Showing posts with label F. Show all posts
Showing posts with label F. Show all posts
Frank Lampard, Gelandang Haus Gol
Jun 28, 2009
Frank Lampard, Gelandang Haus Gol
Oleh : Pieter P Gero
SEPERTI biasa, inilah Frank Lampard. Dingin dan minim ekspresi. Setelah mencetak gol, dia acapkali dengan tampang dingin berlari sambil mencium jari tangan kirinya, kemudian meloncat dan mengacungkan telunjuk. Sesekali dia berteriak sekeras-kerasnya.
BEGITU pula ekspresinya saat dia terpilih sebagai Pemain Terbaik Tahun ini (Footballer of The Year) oleh kalangan penulis sepak bola pada bulan Mei ini. "Ini sangat prestisius," ujarnya singkat. "Saya sangat percaya diri dan saya bangga dengan apa yang telah saya capai."
Lampard adalah pemain gelandang pada kesebelasan Chelsea. Ia di posisi yang sama pada kesebelasan Inggris. Terpilihnya anak muda kelahiran Romford, Essex, Inggris, 20 Juni 1978, ini bukan semata karena dia ikut membawa Chelsea sebagai juara Liga Inggris musim 2004/ 2005, setelah setengah abad menunggu. Juga bukan sekadar membawa Chelsea merebut Piala Liga atau mencapai semifinal Piala Champions. Asosiasi wartawan sepak bola tadi menilai prestasinya spektakuler.
"Saya bekerja keras untuk semua ini dengan memanfaatkan setiap waktu yang ada. Saya menikmati sepak bola, terutama saat mengenang orang-orang yang meragukan kemampuan saya," ujarnya. Keraguan justru mendorongnya untuk tampil tuntas dan meyakinkan.
Tak hanya wartawan sepak bola, Michael Owen, penyerang Inggris yang kini main di Real Madrid (Spanyol), juga mengakui kinerja luar biasa Lampard. "Sangat mengagumkan. Saya belum pernah melihat seorang pemain yang mencatat kemajuan yang begitu cepat sebagaimana yang diperlihatkan Lampard," ujar Owen.
Pelatih kesebelasan nasional Azerbaijan, Carlos Alberto yang juga kapten Kesebelasan Brasil yang memenangi Piala Dunia 1970, menggambarkan Lampard sebagai seorang gelandang terbaik di dunia. Pujian ini muncul begitu Inggris menundukkan Azerbaijan, 2-0, bulan Maret lalu. Inggris beruntung memiliki seorang Frank Lampard.
BERMAIN sepak bola bagi Frank Lampard tak lepas dari pengaruh lingkup keluarganya. Ayahnya, Frank Lampard Sr, adalah pemain sepak bola pada klub West Ham United yang membawa klubnya dua kali merebut Piala FA. Sementara pamannya, Harry Redknapp, juga pemain dan kini pelatih di kesebelasan Southampton
Lampard bergabung sebagai pemain profesional di West Ham United saat pamannya Redknapp menjadi asisten pelatih tahun 1992. Ayahnya bergabung ke sana sebagai asisten pelatih saat sang paman menjadi pelatih tahun 1994. Frank Lampard mulai berkiprah sebagai gelandang dengan tampil sebanyak 184 kali dan mencetak 39 gol.
Kinerjanya sebagai pemain gelandang yang haus gol terus terlihat. Di Chelsea posisinya sebagai pemain gelandang di belakang penyerang Didier Drogba dan Eidur Gudjohnsen, namun dalam daftar top scorer Lampard berada di atas dengan 18 gol musim ini. Itu hanya terpaut empat gol dari Thierry Henry (Arsenal) di puncak dengan 22 gol. Dua gol Lampard saat menghadapi Bolton Wanderers memastikan gelar juara musim ini bagi Chelsea.
Sejak bergabung dengan Kesebelasan Chelsea tahun 2001 dengan nilai transfer 11 juta poundsterling, Lampard terus mencetak gol. Musim 2002/2003, dia mencetak 13 gol dan mengantar Chelsea masuk ke zona Piala Champions. Di zona pertarungan antarkesebelasan Eropa ini Lampard juga mencetak gol-gol indah bagi Chelsea.
Saat menjamu Bayern Muechen, Lampard mempersembahkan dua dari empat gol Chelsea yang lantas unggul, 4-2. Salah satunya gol indah, ketika Lampard menahan bola dengan dada di kotak penalti dan sekali kontrol dengan kaki kiri menendang melewati penjaga gawang Oliver Kahn. Bola meluncur bak peluru ke pojok jala gawang. Gol.
Sepak terjangnya dalam kesebelasan nasional diawali tahun 1999 dengan penampilan pertama saat menjamu Belgia. Penampilannya yang ngotot dan apa adanya saat bertahan atau ketika berlari ke gawang lawan membuatnya terpilih.
Dengan posisi gelandang Lampard harus berbagi kesempatan dengan Steven Gerrard. Meski begitu, ia tetap haus gol. Sejak tahun 2003 dari 32 pertandingan internasional yang diikutinya, ia membubuhkan delapan gol. Dalam Piala Eropa tahun 2004 di Portugal, ia malah mencetak tiga gol dari empat pertandingan. Dalam 14 pertandingan internasional terakhir membela Inggris, ia mencetak tujuh gol.
Sukses dalam membela panji Inggris ini yang menjadi salah satu alasan Lampard dipilih sebagai pemain terbaik tahun ini. Ia menjadi pemain internasional Inggris yang kedua yang meraih penghargaan ini setelah Teddy Sheringham tahun 2001. Di Chelsea dia orang kedua setelah Gianfranco Zola tahun 1997.
Kesuksesan pada Lampard tidak hanya datang dari pada pelatih, sesama pemain, atau wartawan sepak bola. Penampilan yang bersahaja, apa adanya, membuat para penggemar kesebelasan Inggris memilihnya sebagai Pemain Sepak Bola Inggris Tahun 2004.
Bagi penggemar Chelsea, ia merupakan idola di samping sang kapten John Terry yang sebelumnya juga terpilih sebagai Pemain Sepak Bola Tahun ini versi serikat pemain sepak bola. Semasa pelatih Claudio Ranieri, Lampard adalah salah seorang pemain yang bisa meneruskan apa yang diinginkan sang pelatih kepada sesama pemain lainnya.
Lampard muncul sebagai Pemain Terbaik setelah mengungguli Terry. Gerry Cox, sang ketua asosiasi, mengatakan, keduanya bersaing namun akhirnya Lampard unggul telak. "Terry memang hebat, namun Lampard bisa meyakinkan kami bahwa dia pemain terbaik di Inggris dan bahkan bisa menjadi pemain terbaik dunia," ujar Cox.
"Sepanjang permainan, dia tetap hebat. Daya tahan dan kebugarannya fenomenal dan 18 gol yang ia buat selama musim ini membuatnya sebagai seorang pemain hebat bagi tim mana pun," demikian penilaian para wartawan sepak bola itu. Lampard termasuk pemain Chelsea yang paling sering bermain penuh, 90 menit.
Bagaimana rencana Lampard ke depan?
"Kami tetap saja lapar dengan berbagai sukses lainnya dan dengan tim yang sekarang ada di Stamford Bridge (markas Chelsea), kami jelas tidak akan hanya puas dengan gelar-gelar yang ada," ujarnya.
Jelas, Lampard bersama Chelsea akan meraup gelar-gelar persepakbolaan lainnya. (PIETER P GERO)
Sumber : Kompas, Senin, 16 MEi 2005
Oleh : Pieter P Gero
SEPERTI biasa, inilah Frank Lampard. Dingin dan minim ekspresi. Setelah mencetak gol, dia acapkali dengan tampang dingin berlari sambil mencium jari tangan kirinya, kemudian meloncat dan mengacungkan telunjuk. Sesekali dia berteriak sekeras-kerasnya.
BEGITU pula ekspresinya saat dia terpilih sebagai Pemain Terbaik Tahun ini (Footballer of The Year) oleh kalangan penulis sepak bola pada bulan Mei ini. "Ini sangat prestisius," ujarnya singkat. "Saya sangat percaya diri dan saya bangga dengan apa yang telah saya capai."
Lampard adalah pemain gelandang pada kesebelasan Chelsea. Ia di posisi yang sama pada kesebelasan Inggris. Terpilihnya anak muda kelahiran Romford, Essex, Inggris, 20 Juni 1978, ini bukan semata karena dia ikut membawa Chelsea sebagai juara Liga Inggris musim 2004/ 2005, setelah setengah abad menunggu. Juga bukan sekadar membawa Chelsea merebut Piala Liga atau mencapai semifinal Piala Champions. Asosiasi wartawan sepak bola tadi menilai prestasinya spektakuler.
"Saya bekerja keras untuk semua ini dengan memanfaatkan setiap waktu yang ada. Saya menikmati sepak bola, terutama saat mengenang orang-orang yang meragukan kemampuan saya," ujarnya. Keraguan justru mendorongnya untuk tampil tuntas dan meyakinkan.
Tak hanya wartawan sepak bola, Michael Owen, penyerang Inggris yang kini main di Real Madrid (Spanyol), juga mengakui kinerja luar biasa Lampard. "Sangat mengagumkan. Saya belum pernah melihat seorang pemain yang mencatat kemajuan yang begitu cepat sebagaimana yang diperlihatkan Lampard," ujar Owen.
Pelatih kesebelasan nasional Azerbaijan, Carlos Alberto yang juga kapten Kesebelasan Brasil yang memenangi Piala Dunia 1970, menggambarkan Lampard sebagai seorang gelandang terbaik di dunia. Pujian ini muncul begitu Inggris menundukkan Azerbaijan, 2-0, bulan Maret lalu. Inggris beruntung memiliki seorang Frank Lampard.
BERMAIN sepak bola bagi Frank Lampard tak lepas dari pengaruh lingkup keluarganya. Ayahnya, Frank Lampard Sr, adalah pemain sepak bola pada klub West Ham United yang membawa klubnya dua kali merebut Piala FA. Sementara pamannya, Harry Redknapp, juga pemain dan kini pelatih di kesebelasan Southampton
Lampard bergabung sebagai pemain profesional di West Ham United saat pamannya Redknapp menjadi asisten pelatih tahun 1992. Ayahnya bergabung ke sana sebagai asisten pelatih saat sang paman menjadi pelatih tahun 1994. Frank Lampard mulai berkiprah sebagai gelandang dengan tampil sebanyak 184 kali dan mencetak 39 gol.
Kinerjanya sebagai pemain gelandang yang haus gol terus terlihat. Di Chelsea posisinya sebagai pemain gelandang di belakang penyerang Didier Drogba dan Eidur Gudjohnsen, namun dalam daftar top scorer Lampard berada di atas dengan 18 gol musim ini. Itu hanya terpaut empat gol dari Thierry Henry (Arsenal) di puncak dengan 22 gol. Dua gol Lampard saat menghadapi Bolton Wanderers memastikan gelar juara musim ini bagi Chelsea.
Sejak bergabung dengan Kesebelasan Chelsea tahun 2001 dengan nilai transfer 11 juta poundsterling, Lampard terus mencetak gol. Musim 2002/2003, dia mencetak 13 gol dan mengantar Chelsea masuk ke zona Piala Champions. Di zona pertarungan antarkesebelasan Eropa ini Lampard juga mencetak gol-gol indah bagi Chelsea.
Saat menjamu Bayern Muechen, Lampard mempersembahkan dua dari empat gol Chelsea yang lantas unggul, 4-2. Salah satunya gol indah, ketika Lampard menahan bola dengan dada di kotak penalti dan sekali kontrol dengan kaki kiri menendang melewati penjaga gawang Oliver Kahn. Bola meluncur bak peluru ke pojok jala gawang. Gol.
Sepak terjangnya dalam kesebelasan nasional diawali tahun 1999 dengan penampilan pertama saat menjamu Belgia. Penampilannya yang ngotot dan apa adanya saat bertahan atau ketika berlari ke gawang lawan membuatnya terpilih.
Dengan posisi gelandang Lampard harus berbagi kesempatan dengan Steven Gerrard. Meski begitu, ia tetap haus gol. Sejak tahun 2003 dari 32 pertandingan internasional yang diikutinya, ia membubuhkan delapan gol. Dalam Piala Eropa tahun 2004 di Portugal, ia malah mencetak tiga gol dari empat pertandingan. Dalam 14 pertandingan internasional terakhir membela Inggris, ia mencetak tujuh gol.
Sukses dalam membela panji Inggris ini yang menjadi salah satu alasan Lampard dipilih sebagai pemain terbaik tahun ini. Ia menjadi pemain internasional Inggris yang kedua yang meraih penghargaan ini setelah Teddy Sheringham tahun 2001. Di Chelsea dia orang kedua setelah Gianfranco Zola tahun 1997.
Kesuksesan pada Lampard tidak hanya datang dari pada pelatih, sesama pemain, atau wartawan sepak bola. Penampilan yang bersahaja, apa adanya, membuat para penggemar kesebelasan Inggris memilihnya sebagai Pemain Sepak Bola Inggris Tahun 2004.
Bagi penggemar Chelsea, ia merupakan idola di samping sang kapten John Terry yang sebelumnya juga terpilih sebagai Pemain Sepak Bola Tahun ini versi serikat pemain sepak bola. Semasa pelatih Claudio Ranieri, Lampard adalah salah seorang pemain yang bisa meneruskan apa yang diinginkan sang pelatih kepada sesama pemain lainnya.
Lampard muncul sebagai Pemain Terbaik setelah mengungguli Terry. Gerry Cox, sang ketua asosiasi, mengatakan, keduanya bersaing namun akhirnya Lampard unggul telak. "Terry memang hebat, namun Lampard bisa meyakinkan kami bahwa dia pemain terbaik di Inggris dan bahkan bisa menjadi pemain terbaik dunia," ujar Cox.
"Sepanjang permainan, dia tetap hebat. Daya tahan dan kebugarannya fenomenal dan 18 gol yang ia buat selama musim ini membuatnya sebagai seorang pemain hebat bagi tim mana pun," demikian penilaian para wartawan sepak bola itu. Lampard termasuk pemain Chelsea yang paling sering bermain penuh, 90 menit.
Bagaimana rencana Lampard ke depan?
"Kami tetap saja lapar dengan berbagai sukses lainnya dan dengan tim yang sekarang ada di Stamford Bridge (markas Chelsea), kami jelas tidak akan hanya puas dengan gelar-gelar yang ada," ujarnya.
Jelas, Lampard bersama Chelsea akan meraup gelar-gelar persepakbolaan lainnya. (PIETER P GERO)
Sumber : Kompas, Senin, 16 MEi 2005
Fatimah : Cek Ipah Mengembangkan Kerajinan Songket
Jun 27, 2009
Cek Ipah Mengembangkan Kerajinan Songket
Oleh : BM Lukita Grahadyarini
"SAYA ingin mendidik tahanan-tahanan perempuan supaya mereka punya keterampilan. Rasanya gila membayangkan mereka dikurung di penjara tanpa kesibukan."
PERKATAAN itu dituturkan Fatimah (70) atau biasa disapa dengan Cek Ipah, saat menceritakan pengalamannya mengajar pembuatan kain songket kepada narapidana (napi) perempuan di Lembaga Permasyarakatan Pakjo, Palembang, pada tahun 1989.
Di LP itulah ia mengajar sekitar 30 napi perempuan untuk menenun kain songket, kain yang konon merupakan simbol kekayaan masyarakat Palembang di masa lalu. Bahan-bahan untuk menenun kain songket, seperti benang dan alat tenun, dibawanya dari toko miliknya ke LP.
Ide untuk mengajarkan songket kepada narapidana diperolehnya ketika toko kerajinan songket miliknya didatangi petugas LP yang ingin membeli alat-alat pembuatan kain songket dari tokonya. Alat itu rencananya akan dipakai untuk sarana mengajar keterampilan songket kepada para narapidana.
Petugas LP itu tidak jadi membeli peralatan penenunan songket karena sebagai gantinya Cek Ipah memutuskan berbagi keterampilan pembuatan kain songket, kain yang diyakini merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Maka, mulailah dia mengajar para napi perempuan.
Pengajaran kain songket dilakukannya selama dua tahun, hingga tahun 1991. Para napi diajarkan membuat satu setel kain songket yang terdiri atas tumpal (kepala kain) dan selendang. Dari setiap setel songket, para napi diberi upah Rp 60.000 per setel.
Di tengah upayanya mengajarkan kerajinan kain songket, Cek Ipah mendapat penghargaan Upakarti dari Pemerintah Indonesia untuk jasa pengabdian dalam usaha pengembangan industri kecil kerajinan.
KERAJINAN songket adalah dunia yang ditekuni Cek Ipah ketika berhenti mengenyam pendidikan sekolah dasar pada usia 12 tahun. Ia belajar membuat kain songket dari ibunya, Khodijah. Kain songket palembang ketika itu identik dengan upacara-upacara dan perkawinan adat masyarakat Palembang.
Berbekal ketekunan, Fatimah mempelajari teknik menenun songket, menjahit, dan membuat motif. Pada usia 16 tahun dia menapak bisnis usaha kerajinan songket dengan bantuan modal dari orangtuanya. Songket yang semula hanya dijual kepada kalangan masyarakat Palembang, ketika itu mulai dia jual ke masyarakat di luar Palembang.
Untuk itu, dia merekrut sejumlah penduduk di sekitar rumahnya untuk mendukung usaha kerajinan songket miliknya di Kelurahan 30 Ilir, Palembang. Pada tahun 1975 ia mampu mempekerjakan sekitar 300 karyawan.
Dari usaha itu Cek Ipah mampu membiayai kebutuhan keluarganya. Kemandirian dan tidak ingin menyusahkan orangtua adalah modal utama lain yang mendorong dia mengembangkan bisnis kain songket.
"Awalnya saya dibantu modal oleh orangtua. Tetapi, setelah itu saya harus bisa berusaha sendiri, jangan sampai ibu saya mati karena dimintai uang terus oleh anak-anaknya," kata Cek Ipah yang merupakan anak ke-6 dari 10 bersaudara.
Bila melihat penghargaan yang diterima Fatimah sekarang, kita haruslah melihat perjuangan panjang perempuan ini. Terkadang Fatimah menyesal mengapa dia hanya berpendidikan sekolah dasar. Itu tidak lain karena orangtuanya masih memandang anak perempuan tidak usah bersekolah tinggi-tinggi.
"Anak perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi. Langsung kerja saja, membantu orangtua," begitu Cek Ipah menirukan pendapat orangtuanya dulu.
Pengalaman hidup kemudian mengajarkan kepada Fatimah bahwa keterampilan saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan. Untuk mengembangkan kerajinan songket, menurut Fatimah, diperlukan juga kemampuan membaca selera pasar serta manajemen dalam mengembangkan industri tersebut.
Kedua hal itu, menurut Cek Ipah, hanya dapat diperoleh melalui belajar di sekolah. Itu sebabnya dia berusaha keras menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
"Saya tidak mau anak-anak saya bodoh seperti saya. Kalau mereka mereka pintar, mereka pasti lebih berhasil dibandingkan dengan saya," ujar Cek Ipah.
Sepanjang hidupnya dia memang memegang teguh prinsip untuk menjadi lebih baik dengan bersikap disiplin dan kerja keras. Apalagi dia menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sakit-sakitan. Prinsip itu pula yang ia terapkan. Ia merasa sedih bila ada anak yang hanya mengandalkan kekayaan orangtua untuk hidupnya.
Keuletannya menekuni usaha kain songket ini diikuti sembilan anaknya. Saat ini sedikitnya terdapat sembilan toko kerajinan kain songket yang dikelola anak-anaknya. Salah seorang anaknya, Zainal, menjadi pengusaha songket ternama di Jakarta.
Selain kerja keras, Cek Ipah juga tidak pelit membagi ilmu kepada anak buah. Sebagian karyawan yang pernah dia bina telah mengembangkan usaha kain songket secara mandiri. Kini, jumlah karyawan yang tersisa sekitar 40 orang. "Saya senang (karyawan menjadi pengusaha). Artinya mereka berani mengembangkan usaha kain songket sendiri. Keberanian itu adalah modal utama berusaha," kata Cek Ipah.
CEK Ipah memang kini tidak muda lagi. Pada usianya yang ke-70 tahun, nenek dari 35 cucu dan buyut dari 3 cicit ini tidak lagi menenun dan mengajarkan kerajinan kain songket karena penglihatannya mulai kabur.
Meskipun demikian, dia tetap mengikuti perkembangan industri songket palembang yang telah ditekuninya puluhan tahun. Dia menilai kerajinan kain songket mengalami sejumlah kemajuan yang, antara lain, dapat dilihat dari lahirnya puluhan motif baru hasil pengembangan generasi muda perajin kain songket.
Ia mengaku bangga dengan perkembangan kain songket palembang. Baginya, pertumbuhan usaha kain songket menunjukkan industri ini masih mendapat tempat dan perhatian di negeri sendiri sekalipun pemanfaatannya masih terbatas pada kain, hiasan dinding, kipas, dompet kecil, tempat perhiasan, dan lain-lain.
"Saya senang semakin banyaknya orang membuka usaha kain songket. Itu artinya peluang untuk maju lebih besar lagi, supaya peninggalan budaya ini dapat bertahan," katanya seraya tersenyum dan mengibas rambutnya yang putih. (BM Lukita Grahadyarini)
Sumber : Kompas, Senin, 13 Juni 2005
Oleh : BM Lukita Grahadyarini
"SAYA ingin mendidik tahanan-tahanan perempuan supaya mereka punya keterampilan. Rasanya gila membayangkan mereka dikurung di penjara tanpa kesibukan."
PERKATAAN itu dituturkan Fatimah (70) atau biasa disapa dengan Cek Ipah, saat menceritakan pengalamannya mengajar pembuatan kain songket kepada narapidana (napi) perempuan di Lembaga Permasyarakatan Pakjo, Palembang, pada tahun 1989.
Di LP itulah ia mengajar sekitar 30 napi perempuan untuk menenun kain songket, kain yang konon merupakan simbol kekayaan masyarakat Palembang di masa lalu. Bahan-bahan untuk menenun kain songket, seperti benang dan alat tenun, dibawanya dari toko miliknya ke LP.
Ide untuk mengajarkan songket kepada narapidana diperolehnya ketika toko kerajinan songket miliknya didatangi petugas LP yang ingin membeli alat-alat pembuatan kain songket dari tokonya. Alat itu rencananya akan dipakai untuk sarana mengajar keterampilan songket kepada para narapidana.
Petugas LP itu tidak jadi membeli peralatan penenunan songket karena sebagai gantinya Cek Ipah memutuskan berbagi keterampilan pembuatan kain songket, kain yang diyakini merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Maka, mulailah dia mengajar para napi perempuan.
Pengajaran kain songket dilakukannya selama dua tahun, hingga tahun 1991. Para napi diajarkan membuat satu setel kain songket yang terdiri atas tumpal (kepala kain) dan selendang. Dari setiap setel songket, para napi diberi upah Rp 60.000 per setel.
Di tengah upayanya mengajarkan kerajinan kain songket, Cek Ipah mendapat penghargaan Upakarti dari Pemerintah Indonesia untuk jasa pengabdian dalam usaha pengembangan industri kecil kerajinan.
KERAJINAN songket adalah dunia yang ditekuni Cek Ipah ketika berhenti mengenyam pendidikan sekolah dasar pada usia 12 tahun. Ia belajar membuat kain songket dari ibunya, Khodijah. Kain songket palembang ketika itu identik dengan upacara-upacara dan perkawinan adat masyarakat Palembang.
Berbekal ketekunan, Fatimah mempelajari teknik menenun songket, menjahit, dan membuat motif. Pada usia 16 tahun dia menapak bisnis usaha kerajinan songket dengan bantuan modal dari orangtuanya. Songket yang semula hanya dijual kepada kalangan masyarakat Palembang, ketika itu mulai dia jual ke masyarakat di luar Palembang.
Untuk itu, dia merekrut sejumlah penduduk di sekitar rumahnya untuk mendukung usaha kerajinan songket miliknya di Kelurahan 30 Ilir, Palembang. Pada tahun 1975 ia mampu mempekerjakan sekitar 300 karyawan.
Dari usaha itu Cek Ipah mampu membiayai kebutuhan keluarganya. Kemandirian dan tidak ingin menyusahkan orangtua adalah modal utama lain yang mendorong dia mengembangkan bisnis kain songket.
"Awalnya saya dibantu modal oleh orangtua. Tetapi, setelah itu saya harus bisa berusaha sendiri, jangan sampai ibu saya mati karena dimintai uang terus oleh anak-anaknya," kata Cek Ipah yang merupakan anak ke-6 dari 10 bersaudara.
Bila melihat penghargaan yang diterima Fatimah sekarang, kita haruslah melihat perjuangan panjang perempuan ini. Terkadang Fatimah menyesal mengapa dia hanya berpendidikan sekolah dasar. Itu tidak lain karena orangtuanya masih memandang anak perempuan tidak usah bersekolah tinggi-tinggi.
"Anak perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi. Langsung kerja saja, membantu orangtua," begitu Cek Ipah menirukan pendapat orangtuanya dulu.
Pengalaman hidup kemudian mengajarkan kepada Fatimah bahwa keterampilan saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan. Untuk mengembangkan kerajinan songket, menurut Fatimah, diperlukan juga kemampuan membaca selera pasar serta manajemen dalam mengembangkan industri tersebut.
Kedua hal itu, menurut Cek Ipah, hanya dapat diperoleh melalui belajar di sekolah. Itu sebabnya dia berusaha keras menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
"Saya tidak mau anak-anak saya bodoh seperti saya. Kalau mereka mereka pintar, mereka pasti lebih berhasil dibandingkan dengan saya," ujar Cek Ipah.
Sepanjang hidupnya dia memang memegang teguh prinsip untuk menjadi lebih baik dengan bersikap disiplin dan kerja keras. Apalagi dia menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sakit-sakitan. Prinsip itu pula yang ia terapkan. Ia merasa sedih bila ada anak yang hanya mengandalkan kekayaan orangtua untuk hidupnya.
Keuletannya menekuni usaha kain songket ini diikuti sembilan anaknya. Saat ini sedikitnya terdapat sembilan toko kerajinan kain songket yang dikelola anak-anaknya. Salah seorang anaknya, Zainal, menjadi pengusaha songket ternama di Jakarta.
Selain kerja keras, Cek Ipah juga tidak pelit membagi ilmu kepada anak buah. Sebagian karyawan yang pernah dia bina telah mengembangkan usaha kain songket secara mandiri. Kini, jumlah karyawan yang tersisa sekitar 40 orang. "Saya senang (karyawan menjadi pengusaha). Artinya mereka berani mengembangkan usaha kain songket sendiri. Keberanian itu adalah modal utama berusaha," kata Cek Ipah.
CEK Ipah memang kini tidak muda lagi. Pada usianya yang ke-70 tahun, nenek dari 35 cucu dan buyut dari 3 cicit ini tidak lagi menenun dan mengajarkan kerajinan kain songket karena penglihatannya mulai kabur.
Meskipun demikian, dia tetap mengikuti perkembangan industri songket palembang yang telah ditekuninya puluhan tahun. Dia menilai kerajinan kain songket mengalami sejumlah kemajuan yang, antara lain, dapat dilihat dari lahirnya puluhan motif baru hasil pengembangan generasi muda perajin kain songket.
Ia mengaku bangga dengan perkembangan kain songket palembang. Baginya, pertumbuhan usaha kain songket menunjukkan industri ini masih mendapat tempat dan perhatian di negeri sendiri sekalipun pemanfaatannya masih terbatas pada kain, hiasan dinding, kipas, dompet kecil, tempat perhiasan, dan lain-lain.
"Saya senang semakin banyaknya orang membuka usaha kain songket. Itu artinya peluang untuk maju lebih besar lagi, supaya peninggalan budaya ini dapat bertahan," katanya seraya tersenyum dan mengibas rambutnya yang putih. (BM Lukita Grahadyarini)
Sumber : Kompas, Senin, 13 Juni 2005
Flisch Joerimann : Merekonstruksi Emosi Rakyat Aceh
Jun 25, 2009
Merekonstruksi Emosi Rakyat Aceh
Oleh : Khaeruddin
Sebuah brosur tentang program International Committee of The Red Cross disodorkan Flisch Joerimann. Brosur tersebut berisi penjelasan tentang bagaimana ICRC atau Komite Palang Merah Internasional berusaha agar seseorang yang terpisah dari keluarganya akibat konflik bersenjata, bisa berhubungan kembali.
Sejak tahun 2003 Flisch, yang bekerja sebagai penerjemah di ICRC, keluar-masuk berbagai penjara di Indonesia demi mempertemukan orang-orang yang terpisah dari keluarganya akibat kegiatan separatisme hingga terorisme.
Selain penjara-penjara di Jawa Barat, hampir seluruh sel-sel tahanan di Pulau Jawa telah dia datangi. Flisch mendata berapa banyak anggota dan simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditahan di berbagai penjara di Pulau Jawa. Dengan meminta persetujuan pihak berwenang, seperti Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia hingga kepala lembaga pemasyarakatan, Flisch memfasilitasi para narapidana tersebut bertemu kembali dengan keluarganya.
”Saya juga pernah masuk ke penjara-penjara di Papua. Tidak hanya penjara, tetapi juga ruang tahanan polisi dan kejaksaan. Mendata mereka yang tersangkut dengan OPM. Prinsipnya, setiap narapidana berhak mendapatkan kunjungan dari keluarganya sekali dalam setahun. Kami bekerja di bawah hukum humaniter internasional,” tutur pria lajang yang lahir di Chur, sebuah kota kecil di Pegunungan Alpen, Swiss, 10 Juni 1976.
Tugas sebagai penerjemah ICRC membuatnya bisa berkeliling Indonesia. Flisch sangat mencintai Indonesia. Pertama kali datang tahun 1997 sebagai wisatawan, Flisch kemudian memutuskan meneliti dampak pariwisata Bali terhadap perempuan di desa-desa adat sebagai tesisnya di jurusan antropologi Universitat Zurich, pada tahun 2000-2001.
Bahasa Indonesianya yang lancar dia pelajari dari orang-orang di sebuah kampung kecil di Kabupaten Gianyar, Bali, tempatnya meneliti. ”Tujuh tahun saya kuliah antropologi. Saya banyak mengenal Indonesia setelah belajar antropologi,” katanya.
Flisch membeli sebidang tanah di Bali untuk ditinggalinya kelak. Suatu saat dia ingin benar-benar menjadi orang Indonesia. ”Saya sengaja memilih tinggal di kampung, bukan di Kuta atau Denpasar karena orang-orang di kampung bisa bersikap apa adanya. Mereka juga relatif lebih jujur dan tulus kalau membantu,” katanya.
Saat gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan Aceh akhir tahun lalu, Flisch tengah merayakan Natal di Pulau Weh, Sabang, bersama seorang rekannya yang juga berasal dari Swiss. Nalurinya sebagai pekerja kemanusiaan membuat dia langsung kembali ke Banda Aceh.
Flisch diliputi kengerian yang luar biasa ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dari pantai menuju ke kantor gubernur. Malam itu juga dia langsung bekerja.
”Untuk beberapa waktu lamanya kami harus bekerja hingga dini hari. Dua minggu setelah tsunami, baru bantuan relawan ICRC sebanyak 60 orang datang. Sebelumnya hanya kami berdua saja,” ujar Flisch yang merasa beruntung menjadi satu dari sedikit orang asing yang bisa leluasa mengunjungi Aceh.
Pekerjaan mendatangi berbagai penjara dan tahanan di Indonesia pun, bukanlah pekerjaan mudah. ”Pekerjaan ini sangat sensitif, jadi dibutuhkan orang yang paham betul bahasa Indonesia,” katanya. Apalagi jika menyangkut narapidana dengan tuduhan separatis atau teroris.
”Padahal seperti layaknya manusia, mereka juga berhak untuk tetap berhubungan dengan keluarganya. Namun, kelompok ini merupakan yang paling rentan karena berarti dia ditahan di daerah musuh,” ujar Flisch.
Memfasilitasi tahanan atau narapidana untuk kembali berhubungan dengan keluarganya tidak hanya dilakukan dengan mempertemukan mereka. Bisa saja ICRC menyediakan telepon satelit agar mereka bisa saling berkomunikasi atau dengan menyediakan jasa layanan surat-menyurat, terutama di daerah yang tengah dilanda perang.
”Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka yang terpisah jauh dari orang-orang yang disayanginya. Bagi yang tidak terlibat mungkin susah membayangkan. Saya yang berpisah enam bulan saja dari keluarga di Eropa sudah diliputi perasaan kangen, apalagi mereka yang terpisah bertahun-tahun,” tuturnya.
Aceh menjadi tempat di mana ratusan, bahkan mungkin ribuan orang, terpisah dari keluarganya karena konflik bersenjata dan bencana tsunami. Konflik bersenjata membuat rakyat Aceh yang tergabung dalam GAM yang ditangkap dan ditahan di luar Aceh harus terpisah dari keluarganya. Tsunami juga telah menceraiberaikan rakyat Aceh lainnya.
Di Aceh, Flisch seperti menemukan jiwanya. Flisch tidak ingin rakyat Aceh harus kehilangan segala-galanya, termasuk terputusnya hubungan keluarga. Tatkala berhasil mempertemukan Zulkifli Nasir, narapidana asal Aceh, dengan istri dan anaknya yang terpisah hampir lima tahun, Rabu (27/7/2005), mata Flisch berkaca-kaca. Berkali-kali Flisch meminta wartawan menunda wawancara agar Zulkifli dan keluarganya bisa bercengkerama lebih lama.
Zulkifli bukan anggota GAM. Dia hanya rakyat Aceh biasa yang tidak berani pulang ke kampung halamannya karena konflik bersenjata, tetapi harus mendekam di penjara karena perkara pidana. Sementara anak dan istri Zulkifli di Aceh mengalami langsung dampak tsunami.
”Bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh bukan hanya membangun sarana fisik, tetapi juga memulihkan hubungan keluarga, karena ini menyangkut sisi emosi mereka,” tutur Flisch.
Dengan telaten, Flisch mendatangi penjara di mana terdapat warga Aceh. Dia mendata, apakah ada sanak saudara mereka yang hilang. Ribuan narapidana asal Aceh di berbagai tempat di Indonesia kemudian mengisi formulir pencarian.
Usahanya cukup berhasil. Flisch bersama relawan ICRC sedikitnya telah ”mempertemukan” 3.700 warga Aceh yang hilang akibat bencana tsunami dengan keluarganya. Termasuk 42 anak yang hilang kembali dipertemukan dengan orangtuanya.
Sumber : Kompas, Kamis, 4 Agustus 2005
Oleh : Khaeruddin
Sebuah brosur tentang program International Committee of The Red Cross disodorkan Flisch Joerimann. Brosur tersebut berisi penjelasan tentang bagaimana ICRC atau Komite Palang Merah Internasional berusaha agar seseorang yang terpisah dari keluarganya akibat konflik bersenjata, bisa berhubungan kembali.
Sejak tahun 2003 Flisch, yang bekerja sebagai penerjemah di ICRC, keluar-masuk berbagai penjara di Indonesia demi mempertemukan orang-orang yang terpisah dari keluarganya akibat kegiatan separatisme hingga terorisme.
Selain penjara-penjara di Jawa Barat, hampir seluruh sel-sel tahanan di Pulau Jawa telah dia datangi. Flisch mendata berapa banyak anggota dan simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditahan di berbagai penjara di Pulau Jawa. Dengan meminta persetujuan pihak berwenang, seperti Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia hingga kepala lembaga pemasyarakatan, Flisch memfasilitasi para narapidana tersebut bertemu kembali dengan keluarganya.
”Saya juga pernah masuk ke penjara-penjara di Papua. Tidak hanya penjara, tetapi juga ruang tahanan polisi dan kejaksaan. Mendata mereka yang tersangkut dengan OPM. Prinsipnya, setiap narapidana berhak mendapatkan kunjungan dari keluarganya sekali dalam setahun. Kami bekerja di bawah hukum humaniter internasional,” tutur pria lajang yang lahir di Chur, sebuah kota kecil di Pegunungan Alpen, Swiss, 10 Juni 1976.
Tugas sebagai penerjemah ICRC membuatnya bisa berkeliling Indonesia. Flisch sangat mencintai Indonesia. Pertama kali datang tahun 1997 sebagai wisatawan, Flisch kemudian memutuskan meneliti dampak pariwisata Bali terhadap perempuan di desa-desa adat sebagai tesisnya di jurusan antropologi Universitat Zurich, pada tahun 2000-2001.
Bahasa Indonesianya yang lancar dia pelajari dari orang-orang di sebuah kampung kecil di Kabupaten Gianyar, Bali, tempatnya meneliti. ”Tujuh tahun saya kuliah antropologi. Saya banyak mengenal Indonesia setelah belajar antropologi,” katanya.
Flisch membeli sebidang tanah di Bali untuk ditinggalinya kelak. Suatu saat dia ingin benar-benar menjadi orang Indonesia. ”Saya sengaja memilih tinggal di kampung, bukan di Kuta atau Denpasar karena orang-orang di kampung bisa bersikap apa adanya. Mereka juga relatif lebih jujur dan tulus kalau membantu,” katanya.
Saat gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan Aceh akhir tahun lalu, Flisch tengah merayakan Natal di Pulau Weh, Sabang, bersama seorang rekannya yang juga berasal dari Swiss. Nalurinya sebagai pekerja kemanusiaan membuat dia langsung kembali ke Banda Aceh.
Flisch diliputi kengerian yang luar biasa ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dari pantai menuju ke kantor gubernur. Malam itu juga dia langsung bekerja.
”Untuk beberapa waktu lamanya kami harus bekerja hingga dini hari. Dua minggu setelah tsunami, baru bantuan relawan ICRC sebanyak 60 orang datang. Sebelumnya hanya kami berdua saja,” ujar Flisch yang merasa beruntung menjadi satu dari sedikit orang asing yang bisa leluasa mengunjungi Aceh.
Pekerjaan mendatangi berbagai penjara dan tahanan di Indonesia pun, bukanlah pekerjaan mudah. ”Pekerjaan ini sangat sensitif, jadi dibutuhkan orang yang paham betul bahasa Indonesia,” katanya. Apalagi jika menyangkut narapidana dengan tuduhan separatis atau teroris.
”Padahal seperti layaknya manusia, mereka juga berhak untuk tetap berhubungan dengan keluarganya. Namun, kelompok ini merupakan yang paling rentan karena berarti dia ditahan di daerah musuh,” ujar Flisch.
Memfasilitasi tahanan atau narapidana untuk kembali berhubungan dengan keluarganya tidak hanya dilakukan dengan mempertemukan mereka. Bisa saja ICRC menyediakan telepon satelit agar mereka bisa saling berkomunikasi atau dengan menyediakan jasa layanan surat-menyurat, terutama di daerah yang tengah dilanda perang.
”Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka yang terpisah jauh dari orang-orang yang disayanginya. Bagi yang tidak terlibat mungkin susah membayangkan. Saya yang berpisah enam bulan saja dari keluarga di Eropa sudah diliputi perasaan kangen, apalagi mereka yang terpisah bertahun-tahun,” tuturnya.
Aceh menjadi tempat di mana ratusan, bahkan mungkin ribuan orang, terpisah dari keluarganya karena konflik bersenjata dan bencana tsunami. Konflik bersenjata membuat rakyat Aceh yang tergabung dalam GAM yang ditangkap dan ditahan di luar Aceh harus terpisah dari keluarganya. Tsunami juga telah menceraiberaikan rakyat Aceh lainnya.
Di Aceh, Flisch seperti menemukan jiwanya. Flisch tidak ingin rakyat Aceh harus kehilangan segala-galanya, termasuk terputusnya hubungan keluarga. Tatkala berhasil mempertemukan Zulkifli Nasir, narapidana asal Aceh, dengan istri dan anaknya yang terpisah hampir lima tahun, Rabu (27/7/2005), mata Flisch berkaca-kaca. Berkali-kali Flisch meminta wartawan menunda wawancara agar Zulkifli dan keluarganya bisa bercengkerama lebih lama.
Zulkifli bukan anggota GAM. Dia hanya rakyat Aceh biasa yang tidak berani pulang ke kampung halamannya karena konflik bersenjata, tetapi harus mendekam di penjara karena perkara pidana. Sementara anak dan istri Zulkifli di Aceh mengalami langsung dampak tsunami.
”Bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh bukan hanya membangun sarana fisik, tetapi juga memulihkan hubungan keluarga, karena ini menyangkut sisi emosi mereka,” tutur Flisch.
Dengan telaten, Flisch mendatangi penjara di mana terdapat warga Aceh. Dia mendata, apakah ada sanak saudara mereka yang hilang. Ribuan narapidana asal Aceh di berbagai tempat di Indonesia kemudian mengisi formulir pencarian.
Usahanya cukup berhasil. Flisch bersama relawan ICRC sedikitnya telah ”mempertemukan” 3.700 warga Aceh yang hilang akibat bencana tsunami dengan keluarganya. Termasuk 42 anak yang hilang kembali dipertemukan dengan orangtuanya.
Sumber : Kompas, Kamis, 4 Agustus 2005
Fernando Alonso : Alonso, Juara Dunia Baru F1
Jun 23, 2009
Alonso, Juara Dunia Baru F1
Oleh: Irving Noor
Fernando Alonso sama sekali tidak terobsesi untuk menjadi juara dunia tatkala dia pertama kali duduk di belakang kemudi balap mobil Formula Satu (F1). Pembalap muda berusia 24 tahun yang hari Minggu (25/9/2005) mengukuhkan diri sebagai juara dunia baru F1 ini malah bercita-cita menjadi mekanik gokar.
Kok ingin menjadi mekanik gokar? Pertanyaan yang sama juga keluar dari sesama pembalap gokar teman main Alonso. Lalu, apa jawaban Alonso kala itu?
Dia tidak menjawab langsung. Alonso hanya mengatakan, kesibukan mekanik mengutak-atik mesin adalah pekerjaan yang perlu ketelitian tinggi.
Menurut dia, bagaimanapun tangguhnya pembalap, tanpa dukungan mekanik yang tangguh, rasanya mubazir. Apalagi Alonso adalah pegokar tulen.
Alonso bertahun-tahun menggeluti balap gokar sejak tahun 1994-1997. Setahun sebelum merebut juara nasional Spanyol tahun 1997, Alonso berhasil menjadi juara dunia yunior gokar.
Kedekatannya dengan mekanik juga terjadi saat dia beralih ke lomba balap mobil Formula 3000 tahun 2000. Ketekunannya berlatih dan berlomba membawa hasil. Alonso sekali naik podium juara dan merebut peringkat keempat di Formula 3000.
Sifatnya yang bersahaja, tekun, dan rendah hati mendekatkan keberuntungan kepada anak muda yang juga punya hobi nonton sepak bola ini. Alonso adalah penggemar fanatik Real Madrid.
Tahun 2001 Alonso dilirik tim Renault, tetapi dia dipinjamkan ke Minardi selama satu musim lomba. Tahun 2002 dia ditarik lagi dan menjadi pembalap tes tim Renault.
Tidak ada jalan mundur
Sudah terbayang dalam pikiran Alonso, tahun depan ia harus kembali ke gelanggang F1. ”Tak ada jalan mundur. Sekali kecemplung, terus berkubang di sana,” ujar pembalap kelahiran Oviedo, Spanyol, 29 Juli 1981, itu.
Kapan persisnya Alonso terpikat lomba F1? Alonso mengaku itu terjadi pada tahun 1999.
”Bintangnya waktu itu adalah pembalap Mika Hakkinen dan Michael Schumacher yang berburu gelar juara dunia,” kenang Alonso yang Minggu lalu merebut juara tiga di GP Brasil.
Dengan menjadi juara tiga, cukuplah buat Alonso menjadi juara dunia yang baru, menggeser prestasi pembalap Jerman Michael Schumacher yang tujuh kali juara dunia F1.
Jadilah Alonso juara dunia termuda F1. Juara termuda sebelumnya adalah pembalap asal Brasil, yakni Emerson Fitipaldi, yang berprestasi di usia 25 tahun, delapan bulan, dan 29 hari.
Michael Schumacher juga terpaut usia beberapa bulan lebih tua dari Alonso ketika dia menjadi juara dunia tahun 1994 bersama tim Benetton.
Alonso yang paruh waktunya menjadi pesulap mengatakan, orang Spanyol sebelumnya enggan menyaksikan balap F1. ”Bahkan saya sendiri sama sekali tidak bermimpi bisa menjadi pembalap F1 sekalipun saya sudah tahunan balap,” katanya.
Itu cerita dulu! Saat ini balap mobil F1 menyita perhatian tujuh juta orang Spanyol yang melihat langsung dari televisi. Kebanyakan penonton berpengharapan besar pada Alonso. Pengharapan orang Spanyol menjadi kenyataan. Si pendiam yang ganteng ini mengharu biru ribuan penonton yang menyaksikan siaran lewat televisi di kampungnya, di Oviedo, Spanyol, Minggu lalu.
Begitu mobil Renault yang dikemudikan Alonso berada di barisan ketiga menuju garis finis, ribuan penonton bersorak-sorak gembira. Lengkingan klakson mobil maupun terompet menggigit gendang telinga.
”Alonso juara dunia, Alonso juara dunia.” Itu yang diteriakkan banyak orang, seperti ditulis kantor berita Reuters.
Alonso memang berada di barisan ketiga setelah duet pembalap McLaren Mercedes, Juan Pablo Montoya dan Kimi Raikkonen, memasuki garis finis. Kimi Raikkonen adalah rival terdekat Alonso dalam persaingan pengumpulan angka untuk menjadi juara dunia. Sebelum lomba di GP Brasil, Alonso mengoleksi 111 angka atau lebih banyak 25 angka dari milik Raikkonen. Dengan tambahan enam angka setelah menempati juara tiga, nilai Alonso menjadi 117 dan tidak terkejar oleh Raikkonen yang menjadi runner up di GP Brasil. Gelar juara GP Brasil direbut Juan Pablo Montoya.
Apa komentar setelah menjadi juara dunia? Dia mengatakan tugasnya belum selesai. ”Saya masih harus mengedepankan tim untuk juga bisa menjadi juara dunia di konstruktor.”
Saat ini, di klasemen sementara, tim Renault ketinggalan dua angka dari rivalnya, tim McLaren, yang telah mengumpulkan nilai 164. Apakah Alonso bisa juga membawa timnya menjadi juara dunia? Ini masih harus dilihat dari dua lomba yang tersisa, yakni GP Jepang dan GP China.
Faktor ayah
Mengilas balik sejarah keterlibatan Alonso di dunia balap, pemuda berambut ikal ini mengatakan, faktor didikan ayahnya amat berperan. Ia juga mengatakan bahwa dukungan datang dari saudara-saudaranya.
Begitu Alonso diputus untuk bergabung kembali dengan Renault, semuanya langsung menyatakan setuju.
Setelah menjadi juara dunia, adakah yang berubah pada diri Alonso? Apalagi dia hanya membukukan rekor berlomba selama 65 kali. ”Saya masih muda dan setiap berlomba menambah pengalaman dan menjadikan dirimu lebih tegar. Saya juga melihat keberuntungan berpihak kepada saya. Itu saja.”
Sumber : Kompas, Kamis, 29 September 2005
Oleh: Irving Noor
Fernando Alonso sama sekali tidak terobsesi untuk menjadi juara dunia tatkala dia pertama kali duduk di belakang kemudi balap mobil Formula Satu (F1). Pembalap muda berusia 24 tahun yang hari Minggu (25/9/2005) mengukuhkan diri sebagai juara dunia baru F1 ini malah bercita-cita menjadi mekanik gokar.
Kok ingin menjadi mekanik gokar? Pertanyaan yang sama juga keluar dari sesama pembalap gokar teman main Alonso. Lalu, apa jawaban Alonso kala itu?
Dia tidak menjawab langsung. Alonso hanya mengatakan, kesibukan mekanik mengutak-atik mesin adalah pekerjaan yang perlu ketelitian tinggi.
Menurut dia, bagaimanapun tangguhnya pembalap, tanpa dukungan mekanik yang tangguh, rasanya mubazir. Apalagi Alonso adalah pegokar tulen.
Alonso bertahun-tahun menggeluti balap gokar sejak tahun 1994-1997. Setahun sebelum merebut juara nasional Spanyol tahun 1997, Alonso berhasil menjadi juara dunia yunior gokar.
Kedekatannya dengan mekanik juga terjadi saat dia beralih ke lomba balap mobil Formula 3000 tahun 2000. Ketekunannya berlatih dan berlomba membawa hasil. Alonso sekali naik podium juara dan merebut peringkat keempat di Formula 3000.
Sifatnya yang bersahaja, tekun, dan rendah hati mendekatkan keberuntungan kepada anak muda yang juga punya hobi nonton sepak bola ini. Alonso adalah penggemar fanatik Real Madrid.
Tahun 2001 Alonso dilirik tim Renault, tetapi dia dipinjamkan ke Minardi selama satu musim lomba. Tahun 2002 dia ditarik lagi dan menjadi pembalap tes tim Renault.
Tidak ada jalan mundur
Sudah terbayang dalam pikiran Alonso, tahun depan ia harus kembali ke gelanggang F1. ”Tak ada jalan mundur. Sekali kecemplung, terus berkubang di sana,” ujar pembalap kelahiran Oviedo, Spanyol, 29 Juli 1981, itu.
Kapan persisnya Alonso terpikat lomba F1? Alonso mengaku itu terjadi pada tahun 1999.
”Bintangnya waktu itu adalah pembalap Mika Hakkinen dan Michael Schumacher yang berburu gelar juara dunia,” kenang Alonso yang Minggu lalu merebut juara tiga di GP Brasil.
Dengan menjadi juara tiga, cukuplah buat Alonso menjadi juara dunia yang baru, menggeser prestasi pembalap Jerman Michael Schumacher yang tujuh kali juara dunia F1.
Jadilah Alonso juara dunia termuda F1. Juara termuda sebelumnya adalah pembalap asal Brasil, yakni Emerson Fitipaldi, yang berprestasi di usia 25 tahun, delapan bulan, dan 29 hari.
Michael Schumacher juga terpaut usia beberapa bulan lebih tua dari Alonso ketika dia menjadi juara dunia tahun 1994 bersama tim Benetton.
Alonso yang paruh waktunya menjadi pesulap mengatakan, orang Spanyol sebelumnya enggan menyaksikan balap F1. ”Bahkan saya sendiri sama sekali tidak bermimpi bisa menjadi pembalap F1 sekalipun saya sudah tahunan balap,” katanya.
Itu cerita dulu! Saat ini balap mobil F1 menyita perhatian tujuh juta orang Spanyol yang melihat langsung dari televisi. Kebanyakan penonton berpengharapan besar pada Alonso. Pengharapan orang Spanyol menjadi kenyataan. Si pendiam yang ganteng ini mengharu biru ribuan penonton yang menyaksikan siaran lewat televisi di kampungnya, di Oviedo, Spanyol, Minggu lalu.
Begitu mobil Renault yang dikemudikan Alonso berada di barisan ketiga menuju garis finis, ribuan penonton bersorak-sorak gembira. Lengkingan klakson mobil maupun terompet menggigit gendang telinga.
”Alonso juara dunia, Alonso juara dunia.” Itu yang diteriakkan banyak orang, seperti ditulis kantor berita Reuters.
Alonso memang berada di barisan ketiga setelah duet pembalap McLaren Mercedes, Juan Pablo Montoya dan Kimi Raikkonen, memasuki garis finis. Kimi Raikkonen adalah rival terdekat Alonso dalam persaingan pengumpulan angka untuk menjadi juara dunia. Sebelum lomba di GP Brasil, Alonso mengoleksi 111 angka atau lebih banyak 25 angka dari milik Raikkonen. Dengan tambahan enam angka setelah menempati juara tiga, nilai Alonso menjadi 117 dan tidak terkejar oleh Raikkonen yang menjadi runner up di GP Brasil. Gelar juara GP Brasil direbut Juan Pablo Montoya.
Apa komentar setelah menjadi juara dunia? Dia mengatakan tugasnya belum selesai. ”Saya masih harus mengedepankan tim untuk juga bisa menjadi juara dunia di konstruktor.”
Saat ini, di klasemen sementara, tim Renault ketinggalan dua angka dari rivalnya, tim McLaren, yang telah mengumpulkan nilai 164. Apakah Alonso bisa juga membawa timnya menjadi juara dunia? Ini masih harus dilihat dari dua lomba yang tersisa, yakni GP Jepang dan GP China.
Faktor ayah
Mengilas balik sejarah keterlibatan Alonso di dunia balap, pemuda berambut ikal ini mengatakan, faktor didikan ayahnya amat berperan. Ia juga mengatakan bahwa dukungan datang dari saudara-saudaranya.
Begitu Alonso diputus untuk bergabung kembali dengan Renault, semuanya langsung menyatakan setuju.
Setelah menjadi juara dunia, adakah yang berubah pada diri Alonso? Apalagi dia hanya membukukan rekor berlomba selama 65 kali. ”Saya masih muda dan setiap berlomba menambah pengalaman dan menjadikan dirimu lebih tegar. Saya juga melihat keberuntungan berpihak kepada saya. Itu saja.”
Sumber : Kompas, Kamis, 29 September 2005
Fathurrahman Zakaria : Jack, Mengembangkan Lombok
Jun 20, 2009
Jack, Mengembangkan Lombok
Oleh : Khaerul Anwar
Mengungkap sejarah Lombok di Nusa Tenggara Barat ibarat memasuki lorong gelap dikarenakan terbatasnya referensi. Namun, Fathurrahman Zakaria (71 ) alias Pak Jack berupaya menerobos lorong gelap itu dan menuangkannya dalam dua buku karyanya.
Kita harus mulai menulis suasana abad ke-18, zaman revolusi di Lombok maupun Nusa Tenggara Barat, ujarnya. Kalau tidak, generasi muda akan kehilangan jejak.
Penulisan buku itu diawali dengan kegelisahan Jack yang mendapat banyak pertanyaan dari kalangan muda seputar sejarah lokal daerah, seperti bagaimana perjuangan rakyat Lombok melawan Belanda, asal nama Kota Mataram yang menjadi ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini, dan lain-lain.
Dengan membongkar catatannya, ditambah pengalaman, pantauan, dan bertanya pada rekan- rekannya, Jack mencoba menjahit apa yang diketahuinya, yang lalu dituangkan lewat dua karyanya. Satu buku diberi judul Mozaik Budaya Orang Mataram, dan Gerakan 30 September 1965, Rakyat NTB Melawan Bahaya Merah. Kini dia masih mengumpulkan bahan untuk menulis tentang tradisi masyarakat etnis Sasak menunaikan ibadah haji.
Buku pertama mencoba memaparkan perjalanan Kota Mataram dari zaman Kerajaan Mataram di bawah Raja Karangasem Bali, yang menduduki Lombok tahun 1740, Pemerintah Kolonial Belanda, masa Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi dewasa ini. Buku kedua umumnya berisi seputar situasi perpolitikan nasional semasa Presiden Soekarno yang berpengaruh terhadap perpolitikan di daerah.
Isi buku-buku itu, meski menimbulkan banyak pertanyaan, namun dari aspek informasi agaknya dapat memberi gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya guna menelusuri lebih dalam mengenai sejarah.
Misalnya saja, soal nama Mataram, diduga berasal dari kata mata-aram (bahasa Sanskerta), yang berarti hiburan atau persembahan untuk ibu pertiwi. Seperti diketahui, kata Jack, nama Mataram mengingatkan pada kerajaan Mataram I (732-929) dan Mataram II (1586-1755) di Jawa.
Sekalipun raja yang berkuasa di Lombok tidak mempunyai kekeluargaan langsung atau kerja sama dengan kerajaan Mataram Jawa, namun Mas Poleng, seorang teknokrat yang dipercayai Raja Mataram Lombok saat itu, memahami bahwa yang dibangun adalah kerajaan aristokrat Bali (Hindu-Bali). Taman Mayura dan Pura Miru mungkin wujud falsafah Hindu-Bali tadi. Nama Mataram, oleh etnis Bali diucapkan Metaram, dan etnis Sasak menyebutnya dengan Mentaram.
Saat ini Mataram berkembang begitu pesat, namun berbagai persoalan terdahulu tetap menjadi penting diketahui, terutama di masa Orde Lama dan Orde Baru. Umpamanya soal kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan yang masih membalut kehidupan masyarakat. Busung lapar yang diberitakan media massa beberapa waktu lalu di Lombok adalah muara dari persoalan di atas. Kondisi itu diperparah dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Itu merupakan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, kata mantan Pemimpin Redaksi Harian Gelora Mataram (1962-1972) itu.
Prinsip kemajemukan
Ia punya andil dalam â€Perang Topat†yang kini dijadikan obyek wisata di Lombok. Kami menyediakan biaya untuk keperluan prosesi acara itu, ujar Jack yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pendapatan Lombok Barat.
Setelah itu, Jack ditunjuk sebagai Ketua Badan Pengembangan Pariwisata Lombok Barat. Wisatawan asing ke sini ingin menyaksikan apa yang tidak pernah dilihat di negara asalnya, katanya tentang strategi dan kiat mengembangkan pariwisata.
Ia menceritakan pengalamannya. Tahun 1989, ada rombongan wisatawan Belanda yang umumnya berusia sepuh datang ke Lombok. Dari negaranya, mereka ingin membuktikan sekaligus menyaksikan pohon kenari (Canarium commune) yang ditanam nenek moyang mereka saat berkuasa di Lombok (1897) di sepanjang jalan protokol dari Ampenan, Mataram hingga Cakranegara seperti Jalan Pejanggik dan Jalan Selaparang. Yang terjadi kemudian mereka tidak puas-puasnya memeluk pohon kenari itu, ceritanya.
Mataram dalam perkembangannya dihuni berbagai etnis, yang memberi corak tersendiri bagi rona kebudayaan dan kehidupan sosial kota itu. Prinsip kemajemukan, multikuralisme solidaritas sosial, saya kira harus menjadi pegangan kita, kalau kita ingin maju, ucap ayah tujuh putra-putri itu.
Pria kelahiran 12 Februari 1943 itu memberi contoh prinsip dimaksud dan dilakukan sampai saat ini di kampung kelahirannya, Lingkungan Peresak Timur, Kelurahan Pagutan, Kota Mataram, yang dihuni etnis Sasak dan Bali. Tradisi itu adalah saling jot, artinya saling memberi dan mengantarkan makanan saat etnis Sasak melaksanakan hari besar keagamaan (Idul Fitri). Etnis Sasak membalasnya dengan mengantarkan bahan makanan saat etnis Bali merayakan Galungan.
Sumber : Kompas, Selasa, 1 November 2005
Oleh : Khaerul Anwar
Mengungkap sejarah Lombok di Nusa Tenggara Barat ibarat memasuki lorong gelap dikarenakan terbatasnya referensi. Namun, Fathurrahman Zakaria (71 ) alias Pak Jack berupaya menerobos lorong gelap itu dan menuangkannya dalam dua buku karyanya.
Kita harus mulai menulis suasana abad ke-18, zaman revolusi di Lombok maupun Nusa Tenggara Barat, ujarnya. Kalau tidak, generasi muda akan kehilangan jejak.
Penulisan buku itu diawali dengan kegelisahan Jack yang mendapat banyak pertanyaan dari kalangan muda seputar sejarah lokal daerah, seperti bagaimana perjuangan rakyat Lombok melawan Belanda, asal nama Kota Mataram yang menjadi ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini, dan lain-lain.
Dengan membongkar catatannya, ditambah pengalaman, pantauan, dan bertanya pada rekan- rekannya, Jack mencoba menjahit apa yang diketahuinya, yang lalu dituangkan lewat dua karyanya. Satu buku diberi judul Mozaik Budaya Orang Mataram, dan Gerakan 30 September 1965, Rakyat NTB Melawan Bahaya Merah. Kini dia masih mengumpulkan bahan untuk menulis tentang tradisi masyarakat etnis Sasak menunaikan ibadah haji.
Buku pertama mencoba memaparkan perjalanan Kota Mataram dari zaman Kerajaan Mataram di bawah Raja Karangasem Bali, yang menduduki Lombok tahun 1740, Pemerintah Kolonial Belanda, masa Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi dewasa ini. Buku kedua umumnya berisi seputar situasi perpolitikan nasional semasa Presiden Soekarno yang berpengaruh terhadap perpolitikan di daerah.
Isi buku-buku itu, meski menimbulkan banyak pertanyaan, namun dari aspek informasi agaknya dapat memberi gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya guna menelusuri lebih dalam mengenai sejarah.
Misalnya saja, soal nama Mataram, diduga berasal dari kata mata-aram (bahasa Sanskerta), yang berarti hiburan atau persembahan untuk ibu pertiwi. Seperti diketahui, kata Jack, nama Mataram mengingatkan pada kerajaan Mataram I (732-929) dan Mataram II (1586-1755) di Jawa.
Sekalipun raja yang berkuasa di Lombok tidak mempunyai kekeluargaan langsung atau kerja sama dengan kerajaan Mataram Jawa, namun Mas Poleng, seorang teknokrat yang dipercayai Raja Mataram Lombok saat itu, memahami bahwa yang dibangun adalah kerajaan aristokrat Bali (Hindu-Bali). Taman Mayura dan Pura Miru mungkin wujud falsafah Hindu-Bali tadi. Nama Mataram, oleh etnis Bali diucapkan Metaram, dan etnis Sasak menyebutnya dengan Mentaram.
Saat ini Mataram berkembang begitu pesat, namun berbagai persoalan terdahulu tetap menjadi penting diketahui, terutama di masa Orde Lama dan Orde Baru. Umpamanya soal kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan yang masih membalut kehidupan masyarakat. Busung lapar yang diberitakan media massa beberapa waktu lalu di Lombok adalah muara dari persoalan di atas. Kondisi itu diperparah dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Itu merupakan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, kata mantan Pemimpin Redaksi Harian Gelora Mataram (1962-1972) itu.
Prinsip kemajemukan
Ia punya andil dalam â€Perang Topat†yang kini dijadikan obyek wisata di Lombok. Kami menyediakan biaya untuk keperluan prosesi acara itu, ujar Jack yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pendapatan Lombok Barat.
Setelah itu, Jack ditunjuk sebagai Ketua Badan Pengembangan Pariwisata Lombok Barat. Wisatawan asing ke sini ingin menyaksikan apa yang tidak pernah dilihat di negara asalnya, katanya tentang strategi dan kiat mengembangkan pariwisata.
Ia menceritakan pengalamannya. Tahun 1989, ada rombongan wisatawan Belanda yang umumnya berusia sepuh datang ke Lombok. Dari negaranya, mereka ingin membuktikan sekaligus menyaksikan pohon kenari (Canarium commune) yang ditanam nenek moyang mereka saat berkuasa di Lombok (1897) di sepanjang jalan protokol dari Ampenan, Mataram hingga Cakranegara seperti Jalan Pejanggik dan Jalan Selaparang. Yang terjadi kemudian mereka tidak puas-puasnya memeluk pohon kenari itu, ceritanya.
Mataram dalam perkembangannya dihuni berbagai etnis, yang memberi corak tersendiri bagi rona kebudayaan dan kehidupan sosial kota itu. Prinsip kemajemukan, multikuralisme solidaritas sosial, saya kira harus menjadi pegangan kita, kalau kita ingin maju, ucap ayah tujuh putra-putri itu.
Pria kelahiran 12 Februari 1943 itu memberi contoh prinsip dimaksud dan dilakukan sampai saat ini di kampung kelahirannya, Lingkungan Peresak Timur, Kelurahan Pagutan, Kota Mataram, yang dihuni etnis Sasak dan Bali. Tradisi itu adalah saling jot, artinya saling memberi dan mengantarkan makanan saat etnis Sasak melaksanakan hari besar keagamaan (Idul Fitri). Etnis Sasak membalasnya dengan mengantarkan bahan makanan saat etnis Bali merayakan Galungan.
Sumber : Kompas, Selasa, 1 November 2005
Franciscus Xaverius Seda : Ketika Pak Seda mudik...
Ketika Pak Seda Mudik...
Oleh : St Sularto
Ulang tahun ke-79 memang tidak seistimewa ulang tahun ke-50, apalagi ke-80. Namun, bagi Drs Franciscus Xaverius Seda, setiap ulang tahun harus diistimewakan.
Maka pada ulang tahun ke-79, tepatnya 4 Oktober 2005, dia ajak sejumlah rekannya di Jakarta, di antaranya Pak Jakob Oetama, merayakannya di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mantan menteri sejumlah departemen, komisaris beberapa perusahaan, kolumnis—Pak Frans Seda—mudik.
Berbeda dengan perayaan ulang tahun selama ini, pesta mudik kali ini tidak menyertakan istri dan anak-anak. Pak Seda dan rombongan napak tilas ke Desa Lekebahi—sekitar 20 kilometer barat Maumere—tempat kelahiran dan kuburan leluhurnya. Bertemu dengan adik-adiknya di antaranya membahas soal pelimpahan tanah warisan untuk gereja setempat. Merayakan ulang tahun dengan misa syukur di Maumere, disusul peresmian Taman Bacaan Frans Cornelissen.
Di samping itu, dia juga meminta Pak Jakob Oetama menyampaikan ceramah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere. Mengunjungi Larantuka, kota Rosario yang memiliki tradisi prosesi Jumat Suci, arak-arakan patung Maria keliling kota, tradisi yang terus dilestarikan dan menjadi daya tarik turisme sejak abad ke-16. Mengunjungi Biara Trapis di bukit terpencil sebalik Larantuka.
Jadilah, Pak Frans Seda mudik, tanggal 26-30 Oktober 2005. ”Ibu (Yohanna Pattinaya) kok tidak ikut, Pak?”
”Sedang sakit,” katanya.
”Anak-anak (Ery dan Nessa) tak ngawal?”
”Mereka tak bisa meninggalkan kesibukan.”
Itulah jawaban-jawaban singkat Pak Seda setiap ditanya soal mudiknya tanpa keluarga.
Cerita tentang kebesaran dan keelokan bumi Flores dan manusia Flores mengalir selama perjalanan. Pagi itu, dalam cuaca cerah dengan perbukitan hijau pada musim hujan, sepanjang perjalanan, panorama indah Pulau Flores tidak dia lewatkan.
Dalam perjalanan darat sesekali dia minta pengemudi menghentikan mobil. Dia borong buah-buahan yang dijajakan di pinggir jalan antara Maumere dan Larantuka. ”Beli semua. Mereka tak punya apa-apa di sini. Nanti untuk para pater di biara,” katanya.
Pada lain kesempatan, dia minta mobil dihentikan lagi, hanya untuk menyapa orang-orang yang tengah duduk-duduk di pinggir jalan.
Kepada serombongan anak sekolah berseragam pramuka, dia sapa, ”Eh, kamu kelas berapa? Anggota pramuka harus bisa nyanyi. Nyanyikan lagu pramuka!”
Anak-anak kebingungan. Ketika didesak seorang rekan, ”nama bapak ini pasti kalian kenal”, baru mereka sadar berhadapan dengan ”orang besar”. Kemudian terdengar alunan lagu ”Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang.…”
Pak Seda pun ikut menyanyi dengan penuh semangat. ”Bagus-bagus, ini kalian bagi-bagi bertiga,” katanya sambil menyodorkan uang lima ribuan. Anak-anak itu bengong, berusaha mengingat-ingat siapakah ”bapak berprofil Flores yang baik hati itu”.
Makna pluralisme
Hari terakhir mudik, Sabtu (29/10/2005), menampakkan sepenggal sisi sosok Frans Seda. Dia rela dan senang digelari ”sesepuh”, sebutan yang berasal dari kosakata bahasa Jawa. Masuk akal sebab Pulau Jawa telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Setelah tamat sekolah rakyat di Ndao (Ende, Flores) tahun 1940, ia pergi ke Yogyakarta, berjuang keras, misalnya, pernah jadi tukang rumput dan penjual daging sambil bersekolah di SMP Bopkri. Sekolah guru di Muntilan akhirnya menjadi tempat kota berlabuh kedua di Jawa.
Di bawah asuhan Pater Van Lith—pastor Jesuit—Frans Seda semakin mengenal Indonesia bukanlah hanya Flores. Di asrama calon-calon guru yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu Frans Seda berkenalan dan mengakrabi makna pluralisme.
Gelar sarjana ekonomi diperoleh dari Katholike Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, tahun 1956. Berlatar belakang pendidikan ekonomi, Frans Seda dikenal sebagai ekonom, yang produktif menulis artikel-artikel ekonomi, sampai sekarang. Ditambah minat dan keterlibatannya dalam politik praktis, terutama pernah menjadi Ketua Umum Partai Katolik (1961-1968), pemikiran-pemikirannya tentang masalah ekonomi selalu didekati secara politik, tidak ekonomis teknis.
Pengalamannya di bidang pemerintahan, di antaranya pernah menjadi menteri di empat departemen dalam rentang waktu yang berbeda-beda—terakhir sebagai penasihat presiden pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri—membuat Frans Seda jadi sumber bertanya berbagai pihak.
Mudik, menuju udik ke Flores, selama lima hari mengingatkan apa yang berkali-kali disampaikan Pak Frans Seda, ”Bung Karno menggelorakan semangat Merdeka atau Mati, kalau saya ingin agar Flores Merdeka dan tidak mati.”
”Saya masih ingin pergi lagi, mengajak teman-teman tahun depan,” katanya menambahkan.
Sumber : Kompas, Rabu, 9 November 2005
Oleh : St Sularto
Ulang tahun ke-79 memang tidak seistimewa ulang tahun ke-50, apalagi ke-80. Namun, bagi Drs Franciscus Xaverius Seda, setiap ulang tahun harus diistimewakan.
Maka pada ulang tahun ke-79, tepatnya 4 Oktober 2005, dia ajak sejumlah rekannya di Jakarta, di antaranya Pak Jakob Oetama, merayakannya di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mantan menteri sejumlah departemen, komisaris beberapa perusahaan, kolumnis—Pak Frans Seda—mudik.
Berbeda dengan perayaan ulang tahun selama ini, pesta mudik kali ini tidak menyertakan istri dan anak-anak. Pak Seda dan rombongan napak tilas ke Desa Lekebahi—sekitar 20 kilometer barat Maumere—tempat kelahiran dan kuburan leluhurnya. Bertemu dengan adik-adiknya di antaranya membahas soal pelimpahan tanah warisan untuk gereja setempat. Merayakan ulang tahun dengan misa syukur di Maumere, disusul peresmian Taman Bacaan Frans Cornelissen.
Di samping itu, dia juga meminta Pak Jakob Oetama menyampaikan ceramah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere. Mengunjungi Larantuka, kota Rosario yang memiliki tradisi prosesi Jumat Suci, arak-arakan patung Maria keliling kota, tradisi yang terus dilestarikan dan menjadi daya tarik turisme sejak abad ke-16. Mengunjungi Biara Trapis di bukit terpencil sebalik Larantuka.
Jadilah, Pak Frans Seda mudik, tanggal 26-30 Oktober 2005. ”Ibu (Yohanna Pattinaya) kok tidak ikut, Pak?”
”Sedang sakit,” katanya.
”Anak-anak (Ery dan Nessa) tak ngawal?”
”Mereka tak bisa meninggalkan kesibukan.”
Itulah jawaban-jawaban singkat Pak Seda setiap ditanya soal mudiknya tanpa keluarga.
Cerita tentang kebesaran dan keelokan bumi Flores dan manusia Flores mengalir selama perjalanan. Pagi itu, dalam cuaca cerah dengan perbukitan hijau pada musim hujan, sepanjang perjalanan, panorama indah Pulau Flores tidak dia lewatkan.
Dalam perjalanan darat sesekali dia minta pengemudi menghentikan mobil. Dia borong buah-buahan yang dijajakan di pinggir jalan antara Maumere dan Larantuka. ”Beli semua. Mereka tak punya apa-apa di sini. Nanti untuk para pater di biara,” katanya.
Pada lain kesempatan, dia minta mobil dihentikan lagi, hanya untuk menyapa orang-orang yang tengah duduk-duduk di pinggir jalan.
Kepada serombongan anak sekolah berseragam pramuka, dia sapa, ”Eh, kamu kelas berapa? Anggota pramuka harus bisa nyanyi. Nyanyikan lagu pramuka!”
Anak-anak kebingungan. Ketika didesak seorang rekan, ”nama bapak ini pasti kalian kenal”, baru mereka sadar berhadapan dengan ”orang besar”. Kemudian terdengar alunan lagu ”Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang.…”
Pak Seda pun ikut menyanyi dengan penuh semangat. ”Bagus-bagus, ini kalian bagi-bagi bertiga,” katanya sambil menyodorkan uang lima ribuan. Anak-anak itu bengong, berusaha mengingat-ingat siapakah ”bapak berprofil Flores yang baik hati itu”.
Makna pluralisme
Hari terakhir mudik, Sabtu (29/10/2005), menampakkan sepenggal sisi sosok Frans Seda. Dia rela dan senang digelari ”sesepuh”, sebutan yang berasal dari kosakata bahasa Jawa. Masuk akal sebab Pulau Jawa telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Setelah tamat sekolah rakyat di Ndao (Ende, Flores) tahun 1940, ia pergi ke Yogyakarta, berjuang keras, misalnya, pernah jadi tukang rumput dan penjual daging sambil bersekolah di SMP Bopkri. Sekolah guru di Muntilan akhirnya menjadi tempat kota berlabuh kedua di Jawa.
Di bawah asuhan Pater Van Lith—pastor Jesuit—Frans Seda semakin mengenal Indonesia bukanlah hanya Flores. Di asrama calon-calon guru yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu Frans Seda berkenalan dan mengakrabi makna pluralisme.
Gelar sarjana ekonomi diperoleh dari Katholike Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, tahun 1956. Berlatar belakang pendidikan ekonomi, Frans Seda dikenal sebagai ekonom, yang produktif menulis artikel-artikel ekonomi, sampai sekarang. Ditambah minat dan keterlibatannya dalam politik praktis, terutama pernah menjadi Ketua Umum Partai Katolik (1961-1968), pemikiran-pemikirannya tentang masalah ekonomi selalu didekati secara politik, tidak ekonomis teknis.
Pengalamannya di bidang pemerintahan, di antaranya pernah menjadi menteri di empat departemen dalam rentang waktu yang berbeda-beda—terakhir sebagai penasihat presiden pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri—membuat Frans Seda jadi sumber bertanya berbagai pihak.
Mudik, menuju udik ke Flores, selama lima hari mengingatkan apa yang berkali-kali disampaikan Pak Frans Seda, ”Bung Karno menggelorakan semangat Merdeka atau Mati, kalau saya ingin agar Flores Merdeka dan tidak mati.”
”Saya masih ingin pergi lagi, mengajak teman-teman tahun depan,” katanya menambahkan.
Sumber : Kompas, Rabu, 9 November 2005
Frank Bruno, Berusaha Keluar dari Gangguan Kejiwaan
Jun 19, 2009
Frank Bruno, Berusaha Keluar dari Gangguan Kejiwaan
Oleh : L Sastra Wijaya
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan dunia tinju kelas berat, mungkin samar-samar masih mengenal nama Frank Bruno. Tidak, dia tidak akan kembali naik ring lagi di usianya yang ke-43 tahun.
Tidak seperti Evander Holy- field yang masih meramaikan dunia tinju di usianya yang ke-42, Bruno baru saja menerbitkan buku riwayat hidupnya, cerita yang mengharukan mengenai kehidupannya sebagai orang yang pernah didiagnosa menderita sakit jiwa.
Bruno masih menjalani pengobatan, namun dia sudah keluar dari rumah sakit, menjalani kehidupan di rumah, minum obat-obatan yang diharapkannya akan membuatnya bisa mengatasi gangguan mental tersebut.
Tidak mengherankan bila buku Bruno berjudul Frank— sebagai nama depan dan juga artinya terbuka—bercerita jujur mengenai perjuangannya ketika dia mengundurkan diri dari dunia tinju dan kemudian mengalami kepribadian ganda (bipolar disorder)—dulu dikenal dengan istilah manic depression.
Buku ini diterbitkan dua tahun setelah Bruno dibawa ke rumah sakit jiwa Goodmayes dan dia secara resmi dinyatakan sebagai penderita sakit jiwa. Buku ini adalah bacaan yang bermanfaat bagi pencinta buku di Inggris di saat liburan Natal dan Tahun Baru.
Buku ini berisi pengharapan bagi mereka yang menderita sakit jiwa dan keluarganya bahwa menderita gangguan kejiwaan tidaklah berarti harus selalu tinggal di rumah sakit, terkurung dari dunia bebas.
Dunia tinju kelas berat banyak diisi dengan petinju-petinju yang sudah terbiasa dengan kehidupan keras. Contoh paling nyata adalah Mike Tyson yang banyak berurusan dengan pihak berwenang.
Namun, Frank Bruno adalah salah satu olahragawan terpopuler di Inggris. Tidak seperti bintang olahraga lain, kadang mendapatkan cemoohan. Simpati terhadap Bruno tampak tulus.
Selain mengharumkan nama Inggris di dunia tinju, Bruno juga terkenal rendah hati. Dia sering tampil melakukan pantomim dan dikenal memiliki selera humor yang tinggi. Dia tidak malu-malu meledek dirinya sendiri guna menghibur.
Maka, tidak mengherankan ketika tabloid Inggris The Sun menulis Bonkers Bruno Locked Up (Si Edan Bruno ditahan di rumah sakit), banyak pembaca yang marah karena judul berita The Sun tersebut terlalu kasar.
Tabloid ini kemudian melakukan hal yang jarang dilakukannya, meminta maaf, menunjukkan betapa banyaknya simpati yang dicurahkan untuk Bruno.
Apa yang dialami Bruno ini, menurut penuturannya sendiri, adalah hal yang tragis. ”Bagaimana orang seperti saya yang memiliki rumah besar di daerah yang mewah, juara dunia tinju kelas berat, dan memiliki gelar kehormatan Member of The British Empire (MBE) dari Ratu, mengalami hal seperti ini,” kata Bruno dalam buku yang ditulis bersama dengan wartawan The Observer Kevin Mitchell.
Di luar kebiasaan
Dari mana semua gangguan kejiwaan itu berasal? Bila merunut kembali ke belakang, Bruno dengan jelas menyebut tanggal 16 Maret 1996, ketika dia mengundurkan diri dari dunia tinju setelah kalah RSC (referee stop the contest) di ronde ketiga dari Mike Tyson dalam pertandingan di Las Vegas.
Di usia 35 tahun dengan kondisi mata yang terus memburuk, yang sudah dideritanya sejak muda, Bruno memutuskan mengundurkan diri.
Dari situlah masalahnya muncul, hal yang juga banyak dialami oleh para olahragawan lain di Inggris maupun di bagian lain dunia, apa yang harus dilakukan setelah karier mereka berakhir.
Kegiatan rutin yang sudah mereka lakukan sebelumnya selama bertahun-tahun, seperti skipping, lari, dan sparring, bagi Bruno, sekarang sudah tidak harus dilakukan.
”Saya punya rumah bagus. Uang di bank ada jutaan, istri dengan tiga anak. Namun, saya ini pengangguran. Saya merasa sangat kehilangan karena tidak bisa bertinju lagi,” kata Bruno.
Sejak itu gangguan kejiwaannya, menurut dokter yang kemudian merawatnya, mulai muncul. Walaupun Bruno tidak menyadarinya waktu itu.
Banyak tingkah Bruno yang di luar kebiasaan. Misalnya, dia pernah membeli 1.000 pohon cemara untuk ditanam di sekitar rumahnya.
Kadang dalam keadaan depresi, Bruno merasa ada orang yang mau menyerangnya. Di saat itu pula keadaan rumah tangganya semakin memburuk, dan akhirnya di tahun 2001, Bruno bercerai dari istrinya, Laura, yang sudah dinikahinya selama 20 tahun.
Masih belum begitu sadar dengan keadaan kejiwaannya, Bruno berusaha menyibukkan diri dengan melakukan berbagai kegiatan, antara lain menjadi DJ musik di beberapa kelab malam di beberapa kota. Namun, pertemuan dengan ”orang-orang malam” membuat Bruno terperangkap menggunakan obat terlarang, seperti heroin.
Semuanya itu berakhir 22 September 2003, ketika beberapa perawat dan petugas ambulans menjemput Bruno di rumahnya. Bruno dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan.
*L Sastra Wijaya, Kontributor Kompas dan Penyiar Radio BBC di London
Sumber : Kompas, Jumat, 6 Januari 2006
Oleh : L Sastra Wijaya
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan dunia tinju kelas berat, mungkin samar-samar masih mengenal nama Frank Bruno. Tidak, dia tidak akan kembali naik ring lagi di usianya yang ke-43 tahun.
Tidak seperti Evander Holy- field yang masih meramaikan dunia tinju di usianya yang ke-42, Bruno baru saja menerbitkan buku riwayat hidupnya, cerita yang mengharukan mengenai kehidupannya sebagai orang yang pernah didiagnosa menderita sakit jiwa.
Bruno masih menjalani pengobatan, namun dia sudah keluar dari rumah sakit, menjalani kehidupan di rumah, minum obat-obatan yang diharapkannya akan membuatnya bisa mengatasi gangguan mental tersebut.
Tidak mengherankan bila buku Bruno berjudul Frank— sebagai nama depan dan juga artinya terbuka—bercerita jujur mengenai perjuangannya ketika dia mengundurkan diri dari dunia tinju dan kemudian mengalami kepribadian ganda (bipolar disorder)—dulu dikenal dengan istilah manic depression.
Buku ini diterbitkan dua tahun setelah Bruno dibawa ke rumah sakit jiwa Goodmayes dan dia secara resmi dinyatakan sebagai penderita sakit jiwa. Buku ini adalah bacaan yang bermanfaat bagi pencinta buku di Inggris di saat liburan Natal dan Tahun Baru.
Buku ini berisi pengharapan bagi mereka yang menderita sakit jiwa dan keluarganya bahwa menderita gangguan kejiwaan tidaklah berarti harus selalu tinggal di rumah sakit, terkurung dari dunia bebas.
Dunia tinju kelas berat banyak diisi dengan petinju-petinju yang sudah terbiasa dengan kehidupan keras. Contoh paling nyata adalah Mike Tyson yang banyak berurusan dengan pihak berwenang.
Namun, Frank Bruno adalah salah satu olahragawan terpopuler di Inggris. Tidak seperti bintang olahraga lain, kadang mendapatkan cemoohan. Simpati terhadap Bruno tampak tulus.
Selain mengharumkan nama Inggris di dunia tinju, Bruno juga terkenal rendah hati. Dia sering tampil melakukan pantomim dan dikenal memiliki selera humor yang tinggi. Dia tidak malu-malu meledek dirinya sendiri guna menghibur.
Maka, tidak mengherankan ketika tabloid Inggris The Sun menulis Bonkers Bruno Locked Up (Si Edan Bruno ditahan di rumah sakit), banyak pembaca yang marah karena judul berita The Sun tersebut terlalu kasar.
Tabloid ini kemudian melakukan hal yang jarang dilakukannya, meminta maaf, menunjukkan betapa banyaknya simpati yang dicurahkan untuk Bruno.
Apa yang dialami Bruno ini, menurut penuturannya sendiri, adalah hal yang tragis. ”Bagaimana orang seperti saya yang memiliki rumah besar di daerah yang mewah, juara dunia tinju kelas berat, dan memiliki gelar kehormatan Member of The British Empire (MBE) dari Ratu, mengalami hal seperti ini,” kata Bruno dalam buku yang ditulis bersama dengan wartawan The Observer Kevin Mitchell.
Di luar kebiasaan
Dari mana semua gangguan kejiwaan itu berasal? Bila merunut kembali ke belakang, Bruno dengan jelas menyebut tanggal 16 Maret 1996, ketika dia mengundurkan diri dari dunia tinju setelah kalah RSC (referee stop the contest) di ronde ketiga dari Mike Tyson dalam pertandingan di Las Vegas.
Di usia 35 tahun dengan kondisi mata yang terus memburuk, yang sudah dideritanya sejak muda, Bruno memutuskan mengundurkan diri.
Dari situlah masalahnya muncul, hal yang juga banyak dialami oleh para olahragawan lain di Inggris maupun di bagian lain dunia, apa yang harus dilakukan setelah karier mereka berakhir.
Kegiatan rutin yang sudah mereka lakukan sebelumnya selama bertahun-tahun, seperti skipping, lari, dan sparring, bagi Bruno, sekarang sudah tidak harus dilakukan.
”Saya punya rumah bagus. Uang di bank ada jutaan, istri dengan tiga anak. Namun, saya ini pengangguran. Saya merasa sangat kehilangan karena tidak bisa bertinju lagi,” kata Bruno.
Sejak itu gangguan kejiwaannya, menurut dokter yang kemudian merawatnya, mulai muncul. Walaupun Bruno tidak menyadarinya waktu itu.
Banyak tingkah Bruno yang di luar kebiasaan. Misalnya, dia pernah membeli 1.000 pohon cemara untuk ditanam di sekitar rumahnya.
Kadang dalam keadaan depresi, Bruno merasa ada orang yang mau menyerangnya. Di saat itu pula keadaan rumah tangganya semakin memburuk, dan akhirnya di tahun 2001, Bruno bercerai dari istrinya, Laura, yang sudah dinikahinya selama 20 tahun.
Masih belum begitu sadar dengan keadaan kejiwaannya, Bruno berusaha menyibukkan diri dengan melakukan berbagai kegiatan, antara lain menjadi DJ musik di beberapa kelab malam di beberapa kota. Namun, pertemuan dengan ”orang-orang malam” membuat Bruno terperangkap menggunakan obat terlarang, seperti heroin.
Semuanya itu berakhir 22 September 2003, ketika beberapa perawat dan petugas ambulans menjemput Bruno di rumahnya. Bruno dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan.
*L Sastra Wijaya, Kontributor Kompas dan Penyiar Radio BBC di London
Sumber : Kompas, Jumat, 6 Januari 2006
Fransiskus Xaverius Tan Soe Ie SJ : Romo Tan dan Mesin "Kascing" -nya
Romo Tan dan Mesin "Kascing"-nya
Oleh : ST Sularto
Cacing di mata Fransiskus Xaverius Tan Soe Ie SJ (77) adalah lambang kesuburan. Binatang melata berlendir, liat, tanpa telinga dan mata, dan tak bertulang itu dia ubah jadi ”mesin” pembuat pupuk organik.
Kascing” atau bekas cacing tidak lebih dari kotoran cacing. ”Kotoran cacing tidak bau,” katanya, sambil menyorongkan segenggam pupuk kotoran cacing.
Di tempat tinggalnya, Desa Ponggol, Hargobinangun, Pakem 21 kilometer utara Kota Yogyakarta biarawan Jesuit itu sehari-hari bergelut dengan cacing. Dibantu tujuh pegawai, dalam satu minggu dia produksi 15-20 ton pupuk kascing.
Dikemas dalam karung besar berisi 20 kilogram dengan harga Rp 13.000 per karung atau kemasan kecil berisi tiga kilogram, pupuk kascing Romo Tan mulai dikenal luas. ”Saya belum umumkan ke luar,” katanya. ”Cuma sering geram ketika di arena pameran pertanian bertani jadi gaya baru hidup orang kota Yogya pupuk saya dibeli Rp 12.000 per 20 kilo dan dijual Rp 20.000.”
Menurut Romo Tan kepada Kompas demikian ia biasa disapa usaha kascing dimulai secara kebetulan. Awalnya kascing jadi pintu masuk mewujudkan obsesi meningkatkan kesejahteraan petani kecil. ”Perhatian pemerintah ke petani kecil hampir tidak ada. Produk yang mereka hasilkan dibabat oleh produk luar yang didatangkan pemerintah.”
Dirunut lewat perjalanan hidupnya, obsesi pada orang kecil menyatu sebagai jati diri Romo Tan. Jati diri itu pelan-pelan terbentuk sejak memimpin lembaga pendidikan calon-calon pastor di Magelang, berkarya di Paroki Baciro, Yogyakarta, kemudian di Tangerang, hingga saat berkarya di Dare, Timor Timur tahun 1985-2002.
Di Dare, 60 km tenggara Kota Dili, lebih dari 20 tahun Romo Tan merintis kaderisasi petani lewat Pusat Latihan Wiraswasta Pertanian. Romo Tan pernah ingin meninggal dan dikuburkan di sana.
Ketika diingatkan nazar itu, matanya berkaca-kaca, menerawang jauh. Katanya, ”Tidak mungkin saya tinggal di sebuah negara yang kemudian memusuhi negara saya. Setelah Timtim lepas, saya ingin pulang saja ke Indonesia, ke Jawa, tahun 2002.”
Sejak tinggal di kawasan sejuk Kaliurang, tahun 2003, Romo Tan terus mencari cara merealisasikan obsesinya. Secara kebetulan pada tahun 2004 seorang bekas muridnya menawarkan usaha pupuk kascing. Bekas murid yang tinggal di Semarang itu mau menghentikan usahanya setelah kehilangan kontak dengan mitra kerja di Jepang. ”Dia tidak bisa lagi ekspor pupuk kascing ke sana,” kata Romo Tan. ”Saya diminta ambil oper, dan saya mau, barangkali bisa jadi cara mewujudkan obsesi saya,” kata Romo Tan. Sebagai tanda terima kasih, merek perusahaan Pangkal Sejahtera diambil dari nama aslinya, Pangkalrejo.
Masyarakat Indonesia Baru
Sebagai pastor (gembala) umat, pupuk kascing hanyalah langkah konkret dan sarana merealisasi gagasan besarnya. Gagasan besar itu, selain pencerahan untuk petani kecil, terutama bagaimana mengajak kelompok masyarakat Tionghoa mau turun ke desa.
Romo Tan bercita-cita, nyaris jadi obsesi seperti kecintaannya pada petani kecil, bangsa Indonesia maju kalau kelompok Tionghoa menyatu dengan masyarakat pedesaan Indonesia.
”Setelah negara dan masyarakat warga, mereka harus diberi panggung,” kata Romo Tan menerawang, bertemu dengan arus besar pemikiran membangun bangsa Indonesia.
Katanya lagi, ”Kalau umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta yang sebagian di antaranya orang-orang Tionghoa kaya live in di desa, mereka akan terbuka mata.”
”Jangan tuntut rakyat desa dan petani itu kreatif. Mereka harus diberi contoh. Contoh lebih mudah diterima, sementara umumnya orang desa sulit menerima contoh, sebaliknya juga sulit melepaskan apa yang sudah jadi kebiasaan turun-temurun.”
Menurut Romo Tan, kalau orang-orang Tionghoa bersatu dan merasa satu napas dengan persoalan pedesaan, pandangan dan penilaian mereka tentu lain. Di satu pihak bagi masyarakat desa tidak ada perasaan curiga, di lain pihak orang-orang Tionghoa merasa diterima sebagai bagian utuh rakyat dan bangsa Indonesia.
Romo Tan yang lahir di Gowongan, Yogyakarta, 16 Desember 1928, ditahbiskan pastor tahun 1963, hampir menghabiskan separuh hidupnya tinggal di desa dan pertanian.
Diselingi tugas sebagai pendidik dan pastor paroki, sebagian besar karya kegembalaannya ada di lingkungan pertanian. Habitat pertanian dengan bau sawah, lumpur, dan comberan adalah bagian dari kesehariannya. Di ruang kerjanya, suara kicau burung dan tumpukan pupuk kascing nyaris menghilangkan sosok Romo Tan sebagai seorang pastor, kecuali di atas mejanya tergeletak lusuh buku doa brevir—doa wajib biarawan yang dia daraskan setiap pagi.
Tan Soe Ie SJ yang punya obsesi petani mandiri dan menyatunya kelompok Tionghoa dengan bangsa Indonesia adalah juga pendidik yang di mata bekas murid-muridnya berhasil menanamkan cita-cita manusia berkarakter.
Pupuk kascing dalam konteks tersebut sebenarnya hanya pintu masuk sebuah gagasan besar tentang Masyarakat Indonesia Baru.
Sumber : Kompas, Rabu, 22 Februari 2006
Oleh : ST Sularto
Cacing di mata Fransiskus Xaverius Tan Soe Ie SJ (77) adalah lambang kesuburan. Binatang melata berlendir, liat, tanpa telinga dan mata, dan tak bertulang itu dia ubah jadi ”mesin” pembuat pupuk organik.
Kascing” atau bekas cacing tidak lebih dari kotoran cacing. ”Kotoran cacing tidak bau,” katanya, sambil menyorongkan segenggam pupuk kotoran cacing.
Di tempat tinggalnya, Desa Ponggol, Hargobinangun, Pakem 21 kilometer utara Kota Yogyakarta biarawan Jesuit itu sehari-hari bergelut dengan cacing. Dibantu tujuh pegawai, dalam satu minggu dia produksi 15-20 ton pupuk kascing.
Dikemas dalam karung besar berisi 20 kilogram dengan harga Rp 13.000 per karung atau kemasan kecil berisi tiga kilogram, pupuk kascing Romo Tan mulai dikenal luas. ”Saya belum umumkan ke luar,” katanya. ”Cuma sering geram ketika di arena pameran pertanian bertani jadi gaya baru hidup orang kota Yogya pupuk saya dibeli Rp 12.000 per 20 kilo dan dijual Rp 20.000.”
Menurut Romo Tan kepada Kompas demikian ia biasa disapa usaha kascing dimulai secara kebetulan. Awalnya kascing jadi pintu masuk mewujudkan obsesi meningkatkan kesejahteraan petani kecil. ”Perhatian pemerintah ke petani kecil hampir tidak ada. Produk yang mereka hasilkan dibabat oleh produk luar yang didatangkan pemerintah.”
Dirunut lewat perjalanan hidupnya, obsesi pada orang kecil menyatu sebagai jati diri Romo Tan. Jati diri itu pelan-pelan terbentuk sejak memimpin lembaga pendidikan calon-calon pastor di Magelang, berkarya di Paroki Baciro, Yogyakarta, kemudian di Tangerang, hingga saat berkarya di Dare, Timor Timur tahun 1985-2002.
Di Dare, 60 km tenggara Kota Dili, lebih dari 20 tahun Romo Tan merintis kaderisasi petani lewat Pusat Latihan Wiraswasta Pertanian. Romo Tan pernah ingin meninggal dan dikuburkan di sana.
Ketika diingatkan nazar itu, matanya berkaca-kaca, menerawang jauh. Katanya, ”Tidak mungkin saya tinggal di sebuah negara yang kemudian memusuhi negara saya. Setelah Timtim lepas, saya ingin pulang saja ke Indonesia, ke Jawa, tahun 2002.”
Sejak tinggal di kawasan sejuk Kaliurang, tahun 2003, Romo Tan terus mencari cara merealisasikan obsesinya. Secara kebetulan pada tahun 2004 seorang bekas muridnya menawarkan usaha pupuk kascing. Bekas murid yang tinggal di Semarang itu mau menghentikan usahanya setelah kehilangan kontak dengan mitra kerja di Jepang. ”Dia tidak bisa lagi ekspor pupuk kascing ke sana,” kata Romo Tan. ”Saya diminta ambil oper, dan saya mau, barangkali bisa jadi cara mewujudkan obsesi saya,” kata Romo Tan. Sebagai tanda terima kasih, merek perusahaan Pangkal Sejahtera diambil dari nama aslinya, Pangkalrejo.
Masyarakat Indonesia Baru
Sebagai pastor (gembala) umat, pupuk kascing hanyalah langkah konkret dan sarana merealisasi gagasan besarnya. Gagasan besar itu, selain pencerahan untuk petani kecil, terutama bagaimana mengajak kelompok masyarakat Tionghoa mau turun ke desa.
Romo Tan bercita-cita, nyaris jadi obsesi seperti kecintaannya pada petani kecil, bangsa Indonesia maju kalau kelompok Tionghoa menyatu dengan masyarakat pedesaan Indonesia.
”Setelah negara dan masyarakat warga, mereka harus diberi panggung,” kata Romo Tan menerawang, bertemu dengan arus besar pemikiran membangun bangsa Indonesia.
Katanya lagi, ”Kalau umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta yang sebagian di antaranya orang-orang Tionghoa kaya live in di desa, mereka akan terbuka mata.”
”Jangan tuntut rakyat desa dan petani itu kreatif. Mereka harus diberi contoh. Contoh lebih mudah diterima, sementara umumnya orang desa sulit menerima contoh, sebaliknya juga sulit melepaskan apa yang sudah jadi kebiasaan turun-temurun.”
Menurut Romo Tan, kalau orang-orang Tionghoa bersatu dan merasa satu napas dengan persoalan pedesaan, pandangan dan penilaian mereka tentu lain. Di satu pihak bagi masyarakat desa tidak ada perasaan curiga, di lain pihak orang-orang Tionghoa merasa diterima sebagai bagian utuh rakyat dan bangsa Indonesia.
Romo Tan yang lahir di Gowongan, Yogyakarta, 16 Desember 1928, ditahbiskan pastor tahun 1963, hampir menghabiskan separuh hidupnya tinggal di desa dan pertanian.
Diselingi tugas sebagai pendidik dan pastor paroki, sebagian besar karya kegembalaannya ada di lingkungan pertanian. Habitat pertanian dengan bau sawah, lumpur, dan comberan adalah bagian dari kesehariannya. Di ruang kerjanya, suara kicau burung dan tumpukan pupuk kascing nyaris menghilangkan sosok Romo Tan sebagai seorang pastor, kecuali di atas mejanya tergeletak lusuh buku doa brevir—doa wajib biarawan yang dia daraskan setiap pagi.
Tan Soe Ie SJ yang punya obsesi petani mandiri dan menyatunya kelompok Tionghoa dengan bangsa Indonesia adalah juga pendidik yang di mata bekas murid-muridnya berhasil menanamkan cita-cita manusia berkarakter.
Pupuk kascing dalam konteks tersebut sebenarnya hanya pintu masuk sebuah gagasan besar tentang Masyarakat Indonesia Baru.
Sumber : Kompas, Rabu, 22 Februari 2006
Frans Seda : Seda, "A mans for All Seasons"
Jun 12, 2009
Seda, "A Man for All Seasons"
Oleh : Julius Pour
"Panglima, jangan hanya karena muncul kerusuhan seusai Tibo dieksekusi, wilayah Maumere dan sekitarnya lantas akan kalian jadikan daerah darurat militer...."
Dari ujung telepon terdengar jawaban, dengan nada sangat serius, "Tidak ada, Pak. Sama sekali, dari kami tidak pernah muncul pikiran ke arah kebijakan seperti itu, ... percayalah."
Terdengar ucapan kesal sambil menukas, "Ah, kalian tentara, selalu berkilah macam itu. Tetapi, kenyataan di lapangan bisa berbeda dan sering lain dari instruksi resmi di Jakarta. Marsekal tahu, saya dulu sudah jadi letnan, jauh sebelum kalian lahir.…"
Begitu antara lain isi percakapan lewat telepon antara Frans Seda dan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto akhir pekan lalu.
Situasi kemudian memang menunjukkan kerusuhan massal di Maumere segera reda, dan berita bahwa wilayah tersebut akan dijadikan daerah darurat militer tidak pernah menjadi kenyataan. Apakah karena Panglima TNI memang tidak punya rencana ataukah karena Seda menolak daerah kelahirannya ditangani militer?
"Tidak relevan mengkaji ada tidaknya rencana tersebut. Yang pasti, diminta atau tidak, kalau memang ada sesuatu yang menurut saya sudah mulai enggak bener, pasti akan langsung saya sampaikan kepada mereka yang berwenang. Senang atau tidak mereka menerima saran tersebut, mau tidak mereka mengubah kebijakan, bukan urusan saya. Kewajiban saya mengingatkan dengan perasaan tulus dari lubuk hati saya, diminta atau tidak," katanya dengan datar, nyaris tanpa ekspresi.
Selain mengingatkan lewat telepon sebagaimana contoh di atas, Seda ternyata selalu rajin menulis surat, berisi saran dan ungkapan hati plus pendapatnya, tentang segala sesuatu persoalan. Hal ini dia lakukan kepada mereka yang secara kebetulan sedang menjabat Presiden Republik Indonesia, baik kepada Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, maupun SBY.
"Surat kepada Pak Harto, tentu saja saya mulai lakukan sesudah saya tidak lagi menjabat menteri," kata Seda sambil tersenyum.
Kumpulan surat-surat kepada Presiden Indonesia ini sedang dibukukan dan bakal diterbitkan sebagai buku, "Ikut menandai peringatan ulang tahun saya ke-80. Bahwa saya, bagaimanapun juga, sudah pernah ikut mengingatkan tentang penyelenggaraan negara. Bukan karena saya merasa paling pandai, tetapi justru ingin berperan serta, toh keputusannya terpulang kepada beliau-beliau tersebut".
Suami dari Johanna Maria Pattinaya, ayah dua anak serta anak sulung dari delapan bersaudara ini, dilahirkan tanggal 4 Oktober 1926 di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Belajar keberanian
Sulit menempatkan sosok dan peran Frans Seda dalam posisi semacam itu. Semakin sulit oleh karena dia selalu berada—atau lebih tepat: menempatkan diri—di tengah putaran peristiwa dalam beragam kesempatan. Ia memang a man for all seasons, ada di segala zaman. Ia pernah hidup menggelandang di emper toko sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta, semasa datang pertama kali ke Jawa pada zaman sebelum pendudukan Jepang.
Akan tetapi, kemudian, panggilan perang kemerdekaan menjadikan dirinya perwira militer dengan pangkat letnan. Pada masa pemerintahan Bung Karno, Seda ditunjuk menjadi menteri perkebunan dan oleh karena itu dia langsung harus berani melawan PKI, yang selalu mengklaim, buruh dan petani sebagai saka guru massa komunis.
Dan begitu Pak Harto naik, Seda diangkat menjadi menteri keuangan pertama di awal pemerintahan Orde Baru dengan tugas memulihkan perekonomian Indonesia yang baru saja dibangkrutkan rezim Orde Lama.
Pada sisi lain, melihat Seda selalu ngotot dalam berbicara kalau sedang memperjuangkan sesuatu, menunjukkan bahwa dirinya termasuk segelintir sosok yang tetap mengandalkan keberhasilan dialog dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan menyangkut kepentingan umum. Tersirat lewat kalimat bersayap yang dia gemari, salus populi suprema lex (kesejahteraan rakyat merupakan hukum tertinggi).
Mgr Francesco Canalili selalu ingat, hanya nama Frans Seda yang diberikan dalam briefing kepada dirinya sewaktu akan berangkat dari Roma untuk memulai tugas sebagai Duta Besar Vatikan di Jakarta. Sesudah sekian lama bergaul dengan Seda, dia kemudian memberikan komentar, "Efficiency, serenity, sound optimism, are some characteristic that can easily detected in dealing with him...."
Akan tetapi, dari mana sikap tersebut terbentuk?
"Ayah saya kepala sekolah (desa), paman saya kapitan, kepala desa. Dari mereka berdua saya belajar keberanian serta mendapat pendidikan untuk selalu harus membaktikan diri kepada kepentingan umum," kata Frans Seda terus terang.
Keberanian itu pula yang membawa dirinya merantau sendirian ke Yogyakarta (tahun 1940) selepas sekolah dasar di Desa Lekebai, Paga, Kabupaten Sikka, Flores, tempat lahirnya. Cita-cita awalnya menjadi guru adalah untuk meniru jejak ayahnya. Oleh karena itu, ia sengaja belajar di HIK Muntilan, tetapi dibuyarkan oleh perang kemerdekaan. Sebelum nantinya, sesudah melewati jalan berliku dan aneka macam pekerjaan, dia dikirim ke negeri Belanda dan berhasil menamatkan pendidikan di Katholieke Economische Hogeschool di Tilburg (tahun 1956).
Pernah jadi ketua umum parpol (Partai Katolik 1961-1968), duta besar, anggota Dewan Pertimbangan Agung, pengusaha, dekan (Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Jakarta), penulis, pengamat politik, dan beragam posisi lain, apa tugas paling mengesankan yang pernah dia tangani?
Frans Seda menjawab, "Mengantar Ratu Fabiola dari Belgia ke Keraton Yogya agar beliau segera punya putra. Baru kemudian saya tahu, jamu jawa itu rumit dan tak sekali minum beres, perlu ramuan untuk beberapa kali. Maka, sewaktu saya kembali ke Brussel, Sultan Yogya titip ramuan tersebut, mungkin hanya saya dubes yang membawa titipan jamu di kantong diplomatik.…"
*Julius Pour Wartawan, Tinggal di Jakarta
Sumber : Kompas, Rabu, 4 Oktober 2006
Oleh : Julius Pour
"Panglima, jangan hanya karena muncul kerusuhan seusai Tibo dieksekusi, wilayah Maumere dan sekitarnya lantas akan kalian jadikan daerah darurat militer...."
Dari ujung telepon terdengar jawaban, dengan nada sangat serius, "Tidak ada, Pak. Sama sekali, dari kami tidak pernah muncul pikiran ke arah kebijakan seperti itu, ... percayalah."
Terdengar ucapan kesal sambil menukas, "Ah, kalian tentara, selalu berkilah macam itu. Tetapi, kenyataan di lapangan bisa berbeda dan sering lain dari instruksi resmi di Jakarta. Marsekal tahu, saya dulu sudah jadi letnan, jauh sebelum kalian lahir.…"
Begitu antara lain isi percakapan lewat telepon antara Frans Seda dan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto akhir pekan lalu.
Situasi kemudian memang menunjukkan kerusuhan massal di Maumere segera reda, dan berita bahwa wilayah tersebut akan dijadikan daerah darurat militer tidak pernah menjadi kenyataan. Apakah karena Panglima TNI memang tidak punya rencana ataukah karena Seda menolak daerah kelahirannya ditangani militer?
"Tidak relevan mengkaji ada tidaknya rencana tersebut. Yang pasti, diminta atau tidak, kalau memang ada sesuatu yang menurut saya sudah mulai enggak bener, pasti akan langsung saya sampaikan kepada mereka yang berwenang. Senang atau tidak mereka menerima saran tersebut, mau tidak mereka mengubah kebijakan, bukan urusan saya. Kewajiban saya mengingatkan dengan perasaan tulus dari lubuk hati saya, diminta atau tidak," katanya dengan datar, nyaris tanpa ekspresi.
Selain mengingatkan lewat telepon sebagaimana contoh di atas, Seda ternyata selalu rajin menulis surat, berisi saran dan ungkapan hati plus pendapatnya, tentang segala sesuatu persoalan. Hal ini dia lakukan kepada mereka yang secara kebetulan sedang menjabat Presiden Republik Indonesia, baik kepada Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, maupun SBY.
"Surat kepada Pak Harto, tentu saja saya mulai lakukan sesudah saya tidak lagi menjabat menteri," kata Seda sambil tersenyum.
Kumpulan surat-surat kepada Presiden Indonesia ini sedang dibukukan dan bakal diterbitkan sebagai buku, "Ikut menandai peringatan ulang tahun saya ke-80. Bahwa saya, bagaimanapun juga, sudah pernah ikut mengingatkan tentang penyelenggaraan negara. Bukan karena saya merasa paling pandai, tetapi justru ingin berperan serta, toh keputusannya terpulang kepada beliau-beliau tersebut".
Suami dari Johanna Maria Pattinaya, ayah dua anak serta anak sulung dari delapan bersaudara ini, dilahirkan tanggal 4 Oktober 1926 di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Belajar keberanian
Sulit menempatkan sosok dan peran Frans Seda dalam posisi semacam itu. Semakin sulit oleh karena dia selalu berada—atau lebih tepat: menempatkan diri—di tengah putaran peristiwa dalam beragam kesempatan. Ia memang a man for all seasons, ada di segala zaman. Ia pernah hidup menggelandang di emper toko sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta, semasa datang pertama kali ke Jawa pada zaman sebelum pendudukan Jepang.
Akan tetapi, kemudian, panggilan perang kemerdekaan menjadikan dirinya perwira militer dengan pangkat letnan. Pada masa pemerintahan Bung Karno, Seda ditunjuk menjadi menteri perkebunan dan oleh karena itu dia langsung harus berani melawan PKI, yang selalu mengklaim, buruh dan petani sebagai saka guru massa komunis.
Dan begitu Pak Harto naik, Seda diangkat menjadi menteri keuangan pertama di awal pemerintahan Orde Baru dengan tugas memulihkan perekonomian Indonesia yang baru saja dibangkrutkan rezim Orde Lama.
Pada sisi lain, melihat Seda selalu ngotot dalam berbicara kalau sedang memperjuangkan sesuatu, menunjukkan bahwa dirinya termasuk segelintir sosok yang tetap mengandalkan keberhasilan dialog dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan menyangkut kepentingan umum. Tersirat lewat kalimat bersayap yang dia gemari, salus populi suprema lex (kesejahteraan rakyat merupakan hukum tertinggi).
Mgr Francesco Canalili selalu ingat, hanya nama Frans Seda yang diberikan dalam briefing kepada dirinya sewaktu akan berangkat dari Roma untuk memulai tugas sebagai Duta Besar Vatikan di Jakarta. Sesudah sekian lama bergaul dengan Seda, dia kemudian memberikan komentar, "Efficiency, serenity, sound optimism, are some characteristic that can easily detected in dealing with him...."
Akan tetapi, dari mana sikap tersebut terbentuk?
"Ayah saya kepala sekolah (desa), paman saya kapitan, kepala desa. Dari mereka berdua saya belajar keberanian serta mendapat pendidikan untuk selalu harus membaktikan diri kepada kepentingan umum," kata Frans Seda terus terang.
Keberanian itu pula yang membawa dirinya merantau sendirian ke Yogyakarta (tahun 1940) selepas sekolah dasar di Desa Lekebai, Paga, Kabupaten Sikka, Flores, tempat lahirnya. Cita-cita awalnya menjadi guru adalah untuk meniru jejak ayahnya. Oleh karena itu, ia sengaja belajar di HIK Muntilan, tetapi dibuyarkan oleh perang kemerdekaan. Sebelum nantinya, sesudah melewati jalan berliku dan aneka macam pekerjaan, dia dikirim ke negeri Belanda dan berhasil menamatkan pendidikan di Katholieke Economische Hogeschool di Tilburg (tahun 1956).
Pernah jadi ketua umum parpol (Partai Katolik 1961-1968), duta besar, anggota Dewan Pertimbangan Agung, pengusaha, dekan (Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Jakarta), penulis, pengamat politik, dan beragam posisi lain, apa tugas paling mengesankan yang pernah dia tangani?
Frans Seda menjawab, "Mengantar Ratu Fabiola dari Belgia ke Keraton Yogya agar beliau segera punya putra. Baru kemudian saya tahu, jamu jawa itu rumit dan tak sekali minum beres, perlu ramuan untuk beberapa kali. Maka, sewaktu saya kembali ke Brussel, Sultan Yogya titip ramuan tersebut, mungkin hanya saya dubes yang membawa titipan jamu di kantong diplomatik.…"
*Julius Pour Wartawan, Tinggal di Jakarta
Sumber : Kompas, Rabu, 4 Oktober 2006
Filli Pratama : Inovasi Pangan Filli Pratama
Inovasi Pangan Filli Pratama
Oleh : BM Lukita Grahadyarini
"Tanah Air Indonesia kaya akan sumber daya alam. Sudah sepantasnya jika kekayaan itu dimanfaatkan untuk kemajuan pangan bangsa".
Sepenggal pemikiran itu yang mendorong Filli Pratama (40) bertekun membuat produk pangan yang praktis dari bahan-bahan alami dengan sentuhan teknologi yang tidak harus rumit.
Salah satu produk pangan yang dihasilkannya adalah tekwan kering cepat saji. Penganan basah khas Palembang yang dikemas kering untuk oleh-oleh ini biasanya harus direndam dulu selama delapan jam supaya lunak, sebelum direbus dan disajikan. Tekwan yang lazim adalah mekanan berkuah sejenis bakso yang terbuat dari bahan tepung tapioka dan ikan tenggiri.
Namun, melalui pembuatan alat sederhana, tekwan kering cepat saji itu cukup direndam 15-20 menit agar lunak. Peralatan sederhana itu dibuat sedemikian rupa agar struktur tekwan kering yang kenyal dan padat menjadi lebih berpori, sehingga cepat lunak sewaktu direndam dan praktis disajikan.
Tekwan kering cepat saji itu langsung ludes dibeli sewaktu dipamerkan pada Festival Sriwijaya, Juni lalu, dan Gelar Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Agustus lalu, di Palembang. Ketika itu, tekwan dia kemas dalam plastik.
Inovasi pembuatan tekwan tidak berhenti pada pembuatan tekwan kering. Filli juga membuat bumbu tekwan rasa udang, dengan memanfaatkan limbah kepala udang yang banyak terbuang.
Tekwan kering cepat saji secara bertahap diperkenalkan kepada perajin tekwan di Palembang melalui alih teknologi pada tahun 2006, atau dua tahun setelah produk itu dipatenkan.
"Saya bergerak di teknologi pangan, maka sayang kalau hasil temuan itu tidak diperkenalkan ke khalayak," tutur Filli yang kini menjabat Kepala Laboratorium Kimia Hasil Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.
Ketika pemakaian zat pengawet berbahaya formalin untuk tahu merebak awal tahun 2006, Filli langsung tergerak untuk membuat bahan pengawet alternatif yang tidak membahayakan kesehatan konsumen. Ia menggunakan daun sirih yang sejak dulu dikenal sebagai tanaman obat berkhasiat.
Hasilnya, pemakaian daun sirih pada tahu terbukti bermanfaat untuk mengawetkan tahu sampai tiga hari. Sifat daun sirih yang antibakteri mengawetkan tanpa merusak kandungan tahu.
Penelitian yang dilakukannya seakan tiada henti. Baru-baru ini, ia membuat produk pewarna makanan dengan bahan baku serat kayu pohon secang (Caesalpinia sappan). Pada masa lalu, serat kayu yang banyak tumbuh di pekarangan itu sering digunakan untuk obat diare. Kini, air rebusan dari serutan kayu secang dipakai sebagai alternatif pewarna makanan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pewarna sintetis.
Dalam waktu dekat, ia berencana membuat gula rendah kalori untuk penderita diabetes dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di alam.
Sembilan paten
Filli lahir di Palembang, 30 Juni 1966. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga pengusaha. Ayah-ibunya adalah wiraswasta di bidang pakaian. Ketertarikannya terhadap pertanian dimulai sewaktu ia mempelajari ilmu hayat di bangku sekolah menengah.
Sukses Filli dalam mengembangkan pangan terlihat sejak ia menempuh pendidikan strata 1 (S1) jurusan teknologi pertanian di Fakultas Pertanian Unsri tahun 1985-1989. Dalam skripsinya, ia menciptakan teknologi pembuatan beras instan. Beras itu cukup direbus selama dua menit supaya matang.
Saat menempuh kuliah strata dua (S2) jurusan Food Science di University of Western Sidney, Australia, tahun 1992-1994, ia masih bertekun dalam inovasi beras. Dalam tesisnya, ia membuat beras instan yang mengandung vitamin B1.
Gelar doktor (S3) dari jurusan Food Science di University of Western Sidney, Australia, disandangnya tahun 2000 dengan keberhasilan melakukan diversifikasi beras melalui teknologi pascapanen. Ia membuat beras wangi dengan aroma yang beragam, di antaranya pandan, dan santan kelapa, tanpa mengubah bentuk asli butiran beras.
Sepulang dari Australia, ia menjadi pengajar pada jurusan teknologi pertanian Fakultas Pertanian Unsri. Penelitian dilanjutkan setiap tahun. Dalam mewujudkan gagasan penelitan, perempuan yang sejak dulu bercita-cita menjadi guru itu selalu melibatkan para mahasiswanya.
Sejauh ini, sudah sembilan hasil penelitiannya yang dipatenkan. Beberapa di antaranya, pewangian beras menggunakan karbondioksida cair, kopi blok siap seduh, tekwan kering cepat saji, kaldu udang blok, pembuatan sambal lingkung berkadar lemak rendah, dan alat pencuci antibiotik pada produk perikanan segar.
Tetapi, rupanya jiwa wiraswasta kedua orangtuanya tidak mengakar padanya. Ia mengaku tidak memiliki kelihaian dalam mempromosikan, apalagi memasarkan hasil penelitian yang sudah dia patenkan itu kepada masyarakat.
"Saya senang meneliti dan menyumbangkan karya-karya ilmiah. Tetapi, saya tidak ambil pusing bagaimana memasarkan produk. Yang penting, teknologi hasil pertanian harus dikembangkan agar semua yang masuk ke tubuh itu sehat," ujar Filli.
Apa yang dilakukan Filli tak lepas dari motivasinya untuk mengembangkan pertanian secara berkelanjutan. Kepuasan baginya apabila bisa mengembangkan ilmu. Perjalanan panjang itu didukung oleh suami dan tiga anaknya. Mereka juga yang sering kali menjadi pencicip sekaligus kritikus produk pangan yang dihasilkannya bersama dengan mahasiswanya.
Keprihatinan yang sampai kini Filli rasakan, yaitu masih adanya jurang yang lebar antara peneliti perguruan tinggi dengan masyarakat. Dalam pandangan Filli, kalangan akademisi seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan masyarakat dengan cara menyebarluaskan hasil penemuan mereka.
Tetapi, sampai sekarang, sebagian peneliti masih terbentur kesulitan untuk memublikasikan karya ilmiah mereka ke khalayak. Belum ada koordinasi antara departemen, dinas, atau instansi pemerintah dengan perguruan tinggi untuk menyebarkan hasil penelitian dan temuan para ilmuwan ke masyarakat.
Penyebaran penelitian itu sesungguhnya sangat penting untuk mempersempit jurang keilmuan antara perguruan tinggi dengan publik. "Dengan begitu, masyarakat akan semakin mengenal potensi lingkungannya," kata Filli.
Sumber : Kompas, Jumat, 27 Oktober 2006
Oleh : BM Lukita Grahadyarini
"Tanah Air Indonesia kaya akan sumber daya alam. Sudah sepantasnya jika kekayaan itu dimanfaatkan untuk kemajuan pangan bangsa".
Sepenggal pemikiran itu yang mendorong Filli Pratama (40) bertekun membuat produk pangan yang praktis dari bahan-bahan alami dengan sentuhan teknologi yang tidak harus rumit.
Salah satu produk pangan yang dihasilkannya adalah tekwan kering cepat saji. Penganan basah khas Palembang yang dikemas kering untuk oleh-oleh ini biasanya harus direndam dulu selama delapan jam supaya lunak, sebelum direbus dan disajikan. Tekwan yang lazim adalah mekanan berkuah sejenis bakso yang terbuat dari bahan tepung tapioka dan ikan tenggiri.
Namun, melalui pembuatan alat sederhana, tekwan kering cepat saji itu cukup direndam 15-20 menit agar lunak. Peralatan sederhana itu dibuat sedemikian rupa agar struktur tekwan kering yang kenyal dan padat menjadi lebih berpori, sehingga cepat lunak sewaktu direndam dan praktis disajikan.
Tekwan kering cepat saji itu langsung ludes dibeli sewaktu dipamerkan pada Festival Sriwijaya, Juni lalu, dan Gelar Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Agustus lalu, di Palembang. Ketika itu, tekwan dia kemas dalam plastik.
Inovasi pembuatan tekwan tidak berhenti pada pembuatan tekwan kering. Filli juga membuat bumbu tekwan rasa udang, dengan memanfaatkan limbah kepala udang yang banyak terbuang.
Tekwan kering cepat saji secara bertahap diperkenalkan kepada perajin tekwan di Palembang melalui alih teknologi pada tahun 2006, atau dua tahun setelah produk itu dipatenkan.
"Saya bergerak di teknologi pangan, maka sayang kalau hasil temuan itu tidak diperkenalkan ke khalayak," tutur Filli yang kini menjabat Kepala Laboratorium Kimia Hasil Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.
Ketika pemakaian zat pengawet berbahaya formalin untuk tahu merebak awal tahun 2006, Filli langsung tergerak untuk membuat bahan pengawet alternatif yang tidak membahayakan kesehatan konsumen. Ia menggunakan daun sirih yang sejak dulu dikenal sebagai tanaman obat berkhasiat.
Hasilnya, pemakaian daun sirih pada tahu terbukti bermanfaat untuk mengawetkan tahu sampai tiga hari. Sifat daun sirih yang antibakteri mengawetkan tanpa merusak kandungan tahu.
Penelitian yang dilakukannya seakan tiada henti. Baru-baru ini, ia membuat produk pewarna makanan dengan bahan baku serat kayu pohon secang (Caesalpinia sappan). Pada masa lalu, serat kayu yang banyak tumbuh di pekarangan itu sering digunakan untuk obat diare. Kini, air rebusan dari serutan kayu secang dipakai sebagai alternatif pewarna makanan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pewarna sintetis.
Dalam waktu dekat, ia berencana membuat gula rendah kalori untuk penderita diabetes dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di alam.
Sembilan paten
Filli lahir di Palembang, 30 Juni 1966. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga pengusaha. Ayah-ibunya adalah wiraswasta di bidang pakaian. Ketertarikannya terhadap pertanian dimulai sewaktu ia mempelajari ilmu hayat di bangku sekolah menengah.
Sukses Filli dalam mengembangkan pangan terlihat sejak ia menempuh pendidikan strata 1 (S1) jurusan teknologi pertanian di Fakultas Pertanian Unsri tahun 1985-1989. Dalam skripsinya, ia menciptakan teknologi pembuatan beras instan. Beras itu cukup direbus selama dua menit supaya matang.
Saat menempuh kuliah strata dua (S2) jurusan Food Science di University of Western Sidney, Australia, tahun 1992-1994, ia masih bertekun dalam inovasi beras. Dalam tesisnya, ia membuat beras instan yang mengandung vitamin B1.
Gelar doktor (S3) dari jurusan Food Science di University of Western Sidney, Australia, disandangnya tahun 2000 dengan keberhasilan melakukan diversifikasi beras melalui teknologi pascapanen. Ia membuat beras wangi dengan aroma yang beragam, di antaranya pandan, dan santan kelapa, tanpa mengubah bentuk asli butiran beras.
Sepulang dari Australia, ia menjadi pengajar pada jurusan teknologi pertanian Fakultas Pertanian Unsri. Penelitian dilanjutkan setiap tahun. Dalam mewujudkan gagasan penelitan, perempuan yang sejak dulu bercita-cita menjadi guru itu selalu melibatkan para mahasiswanya.
Sejauh ini, sudah sembilan hasil penelitiannya yang dipatenkan. Beberapa di antaranya, pewangian beras menggunakan karbondioksida cair, kopi blok siap seduh, tekwan kering cepat saji, kaldu udang blok, pembuatan sambal lingkung berkadar lemak rendah, dan alat pencuci antibiotik pada produk perikanan segar.
Tetapi, rupanya jiwa wiraswasta kedua orangtuanya tidak mengakar padanya. Ia mengaku tidak memiliki kelihaian dalam mempromosikan, apalagi memasarkan hasil penelitian yang sudah dia patenkan itu kepada masyarakat.
"Saya senang meneliti dan menyumbangkan karya-karya ilmiah. Tetapi, saya tidak ambil pusing bagaimana memasarkan produk. Yang penting, teknologi hasil pertanian harus dikembangkan agar semua yang masuk ke tubuh itu sehat," ujar Filli.
Apa yang dilakukan Filli tak lepas dari motivasinya untuk mengembangkan pertanian secara berkelanjutan. Kepuasan baginya apabila bisa mengembangkan ilmu. Perjalanan panjang itu didukung oleh suami dan tiga anaknya. Mereka juga yang sering kali menjadi pencicip sekaligus kritikus produk pangan yang dihasilkannya bersama dengan mahasiswanya.
Keprihatinan yang sampai kini Filli rasakan, yaitu masih adanya jurang yang lebar antara peneliti perguruan tinggi dengan masyarakat. Dalam pandangan Filli, kalangan akademisi seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan masyarakat dengan cara menyebarluaskan hasil penemuan mereka.
Tetapi, sampai sekarang, sebagian peneliti masih terbentur kesulitan untuk memublikasikan karya ilmiah mereka ke khalayak. Belum ada koordinasi antara departemen, dinas, atau instansi pemerintah dengan perguruan tinggi untuk menyebarkan hasil penelitian dan temuan para ilmuwan ke masyarakat.
Penyebaran penelitian itu sesungguhnya sangat penting untuk mempersempit jurang keilmuan antara perguruan tinggi dengan publik. "Dengan begitu, masyarakat akan semakin mengenal potensi lingkungannya," kata Filli.
Sumber : Kompas, Jumat, 27 Oktober 2006
Fuad Affandi : Menggabungkan Agrobisnis dan Agama
Menggabungkan Agrobisnis dan Agama
Oleh : Dwi Bayu Radius
"Waktu pertama kali mencoba memberdayakan petani setempat, golok yang saya hadapi," kenang Pemimpin Pondok Pesantren Al-Ittifaq KH Fuad Affandi (58). Ihwalnya, saat itu dia menganjurkan masyarakat menanam tomat dan kubis. Tak disangka, harga kedua komoditas itu jatuh sehingga membuat petani murka.
Mereka mendatangi pondok pesantren (ponpes) yang berlokasi di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu. Untunglah kemarahan petani dapat diredakan, tetapi Fuad sempat tertekan atas kejadian tersebut. Meski demikian, tekadnya meningkatkan harkat dan derajat hasil agrobisnis petani tak luntur.
Kini, Ponpes Al-Ittifaq menjadi salah satu penyalur buah dan sayur untuk pasar swalayan besar di Jakarta, yaitu Hero, Makro, dan Giant. Adapun di Bandung, menurut Fuad, seluruh pasar swalayan menjadi langganannya, seperti Yogya, Matahari, dan Superindo.
Kapasitas produksinya sekitar 3,5 ton per hari, satu ton dari lahan pesantren dan sisanya dari lahan 400 warga sekitar. Jenis produk terdiri dari 26 sayur dan buah, antara lain tomat, wortel, bawang daun, dan selada.
Al-Ittifaq merupakan salah satu yang paling lama menyalurkan sayur dan buah ke pasar swalayan besar, yaitu sejak tahun 1993. Tentu pada awalnya ada kesulitan. Pengiriman pertama mengalami kegagalan. Fuad kebingungan dengan istilah seperti grading (pengelompokan) atau wrapping (pengepakan).
Fuad merasa kekurangan pengetahuan itu harus menjadi tanggung jawab bersama, antara petani pemasok dan pasar swalayan. Suryadharma Ali, kini Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, yang ketika itu manajer di Hero, lalu mengutus sarjana pertanian untuk mendidik santri Al-Ittifaq selama tiga bulan dengan biaya dan peralatan yang ditanggung Hero.
Akhirnya, barang dikirim dengan rapi dan kualitas produk pun terjaga. Fuad, kelahiran Ciburial, Kabupaten Bandung, 20 Juni 1948, itu mengungkapkan, sedikit cacat saja pada produk yang ditawarkan, bisa membuat Suryadharma marah.
"Dia sempat datang ke Al-Ittifaq beberapa kali," tutur suami Hj Sa’adah dan ayah dari Neneng Ilan, Neti Hasanah, Reni, Isye Zubaidah, dan Evi Fitrianti ini.
Generasi ketiga
Ponpes Al-Ittifaq berdiri pada tahun 1934. Fuad adalah pemimpin Al-Ittifaq generasi ketiga atau cucu dari sang pendiri, KH Mansyur. Pada awalnya, boleh dikata ilmu pengetahuan ponpes "berjalan di tempat". Para santri dilarang mengenal pejabat pemerintah. Media massa, seperti radio dan televisi, dianggap haram. Fuad sendiri hanya bersekolah sampai kelas empat setara sekolah dasar dan tidak berijazah.
Namun, dia berpikir, jika pola kehidupan seperti itu terus dipertahankan, masyarakat setempat dan santri tidak akan maju. Tekad mengangkat harkat santri dan masyarakat petani sekitar membuat Fuad mengubah pemahaman tersebut.
Selama kepemimpinannya, sudah lebih dari 10 menteri berkunjung ke Al-Ittifaq. Pengembangan usaha membuat Al-Ittifaq juga memiliki peternakan untuk mencegah limbah sayur yang tidak memenuhi standar menjadi mubazir dengan menjadikan limbah organik itu sebagai pakan ternak.
"Di Al-Ittifaq terdapat 300 santri, tidak ada yang membawa beras. Semua dikaryakan. Silakan belajar, tetapi mereka juga harus punya keahlian," paparnya.
Santri setingkat sekolah dasar mengurus budidaya tanaman, ternak sapi dan kambing, serta kolam ikan. Pada tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, santri mengelola gudang serta mengurusi pengepakan, pemberian label, dan penyortiran. Sedangkan santri setingkat sekolah tingkat lanjutan atas bekerja di bidang pemasaran.
Al-Ittifaq juga mampu membantu Pemerintah Kabupaten Bandung dengan memperbaiki jalan-jalan di kampung sekitar pesantren, menyediakan air bersih, dan menata gang-gang. Tahun 2001 Fuad menerima Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI dan pada tahun 2003 meraih Kalpataru untuk kategori Penyelamat Lingkungan. Tahun 2005 dia memperoleh penghargaan organisasi sosial berprestasi.
Lintas agama
Berada di bawah naungan Departemen Agama, Ponpes Al-Ittifaq juga mendapat dukungan dari Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Sosial, Departemen Perdagangan, serta Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM.
Beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Institut Pertanian Bogor, juga mengadakan kerja sama di bidang teknologi, penelitian, serta tesis dan skripsi untuk mahasiswa.
HR Nuriana, mantan Gubernur Jabar, menyebut Al-Ittifaq sebagai ponpes terpadu sebab menggabungkan ilmu agrobisnis dan agama. ’Al-Ittifaq’ sendiri berarti kerja sama yang baik. Artinya, kata Fuad, bisnis dan ilmu pengetahuannya bersifat lintas agama, seperti pada Juni 2006 sebanyak 11 warga non-Muslim dari Papua belajar manajemen agrobisnis di Al-Ittifaq.
"Tidak akan ditanya agamanya apa. Saya juga mengangkat asisten bidang teknologi pertanian yang beragama Katolik. Kerja samanya di bidang ilmu pengetahuan," ungkapnya. Asisten itu mengajarkan cara bercocok tanam seperti di Taiwan atau membuat pupuk seperti di Belanda.
Sumber : Kompas, Kamis, 9 November 2006
Oleh : Dwi Bayu Radius
"Waktu pertama kali mencoba memberdayakan petani setempat, golok yang saya hadapi," kenang Pemimpin Pondok Pesantren Al-Ittifaq KH Fuad Affandi (58). Ihwalnya, saat itu dia menganjurkan masyarakat menanam tomat dan kubis. Tak disangka, harga kedua komoditas itu jatuh sehingga membuat petani murka.
Mereka mendatangi pondok pesantren (ponpes) yang berlokasi di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu. Untunglah kemarahan petani dapat diredakan, tetapi Fuad sempat tertekan atas kejadian tersebut. Meski demikian, tekadnya meningkatkan harkat dan derajat hasil agrobisnis petani tak luntur.
Kini, Ponpes Al-Ittifaq menjadi salah satu penyalur buah dan sayur untuk pasar swalayan besar di Jakarta, yaitu Hero, Makro, dan Giant. Adapun di Bandung, menurut Fuad, seluruh pasar swalayan menjadi langganannya, seperti Yogya, Matahari, dan Superindo.
Kapasitas produksinya sekitar 3,5 ton per hari, satu ton dari lahan pesantren dan sisanya dari lahan 400 warga sekitar. Jenis produk terdiri dari 26 sayur dan buah, antara lain tomat, wortel, bawang daun, dan selada.
Al-Ittifaq merupakan salah satu yang paling lama menyalurkan sayur dan buah ke pasar swalayan besar, yaitu sejak tahun 1993. Tentu pada awalnya ada kesulitan. Pengiriman pertama mengalami kegagalan. Fuad kebingungan dengan istilah seperti grading (pengelompokan) atau wrapping (pengepakan).
Fuad merasa kekurangan pengetahuan itu harus menjadi tanggung jawab bersama, antara petani pemasok dan pasar swalayan. Suryadharma Ali, kini Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, yang ketika itu manajer di Hero, lalu mengutus sarjana pertanian untuk mendidik santri Al-Ittifaq selama tiga bulan dengan biaya dan peralatan yang ditanggung Hero.
Akhirnya, barang dikirim dengan rapi dan kualitas produk pun terjaga. Fuad, kelahiran Ciburial, Kabupaten Bandung, 20 Juni 1948, itu mengungkapkan, sedikit cacat saja pada produk yang ditawarkan, bisa membuat Suryadharma marah.
"Dia sempat datang ke Al-Ittifaq beberapa kali," tutur suami Hj Sa’adah dan ayah dari Neneng Ilan, Neti Hasanah, Reni, Isye Zubaidah, dan Evi Fitrianti ini.
Generasi ketiga
Ponpes Al-Ittifaq berdiri pada tahun 1934. Fuad adalah pemimpin Al-Ittifaq generasi ketiga atau cucu dari sang pendiri, KH Mansyur. Pada awalnya, boleh dikata ilmu pengetahuan ponpes "berjalan di tempat". Para santri dilarang mengenal pejabat pemerintah. Media massa, seperti radio dan televisi, dianggap haram. Fuad sendiri hanya bersekolah sampai kelas empat setara sekolah dasar dan tidak berijazah.
Namun, dia berpikir, jika pola kehidupan seperti itu terus dipertahankan, masyarakat setempat dan santri tidak akan maju. Tekad mengangkat harkat santri dan masyarakat petani sekitar membuat Fuad mengubah pemahaman tersebut.
Selama kepemimpinannya, sudah lebih dari 10 menteri berkunjung ke Al-Ittifaq. Pengembangan usaha membuat Al-Ittifaq juga memiliki peternakan untuk mencegah limbah sayur yang tidak memenuhi standar menjadi mubazir dengan menjadikan limbah organik itu sebagai pakan ternak.
"Di Al-Ittifaq terdapat 300 santri, tidak ada yang membawa beras. Semua dikaryakan. Silakan belajar, tetapi mereka juga harus punya keahlian," paparnya.
Santri setingkat sekolah dasar mengurus budidaya tanaman, ternak sapi dan kambing, serta kolam ikan. Pada tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, santri mengelola gudang serta mengurusi pengepakan, pemberian label, dan penyortiran. Sedangkan santri setingkat sekolah tingkat lanjutan atas bekerja di bidang pemasaran.
Al-Ittifaq juga mampu membantu Pemerintah Kabupaten Bandung dengan memperbaiki jalan-jalan di kampung sekitar pesantren, menyediakan air bersih, dan menata gang-gang. Tahun 2001 Fuad menerima Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI dan pada tahun 2003 meraih Kalpataru untuk kategori Penyelamat Lingkungan. Tahun 2005 dia memperoleh penghargaan organisasi sosial berprestasi.
Lintas agama
Berada di bawah naungan Departemen Agama, Ponpes Al-Ittifaq juga mendapat dukungan dari Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Sosial, Departemen Perdagangan, serta Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM.
Beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Institut Pertanian Bogor, juga mengadakan kerja sama di bidang teknologi, penelitian, serta tesis dan skripsi untuk mahasiswa.
HR Nuriana, mantan Gubernur Jabar, menyebut Al-Ittifaq sebagai ponpes terpadu sebab menggabungkan ilmu agrobisnis dan agama. ’Al-Ittifaq’ sendiri berarti kerja sama yang baik. Artinya, kata Fuad, bisnis dan ilmu pengetahuannya bersifat lintas agama, seperti pada Juni 2006 sebanyak 11 warga non-Muslim dari Papua belajar manajemen agrobisnis di Al-Ittifaq.
"Tidak akan ditanya agamanya apa. Saya juga mengangkat asisten bidang teknologi pertanian yang beragama Katolik. Kerja samanya di bidang ilmu pengetahuan," ungkapnya. Asisten itu mengajarkan cara bercocok tanam seperti di Taiwan atau membuat pupuk seperti di Belanda.
Sumber : Kompas, Kamis, 9 November 2006
Forest Steven Whitaker :
Jun 7, 2009
Whitaker dan "Roh" Idi Amin
Oleh : Frans Sartono
Aktor Forest Whitaker menerima Oscar untuk Aktor Terbaik lewat peran sebagai diktator Uganda, Idi Amin dalam film The Last King of Scotland arahan sutradara Kevin MacDonald. Itu penghargaan setimpal untuk aktor yang mengerahkan segala kemampuan untuk mewujud diri sebagai seorang Idi Amin.
Peran sebagai Idi Amin bagi Whitaker merupakan peran paling berat dalam kariernya selama ini. Lelaki kelahiran Texas, Amerika Serikat, 15 Juli 1961, ini melakukan riset mendalam selama tiga bulan tentang seluk-beluk per-idiamin-an. Untuk itu ia datang ke Uganda. Itu merupakan kali pertama aktor berdarah Afro-Amerika itu menjamah tanah Afrika.
Whitaker tinggal di kampung halaman Idi Amin. Ia berteduh di bawah pohon mangga tempat Amin kecil bermain. Ia mewawancarai sanak-kadang Idi Amin. Ia menemui bekas menteri dan jenderal dalam pemerintahan Presiden Amin. Juga para korban kebrutalan Amin saat berkuasa pada kurun tahun 1971-1979. Ia juga belajar bahasa Swahili, bahkan menguasai aksen Afrika Timur ala Idi Amin.
"Saya ke sana (Uganda) untuk memahami bagaimana rasanya menjadi orang Uganda. Saya merasakan makanan, kehidupan, dan cara mereka memperlakukan anak-anak, istri, dan pejabat," kata Whitaker.
"Saya duduk bersama saudara dari Idi Amin di bawah rimbun pohon mangga. Ia bercerita tentang siapa Idi Amin," tuturnya.
Whitaker menyerap segala masukan tentang Idi Amin. Sebagai aktor, ia mengolah masukan itu sebagai bagian dari kerja kesenian.
"Itu semua membantu saya dalam menggambarkan watak, sikap, dan pikiran dia (Amin). Begitulah selama 24 jam sehari, bahkan sampai dalam mimpi, saya telan habis-habisan karakter Idi Amin," kenang Whitaker.
Dalam memerankan tokoh, Whitaker berprinsip menyerap energi sang tokoh ke dalam jiwa. Ia berusaha agar karakter si tokoh masuk ke dalam dirinya lalu mewujud dalam bentuk gaya bicara, gerak tubuh (gesture), atau bahkan dalam hal memahami suatu hal.
Dalam memerani Idi Amin, Whitaker merasa seakan "roh" Idi Amin merasuk ke dalam seluruh jaringan sarafnya. Ia baru mampu melepaskan "roh" itu ketika pembuatan film rampung.
"Yang pertama saya lakukan adalah mandi. Saya bayangkan, dengan menggosok seluruh tubuh ini, saya telah membasuh dia dari jiwa saya. Saya berada di kamar sendirian. Saya berteriak-teriak untuk mengeluarkan suara dia dari kerongkongan saya. Dengan begitu saya mendapatkan suara saya kembali," kisah Whitaker.
Aktornya aktor
Menjadi seorang aktor, terlebih yang berkelas Oscar sama sekali tak dibayangkan Forest Steven Whitaker pada masa remaja. Berayah salesman asuransi dan beribu guru, pria bongsor bertinggi 189 sentimeter itu lebih tertarik menjadi atlet sepak bola Amerika (American football).
Ia jarang menonton film. Satu-satunya kesempatan menonton adalah jika keluarganya mengajak pergi ke drive-in— bioskop di lapangan terbuka tempat penonton menikmati film dari mobil. Whitaker kecil menonton dari jok belakang mobil keluarga.
"Membayangkan diri bermain film sama sekali tidak menjadi realitas kami dulu. Jadi, menerima penghargaan malam ini, saya teryakinkan bahwa hal itu mungkin," kata Whitaker saat menerima Oscar di Kodak Theatre, Hollywood, Minggu (25/2/2007) malam.
"Bukan keniscayaan bagi seorang bocah dari Texas Timur untuk bermimpi, menghayati impian, bersungguh-sungguh meraih, dan mewujudkannya," lanjut Whitaker, bapak empat anak.
Dari kemampuan sebagai atlet, Whitaker mendapat beasiswa ke di Politeknik California. Akan tetapi, karena cedera punggung, ia berganti haluan studi ke Konservatori Musik di Universitas California Selatan. Ia mengambil studi opera sebagai penyanyi tenor. Belakangan ia malah diterima di Konservatori Drama. Dari sinilah Whitaker menapak ke jagat seni peran.
Ia menerima peran pertama pada tahun 1982 lewat film layar lebar, Fast Time at Ridgemont High. Dalam 25 tahun perjalanan karier, ia bermain dalam sekitar 60 judul film layar lebar dan televisi. Dari perjalanan panjang itu, untuk pertama kalinya ia masuk unggulan Oscar lewat peran sebagai Idi Amin dan langsung meraihnya.
Lewat peran sebagai Idi Amin, Whitaker juga menerima 17 penghargaan aktor terbaik dari berbagai festival, termasuk Golden Globe, British Academy of Film and Television Arts (BAFTA). Gelar aktor terbaik pernah ia terima dari Festival Film Cannes, Perancis (1988), lewat perannya sebagai legenda jazz Charlie Parker dalam film Bird arahan Clint Eastwood.
Oscar menjadi "pengesah" kesenimanan Whitaker yang melihat akting sebagai kerja kesenian. Ia memersepsikan akting sebagai upaya menciptakan hubungan batin antara aktor, tokoh yang diperankan, serta audiens.
"Akting bagi saya adalah soal meyakini akan ikatan batin. Akan adanya terang pada setiap manusia. Ikatan batin itu kuat dan dalam hingga kita bisa merasakannya. Lewat kepercayaan kita yang menyatu, kita bisa menciptakan realitas baru," kata Whitaker di pentas Oscar.
Whitaker yang disebut-sebut sebagai "aktornya aktor" itu membuktikan bahwa akting adalah kerja kesenian. Bukan jualan tampang—yang tak pernah menghasilkan Oscar.
(REUTERS/IMDB)
Sumber : Kompas, Rabu, 28 Februari 2007
Oleh : Frans Sartono
Aktor Forest Whitaker menerima Oscar untuk Aktor Terbaik lewat peran sebagai diktator Uganda, Idi Amin dalam film The Last King of Scotland arahan sutradara Kevin MacDonald. Itu penghargaan setimpal untuk aktor yang mengerahkan segala kemampuan untuk mewujud diri sebagai seorang Idi Amin.
Peran sebagai Idi Amin bagi Whitaker merupakan peran paling berat dalam kariernya selama ini. Lelaki kelahiran Texas, Amerika Serikat, 15 Juli 1961, ini melakukan riset mendalam selama tiga bulan tentang seluk-beluk per-idiamin-an. Untuk itu ia datang ke Uganda. Itu merupakan kali pertama aktor berdarah Afro-Amerika itu menjamah tanah Afrika.
Whitaker tinggal di kampung halaman Idi Amin. Ia berteduh di bawah pohon mangga tempat Amin kecil bermain. Ia mewawancarai sanak-kadang Idi Amin. Ia menemui bekas menteri dan jenderal dalam pemerintahan Presiden Amin. Juga para korban kebrutalan Amin saat berkuasa pada kurun tahun 1971-1979. Ia juga belajar bahasa Swahili, bahkan menguasai aksen Afrika Timur ala Idi Amin.
"Saya ke sana (Uganda) untuk memahami bagaimana rasanya menjadi orang Uganda. Saya merasakan makanan, kehidupan, dan cara mereka memperlakukan anak-anak, istri, dan pejabat," kata Whitaker.
"Saya duduk bersama saudara dari Idi Amin di bawah rimbun pohon mangga. Ia bercerita tentang siapa Idi Amin," tuturnya.
Whitaker menyerap segala masukan tentang Idi Amin. Sebagai aktor, ia mengolah masukan itu sebagai bagian dari kerja kesenian.
"Itu semua membantu saya dalam menggambarkan watak, sikap, dan pikiran dia (Amin). Begitulah selama 24 jam sehari, bahkan sampai dalam mimpi, saya telan habis-habisan karakter Idi Amin," kenang Whitaker.
Dalam memerankan tokoh, Whitaker berprinsip menyerap energi sang tokoh ke dalam jiwa. Ia berusaha agar karakter si tokoh masuk ke dalam dirinya lalu mewujud dalam bentuk gaya bicara, gerak tubuh (gesture), atau bahkan dalam hal memahami suatu hal.
Dalam memerani Idi Amin, Whitaker merasa seakan "roh" Idi Amin merasuk ke dalam seluruh jaringan sarafnya. Ia baru mampu melepaskan "roh" itu ketika pembuatan film rampung.
"Yang pertama saya lakukan adalah mandi. Saya bayangkan, dengan menggosok seluruh tubuh ini, saya telah membasuh dia dari jiwa saya. Saya berada di kamar sendirian. Saya berteriak-teriak untuk mengeluarkan suara dia dari kerongkongan saya. Dengan begitu saya mendapatkan suara saya kembali," kisah Whitaker.
Aktornya aktor
Menjadi seorang aktor, terlebih yang berkelas Oscar sama sekali tak dibayangkan Forest Steven Whitaker pada masa remaja. Berayah salesman asuransi dan beribu guru, pria bongsor bertinggi 189 sentimeter itu lebih tertarik menjadi atlet sepak bola Amerika (American football).
Ia jarang menonton film. Satu-satunya kesempatan menonton adalah jika keluarganya mengajak pergi ke drive-in— bioskop di lapangan terbuka tempat penonton menikmati film dari mobil. Whitaker kecil menonton dari jok belakang mobil keluarga.
"Membayangkan diri bermain film sama sekali tidak menjadi realitas kami dulu. Jadi, menerima penghargaan malam ini, saya teryakinkan bahwa hal itu mungkin," kata Whitaker saat menerima Oscar di Kodak Theatre, Hollywood, Minggu (25/2/2007) malam.
"Bukan keniscayaan bagi seorang bocah dari Texas Timur untuk bermimpi, menghayati impian, bersungguh-sungguh meraih, dan mewujudkannya," lanjut Whitaker, bapak empat anak.
Dari kemampuan sebagai atlet, Whitaker mendapat beasiswa ke di Politeknik California. Akan tetapi, karena cedera punggung, ia berganti haluan studi ke Konservatori Musik di Universitas California Selatan. Ia mengambil studi opera sebagai penyanyi tenor. Belakangan ia malah diterima di Konservatori Drama. Dari sinilah Whitaker menapak ke jagat seni peran.
Ia menerima peran pertama pada tahun 1982 lewat film layar lebar, Fast Time at Ridgemont High. Dalam 25 tahun perjalanan karier, ia bermain dalam sekitar 60 judul film layar lebar dan televisi. Dari perjalanan panjang itu, untuk pertama kalinya ia masuk unggulan Oscar lewat peran sebagai Idi Amin dan langsung meraihnya.
Lewat peran sebagai Idi Amin, Whitaker juga menerima 17 penghargaan aktor terbaik dari berbagai festival, termasuk Golden Globe, British Academy of Film and Television Arts (BAFTA). Gelar aktor terbaik pernah ia terima dari Festival Film Cannes, Perancis (1988), lewat perannya sebagai legenda jazz Charlie Parker dalam film Bird arahan Clint Eastwood.
Oscar menjadi "pengesah" kesenimanan Whitaker yang melihat akting sebagai kerja kesenian. Ia memersepsikan akting sebagai upaya menciptakan hubungan batin antara aktor, tokoh yang diperankan, serta audiens.
"Akting bagi saya adalah soal meyakini akan ikatan batin. Akan adanya terang pada setiap manusia. Ikatan batin itu kuat dan dalam hingga kita bisa merasakannya. Lewat kepercayaan kita yang menyatu, kita bisa menciptakan realitas baru," kata Whitaker di pentas Oscar.
Whitaker yang disebut-sebut sebagai "aktornya aktor" itu membuktikan bahwa akting adalah kerja kesenian. Bukan jualan tampang—yang tak pernah menghasilkan Oscar.
(REUTERS/IMDB)
Sumber : Kompas, Rabu, 28 Februari 2007
Farid Husain, Di Belakang Perundingan Damai
Jun 5, 2009
Farid Husain, Di Belakang Perundingan Damai
Oleh : Abun Sanda
Pekan lalu, Farid Husain meluncurkan buku yang berisi pengalamannya dalam perundingan damai Gerakan Aceh Merdeka atau GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia. Buku itu diberinya judul To See The Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh. Diam-diam Farid memainkan peran penting di belakang layar perundingan tersebut.
Inspirasi menulis buku tersebut, kata Farid Husain (57), baru muncul setahun setelah proses perdamaian Aceh berlangsung. Salim Shahab dan EE Siadari menjadi editor untuk buku setebal 291 halaman tersebut. Lewat buku ini, pembaca bisa mengetahui bagaimana kepiawaian lobi dapat mencairkan perundingan yang nyaris buntu.
Kembali pada masa proses perundingan delegasi GAM dengan delegasi RI pada bulan Januari sampai sekitar Agustus 2005. Kota Helsinki, Finlandia, yang menjadi tempat perundingan, saat itu berudara dingin. Beberapa kali delegasi Indonesia memasuki Wisma Duta Indonesia dengan wajah letih dan raut wajah tak puas. Sementara Farid Husain yang "pelit" kata-kata memilih berjalan kaki menuju Hotel Hilton yang berlokasi di samping Wisma Duta.
Hanya beberapa menit Farid berada di hotel itu. Sosoknya lalu lenyap bersama taksi yang ditumpanginya. Hari-hari berikutnya ia nyaris selalu berlaku seperti itu. Suhu dingin Helsinki tak mampu mengurangi gerak pria bertubuh subur ini. Beberapa kali pula dia terlihat berbicara dengan delegasi inti atau tokoh teras GAM. Hal itu dilakukannya di lift, lobi hotel, tepi pantai, bahkan juga di toilet.
Di belakang layar
Peran Farid dalam perundingan tersebut tak bisa dianggap enteng. Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Bachtiar Abdullah dan Zaini Abdullah dari delegasi GAM pun mengakui hal itu. Farid bertugas melobi delegasi dan pejuang GAM. Dia pula yang menggalang dukungan dari sejumlah kalangan di Eropa yang bersimpati pada persoalan Aceh.
"Ah, kami kan memang berbagi tugas," ujar Farid merendah.
Lalu, lanjut dia, "Pak Hamid (Awaludin), Pak Sofyan (Djalil), Pak Usman (Basjah), dan Pak Puja (I Gusti Agung Wesaka Puja), masing-masing mempunyai peran besar, sesuai keahlian masing-masing. Kami kompak dan tidak merasa lebih terhadap yang lain. Ini juga karena ada dukungan kuat dari Presiden dan Wakil Presiden," kata Farid di Jakarta beberapa waktu lalu. Nama-nama yang disebut adalah tim perunding dari Indonesia.
Pembicaraan damai yang menghabiskan enam babak perundingan itu berlangsung alot. Perundingan yang difasilitasi mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, dimulai bulan Januari saat musim dingin dan berakhir Agustus pada musim panas. Hasil perundingan di Finlandia inilah yang membuat konflik bersenjata selama 30 tahun di Nanggroe Aceh Darussalam berakhir.
Nama Farid mendapat tempat tersendiri karena ia kemudian diketahui sebagai orang yang bermain di balik layar. Ia termasuk sosok yang berjasa menghentikan pertumpahan darah antarsaudara di bumi Aceh.
Ahli bedah
Farid adalah dokter ahli bedah yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan. Dia menuturkan, tak mudah menjadi orang yang harus muncul di atas dan di belakang panggung sekaligus. Dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki, dia merasa lebih pas berperan di belakang panggung sehingga bisa lebih berkonsentrasi dalam lobi.
"Apa kunci kepiawaiannya melobi?" Farid tertawa, ia kemudian menjawab secara agak berkelok bahwa keliru kalau ada yang menilai modal utama melobi adalah keluwesan bergaul, setia kawan, gampang bersimpati, pandai menjaga perasaan orang lain, piawai membangun suasana, dan sebagainya.
Bagi Farid, pelobi mesti membekali diri dengan pengetahuan yang luas, latar belakang, serta "kisah-kisah" tentang banyak orang penting. Dia, misalnya, tekun mempelajari latar belakang keluarga tokoh GAM. Ia berusaha keras masuk ke dalam lingkungan keluarga GAM. Kendati untuk itu ia harus masuk ke pelosok dusun dan hutan.
Ketekunan itu ia petik buahnya ketika bertemu tokoh teras GAM. Farid bisa dengan enteng menyapa tokoh teras GAM di luar negeri sambil berkata, "Saya sudah bertemu anak bungsu Anda di dusun ini. Ia baik-baik saja. Pesannya, tolong belikan dia beberapa baju kaus dan cokelat."
Tokoh GAM di luar negeri yang sudah sekian tahun tidak bertemu anaknya itu bisa meneteskan air mata mendengar kabar tentang buah hatinya. "Pertemanan" seperti ini kala itu memang sama sekali tidak membuat tokoh GAM melunak kepada RI. Akan tetapi, langgam tersebut membuat Farid memegang akses berbicara dari hati ke hati dengan tokoh-tokoh GAM. Jika perundingan buntu, Farid bisa masuk mencairkan suasana.
Talenta
Bakat lobi Farid sebenarnya sudah tampak sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas dan berlanjut saat dia belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Perselisihan atau pertikaian seakan segera "menguap" begitu Farid turun tangan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang mengenal dekat sejak 40 tahun silam, rupanya memanfaatkan kemampuan Farid tak hanya dalam proses perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam perundingan mendamaikan para pihak yang bertikai di Ambon dan Poso, Jusuf Kalla—yang ketika itu menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat—juga menggunakan tenaganya untuk mencairkan kebekuan para pihak yang bertikai. Dia memainkan peran penting di balik panggung yang membuat para pihak sepakat menghentikan genderang perang.
Untuk melahirkan perdamaian Aceh, Jusuf Kalla menugaskan Farid membangun jalan agar perundingan RI dengan GAM berjalan mulus. Farid mendekati dan bergaul dengan semua pengambil keputusan dan orang-orang berpengaruh di Aceh, baik dari kalangan GAM maupun non-GAM. Inilah yang membuat Farid terbang ke berbagai kota di dunia untuk membangun jalan itu.
Pergaulannya dengan orang-orang GAM membuat Farid bisa lebih leluasa masuk ke dalam lingkungan delegasi GAM ketika perundingan nyaris buntu. Ia bisa berbicara dengan para tokoh GAM di rumah orang-orang GAM, di jembatan, bahkan di bandara.
Namun, di balik keluwesan sikap ini, Farid teguh dalam sikap. "Pelobi memang mesti pintar bergaul, tetapi di balik itu dia juga harus memiliki prinsip dan integritas kuat agar tidak mudah terombang-ambing," ujarnya memberi alasan.
Terhadap keempat anaknya, Farid bersifat terbuka. Mungkin karena itulah, mereka mengikuti jejak belajar di fakultas kedokteran, di mana dua di antaranya sudah menyelesaikan kuliah.
"Saya tidak menyuruh, mereka sendiri yang ingin menjadi dokter. Mungkin biar seperti ayahnya, ya. Ha-ha-ha," tutur Farid.
Sumber : Kompas, Selasa, 24 April 2007
Oleh : Abun Sanda
Pekan lalu, Farid Husain meluncurkan buku yang berisi pengalamannya dalam perundingan damai Gerakan Aceh Merdeka atau GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia. Buku itu diberinya judul To See The Unseen, Kisah di Balik Damai di Aceh. Diam-diam Farid memainkan peran penting di belakang layar perundingan tersebut.
Inspirasi menulis buku tersebut, kata Farid Husain (57), baru muncul setahun setelah proses perdamaian Aceh berlangsung. Salim Shahab dan EE Siadari menjadi editor untuk buku setebal 291 halaman tersebut. Lewat buku ini, pembaca bisa mengetahui bagaimana kepiawaian lobi dapat mencairkan perundingan yang nyaris buntu.
Kembali pada masa proses perundingan delegasi GAM dengan delegasi RI pada bulan Januari sampai sekitar Agustus 2005. Kota Helsinki, Finlandia, yang menjadi tempat perundingan, saat itu berudara dingin. Beberapa kali delegasi Indonesia memasuki Wisma Duta Indonesia dengan wajah letih dan raut wajah tak puas. Sementara Farid Husain yang "pelit" kata-kata memilih berjalan kaki menuju Hotel Hilton yang berlokasi di samping Wisma Duta.
Hanya beberapa menit Farid berada di hotel itu. Sosoknya lalu lenyap bersama taksi yang ditumpanginya. Hari-hari berikutnya ia nyaris selalu berlaku seperti itu. Suhu dingin Helsinki tak mampu mengurangi gerak pria bertubuh subur ini. Beberapa kali pula dia terlihat berbicara dengan delegasi inti atau tokoh teras GAM. Hal itu dilakukannya di lift, lobi hotel, tepi pantai, bahkan juga di toilet.
Di belakang layar
Peran Farid dalam perundingan tersebut tak bisa dianggap enteng. Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Bachtiar Abdullah dan Zaini Abdullah dari delegasi GAM pun mengakui hal itu. Farid bertugas melobi delegasi dan pejuang GAM. Dia pula yang menggalang dukungan dari sejumlah kalangan di Eropa yang bersimpati pada persoalan Aceh.
"Ah, kami kan memang berbagi tugas," ujar Farid merendah.
Lalu, lanjut dia, "Pak Hamid (Awaludin), Pak Sofyan (Djalil), Pak Usman (Basjah), dan Pak Puja (I Gusti Agung Wesaka Puja), masing-masing mempunyai peran besar, sesuai keahlian masing-masing. Kami kompak dan tidak merasa lebih terhadap yang lain. Ini juga karena ada dukungan kuat dari Presiden dan Wakil Presiden," kata Farid di Jakarta beberapa waktu lalu. Nama-nama yang disebut adalah tim perunding dari Indonesia.
Pembicaraan damai yang menghabiskan enam babak perundingan itu berlangsung alot. Perundingan yang difasilitasi mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, dimulai bulan Januari saat musim dingin dan berakhir Agustus pada musim panas. Hasil perundingan di Finlandia inilah yang membuat konflik bersenjata selama 30 tahun di Nanggroe Aceh Darussalam berakhir.
Nama Farid mendapat tempat tersendiri karena ia kemudian diketahui sebagai orang yang bermain di balik layar. Ia termasuk sosok yang berjasa menghentikan pertumpahan darah antarsaudara di bumi Aceh.
Ahli bedah
Farid adalah dokter ahli bedah yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan. Dia menuturkan, tak mudah menjadi orang yang harus muncul di atas dan di belakang panggung sekaligus. Dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki, dia merasa lebih pas berperan di belakang panggung sehingga bisa lebih berkonsentrasi dalam lobi.
"Apa kunci kepiawaiannya melobi?" Farid tertawa, ia kemudian menjawab secara agak berkelok bahwa keliru kalau ada yang menilai modal utama melobi adalah keluwesan bergaul, setia kawan, gampang bersimpati, pandai menjaga perasaan orang lain, piawai membangun suasana, dan sebagainya.
Bagi Farid, pelobi mesti membekali diri dengan pengetahuan yang luas, latar belakang, serta "kisah-kisah" tentang banyak orang penting. Dia, misalnya, tekun mempelajari latar belakang keluarga tokoh GAM. Ia berusaha keras masuk ke dalam lingkungan keluarga GAM. Kendati untuk itu ia harus masuk ke pelosok dusun dan hutan.
Ketekunan itu ia petik buahnya ketika bertemu tokoh teras GAM. Farid bisa dengan enteng menyapa tokoh teras GAM di luar negeri sambil berkata, "Saya sudah bertemu anak bungsu Anda di dusun ini. Ia baik-baik saja. Pesannya, tolong belikan dia beberapa baju kaus dan cokelat."
Tokoh GAM di luar negeri yang sudah sekian tahun tidak bertemu anaknya itu bisa meneteskan air mata mendengar kabar tentang buah hatinya. "Pertemanan" seperti ini kala itu memang sama sekali tidak membuat tokoh GAM melunak kepada RI. Akan tetapi, langgam tersebut membuat Farid memegang akses berbicara dari hati ke hati dengan tokoh-tokoh GAM. Jika perundingan buntu, Farid bisa masuk mencairkan suasana.
Talenta
Bakat lobi Farid sebenarnya sudah tampak sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas dan berlanjut saat dia belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Perselisihan atau pertikaian seakan segera "menguap" begitu Farid turun tangan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang mengenal dekat sejak 40 tahun silam, rupanya memanfaatkan kemampuan Farid tak hanya dalam proses perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam perundingan mendamaikan para pihak yang bertikai di Ambon dan Poso, Jusuf Kalla—yang ketika itu menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat—juga menggunakan tenaganya untuk mencairkan kebekuan para pihak yang bertikai. Dia memainkan peran penting di balik panggung yang membuat para pihak sepakat menghentikan genderang perang.
Untuk melahirkan perdamaian Aceh, Jusuf Kalla menugaskan Farid membangun jalan agar perundingan RI dengan GAM berjalan mulus. Farid mendekati dan bergaul dengan semua pengambil keputusan dan orang-orang berpengaruh di Aceh, baik dari kalangan GAM maupun non-GAM. Inilah yang membuat Farid terbang ke berbagai kota di dunia untuk membangun jalan itu.
Pergaulannya dengan orang-orang GAM membuat Farid bisa lebih leluasa masuk ke dalam lingkungan delegasi GAM ketika perundingan nyaris buntu. Ia bisa berbicara dengan para tokoh GAM di rumah orang-orang GAM, di jembatan, bahkan di bandara.
Namun, di balik keluwesan sikap ini, Farid teguh dalam sikap. "Pelobi memang mesti pintar bergaul, tetapi di balik itu dia juga harus memiliki prinsip dan integritas kuat agar tidak mudah terombang-ambing," ujarnya memberi alasan.
Terhadap keempat anaknya, Farid bersifat terbuka. Mungkin karena itulah, mereka mengikuti jejak belajar di fakultas kedokteran, di mana dua di antaranya sudah menyelesaikan kuliah.
"Saya tidak menyuruh, mereka sendiri yang ingin menjadi dokter. Mungkin biar seperti ayahnya, ya. Ha-ha-ha," tutur Farid.
Sumber : Kompas, Selasa, 24 April 2007
Farid Firman Syah : Anak Pecatur Lapak yang Menjadi Juara Dunia
Jun 4, 2009
Anak Pecatur Lapak yang Menjadi Juara Dunia
Oleh : Pepih Nugraha
"Saya suka Pak SBY karena dia gagah." Itu penilaian Farid mengenai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama lengkapnya Farid Firman Syah. Dialah juara dunia catur pelajar kelompok usia 15 di Halkidiki, Yunani.
Kami menemuinya, Kamis (10/5) di Kantor PB Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Senayan, Jakarta, satu jam sebelum ia ke Istana. Bertemu orang nomor satu di negeri ini menjadi kebanggaan sebagian orang, termasuk Farid, siswa kelas II SMP PGRI Rawalumbu Bekasi.
"Mimpi pun tidak bakal bertemu Pak SBY, saya cuma melihatnya dari teve," katanya. Saat itu Farid mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan celana jins. Mata kanannya agak merah. Kena angin, katanya.
"Mau ketemu Presiden kok pakai jins. Kami belikan dulu celananya," salah seorang pengurus Percasi mengingatkan. Tetapi, ibunda Farid, Amaroh, meminta izin untuk membawa Farid berganti pakaian. "Saya bawakan dia baju resmi dari Bekasi," katanya.
Tak sampai 10 menit, Farid sudah mengenakan setelan jas hitam, siap berangkat ke Kantor Menpora sebelum bersama Menpora Adhyaksa Dault diantar ke Istana. Hari itu sang juara dunia diantar lengkap sang ibu, Amaroh; ayah, Abrori; adik, Faria Desi Arianda; dan pengurus Percasi Bekasi. Mereka makan siang bersama Presiden dan Wakil Presiden.
Farid, yang 26 November 2007 nanti genap berusia 14 tahun, adalah satu dari tiga juara dunia catur yang dimiliki Indonesia. Sebelumnya ada Irwin Irnandi juara dunia kelompok umur (KU) 10 dan Aston Taminsyah juara dunia KU 9. Farid juara dunia catur pelajar KU 15. Memang ada perbedaan dengan Irwin dan Aston yang juara dunia tanpa embel-embel "pelajar".
"Tetapi, meski juara dunia pelajar, lawan-lawan yang dikalahkan Farid di Halkidiki memiliki elo rating tinggi," kata Sebastian Simanjuntak, manajer merangkap pelatih yang menemani Farid ke Halkidiki.
PB Percasi kali ini tak hanya mengirim Farid. Ada Masruri Rahman dan Chelsie Monica Sihite. Rahman mampu menduduki peringkat ketiga di KU 11, di bawah Yuksel Atila Koksel dari Turki dengan 7,5 poin, dan Maxim Lugovskoy dari Rusia dengan 7 poin.
Anak sopir bajaj ini juga mengumpulkan 7 poin, tetapi kalah dalam nilai tie-break yang dihitung berdasarkan hasil head to head, di mana Masruri dikalahkan Maxim pada babak kedua. Satu lagi kekalahan Masruri diderita dari sang juara Koksel.
Masruri juga diundang ke Istana bersama Farid. Dia sempat nyaris ditolak protokol karena mengenakan sandal jepit!
Pecatur lain, Chelsie Monica Sihite, bermain di KU 13 putri dan mampu menduduki peringkat keenam. Chelsie yang asal Balikpapan mencetak 5,5 angka. Di kelompok ini gelar juara disabet Baciu Diana dari Moldova dengan 7,5 poin.
Bagaimana dengan prestasi Farid, bocah yang bergelar master nasional sejak usia 12? Boleh dibilang luar biasa sebab baru dialah yang melakukannya.
Murid Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) itu sudah memastikan diri menjadi juara dunia satu babak sebelum babak terakhir. Ini karena angka yang dia kumpulkan tak mungkin dilampaui peserta lain sekalipun ia kalah pada babak terakhir. Hebatnya, ia justru menggilas musuhnya tanpa ampun di babak terakhir itu.
Simanjuntak menggambarkan bagaimana tercekamnya kubu Indonesia saat harus menghadapi babak delapan. Bila Farid sampai kalah, hapuslah harapannya sebagai juara dunia karena mungkin ia kalah head to head atas saingan terdekatnya, pecatur Yunani. Ini suasana yang menegangkan dan bikin pikiran buyar. "Tetapi saya main plong saja," ungkap Farid.
Alhasil, setelah menyelesaikan semua sembilan babak, Farid unggul satu setengah angka dari peringkat kedua dan ketiga, yaitu Mustafa Yilmaz dari Turki dan Ivan Aldokhin dari Rusia, yang membukukan 7 angka. Ia mencetak delapan kemenangan dan hanya sekali seri. Padahal, di KU 15 tahun ini terdapat 56 pecatur dari 14 negara!
Telat
Farid termasuk telat mengenal catur, yakni saat usia delapan tahun pada tahun 2001. Bandingkan dengan GM Susanto Megaranto yang bermain catur sejak usia lima tahun. Ia baru dimasukkan ayahnya, Abrori, setahun kemudian. Sang ayahlah yang mulai mengajarkan dasar- dasar catur kepadanya.
"Saya ini sekadar pecatur lapak. Tetapi, saat saya mau menyekolahkan Farid di sekolah catur Pak Utut, saya ragu karena gedungnya bagus, bayarannya mahal, Rp 75.000 sebulan. Beruntung saya dapat diskon 10 persen, tetapi itu pun saya harus puasa," kata Abrori, pedagang rokok asal Tegal yang mangkal 24 jam di depan SCUA, Jalan Siliwangi, Bekasi.
Abrori dan istrinya, Amaroh, yang asal Kendal, mendukung sepenuhnya Farid bermain catur. Ia berharap suatu saat anaknya dapat meraih gelar grand master, gelar tertinggi dalam catur. Simanjuntak tak meragukan tekad Farid yang ingin meraih gelar itu. Tetapi, mantan pecatur nasional ini memperkirakan Farid baru bisa meraih gelar terhormat itu empat atau lima tahun lagi. "Ia masih harus dibekali pengetahuan catur yang matang," ujarnya.
Farid berterima kasih kepada kepala sekolahnya, Gaya Sutardi, yang memberikan kompensasi waktu untuk belajar catur. Gemblengan terhadap Farid memang berat. Setiap hari ia harus belajar teori dan praktik bermain catur mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Ia, antara lain, dilatih FM Maksum Firdaus, GM Edie Handoko, GM Utut Adianto, dan MN Aji Hartono. Simanjuntak yang juga melatihnya berkomentar, "Farid punya talenta luar biasa, mungkin akan seperti Susanto."
Susanto Megaranto adalah pecatur idola Farid, selain Utut. Bahkan, ia mengaku motivasinya ingin menjadi pecatur sehebat Susanto. "Ia (Susanto) punya mobil dan rumah dari main catur. Kalau saya ingin membantu orangtua," katanya.
Tentang membantu orangtua, Farid mungkin telah melakukannya. Saat pertama kali bermain di luar negeri, yakni Thailand, dan meraih medali perak kejuaraan beregu ASEAN, Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih menghadiahinya Rp 10 juta. Menurut Abrori, uang itu ia belikan laptop yang oleh Kristianus Liem dari PB Percasi diisi berbagai program dan database catur. "Setelah punya laptop, kemajuan anak saya meningkat pesat," tutur Abrori.
Atas prestasinya menjadi juara dunia, saat diundang ke Istana, Presiden memberi Farid uang Rp 25 juta, plus dari Wapres Rp 10 juta. Oleh PB Percasi, Farid diproyeksikan meraih grand master. Ia, misalnya, akan menjalani delapan turnamen di Eropa pada Juni-Juli mendatang.
Soal target tersebut, Farid berkomentar, "Insya Allah saya bisa."
Sumber : Kompas, Senin, 14 Mei 2007
Oleh : Pepih Nugraha
"Saya suka Pak SBY karena dia gagah." Itu penilaian Farid mengenai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama lengkapnya Farid Firman Syah. Dialah juara dunia catur pelajar kelompok usia 15 di Halkidiki, Yunani.
Kami menemuinya, Kamis (10/5) di Kantor PB Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Senayan, Jakarta, satu jam sebelum ia ke Istana. Bertemu orang nomor satu di negeri ini menjadi kebanggaan sebagian orang, termasuk Farid, siswa kelas II SMP PGRI Rawalumbu Bekasi.
"Mimpi pun tidak bakal bertemu Pak SBY, saya cuma melihatnya dari teve," katanya. Saat itu Farid mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan celana jins. Mata kanannya agak merah. Kena angin, katanya.
"Mau ketemu Presiden kok pakai jins. Kami belikan dulu celananya," salah seorang pengurus Percasi mengingatkan. Tetapi, ibunda Farid, Amaroh, meminta izin untuk membawa Farid berganti pakaian. "Saya bawakan dia baju resmi dari Bekasi," katanya.
Tak sampai 10 menit, Farid sudah mengenakan setelan jas hitam, siap berangkat ke Kantor Menpora sebelum bersama Menpora Adhyaksa Dault diantar ke Istana. Hari itu sang juara dunia diantar lengkap sang ibu, Amaroh; ayah, Abrori; adik, Faria Desi Arianda; dan pengurus Percasi Bekasi. Mereka makan siang bersama Presiden dan Wakil Presiden.
Farid, yang 26 November 2007 nanti genap berusia 14 tahun, adalah satu dari tiga juara dunia catur yang dimiliki Indonesia. Sebelumnya ada Irwin Irnandi juara dunia kelompok umur (KU) 10 dan Aston Taminsyah juara dunia KU 9. Farid juara dunia catur pelajar KU 15. Memang ada perbedaan dengan Irwin dan Aston yang juara dunia tanpa embel-embel "pelajar".
"Tetapi, meski juara dunia pelajar, lawan-lawan yang dikalahkan Farid di Halkidiki memiliki elo rating tinggi," kata Sebastian Simanjuntak, manajer merangkap pelatih yang menemani Farid ke Halkidiki.
PB Percasi kali ini tak hanya mengirim Farid. Ada Masruri Rahman dan Chelsie Monica Sihite. Rahman mampu menduduki peringkat ketiga di KU 11, di bawah Yuksel Atila Koksel dari Turki dengan 7,5 poin, dan Maxim Lugovskoy dari Rusia dengan 7 poin.
Anak sopir bajaj ini juga mengumpulkan 7 poin, tetapi kalah dalam nilai tie-break yang dihitung berdasarkan hasil head to head, di mana Masruri dikalahkan Maxim pada babak kedua. Satu lagi kekalahan Masruri diderita dari sang juara Koksel.
Masruri juga diundang ke Istana bersama Farid. Dia sempat nyaris ditolak protokol karena mengenakan sandal jepit!
Pecatur lain, Chelsie Monica Sihite, bermain di KU 13 putri dan mampu menduduki peringkat keenam. Chelsie yang asal Balikpapan mencetak 5,5 angka. Di kelompok ini gelar juara disabet Baciu Diana dari Moldova dengan 7,5 poin.
Bagaimana dengan prestasi Farid, bocah yang bergelar master nasional sejak usia 12? Boleh dibilang luar biasa sebab baru dialah yang melakukannya.
Murid Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) itu sudah memastikan diri menjadi juara dunia satu babak sebelum babak terakhir. Ini karena angka yang dia kumpulkan tak mungkin dilampaui peserta lain sekalipun ia kalah pada babak terakhir. Hebatnya, ia justru menggilas musuhnya tanpa ampun di babak terakhir itu.
Simanjuntak menggambarkan bagaimana tercekamnya kubu Indonesia saat harus menghadapi babak delapan. Bila Farid sampai kalah, hapuslah harapannya sebagai juara dunia karena mungkin ia kalah head to head atas saingan terdekatnya, pecatur Yunani. Ini suasana yang menegangkan dan bikin pikiran buyar. "Tetapi saya main plong saja," ungkap Farid.
Alhasil, setelah menyelesaikan semua sembilan babak, Farid unggul satu setengah angka dari peringkat kedua dan ketiga, yaitu Mustafa Yilmaz dari Turki dan Ivan Aldokhin dari Rusia, yang membukukan 7 angka. Ia mencetak delapan kemenangan dan hanya sekali seri. Padahal, di KU 15 tahun ini terdapat 56 pecatur dari 14 negara!
Telat
Farid termasuk telat mengenal catur, yakni saat usia delapan tahun pada tahun 2001. Bandingkan dengan GM Susanto Megaranto yang bermain catur sejak usia lima tahun. Ia baru dimasukkan ayahnya, Abrori, setahun kemudian. Sang ayahlah yang mulai mengajarkan dasar- dasar catur kepadanya.
"Saya ini sekadar pecatur lapak. Tetapi, saat saya mau menyekolahkan Farid di sekolah catur Pak Utut, saya ragu karena gedungnya bagus, bayarannya mahal, Rp 75.000 sebulan. Beruntung saya dapat diskon 10 persen, tetapi itu pun saya harus puasa," kata Abrori, pedagang rokok asal Tegal yang mangkal 24 jam di depan SCUA, Jalan Siliwangi, Bekasi.
Abrori dan istrinya, Amaroh, yang asal Kendal, mendukung sepenuhnya Farid bermain catur. Ia berharap suatu saat anaknya dapat meraih gelar grand master, gelar tertinggi dalam catur. Simanjuntak tak meragukan tekad Farid yang ingin meraih gelar itu. Tetapi, mantan pecatur nasional ini memperkirakan Farid baru bisa meraih gelar terhormat itu empat atau lima tahun lagi. "Ia masih harus dibekali pengetahuan catur yang matang," ujarnya.
Farid berterima kasih kepada kepala sekolahnya, Gaya Sutardi, yang memberikan kompensasi waktu untuk belajar catur. Gemblengan terhadap Farid memang berat. Setiap hari ia harus belajar teori dan praktik bermain catur mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Ia, antara lain, dilatih FM Maksum Firdaus, GM Edie Handoko, GM Utut Adianto, dan MN Aji Hartono. Simanjuntak yang juga melatihnya berkomentar, "Farid punya talenta luar biasa, mungkin akan seperti Susanto."
Susanto Megaranto adalah pecatur idola Farid, selain Utut. Bahkan, ia mengaku motivasinya ingin menjadi pecatur sehebat Susanto. "Ia (Susanto) punya mobil dan rumah dari main catur. Kalau saya ingin membantu orangtua," katanya.
Tentang membantu orangtua, Farid mungkin telah melakukannya. Saat pertama kali bermain di luar negeri, yakni Thailand, dan meraih medali perak kejuaraan beregu ASEAN, Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih menghadiahinya Rp 10 juta. Menurut Abrori, uang itu ia belikan laptop yang oleh Kristianus Liem dari PB Percasi diisi berbagai program dan database catur. "Setelah punya laptop, kemajuan anak saya meningkat pesat," tutur Abrori.
Atas prestasinya menjadi juara dunia, saat diundang ke Istana, Presiden memberi Farid uang Rp 25 juta, plus dari Wapres Rp 10 juta. Oleh PB Percasi, Farid diproyeksikan meraih grand master. Ia, misalnya, akan menjalani delapan turnamen di Eropa pada Juni-Juli mendatang.
Soal target tersebut, Farid berkomentar, "Insya Allah saya bisa."
Sumber : Kompas, Senin, 14 Mei 2007
Fergie, Sebuah Misteri
Jun 1, 2009
Fergie, Sebuah Misteri
Oleh : Edna C Pattisina
Dalam pembicaraan via telepon, Fergie, salah satu anggota Black Eyed Peas atau BEP, menanyakan kondisi udara di Jakarta sehubungan dengan konser mereka pada Sabtu (20/10) mendatang. Begitu diberi tahu bahwa udara sangat panas di sini, ia menjawab, "Hmmm..., then I thought, I wont be wearin’ much...."
Itulah sensualitas yang memicu munculnya istilah Fergalicious. Kata ini selain diambil dari judul salah satu lagu di album solonya, The Dutchess (2006), juga berarti berasal dari gabungan Fergie dan Delicious. Ah....
Namun, jangan terlalu berharap. Fergie selalu menjadi misteri. Ia adalah kontradiksi. Suatu saat ia bisa muncul menggoda dengan sensualitas, sambil meniupkan ciuman perlahan dengan mata yang menyorot tajam. Berikutnya, ia sudah meloncat-loncat dengan topi, sepatu olahraga, dan celana lapangan, tidak kalah sigap dengan tiga pria di BEP.
Lebur dalam Black Eyed Peas, bukan berarti Fergie kehilangan dirinya. Dari album solonya, The Dutchess (2006), tiga lagu, yaitu London Bridge, Glamorous, dan Big Girls Don’t Cry, menduduki nomor satu di tangga lagu Billboard. Baru-baru ini ia dinobatkan sebagai Best Female Artist oleh MTV Video Music Award 2007. Posenya yang provokatif di sampul majalah Rolling Stone Oktober tahun lalu—dengan bikini yang memamerkan perut super rata dan dada yang seksi—dan menjadi pengantar tulisan lima halaman tentang sosok yang menjadi enigma ini.
Bersama will.i.am, apl.de.ap, dan Taboo (begitu mereka menyebut dirinya), Fergie dengan BEP berhasil menjual 27 juta album di seluruh dunia sejak berdirinya tahun 1995. Album Elephunk (2003) membuat grup asal Los Angeles, Amerika Serikat, ini meroket dengan beberapa hitnya, seperti Where is the Love dan Shut Up. Album berikutnya, Monkey Business, memperkuat kehadiran mereka, terutama dengan beberapa lagu, seperti My Humps dan Pump It, yang menjadi lagu kebangsaan di lantai-lantai dansa.
Di tangan BEP, hip-hop yang ritmik dengan beat khas tidak lagi menjadi subkultur perlawanan berkonteks sosial ekonomi kaum Afro-Amerika. Padahal, latar belakang kehidupan masing-masing personelnya juga bukannya mudah. Will.i.am (32), jangkar dari kelompok ini yang bernama lengkap William James Adams Jr, harus menghidupi keluarganya sejak remaja. Apl.de.ap (33) alias Allan Pineda Lindo ditinggal ayahnya, tentara AS di Filipina, begitu ia lahir. Sementara pergaulan Taboo (32) atau Jaime Luis Gómez semasa remaja membuatnya memiliki anak pada usia 17 tahun.
Kolaborasi
BEP merayakan kegembiraan dengan musiknya. Kolaborasi BEP dengan James Brown, Sting, Justin Timberlake, Macy Gray, hingga pemusik Hawaiian, Jack Johnson, yang merentangkan musik BEP dari funk, pop, RnB, hingga musik tradisional. Inilah realita industri musik sebagaimana dikatakan Will.i.am dan website BEP: "Kami cuma ingin bersenang-senang dengan segala jenis musik, itu resep keberhasilan BEP."
Bagi Fergie, hip-hop adalah keramaian. "Tempat saya lahir, Los Angeles, adalah tempat hip-hop lahir, dan bagi saya hip-hop selalu membuat orang berkumpul dan selalu besar...," kata gadis yang lahir 27 Maret 1975 dengan nama Stacy Ann Ferguson ini.
Bermula dengan mengisi suara perempuan untuk lagu Shut Up tahun 2003, Fergie lalu berteman dengan para personel grup, ikut membantu empat lagu lagi, baru diajak bergabung dalam BEP. Entah karena berhasil menangkap selera pasar, atau karena kehadiran Fergie, atau Fergie-lah selera pasar itu sendiri, sejak itu BEP terus menanjak.
Tentang posisinya sebagai satu-satunya perempuan, Fergie mengatakan kalau dia merasa seru berada di dalam pergaulan mereka. Apalagi, semua lagu BEP itu selalu dibuat keroyokan, masing-masing menyumbang lirik dan musik bersama-sama. Yang paling penting bagi Fergie, mereka selalu jujur satu sama lain. Kalau ada anggota grup yang sedang ada masalah, yang lain akan segera membantu. "Berbeda dengan grup yang perempuan semua, biasanya lebih sensitif," katanya.
Fergie bergabung dalam Wild Orchid—yang seluruh personelnya perempuan—sejak tahun 1996 sampai awal 2003. Menurunnya pamor grup itu pada awal tahun 2000-an membuatnya stres dan lari ke obat terlarang. Hidupnya sempat berantakan selama setahun, mulai dari ketergantungan obat hingga keluar masuk klub disko dari tengah malam hingga tengah hari. Penagih utang pun mengejarnya. Selama kurang lebih setahun, ia kerja serabutan dan mulai mencari musisi lain untuk berkolaborasi. Tepat pada saat itu, ia bertemu will.i.am.
Tentang dirinya, Fergie banyak mengekspresikan di album solonya, The Dutchess. Dalam album yang juga diproduseri will.i.am itu, ia banyak menampilkan lagu- lagu balada yang sangat jauh berbeda dengan hip-hop. "Banyak hal yang ingin aku ekspresikan, yang bisa dilakukan dengan lagu- lagu balada yang kayaknya enggak cocok deh kalau dibikin di albumnya BEP yang hip-hop," katanya.
Lagu-lagu dalam The Dutchess —yang menurut Fergie namanya diinspirasikan dari nama anggota kerajaan Inggris, Sarah Ferguson —bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya pada masa lalu. Mulai dari hubungan dengan pria dan tentang penggunaan obat terlarang yang pernah menandai hidupnya. Simak saja lirik lagu Losing My Ground.
"Aku ingin cerita, bagaimana aku berjuang mati-matian untuk bebas dan berjalan tegak meninggalkan itu semua," kata Fergie yang menindik alis kanannya sebagai tanda kebebasan dari obat bius. "Menggunakan obat bius rasanya seperti selalu ada malaikat dan setan yang berkelahi di kepalaku, dan yang menang selalu setannya," cerita Fergie.
Dalam wawancara dengan Rolling Stone, Fergie menyatakan kalau membuat album musik adalah obsesinya sejak berusia tujuh tahun. Saat itu, ibunya mengizinkan, dengan syarat, nilai sekolahnya harus bagus. Maklum, ayahnya wakil kepala sekolah dan ibunya juga guru. Ia pun meraih sederetan nilai A.
Ia memulai karier di industri hiburan sejak usia tujuh tahun. Saat itu ia muncul di program televisi Kids Incorporated. Ia juga sempat mengisi suara untuk tokoh Sally Brown dalam serial Charlie Brown. Selain sempat menjadi pemeran pembantu di film Poseidon (2006), aktingnya juga bisa disaksikan di Grindhouse (2007).
Eksistensinya telah diakui di atas panggung dunia. Saat diberi ucapan selamat atas keberhasilan meraih Best Female Artist MTV Video Music Award 2007 di Amerika Serikat, awal September 2007, Fergie berteriak senang. "Ah, iya... haduh, saya senang sekali, sudah bertahun-tahun hidup saya investasikan di musik dan itu sebuah penghargaan selalu bikin saya bahagia sekali," katanya.
Sumber : Kompas, Kamis 14 Oktober 2007
Oleh : Edna C Pattisina
Dalam pembicaraan via telepon, Fergie, salah satu anggota Black Eyed Peas atau BEP, menanyakan kondisi udara di Jakarta sehubungan dengan konser mereka pada Sabtu (20/10) mendatang. Begitu diberi tahu bahwa udara sangat panas di sini, ia menjawab, "Hmmm..., then I thought, I wont be wearin’ much...."
Itulah sensualitas yang memicu munculnya istilah Fergalicious. Kata ini selain diambil dari judul salah satu lagu di album solonya, The Dutchess (2006), juga berarti berasal dari gabungan Fergie dan Delicious. Ah....
Namun, jangan terlalu berharap. Fergie selalu menjadi misteri. Ia adalah kontradiksi. Suatu saat ia bisa muncul menggoda dengan sensualitas, sambil meniupkan ciuman perlahan dengan mata yang menyorot tajam. Berikutnya, ia sudah meloncat-loncat dengan topi, sepatu olahraga, dan celana lapangan, tidak kalah sigap dengan tiga pria di BEP.
Lebur dalam Black Eyed Peas, bukan berarti Fergie kehilangan dirinya. Dari album solonya, The Dutchess (2006), tiga lagu, yaitu London Bridge, Glamorous, dan Big Girls Don’t Cry, menduduki nomor satu di tangga lagu Billboard. Baru-baru ini ia dinobatkan sebagai Best Female Artist oleh MTV Video Music Award 2007. Posenya yang provokatif di sampul majalah Rolling Stone Oktober tahun lalu—dengan bikini yang memamerkan perut super rata dan dada yang seksi—dan menjadi pengantar tulisan lima halaman tentang sosok yang menjadi enigma ini.
Bersama will.i.am, apl.de.ap, dan Taboo (begitu mereka menyebut dirinya), Fergie dengan BEP berhasil menjual 27 juta album di seluruh dunia sejak berdirinya tahun 1995. Album Elephunk (2003) membuat grup asal Los Angeles, Amerika Serikat, ini meroket dengan beberapa hitnya, seperti Where is the Love dan Shut Up. Album berikutnya, Monkey Business, memperkuat kehadiran mereka, terutama dengan beberapa lagu, seperti My Humps dan Pump It, yang menjadi lagu kebangsaan di lantai-lantai dansa.
Di tangan BEP, hip-hop yang ritmik dengan beat khas tidak lagi menjadi subkultur perlawanan berkonteks sosial ekonomi kaum Afro-Amerika. Padahal, latar belakang kehidupan masing-masing personelnya juga bukannya mudah. Will.i.am (32), jangkar dari kelompok ini yang bernama lengkap William James Adams Jr, harus menghidupi keluarganya sejak remaja. Apl.de.ap (33) alias Allan Pineda Lindo ditinggal ayahnya, tentara AS di Filipina, begitu ia lahir. Sementara pergaulan Taboo (32) atau Jaime Luis Gómez semasa remaja membuatnya memiliki anak pada usia 17 tahun.
Kolaborasi
BEP merayakan kegembiraan dengan musiknya. Kolaborasi BEP dengan James Brown, Sting, Justin Timberlake, Macy Gray, hingga pemusik Hawaiian, Jack Johnson, yang merentangkan musik BEP dari funk, pop, RnB, hingga musik tradisional. Inilah realita industri musik sebagaimana dikatakan Will.i.am dan website BEP: "Kami cuma ingin bersenang-senang dengan segala jenis musik, itu resep keberhasilan BEP."
Bagi Fergie, hip-hop adalah keramaian. "Tempat saya lahir, Los Angeles, adalah tempat hip-hop lahir, dan bagi saya hip-hop selalu membuat orang berkumpul dan selalu besar...," kata gadis yang lahir 27 Maret 1975 dengan nama Stacy Ann Ferguson ini.
Bermula dengan mengisi suara perempuan untuk lagu Shut Up tahun 2003, Fergie lalu berteman dengan para personel grup, ikut membantu empat lagu lagi, baru diajak bergabung dalam BEP. Entah karena berhasil menangkap selera pasar, atau karena kehadiran Fergie, atau Fergie-lah selera pasar itu sendiri, sejak itu BEP terus menanjak.
Tentang posisinya sebagai satu-satunya perempuan, Fergie mengatakan kalau dia merasa seru berada di dalam pergaulan mereka. Apalagi, semua lagu BEP itu selalu dibuat keroyokan, masing-masing menyumbang lirik dan musik bersama-sama. Yang paling penting bagi Fergie, mereka selalu jujur satu sama lain. Kalau ada anggota grup yang sedang ada masalah, yang lain akan segera membantu. "Berbeda dengan grup yang perempuan semua, biasanya lebih sensitif," katanya.
Fergie bergabung dalam Wild Orchid—yang seluruh personelnya perempuan—sejak tahun 1996 sampai awal 2003. Menurunnya pamor grup itu pada awal tahun 2000-an membuatnya stres dan lari ke obat terlarang. Hidupnya sempat berantakan selama setahun, mulai dari ketergantungan obat hingga keluar masuk klub disko dari tengah malam hingga tengah hari. Penagih utang pun mengejarnya. Selama kurang lebih setahun, ia kerja serabutan dan mulai mencari musisi lain untuk berkolaborasi. Tepat pada saat itu, ia bertemu will.i.am.
Tentang dirinya, Fergie banyak mengekspresikan di album solonya, The Dutchess. Dalam album yang juga diproduseri will.i.am itu, ia banyak menampilkan lagu- lagu balada yang sangat jauh berbeda dengan hip-hop. "Banyak hal yang ingin aku ekspresikan, yang bisa dilakukan dengan lagu- lagu balada yang kayaknya enggak cocok deh kalau dibikin di albumnya BEP yang hip-hop," katanya.
Lagu-lagu dalam The Dutchess —yang menurut Fergie namanya diinspirasikan dari nama anggota kerajaan Inggris, Sarah Ferguson —bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya pada masa lalu. Mulai dari hubungan dengan pria dan tentang penggunaan obat terlarang yang pernah menandai hidupnya. Simak saja lirik lagu Losing My Ground.
"Aku ingin cerita, bagaimana aku berjuang mati-matian untuk bebas dan berjalan tegak meninggalkan itu semua," kata Fergie yang menindik alis kanannya sebagai tanda kebebasan dari obat bius. "Menggunakan obat bius rasanya seperti selalu ada malaikat dan setan yang berkelahi di kepalaku, dan yang menang selalu setannya," cerita Fergie.
Dalam wawancara dengan Rolling Stone, Fergie menyatakan kalau membuat album musik adalah obsesinya sejak berusia tujuh tahun. Saat itu, ibunya mengizinkan, dengan syarat, nilai sekolahnya harus bagus. Maklum, ayahnya wakil kepala sekolah dan ibunya juga guru. Ia pun meraih sederetan nilai A.
Ia memulai karier di industri hiburan sejak usia tujuh tahun. Saat itu ia muncul di program televisi Kids Incorporated. Ia juga sempat mengisi suara untuk tokoh Sally Brown dalam serial Charlie Brown. Selain sempat menjadi pemeran pembantu di film Poseidon (2006), aktingnya juga bisa disaksikan di Grindhouse (2007).
Eksistensinya telah diakui di atas panggung dunia. Saat diberi ucapan selamat atas keberhasilan meraih Best Female Artist MTV Video Music Award 2007 di Amerika Serikat, awal September 2007, Fergie berteriak senang. "Ah, iya... haduh, saya senang sekali, sudah bertahun-tahun hidup saya investasikan di musik dan itu sebuah penghargaan selalu bikin saya bahagia sekali," katanya.
Sumber : Kompas, Kamis 14 Oktober 2007
Frans Hendra Winarta : Frans Hendra, Pendampingan untuk Kaum Papa
May 31, 2009
Frans Hendra, Pendampingan untuk Kaum Papa
Oleh : Yulvianus Harjono
Advokat senior Frans Hendra Winarta berbangga hati. Jumat (28/9) lalu ia berhasil lulus ujian program doktor pada program pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, dengan nilai cumlaude. Istimewanya, gelar itu diperolehnya pada usia 64 tahun. Hal yang tak lazim pada penekun profesi advokat.
Tampil di hadapan para penguji yang mayoritas rekan sesama praktisi hukum dan sebagian lebih muda darinya, seperti Prof Romli Atmasasmita, Prof Andi Hamzah, dan Prof Indrianto Seno Adji, ia menyampaikan pemikiran dalam disertasi berjudul Hak Konstitusional Fakir Miskin Memperoleh Bantuan Hukum dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional.
Disertasi itu berangkat dari kegalauan dan keresahannya bahwa ada yang salah dengan konsep bantuan hukum yang dijalankan negara ini, terutama pada era pascareformasi. Ini mengingat, dalam kondisi faktual maupun yang teramati lewat media, tak sedikit kaum papa yang hingga kini masih termarjinalkan secara hukum. Mereka tak tersentuh bantuan hukum ataupun sekadar penyuluhan.
"Jumlah kaum miskin di Indonesia sangat banyak. Pada saat ini, meski katanya berkurang, jumlahnya kurang lebih 37,17 juta. Dalam kondisi yang demikian besar, jika tetap mengandalkan pola bantuan hukum yang ada, yaitu struktural, tak akan sampai ke desa-desa. Padahal, penduduk di desa mencapai 63 persen lebih," ungkapnya.
Agar pembelaan kaum miskin lebih efektif, sudah saatnya Indonesia menerapkan pola bantuan hukum responsif. Pemerintah ditempatkan pada posisi yang lebih aktif; konsekuensinya, penyediaan fasilitas dan anggaran menjadi tanggung jawab pemerintah. India, Filipina, dan Amerika Serikat berhasil menerapkan pola ini dan mendorong iklim perlindungan hukum yang baik bagi warganya.
Menurut dia, sulit mengandalkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum sebagai ujung tombak perlindungan bantuan hukum bagi kaum papa. Apalagi pada praktiknya, bantuan hukum bagi kaum papa terbatas pada hak-hak sipil dan politik saja. "Yang terjadi saat ini umumnya penolakan-penolakan kasus, terutama pada individu," kata Frans.
Terinspirasi film
Dilahirkan di Bandung, 17 September 1943, pria yang aktif di berbagai organisasi profesi dan akademik ini tertarik bidang hukum sejak menginjak usia sekolah menengah. Ketertarikan ini kian bertambah setelah menyaksikan film Too Kill a Mockingbird (1962) yang dibintangi Gregory Peck.
Film ini berkisah tentang perjuangan advokat Atticus Finch membela seorang negro di tengah kuatnya praktik perbudakan (apartheid). "Kisah ini the gloriest age of trial lawyers (kejayaan pengacara). Di situlah law enforcement (penegakan hukum) dan justice for all (keadilan untuk semua) dimunculkan tanpa pandang bulu," paparnya.
Upaya anggota Komisi Hukum Nasional ini dalam mewujudkan cita-citanya sebagai advokat tak mudah. Seusai menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, pada 1970, ia "dipaksa" langsung bekerja seadanya menyusul meninggalnya salah satu orangtuanya.
Tahun 1979 ia mengikuti kursus notariat untuk memperdalam keilmuannya pada praktik hukum bidang perdata. Lalu pada 1981, ia memberanikan diri mendirikan firma hukum Frans Winarta & Partners. Sejak itu kariernya sebagai pengacara (advokat) melesat. Pada 1990 ia ditunjuk sebagai Ketua Hubungan Internasional Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) sekaligus aktivis Lembaga Pembela HAM.
Pada masa ini ia kerap menangani kasus-kasus para aktivis. Salah satunya, kasus penghinaan terhadap Presiden (Soeharto) yang dilakukan seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada asal Timor Timur. Di situ ia merasakan kuatnya pengaruh kekuasaan dalam politik.
Tahun-tahun berikutnya ia beralih pada kompetensi hukum bisnis. Frans sering ditunjuk sebagai arbiter yang terdaftar dalam International Chamber of Commerce (ICC). Tahun 2005 pada jurnal Asialaw, ia dinobatkan sebagai salah satu pengacara bisnis terkemuka. Kariernya tak berhenti di sini. Pada 2007 ia direkomendasikan sebagai Asia-Pacific Focused Lawyer in Intelectual Property.
Diberondong peluru
Lika-liku karier diakuinya tak selalu menyenangkan. Selama melakukan pembelaan atau pendampingan terhadap klien, intimidasi dan godaan dari pihak lain berjalan seimbang, yang mencoba mengooptasi idealismenya sebagai advokat. Terparah terjadi akhir 2001 ketika kantornya diberondong peluru oleh segerombolan orang tak dikenal.
Beruntung tak ada yang terluka, apalagi terbunuh. Upaya intimidasi itu diduga terkait dengan kasus lelang yang ditanganinya. Atas kejadian itu, ia mengaku tak lagi gentar dengan berbagai intimidasi. Ia berkata singkat, "Itulah hidup."
Ia punya pandangan khusus terhadap buramnya hukum di negeri ini akibat kuatnya praktik mafia peradilan. Menurut dia, advokat hendaknya tak hanya mengandalkan otak dan keahlian, tetapi juga hati nurani. Itu sebabnya ia tak segan-segan hanya membela untuk mengurangi hukuman, bahkan menolak kasus, jika ia tahu bahwa kliennya memang bersalah.
"Nuranilah yang berbicara. Seorang advokat berpengalaman, dalam waktu satu jam wawancara, tahu sesungguhnya kliennya itu salah atau benar. Kecuali jika dia berbohong," ucapnya.
Karena hati nurani pula ia kerap menolak tawaran "suap" yang praktiknya muncul dalam berbagai cara, mulai dari cek, uang kontan, hingga fasilitas lain dari pihak lawan.
Inilah yang membuatnya sempat terkucil selama 10 tahun lebih dalam percaturan pembelaan hukum. Untuk menghasilkan kemenangan bagi klien yang dinilainya benar, ia melakukan praktik strategi berbeda, seperti melalui pengembangan diskursus atau wacana publik. Bisa juga ia menulis di media. "Hakim kan takut jika ditulis (diamati) pers," ucapnya.
Pada usianya kini, Frans masih aktif mengajar di Universitas Pelita Harapan. Ia juga tetap berkeinginan mengejar gelar akademis tertinggi, yaitu profesor (guru besar). "Mudah-mudahan lewat pendidikan kita bisa mendapat banyak manfaat, baik pengembangan teori maupun filsafat," ucapnya.
***
BIODATA
Nama: Frans Hendra Winarta
Lahir: Bandung, 17 September 1943
Istri: Jatty Tanuwidjaja (58)
Anak:
- Patricia Winata (33)
- Randy Winata (29)
Pendidikan:
- Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, 1970
- Notariat Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1979-1980
- Magister Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1996-1998
- Program Doktor di University of Leiden, Belanda
- Gelar "cum laude" pada Program Doktor Universitas Padjadjaran, 2007
Prestasi:
1. Pengacara yang direkomendasikan sebagai Praktisi Penyelesaian Perselisihan (Dispute Resolution) di Indonesia, 2003-2004
2. 2005 Survei Pengacara Bisnis Terkemuka, sebagai salah satu Pengacara Bisnis Terkemuka (Alternatif Penyelesaian Perselisihan), diterbitkan "Asialaw", 2005
3. Pengacara yang direkomendasikan "Asialaw", edisi 2005
4. A Highly Recommended Asia-Pacific Focused Lawyer in Intellectual Property by Asialaw Leading Lawyers, 2007
Sumber : Kompas, Senin, 1 Oktober 2007
Oleh : Yulvianus Harjono
Advokat senior Frans Hendra Winarta berbangga hati. Jumat (28/9) lalu ia berhasil lulus ujian program doktor pada program pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, dengan nilai cumlaude. Istimewanya, gelar itu diperolehnya pada usia 64 tahun. Hal yang tak lazim pada penekun profesi advokat.
Tampil di hadapan para penguji yang mayoritas rekan sesama praktisi hukum dan sebagian lebih muda darinya, seperti Prof Romli Atmasasmita, Prof Andi Hamzah, dan Prof Indrianto Seno Adji, ia menyampaikan pemikiran dalam disertasi berjudul Hak Konstitusional Fakir Miskin Memperoleh Bantuan Hukum dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional.
Disertasi itu berangkat dari kegalauan dan keresahannya bahwa ada yang salah dengan konsep bantuan hukum yang dijalankan negara ini, terutama pada era pascareformasi. Ini mengingat, dalam kondisi faktual maupun yang teramati lewat media, tak sedikit kaum papa yang hingga kini masih termarjinalkan secara hukum. Mereka tak tersentuh bantuan hukum ataupun sekadar penyuluhan.
"Jumlah kaum miskin di Indonesia sangat banyak. Pada saat ini, meski katanya berkurang, jumlahnya kurang lebih 37,17 juta. Dalam kondisi yang demikian besar, jika tetap mengandalkan pola bantuan hukum yang ada, yaitu struktural, tak akan sampai ke desa-desa. Padahal, penduduk di desa mencapai 63 persen lebih," ungkapnya.
Agar pembelaan kaum miskin lebih efektif, sudah saatnya Indonesia menerapkan pola bantuan hukum responsif. Pemerintah ditempatkan pada posisi yang lebih aktif; konsekuensinya, penyediaan fasilitas dan anggaran menjadi tanggung jawab pemerintah. India, Filipina, dan Amerika Serikat berhasil menerapkan pola ini dan mendorong iklim perlindungan hukum yang baik bagi warganya.
Menurut dia, sulit mengandalkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum sebagai ujung tombak perlindungan bantuan hukum bagi kaum papa. Apalagi pada praktiknya, bantuan hukum bagi kaum papa terbatas pada hak-hak sipil dan politik saja. "Yang terjadi saat ini umumnya penolakan-penolakan kasus, terutama pada individu," kata Frans.
Terinspirasi film
Dilahirkan di Bandung, 17 September 1943, pria yang aktif di berbagai organisasi profesi dan akademik ini tertarik bidang hukum sejak menginjak usia sekolah menengah. Ketertarikan ini kian bertambah setelah menyaksikan film Too Kill a Mockingbird (1962) yang dibintangi Gregory Peck.
Film ini berkisah tentang perjuangan advokat Atticus Finch membela seorang negro di tengah kuatnya praktik perbudakan (apartheid). "Kisah ini the gloriest age of trial lawyers (kejayaan pengacara). Di situlah law enforcement (penegakan hukum) dan justice for all (keadilan untuk semua) dimunculkan tanpa pandang bulu," paparnya.
Upaya anggota Komisi Hukum Nasional ini dalam mewujudkan cita-citanya sebagai advokat tak mudah. Seusai menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, pada 1970, ia "dipaksa" langsung bekerja seadanya menyusul meninggalnya salah satu orangtuanya.
Tahun 1979 ia mengikuti kursus notariat untuk memperdalam keilmuannya pada praktik hukum bidang perdata. Lalu pada 1981, ia memberanikan diri mendirikan firma hukum Frans Winarta & Partners. Sejak itu kariernya sebagai pengacara (advokat) melesat. Pada 1990 ia ditunjuk sebagai Ketua Hubungan Internasional Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) sekaligus aktivis Lembaga Pembela HAM.
Pada masa ini ia kerap menangani kasus-kasus para aktivis. Salah satunya, kasus penghinaan terhadap Presiden (Soeharto) yang dilakukan seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada asal Timor Timur. Di situ ia merasakan kuatnya pengaruh kekuasaan dalam politik.
Tahun-tahun berikutnya ia beralih pada kompetensi hukum bisnis. Frans sering ditunjuk sebagai arbiter yang terdaftar dalam International Chamber of Commerce (ICC). Tahun 2005 pada jurnal Asialaw, ia dinobatkan sebagai salah satu pengacara bisnis terkemuka. Kariernya tak berhenti di sini. Pada 2007 ia direkomendasikan sebagai Asia-Pacific Focused Lawyer in Intelectual Property.
Diberondong peluru
Lika-liku karier diakuinya tak selalu menyenangkan. Selama melakukan pembelaan atau pendampingan terhadap klien, intimidasi dan godaan dari pihak lain berjalan seimbang, yang mencoba mengooptasi idealismenya sebagai advokat. Terparah terjadi akhir 2001 ketika kantornya diberondong peluru oleh segerombolan orang tak dikenal.
Beruntung tak ada yang terluka, apalagi terbunuh. Upaya intimidasi itu diduga terkait dengan kasus lelang yang ditanganinya. Atas kejadian itu, ia mengaku tak lagi gentar dengan berbagai intimidasi. Ia berkata singkat, "Itulah hidup."
Ia punya pandangan khusus terhadap buramnya hukum di negeri ini akibat kuatnya praktik mafia peradilan. Menurut dia, advokat hendaknya tak hanya mengandalkan otak dan keahlian, tetapi juga hati nurani. Itu sebabnya ia tak segan-segan hanya membela untuk mengurangi hukuman, bahkan menolak kasus, jika ia tahu bahwa kliennya memang bersalah.
"Nuranilah yang berbicara. Seorang advokat berpengalaman, dalam waktu satu jam wawancara, tahu sesungguhnya kliennya itu salah atau benar. Kecuali jika dia berbohong," ucapnya.
Karena hati nurani pula ia kerap menolak tawaran "suap" yang praktiknya muncul dalam berbagai cara, mulai dari cek, uang kontan, hingga fasilitas lain dari pihak lawan.
Inilah yang membuatnya sempat terkucil selama 10 tahun lebih dalam percaturan pembelaan hukum. Untuk menghasilkan kemenangan bagi klien yang dinilainya benar, ia melakukan praktik strategi berbeda, seperti melalui pengembangan diskursus atau wacana publik. Bisa juga ia menulis di media. "Hakim kan takut jika ditulis (diamati) pers," ucapnya.
Pada usianya kini, Frans masih aktif mengajar di Universitas Pelita Harapan. Ia juga tetap berkeinginan mengejar gelar akademis tertinggi, yaitu profesor (guru besar). "Mudah-mudahan lewat pendidikan kita bisa mendapat banyak manfaat, baik pengembangan teori maupun filsafat," ucapnya.
***
BIODATA
Nama: Frans Hendra Winarta
Lahir: Bandung, 17 September 1943
Istri: Jatty Tanuwidjaja (58)
Anak:
- Patricia Winata (33)
- Randy Winata (29)
Pendidikan:
- Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, 1970
- Notariat Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1979-1980
- Magister Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1996-1998
- Program Doktor di University of Leiden, Belanda
- Gelar "cum laude" pada Program Doktor Universitas Padjadjaran, 2007
Prestasi:
1. Pengacara yang direkomendasikan sebagai Praktisi Penyelesaian Perselisihan (Dispute Resolution) di Indonesia, 2003-2004
2. 2005 Survei Pengacara Bisnis Terkemuka, sebagai salah satu Pengacara Bisnis Terkemuka (Alternatif Penyelesaian Perselisihan), diterbitkan "Asialaw", 2005
3. Pengacara yang direkomendasikan "Asialaw", edisi 2005
4. A Highly Recommended Asia-Pacific Focused Lawyer in Intellectual Property by Asialaw Leading Lawyers, 2007
Sumber : Kompas, Senin, 1 Oktober 2007
Femke den Haas, Merawat Satwa Sitaan
Femke den Haas, Merawat Satwa Sitaan
Oleh : R Adhi Kusumaputra
Pada saat satwa-satwa langka disita di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, maka Femke den Haas-lah yang selanjutnya bertanggung jawab untuk menangani masalah ini. Ia berusaha menyelamatkan nyawa para satwa sitaan itu, dengan membawanya ke lokasi Pusat Penyelamat Satwa di Tegal Alur, Jakarta Barat.
Persinggungannya dengan satwa sitaan dimulai sejak dia bergabung dengan lembaga penyelamat satwa Gibbon Foundation pada Agustus 2002. Lembaga nonprofit ini telah menyiapkan dana sekitar Rp 500 miliar untuk membantu penyelamatan satwa di Indonesia.
Akan tetapi, cerita Femke, perempuan asal Belanda yang fasih berbahasa Indonesia ini, Gibbon Foundation kemudian memutuskan menghentikan bantuan karena kecewa melihat Pemerintah Indonesia nyaris tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekayaan satwanya sendiri.
Perdagangan satwa tetap saja terus berlangsung. Bahkan, Femke mengaku nyaris frustrasi setelah dia semakin paham siapa saja yang berkaitan dengan perdagangan satwa tersebut.
Dia tak ingin menjelaskan "mafia" dalam perdagangan satwa itu lebih lanjut. Menurut dia, hal itu sepenuhnya bergantung pada kebijakan Pemerintah Indonesia. Namun, satu hal pasti, kecintaannya pada satwa membuat Femke tetap bertahan.
"Saya sebenarnya tidak tega melihat satwa-satwa itu terlalu lama berada di Tegal Alur. Lahan di sini hanya sekitar 3.000 meter persegi, terlalu sempit untuk menampung sekitar 1.500 satwa," ujarnya menggambarkan kondisi Pusat Penyelamat Satwa (PPS). Dalam setahun, sedikitnya 2.000 ekor satwa disita di Bandara Soekarno-Hatta.
"Jumlah itu belum termasuk satwa jenis reptil, seperti biawak dan ular kobra yang dijual ke China untuk dikonsumsi," ungkapnya.
Satwa sitaan yang dipelihara di PPS pun amat beragam jenisnya, mulai dari reptilia, primata, dan hingga mamalia seperti beruang, ada pula burung elang dan burung kakaktua. Satwa-satwa itu berada di PPS sambil menunggu kesempatan untuk dikembalikan ke dalam habitatnya.
Pada September 2006, Femke memutuskan berhenti sebagai Manajer PPS. Sebelum resmi berhenti, sejak tahun 2004, sebenarnya ia juga kerap bepergian dan tinggal di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Di tempat ini dia merawat satwa-satwa langka yang dilindungi, seperti burung elang bondol dan elang laut.
Bekerja sebagai penyelamat satwa memang tak bisa ditentukan jam kerjanya. "Ketika masih di PPS, sewaktu-waktu ada panggilan dari Bandara, saya harus selalu siap," tuturnya.
Femke lalu bercerita tentang nasib satwa-satwa sitaan. Mereka yang diselamatkan tak hanya yang masih berada di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi ada pula yang dibawa kembali ke Indonesia dari beberapa negara di Eropa.
"Biasanya, setelah kami rawat beberapa waktu di PPS, satwa itu siap dikembalikan ke habitatnya. Kami akan melepas mereka lagi di alam bebas," tuturnya sambil mencontohkan, pada tahun 2005 sebanyak 33 biawak hijau asal Papua yang disita di Eropa dilepaskan kembali di habitatnya.
Hak hidup
Femke mengaku sudah jatuh cinta dan menjadi penyayang satwa sejak dia berusia delapan tahun. Maka, tak heran kalau kini pun dia hafal nama 35 monyet yang dirawatnya sejak sekitar lima tahun lalu di Pulau Penjaliran Barat, di sebelah utara Kepulauan Seribu.
"Saya juga hanya makan sayur-mayur. Saya tak tega makan daging hewan karena hati saya saja sakit melihat satwa-satwa itu diperjualbelikan. Bagaimanapun, mereka juga punya hak untuk hidup bebas. Semua satwa punya hak untuk tidak sakit dan tidak takut," tuturnya.
Sejak awal Januari 2007 ia bergabung dengan Yayasan International Animal Rescue. Lembaga tersebut menjadi salah satu referensi Pemerintah Indonesia jika muncul masalah satwa.
Salah satu upaya yang dilakukan Femke bersama teman-temannya di lembaga tersebut adalah menyelamatkan orangutan dan satwa lain yang dibunuh ataupun terbunuh akibat pembakaran serta penebangan hutan untuk lokasi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah pada Juli 2007.
Sayang, perjuangan mereka tak berhasil. Femke malah terheran-heran ketika sejumlah pejabat pemerintah justru memakai "topi" perusahaan kelapa sawit ketika berbicara dengan dia. "Bagaimana bisa mereka tega mengorbankan kehidupan satwa dan tanaman di hutan itu?" ucapnya sedih.
Relawan
Tahun 1996 Femke yang bergabung sebagai relawan pada Pusat Reintroduksi Orangutan Wanariset di Kalimantan Timur datang ke Indonesia. Dia mengaku langsung terpesona dengan kekayaan alam, terutama flora dan fauna negeri ini.
Ketika dia pergi ke Kalimantan, kebetulan sang ayah, Dirk Cornelis Bernard Haas, tengah bertugas sebagai diplomat pada Kantor Kedubes Belanda di Jakarta. "Waktu itu ayah saya sempat marah. Dia bilang, untuk apa saya mengurusi satwa di hutan Kalimantan? Dia minta saya segera kembali ke Belanda karena di hutan itu risikonya besar. Mungkin dia khawatir karena saya perempuan," cerita Femke.
Akan tetapi, bagi perempuan yang sejak usia 13 tahun sudah aktif sebagai relawan di Pusat Penyelamat Burung di Den Haag, Belanda, ini, ketakutan sang ayah tidaklah beralasan.
"Tetapi, setelah ayah saya tahu apa yang saya lakukan, dia jadi sangat mendukung. Apalagi dia juga tahu dan prihatin dengan semakin rusaknya hutan- hutan di Indonesia," kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.
Sebelumnya, pada tahun 1999 ia pernah terlibat dalam penyelamatan satwa di Yunani, dan tahun 2000 di Guinea, Afrika Barat. Femke bercerita, saat berusaha menyelamatkan 20 bayi simpanse di Guinea itu, mobil yang ditumpanginya sempat diberondong rentetan tembakan.
Bagi dia, satwa adalah makhluk yang juga punya hak hidup di Bumi ini. Dia tak bisa memahami mengapa satwa harus dijadikan tontonan dalam pertunjukan sirkus, atau dibunuh sebagai pemuas nafsu makan manusia.
"Sirkus itu termasuk penyiksa satwa. Coba saja lihat ketika harimau disuruh melompati api. Kalau satwa itu menolak, manusia akan memukul tubuhnya. Itu kan penyiksaan," ujarnya tegas.
Memang, tak hanya di Indonesia satwa menjadi makhluk yang terpinggirkan. Namun, karena telanjur cinta pada Indonesia, kata Femke, apa pun yang mesti dihadapi, ia akan tetap memerhatikan kelangsungan hidup satwa-satwa kekayaan negeri ini.
Sumber : Kompas, Rabu, 5 September 2007
Oleh : R Adhi Kusumaputra
Pada saat satwa-satwa langka disita di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, maka Femke den Haas-lah yang selanjutnya bertanggung jawab untuk menangani masalah ini. Ia berusaha menyelamatkan nyawa para satwa sitaan itu, dengan membawanya ke lokasi Pusat Penyelamat Satwa di Tegal Alur, Jakarta Barat.
Persinggungannya dengan satwa sitaan dimulai sejak dia bergabung dengan lembaga penyelamat satwa Gibbon Foundation pada Agustus 2002. Lembaga nonprofit ini telah menyiapkan dana sekitar Rp 500 miliar untuk membantu penyelamatan satwa di Indonesia.
Akan tetapi, cerita Femke, perempuan asal Belanda yang fasih berbahasa Indonesia ini, Gibbon Foundation kemudian memutuskan menghentikan bantuan karena kecewa melihat Pemerintah Indonesia nyaris tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekayaan satwanya sendiri.
Perdagangan satwa tetap saja terus berlangsung. Bahkan, Femke mengaku nyaris frustrasi setelah dia semakin paham siapa saja yang berkaitan dengan perdagangan satwa tersebut.
Dia tak ingin menjelaskan "mafia" dalam perdagangan satwa itu lebih lanjut. Menurut dia, hal itu sepenuhnya bergantung pada kebijakan Pemerintah Indonesia. Namun, satu hal pasti, kecintaannya pada satwa membuat Femke tetap bertahan.
"Saya sebenarnya tidak tega melihat satwa-satwa itu terlalu lama berada di Tegal Alur. Lahan di sini hanya sekitar 3.000 meter persegi, terlalu sempit untuk menampung sekitar 1.500 satwa," ujarnya menggambarkan kondisi Pusat Penyelamat Satwa (PPS). Dalam setahun, sedikitnya 2.000 ekor satwa disita di Bandara Soekarno-Hatta.
"Jumlah itu belum termasuk satwa jenis reptil, seperti biawak dan ular kobra yang dijual ke China untuk dikonsumsi," ungkapnya.
Satwa sitaan yang dipelihara di PPS pun amat beragam jenisnya, mulai dari reptilia, primata, dan hingga mamalia seperti beruang, ada pula burung elang dan burung kakaktua. Satwa-satwa itu berada di PPS sambil menunggu kesempatan untuk dikembalikan ke dalam habitatnya.
Pada September 2006, Femke memutuskan berhenti sebagai Manajer PPS. Sebelum resmi berhenti, sejak tahun 2004, sebenarnya ia juga kerap bepergian dan tinggal di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Di tempat ini dia merawat satwa-satwa langka yang dilindungi, seperti burung elang bondol dan elang laut.
Bekerja sebagai penyelamat satwa memang tak bisa ditentukan jam kerjanya. "Ketika masih di PPS, sewaktu-waktu ada panggilan dari Bandara, saya harus selalu siap," tuturnya.
Femke lalu bercerita tentang nasib satwa-satwa sitaan. Mereka yang diselamatkan tak hanya yang masih berada di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi ada pula yang dibawa kembali ke Indonesia dari beberapa negara di Eropa.
"Biasanya, setelah kami rawat beberapa waktu di PPS, satwa itu siap dikembalikan ke habitatnya. Kami akan melepas mereka lagi di alam bebas," tuturnya sambil mencontohkan, pada tahun 2005 sebanyak 33 biawak hijau asal Papua yang disita di Eropa dilepaskan kembali di habitatnya.
Hak hidup
Femke mengaku sudah jatuh cinta dan menjadi penyayang satwa sejak dia berusia delapan tahun. Maka, tak heran kalau kini pun dia hafal nama 35 monyet yang dirawatnya sejak sekitar lima tahun lalu di Pulau Penjaliran Barat, di sebelah utara Kepulauan Seribu.
"Saya juga hanya makan sayur-mayur. Saya tak tega makan daging hewan karena hati saya saja sakit melihat satwa-satwa itu diperjualbelikan. Bagaimanapun, mereka juga punya hak untuk hidup bebas. Semua satwa punya hak untuk tidak sakit dan tidak takut," tuturnya.
Sejak awal Januari 2007 ia bergabung dengan Yayasan International Animal Rescue. Lembaga tersebut menjadi salah satu referensi Pemerintah Indonesia jika muncul masalah satwa.
Salah satu upaya yang dilakukan Femke bersama teman-temannya di lembaga tersebut adalah menyelamatkan orangutan dan satwa lain yang dibunuh ataupun terbunuh akibat pembakaran serta penebangan hutan untuk lokasi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah pada Juli 2007.
Sayang, perjuangan mereka tak berhasil. Femke malah terheran-heran ketika sejumlah pejabat pemerintah justru memakai "topi" perusahaan kelapa sawit ketika berbicara dengan dia. "Bagaimana bisa mereka tega mengorbankan kehidupan satwa dan tanaman di hutan itu?" ucapnya sedih.
Relawan
Tahun 1996 Femke yang bergabung sebagai relawan pada Pusat Reintroduksi Orangutan Wanariset di Kalimantan Timur datang ke Indonesia. Dia mengaku langsung terpesona dengan kekayaan alam, terutama flora dan fauna negeri ini.
Ketika dia pergi ke Kalimantan, kebetulan sang ayah, Dirk Cornelis Bernard Haas, tengah bertugas sebagai diplomat pada Kantor Kedubes Belanda di Jakarta. "Waktu itu ayah saya sempat marah. Dia bilang, untuk apa saya mengurusi satwa di hutan Kalimantan? Dia minta saya segera kembali ke Belanda karena di hutan itu risikonya besar. Mungkin dia khawatir karena saya perempuan," cerita Femke.
Akan tetapi, bagi perempuan yang sejak usia 13 tahun sudah aktif sebagai relawan di Pusat Penyelamat Burung di Den Haag, Belanda, ini, ketakutan sang ayah tidaklah beralasan.
"Tetapi, setelah ayah saya tahu apa yang saya lakukan, dia jadi sangat mendukung. Apalagi dia juga tahu dan prihatin dengan semakin rusaknya hutan- hutan di Indonesia," kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.
Sebelumnya, pada tahun 1999 ia pernah terlibat dalam penyelamatan satwa di Yunani, dan tahun 2000 di Guinea, Afrika Barat. Femke bercerita, saat berusaha menyelamatkan 20 bayi simpanse di Guinea itu, mobil yang ditumpanginya sempat diberondong rentetan tembakan.
Bagi dia, satwa adalah makhluk yang juga punya hak hidup di Bumi ini. Dia tak bisa memahami mengapa satwa harus dijadikan tontonan dalam pertunjukan sirkus, atau dibunuh sebagai pemuas nafsu makan manusia.
"Sirkus itu termasuk penyiksa satwa. Coba saja lihat ketika harimau disuruh melompati api. Kalau satwa itu menolak, manusia akan memukul tubuhnya. Itu kan penyiksaan," ujarnya tegas.
Memang, tak hanya di Indonesia satwa menjadi makhluk yang terpinggirkan. Namun, karena telanjur cinta pada Indonesia, kata Femke, apa pun yang mesti dihadapi, ia akan tetap memerhatikan kelangsungan hidup satwa-satwa kekayaan negeri ini.
Sumber : Kompas, Rabu, 5 September 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)

