HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label K. Show all posts
Showing posts with label K. Show all posts

Komalasari, Belut untuk Pemberdayaan Petani

Jun 29, 2009
Komalasari, Belut untuk Pemberdayaan Petani
Oleh : Evy Rachmawati

Para petani puas dengan menangkap belut untuk dikonsumsi sendiri, tetapi Komalasari (49) mengolahnya sehingga bernilai ekonomis tinggi. Kini ia dikenal sebagai perintis usaha pengolahan belut yang sukses di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Produknya dikenal luas di sejumlah daerah di provinsi itu.

Setiap hari Komalasari beserta para anggota kelompok usaha pengolahan ikan Flamboyan yang dipimpinnya membutuhkan 100 kilogram belut segar untuk menghasilkan 10 kilogram produk jadi. Omzet penjualannya mencapai Rp 41,6 juta per bulan. Harga dendeng belut goreng berkisar Rp 90.000 per kg, sedangkan harga dendeng mujair goreng Rp 50.000 per kg.

Mereka terus menambah variasi produk. Kini terdapat 12 jenis produk pengolahan belut yang diproduksi, di antaranya belut dendeng, belut tepung, belut balado, belut pepes, belut kerupuk, belut santan kari, dan abon. Belut juga diolah dalam bentuk jamu atau kapsul.

Proses pembuatan produk pengolahan belut itu relatif sederhana. Untuk membuat dendeng belut, misalnya, daging ikan itu dibedah dan dibersihkan kotorannya. Setelah dikeringkan, daging belut itu lalu dibumbui dengan lengkuas, gula, bawang putih, dan beberapa bahan masak lainnya. Daging belut yang telah dibumbui itu kemudian dijemur sampai kering. “Belut yang akan diolah harus segar, sehingga bisa awet sampai beberapa bulan," tutur istri dari Zaenal Abidin itu.

Melalui usaha pengolahan belut itu, Komalasari mampu menggali potensi persawahan dan memberi lapangan kerja bagi para petani kecil dengan cara menampung hasil penangkapan belut yang dilakukan secara tradisional. Oleh karena itu, ia dipercaya menjadi ketua kelompok usaha “Flamboyan" yang beranggotakan 190 orang dan terdiri dari enam kelompok tani.

“Saya ingin meningkatkan pendapatan para petani agar bisa menyekolahkan anak-anak mereka," tutur ibu dari tiga anak ini.

Sukses itu membuatnya mendapat sejumlah penghargaan di tingkat nasional dan Jawa Barat. Pada tahun 1997, ia mendapat penghargaan Lencana Keluarga Berencana, karena mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga di daerahnya melalui pengembangan usaha pengolahan belut.

Ia diminta mengajar di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, dan memberikan ceramah mengenai usaha pengolahan ikan tawar di berbagai seminar kendati tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang teknologi pangan. Banyak mahasiswa dan pelaku usaha menimba ilmu di tempat usaha “Flamboyan" dengan cara magang.

“Belut itu sangat bermanfaat bagi kesehatan," kata perempuan kelahiran Cianjur, 21 Mei 1955, ini. Selain mampu menguatkan daya tahan tubuh, ikan berbentuk menyerupai ular itu juga menormalkan tekanan darah, menghaluskan kulit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingat, dan mencegah hepatitis. Kepala belut jantan membantu meningkatkan hormon vitalitas pria dan menghilangkan pegal-pegal pada pinggang.

Komalasari mengenal belut sejak usia dini dengan membantu orangtuanya membuat dendeng belut. Lulus dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri (SMEAN), ia bekerja sebagai tenaga pembukuan. Ia berpindah tempat kerja beberapa kali. “Waktu itu kan masih jarang orang yang sekolah sampai SMEA. Jadi, saya bisa dengan mudah kerja di perkantoran seperti bank maupun perusahaan swasta," ujarnya.

Meski bergaji lumayan besar, pada tahun 1980-an ia berhenti bekerja dan terjun langsung mengurus usaha keluarga di bidang pengolahan belut itu. Ia melanjutkan usaha keluarga yang telah berjalan selama puluhan tahun itu.

Setelah berjuang keras memasarkan produk pengolahan belut, hasil kolam miliknya tidak mampu memenuhi kebutuhan produksi, sehingga harus dipasok oleh sejumlah tengkulak. “Saya jadi ingin melibatkan warga sekitar dalam usaha pengolahan belut, karena selama ini masyarakat hanya menjadikan belut sebagai makanan tambahan," ungkapnya.

Pada tahun 1989, keinginan itu terwujud ketika ia aktif menjadi kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) dan Keluarga Berencana (KB) lestari di lingkungan rumahnya. Berawal dari kegiatan penyuluhan kesehatan, ia mengajak para ibu rumah tangga itu untuk terlibat dalam pembuatan dendeng belut sehingga dapat menambah pendapatan rumah tangga. “Saya ingin agar mereka bisa mandiri," ujarnya.

Kediaman sekaligus tempat usahanya yang terletak di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, hampir tiap hari dipadati para ibu rumah tangga. Setiap kali mengikuti pelatihan teknologi pangan di berbagai tempat, ia berbagi ilmu kepada mereka.

Komalasari mendatangi para buruh tani dan meminta mereka untuk menangkap belut di sela-sela kegiatan bercocok tanam. “Saya kasih dulu uang muka pembelian belut yang masih dalam kondisi segar," tuturnya.

Semula hanya sepuluh petani yang bekerja sama dengannya dalam bidang pengadaan belut segar. Pada 21 Mei 1990, Komalasari membentuk kelompok usaha pengolahan belut “Flamboyan" yang beranggotakan 20 petani kecil. Kelak jumlah anggotanya lebih dari 100 petani. Nama “Flamboyan" dijadikan label dagang produk pengolahan ikan mereka.

Para penggarap sawah ini memperoleh tambahan penghasilan dengan menjual bibit dan belut segar. Mereka menangkap belut hingga lebih dari empat kg per hari, dengan harga berkisar Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kg.

Komalasari mendidik mereka untuk. Setiap kali menerima setoran belut, ia menyisihkan sebagian hasil penjualan belut itu ke dalam tabungan masing-masing petani. Uang tabungan itu hanya bisa diambil ketika terdesak kebutuhan dan untuk biaya pendidikan anak.

Para ibu rumah tangga selain membuat dendeng belut dan aneka jenis produk pengolahan perikanan, juga membuat berbagai jenis makanan ringan. Hasil produksi mereka dipasarkan bersama di satu toko di tepi Jalan Raya Sukaraja, Sukabumi.

Kini Komalasari mengembangkan usaha serupa yang melibatkan masyarakat daerah lain di Sukabumi seperti Cisaat. “Kami berharap bisa memiliki showroom dan mobil operasional untuk memasarkan hasil produksi," tuturnya. (EVY RACHMAWATI)

Sumber : Kompas, Jumat, 1 April 2005
Read Full 0 comments

Ko Houw Houw : Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten

Jun 28, 2009
Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten
Oleh : MH Samsul Hadi

Sebagai Ko Houw Houw, ia tak dikenal. Namun, jika Iwan Nit-Net (40) yang disebut, warga Kampung Pamarican di Banten Lama hingga orang Baduy Dalam di Kampung Cibeo sekalipun akrab.

BERBEKAL kamera, ia suka keluar masuk kampung untuk mencatat dan merekam berbagai informasi seputar budaya Banten. Akibat hobinya itu, anak tunggal pasangan Ko Kian Hoe-Tjioe Lan Eng ini pernah dijuluki "China Edan".

"Saya bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari," tutur Iwan. "Saya kumpulkan data-data kesenian tradisional dan budaya Banten, mumpung orangnya (pelaku kesenian) masih ada."

Dokumentasi kesenian tradisional dan budaya Banten itu berupa catatan-yang juga ia simpan di komputer usang berperangkat Pentium 3-selain foto, rekaman kamera, dan barang antik. Semua terserak di ruang kerja yang sempit pada lantai dua rumahnya di Jalan Diponegoro, Kota Serang.

ADA juga tumpukan koran lama yang menyentuh langit-langit rumah. Tersimpan juga beberapa barang antik seperti Jejodog (tempat duduk) karya pahatan pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) yang diabadikan dalam lukisan Aku dan Istriku di Lonceng Kedua.

"Waktu aktif di lingkungan seni kampus, saya kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Orang-orang sini pun ketika ditanya soal itu, banyak yang tidak tahu," papar pria bernama lengkap Muhammad Iwan Subakti Koharjaya soal awal mula minatnya pada dokumentasi budaya Banten.

Sejak itulah ia berkelana dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Banten. Ia bertemu kiai, tokoh pendekar, hingga para kokolot (tokoh adat). Asal-usulnya yang keturunan Tionghoa tidak menghambat interaksinya dengan mereka.

Ia mampu menjalin persahabatan dengan Jaro Karis, tokoh jawara karismatik dari Lebak, sejak tahun 1985 dan sejumlah kokolot Baduy sejak tahun 2001. "Tidak benar kalau orang Banten fanatik. Kuncinya adalah komunikasi yang kita bangun," kata pria kelahiran Bandung, 23 November 1965, itu.

Iwan juga mengumpulkan benda-benda cagar budaya. Data tentang budaya Banten dan benda-benda cagar budaya tersebut menjadikan rumahnya seperti "bank data" budaya Banten.

Benda cagar budaya itu berupa gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno buatan Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Eropa. Sebagian dari benda-benda itu diserahkan pemiliknya karena bosan atau ingin ada yang merawatnya.

"Sebagian benda-benda tersebut masih disimpan pemiliknya sampai saya mempunyai mitra untuk membuat sebuah tempat penyimpanan," ujar Iwan. Ia bercita-cita benda-benda cagar budaya itu kelak mengisi museum daerah Banten, yang tengah dia rintis bersama rekan-rekannya.

"Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah tangan, berpindah tempat bahkan hingga ke luar negeri. Ini sangat merugikan Banten yang kelak sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten," kata ayah dari Mimosa Pudica Koharjaya (11), hasil perkawinannya dengan wanita asli Serang, Lia Mulyasih (35).

MINAT Iwan pada dokumentasi budaya Banten terbangun sejak ia masih di sekolah dasar. Saat itu ia sering diajak berkeliling ke berbagai tempat oleh ayahnya, Ko Kian Hoe (72) alias Sianfu atau Chemy SNF, wartawan dan pendiri majalah bulanan Oetoesan Banten, media cetak pertama di Banten setelah Indonesia merdeka, yang terbit tahun 1954.

Berbekal kamera yang dibelikan ayahnya waktu itu, ia mulai mengasah kemampuannya di bidang fotografi. Sebagian koleksi fotonya tentang budaya Banten telah dimuat di beberapa media cetak. Berkat kekayaan data-datanya, jebolan Fakultas Teknik Sipil Sekolah Teknik Tinggi Tirtayasa Cilegon tanpa ijazah itu dipercaya menggarap Menara Banten, majalah bulanan yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten, tahun 2003-2004.

Iwan sering didatangi mahasiswa yang menyusun skripsi tentang Banten maupun wartawan yang memerlukan foto-foto itu. "Semua itu saya berikan secara gratis dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.

Foto-foto mengenai budaya Banten tidak dia jual, kecuali kepada perusahaan, seperti kepada PT Angkasa Pura II yang membeli 50 lembar foto berukuran 10R untuk dipasang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Ia sering diminta memandu para pemburu khazanah budaya Banten. Beberapa peneliti di Badan Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Universitas Leiden (Belanda), Universitas Kyoto (Jepang), dan Pusat Kebudayaan Jepang juga sering mengontaknya untuk berdiskusi soal budaya Banten.

SEPERTI diakuinya, Iwan telah keluar dari stereotip tentang keturunan Tionghoa: piawai berbisnis, kurang peduli sekitar, dan pasti kaya raya. Berkali-kali usahanya gagal, mulai dari layanan jasa desain, perusahaan furnitur, hingga usaha warnet. Tidak ada peninggalan dari bekas usahanya kecuali nama "Nit-Net" yang dikutip dari nama warnetnya.

Selain menekuni jalur budaya, ia juga aktif dalam Yayasan Seng Pho-bergerak di bidang pendidikan dan dokumentasi sejarah-di mana ia menjadi salah satu pendiri dan sekretarisnya.

Iwan menggalang komunitas Wong Banten sebagai basis gerakan untuk membentuk karakter masyarakat lokal, dengan jaringan para warga Banten yang tersebar hingga ke luar negeri. Komunitas itu berupaya menggali identitas budaya lokal, yang hingga 4,5 tahun setelah Provinsi Banten berdiri, masih menjadi tanda tanya.

Belakangan ini ia mulai menggarap komunitas pertanian dengan menawarkan pupuk gratis kepada para petani sebagai uji coba meningkatkan produksi padi. "Jika produksi padi mereka meningkat lebih dari satu ton, petani memberikan gabahnya 50 kilogram yang dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan," tuturnya.

Dengan begitu, Iwan ingin membuktikan: bergerak di jalur budaya bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, teoretis, dan elitis. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bagaimana mau bicara soal character building plan jika perut masih kosong." (MH SAMSUL HADI)

Sumber : Kompas, Kamis, 14 April 2005
Read Full 0 comments

Komang Jati, Berawal dari Berdagang Keliling

Komang Jati, Berawal dari Berdagang Keliling
Oleh : Frans Sarong

MENYEBUT produk kerajinan perak Bali, hampir bisa dipastikan berasal dari Celuk, Kabupaten Gianyar. Di Bali, Celuk memang dikenal sebagai pusat usaha kerajinan perak. Bayangkan saja, sekitar 90 persen penduduknya bekerja sebagai perajin perak. Lebih dari 500 keluarga itu, di antaranya perajin sekaligus pemilik usaha kerajinan perak di kawasan tersebut.

KOMANG Jati (46) adalah salah satu dari kelompok 500 keluarga tersebut. Ia adalah pemilik usaha kerajinan perak bernama Anna Silver yang berlokasi di tepi jalan pendukung, di sekitar Banjar Cemenggaon, Celuk. Sosok perusahaan milik ayah tiga anak ini termasuk kelompok strata atas, setidaknya untuk kawasan Celuk. Salah satu indikatornya, omzet yang mencapai Rp 400 juta-Rp 450 juta per bulan.

Pengusaha yang mengaku tidak tahu tanggal lahirnya karena berasal dari keluarga bersahaja ini pernah mengikuti pameran perhiasan perak tingkat dunia, seperti di Hongkong, Dubai, dan sejumlah kota di negara lain. "Menggeluti usaha kerajinan seperti ini (perak) secara tidak langsung memaksa kita harus memiliki akses kuat dan luas dengan dunia internasional. Dorongan itu sepenuhnya karena usaha kerajinan ini dipastikan berorientasi ekspor," ujar suami dari Ni Ketut Sutiarini itu.

Komang Jati menyebut perusahaan kerajinan perak di Bali masih perlu belajar banyak, terutama dari akses pemasaran, mutu produk, serta aspek pelayanan. "Sejauh ini kita selalu kalah bersaing dengan Thailand. Buyer (pembeli) dari Amerika atau negara-negara Eropa biasanya ke Thailand dulu baru ke Bali. Kita harus bangkit, namun untuk itu perlu dukungan permodalan yang memadai hingga perkembangan usaha selain bisa tumbuh sehat, juga mampu bersaing dengan Thailand," katanya.

DARI percakapan santai di tempat usahanya di Celuk, juga terungkap bahwa Komang Jati ternyata berbeda dengan rekan pengusaha di bidang sama lainnya. Mereka yang menggeluti dunia bisnis jarang menyisakan kepedulian untuk bidang usaha bersifat nirlaba. Komang Jati justru berada di antara dua kutub itu. Ia pengusaha kerajinan perak, tetapi juga pemilik sekaligus pengelola TK dan SD yang dibangun di atas lahan miliknya di Celuk.

"Kalau TK sudah operasional sejak tahun ajaran 2003/2004, dan saat ini mengasuh 97 anak. Sementara SD-nya sedang menunggu proses perizinan dari pihak berwenang," katanya. Seperti disaksikan, gedung SD dengan enam ruang kelas sudah siap digunakan lengkap dengan kursi dan meja sekolahnya. Yang sedang dalam proses perampungan adalah pembenahan taman halaman depan sekolahnya.

Mengapa dan bagaimana Anda membangun dan mengelola sekolah yang adalah usaha nirlaba? Atas pertanyaan itu, Komang Jati secara terus terang mengungkapkan bahwa dirinya juga adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) dan berprofesi sebagai guru di SMP Negeri I Sukawati, Gianyar.

Lebih dari itu-sebagaimana digambarkan Komang Jati-ia berkeyakinan bahwa kebahagiaan hidup itu sesungguhnya bukan dari harta berlimpah. "Bagi saya bersama keluarga, kebahagiaan itu justru bersumber dari amal menolong sesama, termasuk membantu mereka yang kesulitan mencari sekolah jauh-jauh atau terus berupaya membuka lapangan kerja, setidaknya bagi masyarakat sekitar," tuturnya.

Komang Jati sendiri mengakui bahwa dirinya sejak kecil bercita-cita menjadi guru. Setelah tamat SMA, anak ketiga dari tujuh bersaudara itu lalu mengikuti program studi D1 (diploma) Matematika di Unud Denpasar. Tamat tahun 1979, ia langsung diangkat menjadi PNS dan bekerja sebagai guru di SMP tersebut. Tidak puas dengan tingkat pendidikan D1, Komang Jati kembali ke bangku kuliah mengikuti program D3, dan hingga tamat tahun 1997, lalu gelar S1 berhasil diraihnya tahun 1999.

"Membangun sekolah ini selain atas semangat membantu sesama, juga karena naluri guru saya tidak terkikis oleh kegiatan bisnis," lanjut Komang Jati yang kini menjabat Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri I Sukawati.

Terkait dengan posisinya, tidak jarang ia harus melayani tamu pejabat dari kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan dari Jakarta. Kecuali saat-saat seperti itu, mobil Mercedes Benz miliknya baru keluar sekadar melayani tamu pejabat. "Memang tidak jarang terjadi semacam kekakuan yang mengganggu, namun semuanya kemudian mencair setelah dijelaskan kalau saya juga berbisnis," katanya sambil tertawa.

APA pendorong hingga kemudian menggeluti usaha bisnis? Komang Jati lagi-lagi mengungkapkan, ia sejak kecil bercita-cita menjadi guru. Selain itu, ia juga berbakat mengukir. Sementara dunia bisnis baru dirambah sejak tahun 1984, awalnya sebagai upaya menghadapi tuntutan hidup, juga atas dorongan istri, Ni Ketut Sutiarini.

Menurut kisahnya, pasangan Komang Jati dan Ni Ketut Sutiarini menikah tahun 1983. Karena Sutiarini juga PNS, yang untuk tahun pertama punya tugas wajib di Timor Timur selama setahun (1984), berarti pasangan pengantin baru ini terpaksa pisah ranjang selama setahun. Sutiarini baru kembali bersama suaminya di Celuk tahun 1985.

Tuntutan hidup pasangan keluarga baru ini bebannya terasa bertambah setelah anak pertama mereka lahir tahun 1984. Tidak cukup hanya mengharapkan gaji, Sutiarini lalu mendorong suaminya agar mulai berbisnis. Atas dorongan ini, Komang Jati lalu mendatangi sebuah usaha kerajinan perak milik keluarga di Celuk. Kunjungan kali ini dengan maksud khusus menawarkan diri sebagai pedagang keliling hasil kerajinan perak dari perusahaan keluarga tersebut.

Perusahaan keluarga mengabulkan dan Komang Jati pun mulai menjajakan perhiasan perak ke kawasan Kuta dan Nusa Dua. Pekerjaan itu biasa ia lakukan selepas sekolah dan juga pada hari Minggu atau hari libur. Melalui kegiatan barunya itu, ia kemudian berkenalan dengan Yusuf, pemilik Art Shop kerajinan perak di Kuta. Ternyata perkenalan dengan Pak Yusuf inilah yang menjadi pembuka langkah baru perjuangan Komang Jati selanjutnya.

"Pak Yusuf sering memberikan order kepada saya. Order itu kemudian saya serahkan ke perusahaan keluarga. Lama- lama saya cari sendiri perajin dan ternyata mulai memberikan penghasilan lebih. Sejak tahun 1984-1985 itulah saya mulai bekerja selain sebagai guru, juga bisnis usaha kerajinan perak," kisahnya.

Kini perusahaannya melibatkan 95 perajin. Mereka tersebar di Celuk (Bali) serta Lumajang, Bangil, Malang, dan Mojokerto (Jawa Timur). Seakan mewakili rekan-rekannya, Komang Jati mengatakan bahwa kalangan pengusaha kerajinan perak di kawasan Celuk dan sekitarnya di Bali kini menunggu realisasi bantuan kredit sebagaimana sering dijanjikan pemerintah. (FRANS SARONG)

Sumber : Kompas, Jumat, 29 April 2005
Read Full 0 comments

Kyoko Funada : Bahasa Indonesia Lebih Maju

Kyoko Funada: Bahasa Indonesia Lebih Maju
Oleh : TD Asmadi*

SUDAH empat kali ini dia mengikuti Pertemuan Majelis Bahasa Brunei, Indonesia, dan Malaysia. Pertama di Makassar tahun 2002, lalu di Brunei Darussalam tahun 2003, kemudian di Kuala Lumpur tahun 2004, dan terakhir bulan Maret lalu di Mataram, Lombok. Tidak jarang dia mengikuti pertemuan lain, yang berkaitan dengan bahasa di kawasan Asia Tenggara ini.

KYOKO Funada, perempuan separuh baya itu, aktif mencatat apa saja yang dilontarkan pembicara. Katanya, "Saya sedang menyusun disertasi tentang bahasa Melayu dan bahasa Indonesia."

Dia sedang berusaha memperoleh gelar doktor dari Universitas Waseda di Jepang. Topiknya berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Malaysia dalam bidang bahasa, dengan kajian utamanya sosiolinguistik.

Yang akan ia bahas dalam disertasi itu antara lain tentang peralihan ejaan bahasa Indonesia dan Malaysia yang terjadi tahun 1972. Juga tentang Kongres Bahasa Indonesia I, II, dan III, yang ia nilai telah memberi sumbangan yang besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Dia juga akan membahas pekerjaan lembaga bahasa resmi yang ada di kedua negara, serta peran Majelis Bahasa Brunei, Indonesia, dan Malaysia atau Mabbim.

Untuk tujuan itu, dia kadang-kadang berada di Malaysia, menimba ilmu di University of Malaya, universitas tertua di negeri jiran ini. Di sana dia memperoleh gelar masternya. Tentang mengapa sosiolinguistik, Kyoko menerangkan dia tertarik dengan bidang itu karena ketika di Universitas Indonesia dia belajar di bawah Prof Dr Harimurti Kridalaksana. "Pengaruh beliau sangat besar pada saya," katanya menambahkan.

PERGAULANNYA dengan bahasa Indonesia sudah lebih dari seperempat abad. Atas saran sang ayah, Zuichi Kitano-seorang bekas tentara Jepang yang pernah bertugas di Indonesia-selepas sekolah menengah tahun 1972 ia memilih Jurusan Bahasa Indonesia. Ia menjalaninya di Universitas Bahasa Asing Tokyo atau Tokyo Gaikokugo Daigaku.

Lulus tahun 1976 ia ke Jakarta menjadi mahasiswa pendengar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sampai tahun 1977. Tahun 1980 dia kembali ke Jakarta dan menjadi mahasiswa penuh.

Dia tinggal di Jalan Ophir, Mayestik, Kebayoran Baru. Dia pun mulai menyukai makanan Indonesia meski yang paling disukainya tetap saja yang ada "hubungannya" dengan makanan di Jepang: bakso. "Ya, itulah makanan kesukaan saya waktu mahasiswa," ujarnya.

Sampai kini ia masih menjalin hubungan baik dengan sejumlah teman karib semasa mahasiswa, seperti Emma Madjid (wartawan Nirwana), Mujizah (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional), Alma Mandjusuri (copy writer), Sri Yuniasih Rahayu (ibu rumah tangga), atau Cucu (Balai Pustaka).

Kembali ke Jepang dia mulai mengajar bahasa Indonesia. Tahun 1984 dia mengajar di Nihon University (Nihon Daigaku) dan setahun kemudian di Asia University (Asia Daigaku). Beberapa tahun kemudian dia mengajar di Keio University (Keio Daigaku). Kini dia menjadi dosen tetap di Kanda University of International Studies (Kanda Gaigo Daigaku), Asia University, dan Waseda University (Waseda Daigaku).

Dia juga mengarang buku-buku bahasa Indonesia. Lima judul telah dihasilkannya, yaitu Yasashii Shoho no Indonesia-go (Bahasa Indonesia yang Mudah Dipelajari untuk Pemula), Yasashii Indonesia-go no Kimarimonku (Idiom Bahasa Indonesia yang Mudah Dipelajari), Hajimete Manabu Indonesia-go (Bahasa Indonesia yang Baru Pertama Kali Dipelajari), Asean no Gengo to Bunka (Bahasa dan Kebudayaan di Negara ASEAN), Indonesia-go Jooyoo Kaiwa Jiten (Kamus Percakapan Bahasa Indonesia yang Sering Digunakan). Menurut Kyoko, kecuali Asean no Gengo to Bunka, semua buku masih laku di pasar. Buku Yasashii Shoho no Indonesia-go bahkan sudah dicetak 16 kali.

MENURUT Kyoko, bahasa Indonesia sekarang sudah maju dan modern. "Bahasa Indonesia lebih modern dibandingkan dengan bahasa Malaysia atau bahasa Brunei," ujar ibu dari dua anak yang berusia 20 tahun (Yuichi Funada) dan 12 tahun (Koji Funada) ini.

Kata dia, kemajuan ini tidak terlepas dari kerja keras ahli-ahli bahasa Indonesia sejak merdeka untuk menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang modern. Mereka bekerja tanpa imbalan yang besar karena rasa nasionalisme yang tinggi.

Tidak heran jika bahasa Indonesia lebih cepat berkembang dan lebih maju daripada bahasa Malaysia maupun Brunei. Dia mengibaratkan bahasa Indonesia sudah pada tingkat perguruan tinggi, dua bahasa lainnya masih di bawah itu. Dia juga mencatat, Indonesia berusaha mengembangkan bahasanya sendiri, sedangkan Malaysia dan Brunei lari ke bahasa Inggris.

Dia pun mengenang semasa pendidikannya di UI dulu. Para dosen rajin memberi pelajaran. "Semua rajin mengajar, kecuali satu orang," katanya.

Di Malaysia dia mendapatkan ada dosen yang rajin maupun malas. "Saya pikir kalau gaji dosennya besar, mereka tidak mau bekerja di tempat lain dan rajin mengajar di universitas sendiri. Gaji dosen di Malaysia cukup untuk hidup dan mereka takut kehilangan tempat pekerjaan," tuturnya. Mungkin ini untuk menyindir keadaan di Indonesia yang gaji dosennya tak mencukupi untuk hidup dan karena itu banyak mencari tambahan di luar.

Kyoko menikah pada usia 26 tahun dengan Kenichi Funada, rekannya sesama mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia. Ada manfaat langsung dari perkawinan dengan suami yang sama-sama mengerti bahasa Indonesia. "Kalau mau membicarakan anak-anak, kami memakai bahasa Indonesia," katanya. Mereka berdua leluasa membicarakan apa pun tanpa anak-anak memahaminya.

Sang suami kini bertugas di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan Pertamina menangani gas alam cair (LNG). Mereka bertemu ketika keduanya sama-sama mengambil Jurusan Bahasa Indonesia.

Meski pandai berbahasa Indonesia, dia kini mengalami kesulitan membaca media massa berbahasa Indonesia.

"Banyak yang sekarang tidak saya mengerti," katanya terus terang. Salah satunya adalah banyaknya singkatan, yang kadang-kadang banyak sekali dalam satu berita. "Saya membaca Jakarta Post saja agar lebih mudah," katanya.

*TD ASMADI Wartawan, Tinggal di Jakarta

Sumber : Kompas, Jumat, 20 Mei 2005
Read Full 0 comments

Kautsar bin Muhammad Yus : Gerilyawan Bernama Kautsar

Gerilyawan Bernama Kautsar
Oleh : Mulyani Hasan

KALAU di Jawa atau Makassar, aktivis mahasiswa paling banter bikin demonstrasi menentang pemerintah dan resikonya dipenjara. Tapi di Aceh, mahasiswa bukan cuma demonstrasi, mereka masuk hutan, bergerilya melawan tentara Indonesia dan resikonya ditembak mati.

Contohnya, Kautsar bin Muhammad Yus. Aktivis satu ini bukan saja melawan negara Indonesia tapi juga menentang bapaknya sendiri, Muhammad Yus dari Partai Persatuan Pembangunan, yang kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta.

Hendra Saputra, mahasiswa Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, menganggap Kautsar adalah motivator bagi aktivis mahasiswa. “Dia itu tersohor sekali,” kata Hendra.

Riswan Haris, presiden mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banda Aceh, menilai solidaritas Kautsar sangat tinggi. Haris pernah bersama Kautsar memperjuangkan pembebasan mahasiswa yang ditahan polisi. “Dia orang yang konsisten,” ujar Haris.

Kautsar kelahiran Pidie 22 November 1977, sulung dari delapan bersaudara. Masa kecilnya di Banda Aceh. Ia sempat ikut pendidikan pesantren Darunajah di Bogor selama satu tahun. Menginjak sekolah menengah umum, remaja Kautsar memilih sekolah di Malaysia.

Lulus sekolah, dia masuk Fakultas Syariah IAIN Ar Raniry di Banda Aceh angkatan 1995. Selama masa kuliah, ia terlibat beberapa demonstrasi. Pada 1999, Kautsar ikut memimpin boikot pemilihan umum di Aceh. Alhasil 70 persen penduduk Aceh boikot.

Mereka memilih referendum internasional di Aceh. Awal 2001, ia menentang keberadaan perusahaan minyak Exxon Mobil di Lhokseumawe dan dipenjara empat bulan.

Bebas sebentar, pada Agustus 2001, ia kembali ditahan oleh polisi Aceh Utara sesudah mengatur sebuah istigosah dengan 5,000 peserta. Mereka menuntut perluasan zona damai yang saat itu, di setiap kabupaten, hanya satu kecamatan. Kautsar ditahan 20 jam. Tahun itu juga kuliahnya terputus.

Kautsar lalu memimpin sebuah organisasi bernama Klandestine Politik Gerakan Sipil Rakyat Aceh. Anggota organisasi ini tersebar di Medan, Jogjakarta, Jakarta, Malaysia dan Denmark. Total anggotanya 275 yang bisa digerakkan 24 jam. Menurut Kautsar, organisasi ini tak ada hubungan struktural dengan Gerakan Acheh Merdeka.

Mereka berhubungan dengan kelompok solidaritas Aceh yang tersebar di Australia, Thailand, Timor Leste, Filipina, beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Kelompok-kelompok ini membantu kampanye perdamaian di Aceh. Mereka juga sering membantu proses perginya aktivis-aktivis Aceh ke luar negeri.

Akhir 2002, Kautsar ikut mengatur demonstrasi sekitar 20 ribu orang yang menuntut perdamaian di Aceh. Tentara Indonesia membuka tembakan dan tiga orang terluka. Polisi bukannya menyelediki si penembak tapi malah memanggil Kautsar. Dia menolak panggilan polisi. Maka nama Kautsar pun masuk Daftar Pencarian Orang.

“Pilihan saya hanya dua, keluar dari Aceh atau bergabung dengan satuan bersenjata Aceh,” kata Kautsar kepada saya.

Ayahnya, saat itu ketua DPRD Aceh, beberapa kali minta Kautsar menyerahkan diri. Kautsar mengatakan dia tidak mau berlindung di balik kuasa bapaknya. Dari awal, prinsip bapak dan anak ini bertolak belakang.

Kautsar ingin Aceh merdeka dari penjajahan Indonesia, namun “Abu Yus” memilih bekerja sama dengan Indonesia. “Jabatan ayah saya, tidak menjamin keselamatan saya. Ia hanya elit politik sipil lokal,” katanya.

Maka Kautsar pun masuk hutan. Ia mengagumi Tengku Abdullah Syafi’ie, panglima perang Aceh, yang mati ditembak tentara Indonesia pada 2001. Apabila ketemu tentara Indonesia, berbagai cara dilakukan Kautsar, termasuk menyamar. “Warga Aceh sangat mendukung perjuangan kami, setiap kali memasuki perkampungan, mereka meninggalkan makanan untuk kami di sawah-sawah dan ladang.”

Namun makanan tak setiap saat bisa ia temui. Kautsar dan teman-temannya pernah tidak menemukan makanan dalam waktu satu minggu. Pihak logistik GAM hanya menaruh makanan di titik-titik tertentu.

Menurut Kautsar, perjalanan masuk hutan membuatnya sadar bahwa mayoritas warga Aceh ingin lepas dari penjajahan Indonesia. Tak mungkin GAM bertahan berpuluh-puluh tahun jika penduduk Aceh menentangnya. Jumlah anggota GAM jauh lebih sedikit dibandingkan penduduk Aceh. Tentara dan polisi Indonesia ada hingga 40,000 orang di Aceh.

Dalam pelarian, tiga temannya –Mochlis, Zulfikar dan Zakaria-- hilang diculik intel Indonesia. Hingga kini keberadaan mereka tak diketahui. Kalau mati, mayatnya juga tak ditemukan. Kautsar perlahan-lahan membangun jaringan berbagai mahasiswa di berbagai wilayah. Sebagai buron ia lebih sering berada di daerah perkampungan bersama warga desa-desa Aceh.

“Menjelang magrib, orang tua, anak muda berhamburan dari gubuk-gubuk sederhana, mereka berjejer di gang-gang sempit, membawa air minum, dan makanan untuk kami.”

“Mereka mendoakan kami, agar Tuhan memberi keselamatan dan panjang umur buat kami.”

Dalam masa pelariannya, Kautsar menikah dengan seorang perempuan bernama Arabiyani. Pernikahannya sangat rahasia. Hanya orang tua perempuan yang diberitahu. Ini biasa untuk orang GAM guna menghindar tindak kekerasan oleh tentara Indonesia.

“Tidak sedikit istri-istri anggota GAM, yang diculik oleh TNI untuk ditukar dengan suaminya,” kata Kautsar. Setelah pernikahan, Kautsar memutuskan bergerilya bersama anggota GAM. Situasi keamanan semakin kacau sesudah Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan Aceh darurat militer pada Mei 2003.

“Kami sangat sedih harus berpisah, tapi istri saya perempuan tegar,” kata Kautsar. Pasangan ini belum dikaruniai anak.

Awal 2004, Kautsar memutuskan kerja clandestine di luar Aceh. Tujuan pertamanya Medan. Keluar dari Aceh saat itu tidak gampang. Aceh ibarat penjara raksasa yang dijaga serdadu-serdadu Indonesia. Ada beberapa lapis keamanan yang harus dilalui.

Sebuah Chevrolet pick-up membawa Kautsar bersama seorang temannya. Mereka menyamar sebagai tukang buah-buahan. Pick-up itu berisi buah mangga. “Untuk menguhindari rasa takut, sepanjang jalan kami mendengarkan lagu Bob Marley,” Kautsar mengenang.

Suatu saat, satu regu tentara Indonesia memberhentikan Chevrolet. Kautsar menunjukkan kartu identitas dan pura-pura mengecek barang-barang bawaan. “Beruntung, penampilanku memang mirip tukang buah-buahan,” Kautsar tertawa geli.

Kautsar lolos dan tiba di Medan. Kautsar pun berkoordinasi dengan struktur organisasi di Medan. Tujuan berikutnya Jakarta lantas Kuala Lumpur.

Ketika tsunami menghantam Aceh Desember 2004, Kautsar berada di Singapura. Keluarga intinya lolos dari tsunami. Arabiyani sedang berada di Jakarta. Tsunami mendorong European Union menekan Jakarta agar berunding dengan GAM. Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta politisi etnik Bugis mengambil inisiatif berunding.

Kautsar diundang ikut pertemuan antara pemimpin GAM di Stockholm. Pertemuan itu membahas langkah-langkah perdamaian. Dia bertemu Hasan di Tiro, wali nanggroe Aceh, yang dianggapnya, “simbol pertama perlawanan Aceh.” Hasan di Tiro menyatakan Aceh merdeka dari “Republik Indonesia Jawa” pada 4 Desember 1976. Pada 1978, Hasan di Tiro lari dari Aceh dan pindah ke Stockholm.

Pertemuan kedua berlangsung di Kuala Lumpur. “Kelompok kami adalah salah satu elemen yang mendesak adanya peace talk antara GAM dengan pemerintah Indonesia. Dalam setiap kampanye yang diserukan adalah perdamaian untuk Aceh,” kata Kautsar.

Kautsar mengatakan dia ingin kemerdekaan di Aceh, namun perundingan Helsinki adalah kompromi terbaik selain melepaskan diri dari Indonesia. Kautsar kini jadi sebagai sekretaris Persaudaraan Aceh, sebuah organisasi massa. Ia juga rajin memantau proses pembentukan Undang-Undang Pemerintahan Aceh.

Menurut Kautsar, yang terpenting dalam RUU tersebut adalah kewenangan pemerintah Aceh dalam menjalankan pemerintahan sendiri selain pembagian kekayaan alam.

“Keinginan saya sebenarnya sangat simpel, bisa hidup menjadi manusia, punya peradaban dan menikmati hingar bingar metropolitan, dan itu akan tercapai setidaknya apabila Aceh merdeka.”*

Sumber : Aceh Feature, 6 April 2006
Read Full 0 comments

Katrina Koni Kii, Ibu Ribuan Pohon

Katrina Koni Kii, Ibu Ribuan Pohon
Oleh : Nasru Alam Aziz

PEREMPUAN berusia 63 tahun itu seakan tidak percaya ketika bersalaman dan mendapat ucapan selamat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Cipanas (Jawa Barat), Senin (6/6/2005). Ia tampak tersenyum sambil mendekap kotak kaca berisi piala Kalpataru, simbol pelestarian lingkungan hidup, yang baru saja ia terima dari Presiden.

Katrina Koni Kii, perempuan itu, berasal dari Dusun Pokapaka, Desa Malimada, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia menerima penghargaan Kalpataru 2005 untuk kategori Perintis Lingkungan karena dinilai telah berjasa menghijaukan lahan kritis dengan tanaman kayu-kayuan, seperti cendana, lame, ello, mahoni, johar, dan kemiri.

Kabupaten Sumba Barat sejak dulu dikenal sebagai penghasil cendana (Santalum album L) berkualitas prima. Tanaman itu semakin langka karena harus menunggu sekitar 40 tahun sebelum bisa dimanfaatkan dan masyarakat tidak tertarik untuk menanam kembali.

"Saya menanam pohon karena dorongan dari hati dan hanya untuk saya wariskan kepada anak-anak. Karena telah menerima hadiah ini, saya harus bekerja lebih keras lagi," katanya dalam bahasa Indonesia yang sangat terbatas.

Kesempatan bertemu langsung dengan Presiden dan menerima Kalpataru serta uang tunai Rp 6 juta menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi seorang petani miskin seperti Katrina. Karena itu, ia rela meninggalkan kampung halamannya meski berat. "Ini pertama kali saya meninggalkan kampung dan menempuh perjalanan yang begitu jauh sampai ke Jakarta," ujarnya.

Untuk sampai ke ibu kota kecamatan saja perlu dua jam perjalanan mendaki dan menuruni bukit dengan jalan berbatu dan terjal. Kemudian satu jam untuk mencapai Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat.

Dari Waikabubak masih perlu satu jam lagi untuk sampai ke Lapangan Terbang Tambolaka. Katrina pun harus berganti pesawat sampai tiga kali sebelum tiba di Jakarta, yakni di Bima (Nusa Tenggara Barat), Denpasar (Bali), dan Surabaya (Jawa Timur). Sebuah perjalanan yang melelahkan bagi Katrina, yang sehari-hari hanya berkutat di ladang.

DUSUN Pokapaka dengan penduduk sekitar 100 keluarga berada pada lahan berbukit dan berbatu sehingga mereka membangun rumah terpencar-pencar. Satu rumah bisa berjarak satu kilometer dengan yang lain. Lahan yang berbatu sangat menyulitkan untuk mendapatkan sumber air. Jangan bertanya apakah kawat listrik PLN sudah sampai ke dusun tersebut.

Kondisi seperti itu menjadi tantangan bagi Katrina untuk membuktikan bahwa alam selalu bersahabat apabila manusia mau mengelolanya dengan baik.

Ibu beranak lima itu berangkat dari niat menggarap lahan seluas sembilan hektar yang ditinggalkan mendiang suaminya pada tahun 1976. Mulailah ia menanam pohon apa saja di lahan yang terletak sekitar empat kilometer dari rumahnya itu. "Saya menanam cendana supaya ada yang bisa saya wariskan kepada anak dan cucu saya kelak," katanya menjelaskan.

Mula-mula ia mendapat empat bibit pohon cendana dari petugas pertanian lapangan yang datang ke desanya. "Hanya dua pohon yang hidup dan berbiak sampai sekarang. Pohon tidak gampang tumbuh karena tanahnya berbatu-batu," ungkapnya.

Dua pohon cendana induk yang kini berumur hampir 30 tahun itu telah menghasilkan ratusan tunas-tunas baru. Di samping dari cabutan tunas dari tanaman induk, ia juga mengambil dari pohon-pohon lain di sekitarnya. Sejak itu, Katrina dibantu anak- anaknya telah menanam 400 pohon cendana di lahannya sendiri. Kalau digabung dengan pohon-pohon jenis lain, jumlahnya melebihi 500 pohon.

Katrina, yang kini tinggal bersama dua anaknya -tiga lainnya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah- menanam pohon secara swadaya tanpa bantuan pemerintah atau pihak mana pun. Ia membudidayakan cendana secara sederhana dan tradisional, juga tanpa bimbingan teknis dari petugas lapangan.

"Saya tidak pernah mendapat penyuluhan bagaimana menanam pohon cendana. Saya hanya melakukannya dari hati sendiri," katanya. Ia mengaku tidak pernah mengikuti penyuluhan yang dilakukan di balai desa. "Saya selalu dipanggil kalau ada penyuluhan, tapi saya lebih baik di rumah atau di kebun saja," lanjutnya.

Sebelum menanam, Katrina terlebih dahulu membuat terasering sehingga dapat menampung tanah yang terbawa aliran air saat hujan. Ia membuat terasering karena kondisi lahan yang berbatu dan lapisan tanah permukaannya (top soil) tipis untuk penanaman bibit. Karena sulitnya mendapatkan air, penanaman dilakukan pada musim hujan.

"Selain memikirkan kelanjutan hidup anak-cucu saya, pohon-pohon itu saya tanam supaya lahan itu tidak kosong saja," katanya.

Seiring makin banyaknya pohon tanaman keras yang ditanam, lahannya semakin subur. Daun-daun yang rontok menjadi humus, sedangkan akar-akarnya menahan erosi dan mencegah hilangnya top soil. Lahan yang subur di sela-sela pepohonan ditanami tanaman ladang, seperti ubi, jewawut, keladi, dan jagung.

Jagung, ubi, atau keladi menjadi makanan pokok bagi penduduk di sana karena beras hanya didapat dari padi ladang atau dari pasar. "Kami makan beras sekali-kali saja," ujar Katrina yang buta huruf dan tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya.

Hasil kerja keras Katrina membuahkan hasil yang luar biasa bagi pengelolaan lahan berkelanjutan. Ia berhasil melestarikan pohon cendana yang mulai langka dan sekaligus menghijaukan bukit-bukit yang dulu gersang. Katrina memperoleh penghasilan tambahan dari tanaman semusim yang tumbuh subur.

APA yang dihasilkan Katrina selama belasan tahun itu menginspirasi masyarakat sekitarnya. Mata mereka terbuka melihat lahan yang dulu gersang menjadi hijau. Masyarakat tidak lagi membuka ladang berpindah-pindah karena lahan sekitar mereka sudah subur dan mudah ditanami apa saja.

Bagi Katrina sendiri, penghargaan Kalpataru merupakan amanah untuk tetap melanjutkan upayanya melestarikan lingkungan. "Tidak akan ada yang berubah. Seperti biasa, saya ke ladang pagi dan sore. Saya akan terus mencari dan menanam bibit cendana," tuturnya sembari berharap anak bungsunya yang berusia 20 tahun dapat meneruskan yang telah ia rintis.

Di tanah kelahirannya, sebuah dusun di atas bukit berbatu yang kini menghijau, Katrina menjadi ibu bagi ribuan pohon. (Nasru Alam Aziz)

Sumber : Kompas, Kamis, 9 Juni 2005
Read Full 0 comments

Ketut Sudarmada : Seni Kaki Palsu Ketut Sudarmada

Jun 25, 2009
Seni Kaki Palsu Ketut Sudarmada
Oleh : Ayu Sulistyowati

Membuat kaki palsu tidak seperti membuat sepatu. Prosesnya harus menuruti rasa dan hati. Perajinnya mirip pelukis atau pematung. Karenanya, jangan pernah coba-coba mencari kaki palsu seperti membeli baju yang bisa langsung dicoba ukurannya di sebuah toko.

Rentetan kalimat itu dilontarkan I Ketut Sudarmada (42), warga Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Sudarmada sendiri juga seorang penyandang cacat tunadaksa. Pria berkacamata itu kehilangan betis kaki kanan akibat kecelakaan lalu lintas 20 tahun lalu. Namun, dia tidak berputus asa.

Bagi Sudarmada, cacat secara fisik apakah bawaan lahir atau akibat kecelakaan—tidak boleh memudarkan motivasi. Cacat fisik justru harus menjadi pemacu semangat juang hingga mampu memperlihatkan kebolehan dengan keterbatasan yang ada.

Ia belajar membuat kaki palsu secara autodidak. Berawal dari membongkar pasang kaki palsu miliknya yang dibelinya di Solo seharga Rp 450.000 pada tahun 1985. Ia cukup percaya diri. Saya pakai saja logika, pasti bisa memadukan ilmu fisika, biologi, dan matematika, katanya.

Begitulah dia memulai usahanya. Modalnya hanya peralatan seadanya, yaitu tang, obeng, bor, pelat besi, kayu, gunting, gergaji, dan kulit kambing. Saya tidak punya uang untuk modal. Modal saya hanyalah peralatan seadanya, semangat, dan kemauan, ujar Sudarmada, yang pernah menjadi mahasiswa Universitas Udayana, Denpasar, tetapi gagal menyelesaikan kuliah karena kecelakaan yang menimpa dirinya.

Ia juga pernah menjadi guru di Denpasar, tetapi berhenti karena ingin berbuat yang lebih berarti bagi kelompok senasibnya.

Tempat usaha kerajinan kaki palsu milik Sudarmada belum terjangkau aliran listrik PLN. Hingga saat ini, untuk kebutuhan kerja dan sekadar menonton televisi model lama, ia masih mengandalkan aliran listrik tetangganya. Seratus ribu rupiah per bulan diberikannya kepada tetangganya sebagai pengganti pembayaran rekening.

Cita-citanya saat ini, mengumpulkan uang sekitar Rp 2,5 juta untuk kebutuhan aliran listrik PLN berdaya 1.300 kwh. Dengan daya sebesar itu, saya bisa membuat mesin oven untuk pembuatan telapak kaki dari karet. Sekarang ini, saya masih membeli jika ada uang, dan kalau tidak, saya ganti dengan modifikasi kayu, karet mesin, dan kulit kambing, ujarnya sambil mengisap rokok.

Barter vespa

Harapan memiliki bengkel kerajinan kaki palsu memang baru terwujud sejak enam bulan lalu. Sebelumnya, ia menyewa bengkel di Denpasar senilai Rp 3 juta setahun. Namun, pembayarannya diganti dengan membuatkan sebuah kaki palsu untuk anak pemilik rumah sewa tersebut.

Tahun 2003, ia bisa memiliki vespa tahun 1980-an. Itu juga hasil barter dengan kaki palsu buatannya dengan pemilik vespa. Vespa itu sangat membantunya mengunjungi penyandang tunadaksa lainnya yang harus mendapatkan pertolongannya. Menurut dia, masih banyak tunadaksa yang perlu dimotivasi dan memiliki kaki palsu dan ia siap membuatkannya dengan berapa pun nilai uang sebagai bayarannya. Sebagai sesama penyandang cacat, saya dengan kemampuan saya miliki mau menolong mereka, katanya.

Pengalamannya ditolak untuk mendapatkan kredit dari perbankan membuatnya kapok. Sejak merintis membuat kaki palsu sebagai usaha kerajinannya, ia mengandalkan uang dari para rentenir dengan bunga mencekik, 10 persen per bulan. Uang sekitar Rp 1 juta dipinjamnya dari rentenir untuk modal membeli bahan baku, seperti fiberglass, kulit sapi atau kambing, lem, dan gibs.

Sudarmada pun berandai-andai kalau dirinya memiliki uang sekitar Rp 10 juta, ia akan membeli bahan baku yang banyak dan dapat membantu banyak orang lagi.

Setiap pemesan seharusnya menginap di rumahnya agar bisa diukur dan sekaligus dilatih menggunakan kaki palsu buatannya. Alasannya, jika tidak bertemu langsung, Sudarmada kesulitan untuk membayangkan dan menghitung keseimbangan si calon pemakai kaki buatannya. Kan, sudah saya bilang, pembuatan kaki palsu itu seperti seniman ujarnya.

Istrinya, Ni Ketut Rapika, terus membangkitkan semangat suaminya. Begitu juga kedua putranya, Pande Putu Ambaradana (21) dan Pande Made Beniaryadi (17).

Karena dinilai sebagai penyandang cacat berprestasi, Sudarmada pernah memperoleh penghargaan dari Dinas Kesejahteraan Sosial Bali serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bali. Namun, hal itu tidak membuatnya besar kepala. Belum lama ini, ia pun diangkat menjadi Ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Kabupaten Tabanan.

Sumber : Kompas, Sabtu, 30 Juli 2005
Read Full 0 comments

Ketut Muja : Muja, Kayu yang Memanggil...

Muja, Kayu yang Memanggil...
Oleh : Putu Fajar Arcana

Ketika kayu eboni dan sawo dianggap paling bernilai sebagai bahan patung, Ketut Muja (61) nekat beralih menggunakan akar. Ia menemukan akar kayu leci terbengkalai milik tetangganya. Setiap lewat, akar leci seperti memanggil-manggil, sampai akhirnya ia minta dari tetangganya. Dalam waktu tak lama, benda itu berubah menjadi karya indah bertemakan pencolongan Sinta oleh Rahwana.

Karya ini kemudian dibeli mantan Presiden Soeharto seharga Rp 3,5 juta. Jumlah yang cukup besar waktu itu. ”Saya ingat waktu itu awal tahun 70-an, saya ambil uang di Istana Tampaksiring. Pulangnya dikawal pengawal presiden,” kenang I Ketut Muja saat ditemui di rumahnya, Desa Singapadu, Gianyar, awal pekan lalu.

Sejak itu patung-patung dari akar leci merebak di sekitar Gianyar. Hampir seluruh energi dan pikiran para pematung Bali disedot untuk menciptakan bentuk-bentuk unik dari akar leci. Pohon yang tadinya sama sekali tidak dilirik, apalagi memiliki nilai ekonomi, kini menggantikan posisi kayu eboni atau sawo yang mulai langka.

Salah satu karakter khas seniman tradisi Bali adalah sangat mudah meniru. Dan umumnya, para penggagasnya justru senang karena merasa kreasinya hanya sebagai anugerah Tuhan. Prinsip bekerjanya, bukan mereka yang menemukan, tetapi Tuhan yang berkehendak.

Ketut Muja mungkin harus diposisikan sebagai kreator yang berbeda. Ia memang mendapatkan kemahirannya mematung secara otodidak. Dahulu sekitar tahun 1960-an, selama hampir enam tahun ia berguru kepada pembuat topeng tradisi I Wayan Tangguh. Dari gurunya ini Muja mempelajari bentuk-bentuk realis, sampai kemudian ia beralih menekuni surealisme sekitar awal tahun 1970-an. Alasannya sederhana, karena Bali saat itu mulai kehabisan bahan baku.

Waktu itu, kata Muja, patung-patung karya I Tjokot baru saja dikenal sebagai patung-patung modern. ”Tjokot bekerja dengan sekali pahat, makanya bentuknya kasar,” ujar suami dari Ni Made Robin (61) ini.

Estetik khas

Ketika mengetahui patung-patung akar lecinya mulai ditiru, Muja beralih ke bentuk lain. Ia kemudian menciptakan satu kecenderungan estetik yang khas, yang sampai kini sulit ditiru. Ayah dari pelukis Made Supena ini memandang kayu sebagai sebentuk organisme yang memiliki garis takdir. Dengan begitu, proses kerja yang ia lakukan ketika menggarap bentuk-bentuk realis dibalik sedemikian rupa, untuk menciptakan satu relasi baru antara seniman dan bahan.

Ide dalam pola semacam itu menjadi sesuatu yang paling berharga. Karena Muja selalu berangkat dari tekstur dan bentukan-bentukan permukaan kayu akibat proses alami (takdir). Hebatnya, pematung yang dilahirkan tahun 1944 ini hampir selalu berhasil menemukan kisah-kisah klasik Ramayana atau Mahabaratha, yang sesuai dengan pola tekstur kayu.

Muja bahkan tak sekadar menemukan kisah yang cocok, ia memberi semacam reinterpretasi terhadap kisah-kisah klasik itu. Bentuk-bentuk yang disodorkannya pun tidak lagi mengacu kepada karya-karya patung tradisi Bali yang ornamentik.

Sebelum saya memahat bisa berhari-hari melewati kayu yang menumpuk. Sampai nanti terasa ia memanggil saya, barulah saya mulai, kata dia.

Sore itu, ia sedang berhadapan dengan ”tumor” dari kayu gelintungan. ”Ini sudah saya amati berbulan-bulan, temanya ketemu tentang sosok kembar yang bisa dilihat dari berbagai sudut,” kata anak dari undagi Singapadu di masa lalu, I Nyoman Doblogan, ini.

Orisinalitas

Sikap penghormatan terhadap kayu ini membuat Muja selalu orisinal dalam berbagai hal. Ia tidak saja menemukan karya-karya yang selalu berbeda satu sama lain, tetapi juga tidak tergerus kecenderungan massal yang kini menghinggapi banyak seniman Bali.

Saya selalu bekerja dari ide, memahat, sampai selesai. Tak bisa suruh orang lain, terus tinggal tulis nama, kata dia. Ia bahkan sama sekali tidak tergoda dunia material yang begitu menjanjikan. Di rumahnya, ia membangun dua rumah khusus untuk menyimpan koleksinya. Bahkan kini sedang menyiapkan satu rumah lagi karena karya-karyanya mulai tidak tertng.

Kalau ada yang beli itu jodoh saja, tutur Muja sembari berhenti sejenak menorehkan pahatnya pada kayu. Muja bercerita, seorang kolektor pernah menyatakan keinginannya untuk membeli seluruh karyanya. Saya tolak mentah-mentah, kalau beli harus berdasarkan suka atau tidak.

Ayah lima anak ini tak berhenti bereksplorasi. Belakangan ia mengeluarkan seri karya dari kayu sampah yang hanyut di lautan. Sekarang coba lihat, hampir-hampir tak ada lagi kayu hanyut di sekitar laut Bali, ha-ha- ha, ujarnya. Seri karya ini tampak menarik karena di bagian- bagian tertentu terdapat lubang bekas dimakan binatang laut.

Seri karya ini pun kini sudah ditiru. Tetapi saya tak apa-apa. Mungkin saya yang harus mencari yang baru lagi..., kata Muja ringan.

Tak banyak seniman tradisi yang mengalami lompatan estetik seperti Muja. Tradisi bagi dia adalah wilayah ideal, yang setiap waktu mesti direinterpretasi untuk menemukan bahasa estetik dalam wilayah-wilayah orisinal. Di situlah pemahat ini pantas dihargai dan dihormati....

Sumber : Kompas, Sabtu, 13 Agustus 2005
Read Full 0 comments

Komariah E Sapardjaja : Prof Komariah Mempertanyakan Suara Nurani

Prof Komariah Mempertanyakan Suara Nurani
Oleh: Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana

Masih dapatkah kita berbicara dengan nurani yang paling dalam, di mana kejujuran merupakan inti yang paling hakiki dari diri? Maukah kita memaknai kemenangan sebagai kemenangan bagi kejujuran?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi ruang perenungan Prof Dr Komariah E Sapardjaja, SH (62), hakim ad hoc Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Timor Timur dan Tanjung Priok, setelah proses pengadilan pelanggaran HAM berat berakhir dengan bebasnya terdakwa.

Komariah sadar bahwa sejarah pengadilan HAM sejak pengadilan militer Nueremberg dan Tokyo setelah Perang Dunia II memang dikenang pahit sebagai keadilan pemenang, sekalipun kedua pengadilan itu meletakkan fondasi yang kuat untuk proses pengadilan internasional.

Pengadilan HAM selalu kental dengan nuansa politik, ujar Kepala Pusat Studi Wanita Universitas Padjadjaran Bandung yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unpad tahun 1990-1993 itu.

Apalagi dengan berbagai bentuk impunity terhadap terdakwa, seperti promosi jabatan atau tidak dibebastugaskan. Semua terdakwa masih anggota militer aktif, kecuali Abilio, ujar Komariah tentang Pengadilan HAM Timtim.

Ia memahami sulitnya posisi majelis hakim karena saksi yang diajukan adalah bawahan dan rekan terdakwa yang mungkin meringankan dan menutupi fakta. Namun, ia juga menyesalkan keputusan-keputusan Mahkamah Agung yang tak memberi arah penegakan HAM dengan cara tidak memberikan penjelasan unsur-unsur (element of crime) dari pasal-pasal yang didakwakan.

Kami diminta mengadakan pengadilan HAM bertaraf internasional, tetapi acuan hukum internasional banyak yang belum dapat diimplementasikan, ujarnya.

Penuh tekanan

Sebagai ilmuwan yang menyadari fakta sosial mengenai ketimpangan hubungan perempuan dan laki-laki, Komariah berharap menemukan kasus yang berkaitan dengan kekerasan seksual dan perkosaan dalam situasi konflik bersenjata diajukan ke pengadilan.

Namun, kasus itu muncul di kasus-kasus yang tidak dia tangani. Kata Komariah, majelis hakim menolak kesaksian ibu dari korban yang diperkosa. Karena tindak kejahatan itu memang tidak ada dalam dakwaan. Tetapi, saya kesal betul karena mereka sama sekali tidak peka terhadap kasus- kasus kejahatan seksual, sambungnya.

Ia juga terlibat perdebatan dengan hakim ad hoc lain yang bersikukuh mengatakan harus ada empat saksi dalam kasus perkosaan. Saya bilang, berapa saksi pun enggak ada yang mau ngaku sudah memerkosa korban secara bergiliran.

Komariah harus menelan kekecewaannya karena sistem hukum di Indonesia sulit menembus apa yang terjadi pada kasus Akayesu dalam Pengadilan Internasional untuk Kejahatan Perang di Rwanda (ICTR).

Pada mulanya dakwaan dalam kasus itu tidak menyebut soal perkosaan. Namun, setelah Hakim Pillay berhasil mengeksplorasi informasi terjadinya perkosaan dari saksi peristiwa kejahatan yang lain, dengan upaya keras berbagai pihak, akhirnya jaksa bersedia mengubah dakwaannya. Akayesu harus bertanggung jawab atas tindak kejahatan terhadap kemanusiaan berupa perkosaan yang dilakukan anak buahnya.

Sistem hukum kita tidak mengadopsi cara-cara yang dilakukan Pillay sehingga tak mungkin meminta jaksa mengubah dakwaannya, ujar Komariah. Namun, yang paling ia sesali adalah pandangan bahwa perkosaan dalam situasi perang lebih ringan dibandingkan dengan pembunuhan.

Pengalaman baru

Pengadilan HAM memberi pengalaman baru pada Komariah. Ketenangannya sempat terusik oleh teror lewat layanan pesan singkat (SMS) dan telepon. Tetapi, tidak banyak. Kan mereka tahu pasti menang, katanya.

Ibu tiga anak, istri dari dr Wage Sapardjaja, itu diangkat sebagai hakim ad hoc Pengadilan HAM oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dengan surat keputusan yang berlaku lima tahun. Pengalaman itu seperti melengkapi perjalanan karier Komariah yang pernah melamar menjadi hakim saat baru lulus, tetapi tidak bisa karena usianya terlalu muda.

Sampai sekarang ia masih terus mengajar, juga di luar kota, khususnya untuk memberi pemahaman tentang timpangnya relasi antara perempuan dan laki-laki kepada mereka yang berkecimpung di dunia hukum supaya mampu melihat keadilan dari perspektif perempuan korban. Ia sangat aktif menjelaskan pentingnya undang-undang yang melindungi perempuan.

Komariah suka membaca. Buku-buku, termasuk novel tentang pelanggaran HAM, khususnya terhadap perempuan, adalah bacaan wajibnya. Juga karya para feminis Timur Tengah, seperti Fatima Mernissi dan Nawal El Saadawi.

Saya ini kutu buku, katanya.

Sumber : Kompas, Senin, 5 SEptember 2005
Read Full 0 comments

I Ketut Widiana, Penyanyi Logat Bali

Jun 21, 2009
I Ketut Widiana, Penyanyi Logat Bali
Oleh : Agnes Suharsiningsih

Rasa Tan Sida, Ragan Beli Pacang Ngengsapang
Dugas Beli Ketemu Sareng Adi Ring Taman Sari
Sesapi Putih Mekeber Ring Taman Sari
Ento Pinaka Saksi Tresnan Beline Gen Adi

Syair lagu Sesapi Putih yang artinya Walet Putih, sebagaimana lagu bertemakan cinta dua insan manusia, bercerita tentang seorang lelaki yang tidak dapat melupakan pertemuannya dengan seorang gadis di taman sari. Burung walet putih yang kebetulan terbang di atas taman sari menjadi saksi pertemuan tak terlupakan itu.

Lagu pop, itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika dinyanyikan dalam bahasa Bali? Perpaduan irama pop dengan syair bahasa Bali, yang dilantunkan dengan logat kentalnya, menciptakan keunikan tersendiri. Apalagi jika sesekali dibumbui dengan cengkok Bali yang khas, semakin terasa aura Bali yang memancar dari lagu tersebut.

Dari sekian penyanyi era pop di Bali, I Ketut Widiana (31), yang lebih dikenal sebagai Widi Widiana, menunjukkan kemampuannya melestarikan budaya berbahasa Bali halus melalui lagu-lagu yang dilantunkannya. Meski berbahasa Bali, tembang yang dilantunkan Widi bukanlah kidung (doa masyarakat Hindu Bali yang dilagukan), namun sungguh lagu masa kini.

Orang Bali menggemari lagu-lagu yang ada cengkoknya, seperti dalam kidung Bali ataupun lagu-lagu dari Sunda, komentar Widi tentang lagu-lagunya yang selalu diwarnai dengan cengkok ala kidung tersebut.

Kuatnya cengkok Bali dalam suara Widi bisa jadi karena pengaruh sang ayah yang adalah seorang guru kidung dan penari. Ayahnya, almarhum I Wayan Diana, biasa menembang kidung Bali, baik saat ada upacara ataupun sekadar mengisi waktu di rumah.

Darah seni ayahnya dan juga sang ibu, Ni Made Kibik, yang adalah seorang penari, sepertinya menurun kepada Widi dan saudara-saudaranya. Dari enam anak pasangan itu, empat di antaranya membentuk kelompok Diana Band.

Adapun tentang penggunaan bahasa Bali dalam lagu-lagunya, Widi berkeyakinan bahwa memang itulah yang dicari orang saat ingin mendengarkan lagu hasil karya anak Pulau Dewata. Orang datang ke Bali untuk menikmati karakter budaya aslinya, maka lewat lagu ini pun saya ingin melestarikan bahasa asli Bali, kata Widi yang mencita-citakan lagu pop Bali kelak dapat go international juga, mengikuti tari-tarian Bali yang sudah mendunia itu.

Dari banjar ke banjar

Suami dari Wenna, yang sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka, itu bercerita, debutnya sebagai penyanyi pop berbahasa Bali dimulai sejak tahun 1994. Hal itu ditandai dengan keluarnya album pertama Tunangan Tiang, yang merupakan album kompilasi dengan penyanyi-penyanyi pop Bali lainnya.

Namun sebelumnya, sejak tahun 1991, Widi bersama Diana Band sudah merintis perjalanan sebagai seniman musik. Kelompok musik yang beranggotakan keluarga besar Widi itu biasanya manggung dari banjar ke banjar maupun dari hotel ke hotel. Lagu-lagu yang dibawakan beragam, milik para penyanyi tenar. Jenisnya juga variatif, mulai dari dangdut, pop, hingga reggae. Dalam bernyanyi, mereka menggunakan bahasa Bali, Indonesia, maupun Inggris.

Perjuangan seorang Widi untuk menunjukkan eksistensinya di jagat penyanyi akhirnya tergapai dengan kemunculannya di album kompilasi para penyanyi lagu pop Bali. Di tangan seniornya, Yong Sagita Swastika, Widi berhasil menambah khazanah penyanyi pop Bali dengan tetap mencoba melestarikan bahasa ibu, bahasa Bali. Dukungan Yong, seorang penyanyi dan pencipta lagu pop Bali, itu diakui oleh Widi sebagai titik terang langkahnya menuju dapur rekaman.

Album solonya pertama kali muncul tahun 1996, Sesapi Putih, diikuti album kompilasi, Tresna Kaping Siki, pada tahun yang sama. Album solo kedua lahir tahun 1997 dengan label Sampek Ing Tay.

Sesuai dengan judulnya, Sampek Ing Tay, pada album ini memang didominasi lagu-lagu berirama Mandarin. Seperti dikatakan Widi, dia senang mengembangkan aliran musiknya juga pada irama oriental dan tradisional, seperti Mandarin dan Sunda. Dalam beberapa lagunya memang ada yang kental dengan cengkok khas Sunda yang mendayu-dayu itu.

Saya senang menggabungkan berbagai jenis irama musik, seperti Mandarin dan Sunda, agar tidak jenuh. Dan lagi, cengkok di kedua irama itu juga kental dan rasa-rasanya cocok dengan warna suara saya. Dan terlebih masyarakat di Bali juga menyukai lagu-lagu berirama semacam itu, kata pria yang pernah kuliah di Universitas Warmadewa Denpasar itu.

Sampai kini dia sudah mengeluarkan sembilan album kompilasi dan 11 album solo. Namun, begitu album keluar, biasanya penggemarnya sudah menanti dan menyerbu. Rata-rata kasetnya terjual di atas 25.000 kopi, bahkan albumnya yang berjudul Tepen Unduk (Ketiban Sial) terjual di atas 50.000 kopi.

Pria, yang tahun 2005 menyabet gelar penyanyi terbaik pria versi Bali Music Award I, itu mengaku masih memimpikan untuk bisa menggelar konser tunggal di Sulawesi, Lampung dan Jawa.

Sejauh ini Widi sudah menggelar konser di Bali dan Lombok. Di kedua daerah itu tanggapan masyarakat sangat antusias terhadap lagu-lagu yang dibawakannya. Tinggal menguji bagaimana tanggapan para perantauan di Sulawesi dan Lampung? Widi sangat ingin segera mewujudkan impian itu.

Sumber : Kompas, Rabu, 19 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Karen Parfitt Hughes : Mantan Jurnalis di Sisi Bush

Mantan Jurnalis di Sisi Bush
Oleh : Nasru Alam Aziz dan Gesit Ariyanto

Perempuan semampai itu berbicara mantap dan tegas seperti tak pernah kekurangan bahan perbincangan, tak pula tersirat keraguan. Ia menyapa dengan keramahan yang hangat. Namun, kehangatan seperti membeku ketika masuk pada perbincangan serius.

Karen Parfitt Hughes (48), perempuan itu, adalah Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Bidang Diplomasi Publik dan Hubungan Masyarakat. Penunjukannya oleh Presiden George W Bush disetujui Senat AS pada 29 Juli 2005, lalu dilantik 9 September 2005.

Sebagai wakil menteri luar negeri, ia memimpin berbagai upaya untuk membangun dialog antara AS dan dunia, terutama dunia Muslim. Ia ikut serta dalam pengembangan kebijakan dan mengawasi tiga divisi di Departemen Luar Negeri, yakni Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Urusan Publik, dan Program Informasi Internasional. Ringkasnya, Hughes mengemban amanat untuk memperbaiki citra AS di mata dunia setelah invasi negara adidaya itu ke Irak.

Upayanya agar dunia Muslim memahami AS dilakukan dengan serangkaian lawatan yang ia sebut ”listening tour”. Diawali lawatan lima hari di Timur Tengah pada akhir September lalu, yakni ke Mesir, Arab Saudi, dan Turki, pekan lalu Hughes ke Indonesia lalu ke Malaysia.

Sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan Bush, Hughes menjadi sasaran kecaman dalam rangkaian turnya itu. Dalam dialog dengan mahasiswa yang telah ditunjuk di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Jumat (21/10), Hughes dihujani pertanyaan mengenai kebijakan Bush yang dinilai tidak fair dan ingin mengontrol dunia.

Hughes, yang tampak tetap tenang, menjelaskan bahwa invasi ke Irak perlu untuk melindungi AS menyusul serangan 11 September 2001. Pemerintah AS memandang Saddam Hussein sebagai ancaman keamanan nasional AS.

”Setelah 11 September, para pemimpin AS harus melihat ancaman terhadap dunia dengan cara pandang berbeda. Saya pikir Anda harus memahami ketakutan dan penderitaan yang dialami warga AS,” katanya.

Ia tiba-tiba kehilangan suaranya yang tegas ketika harus berbicara tentang terorisme. Matanya berkaca-kaca. ”Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang tega bunuh diri untuk membunuh orang lain dengan membajak agama. Tindakan seperti itu bukan jawaban. Kalau ada ketidakpuasan silakan disampaikan. Negara kami menghargai kebebasan berpendapat,” ungkap Hughes yang selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang Irak sejak menjelang invasi AS.

Dibandingkan dengan pembantu-pembantu Bush yang lain, menurut pengamat, Hughes lebih unggul dalam mengantisipasi pikiran Bush, membaca suasana hati Bush, dan menjadi pembela Bush yang tangguh. Pengamat mengatakan, tatkala berbicara di hadapan publik, Mr Presiden mengikuti gerak bibir Hughes.

Ia merancang agenda kegiatan Bush, strategi politik, dan komunikasi. Dia juga menulis buku Ten Minutes from Normal, yang memuat pengalamannya bekerja untuk Presiden Bush, dan membantu penulisan otobiografi Bush, A Charge to Keep.

Pendamping Bush

Lahir di Paris, Perancis, 27 Desember 1956, Hughes meraih gelar sarjana dalam bidang Bahasa Inggris dan Jurnalisme dari Universitas Southern Methodist. Ia lulus pada tahun 1977 dengan predikat Phi Beta Kappa dan summa cum laude.

Hughes bekerja sebagai reporter televisi pada KXAS-TV, afiliasi dari NBC di Dallas/Fort Worth pada tahun 1977 hingga 1984. Sebagai reporter, ia mengikuti kegiatan kampanye presiden pada tahun 1980. Pada tahun 1984, ia banting setir dari peliput politik memasuki politik praktis dan bekerja sebagai koordinator pers Texas untuk kampanye Ronald Reagen menuju Gedung Putih.

Sejak 1990-an, Hughes sudah bekerja bersama George W Bush. Mula-mula sebagai direktur komunikasi ketika Bush menjabat Gubernur Texas (1995-2000), lalu sebagai konsuler presiden saat Bush terpilih sebagai Presiden AS pada tahun 2001. ”Bush adalah sahabat saya, sekarang menjadi bos saya,” ujarnya saat berkunjung ke American Corner di Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah.

Sebagai orang kepercayaan yang amat diandalkan, Bush memintanya mengemban peran yang lebih penting dan strategis. Peran strategis itu, kata Bush, adalah berada di ruangan saat pengambilan keputusan-keputusan penting.

Selama 18 bulan pertama di Gedung Putih, ia dilibatkan dalam pembahasan isu-isu utama berkenaan dengan kebijakan domestik dan luar negeri, memimpin upaya komunikasi dalam tahun pertama melawan teror, serta mengelola Kantor Komunikasi Gedung Putih, urusan media, penulisan pidato, dan dinas penerangan.

Sumber : Kompas, Kamis, 27 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Khoe Yoe Tjay : Ilmu Gepuk dari Salatiga

Jun 20, 2009
Ilmu Gepuk dari Salatiga
Oleh : Frans Sartono

Enting-enting gepuk seperti lekat dengan Kota Salatiga, Jawa Tengah. Penganan yang terbikin dari bahan dasar gula dan kacang yang digepuk atau digebuk dengan kayu di atas landasan batu itu banyak diproduksi di kota yang terletak di kaki Gunung Merbabu itu.

Yusuf Kurniajaya alias Khoe Yoe Tjay (48) adalah salah seorang pembuatnya. Ia mewarisi ”ilmu gepuk” dari sang kakek, Khoe Tjong Hok, imigran asal Fukkian, China, yang merintis usaha enting-enting di Salatiga sejak sekitar tahun 1920-an.

”Waktu itu masih dibungkus kelobot, kulit buah jagung. Nenek saya menjualnya dengan tampah keliling kampung,” tutur Yusuf yang ditemui di rumahnya di Klaseman Hijau, Salatiga.

Lima dari enam anak Khoe Tjong Hok meneruskan usaha enting-enting itu. Salah satunya adalah Gunarso alias Khoe Poo Liong, ayah Yusuf. Belakangan, Yusuf memegang estafet sejarah keluarga. ”Jadi, saya ini generasi ketiga enting-enting gepuk,” tutur Yusuf.

Jika produk keluarga Khoe Tjong Hok menggunakan cap Klenteng dan 2 Hoolo, itu memang sesuai dengan riwayat sang pembuat. Kakek Yusuf adalah juru kunci Klenteng Hok Tik Bio—Biara Dewa Bumi—di Jalan Sukowati, Salatiga.

”Setelah diangkat menjadi juru kunci, kakek membuat enting-enting di kompleks klenteng. Orang tahunya itu enting-enting dari klenteng. Itu lalu menjadi merek dan sudah saya patenkan,” kata Yusuf, yang kini menjadi Ketua Umum Klenteng Dua Hoolo Bird Club, sebuah kelompok pencinta burung di Salatiga.

Ilmu gepuk

Enting-enting gepuk tetap bertahan di tengah industri penganan modern yang digerakkan modal raksasa dan teknologi era komputer. Penggepukan masih dilakukan dengan kayu sawo berbentuk silinder seberat 3-4 kilogram. Kacang yang telah dipanaskan dalam cairan gula kental digepuk di atas landasan batu berbentuk empat persegi panjang setebal 15 sentimeter. ”Pernah kami coba menggunakan blender, tapi kacangnya mengeluarkan minyak,” tuturnya.

Justru dengan cara gepuk itulah enting-enting mendapatkan daya hidup dan bertahan hingga lebih dari tujuh dekade. Daya hidup itu, menurut Yusuf, tak semata karena urusan modal, tetapi terlebih karena kecintaan kepada pekerjaan dan penguasaan ilmu gepuk. ”Kalau hanya modal, setiap orang juga bisa. Proses pembuatan, setiap orang juga bisa mempelajari. Tapi keuletan, ketelatenan, dan kecintaan itu yang tak semua orang bisa dapat,” kilahnya.

Urusan gepuk-menggepuk memang menjadi unsur penting dalam proses pembuatan enting-enting gepuk. Ini bukan sembarang gepuk. Jika penggepukan kurang keras, kacang tidak hancur. Akan tetapi, jika terlalu keras, kacang akan mengeluarkan minyak. Kacang berminyak akan menimbulkan bau tengik. ”Kacang harus halus. Tidak boleh mringkil (kasar-keras). Nanti yang makan bisa marah, ha-ha....”

Yusuf menguasai benar ilmu gepuk. Sewaktu duduk di kelas lima sekolah dasar, ia sudah mencoba-coba untuk ikut menggepuk kacang. ”Tangan saya sampai hancur,” ujarnya mengenang.

Ia menguasai seluruh proses pembuatan, mulai dari menyangrai kacang, memasak gula, menggepuk, mengulur gepukan kacang, sampai membungkus. Rampung kuliah dari Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Satya Wacana, Yusuf memilih untuk melanjutkan usaha enting-enting ketimbang mengajar. Ia merasa mempunyai tanggung jawab moral.

”Dengan usaha itu, banyak orang bisa ikut kerja. Itu lebih bermanfaat,” kata Yusuf yang mempunyai 25 karyawan.

Usaha enting-enting itu kemudian menjadi laku hidup Yusuf dan karyawannya. Setiap bagian dari proses pembikinan menjadi tahapan yang mematangkan pribadi. Untuk menjadi penggepuk, minimal diperlukan waktu enam bulan belajar. Penggepuk yang berpengalaman lebih dari sepuluh tahun bisa menjadi pengulur.

”Tak ada yang instan dalam proses ini. Dengan tahapan itu mereka akan mencintai, menjiwai pekerjaan. Mereka bekerja sepenuh hati, tidak waton (asal),” katanya.

Penghayatan akan kerja itu, katanya, menimbulkan passion, gereget, rasa cinta dalam bekerja, sehingga mereka tidak bosan. Di antara penggepuk itu ada yang telah bekerja sampai 30 tahun. Ada pula yang bisa membiayai kuliah anaknya sampai tingkat S-2 di Universitas Gadjah Mada.

Yusuf kini tentu tidak lagi ikut menggepuk. Dibantu Juwariah, sang istri, bapak empat anak itu terus mengawasi kualitas enting-enting gepuk yang bisa diperoleh di banyak toko oleh-oleh itu.

Ia pernah mencoba bisnis kayu, tetapi gagal dan kena gepuk sana-sini. Ia mengaku tidak bisa ”main” kayu. Rupanya, ia menemukan jalan hidup dengan bermain gepuk.

Sumber : Kompas, Senin, 7 November 2005
Read Full 0 comments

Kamarudin, Penemu Alat Peraga Matematika

Kamarudin, Penemu Alat Peraga Matematika
Oleh : Khaerul Anwar

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika kerap kali menjadi momok menakutkan bagi para siswa. Namun, Kamarudin mampu menjadikan siswa senang, malah dengan santai, mempelajarinya, khususnya murid kelas rendah: kelas I, II, dan III sekolah dasar.

Caranya, Kepala Sekolah Dasar Nomor 1 Kenawa, Desa Kenawa, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini membuat alat peraga yang disebutnya Blok/Petak Bilangan. Saya mencoba membuat alat peraga ini dengan mengombinasikan antara belajar dan bermain, tutur Kamarudin (45), ayah dari enam anak hasil pernikahannya dengan Hayatun itu.

Alat peraga itu amat sederhana. Papan tripleks dilubangi sedemikian rupa berbentuk persegi. Kemudian ada sejumlah potongan papan seukuran panjang dan lebar bidang papan yang dilubangi tadi yang bergambar pohon, buah, ikan, kelereng, bola, wayang, dan lainnya di satu sisinya dan angka-angka di sisi lainnya.

Papan ukuran kecil itu ada yang diberi engsel atau isolasi biar bisa dilipat sehingga gambar pohon, buah dan angka, dan lainnya sebagai unsur untuk menambah-mengurangi bisa langsung ditunjukkan kepada siswa.

Bolongan-bolongan tersebut dimaksudkan agar potongan papan bergambar itu bisa dikeluar-masukkan pada lubang bidang papan tersebut. Di bagian paling atas bidang papan terdapat lubang yang ukuran sama untuk wadah hasil akhir (jumlah) dari menambah dan mengurangi bilangan. Sedangkan gambar-gambar dan angka-angka masing-masing pada bagian kiri dan kanan bidang papan.

Dengan alat peraga ini, siswa kelas I, II, dan III SD, bahkan murid taman kanan-kanak, akan lebih mudah mengenal huruf, angka, dan bercerita. Siswa pun bisa belajar menulis karena di atas papan bergambar itu dilengkapi kertas maupun plastik transparan, tinggal mengikuti bentuk-bentuk huruf dan angka.

Cara ini mengganti metode menulis di udara, atau siswa diajak membayangkan angka dan huruf dalam udara, yang sebelumnya diajarkan kepada siswa. Alat peraga ini juga tidak menimbulkan ketakutan siswa untuk belajar Matematika karena mereka serasa diajak bermain.

Ketakutan terhadap mata pelajaran Matematika lebih disebabkan kurangnya peran guru dalam memahami kemudian mengembangkan konsep dasar pelajaran berhitung. Misalnya, 2 x (kali) 2 = 4, oleh guru dinyatakan dalam bentuk hafalan. Mestinya, hasil itu dijabarkan prosesnya sehingga siswa mengerti perolehan angka empat dari perkalian tadi.

Ikut lomba

Ide membuat alat peraga itu didasari pengalaman mengajar di berbagai SD. Dia melihat kondisi memprihatinkan para siswa kelas V-VI yang tidak paham menambah dan mengurangi, apalagi membagi dan mengalikan angka-angka. Kamarudin berpikir keras untuk mengatasi persoalan itu. Kebetulan saat itu, tahun 1980-an, dia diutus mengikuti penataran alat peraga di Balai Pelatihan Guru Mataram. Dari sekitar 90 peserta (guru), dengan karya Blok/Petak Bilangan, ia dinyatakan lulusan terbaik.

Pada tahun yang sama, Kamarudin ikut lomba alat peraga tingkat nasional di Cipayung, Bogor. Saya pilih ikut lomba peraga Matematika mengingat banyak guru IPA di NTB mahir membuat alat peraga, tuturnya. Dalam tempo dua minggu sebelum lomba dimulai, Kamarudin mengumpulkan bahan-bahan dan deskripsi alat peraga. Sebelumnya, nyalinya sempat kecut mengingat alat peraga yang dirancang peserta sejumlah provinsi sangat baik.

Namun, Kamarudin dengan percaya diri mempresentasikan alat peraga di hadapan tim penguji Balitbang Departemen Pendidikan Nasional. Rupanya karya cipta Kamarudin menarik perhatian tim penguji sebab waktu untuk presentasi dibatasi 30 menit, dan saat dia diuji waktu diulurkan menjadi 45 menit, bahkan tim penguji memuji karyanya.

Rupanya pujian dan bonus waktu tadi sebuah pertanda awal sebuah keberhasilan. Alat peraga bikinannya, yang dirasakan nyaris tidak menimbulkan kekaguman kalangan peserta, justru menduduki urutan terbaik. Setelah itu, alat peraganya diuji di sebuah SD di Cipayung, dengan hasil tidak beda jauh saat proses uji pada siswa kelas rendah di Kecamatan Kopang, yaitu dengan tingkat keberhasilan 75-95 persen masing-masing untuk siswa SD pedesaan dan perkotaan.

Sayang alat peraga itu, yang kalau dibuat lengkap memerlukan biaya Rp 500.000 satu set, belum bisa diproduksi massal karena gaji guru golongan IIID ini hanya cukup untuk menyambung hidup. Pernah memang dua perusahaan di Jakarta bersedia memproduksinya, bahkan diperkuat penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) segala. Namun, kontrak kerja itu tak pernah terwujudkan sampai kini.

Dengan alat peraga itu, hanya satu keinginan Kamarudin, Yang penting siswa kelas I, II, dan III lebih mudah belajar membaca, menulis, dan berhitung. Itu saja.

Sumber : Kompas, Sabtu, 17 Desember 2005
Read Full 0 comments

KPK, Pendekar yang Kesepian

Jun 19, 2009
KPK, Pendekar yang Kesepian

Membangun sebuah institusi bukanlah hal mudah, tak semudah eksekutif maupun legislatif membuat di atas kertas. Hal itulah yang dirasakan oleh para pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi, Taufiequrrachman Ruki, Erry Riyana Hardjapamekas, Amien Sunaryadi, Sjahruddin Rasul, dan Tumpak Hatorangan Panggabean.

Dari awal, para pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini sudah menyadari beratnya tanggung jawab dan harapan yang disampirkan di pundak mereka, serta kusutnya realitas yang dihadapi di lapangan. Tahun pertama lembaga ini dibentuk menjadi hari-hari yang paling berat bagi kelima unsur pimpinan KPK.

Mereka tidak dikenal dan banyak yang menyangsikan mereka akan berhasil. Namun, seperti pengakuan Ketua KPK Taufiequrachman Ruki, dukungan masyarakat memang tidak datang dengan sendirinya. Dukungan datang karena kepercayaan.

Persoalannya, kepercayaan publik kepada institusi (terutama pemerintah) itulah yang tidak ada selama ini. Rakyat selama ini sudah terlalu muak dengan situasi yang ada dan janji-janji pemerintah. Yang diperlukan hasil dan bukti. Lagi pula, belum pasti juga semua masyarakat mendukung langkah KPK. Karena itu, KPK harus kerja keras dan tidak boleh cengeng, ujarnya.

Sepanjang laporan masyarakat masih banyak masuk, itu berarti KPK masih dipercaya. Sekarang kami menangani 9.400 laporan. Tiap hari dari daerah selalu ada yang bertanya lewat SMS. Berat sekali, kata Ruki.

Bahkan, memasuki tahun ketiga, setelah banyak langkah spektakuler mereka buktikan, masih terus saja ada pihak yang mengecam kinerja dan langkahlangkah KPK. Salah satunya, kebijakan penanganan kasus secara tebang pilih dan dinilai tidak tuntas sehingga tak mampu memunculkan efek jera dan tokoh-tokoh kunci dalam kasus korupsi (terutama yang dekat dengan kekuasaan) justru lolos.

Menurut Ruki, sepanjang tidak didasari pertimbangan obyek, tetapi pertimbangan subyek, tak ada yang salah dengan pendekatan itu. Untuk saat ini, itu sudah langkah maksimal yang bisa dilakukan KPK. Ibaratnya, seperti ingin menebang pohon besar. Ketika kami hanya memiliki kemampuan menebang pohon berdiameter 30 sentimeter, kami tidak akan memaksakan diri menebang pohon diameter 1-2 meter, ujarnya.

Pertama, mungkin tidak selesai dan, kedua, kapaknya keburu patah. Untuk akal sehat, saya sudah bersihkan lapangan korupsi ini. Tinggal satu pohon yang belum. Kalau sudah gilirannya dan saya sudah punya gergaji mesin, saya hajar dia. Kita dihadapkan pada kenyataan, katanya.

Belum tertangkapnya beberapa aktor kunci dalam sejumlah kasus korupsi besar, menurut dia, bukan karena yang bersangkutan berlindung pada kekuasaan, tetapi lebih karena persoalan alat bukti. ”Ini persoalan teknis hukum yang tidak semua orang memahaminya,” ujarnya.

Ruki juga mengibaratkan KPK sekarang ini seperti berjuang dalam kesepian di tengah rimba belantara. Langkah KPK belum diikuti lembaga lain. Yang saya harapkan, Dirjen Pajak segera mengambil langkahlangkah progresif untuk membersihkan direktoratnya dari penyimpangan-penyimpangan. Demikian juga Dirjen Bea Cukai, Kejaksaan Agung, BPK, BPKP, Departemen Keuangan, Dirjen Anggaran. Sekarang ini saya belum melihat itu. Titik terang yang baru saya lihat adalah dari Kapolri, tetapi di Kapolri itu juga berat karena masalahnya eksternal dan internal, ujarnya.

Menurut Ruki, kunci agar pemberantasan korupsi di negeri ini bisa bergulir cepat sebenarnya ada di tangan tiga orang, yakni presiden, ketua Mahkamah Agung, dan ketua BPK. Pada lapisan kedua adalah para gubernur dan wali kota/bupati.

Semuanya harus ada akselerasi. Perlu komunikasi terus-menerus antara KPK dan ketiga institusi itu. Kendati demikian, ia mengakui kemampuan terbatas Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dalam menindaklanjuti putusan KPK juga menjadi kendala besar dalam langkah pemberantasan korupsi di negeri ini.

Memberantas korupsi di negeri terkorup memang bukan perkara mudah. Yang bisa dilakukan bukan menghilangkan korupsi, tetapi hanya mengurangi. Itu pula yang akan jadi fokus KPK tahun 2006. Untuk itu yang perlu dilakukan, pertama, membangun kultur yang mendukung pemberantasan korupsi. Kedua, mendorong pemerintah melakukan reformasi public sector dengan mewujudkan good governance. Ketiga, membangun kepercayaan masyarakat. Keempat, mewujudkan keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar (big fish). Kelima, memacu aparat penegak hukum lain memberantas korupsi.

Siapa big fish yang akan menjadi sasaran KPK berikutnya? Pertama, korupsi yang menimbulkan jumlah kerugian besar. Kedua, korupsi yang dilakukan oleh figur pejabat penting. Ketiga, korupsi yang pengungkapannya menimbulkan dampak besar. Misalnya, walaupun hanya memeras ratusan juta rupiah, tetapi kalau tertangkap tangan akan memberikan dampak.

Dengan langkah-langkah itu, ditargetkan tahun 2007 indeks persepsi korupsi Indonesia minimal bisa menyamai Malaysia.

Pendekatan progresif

Komposisi pimpinan KPK sekarang ini terbilang unik, tetapi saling melengkapi. Taufiequrrachman Ruki berasal dari kepolisian, Tumpak H Panggabean dari kejaksaan, Amien Sunaryadi adalah mantan pejabat Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), Sjahruddin Rasul adalah mantan Deputi BPKP, serta Erry Riyana adalah mantan Direktur Utama PT Timah dan Transparansi Internasional Indonesia.

Berbeda dengan penampilan pejabat negara lain, yang kerap datang dengan mobil mewah, pakaian necis, dan didampingi banyak ajudan berbadan tegap, kelima pemimpin KPK ini begitu bersahaja. Mobil yang mereka gunakan jarang sekali berganti-ganti dan bukan mobil yang terbilang mewah. Rata-rata mobil Kijang dan sedan, milik mereka sendiri.

Mereka pun memilih tinggal di rumah sendiri, yang dibeli dari hasil kerja keras sebelum menjadi pemimpin KPK. Kalau ditanya mengapa mereka tidak menggunakan fasilitas negara yang memang sudah menjadi hak mereka sebagai pejabat negara sekaligus untuk melindungi diri mereka, jawaban mereka sederhana, hidup seseorang sepenuhnya tergantung pada Tuhan.

Ruki berpandangan sebaiknya pejabat negara tidak diberi fasilitas negara, seperti mobil dinas dan rumah dinas. Semua fasilitas itu sebaiknya disubstitusi menjadi bagian dari gaji sehingga bisa mengurangi anggaran untuk pejabat.

Kesederhanaan sikap ini juga ditunjukkan dengan kerja keras. Jarang sekali pimpinan KPK pulang pukul 17.00 seperti layaknya pegawai negeri atau pejabat lain. Bahkan, tak jarang Tumpak H Panggabean yang bertanggung jawab atas bidang penindakan rela tidak pulang jika para penyidik KPK menangkap dan menahan seseorang. Tidak enaklah. Masak anak buah masih kerja, saya sebagai atasan sudah pulang duluan, ujarnya.

Erry menjelaskan, perubahan yang dilakukan KPK adalah mencetak sebuah kultur baru. Kultur kerja birokrasi yang modern. KPK menggunakan sistem merit, yang bisa mengukur kinerja dan menjamin kesejahteraan pegawai. Kesejahteraan yang baik bisa meminimalkan praktik-praktik koruptif.

Amien Sunaryadi yang terbilang paling muda di antara kelimanya merupakan sosok yang progresif dengan pemikiran-pemikiran cemerlang. Khusus untuk white collar crime, kita harus menggunakan cara-cara yang proaktif, tak bisa hanya reaktif. Penggeledahan merupakan kunci dari terungkapnya white collar crime, kata Amien.

Cara-cara progresif memang mengedepan dalam usia KPK yang baru dua tahun ini dan banyak pihak terkejut-kejut dibuatnya. (VIN/AMR/DMU/TAT)

Sumber : Kompas, Sabtu, 31 Desember 2005
Read Full 0 comments

Ki Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno : Ki Warsino, Empu Dalang Pengagum Anoman

Ki Warsino, Empu Dalang Pengagum Anoman
Oleh : Brigitta Isworo Laksmi

Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya Kompas berhasil menemukan kediaman Ki Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno (85). Dalang senior itu seakan menunggu kedatangan Kompas. Ketika kami datang, dia sedang duduk di pendapa samping rumah sambil nglaras (bersantai) mendengarkan gending Jawa dari radio transistor sambil melayangkan pandangan ke halaman.

Kami disambut di halaman lalu diajak masuk ke ruang tamu rumah di Dusun Kedung Gebang, Kelurahan Talunamba, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu.

Warsino banyak disebut sebagai salah satu guru bagi dalang kondang gaya Surakarta. Sebut saja ”dalang setan”—karena sabetannya yang luar biasa—Ki Manteb Soedarsono, atau Ki Anom Suroto.

Bagi dia pribadi, istilah menjadi guru para dalang tersebut kurang tepat. ”Saya hanya kadang-kadang mendampingi mereka atau sekadar berdiskusi,” ujarnya. ”Anom Suroto semasa mudanya sering kemari,” katanya.

”Saya mulai mendalang tahun 1938 di desa-desa. Tahun 1941 saya belajar mendalang di Mangkunegaran semasa Mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII,” ujar dia membuka cerita.

”Guru saya di Mangkunegaran adalah Ki Mangundiwiryo, abdi dalem Mangkunegaran,” tutur Warsino yang suka memainkan lakon Ramayana itu. Guru pertamanya adalah Ki Bagong Natacarita dari Kartasura. ”Saya mengikuti beliau ke mana-mana bila beliau mendalang,” ujarnya.

Lupa kapan tepatnya, pada akhir 1960-an dia merantau ke Medan dan baru kembali ke Kedung Gebang tahun 1980 sambil membawa seperangkat gamelan yang sekarang selalu dibawanya mendalang.

Takdir

Mendalang bagi Warsino bagaikan takdir yang tidak terhindarkan. Kakek buyutnya hingga sang ayah adalah dalang. Diawali dari kakek buyutnya, Ki Jayani, darah dalang mengalir ke diri kakeknya, Guno Yoso. Profesi mendalang itu diteruskan sang ayah, Guno Sukasno.

”Saya dan ketiga adik laki-laki saya juga mendalang,” ujarnya. Dia mengatakan, ”Aku sabisa-bisa nyulihi, aja kepedhutan (Saya sebisa-bisanya menggantikan, jangan sampai punah),” ujarnya.

”Saya ini kalau mendalang, ya seutuhnya mendalang. Sekarang ini orang mendalang dicampur-campur, dengan campursari, dagelan, dan lain-lain menyesuaikan dengan permintaan penonton. Saya tidak mau begitu karena inti cerita wayang adalah jejer (narasi yang menceritakan lakon wayang). Karena bahasa jejer memang rumit dan halus, banyak yang tidak mengerti, akhirnya itu sering kali dihilangkan. Padahal yang penting adalah jejer kawitan (saat awal kisah dimulai) dan jejer pathet sanga (lewat tengah malam di tengah kisah),” ujarnya.

Pada masa mudanya, mendalang merupakan profesi kebanggaan yang akhirnya memicu fanatisme daerah secara sempit. Oleh karena itu, melaksanakan ”laku” dengan cara puasa kemudian menjadi salah satu cara menjaga diri dari berbagai ”serangan” dalang lain. Agar tidak hujan dan tidak ada gangguan, dia puasa mutih selama tiga hari. ”Terutama kalau bermain di Donomulyo, di daerah Malang yang dalangnya terkenal kuat-kuat,” tuturnya.

”Kalau zaman sekarang, dalang malah berkumpul kalau ada yang mendalang. Manteb main di sana lalu semua pergi ke sana. Kalau dulu, dalang bisa tidak senang kalau yang main di daerahnya dalang dari daerah lain,” ungkapnya.

Suatu kali dia menggunakan pokok pohon pinang yang demikian keras kayunya sebagai pengganti batang pisang untuk menancapkan wayang-wayangnya.

”Nah, saya pakai pokok pinang. Kamu mau apa?” ujarnya untuk menggambarkan bagaimana dia harus unjuk kekuatan. Seorang dalang yang ”diganggu”, dia menuturkan, suaranya bisa hilang, tidak bisa suluk (narasi pembukaan dengan nada khas).

Anoman

Ki Warsino yang piawai menggerakkan wayang hingga dikenal sebagai ”dalang sabet” ini mengaku sudah berkeliling hampir ke seluruh Indonesia untuk mendalang dan meruwat. Ia pernah mendalang di rumah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Di zaman Presiden Soekarno, hampir sebulan sekali dia main di hadapan presiden.

Di halaman rumahnya yang luas, kini setiap Jumat Wage, ada wayangan untuk ruwatan. Dalang yang main bergilir. Saat dia didaulat Kompas memainkan wayang, Ki Warsino membuka kotak tua di pendapa rumahnya. Tiga tokoh wayang, yaitu Permadi, Dewi Larasati, dan Kakrasana, dikeluarkan.

”Ini warisan dari Ki Jayani,” ujarnya. Dia lalu membuat sabetan ringan. Selanjutnya dia memainkan wayang Anoman dan Antareja, saudara Bima yang bisa menembus Bumi. Sabetannya seakan menghidupkan tokoh-tokoh di tangannya.

Dia sendiri menyukai tokoh Anoman, kera putih utusan Sri Rama untuk berkomunikasi dengan Sinta saat ditawan Rahwana. ”Dia adalah tokoh yang suka menolong, ksatria, tetapi kemudian berhenti dan menjadi pandita,” ujarnya.

Warsino pun kini telah menjadi ”Anoman”, menjadi pandita dalang. Air mukanya masih menerawang saat kami tinggalkan di pengujung sore yang berbau harum tanah karena hujan sempat turun. (NUT/WHY/ROW)

Sumber : Kompas, Senin, 2 Januari 2006
Read Full 0 comments

Kelly Clarkson : Dari "American Idol" Menjadi Idola Dunia

Dari ”American Idol” Menjadi Idola Dunia
Oleh : Dahono Fitrianto

Di luar dugaan siapa pun, penyanyi pendatang baru Kelly Clarkson menyabet dua penghargaan Grammy Awards pada malam penganugerahan 48th Annual Grammy Awards di Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (8/2/2006) malam waktu setempat.

Tidak tanggung-tanggung, Clarkson memenangi dua penghargaan paling prestisius di kategori musik pop, yakni Best Female Pop Vocal Performance dengan penampilannya pada lagu Since U Been Gone, dan Best Pop Vocal Album untuk album keduanya, Breakaway.

Pada kategori Penampilan Vokal Pop Wanita Terbaik, Clarkson memecundangi para artis yang jauh lebih senior dan lebih dikenal orang, yakni Mariah Carey, Sheryl Crow, Bonnie Raitt, dan Gwen Stefani. Sementara di kategori Album Vokal Pop Terbaik, ia mengalahkan Paul McCartney (dengan album Chaos and Creation in The Bakcyard), Fiona Apple (Extraordinary Machine), Sheryl Crow (Wildflower), dan Gwen Stefani (Love. Angel. Music. Baby.).

Berbicara kepada reporter majalah Rolling Stones, Steve Baltin, Clarkson mengaku tidak pernah mengira akan memenangi Grammy Awards tahun ini. Apalagi sampai membawa pulang dua sekaligus piala berbentuk gramofon sebagai lambang supremasi dunia industri musik Amerika Serikat (AS) tersebut. ”Melihat unggulan lainnya, sungguh bodoh kalau mengira aku akan menang. Aku tidak tahu bagaimana semua itu bisa terjadi, tetapi aku sungguh senang mengetahui orang lain menyenangi musikku,” tuturnya.

Namun, bukan itu saja puncak kebahagiaan Clarkson malam itu. Bagi penyanyi jelita kelahiran Texas, 23 tahun lalu, itu, malam tersebut mencapai puncaknya saat ia tampil di panggung membawakan single terbarunya, Because of You. ”Saya selalu memimpikan dapat tampil di panggung Grammy. Apalagi di hadapan orang-orang luar biasa dan sangat berbakat ini, seperti Bonnie Raitt dan Bruce Springsteen,” ujarnya.

Inilah puncak pencapaian Clarkson sebagai pendatang baru di dunia musik pop, setelah dua albumnya di bawah label RCA Records, Thankful (2003) dan Breakaway (2004), mencatat sukses besar di beberapa negara. Breakaway terjual lebih dari 7,8 juta kopi di seluruh dunia dan meraih platinum di AS, Kanada, Australia, Inggris, Selandia Baru, Irlandia, Afrika Selatan, Singapura, dan Indonesia.

Lagu-lagunya, seperti Breakaway, Since U Been Gone, Behind The Hazel Eyes, dan Because of You sangat akrab di telinga anak muda dan meraih posisi puncak tangga lagu populer di beberapa negara. Tahun 2004, Clarkson masuk nominasi Grammy Awards untuk kategori Penampilan Vokal Pop Wanita Terbaik dengan lagunya Miss Independent. Seluruh keberhasilan itu dicapai hanya dalam waktu tiga tahun setelah namanya pertama kali terdengar tahun 2002.

Idola Amerika

Nama besar Kelly Clarkson memang tidak akan pernah bisa lepas dari American Idol. Reality show pencarian bakat menyanyi yang disiarkan jaringan televisi Fox dan sudah dibikin berbagai versi di beberapa negara termasuk Indonesian Idol itulah yang pertama kali membawa nama Clarkson dikenal orang.

Clarkson adalah pemenang American Idol pertama saat acara itu diperkenalkan tahun 2002. Di final, Clarkson memperoleh dukungan 58 persen penonton yang mengirimkan dukungan melalui SMS, dan mengalahkan finalis lainnya, Justin Guarini.

Perjalanan hidup Clarkson di dunia musik diawali oleh sebuah kebetulan. Gadis kelahiran Fort Worth, Texas, 24 April 1982, itu sebenarnya bercita-cita menjadi seorang ahli biologi kelautan.

Biografi di situs resminya, www.kellyclarkson.com, menuliskan, saat masih berumur 13 tahun, Clarkson iseng bernyanyi sendiri di koridor sekolahnya di Pauline Hughes Middle School, Burleston, Texas. Senandungnya itu ternyata terdengar oleh seorang guru, yang kemudian memintanya bergabung dalam paduan suara sekolah.

”Tidak ada yang mengira aku punya bakat menyanyi, sampai hari itu. Sejak itu, guruku itu benar-benar mendorongku untuk berlatih menyanyi karena di paduan suara itu aku yang paling ketinggalan. Saat itulah aku menemukan tempat dalam hidup ini,” ujar dara berambut pirang itu mengenang.

Kemampuannya menyanyi kemudian berkembang pesat dan Clarkson selalu memukau penonton dalam penampilannya di berbagai kontes menyanyi lokal. Clarkson sempat menjadi pelayan restoran, asisten apoteker, bekerja di gedung bioskop dan kebun binatang sebelum memutuskan untuk mengejar cita-citanya menjadi penyanyi profesional.

Setelah lulus sekolah, ia pindah ke Los Angeles dan mulai mengirimkan rekaman demo tape-nya ke berbagai perusahaan rekaman. Akan tetapi, semua usahanya itu terhenti saat apartemennya terbakar dan memusnahkan semua impiannya.

Kembali ke Texas, seorang teman terus mendesak Clarkson untuk tidak menyerah begitu saja. Saat itulah pendaftaran peserta American Idol dibuka, dan teman tersebut meyakinkan Clarkson untuk mencoba mendaftar. ”Aku akhirnya pergi mendaftar just for fun. Dan, here I am now....”

Sumber : Kompas, Sabtu, 11 Februari 2006
Read Full 0 comments

Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie : Datuk Simulie, Mencatat Sejatah yang Tercecer

Jun 18, 2009
Datuk Simulie, Mencatat Sejarah yang Tercecer
Oleh : Yurnaldi

Lewat buku Mesin Ketik Tua, Haji Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie mencatat kekayaan sejarah yang jarang ditemukan di buku-buku sejarah lain. Sejumlah catatan sejarah yang tercecer ia ungkap di buku tersebut.

Dalam acara peluncuran dan bedah buku yang digelar Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP), 11 Maret lalu, para undangan tetap tinggal duduk ketika acara usai. Orang memang menaruh hormat kepada Datuk Simulie, Pemangku Adat Minang yang disegani ini.

Dalam bukunya ini ia, misalnya, menceritakan mengenai Bung Hatta. Ketika kita tidak melihat dalam buku-buku bacaan lain tentang hubungan Hatta dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), atau bagaimana peranan Bung Hatta dalam PDRI, Datuk Simulie memberikan jawabannya, yang didasarkan catatan lebih dari 30 tahun lalu.

Ketika itu ia aktif dalam dunia kewartawanan dan mewawancarai Mr Sjafruddin Prawiranegara, pemimpin PDRI (1948-1949) dan pemimpin Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI pada tahun 1958-1961.

"Ketika saya tanya, ia mengakui bahwa ia tidak pernah menerima mandat dari Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Yaitu mandat yang memberi kuasa kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintah darurat di Sumatera (PDRI). Waktu itu Sjafruddin sebagai Menteri Kemakmuran RI sedang berada di Bukittinggi," papar Datuk Simulie.

Menurut Sjafruddin, seperti dikutip Simulie, strategi dan konsep PDRI sebenarnya adalah konsep Bung Hatta. Situasi Tanah Air ketika itu semakin gawat dan ada tanda-tanda bahwa perundingan RI-Belanda akan menghadapi jalan buntu.

Menurut konsep Bung Hatta, Presiden Soekarno akan memimpin pemerintahan Indonesia di luar negeri. Hatta akan memimpin pemerintah darurat di Sumatera. Sementara Dr Sukiman, Kiai Masykur, Susanto, Jenderal Sudirman, Simatupang, dan AH Nasution akan tetap memimpin gerilya di Pulau Jawa.

Sepulang dari Tapanuli, November 1948, Bung Hatta bilang, "Sjaf! Keadaan semakin gawat. Nada-nadanya Belanda mau mengangkangi Perjanjian Renville. Saya diminta Bung Karno kembali ke Yogya. Sjaf tinggal di sini dulu. Konsep kita kan sudah ada. Tinggal kita melaksanakan saja. Nanti saya datang lagi."

Menurut Datuk Simulie, apa yang dinamakan strategi Hatta ini bak kato urang Minang, "Bagi Sjafruddin Prawiranegara sudah dalam paruik penghulu."

Buku berjalan

Datuk Simulie genap 73 tahun pada 12 Maret lalu. Dalam usia seuzur itu, ayah 11 anak ini memiliki daya ingatan yang tajam, dan sampai sekarang masih terus menulis.

Datuk Simulie hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah lanjutan tingkat atas. Dari ayahnya, H Rais Datuk Machudung yang dia sebut sebagai "politikus lokal", ia banyak mendapatkan dorongan untuk belajar tentang hidup, termasuk tentang masalah politik.

Ia kini sering disebut-sebut sebagai "buku berjalan". Kalau bercerita tentang sesuatu, kita mendengarkan penjelasannya bagai membaca buku. Akan tetapi, penjelasannya tetap lebih menarik dari buku karena hampir selalu ia bercerita sembari menirukan gaya, intonasi, dan vokal seseorang.

Lebih dari itu, sebagai Pemangku Adat Minang, Datuk Simulie adalah orang yang selalu gelisah dan prihatin akan kondisi adat dan budaya Minangkabau. Ia akan cepat tanggap setiap ada pembicaraan menyangkut adat dan ranah Minangkabau. Berkat mesin ketik tua miliknya, berbagai gagasan, paparan, ulasan, dan komentarnya masih sering dibaca di media cetak terbitan Sumbar.

Bicara soal adat Minang, pidato adat yang kaya dengan pantun-pantun, petitih-petatah, dan sebagainya, Datuk Simulie yang juga salah seorang penggagas dan pendiri Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM) 40 tahun lalu sangat menguasai. Karena itu, ia dipercaya untuk kedua kalinya menjadi Ketua Umum Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat periode 2005-2010.

Sampai sekarang, satu keinginan Datuk Simulie yang terus disuarakan sejak puluhan tahun lalu adalah bagaimana merevisi pasal hak guna usaha (HGU) dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960. Alasannya, Minangkabau punya warisan budaya yang mengatur hukum adat soal tanah ulayat atau pusako tinggi di nagari-nagari (pemerintahan terendah di Sumbar).

"Tanah di Minangkabau adalah lebensraum (ruang untuk hidup) dan tempat ia berkubur. Tanah adalah milik komunal yang bukan saja untuk dimanfaatkan oleh orang yang hidup sekarang, tetapi juga diperuntukkan bagi generasi berikutnya. Karena itu, tanah ulayat harus diwariskan secara utuh kepada generasi pelanjutnya," papar Datuk Simulie pula.

Dalam usianya yang 73 tahun, Datuk Simulie masih kuat masuk kantor setiap hari, bahkan menghadiri dan memberikan sambutan pada berbagai acara.

Sebagai wartawan tiga zaman, mantan Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang, mantan Ketua PWI Cabang Sumbar, dan pernah menjadi anggota DPRD Sumbar, Datuk Simulie masih sering diundang menyampaikan pemikiran dan gagasan dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk tampil menjadi narasumber dalam berbagai forum diskusi, seminar, serta workshop tingkat nasional dan internasional di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri.

"Satu hal yang sangat berjasa dalam hal itu adalah mesin ketik tua saya, yang sejak tahun 1970-an sampai sekarang masih saya pakai. Bagi saya, bunyi gemerincing mesin ketik tua tersebut telah ikut memberikan inspirasi untuk menulis artikel by line di berbagai media cetak," ungkapnya.

Sumber : Kompas, Rabu, 19 April 2006
Read Full 0 comments

Ketut Karnita : Cinta Karnita pada Hewan Langka

Cinta Karnita pada Hewan Langka
Oleh : Agnes Suharsiningsih

Pupuan di Kabupaten Tabanan, Bali, terkenal dengan cuacanya yang sejuk dan pemandangan alam yang asri. Daerah yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Denpasar itu selain menjadi lumbung padi Bali juga menghasilkan kopi dan kakao.

Di tengah alam yang asri dan menyimpan kedamaian ini, ada sesosok lelaki yang mengabdikan dirinya untuk menangkarkan hewan langka seperti rusa, kijang, dan monyet ekor panjang.

Lokasi penangkaran milik I Ketut Karnita ini terletak di Banjar Bangsing, Desa Batungsel Kelod, Pupuan, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju ke desa itu, dari jalan raya Denpasar-Gilimanuk, kita akan melalui jalan berkelok-kelok dengan pemandangan persawahan menghijau yang menggunakan sistem terasering (bangku) di kanan dan kiri jalan.

I Ketut Karnita (58) adalah sosok yang dengan segenap kecintaan dan pengorbanan berkeinginan untuk melestarikan hewan-hewan yang terbilang langka. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap bayaran, tidak juga ia komersialkan. Sebaliknya, laki-laki kelahiran 1948 yang hanya mengenyam pendidikan formal sekolah lanjutan umum (setingkat SMP) ini telah keluar biaya yang tidak sedikit sejak ia merintis penangkaran hewannya pada tahun 1991. Di atas lahan produktif seluas 80 Ha miliknya, Karnita memelihara dan dengan caranya sendiri mengembangbiakkan berbagai hewan miliknya.

Kini, di lahan penangkaran yang ditumbuhi banyak jenis pepohonan keras dan buah-buahan tersebut, terdapat 16 rusa, 12 kijang, 12 monyet, seekor beruk, serta beberapa ekor burung langka seperti kakaktua bayan dan elang bondol. Selain itu, juga ada kura-kura, kelinci, dan puluhan ekor itik yang dengan bebasnya berkeliaran di kebun. Bahkan, menurut Karnita, di kebun itu ia pernah memelihara beruang, biawak, ular piton, dan lebah madu.

Menurut Karnita, kalau saja tidak ada permintaan untuk hewan caru (korban) yang biasa digunakan untuk keperluan ritual pada hari raya di Bali, hewan yang dia tangkarkan sudah melebihi jumlah yang ada sekarang. Memang, terkadang datang orang yang mengantongi izin untuk membeli rusa, kijang, atau monyet yang nantinya digunakan sebagai caru untuk keperluan ritual.

Tentu saja keberadaan hewan-hewan yang terbilang langka di Batungsel Kelod itu menarik perhatian orang yang kebetulan lewat, baik mereka yang berasal dari daerah sekitar maupun yang datang dari daerah lain. Tak terbilang orang yang telah berkunjung ke "kebun binatang" milik Ketut Karnita ini. Mereka dengan bebas dapat menikmati keberadaan hewan-hewan yang ada tanpa dipungut bayaran.

Ular memangsa kijang

Ayah empat anak dan kakek dari lima cucu itu mengungkapkan, "Saya memang ingin mengembangbiakkan hewan-hewan itu agar mereka tetap lestari. Saya khawatir, dengan pola hidup manusia seperti sekarang ini, nantinya hewan-hewan tersebut akan punah dan tidak dapat dinikmati oleh anak cucu. Kasihan jika anak cucu saya nanti tahu tentang binatang hanya lewat gambar saja, tanpa bisa melihat langsung dengan mata kepala sendiri".

Usaha Karnita ini terinspirasi setelah ia menyaksikan seekor ular piton memangsa kijang yang sedang bunting di kaki Gunung Batukaru, Tabanan. Dia berpikir, ular piton akan memangsa binatang seperti kijang atau rusa sekali dalam tiga bulan, sedangkan kijang hanya beranak satu dalam setahun. Jika perkembangbiakan kijang atau rusa dibiarkan tidak diawasi, bukan mustahil dalam beberapa tahun mendatang binatang-binatang itu akan punah.

Karena itulah, sejak 1991 Karnita mulai memelihara dan menangkarkan kijang serta rusa. Awalnya, ia hanya memelihara satu pejantan dan dua betina kijang. Ada pula sepasang rusa. Sambil memelihara satwa-satwa itu, Karnita berusaha mengurus izin penangkaran melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Direktorat Jenderal Kehutanan dan Perkebunan setempat.

Setahun kemudian, ia berhasil mengantongi izin penangkaran yang menelan biaya lebih dari Rp 1 juta. Dengan izin tersebut Karnita setiap bulannya harus memberikan laporan tentang perkembangan yang terjadi.

Untuk mempertahankan roda penangkaran hewannya, Karnita harus berjuang sendiri. Biaya tak sedikit mesti dia keluarkan dari kantong pribadi, yakni dari hasil kerjanya sebagai petugas derek mobil. Adapun untuk makanan hewan yang ditangkarkan, dia lebih mengandalkan berbagai macam buah-buahan yang tumbuh subur di kebunnya.

"Pernah ada yang menghitung, jika dirata-rata seluruh hewan di sini biaya makannya Rp 300.000 per hari. Untung saja buah dan rumput tumbuh subur di kebun, jadi untuk urusan makan hewan dapat diatasi dari itu. Kadang ada bantuan dari tetangga, mereka biasanya menawari kami untuk memetik sendiri buah di kebun," tutur Karnita.

Atas usahanya yang tanpa pamrih, suami dari Ni Wayan Pastini yang menjabat Kepala Sekolah Dasar I Batungsel itu mendapat penghargaan Pencinta Lingkungan Tingkat Tabanan tahun 1998, Pencinta Puspa Tingkat Bali Tahun 1999, dan Perintis Lingkungan Nasional Tahun 2000 yang diberikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid.

Dalam kesederhanaannya, Karnita berjanji akan terus melanjutkan usahanya ini. Baginya, hobi memelihara binatang memberikan manfaat positif bagi dirinya dan juga sesama. Dengan penangkaran ini dia berharap akan memberikan warisan tak ternilai bagi anak cucu.

Sumber : Kompas, Sabtu, 20 Mei 2006
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks