatnya perusakan hutan. Dia mencontohkan kerusakan hutan di Mandor (Kabupaten Landak) dan Ambawang (Kabupaten Pontianak) yang menyebabkan anggrek alam yang didokumentasikan kini telah menghilang.

Berawal hobi

Ketiganya mengaku menekuni anggrek, semua berawal dari hobi belaka. Hanya saja bekal mereka mumpuni.

Trio ini menuntaskan pendidikan hingga S2. Chairani Siregar memperoleh master dari University of Kentucky, Lexington, Amerika (1983); Agustina master bidang Agronomi dari Universitas Gadjah Mada (2002); sedangkan Purwaningsih master bidang Teknologi Benih Institut Pertanian Bogor (1999).

Selain mengajar di Universitas Tanjung Pura (Untan), hari-hari mereka dilalui di laboratorium Penelitian dan Pengembangan Untan untuk meneliti anggrek spesies dan hibrida. Mereka juga menanam anggrek di rumah sebagai tanaman penghias dan penawar kepenatan kerja.

"Setelah terbiasa bekerja sama di laboratorium, sejak tahun 2002 kami bersama-sama meneliti anggrek di alam. Mengumpulkan sampel anggrek, terkadang membudidayakannya," papar Chairani Siregar.

Proses penyusunan buku dimulai dengan memotret anggrek, lalu diidentifikasi dengan literatur, kemudian dibuat catatan-catatan berupa laporan. Laporan inilah yang menjadi cikal bakal buku anggrek Kalbar.

Literatur karya botanis Belanda yang lebih dulu meneliti di Kalbar (antara tahun 1700 hingga 1800-an), buku-buku anggrek dari Inggris, dan buku anggrek dari Sabah, menjadi referensi awal. Chairani Siregar menyebutkan, banyak jenis anggrek dalam referensi itu yang tidak lagi ditemukan di alam.

Pengidentifikasian anggrek dari alam semakin serius dilakukan, ketika Pemerintah Kabupaten Sambas setuju mengucurkan dana untuk meneliti keberadaan anggrek alam di kabupaten tersebut tahun 2004, yang dilakukan di Kecamatan Sajingan, perbatasan Kalbar-Serawak.

"Setelah beberapa kali meneliti anggrek di alam, kami terkejut menyaksikan porak porandanya hutan kita yang mengancam kelestarian anggrek. Karena itu, kami berinisiatif untuk membuat buku," ujar Purwaningsih menambahkan.

Agar kelak bisa menjadi warisan untuk anak-cucu merupakan tujuan penulisan buku anggrek ini. Konsekuensinya, dana pribadi harus dikeluarkan.

"Kami tidak ingin terlambat lagi, sebagaimana kehancuran taman anggrek di Cagar Alam Mandor akibat penambangan emas liar. Padahal, dulunya Cagar Alam Mandor seluas 1.975 hektar adalah surga anggrek," ungkap Agustina.

Beberapa anggrek endemik Kalbar yang tercatat dalam buku ini, di antaranya, Dyakia hendersoniana, Dendrobium singkawangense, Dendrobium hallieri, Paraphalaenopsis denevei, dan Paraphalaenopsis serpentilingua (anggrek ekor tikus).

Di pedagang

Beberapa jenis anggrek sulit ditemukan di alam, tetapi justru hanya dapat diidentifikasi saat berada di pedagang. Anggrek langka Kalbar yang dijual pedagang Serawak pun kadang hanya diambil fotonya tanpa dibeli karena harganya yang mahal.

Tanaman khas Kalbar anggrek gigantea bahkan dijumpai pada pedagang anggrek Serawak-Malaysia. Purwaningsih menuturkan, warga Sanggau mengaku menjual gigantea ke Serawak sejak tahun 1980-an. Harga satu pot anggrek jenis itu mencapai sekitar Rp 1 juta di Serawak.

Perbatasan Kalbar-Serawak, sepanjang 800 km, dipandang Chairani Siregar sebagai faktor yang mempermudah penyelundupan anggrek ke Serawak-Malaysia sehingga mempercepat proses kepunahan anggrek Kalbar. Apalagi, terdapat puluhan "jalan tikus" yang mempermudah penyelundupan.

"Masyarakat perbatasan memang mempunyai taraf kehidupan rendah sehingga anggrek pun diselundupkan. Mereka bahkan menjual anggrek bukan dalam satuan, melainkan karungan," tutur Agustina.

Purwaningsih menyebutkan, di Pos Imigrasi Tebeduk-Serawak (Malaysia) terpampang poster anggrek yang dilarang untuk diperdagangkan. Tetapi, sebaliknya di Pos Imigrasi Entikong- Kalbar peringatan semacam itu justru tidak ada. Pantaslah bila perdagangan ilegal anggrek dari Kalbar terus terjadi.

"Kami mengakui sosialisasi tentang kekayaan alam, berupa anggrek, belum dilakukan. Kami khawatir, bila masyarakat pedesaan tahu tentang nilai riil anggrek, maka seluruh anggrek di alam akan dicabuti. Ini dilema pula," ujar Purwaningsih.

Fotografer Sugeng Hendratno menyebutkan, ada penggemar anggrek dari Jakarta yang menanyakan volume 2 Buku Anggrek Khas Kalbar. Tentu saja, buku itu belum terbit. Trio peneliti anggrek Kalbar masih harus pontang-panting, sebelum hutan Kalbar benar-benar raib.…

Sumber : Kompas, Senin, 22 Mei 2006
Read Full 0 comments

Purwadi dan Obsesi Kota Kerang

Jun 16, 2009
Purwadi dan Obsesi Kota Kerang
Oleh : Lis Dhaniati

Apabila ingin belajar budidaya atau mengadakan penelitian tentang kerang hijau (Perna viridis) di Cirebon, Jawa Barat, datanglah pada Purwadi (58). Ia Ketua Kelompok Nelayan Mina Citra Lestari, yang dinilai maju dalam membudidayakan hewan bercangkang keras ini.

Sebelum membudidayakan kerang hijau, Purwadi sempat mengusahakan tambak. Pekerjaan yang terkait dengan laut itu memang bukanlah pekerjaan utama. Sebenarnya suami Sukawati (50) ini adalah pegawai negeri sipil yang sempat berkarier di beberapa instansi Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Setelah pensiun beberapa tahun lalu ayah lima anak ini mempunyai banyak waktu untuk menekuni budidaya kerang hijau.

"Hasil dari kerang hijau memang tidak sebesar jika menangkap ikan di laut. Namun, usaha ini sangat menolong pada saat nelayan tidak bisa melaut karena pengaruh musim," ungkap Purwadi di rumahnya, di Desa Grogol, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon.

Purwadi yang sempat menjadi pegawai di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Cirebon ini juga paham benar bahwa selain oleh faktor musim, nelayan juga menghadapi kendala overfishing di laut zona satu.

Overfishing maksudnya ketidakseimbangan antara jumlah nelayan dan ikan tangkapan yang tersedia di daerah itu. Para nelayan tidak berani melaut ke jarak yang lebih jauh karena keterbatasan kemampuan perahu. Umumnya, mereka memang menggunakan perahu kecil yang tidak tahan ombak besar. "Akibatnya, tangkapan hanya sedikit sehingga pendapatan mereka kecil," tutur lulusan Akademi Gula Surabaya ini. Kondisi diperparah oleh beberapa kali kenaikan harga bahan bakar minyak.

Purwadi mengaku bukan perintis budidaya kerang hijau di perairan Cirebon. Usaha ini telah dimulai tahun 1980-an oleh beberapa nelayan setelah melihat kegiatan serupa di perairan Jakarta. Pembelajaran langsung terjadi sebab nelayan dari Cirebon dan sekitarnya selalu "merantau" ke laut Jakarta saat musim di daerahnya tidak bersahabat.

Budidaya kerang hijau merupakan usaha ekonomi berbasis keluarga. Pengusahaan dari mulai penanaman, panen, pengupasan kulit, hingga penjualan bisa melibatkan seluruh anggota keluarga. Akumulasi pendapatan akan memiliki arti signifikan bagi peningkatan ekonomi rumah tangga.

Budidaya kerang hijau sendiri tidak membutuhkan banyak modal, kecuali saat pembuatan kerangka bambu atau rumpon yang merupakan tempat menempelnya kerang. Bambu yang dikombinasikan dengan tali atau jaring akan mengundang bibit-bibit kerang hijau untuk tinggal, setelah rumpon direndam di laut.

Tanpa harus memberi pakan, nelayan bisa memanennya dalam waktu enam bulan, kemudian berlanjut dalam interval tiga bulanan. "Ini mengingatkan kita akan lagunya Koes Plus, yakni tongkat kayu jadi tanaman. Kalau di sini, tongkat dan tali jadi kerang," ujar Purwadi.

Mencintai laut

Namun, sejak awal mulai hingga beberapa tahun lalu budidaya kerang hijau di wilayah ini tidak mengalami perkembangan berarti karena usahanya masih berjalan sendiri-sendiri tanpa jejaring kelompok usaha.

Belakangan dibentuklah kelompok usaha budidaya kerang hijau ini, yaitu Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Mina Citra Lestari. Ini kemudian diikuti sejumlah bantuan modal dan dukungan instansi terkait sehingga membuat budidaya kerang hijau di Cirebon pun tumbuh.

Data Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cirebon, menyebutkan, terdapat 645 unit "rumah kerang hijau" pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 660 unit di tahun 2005. Bertambahnya unit juga diikuti peningkatan jumlah produksi kerang hijau, yakni 9.644 ton di tahun 2004, menjadi 10.032 ton di tahun 2006.

Purwadi tidak menampik bahwa budidaya kerang hijau masih menghadapi banyak kendala. Masalah klasik menyangkut pemasaran yang masih terbatas di dalam negeri.

"Gengsi kerang hijau belum naik. Belum ada permintaan ekspor untuk kerang jenis ini," ungkap Purwadi. Ia memimpikan kerang hijau bisa menjadi komoditas unggulan daerah Cirebon, tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga harga pasar. "Kalau Cirebon sudah tidak bisa disebut sebagai Kota Udang, sebagai gantinya adalah Kota Kerang," kata Purwadi.

Obsesi Purwadi itu dibarengi kerja sama dalam kelompok sehingga membuat Mina Citra Lestari yang dipimpinnya berhasil menjuarai Lomba Pokmaswas tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2006. Tahun ini mereka sedang berjuang untuk meraih gelar serupa di tingkat nasional.

Saat ini Purwadi telah menyelesaikan draf buku tentang budidaya kerang hijau. "Saya menulisnya berdasar pengalaman pribadi dan sedikit referensi. Ini karena buku referensi memang masih sedikit. Karena itu, saya berharap buku ini bisa berguna," kata Purwadi yang kelompoknya sering menerima kunjungan nelayan dari berbagai daerah untuk belajar tentang kerang hijau.

Ketertarikan Purwadi pada budidaya kerang hijau tidak berdiri sendiri. Ia menyebutkan, barisan rumpon bambu di perairan yang tidak jauh dari pesisir Kabupaten Cirebon sekarang ini terbukti cukup membantu memecah ombak laut yang ganas. Ini berguna untuk mencegah abrasi yang terus mengancam akibat kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai.

Purwadi sendiri mengaku tidak berlatar belakang keluarga nelayan. Keluarganya lebih banyak berkecimpung sebagai pendidik dan petani. "Tetapi, saya mencintai laut," tutur Purwadi.

Menurut Purwadi, satu kunci dalam bergaul dengan kaum nelayan adalah jangan sekali-kali membohongi mereka. "Sekali bohong, kepercayaan akan sulit diraih lagi," pesan Purwadi.

Sumber : Kompas, Rabu, 28 Juni 2006
Read Full 0 comments

Philip Cheah : Cheah, Angkat Pamor Film Asia

Jun 15, 2009
Cheah, Angkat Pamor Film Asia
Oleh : Agung Setyahadi

Saat pertama kali digelar Singapore Film Festival tahun 1987, hati Philip Cheah belum merasa pas lantaran nuansa Asia belum muncul. Atmosfer gaya Amerika masih mendominasi. Kalau ini dibiarkan, film-film Asia tidak akan maju.

Semangat yang diusung Philip bukanlah antidunia Barat, tetapi menyadarkan masyarakat Asia bahwa mereka memiliki potensi yang besar dan bisa dikembangkan.

"Kita harus mencari sendiri akar kita sebagai bangsa Asia," ungkap Direktur Singapore International Film Festival ini.

Film-film Asia selama ini jadi pemanis dalam berbagai festival internasional. Lebih parah lagi, para pembuat film dari Asia justru mematut-matutkan diri supaya diakui dunia Barat. Keterpurukan film Asia harus diakhiri dengan menumbuhkan budaya film di masyarakat Asia.

Pada festival tahun kedua, Philip mulai membuka jendela untuk film-film Asia. Festival ini fokus pada film-film China dan generasi baru film pendek dari Filipina. Festival tahun ketiga, komposisi film Asia yang ikut festival meningkat menjadi 50 persen. Pada festival keempat, Philip baru menggelar kompetisi untuk film Asia terbaik. Festival ini menjadi festival pertama yang memberi penghargaan untuk film-film Asia.

Pencapaian ini belum juga memuaskan Philip karena masih ada masalah pelik yang sebenarnya hingga kini belum terurai sepenuhnya.

"Kita, antarmasyarakat Asia, tidak saling mengenal budaya masing-masing. Film di negara-negara Asia tidak saling dikenal. Karena itu, pada tahun 1994 kami mengundang tokoh-tokoh film Asia untuk bergabung," papar Philip.

Waktu itu, tokoh film Indonesia yang diundang antara lain Usmar Ismail dan Arifin C Noor. Prince Chatri dari Thailand yang sukses dengan film The Legend of Suriyothai pun datang dan sejumlah produser film dari Filipina. Para produser film ini diundang supaya saling mengenal dan membuat jaringan untuk mempromosikan film dari negara masing-masing seiring dengan berdirinya Netpac (Network for the Promotion of Asian Cinema).

"Kami kemudian mulai menggarap film-film dari Timur Tengah. Iran, Irak, Mesir, dan Lebanon banyak membuat film. Dua negara yang belum membuat film hanya Yaman dan Arab Saudi. Dua negara ini baru membuat film tahun 2005 dan akan dikeluarkan tahun ini," tutur Philip yang dikenal ramah.

Perjuangan Philip dan sejumlah koleganya, seperti Presiden Netpac Aruna Vasudev, mulai menumbuhkan kesadaran masyarakat Asia akan potensi yang ada di sekitarnya. Animo orang untuk datang ke setiap festival cukup besar. Artinya, potensi penonton di Asia sangat besar, dan ini belum digarap oleh sutradara dan produser film Asia.

Setelah era 1980-an, film Asia semakin diperhatikan oleh negara-negara Barat. Kemajuan ini tak lepas dari kemunculan berbagai festival film seperti Bangkok International Film Festival, Bangkok World Film Festival, Cinemanila International Film Festival, Jakarta Internasional Film Festival, dan Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang baru saja berlangsung di Yogyakarta.

"Saat ini festival film makin menyebar ke negara-negara di Asia. Ini sebuah indikasi bahwa budaya film mulai bangkit, khususnya di Asia Tenggara. Netpac memang selalu kami bawa ke kota yang memiliki komunitas film tetapi tidak memiliki festival, termasuk Yogyakarta," ucapnya.

Kehadiran Philip ke Yogyakarta bukan sekadar menjadi kurator film pada JAFF 2006, 7-12 Agustus 2006. Sosok rendah hati ini menjadi guru bagi komunitas film di Yogyakarta untuk menggelar festival film bertaraf internasional. Philip, yang menjadi board member di banyak festival, mengarahkan panitia yang rata-rata mahasiswa tentang seluk-beluk menggelar festival film.

"Saya sangat terkesan pada festival di sini (Yogyakarta) karena mengingatkanku pada awal mula Pusan (Pusan International Film Festival). Keduanya sama-sama didukung dan dimeriahkan oleh para pelajar. Di Yogya, berbagai komunitas film dari luar Yogya datang ke sini untuk mengapresiasi film. Ini masa depan yang cerah bagi JAFF," ungkap Philip.

Ia menilai tantangan bagi perkembangan film di Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia adalah harus terus meluaskan perspektif. Komunitas film harus banyak bertemu dengan komunitas film dari negara-negara lain. Interaksi dengan komunitas film dari luar Indonesia akan membuka perspektif terhadap perkembangan dunia film.

Tantangan lain adalah kemampuan menjaga idealisme sekaligus membaca pasar. Budaya film dan pasar harus seimbang, jangan sampai film terus-terusan dikuasai oleh pasar. Di Indonesia, kecenderungan yang terjadi adalah kooptasi pasar sangat kuat. Kondisi ini harus dihadapi dengan kreativitas dan kejelian untuk menyikapi pasar. Para pembuat film harus memiliki posisi tawar yang dibangun melalui nilai lebih dalam film garapannya.

Perhatian serius Philip terhadap perkembangan budaya pop dimulai sejak ia berkarier sebagai wartawan selama enam tahun sejak 1982. Budaya pop, khususnya film dan musik, selalu menarik baginya dan terus diikutinya hingga sekarang. Philip lalu menjadi editor majalah BigO yang mengupas perkembangan budaya pop. Perhatiannya pada film dan musik telah ia tulis dalam enam buku.

Kesibukan Philip mengangkat pamor film Asia kadang sangat menyita waktunya. Meski demikian, keseharian Philip sangat dekat dengan istri dan kedua anaknya. Ia mengaku terbiasa melakukan pekerjaannya, yaitu menonton film di ruang keluarga di rumahnya.

Mempromosikan film Asia, ujar Philip, masih sangat panjang dan membutuhkan kerja keras. Setiap hari tantangan untuk mengangkat pamor film Asia semakin berat. Karena itu, budaya film di masyarakat Asia harus terus ditumbuhkan. Semakin banyak festival film Asia diselenggarakan, semakin dekat film Asia pada masyarakat Asia.

Sumber : Kompas, Selasa, 22 Agustus 2006
Read Full 0 comments

Parimarjan Negi, Ikon Baru India

Jun 12, 2009
Parimarjan Negi, Ikon Baru India
Oleh : Pepih Nugraha

Menelepon langsung ke rumah orangtuanya di New Delhi, jawaban yang diberikan dalam bahasa Hindi. Mencoba mengontak melalui nomor telepon ayahnya, tidak berbalas. Jawaban baru diberikan saat kami berkirim pesan melalui surat elektronik dua minggu lalu.

"Oke, saya segera sampaikan keinginan Anda kepada anak saya untuk wawancara. Kirim pertanyaan dan tunggu jawabannya segera!" kata JB Singh, ayah bintang baru yang sedang bersinar cemerlang, Parimarjan Negi.

Siapakah Parimarjan Negi?

Dia adalah grand master (GM) catur termuda dunia dan juga termuda sepanjang sejarah catur India, memecahkan rekor pendahulunya di India: Viswana- than Anand dan Pendyala Harikrishna. Di tingkat dunia, Negi memecahkan rekor yang dipegang anak jenius Norwegia, Magnus Carlsen.

Jika Carlsen menjadi GM pada usia 13 tahun 147 hari, rekor ini dipecahkan Negi dengan selisih lima hari, yakni 13 tahun 142 hari. Pemecah rekor GM termuda sepanjang sejarah memang masih dipegang Sergey Karjakin, yang meraihnya pada usia 12 tahun 7 bulan. Akan tetapi, kini "anak ajaib" Ukraina itu sudah berusia 16,5 tahun.

Hebatnya lagi, norma GM pertama sampai ketiga dia raih dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari tahun ini sampai 1 Juli 2006 lalu saat ia dikukuhkan sebagai GM penuh. Tidak ada satu pecatur elite pun yang menandingi pencapaian rekor tercepat ini sebelumnya, bahkan mantan juara dunia Garry Kasparov sekalipun.

"Anaknya benar-benar mengasyikkan," kata Anand, peringkat dua dunia mengomentari permainan Negi yang penuh perhitungan mendalam. "Untuk remaja seusianya, ia sangat mengesankan. Sangat berbakat," ujar Anand, seperti ditulis Rakesh Rao dalam koran internet tssonnet.com.

Berbicara prestasi siswa kelas delapan New Delhi’s Amity International School itu mau tidak mau harus menyebut prestasi pecatur pendahulunya seperti Anand, Harikrishna, dan Koneru Humpy.

Negi memegang norma GM pertama yang diraih di Turnamen Hastings, Januari 2006, saat berusia 12 tahun 330 hari, menghapus rekor lama yang dipegang pecatur perempuan terkuat India, Humpy, saat berusia 14 tahun 84 hari.

Negi menyamai rekor Anand dalam pencapaian dua kali norma GM berturut-turut dalam bulan yang sama. Negi melakukannya saat meraih norma GM pertama dan keduanya Januari 2006, Anand meraih norma GM kedua dan ketiganya Desember 1987.

Di negaranya, Negi memecahkan rekor Harikrishna yang menjadi GM termuda India pada usia 15 tahun 99 hari, Agustus 2001. Padahal, Harikrishna adalah pemecah rekor GM catur termuda India atas nama Anand yang meraihnya pada usia 18 tahun, tahun 1987.

Dipersiapkan

Lahir 9 Februari 1993 dari pasangan JB Singh dan Paridhi, Negi adalah pecatur yang dipersiapkan. Ia digembleng oleh pelatih bekas negara Uni Soviet, seperti Elizbar Ubilava, Alexander Goloshchapov, Evgeny Vladimirov, dan Ruslan Sherbakov. Sebelumnya, ia digembleng pelatih India, GB Joshi dan Vishal Sareen. "Saya juga pernah bekerja sama dengan Nigel Short," tutur Negi menyebut nama pecatur Inggris.

Negi yang gemar membaca, ke mana-mana membawa laptop berisi tiga juta partai dari para pecatur legendaris dunia. Ia siap menganalisis ratusan posisi setiap saat, termasuk berselancar di internet mengikuti partai-partai baru berbagai turnamen. Bank data caturnya membuat jurang antara pecatur kawakan dengan pecatur muda semakin menyempit.

Beruntung Negi mendapat kelonggaran dari sekolahnya untuk mengikuti berbagai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengejar ketinggalan pelajarannya dengan mendatangkan guru privat dan meminjam catatan pelajaran dari teman. Semua biaya mengikuti turnamen ditanggung sponsor, perusahaan raksasa Tata, dan Air India. Juga sokongan dari kepala bursa efek India, Damodaran, yang gila catur.

Kejeniusan Negi ditemukan pelatih pertamanya, JB Joshi. Namun, Joshi "menyerah" karena ilmu anak didiknya terlalu maju dan menyerahkan kepelatihan kepada Vladimirov, pelatih bertangan dingin.

"Parimarjan memiliki seluruh persyaratan menjadi pecatur top dunia: bakat besar, kemampuan bekerja yang baik, dan minat sangat besar. Sering orangtuanya memanggilnya agar berhenti dulu berlatih untuk makan malam, tetapi Parimarjan selalu menjawab, ’Satu posisi lagi, please’," kenang pelatih lainnya, Sherbakov.

Fanatik masakan ibu

Uniknya, kedua orangtuanya tidak bisa bermain catur. Saat Negi berusia 4,5 tahun, teman ayahnya, Dr Vinayak Rao, memperkenalkan permainan adu pikir ini. "Sejujurnya saya tidak menyukai permainan apa pun," kata sang ayah, JB Singh.

Saat mengikuti Negi bertanding di Jerman, sang Ibu, Paridhi, mengungkapkan kepada wartawan setempat bahwa Dr Rao menghadiahi anaknya papan catur.

Selain berlatih fisik, pengagum Kasparov dan Anand ini berlatih yoga dan lari, serta berlatih catur selama empat jam sampai enam jam setiap hari. Ia fanatik pada masakan ibunya, khususnya ayam dan nasi tanak.

Dalam surat elektroniknya, Negi mengaku sangat suka membaca. Ia membaca seluruh novel Harry Potter karangan JK Rowling, Lord of the Rings karangan JRR Tolkien, bahkan Da Vinci Code karangan Dan Brown. Menjawab pertanyaan tentang pencapaian prestasinya, Negi mengaku puas. "Namun saya paham, jalan panjang masih membentang di depan," ungkapnya.

Jalan panjang itu tidak lain adalah jalan menuju juara dunia.

Sumber : Kompas, Rabu, 27 September 2006
Read Full 0 comments

Petrus Octavianus : Menebar Pelayanan Bagi Sesama

Jun 11, 2009
Menebar Pelayanan bagi Sesama
Oleh : Julius Pour*

"Azahari dan dua rekannya tewas tertembak setelah polisi berhasil menggerebek persembunyian mereka di Batu, Malang, Jawa Timur. Ditemukan juga dokumen-dokumen penting, antara lain rencana serangan terhadap sejumlah sasaran…," demikian berita yang secara resmi disiarkan oleh Mabes Polri atas peristiwa pada 9 November 2005.

Yang tidak disiarkan, "…salah satu sasaran serangan kantor pusat YPPII (Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia) di Jalan Trunojoyo, Batu."

"Kalau polisi terlambat menggerebek komplotan Azahari, hari ini kita tidak bakal bertemu sebab saya mungkin sudah menjadi korban serangan," ungkap Petrus Octavianus, pendiri YPPII.

Tetapi, apa kesalahan lelaki tambun, dengan raut wajah selalu riang tersebut, sehingga menjadi sasaran teror?

"Saya tidak tahu. Tetapi, saya tidak mau berburuk sangka kepada mereka. Yang pasti, saya akan terus menapak perjalanan hidup sesuai moto saya: Hidupku untuk Tuhan dan Sesama…."

Bapak Anak Miskin

Panjang jalan berliku harus ditempuh sebelum Pak Octav, begitu panggilan akrabnya, berkarya di Batu. Dia kini memang tidak sendirian. Anak asuhnya, yang sudah ditampung sejak tahun 1960, tersebar di seluruh Indonesia. Sejak Banda Aceh sampai Papua, mulai Minahasa hingga Kupang. Di Malang, dia tampung 7.000 anak. Di seluruh Indonesia, jumlahnya selama ini sekitar 30.000 anak. Sebagian sudah selesai, lulus, berkarya dan menempati posisi atau jabatan strategis di masyarakat.

"Wali Kota Malang sempat memberi julukan Bapak Anak Miskin. Sudah lama saya canangkan tekad, semua anak harus berpendidikan. Mereka yang kekurangan akan saya anggap anak sendiri. Kirimkan kepada saya agar (bisa) saya bantu…."

Tekad ini pernah dikeluhkan anaknya, "Bapak membantu anak orang lain, mengapa tidak anak sendiri didahulukan?"

Jawaban Pak Octav, "Saya memang harus membantu anak orang lain yang kekurangan. Tuhan sendiri yang akan turun tangan membantu kalian…." Terbukti, delapan anaknya, buah pernikahan Octav dengan Henriene Mone, semuanya kini sudah menjadi sarjana dalam beragam disiplin ilmu.

Petrus Octavianus, anak petani miskin, dilahirkan pada 29 Desember 1928 di Desa Laes, Kecamatan Rote Barat Daya, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Anak bungsu dari tujuh bersaudara ini sejak awal sudah akrab dengan derita. "Belum genap usia dua tahun, ayah saya meninggal. Gambaran dan bayangan tentang beliau sama sekali tidak ada sebab kita tak mampu punya potretnya," tuturnya.

Derita justru menjadi cambuk. Diasuh seorang kerabatnya, Octav bisa masuk sekolah dasar. Kemudian secara meloncat-loncat, sekolah di Kupang, dan akhirnya terdampar di Surabaya.

Orang Sunda

Sambil sekolah di Sekolah Guru Atas Surabaya, Octav juga mengumpulkan kaleng bekas, dibersihkan untuk dijual sebagai biaya hidup. Suatu hari, ketika asyik menangani kotak sampah di Embong, Malang, sebuah mobil mendadak berhenti. Penumpangnya seorang ibu iba melihat anak pakai seragam sekolah mengumpulkan kaleng bekas.

Ditanya orangtuanya? Dia jawab sudah tidak ada.

Ditanya tempat tinggal? Dia jawab hidup menggelandang.

Ditanya apa ingin terus sekolah? Dia jawab ingin sekali.

Sambil menerawang, Pak Octav mengenang, "Ibu itu orang Sunda, namanya Bu Kandar, bekerja di kantor sosial setempat. Beliau langsung membawa saya ke panti asuhan. Karena saya sudah terlalu besar, 21 tahun, kemudian disewakan rumah dekat panti. Bersama tiga rekan lain, dua dari Sumba dan seorang dari Kupang, kami mengalami titik balik. Bisa sekolah secara bener, ada kamar untuk tidur dan tidak usah lagi menjadi pemulung."

Pengalaman hidup sering menakjubkan.

Berkat ketekunan, doa, dan izin Tuhan, semuanya bisa terjadi. Begitu juga dengan Pak Octav. Anak yatim asal Rote tersebut malah berhasil menapak ke atas, meraih gelar Doctor of Divinity dari Biola University di Los Angeles, AS, tahun 1980, berikut Doctor of Philosophy dari Kennedy Western University, Wyoming, AS, tahun 1999.

Pak Octav yang sudah pernah menjadi politikus, pimpinan Parkindo, akhirnya meninggalkan semua itu untuk sepenuhnya bekerja di ladang Tuhan dengan menjadi pendeta.

Pengalaman sebagai pendeta juga naik turun. Dia pernah mengembara melayani umat di 85 negara di lima benua, ditahan 10 hari di China semasa zaman Mao Zedong karena berceramah tanpa izin, dan diundang makan Presiden Jimmy Carter pada acara peringatan 200 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.

Pada sisi lain, kegemaran mengajar mengantarnya menjadi penulis buku sangat produktif. Sudah 29 buku berbahasa Indonesia yang dia selesaikan berikut 21 buku dalam bahasa Inggris mengenai agama, kehidupan masyarakat, manajemen, dan pemerintahan. Buku terbarunya, jilid ketiga dari seri Menuju Indonesia Jaya dan Indonesia Adidaya akan diluncurkan Rabu (15/11) malam ini di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Apa makna karya terbarunya?

Menurut Pak Octav, "Kemajemukan masyarakat Indonesia justru modal dasar yang bisa kita manfaatkan untuk peluang menuju pembentukan bangsa dan negara adidaya. Maka, masalah kemajemukan bukan bencana, bahkan sebuah peluang yang harus bisa kita manfaatkan…."

Peluang datang secara tak terduga.

Kejelian seiring kemampuan untuk menangkapnya, ini yang harus bisa kita lakukan, sekarang.

* Julius Pour, Wartawan, Tinggal di Jakarta

Sumber : Kompas, Rabu, 15 November 2006
Read Full 0 comments

Patricia Herdianto, Memberi Lewat Musik

Patricia Herdianto, Memberi Lewat Musik
Oleh : L Sastra Wijaya*

Musik sudah lama menjadi bagian dari kehidupan manusia yang bisa membuat orang terhibur, terlena, mengenang kembali, ataupun menyegarkan. Musik juga bisa menjadi terapi. Dan itulah yang persis dilakukan seorang gadis Indonesia di Inggris, Patricia Herdianto.

Gadis kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 33 tahun lalu ini sekarang bekerja di pemerintahan lokal kota Warwick, di Warwickshire County yang dikenal sebagai tempat kelahiran pujangga terkenal Inggris, William Shakespeare.

Patricia sudah bekerja sebagai terapis musik selama lima tahun terakhir ini di dua organisasi, yaitu MusicSpace WestMidlands (2001-2003) dan Warwickshire County Music Service (2003-saat ini).

Dari latar belakang pendidikan sebagai sarjana akuntansi, Patricia berbelok arah ketika suatu hari dia melihat informasi mengenai music therapy dari buku yang dilihatnya di perpustakaan British Council di Jakarta pada tahun 1995.

"Ketika itu saya baru saja lulus dari Jurusan Akuntansi Universitas Atma Jaya di Jakarta. Mungkin karena sejak kecil saya sudah banyak bergulat di bidang musik, karena itu saya langsung tertarik untuk melihat profesi yang berhubungan dengan musik di buku tersebut," tutur Patricia.

Setelah mengetahui tentang profesi sebagai terapis musik yang cukup unik ini, Patricia masih harus menyimpan impiannya selama beberapa tahun, dengan bekerja terlebih dahulu di sebuah bank asing di Jakarta.

Baru pada tahun 2000 dia memutuskan untuk memenuhi panggilan hati, mempelajari dan menggeluti bidang baru di te- rapis musik ini yang dia awali dengan mengambil gelar MA (master of arts) di Anglia Ruskin Univesity Cambridge.

Berekspresi dan berinteraksi

Menurut Patricia, profesi sebagai terapis musik ini sudah berkembang di Inggris sekitar 30 tahun lalu. Saat ini terdapat sekitar 700 orang yang bekerja di berbagai institusi pendidikan, rumah sakit, pusat kegiatan masyarakat, pemerintahan lokal, dan sebagainya.

Patricia yang saat ini mengepalai Departemen Musik Terapi di Warwickshire County Music Service mengungkapkan, di Inggris sendiri kemungkinan baru ada sekitar empat pemerintahan lokal yang memiliki departemen khusus bagi pelayanan musik terapi. Selebihnya banyak terapis musik yang bekerja langsung di bawah lembaga amal atau lembaga pendidikan, misalnya sekolah luar biasa atau sekolah publik.

Dalam pekerjaan yang ditekuninya ini dia berbeda dengan guru musik biasa. Patricia tidak mengajarkan kepada kliennya bagaimana memainkan alat musik, tetapi, sebaliknya, lebih mengajak mereka berekspresi dan berinteraksi dengan terapis melalui berbagai pilihan instrumen yang disediakan.

"Misalnya dengan anak-anak yang mengalami autis. Sering mereka berada dalam dunianya sendiri, tidak memiliki kepekaan atau spontanitas untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling mereka. Nah, melalui sesi musik ini saya akan membantu mereka untuk berinteraksi, dengan alat-alat musik yang saya sediakan untuk mereka eksplorasi. Dalam proses terapi itu nantinya secara bertahap diharapkan si anak dapat lebih tanggap terhadap interaksi yang terjadi dan dapat memberikan tanggapan balik atas masukan atau stimulasi yang saya berikan melalui musik kepada mereka," paparnya.

Dari segi materi, Patricia mengaku, pekerjaannya ini tidaklah menghasilkan materi berlebih dibandingkan dengan profesinya terdahulu di bidang keuangan. Namun, kepuasan pribadi yang dirasakan dalam setiap kontak dengan klien baginya lebih berharga.

Dalam pekerjaannya, ia biasanya memberikan sesi individual (1:1). Rata-rata satu sesi itu berlangsung sekitar 30-45 menit.

"Tentu saja tidak semuanya dipenuhi dengan permainan musik. Saya banyak memberikan kesempatan bagi klien untuk mempunyai kebebasan ruang dan waktu untuk mengekspresikan dirinya, entah itu melalui musik, dialog, ataupun silence (diam). Semua itu ditujukan bagi kemampuan klien untuk merefleksikan diri atau menggali kepercayaan diri dan kemandirian secara spontanitas," papar Patricia.

Dalam kenyataan, kebanyakan terapis musik bekerja sendirian (lone worker). "Ini kadang terasa cukup berat karena di satu pihak harus menjaga kerahasiaan klien dan kerja klinis yang harus dijaga ketat, sedangkan energi dari segi emosional dari kita sebagai terapis juga harus tetap dipertahankan kestabilannya," ungkap Patricia.

Patricia mengaku tak begitu yakin apakah pekerjaan sebagai terapis musik sudah ada di Indonesia. Oleh karena itu, ia punya cita-cita untuk mengembangkan musik terapi ini di Tanah Air, yang bentuk pelayanan atau organisasinya sedang dalam observasi dan pertimbangan.

"Saya merasa lebih ’kaya’ dalam hal kepuasan diri atas apa yang saya lakukan di bidang ini. Begitu banyak pengalaman klinis yang telah memberikan pemahaman bagi pengembangan diri saya secara pribadi dan juga kemampuan untuk merefleksi dinamika dari hubungan saya dan klien dalam proses terapi. Setiap hari saya merasa belajar sesuatu dari klien saya, dan itu adalah pengalaman yang sangat berharga buat saya," kata gadis yang bisa memainkan beberapa alat musik ini.

*L Sastra Wijaya Kontributor Kompas dan Penyiar Radio BBC di London

Sumber : Kompas, Jumat, 17 November 2006
Read Full 0 comments

Piryanto Menata Kali Sentiong

Jun 8, 2009
Piryanto Menata Kali Sentiong
Oleh : Pingkan Elita Dundu

Seperti kali-kali lainnya di Jakarta, nasib Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat, sangat memprihatinkan. Kesan tidak terawat, kumuh, penuh sampah, dan bau menjadi pemandangan keseharian. Kakus-kakus menggantung di pinggiran kali.

Lebih setengah abad masyarakat di sekitar pinggiran kali yang membentang sepanjang tiga kilometer dan melintasi Kecamatan Johar Baru, Senen, dan Kemayoran itu menerima apa adanya. Tetapi, sejak Januari 2005 wajah Kali Sentiong berubah: bersih dan tampak lebih indah.

Daerah pinggiran kali, baik sisi kiri maupun sisi kanan, sudah tertata rapi. Pepohonan di sekitar kali tampak lebih rapi. Bunga bugenvil menghiasi pinggiran kali. Di beberapa titik sepanjang kali dibangun taman-taman bunga, termasuk bekas lokasi 16 kakus gantung di sepanjang pinggiran sudah berubah menjadi taman.

Perubahan wajah Kali Sentiong itu tidak lepas dari hasil kerja keras Piryanto SH. Dengan melibatkan campur tangan para Alumni Karang Taruna (Akar) Kelurahan Serdang RW 01, pria lajang itu berhasil menggerakkan warga sekitar untuk membersihkan dan menata kali.

Selain menyumbangkan tenaga, masyarakat sekitar kali juga tidak segan membantu pendanaan demi terciptanya Program Kali Bersih (Prokasih) yang dicanangkan di Kelurahan Serdang pada 15 Januari 2005, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup. Saat itu, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja juga hadir.

Masyarakat juga membenahi lingkungan permukiman yang sebelumnya kumuh. Sampah tak lagi bertebaran sebab sekarang tong sampah dari kaleng bekas dan dicat berwarna-warni dan dari anyaman bambu tampak di depan rumah warga.

"Pada awalnya, bagi sebagian orang, obsesi saya ini dianggap mimpi di siang bolong. Alhamdulillah, kali bersih dan indah bisa terwujud," kata Piryanto, Senin (15/1).

Swadaya

Untuk mewujudkan cita-cita itu, Piryanto bersama Akar menggalang dana dari masyarakat. Dalam satu tahun terkumpul dana Rp 113,5 juta. Ada juga yang menyumbang rokok, kue, kopi, dan makanan untuk masyarakat yang bekerja bakti membersihkan kali.

Boleh dikatakan, baru Prokasih Kali Sentiong yang sepenuhnya melibatkan swadaya dan swadana masyarakat. Sedangkan penataan Kali Cideng dilakukan oleh Pemprov DKI dan Kali Manggarai-Setiabudi merupakan program Departemen Pekerjaan Umum dengan dana pemerintah.

Kerja Piryanto dan warga Serdang tersebut membuahkan penghargaan Adipura untuk Kotamadya Jakarta Pusat pada tahun 2005 dan 2006. Unsur yang dinilai adalah kebersihan kali, permukiman, dan kebersihan lingkungan. Serdang menyumbang nilai tinggi untuk program kali bersih.

Piryanto membenahi kali karena prihatin melihat kehidupan masyarakat sekitar kali, termasuk orangtuanya, Hadi Sumasno (alm), yang sekitar 50 tahun hidup di pinggiran kali itu.

Menurut Piryanto, selama itu masyarakat tidak pernah protes atas perlakuan tidak adil dari pemerintah yang hanya membangun kawasan mewah dan jalan-jalan protokol, sementara masyarakat di pinggir kali tidak diperhatikan.

Lelaki kelahiran 19 Desember 1960 ini kemudian melakukan pendekatan sosial kepada masyarakat. Ia tidak segan nongkrong lama di warung kopi untuk sekadar mengobrol santai. Melalui obrolan ini ia ingin menanamkan kesadaran kepada masyarakat untuk bangkit dari kondisi kumuh.

Ketua Akar RW 01 Serdang ini juga mendatangi ketua RT, RW, sampai lurah untuk menyampaikan keinginannya mengangkat derajat daerah tempat kelahirannya ini.

Semangat untuk berubah

Setelah mendapat lampu hijau dari kelurahan, Piryanto dibantu anggota Akar 01 membuat konsep, menata lahan, dan mengurus perizinan. Selanjutnya, mereka menggerakkan masyarakat untuk kerja bakti secara gotong royong dengan sistem padat karya.

Pengurus Nasional Karang Taruna bidang Bencana dan Lingkungan ini sadar betul tidak mudah mengubah pola hidup dan pandangan masyarakat. Tetapi, dia yakin masyarakat memiliki semangat untuk mengubah sikap dan pola hidup.

Menurut Piryanto, bila ada kesan seakan masyarakat tertutup, tidak mau berubah, itu karena pemerintah tidak mampu merangkul mereka. Masyarakat tidak dijadikan sebagai orang dalam pembangunan. Mereka dibiarkan menjadi penonton sekaligus korban pembangunan.

"Perilaku pemerintah seperti ini harus diubah. Justru masyarakat di kawasan kumuh yang harus diperhatikan," papar sarjana hukum lulusan Universitas Jayabaya ini.

Piryanto membutuhkan waktu tiga bulan secara intensif mendekati masyarakat. Apalagi mengingat hanya 20 persen dari 3.619 keluarga Kelurahan Serdang berpendidikan sarjana. Selebihnya berpendidikan paling tinggi SMA, berpenghasilan menengah sampai rendah, serta bekerja sebagai pedagang atau menjadi pengangguran.

Melihat kondisi itu, Piryanto berpikir, masyarakat harus dilibatkan dalam program Prokasih agar mereka merasa memiliki sehingga mau menjaga, merawat, dan memelihara kali ini.

Satu lagi yang dilakukan Piryanto. Dia sengaja tidak melibatkan Pemprov DKI dalam menata kali ini. Dalam pandangan masyarakat, keterlibatan petugas Pemprov DKI dalam menata kawasan kali identik dengan kekerasan. Penggusuran.

"Saya khawatir bisa terjadi konflik dengan masyarakat bila melibatkan petugas dari DKI," tambah Piryanto.

Ke depannya, Piryanto masih punya cita-cita. Setelah kali bersih, tertata baik dan indah, kawasan ini menjadi Kampung Bugenvil, kampung taman yang dipenuhi bunga bugenvil.

Sumber : Kompas, Jumat, 19 Januari 2007
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks