HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label L. Show all posts
Showing posts with label L. Show all posts

Liem Soei Liong

Jun 28, 2009
Liem Soei Liong
Oleh : Mulyani Hasan

SIANG itu penghujung April 2006. Langit Jakarta putih kusam. Jalanan lengang sehabis hujan. Mobil-mobil berjejer di salah satu ruas jalan kawasan Utan Kayu. Suasana duka meruap dari rumah sebuah keluarga. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar Indonesia, tutup usia. Pram, begitu ia biasa dipanggil, adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah dinominasikan sebagai peraih hadiah Nobel untuk kesusastraan.

Dalam waktu bersamaan, Banda Aceh dibanjiri ribuan mahasiswa. Mereka mendesak pemerintah pusat segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Sementara puluhan ribu buruh di Jawa menyiapkan aksi anti-revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Para pelayat terus berdatangan di rumah duka. Di sudut halaman, seorang lelaki Tionghoa setengah baya berdiri melipat tangan. Perawakannya tak terlalu jangkung, agak gemuk. Sesekali ia menyapa beberapa orang yang menghampirinya. Sekitar satu meter dari lelaki itu Ratna Sarumpaet, sutradara teater dan ketua Dewan Kesenian Jakarta, sibuk menjawab pertanyaan wartawan.

Liem Soei Liong memang sosok di belakang layar. Tapi ia bukan taipan yang kini bermukim di Singapura dan pemilik ratusan perusahaan. Ia Liem yang lain. Nama boleh sama, tapi kelakuan dan sikap hidup bertolak belakang.

Ia lahir di Tasikmalaya pada 7 April 1943. Anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya dokter anak. Kehidupan keluarga Liem bisa disebut berkecukupan di masa itu. Rumah masa kecilnya di kawasan Menteng diteduhi rimbun pepohonan. Bangunan tua tersebut dilengkapi perabotan antik dari kayu. Kawasan Menteng terkenal sebagai pemukiman orang kaya lama di Jakarta.

Namun, situasi politik Indonesia mengubah jalan hidup anak Menteng ini.

Pada 1966, di awal kekuasaan Soeharto, Liem hengkang dari Indonesia. Kampusnya, Universitas Res Publica, dibakar sekelompok preman. Di universitas yang kini bernama Trisakti, Pramoedya Ananta Toer pernah mengajar sejarah.

Liem lari ke Jerman, kemudian Belanda. Ia juga melanjutkan kuliah. Jurusan teknik kimia.

“Saya keluar Indonesia dalam keadaan marah dan kesal melihat negeri ini dikuasai tentara, saya merasa perlu berbuat sesuatu,” kenangnya.

Di Belanda, Liem terlibat dalam Komite Indonesia. Lembaga ini anti-Soeharto serta menerbitkan majalah Indonesie Feiten en Meningen. Ketika Soeharto lengser, Indonesie Feiten en Meningen pun tak bunyi lagi.

Selain membasmi orang-orang komunis dan pendukung Soekarno, Soeharto juga tak memberi ruang pada multietnis dan perbedaan. Ia melakukan penyeragaman sekaligus diskriminasi. Ia menjalankan kekuasaan dengan tangan besi. Warga keturunan Tionghoa harus mengganti nama mereka dengan nama-nama berbau Jawa.

“Untung saya pindah, makanya saya tak pernah ganti nama,” kata Liem.

Pada awal 1980-an Liem bergabung dengan Tapol, singkatan dari “tahanan politik”. Organisasi ini bermarkas di London. Pendirinya Carmel Budiardjo, seorang perempuan Yahudi Inggris yang menikah dengan pria Jawa, Suwondo Budiardjo.

Carmel pernah dipenjara selama 3 tahun oleh pemerintah Soeharto. Suaminya anggota Partai Komunis Indonesia. Semula Tapol berkonsentrasi pada kampanye pembebasan tahanan politik Pulau Buru dan mereka yang dituduh komunis.

Carmel mendirikan Tapol pada 1973. Berkat kepeduliannya terhadap nasib korban pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia, ia dianugerahi Right Livelihood Award, sebuah penghargaan yang sering disebut sebagai hadiah Nobel alternatif, pada tahun 1995.

Tapol juga menerbitkan buletin dua bulanan. Buletin yang juga bernama Tapol ini tersebar di di 65 negara. Mereka punya jaringan di lima benua.

Ketika para tahanan di Pulau Buru mulai dibebaskan, Tapol mulai membela kasus-kasus lain, seperti di Timor Leste, Aceh, dan Tanjung Priok.

Pemerintah Soeharto membenci organisasi ini. Tapol dipandang merugikan citra rezim berkuasa.

Liem masuk daftar hitam. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang menolak pendudukan Indonesia di Timor Leste. Ia resmi dicekal pada tahun 1981.

Bersama Carmel, Liem menulis buku berjudul The War Againts East Timor. Mereka juga menerbitkan buku Indonesia The Soeharto Years, Military Rule 1965-1985. Buku ini memancing kembali perhatian dunia internasional terhadap konflik Timor, yang ketika itu mulai surut.

Pencekalan pemerintah Indonesia tak membuat Liem menyerah. Diam-diam ia datang lewat Pulau Batam dari Singapura. Kunjungan tadi sering dimanfaatkannya untuk bertemu mahasiswa dan ceramah.

Suatu hari aksi Liem tercium aparat. Ia ditahan di bandara Soekarno-Hatta saat hendak terbang ke Singapura. Itu tahun 1994. Soeharto sedang kuat. Tapi intelijen ternyata harus berpikir panjang untuk melenyapkan Liem. Pasalnya, sepak-terjang Liem sudah terlanjur dikenal banyak orang.

Salah satu strategi Tapol ketika itu adalah membantu para aktivis yang dikejar-kejar pemerintah. Para aktivis tersebut dibawa ke luar negeri untuk memberi kesaksian dan membongkar kebusukan Soeharto. Yeni Rosa Damayanti, Sri Bintang Pamungkas, Pius Lustrilanang, dan aktivis Aceh, seperti Aguswandi, termasuk mereka yang pernah diselamatkan Tapol.

Menurut Liem, Tapol bertugas mendidik orang-orang di daerah konflik agar mereka mengerti tatanan internasional. Pada 1997 sampai 1999, organisasi ini banyak memfasilitasi seminar-seminar untuk orang-orang Indonesia di luar negeri. Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjabat asisten teritorial dan bawahan Wiranto, pernah diikutsertakan dalam salah satu seminar.

Soeharto tumbang. Reformasi pecah. Tapi status pencekalan Liem belum dicabut. Hendardi dari Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia menganggap pencekalan Liem tak beralasan.

“Cekal di suatu negara demokrasi sudah tidak dikenal, karena menghambat hak-hak dasar seseorang untuk bepergian ke dalam maupun luar negeri. Apalagi Liem, tidak terbukti melakukan tindak kriminal,” kata Hendardi.

Pencekalan terhadap Liem baru dihapus di masa Presiden Abdurrahman Wahid. Setelah 20 tahun jadi eksil, Liem bebas keluar-masuk Indonesia lagi.

Konflik berkepanjangan di Aceh tak luput dari perhatiannya. Dalam keterangan pers pada Januari 2004, Tapol mencatat 1553 aktivis Aceh ditahan sementara dan diinterogasi. Mereka yang dipenjarakan akibat tuduhan makar 756 orang, dengan masa hukuman berkisar antara setahun sampai 20 tahun.

Hubungan Liem dengan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM sudah terjalin jauh sebelum Aceh berstatus Daerah Operasi Militer pada 1989. Berkali-kali ia menghadiri pertemuan di Jenewa yang membahas masalah hak asasi manusia di Aceh dan bicara pada pemimpin tertinggi GAM Hasan Tiro.

Menurut Liem, situasi terburuk di Aceh pasca Soeharto terjadi saat Megawati Soekarno jadi presiden. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono lebih menunjukkan itikad baik.

Sebelum tsunami menghantam Aceh, Jusuf Kalla yang ketika itu menjabat menteri koordinator kesejahteraan rakyat, bersama "Kelompok Bugis"-nya merintis jalan bertemu GAM di Belanda. Kelompok Bugis terus mendorong upaya perdamaian pemerintah Indonesia dengan GAM ketika Jusuf Kalla terpilih sebagai wakil presiden.

“Kelompok Empat” dunia, yang terdiri dari Bank Dunia, Jepang, Amerika Serikat dan Eropa berjanji membantu Aceh, asal perdamaian tercapai.

“Tugas kami di luar hanya mencari titik temu, sehingga terbuka jalan damai antara kedua pihak yang sedang konflik,” ujar Liem.

Namun, Liem mengeritik konsep bentuk negara kesatuan. Negara-negara yang kokoh di dunia menganut sistem federal, seperti Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Kemajemukan justru memperkokoh persatuan.

“Sejak tahun 1980 Indonesia ini dijadikan negara Jawa,” keluhnya.

Liem memilih tidak menikah hingga saat ini. Dari teman hidupnya, seorang perempuan Belanda bernama Lily van de Bergh, ia dikaruniai seorang putri, Sanne van de Bergh. Sanne kini aktif di lembaga hak asasi manusia di Sudan. Seperti pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

*) Mulyani Hasan adalah kontributor Aceh Feature di Jakarta

Sumber : Aceh Feature, 14 Juni 2006
Read Full 0 comments

Lodewijk Rainier Korua : Lody Karua dan Jeram Kehidupan

Jun 27, 2009
Lody Korua dan Jeram Kehidupan
Oleh : Rien Kuntari dan Rudy Badil

SIANG itu tiba-tiba seluruh penumpang terdiam. Tak seorang pun berani berkutik ketika jip Land Rover keluaran 1998 itu mendadak merosot dari tebing ketika menelusuri jalan bebatuan terjal dan berkelok-kelok di leher Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Usut punya usut, beban kendaraan terlalu berat.

BERUNTUNG, sang sopir cukup piawai. Dalam sekejap, masalah pun teratasi. Jip warna perak itu pun kembali melaju. Lodewijk Rainier Korua, begitu sebutan resmi pria berperawakan tinggi besar itu. Kelahiran Surabaya, 19 April 1957, ini memang dikenal sebagai off-roader. ”Pokoknya ke mana pun gua mau, asal boleh nyopir,” ujarnya kalem.

Kehidupan Lody, begitu ia dipanggil, memang tak pernah lepas dari alam. Ia menyalurkan gejolak darah muda sejak di SMA 7 Jakarta dalam berbagai olahraga alam, seperti panjat tebing, mendaki gunung, arung jeram, hingga motocross dan off-road. Tak mengherankan jika dalam sekejap ia menemukan satu hutan ilalang yang penuh pesona, kemudian sungai bebatuan yang begitu indah.

Seiring dengan kematangan yang dimiliki, ia mentransformasikan kecintaannya pada alam ke dalam ”bisnis”. Selain off-road, tahun 1995 ia resmi mendirikan PT Lintas Jeram Nusantara untuk mengelola Arus Liar, wisata alam arung jeram, di Sungai Citarik, Sukabumi. Dalam waktu dekat, pria berdarah Manado tetapi besar di Jakarta itu akan membuka wisata arung jeram di Sungai Cibareno.

PERLAHAN tetapi pasti, bisnis yang dikelolanya bertahan. Meski tanpa latar belakang pendidikan formal, ia kini mampu menghidupi sekitar 70 karyawan. Selain itu, bersama Arus Liar, ia hampir selalu mengantongi juara pertama lomba arung jeram nasional.

Ia tak terlalu khawatir dengan para pesaing lain. ”Saya yakin ada seleksi alam. Tetapi, bagi saya yang terutama dalam bisnis ini adalah keselamatan,” katanya tegas.

Baginya, safety first bukan sekadar slogan. Prinsip itu benar-benar ia jalankan. Ia memilih standar operasional keamanan internasional yang ia sesuaikan dengan kondisi setempat. ”Bawaan” alamiah sungai di Indonesia, katanya, berbeda dengan sungai di Eropa, Amerika, dan di Afrika.

Misalnya, meski dinilai boros, bahkan oleh para mitra asing, di sektor penyelamatan air, ia bersikukuh menerapkan sistem satu perahu penyelamat yang terdiri dari empat tenaga ahli dan satu tenaga medis untuk mengawal lima perahu tamu.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, satu perahu penyelamat mengawal dua atau tiga perahu tamu. Ia juga melengkapi dengan penyelamatan darat, radio komunikasi, parameter air yang mampu memberikan peringatan awal tentang kondisi air, hingga evakuasi medis dengan helikopter.

Untuk bekal keterampilan internasional, ia menyekolahkan para pemandu ke Bali. ”Saya tahu, semua itu membutuhkan biaya besar, tetapi unsur keselamatan di sini tidak bisa ditawar. Kalau mobil, misalnya, mungkin masih bisa dihilangkan sistem air bag-nya, jadi harganya bisa lebih murah, tetapi ini… tidak bisa ditawar,” katanya.

Baginya, kecelakaan yang menimpa Raymond van Beckum di Sungai Cisadane, Bogor, akhir tahun 2003 lebih disebabkan oleh ”hilangnya” salah satu unsur keselamatan, demi harga lebih murah. ”Jadi bukan karena sungainya, tetapi ini lebih karena mempermainkan tarif,” ujarnya.

Unsur keselamatan itu termasuk ketidaksiapan pemandu. ”Pemandu yang baik harus berani menghentikan perjalanan jika memang jeramnya tidak mungkin dilalui. Biasanya, keberanian seperti ini jarang dimiliki karena harus menempuh risiko... tamu kecewa berat,” katanya menjelaskan.

KECINTAANNYA kepada alam semesta telah menempa pria berpenampilan rapi itu untuk lebih pasrah sekaligus optimistis akan adanya penolong. Alam pula yang membuatnya sangat menghargai persahabatan, termasuk ketika ia kehilangan arah hidup. ”Apa yang saya dapatkan sekarang tak lepas dari peran teman-teman,” tuturnya memberi alasan.

”Alam juga membuat saya lebih jujur kepada diri sendiri,” lanjutnya. Dalam arti, alam telah mengajarkan untuk menerima diri apa adanya. Pria berpembawaan kalem itu pun tak bercita-cita muluk. ”Apa yang saya terima sekarang sudah lebih dari cukup,” ujarnya.

Walau begitu, ada satu peristiwa yang takkan pernah ia lupakan saat mendaki puncak Jaya Wijaya tahun 1991. ”Ketika beristirahat, iseng saya memberi kabar lewat HT (handy-talky) kepada penjaga gunung. Kemudian si penjaga bilang, ada kabar dari Jakarta untuk Lody Korua... Ibunya meninggal empat hari lalu... Saya langsung bilang kepada teman-teman dan lari turun,” ujar putra sulung pasangan Altje Rambitan dan Willem Korua itu.

Mungkin alam pula yang membuatnya tak kehilangan rasa kemanusiaan. Pria yang mengawali ”karier” sebagai juru masak dalam setiap wisata alam lain itu berusaha tetap memadukan bisnis dengan sosial.

Tanpa diminta, ia menerjunkan 40 perahu karet untuk membantu menangani banjir di Jakarta. Ia pun tak enggan terbang ke Aceh dan Nias ketika kedua tempat itu diterjang badai dan tsunami.

”Saya ingin meringankan penderitaan orang. Di Aceh dan Nias, saya melihat begitu banyak kehilangan yang segala-galanya, bahkan anak-anaknya. Saya membayangkan, bagaimana kalau ini terjadi pada saya,” katanya. ”Sayang, korban kecelakaan dan bencana alam di Indonesia belum tertangani dengan baik,” tutur Wakil Ketua Global Rescue Network (GRN) Indonesia atau Jaringan Keamanan Global itu. Melalui GRN, ia bermimpi, Indonesia memiliki jaringan keamanan seperti 911 di Amerika Serikat yang memungkinkan setiap orang mendapat bantuan dalam segala hal hanya dengan menekan nomor 911.

Dan, alam pula yang mempertemukannya dengan RA Amalia Yunita (38), rafter wanita yang juga tangguh. Tahun 1996 ia resmi menyunting bunga perpaduan Jawa-Hongaria itu dalam sebuah pesta perkawinan unik, yaitu di atas perahu karet di Sungai Citarik, Sukabumi. ”Saya bersyukur, Tuhan mengirim dia untuk saya,” kata ayah tiga anak, Salsabila Korua (6), Ken Kiham Korua (5), dan Kalif Kresna Korua (2), ini.

Kehadiran ketiga bocah itu membuatnya kian bersyukur dan enggan meninggalkan rumah. ”Saya tak tahan jika harus lama-lama berpisah dari mereka,” ujarnya tersenyum. Ada keteduhan begitu dalam di balik tatapan dan senyuman itu.... (*/RIEN KUNTARI/RUDY BADIL)

Sumber : Kompas, Jumat, 24 Juni 2005
Read Full 0 comments

Lance Armstrong, Akhir yang Sempurna

Jun 26, 2009
Lance Armstrong, Akhir yang Sempurna
Oleh : J Waskita Utama

Vive le Tour forever. Itulah salam perpisahan Lance Armstrong di podium Tour de France bagi lomba balap sepeda paling akbar di dunia yang membesarkan namanya.

Armstrong mengakhiri kariernya di dunia balap sepeda dengan cara istimewa yang belum pernah dibuat para pendahulunya: menjadi juara Tour de France cukup disebut Tour saja tujuh kali berturut-turut.

Didampingi putranya, Luke (5), serta si kembar Grace dan Isabelle (3), Armstrong menaiki podium, meletakkan tangan kanannya di dada, dan menatap langit saat lagu kebangsaan Amerika Serikat The Star-Spangled Banner diperdengarkan baginya untuk terakhir kali.

Tak tampak sedikit pun keraguan di wajah Armstrong meski dia dinilai sanggup bersaing di level tertinggi satu-dua tahun lagi. Justru dia melakukan hal yang kerap gagal dilakukan atlet lain, yaitu berhenti saat berada di puncak.

Tak ada penyesalan sama sekali. Saya diberkati dengan 14 tahun karier profesional yang penuh warna dan tujuh gelar juara Tour sesudah divonis kanker. Tak ada alasan untuk meneruskannya. Tiba saatnya untuk melakukan hal baru, ujarnya.

Armstrong meninggalkan dunia olahraga sebagai salah satu atlet paling dominan sepanjang sejarah. Hasil yang pantas untuk determinasi dan kerja kerasnya yang luar biasa, termasuk untuk bangkit setelah terkena kanker testikular yang nyaris mengakhiri hidupnya.

Terlahir sebagai Lance Edward Gunderson di Dallas, Texas, 18 September 1971, orangtua Armstrong, Linda dan Edward Gunderson, bercerai tak lama setelah dia lahir. Linda lalu menikah dengan salesman keliling, Terry Armstrong, yang mengadopsi Lance.

Dalam autobiografinya It's Not About the Bike, Armstrong menyebut sepeda sudah menjadi kecintaannya saat dia mendapat sepeda plastik roda tiga pada usia dua tahun dan sepeda sungguhan dari kakeknya tiga tahun kemudian.

Gelar pertama diraihnya pada umur 13 tahun dan pada usia 16 tahun Armstrong mengumpulkan 20.000 dollar AS dari balap sepeda dan triatlon sepanjang tahun. Prestasi ini membawanya ke tim nasional yunior Amerika Serikat.

Armstrong beralih menjadi pembalap pro seusai Olimpiade Barcelona 1992. Hasil besarnya dituai pada tahun 1993, yaitu berupa juara dunia nomor road race. Tahun itu juga dia mengikuti Tour pertama kali, memenangi satu etape, tetapi gagal finis di Paris.

Armstrong selalu hadir di Tour sebelum mundur di tengah Tour 1996 karena merasa kurang fit. Penyebabnya baru diketahui kemudian, tepatnya pada tanggal 2 Oktober, ketika dia divonis menderita kanker yang telah menyebar ke paru-paru dan otaknya.

Operasi dan rangkaian kemoterapi yang dijalaninya membekas dalam diri Armstrong. Rasa sakitnya luar biasa. Jenis sakit yang muncul perlahan-lahan, membuatmu menderita secara fisik, mental, sosial, dan emosional untuk waktu lama. Tetapi, rasa sakit itu juga yang menjadi dorongan untuk tetap hidup, tutur Armstrong.

Armstrong memang akhirnya pulih, menikah dengan istrinya, Kristin, Mei 1998, dan mulai berkompetisi di Tour of Spain, Oktober 1998. Di sana dia bertemu dengan Johan Bruyneel, yang kemudian menjadi otak keberhasilan Armstrong di Tour selama tujuh tahun berikutnya.

Tour de France adalah satu-satunya obsesi Armstrong. Dia merebut 22 gelar juara etape, 11 di antaranya dari nomor time trial, 83 kali mengenakan kaus kuning, dan tujuh kali juara selama 11 kali berpartisipasi. Hanya Eddy Merckx, legenda balap sepeda Belgia, yang mengalahkannya dengan 111 kali memakai kaus kuning.

Popularitas Armstrong tersebar luas melebihi batas dunia olahraga. Lebih dari 50 juta gelang kuning bertuliskan LiveStrong, semboyan hidupnya yang terkenal, terjual di seluruh dunia, menghimpun dana jutaan dollar AS bagi Yayasan Lance Armstrong yang bergerak di bidang riset penanggulangan kanker.

Ratusan penderita kanker yang berhasil pulih mengaku menjadikan Armstrong inspirasi mereka untuk terus hidup. Presiden AS George W Bush, yang sama-sama berasal dari Texas, menyebut perjalanan hidup Armstrong sebagai sebuah pencapaian besar dari semangat manusia.

Armstrong juga sukses di dunia bisnis dengan meluncurkan produk pakaian berlabel 10/2, diambil dari kejadian tanggal 2 Oktober. Prestasinya juga membuat banyak orang AS tertarik untuk bersepeda, olahraga yang sebelumnya dianggap milik orang Eropa.

Kini orang sibuk menebak, apa pencapaian Armstrong berikutnya. Kehadiran sutradara Ron Howard pada garis finis Tour, di sela penggarapan film Da Vinci Code di Paris, memunculkan rumor kisah hidupnya akan diangkat sebagai film.

Spekulasi lain memperkirakan Armstrong masuk dunia politik. Buat saya, politik adalah berjuang untuk sesuatu yang benar. Saya selalu melakukan itu di balap sepeda. Apakah itu berarti memperjuangkan sesuatu yang benar bagi rakyat? Jangan pernah bilang tidak, ujar Armstrong.

Yang pasti, Armstrong berencana menjauh dari kehidupan publik untuk sementara waktu, hidup tenang bersama anak-anaknya dan Sheryl Crow, kekasihnya seusai bercerai dengan Kristin pada tahun 2003.

Saya membutuhkan saat pribadi yang tenang. Mungkin tahun depan saya akan mengunjungi Bruyneel dan mengganggunya dengan persiapan tim menghadapi Tour. Saya akan duduk di depan televisi dan menyaksikan Tour 2006 di rumah, pasti sangat menyenangkan, ujarnya.

Sumber : Kompas, Rabu, 27 Juli 2005
Read Full 0 comments

Lauryn Williams : Williams, Hurricane di Jalur Cepat

Jun 25, 2009
Williams, Hurricane di Jalur Cepat
Oleh : Ida Setyorini

Ketika Lauryn Williams (Amerika Serikat) meraih medali perak nomor lari 100 meter putri di Olimpiade Athena, 21 Agustus 2004, hidupnya mendadak berubah. Namanya menjadi tenar di kalangan atletik karena dia menjadi atlet putri termuda usia 20 tahun sepanjang kurun waktu 32 tahun yang merebut medali nomor tersebut.

Profilnya muncul di mana-mana dan jadwal hariannya penuh sepanjang waktu. Tiba-tiba banyak undangan sebagai pembicara jatuh ke pangkuannya. Di jalan, banyak orang mengajaknya berbicara, tidak peduli dia sedang terburu-buru ke suatu tempat.

Williams mendampingi pembalap sepeda ternama, Lance Armstrong, berkeliling negeri bersama Tour of Hope guna menggalang dana untuk riset penyakit kanker.

Sepulang dari Athena, Williams segera menyelesaikan kuliahnya di Universitas Miami di bidang finansial. Studinya kelar dalam waktu 3,5 tahun dan pada 16 Desember lalu dia diwisuda. Sejak itu, dia terjun sebagai sprinter profesional, berkeliling dari satu kejuaraan ke kejuaraan lain.

Padahal, tahun 2002, dia baru juara dunia yunior. Setahun kemudian, dia menggaet dua emas dan satu perak di Pan American Games. Tahun 2003 pula dia meraih perak di Kejuaraan Dunia Atletik di Paris. Sebagai mahasiswi, Williams membela kampusnya dan menjadi yang tercepat pada Kejuaraan Atletik Nasional Antarperguruan Tinggi 2004. Dari situ, namanya masuk memperkuat tim atletik AS di Athena.

Kini, perempuan setinggi 1,57 meter itu mencatatkan diri sebagai pelari tercepat dunia dengan 10,93 detik saat dia meraih emas di Kejuaraan Dunia Atletik X di Helsinki, Finlandia. Catatan waktu itu mempertajam prestasi sebelumnya yang 10,96 detik di Athena, Yunani.

Dulu, Lauryn Williams tidak mencintai atletik. Tidak ada satu pun atlet yang menjadi idolanya, termasuk atlet Olimpiade sekalipun.

Namun, ketika datang ke pameran di Carnegie Science Center, Pittsburg, dia ditantang berlomba lari melawan bayangan pelari elite sepanjang jarak 10 meter. Bayangan itu milik almarhum sprinter cantik Florence Griffith-Joyner. Sejak itu, Williams yang baru berusia 10 tahun kepincut dengan atletik.

Sejak pagi-pagi sekali hingga sore, Williams berlatih mencoba mengalahkan kedipan cahaya. Sang ayah, David Williams, menyaksikan putri kecilnya jatuh cinta setengah mati dengan atletik. Sang putri tumbuh sebagai pelari tercepat AS dan dunia 10 tahun berselang.

Dalam mimpinya pun Williams tidak pernah bermimpi menjadi atlet termasyhur. Cita-citanya menjadi ahli anestesi, meniru kerabatnya yang berprofesi demikian dan menghasilkan banyak uang. Hari-harinya dihabiskan di rumahnya yang sederhana di Detroit dan pinggiran Pittsburg, tempat dia bekerja di gerai makanan siap saji WendyĆ¢€™s tiap malam seusai latihan.

Separuh tahun dia bersama ibunya, Donna Williams, guru sekolah di Detroit dan separuhnya lagi di Pennsylvania bersama ayahnya. Williams senior berjuang mengalahkan leukemia selama 13 tahun. Menjalani pengobatan kanker dan hemodialisis atau cuci darah karena ginjalnya rusak. Mantan veteran perang Vietnam itu pernah bekerja sebagai manajer distrik General Motors.

Penyakit saya menghabiskan banyak biaya, tetapi saya berusaha mendampingi Lauryn ke mana pun dia bertanding. Dialah inspirasi kami dan secercah harapan di kala susah, tutur sang ayah yang turut menyaksikan putrinya berlomba di Athena.

Kedua orangtuanya datang ke Athena atas bantuan Tim Wiebe, pengusaha peralatan kedokteran di Pennsylvania yang membaca upaya Williams menggalang dana untuk membelikan tiket ayahnya ke Yunani. Wiebe adalah mantan penderita kanker dan adiknya pun menderita kanker, karena itu dia tergerak membantu mereka. Williams hanya mampu mengumpulkan dana sebesar 400 dollar AS, jauh dari kebutuhan yang 10.000 dollar AS.

Kata sang ibu, Lauryn kecil selalu penuh energi. Dia ikut latihan sofbol, karate, bola basket, dansa, hingga senam. Namun, menjelang remaja, dia lebih suka berkompetisi.

Williams yang kelahiran 11 September 1983 itu mengalahkan semua rekan perempuannya dan kemudian teman laki-lakinya. Lalu, dia berlomba dengan remaja putra yang lebih besar. Bahkan, dia sering mengungguli anjing gembala jerman besar bernama Ben. Oleh ibunya, Williams dikirim ke kamp latihan atletik polisi. Dari situ namanya mulai dikenal dan prestasinya terus menanjak.

Di Universitas Miami, dia berlatih bersama kekasihnya, Talib Humprey, yang pemain tim football divisi I NCAA, Hurricane.

Dia mengalahkan saya. Bakatnya luar biasa dan dia masih bisa ke puncak. Biarpun sudah punya nama, dia tidak pernah berubah. Saya bangga dan mencintainya kata Humprey yang tingginya 1,87 meter.

Sumber : Kompas, Kamis, 11 Agustus 2005
Read Full 0 comments

Lalu Lukman : Sang "Perpustakaan Berjalan"

Sang "Perpustakaan Berjalan"
Oleh : Khaerul Anwar

Masyarakat etnis Sasak, Lombok, secara sosial budaya kini dalam kurun peralihan. ”Kita ini, termasuk saya, cuma menonton saja, sambil coba memahami dinamika zaman yang cepat berubah,” kata Haji Lalu Lukman, penulis beberapa buku sejarah dan budaya Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kurun peralihan yang dimaksud Lukman (85 tahun) alias Mamiq Djaja adalah berbagai adat tradisi lama, bahasa, aksara, dan budaya masyarakat Sasak yang terus digusur oleh peradaban yang lebih praktis. Misalnya, aksara Jejawan (turunan Hanacaraka–aksara Jawa-Bali) kurang diminati, bahkan umumnya tidak dikenal oleh kalangan generasi mudanya. Tahun 1940-1950 para sedahan (petugas pemungut pajak bumi dan bangunan di tingkat kecamatan dan desa) masih menggunakan aksara jejawan untuk keperluan administrasinya.

Nyaris sama nasibnya dengan penggunaan bahasa Sasak yang memiliki tiga tingkatan: aok-ape (ya-apa) atau bahasa jamak/biasa), tiang-enggih (saya-ya) atau bahasa halus, dan kaji-meran (saya-iya) atau bahasa raden (umumnya dipakai kalangan perwangsa/ningrat). Yang lebih banyak dipakai kini adalah bahasa jamak dan halus. Hanya saja dalam pemakaian bahasa halus terkesan rancu, seperti penggunaan kata mangan, bekelor, dan medaran (ketiganya berarti makan). Bekelor diutarakan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati.

Begitu pun budaya mendongeng dikatakannya kini sudah punah oleh berbagai cerita sinetron yang ditayangkan televisi. Upacara Nyongkol (keluarga pengantin putra bertandang ke rumah keluarga pengantin perempuan), sebagai bagian acara sorong serah ajikrama atau perkawinan adat Sasak, pun tidak berjalan seperti tata cara yang sebenarnya. Pesertanya kebanyakan anak muda, memakai blue jeans, sepatu, dan sarung, bukan busana adat.

”Saya sedih, terkadang tertawa melihat itu. Karenanya, saya mencoba untuk berbuat sesuatu, menulis apa yang saya ketahui. Apa yang saya lakukan itu paling tidak sebagai bukti sejarah yang dapat dibaca oleh generasi kemudian agar mereka tidak kehilangan jejak,” ucap Lukman.

Dia tahan duduk menulis dari pagi hari hingga larut malam, terkadang lupa makan. Bahkan buku Sejarah, Masyarakat, Budaya Lombok yang sebanyak 500 eksemplar tadi ditulis ketika sakit dan menjalani rawat inap di rumah sakit.

Beberapa karyanya yang sudah dicetak dan dalam proses penyelesaian adalah Sejarah, Masyarakat, Budaya Lombok (edisi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), Upacara Adat Sorong Serah, Lepas dari Mulut Buaya Masuk ke Mulut Singa, Reramputan Tembang Sasak, di samping kumpulan dongeng atau cerita rakyat Lombok. Pencetakan buku-buku dibiayai dari dana pribadinya itu bahannya dikumpulkan saat aktif sebagai pegawai negeri sipil.

Karena pemahamannya yang bagus tentang budaya Sasak Lombok, memiliki referensi lengkap berupa koleksi foto abad ke-18-19, sekaligus pelaku sejarah di zaman penjajahan Belanda dan Jepang, dan pernah memegang jabatan strategis, Mamiq Djaja kini menjadi tempat bertanya maupun narasumber kalangan pemerhati budaya dan peneliti dari dalam dan luar negeri. Tidak heran banyak kalangan menyebutnya sebagai ”perpustakaan hidup”.

Pelopor pariwisata

Lahir di Kampung Pedaleman, Desa Kopang, Lombok Tengah, 21 Februari 1920, suami Baiq Gita ini menamatkan sekolah desa di desanya (1927-1930). Dia melanjutkan ke HIS (Hoogere Inlands School) di Mataram tahun 1932-1939. Ayah 12 anak dan kakek 30 cucu itu meneruskan sekolah ke CIBA (Candidat Inlands Bestuur Ambtenar–Sekolah Calon Pamong Praja) di Makassar pada 1939-1940, namun tidak selesai karena terjadi pendudukan Jepang atas wilayah Indonesia. Bahkan, saat itu ia sempat jadi tawanan Jepang di Makassar.

Pulang ke Lombok, Lukman bekerja sebagai relawan pada Kantor Kepala Pemerintahan di Praya dan menjadi Grifir (Penitera) berstatus pegawai yang diperbantukan pada Kantor Pengadilan Sasak di Selong tahun 1942-1943, kemudian jadi Asisten Pamong Praja di Desa Gerung, Lombok Barat, tahun 1945 dan menjabat Asisten Distrik Gerung tahun 1946, dan beberapa tahun setelahnya menjabat Kepala Distrik Kopang, Kepala Distrik Narmada, Lombok Barat. Pada saat aktif itulah Lukman aktif merintis dan membangun lembaga pendidikan di tempat-tempat tugasnya, bahkan mengundang lulusan pendidikan guru dari Pulau Jawa untuk mengajar di sejumlah sekolah di Pulau Lombok.

Dia juga termasuk pelopor bidang pariwisata Lombok dan ikut berperan membangun Hotel Sasaka Beach yang sudah ”almarhum”. Sampai kini Lukman menjadi Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran NTB, dan Persatuan Wredatama Republik Indonesia NTB, di samping Kerama (Lembaga) Adat Sasak Lombok.

Sumber : Kompas, Senin, 12 September 2005
Read Full 0 comments

Lies Parish : Mengembalikan Anak Miskin ke Sekolah

Mengembalikan Anak Miskin ke Sekolah
Oleh : Yenti Aprianti

Bocah perempuan berusia belasan tahun, baru kelas satu sekolah menengah pertama (SMP), datang ke rumahnya. Gadis itu tidak mau masuk ke ruang tamu, malah menunggu di dapur. Dari ruangan lain, Lies Parish (43) memerhatikan gerak-gerik anak itu.

Ibunda Lies yang menemui anak itu. Mereka bicara berbisik-bisik. Lies penasaran. Setelah anak itu pulang, Lies bertanya pada ibunya, kenapa mereka bicara berbisik-bisik. ”Anak itu malu. Dia mau pinjam uang untuk membayar utang ke sekolah. Orangtuanya tidak punya uang,” kata sang ibu.

Mendadak Lies teringat kehidupan anak-anaknya yang ia besarkan di Essex, Inggris. Apa pun yang mereka butuhkan sudah dipenuhi oleh pemerintah. Sekolah dan biaya rumah sakit gratis. Perpustakaan dan tempat bermain ada di mana-mana.

Anak-anak juga diperhatikan perkembangan psikologinya. Jika mereka termenung atau ada lebam di kulitnya, maka sekolah akan menyelidiki. ”Intinya, anak-anak sangat dilindungi. Bahkan orangtua mereka pun tidak bisa berbuat semena-mena,” kata Lies.

Kedatangan gadis miskin yang memohon pinjaman di rumahnya, membuat hatinya terenyuh. Ia tersadar, betapa berat hidup yang harus ditanggung anak-anak miskin sebangsanya.

Saat itu Lies mulai memberi beasiswa kepada beberapa anak miskin yang masih sekolah. Ia mendatangi beberapa anak yang terpaksa putus sekolah dan masih berkeinginan melanjutkan sekolah. Tapi ternyata, mengembalikan mereka ke sekolah tidak semudah membalikkan telapak tangan.

”Di kampung banyak orangtua yang belum mengerti pentingnya pendidikan. Mereka justru menyuruh anak-anaknya berhenti sekolah agar bisa segera menafkahi keluarga,” kata Lies.

Betapa sedih hati Lies saat ia menemukan seorang anak yang menyatakan ingin sekolah, tapi tidak diizinkan orangtuanya. ”Di belakang orangtuanya, ia bilang ingin sekolah. Tapi saat di depan orangtuanya, ia bilang tidak mau sekolah lagi demi menyenangkan hati orangtuanya,” ujar Lies yang ditemui sedang membawa sekitar 30 anak untuk berekreasi di Kebun Binatang Bandung, Minggu (31/7/2005).

Itu sebabnya, Lies mencoba memberikan beasiswa kepada beberapa orang sebagai contoh atau penyuluhan secara halus untuk membuka wawasan orangtua di kampung-kampung.

Membentuk yayasan

”Ternyata setelah keuangan untuk sekolah lancar, banyak orang miskin yang tadinya tidak mengizinkan anaknya sekolah, mulai bertanya-tanya cara untuk mendapatkan beasiswa,” lanjut Lies.

Ketika pulang ke Inggris, Lies mentransfer uang untuk anak-anak miskin melalui ibunya. Ibunyalah yang berangkat dari rumah anak miskin satu ke rumah yang lain untuk mencatat keperluan anak-anak miskin itu. Ibunya pula yang mendatangi sekolah-sekolah untuk melunasi bayaran mereka.

Makin hari makin banyak anak orang miskin yang tercatat dan butuh beasiswa. Lies yang hanya ibu rumah tangga dan bekerja sebagai pendesain website pada waktu-waktu luangnya pun merasa tak sanggup lagi membiayai anak-anak yang jumlahnya makin banyak.

Ia pun mengajak teman-temannya sebangsa yang tinggal di luar negeri melalui milis untuk menjadi donatur. Dari milis, ia membuat website sendiri untuk menjaring masyarakat dunia yang peduli untuk mengembalikan hak anak miskin di Indonesia. Alamat website-nya www.annisa.org.

Sejak 21 April 2004, ia dan teman-teman donatur sudah mengesahkan kegiatannya dalam bentuk yayasan, bernama Yayasan Annisa.

Donatur yang ingin memberi beasiswa kepada murid SD minimal memberikan uang sejumlah Rp 60.000 dan untuk murid SMP dan SMA sebanyak Rp 120.000 per bulan. ”Donatur bisa memberi dalam bentuk mata uang mana pun asalkan setara dengan nilai sejumlah yang tersebut dalam bentuk rupiah,” kata Lies. Di Inggris, uang sejumlah Rp 60.000 sama artinya dengan satu porsi makanan siap saji.

Sampai kini sudah ratusan anak di Jabar dan Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, yang sudah mendapatkan beasiswa dari Yayasan Annisa. Yayasan Annisa kini juga tengah menggalang dana untuk membuat perpustakaan di Nanggroe Aceh Darussalam.

Lies sendiri adalah istri lelaki berkebangsaan Inggris, Mark Parish. Mereka menikah tahun 1990. Saat itu, Lies sudah memiliki dua anak dari suami terdahulu, yaitu Gina Rubian Biany (23) dan Sylvia Wulandari (22). Dengan Mark, Lies memiliki anak, Maria Candidasa (13) dan Saskia Theodora (7).

Dua tahun setelah menikah, Lies memutuskan tinggal di Essex, Inggris, karena suaminya bekerja di kota itu. ”Kini suami saya juga ikut menggalang dana bagi anak miskin di Indonesia bersama teman-temannya di divisi keuangan di perusahaan, First Data Europe and Middle East (FDE),” kata Lies menjelaskan.

Sumber : Kompas, Selasa, 13 september 2005
Read Full 0 comments

Lech Kaczynski : Presiden Lech Kaczynski, Si "Pencuri Bulan"

Jun 21, 2009
Presiden Lech Kaczynski, Si "Pencuri Bulan"

Budi Suwarna

Lech Kaczynski (56) setidaknya melakukan dua ”pencurian” penting dalam hidupnya. Pertama, dia ”mencuri bulan” ketika bermain dalam film Penjahat Cilik Pencuri Rembulan 44 tahun lalu. Kedua, dia ”mencuri” kemenangan dalam pemilu Presiden Polandia putaran kedua, Minggu (23/10/2005) lalu.

Kaczynski yang dikenal sebagai tokoh konservatif memang tidak terlalu diunggulkan dalam pemilu presiden. Dalam setiap jajak pendapat yang digelar media massa Polandia, Kaczynski selalu kalah tipis dibandingkan dengan pesaingnya, Donald Tusk, yang dikenal sebagai tokoh liberal. Perbandingannya rata-rata 55:45 untuk Tusk. Meski demikian, pada hari-hari terakhir kampanye dia sedikit demi sedikit menipiskan keunggulan Tusk. Pada jajak pendapat terakhir, satu hari menjelang pemungutan suara, Kaczynski hanya kalah setengah persen suara dari Tusk.

Pada hari penentuan, seperti atlet lari yang menyalip lawannya di tikungan, Kaczynski menurut Reuters balik mengungguli Tusk dengan kemenangan tipis sekitar 53 persen melawan 46 persen. Dan, mantan aktor cilik ini pun memenangi kursi presiden keempat Polandia. Luar biasa!

Pengamat politik dari Institut Keilmuan Polandia, Mikolaj Czesnik, seperti dikutip AFP, mengatakan kemenangan Kaczynski disebabkan kesalahan Tusk pada minggu terakhir kampanye. Tusk dianggap gagal mengampanyekan konsepnya yang jelas untuk membangun Polandia.

Dalam kampanyenya, Tusk yang propasar bebas mendesak dilakukannya privatisasi terhadap industri negara, diterapkannya flat tax, dan menuntut pemotongan tunjangan sosial untuk memperbaiki ekonomi negara.

Kaczynski mementahkan kampanye Tusk dengan sangat cerdik, yaitu menggunakan isu-isu yang lebih membumi. Kaczynski yang juga propasar bebas mengatakan, dia tetap menghormati konsep welfare state yang melindungi masyarakat miskin dengan jaring keamanan sosial. Secara telak, dia menegaskan Partai Program Kepentingan Umum yang mencalonkan Tusk adalah partai orang kaya.

Di bidang politik, Kaczynski memainkan isu anti-Jerman yang pada masa Nazi telah menduduki Polandia dan membantai banyak penduduk Polandia selama Perang Dunia II.

Racikan materi kampanye inilah yang membuat Kaczynski mendapat limpahan suara dari kaum miskin, warga desa, orang-orang yang punya trauma atas kekejaman Nazi, dan orang-orang yang gamang menghadapi persaingan ekonomi di Uni Eropa.

Konservatif tulen

Sebelum bergabung di Partai Hukum dan Keadilan, Lech Kaczynski bersama saudara kembarnya, Jaroslaw Kaczynski, pernah bergabung dengan gerakan Solidaritas yang berhaluan kanan. Tusk juga bergabung pada gerakan yang sama. Kaczynski bersaudara dan Tusk ikut merobohkan komunisme di negara itu tahun 1989. Namun, Kaczynski bersaudara kemudian memiliki visi ekonomi berbeda dengan Tusk. Kaczynski memilih garis konservatif, sedangkan Tusk memilih garis liberal.

Selama karier politiknya, Kaczynski memang dikenal sebagai tokoh konservatif tulen. Dia selalu menekankan pentingnya nilai dan moral Katolik serta nasionalisme Polandia. Karena itu, ketika menjadi Wali Kota Warsawa, menurut AP, dia sempat menghentikan parade kaum gay awal tahun ini.

Kaczynski juga bertindak keras terhadap kejahatan, termasuk kasus korupsi, ketika menjabat Menteri Hukum tahun 2000-2001. Dia juga dikenal senang menggunakan bahasa yang lebih keras terhadap tetangganya, Jerman dan Rusia, yang menginvasi Polandia pada awal Perang Dunia II. Berkat cara pendekatan itu, dia memperoleh kepopuleran dan dihormati sebagai politikus yang perkataannya dianggap sesuai dengan perbuatannya.

Bagi penentangnya, Kaczynski dianggap sebagai tokoh yang berpikiran sempit dan dipenuhi perasaan iri. Namun, apa pun anggapan penentangnya, Kaczynski telah mendapatkan kemenangan yang manis.

Kemenangan Kaczynski atas Tusk membuat kubu konservatif menyapu bersih kekuasaan di Polandia. Pasalnya, pada pemilihan umum parlemen bulan lalu, Partai Hukum dan Keadilan yang kini dipimpin Jaroslaw Kaczynski juga menang dan berhak mendudukkan Kazimierz Marcinkiewicz sebagai perdana menteri.

Karena itu, ketika Lech Kaczynski dipastikan menang pemilu, dia segera berkata, ”Tuan Ketua, misi telah dilaksanakan.” Perkataan itu, demikian AFP, hanya ditujukan kepada Jaroslaw Kaczynski, Ketua Partai Hukum dan Keadilan, yang juga rekan mainnya dalam film Penjahat Cilik Pencuri Rembulan. Kini, mereka tak hanya mencuri ”rembulan”, tetapi juga kekuasaan.

Sumber : Kompas, Rabu, 26 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Lalu Hilal : Hilal, Pembuat Biola dari Lombok

Jun 20, 2009
Hilal, Pembuat Biola dari Lombok
Oleh : Khaerul Anwar

Jemari tangannya tidak selincah ketika dia masih relatif muda, 40-50 tahun lalu. Namun, kepiawaiannya menggesek tongkat biola pada dawai, dan mana dawai yang stelannya sumbang, masih tersisa dalam dirinya. Itulah Lalu Hilal (87), warga Dusun Dasan Tinggi, Desa Loyok, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Hilal mungkin satu-satunya yang memiliki keterampilan membuat biola, dibanding rata-rata warga desa itu yang terampil sebagai perajin bambu, kendati secara teknis keterampilannya juga bersinggungan dengan segmen kerja kerajinan. Apalagi biola yang dibikinnya bukan menggunakan alat modern, melainkan memakai alat pertukangan yang semuanya digerakkan dengan tangan.

Hilal alias Mamiq Padlan mengaku tidak pernah belajar khusus membuat biola, hanya melihat bentuk biola produk luar negeri, lalu nalurinya seakan membimbingnya untuk membuat alat gesek serupa. Bahkan memainkan dawai alat musik yang badannya berpinggang ramping dan ujung lehernya melengkung itu dilakukan secara otodidak.

”Kalau terlalu lama main, tangan saya gemetaran,” ujarnya setelah memainkan sebuah lagu Jepang, yang nyatanya juga dia lupa judulnya.

Kemudian, mengenai awal mengakrabi salah satu alat musik gesek orkes simfoni modern itu, dia bilang, ”Nenek saya punya biola yang rusak, lalu saya perbaiki.”

Dari memermak sekaligus pemain piol (mungkin asal kata violin dalam bahasa Inggris) yang kerap diundang memperkuat grup orkes keroncong lokal, nama Hilal dikenal sebagai pembuat biola sampai di Mataram, ibu kota NTB, bahkan di Pulau Sumbawa. Ayah 15 putra dari enam istri itu tidak hafal lagi jumlah biola yang dibuatnya. Yang diingatnya, selain mendapat pesanan dari Mataram dan Jakarta, karya Hilal banyak diboyong turis Australia, Perancis, dan Amerika Serikat yang datang ke rumahnya diantar rekan-rekannya di Mataram.

Katanya, wisatawan yang singgah ke kediamannya biasanya para pemain biola. Mereka memesan rata-rata lima biola, yang dijual rata-rata Rp 1,5 juta per buah, sedangkan harga untuk pesanan pengusaha dalam negeri Rp 750.000 sebuah. Para pemesan menyerahkan uang panjar dulu sebagai modalnya bekerja. Satu biola diselesaikan selama 20-30 hari.

Daya tarik karyanya, kecuali bentuknya yang tidak kalah dengan buatan luar negeri, juga dikerjakan dengan tangan menggunakan peralatan sederhana, seperti gergaji, pemaja (pisau kecil biasanya digunakan untuk meraut, juga dipakai sebagai pelengkap busana adat), dan alat lain yang dibuatnya sendiri.

Bahannya pun terdiri atas kayu lokal pilihan, berupa kayu cempaka untuk bagian kepalanya, stang dan tempat dagu—di mana biola digepit saat dimainkan—terbuat dari kayu kelicung. Rampangnya (penutup rangka) terbuat dari kayu jati lenek dan rangkanya dari kayu berora.

Setelah dipotong sesuai peruntukannya, kayu-kayu itu dilem menggunakan bahan alami yang diambil dari getah pohon tanaman yang istilah lokalnya disebut pohon puan, sejenis umbi-umbian yang populasinya di kawasan hutan Rinjani. Serabut yang direntang pada tongkat penggesek biola dibikin dari bulu ekor kuda.

Kayu paten

Dengan bahan kayu paten berikut perekat dari bahan alami, biola bikinannya, katanya, ”bisa bertahan selama kita hidup asalkan tidak jatuh saja”.

Berkat keterampilannya itu pula, Hilal pernah dibawa ke Jakarta saat Asian Games tahun 1962. Saat itu dia membawa 40 biola untuk pameran. Seluruh biolanya terjual, bahkan Idris Sardi bersama orkestranya yang menggelar pentas musik menggunakan sebagian besar biola bikinan Hilal.

”Wah, saya bangga luar biasa karena Pak Idris Sardi terus mengacungkan jempolnya kepada saya. Mungkin dia merasa cocok memainkan biola saya,” ujarnya. Pengalaman manis itu selalu dia kenang sampai saat ini.

Kesempatan selama dua bulan di Ibu Kota dimanfaatkan Hilal untuk ”buka praktik” memperbaiki biola yang rusak maupun yang rongsok. ”Bagaimana saya tidak bilang rongsok, kayu penutup rangkanya sudah retak dan retak-retak. Saya kemudian akali agar bisa bagus seperti semula,” sahutnya. Melihat biolanya menjadi baik, pemiliknya senang luar biasa. Hilal mendapat bayaran di samping tip atas jasa-jasanya itu.

Karena banyaknya pemilik biola yang memanfaatkan jasanya, suatu hari Hilal kehabisan bahan lem. Dia pun berjalan-jalan di seputar tempat penginapannya di Jakarta Selatan, dan di seputar pedagang bunga, dia melihat rumpun tanaman poan. Dia pun menghampiri pemiliknya yang kebetulan berada di situ. ”Pak, saya minta sedikit tanaman ini, buat bahan bikin obat,” katanya kepada pemilik yang kemudian memenuhi permintaan Hilal. Hilal pun bisa melanjutkan praktiknya.

Kini hampir lima dekade sudah Hilal melayani pesanan biola, dan sangat sedikit kalangan mengetahui karyanya yang telah dijajal para musisi di Jakarta 40 tahu silam. Dia memang enggan ”publikasi”, minta modal usaha meski order sepi tiga tahun terakhir. ”Walaupun tidak ada pesanan, saya tetap sedia bahanbahan biar, kalau sewaktu-waktu ada pesanan, saya langsung bisa kerjakan,” ucapnya.

Selain membuat dan memperbaiki biola yang rusak, Hilal yang mahir memainkan alat musik gamelan juga mengisi hari-harinya dengan membuat pegangan dan pembungkus keris maupun pemaja yang umumnya berbahan kayu berora. Jenis kayu yang seratnya berwarna hitam ini sulit diperoleh karena populasinya kian terbatas dan dianggap memiliki ”kekuatan” sehingga diburu banyak orang sebagai ”senjata”.

Sumber : Kompas, Selasa, 8 November 2005
Read Full 0 comments

Lukas Barayap, Pawang Ikan Penjaga Laut Manokwari

Lukas Barayap, Pawang Ikan Penjaga Laut Manokwari
Oleh : Subhan SD

Ketika para pengebom ikan beraksi, Lukas Barayap, warga Kampung Bakaro, Manokwari Timur, justru memanggili ikan-ikan itu untuk diberi makan. Itulah bentuk perlawanannya menghadapi kekerasan dan kerakusan para pengebom ikan.

Dia punya keahlian unik. Hanya dengan meniupkan peluit, Lukas mampu memanggil ikan-ikan dari laut lepas di Samudra Pasifik itu. Bertahun-tahun, dia menjaga ikan-ikan di Teluk Bakaro.

Awalnya Lukas Awiman Barayap benar-benar gelisah melihat para pengebom ikan beraksi di depan matanya. Hatinya tersayat melihat ikan-ikan mati mengambang di laut. Terumbu karang juga hancur. Ekosistem laut rusak. Pengebom mengeruk isi laut tanpa bisa dicegah. Itu artinya masa depan anak-anak kampung itu hilang karena sumber alam dirusak.

Suasananya seperti perang, setiap hari terdengar ledakan bom ikan, kata Lukas mengenang peristiwa di tahun 1990-an itu. Yang lebih menyakitkan hatinya, para pengebom ikan itu hanya mengambil ikan-ikan besar, sedangkan ribuan ikan kecil ditinggalkan mengambang begitu saja di laut.

Teluk Bakaro memang lokasi primadona para pengebom ikan yang datang dari Kota Manokwari atau kawasan lain. Perairan itu dikenal kaya akan ikan, semisal cakalang, tenggiri, tuna, kakap, kue, hiu, marlin, lumba-lumba, juga penyu.

Menghadapi langsung para pengebom ikan itu boleh jadi bukan pilihan yang tepat bagi Lukas. Dia tak ingin menjadi pahlawan kesiangan apalagi tumbal. Saya berpikir bagaimana mencegah mereka, setidaknya bisa membatasi gerak mereka, katanya.

Lukas pun memilih cara-cara antikekerasan. Satu per satu, didatanginya para pengebom ikan itu. Walaupun tidak gampang, dia mencoba memberi pengertian. Dalam waktu bersamaan, bersama masyarakat, dia juga memberi laporan ke aparat. Saya sampai membawa bukti ikan-ikan mati. Tetapi, ketika ditanya pelakunya, kami juga tak kenal, jadi sulit, katanya.

Minta petunjuk

Dia terus memutar otak. Sampai suatu waktu saya duduk di karang, berdoa kepada Tuhan agar diberikan petunjuk. Tiba-tiba saya merasa ada bisikan roh. Kepala saya terasa membesar, pikiran saya terbuka. Suara itu membisiki agar saya memberi makan ikan-ikan itu dengan rayap, kenang Lukas mengenai peristiwa suatu siang pada 16 Desember 1995.

Maka, tatkala pengebom ikan beraksi, Lukas justru memberi makan ikan-ikan dengan telaten. Dengan beberapa gumpal rayap yang diambil di dekat pohon kelapa, dia memanggili ikan-ikan. Bukan perkara mudah memanggil ikan-ikan yang hidup di laut lepas itu. Mulanya dia mengetuk-ngetukkan besi ke batu sebagai tanda. Tetapi, sejak tahun 1999, dia menggunakan peluit seperti di arena sepak bola.

Dalam hitungan menit, setelah peluit ditiup, ikan-ikan itu berdatangan ke tepi pantai seperti anak-anak yang dikumpulkan di lapangan. Melewati celah-celah karang, ikan-ikan itu berdatangan dari arah laut lepas. Ada ikan baronang, belanak, kakap, kue, dan masih banyak jenis lainnya. Bila ikan-ikan sudah banyak, barulah Lukas memberi makan. Selain rayap, ikan-ikan itu juga makan nasi, pisang, singkong rebus, keladi rebus. Ikan-ikan tidak mau yang mentah kecuali ampas kelapa kata Lukas yang dalam sehari memberi makan dua kali.

Dalam beberapa hal, terlihat Lukas memang sebuah pribadi yang sangat menaruh perhatian kepada kesejahteraan lingkungan. Dialah yang memperkenalkan tanaman cokelat dan kopi di Bakaro dengan kebun seluas 0,5 hektar. Setelah bertahun-tahun mengolah tanah bersama istrinya yang asal Biak, Martha Ap (41), kini dia mempunyai kebun seluas dua hektar.

Memberi makan ikan berarti menjaga agar ikan-ikan lestari. Kalau menggunakan bom, berarti menghancurkan masa depan anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita nanti mengenal jenis ikan lewat gambar-gambar saja, kata Lukas, yang berasal dari suku Mandoba, Kabupaten Digul, ayah dua anak bernama Maria (20) dan Musa (5).

Upayanya yang konsisten menjaga ekosistem laut itu akhirnya menggerakkan masyarakat setempat untuk ikut menjaga bersama-sama. Begitu juga aparat keamanan yang telah memberikan perhatian pada kawasan itu. Kalau ada pengebom ikan, Lukas dan warga beramai-ramai melaporkan kepada aparat keamanan.

Usaha itu pun membuahkan hasil. Antara tahun 1995-1999, aksi pengebom ikan mulai berkurang. Sejak tahun 2000, nyaris tidak ada. Sekarang sudah tak ada lagi pengebom ikan. Kalau mereka lihat saya atau orang kampung, mereka tidak berani lagi, kata Lukas yang telah mewariskan keahliannya kepada anak sulungnya.

Kini keahlian Lukas bahkan menjadi atraksi wisata. Setiap pejabat yang datang dari Jakarta selalu diajak untuk menyaksikan aksi Lukas memanggil dan memberi makan ikan-ikan dari laut lepas itu.

Sumber : Kompas, Jumat, 2 Desember 2005
Read Full 0 comments

Lukas Podolski : Podolski, Penghibur Pencinta Tim Jerman

Jun 16, 2009
Podolski, Penghibur Pencinta Tim Jerman
Oleh : Buyung Wijaya Kusuma

Impian tim sepak bola Jerman untuk menjuarai ajang Piala Dunia 2006 telah dihancurkan oleh tim Italia dalam pertandingan semifinal dramatik. Namun, pencinta tim Jerman masih bisa terhibur setelah Lukas Podolski meraih predikat prestisius, yakni penghargaan sebagai Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2006.

Pemain kelahiran Gliwice, Polandia, 4 Juni 1985, itu terpilih oleh 14 anggota Kelompok Studi Teknis FIFA (TSG) setelah menilai gaya, karisma, fair play, semangat, dan kemampuan teknisnya. Dia berhasil mengalahkan 40 pemain muda yang berasal dari 32 negara.

Namun, pemain yang bermain pada Bayern Muenchen ini tetap rendah hati, seperti gayanya di lapangan hijau yang mengundang simpati penonton. Dalam wawancara eksklusif dengan fifaworldcup.com mengenai arti penghargaan tersebut, lelaki yang memiliki panggilan Prinz Poldi ini mengaku kemenangan itu tak lepas dari kerja timnya.

"Memenangkan penghargaan dalam turnamen yang paling akbar di dunia sungguh luar biasa bagi saya. Saya berterima kasih kepada semua orang yang memilih saya dan seluruh anggota tim karena penghargaan ini juga untuk mereka," ujar Podolski.

Dalam wawancara tersebut, Podolski menegaskan bahwa yang diinginkan tim Jerman adalah meraih gelar juara Piala Dunia 2006, tetapi gagal akibat kekalahan dari Italia. Namun, dia berharap seniornya, Miroslav Klose, juga bisa mencetak beberapa gol pada pertandingan terakhir melawan Portugal sehingga bisa memenangkan sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak.

Sebenarnya Podolski tidak hanya menghibur publik Jerman, tetapi seluruh pencinta sepak bola dunia yang kecewa karena minimnya gol yang tercipta dan banyaknya aksi diving (pura-pura terganjal) yang dilakukan oleh para pemain bintang. Kecemerlangan karier bola Podolski memberikan hiburan tersendiri dan meningkatkan pamor piala dunia yang merosot dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya.

Tiga tahun yang lalu, Podolski masih bermain di tim junior FC Koeln. Kemudian nasib baik membawanya ke tingkat profesional di negaranya pada klub FC Koeln dan FC Bayern Muenchen dengan mencetak total 46 gol dalam 81 pertandingan. Ia kemudian mulai bermain untuk Jerman pada Piala Eropa 2004 dan menjadi pemain termuda. Selain itu, ia juga ikut Piala Konfederasi 2005 dengan mencetak tiga gol.

Kemampuannya terus diasah sehingga mampu tampil gemilang di Piala Dunia 2006. Meskipun pertama kali tampil di ajang Piala Dunia, dirinya sudah bisa mencetak tiga gol dan merupakan prestasi yang riil bagi seorang pemain sepak bola dunia.

Sementara di dalam negeri, Podolski mencatat prestasi tersendiri karena dalam usia 18 tahun berhasil mencetak sepuluh gol ke gawang lawan dalam 19 pertandingan. Prestasi itu membawa namanya tercatat sebagai pemain berusia 18 yang yang paling cemerlang di Jerman selama 43 tahun terakhir.

Tiga tahun lalu, Podolski hanyalah seorang striker di tim usia-19 tahun Jerman yang masih mencari jalan agar dapat diperhitungkan untuk masuk ke level senior dalam skuad Jerman. Sekarang, pemain yang disebut oleh Pelatih Huub Stevens sebagai Johan Cruyff, Ryan Giggs, atau Wayne Rooney "muda" tersebut memiliki karier sepak bola yang melesat cepat di tim Jerman. Konon, kegemilangan itu belum pernah ada yang menandingi di negaranya.

Pahlawan Jerman

Orang pasti tidak lupa ketika Podolski menjadi pahlawan tim Jerman saat menggilas Swedia 2-0 di babak 16 besar Piala Dunia 2006 di Muenchen. Striker muda Podolski menjadi berita utama media massa ketika mencetak dua gol dalam 12 menit pertama, yakni pada menit keempat dan ke-12.

Pelatih tim Jerman Juergen Klinsmann berjingkrak kegirangan pada menit keempat ketika Lukas Podolski menggetarkan gawang Swedia yang dijaga oleh Andreas Isaksson pada waktu itu. Gol yang diciptakan Podolski tidak hanya cepat, tetapi juga menawan.

Podolski waktu itu memang menjadi bintang dan telah menambah koleksi tiga gol pada Piala Dunia 2006, setelah sebelumnya mencetak satu gol pada menit ke-57 ketika berhadapan dengan tim Ekuador. Meskipun dia tak berharap melampaui Klose untuk mendapatkan sepatu emas, tetapi publik menganggap sah-sah saja kalau Podolski berharap pada penghargaan itu.

Sekalipun baru bertanding enam kali di ajang Piala Dunia, tetapi pemain yang akrab dipanggil Poldi ini sudah menjadi incaran klub bola yang punya nama besar. Klub papan atas Spanyol, Real Madrid, sempat disebut-sebut berminat membeli pemain yang sudah mencetak 15 gol internasional saat membela tim Jerman sebanyak 31 kali.

Konon, nilai transfer Podolski waktu itu mencapai 15 juta euro dan dia akan mendapatkan satu juta euro jika transfer terlaksana. Namun, Podolski masih harus bersabar kalau memang tidak ada transfer karena kontraknya baru akan berakhir pada Juni 2007.

Podolski memang tidak berminat untuk keluar dari Jerman. Meskipun tawaran berkarier di luar Jerman cukup menggiurkan, pemain muda yang memiliki prestasi internasional fantastis dalam usia 21 tahun ini masih ingin memuaskan publik sepak bola Jerman.

Podolski yang menguasai bahasa Jerman, Inggris, dan Polandia memang cukup banyak dipuja di luar Jerman. Salah satunya yang memuji dirinya adalah Pelatih Argentina Jose Pekerman. Menurut Pekerman, penampilan striker muda tim nasional Jerman ini merupakan striker masa depan Jerman.

Ajang Piala Dunia memang sudah berakhir, tetapi perjalanan Podolski masih panjang untuk membuktikan dirinya sebagai pemain muda yang terbaik.

Sumber : Kompas, Senin, 10 Juli 2006
Read Full 0 comments

La Iku, Jaga Minyak Kayu Putih

La Iku, Jaga Minyak Kayu Putih
Oleh : M Zaid Wahyudi

Bagi La Iku (56), kemurnian dan kualitas minyak kayu putih Pulau Buru harus dijaga. Terlebih lagi citra minyak kayu putih yang anjlok akibat beredarnya minyak oplosan, serta kondisi petani dan perajin yang terjerat tengkulak.

Demi kualitas, La Iku rela membatasi penjualan minyak kayu putih produksinya. Ia hanya menjual minyak kayu putih di tempat penyulingannya di Dusun Pilar, Desa Namlea, Pulau Buru, Maluku.

Minyak kayu putih produksinya tidak akan ditemukan di toko-toko maupun di hotel yang ada di Namlea atau Ambon. Produksi yang berlabel "Berkah Buru" itu diklaim sebagai satu-satunya produksi di Pulau Buru yang telah mendapat sertifikasi uji mutu dari Balai Riset dan Standardisasi Industri Departemen Perindustrian di Ambon.

Dari hasil uji tersebut, minyak kayu putih produksi La Iku memiliki berat jenis sebesar 0,93. Angka tersebut sesuai dengan standar mutu nasional untuk minyak kayu putih yang mencapai 0,90-0,93. Sedangkan kadar cineol-nya mencapai angka 64 persen, jauh di atas standar mutu utama minyak kayu putih yang minimal sebesar 55 persen.

Keaslian minyak kayu putih La Iku sudah cukup dikenal di Pulau Buru. Informasi mengenai produknya menyebar dari mulut ke mulut. Terlebih lagi, sebagai perajin binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Buru yang dinilai berhasil, minyak kayu putih La Iku sering direkomendasikan sebagai oleh-oleh bagi pejabat maupun tamu yang berkunjung ke Pulau Buru.

Untuk memberikan tanda keaslian dan kemurnian minyak kayu putih buatannya, La Iku berinisiatif memberikan label khusus berupa kulit pohon kayu putih sebagai kertas label yang dipasang pada botol dan tutup. Sedangkan sebagai pegangan digunakan tali dari daun lontar. "Saya berkeinginan untuk mematenkan kemasan agar tidak ditiru orang lain," kata La Iku.

Perajin baru

La Iku sebenarnya merupakan perajin baru dalam usaha penyulingan minyak kayu putih. Usaha tersebut baru ditekuninya pada akhir tahun 2000. Motif awalnya pun didasari atas sulitnya mencari pekerjaan yang memberikan keuntungan memadai saat itu.

Akibat konflik sosial di Ambon tahun 1999, usaha bengkel milik La Iku pun turut hancur. Pria kelahiran Ambon, 12 Maret 1950 dan berdarah Buton tersebut memilih mengungsi bersama keluarganya ke Pulau Buru, yang saat itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Maluku Tengah.

Di situlah ia melihat adanya hamparan pohon kayu putih di pesisir utara Pulau Buru. Ini menggoda hatinya. Ternyata potensi yang sangat besar tersebut belum tergarap secara maksimal. Meskipun sudah banyak minyak kayu putih yang dijual di pasaran, tetapi konsumen selalu kebingungan untuk mencari minyak kayu putih yang asli.

Dengan tekad kuat untuk terus menghidupi anak dan istri, La Iku menyewa beberapa ratus hektar kebun kayu putih di Namlea. Untuk menambah bahan baku, daun kayu putih lainnya pun dibeli dari petani pemetik atau yang di Pulau Buru disebut pengurut daun kayu putih. Dengan satu ketel penyulingan, produksi minyak kayu putih pun dimulai.

Pengetahuan tentang penyulingan minyak kayu putih diperolehnya dari belajar secara mandiri. Alumnus sekolah teknologi menengah jurusan mesin tersebut tidak malu bertanya kepada para perajin minyak kayu putih yang sudah lebih dahulu menekuni usaha tersebut maupun dari penyuluh industri kecil dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Buru.

Pada masa awal usahanya, La Iku mampu mempekerjakan sekitar 50 karyawan dan menghasilkan sekitar 200 kilogram minyak kayu putih setiap bulannya. Dalam waktu 24 jam, ketel penyulingan miliknya mampu menyuling sebanyak empat kali yang menghasilkan 7-12 botol minyak kayu putih berukuran 620 mililiter, tergantung dari jumlah bahan baku yang tersedia. "Saya tidak pernah mimpi untuk menjadi perajin minyak kayu putih. Yang penting punya kemauan dan tekad," tutur La Iku.

Akan tetapi, produksi minyak kayu putih La Iku mulai menurun. Pasalnya, banyak kebun kayu putih di Namlea yang beralih fungsi menjadi gedung pemerintahan dan permukiman warga seiring pengembangan Namlea sebagai ibu kota Kabupaten Buru. Kini, sebulan rata- rata ia mampu memproduksi 150 kilogram minyak kayu putih.

Lepas dari tengkulak

La Iku bermimpi suatu saat nanti ada industri minyak kayu putih yang mau berinvestasi di Pulau Buru. Saat ini sebenarnya telah ada calon investor dari Jepang yang mau menanamkan modalnya untuk pengembangan usaha minyak kayu putih. Namun, karena sulitnya transportasi menuju Pulau Buru yang membuat pantauan usaha sulit dilakukan menyebabkan pembangunan industri itu tertunda.

Dalam waktu dekat ini La Iku berharap dapat menembus pasar industri minyak kayu putih di Pulau Jawa yang telah dikuasai para pedagang besar.

Menembus pasar industri minyak kayu putih merupakan upaya La Iku untuk membebaskan rekan-rekan perajin dan petani kayu putih yang rata-rata terjerat oleh para tengkulak yang menerapkan sistem ijon. Bukan saja untuk modal usaha, petani dan perajin pun terjerat utang untuk keperluan rumah tangga. Utang yang menumpuk membuat ketergantungan kepada tengkulak sulit dilepaskan.

Oleh Karena itu, jika berhasil menembus pasar minyak kayu putih yang telah dikuasai pedagang besar dan tengkulak, La Iku yakin kesejahteraan petani dan perajin minyak kayu putih dapat lebih terangkat. "Dari awal saya tidak mau menjual minyak kayu putih produksi saya kepada pedagang dan pengumpul karena percuma saja. Selain harganya rendah, keaslian minyak juga diragukan," ungkap La Iku.

Walaupun demikian, tekad keras dan keberhasilan usaha La Iku tak selamanya bebas dari rintangan. Pembakaran lahan kebun kayu putih yang selalu terjadi setiap musim kemarau turut meresahkannya dan para petani lainnya. Pembakaran tersebut biasanya sengaja dilakukan untuk mengurangi tingkat persaingan usaha. Namun, La Iku tetap yakin, suatu saat nanti minyak kayu putih produksi para petani dan perajin di Pulau Buru mampu menembus pasar industri.

Sumber : Kompas, Kamis, 3 Agustus 2006
Read Full 0 comments

Legimin, Tester Teh dari Dempo

Jun 15, 2009
Legimin, Tester Teh dari Dempo
Oleh : Agus Mulyadi dan Ilham Khoiri

"Kata orang, saya awet muda. Itu mungkin karena saya setiap hari minum teh," ucap Legimin.

Seduhan air teh yang diminum laki-laki berusia 52 tahun itu memang bukan sembarangan. Sebagai seorang tester alias penguji rasa teh produksi pabrik pengolahan teh PT Perkebunan Nusantara (PN) VII Gunung Dempo, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, hampir setiap hari dia meminum air teh.

"Tapi, saya juga memang suka sekali minum teh, baik di kantor maupun di rumah," tambah Legimin.

"Pak Legimin memang terlihat lebih muda daripada usia sebenarnya. Orang yang baru ketemu dengan dia pasti menduga usianya masih 40-an tahun," kata Pratiknyo, Wakil Manajer Perkebunan Teh Gunung Dempo, yang pabriknya di kaki Gunung Dempo (3.195 meter di atas permukaan laut), sekitar 310 kilometer arah barat Kota Palembang, Sumsel.

Legimin pun menyatakan keyakinannya bahwa teh (Camelia sinensis) jika diminum secara rutin selain menyegarkan badan juga membuat awet muda peminumnya. Teh yang ditemukan sebagai bahan campuran minuman di daratan China, ribuan tahun sebelum Masehi, dinikmati bukan hanya karena kenikmatannya melainkan khasiatnya pula.

"Teh yang dihasilkan harus benar-benar tidak mengandung benda lain, misalnya rumput. Jika ada rumput tercampur di daun teh, misalnya, saya bisa merasakannya. Demikian pula jika pengeringan daun kurang pas, rasanya akan lain," ungkap laki-laki kelahiran Kelurahan Gunung Dempo tersebut.

Jika ditemukan unsur lain di dalam sampel daun teh yang dicoba Legimin, harus dilakukan pengolahan ulang.

Dari pencicipan yang dilakukan, Legimin pun dapat menggolongkan teh dalam rasa berbeda-beda tergantung kualitasnya. Ada lima jenis rasa sesuai dengan kualitas masing-masing yang dihasilkan pabrik teh Gunung Dempo, mulai kualitas terendah hingga paling bagus.

Pencicipan yang dilakukan Legimin dilakukan dalam satu rangkaian proses, mulai dari mengambil sampel daun teh yang telah diolah, memisahkan teh sesuai dengan kualitasnya secara kasat mata, hingga mencicipi air seduhan teh dari lima cangkir gelas berbeda.

Pada hari Minggu (20/8/2006) lalu, misalnya, sebanyak lima kali laki-laki tamatan SMP itu mencicipi air seduhan teh dari lima cangkir berbeda. Cangkir pertama hingga kelima berisi teh berbeda kualitas dari yang terendah hingga terbagus.

Legimin tidak meminum semua teh di masing-masing cangkir. Dia hanya menyendok air teh, mencicipinya, lalu membuang dengan cara menyemburkan air teh yang telah dicicipinya di dalam mulut ke tempat khusus di ruangan pengujian.

Cara menyemburkan air teh yang telah dicicipi terlihat khas. Legimin seperti menyemburkan air berwarna coklat, namun semuanya terarah ke dalam area khusus sehingga seolah mengumpul. Tidak ada cipratan air ke lantai atau ke barang-barang lain di ruang itu.

Pengujian rasa oleh Legimin dengan cara merasakannya menggunakan indera pengecap rasa, lidah, adalah puncak dari pengujian rasa teh Gunung Dempo sebelum proses pengolahan secara massal dilanjutkan. Legimin pun lalu mencatat semua proses uji coba di buku yang telah disediakan.

"Mungkin karena sudah sejak umur belasan (tahun) saya akrab dengan daun teh, lidah pun mampu merasakan mana teh murni dan mana teh yang telah bercampur unsur lain," ujar suami Karinem (46) tersebut.

Ketajaman lidah itulah penentu nasib 30 ton daun teh muda basah per hari yang dipetik, lalu diolah menjadi produk jadi teh hitam kering di PT PN VII Gunung Dempo. Berkat lidah Legimin pula, 90 persen produksi PT PN VII Gunung Dempo diekspor.

Berhenti sekolah

Sejak usia 18 tahun, Legimin memang telah bekerja di pabrik teh tua milik PT PN VII di kaki Gunung Dempo tersebut. Legimin bahkan lahir di rumah orangtuanya, pekerja perkebunan teh di selatan Kota Pagar Alam itu. Di sekeliling rumah pekerja tentu saja hamparan perkebunan teh.

Keahlian mencicipi rasa teh dimulai Legimin saat mulai bekerja di pabrik pengolahan teh Gunung Dempo pada tahun 1973.

"Saat itu saya sudah tamat SMP. Ayah saya, Deran (almarhum), yang bekerja di perkebunan teh ini kebetulan pensiun. Lalu, saya memutuskan bekerja saja karena masih ada enam adik yang harus ditanggung hidupnya," tutur Legimin, mengenang langkah yang diambilnya 33 tahun lalu.

Ayah dua anak, Kelpin Ardian (26) dan Karel Oktavansa (25), itu pertama kali bekerja di bagian fermentasi. Selama tujuh tahun dia bekerja di bagian itu, sebelum dipindahkan ke bagian pengeringan hingga tahun 1989.

Ketika di bagian pengeringan itulah Legimin sering ikut-ikutan mencoba mencicipi teh. Tester teh di pabrik Gunung Dempo waktu itu, Kardiman, membimbingnya. Ketika Kardiman pensiun, Legimin yang dinyatakan lolos tes, hingga akhirnya mengikuti pelatihan di Pusat Pengujian Mutu Barang di Jakarta, menjadi penggantinya.

Seperti pendahulunya, saat ini pun tengah disiapkan pengganti sebagai penguji rasa teh di PT PN Gunung Dempo.

"Umur 55 tahun nanti saya pensiun. Perkebunan dan pabrik Gunung Dempo tentu harus terus berjalan, sehingga harus ada pengganti yang menguji mutu teh yang diproduksi di sini," ujar Legimin.

Legimin pun kembali mengingatkan khasiat teh yang membuat peminumnya memperoleh kesegaran tubuh. "Minum teh membuat orang jarang sakit, sekaligus menghambat penuaan," ujarnya.

Sumber : Kompas, Kamis, 31 Agustus 2006
Read Full 0 comments

Lewis Hamilton : Darah Baru Bernama Hamilton

Jun 6, 2009
Darah Baru Bernama Hamilton
Oleh : A Tomy Trinugroho

Isu rasial merupakan isu usang. Rasanya hanya tinggal segelintir manusia di muka bumi yang masih berpandangan warna kulit dan etnis menentukan tingkat prestasi seseorang.

Bagi mereka yang masih berpandangan sempit tentang etnis dan warna kulit, palung laut terdalam tampaknya menjadi tempat yang cocok karena dunia tak lagi memberi tempat untuk isu-isu purba semacam itu.

Namun, kemunculan Lewis Hamilton sebagai pembalap berkulit hitam pertama yang menggeluti ajang Formula Satu tetap saja memberi kejutan. Pemuda Inggris berusia 22 tahun itu dilihat sebagai pendobrak.

Di tengah ajang F1 yang nyaris didominasi sepenuhnya oleh pembalap kulit putih, Hamilton dinilai dapat menjadi model panutan. Ia memberi contoh nyata bahwa pemuda kulit hitam juga bisa menjadi pembalap F1.

Pada 1986, ada pembalap kulit hitam yang juga menjajal mobil F1. Namanya William "Willi" Theodore Ribs. Namun, pembalap Amerika Serikat itu hanya sebatas menjadi pembalap tes, bukan pembalap yang turun di lomba. Willi saat itu bergabung dengan tim Brabham.

Hamilton yang melakukan debutnya bersama tim McLaren-Mercedes disamakan dengan Tiger Woods, pegolf nonkulit putih. Namun, tentu saja, keduanya tetap memiliki perbedaan mendasar. Woods telah bergelimang sukses luar biasa, sedangkan Hamilton masih harus membuktikan dirinya memang pantas disejajarkan dengan Woods.

Hamilton kerap ditanyai seputar posisinya sebagai pembalap F1 berkulit hitam pertama. Kalau mau jujur, ia tentunya sangat lelah menghadapi pertanyaan semacam itu. Namun, Hamilton tetap mau menjawabnya dengan sopan.

"Semoga keikutsertaan saya di ajang F1 mendorong kelompok-kelompok etnis tertentu terlibat dalam olahraga ini. F1 adalah milik semua orang," ungkap Hamilton dalam wawancara dengan BBC.

Sekalipun terkesan jujur, jawaban itu merupakan hasil kesempurnaan kerja public relations atau humas. Pembalap F1 umumnya sadar harus selalu memberi jawaban positif, antara lain tak boleh membandingkan satu tim dengan tim lain dan satu pembalap dengan pembalap yang lain, serta tak boleh menjelek-jelekkan pihak lain. Mereka mendapat pengarahan tersendiri untuk berurusan dengan media.

Berawal dari gokar

Dilahirkan di Hertfordshire, Inggris, tahun 1985, Hamilton adalah orang kulit hitam dengan garis keturunan berasal dari Grenada di Laut Karibia. Kakeknya tiba di London, Inggris, pada dekade 1950-an. Ayah Hamilton, Anthony, adalah mantan pekerja rel kereta api.

Saat berusia delapan tahun, Hamilton mulai mencicipi gokar dan dengan segera ia mulai menuai kemenangan dan gelar juara. Sekitar tahun 1995 di London, Hamilton yang baru 10 tahun bertemu dengan bos tim McLaren, Ron Dennis, di sebuah acara penganugerahan penghargaan.

"Waktu bertemu pertama dengan Lewis, dia meminta tanda tangan saya," kenang Dennis pada suatu hari di bulan November 2006.

"Tidak seperti kebanyakan orang, ia memandang saya lekat-lekat dan memberi tahu saya apa yang akan dilakukannya terhadap hidupnya. Tanpa sedetik pun melepas tatapan mata, ia bilang akan mewujudkan kariernya. Saya betul-betul terkesan," tutur Dennis. Dalam pertemuan itu, Hamilton mengutarakan keinginannya untuk bergabung dengan McLaren pada suatu hari nanti.

Dalam waktu yang tak lama, yakni tahun 1998, Dennis merekrut Hamilton dalam Program Pengembangan McLaren. Hamilton pun seperti tak tertahankan lagi. Ia tak henti-hentinya membuat orang terkesan.

Tahun 2001, ia memulai karier di ajang balap mobil formula dengan mengikuti British Formula Renault Winter Series. Dua tahun kemudian, ia telah menjadi juara Formula Renault Inggris dan menjadi juara Formula 3 Euroseries tahun 2005. Pada 2006, Hamilton menjajal GP2. Ia langsung menjadi juara di musim perdananya itu.

Kejuaraan GP2 yang berbasis di Eropa adalah pengganti Formula 3000, sebuah kejuaraan yang dianggap berada setingkat di bawah F1. Kejuaraan ini juga dianggap sebagai pemasok pembalap F1. GP2 mulai diadakan pada 2005. Juara musim pertama GP2 adalah Nico Rosberg, yang sekarang membela tim F1 Williams, sedangkan Heikki Kovalainen (Renault) berada urutan kedua klasemen akhir GP2 musim 2005.

Dennis menyebut Hamilton sebagai contoh murid teladan. "Rasa percaya diri kerap berpasangan dengan sikap sombong, tetapi tak secuil pun ada sikap sombong dalam diri Lewis. Ia banyak mendengarkan orang lain, sesuatu yang sering tidak dilakukan oleh orang-orang muda," paparnya.

Sikap rendah hati, kerja keras, dan selalu mau belajar tampaknya memang merupakan bagian integral dari diri Hamilton. Ia berulang kali mengakui masih perlu belajar banyak dari juara dunia Fernando Alonso yang tak lain rekan satu timnya.

Hamilton juga bekerja keras untuk menyiapkan musim perdananya di kancah F1. Sejak diumumkan sebagai pembalap McLaren pada November 2006, Hamilton setiap hari mengunjungi markas tim McLaren di Woking, Inggris. Ia berdiskusi dengan para insinyur tim McLaren seputar mobil F1 dan jalannya balapan. Dunia F1 yang begitu rumit disadarinya menuntut banyak adaptasi.

Pada balapan perdananya di ajang F1 di Australia, akhir pekan lalu, Hamilton tampil cemerlang. Ia menyalip Alonso dan berada di depan pembalap Spanyol itu selama 42 lap dari 58 lap lomba. Di akhir balapan, Hamilton menempati posisi ketiga, Alonso kedua, dan urutan pertama dihuni Kimi Raikkonen dari Ferrari.

Hasil podium di Australia menjadikan Hamilton sebagai pendatang baru dengan penampilan terbaik sejak Jacques Villeneuve melakukan hal serupa pada 1996. Hamilton juga menjadi pendatang baru Inggris dengan penampilan terbaik sejak Mike Parkes finis kedua bersama Ferrari pada 1966.

Hamilton sungguh sangat menjual bagi F1. Ia enak dilihat, sopan, pintar, berprestasi, dan berpotensi besar menjadi juara dunia F1. Lalu, ia juga berkulit hitam sehingga diharapkan kehadirannya akan kian memperluas cakupan pasar olahraga balap mobil termahal sejagat itu.

Lajang yang dilaporkan oleh media Inggris tengah menjalin hubungan dengan Jodia Ma ini tak ubahnya darah baru nan segar bagi F1 yang hadir sejak tahun 1950 dan juga pemberi semangat baru bagi publik Inggris yang mulai kehilangan pahlawan di kancah F1.

Sumber : Kompas, Rabu, 21 Maret 2007
Read Full 0 comments

Lidya Kusuma Hendra : Lidya, Melukis "Indonesia" pada Keramik

Jun 4, 2009
Lidya, Melukis "Indonesia" pada Keramik
Oleh : Stefanus Osa

Tak akan habis bicara tentang goresan keindahan di atas keramik dengan Lidya. Jejak-jejak petualangan ketika bertandang ke Papua digoreskannya pula di keramik.

Perempuan berperawakan kecil, Lidya Kusuma Hendra (48), memandang ikon budaya Indonesia sangat menarik. Dari gerobak tukang sate, becak, pramusaji restoran padang, motif kain tradisional, hingga rumah tradisional khas Indonesia bisa dilukis pada keramik.

Sayang bila kekayaan budaya masyarakat yang primitif, tradisional, hingga berkembang modern itu diabaikan. Padahal, di pasaran global nilai jualnya tinggi.

Jiwa seni dan berpetualang membentuk Lidya, Direktur PT Hutomo Putra Mandiri, cinta pada alam. Dia menggambarkan, pencinta burung acapkali menginginkan burung yang seharusnya terbang bebas itu justru dipelihara dalam sangkar. Bagi seorang fotografer, keindahan burung bisa diabadikan lewat kamera. Untuk Lidya, keindahan burung itu dilukiskan pada keramik. Karyanya bisa berbentuk guratan menonjol atau embos, flat, dan tiga dimensi.

Ia terpesona pada kekhasan daerah Papua. Maka, sejumlah karyanya pun diperkaya ikon-ikon Papua. Katanya, daerah itu menyingkapkan kekhasan primitif yang eksotis.

"Ikon budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke sangat kaya dan disenangi orang asing. Ciri khas Indonesia sebenarnya dihargai dunia internasional, mengapa kita sendiri justru menyukai desain asing?" katanya.

Dia mencontohkan, desain ikan purba Coelacanth rencananya menjadi maskot World Ocean Conference 2010 di Manado, Sulawesi Utara. Ada lagi desain tarsius atau kera terkecil di dunia. Penciptaan karakter hewan itu tak sembarangan. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, ini menggalinya berdasarkan penelitian tim ahli Provinsi Minahasa.

Dari sisi produksi, karya Lidya tak sekadar produk massal. Mulai penggarapan gambar, pekerjaan seni, teknik pengukiran prototipe, cetakan, hingga sentuhan penyelesaian akhir dikerjakan tangan-tangan terampil. "Sekitar 90 persen pengerjaan hasil kerajinan tangan. Hanya 10 persen yang diproses dengan sistem pencetakan dan pembakaran. Ciri khasnya full color dan bright color," katanya.

Maka, banjir pesanan pun berlimpah dari sejumlah perusahaan di Indonesia, mulai dari perusahaan rokok, susu, hingga pusat perbelanjaan modern. Produknya tak hanya menjadi bingkisan, tetapi juga layak jual.

Ramah lingkungan

Dia juga gencar melayani pasar ekspor. Pabriknya di kawasan Industri Palm Manis, Tangerang, sedang memproduksi aneka pesanan tea set untuk diekspor ke Belanda, Perancis, dan Amerika Serikat (AS). Ada juga hiasan interior untuk diekspor ke Jepang dan boneka keramik ke Inggris.

Pasar Eropa dan AS tertarik karena produknya selalu menggunakan bahan baku ramah lingkungan. Bahkan, Lidya mencantumkan label save for food, artinya keramik itu bisa digunakan untuk peralatan makan rumah tangga. Dia juga mencantumkan label "kejujuran", Made in Indonesia.

Tahun 1980-an Lidya memulai kerajinan patung gips di Surabaya. Oleh karena ingin mendekati pasar di Jakarta, pada 1991 Lidya memindahkan kegiatan produksi bermerek Xeramix itu ke Tangerang.

"Produksi ini menggabungkan alam, teknik, dan seni. Ini bisnis kepercayaan yang hak ciptanya tetap dipertahankan sehingga desain bisa datang dari pelukis seperti Bimo Chondro dan desainer fashion Sebastian Gunawan," tutur Lidya.

Tahun 2000, usaha Lidya bersama dua mitranya nyaris bubar. Kedua mitranya mengembangkan bidang lain dan Lidya harus berjuang sendiri.

Dari 500-an tenaga kerja, kini tinggal 53 orang tenaga terampil. Dampak global ekonomi yang berbuntut pada anjloknya daya beli di pasar global pun dirasakannya. Bersama beberapa karyawan setia, Lidya sempat membuka usaha warung makan Dumpit di Pinangsia, Jakarta Barat.

Dia pun jatuh sakit selama delapan bulan. Kata Lidya, keajaiban yang menyembuhkannya. Ia bisa kembali memimpin perusahaan dan mengembangkan produksi sampai tiga juta buah per tahun.

"Saat terpuruk, pelanggan saya dari Belanda selama 12 tahun tiba-tiba memesan kembali perangkat makan dengan kekhasan ikan warna biru. Alhasil, warung makan Dumpit di Pinangsia tutup karena tak tertangani lagi," ceritanya.

Seni melukis

Dari keahliannya itu, Lidya berkeinginan menggairahkan karya seni Indonesia melalui seni lukis keramik. Oleh karena itu, hampir 8.000 anak putus sekolah dididik di pabriknya. Kini, semua tenaga terampil hasil didikan itu tersebar pada sejumah pabrik keramik. Bahkan, beberapa tahun belakangan, sejumlah perguruan tinggi menempatkan para mahasiswa untuk magang di pabriknya.

"Saya terobsesi membangun lembaga pendidikan keterampilan. Harapan saya sederhana, bagaimana membuat anak-anak senang dengan keramik khas Indonesia," ucapnya.

Baginya, melukis keramik adalah pekerjaan yang menyenangkan. "Ilmu itu hidup kalau pekerjaan dilakukan atas dasar kesenangan," kata Lidya yang suka melukis dan merangkai bunga.

Semakin banyaknya orang yang tertarik berusaha di bidang keramik tak membuat dia merasa persaingan akan semakin ketat. Dia ingin agar kebiasaan pada sebagian pabrik keramik yang mengandalkan pengalaman dan "miskin" pengetahuan bisa berubah. "Hal itu malah membuat keberhasilan rendah dan lebih banyak gagalnya," ucapnya.

Sayangnya, belakangan ini Lidya mengaku sangat prihatin pada nasib perkembangan usaha keramik. Pasalnya, pasokan volume dan tekanan gas dari PT Perusahaan Gas Negara yang menjadi komponen penting dalam proses pembuatan keramik tidak bisa diperolehnya secara kontinu.

Sumber : Kompas, Senin, 4 Juni 2007
Read Full 1 comments

La Ode Sirad, Pelestari Bahasa Daerah Muna

Jun 3, 2009
La Ode Sirad, Pelestari Bahasa Daerah Muna
Oleh : Yamin Indas

Tidak banyak orang yang mau bekerja gratis. Apalagi pada zaman serba materialistis seperti sekarang, kian banyak orang yang hanya berpikir akan mendapat apa jika dia berbuat sesuatu. Salah satu di antara orang langka itu adalah La Ode Sirad.

La Ode Sirad, yang akrab dipanggil Imbo, adalah putra keenam La Ode Dhika, Raja Muna kedua dari urutan terakhir. Imbo tak hanya peduli terhadap nasib masyarakat bawah yang tidak berdaya di depan hukum, tetapi dia juga prihatin pada kelangsungan bahasa daerah Muna.

Mantan pegawai Bank BNI itu lalu bercerita betapa orang-orang asal Muna yang sekarang tinggal di kota semakin jarang yang mau menggunakan bahasa daerah Muna, bahasa ibunya. Setidaknya itulah hasil pengamatannya.

Menurut Imbo, orang asal Muna berbeda dengan mereka yang berasal dari Buton atau Tolaki. Dua kelompok etnis tersebut dinilainya masih suka menggunakan bahasa daerah mereka meski dalam lingkungan resmi, seperti di kantor-kantor pemerintah.

"Sebaliknya, di kantor Bupati Muna jarang terdengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Muna," ujarnya.

Orang Muna adalah penduduk asli yang berdiam di Pulau Muna, pesisir Pulau Buton, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Kadatua, Siompu, dan Talaga. Etnis Muna juga merupakan salah satu kelompok terbesar warga Kota Kendari. Secara administratif, mereka mendiami Kabupaten Muna dengan populasi 290.358 jiwa (2006), Kabupaten Buton, Kabupaten Bombana, dan Kota Kendari.

Merasa khawatir bahasa Muna bakal segera punah, Imbo berusaha melestarikan bahasa daerah itu. Cara yang dia lakukan adalah dengan menyusun kamus lengkap Bahasa Muna-Bahasa Indonesia.

Selama dua tahun terakhir ini dia berhasil menghimpun kosakata, derivasi, dan ungkapan dalam bahasa Muna sebanyak 13.000 entri. "Naskahnya akan dirampungkan awal Januari 2008 ini sehingga kamus ini bisa dicetak secepatnya," kata Imbo.

Dalam membuat manuskrip kamus tersebut, pria berusia 67 tahun itu menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua terbitan 1991 sebagai panduan. "Sebagai proses awal, kamus itu saya alihkan ke dalam bahasa Muna," ujar Imbo tentang teknis penulisan manuskrip kamus.

Prof Dr La Ode Sidu Marafad, anggota Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi pertama (1988), menyatakan sangat menghargai usaha Imbo melestarikan bahasa Muna dengan cara menyusun kamus.

"Kita salut pada semangat dan menghargai kepedulian Pak Imbo terhadap bahasa daerah Muna," ujar dosen Bahasa Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo Kendari itu.

Bagi Sidu, punahnya suatu bahasa daerah merupakan kecelakaan sejarah peradaban sebuah komunitas etnis. Sebab, kata dia, bahasa merupakan identitas dan budaya dasar manusia dari sebuah kelompok sosial atau etnis.

Biaya penerbitan

Secara teknis, penyusunan Kamus Bahasa Muna-Bahasa Indonesia yang dilakukan Imbo sudah rampung. Manuskripnya hanya tinggal diketik rapi, untuk selanjutnya dibawa ke percetakan.

Masalahnya, siapa yang mau membiayai penerbitan kamus bahasa daerah tersebut? Pemerintah Kabupaten Muna melalui Sekretaris Daerah La Ode Kilo menyatakan sanggup membantu membiayai penerbitan kamus bahasa daerah tersebut.

Pasalnya, kalau menunggu dari Imbo tak mungkin. Sudah lima tahun terakhir ia "pensiun" sebagai kontraktor proyek pemerintah berskala kecil dan sesekali berbisnis kayu jati sebelum hutan jati Muna habis dijarah.

Kecuali semangat dan idealisme yang masih berkobar-kobar, kehidupan Imbo kian meredup pada usianya kini. "Kami sekeluarga hidup dari tabungan yang sebagian juga digunakan untuk membiayai penyusunan kamus," katanya.

Bantuan hukum

Sebelum menekuni pembuatan kamus bahasa daerah, selama belasan tahun Imbo sempat berpraktik sebagai pemberi bantuan hukum tanpa dibayar oleh mereka yang berperkara di pengadilan.

"Banyak yang mau kasih tanah atau kalung emas sebagai ucapan terima kasih, tetapi saya tolak. Secuil pengetahuan hukum yang saya miliki tidak diperoleh melalui bangku sekolah, hanya otodidak. Jadi, saya merasa kurang pantas untuk mengomersialkan ilmu tersebut," katanya beralasan.

Imbo memang bukan sarjana hukum. Namun, dia gemar membaca buku-buku hukum. Sebuah lemari buku di kamar kerjanya berisi buku-buku yang umumnya tentang hukum.

Salah satu koleksi buku Imbo adalah Hukum Pidana berisi kumpulan kuliah Prof Satochid Kartanegara SH dan pendapat-pendapat para ahli hukum terkemuka lainnya. Buku stensilan itu, cerita Imbo, merupakan pemberian pengacara Adnan Buyung Nasution. "Itu tanda mata dari Abang (Adnan Buyung Nasution) ketika saya bertandang ke rumahnya di Jakarta," tutur Imbo.

Sulitnya masyarakat menengah-bawah untuk mendapatkan rasa keadilan bila ingin menyelesaikan masalah melalui lembaga peradilan menjadi motivasi paling kuat bagi Imbo untuk belajar hukum secara otodidak.

"Katanya kita negara hukum, tetapi mengapa rakyat kecil malah sering kali menjadi korban hukum?" ucap ayah empat anak itu menggugat.

Perkembangan dunia hukum di Indonesia memunculkan peluang bagi lulusan SMA Negeri 1 Kendari tahun 1969 itu untuk berperan membela rakyat kecil di pengadilan. Negara menyediakan advokat bagi warga yang tak mampu membayar pengacara menyusul berlakunya KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) pada akhir 1981.

Karena di wilayah Pengadilan Negeri (PN) Raha, ibu kota Kabupaten Muna, belum ada pengacara yang berpraktik, Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara di Kendari membuka kesempatan kepada warga setempat untuk menjadi penasihat hukum.

Setelah mengikuti ujian seleksi calon pemberi bantuan hukum yang dilakukan PT Sultra, Imbo diberi izin praktik di PN Raha. Maka, jadilah dia seorang "pokrol bambu", pengacara tanpa gelar sarjana hukum. Dari negara, ia mendapat honor Rp 100.000 untuk setiap perkara yang ditangani.

Meski hanya seorang "pokrol bambu", ia mengaku banyak memenangi perkara warga yang dibelanya, termasuk gugatan praperadilan. Salah satu gugatan praperadilan yang dia anggap istimewa adalah kasus praperadilan terhadap Kepala Polres Muna pada tahun 1982. Kepala Polres Muna divonis bersalah oleh PN Raha karena menahan mobil bak terbuka milik seorang warga tanpa dasar hukum kuat.

Setelah ada ketentuan bahwa pengacara harus bergelar sarjana hukum, Imbo mengundurkan diri. "Saya masih dipertahankan Ketua PT Sultra karena hampir semua perkara yang saya tangani menang di pengadilan," ceritanya.

Perkara terakhir yang dia tangani adalah sengketa tanah (perdata) pada 1997. Ia menjadi penasihat hukum La Ode Kaimoeddin, Gubernur Sultra (waktu itu) yang juga kakaknya dari lain ibu. Raja Muna La Ode Dhika yang turun takhta tahun 1938 itu memiliki 11 istri dengan 27 anak.

***
BIODATA

Nama: La Ode Sirad
Lahir: Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Agustus 1940
Pendidikan: SMA Negeri 1 Kendari, 1969
Istri: Rosiana Mustamu (54)

Anak :
- Fajar Imbo SP (40)
- Hartini (38)
- Yesi Katrina (29)
- Yane Louisa (18)

Pencapaian:
- Presiden Direktur PD Soliwunto, Badan Usaha Milik Daerah Kabupaten Muna, pada
1970-an
- Anggota DPRD Muna periode 1982-1987
- Memberi bantuan hukum mulai sekitar 1981-1997

Sumber : Kompas, Kamis, 3 Januari 2008
Read Full 0 comments

Lasso Sombolinggi : Sombolinggi, Pejuang Penghijauan dari Tana Toraja

Jun 2, 2009
Sombolinggi, Pejuang Penghijauan dari Tana Toraja
Oleh : Reny Sri Ayu Taslim

Jauh sebelum orang-orang ribut membicarakan pemanasan global, Lasso Sombolinggi (71) sudah gelisah melihat hutan dan ekosistem rusak oleh perambahan serta banyaknya lahan tidur dan telantar di Tana Toraja, daerah kelahirannya.

Kegelisahan Sombolinggi membangkitkan tekadnya untuk melakukan penghijauan. Tak pernah berputus asa kendati upayanya menghijaukan hutan/lahan tidur dan memberdayakan masyarakat di wilayah itu pernah membuatnya dia dituding sebagai antek Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tahun 1982, sesaat setelah membentuk LSM Tengko Situru, Sombolinggi mengajak masyarakat sekitar untuk ikut membibitkan dan menanam beragam tanaman hutan jenis lokal yang banyak tumbuh di wilayah itu. Warga diajaknya mengolah tanah telantar, lahan, dan kebun "tidur" menjadi hutan.

Tak puas dengan menghutankan lahan tidur dan tanah telantar, Sombolinggi kemudian memikirkan konsep penghijauan plus. "Bagi saya, penghijauan hutan dan penanaman lahan tidur tidak sekadar soal menjaga ekosistem, tetapi bagaimana agar masyarakat juga bisa mendapat penghasilan dan lebih sejahtera dari situ. Saat itu saya melihat penanaman tanaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang di satu lokasi adalah model yang ideal," kata bapak delapan anak ini.

Konsep yang belakangan disebut dengan istilah agro-forestry ini mulai diperkenalkan dan dilaksanakan di Tana Toraja tahun 1987, dimulai di Lembang (desa) Madandan, Kecamatan Rantelayo, Tana Toraja, pada areal seluas 150 hektar. Saat itu LSM Tengko Situru dijadikannya yayasan yang kemudian melahirkan Wahana Lingkungan Persada (Walda).

Melalui Walda, Sombolinggi membuat jaringan dengan aktivis lingkungan di Jakarta dan meminta bantuan pendonor di luar negeri untuk mendukung upayanya. Bersama teman-teman aktivis dan pendonor ini pula lahir konsep pelaksanaan agro-forestry di Tana Toraja. Ini setelah melalui serangkaian diskusi, lokakarya, dan pengumpulan data untuk mencari tahu model apa yang cocok untuk penghijauan sekaligus menyejahterakan masyarakat.

Berhasil di Rantelayo, penghijauan model agro-forestry ini kemudian dilakukan di wilayah lain di Tana Toraja. Tak cuma agro-forestry, di beberapa daerah yang potensial untuk peternakan konsepnya diubah menjadi agro- silvo pastoral, penggabungan penghijauan, pertanian, dan peternakan. Konsep ini pun jalan dan berkesinambungan dari satu wilayah ke wilayah lain.

Di Tana Toraja, apa yang dilakukan Sombolinggi adalah hal yang amat sulit mengingat secara turun-temurun tanah yang amat bernilai dan menjadi fokus perhatian masyarakat adalah sawah. Begitu berharganya lahan sawah, kata Sombolinggi, di masyarakat kerap terjadi konflik memperebutkan lahan sawah yang tidak seberapa. Bahkan, warga lebih mencurahkan perhatian, tenaga, dan hidupnya untuk mengurusi sepetak kecil sawah ketimbang mengurusi lahan kebun, betapa pun luasnya.

"Pikiran saya waktu itu bagaimana mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar sawah ke kebun. Saat itu banyak masyarakat yang miskin, sementara saya melihat ada potensi yang bisa menyejahterakan mereka, yakni lahan-lahan kebun yang ditelantarkan. Harapan saya, setelah kebun secara bertahap mereka juga melihat hutan," kata suami Den Upa Rombelayuk, salah seorang aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, ini.

Dituding antek PKI

Begitu kuatnya budaya sawah pada masyarakat setempat, upaya Sombolinggi memperkenalkan kebun dan hutan berbuntut kecurigaan masyarakat dan juga pemerintah. Mulai dari tudingan ingin merampas tanah masyarakat hingga yang paling parah pemerintah dan masyarakat mencurigainya sebagai antek PKI. Terlebih saat itu, melalui bantuan lembaga donor di luar negeri, Sombolinggi membagi- bagikan bibit kepada masyarakat.

Karena itu, banyak warga yang tak mau terlibat, terutama kaum lelaki. Namun, Sombolinggi tak putus asa, bahkan ia terus melakukan pendekatan dengan pemerintah dan masyarakat.

"Terus terang, saat itu yang paling banyak membantu dan terlibat justru kaum perempuan karena laki-lakinya banyak yang memilih urusan lain, bahkan pergi berjudi sabung ayam. Kepada perempuan ini saya ajarkan berkebun, mulai dari sekitar rumah hingga ke lahan kebun mereka. Sembari berkebun, mereka juga saya ajak menanam tanaman seperti yang ada di hutan," katanya.

Pendekatan yang susah payah ini berbuah ketika masyarakat mulai mau menggarap kebun dan lahan telantar. Dua tahun pertama, upaya ini nyaris gagal dan warga mulai putus asa ketika hasil tanaman jangka menengah belum menghasilkan apa-apa. Namun, Sombolinggi terus memberi semangat kepada masyarakat. Beruntung tanaman jangka pendek, seperti kacang- kacangan, sayuran, dan umbi- umbian, bisa panen beberapa kali dalam setahun hingga ada hasil yang bisa dipetik. Saat tanaman jangka menengah seperti kakao, kopi, dan lainnya mulai bisa dipanen, semangat masyarakat mulai tumbuh.

"Saat itulah mereka percaya apa yang saya katakan dan perlahan mulai membagi perhatian antara sawah dan kebun. Tanaman jangka panjang pun mulai mereka garap," kata Sombolinggi, yang sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Berhasil dengan tanaman padi, perlahan-lahan lelaki yang masih segar pada usianya yang 71 tahun ini mulai mendekati perambah hutan. Para perambah hutan diajak berkebun di sekitar hutan. Tidak mudah memang mengingat perambah hutan ini juga banyak dibekingi oleh oknum yang cukup berpengaruh.

"Yang membuat saya sedih, saat perambah perlahan-lahan mulai berkebun di sekitar hutan, mereka kerap diiming-imingi uang untuk menebang pohon di hutan. Yang menjengkelkan, bila aktivitas ini melapor kepada yang berwajib, mereka tak mencari pelaku atau siapa yang berada di belakang perambah hutan. Saat kayu sudah ditebang dan keluar hutan, aparat baru bersikap. Tapi yang ditahan kayunya saja, pelakunya tidak," katanya. Namun, Sombolinggi tak putus harapan dan terus berupaya.

Reboisasi dan penghijauan

Aktivitas dan perjuangan Sombolinggi melakukan penghijauan bermula tahun 1982 saat pemerintah melakukan program penghijauan dan reboisasi di Tana Toraja. Sejak awal dia melihat program ini dilakukan sekadar menjalankan proyek yang sudah dijadwalkan dan tersusun, tanpa sosialisasi dan diskusi dengan masyarakat.

"Masyarakat yang dilibatkan dalam proyek ini tidak mengerti apa sasaran program tersebut. Ketidakmengertian mereka menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran lahan yang ditanami mereka nantinya akan diambil pemerintah. Sementara dari pihak pemerintah Orde Baru, warga yang tidak setuju program ini disebut penentang pembangunan," ujar Sombolinggi.

Melihat keadaan yang kurang menguntungkan itu, Sombolinggi turun tangan melalui LSM Tengko Situru. Bersama teman- temannya, dia melakukan pendampingan pada masyarakat, khususnya petani, dan berupaya menjadi penengah antara pemerintah dan masyarakat. Dia minta kepada warga untuk membibitkan semua jenis tanaman yang ada di hutan sekitar desa. Ditekankan pula, program penghijauan tak akan membuat warga kehilangan tanahnya.

Untuk lebih memperkuat posisinya dalam beraktivitas, Sombolinggi kemudian memberanikan diri mengikuti pemilihan kepala desa secara langsung, dan dia terpilih secara mutlak. Baginya, dengan menjadi kepala desa ada titik masuk agar bisa lebih diterima masyarakat, sekaligus dekat dengan pemerintah.

Perjuangan Sombolinggi kini boleh dikatakan berhasil. Namun, dia tetap merendah. "Bagi saya, sebuah program disebut berhasil bila sudah berlangsung secara berkesinambungan dan masyarakat sudah sampai pada tahapan melakukannya secara sadar dan menjadikannya kebutuhan, bukan lagi karena disuruh. Itu bukan hanya saya, melainkan lebih karena peran masyarakat sendiri."

Sumber : Kompas, Kamis, 13 Desember 2007
Read Full 0 comments

Xi Jinping & Li Keqiang, Wajah China Masa Depan

Jun 1, 2009
Xi Jinping dan Li Keqiang, Wajah China Masa Depan
Oleh : Fransisca Romana Ninik

Nama Xi Jinping (54) dan Li Keqiang (52) belum dikenal dunia hingga mereka dinyatakan sebagai anggota komite elite pemimpin China, Komite Pelaksana Politbiro, pekan lalu. Namun, sebenarnya Xi dan Li telah lama disebut-sebut sebagai calon potensial pengganti Presiden Hu Jintao dan memimpin China di masa depan.

Perjalanan karier Xi dan Li di Partai Komunis China (PKC) membuat orang menyimpulkan nantinya merekalah yang memegang tampuk kepemimpinan China setelah Hu lengser. Xi menjabat sebagai Ketua PKC Shanghai, sedangkan Li adalah Ketua PKC Liaoning. Bisa dikatakan Xi menduduki posisi nomor enam di jajaran elite PKC dan Li berdiri di posisi ketujuh.

Setelah era Mao Zedong, Deng Xiaoping, Jiang Zemin, serta Hu, Xi dan Li akan menjadi generasi kelima pemimpin China. Meski belum jelas posisi mereka di pemerintahan, Hu menggambarkannya sebagai "kawan muda kita".

Koran The Daily Telegraph menyebutkan, karena namanya disebut pertama oleh Hu, Xi kemungkinan menduduki jabatan utama, yaitu Sekretaris Jenderal PKC dan Presiden China. Adapun Li, yang disebut setelahnya, diperkirakan memegang jabatan perdana menteri.

Batu loncatan

Xi adalah putra veteran revolusi komunis dan mantan Wakil Perdana Menteri Xi Zhongxun (1913-2002). Ini membuatnya menjadi salah satu anggota "pangeran muda (princeling)", sebutan untuk putra-putri pemimpin PKC. Xi lahir di Fuping, Juni 1953, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara.

Dia bergabung dengan Liga Pemuda Komunis (CYL) pada 1971 dan bergabung dengan PKC tahun 1974. Xi bertugas di empat provinsi sebagai gubernur atau ketua PKC, yaitu di Shaanxi, Hebei, Fujian, dan Zhejiang.

Saat menjadi Gubernur Fujian tahun 2000, Xi dipuji karena mampu mengubah provinsi itu menjadi magnet bagi investor Taiwan dan mendorong pasar ekonomi. Di Zhejiang, Xi dikenal sangat keras dan terang-terangan melawan korupsi. Di bawah kepemimpinan Xi (2003-2007), Zhejiang menjadi pusat keberhasilan pengembangan ekonomi China dengan pertumbuhan rata-rata 14 persen dalam 20 tahun terakhir.

Xi, lulusan Fakultas Ilmu Kemanusiaan dan Sosial Tsinghua University dalam teori Marxis dan pendidikan ideologi, ditunjuk sebagai Ketua PKC Shanghai, Maret 2007. "Saya berjanji melakukan lebih banyak hal baik bagi rakyat Shanghai," kata Xi seperti dikutip kantor berita Xinhua seusai pelantikan.

Ketua PKC Shanghai dinilai sebagai posisi kepemimpinan regional terpenting di China, juga menjadi sinyal kepercayaan dan penghargaan dari Presiden Hu. Seolah sudah menjadi tradisi, jabatan Ketua PKC Shanghai adalah batu loncatan bagi Xi sebagai pemimpin generasi kelima China. Hu juga naik ke posisi puncak kepemimpinan China setelah menjabat Ketua PKC Shanghai.

Di kalangan media Barat, Xi digambarkan sebagai pekerja keras, probisnis, dan musuh korupsi. Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson, yang pernah bertemu Xi saat menjadi gubernur Zhejiang, menyebut Xi bintang politik yang sedang naik daun.

Anak didik

Media China memosisikan Xi berhadapan dengan Li dalam bursa calon pemimpin China 2012. Li yang lahir di Dingyuan, Juli 1955, menyandang gelar doktor hukum dan ekonomi dari Peking University. Dia bergabung dengan CYL tahun 1974. Sejak saat itu ia bekerja dekat dengan Presiden Hu. Dia telah bergabung dengan PKC pada 1976.

Li menyandang predikat gubernur termuda saat diserahi tanggung jawab memimpin Provinsi Henan, salah satu provinsi terpadat di China, Juni 1998. Usianya saat itu 43 tahun. Dalam biografi yang dimuat Wikipedia disebutkan, Li memilih meninggalkan keluarga di Beijing dan menuju Henan karena beratnya tugas yang dia terima.

Dia dikenal blak-blakan dan menolak hadir dalam jamuan mewah apa pun yang tak ada hubungannya dengan kegiatan pemerintah. Li berhasil dalam memimpin pembangunan ekonomi di provinsi China tengah itu dengan mentransformasi wilayah miskin menjadi daerah yang menarik bagi investasi.

Li rela menyusuri setiap jengkal tanah di Henan guna mencari solusi komprehensif atas persoalan pertumbuhan ekonomi wilayah itu. Di bawah kepemimpinan dia, Henan melompat dalam ranking pendapatan domestik bruto dari urutan ke-28 pada awal 1990 menjadi urutan ke-18 tahun 2004.

Desember 2004, Li, anak didik Hu di CYL, ditunjuk sebagai Ketua PKC Liaoning. Di wilayah barunya, Li dikenal karena proyek "Lima Poin Menuju Satu Garis" yang menghubungkan pelabuhan Dalian, Dandong, dan wilayah di sekitarnya menjadi satu jaringan komprehensif. Li juga merancang berbagai program untuk mengangkat taraf hidup masyarakat Liaoning.

Dia berencana membangun perumahan murah bagi warga dengan akses air bersih dan pemanas sentral yang dimulai tahun ini. Seperti dilaporkan China Daily, keluarga yang pindah dari rumahnya akan memperoleh hunian seluas rumah yang ditinggalkan secara gratis. Jika menginginkan hunian lebih luas, keluarga itu cukup membayar 600 yuan (sekitar Rp 693.000) per meter persegi, jauh lebih rendah dibandingkan harga rata-rata tanah di Liaoning sebesar 2.000 yuan (sekitar Rp 2,3 juta) per meter persegi.

Kawasan kumuh seluas 12 juta meter persegi di Liaoning telah diratakan untuk disulap menjadi kawasan hunian baru seluas 19 juta meter persegi. Kawasan ini bisa menampung 1,2 juta orang atau sekitar 345.000 keluarga. "Kesejahteraan masyarakat, terutama orang miskin, adalah agenda utama kami," kata Li saat menghadiri kongres tahunan PKC di Beijing pekan lalu.

Tantangan

Catatan perjalanan dan prestasi Xi maupun Li sangat menentukan model kepemimpinan mereka di masa mendatang dan seperti apa wajah China pascapemilu 2012. Di hadapan delegasi masing-masing dalam Kongres Ke-17 PKC lalu, keduanya menggaungkan pemikiran Presiden Hu yang disampaikan pada pembukaan kongres.

"Dalam proses menyelenggarakan pembangunan ekonomi, kita harus mendukung masyarakat yang harmonis," kata Li seperti dikutip Reuters. Masyarakat harmonis merujuk pada keyakinan harus ada lebih banyak orang yang menikmati keberhasilan pembangunan ekonomi China.

Xi memilih frase lain yang juga dilontarkan Hu. "Kita sedang melangkah lebih lanjut untuk mengeksplorasi dan menyebarluaskan teori pembangunan ilmiah serta mencapai hasil paling bermanfaat," katanya. Pembangunan ilmiah merujuk pada pembangunan yang ramah lingkungan.

Kendati demikian, Xi dan Li akan menghadapi tantangan zaman yang berbeda dengan era kepemimpinan Hu saat ini. Isu pemanasan global maupun demokratisasi harus diantisipasi kedua calon penerus estafet kepemimpinan China. Sebab, masyarakat dunia semakin sadar untuk tak semata-mata mengejar keuntungan ekonomis. Dengan kesadaran itu, ditambah posisi menguntungkan yang mereka duduki, Xi atau Li bisa membawa China menjadi kekuatan dunia yang disegani.

Sumber : Kompas, Sabtu, 27 Oktober 2007
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks