HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label U. Show all posts
Showing posts with label U. Show all posts

Utomo Dananjaya, Guru yang Tak Mudah Ditaklukkan

Jun 28, 2009
Utomo Dananjaya, Guru yang Tak Mudah Ditaklukkan
Oleh : P Bambang Wisodo

UTOMO Dananjaya (69) merupakan kawan bicara yang menyenangkan. Ia diberi gelar suhu dalam pendidikan para aktivis, sebuah kegiatan yang digelutinya sejak 1960-an. Ia ramah dalam pergaulan, tua dan muda jadi sahabatnya. Salah satu kebanggaan Utomo adalah kebiasaan cucu-cucunya untuk menanyakan kepada orangtuanya, apakah uang atau barang yang dibawa ke rumah hasil korupsi atau bukan.

Ia mengajari muridnya membaca dan menulis, tidak dengan cara mengeja sesuai pakem. Ia memulainya dengan memperkenalkan kata-kata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari muridnya. Tentu saja tidak sesuai paket.

Cara itu cukup jitu untuk membuat murid-muridnya cepat bisa membaca dan menulis. Namun, guru muda itu bukannya disanjung, tetapi justru mendapatkan teguran.

PENGALAMAN itu bukan satu-dua kali. Puncaknya terjadi saat pelajaran olahraga. Utomo tanpa sungkan-sungkan menelungkupkan badannya di lantai, meminta semua muridnya di kelas I meloncatinya satu per satu.

Anak-anak itu senang bukan kepalang. Namun, Utomo justru mendapat kecaman dari kepala sekolah dan kolega guru di sekolahnya. Ia dianggap merendahkan martabat guru.

Hanya enam bulan Utomo bertahan di SD. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Bandung. Setamat PGSLP ia balik ke Garut, mengajar di sebuah SMP negeri.

Utomo tidak kapok bereksperimen dengan cara mengajar yang kreatif dan menyenangkan. Dalam pelajaran sains, ia mengajak murid-muridnya mengadakan berbagai macam percobaan, tanpa harus menunggu ada laboratorium. Akibatnya, kelas Utomo dicap sebagai kelas yang selalu menimbulkan kegaduhan.

Puncak perselisihan dengan kepala sekolah terjadi pada saat ia bereksperimen tentang perubahan bentuk zat dengan murid-muridnya. Ia mengajak murid- muridnya bereksperimen membekukan air dengan membuat es puter, sejenis es krim yang dibuat melalui proses tradisional.

Eksperimen tersebut dilakukan pada hari Minggu. Karena kesulitan memutar tabung, Utomo menyuruh anak-anak itu menggelindingkan tabung di lantai. Keesokan harinya lantai yang sehari sebelumnya dipergunakan sebagai tempat eksperimen masih meninggalkan garis- garis kotoran yang sulit dibersihkan. Di depan murid-muridnya, Utomo dimarahi oleh kepala sekolahnya.

Utomo masih bertahan menjadi guru sampai delapan tahun kemudian di SMP Negeri 5 Bandung. Sekolah formal memang tidak memberikan ruang pada guru kreatif seperti Utomo. Akhirnya, Utomo memutuskan berhenti menjadi guru di sekolah formal gara-gara pertengkaran dengan kepala sekolah soal penerimaan murid baru.

"Sudah cara mengajarnya begitu-begitu saja, masih pilih kasih. Sekolah memang rusak, saya memutuskan berhenti. Saya seolah-olah bersumpah, tidak akan menggunakan ijazah untuk melamar pekerjaan," kata Utomo, yang akrab dipanggil Mas Tom itu.

BERPISAH dari sekolah formal, Utomo tidak berhenti menjadi guru. Bertahun-tahun Utomo menjalani hidupnya sebagai pelatih dalam latihan-latihan kepemimpinan Pelajar Islam Indonesia (PII), sebuah organisasi Islam yang berorientasi pada modernitas.

Pada tahun 1960-an organisasi itu telah mengadopsi metode-metode pelatihan partisipatoris, yang menekankan pada aspek penyadaran peserta, yang masih populer diterapkan dalam pelatihan-pelatihan organisasi nonpemerintah hingga saat ini. Baru belakangan kemudian pendidikan kritis model Paulo Freire dikenal di Indonesia.

Pengalaman yang andal dalam melatih kader-kader PII itu mengantarkan Utomo pada pekerjaan yang cukup bergengsi, sebagai Koordinator Pelatihan di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES). Di situlah Utomo menyemaikan bibit-bibit aktivis organisasi nonpemerintah yang menyebar di seluruh Indonesia.

Salah satu murid Utomo adalah almarhum Mansour Fakih, aktivis organisasi nonpemerintah dan pendiri Institute for Social Transformation (Insist) di Yogyakarta. Sesekali Utomo diminta memberikan pelatihan kepada guru, tetapi ia tidak pernah lagi diundang setelah mengeluhkan honorarium yang sangat kecil.

Utomo kembali bersentuhan dengan dunia pendidikan formal saat merintis pendirian Sekolah Tinggi Wiraswasta bersama sejumlah tokoh nasional. Pada tahun 1979 ia diajak Tutty Alawiyah mendirikan Sekolah Tinggi Assyafiiyah dan memimpin perguruan tinggi tersebut selama beberapa tahun.

Utomo kemudian bergabung dengan Nurcholish Madjid dan sejumlah tokoh Muslim lainnya mendirikan Yayasan Paramadina, sebuah lembaga dakwah yang membidik sasaran kelas menengah atas. Utomo merupakan tokoh di belakang layar yang menggerakkan lembaga dakwah itu antara 1986 sampai 1994.

Kakek delapan orang cucu ini juga terlibat dalam pendirian Universitas Paramadina. Universitas itu lahir dari diskusi sejumlah aktivis yang tergabung dalam milis Islamic Network yang mencoba mewujudkan mimpi sebuah universitas yang baik.

Utomo sempat menjabat sebagai direktur pelaksana universitas tersebut. Tidak berhenti di situ, Utomo menyodorkan gagasan untuk mendirikan program pascasarjana pendidikan guru profesional dengan pendekatan nonkonvensional. Gagasan itu mental sehingga Utomo memilih mendirikan organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam bidang pendidikan, Institute for Education Reform yang dipimpinnya sampai hari ini.

UTOMO seorang yang ahli dalam mengajar meski ia bukan seorang sarjana. Ia belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pergaulan dan dari pengalaman. Keahlian itu ditularkannya kepada para aktivis dan calon-calon guru. Di Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Assyafiiyah, Utomo mengajar mata kuliah Kreativitas yang kemudian diubah dengan nama mata kuliah Media Pembelajaran.

Di usianya yang ke-69, Utomo tetap vokal. Ia sumber inspirasi bagi orang- orang muda yang mau belajar. Di Garut Utomo memberikan pelatihan kepada anak-anak muda calon guru dan aktivis pendidikan kritis mengenai cara mengajar yang menyenangkan. Ia mengajak anak-anak muda itu bermain, mengalami, berdialog, dan mengambil kesimpulan tentang cara mengajar yang menyenangkan.

"Jangan hanya diomongkan. Biarkan murid menunjukkan, mencoba, dan menceritakan. Tunjukkan dan ceritakan, show and tell," ujarnya. Mas Tom, Andalah guru yang dicari-cari. (P Bambang Wisudo)

Sumber : Kompas, Jumat, 3 Juni 2005
Read Full 0 comments

Umar Manik : Persahabatan Umar Manik dengan Kera

Jun 26, 2009
Persahabatan Umar Manik dengan Kera
Oleh : Ahmad Arif

Pukul sepuluh pagi di Hutan Lindung Sibatu Loting, Sibaganding, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sekitar delapan kilometer dari Parapat, Danau Toba. Umar Manik meniup tanduk kerbau. Tiba-tiba pekik ramai binatang menyahut dan perlahan ratusan kera mendatangi.

Ayo makan, makan...,kata Umar, menyodorkan pisang. Seekor kera besar merebut pisang yang tengah dimakan kera yang lebih kecil.

Kera besar yang dia panggil Bruno memang terlihat sangat berkuasa. ”Inilah hukum rimba. Saya tak ingin ikut campur, tak ingin menjinakkan, agar kera-kera itu tidak mudah ditangkap orang, kata Umar (49).

Seperti biasa, Umar meminta dengan halus kepada pengunjung Stasiun 23, pusat konservasi monyet yang dirintisnya sejak tahun 1986, untuk membeli pisang. Dari hasil menjual pisang itu, Umar menghidupi istri, anak, dan ratusan monyet di sana. Namun, beberapa tahun terakhir jumlah pengunjung kian sepi. Umar terpaksa menjual tanahnya di desa dan berutang untuk memberi makan monyet yang telah menjadi bagian keluarganya itu.

Di sisi lain, hutan habitat monyet kian rusak. Karena kekurangan makan, sebagian monyet itu mengemis kepada pengendara yang lewat di jalan raya sehingga banyak yang tewas tergilas kendaraan.

Menurut Umar, di Sibaganding dulu terdapat lima jenis monyet, yaitu kera, beruk, lutung, siamang, dan simpai. Sekarang yang tersisa hanya kera dan beruk. ”Kalau banyak monyet mati di jalanan, yang salah Umar Manik karena miskin sehingga tak mampu memberi makan,” kata Umar.

Sepinya pengunjung mulai terjadi setelah ada retribusi. ”Sejak awal Mei 1996 banyak pengunjung tak mau lagi membeli pisang karena sudah dikutip Rp 2.000 per orang untuk biaya masuk oleh sebuah yayasan atas izin Pemerintah Daerah Simalungun. Anehnya, hasil pungutan itu tidak jelas dikemanakan,” katanya.

Umar pernah menentang pengutipan ini selama bertahun-tahun dan akibatnya dia mendapat berbagai teror mental dan fisik.

Sudah 19 tahun

Sudah 19 tahun Umar tinggal bersama dan memberi makan ratusan kera di Sibaganding. Rumah seluas 7 x 7 meter yang dia tinggali bersama istri dan satu anak balitanya hanya terdiri atas teras berhias kursi kayu, satu ruang tidur dengan dua ranjang, dan dapur berisi piring dan gelas plastik.

Lingkungan yang membuat Umar betah: sejuknya udara pegunungan dan ratusan monyet sahabat mereka. Sayang, sungai persis di depan rumah mengering karena airnya diambil oleh hotel di bagian atas sungai.

Lahir di Desa Mariah Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, anak kelima dari delapan bersaudara itu menjadi yatim pada usia sembilan tahun dan putus sekolah dasar saat kelas III. Dua tahun kemudian ia dan ibunya, Emasa br Lumban Siantar, pindah ke Desa Sibaganding.

Umar sempat merantau menjadi buruh bangunan dan jalan. Tahun 1976 dia pulang ke desa dan tujuh tahun bekerja menjaga keamanan di salah satu hotel di Sibaganding, tetapi dipecat karena tidak memiliki ijazah SLTA.

Umar kemudian tinggal di pondok kecil di tengah hutan Sibaganding dan mencoba bercocok tanam, tetapi tanamannya dirusak hewan di sana. Dia lalu bertekad mengusir mereka, terutama kera.

Namun, suatu malam Umar mimpi didatangi sosok yang mengatakan dia tidak berhak menyakiti hewan di situ karena mereka lebih dulu ada. Bila ingin memanggil kera, Umar dianjurkan meniup tanduk kerbau.

Kemampuan Umar memanggil kera membuat hutan Sibaganding terkenal. Pangeran Bernhard, pendiri World Wide Fund for Nature, berkunjung pada Maret 1996 untuk melihat kebolehan Umar memanggil ratusan monyet sahabatnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun yang melihat peluang bisnis di situ menggandeng pihak swasta. Umar dituding menggunakan lahan negara untuk usaha. Hutan ini memang bukan milik saya, tetapi saya sudah lama di sini tanpa merusak. Bahkan, saya ikut menjaga hewan. Kenapa setelah kawasan ini terkenal, pemerintah mau mengambil begitu saja, kata Umar.

Umar dipukuli. Istri pertamanya lari karena tak tahan. Terakhir, gubuk mereka dirobohkan. Umar tetap bertahan bersama monyetnya.

Perlawanan Umar didengar Lembaga Bantuan Hukum Medan yang kemudian mendampinginya. Tahun 1998 Umar memenangi kasusnya di pengadilan dan diberi hak mengelola kawasan perlindungan monyet asal pemerintah tetap bisa memungut retribusi masuk.

Umar tak punya pilihan lain. Berdasarkan surat perjanjian, 60 persen hasil retribusi untuk Pemkab Simalungun dan 40 persen untuk pemeliharaan kawasan perlindungan monyet. Namun, sejak ditetapkannya retribusi, baru dua tahun ini kami mendapat bagian. Itu pun jumlahnya paling-paling Rp 15.000 per bulan. Untuk membeli makan monyet sehari pun tidak cukup, katanya.

Sumber : Kompas, Rabu, 13 Juli 2005
Read Full 0 comments

UU Nasrullah, Tukang Kredit Jadi Ahli Sutra

Jun 25, 2009
Uu Nasrullah, Tukang Kredit Jadi Ahli Sutra
Oleh : Yenti Aprianti

Selama 25 tahun, Uu Nasrullah (61) berkeliling pulau sebagai tukang kredit. Kini ia dikenal sebagai ahli sutra dan dijadikan guru oleh para petani di berbagai provinsi dan mahasiswa. Rumah biliknya sering dikunjungi ahli sutra dari berbagai negara.

Ini dari petani di Bengkulu. Mereka ingin mengabari saya bahwa mereka sudah bisa membuat benang sutra, kata Uu sambil mengeluarkan benang sutra dari sebuah amplop coklat. Uu sering diundang ke beberapa provinsi untuk melatih petani ulat sutra.

Ahli sutra seperti dari China, Pakistan, Sri Lanka, Laos, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Belanda, dan Kanada juga masih terus mendatanginya.

Kalau datang, mereka selalu menggelengkan kepala. Takjub pada kualitas sutra Indonesia yang mereka sebut sebagai sutra terbaik karena mengkilau, benangnya rata, dan panjangnya bisa mencapai 1.500 meter. Padahal sutra di negara lain panjangnya hanya mencapai 800 meter, tutur Uu.

Uu sudah mulai bekerja sejak usia 14 tahun. Saat itu ayahnya meninggal sehingga ia harus membantu ibu dan adik-adiknya. Seperti kebanyakan lelaki dari Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Uu pun pergi merantau, bekerja sebagai tukang kredit.

Ia mengkreditkan barang apa saja. Tidak hanya di kota-kota di Jawa Barat, tetapi juga sampai Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera, dan Kalimantan. Setelah menikah, istri dan anaknya tinggal di kampung. Uu hanya pulang saat Lebaran. Di perantauan, Uu sering gelisah, teringat nasib keluarga.

Dulu untuk menelepon sulit. Surat sering terlambat sampai sebulan, tutur Uu. Tak heran, baru saja ia menerima surat bahwa anaknya sakit, tiba-tiba datang kabar anaknya sudah meninggal. Sebetulnya anak saya tujuh. Tapi anak kedua hingga kelima meninggal karena sakit pada usia satu atau tiga tahun. Keluarga di kampung tidak bisa membawanya berobat karena tidak punya uang, ujar suami Muntikah (52) ini.

Pulang kampung

Tahun 1982, Uu pulang kampung dan tersadarkan bahwa begitu luas lahan tidur di kampungnya. Uu bertekad berhenti menjadi tukang kredit, dan bertani. Pertama dia menanam apa saja sebelum beralih ke murbei, yang menjadi makanan ulat sutra.

Ia mulai dengan menanam murbei pada lahan seluas tiga hektar. Usahanya ternyata maju. Kepompong ulat sutranya diterima oleh sebuah perusahaan benang sutra besar di Jawa Barat.

Karena permintaan meningkat, Uu melatih petani lain yang hanya menanami lahannya dengan singkong untuk beralih pada murbei. Begitulah, dia berhasil mengaktifkan 1.022 hektar lahan tidur di Kabupaten Tasikmalaya. Ada ratusan petani dari hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya yang terlibat dalam pertanian ini.

Tahun 1985 dia mendirikan Koperasi Sabilulungan III. Mereka memiliki alat pemintalan dan penenunan yang didapat dari bantuan pemerintah. Sayangnya, pemintalan dan penenunan kurang berjalan efisien karena koperasi tidak memiliki uang untuk membeli kepompong dari petani. Itulah sebabnya dia giat membuat proposal untuk menarik investor serta meminta pertolongan dari dinas-dinas di pemerintahan.

Meskipun sudah tua, saya harus terus bekerja. Saya belum tenang kalau petani belum sejahtera. Saya juga sangat menyayangkan jika mereka yang sudah kembali ke kampung terpaksa urbanisasi lagi. Sementara puluhan ribu lahan tidur masih belum tergarap di kabupaten Tasikmalaya, ujar Uu yang menyayangkan betapa sulit mendapatkan modal kerja di negeri ini.

Kini karena kekurangan modal, koperasi yang dikelolanya hanya mampu membuat 500 meter kain sutra per bulan. Padahal, kapasitas produksi di pabrik sutranya mencapai 10.000 meter per bulan.

Kain sutra itu ia jual ke beberapa desainer di Jakarta, Bandung, dan Cirebon. Mereka pesan sampai ratusan hingga ribuan meter. Tapi kami baru sanggup memberinya 50-100 meter saja per orang, ujar Uu sambil terkekeh, menertawakan nasib yang masih kurang menguntungkannya.

Tawa Uu makin keras saat menceritakan tawaran ekspor dari Singapura yang meminta 25.000 meter dan Australia yang meminta satu kontainer. Permintaan banyak sekali. Apa daya, tangan saya tak sampai, ujar Uu sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Karena keahliannya di bidang sutra, kakek yang hanya lulusan kelas III sekolah rakyat ini pernah juga ditawari untuk mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah universitas di Amerika.

Uu menolak mentah-mentah. Ah, buat apa? Bikin malu saja. Ngomong Inggris saja saya enggak bisa, ujar Uu sambil berdiri di muka rumahnya yang berdinding bilik.

Sumber : Kompas, Rabu, 7 September 2005
Read Full 0 comments

Untung S Widodo dan Terapi Kekurangan Yodium

Jun 19, 2009
Untung S Widodo dan Terapi Kekurangan Yodium
Oleh : Madina Nusrat

Untuk membuang kenangan pilu masa lalu atas perceraian dengan pasangan hidupnya, Untung S Widodo memutuskan pindah dari Bogor dan tinggal di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi.

Di tempat itu, pendiri Balai Penelitian Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (BP GAKI) yang merupakan satu-satunya di Indonesia dan ditempatkan di Kecamatan Borobudur ini menghabiskan hari-harinya dengan menjalankan penelitian dampak kekurangan yodium pada manusia dan penanggulangannya.

Ia menjalankan penelitian dan eksperimennya selama 10 tahun, dari tahun 1994 sampai tahun 2004. Penelitian ini ia jalankan dengan bantuan dana dari Departemen Kesehatan yang membiayai studi doktoralnya di Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada dan dari Dewan Riset Nasional, yang jumlahnya mencapai Rp 1 miliar. Penelitian dilakukan dengan model partisipasi-observasi. Ahli gizi lulusan program pascasarjana studi ilmu gizi dari Universitas Filipina ini ikut menetap di Srumbung hingga tahun 2000 untuk mengamati secara langsung obyek penelitiannya.

Riset ini berhubungan dengan manusia sehingga saya harus benar-benar mengamatinya. Apakah ada penyimpangan atau tidak. Kalau ada dampak negatif, meski itu bukan disebabkan dari kita, maka kita harus tetap cawe-cawe (ikut campur) karena mereka adalah sampel kita. Etikanya kan begitu, tutur pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 9 Maret, 51 tahun yang lalu itu.

Lebih dari 700 perempuan usia subur menjadi sampel penelitiannya. Menurut Untung, perempuan usia subur relatif lebih rentan mengalami kekurangan yodium. Kekurangan ini dapat berakibat fatal terhadap janin yang dikandung bila perempuan itu hamil. Antara lain, katanya, ibu yang kekurangan yodium dapat melahirkan anak down syndrome.

Riset seperti ini mungkin juga satu-satunya di dunia. Karena ia mengamati perkembangan perempuan usia subur sejak belum hamil, masuk fase hamil, sampai melahirkan. Sampel yang saya gunakan sebanyak 778 perempuan. Ini selalu saya pantau untuk membuktikan terapi yang saya lakukan ini memiliki pengaruh, tuturnya.

Sebelumnya, menurut Untung, banyak praktisi kesehatan maupun pemerintah menganggap gangguan akibat kekurangan yodium tak dapat disembuhkan. Namun, katanya, setelah mendalami ilmu gizi dan tumbuh kembang anak di Universitas Filipina dan selama berkarya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi di Bogor, ia membuktikan anak-anak kekurangan yodium dapat tumbuh normal melalui serangkaian terapi. Begitu juga dengan ibu hamil yang kekurangan yodium, mereka dapat melahirkan anak yang sehat.

Kekurangan yodium ini menurut Untung, yang juga aktif sebagai pengajar di Ilmu Kesehatan Masyarakat program Pascasarjana UGM ini, merupakan satu dari fenomena alam yang harus ditangani lewat intervensi pemerintah. Sebab, kadar yodium dalam tubuh hanya bisa disuplai dari kadar yodium yang disediakan dari alam. Seperti di Indonesia, katanya, endemik yodium terjadi di sejumlah kabupaten di 22 provinsi.

Ketemu jodoh

Dunia ini sudah tua sehingga kadar mineral yodium di dalam tanah itu semakin habis. Untuk mengembalikan dan memproduksi kadar yodium di dalam alam itu pun membutuhkan waktu yang lama sekali. Membutuhkan waktu jutaan tahun, paparnya.

Meski merasa kecewa terhadap kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengadaan garam beryodium bagi masyarakat, kerjanya selama 10 tahun menjalankan penelitian dan eksperimen telah memberikannya semangat karena membawa hasil yang baik.

Ratusan anak di Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Salam dapat tumbuh normal dan terhindar dari kretin atau kekerdilan akibat kekurangan yodium. Ratusan perempuan usia subur di kedua kecamatan itu, yang sebelumnya tak dapat hamil karena kekurangan yodium, dapat hamil dan melahirkan bayi yang sehat.

Berhasil membuat pulih ribuan orang kekurangan yodium lewat terapi yang dijalankannya di BP GAKI, Untung S Widodo yang sudah menduda selama 10 tahun lebih ini juga berhasil memperoleh jodoh kembali di balai penelitian yang didirikannya.

Ia bertemu seorang ibu dari anak penderita autis asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang datang ke BP GAKI untuk ikhtiar mengobati anaknya. ”Dia itu sudah sendiri, tapi masih aktif di PKK untuk melakukan studi banding kesehatan dan juga mencari pengobatan yang tepat untuk anaknya yang autis. Kebetulan suaminya itu dulu juga Kepala Dinas Kesehatan di sana,” ungkap Untung.

Dari pertemuan itu, Untung melangsungkan pernikahan dua tahun yang lalu. Adapun anak istrinya yang menderita autis telah pulih dan dapat berinteraksi secara normal.

Pernikahan ini bisa berlangsung juga karena ibu itu sudah bersumpah. Kalau ada yang bisa mengobati anaknya sampai sembuh, maka bersedia dinikahi. Mungkin itu memang kehendak Tuhan dan saya pun sudah memiliki perasaan itu. Apalagi saya sudah duda, ujar Untung dengan senyum lebar.

Sumber : Kompas, Selasa, 14 Februari 2006
Read Full 0 comments

Udu : Cara Udu Menghidupkan Terumbu Karang

Jun 18, 2009
Cara Udu Menghidupkan Terumbu Karang
Oleh : Yamin Indas

Banyak nelayan menempuh jalan pintas untuk panen besar. Menggunakan bahan peledak, racun sianida, atau potas. Tetapi, cara itu tidak pernah menggoda Udu, nelayan kecil di pantai barat Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Sebagai nelayan tradisional, penghasilan Udu sangatlah kecil, sama seperti umumnya nelayan di Desa Tapitapi, Muna. Tetapi, dia tidak pernah tergoda menempuh jalan pintas, kendati cukup banyak anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.

Ke mana nelayan harus mencari ikan jika habitatnya hancur dibom adalah pertanyaan yang selalu menghantui Udu. Padahal, tanpa dibom atau diracun pun potensi ikan perairan dangkal makin berkurang akibat pertambahan nelayan dan peningkatan produksi sejalan makin modernnya alat tangkap.

Persoalan itu dijawab Udu dengan merintis usaha budidaya perikanan. "Sudah sering saya mendengar informasi dari Bau-Bau atau Kendari tentang pembelian ikan kerapu hidup untuk diekspor. Masalahnya, saya belum berpengalaman di bidang budidaya dan tak punya modal," ungkap Udu di rumahnya yang berada di "tengah laut".

Desa Tapitapi memang berlokasi di laut, sekitar tiga kilometer dari bibir pantai barat Pulau Muna. Itu ciri khas permukiman masyarakat suku Sama (Bajo) di Sulawesi Tenggara. Untuk ke Tapitapi kita harus naik perahu ketinting dari Desa Wadolao, 86 kilometer barat daya Raha, ibu kota Kabupaten Muna.

Pada saat air surut, muncul gundukan pasir cukup luas di sekitar perkampungan tersebut. Udu memulai usaha budidaya kerapu dengan caranya sendiri. Ia membuat kolam dengan menggali gundukan pasir tadi, lalu ditebari bibit ikan kerapu yang diambil dari alam.

Setahun kemudian ikan dipanen dengan total produksi 800 kilogram dan dia jual seharga Rp 10 juta. "Uang sebesar itu pada tahun 1993 masih tinggi nilainya," tutur Udu tentang panennya yang pertama.

Tumbuh kembali

Pendapatan sebesar itu merupakan hasil dari kolam percobaan berukuran 11 x 11 meter dengan kedalaman satu meter. Keempat sisi dinding kolam ditinggikan dengan bentangan jaring yang menempel pada tiang tancap agar ikan tak lolos keluar saat air pasang.

Udu yang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah, dan lahir di Tapitapi 58 tahun silam itu, makin bersemangat mengembangkan usahanya. Kolam yang pertama diperluas. Bibit kerapu yang dibudidayakan adalah yang berukuran panjang sekitar lima sentimeter.

Bibit tersebut diberi makan ikan-ikan kecil minimal sekali sehari. Dalam waktu 11-12 bulan, kerapu itu sudah layak panen dengan berat rata-rata mencapai enam ons setiap ekor. Menurut Udu, ukuran tersebut sudah masuk kelas super yang kini berharga Rp 20.000 per kilogram.

Satu hal yang menjadi perhatian ayah dari 13 anak itu ketika melakukan penggalian kolam adalah keberadaan bongkahan karang dalam timbunan pasir.

"Karang itu sudah mati, tetapi saya biarkan di dasar kolam sebagai tempat berlindungnya anak-anak kerapu," tuturnya.

Beberapa waktu kemudian tanpa disangka batu-batu karang itu tumbuh kembali. Kabar gembira itu segera disampaikan kepada tetangga dan sesama warga Desa Tapitapi.

"Setelah terumbu karang makin tumbuh dan berkembang, saya mulai mengajak warga ikut membuka usaha budidaya kerapu. Selain hasilnya cukup lumayan, budidaya kerapu ini mampu menghidupkan kembali terumbu karang yang sudah mati," ujar Udu.

Alhasil, dari sekitar 450 keluarga Tapitapi, 60 keluarga di antaranya bergabung dalam kelompok Samaturu. "Setiap peserta mengelola kolam budidaya seluas 11 x 11 meter," tutur Nggure (50), anggota kelompok itu.

Kejutan lain muncul di kolam budidaya kerapu, terutama di kolam milik Udu yang luasnya 10 hektar. Berbagai jenis ikan laut yang enak disantap, seperti baronang, kakap merah, dan ikan putih, kini berkembang biak alami bersama terumbu karang di kolam budidaya kerapu. Ikan-ikan ikutan itu menjadi sumber pendapatan tambahan.

Menangis di istana

Di dinding ruang tamu rumah Udu yang sederhana tergantung foto dirinya sedang bersalaman dengan Presiden Megawati Soekarnoputri. Peristiwa bersejarah itu berlangsung di Istana Negara pada 20 Januari 2004.

"Saya menerima piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Ibu Presiden," kenang Udu dengan mata berbinar. Piagam itu untuk Kelompok Samaturu yang dipimpinnya sebagai pemenang kedua lomba budidaya kategori Intensifikasi Budidaya Kerapu Tingkat Nasional Tahun 2003.

Udu mengungkapkan, saat sedang duduk di ruang pertemuan Istana Negara bersama undangan lain dari seluruh Indonesia untuk bertatap muka dengan Presiden Megawati, ia sempat tercenung dan meneteskan air mata. "Saya terharu mengingat saya ini nelayan miskin, tak punya sekolah, namun bisa menjadi tamu Presiden di Istana," ungkapnya.

Keberhasilan yang diraih suami Hajah Marawiah dan Waaba ini niscaya cukup bermakna sebagai pembudidaya kerapu dan berbagai jenis ikan konsumsi lainnya, dan yang lebih penting sebagai penyelamat terumbu karang.

Dari kedua istrinya itu dia dikaruniai 13 anak, empat di antaranya telah menyandang gelar sarjana. Beberapa anak Udu yang lain masih kuliah di Kendari serta bersekolah di SMEA negeri dan SD di Kota Bau-Bau.

Sumber : Kompas, Sabtu, 15 April 2006
Read Full 0 comments

Uha Juhari Terinspirasi Kambing

Jun 16, 2009
Uha Juhari Terinspirasi Kambing
Oleh : Her Suganda*

Matahari musim kemarau di Kampung Golempang tepat berada pada puncaknya. Di gubuk yang merangkap sebagai kandang kambing Uha Juhari berteduh. Sekeliling tanah garapannya yang sudah menjadi gurun ditanami pohon buah naga. "Bulan November nanti akan panen," ujarnya bersemangat.

Kampung Golempang terletak di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pemandangan di kaki selatan Gunung Tampomas (1.684 meter) itu ironis. Eksploitasi isi perut bumi kampung tersebut berupa pasir dan batu telah menjadikan daerah itu menyerupai mangkuk raksasa, dengan permukaan berupa kerikil dan batu belaka.

Luasnya mencapai ratusan hektar, bahkan mungkin mencapai seribu hektar. Bahan galian pasir dari daerah ini terkenal dengan nama pasir cimalaka. Penggalian bahan galian di daerah ini sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Karena lemahnya pengawasan, daerah itu lingkungannya hancur sehingga menyerupai gurun.

Tahun 1986 Uha Juhari kembali dari pengembaraan sebagai transmigran. Ia menyaksikan drama kerusakan lingkungan di daerahnya itu dengan perasaan getir. Di benaknya terbayang keadaan kampungnya di masa lalu. Golempang merupakan tempat kelahirannya, lebih dari 60 tahun lalu. Uha lahir Maret 1946. "Tahun 1940 sampai 1960, Golempang merupakan kampung yang banyak dihuni penduduk," kata Uha, mengenang masa kecilnya.

Sebagai seorang petani dan merasa masih memiliki sisa-sisa pengalaman melakukan Gerakan Gandrung Tatangkalan (Rakgantang), yakni sebuah gerakan penghijauan, hatinya merasa sedih. "Sebagai murid Mang Ihin, saya sangat prihatin menyaksikan daerah asal saya," katanya.

Mang Ihin adalah julukan akrab Solihin Gautama Purwanegara, mantan Gubernur Jawa Barat periode 1970-1975. Pada masa pemerintahannya, ia gencar melakukan penghijauan melalui Rakgantang yang melibatkan seluruh masyarakat Jawa Barat.

Dicemooh

Uha sama sekali tidak membayangkan dirinya bakal menjadi pendekar lingkungan. Pada mulanya, ia hanya ingin menebus kepedihan hatinya, ketika tahun 1987 membeli sebidang tanah seluas 100 tumbak (1.400 meter persegi). "Semua orang, termasuk keluarga saya, mencemoohkan," ujarnya. Mereka tidak habis pikir, untuk apa tanah yang sudah gersang itu dibeli.

Akan tetapi, tekad Uha sudah bulat untuk menghijaukan tempat kelahirannya. Daerah yang gersang itu kemudian ditanami pohon cebreng atau dadap inggris. Cebreng merupakan akronim dari bahasa Sunda, cleb artinya ditanam, kemudian breng berarti tunas-tunasnya muncul.

Uha mula-mula memelihara ayam. Kemudian ia beralih menanam semangka. Tetapi, hasilnya tidak terlalu bagus. Setelah panen, ia membawa hasil panennya ke Depok. Selama dua hari menunggui dagangannya, inspirasinya muncul tatkala melihat mobil-mobil pikap yang mengangkut kambing dari arah Bogor menuju Jakarta.

Ternak itu sangat mengganggu pikirannya. "Kambing?" Ia berpikir keras, mengapa tidak banting setir? Apalagi daun cebreng yang ditanamnya merupakan makanan yang disukai ternak kambing.

Dengan modal awal Rp 105.000 yang dia gunakan untuk membeli sepasang kambing pejantan dan betina, serta dua ekor lainnya yang dipelihara berdasarkan sistem paro dari petani lainnya, Uha memulai usahanya memelihara kambing sejak Februari 1994. Ternyata setelah dua tahun, jumlahnya sudah 35 ekor. Kini ternak peliharaannya sudah lebih dari seratus ekor. Lantaran banyak ternak peliharaannya, ia dijuluki "Uha Kambing".

Mengubah gurun

Cita-cita ayah lima anak dan kakek tujuh cucu ini bukan hanya menjadi peternak kambing. Dengan beternak kambing, ia berharap bisa mewujudkan impiannya sejak awal, yakni mengembalikan keadaan kampung asalnya yang sudah menyerupai gurun menjadi daerah yang hijau. "Saya ingin menyelamatkan tiga mata air yang masih terdapat di kampung ini," ujarnya penuh semangat.

Mengembalikan tingkat kesuburan tanah yang sudah rusak dan gersang bukanlah pekerjaan ringan. Sepanjang hari, Uha menghabiskan waktunya bekerja di bawah terik matahari yang menyengat, sehingga berpengaruh pada penglihatannya.

Selain cebreng yang dijadikan makanan ternaknya, lahannya ditanami sengon, jati, petai, avokad, dan beberapa jenis tanaman lainnya. Untuk memudahkan pertemuan dengan petani lainnya yang tergabung dalam Kelompok Simpay Tampomas, ia membangun balai pertemuan.

Berkat kerja keras yang tak kenal lelah selama lebih dari lima tahun, kini lahan miliknya seluas kurang lebih dua hektar sudah tidak segersang dulu lagi. Petani sederhana dengan cita-cita yang luhur itu berhasil mengajak dan menggerakkan petani lainnya sehingga keadaan serupa sekarang ini bisa kita jumpai pada lahan milik petani-petani lainnya yang menjadi anggota Kelompok Simpay Tampomas.

Pantas jika wilayah kampung tersebut dijadikan proyek percontohan rehabilitasi lahan kritis sehingga kelompok tani di desa itu memperoleh fasilitas dan pendampingan teknis serta kelembagaan dari petugas yang menangani rehabilitasi hutan dan lahan.

*Her Suganda Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat (FWP-JB)

Sumber : Kompas, Jumat, 28 Juli 2006
Read Full 0 comments

Unang & Eng Yanto : Merintis Relawan Gunung Gede

Jun 12, 2009
Merintis Relawan Gunung Gede
Oleh : Agustinus Handoko

Bencana alam bisa terjadi karena ulah manusia. Banjir bandang, misalnya, sering terjadi karena aksi pembabatan hutan yang tak terkendali. Keprihatinan atas masa depan hutan di Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat, pulalah yang membawa kakak-beradik Unang (46) dan Eng Yanto (39), sejak tahun 1984, menggerakkan warga sekitar dua gunung itu untuk peduli.

Eeng—panggilan Eng Yanto, dan Unang sejak tahun 1984 itu masuk-keluar desa di sekitar Gunung Gede-Pangrango untuk meyakinkan masyarakat bahwa hutan sangat penting untuk tetap dijaga kelestariannya.

Waktu itu, menurut Eeng, mulai terlihat gejala adanya pemanfaatan kayu-kayu hutan oleh masyarakat secara berlebihan dan mengarah kepada komersialisasi. Parahnya, hutan yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) itu tak dijaga kelangsungannya.

"Saya hanya berusaha meyakinkan masyarakat bahwa hutan itu bukan milik generasi sekarang saja, tetapi sampai generasi selanjutnya," ujar Eeng.

Berangkat dari upaya konservasi hutan di Gunung Gede- Pangrango ini, Eeng, yang mendapat dukungan penuh dari Unang, mengumpulkan beberapa teman pencinta alam dari organisasi yang berbeda untuk membuat wadah gerakan konservasi.

Pada tahun 1986, terbentuklah organisasi relawan pertama di Gunung Gede-Pangrango dengan nama Panthera. Pada tahun-tahun awal, Panthera memang memfokuskan kegiatan pada penyadaran masyarakat sekitar mengenai pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia.

Berbekal pengetahuan tentang konservasi dan pendampingan dari polisi kehutanan TNGP, Unang dan Eeng bersama anggota perintis Panthera melakukan penyuluhan kepada masyarakat sekitar hutan TNGP. Sambil melakukan pekerjaan rutin untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar hutan, Unang dan Eeng menggagas bagaimana caranya merekrut anggota-anggota baru Pangthera untuk meneruskan tugas-tugas penyuluhan dan konservasi.

Merekrut

Namun, akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa anggota Panthera tak perlu direkrut. "Waktu itu saya yakin bahwa kalau kegiatan kita bermanfaat, pasti akan ada yang tertarik untuk ikut bergabung. Orang-orang seperti inilah yang pasti akan militan," ungkap Eeng.

Menjaga kelangsungan kegiatan kesukarelawanan yang tak memiliki dana yang bisa diandalkan, memang tak mudah. Apalagi, kegiatan Panthera kemudian meningkat setelah diperoleh kata sepakat dengan Pengelola Balai TNGP pada tahun 1990 mengenai peresmian Panthera menjadi bagian dari konservasi di dalam taman nasional.

Setelah terjadi kata sepakat, Panthera diikutsertakan dalam upaya konservasi di dalam TNGP, dan menempati markas di dekat gerbang pendakian resmi melalui Pondok Halimun, Salabintana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Peningkatan kegiatan dari luar ke dalam hutan TNGP itu membawa konsekuensi pada pola penyuluhan. Semula, Eeng dan Unang hanya melakukan penyuluhan kepada masyarakat yang merasakan langsung dari keberadaan dan pentingnya hutan bagi masyarakat. "Kalau kita berbicara kepada orang yang merasakan manfaat hutan, itu lebih mudah dilakukan," kata Unang.

Namun, setelah menjadi bagian dari lembaga konservasi di dalam hutan, mereka kini harus berhadapan dengan para pendaki yang kebanyakan bukan masyarakat setempat dan tidak merasakan langsung manfaat hutan. Para pendaki yang sebagian pelancong, dan bukan pencinta alam itu, menjadi tantangan berat bagi upaya konservasi yang dilakukan oleh pengelola TNGP bersama Panthera.

Unang dan Eeng pun akhirnya kenyang merasakan pahit-getirnya bertemu dengan para pendaki yang senang bikin ulah. "Tak jarang, kami harus berkelahi dengan para pendaki yang tak bisa dikasih tahu aturan main naik ke Gunung Gede-Pangrango," tutur Unang.

Karena jalur pendakian lain yang diawasi oleh pengelola TNGP, yakni jalur Cibodas dan Gunung Putri di Kabupaten Cianjur juga menunjukkan peningkatan jumlah pendaki, Eeng berinisiatif mengajak relawan dari dua daerah itu untuk membentuk organisasi serupa. Montana terbentuk untuk berpartisipasi melalui jalur pendakian Cibodas, dan Gunung Putri Operation (GPO) melalui jalur pendakian Gunung Putri.

Beberapa tahun setelah dilibatkan dalam upaya konservasi, tiga organisasi itu diberi tanggung jawab baru untuk terlibat dalam search and rescue (SAR) saat terjadi musibah pada kecelakaan atau hilangnya warga di dalam TNGP.

Kepala Balai TNGP, Novianto Bambang Wawandono, pun mengakui bahwa kehadiran para relawan tersebut sangat membantu tugas para polisi kehutanan yang hanya berjumlah 68 orang, sedangkan wilayah TNGP yang harus diawasi mencapai 22.000 hektar.

Apa yang dipikirkan Unang dan Eeng pun benar. Banyak orang yang kemudian ingin menjadi anggota Panthera setelah menilai kehadiran organisasi itu positif untuk menjaga kondisi hutan TNGP. Tak sedikit anggota Panthera yang semula adalah "musuh" organisasi tersebut, yakni para pendaki nakal yang akhirnya sadar akan kesalahan mereka. Menurut Eeng, anggota yang berasal dari kalangan inilah yang kini justru menjadi motor Panthera setelah era kepemimpinan generasi pendiri mulai digantikan oleh generasi berikutnya.

Kini, upaya penyadaran atas pentingnya upaya konservasi kepada masyarakat sekitar hutan di Gunung Gede-Pangrango sudah membuahkan hasil. Masyarakat mulai terlibat aktif menjaga hutan dari perusakan. Hanya saja, banyak pekerjaan rumah yang masih menunggu organisasi sukarelawan di Gunung Gede-Pangrango ini.

Misalnya, mereka harus selalu mengingatkan pendaki yang suka memetik bunga edelweis atau menebang pohon untuk perapian di dalam kawasan TNGP. Selain itu, lahan masyarakat di luar taman nasional yang sedianya menjadi penyangga taman nasional, kini ada yang sudah beralih fungsi menjadi lahan sayuran oleh pemiliknya.

Eeng mengaku terus berupaya melobi sejumlah pihak yang terkait dengan tata ruang lahan. Upaya pendekatan pun sudah dilakukannya kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan masyarakat pemilik lahan agar menyisakan sedikit dari lahan yang kini menjadi ladang sayuran untuk ditanami dengan tanaman keras sehingga ketersediaan air bagi masyarakat tetap terjaga.

Unang, yang telah berkeluarga dan memiliki empat anak, sekarang hanya bisa berkumpul dengan para relawan TNGP saat libur dari bekerja di Singapura. Adapun Eeng yang berputra dua, hingga kini masih terlibat dalam kegiatan-kegiatan Panthera walaupun organisasi sukarelawan itu telah dipegang oleh anggota-anggota baru.

Sumber : Kompas, Senin, 11 September 2006
Read Full 0 comments

Umi Kalsum : Ngimbai, Pembawa Tari Rimba

Jun 7, 2009
Ngimbai, Pembawa Tari Rimba
Oleh : Irma Tambunan

Sebuah kehormatan bisa menyaksikan pagelaran tari rimba, seperti pengalaman Kompas. Pasalnya, tarian tersebut tak boleh ditampilkan di depan penonton yang bukan kalangan Suku Anak Dalam yang hidup di Taman Nasional Bukit Duabelas atau TNBD Jambi. Namun, malam itu, Ngimbai perempuan penari rimba membawakannya untuk kami, dengan ketulusan, dan kenangan akan masa lalu.

Ia tak tahu kapan persis tanggal lahirnya. Dia cuma yakin usianya telah melampaui 70 tahun. Dengan kusuk ia membawakan tariannya. Setiap gerakan diiringi nyanyi-nyanyian berbahasa rimba yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh pihak luar.

Dengan tubuh yang sangat kurus dan menyusut, ia tetap lincah menggerakkan secara dinamis kedua kaki, pinggang, tangan, sampai kepala. Lanjut umurnya tak mampu mengekang gelora hidupnya. Dan, gelora itu tersirat jelas saat ia membawakan seluruh rangkaian tari. Mulai dari tari layang, tari elang, dan tari tao yang biasa dibawakan mengiringi prosesi ritual pernikahan, serta tari-tarian dalam upacara besale—pengobatan bagi orang sakit.

Apa emak tidak takut kena masalah karena membawakan tarian untuk orang luar suku? "Tidak," ujarnya. "Saya sudah memutuskan keluar dari rimba, 12 tahun yang lalu. Tarian tadi bukan saya bawakan untuk ritual adat."

Selama itu pula perempuan yang menjadi istri seorang tumenggung di salah satu kelompok yang bernaung pada Suku Anak Dalam (SAD) ini, tak pernah menari lagi. Bisa dibilang, inilah untuk pertama kalinya setelah 12 tahun Ngimbai melepas kerinduan menarinya.

Dulu, selama dalam rimba, dirinyalah yang kerap memimpin tari-tarian, khususnya pada upacara menyambut bayi yang baru lahir. Kesempatan itu diperoleh karena dirinya berasal dari keluarga terpandang di kelompoknya.

Kemudian dengan alasan perut, Ngimbai bersama suaminya, Tumenggung Renguak, memutuskan keluar dari rimba. Mereka membawa empat dari lima anaknya. Sementara satu anaknya sampai kini masih tinggal dalam rimba.

Menurut dia, dulu mereka dapat menggantungkan kelangsungan hidup dari alam, yaitu dari hewan-hewan hasil buruan, atau buah-buahan. Hutan di TNBD saat itu masih menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warga suku pedalaman ini.

Namun, seiring maraknya penebangan pohon dalam taman nasional, ketidakseimbangan ekosistem telah mengakibatkan hewan-hewan buruan makin menghilang. Stok makanan semakin menipis. Dalam keadaan terjepit, keluarga Ngimbai, termasuk sejumlah keluarga lain suku SAD, memutuskan mengadu nasib keluar dari rimba.

Nasib baiklah yang membuat Ngimbai dan keluarganya kini telah memiliki rumah dari kayu, di Desa Sungai Keruh, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Salah satu lembaga swadaya masyarakat melakukan pendekatan agama dan pemberdayaan.

Ngimbai akhirnya memeluk agama Islam. Namanya berganti menjadi Umi Kalsum. Meski begitu, perempuan ini masih kerap dipanggil Ngimbai, atau emak sebagai sebutan untuk perempuan yang berusia tua.

Diajari nenek moyang

Usai menari malam itu, ia bercerita tentang pengalaman pertama kali diajari menari oleh nenek moyang, yaitu pada sekitar usia delapan tahun. Menjadi kebiasaan warga SAD untuk menari dan menyanyi bersama di tengah-tengah hutan, pada momen-momen tertentu. Pada perempuan yang telah menikah, kain hanya membalut tubuh bagian bawah, sedangkan bagian dada terbuka begitu saja.

Pada tari elang, Ngimbai mengartikan kalimat-kalimat berbahasa rimba yang ia nyanyikan, sebagai rangkaian pantun berbalas. Untuk tari memandikan anak yang baru lahir, nyanyian akan berupa mantra-mantra yang dimaksudkan doa supaya si bayi akan tumbuh menjadi anak yang baik kepada orangtuanya, dan diterima di masyarakat. "Ada satu orang yang memimpin nyanyian, lainnya semua ramai-ramai menari," tuturnya.

Maka, akan menjadi riuhlah hutan oleh tarian-tarian itu. Malah pada tari tao, tak hanya nyanyian dan tarian, kemeriahan itu ditambah dengan tepuk-tepuk tangan mereka.

Menjadi seni

Ngimbai sadar betul. Di dalam hutan rimba, tari-tarian ini menjadi ekspresi puji-pujian mereka kepada alam. Masyarakat SAD dalam hutan rimba di TNBD memang masih menganut animisme. Tarian dianggap sakral dan dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk melanggengkan penyampaian rasa syukur dan doa-doa.

Namun, bagi Ngimbai, ketika dirinya tak lagi menjadi warga rimba, maka tarian ini lebih dianggap sebagai ekspresi jiwa. Perempuan yang belum bisa membaca dan menulis ini mengatakan, tarian rimba yang dibawakan di luar rimba hanya menjadi sebuah karya seni.

Ia sendiri tidak lagi menari dengan selembar kain, dengan dada terbuka. Ngimbau sudah menggunakan jilbab sehingga tarian dibawakan dengan kain. Ia pun memanfaatkan selendang.

Di kalangan warga SAD yang telah keluar dari rimba, keterampilan menari ini tak lagi dimiliki. Di desa itu, tinggal Ngimbai yang masih fasih dengan nyanyi-nyanyian, lengkap dengan tariannya.

***
BIODATA

Nama: Umi Kalsum
Panggilan: Ngimbai (panggilan untuk perempuan yang dituakan).
Umur: Sekitar 70 tahun.
Suami: Tumenggung Renguak
Domisili: Desa Sungai Keruh, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi
- Sebagai penari, dia adalah pewaris tari rimba, seperti tari layang, tari elang, tari tao, yang di luar Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, tak ada yang menguasainya.

Sumber : Kompas, Selasa, 13 Februari 2007
Read Full 0 comments

Ugo Untoro dan Eksplorasi Seni Kuda

Jun 5, 2009
Ugo Untoro dan Eksplorasi Seni Kuda
Oleh : Ilham Khoiri

Berawal dari kesedihan akibat kuda kesayangan mati, Ugo Untoro (37) melahirkan berbagai karya seni rupa yang menyodorkan tragedi kuda. Totalitas, kekuatan gagasan, dan daya ungkap dalam karya-karya itu menempatkannya sebagai salah satu seniman yang menonjol di Indonesia.

Eksplorasi Ugo tentang dunia kuda itu dipamerkan dengan tajuk Poem of Blood di Galeri Nasional, Jakarta, 11-26 April. Memasuki ruang pameran, pengunjung disambut berbagai lukisan, instalasi, video, animasi, fotografi, atau obyek yang mengguncang. Maklum, semua karya tahun 2006-2007 itu memaparkan semacam biografi visual kuda yang tragis.

Karya berjudul The Last Race, misalnya, berupa seekor kuda tanpa kepala yang tersungkur mengenaskan di tengah landasan pacu. Karya lain, Trojan, berupa tubuh kuda yang mengisut sehingga tinggal kulit yang terhampar di lantai. Meski begitu, kaki kuda yang kempes dan lunglai itu masih terikat erat pada empat roda.

Pada The End of Badai, Ugo menyajikan kotak besar berisi pasir dengan beberapa tapal kaki kuda. Salah satu tapal itu terciprati darah kuda yang tewas. Poem of Blood berwujud 10 kulit kuda tanpa kepala yang digantung. Bagian punggung kulit kuda itu dicap berbagai kata, seperti sword (pedang), fire (api), soul (jiwa), atau tears (air mata).

Ditampilkan juga video penjagalan kuda, perangkat besi untuk mencap kulit, potongan kulit, kuda yang diawetkan, dan kerangka kepala kuda. Ada juga animasi sosok kuda serta rekaman suara derap dan ringkikan yang bisa didengarkan dalam lorong gelap.

Obyek-obyek yang tampak horor itu menggumamkan paradoks nasib kuda. Binatang itu setia melayani, bahkan mengantarkan manusia membangun peradaban selama berabad-abad. Namun, saat mesin industri makin canggih, kuda disingkirkan. Kuda yang cacat atau tua dibiarkan mati, atau berakhir di penjagalan.

Proyek Poem of Blood merangsang refleksi, betapa manusia yang terpasung nafsu berkuasa menjadi telengas terhadap makhluk yang setia melayaninya. Nasib tragis kuda adalah saksi bisu atas pengkhianatan manusia yang mengklaim diri sebagai modern dan rasional.

Totalitas

Poem of Blood menunjukkan totalitas berkesenian Ugo. Memelihara kuda sejak tahun 2003, dia kemudian kehilangan kuda kesayangannya, Badai Lembut. Saat mencari kuda baru di Pleret, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dia justru menemukan tempat penjagalan kuda yang tragis.

Ugo lantas melakukan studi mendalam tentang sejarah kuda. Dia bermain dengan pernah- pernik kuda, mulai dari kulit, tulang, cap besi, arena pacuan, jerami, arang, suara ringik kuda, penjagalan, sampai roda gerobak. Material itu diolah menjadi lukisan, fotografi, instalasi, video, animasi, atau ditata sebagai obyek yang utuh.

Tak terjebak dalam kegenitan estetis, semua material yang berhubungan dengan kuda justru hadir sebagai saksi, mengisahkan kejujuran yang mengagetkan. Pada titik ini, Ugo piawai meramu bahasa visual yang cukup segar dan meyakinkan.

Sebenarnya seniman asal Inggris, Damien Hirts, pernah mengejutkan dunia seni tahun 1990-an dengan membuat karya potongan tubuh kuda yang diawetkan dalam kaca. Namun, Ugo—berangkat dari pengalaman pribadi—tetap memiliki daya ungkap yang unik dan sedikit romantis.

Bergulat

Ugo terus bergulat mengeksplorasi gagasan dan visual seni rupa kontemporer. Dia tak larut dalam jebakan berbagai "isme" atau gaya, apalagi berkutat pada satu pendekatan visual demi mempertahankan cap identitas pribadi. Bagi dia, kualitas karya seni tak terletak pada media, teknik, atau bahan, melainkan bertumpu pada kekuatan gagasan.

"Seni lahir di ruang hampa. Ketika masuk dan berhadapan dengan material dan gagasan, saya seperti kesurupan. Saya bergulat dan bermain dengan melibatkan pikiran, jiwa, dan badan, tanpa tahu persis bagaimana hasil akhirnya," katanya.

Perjalanan kreatif Ugo tercermin dalam 11 kali pameran tunggal. Pameran di Bentara Budaya dan Galeri Cemeti, Yogyakarta, tahun 1995 dan 1996, contohnya, mengungkap corat-coret atau grafiti di jalanan secara unik. Pada pameran di Surabaya tahun 2001, dia membuat boneka dan catatan harian untuk anaknya yang menderita sindroma down. Dia melawan dominasi sejarah orang besar dengan merangkai tokoh wayang rakyat jelata yang tak dikenal dalam pameran di Nadi Gallery, Jakarta (2002).

Ugo kerap mengejutkan dengan loncatan eksperimen. Dia menulis cerpen pendek sekali (cerpenli) yang terdiri atas 3-4 paragraf. Temanya bermacam- macam, termasuk pengalaman pribadi. Dalam salah satu cerpenli, dia menulis dengan tengil: "Kukira, dulu, Muhammad Ali itu orang Indonesia."

"Saya suka berbagi cerita, tetapi tidak tahan menulis panjang. Kenapa tidak membuat cerpen yang pendek sekali?" katanya. Kumpulan cerpenli semacam itu dipajang Ugo dalam pameran Short-short Stories di Kuala Lumpur dan Singapura.

Menurut pengamat seni rupa, Enin Supriyanto, keberanian Ugo bereksplorasi sangat berharga di tengah banyaknya seniman yang merasa aman di comfort zone (zona nyaman) masing-masing sehingga hanya mengulang penciptaan karya lama.

Ugo tinggal di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, bersama istri, Trisni Rahayu (46), dan anaknya, Tanah Liat (9). Keluarga itu memelihara beberapa kuda yang jadi inspirasi seni. Begitu hormatnya pada kuda, bahkan pameran Ugo bertajuk My Lonely Riot di Bali (2006) dibuka seekor kuda bernama Si Putih.

"Saya naik Si Putih masuk ke ruang pameran. Kuda itu lalu saya tuntun untuk mendengarkan penjelasan tentang lukisan-lukisan yang dipajang," ujar Ugo.

Sumber : Kompas, Selasa, 17 April 2007
Read Full 0 comments

Ugi Sugriwa, Bersembunyi di Tempat Terang

Jun 3, 2009
Ugi Sugriwa, Bersembunyi di Tempat Terang
Oleh : Agustinus Handoko

Hujan kembali turun dan suhu udara makin dingin. Kabut menggantung di puncak-puncak bukit. Gemericik air berirama memecah kesunyian Kasepuhan Ciptagelar. Ugi Sugriwa Rakasiwi keluar dari imah rurukan atau tempat istirahat keluarga. Dia menyapa beberapa orang yang ingin menemuinya di teras, awal pekan kedua Desember.

Pembicaraan pun mengalir, sesekali menjadi serius, tetapi di kesempatan lain penuh tawa. Pemuda berusia 22 tahun ini mulai membiasakan menyebut diri abah, sebutan untuk orang-orang tua di lingkungan Sunda. Ketika itu Ugi masih lajang, tetapi dia harus disebut dan menyebut diri abah.

Abah Anom Ugi Sugriwa, begitu panggilannya. Sosoknya menjadi sangat sentral di Kasepuhan Ciptagelar, Kesatuan Adat Banten Kidul, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sepeninggal Encup Sucipta atau Abah Anom. Encup Sucipta yang menjadi sesepuh girang atau pemimpin adat Kasepuhan Banten Kidul meninggal dunia setelah menjalankan tugasnya selama 25 tahun. Maka, tongkat estafet ada pada Abah Anom Ugi.

Ema (Emak) mengungkapkan, Ugi tetap menggunakan nama Abah Anom meski dia masih muda dan belum menikah saat naik ke tampuk pimpinan adat, sama seperti almarhum Abah Anom. Pertengahan Januari 2008 Abah Ugi Sugriwa akan melangsungkan pernikahan dengan Destri yang berusia 19 tahun.

Dalam aturan adat Kasepuhan Ciptagelar, sesepuh girang harus segera melangsungkan pernikahan bila saat pengukuhan dia belum menikah. Ugi akan dikukuhkan menjadi sesepuh girang oleh baris kolot (para tetua adat). Namun, jauh hari sebelum Encup Sucipta meninggal, ia sudah minta pernikahan Ugi Sugriwa dilaksanakan pada Januari.

"Sempat muncul dalam hati, apakah saya sanggup memimpin adat dan menjalankan tugas dengan baik? Bebannya pasti berat," ujar Abah Anom Ugi Sugriwa. Pertanyaan itu muncul di hatinya beberapa bulan lalu, saat ayahnya secara tersirat minta dia melanjutkan kepemimpinan adat.

Saat itu Encup Sucipta bersama Ugi dan beberapa tetua adat sedang memilih jenis padi yang akan ditanam untuk memulai masa tanam adat. Dalam upacara melak pare atau menanam padi secara adat, pemimpin adatlah yang pertama kali menanam kemudian diikuti warga adat lainnya.

"Tahun depan, Aa Ugi yang harus melak pare," ujar Abah Anom Ugi menirukan ucapan almarhum ayahnya saat memilih padi yang akan mereka tanam. Kasepuhan Ciptagelar dan warganya hanya menanam padi setahun sekali sehingga upacara melak pare juga dilaksanakan setahun sekali.

Ugi sempat kaget mendengar ucapan sang ayah. Itulah ungkapan tersirat Encup Sucipta yang memilih Ugi memimpin adat sepeninggalnya. Perintah memimpin melak pare itu akhirnya dilaksanakan Ugi tahun depan.

Abah Anom Ugi Sugriwa harus memosisikan diri sebagai orang tua saat adat menjadikannya pemimpin kendati jiwanya masih merasa sebagai pemuda. "Kalau mau diikuti, sebenarnya saya masih ingin seperti pemuda lain. Namun, saatnya sudah tiba, saya harus berpikir jauh ke depan dan mengemban tugas dengan baik. Warga adat butuh panutan, saya harus mampu menjadi panutan mereka," ujarnya.

Belajar

Ugi kecil dibesarkan dalam adat istiadat ketat. Saat itu kasepuhan masih di Ciptarasa, belum pindah ke Ciptagelar pada 2001. "Baik buat kamu, jelek juga buat kamu," begitu Ugi menerjemahkan pola pendidikan ayahnya. Ugi diajarkan berpikir sendiri bahwa apa pun yang dilakukannya akan kembali kepadanya juga.

Sejak kecil Ugi menyadari dia anak tertua dari pemimpin adat yang memiliki 150.000 warga. Maka, kendati mengikuti arus anak-anak kecil seusianya, Ugi tetap belajar memegang adat. Salah satunya menghormati alam tempatnya berpijak. Sejak kecil pula ia menyadari, cara bertani yang dianut adatnya, seperti hanya menanam padi setahun sekali, adalah cara bertani yang bijak. Maka, hingga kini warga adat tak pernah kelaparan.

Ugi kecil adalah anak yang penasaran dengan hal baru. Saat dibelikan mainan dari kota, ia ingin tahu bagaimana mainan itu bisa berfungsi. Semua mainan yang dimiliki semasa kecil hancur karena keingintahuannya itu. Namun, dari situlah Ugi belajar. Sejak masuk sekolah menengah pertama, ia tertarik elektronika dan mempelajarinya secara otodidak.

Kampung Ciptagelar di rimba Gunung Halimun terisolasi dari komunikasi dengan dunia luar. Ugi memutar otak bagaimana caranya Ciptagelar terhubung dengan dunia yang lebih luas, dengan adat tetap dipegang.

Ia membuat pemancar radio yang menjadi media komunikasi satu arah dari adat kepada warga. Ugi memodifikasi pesawat telepon seluler agar mendapat sinyal di Ciptagelar dengan merakit antena yang frekuensinya disesuaikan dengan frekuensi seluler.

Ugi punya trik untuk menimba ilmu dari lingkungan di luar adat. Saat bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Warungkiara dan Sekolah Menengah Atas Cikembar, ia menyembunyikan identitasnya sebagai anak pemimpin adat.

"Dengan begitu saya bebas masuk ke semua kelompok. Bagi saya, tak ada untungnya menyebutkan identitas sebagai anak pemimpin adat. Orang tak akan terbuka karena takut saya melanggar adat," katanya. Ia merasa sedang bersembunyi di tempat terang. Bersembunyi untuk belajar.

Kini, Ugi sampai pada tahap paling menentukan dalam hidupnya. Dia harus bertanggung jawab atas masa depan warga adat yang tersebar di Banten, Bogor, dan Sukabumi. Warga adat juga tersebar di sejumlah kota hingga luar negeri.

Manajer jaipong

Dia membiayai sendiri pembuatan stasiun radio untuk alat komunikasi satu arah bagi adat dan memodifikasi telepon seluler.

"Abah Anom tak pernah memberikan modal sedikit pun untuk pembuatan stasiun radio dan modifikasi telepon seluler," cerita Ugi.

Dana yang dikeluarkan Ugi untuk radio dan telepon itu dikumpulkan dari uang saku saat dia sekolah. Selain itu, ia mengumpulkan uang dengan menjadi manajer kelompok jaipong milik adat.

Ia bercerita, pernah tak dipercaya Abah Anom saat memodifikasi telepon seluler agar bisa digunakan di Ciptagelar, yang saat itu tak ada satu pun sinyal provider yang tertangkap. Ugi bersikeras karena melihat teman sekolahnya memodifikasi pesawat yang sama. Saat modifikasi selesai, Abah Anom masih meledek dia.

Namun, sebulan berikutnya, pesawat telepon yang dimodifikasi itu justru menjadi barang kesayangan Abah Anom. "Beliau pernah berpesan, kalau telepon ini rusak jangan dibuang, disimpan saja," ujar Ugi.

Ia pernah ingin berkuliah ke Jepang untuk memperdalam ilmu elektronika. Namun, Abah Anom melarang, dengan alasan terlalu jauh dari adat.

***
BIODATA

Nama: Ugi Sugriwa Rakasiwi
TTL: Sukabumi, 16 Oktober 1985
Pendidikan:
- SD Linggarjati, Sukabumi, lulus tahun 1997
- SMP Warungkiara, Sukabumi, lulus tahun 2000
- SMA Cikembar, Sukabumi, lulus tahun 2003
- Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Sukabumi, tetapi tak sampai selesai

Sumber : Kompas, Senin, 24 Desember 2007
Read Full 2 comments

Ujang Kandar : Kerang Ujang Sampai ke Istana

May 29, 2009
Kerang Ujang Sampai ke Istana
Oleh : Josephus Primus

Ujang Kandar punya kesan tersendiri dengan perhelatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-63 Republik Indonesia di Istana Negara, Minggu (17/8). Bukan karena dirinya bisa menyanyikan dengan lantang lagu Indonesia Raya di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bukan pula karena sosok pria yang tampak sederhana ini bisa menyaksikan pengibaran Merah Putih langsung di depan mata. Soalnya, nyatanya, Ujang memang tak hadir di peringatan akbar itu.

Tapi, tengoklah suvenir kenang-kenangan untuk anggota pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) dan para guru yang bertugas di daerah-daerah terpencil yang malahan hadir saat upacara tersebut. Buah tangan itu berbentuk hiasan aneka ragam kulit kerang bertabur butiran-butiran pasir pantai berukuran sekitar 11 cm x 45 cm yang terbungkus anyaman dari tikar pandan. "Ada 350 suvenir yang dibagikan," begitu kata salah seorang staf Rumah Tangga Kepresidenan, Taufik, saat kompas.com menghubunginya melalui telepon genggam, pekan lalu.

Ujang bersama sekitar 40 orang kawannya yang tergabung dalam Himpunan Perajin Pangandaran (HPP) sejak Mei lalu memang sudah bekerja keras. Mereka menyortir kulit-kulit kerang terbaik yang layak dipamerkan di kediaman resmi orang nomor satu di republik ini. Bahkan, kelompoknya itu mesti mendatangkan kerang mata lembu yang tampilannya cantik itu dari Situbondo, Jawa Timur. "Di Pangandaran sini memang jarang ada sekarang," tuturnya.

Langkah Ujang berikut karya tangannya hingga ke Istana Negara sejatinya adalah hikmah dampak tsunami yang melanda pantai tujuan wisata di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat itu tiga tahun lalu. Persisnya pada 16-17 Juli. Menurut data Pusat Penanggulangan Bencana, sedikitnya ada 170 korban jiwa dalam kejadian itu. "Usaha kerajinan kami pun sempat hancur karena tsunami," kata Ujang sembari mengenang peristiwa itu.

Memulai usaha kembali adalah tantangan sekaligus kesempatan bagi alumnus SMA Negeri I Pangandaran ini. "Saya memang melanjutkan usaha bapak yang dulunya memang perajin kerang," imbuhnya.

Lebih maju ketimbang rintisan sang bapak, Ujang memang sengaja berhimpun membuat perkumpulan dengan sesama perajin sejak setahun lalu. Upaya yang berangkat dari kesadaran untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik ini, khususnya pascatsunami, memang membuat pengusaha skala kecil seperti Ujang memperoleh banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Menurut pengakuan Ujang, dari berkumpul bersama dengan sesama perajin, dirinya bisa saling bertukar pikiran untuk memperbanyak variasi desain suvenir. Kerja sama seperti itu pun membuka peluang untuk menemukan pemasaran baru.

Sudah begitu, racikan kreativitas para perajin mampu mendongkrak harga jual suvenir. Sekarang, untuk suvenir ukuran seperti disebutkan di atas, harga per unit bisa mencapai lebih dari Rp 59.000. "Makanya, senang juga saya, suvenir ini bisa sampai ke Istana," kata Ujang.

Selain kelompok Ujang, ada juga Himpunan Pedagang Asin Pangandaran (HPAP), Himpunan Wanita Pedagang Keliling (HWPK), dan Organisasi Pedagang Ikan Segar Pangandaran (PISP). Kelompok-kelompok itu mengelola sendiri peluang dan tantangan. "Dengan ikut kelompok saya bisa membantu keuangan keluarga," kata Paenah anggota HPAP yang sehari-hari berjualan ikan asin di seputaran pantai Pangandaran.

Ujang mungkin tak memungkiri kalau tanggal 17 Agustus 2008 adalah hari keramat baginya. Hari yang boleh jadi justru makin menyentuh rasa di sanubari hatinya karena di bawah spanduk berlogo angka 63 berikut semboyan “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, Serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global”, harapan agar pemerintah makin menaruh perhatian kepada rakyatnya yang terbukti tahan terhadap goncangan badai bencana tak lagi berhenti di susunan kata. Tapi, kian jadi nyata. Semoga!

Sumber : Kompas, Sabtu, 16 Agustus 2008

Read Full 0 comments

Ummu Masmu'ah, Mengubah Limbah Peti Kemas Menjadi Emas

May 28, 2009
Mengubah Limbah Peti Kemas Menjadi Emas
Oleh : Ani

MENJADI ibu rumah tangga tak melulu harus menghabiskan seluruh waktunya di dapur. Sambil mengurus suami dan dua anaknya, Ummu Masmu'ah pemilik PT Haula Sejahtera menjalankan bisnisnya memproduksi mainan edukasi yang mampu menghasilkan miliaran rupiah.

Sejatinya, dulu Ummu sempat mengajar mata pelajaran Bahasa Jepang untuk Sekolah Menengah Kejuruan Pariwisata di Jakarta Utara. Namun, konsekuensinya dia harus tinggal berjauhan dengan suaminya, Sholahudin Fuadi yang bekerja di pabrik tekstil di Ciracas, Jakarta Timur. Sedangkan Ummu sendiri tinggal di rumah orang tuanya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. "Saya stres, akhirnya saya putuskan berhenti mengajar," kata Ummu.

Pilihan memproduksi mainan bertema edukasi dia jalani setelah berhenti berkarier. Semula, Ummu merasat kesulitan memperoleh mainan bermuatan edukatif di pasar untuk anaknya. Kalaupun ada, harganya selangit karena harus didatangkan dari luar negeri. "Mainan yang ada dipasar tidak ada memberikan tantangan lebih untuk anak saya," kata Ummu.

Karena itu, tahun 1998 Ummu berinisiatif membuka usaha pembuatan mainan edukasi. Ummu merintis usaha ini dengan modal Rp 400 ribu yang digunakannya untuk membeli peralatan, bahan baku, dan menjalin kerjasama dengan perajin kayu di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Dia membagi produknya menjadi dua, yakni kayu dan non kayu.

Divisi non kayu memproduksi boneka dan buku. Sedangkan untuk divisi kayu, dia memanfaatkan kayu limbah peti kemas untuk dijadikan mainan. Kini, usaha bermodal Rp 400 ribu ini telah menjelma menjadi bisnis miliaran rupiah. Ummu mendapatkan limbah peti kemas di dekat tempat tinggal orang tuanya, di kawasan Tanjung Priok. "Prinsip saya adalah selama pelabuhan masih buka, Haula Toys tidak akan kekurangan bahan baku kayu," kata Ummu.

Pemanfaatan kayu peti kemas memang menguntungkan karena bisa memangkas biaya bahan baku sekitar 30-50 persen dibandingkan jika menggunakan kayu baru dari pemasok. Kayu limbah ini akan dibuat menjadi mainan berbentuk puzzle, mobil, kereta api, sempoa, bongkar pasang, hingga alat bantu ajar untuk lembaga pendidikan.

Untuk menjaga produknya, Ummu hanya menggunakan cat berbahan nontoxic dan memakai bahan kayu jenis MDF yang tidak memiliki serat.Selain produk dari kayu, Haula Toys juga dikenal sebagai produsen berbaju muslim dan boneka peraga dengan kelamin, pesanan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Selain itu, Ummu juga menerima pesanan secara khusus (customized) dari konsumen individual dan lembaga pendidikan. Kini, Ummu memiliki 30 karyawan dengan omzet rata-rata lebih dari Rp 150 juta per bulan. Sepanjang tahun 2007 lalu, Ummu mampu mengantongi penghasilan perusahaan hingga Rp 2 miliar.

Saat ini, aktivitas Ummu tak hanya membuat mainan. Bersama suaminya, dia juga aktif menjadi pembicara dan trainer di sejumlah pelatihan kewirausahaan.

=======================================

PT Haula Sejahtera
Rukun Permata Jatinegara,
Jl.Bekasi Timur IX No.17/5, Rawa Bunga Jakarta Timur,
021-85913302

Sumber : Kompas, Selasa, 14 Oktober 2008

Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks