Showing posts with label Z. Show all posts
Showing posts with label Z. Show all posts
Zainal Gani, Dokter Umum Spesialis Herba
Jun 26, 2009
Zainal Gani, Dokter Umum Spesialis Herba
Oleh : JA Noertjahyo*
ADA yang menilai unik tentang kepribadian dokter Zainal Gani. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, tahun 1978 ini tidak pernah membuka praktik pribadi. Ia malah menekuni dunia pertanian dan obat-obatan tradisional. Lalu, ia memproduksi obat-obat tradisional dan makanan sehat alami dengan merek Herba Bagoes. Saat ini produk andalannya adalah Vico Bagoes alias Virgin Coconut Oil. Dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan nama menggelitik: 'minyak perawan'.
PEMINAT Virgin Coconut Oil (VCO) ternyata cukup banyak. Herba Bagoes tiap harinya memproduksi sekitar 20 liter per hari, atau 500 liter lebih setiap bulannya. Pasarnya ternyata bukan hanya Malang, tetapi juga Jakarta, Semarang, Bandung, Bali, dan lain-lain. "Untuk luar Jawa kurang lancar karena maskapai penerbangan tidak mau mengangkut kargo cair," tutur dokter yang kelahiran Banyuwangi tahun 1946 itu.
Karena banyaknya peminat, ia juga mengadakan kursus singkat tentang cara memproduksi VCO yang benar dan bagus. "Angkatan pertama sudah selesai, diikuti lima orang. Untuk angkatan kedua sudah ada yang mendaftar sebanyak 20 orang," ujarnya dalam perbincangan 24 Juni lalu. Pesertanya dari Jawa maupun luar Jawa, antara lain Riau, Kalimantan, Bali, dan Pulau Rote.
Kursus dilaksanakan dalam dua hari, biayanya Rp 950.000 per orang, termasuk biaya menginap di hotel. "Setelah kursus selesai, dijamin peserta bisa memproduksi VCO," kata Gani, yang juga membuka Kafe Obat Tradisional di rumah barunya, kawasan Sudimoro Blimbing, Malang, Jawa Timur. "Rumah ini hasil dari usaha obat-obatan tradisional," katanya.
Tentang manfaat VCO, menurut dokter Zainal Gani, sudah banyak ahli yang tidak meragukan. Bahkan di Indonesia, khususnya Jawa, para orangtua kita dulu sudah mengenalnya meskipun tidak dijelaskan secara ilmiah. Misalnya manfaat minyak kelapa (klentik) untuk orang hamil. Sekarang bisa dijelaskan bahwa kelapa mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (medium chain fatty acids), disingkat MCFA. Yaitu asam laurat dan asam capric. MCFA dalam minyak kelapa (klentik) berfungsi melindungi janin dari serangan virus dan mikroorganisme lain. Ini sangat bermanfaat untuk kehamilan muda. Sementara pada kehamilan tua, MCFA diubah menjadi energi yang sangat dibutuhkan saat melahirkan, sekaligus meningkatkan kuantitas dan kualitas air susu ibu.
Dari beberapa literatur disebutkan, VCO bisa mengurangi risiko atheroscleroses (pengerasan pembuluh darah) dan sakit jantung, mencegah sakit kanker, diabetes, gangguan degeratif, dan mencegah terjadinya infeksi. Selain itu juga mendukung kekebalan tubuh, menunjang metabolisme, memperbaiki pencernaan, membuat kulit tetap lembut dan halus, serta berfungsi sebagai antioksidan.
"VCO juga tidak menaikkan kadar kolesterol," tutur dokter yang juga berstatus sebagai ayah tiga anak itu.
DOKTER Zainal Gani merintis penyebarluasan obat-obat tradisional sejak berdinas di Rumah Sakit Bersalin Arjosari (Malang) tahun 2000. "Di situ ada dua apotek, satunya khusus untuk obat-obat tradisional," ujarnya. Setelah pensiun tahun 2002, ia meneruskan kegiatannya di rumah sampai sekarang ini. Herba Bagoes mengeluarkan lebih dari 25 macam produksi.
Dia menambahkan, beberapa rekan sekerjanya dulu juga ada yang mengikuti jejaknya, memproduksi obat-obatan tradisional. Dan ternyata mereka yang benar-benar tekun mengerjakannya usaha ini bisa memberikan penghasilan cukup baik.
Dokter yang mengaku menderita penyakit diabetes sejak usia 36 tahun itu juga punya pengalaman menarik tentang makanan. Untuk menjaga stamina fisik dan kesehatannya, selain makan obat, dia juga pernah menerapkan pola food combining. Meskipun porsi nasinya sudah diturunkan dari satu ons menjadi setengah ons, ternyata kadar gula darahnya masih tetap tinggi. Lalu ia mulai melakukan cara lain, mengganti makanan nasi dengan ubi rambat yang dipanggang.
"Ternyata kadar gula saya turun, dari semula 300 mg/dl (miligram/desiliter) menjadi 190 mg/dl. Dan stamina juga tetap baik," katanya.
Namun, sejak setahun lalu ia mengubah lagi makanannya. Bukan ubi panggang, tetapi blondo (ampas prosesing VCO). Setelah berjalan enam bulan, kadar gulanya turun menjadi 140-150 mg/dl. "Sampai sekarang sudah berjalan setahun, dan saya tetap sehat," tuturnya meyakinkan.
Semua pengalaman dan pengetahuan dokter Zainal Gani tentang obat-obat tradisional tersebut disebarluaskan melalui berbagai cara. Selain kepada para langganan dan kenalannya, ia juga menerbitkan Media Sehat Alami dan secara rutin mengadakan siaran melalui sebuah pemancar radio swasta di Malang. Khusus edisi 3 Mei 2005, Media Sehat Alami mengupas tentang VCO.
SELAIN tanaman obat-obatan, Zainal Gani juga pernah menekuni tanaman anggrek, jamur, jeruk, kayu mindi, serta suren. Kedua jenis tanaman kayu itu ia yakini mampu meningkatkan taraf hidup petani jika ditangani secara serius dan profesional. Mindi putih, misalnya, pada usia lima tahun bisa laku Rp 500.000 per pohon. Jika diusahakan dengan jarak tanam 3 x 3 meter, satu hektar bisa ditanami sekitar 1.111 pohon. Nilainya setelah berusia lima tahun mencapai sekitar Rp 555.500.000.
"Artinya, satu hektar bisa menghasilkan lebih dari Rp 100 juta per tahun," katanya. Padahal, tanaman ini tidak memerlukan perawatan yang sulit dan pasarannya pun masih cukup terbuka.
Karena itu, Zainal Gani berobsesi untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang tanaman ini agar para petani kita dapat memperoleh penghasilan yang baik. Keinginan ini tidak mustahil bisa dilaksanakan dengan baik karena ia sudah lebih dari 20 tahun juga menjadi anggota aktif Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kota Malang. Saat ini jabatannya di KTNA sebagai ahli andalan bidang pertanian, khususnya tanaman obat-obatan.
Dokter yang pernah mengikuti wajib militer dan bekerja sekitar tiga tahun di Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar (Bali) ini ternyata juga pencinta lingkungan yang tangguh. Pekarangan rumahnya di Sudimoro dipenuhi berbagai jenis tanaman, baik yang bernilai obat maupun tanaman untuk 'percobaan' seperti mindi. Limbah rumah tangganya juga diatur sedemikian rupa sehingga terjadi proses daur ulang dan tidak mencemari lingkungan.
Memang unik!
*JA Noertjahyo, Wartawan, Tinggal di Malang
Sumber : Kompas, Senin, 27 Juni 2005
Oleh : JA Noertjahyo*
ADA yang menilai unik tentang kepribadian dokter Zainal Gani. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, tahun 1978 ini tidak pernah membuka praktik pribadi. Ia malah menekuni dunia pertanian dan obat-obatan tradisional. Lalu, ia memproduksi obat-obat tradisional dan makanan sehat alami dengan merek Herba Bagoes. Saat ini produk andalannya adalah Vico Bagoes alias Virgin Coconut Oil. Dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan nama menggelitik: 'minyak perawan'.
PEMINAT Virgin Coconut Oil (VCO) ternyata cukup banyak. Herba Bagoes tiap harinya memproduksi sekitar 20 liter per hari, atau 500 liter lebih setiap bulannya. Pasarnya ternyata bukan hanya Malang, tetapi juga Jakarta, Semarang, Bandung, Bali, dan lain-lain. "Untuk luar Jawa kurang lancar karena maskapai penerbangan tidak mau mengangkut kargo cair," tutur dokter yang kelahiran Banyuwangi tahun 1946 itu.
Karena banyaknya peminat, ia juga mengadakan kursus singkat tentang cara memproduksi VCO yang benar dan bagus. "Angkatan pertama sudah selesai, diikuti lima orang. Untuk angkatan kedua sudah ada yang mendaftar sebanyak 20 orang," ujarnya dalam perbincangan 24 Juni lalu. Pesertanya dari Jawa maupun luar Jawa, antara lain Riau, Kalimantan, Bali, dan Pulau Rote.
Kursus dilaksanakan dalam dua hari, biayanya Rp 950.000 per orang, termasuk biaya menginap di hotel. "Setelah kursus selesai, dijamin peserta bisa memproduksi VCO," kata Gani, yang juga membuka Kafe Obat Tradisional di rumah barunya, kawasan Sudimoro Blimbing, Malang, Jawa Timur. "Rumah ini hasil dari usaha obat-obatan tradisional," katanya.
Tentang manfaat VCO, menurut dokter Zainal Gani, sudah banyak ahli yang tidak meragukan. Bahkan di Indonesia, khususnya Jawa, para orangtua kita dulu sudah mengenalnya meskipun tidak dijelaskan secara ilmiah. Misalnya manfaat minyak kelapa (klentik) untuk orang hamil. Sekarang bisa dijelaskan bahwa kelapa mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (medium chain fatty acids), disingkat MCFA. Yaitu asam laurat dan asam capric. MCFA dalam minyak kelapa (klentik) berfungsi melindungi janin dari serangan virus dan mikroorganisme lain. Ini sangat bermanfaat untuk kehamilan muda. Sementara pada kehamilan tua, MCFA diubah menjadi energi yang sangat dibutuhkan saat melahirkan, sekaligus meningkatkan kuantitas dan kualitas air susu ibu.
Dari beberapa literatur disebutkan, VCO bisa mengurangi risiko atheroscleroses (pengerasan pembuluh darah) dan sakit jantung, mencegah sakit kanker, diabetes, gangguan degeratif, dan mencegah terjadinya infeksi. Selain itu juga mendukung kekebalan tubuh, menunjang metabolisme, memperbaiki pencernaan, membuat kulit tetap lembut dan halus, serta berfungsi sebagai antioksidan.
"VCO juga tidak menaikkan kadar kolesterol," tutur dokter yang juga berstatus sebagai ayah tiga anak itu.
DOKTER Zainal Gani merintis penyebarluasan obat-obat tradisional sejak berdinas di Rumah Sakit Bersalin Arjosari (Malang) tahun 2000. "Di situ ada dua apotek, satunya khusus untuk obat-obat tradisional," ujarnya. Setelah pensiun tahun 2002, ia meneruskan kegiatannya di rumah sampai sekarang ini. Herba Bagoes mengeluarkan lebih dari 25 macam produksi.
Dia menambahkan, beberapa rekan sekerjanya dulu juga ada yang mengikuti jejaknya, memproduksi obat-obatan tradisional. Dan ternyata mereka yang benar-benar tekun mengerjakannya usaha ini bisa memberikan penghasilan cukup baik.
Dokter yang mengaku menderita penyakit diabetes sejak usia 36 tahun itu juga punya pengalaman menarik tentang makanan. Untuk menjaga stamina fisik dan kesehatannya, selain makan obat, dia juga pernah menerapkan pola food combining. Meskipun porsi nasinya sudah diturunkan dari satu ons menjadi setengah ons, ternyata kadar gula darahnya masih tetap tinggi. Lalu ia mulai melakukan cara lain, mengganti makanan nasi dengan ubi rambat yang dipanggang.
"Ternyata kadar gula saya turun, dari semula 300 mg/dl (miligram/desiliter) menjadi 190 mg/dl. Dan stamina juga tetap baik," katanya.
Namun, sejak setahun lalu ia mengubah lagi makanannya. Bukan ubi panggang, tetapi blondo (ampas prosesing VCO). Setelah berjalan enam bulan, kadar gulanya turun menjadi 140-150 mg/dl. "Sampai sekarang sudah berjalan setahun, dan saya tetap sehat," tuturnya meyakinkan.
Semua pengalaman dan pengetahuan dokter Zainal Gani tentang obat-obat tradisional tersebut disebarluaskan melalui berbagai cara. Selain kepada para langganan dan kenalannya, ia juga menerbitkan Media Sehat Alami dan secara rutin mengadakan siaran melalui sebuah pemancar radio swasta di Malang. Khusus edisi 3 Mei 2005, Media Sehat Alami mengupas tentang VCO.
SELAIN tanaman obat-obatan, Zainal Gani juga pernah menekuni tanaman anggrek, jamur, jeruk, kayu mindi, serta suren. Kedua jenis tanaman kayu itu ia yakini mampu meningkatkan taraf hidup petani jika ditangani secara serius dan profesional. Mindi putih, misalnya, pada usia lima tahun bisa laku Rp 500.000 per pohon. Jika diusahakan dengan jarak tanam 3 x 3 meter, satu hektar bisa ditanami sekitar 1.111 pohon. Nilainya setelah berusia lima tahun mencapai sekitar Rp 555.500.000.
"Artinya, satu hektar bisa menghasilkan lebih dari Rp 100 juta per tahun," katanya. Padahal, tanaman ini tidak memerlukan perawatan yang sulit dan pasarannya pun masih cukup terbuka.
Karena itu, Zainal Gani berobsesi untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang tanaman ini agar para petani kita dapat memperoleh penghasilan yang baik. Keinginan ini tidak mustahil bisa dilaksanakan dengan baik karena ia sudah lebih dari 20 tahun juga menjadi anggota aktif Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kota Malang. Saat ini jabatannya di KTNA sebagai ahli andalan bidang pertanian, khususnya tanaman obat-obatan.
Dokter yang pernah mengikuti wajib militer dan bekerja sekitar tiga tahun di Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar (Bali) ini ternyata juga pencinta lingkungan yang tangguh. Pekarangan rumahnya di Sudimoro dipenuhi berbagai jenis tanaman, baik yang bernilai obat maupun tanaman untuk 'percobaan' seperti mindi. Limbah rumah tangganya juga diatur sedemikian rupa sehingga terjadi proses daur ulang dan tidak mencemari lingkungan.
Memang unik!
*JA Noertjahyo, Wartawan, Tinggal di Malang
Sumber : Kompas, Senin, 27 Juni 2005
Zohra Andi Baso : 30 Tahun Pergulatan Andi Baso
30 Tahun Pergulatan Zohra Andi Baso
Oleh : Ninuk M Pambudy
Di antara 23 nama perempuan Indonesia yang dicalonkan Organisasi 1000 Women for the Nobel Peace Prize 2005 bersama-sama 977 perempuan lain dari 153 negara penerima Nobel Perdamaian 2005, ada nama Zohra Andi Baso.
Biasa saja, karena selama ini saya bekerja tidak pernah dengan tujuan mendapat penghargaan,†kata Zohra Andi Baso pekan lalu di Jakarta ketika ditanya mengenai pencalonan itu.
Meskipun tinggal di Makassar dan fokus kegiatannya banyak di Sulawesi Selatan, batas geografi tidak mampu menghalangi aktivitas perempuan kelahiran 17 April 1952 di Labbakkang, Pangkep, Sulawesi Selatan, ini. Sebagai Ketua Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia dia kerap hadir dalam lokakarya di Jakarta, termasuk pekan lalu setelah beberapa hari sebelumnya pulang dari San Francisco.
Ikut konferensi Sexual Rights and Moral Panic yang diadakan San Francisco State University. Saya memasukkan abstrak mengenai pendidikan seksual sebagai alternatif mencegah penularan HIV/AIDS. Sekarang kan anak-anak pun dengan mudah bisa membeli VCD dan bacaan porno atau membuka internet porno. Ternyata abstrak saya diterima, kata Zohra.
Kesehatan reproduksi adalah satu dari isu perempuan dan anak yang diakrabi Zohra. Pada tahun 1975 ketika masih kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin, Makassar, Zohra ikut mendirikan Remaja Keluarga Berencana Club, organisasi di bawah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Saat kuliah itu pun dia sudah menggugat mengapa dalam Dewan Mahasiswa perempuan hanya mendapat posisi yang stereotip: bila bukan bendahara pasti seksi konsumsi.
Sebagai ketua kelompok perempuan saya tidak mau perempuan hanya jadi bendahara atau seksi konsumsi. Mereka mendengar protes itu karena kami membuktikan kemampuan melalui diskusi kampus, kata sulung dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan ini.
Setelah itu, dia meluaskan aktivitasnya dalam hak-hak konsumen melalui Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sulawesi Selatan pada tahun 1987 dan tahun 1994 menjadi ketuanya. Memang aktivitas saya ada di berbagai bidang, tetapi saya mempertajam fokus pada hak-hak perempuan papar Zohra yang tahun 1994 mendirikan Forum Pemerhati Masalah Perempuan Sulawesi Selatan. Kegiatan utama adalah mengadvokasi masyarakat dan penegak hukum untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, menegakkan hak asasi perempuan, dan kampanye internal kepada anggota.
Mengikutkan perempuan
Organisasi 1000 Women for the Nobel Peace Prize 2005 yang berpusat di Bern, Swiss, yang memprakarsai pencalonan tersebut, mengatakan, angka 1000 adalah simbolisasi untuk jutaan perempuan di dunia yang berjuang demi perdamaian dan martabat manusia. â€Saya tidak tahu kenapa saya dan siapa yang mencalonkan,†kata Zohra.
Ketertarikan peraih gelar master lingkungan dari Institut Pertanian Bogor ini terhadap isu perempuan dari begitu banyak isu adalah karena dia melihat perempuan masih termarjinalisasi hak-haknya.
Bila ingin masyarakat yang demokratis, perempuan harus ikut di semua lini kegiatan masyarakat, papar Zohra. Nyatanya, di Sulawesi Selatan hanya ada lima perempuan anggota DPRD, dan ada kabupaten yang tidak memiliki wakil perempuan.
Sebagai keluarga bangsawan, Zohra beruntung memiliki ibu yang anggota Aisyiah yang gigih mendorong anak perempuannya terus maju, meskipun kebiasaan saat itu anak perempuan di kampungnya hanya bersekolah hingga tamat sekolah dasar (SD).
Sepupu saya yang perempuan setamat SD tidak bisa sekolah lagi karena untuk ke SMP harus ke Makassar, lalu melanjutkan ke Jawa. Sedangkan sepupu laki-laki boleh sekolah terus, tambah mantan koresponden harian Sinar Harapan dan kemudian Suara Pembaruan (1975-2000) itu.
Saya ingin perempuan mengerti haknya dan laki-laki juga paham persoalan perempuan, tambah Zohra.
Melalui Forum Pemerhati Masalah Perempuan Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Partnership, Zohra telah memberi pendidikan politik untuk 2.000 perempuan lewat forum Diskusi Kampung. Mereka lalu menjadi simpul di komunitas masing-masing. Dengan memberi pengetahuan akan hak atas akses dan kontrol terhadap jalannya pembangunan, mereka berani memosisikan diri menjadi pengawas di tingkat lokal.
Pekerjaan itu bukan tanpa tantangan. Menurut Zohra, Di tingkat lokal ada yang mengatakan yang kami ajarkan ini anti-agama. Saya katakan kepada teman-teman untuk tidak panik. Kami jelaskan, ajaran agama mengakui setiap orang sama, yang berbeda adalah keimanannya. Ternyata banyak perempuan di kampung-kampung yang pintar dan mereka bersemangat ikut Diskusi Kampung. Jadi, harapan tetap ada meskipun perjalanan masih panjang.
Sumber : Kompas, Selasa, 12 Juli 2005
Oleh : Ninuk M Pambudy
Di antara 23 nama perempuan Indonesia yang dicalonkan Organisasi 1000 Women for the Nobel Peace Prize 2005 bersama-sama 977 perempuan lain dari 153 negara penerima Nobel Perdamaian 2005, ada nama Zohra Andi Baso.
Biasa saja, karena selama ini saya bekerja tidak pernah dengan tujuan mendapat penghargaan,†kata Zohra Andi Baso pekan lalu di Jakarta ketika ditanya mengenai pencalonan itu.
Meskipun tinggal di Makassar dan fokus kegiatannya banyak di Sulawesi Selatan, batas geografi tidak mampu menghalangi aktivitas perempuan kelahiran 17 April 1952 di Labbakkang, Pangkep, Sulawesi Selatan, ini. Sebagai Ketua Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia dia kerap hadir dalam lokakarya di Jakarta, termasuk pekan lalu setelah beberapa hari sebelumnya pulang dari San Francisco.
Ikut konferensi Sexual Rights and Moral Panic yang diadakan San Francisco State University. Saya memasukkan abstrak mengenai pendidikan seksual sebagai alternatif mencegah penularan HIV/AIDS. Sekarang kan anak-anak pun dengan mudah bisa membeli VCD dan bacaan porno atau membuka internet porno. Ternyata abstrak saya diterima, kata Zohra.
Kesehatan reproduksi adalah satu dari isu perempuan dan anak yang diakrabi Zohra. Pada tahun 1975 ketika masih kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin, Makassar, Zohra ikut mendirikan Remaja Keluarga Berencana Club, organisasi di bawah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Saat kuliah itu pun dia sudah menggugat mengapa dalam Dewan Mahasiswa perempuan hanya mendapat posisi yang stereotip: bila bukan bendahara pasti seksi konsumsi.
Sebagai ketua kelompok perempuan saya tidak mau perempuan hanya jadi bendahara atau seksi konsumsi. Mereka mendengar protes itu karena kami membuktikan kemampuan melalui diskusi kampus, kata sulung dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan ini.
Setelah itu, dia meluaskan aktivitasnya dalam hak-hak konsumen melalui Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sulawesi Selatan pada tahun 1987 dan tahun 1994 menjadi ketuanya. Memang aktivitas saya ada di berbagai bidang, tetapi saya mempertajam fokus pada hak-hak perempuan papar Zohra yang tahun 1994 mendirikan Forum Pemerhati Masalah Perempuan Sulawesi Selatan. Kegiatan utama adalah mengadvokasi masyarakat dan penegak hukum untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, menegakkan hak asasi perempuan, dan kampanye internal kepada anggota.
Mengikutkan perempuan
Organisasi 1000 Women for the Nobel Peace Prize 2005 yang berpusat di Bern, Swiss, yang memprakarsai pencalonan tersebut, mengatakan, angka 1000 adalah simbolisasi untuk jutaan perempuan di dunia yang berjuang demi perdamaian dan martabat manusia. â€Saya tidak tahu kenapa saya dan siapa yang mencalonkan,†kata Zohra.
Ketertarikan peraih gelar master lingkungan dari Institut Pertanian Bogor ini terhadap isu perempuan dari begitu banyak isu adalah karena dia melihat perempuan masih termarjinalisasi hak-haknya.
Bila ingin masyarakat yang demokratis, perempuan harus ikut di semua lini kegiatan masyarakat, papar Zohra. Nyatanya, di Sulawesi Selatan hanya ada lima perempuan anggota DPRD, dan ada kabupaten yang tidak memiliki wakil perempuan.
Sebagai keluarga bangsawan, Zohra beruntung memiliki ibu yang anggota Aisyiah yang gigih mendorong anak perempuannya terus maju, meskipun kebiasaan saat itu anak perempuan di kampungnya hanya bersekolah hingga tamat sekolah dasar (SD).
Sepupu saya yang perempuan setamat SD tidak bisa sekolah lagi karena untuk ke SMP harus ke Makassar, lalu melanjutkan ke Jawa. Sedangkan sepupu laki-laki boleh sekolah terus, tambah mantan koresponden harian Sinar Harapan dan kemudian Suara Pembaruan (1975-2000) itu.
Saya ingin perempuan mengerti haknya dan laki-laki juga paham persoalan perempuan, tambah Zohra.
Melalui Forum Pemerhati Masalah Perempuan Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Partnership, Zohra telah memberi pendidikan politik untuk 2.000 perempuan lewat forum Diskusi Kampung. Mereka lalu menjadi simpul di komunitas masing-masing. Dengan memberi pengetahuan akan hak atas akses dan kontrol terhadap jalannya pembangunan, mereka berani memosisikan diri menjadi pengawas di tingkat lokal.
Pekerjaan itu bukan tanpa tantangan. Menurut Zohra, Di tingkat lokal ada yang mengatakan yang kami ajarkan ini anti-agama. Saya katakan kepada teman-teman untuk tidak panik. Kami jelaskan, ajaran agama mengakui setiap orang sama, yang berbeda adalah keimanannya. Ternyata banyak perempuan di kampung-kampung yang pintar dan mereka bersemangat ikut Diskusi Kampung. Jadi, harapan tetap ada meskipun perjalanan masih panjang.
Sumber : Kompas, Selasa, 12 Juli 2005
Zaidi Puang Matoa : Bissu Zaidi, Penjaga Tradisi Bugis
Jun 25, 2009
Bissu Zaidi, Penjaga Tradisi Bugis
Oleh : Reny Sri Ayu Taslim
Perhelatan adat, budaya, maupun tradisi Bugis kuno di Sulawesi Selatan bisa dipastikan akan melibatkan bissu. Bissu akan berperan dalam menentukan hari baik dan hari buruk, mengatur prosesi adat, menyiapkan peralatan upacara, dan ritual lain-lain yang terkait.
Dalam Sureq Galigo, komunitas bissu yang merupakan wanita adam (wadam) banyak disebut-sebut, termasuk perannya dalam kerajaan maupun dalam masyarakat adat. Bissu juga menjadi penghubung manusia dan Sang Pencipta, sekaligus menjadi penghubung masa lalu dan masa akan datang. Di kekinian, bissu boleh dikata menjadi benteng terakhir yang melindungi peradaban atau tradisi Bugis kuno.
Di antara bissu yang tenaganya banyak digunakan untuk keperluan ritual itu adalah Zaidi Puang Matoa. Dialah sesepuh atau pimpinan bissu yang tinggal di komunitasnya di Segeri, Kabupaten Pangkep.
Sebut saja upacara pernikahan putri Gubernur Sulsel M Amin Syam beberapa waktu lalu yang disebut-sebut salah satu prosesi pernikahan adat lengkap. Tak hanya putri gubernur, pernikahan putra-putri pembesar lainnya, termasuk keturunan raja, di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel juga melibatkan Zaidi. Selain itu, di acara adat lain seperti syukuran, bernazar, naik rumah, memulai tanam padi, menebar benih ikan di tambak, Zaidi juga terlibat.
Tak jarang Zaidi juga terbang ke Jakarta dan kota-kota lain, setiap ada panggilan, terutama dari orang-orang Bugis yang berdiam di luar Sulsel, untuk urusan serupa. Selain yang terkait soal adat, Zaidi juga punya kelebihan mengobati orang dan melihat masa depan atau kejadian-kejadian penting yang akan terjadi.
Karena ke-bissu-an dan pengetahuannya itu, termasuk pemahamannya akan bahasa torilangi (bahasa dewata) yang banyak terdapat dalam naskah I La Galigo, sejak tahun 2003-2005, Zaidi menjadi satu-satunya bissu yang terlibat dalam pementasan teater keliling dunia, yang mengangkat cerita dari naskah kuno Sureq Galigo. Pementasan yang disutradarai Robert Wilson, salah satu sutradara teater terbaik di dunia, dibawa berkeliling di antaranya ke Singapura, Italia, Perancis, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat.
Masih terkait dengan naskah I La Galigo, Zaidi pun dilibatkan oleh sejumlah guru besar dari Universitas Hasanuddin untuk menerjemahkan sebagian naskah itu. â€Karena memang ada bahasa dalam naskah I La Galigo yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh siapa pun kecuali oleh bissu, karena memang itu adalah bahasa dewata atau bahasa torilangi,†ujar bissu kelahiran 31 Desember 1963 ini.
Kepedulian Zaidi pada tradisi Bugis kuno bukan hanya ditunjukkan dengan mau terlibat dan memberi masukan di sejumlah perhelatan adat, tetapi juga kerap berkeliling kabupaten atau tempat lain untuk mencari benda-benda kuno yang dia percayai masih merupakan peninggalan pendahulunya dan sudah ada sejak zaman Sawerigading (tokoh sentral dalam cerita I La Galigo).
Diusir orangtua
Bagi Zaidi, menjadi bissu bukanlah cita-cita atau pengaruh, apalagi ikut-ikutan, melainkan panggilan dan takdir. Panggilan ini bahkan sudah dirasakan Zaidi sejak masih berusia sembilan tahun. Tak heran di antara komunitas bissu yang ada di Pangkep dan daerah lain seperti Bone, Luwu, Soppeng, dan Wajo, Zaidi cukup dikenal.
Seangkatannya, Zaidi-lah satu-satunya bissu. Angkatan lain jauh di atas maupun di bawah Zaidi. Perbedaan yang cukup jauh ini disebabkan adanya pemberantasan bissu tahun 1980-an yang menyebabkan komunitas itu jadi berkurang.
Dia masih sangat kecil saat tertarik menjadi bissu, sementara kami boleh dikata sudah tua. Waktu itu kami heran, soalnya, selain masih sangat kecil, tidak ada di antara kami yang pernah mengajak dia untuk ikut menjadi bissu. Kalau ada acara ma’bissu atau acara adat lain yang melibatkan bissu, biasanya dia yang datang paling duluan. Sering pula kami dapati dia main bissu-bissu-an dengan teman-temannya. Makanya kami heran, kisah Puang Lolo, wakil Puang Matoa di komunitas bissu di Pangkep.
Menurut Zaidi, begitu kedua orangtuanya mengetahui minatnya menjadi bissu, mereka pun murka. Tiap hari saya dipukuli dan disiksa sampai badan saya luka-luka, bengkak, dan berdarah. Saya bahkan beberapa kali dilarikan ke UGD rumah sakit akibat pukulan orangtua saya. Tapi anehnya hal itu tidak mematikan keinginan saya menjadi bissu, katanya.
Bahkan, ketika orangtuanya memberikan pilihan angkat kaki dari rumah dan dikucilkan keluarga atau tidak menjadi bissu, Zaidi memilih meninggalkan rumah. Bukan hanya dari keluarga, tantangan juga datang dari masyarakat dan pemuka agama. Zaidi akhirnya bukan hanya meninggalkan rumah, tetapi juga meninggalkan kampungnya hingga situasi masyarakat membaik.
Orangtuanya akhirnya mau menerimanya kembali setelah seorang tokoh masyarakat menemui orangtuanya dan memintanya untuk menerima Zaidi apa adanya. Orang tua itu bilang kepada orangtua saya bahwa suatu saat saya akan jadi orang penting dan dicari oleh orang-orang penting. Dia juga bilang bahwa bissu sudah menjadi takdir saya dan karena itu orangtua saya harus ikhlas menerima apa adanya, katanya.
Kini, bersama rekan-rekannya sesama bissu di Pangkep yang jumlahnya tinggal sekitar 10 orang, Zaidi terus menjaga adat dan peradaban Bugis. Zaidi pun tak jemu-jemunya mengajarkan kepada siapa pun, terutama bissu-bissu baru yang jumlahnya kian berkurang kian hari, tentang adat dan kebijakan para pendahulu.
Adat masih ada saja tatanan kehidupan sudah kacau seperti sekarang. Pemimpin dan pembesar sudah banyak yang bertindak tidak benar. Peradilan sudah tidak adil, banyak orang kaya yang melupakan orang miskin dan tidak peduli lagi sekitarnya, alam dirusak sedemikian rupa. Bagaimana jadinya kalau adat dan kebijakan atau falsafah hidup orang dulu sudah hilang sama sekali. Karena itu, saya sangat berharap akan semakin banyak orang mau mendalami budaya dan adat istiadat pendahulu kita, katanya.
Sumber : Kompas, Kamis, 25 Agustus 2005
Oleh : Reny Sri Ayu Taslim
Perhelatan adat, budaya, maupun tradisi Bugis kuno di Sulawesi Selatan bisa dipastikan akan melibatkan bissu. Bissu akan berperan dalam menentukan hari baik dan hari buruk, mengatur prosesi adat, menyiapkan peralatan upacara, dan ritual lain-lain yang terkait.
Dalam Sureq Galigo, komunitas bissu yang merupakan wanita adam (wadam) banyak disebut-sebut, termasuk perannya dalam kerajaan maupun dalam masyarakat adat. Bissu juga menjadi penghubung manusia dan Sang Pencipta, sekaligus menjadi penghubung masa lalu dan masa akan datang. Di kekinian, bissu boleh dikata menjadi benteng terakhir yang melindungi peradaban atau tradisi Bugis kuno.
Di antara bissu yang tenaganya banyak digunakan untuk keperluan ritual itu adalah Zaidi Puang Matoa. Dialah sesepuh atau pimpinan bissu yang tinggal di komunitasnya di Segeri, Kabupaten Pangkep.
Sebut saja upacara pernikahan putri Gubernur Sulsel M Amin Syam beberapa waktu lalu yang disebut-sebut salah satu prosesi pernikahan adat lengkap. Tak hanya putri gubernur, pernikahan putra-putri pembesar lainnya, termasuk keturunan raja, di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel juga melibatkan Zaidi. Selain itu, di acara adat lain seperti syukuran, bernazar, naik rumah, memulai tanam padi, menebar benih ikan di tambak, Zaidi juga terlibat.
Tak jarang Zaidi juga terbang ke Jakarta dan kota-kota lain, setiap ada panggilan, terutama dari orang-orang Bugis yang berdiam di luar Sulsel, untuk urusan serupa. Selain yang terkait soal adat, Zaidi juga punya kelebihan mengobati orang dan melihat masa depan atau kejadian-kejadian penting yang akan terjadi.
Karena ke-bissu-an dan pengetahuannya itu, termasuk pemahamannya akan bahasa torilangi (bahasa dewata) yang banyak terdapat dalam naskah I La Galigo, sejak tahun 2003-2005, Zaidi menjadi satu-satunya bissu yang terlibat dalam pementasan teater keliling dunia, yang mengangkat cerita dari naskah kuno Sureq Galigo. Pementasan yang disutradarai Robert Wilson, salah satu sutradara teater terbaik di dunia, dibawa berkeliling di antaranya ke Singapura, Italia, Perancis, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat.
Masih terkait dengan naskah I La Galigo, Zaidi pun dilibatkan oleh sejumlah guru besar dari Universitas Hasanuddin untuk menerjemahkan sebagian naskah itu. â€Karena memang ada bahasa dalam naskah I La Galigo yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh siapa pun kecuali oleh bissu, karena memang itu adalah bahasa dewata atau bahasa torilangi,†ujar bissu kelahiran 31 Desember 1963 ini.
Kepedulian Zaidi pada tradisi Bugis kuno bukan hanya ditunjukkan dengan mau terlibat dan memberi masukan di sejumlah perhelatan adat, tetapi juga kerap berkeliling kabupaten atau tempat lain untuk mencari benda-benda kuno yang dia percayai masih merupakan peninggalan pendahulunya dan sudah ada sejak zaman Sawerigading (tokoh sentral dalam cerita I La Galigo).
Diusir orangtua
Bagi Zaidi, menjadi bissu bukanlah cita-cita atau pengaruh, apalagi ikut-ikutan, melainkan panggilan dan takdir. Panggilan ini bahkan sudah dirasakan Zaidi sejak masih berusia sembilan tahun. Tak heran di antara komunitas bissu yang ada di Pangkep dan daerah lain seperti Bone, Luwu, Soppeng, dan Wajo, Zaidi cukup dikenal.
Seangkatannya, Zaidi-lah satu-satunya bissu. Angkatan lain jauh di atas maupun di bawah Zaidi. Perbedaan yang cukup jauh ini disebabkan adanya pemberantasan bissu tahun 1980-an yang menyebabkan komunitas itu jadi berkurang.
Dia masih sangat kecil saat tertarik menjadi bissu, sementara kami boleh dikata sudah tua. Waktu itu kami heran, soalnya, selain masih sangat kecil, tidak ada di antara kami yang pernah mengajak dia untuk ikut menjadi bissu. Kalau ada acara ma’bissu atau acara adat lain yang melibatkan bissu, biasanya dia yang datang paling duluan. Sering pula kami dapati dia main bissu-bissu-an dengan teman-temannya. Makanya kami heran, kisah Puang Lolo, wakil Puang Matoa di komunitas bissu di Pangkep.
Menurut Zaidi, begitu kedua orangtuanya mengetahui minatnya menjadi bissu, mereka pun murka. Tiap hari saya dipukuli dan disiksa sampai badan saya luka-luka, bengkak, dan berdarah. Saya bahkan beberapa kali dilarikan ke UGD rumah sakit akibat pukulan orangtua saya. Tapi anehnya hal itu tidak mematikan keinginan saya menjadi bissu, katanya.
Bahkan, ketika orangtuanya memberikan pilihan angkat kaki dari rumah dan dikucilkan keluarga atau tidak menjadi bissu, Zaidi memilih meninggalkan rumah. Bukan hanya dari keluarga, tantangan juga datang dari masyarakat dan pemuka agama. Zaidi akhirnya bukan hanya meninggalkan rumah, tetapi juga meninggalkan kampungnya hingga situasi masyarakat membaik.
Orangtuanya akhirnya mau menerimanya kembali setelah seorang tokoh masyarakat menemui orangtuanya dan memintanya untuk menerima Zaidi apa adanya. Orang tua itu bilang kepada orangtua saya bahwa suatu saat saya akan jadi orang penting dan dicari oleh orang-orang penting. Dia juga bilang bahwa bissu sudah menjadi takdir saya dan karena itu orangtua saya harus ikhlas menerima apa adanya, katanya.
Kini, bersama rekan-rekannya sesama bissu di Pangkep yang jumlahnya tinggal sekitar 10 orang, Zaidi terus menjaga adat dan peradaban Bugis. Zaidi pun tak jemu-jemunya mengajarkan kepada siapa pun, terutama bissu-bissu baru yang jumlahnya kian berkurang kian hari, tentang adat dan kebijakan para pendahulu.
Adat masih ada saja tatanan kehidupan sudah kacau seperti sekarang. Pemimpin dan pembesar sudah banyak yang bertindak tidak benar. Peradilan sudah tidak adil, banyak orang kaya yang melupakan orang miskin dan tidak peduli lagi sekitarnya, alam dirusak sedemikian rupa. Bagaimana jadinya kalau adat dan kebijakan atau falsafah hidup orang dulu sudah hilang sama sekali. Karena itu, saya sangat berharap akan semakin banyak orang mau mendalami budaya dan adat istiadat pendahulu kita, katanya.
Sumber : Kompas, Kamis, 25 Agustus 2005
Zainal Arifin : Gara-gara Anak Tunagrahita
Jun 15, 2009
Gara-gara Anak Tunagrahita
Oleh : Yenti Aprianti
"Pak Zainal, sabar ya. Sepertinya anak Bapak memiliki kelainan," kata seorang rekan kerjanya, yang kebetulan dokter di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat, beberapa hari setelah istrinya melahirkan anak keduanya, Rima Nur Yuliyanti, 17 Juli 1988.
Zainal Arifin (48) yang saat itu bekerja sebagai staf perencanaan di kantor tersebut amat sedih mendengar pernyataan rekannya. Ia mengerti apa yang tersurat dari kata-kata itu; bayinya berkebutuhan khusus.
Dari fisiknya sudah jelas, bayinya adalah tunagrahita. Makin besar tubuhnya, makin mudah mengidentifikasi ketunagrahitaan itu. Secara umum, kata Zainal, fisik orang tunagrahita antara lain berambut kaku, tangannya gemuk seperti bayi tetapi kasar, lidahnya tebal serta pendek jika dijulurkan, alisnya tebal kaku, dan beberapa anak biasanya bermata sipit seperti orang mongol.
Kenyataan itu menyeret Zainal pada bayangan buruk tentang masa depan anaknya yang amat gelap. Orang awam selalu mengira, jangankan untuk belajar, bekerja, atau memiliki keturunan, merawat diri saja penyandang tunagrahita tidak akan bisa.
Pikiran-pikiran inilah yang menyebabkan Zainal mengalami depresi. Ia mengunjungi psikiater dan menelan obat-obatan penenang karena setiap malam selalu gelisah dan menangis memikirkan nasib anak perempuannya yang selalu ia panggil Ima.
Apa yang terjadi padanya ternyata tidak membantunya keluar dari masalah. Apalagi gajinya sebagai pegawai negeri sipil saat itu hanya Rp 45.000 per bulan. Padahal, kebutuhan rumah tangga mencapai Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per bulan, sebab Rima membutuhkan berbagai terapi untuk bisa tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan tubuh dan jiwanya.
Pengobatan rutin untuk anak tunagrahita terus dilakukannya terhadap anaknya, meskipun sangat mahal karena membutuhkan dokter-dokter spesialis, terutama dokter syaraf, psikiater, dan psikolog.
Kerja serabutan
Tak ingin terjebak dalam masalah tanpa solusi, suami Aan Rostiati (43) yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa di Kota Bandung ini segera berjuang untuk membangun masa depan anaknya. Di dalam doanya, ia berkata, "Jika aku berhasil, aku bertekad akan membantu Ima dan teman-temannya."
Pekerjaan apa pun dilakukannya. Sepulang bekerja di Kanwil Departemen Kesehatan sekitar pukul 14.00, Zainal langsung menawarkan diri menjadi pembantu tukang bangunan untuk mendapatkan upah Rp 1.000 per hari. Upah itu amat berharga demi pengobatan Ima.
Jika tidak ada pekerjaan bidang bangunan, ia menjadi sopir angkutan umum jurusan Ciroyom-Sukajadi. Zainal-lah yang pertama membuka jurusan ini. Ketika itu, dia melihat banyak warga membutuhkan jurusan ini, tetapi tidak ada transportasi umum yang melintas di tempat tersebut. Ia bekerja sebagai sopir sampai pukul 20.00.
Karena uang pengobatan masih juga kurang, ayah dari Yopi Nurdiyansyah (24), Ima (18), Debi Nur Sustiyanti (16), dan Noviyanti Nur Fadiyah (5) ini pun beralih menjadi sopir colt jurusan Bandung-Cikampek. Penghasilannya lebih banyak karena ia bekerja hingga pukul 24.00. Namun, jika ada tawaran menjadi pembantu tukang bangunan, ia tetap menerimanya.
Suatu hari pada tahun 1996, seorang dokter di kantornya meminta Zainal membangun rumahnya. Zainal yang awalnya hanya pembantu tukang bangunan segera menolak karena tidak percaya diri. Namun, dokter tersebut ngotot. Zainal pun akhirnya yakin dan menjalankan proyek tersebut. Diajaknya beberapa temannya sesama tukang bangunan.
Entah kenapa, Zainal kemudian dikenal sebagai kontraktor. Ia banyak mendapatkan order membangun rumah. Ia pun bekerja sama dengan adiknya yang kuliah di Desain Interior, Institut Teknologi Bandung untuk membantu mendesain konsep rumah yang ada di pikirannya.
"Sejak saat itu, rezeki saya seperti roket," kata Zainal, bersyukur dan memutuskan berhenti jadi pegawai negeri.
Bangun sekolah
Zainal ingat tekadnya. Ketika Ima bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), ia merasa tak cocok terhadap kurikulum yang diberikan sekolah karena terkesan terlalu akademik. Padahal, kebutuhan anak tunagrahita adalah keterampilan. Melalui keterampilan, kecerdasan anak tunagrahita akan melaju dengan baik.
Berangkat dari ketidakpuasannya, Zainal lalu membangun SLB Asih Manunggal di Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung. Ia menerima murid dari berbagai kalangan. Di sekolah yang sederhana itu ia leluasa mengolaborasikan kurikulum pemerintah dengan kurikulum yang diciptakan para orangtua siswa.
Berbagai ide untuk memberdayakan anak-anak tunagrahita mengalir dari para orangtua. Zainal juga membangun "kantin kurikulum" bagi siswa.
Pukul 08.00 anak-anak dibimbing oleh guru melakukan berbagai keterampilan seperti membuat jajanan gorengan, lalu dijual kepada orangtua di sekolah. "Dengan praktik langsung, anak mudah belajar matematika. Mereka tahu, kalau membeli tujuh gorengan seharga Rp 50, maka pembeli harus membayar Rp 350," kata Zainal.
Lewat kantin pula, anak-anak belajar bahasa Inggris. Banyak merek makanan dan minuman berbahasa Inggris. Saat itulah guru memperkenalkannya, dan mereka menyimpan pengetahuan baru itu dengan baik karena tahu esok hari kemungkinan ada yang menanyakan nama barang tersebut. Mereka juga mulai belajar mengenal huruf dan angka dari bungkus makanan. Tak hanya itu, mereka juga mengenal harga diri karena dilatih untuk bekerja.
Selain membuat jajanan gorengan, anak-anak juga diajarkan berbagai keterampilan lain seperti merias diri, membungkus barang, membuat keset, telur asin, dan lainnya.
Dengan uang pribadinya, Zainal dan para orangtua tunagrahita sering jalan-jalan ke pelosok Jawa Barat mencari anak tunagrahita yang tidak mampu. "Hampir sebagian besar anak tunagrahita lahir dari keluarga tidak mampu sehingga tidak bisa sekolah dan dikembangkan potensinya," ungkap Zainal, yang kini merupakan anggota badan pendiri Persatuan Orangtua Tunagrahita Indonesia.
Ia dan teman-temannya pernah menemukan seorang anak tunagrahita di Cimahi yang dikurung dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00 karena tak ada yang menjaga. Ibunya yang miskin harus bekerja di pabrik kerupuk dengan penghasilan Rp 10.000 per hari.
Bersama orangtua lain, ia berhasil menggalang dana bantuan yang diwujudkan dengan membuatkan warung untuk ibu tersebut; dengan demikian ia tidak perlu ke luar rumah dan bisa merawat anaknya lebih intensif.
"Kami para orangtua tunagrahita percaya, jika kami menyayangi anak-anak tunagrahita lain, suatu hari ketika kami sudah tiada, ada orang lain yang mengasihi anak-anak kami," ungkap Zainal yang anaknya kini menjadi penari bali klasik dan sering diundang berpentas.
Sumber : Kompas, Sabtu, 26 Agustus 2006
Oleh : Yenti Aprianti
"Pak Zainal, sabar ya. Sepertinya anak Bapak memiliki kelainan," kata seorang rekan kerjanya, yang kebetulan dokter di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat, beberapa hari setelah istrinya melahirkan anak keduanya, Rima Nur Yuliyanti, 17 Juli 1988.
Zainal Arifin (48) yang saat itu bekerja sebagai staf perencanaan di kantor tersebut amat sedih mendengar pernyataan rekannya. Ia mengerti apa yang tersurat dari kata-kata itu; bayinya berkebutuhan khusus.
Dari fisiknya sudah jelas, bayinya adalah tunagrahita. Makin besar tubuhnya, makin mudah mengidentifikasi ketunagrahitaan itu. Secara umum, kata Zainal, fisik orang tunagrahita antara lain berambut kaku, tangannya gemuk seperti bayi tetapi kasar, lidahnya tebal serta pendek jika dijulurkan, alisnya tebal kaku, dan beberapa anak biasanya bermata sipit seperti orang mongol.
Kenyataan itu menyeret Zainal pada bayangan buruk tentang masa depan anaknya yang amat gelap. Orang awam selalu mengira, jangankan untuk belajar, bekerja, atau memiliki keturunan, merawat diri saja penyandang tunagrahita tidak akan bisa.
Pikiran-pikiran inilah yang menyebabkan Zainal mengalami depresi. Ia mengunjungi psikiater dan menelan obat-obatan penenang karena setiap malam selalu gelisah dan menangis memikirkan nasib anak perempuannya yang selalu ia panggil Ima.
Apa yang terjadi padanya ternyata tidak membantunya keluar dari masalah. Apalagi gajinya sebagai pegawai negeri sipil saat itu hanya Rp 45.000 per bulan. Padahal, kebutuhan rumah tangga mencapai Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per bulan, sebab Rima membutuhkan berbagai terapi untuk bisa tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan tubuh dan jiwanya.
Pengobatan rutin untuk anak tunagrahita terus dilakukannya terhadap anaknya, meskipun sangat mahal karena membutuhkan dokter-dokter spesialis, terutama dokter syaraf, psikiater, dan psikolog.
Kerja serabutan
Tak ingin terjebak dalam masalah tanpa solusi, suami Aan Rostiati (43) yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa di Kota Bandung ini segera berjuang untuk membangun masa depan anaknya. Di dalam doanya, ia berkata, "Jika aku berhasil, aku bertekad akan membantu Ima dan teman-temannya."
Pekerjaan apa pun dilakukannya. Sepulang bekerja di Kanwil Departemen Kesehatan sekitar pukul 14.00, Zainal langsung menawarkan diri menjadi pembantu tukang bangunan untuk mendapatkan upah Rp 1.000 per hari. Upah itu amat berharga demi pengobatan Ima.
Jika tidak ada pekerjaan bidang bangunan, ia menjadi sopir angkutan umum jurusan Ciroyom-Sukajadi. Zainal-lah yang pertama membuka jurusan ini. Ketika itu, dia melihat banyak warga membutuhkan jurusan ini, tetapi tidak ada transportasi umum yang melintas di tempat tersebut. Ia bekerja sebagai sopir sampai pukul 20.00.
Karena uang pengobatan masih juga kurang, ayah dari Yopi Nurdiyansyah (24), Ima (18), Debi Nur Sustiyanti (16), dan Noviyanti Nur Fadiyah (5) ini pun beralih menjadi sopir colt jurusan Bandung-Cikampek. Penghasilannya lebih banyak karena ia bekerja hingga pukul 24.00. Namun, jika ada tawaran menjadi pembantu tukang bangunan, ia tetap menerimanya.
Suatu hari pada tahun 1996, seorang dokter di kantornya meminta Zainal membangun rumahnya. Zainal yang awalnya hanya pembantu tukang bangunan segera menolak karena tidak percaya diri. Namun, dokter tersebut ngotot. Zainal pun akhirnya yakin dan menjalankan proyek tersebut. Diajaknya beberapa temannya sesama tukang bangunan.
Entah kenapa, Zainal kemudian dikenal sebagai kontraktor. Ia banyak mendapatkan order membangun rumah. Ia pun bekerja sama dengan adiknya yang kuliah di Desain Interior, Institut Teknologi Bandung untuk membantu mendesain konsep rumah yang ada di pikirannya.
"Sejak saat itu, rezeki saya seperti roket," kata Zainal, bersyukur dan memutuskan berhenti jadi pegawai negeri.
Bangun sekolah
Zainal ingat tekadnya. Ketika Ima bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), ia merasa tak cocok terhadap kurikulum yang diberikan sekolah karena terkesan terlalu akademik. Padahal, kebutuhan anak tunagrahita adalah keterampilan. Melalui keterampilan, kecerdasan anak tunagrahita akan melaju dengan baik.
Berangkat dari ketidakpuasannya, Zainal lalu membangun SLB Asih Manunggal di Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung. Ia menerima murid dari berbagai kalangan. Di sekolah yang sederhana itu ia leluasa mengolaborasikan kurikulum pemerintah dengan kurikulum yang diciptakan para orangtua siswa.
Berbagai ide untuk memberdayakan anak-anak tunagrahita mengalir dari para orangtua. Zainal juga membangun "kantin kurikulum" bagi siswa.
Pukul 08.00 anak-anak dibimbing oleh guru melakukan berbagai keterampilan seperti membuat jajanan gorengan, lalu dijual kepada orangtua di sekolah. "Dengan praktik langsung, anak mudah belajar matematika. Mereka tahu, kalau membeli tujuh gorengan seharga Rp 50, maka pembeli harus membayar Rp 350," kata Zainal.
Lewat kantin pula, anak-anak belajar bahasa Inggris. Banyak merek makanan dan minuman berbahasa Inggris. Saat itulah guru memperkenalkannya, dan mereka menyimpan pengetahuan baru itu dengan baik karena tahu esok hari kemungkinan ada yang menanyakan nama barang tersebut. Mereka juga mulai belajar mengenal huruf dan angka dari bungkus makanan. Tak hanya itu, mereka juga mengenal harga diri karena dilatih untuk bekerja.
Selain membuat jajanan gorengan, anak-anak juga diajarkan berbagai keterampilan lain seperti merias diri, membungkus barang, membuat keset, telur asin, dan lainnya.
Dengan uang pribadinya, Zainal dan para orangtua tunagrahita sering jalan-jalan ke pelosok Jawa Barat mencari anak tunagrahita yang tidak mampu. "Hampir sebagian besar anak tunagrahita lahir dari keluarga tidak mampu sehingga tidak bisa sekolah dan dikembangkan potensinya," ungkap Zainal, yang kini merupakan anggota badan pendiri Persatuan Orangtua Tunagrahita Indonesia.
Ia dan teman-temannya pernah menemukan seorang anak tunagrahita di Cimahi yang dikurung dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00 karena tak ada yang menjaga. Ibunya yang miskin harus bekerja di pabrik kerupuk dengan penghasilan Rp 10.000 per hari.
Bersama orangtua lain, ia berhasil menggalang dana bantuan yang diwujudkan dengan membuatkan warung untuk ibu tersebut; dengan demikian ia tidak perlu ke luar rumah dan bisa merawat anaknya lebih intensif.
"Kami para orangtua tunagrahita percaya, jika kami menyayangi anak-anak tunagrahita lain, suatu hari ketika kami sudah tiada, ada orang lain yang mengasihi anak-anak kami," ungkap Zainal yang anaknya kini menjadi penari bali klasik dan sering diundang berpentas.
Sumber : Kompas, Sabtu, 26 Agustus 2006
Zamurni : Kepeloporan Juragan Muni
Jun 8, 2009
Kepeloporan Juragan Muni
Oleh : Yamin Indas
Nasib Zamurni alias Muni betul-betul apes. Ketika meringkuk di penjara Ruben, Australia Barat, nelayan miskin ini jatuh sakit. Badannya panas tinggi. Dia tidak tampak di antara para narapidana pada jam-jam makan di penjara itu.
Hal itu membuat Bruce Duncan cemas. Warga Australia yang tertarik mengamati perilaku para napi asal Indonesia di penjara tersebut segera mendatangi blok tempat Muni terbaring sakit.
Bagi Muni, perkenalannya dengan orang asing itu ternyata menentukan masa depannya. Berkat bantuan uang yang dirogoh dari kocek pribadi Duncan, Muni kini patut disebut juragan.
Nelayan asal Desa Banabungi, Kecamatan Pulau Kadatua, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, tersebut kini mengelola enam armada perikanan yang beroperasi di perairan Buton. Ia menggunakan alat tangkap modern mini purse seine (jaring cincin) atau gae dalam istilah nelayan Kendari.
Armada tersebut mempekerjakan 125 nelayan sebagai anak buah kapal, termasuk 20 warga eks pengungsi kerusuhan sosial Ambon dan Maluku.
Muni pun tak lagi bertempat tinggal di gubuknya di Pulau Kadatua. Dia bersama istri dan lima anaknya pada 1998 pindah ke Bau-Bau, kota yang menjanjikan lebih banyak peluang untuk mengembangkan bisnis.
Desember kelabu
Selama dekade 1990-an ratusan nelayan pelintas batas asal Kabupaten Buton ditangkap dan dipenjarakan di Australia oleh pemerintah setempat. Selain melanggar teritorial negara lain, para nelayan itu dikenai tuduhan mencuri kerang lola (Trochus niloticus) yang melimpah di perairan dangkal Australia. Muni berada di antara nelayan pelintas batas tersebut.
Muni kembali ke desanya, Banabungi, setelah menamatkan pendidikan di sebuah SMA swasta Bau-Bau pada tahun 1986. Seperti warga lainnya, Muni juga bergelut dengan dunia kelautan sebagai nelayan tradisional.
"Sebagai nelayan pancing saat itu, hasilnya pas-pasan untuk menghidupi keluarga," tutur Muni. Setahun setelah menikahi gadis sedesanya, Husriani, ia memutuskan ikut ke Australia untuk memungut kerang lola.
Berburu kerang lola memang lebih memberi harapan. Harga kulit lola pada akhir 1990 sekitar Rp 40.000 per kilogram, sedangkan harga ikan segar di Bau-Bau paling tinggi sekitar Rp 2.000 per kilogram.
Di bawah pimpinan nakhoda Hanufe, juga warga Pulau Kadatua, Muni bersama 22 nelayan lainnya berangkat ke Nusa Tenggara Timur menggunakan kapal kayu bermotor 23 PK.
Dari sebuah pulau terluar di NTT, kapal mereka bergerak ke Pantai Broome, Australia Barat, yang kaya kerang lola pada 24 Desember 1990. "Kami perkirakan tiba di sasaran pukul 05.00 waktu setempat, tepat pada Hari Natal 25 Desember 1990," tutur pelaut kelahiran 1962 tersebut.
Mereka memperkirakan, perairan itu akan sepi karena ditinggal petugas untuk merayakan Natal. "Perkiraan meleset karena begitu memasuki perairan Australia, kapal kami digiring pesawat helikopter ke pantai," kisahnya.
Kapalnya di urutan ke-9 dari 13 kapal yang tertangkap menjelang Natal di Australia dengan total ABK sekitar 300 orang. Semua ditangkap dan dipenjarakan setelah melalui proses pengadilan. Semua kapal, sebagai barang bukti, dihancurkan.
Selama menjalani hukuman, Muni dan kawan-kawan diarahkan bekerja di lingkungan penjara dengan upah 11 dollar Australia sehari. Dari upah itulah mereka membayar tiket pesawat yang mengangkut mereka pulang ke Indonesia, setelah menjalani hukuman tiga bulan.
Bantuan Duncan
Suatu pagi, saat pulang dari melaut, Muni menemukan Duncan di gubuknya di Desa Banabungi. "Saya kaget luar biasa. Dia baru datang dari Australia dan langsung ke Pulau Kadatua mencari alamat saya. Saya tidak sangka," ujarnya.
Duncan kemudian menanyakan alat tangkap apa yang produktif untuk digunakan di Kadatua. Setahun setelah kunjungannya itu Duncan kembali membuat kejutan bagi Muni. "Ia datang membawakan tiket kapal Pelni ke Surabaya pergi-pulang bersama uang Rp 13 juta. Saya disuruh membeli satu set jaring cincin untuk dioperasikan," papar Muni.
Muni mendayagunakan modal kerja itu. Selain saudara-saudara kandungnya sendiri, Muni juga mengajak warga lain di Banabungi. Ketika Duncan berkunjung lagi dua tahun kemudian, Muni mengembalikan uang Rp 13 juta itu.
"Saat itu Duncan menangis. Ia mengatakan, uang itu bukan pinjaman, tetapi sumbangan pribadi. Namun, setelah dijelaskan modal itu telah berkembang beberapa kali lipat, Duncan- pun terpaksa menerima," tuturnya.
Muni memang tidak bohong. Anak ketiga dari sembilan bersaudara itu telah menciptakan lapangan kerja bagi warga Pulau Kadatua, 15 menit naik ojek laut dari Kota Bau-Bau. Dalam mengembangkan usaha, Muni bersama tiga saudara kandungnya membangun rumpon sebagai basis penangkapan memakai jaring cincin.
Para pengusaha ikan beku di Bau-Bau menyebut Muni sebagai pionir yang menerobos kebuntuan akibat ketidakberdayaan nelayan di desanya. "Ia juga menjadi contoh pengusaha yang mengelola modal kecil hingga usaha berkembang pesat," kata Lerius, eksportir ikan beku di Bau-Bau.
Berkat kepeloporan Muni, di Banabungi saat ini tercatat 30 armada dengan alat tangkap mini purse seine yang melibatkan sebagian besar nelayan Pulau Kadatua sebagai ABK. Melihat ekonomi tumbuh di lingkungannya, Muni memperluas bisnis dengan membuka toko pakaian jadi. Dia membangun relasi dengan pedagang grosir Tanah Abang, Jakarta, untuk memasok tokonya di Bau-Bau.
Sumber : Kompas, Sabtu, 3 Februari 2007
Oleh : Yamin Indas
Nasib Zamurni alias Muni betul-betul apes. Ketika meringkuk di penjara Ruben, Australia Barat, nelayan miskin ini jatuh sakit. Badannya panas tinggi. Dia tidak tampak di antara para narapidana pada jam-jam makan di penjara itu.
Hal itu membuat Bruce Duncan cemas. Warga Australia yang tertarik mengamati perilaku para napi asal Indonesia di penjara tersebut segera mendatangi blok tempat Muni terbaring sakit.
Bagi Muni, perkenalannya dengan orang asing itu ternyata menentukan masa depannya. Berkat bantuan uang yang dirogoh dari kocek pribadi Duncan, Muni kini patut disebut juragan.
Nelayan asal Desa Banabungi, Kecamatan Pulau Kadatua, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, tersebut kini mengelola enam armada perikanan yang beroperasi di perairan Buton. Ia menggunakan alat tangkap modern mini purse seine (jaring cincin) atau gae dalam istilah nelayan Kendari.
Armada tersebut mempekerjakan 125 nelayan sebagai anak buah kapal, termasuk 20 warga eks pengungsi kerusuhan sosial Ambon dan Maluku.
Muni pun tak lagi bertempat tinggal di gubuknya di Pulau Kadatua. Dia bersama istri dan lima anaknya pada 1998 pindah ke Bau-Bau, kota yang menjanjikan lebih banyak peluang untuk mengembangkan bisnis.
Desember kelabu
Selama dekade 1990-an ratusan nelayan pelintas batas asal Kabupaten Buton ditangkap dan dipenjarakan di Australia oleh pemerintah setempat. Selain melanggar teritorial negara lain, para nelayan itu dikenai tuduhan mencuri kerang lola (Trochus niloticus) yang melimpah di perairan dangkal Australia. Muni berada di antara nelayan pelintas batas tersebut.
Muni kembali ke desanya, Banabungi, setelah menamatkan pendidikan di sebuah SMA swasta Bau-Bau pada tahun 1986. Seperti warga lainnya, Muni juga bergelut dengan dunia kelautan sebagai nelayan tradisional.
"Sebagai nelayan pancing saat itu, hasilnya pas-pasan untuk menghidupi keluarga," tutur Muni. Setahun setelah menikahi gadis sedesanya, Husriani, ia memutuskan ikut ke Australia untuk memungut kerang lola.
Berburu kerang lola memang lebih memberi harapan. Harga kulit lola pada akhir 1990 sekitar Rp 40.000 per kilogram, sedangkan harga ikan segar di Bau-Bau paling tinggi sekitar Rp 2.000 per kilogram.
Di bawah pimpinan nakhoda Hanufe, juga warga Pulau Kadatua, Muni bersama 22 nelayan lainnya berangkat ke Nusa Tenggara Timur menggunakan kapal kayu bermotor 23 PK.
Dari sebuah pulau terluar di NTT, kapal mereka bergerak ke Pantai Broome, Australia Barat, yang kaya kerang lola pada 24 Desember 1990. "Kami perkirakan tiba di sasaran pukul 05.00 waktu setempat, tepat pada Hari Natal 25 Desember 1990," tutur pelaut kelahiran 1962 tersebut.
Mereka memperkirakan, perairan itu akan sepi karena ditinggal petugas untuk merayakan Natal. "Perkiraan meleset karena begitu memasuki perairan Australia, kapal kami digiring pesawat helikopter ke pantai," kisahnya.
Kapalnya di urutan ke-9 dari 13 kapal yang tertangkap menjelang Natal di Australia dengan total ABK sekitar 300 orang. Semua ditangkap dan dipenjarakan setelah melalui proses pengadilan. Semua kapal, sebagai barang bukti, dihancurkan.
Selama menjalani hukuman, Muni dan kawan-kawan diarahkan bekerja di lingkungan penjara dengan upah 11 dollar Australia sehari. Dari upah itulah mereka membayar tiket pesawat yang mengangkut mereka pulang ke Indonesia, setelah menjalani hukuman tiga bulan.
Bantuan Duncan
Suatu pagi, saat pulang dari melaut, Muni menemukan Duncan di gubuknya di Desa Banabungi. "Saya kaget luar biasa. Dia baru datang dari Australia dan langsung ke Pulau Kadatua mencari alamat saya. Saya tidak sangka," ujarnya.
Duncan kemudian menanyakan alat tangkap apa yang produktif untuk digunakan di Kadatua. Setahun setelah kunjungannya itu Duncan kembali membuat kejutan bagi Muni. "Ia datang membawakan tiket kapal Pelni ke Surabaya pergi-pulang bersama uang Rp 13 juta. Saya disuruh membeli satu set jaring cincin untuk dioperasikan," papar Muni.
Muni mendayagunakan modal kerja itu. Selain saudara-saudara kandungnya sendiri, Muni juga mengajak warga lain di Banabungi. Ketika Duncan berkunjung lagi dua tahun kemudian, Muni mengembalikan uang Rp 13 juta itu.
"Saat itu Duncan menangis. Ia mengatakan, uang itu bukan pinjaman, tetapi sumbangan pribadi. Namun, setelah dijelaskan modal itu telah berkembang beberapa kali lipat, Duncan- pun terpaksa menerima," tuturnya.
Muni memang tidak bohong. Anak ketiga dari sembilan bersaudara itu telah menciptakan lapangan kerja bagi warga Pulau Kadatua, 15 menit naik ojek laut dari Kota Bau-Bau. Dalam mengembangkan usaha, Muni bersama tiga saudara kandungnya membangun rumpon sebagai basis penangkapan memakai jaring cincin.
Para pengusaha ikan beku di Bau-Bau menyebut Muni sebagai pionir yang menerobos kebuntuan akibat ketidakberdayaan nelayan di desanya. "Ia juga menjadi contoh pengusaha yang mengelola modal kecil hingga usaha berkembang pesat," kata Lerius, eksportir ikan beku di Bau-Bau.
Berkat kepeloporan Muni, di Banabungi saat ini tercatat 30 armada dengan alat tangkap mini purse seine yang melibatkan sebagian besar nelayan Pulau Kadatua sebagai ABK. Melihat ekonomi tumbuh di lingkungannya, Muni memperluas bisnis dengan membuka toko pakaian jadi. Dia membangun relasi dengan pedagang grosir Tanah Abang, Jakarta, untuk memasok tokonya di Bau-Bau.
Sumber : Kompas, Sabtu, 3 Februari 2007
Zet Malelak dan Swasembada Jagung di Uel
Jun 4, 2009
Zet Malelak dan Swasembada Jagung di Uel
Oleh : Kornelis Kewa Ama
Ketika merasa kemampuan teorinya tentang pertanian sudah mencukupi, Zet Malelak tergerak untuk mempraktikkannya agar berguna bagi lebih banyak orang. Kebetulan pada saat bersamaan ada hal yang membuat dia tinggal di Dusun Uel, Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Zet Malelak bolehlah disebut sebagai salah seorang manusia "langka" di NTT. Ia meninggalkan kehidupannya yang relatif mapan di Kupang dan memilih tinggal bersama sekitar 1.600 penduduk Dusun Uel. Kebetulan istrinya, pendeta Adriana Tanggela, juga bisa mendampinginya berkarier di dusun itu.
Dusun Uel bukan daerah subur. Kekeringan kerap melanda kawasan ini. Warga desanya juga miskin dan umumnya bermata pencarian sebagai buruh bangunan atau menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Tak heran, rata-rata tingkat pendidikan warga desa ini hanya sampai sekolah dasar.
Untuk mengubah perilaku masyarakat Dusun Uel, cerita Zet, dia memerlukan waktu tak kurang dari enam tahun. Penduduk dusun ini berasal dari empat suku, yakni Rote, Alor, Sabu, dan Flores. Mereka umumnya bertemperamen keras, bersikap masa bodoh, relatif pemalas, susah diatur, dan sangat suka pesta.
"Saya pelajari keseluruhan perilaku mereka. Saya ikut mereka ke kebun, ke laut, ke sawah, ke tempat pesta, dan tempat pertemuan mereka. Saya ingin tahu bagaimana sesungguhnya karakter mereka, untuk menentukan bagaimana cara mengubah perilaku mereka. Ini saya sebut rekayasa sosial," kata Zet, pria asal Kabupaten Rote, saat ditemui di Kupang, beberapa waktu lalu.
Untuk mengubah perilaku hidup warga Uel, cara yang ditempuh Zet justru dengan melakukan terobosan yang cenderung melahirkan "konflik" antarwarga. Ketika terjadi benturan kepentingan di antara mereka, muncullah ketergantungan pada satu sosok yang mereka percayai. Di saat seperti ini, Zet "masuk" dan menerapkan visi dan misinya di Dusun Uel.
"Mendapatkan kepercayaan dari warga setempat itu penting. Kalau mereka sudah percaya kepada kita, biasanya mereka juga tak segan-segan melakukan apa yang kita minta," ujarnya.
Zet lalu meminta warga menggali lubang di pekarangan rumah masing-masing, berukuran sekitar 2 x 2 meter, sebanyak 3-10 lubang. Meskipun lahan pekarangan mereka bisa dikatakan kering, tetapi mereka melakukan apa yang diminta Zet.
"Masyarakat bertanya juga kepada saya, untuk apa lubang-lubang itu. Saya jawab saja, untuk menanam anakan mangga," cerita ayah tiga anak ini.
Air hujan
Akan tetapi, lubang-lubang itu sesungguhnya diniatkan Zet untuk "menanam" air hujan. Ketika warga diberi tahu hal itu, mereka pun bingung. Bagaimana air hujan bisa ditanam? Apa yang akan tumbuh di lahan itu? Apalagi ketika warga melihat air itu langsung meresap dan hilang di dalam tanah.
Dia kemudian meminta warga memblok dua aliran kali kering yang ada di dusun itu untuk menampung air saat hujan. Tujuannya agar air tidak mengalir ke laut, tetapi meresap ke dalam tanah. "Setelah kondisi tanah siap ditanami, kami menanam jagung, bukan padi," ucap Zet.
Mengapa menanam jagung? "Jagung saya pilih setelah saya berdialog secara imajiner. ’Apakah kamu jagung atau kamu padi yang menjadi makanan pokok orang NTT? Padi tidak menjawab, hanya jagung yang menjawab. Katanya, iya saya makanan pokok orang NTT. Kembalikan saya menjadi milik orang NTT’," cerita Zet sambil tertawa, mengenang kejadian pada awal dia berada di Uel sekitar 1999.
Kini, warga Uel boleh berbangga, dusun itu telah surplus jagung, dan ini merembet sampai ke Desa Nunkurus. Produksi jagungnya mencapai 20.000 ton per tahun. Jagung muda atau tua yang dikonsumsi warga Kota Kupang pun sebenarnya bersumber dari Uel.
Saat Zet tiba di Uel, masyarakat setempat secara umum bisa dikatakan miskin dan tertinggal, bahkan ada yang primitif. Mereka berani melihat Zet hanya dengan mengintip dari balik dinding rumah. Saat itu ada 17 anak balita meninggal karena busung lapar.
Istri Zet, Pdt Adriana Tanggela, pun membantu suaminya memasyarakatkan penanaman jagung. Dia memainkan peran lewat khotbah mengenai jagung sebagai anugerah Tuhan untuk orang Uel yang harus dikembangkan dengan bekerja keras.
"Sekarang kami baru sukses sekitar 13-17 persen, meskipun sudah bekerja all out," kata Zet merendah.
Mengolah
Melihat kesuksesan hasil kebun mereka, warga pun makin percaya Zet memang bermaksud baik. Mereka lalu memberi dia "gelar" dosen desa.
Setelah hasil jagung memadai, lulusan program magister Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menapak langkah lebih lanjut. Zet mengajari masyarakat bagaimana mengolah biji jagung menjadi 40 jenis makanan, di antaranya perkedel jagung, tepung jagung, dan pakan ternak burung.
Maka, jadilah perkedel jagung dari Uel yang dipilih dari bahan baku jagung tua, bukan jagung muda. Ini demi mendapatkan rasa yang lebih gurih dengan kandungan berkarbohidrat tinggi.
"Kami di Uel belakangan ini menanam jagung empat kali dalam setahun secara berurutan sehingga produksi tidak menumpuk, tak ada lagi pengangguran. Selain itu, kebutuhan pangan warga selalu tersedia dan permintaan konsumen tetap terpenuhi," kata Zet.
Ternak sapi, ayam, dan kambing di Uel pun diberi makan jagung. Bahkan, berat ayam di sini mencapai 7 kilogram setelah mengonsumsi ampas jagung selama enam bulan berturut-turut.
Relatif tidak ada lagi warga Uel yang berkeinginan menjadi TKI atau TKW, tak ada lagi busung lapar, juga pada umumnya warga tak lagi hanya duduk di rumah sampai sore hari. Mereka sibuk bekerja di ladang, pekarangan, menggembalakan ternak, atau mencari ikan di laut.
Sistem utang-piutang di antara tetangga yang dipraktikkan turun-temurun juga dihapus. Anak usia sekolah wajib bersekolah. Situasi ini sengaja diciptakan agar warga setempat mampu berkompetisi.
Kini sudah ada dua sarjana pertanian, 25 mahasiswa, dan sejumlah tenaga paramedis dari Dusun Uel. Pendapatan per kapita warga yang pada 1999 sebesar Rp 1,4 juta, tahun 2006 naik menjadi Rp 5,5 juta per tahun.
Zet yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang ini bercerita, Dusun Uel kerap dijadikan pusat studi oleh para mahasiswa dan dosen. Mereka umumnya tertarik pada sistem memblok kali atau sungai menjadi lahan untuk ditanami.
Harapan dia, para lulusan Fakultas Pertanian UKAW dapat mengembangkan teori "tanam air" dan blok sungai di seluruh wilayah. Kata Zet, NTT tak miskin kalau para pemimpin punya terobosan dan visi yang jelas.
"Semua yang saya kerjakan ini terinspirasi oleh mantan Gubernur Ben Mboy. Dia seorang genius untuk ukuran NTT. Sayang, programnya tentang Operasi Nusa Hijau, Nusa Makmur, dan Tanam Air tidak diteruskan pemimpin berikutnya," ujarnya.*
Sumber : Kompas, Kamis, 17 Januari 2008
Oleh : Kornelis Kewa Ama
Ketika merasa kemampuan teorinya tentang pertanian sudah mencukupi, Zet Malelak tergerak untuk mempraktikkannya agar berguna bagi lebih banyak orang. Kebetulan pada saat bersamaan ada hal yang membuat dia tinggal di Dusun Uel, Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Zet Malelak bolehlah disebut sebagai salah seorang manusia "langka" di NTT. Ia meninggalkan kehidupannya yang relatif mapan di Kupang dan memilih tinggal bersama sekitar 1.600 penduduk Dusun Uel. Kebetulan istrinya, pendeta Adriana Tanggela, juga bisa mendampinginya berkarier di dusun itu.
Dusun Uel bukan daerah subur. Kekeringan kerap melanda kawasan ini. Warga desanya juga miskin dan umumnya bermata pencarian sebagai buruh bangunan atau menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Tak heran, rata-rata tingkat pendidikan warga desa ini hanya sampai sekolah dasar.
Untuk mengubah perilaku masyarakat Dusun Uel, cerita Zet, dia memerlukan waktu tak kurang dari enam tahun. Penduduk dusun ini berasal dari empat suku, yakni Rote, Alor, Sabu, dan Flores. Mereka umumnya bertemperamen keras, bersikap masa bodoh, relatif pemalas, susah diatur, dan sangat suka pesta.
"Saya pelajari keseluruhan perilaku mereka. Saya ikut mereka ke kebun, ke laut, ke sawah, ke tempat pesta, dan tempat pertemuan mereka. Saya ingin tahu bagaimana sesungguhnya karakter mereka, untuk menentukan bagaimana cara mengubah perilaku mereka. Ini saya sebut rekayasa sosial," kata Zet, pria asal Kabupaten Rote, saat ditemui di Kupang, beberapa waktu lalu.
Untuk mengubah perilaku hidup warga Uel, cara yang ditempuh Zet justru dengan melakukan terobosan yang cenderung melahirkan "konflik" antarwarga. Ketika terjadi benturan kepentingan di antara mereka, muncullah ketergantungan pada satu sosok yang mereka percayai. Di saat seperti ini, Zet "masuk" dan menerapkan visi dan misinya di Dusun Uel.
"Mendapatkan kepercayaan dari warga setempat itu penting. Kalau mereka sudah percaya kepada kita, biasanya mereka juga tak segan-segan melakukan apa yang kita minta," ujarnya.
Zet lalu meminta warga menggali lubang di pekarangan rumah masing-masing, berukuran sekitar 2 x 2 meter, sebanyak 3-10 lubang. Meskipun lahan pekarangan mereka bisa dikatakan kering, tetapi mereka melakukan apa yang diminta Zet.
"Masyarakat bertanya juga kepada saya, untuk apa lubang-lubang itu. Saya jawab saja, untuk menanam anakan mangga," cerita ayah tiga anak ini.
Air hujan
Akan tetapi, lubang-lubang itu sesungguhnya diniatkan Zet untuk "menanam" air hujan. Ketika warga diberi tahu hal itu, mereka pun bingung. Bagaimana air hujan bisa ditanam? Apa yang akan tumbuh di lahan itu? Apalagi ketika warga melihat air itu langsung meresap dan hilang di dalam tanah.
Dia kemudian meminta warga memblok dua aliran kali kering yang ada di dusun itu untuk menampung air saat hujan. Tujuannya agar air tidak mengalir ke laut, tetapi meresap ke dalam tanah. "Setelah kondisi tanah siap ditanami, kami menanam jagung, bukan padi," ucap Zet.
Mengapa menanam jagung? "Jagung saya pilih setelah saya berdialog secara imajiner. ’Apakah kamu jagung atau kamu padi yang menjadi makanan pokok orang NTT? Padi tidak menjawab, hanya jagung yang menjawab. Katanya, iya saya makanan pokok orang NTT. Kembalikan saya menjadi milik orang NTT’," cerita Zet sambil tertawa, mengenang kejadian pada awal dia berada di Uel sekitar 1999.
Kini, warga Uel boleh berbangga, dusun itu telah surplus jagung, dan ini merembet sampai ke Desa Nunkurus. Produksi jagungnya mencapai 20.000 ton per tahun. Jagung muda atau tua yang dikonsumsi warga Kota Kupang pun sebenarnya bersumber dari Uel.
Saat Zet tiba di Uel, masyarakat setempat secara umum bisa dikatakan miskin dan tertinggal, bahkan ada yang primitif. Mereka berani melihat Zet hanya dengan mengintip dari balik dinding rumah. Saat itu ada 17 anak balita meninggal karena busung lapar.
Istri Zet, Pdt Adriana Tanggela, pun membantu suaminya memasyarakatkan penanaman jagung. Dia memainkan peran lewat khotbah mengenai jagung sebagai anugerah Tuhan untuk orang Uel yang harus dikembangkan dengan bekerja keras.
"Sekarang kami baru sukses sekitar 13-17 persen, meskipun sudah bekerja all out," kata Zet merendah.
Mengolah
Melihat kesuksesan hasil kebun mereka, warga pun makin percaya Zet memang bermaksud baik. Mereka lalu memberi dia "gelar" dosen desa.
Setelah hasil jagung memadai, lulusan program magister Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menapak langkah lebih lanjut. Zet mengajari masyarakat bagaimana mengolah biji jagung menjadi 40 jenis makanan, di antaranya perkedel jagung, tepung jagung, dan pakan ternak burung.
Maka, jadilah perkedel jagung dari Uel yang dipilih dari bahan baku jagung tua, bukan jagung muda. Ini demi mendapatkan rasa yang lebih gurih dengan kandungan berkarbohidrat tinggi.
"Kami di Uel belakangan ini menanam jagung empat kali dalam setahun secara berurutan sehingga produksi tidak menumpuk, tak ada lagi pengangguran. Selain itu, kebutuhan pangan warga selalu tersedia dan permintaan konsumen tetap terpenuhi," kata Zet.
Ternak sapi, ayam, dan kambing di Uel pun diberi makan jagung. Bahkan, berat ayam di sini mencapai 7 kilogram setelah mengonsumsi ampas jagung selama enam bulan berturut-turut.
Relatif tidak ada lagi warga Uel yang berkeinginan menjadi TKI atau TKW, tak ada lagi busung lapar, juga pada umumnya warga tak lagi hanya duduk di rumah sampai sore hari. Mereka sibuk bekerja di ladang, pekarangan, menggembalakan ternak, atau mencari ikan di laut.
Sistem utang-piutang di antara tetangga yang dipraktikkan turun-temurun juga dihapus. Anak usia sekolah wajib bersekolah. Situasi ini sengaja diciptakan agar warga setempat mampu berkompetisi.
Kini sudah ada dua sarjana pertanian, 25 mahasiswa, dan sejumlah tenaga paramedis dari Dusun Uel. Pendapatan per kapita warga yang pada 1999 sebesar Rp 1,4 juta, tahun 2006 naik menjadi Rp 5,5 juta per tahun.
Zet yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang ini bercerita, Dusun Uel kerap dijadikan pusat studi oleh para mahasiswa dan dosen. Mereka umumnya tertarik pada sistem memblok kali atau sungai menjadi lahan untuk ditanami.
Harapan dia, para lulusan Fakultas Pertanian UKAW dapat mengembangkan teori "tanam air" dan blok sungai di seluruh wilayah. Kata Zet, NTT tak miskin kalau para pemimpin punya terobosan dan visi yang jelas.
"Semua yang saya kerjakan ini terinspirasi oleh mantan Gubernur Ben Mboy. Dia seorang genius untuk ukuran NTT. Sayang, programnya tentang Operasi Nusa Hijau, Nusa Makmur, dan Tanam Air tidak diteruskan pemimpin berikutnya," ujarnya.*
Sumber : Kompas, Kamis, 17 Januari 2008
Zulkaidah br Harahap : "Ratu" Opera Batak dari Tiga Dolok
Jun 3, 2009
"Ratu" Opera Batak dari Tiga Dolok
Oleh : Kenedi Nurhan
Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an.
Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit.
Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut membesarkannya tersebut.
Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.
Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim—seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu opera Batak—selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya.
"Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli, kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih ’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang. Pokoknya ramai," ujar Zulkaidah.
Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. "Semua ngerubungi aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti itu sering terulang di banyak tempat," katanya.
Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di tepi jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan, tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga kini masih setia menemani Zulkaidah.
Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik ketika memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian onang-onang (tentang adat istiadat) dan ungut-ungut.
Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu, Zulkaidah tak ubahnya bagai "ratu" yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung opera Batak.
Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian "karier"-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak, ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan.
Apalagi sejak suara beningnya mulai di-"rekam" dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai hidup di atas awan. Katanya, "Seperti melayang-layang. Ke mana-mana dijemput naik sedan."
Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih "melayang-layang" bila ada wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng.
Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989, masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya. Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat.
"Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia dan dari pemerintah," kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.
Dua sisi mata uang
"Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini. Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam," kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.
Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu "kelahiran"-nya pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.
Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.
Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego.
Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi, ternyata "dunia luar" sudah berubah. Penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan "pajak" tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan.
Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun 1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan.
Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah, ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak bagai sudah mengalir dalam darahnya.
"Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng," ujarnya.
"Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha.... Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian...." (ken)
***
BIODATA
Nama: Zulkaidah boru Harahap
Tempat Lahir: Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, tahun 1947
Pendidikan: Tidak tamat SD
Suami: Pontas Gultom alias Zulkarnaen
Anak:
- Nurjunita
- Nurjuniati
- Bandit
- Halijah
- Metro
Sumber : Kompas, Selasa, 18 Desember 2007
Oleh : Kenedi Nurhan
Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an.
Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit.
Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut membesarkannya tersebut.
Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.
Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim—seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu opera Batak—selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya.
"Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli, kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih ’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang. Pokoknya ramai," ujar Zulkaidah.
Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. "Semua ngerubungi aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti itu sering terulang di banyak tempat," katanya.
Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di tepi jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan, tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga kini masih setia menemani Zulkaidah.
Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik ketika memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian onang-onang (tentang adat istiadat) dan ungut-ungut.
Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu, Zulkaidah tak ubahnya bagai "ratu" yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung opera Batak.
Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian "karier"-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak, ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan.
Apalagi sejak suara beningnya mulai di-"rekam" dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai hidup di atas awan. Katanya, "Seperti melayang-layang. Ke mana-mana dijemput naik sedan."
Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih "melayang-layang" bila ada wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng.
Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989, masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya. Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat.
"Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia dan dari pemerintah," kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.
Dua sisi mata uang
"Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini. Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam," kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.
Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu "kelahiran"-nya pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.
Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.
Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego.
Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi, ternyata "dunia luar" sudah berubah. Penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan "pajak" tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan.
Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun 1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan.
Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah, ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak bagai sudah mengalir dalam darahnya.
"Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng," ujarnya.
"Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha.... Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian...." (ken)
***
BIODATA
Nama: Zulkaidah boru Harahap
Tempat Lahir: Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, tahun 1947
Pendidikan: Tidak tamat SD
Suami: Pontas Gultom alias Zulkarnaen
Anak:
- Nurjunita
- Nurjuniati
- Bandit
- Halijah
- Metro
Sumber : Kompas, Selasa, 18 Desember 2007
Zulkifli Nasution : Zulkifli, Petakan Tanah di Tapanuli Tengah
Jun 2, 2009
Zulkifli, Petakan Tanah di Tapanuli Tengah
Oleh : Aufrida Wismi Warastri
Kawasan Danau Toba yang kini wilayahnya masuk dalam tujuh kabupaten di Sumatera Utara itu memiliki 11 iklim. Ada 272 sungai yang melingkupinya, tetapi hanya 11 sungai di antaranya yang mengalirkan air. Jika hulu sungai digunduli, sebanyak 11 sungai itu pun tak akan bisa mengalirkan air lagi.
Semua itu ada dalam salah satu hasil penelitian yang dilakukan Prof Ir Zulkifli Nasution MSc PhD (48), ahli tanah dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Dekan Fakultas Pertanian USU. Penelitiannya bersama Titin Prihatin dan Bintang Sitorus juga menemukan kenyataan, selama 10 tahun (1983-1993), daya dukung kawasan tangkap hujan Danau Toba menurun hingga 73 persen. Angka itu didasarkan pada nilai critical population density (CPD) yang terus meningkat.
Danau Toba juga memiliki lahan gambut dataran tinggi di Lintong Nihuta. Di Indonesia tercatat hanya dua kawasan yang memiliki lahan gambut dataran tinggi, yakni Danau Toba dan Papua. Berdasarkan penelitian Zulkifli, ada pula kawasan di Danau Toba yang potensial untuk pengembangan gandum (Triticum aestivum).
Puluhan penelitian Zulkifli ikut mendukung pengembangan pertanian dan perkebunan di Sumut. Penelitian seputar Danau Toba juga banyak dilakukannya. "Terutama karena Danau Toba masih laku dijual," katanya.
Tak urung, pemikiran Zulkifli juga menembus batas negara. "Secara ilmu pengetahuan, hasil penelitian harus digunakan. Saya senang ada yang menggunakan hasil penelitian saya. Namun, kadang masih ada yang menggunakan hasil penelitian untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan untuk kepentingan pribadi," tutur Zulkifli saat ia menyiapkan tulisan The Ecology of Lake Toba Catchment Area for Suistainable Agriculture Development yang akan dibawanya dalam sebuah seminar internasional.
Ia lebih senang mengikuti dan menjadi pembicara dalam seminar di luar negeri daripada di dalam negeri. Alasannya, di luar negeri penyelenggara dan peserta sangat serius, dan hasil serta tindak lanjut seminar itu juga jelas.
Baginya, bicara tanah tak lepas dari masalah ekologi sebagai salah satu dasar konsep manajemen tanah. Pengembangan lahan berdasarkan ekologi sudah dilakukan Belanda, tetapi ditinggalkan pemerintah Republik, terutama saat Indonesia memilih membangun teknologi lebih dulu pada 1980 hingga masa reformasi. Akibatnya, lahan-lahan subur tertimpa bangunan.
Padahal, salah satu hal yang sudah dilakukan Belanda adalah membuat pemetaan lahan, misalnya tembakau deli dikembangkan di Sumut antara Sungai Ular dan Sungai Wampu, gula ada di Jawa, dan sagu di Maluku.
"Kita justru mundur setelah zaman Belanda. Dulu Belanda punya rencana penggunaan tanah, kita tidak begitu," ujarnya.
Sejarah penggunaan tanah di Indonesia salah satunya ada dalam catatan Kim H Tan (81), dalam buku Soils in the Humid Tropics and Monsoon Region of Indonesia, Their Origin, Properties, and Land Use yang diterbitkan The University of Georgia, Athens, 2007.
Tapanuli Tengah
Satu kerja yang Zulkifli selesaikan adalah memetakan tanah di Tapanuli Tengah. Ia golongkan tanah di Kabupaten Tapanuli Tengah dalam berbagai klasifikasi yang cocok untuk tanaman tertentu.
Tanah di Kecamatan Maduma hingga Sibolga, misalnya, masuk golongan MA 233, artinya tak baik untuk kelapa sawit, karet, kopi, dan cokelat. Sementara golongan tanah AF 112 bisa ditanami karet, baik untuk cokelat, kapuk, dan sangat baik untuk kelapa sawit. Di kabupaten ini terdapat 47 jenis tanah.
"Kita telah memilih teknologi maju, tetapi pilihan kita salah. Ketika kita mau balik lagi sudah sulit karena lahan itu sudah terpakai," kata Zulkifli. Jutaan hektar lahan subur sudah terkonversi menjadi rumah atau untuk perluasan kota.
Pengembangan Kota Medan adalah contoh konkret. Tanah perkebunan untuk pengembangan tembakau deli sudah habis. "Kita tak mungkin melebarkan tanah tembakau deli karena sudah menjadi gedung," katanya.
Tukang listrik
Zulkifli tak bercita-cita menjadi ahli tanah, ia ingin menjadi tukang listrik. Itu karena setiap sore dia melihat petugas listrik mengontrol lampu jalan di Kisaran tahun 1967. Ia hanya tak percaya pada lagu Koes Plus, Kolam Susu, yang menggambarkan betapa suburnya Indonesia.
"Kalau tanahnya subur, tak mungkin rakyat melarat," kenang Zulkifli. Buktinya, produksi aren sang ayah, seorang pembuat gula aren di Kisaran, tak pernah meningkat. Produksi padi di daerahnya juga rendah. Pemikiran itu membuat dia memilih jurusan tanah pada Fakultas Pertanian USU.
Katanya, Indonesia yang terletak di kawasan tropis tidak subur karena unsur haranya rendah, hanya mineralnya bagus dan airnya cukup.
Saat kuliah, baju yang dimiliki Zulkifli cuma empat lembar. Ia juga mengajar untuk membiayai kuliah. "Mungkin karena saya suka makan makanan bergizi kalau ada kenduri sebab saya rajin membantu orang memasak untuk pesta," cerita Zulkifli yang pernah menang lomba mengaji tingkat Sumut itu.
Zulkifli rela bekerja dan belajar keras sebab niatnya hanya satu, yakni mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Ia tak peduli apakah hasil kerjanya mendapat penghargaan atau tidak.
Sesungguhnya, kata Zulkifli, untuk memajukan bangsa, kemampuan ilmuwan Indonesia mencukupi. Namun, tanpa pemimpin yang mampu berpikir jernih, mau memikirkan kesejahteraan rakyat dan kelestarian ekologi, kekuatan ilmu tidak akan berarti karena tak ada yang bisa diterapkan di sini.
Sumber : Kompas, Kamis, 6 Deember 2007
Oleh : Aufrida Wismi Warastri
Kawasan Danau Toba yang kini wilayahnya masuk dalam tujuh kabupaten di Sumatera Utara itu memiliki 11 iklim. Ada 272 sungai yang melingkupinya, tetapi hanya 11 sungai di antaranya yang mengalirkan air. Jika hulu sungai digunduli, sebanyak 11 sungai itu pun tak akan bisa mengalirkan air lagi.
Semua itu ada dalam salah satu hasil penelitian yang dilakukan Prof Ir Zulkifli Nasution MSc PhD (48), ahli tanah dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Dekan Fakultas Pertanian USU. Penelitiannya bersama Titin Prihatin dan Bintang Sitorus juga menemukan kenyataan, selama 10 tahun (1983-1993), daya dukung kawasan tangkap hujan Danau Toba menurun hingga 73 persen. Angka itu didasarkan pada nilai critical population density (CPD) yang terus meningkat.
Danau Toba juga memiliki lahan gambut dataran tinggi di Lintong Nihuta. Di Indonesia tercatat hanya dua kawasan yang memiliki lahan gambut dataran tinggi, yakni Danau Toba dan Papua. Berdasarkan penelitian Zulkifli, ada pula kawasan di Danau Toba yang potensial untuk pengembangan gandum (Triticum aestivum).
Puluhan penelitian Zulkifli ikut mendukung pengembangan pertanian dan perkebunan di Sumut. Penelitian seputar Danau Toba juga banyak dilakukannya. "Terutama karena Danau Toba masih laku dijual," katanya.
Tak urung, pemikiran Zulkifli juga menembus batas negara. "Secara ilmu pengetahuan, hasil penelitian harus digunakan. Saya senang ada yang menggunakan hasil penelitian saya. Namun, kadang masih ada yang menggunakan hasil penelitian untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan untuk kepentingan pribadi," tutur Zulkifli saat ia menyiapkan tulisan The Ecology of Lake Toba Catchment Area for Suistainable Agriculture Development yang akan dibawanya dalam sebuah seminar internasional.
Ia lebih senang mengikuti dan menjadi pembicara dalam seminar di luar negeri daripada di dalam negeri. Alasannya, di luar negeri penyelenggara dan peserta sangat serius, dan hasil serta tindak lanjut seminar itu juga jelas.
Baginya, bicara tanah tak lepas dari masalah ekologi sebagai salah satu dasar konsep manajemen tanah. Pengembangan lahan berdasarkan ekologi sudah dilakukan Belanda, tetapi ditinggalkan pemerintah Republik, terutama saat Indonesia memilih membangun teknologi lebih dulu pada 1980 hingga masa reformasi. Akibatnya, lahan-lahan subur tertimpa bangunan.
Padahal, salah satu hal yang sudah dilakukan Belanda adalah membuat pemetaan lahan, misalnya tembakau deli dikembangkan di Sumut antara Sungai Ular dan Sungai Wampu, gula ada di Jawa, dan sagu di Maluku.
"Kita justru mundur setelah zaman Belanda. Dulu Belanda punya rencana penggunaan tanah, kita tidak begitu," ujarnya.
Sejarah penggunaan tanah di Indonesia salah satunya ada dalam catatan Kim H Tan (81), dalam buku Soils in the Humid Tropics and Monsoon Region of Indonesia, Their Origin, Properties, and Land Use yang diterbitkan The University of Georgia, Athens, 2007.
Tapanuli Tengah
Satu kerja yang Zulkifli selesaikan adalah memetakan tanah di Tapanuli Tengah. Ia golongkan tanah di Kabupaten Tapanuli Tengah dalam berbagai klasifikasi yang cocok untuk tanaman tertentu.
Tanah di Kecamatan Maduma hingga Sibolga, misalnya, masuk golongan MA 233, artinya tak baik untuk kelapa sawit, karet, kopi, dan cokelat. Sementara golongan tanah AF 112 bisa ditanami karet, baik untuk cokelat, kapuk, dan sangat baik untuk kelapa sawit. Di kabupaten ini terdapat 47 jenis tanah.
"Kita telah memilih teknologi maju, tetapi pilihan kita salah. Ketika kita mau balik lagi sudah sulit karena lahan itu sudah terpakai," kata Zulkifli. Jutaan hektar lahan subur sudah terkonversi menjadi rumah atau untuk perluasan kota.
Pengembangan Kota Medan adalah contoh konkret. Tanah perkebunan untuk pengembangan tembakau deli sudah habis. "Kita tak mungkin melebarkan tanah tembakau deli karena sudah menjadi gedung," katanya.
Tukang listrik
Zulkifli tak bercita-cita menjadi ahli tanah, ia ingin menjadi tukang listrik. Itu karena setiap sore dia melihat petugas listrik mengontrol lampu jalan di Kisaran tahun 1967. Ia hanya tak percaya pada lagu Koes Plus, Kolam Susu, yang menggambarkan betapa suburnya Indonesia.
"Kalau tanahnya subur, tak mungkin rakyat melarat," kenang Zulkifli. Buktinya, produksi aren sang ayah, seorang pembuat gula aren di Kisaran, tak pernah meningkat. Produksi padi di daerahnya juga rendah. Pemikiran itu membuat dia memilih jurusan tanah pada Fakultas Pertanian USU.
Katanya, Indonesia yang terletak di kawasan tropis tidak subur karena unsur haranya rendah, hanya mineralnya bagus dan airnya cukup.
Saat kuliah, baju yang dimiliki Zulkifli cuma empat lembar. Ia juga mengajar untuk membiayai kuliah. "Mungkin karena saya suka makan makanan bergizi kalau ada kenduri sebab saya rajin membantu orang memasak untuk pesta," cerita Zulkifli yang pernah menang lomba mengaji tingkat Sumut itu.
Zulkifli rela bekerja dan belajar keras sebab niatnya hanya satu, yakni mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Ia tak peduli apakah hasil kerjanya mendapat penghargaan atau tidak.
Sesungguhnya, kata Zulkifli, untuk memajukan bangsa, kemampuan ilmuwan Indonesia mencukupi. Namun, tanpa pemimpin yang mampu berpikir jernih, mau memikirkan kesejahteraan rakyat dan kelestarian ekologi, kekuatan ilmu tidak akan berarti karena tak ada yang bisa diterapkan di sini.
Sumber : Kompas, Kamis, 6 Deember 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)

