HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label T. Show all posts
Showing posts with label T. Show all posts

Terrence B Adamson : Terry dan Jendela Kuning "National Geographic"

Jun 29, 2009
Terry dan Jendela Kuning "National Geographic"
Oleh : Edna C Pattisina

Berbicara tentang majalah National Geographic, kita tidak bisa lepas dari Terrence B Adamson, Executive Vice President National Geographic Society. Pria yang biasa dipanggil Terry ini berperan dalam membuat edisi-edisi lokal yang kini berjumlah 27 edisi, selain edisi internasionalnya yang berbahasa Inggris.

BERDIRI sejak tahun 1888, National Geographic Society yang didirikan sebagai organisasi nirlaba untuk menyebarluaskan pengetahuan yang bersifat geografis mengeluarkan publikasinya dalam bentuk majalah National Geographic.

Terry bercerita, majalah National Geographic adalah jendela untuk melihat dunia. Persis filosofi dari bingkai kuning yang menjadi ciri khas karena selalu memagari sampul majalah tersebut. "Warna kuning itu berarti jendela dunia, di mana kita bisa orang dan tempat yang jauh lewat majalah ini," katanya.

Berasal dari keluarga sederhana yang memiliki toko kecil di daerah pedesaan Georgia, Amerika Serikat, Terry berusia sembilan tahun saat mendapat hadiah Natal berlangganan majalah National Geographic dari neneknya.

Setiap bulan Terry kecil bisa melakukan "perjalanan intelektual" ke tempat-tempat yang sangat jauh dan menurut dia hampir tidak mungkin bisa ia datangi secara fisik sepanjang hidupnya. "Saya ingat, saya paling suka membaca tentang China dan Indonesia," kata Terry.

TAK disangka, saat untuk pertama kali ke luar negeri ia mendapat kesempatan untuk datang ke Indonesia. Ia dan 14 pemuda yang mendapat beasiswa dari yayasan Henry Luce Scholar magang di Jepang. Dari sana mereka memilih ke Indonesia, tempat yang sudah lama ada di benak Terry. Rombongan orang muda berbakat ini sempat menghabiskan waktu selama seminggu di Yogyakarta. "Itu tahun 1976, saya sempat ke Candi Borobudur, pengalaman yang tidak akan saya lupakan," kata pria yang lahir di Rome, Georgia, 13 November 1946, ini.

Karier di bidang hukum menjadi jalan yang dipilihnya. Lulus sebagai sarjana sejarah dari Universitas Emory, Atlanta, tahun 1968, ia melanjutkan ke jurusan hukum di universitas yang sama. Terry menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya dengan predikat cum laude tahun 1973.

Setelah itu, selama bertahun-tahun ia dekat dengan dunia politik dan hukum. Tidak hanya menjadi partner di biro hukum ternama di New York, ayah dari Kate (16) dan Elizabeth (13) ini juga bekerja sama dalam dunia birokrasi AS. Beberapa jabatan formal penting sempat disandangnya, seperti Juru Bicara Departemen Kehakiman AS (1978-1979) dan tiga kali menjadi anggota Dewan Pengawas State Justice Institute.

Di organisasi nonpemerintah, Terry menjadi anggota Dewan Pengawas di Asia Foundation tahun 1994-1999. Ia juga aktif dalam Carter Center, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Jimmy Carter. Selain bersahabat dekat, Terry juga menjadi pengacara pribadi mantan presiden AS itu. Carter meminta Terry mendampinginya saat tokoh itu menerima Nobel Perdamaian tahun 2002. "Saya tidak pernah mengira akan punya sahabat yang menerima Nobel Perdamaian, " kata suami Ede Holiday ini.

Lalu apa yang dicarinya di majalah National Geographic? "Bukan uang tentunya ya," kata Terry sambil tersenyum.

Bagi Terry, adalah sebuah keberuntungan dan kesempatan besar bagi dirinya untuk terlibat dalam usaha pendidikan dan penyebarluasan pengetahuan ke seluruh dunia. "Saya percaya, pengetahuan tentang orang lain, kebudayaan lain, dan tempat lain di dunia penting untuk menyatukan kita semua," katanya.

MULAI menjadi tenaga sukarela tahun 1995, ia menjadi tenaga aktif untuk majalah yang dibaca sekitar 50 juta orang sedunia ini tahun 1998. Terrylah yang merealisasikan rencana pembentukan National Geographic Channel, memperbanyak edisi-edisi lokal yang dimulai di Jepang tahun 1995, dan menjalankan berbagai macam publikasi dari National Geographic Society, mulai dari majalah hingga buku.

Ia juga anggota Corporate Secretary dari Educational Foundation Board National Geographic Society yang mendanai berbagai kegiatan pendidikan geografi untuk anak sekolah. "Saya merasakan sendiri bagaimana mendapat berbagai pengetahuan dari majalah ini, maka saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami hal yang sama," katanya.

Hingga kini, dengan jumlah uang ratusan juta dollar AS dari berbagai sumber, National Geographic tetap menjadi organisasi nonprofit. Sembilan puluh persen uang digunakan untuk dana pendidikan dan riset di seluruh dunia.

Dukungan tidak hanya datang dari 10 juta anggota National Geographic Society, tetapi juga dari pemerintah dan perusahaan di berbagai penjuru dunia. "Dana untuk penelitian di Indonesia pertama kali tahun 1936, sementara majalah National Geographic telah menulis tentang Indonesia sejak tahun 1898, tentang Sumatera," katanya.

MAJALAH ilmiah ini mendasari tulisannya pada hasil-hasil riset yang dilakukan para ahli rekanan. Menurut Editorial Director International Editions Amy Kolczak, yang membuat National Geographic bisa bertahan hingga sekitar 125 tahun adalah akurasi dari tulisan yang dihadirkan. Totalitas menjadi cara hidup di majalah ini. Untuk membuat sebuah foto atau sebuah tulisan, misalnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk riset. "Fotografer Jodi Cobb menghabiskan waktu empat tahun di berbagai negara untuk meliput perdagangan manusia," cerita Terry.

Harapannya, majalah National Geographic bisa menjadi perekat yang menghubungkan masyarakat dunia dan berbagai kebudayaan yang ada di dalamnya. Bayangkan, saat orang- orang di Indonesia membaca tentang kebudayaan dan segala hal yang berkaitan dengan negara antah-berantah seperti Skandinavia, Armenia, dan Turki, sementara mereka juga membaca tentang Indonesia.

"Dari pengetahuan tentang kebudayaan, kebiasaan, dan kepercayaan orang lain, kita bisa menemukan persamaan dan merayakan perbedaan," katanya.

Jendela kuning itu membawa dunia ke depan kita untuk dikenal dan diterima.... (EDNA C PATTISINA)

Sumber : Kompas, Sabtu, 2 April 2005
Read Full 0 comments

Tu Weiming, Panduan Hidup Konfusian Itu...

Jun 28, 2009
Tu Weiming, Panduan Hidup Konfusian Itu...
Oleh : Nasru Alam Aziz

MEMPELAJARI tradisi penganut Konfusian di Asia Timur bukan hanya merupakan sebuah komitmen akademis dalam posisi sebagai sejarawan intelektual profesional, tetapi juga merupakan penelusuran pribadi dari sebuah refleksi seorang manusia. Ungkapan itu terucap oleh Prof Tu Weiming, seorang ahli sejarah China dan filsafat Konfusianisme dari Harvard University, Amerika Serikat. Ia pengikut aliran politik sosialisme humanistik, dan tentu saja ia penganut tradisi spiritual Konfusian.

MENURUT Weiming, cara terbaik menggambarkan Konfusianisme adalah sebagai cara pembelajaran menjadi manusia. "Tidak seperti hewan, manusia terus-menerus membentuk dirinya melalui pembelajaran, melalui interaksi dengan sesama manusia," ujarnya.

Ia menyebutkan, proses menjadi manusia mengandung empat dimensi pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, pertanyaan dalam diri kita sendiri, bagaimana mengintegrasikan hati dan pikiran dengan tubuh dan jiwa.

Kedua, bagaimana sebagai individu dapat berinteraksi secara bermanfaat di tengah komunitas, baik dengan keluarga, masyarakat, bangsa, hingga komunitas global. Ketiga, bagaimana menjalin hubungan berkelanjutan dan bermanfaat atau hubungan harmonis dengan alam dalam arti luas. Keempat, bagaimana membangun kebersamaan antara jiwa dan pikiran dengan alam surgawi.

"Keempat dimensi itu memberi pemahaman kepada pandangan humanistik Konfusian. Pandangan humanistik Konfusian ini bukan humanisme sekular, melainkan agama dalam pemahaman yang mendalam. Bisa dikatakan sebagai panduan hidup dan tentu saja sebagai etika sosial," tuturnya.

Ia mengemukakan bahwa Konfusian adalah sebuah tradisi panjang, bahkan sudah ada ribuan tahun sebelum Konfusius lahir pada 1551 sebelum masehi. "Tradisi Konfusian tetap relevan hingga hari ini dan terus membawa spirit bagaikan arus yang mengalir tanpa henti," ujar Weiming.

Ia mulai mendalami tradisi Konfusian sejak berusia 14 tahun. Ia begitu terkesan dengan cara gurunya menguraikan tentang ajaran Konfusius. Dari situ ia menyadari apa yang dipaparkan gurunya di kelas bukan semata sebuah mata pelajaran, melainkan suatu nilai-nilai kehidupan, suatu panduan kehidupan.

WEIMING lahir pada Februari 1940 di Kunming, sebuah kota di bagian barat daya China, tidak jauh dari perbatasan Vietnam. Kehidupan yang multi-etnik di kampung halamannya itu turut membentuk pribadinya menjadi orang yang sangat menghargai perbedaan.

Berbekal keinginan yang kuat untuk memperdalam ilmu kechinaannya, ia berangkat ke Taiwan dan berhasil meraih gelar sarjana muda (BA) pada Tunghai University pada tahun 1961. Sedangkan gelar magister dalam bidang kajian regional dan doktor dalam bidang sejarah dan bahasa Asia Timur, keduanya ia peroleh dari Harvard University masing-masing pada tahun 1963 dan 1968.

Sambil memperdalam ilmunya di Harvard University, Weiming memberi kuliah tentang humanitas di almamaternya, Tunghai University, Taiwan. Pada usia 38 tahun, ia mencapai gelar profesor penuh pada University of California di Berkeley.

Hingga akhirnya ia diundang menjadi profesor dalam bidang sejarah dan filsafat China di Harvard University pada tahun 1981. Berkaitan dengan bidang ilmu yang digelutinya, ia pernah dipercaya memimpin Komite Kajian Agama dan Departemen Bahasa dan Peradaban Asia Timur di Harvard University.

Sejak tahun 1996 ia menjabat sebagai Direktur Harvard-Yenching Institute. Pada tahun 1999, Harvard-Yenching menganugerahinya gelar profesor sejarah dan filsafat China sekaligus sebagai profesor dalam bidang kajian Konfusian.

Ini adalah kali pertama seseorang menyandang gelar profesor kajian Konfusian di belahan bumi penutur bahasa Inggris. Jabatan dan gelar profesornya pada Harvard-Yenching itulah yang hingga kini tertera dalam kartu namanya.

Di luar lingkungan Harvard University, ia pernah menjabat sebagai direktur pada Institut Komunikasi dan Budaya, East-West Center, Hawaii, (1990-1991), dan sebagai Group of Eminent Person pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memfasilitasi dialog antarperadaban (2001).

SEBAGAI seorang ilmuwan, tentu saja Weiming terbilang sangat produktif. Bahkan ketika masih menempuh jenjang S1 di Tunghai University, ia telah menghasilkan sejumlah karya tulis berupa artikel dalam jurnal dan beberapa buku.

Hingga kini 19 bukunya diterbitkan dalam bahasa Inggris dan sekitar 15 buku dalam bahasa China, serta ratusan artikel yang tersebar dalam berbagai penerbitan dengan fokus pada transformasi modern atas humanisme Konfusianisme.

Salah satu yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah Etika Konfusianisme (Confucian Ethics Today, The Singapore Challenge). Buku itu merupakan bagian dari Seri Dialog Peradaban yang diterbitkan Teraju dan Center for Spirituality & Leadership.

Di samping kesibukannya di kampus Harvard, ia mengajar humanisme Konfusian dan ajaran neo-Konfusian di Peking University, Taiwan University, Chinese University (Hongkong), dan L’Ecole Pratique des Haute E’tudes (Paris). Ia juga juga memberi kuliah umum pada berbagai perguruan tinggi di Amerika Serikat, Asia Timur, dan Asia Tenggara.

Selama 10 hari, sejak Rabu (18/5/2005) hingga Sabtu (28/5/2005), Weiming berada di Indonesia atas undangan Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur guna serangkaian dialog di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

"Sebagai profesor saya harus bekerja pada empat wilayah, yaitu riset, pengajaran, administrasi, dan pelayanan akademik," jawabnya tentang apa yang ia lakukan sehari-hari.

Di luar itu, ia juga mendirikan dan aktif dalam sebuah organisasi nonpemerintah (NGO), Trigrav, dengan fokus kegiatan pada dimensi etik dan spiritual dalam pembangunan.

Sebelum berangkat bekerja ke kantornya, Weiming mengalokasikan waktunya empat jam untuk membaca dan menulis. "Selama empat jam itu saya juga membuka e-mail, tetapi biasanya tidak menjawab telepon," ungkapnya. Rutinitas itu ia jalani setiap hari, tak terkecuali Sabtu dan Minggu. (Nasru Alam Aziz)

Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Mei 2005
Read Full 0 comments

Teuku Kamaruzzaman, Alumnus Sukamiskin

Teuku Kamaruzzaman, Alumnus Sukamiskin
Oleh : Samiaji Bintang

APARAT berseragam biru bersenjata lengkap berjaga-jaga di gedung Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan. Tanpa pengawal, seorang tokoh Gerakan Acheh Merdeka tenang melenggang ke sana. Dia cuma mencangklong tas ransel hitam berisi bundelan kertas.

Tak banyak orang tahu dia tokoh gerakan yang puluhan tahun menentang "penjajahan Jawa Indonesia" di Aceh.

Dia Teuku Kamaruzzaman. Orang Aceh memanggilnya Ampon Man atau Pon Man. Ampon merupakan gelar aristokrat di Tanah Rencong.

Pon Man kelahiran Lhokseumawe, 20 September 1960, bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Teuku Syahbuddin, pernah jadi pejabat penting di Aceh Utara.

Suatu Rabu Maret lalu, Pon Man jadi pembicara dalam diskusi di Senayan. Dia duduk semeja dengan Maswadi Rauf, seorang profesor Universitas Indonesia, dan ketua panitia rancangan undang-undang Aceh Ferry Mursidan Baldan. Lebih dari 40 peserta memenuhi ruangan. Bintang diskusinya, bukan Maswadi, bukan Ferry, tapi ya Pon Man. Peserta diskusi memberondong Pon Man aneka pertanyaan. Begitu moderator menutup diskusi, wartawan pun merubung Pon Man.

Pon Man lelaki sederhana. Pendidikannya sarjana hukum Universitas Syiah Kuala. Dia pernah dipenjarakan selama dua tahun di Sukamiskin, Bandung, sebuah bangunan kolonial Hindia Belanda, yang pada 1920an pernah dipakai mengurung Soekarno, belakangan jadi presiden pertama Indonesia.

Kini Pon Man anggota tim sosialisasi perjanjian GAM-Indonesia di Helsinki Agustus 2005. Pon Man juga menjabat deputi monitoring dan evaluasi dalam Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias.

Usai menjawab wartawan, Pon Man mencangklong ranselnya, meninggalkan Senayan. Saya dan Mulyani Hasan, rekan dari Pantau, mengikutinya bersama wartawan Acehkita Amdy Hamdani dan Ipoel, anggota komunitas seniman Aceh di Jakarta.

Tak ada pengawal berbadan kekar dan berambut cepak atau berkaca mata gelap. Saya jadi bertanya-tanya. Diplomat dari organisasi yang dicap sebagai kelompok separatis, kok berani masuk ke sarang macan tanpa pengawal? Memangnya sudah tidak takut dipenjara lagi ke Sukamiskin?

"Takut? Takut itu relatif sekali," kata Pon Man.

"Sekarang kondisinya sudah berubah. Tidak seperti dulu."


SELAMA 32 tahun Jenderal Soeharto berkuasa, media Indonesia tak cukup punya nyali memberitakan soal pertikaian dan kekejaman serdadu Indonesia di Aceh. Selain institusi medianya diancam pembredelan, mereka juga mendapat tekanan fisik. Saat Jakarta memberlakukan status Daerah Operasi Militer di Aceh, 1989 hingga 1998, keamanan para jurnalis di sana juga jadi taruhan.

Tak satu pun media yang merilis laporan organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, pada Juli 1993 soal orang hilang, penyiksaan, pembantaian, maupun eksekusi tanpa pengadilan atas orang-orang yang dituduh terlibat GAM selama 1989 hingga 1993.

"Kita tidak banyak tahu berita soal kekerasan. Atau warga yang ditembak, misalnya," kenang Pon Man.

Pon Man mulanya tak tertarik politik. Lulus dari Universitas Syiah Kuala, dia merintis usaha jasa konstruksi di Banda Aceh. Dia tak tertarik bekerja di bidang hukum. Alasannya, hukum di Indonesia sudah amat carut-marut.

Setelah Soeharto mundur Mei 1998, Aceh belum berubah. "Pemerintah Jawa" kembali mengirim serdadu ke Aceh. Tahun 1999, digelar Operasi Wibawa. Tuntutan referendum rakyat Aceh pada tahun 1999 gagal. Jawa melanjutkan Operasi Sadar Rencong I dan Sadar Rencong II hingga 2000. Operasi Cinta Meunasah I dan II dilaksanakan pada 2000 hingga 2001. Intinya, ya bikin tunduk rakyat Aceh.

Life begin at forty. Menjelang usianya yang ke-40, Pon Man memimpin aksi memasuki kedutaan Belanda di Jakarta bersama 12 anggota Persatuan Rakyat Acheh. Mereka menuntut Kerajaan Belanda mencabut maklumat perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 sebagai biang konflik Aceh.

Meski dia bilang "... keluarga tidak ada yang jadi korban kekerasan," dia mulai tertarik menjadi anggota GAM.

"Tapi kenapa GAM?" saya bertanya.

"Karena yang dibela adalah orang-orang tertindas. Banyak orang di Aceh yang mendapat perlakuan tidak adil. Itu tidak cuma dialami orang Aceh. Banyak juga anggota GAM yang orang Jawa."

Tapi niatnya dicemaskan keluarga. Bukan apa-apa, serdadu Indonesia menjadikan anggota GAM sebagai target nomor wahid. Tapi Pon Man sudah bertekad bulat. Dia berkeras dengan pilihannya.

"Mereka akhirnya dapat memahami keputusan saya," katanya.

Kecemasan keluarga terbukti. Tahun 2001 Pon Man masuk bui kepolisian Indonesia di Aceh. Tapi dia segera dilepaskan.

Akhir tahun 2002, Indonesia dan GAM sepakat berunding. Pon Man ikut dalam tim diplomasi. Perundingan ini difasilitasi lembaga Henry Dunant Center. Hasilnya penekenan perjanjian penghentian permusuhan, Cessation of Hostilities Agreement.

Di Aceh, Pon Man menjadi salah satu juru runding yang dipimpin Sofyan Ibrahim Tiba. Anggota lainnya Amni bin Ahmad Marzuki, Tengku Nashiruddin bin Ahmad dan Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Mereka menginap dan berkantor di Hotel Kuala Tripa, Jalan Tengku Ujung Dirimba, Banda Aceh.

Tapi Pon Man dan juru runding lainnya ditangkap dua hari sebelum pertemuan puncak di Tokyo pada 18 Mei 2003. Mereka dituduh berniat kabur dari Aceh.

"Tidak ada yang secara tersurat menyatakan mereka diperlukan di Tokyo. Tanpa itu, saya anggap mereka bonek, cuma penggembira," kata Kapolda Aceh Irjen Bahrumsyah Kasman seperti dikutip harian Pikiran Rakyat. Dia cuma ditahan sehari.

Perundingan di Tokyo pada 18 Mei 2003 gagal total. Rencana damai dibatalkan "pemerintah Jawa" karena GAM tidak menerima syarat yang diajukan.

Tangan besi rezim Megawati Soekarnoputri segera mengoyak Aceh. Dia mengeluarkan keputusan Presiden Indonesia. Isinya, "menetapkan seluruh wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam status keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan Darurat Militer, terhitung pukul 00.00 WIB, 19 Mei 2003."

Selang satu jam, polisi Indonesia meluncur ke Jalan Tengku Ujung Dirimba. Pon Man bersama Sofyan Ibrahim Tiba, Amni bin Ahmad Marzuki, Tengku Nashiruddin bin Ahmad dan Menteri Keuangan Acheh, Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe kembali digelandang ke ruang tahanan polisi Aceh.

Pemerintah Jawa juga membentuk Pemerintah Darurat Militer di Aceh. Mayjen Endang Suwarya diangkat jadi penguasa. Di lapangan, setelah mengisi posisi panglima komando operasi darurat militer, Mayjen Bambang Dharmono segera menyapu anggota GAM.

Berbeda dengan penangkapan sebelumnya, polisi kini menuding Pon Man dan kawan-kawan terlibat aksi terorisme dan makar. "Bukti-bukti keterlibatan makar dan tindak pidana terorisme terhadap kelima anggota GAM itu sudah lengkap," jelas Komisaris Besar Surya Darma, direktur reserse polisi Aceh.

Empat bulan setelah penangkapan, Pengadilan Negeri Banda Aceh memvonis Pon Man terbukti bersalah melakukan makar dan terlibat terorisme. Ketua Majelis Hakim Syaiful Azwir mengganjar Pon Man dengan 13 tahun pidana penjara.

"Bagaimana mungkin seorang juru runding melakukan makar?" kenang Pon Man.

"Yang diurus kan suatu proses perdamaian yang akan menyelesaikan semua proses kekerasan yang terjadi di Aceh. Saya tidak melakukan perbuatan-perbuatan pidana. Ya, mungkin ucapan-ucapan saya itu. Tapi itu kan hanya buah pikiran-buah pikiran. Saya pikir perbuatan pidana tidak ada."

Kijang Innova hitam menunggu di luar gedung parlemen Senayan. Siap mengantar Pon Man, Dani dan Ipoel. Di rumah makan Bakso Lapangan Tembak, legislator asal Aceh Muhammad Fauzi dari Pelopor Demokrasi sudah menunggu.

"Pon Man pernah kena tembak?" tanya saya.

"Tidak. Saya hanya juru runding. Saya tidak ikut gerilya," Pon Man tersenyum.


SEJAK pengadilan negeri memvonis Pon Man selama 13 tahun kurungan, hari-hari Pon Man dijalani dalam penjara Banda Aceh bersama ratusan tahanan GAM.

Kurang dari setahun dalam penjara, Mayjen Endang Suwarya membuang tahanan GAM ke penjara-penjara di Pulau Jawa.

"Untuk memutuskan mata rantai komunikasi dan ideologi GAM. Para pentolan GAM yang sudah divonis oleh majelis hakim akan dipenjarakan di luar Aceh dan Sumut guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Suwarya.

Pon Man dibuang ke Jawa pada Agustus 2004 bersama mantan juru runding lainnya kecuali Sofyan Ibrahim Tiba, yang minta dipenjara di Banda Aceh mengingat kesehatannya buruk. Mereka dijebloskan ke almamater Soekarno ... Sukamiskin di Bandung.

"Apa aktivitas selama disekolahkan di Sukamiskin?"

"Olah raga, membaca, beribadah..."

Tiga bulan di Sukamiskin, kabar duka datang dari Aceh. Gelombang tsunami menghempas Samudera Hindia pada 26 Desember 2004. Sekitar 130 ribu jiwa tewas di Aceh saja. Korban besar juga terjadi Srilanka, India, Thailand dan beberapa negara lain.

Gelombang pasang itu diikuti gelombang bantuan. Angin perubahan pun berembus ke Aceh. Indonesia dan GAM memulai lagi perundingan di Helsinki.

Butir ketiga dari enam butir kesepakatan damai itu memuat pemberian amnesti kepada anggota GAM yang dipenjara, termasuk yang dibuang ke Jawa. Maksimal 15 hari setelah perjanjian diteken.

Pada 29 Agustus 2005, Pon Man dipulangkan ke Aceh. Tak lama setelah itu dia ditunjuk mewakili GAM dalam Aceh Monitoring Mission. Tugasnya, memberi informasi kesepakatan Helsinki.


KIJANG Innova tiba di depan Bakso Lapangan Tembak. Seorang lelaki berbatik berdiri menyambut dengan senyum. Fauzi segera menjabat tangan Pon Man.

Fauzi mengantar kami ke dalam kedai bakso yang terbilang ngetop di Senayan ini. Dia memilihkan meja di pojok agak ke belakang. Dani dan Ipoel lebih dulu memesan bakso. Pon Man belakangan ikut memesan bakso.

"Apa kesan Pon Man terhadap Wali Nanggroe?" saya coba bertanya.

Wali Nanggroe adalah gelar bagi orang nomor satu GAM, Muhammad Hasan di Tiro. Dia yang memproklamasikan kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976. Sejak 1978, dia minta asylum di Swedia dan belakangan menjadi warga negara di sana.

"Wali Nanggroe orang yang berdedikasi tinggi terhadap pendidikan. Dia turun dari kota Manhattan (New York) dan masuk ke hutan-hutan di Aceh untuk mengajarkan sejarah. Dia orang yang paling tahu tentang sejarah Aceh," terang Pon Man.

"Yang lucu," Dani menimpali obrolan, "Ampon pernah bilang minta segera dibaiat Wali Nanggroe. Tapi sampai lulus S2 dari Sukamiskin, Ampon masih belum dibaiat." Pon Man tersenyum. Dalam agama Islam, baiat semacam pengambilan sumpah setia.

"Apa orang Jawa bisa jadi anggota GAM?" tanya saya penasaran.

"Apa harus punya KTP?" timpal Mulyani Hasan. Sama dengan Bambang Dharmono, saya orang Jawa sedang Mulyani, sama dengan Endang Suwarya, orang Sunda.

"Boleh. Karena kan yang diperjuangkan kan keadilan, untuk kemakmuran. Populis... populis ...." jawab Pon Man.

"Jika saya berminat menjadi anggota GAM, apa syaratnya?" gurau saya.

"Kamu mau jadi anggota GAM? Cukup sertakan foto dua kali tiga dua lembar." Pon Man tertawa lagi. Semuanya terbahak.

"Dani, kasih formulirnya," kata Pon Man. Dani kembali tertawa.

Kami menyudahi makan-makan. Mulyani dan saya menjabat tangan Pon Man, dan berpisah.

"Pasfoto jangan lupa ya. Dua kali tiga dua lembar," Pon Man mengingatkan saya. Kami kembali terkekeh.*

Sumber : Aceh Feature, 8 April 2006
Read Full 0 comments

Tri Sabdono : Namaku Bre Redana

Namaku Bre Redana
Oleh : Linda Christanty

POSTER bugil Madonna. Parfum-parfum dari Loris Azzaro. Tempat tidur bambu. Lemari kayu. Sebuah ruang yang sederhana.

Dari kamar 3x3 meter persegi itu ia kerap melihat hujan lewat jendela. Ia selalu mendahuluinya dengan ritual kecil, tanpa suara; mematikan lampu, berbaring dalam gelap.

Ia senang mendengar jejak hujan pada atap, turun bergemericik di kolam kecil.

Sebelum lelap sebotol bir Bintang diteguknya. Jumlah botol yang kosong makin bertambah bila ia sulit memejamkan mata. Sebentar kemudian ia turun ke lantai bawah, membuka kulkas di dapur dan mengambil sebotol bir lagi. Rumah begitu sunyi. Ia menyalakan televisi, lalu duduk di sofa. Keponakannya, Ferri, sudah tidur sejak tadi. Joko, pembantunya, sudah pulas. Petman, anjingnya yang blasteran Chow Chow dan anjing kampung sudah mendengkur.

Pengaruh alkohol mulai terasa. Matanya mengantuk. Adegan televisi mulai mengabur. Ia bangun dengan susah-payah, lalu mendaki anak-anak tangga menuju kamarnya.

Dalam lelap ia tak bermimpi apa-apa. Dunia menjadi ringan.

Namun, malam ini tak ada hujan. Langit hitam pekat. Jalan aspal di muka rumah sunyi. Udara terasa bersih dan dingin.

Ia juga tak minum bir. Seorang perempuan menemaninya di perpustakaan.

“Setelah di Kompas saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis. Saya nggak mau diperbudak,” katanya.

Bre Redana meluruskan punggungnya di kursi, menghela napas dalam-dalam. Ia menggerai rambutnya yang keriting, panjang, dan beruban, lalu mencopot kacamatanya.

“Sekarang ini saya cuma pengrajin tulisan saja. Semua tulisan saya kerjakan dalam waktu singkat, sesuai permintaan, kayak gitu. Ya, pengrajin tulisan.” Ia terkekeh.

Ruangan ini dipenuhi musik. Suara penyanyi Cina—yang ia tak hapal namanya—bersenandung dalam irama tenang. Suara itu seperti denting pada dawai kecapi, bening dan tinggi.

Hampir tiga tahun ini ia tak punya waktu luang di hari Sabtu, bekerja sampai tengah malam, menyiapkan Kompas edisi Minggu. Ia menyunting tulisan sampai memeriksa tata letak. Ia juga bertanggung jawab terhadap feature di halaman pertama dan profil di halaman 12 suratkabar itu, dari Senin sampai Jumat. Ia redaktur budaya sekaligus kepala desk Kompas Minggu.

Di kantor tadi ia menunggu kabar terakhir dari Ambon pasca penangkapan Ja’far Umar Thalib dari Laskar Jihad. Ja’far ditangkap polisi di bandar udara Surabaya, Jawa Timur. Ia dituduh membakar emosi massa lewat pidatonya, selain dianggap menghina pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Pendukung Ja’far di Ambon protes. Mereka membuat rusuh. Dua orang meninggal. Sebelas luka-luka.

Berjam-jam Bre menunggu. Tak ada perkembangan baru. Ia lelah sekali, tapi mencoba bertahan sampai pukul 23.00. Ya, sudah, itu kabar terakhir. Berita ini pun menjadi headline.

Seringkali menjelang tengah malam terjadi perkembangan drastis di lapangan. Ia tak boleh luput. Urusannya bisa ramai nanti.

“Don, mau ke mana?” tanya Soelastri, salah seorang staf redaksi, ketika melihatnya bersiap meninggalkan ruangan di lantai tiga itu.

“Ke Tanamur,” serunya, menyebut salah satu diskotik Jakarta, seraya menyambar ransel.

Ia hanya bergurau.

Bre masuk ke dalam lift. Nissan Terrano hitamnya menunggu di tempat parkir, pasti berembun. Ia ingin segera pulang, bukan ke kafe. Besok ia berangkat ke luar kota dengan penerbangan pukul 09.45.

“Untuk mewawancarai calon-calon wartawan di daerah. Ini yang melelahkan saya sebetulnya, melebihi pekerjaan rutin saya. Beban psikologisnya berat. Karena ini menentukan masa depan seseorang. Jangan sampai kita membuat kesalahan pada nasib orang, kayak-kayak gitu.”


BRE Redana baru saja lulus sarjana muda Bahasa Inggris dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, pada 1981 saat harian Kompas membuka lowongan wartawan. Ia nekad ke Jakarta untuk melamar.

Kereta api ekonomi jurusan Semarang-Jakarta itu berhenti di stasiun Gambir. Seorang pemuda kurus bercelana jins lusuh menggendong ransel terseret dalam arus penumpang turun. Ia melangkah ke luar stasiun, menyeberang ke arah jalan Merdeka Selatan. Ia terpaksa berjalan agak jauh untuk mencapai halte bus. Tak ada uang untuk naik taksi.

Kecemasan mampir juga di benaknya, “Keterima nggak, ya di Kompas?”

Seorang pemuda berambut gondrong melangkah di jalan yang sama. Mereka berpapasan. Keduanya sama-sama kaget. Mereka saling kenal. Akrab.

“Ariel! Eh, ngapain kamu?”

Ariel Heryanto adalah dosen dan temannya main teater di Satya Wacana.

“Kamu ngapain di Jakarta?”

“Ngelamar di Kompas.”

“Kamu ngapain kerja di Kompas? Jadi alat kapitalis,” sergah Ariel.

“Ya, saya nyoba-nyoba.”

“Udah, kamu pasti diterima.”

“Masak, sih?”

“Memangnya dites apa?”

“Bahasa Inggris sama psikotes.”

“Ya, udah, pasti lulus kamu.”

Ariel pun mengajak Bre menginap bersamanya di Hotel Transaera. Hotel tua, sederhana, punya kamar lumayan besar dengan dua ranjang, dekat stasiun. Bre menerima tawaran itu dengan senang hati. Tentunya, mereka tak lapor penjaga untuk menghindari tambahan biaya hotel. Ariel Heryanto tengah mengikuti tes beasiswa Fulbright untuk kuliah di Amerika Serikat. Semua biaya transportasi dan akomodasi para calon penerima beasiswa ini ditanggung Fulbright.

Niat Bre agak aneh di mata Ariel. Ketika itu lembaga swadaya masyarakat sebagai counter argument terhadap pemerintah sedang ngetren dan anak-anak muda yang cerdas serta kritis memilih bergabung di dalamnya. Pemerintah Presiden Soeharto sedang jaya dan sewenang-wenang. Tak suka orang punya pendapat berbeda. Otoriterisme ini harus dilawan bersama.

Tetapi, Bre punya cita-cita lain. Ia ingin bakat menulisnya berkembang. Suratkabar adalah salah satu wadah.

Kata-kata Ariel terbukti. Bre diterima di Kompas. Pertama kali bekerja, ia ditugaskan di desk kebudayaan, lalu dipindahkan ke desk olah raga, dan terakhir di desk metropolitan, sebelum kembali ke desk kebudayaan lagi.

“Hampir seluruh karir saya di Kompas di desk itu. Nggak tahu, kenapa nggak dipindah-pindah.”

Bre menulis apa saja, dari ketoprak keliling sampai tayub.

“Sejak pertama masuk Kompas, saya lebih tertarik pada kebudayaan massa ketimbang adiluhung, seperti teater rakyat, ketoprak, sandiwara keliling. Ini kesenian yang hidup di masyarakat dan saya menulis kesenian lebih untuk menulis masyarakat ketimbang keseniannya sendiri,” katanya.

Ia segera terseret dalam irama kerja yang cepat dan rutin. Tapi, tujuh tahun kemudian, mata rantai ini terputus. Penyebabnya, situasi politik Indonesia.

Pada 1988, terjadi ketegangan dalam pemilihan wakil presiden, antara Sudharmono dan Try Sutrisno. Sudharmono dari Golongan Karya, orang sipil. Try jendral bintang empat dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, militer aktif. Masing-masing, punya kepentingan dalam kancah politik nasional. Puncaknya, Sudharmono dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia. Meski ia kemudian terpilih jadi wakil presiden, dampak tuduhan tersebut meluas. Orang-orang yang dianggap “tak bersih lingkungan” di instansi pemerintahan diberhentikan. Ibarat epidemi, orang-orang media pun tak luput dari serangan. Harmoko, menteri penerangan ketika itu, gencar mengkampanyekan “bersih diri” dan “bersih lingkungan.” Pernyataan resminya dikutip koran-koran, “Ada PKI dalam tubuh pers kita.” Momok komunisme dihidupkan kembali.

Jakob Oetama, pemimpin redaksi Kompas, suatu hari memanggil Bre. Mereka bertemu di ruang kerja Oetama pagi itu. Hanya berdua.

“Keadaannya begini, kamu dianggap tak bersih lingkungan,” kata Oetama, agak enggan.

“Ya, sudah, kalau mau dikeluarin,” batinnya.

“Kamu sekarang nggak nulis dulu aja. Ya, kamu bantu-bantu apa, tapi nggak nulis.”

Ia sedih. Frustasi. Tak punya bayangan tentang hidup tanpa menulis.

“Kemungkinan Pak Jakob juga berpikir, itu bukan salah saya. Salah negeri ini, pemerintah ini. Tapi, mau bilang apa,” katanya, mencoba memahami keputusan Oetama.

Situasi semacam ini bahkan pernah terjadi di sebuah negara demokrasi, seperti Amerika Serikat. Pada 1945 senat Amerika menyetujui pembentukan House Committee on Un-American Activities, sebuah komite untuk memburu anggota atau simpatisan partai komunis. Komite tersebut lahir atas prakarsa Joseph McCarthy, seorang senator anti komunis. Di masa awal Perang Dingin negara-negara kapitalis dengan negara-negara komunis, Presiden Harry Truman membuat program penangkalan “subversi komunis” dan melibatkan komite tadi. Pada Maret 1947 sampai Desember 1952 sekitar 6,6 juta pegawai pemerintahan diperiksa. Program ini merembet ke berbagai sektor, seperti industri film dan media lain.

Komite menyebarkan jutaan pamflet yang diberi tajuk “One Hundred Things You Should Know About Communism (Where can Communists be found? Everywhere).” Komite menyusun daftar orang-orang yang dianggap sesuai kriteria mereka. Hasilnya? Banyak seniman, aktor, dan penulis tamat karirnya.

“Anti komunis, anti PKI ini legitimasi Orde Baru, sehingga untuk mempertahankan kekuasaan ia harus melakukan move ini, kalau mengendor, harus cari move lain. Stigma ini dipakai terus-menerus, kayak gitu,” kata Bre Redana.


BRE Redana berusia delapan tahun ketika ayahnya pergi. Ketika itu puluhan burung emprit terbang meninggalkan pohon kenari di muka rumah besar berdinding kayu milik keluarganya. Setiap hari ia melihat mereka pulang di sore hari. Pohon kenari menjadi sarang mereka. Cericit burung-burung itu riuh. Kelepakan sayap mereka menjauh pada pukul enam pagi.

Lalu-lintas masih sepi. Hanya derap andong dan langkah pejalan kaki terdengar sesekali. Udara dingin dari kota kecil Salatiga yang tenang mengalir dalam rumah.

Bulan Maret 1966. Angkatan Darat tengah merayakan kemenangan. Dipa Nusantara Aidit, ketua komite sentral Partai Komunis Indonesia ditembak mati pasukan yang dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto. Pembersihan orang-orang komunis di seluruh Pulau Jawa dan Bali tengah berlangsung di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dari Resimen Para Komando Angkatan Darat. PKI dituduh merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno.

Para pembantu di rumah keluarga Gondo Waluyo tengah sibuk di dapur. Anak-anak belum berangkat ke sekolah. Tiba-tiba pintu ruang muka terpentang lebar. Orang-orang tak dikenal, tetangga, polisi, dan tentara berseragam memenuhi halaman. Mereka mengepung rumah.

Seakan sudah siap, Gondo Waluyo sudah mengemasi pakaiannya ke dalam tas. Ia menenteng tas yang biasa dibawanya ke kantor itu, lalu menghampiri sang istri.

“Saya mau diambil.” Ia pamit.

Semua berjalan amat cepat. Bre melihat ayahnya melewati ambang pintu. Orang-orang membawanya pergi.

Ibunya menutup pintu dengan kalut dan gugup, lalu berkata, “Papa dijemput teman-temannya.”

Pada siang hari Yutinem mengajak tiga putranya menjenguk ayah mereka di kantor polisi. Namun, sore hari pria yang dicintainya itu sudah tak ada lagi. Seseorang memberitahu, “Sudah dibunuh.” Puluhan tahun kemudian, Yutinem masih merasa pedih tiap mengenang suaminya, membayangkan ia hilang. Kebencian telah berakar dalam hatinya pada kekuasaan.

Setelah itu para tetangga menjadi sinis serta menjauh. Rumah mereka yang dulu ramai kini sunyi. Orang-orang takut mendekat. Bahkan, ada yang tega menakut-nakuti dan berteriak pada anak-anaknya, “Ada polisi!”

Situasi ini juga berlangsung di sekolah Bre. Pandangan mengejek terlihat di wajah sebagian anak. Mereka saling berbisik tiap melihat ia datang. Ia tak mendengar apa yang mereka katakan, tapi merasa dirasani.

Ia tumbuh menjadi anak pemalu, agak minder..

Namun, keadaan tersebut tak berlangsung lama. Orang-orang perlahan melupakan peristiwa itu, seperti tak pernah terjadi. Kehidupan berlangsung bagai sediakala.


MUSIM semi di Darlington, Inggris, 1990. Bunga-bunga crocus putih bermekaran. Seluruh kota seperti bersalju. Pohon-pohon oak dan pinus berbaris di sisi-sisi jalan Southend Avenue. Di muka rumah induk semangnya ada sebuah monumen kecil dari granit hitam. Ia membaca tulisan keemasan yang terukir di situ: crocus ini untuk mengenang cinta saya pada istri saya.

Bunga-bunga crocus putih adalah tanda cinta J Douglas Chilton untuk istrinya, Maude. Chilton, seorang bangsawan kaya, yang hidup pada abad ke-19. Ia tak memiliki keturunan, lalu mewariskan seluruh hartanya pada walikota Darlington. Namun, ia berpesan agar sebagian hartanya itu dibelikan bibit bunga crocus putih dan ditanami di seluruh kota. Chilton ingin semua orang mengenang cintanya pada sang istri saat mereka melihat bunga-bunga crocus mekar di musim semi.

Bre baru saja memenangkan lomba menulis pariwisata tentang kota Darlington. Potretnya sedang berjabat tangan dengan walikota dimuat koran setempat, Evening Chronicle. Rasa percaya dirinya kembali pulih. Ia bisa menulis lagi!

Dalam kamar sewaannya di lantai atas rumah kuno berkamar empat milik Maureen Vasarheley, seorang janda, Bre tercenung. Ia bersyukur menerima beasiswa dari pemerintah Inggris untuk kuliah Media Studies selama dua tahun di Darlington College of Technology. Setidaknya, kuliah bisa mengobati kekecewaan akibat situasi politik di Indonesia. Ia mengambil cuti tanpa tanggungan dari Kompas. Gaji tetap dibayar, tapi tunjangan hilang.

Darlington hanya berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa. Jarang sekali orang asing bermukim di sini. Dari mereka yang sedikit itu, ia satu-satunya orang Indonesia.

“Kota ini saya impikan setiap saat, kota kecil, seperti Salatiga. Di sana ada buku kecil tipis yang dijual murah, sehingga kalau kita beli, kita akan tahu seluruh Darlington. Kita juga jadi tahu, angkutan kereta api pertama untuk penumpang ada di kota ini. Ada sejarah pasar, pedagang tertua, pemilik warung Capuccino paling enak,” ujar Bre.

Ia menikmati waktu senggang sepulang kuliah dengan minum Capuccino di kafe atau minum-minum sampai pagi dengan teman-temannya.

“Sampai jam dua pagi,” kenangnya, terkekeh lagi.

Ia menjejakkan kaki ke Inggris pada musim panas, Juni 1989. Ia tak langsung ke Darlington, tapi mampir di New Castle Upon-Tyne. Banyak klub musik di kota tersebut. Di tepi sungai Tyne itu pemusik dunia macam Sting pernah berpentas sebelum terkenal dengan kelompok The Police. Di belakang asrama mahasiswa tempat ia tinggal, ada sebuah stadion sepak bola. Ia pernah menonton pertunjukan Rolling Stones di sana, lalu mengirim ulasannya untuk Kompas.

Sepulang dari Inggris, ia kembali bekerja di Kompas. Namun, tema-tema artikelnya mulai berkembang, dari kesenian rakyat ke budaya massa.

“Saya melihat masyarakat kita sudah berubah. Menurut saya yang paling mencerminkan masyarakat kontemporer adalah mall, kafe, bioskop 21. Saya menulis budaya pop atau budaya massa, agar orang mengerti kapitalisme itu apa, sadar terhadap keburukannya, sehingga mereka tak begitu terlena amatlah, kayak-kayak gitu.”


COFFEE Club, kafe yang terkenal dengan sajian Capuccinonya di sudut lantai pertama Plaza Senayan, Jakarta Barat. Di salah satu ruangan coklat yang sejuk itu, di tepi jendela kaca berbingkai coklat, yang melapangkan pandangan ke arah para pengunjung, perempuan-perempuan berdandan funky serta wangi, yang hilir-mudik mencari kursi, seorang pria perlahan membuka halaman daftar menu. Ia sering menikmati Capuccino di sini, sendirian. Percakapan dan derai tawa menggemuruh, tapi keramaian justru memberinya rasa asing yang nyaman. Ia tak perlu bertegur sapa atau berbasa-basi dengan siapa pun, berbeda dengan kebiasaan saat bertemu tetangga di kampung halamannya di Salatiga, kota kecil di bagian tengah Pulau Jawa.

“Irish, ya. Tapi, kopinya sedikit saja,” katanya dalam nada tenor yang sopan pada pelayan, yang menunggu di sisi meja kayu sewarna ruang tersebut.

“Kopinya sedikit saja.” Ia mengulangi permintaan itu, seraya mengatur jarak sempit di antara jempol dan telunjuknya yang ramping.

Irish, sejenis minuman dari ramuan whisky yang dicampur kopi dan krim.

Ah, sebetulnya ia tak boleh minum kopi. Dokter melarangnya. Ia punya penyakit maag. “Sedikit aja masak nggak boleh?” pikirnya, nakal.

Sore itu ia kembali mengamati orang-orang yang datang melalui kaca jendela di sisi kirinya, sebentar-bentar menoleh dan tersenyum. Seorang pria berkemeja hitam dan berambut gondrong terlihat memasuki kafe, menarik perhatiannya. Ia tertawa sambil melambaikan tangan pada Dimas Jayadiningrat, sutradara videoklip Indonesia. Jayadiningrat membalas lambaian dan tawanya, tapi mereka tak saling mendekat.

Pelayan datang membawa pesanan, Irish dan Capuccino, lalu menaruh cangkir-cangkir yang mengepulkan aroma pahit itu di atas meja. Bre meraih pot gula dan membubuhkan dua sendok kecil serbuk manis tersebut ke dalam Irishnya dengan tenang.

“Belum diberi gula,” katanya, menunjuk Capuccino teman wanitanya.

Sepotong cinnamomum burmani, kayu manis, menggeletak di sisi cangkir. Keras, harum, coklat.

“Itu untuk mengaduk,” katanya, lagi.

Ia suka minum kopi di sini, kalau bete di kantor. Jarak kantornya ke Plasa Senayan dekat, cuma 10 menit. Inilah tempat yang membuatnya merasa berada di sebuah unikum dari kelahiran seni kontemporer.

Gaya rambut, busana, selera musik, makanan, dan pemikiran anak-anak muda yang nongkrong di situ berbeda, khas, bahkan terputus dari generasi sebelumnya. Mereka nonton MTV, makan Big Mac, dan gemar surfing atau chatting di internet. Mereka inilah generasi yang mencipta film Ada Apa dengan Cinta, Jelangkung, atau Pasir Berbisik. Dari mereka pula lahir Dewi Lestari, penyanyi yang menulis novel Supernova atau Ayu Utami yang menulis Saman. Karya-karya mereka tak bisa dinilai dengan kerangka orang menilai karya Pramoedya Ananta Toer atau Achdiat Kartamiharja. Tak ada keterkaitan sejarah, tak ada keterikatan nilai dengan masa lampau.


BRE tiba-tiba mematikan lampu, berjalan ke jendela, menggesernya. Ia sering melihat bulan purnama dalam gelap. Namun, tak ada bulan kali ini, walau sepotong. Ia kembali menyalakan lampu, menuju kursinya dan bertelekan di meja.

Ia terlahir sebagai Tri Sabdono. Bre Redana bukan nama sebenarnya, hanya nama untuk berdamai dengan sejarah.

Di usia yang hampir 45, Bre masih melajang. Ibunya khawatir ia akan sendirian selamanya.

“Punya pacar?” tanya saya.

“Kadang ada, kadang nggak.”

“Ibu bilang, banyak.”

“Ibu sebutkan semuanya?” Tawanya berderai

Bre merasa ia mungkin seperti Tomas, tokoh dalam Unbearable Lightness of Being. Ini salah satu novel Milan Kundera, penulis Cekoslovakia yang ia suka.

Tomas adalah orang yang ingin melepaskan diri dari semua ikatan yang berlaku, termasuk dengan perempuan. Ia menjalin hubungan erotis dengan Sabina dalam waktu yang panjang, tapi mereka sama sekali tak menyebut cinta di sana.

Suatu hari Tomas berjumpa perempuan lain di bar hotel, Teresa. Mereka saling jatuh cinta. Tapi, cinta pun ternyata bukan penyelesaian buat Tomas. Ia kaget melihat Teresa berdiri di muka pintu apartemennya, menjinjing dua koper. Tomas merasa dalam dua koper itu tersimpan seluruh hidup Teresa, yang hendak diserahkan padanya.

“Rumus hubungannya dengan perempuan itu kira-kira begini: Kamu memilih hubungan yang mana? Kamu bertemu dengan seorang perempuan, jatuh cinta habis-habisan, kemudian kalian pulang ke rumah bersama, bercinta selama seminggu atau dua minggu, setelah itu kalian ternyata bosan, merasa tidak cocok, dan tidak ketemu lagi seumur hidup. Atau pola yang kedua, ketemu wanita dalam sebuah petang di kafe, pulang ke rumah bersama, tidur bersama, terus pagi harinya kaget karena ternyata jam delapan pagi ini ada appointment, si cewek juga terkaget-kaget ternyata ada meeting. Masing-masing kabur ke tempat kerja, dan seharian itu tidak sempat bertelepon, besoknya juga tidak bertelepon, hari ketiganya makin lupa, hari keempatnya sudah tidak merasa kenal lagi, tapi dua minggu kemudian, mereka saling ingat, bertemu dan bercinta lagi. Dalam hubungan Tomas dan Sabina sebetulnya ada komitmen yang sangat mendalam, sampai akhir hayat Tomas. Jadi, dalam karya yang kelihatan hubungan manusia itu amburadul ada sebuah nilai yang sangat dahsyat.”

Tokoh Tomas yang dokter bedah ini tersingkir dari negerinya, Cekoslowakia, akibat invasi Rusia. Ia melarikan diri ke Prancis. Sebagai intelektual bebas, Tomas tak ingin mengikuti doktrin negara komunis yang menyeragamkan semua hal.

“Tomas tak mengecam komunisme, karena yang diperjuangkannya bukan ideologi apa pun, tapi kebebasan,” kata Bre.

Ia juga tak menaruh dendam pada masa lalu, juga tak menyesali apa pun. Ia penganut historisisme, salah satu mazhab besar pemikiran. Manusia jadi pahlawan atau pemberontak akibat konsekuensi sejarah.

“Jadi, ada sebuah insiden sejarah, sebuah kecelakaan sejarah, yang menjadikan satu pihak sebagai pahlawan, yang satu pihak yang lain menjadi korban. Ayah saya, sayangnya, berada di pihak yang jadi korban.”

Pukul tiga pagi. Sebuah rumah mungil berjendela kaca patri warna-warni di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, berjaga sejak malam. Lampu masih menyala di perpustakaan. Suara penyanyi wanita Cina masih terdengar. Empat jam lagi ia harus sampai di bandara. *

Sumber : Aceh Feature, 3 Juni 2002
Read Full 0 comments

Timothy Theodore "Tim" DUncan : Duncan, Tanggung Jawab Seorang Bintang

Duncan, Tanggung Jawab Seorang Bintang
Oleh : J Waskita Utama

TIMOTHY Theodore "Tim" Duncan akhirnya bisa tersenyum, meski hanya sekilas, saat bunyi bel mengakhiri game kelima final wilayah Barat di America West Arena, Phoenix. Dua angka terakhir Amare Stoudemire tak mampu melepaskan tuan rumah Phoenix Suns dari kekalahan keempat, dan San Antonio Spurs melaju ke final NBA.<>

Hal ini berbeda dengan suasana seusai game keempat di SBC Center, San Antonio. Duncan meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk karena Suns mengalahkan timnya 106-111, satu-satunya kemenangan Suns atas Spurs di final wilayah. Selama dua hari berikutnya, Duncan mengasingkan diri dan tak ada seorang pun diajaknya bicara, termasuk Pelatih Spurs, Greg Popovich.

DUNCAN menyalahkan diri sendiri atas kekalahan Spurs karena hanya menyarangkan enam dari 12 lemparan dan tiga dari 12 lemparan bebas, atau total 15 angka. Sangat jauh dibandingkan dengan rata-rata 30,5 angka pada empat pertandingan lainnya.

"Tim selalu membebankan kesalahan pada dirinya sendiri setiap kali dia bermain jelek. Dia merasa sangat bertanggung jawab atas kekalahan itu," ujar rekan setimnya asal Argentina, Manu Ginobili.

Alih-alih menyalahkan rekan setim atau rasa sakit di engkel kaki sebagai penyebab kekalahan, Duncan memanfaatkan hari kosong di sela pertandingan untuk berlatih tembakan bebas dan lemparan lompat seorang diri. Dia juga hadir sangat awal di lapangan, untuk memastikan mendapat touch-nya kembali.

Hasilnya langsung terlihat, Duncan membukukan total 31 angka dan 15 rebound. Dia juga menjadi pusat pertahanan Spurs dalam menghadapi permainan ofensif Phonix Suns.

"Tim Duncan seorang individual. Anda tak akan mengenalnya hanya dengan melihat wajahnya atau berbicara dengannya. Saat seperti ini, dia tidak membutuhkan siapa pun untuk berbicara, apalagi seorang pelatih. Dia sangat bertanggung jawab, dan tahu apa yang harus dilakukan," ujar Popovich.

Bagi Duncan, tantangannya bukan pada memperbaiki kesalahan dan memastikan hal itu tidak terjadi lagi. "Aku hanya tak senang bermain buruk. Aku tak ingin meninggalkan sesuatu di lapangan yang seharusnya tidak kulakukan, padahal aku bisa melakukan sesuatu yang berbeda," ujarnya.

Tanggung jawab untuk selalu bermain baik inilah yang menjadikannya salah satu pemain terbaik NBA pascamundurnya mahabintang Michael Jordan. Bergabung ke San Antonio Spurs sebagai pilihan pertama draft musim 1997-1998, Duncan langsung menunjukkan kebintangannya.

Di akhir musim pertama, dia merebut gelar pemain pendatang baru terbaik, dan langsung terpilih sebagai satu dari lima pemain terbaik dalam NBA first team. Setelah itu, posisi di tim pertama NBA tak pernah luput darinya selama delapan tahun berturut-turut hingga musim 2004-2005. Prestasi yang hanya dimiliki oleh empat pemain sebelumnya, yaitu Larry Bird, Oscar Robertson, Bob Pettit, dan George Mikan.

Duetnya bersama David Robinson, center Spurs, menjadi dua menara yang sulit ditembus lawan. Hanya perlu satu musim, The Twin Towers membawa Spurs ke final NBA 1999, yang pertama sejak bergabung ke NBA musim 1975-1976. Hebatnya, Spurs dan Duncan langsung berhasil pada kesempatan pertama.

Gelar juara direbutnya lagi bersama Spurs pada tahun 2003. Pada dua kesempatan itu, Duncan tampil sebagai pemain terbaik (MVP) final, melengkapi dua MVP babak reguler yang diraihnya dua tahun berturut-turut, musim 2002-2003 dan 2003- 2004.

DILAHIRKAN di St Croix, Kepulauan Virgin, Amerika Serikat, pada tanggal 25 April 1976, basket bukanlah olahraga pertama bagi Duncan. Hingga usia 13 tahun, Duncan adalah perenang andal di nomor 400 meter gaya bebas, salah satu yang terbaik di AS untuk kelompok umurnya.

Namun, topan Hugo yang menyerang Kepulauan Virgin pada tahun 1989 menghancurkan kolam renang di Pulau St Croix, dan Tim kecil ini banting setir menjadi pemain basket. Setahun kemudian, ibunya meninggal dunia karena kanker payudara, meninggalkan pengaruh yang sangat dalam pada diri Duncan.

"Mama adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Dia sangat mendukung apa yang kami pilih, dan membuat kami berjanji untuk kuliah. Janji itu yang membuatku menyelesaikan empat tahun masa kuliah sebelum bergabung ke NBA," ujar peraih gelar Sarjana Psikologi dari Wake Forest University ini kepada situs slamduncan.com.

Bersama dengan Amy, istri yang dinikahinya tahun 2001, Duncan lalu membentuk Yayasan Tim Duncan yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembinaan kaum muda. Selama lima tahun terakhir, yayasan ini mengumpulkan lebih dari 600.000 dollar AS untuk riset bidang pengobatan dan pencegahan kanker, serta 135.000 dollar AS untuk pendidikan kaum muda.

"Good, better, best/ never let it rest/ until your Good is Better, and your Better is Best. Mama selalu mendendangkan ini sebelum aku tidur, dan memberi inspirasi tentang pentingnya kerja keras dan karakter yang baik untuk anak- anak. Inilah yang ingin kulakukan dengan yayasan ini," ujarnya.

Di waktu senggang, Duncan menjalani hobinya mengoleksi berbagai macam pisau, termasuk sebilah pedang samurai sepanjang tiga kaki. Dia juga menggemari musik, khususnya reggae, rap, dan musik alternatif. Setahun terakhir, orang selalu melihat earphones di telinganya saat melakukan pemanasan menjelang pertandingan. "Aku menyukai energi dari jenis musik itu, yang membantuku fokus pada pertandingan," paparnya.

NAMUN, ritual paling menarik yang dilakukannya adalah menggunakan celana pendek dengan sisi depan berada di belakang saat latihan. "Pada suatu latihan di masa kuliah, aku keluar dari ruang ganti dengan celana terbalik, yang baru kusadari belakangan. Ternyata latihan berjalan sangat baik sehingga aku menjadikannya tradisi sampai sekarang," tuturnya.

Kini, Duncan hanya terpaut tujuh pertandingan lagi dengan cincin juara NBA yang ketiga. Untuk mewujudkannya, dia harus berhadapan dengan Shaquille O’Neal dan Miami Heat, atau Ben Wallace dan Detroit Pistons, di final NBA yang akan dimulai 9 Juni. (J Waskita Utama)

Sumber : Kompas, Sabtu, 4 Juni 2005
Read Full 0 comments

Tarsoen Waryono : Tarsoen, Sang Arsitek Hutan Kota

Jun 27, 2009
Tarsoen, Sang Arsitek Hutan Kota
Oleh : Nasru Alam Aziz

HARI Lingkungan Hidup Sedunia 2005 adalah hari yang sangat berkesan dalam hidup Tarsoen Waryono. Saat dunia internasional menyerukan tema green cities, ia mendapat penghargaan Kalpataru-simbol pelestarian lingkungan hidup-dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena upayanya yang keras membangun hutan kota.

DALAM berbagai kesempatan ia selalu mengemukakan keresahannya akan penurunan kualitas lingkungan hidup di Jakarta. Jumlah kendaraan bermotor yang tidak terkendali menyebabkan polusi, hutan beton yang makin lebat meningkatkan laju limpasan air hujan, dengan dinding-dinding kaca yang meningkatkan titik-titik panas kota.

"Salah satu solusi untuk memulihkan kualitas lingkungan di kota Jakarta adalah dengan membangun hutan kota serta kawasan terbuka hijau lainnya," kata Tarsoen, yang menerima Kalpataru untuk kategori Pembina Lingkungan.

LAKI-laki kelahiran Cilacap, 12 Juni 1952, itu memulai kariernya sebagai pegawai negeri sipil pada sebuah kantor cabang Dinas Kehutanan di Kalimantan Timur. Selama delapan tahun di hutan Kalimantan, Tarsoen akhirnya ditarik ke Jakarta sebagai Kepala Seksi Perencanaan Hutan Kawasan Timur di Departemen Kehutanan (1976-1985). Lalu Tarsoen diberi kepercayaan sebagai Pelaksana Program Pembangunan Hutan Kota Kampus UI Depok (1985-1990).

Ia pernah ditampung di Kantor Wilayah Kehutanan DKI Jakarta sebelum diangkat sebagai Pengelola Hutan Kota Kampus UI Depok (1998-1999). Sejak tahun 2004 Tarsoen menjadi Koordinator Binaan Hutan Kota UI. Di samping itu, ia masih mengajar mata kuliah yang erat kaitannya dengan ilmu lingkungan hidup di Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI, yaitu mata kuliah Erosi dan Konservasi dan juga Biogeografi.

Kandidat doktor bidang Biologi Konservasi pada UI itu hampir setiap hari meluangkan waktu untuk melayani mahasiswa yang sedang praktik lapangan dan konsultasi skripsi maupun tesis berkaitan dengan hutan kota, biologi, ekologi, konservasi, atau tanaman obat.

Bukan hanya itu, Tarsoen disibukkan dengan berbagai seminar, penyuluhan, dan pendampingan. "Anak-anak saya selalu risau. Mereka khawatir saya tidak lagi mengajar karena sibuk mengurusi hutan kota," ungkap ayah dari dua anak-Mellia Jenetica (24) dan Afrieza Galihtica (15)-buah perkawinannya dengan Sri Purwati ini.

MERINTIS pembangunan hutan kota bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang panjang, energi yang besar, dan semangat pantang menyerah.

Tarsoen memulai pembangunan hutan kota UI dengan menyusun rencana dan rancangan pembangunannya. Desain hutan kota UI disusun berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Hutan Kota UI Tahap I (1989/1999) yang memisahkan antara Tata Hijau Bangunan yang terletak di sebelah selatan Kampus UI Depok dan hutan kota di wilayah utara kampus.

Sejak awal perencanaan pembangunan Kampus UI Depok seluas 390 hektar, pihak rektorat berkomitmen untuk hanya menggunakan 30 persen dari luas lahan untuk lantai bangunan termasuk jalan. Sisanya, 70 persen, harus menjadi daerah resapan air atau sebagai ruang terbuka hijau.

Rancangan itu ditawarkan ke beberapa instansi terkait guna mendapatkan pendanaan karena sejak awal UI tidak membiayai pembangunan dan pemeliharaan hutan kota UI. Rancangan hutan kota UI ketika itu dipresentasikan di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Fuad Hassan.

"Saya presentasi begitu semangatnya. Tanggapan Pak Menteri: rencana Mas Tarsoen hebat sekali. Saya kagum dari ujung ke ujung, tapi sayang dengan dana yang sebegitu kecil, Dikbud tidak bisa memenuhi karena tolok ukurnya tidak ada," tuturnya mengenang. "Karena tolok ukur membangun hutan memang tidak ada di Dikbud, saya terpaksa lari ke Dephut (Departemen Kehutanan). Akhirnya dapat sekitar Rp 40 juta," katanya lagi.

Hutan kota UI ditata menyatu dengan kawasan tandon air atau situ yang merupakan ekosistem perairan atau kawasan tata air. Saat ini sudah dibangun enam situ (15 hektar) di atas lahan sawah dengan sumber air dari air limpasan. "Jika situ-situ yang ada digunakan sebagai daerah resapan, maka akan mampu menyuplai air untuk tiga juta penduduk. Situ-situ tersebut adalah kesatuan ekologis dengan hutan kota yang tidak dapat dipisahkan," paparnya.

Tarsoen membagi hutan kota UI dalam zona Wallacea Barat yang diisi tanaman dari belahan barat Indonesia dan Wallacea Timur untuk tanaman dari wilayah timur. Di antara kedua zona itu disediakan kawasan untuk tanaman lokal yang memang merupakan tumbuhan asli di sana. "Kampus UI yang membawa nama Indonesia saya beri ciri dengan tanaman dari Sabang sampai Merauke. Butuh sedikitnya 400 spesies tanaman untuk itu, dan sekarang baru sekitar 130 spesies," ujarnya.

Memberi ciri khas seperti itu pada hutan kota merupakan keahlian Tarsoen. Tengoklah rancangan terakhirnya di halaman Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Anda akan menemukan jenis pohon yang namanya diambil dari huruf-huruf "J-A-K-A-R-T-A-S-E-L-A-T-A-N". Di sana ada jati, agatis, kesambi, rambutan, tusam, dan seterusnya.

Lain lagi di markas tentara. Ketika akan merancang hutan untuk Mabes TNI di Cilangkap, Tarsoen diminta membuat hutan seperti di Papua, dengan pepohonan yang tinggi, sehingga jika tentara diterjunkan di sana tidak akan sampai ke tanah karena terhalang pohon. Ia pun memilih pohon yang besar-besar, tanamannya rapat, dan di bawahnya bukan rumput, tetapi tumbuhan berduri.

Markas Kopassus di Cijantung ingin hutan Kalimantan, tetapi didominasi warna merah. Hasilnya, di sana sekarang banyak ditemukan pohon flamboyan dan keciat yang bunganya berwarna merah, serta ketapang yang daunnya juga merah kalau mulai kering.

Di Markas Marinir Cilandak, Tarsoen membuat hutan yang didominasi warna ungu dari pohon-pohon bungur.

Yang agak unik dan lebih sulit, kata Tarsoen, adalah Lanud Halim Perdana Kusuma yang menginginkan hutan yang tidak dihinggapi burung dan jajaran pohon yang mampu meredam suara pesawat. "Burung di Jakarta lebih dominan makanannya biji atau ulat. Maka kita mencari predatornya. Ulat tidak akan banyak kalau banyak semut di pohon itu. Itu namanya trik kombinasi," tutur Tarsoen bangga.

Lalu apa obsesinya ke depan? "Saya ingin menjadikan hutan kota UI sebagai ecoscience park. Di samping untuk arena rekreasi, kawasan hutan akan diberdayakan sebagai laboratorium alam," ungkapnya. "Dananya harus saya cari sendiri. Mungkin ada yang berminat jadi sponsor." (Nasru Alam Aziz)

Sumber : Kompas, Rabu, 15 Juni 2005
Read Full 0 comments

Tajib, Kemiskinan dan Keprok Pulung

Tajib, Kemiskinan dan Keprok Pulung
Oleh : JA Noertjahyo*

DIA lincah dan energik. Meskipun menyandang gelar sarjana antropologi dari Universitas Gadjah Mada, ia tidak canggung bergaul dengan para petani miskin. Di lain pihak ia juga bisa akrab dengan para peneliti yang bergelar magister atau doktor. Praktis dia menjadi ”jembatan” antara para intelektual serta birokrat dan para petani di desa-desa. Khususnya petani jeruk di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Itulah figur Tajib (34), bujangan yang lebih suka menguber jeruk keprok pulung ketimbang cewek. Buah Citrus reticulata ini sejak zaman penjajahan dulu memang marak di daerah Kecamatan Pulung (Ponorogo). Karena itu kemudian dikenal dengan nama ”keprok pulung”. Namun kejayaannya hancur setelah beberapa kali diserang virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration).

Bencana terakhir terjadi tahun 1984 sehingga petani kapok menanamnya. Padahal, jeruk ini sudah dikenal luas dan memiliki banyak penggemar fanatik.

Sebagai warga asli Ponorogo kelahiran Desa Paringan di Kecamatan Jenangan, Tajib bertekad untuk menggairahkan kembali buah unggulan Bumi Reog itu. Oleh karena itu, setelah menamatkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1997, ia tidak tergiur pekerjaan sebagai pegawai negeri atau karyawan perusahaan.

Tajib memilih pulang kampung dan langsung menanam dua hektar keprok pulung. Saat itu di daerah Ponorogo sudah marak tanaman jeruk keprok siem di areal persawahan dengan menggusur tanaman padi.

Kedua jenis jeruk ini memang menyukai habitat yang berbeda. Keprok pulung cocok untuk tanah pada ketinggian 700 meter ke atas, sedangkan keprok siem tumbuh bagus apabila ditanam di dataran rendah.

TAJIB awalnya mengalami kesulitan merawat tanaman jeruknya. Ia pun giat belajar tentang budidaya jeruk dari literatur dan para petani yang berpengalaman. Namun, itu dirasakan belum cukup. Kemudian ia berhubungan dengan para peneliti di Loka Penelitian (Lolit) Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik Tlekung, Kota Batu. Juga dengan para peneliti di Balai Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur yang berkantor di Karangploso, Malang.

”Saya mendapat pengetahuan dan bimbingan banyak dari sana,” kata Tajib saat membonceng penulis meninjau berbagai lokasi tanaman jeruk di Ponorogo. Pengakuan ini terbukti saat melihat dia memberi petunjuk kepada para petani tentang pemberantasan hama dan pemupukan.

Atau cara memangkas ranting-ranting pohon yang tidak menguntungkan pembuahan. Demikian pula tentang pengairan, penjarangan buah, dan cara memanen buah pada usia yang tepat.

”Ia sudah menguasai teknik budidaya jeruk secara baik dan menjadi pembina petani di sana,” kata Dr Ir Q Dadang Ernawanto, Koordinator Peneliti di BPTP Jawa Timur.

Ketika dihubungi secara terpisah, Ir Arry Supriyanto MS, Kepala Lolit Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik Tlekung, juga mengutarakan komentar serupa. ”Dia memang luar biasa. Bekerja sebagai sukarelawan dengan penuh dedikasi,” ujarnya.

Mengikuti kegiatan Tajib memang cukup capek. Kami berdua berboncengan sepeda motor masuk keluar desa untuk meninjau kantong-kantong tanaman jeruk. Rasanya lebih dari 200 kilometer jalanan jelek yang kami lewati. Banyak turunan dan tanjakan yang tajam, terkadang dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.

Sebagian juga sempit dan berada di pinggir jurang yang dalam sehingga sering muncul rasa waswas dengan hati berdebar-debar. Jalan makadam itu pun dengan batu-batu yang cukup besar dan sebagian sudah rusak berat sehingga laju sepeda motor sering ”ajojing”. Namun, Tajib tampak begitu percaya diri dan tidak pernah mengeluh.

SAAT ditanya motivasinya dalam membina para petani, Tajib menjawab, ”Saya ingin keprok pulung bisa jaya lagi. Sekaligus juga mengentas para petani dari kemiskinannya.”

Luar biasa, dan saya tidak bisa memberikan komentar. Tajib menambahkan, untuk mendongkrak kembali kejayaan keprok pulung itu ia akan mengikuti ”lomba keprok” yang dilaksanakan 28-31 Juli mendatang di Lolit Tlekung. ”Saingan berat kami tampaknya hanya keprok soE,” tutur Tajib.

Untuk keperluan itu ia terus membina beberapa kelompok tani mempersiapkan buah yang bagus. Berhubung akhir-akhir ini panas cukup terik dan tanaman terkadang membutuhkan air, terpaksa dipasang slang-slang plastik untuk mengalirkan air. ”Untung hari ini ada hujan meskipun tidak lebat,” kata Tajib, sambil mengamati tanah yang sedikit basah.

Saat ini Tajib membina delapan kelompok tani yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Jambon, Jenangan, Pulung, Sooko, dan Ngebel. Jarak satu dengan lainnya cukup jauh dan bermedan berat. Maklum, lereng Gunung Wilis yang ditanami keprok pulung itu umumnya pada ketinggian 700-1.200 meter di atas permukaan laut. Banyak jalan berada di pinggiran jurang dan memiliki sekian banyak tanjakan.

Masing-masing kelompok memiliki anggota 40-70 petani. Lokasi tanaman mereka pun terpencar-pencar, tidak membentang dalam hamparan luas. Umumnya petani yang berlahan sempit itu memiliki 100-500 pohon jeruk. Hanya beberapa orang yang mampu menanam sampai sekitar seribu pohon, yaitu mereka yang tergolong ”kaya”.

Itulah gambaran ”medan petualangan” Tajib yang setiap saat digelutinya. Cukup sulit, berat, dan berbahaya. Padahal, untuk semua itu ia bekerja secara sukarela, dengan bimbingan Lolit Tlekung dan BPTP Jawa Timur.

Namun, Tajib tetap bersemangat demi kejayaan keprok pulung sekaligus perbaikan nasib para petani. Sudah sepantasnya dia pernah mendapat predikat ”Pemuda Pelopor Ponorogo”. Tahun ini Tajib masuk dalam nominasi untuk ”Pelaku Agribisnis” tingkat Provinsi Jawa Timur.

*JA Noertjahyo, Wartawan, Tinggal di Malang

Sumber : Kompas, Kamis, 23 Juni 2005
Read Full 2 comments

Toton Greentoel, Pencarian Identitas Lagu Daerah Banten

Jun 26, 2009
Toton Greentoel, Pencarian Identitas Lagu Daerah Banten
Oleh: MH Samsul Hadi

Tip dodol tip wajik
tip gule lan kelape
didokon ning pendaringan
dirubung semut gatel.T

Tembang dolanan anak-anak Banten ini sudah jarang terdengar. Pengamen jalanan, Achmad Tantowi alias Toton Greentoel (37), mengemas ulang tembang itu dalam album kaset amatiran berisi lagu-lagu berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Ikhtiar mencari identitas lagu daerah Banten.

Ceritanya berawal dari sebuah ejekan di meja makan. Sekitar tahun 1998, saat makan bersama beberapa temannya sesama pekerja proyek pembuatan alat pengebor minyak di Bojonegara, Kabupaten Serang, ia diledek soal tiadanya lagu-lagu daerah Banten. Saat itu teman-temannya dari Batak, Padang, dan Sunda membanggakan lagu daerah mereka.

Untuk menutupi rasa malu, ia menyanyikan tembang dolanan anak-anak Banten yang diingatnya. ”Surantang-surinting, bibi Semar nyolong gunting, guntinge bibi laos, sedakep tangan sios,” begitu ia mendendangkan Surantang-surinting.

Empat tahun kemudian, ketika di-PHK (putus hubungan kerja) dan harus menghidupi keluarganya dengan mengamen, ingatan Toton terhadap tembang dolanan anak Banten itu belum pudar. Dengan gitar yang digunakan mengamen sehari-hari, ia mulai mengaransemen tembang-tembang dolanan anak Banten, seperti Surantang-surinting dan Tip Dodol Tip Wajik.

Ia juga mencoba menggubah lagu-lagu dengan lirik berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Lagu hasil gubahan itu diperdengarkan kepada khalayak saat mengamen sebagai selingan atas lagu-lagu pop. Di luar dugaan, respons masyarakat cukup positif. Ketika mengamen di kawasan Royal, kota Serang, uang tip dari penggemarnya tidak lagi recehan, melainkan Rp 20.000, Rp 50.000, atau Rp 100.000.

Sejak itu, pria kelahiran Serang, 7 April 1968, ini memosisikan diri sebagai pengamen dengan ”brand” lagu-lagu berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Tempat tampilnya meluas, sampai di hotel-hotel di Serang dan Anyer.

Warung bakso

Salah satu tempat Toton mengamen hingga kini adalah Warung Bakso ”Meddy” di Jalan Maulana Yusuf, Serang. Tempat itulah yang ”membesarkan” namanya hingga dikenal di Serang dan Banten. Di tempat itu, ayah dari enam putri ini menjumpai penggemarnya yang selalu ingin mendengar lagu-lagu Jawa-Serang dan Sunda-Banten.

Dari celetukan pelanggan warung bakso, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat itu, gagasan mendokumentasikan lagu-lagu daerah Banten muncul. ”Kalau dikasetkan bagus, mudah-mudahan ada yang membiayai,” kata Toton, penggemar lagu-lagu Ebiet G Ade, menirukan aspirasi penggemarnya.

Ide tersebut terwujud setelah ia tampil di Taman Wisata Wulandira, Serang, pada acara Hari Anak Nasional tahun 2003. Sempat disepelekan panitia tetapi mendapat aplaus hadirin berkat lagu-lagu Jawa-Serang dan Sunda-Banten, ia dibantu beberapa wartawan lokal dengan melobi pejabat daerah agar mau membiayai rekaman kaset lagu itu.

Toton sempat diminta membuat proposal, tetapi ia menolak. Akhirnya, tanpa proposal pun, pada pengujung tahun 2003 beberapa pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang berpatungan hingga terkumpul Rp 15 juta untuk membiayai rekaman album pertama di Cilegon. Dari situ lahirlah album Ayo Bangun Banten.

Gamang

Selama menggubah lagu-lagu daerah Banten, Toton merasa gamang. Kegamangan itu seiring dengan kegamangan umumnya masyarakat Banten tentang identitas kedaerahan mereka.

Sehari-hari orang Banten menggunakan bahasa Jawa-Serang (Serang dan Cilegon) dan Sunda-Banten (Pandeglang-Lebak) untuk berkomunikasi. Itulah sebabnya pada album kedua yang dirilis awal tahun 2005 bersama penyiar radio ”Mega Suara”, Rinrin S, sebanyak 2.000 keping dengan dana Pemkab Serang Rp 50 juta, ia menyertakan lagu dengan lirik bahasa Sunda-Banten.

Sebuah radio swasta di Serang menamai lagu-lagu Toton pada album kedua dengan sebutan lagu Dangdut Serang. Terlepas dari belum munculnya identitas musik Banten, lirik lagu-lagu itu berbicara soal Banten: potensi wisata, industri, sejarah, tembang dolanan, tradisi Padang Wulan 14 Jumat, serta makanan tradisional, semisal sate bandeng atau kulit gerintul yang kemudian dipakai sebagai nama pop-nya.

Selain merekam nilai-nilai religius masyarakat Banten, lagu-lagu Toton juga memotret sisi lain kehidupan sosial mereka, seperti tren gadis-gadis Banten yang mulai gemar memakai baju seksi dan kebiasaan kawin dengan lebih dari satu istri. Semuanya diolah dengan gaya canda sehingga pendengar pun dibuat tersenyum geli.

Sumber : Kompas, Jumat, 15 Juli 2005
Read Full 0 comments

Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat : Perjuangan Melawan Flu Burung

Jun 25, 2009
Perjuangan Melawan Flu Burung
Oleh: Agnes Aristiarini

Hari-hari ini Drh Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat PhD (51) kembali sibuk. Minggu (18/9) pagi, ketika kebanyakan orang masih menikmati hari libur dengan bergelung di tempat tidur, ia sudah sibuk rapat. Siang hari, telepon genggamnya tak berhenti berbunyi. Minggu malam, ia rapat maraton di Kantor Menko Kesra.

Sungguh, kasus flu burung yang September ini telah merenggut nyawa satu korban lagi, membuat ia jadi supersibuk. Jangankan aerobik, hobinya menyanyi juga terabaikan. Maklumlah, Tata begitu ia dipanggil adalah Direktur Kesehatan Hewan di Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian.

Andai saja waktu bisa diputar. Tahun 2003, ketika sudah banyak ayam mati dalam tempo beberapa bulan tanpa ada kejelasan, sebenarnya Tata sebagai dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor (1979) sudah merasa bahwa flu burung telah menular ke Indonesia.

Namun, sulit sekali bagi pemerintah membukanya. Saat itu, tekanan industri perunggasan yang khawatir tingkat konsumsi telur dan daging ayam menurun amatlah besar.

Sebagai negara yang baru mulai bangkit dari krisis, gangguan terhadap perekonomian mati-matian dihindari tanpa menimbang dampak lebih panjang. Maka, ketika akhirnya pengakuan terhadap kasus flu burung muncul, sebenarnya penanganan sudah terlambat enam bulan.

Secara profesi, saya kadang suka merasa salah melihat dampaknya sekarang. Tetapi, kalau secara pribadi tidak karena saya tidak terkait langsung. Saat itu saya masih Direktur Pengembangan Peternakan, katanya.

Telanjur meluas

Tata memang baru diangkat jadi Direktur Kesehatan Hewan pada 24 Desember 2003, yang membuat ia harus bergelut dengan semua dampak itu. Tiap hari rapat dan pulang menjelang tengah malam. Situasinya gawat karena sudah telanjur melebar. Kalau semula hanya di dua kabupaten, kini tidak satu pun kabupaten di Jawa yang bisa mengklaim bebas flu burung.

Sepanjang 2004 situasinya cheos, penuh trial and error dan semua pihak cari selamat. Itu betul-betul ujian dari segi teknis dan administratif, ujar master filosofi bidang epidemiologi dan ekonomi veteriner dari Reading University, Inggris, ini.

Belum lagi urusan dana. Dari anggaran penanggulangan flu burung yang disetujui DPR Rp 212 miliar, hanya turun Rp 84,6 miliar. Orang bilang dikorupsi, padahal cuma itu yang ada. Itulah yang dipakai mengatur, memperbaiki sistem, menyiapkan vaksin, paparnya.

Tahun 2005, ketika terjadi kasus Iwan Siswara Rafei sebagai korban manusia pertama flu burung di Indonesia, DPR menyetujui lagi dana Rp 134 miliar. Dana itu kini juga belum turun. Kalaupun turun, belum tentu keluar semua, kata Tata.

Padahal, pertengahan Desember 2005 semua upaya penanggulangan harus selesai. Dalam waktu tak lebih dari 2,5 bulan, kondisi ini jadi dilema karena dana tak ada sementara pemerintah harus menyediakan desinfektan, vaksin, dan sebagainya. Belum lagi kalau harus mengikuti aturan tender yang bisa makan waktu satu bulan.

Dalam situasi kedaruratan, antara teori dan kenyataan sering tidak nyambung. Ini menyulitkan karena tuduhannya bisa macam-macam, ujar Tata yang doktornya diperoleh di Massey University, Selandia Baru (1996).

Apa yang dipercaya sebagai kaidah, misalnya tata cara prosedur pemberantasan penyakit, juga tidak selalu bisa berjalan mulus kalau sudah berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Ada banyak faktor lain yang terlibat: politik, ekonomi, sosial.

Karena itu dibutuhkan orang yang bisa mengambil keputusan cepat dengan mempertimbangkan itu semua, tambahnya.

Penanganan ke depan

Dengan kondisi Indonesia yang sangat khas: pola peternakan yang tidak semua dikandangkan, pencampuran ternak ayam dengan non-unggas, hingga belum dipraktikkannya biosecurity secara merata di semua lini peternakan, penanggulangan penyebaran flu burung bakal menjadi perjuangan panjang.

Pemusnahan massal (stamping out) seperti yang dilakukan negara maju tidak mempan di Indonesia karena banyak peternakan ayam kampung yang dibiarkan berkeliaran.

Belum lagi UU Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dipakai sebagai landasan hukum, yang sangat ketinggalan zaman.

UU tersebut sangat umum, tak ada sanksi pidana maupun administratif yang bisa jadi landasan hukum. Misalnya untuk menjerakan peternak yang menjual ternak sakit, jelas istri Parlindungan Hutabarat ini.

Dengan situasi begini, maka yang sekarang bisa dilakukan adalah meningkatkan kesadaran para kepala pemerintahan daerah, terutama untuk menggalakkan vaksinasi, biosecurity, deteksi dini, dan pelaporan.

Kenyataannya, masih ada kabupaten/kota yang sama sekali tidak punya dokter hewan. Atau ada dokter hewan tapi tidak dihargai keberadaannya. Padahal, peran mereka strategis untuk menjaga hewan dan produknya agar tidak menularkan penyakit kata pencinta anjing ini.

Sumber : Kompas, Selasa, 20 September 2005
Read Full 0 comments

Tri Mumpuni Wiyatno : Energi Tri Mumpuni

Jun 21, 2009
Energi Tri Mumpuni
Oleh : Maria Hartiningsih

Bagi Tri Mumpuni Wiyatno (41), desa adalah sumber kehidupan yang harus diperkuat kemandiriannya. Ia meyakini banyak persoalan bisa diselesaikan kalau ada pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan. Karena itu, ia mencurahkan segenap daya dan pemikirannya untuk membangun desa.

Sejak lebih dari 10 tahun, Mumpuni dan timnya bersama Institut Bisnis Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) bergulat dengan keyakinan bahwa melistriki desa dengan teknologi ramah lingkungan—tanpa emisi karbon—mikrohidro adalah pintu masuk paling efektif untuk memberdayakan warga.

Selama ini listrik hanya dipahami sebagai infrastruktur. Itu membuat warga konsumtif. Jadwal kumpul-kumpul bisa berubah karena telenovela di televisi, ujar Mumpuni, yang menyelesaikan S1-nya pada Jurusan Sosial-Ekonomi Institut Pertanian Bogor tahun 1990.

Mikrohidro memanfaatkan debit dan ketinggian jatuhnya air pada sungai kecil di desa-desa untuk menghasilkan energi listrik di bawah 100 kilowatt.

Meski biaya investasinya untuk instalasi per kilowatt sedikit lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit besar, dampak positif mikrohidro terhadap masyarakat dan lingkungan hidup jauh lebih signifikan. Selain tak ada penggusuran, kelestarian hutan juga terjaga karena untuk mendapatkan satu kWh (kilowatt jam) harus ada satu pohon di hutan yang menahan air.

Rakyat kemudian dilatih manajemen air, pemeliharaan alat, menghitung energi yang disalurkan, serta biaya yang diperlukan karena umumnya mikrohidro dikelola secara swadaya. Kalau energi listrik sudah dialirkan dari rumah ke rumah, berbagai kegiatan ekonomi bisa dikembangkan.

Banyak suami pulang ke desa untuk membantu istrinya yang sudah menjadi pengusaha, sambung fellow Program Kepemimpinan untuk Lingkungan dan Pembangunan (Lead Program) yang mempromosikan mikrohidro ke berbagai negara itu.

Yang dilakukan Mumpuni dan timnya adalah mendayagunakan dana hibah untuk menjadikan warga desa sebagai pemilik (shareholder) infrastruktur yang dibangun. Bukan sekadar terlibat sebagai stakeholder. Dengan begitu tak sulit menciptakan kesetaraan yang sebenarnya, tegasnya.

Mumpuni menyebut sebuah desa di Subang yang warganya menguasai 50 persen kepemilikan dari kerja samanya dengan perusahaan swasta lokal. Di sebuah desa di Sumba kepemilikannya bahkan 100 persen, dikelola Koperasi Unit Desa (KUD). Di satu desa di Sumatera Selatan, suatu koperasi pesantren mendapat penghasilan Rp 60 juta per bulan dari listrik yang dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Mumpuni beserta timnya melistriki lebih dari 50 desa di berbagai pelosok di Indonesia. Kegiatan itu membuat World Wildlife Fund for Nature (WWF) memberikan penghargaan kepadanya sebagai Climate Hero.

Terbangun sejak kecil

Keberpihakan Mumpuni pada kelompok terpinggirkan sudah dibangun dari kecil. Waktu kelas IV SD saya diajak ibu keliling ke kampung-kampung untuk mengobati orang-orang yang korengan, kenang anak ketiga dari delapan bersaudara dari pasangan Wiyatno (alm) dan Gemiarsih ini.

Rumah keluarga di Semarang itu menjadi pusat berbagai kegiatan sosial, mulai dari Program Kelompok Belajar Paket A sampai posyandu. ”Ibu saya hebat meski pendidikannya hanya sekolah kepandaian putri,” sambungnya.

Mumpuni remaja menang dalam Lomba Karya Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada tahun 1982. Kecerdasan dan keberaniannya menarik perhatian Rektor IPB Andi Hakim Nasoetion, yang kemudian menawarinya kuliah di IPB.

Mumpuni baru mau menerima tawaran itu setelah gagal masuk Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Almarhum Pak Andi Hakim sangat berperan menentukan jalan saya, kenangnya.

Jalan hidupnya kemudian sudah seperti ditunjukkan. Sampai lima tahun setelah lulus IPB, ia sempat bekerja untuk pembangunan rumah murah bagi kaum miskin kota. Tawaran kerja kantor yang memberinya gaji besar tak pernah menggerakkan hatinya.

Komitmen hidup itu secara tak langsung dipengaruhi orang-orang di sekitarnya yang memberinya kepenuhan dan cinta. Aku belajar memberi dari ibuku, belajar berbagi dari bapakku, ujarnya. Suaminya, Ir Iskandar Kuntoadji, memberikan lebih banyak lagi contoh tentang kesederhanaan hidup, kejujuran, dan kebahagiaan berbagi.

Barang yang ditumpuk akan busuk, ujarnya tentang falsafah hidup yang diyakininya. Kalau saja kita ingat kata Gandhi bahwa bumi ini menyediakan cukup untuk penghuninya kecuali keserakahannya, saya kira tidak akan menyaksikan disparitas kaya-miskin yang begitu menganga.

Dari dua anaknya, Mumpuni belajar tentang proses. Dari sahabatnya, ia belajar memupus kekecewaan dan kemarahan. Dari hidupnya sendiri, ia belajar sabar.

Sumber : Kompas, Jumat, 7 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Thomas C Schelling & Robert J Aumann : Pemecah Konflik ala Schelling dan Aumann

Pemecah Konflik ala Schelling dan Aumann
Oleh : Pieter P Gero

Hidup tak lepas dari konflik. Jika tidak ingin kisruh berkepanjangan, konflik harus dipecahkan. Pilihan ini yang diambil Thomas C Schelling dan Robert J Aumann. Konflik perlu di selesaikan dan karena itu perlu strategi yang bisa membantu menyelesaikan konflik.

Schelling memunculkan ”Game Theory” guna mendapat cara yang strategis dalam mengatasi konflik Perang Dingin. Teori ini lantas dikembangkan Aumann menggunakan perangkat matematika untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik bisnis dan dagang yang kian marak saat ini.

”Teori ini membantu menjelaskan dan menyelesaikan konflik bisnis dan dagang. Bahkan teori ini bisa memainkan peran dalam menghindari pecahnya perang,” ujar Akademi Sains Kerajaan Swedia di Stockholm, Senin (10/10/2005).

Atas penilaian tadi Schelling dan Aumann berhak atas Nobel Ekonomi 2005. Memang Schelling mengembangkan ”Game Theory” ini untuk pemecahan konflik Perang Dingin antara Amerika Serikat dan bekas Uni Soviet. Namun, Aumann yang ahli matematika mengembangkan untuk menyelesaikan konflik bisnis, seperti antarmitra bisnis, pekerja, serikat buruh atau kelompok mafia.

”’Game Theory’ memunculkan ide yang diperlukan dalam pemecahan dan pendekatan konflik secara umum,” ujar Aumann, warga AS yang kini mengajar di Hebrew University, Jerusalem, ketika dikontak soal Nobel Ekonomi 2005 ini. Aumann bahkan berharap suatu waktu teori ini bisa digunakan dalam penyelesaian konflik Palestina.

Panitia Nobel juga berpendapat, ”Hasil karya mereka telah mentransformasikan ilmu sosial jauh melampaui batas-batas ekonomi”. Terbukti, pandangan ini punya relevansi yang kuat bagi penyelesaian konflik dan upaya menghindari pecahnya perang.

Lomba senjata

Cukup rancu mengaitkan ”Game Theory” yang dikembangkan Schelling dengan Nobel Ekonomi 2005 yang disandangnya bersama Aumann. Karena pria kelahiran Oakland, California, AS, tahun 1921 ini lebih banyak menghubungkan teorinya tadi dengan upaya mengatasi Perang Dingin seperti keamanan dunia ataupun lomba senjata.

Doktor ekonomi dari Harvard University di Cambrigde, Massachussets, AS, ini dalam hidupnya memang banyak studi berkaitan dengan perundingan dan konflik. Semua ini diperlukan dalam diplomasi, strategi, dan kontrol senjata. Latar belakang ini, menyebabkan Schelling bergabung pada Marshall Plan, program bantuan pasca-Perang Dunia II yang disiapkan AS guna membangun kembali Eropa.

Dari Eropa, Schelling menjadi staf Gedung Putih tahun 1950-an. Tahun 1958 dia kembali mengajar di Harvard University dan melewatkan sebagian besar kariernya di sana. Kini pada usia 84 tahun, Schelling masih aktif mengajar di Maryland University.

Salah satu bukunya, The Strategy of Conflict tahun 1960 yang menjadi dasar dari pandangannya soal ”Game Theory”, Schelling menjelaskan jalan keluar strategis seperti melakukan konsesi jalan pintas guna meraih keuntungan jangka panjang. Tak ubahnya, mengalah mundur satu langkah untuk dapat menerobos maju lima atau enam langkah.

”Saya hanya mempelajari kerja sama dan konflik. Saya tidak mendalam soal ’Game Theory’. Saya tidak serius menekuninya sebagaimana yang saya lakukan pada ekonomi,” ujar Schelling merendah. Meski demikian, dia mengaku gembira karena pekerjaannya diakui.

Formulasi ringkas

Apabila Schelling merasa kurang mendalam dalam ”Game Theory”, Aumann yang melengkapinya. Doktor matematika murni dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) tahun 1955 ini mulai tertarik pada ”Game Theory” begitu bergabung dalam sebuah konsultan riset.

Lantas muncullah analisis yang dikenal dengan infinitely repeated games, permainan yang terus berulang-ulang yang membantu memahami mengapa sejumlah orang atau masyarakat lebih senang bekerja sama di antara mereka, sekalipun pada awal ada saling curiga di antara mereka.

Dengan memasukkan sejumlah perangkat matematika, Aumann membuat konsep dan hipotesis ”Game Theory”, suatu formulasi dan konklusi yang ringkas. ”Dia bekerja di antara kelompok-kelompok yang sering berinteraksi dalam periode yang panjang (permainan yang berulang-ulang) dan memperlihatkan bahwa kerja sama damai merupakan solusi yang pantas dibanding kepentingan konflik jangka pendek,” ujar Panitia Nobel seperti dikutip Reuters dan AFP.

Aumann, kelahiran Frankfurt, Jerman, 8 Juni 1930 ini, mungkin merasa perlu mendorong suatu kerja sama damai karena masa lalunya yang kelam. Dia dan keluarganya lari ke AS tahun 1938 menghindari dari kekejaman Nazi Jerman. Persinggungan dengan ”Game Theory” membuatnya ngotot bahwa sebuah konflik tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Sumber : Kompas, Kamis, 13 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Taufik : Kliwon, Pengembang Kompor Briket Batu Bara

Kliwon, Pengembang Kompor Briket Batu Bara
Oleh : Ilham Khoiri

Ketika ibu-ibu rumah tangga sengsara harus mengantre minyak tanah hingga berjam-jam, Kliwon sibuk mengutak-atik desain kompor bio briket batu bara. Saat pemerintah benar-benar menaikkan harga bahan bakar minyak 1 Oktober lalu, dia telah menemukan desain kompor yang dinilai pas. Saat ini, lelaki itu kebanjiran order untuk memproduksi kompor lebih banyak lagi.

Jumat (7/10/2005) siang yang panas itu, Kliwon sibuk menguji sebuah kompor baru di belakang rumahnya yang bersahaja di Kelurahan Talang Putri, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Air sebanyak tujuh liter dimasukkan ke dalam baskom dan dipanaskan di atas kompor berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan bahan bakar bio briket batu bara. Sekitar 45 menit kemudian air sudah mendidih.

”Kompor batu bara ini memang lebih cepat dan lebih panas. Kalau pakai kompor minyak tanah biasa, mungkin air baru mendidih sekitar satu jam lebih,” papar Kliwon sambil memperlihatkan kompor berbentuk bulat itu.

Kompor batu bara buah tangan Kliwon yang dibuat dari pelat, besi, dan kawat itu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kompor serupa produksi pabrik. Bio briket batu bara yang dimasukkan dalam kaleng kompor mudah menyala, bara api terbakar dengan merata, lebih panas, dan panas itu mengumpul di lubang atas. Bahan makanan atau minuman yang dimasak pun lebih cepat matang.

Kualitas itu didapatkan karena desain kompor telah dimodifikasi sesuai dengan karakter alam batu bara dan panas yang dibutuhkan. Kompor produksi Kliwon memiliki tiga lubang angin besar di bagian bawah. Bagian tengah dilengkapi sekitar 18 lubang udara besar. Bentuk ember yang memuat briket itu bundar dan melebar di bagian bawah, sedangkan dasar ember dibuat dari jeruji kawat yang ditata berjajar.

Dengan desain seperti itu, angin mudah masuk ke dalam kompor, naik ke atas, dan keluar. Perputaran angin sangat dibutuhkan agar briket mudah menyala, bara api merata, dan panasnya bisa mengumpul ke atas.

”Sudah 120 kompor yang kami buat sebulan ini, sebagian besar untuk memasak sehari-hari. Kami mendapat pesanan 500 kompor baru, kemudian 1.000 kompor lagi,” kata Kliwon. Untuk memenuhi pesanan itu, dia dibantu empat pekerja dari warga lingkungan sekitar.

Kliwon lebih bersemangat membuat kompor karena bio briket batu bara bisa menjadi bahan bakar alternatif yang cukup murah dan mudah didapatkan, di tengah situasi minyak tanah yang mahal dan sering langka.

Kompor jenis rumah tangga dijual dengan harga relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp 24.000 sampai dengan Rp 60.000, tergantung ukurannya. Adapun bio briket batu bara yang diproduksi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral Batu Bara (Tekmira) di Cirebon, Jawa Barat, sekitar Rp 1.000 per kilogram.

Dari kompor minyak tanah

Kliwon lahir di perkampungan padat dekat kilang minyak di Plaju, Palembang, 49 tahun lalu. Kliwon hanyalah panggilan akrab karena nama sebenarnya adalah Taufik. Kemahirannya mengutak-atik kompor membuat banyak orang mengira dia lulusan STM, minimal pernah mengikuti kursus teknik. Tetapi lelaki ini hanya jebolan kelas IV SD di Kelurahan Talang Puteri, tak jauh dari rumahnya.

Setelah mencoba berbagai usaha untuk memperbaiki nasib, Kliwon tertarik untuk membuat kompor minyak tanah sejak tahun 1988. Saat itu, minyak tanah masih murah dan banyak warga mengandalkannya untuk memasak sehari-hari.

Tahun 2005—sekitar bulan Agustus—PT Bayu Patria Sukses Mandiri, distributor bio briket batu bara, membawa contoh kompor dan meminta Kliwon membuat tiruannya. Sejak itulah dia mulai mengutak-atik kompor briket batu bara dan tertantang untuk menyempurkannya.

Menurut Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Sumsel, Roliansyah Basnan, kompor hasil kerja Kliwon termasuk yang terpilih untuk digunakan dalam peragaan memasak dengan bio briket batu bara di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor, awal Oktober. Kompor itu juga dipamerkan dalam Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional VII di Palembang, akhir September lalu. Rencananya, kompor itu akan dikembangkan secara massal.

Kliwon bertekad untuk terus mengembangkan desain berbagai jenis kompor briket batu bara yang lebih sempurna, sesuai dengan kebutuhan rumah tangga dan industri. Meskipun kompornya mendapat banyak pujian dan sempat diperagakan di depan presiden, Kliwon tetap rendah hati. Bahkan dia rela jika ada orang lain menjiplak desain kompornya.

”Kalau ada yang mau meniru kompor saya, tak masalah. Asal rakyat kecil tidak lagi sengsara karena tergantung minyak tanah yang semakin mahal, itu sudah sangat membahagiakan,” katanya dengan bersahaja.

Sumber : Kompas, Jumat, 14 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Tengku Bulqaini Tanjong : Menyatukan Dua Dendam Anak Aceh

Menyatukan Dua Dendam Anak Aceh
Oleh : Ahmad Arif

Menyatukan dua hati yang berseberangan karena diliputi dendam, barangkali seperti menyatukan minyak dengan air. Tetapi, Tengku Bulqaini Tanjong (36) melakukannya.

Lelaki kelahiran Samalanga, Bireuen, itu menyatukan anak-anak yatim yang orangtuanya dibunuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maupun dibunuh TNI/Polri dalam satu atap, jauh sebelum penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) RI-GAM di Helsinki.

Di Dayah (pesantren) Markaz Al Ishlah Al Aziziyah yang dia bangun di atas tanah rawa di Lueng Bata, Kota Banda Aceh, sejak tahun 2002, 36 anak korban konflik yang semula saling mendendam itu kini berbaur. Tengku Bulqaini yang hidup di tengah anak-anak itu menjadi jembatan yang menautkan dua dendam.

Setiap hari dia mengajarkan anak-anak itu pengetahuan agama serta praktik hidup penuh kasih dan menghormati. Bulqaini juga membiayai anak-anak untuk belajar di sekolah formal. Anak-anak dari etnis Aceh, Gayo, Jawa, dan campuran berbagai etnis lain berbaur di pesantrennya. Perasaan senasib yang dibangun Tengku Bulqaini adalah titik temu yang mempermudah pertautan dua dendam itu menjadi rasa persaudaraan.

”Di mata saya tak ada perbedaan antara anak-anak korban GAM maupun korban TNI/Polri. Semua anak yatim, butuh perlindungan dan bimbingan, terutama bimbingan untuk tidak lagi saling bermusuhan sehingga bisa menata hidup lebih baik,” kata cucu Tengku Haji Hanafiah, pemimpin Dayah Mudi Mesra, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Memutus dendam

Bulqaini dibesarkan di Dayah Mudi Mesra. Kakeknya adalah salah seorang pemimpin dayah terbesar dan tertua di Aceh. Tahun 1987, Bulqaini belajar ke Dayah Malikussaleh di Panton Labu, Aceh Utara. Karena suasana politik di Aceh Utara memanas, Bulqaini pindah ke Dayah Ulee Titi, Lambaro, Aceh Besar.

Pada awal pencabutan Daerah Operasi Militer (DOM) tahun 1998, dalam perjalanan pulang ke Samalanga, Bulqaini beristirahat di dayah kecil di pinggir jalan arah Tiro, Pidie. Sebagian santri di dayah itu orangtuanya korban perang. Bulqaini kemudian menunjukkan sampul majalah yang dibelinya di Banda Aceh.

”Di sampul ada potret perwira tinggi TNI. Begitu saya tunjukkan sampul majalah itu, anak-anak kecil itu berkata dengan marah, ’Pai (kafir) itu yang membunuh ayah kami,’” tutur Bulqaini, tamatan sekolah menengah pertama ini.

Bulqaini terenyak melihat anak-anak yang kebanyakan belum berusia 10 tahun itu dirasuki dendam. ”Oh, Aceh akan hancur. Apa jadinya Aceh jika dendam ini disemaikan kepada anak kecil. Bagaimana sepuluh tahun lagi? Perang tak akan berakhir dan korban akan terus berjatuhan,” kenang Bulqaini.

Bulqaini bertanya kepada ulama-ulama dayah tua tentang konflik di Aceh. ”Kebanyakan mereka berpendapat, perang harus segera dihentikan karena menyebabkan penderitaan sangat mengerikan bagi rakyat. Siapa musuh, siapa kawan juga kabur. Perang memecah belah saudara dan agama,” kata suami Rosmida Umr (26) serta ayah dari Zakiya (3,5) dan Izzudin (2,5).

Bulqaini pun menetapkan hati untuk memutus dendam itu. ”Satu-satunya jalan dengan membimbing anak-anak korban konflik,” katanya. ”Jika anak-anak itu saling bertemu dan berbagi duka, saya yakin mereka akan berdamai.”

Bulqaini bercita-cita mendirikan lembaga pendidikan yang mempertemukan anak korban konflik. Namun, saat itu cita-citanya terhambat pendanaan. Tahun 1999 Bulqaini mendirikan ikatan santri Taliban yang merupakan pemersatu santri Aceh.

Setahun kemudian dia mendapat undangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk melihat perkembangan Islam, budaya, dan pendidikan di sana dalam kapasitasnya sebagai ketua ikatan santri Aceh. Sisa uang saku sebesar Rp 33 juta dia belikan 1.200 meter persegi tanah rawa di Lueng Bata, Banda Aceh. Pada tahun 2001 dia mulai membangun dayah untuk anak korban konflik.

”Seorang kawan kontraktor membantu pembangunan dayah. Dua kamar di dayah ini kayunya berasal dari bekas sekolah Metodis Banda Aceh yang disumbangkan kepada saya,” katanya.

Pada tahun 2002, kawan-kawannya di Aceh mendatangkan anak-anak korban konflik ke dayahnya. ”Anak-anak korban konflik yang kehilangan orangtua karena dibunuh TNI/Polri maupun korban GAM semuanya menyimpan dendam,” kata Bulqaini.

Menurut Bulqaini, mereka rentan menyebabkan gesekan horizontal di masyarakat jika tak ditangani serius. ”Mereka sesungguhnya korban utama konflik dan butuh bantuan,” katanya.

Bulqaini membiayai pendidikan dan kehidupan anak-anak dari sumbangan orang-orang yang bersimpati. ”Banyak yang sebatang kara tanpa jaminan pendidikan dan hidup karena seluruh keluarganya meninggal. Secara sosial mereka pun kesulitan dan butuh bimbingan. Seharusnya, dana reintegrasi juga diberikan kepada anak yatim korban konflik, bukan hanya kepada anggota GAM yang masih aktif,” katanya.

Sumber : Kompas, Selasa, 25 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Thimotius Samin : Pelestari Roh Leluhur Kamoro

Jun 20, 2009
Pelestari Roh Leluhur Kamoro
Oleh : Subhan SD

Iri melihat tetangganya, suku Asmat yang begitu terkenal dengan ukirannya, Thimotius Samin pun bangkit untuk mengangkat identitas sukunya, Kamoro. Sebagai pematung, dia ibarat tameng yang mempertahankan warisan para leluhurnya itu.

Di Timika, patung-patung buah tangan Thimo—begitu dia disapa—dan kelompoknya menguasai banyak tempat, seperti di kompleks markas polres, kodim, pangkalan AL, kantor bupati, Hotel Sheraton, juga di kawasan kota Kuala Kencana. Lewat karyanya, dia juga memperkenalkan suku Kamoro ke berbagai daerah, termasuk ke mancanegara.

Memang dibanding suku Asmat, nasib suku Kamoro masih berada di belakang. Padahal, secara kualitas dan artistik, patung dan ukiran orang Kamoro tak kalah hebat. Hanya saja, entitas orang Kamoro belumlah terlihat, terlebih lagi di antara mereka sering timbul friksi.

Saya prihatin dengan budaya orang Kamoro, kadang di antara sesama saja saling ribut, terutama setelah masuknya pengaruh dari luar. Tetapi itulah tantangannya, saya justru ingin mempertahankan, melestarikan, sekaligus mempersatukan orang Kamoro. Lewat budaya, manusia diajak bicara tentang kejujuran dan kebenaran kata lelaki kelahiran 11 Mei 1950 itu.

Perubahan besar dalam diri Thimo untuk memunculkan identitas sukunya timbul setelah membaca sebuah surat kabar pada tahun 1991. Saya baca orang Asmat bisa pergi ke Amerika Serikat dengan budayanya. Lalu saya pikir, mengapa orang Kamoro tidak bisa? kata Thimo yang bertahun-tahun menjadi pemburu buaya ( 1973-1980-an). Hasratnya yang begitu besar membuat dia tak peduli saat memulai mematung pada usia 41 tahun.

Suami Modesta ini akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai Kepala Desa Kiyura, Distrik Kokonaw. Thimo pergi ke kota Timika, mendatangi tokoh adat yang juga pembuat patung, Yacobus Narpaya dan Johanes Waniyu. Saya bilang bahwa saya ingin membuat patung mbitoro (leluhur) setinggi satu meter sebagai cendera mata. Dengan alat yang saya pinjam dari mereka, saya mulai memahat, cerita Thimo yang juga anggota dewan adat di Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro itu.

Pemanggilan roh

Menurut Thimo, patung mbitoro adalah seni adiluhung yang dimiliki suku Kamoro. Patung mbitoro rata-rata memiliki tinggi di atas satu meter. Patung itu terbuat dari kayu bulat dan utuh, bahkan berdiameter sekitar satu meter. Patung itu harus dimiliki oleh sebuah karapao (rumah adat). Mbitoro berdiri tegak di depan rumah adat yang dihiasi dengan berbagai ornamen yang melambangkan kehidupan alam dan makhluk hidup.

Dalam tradisi orang Kamoro, pemancangan patung itu dilakukan pada saat ritual inisiasi, yaitu proses berangkat remaja (tauri). Patung itu kemudian diisi dengan roh para leluhur mereka. Setiap patung menjadi rumah bagi para leluhurnya. Roh-roh itu harus diberi ruangan. Setelah patung selesai, lalu dilakukan pemanggilan roh dengan mantra-mantra. Biasanya yang memanggil adalah turunannya, kata Thimo yang mengaku bisa memanggil roh. Mbitoro dipercaya bisa melindungi keluarga yang ditinggalkan.

Sebagai pematung, dia mulai muncul tahun 1992 ketika Camat Mimika Barat memfasilitasinya untuk ikut serta dalam ekspo di Jayapura. Ketika itu dia bergabung dalam anjungan Kabupaten Fakfak karena belum ada pemekaran Kabupaten Mimika. Tahun itu pula PT Freeport Indonesia menjadi bapak angkat bagi budaya suku Kamoro. Setelah itu, Thimo mulai mengirimkan patung-patung buatannya ke Hotel Sheraton Timika.

Dalam 15 tahun menekuni seni ukir patung, Thimo sudah berpameran di sejumlah tempat di Jakarta. Tahun 2003, selama tiga minggu, dia berpameran di Leiden, Belanda.

Di rumahnya di kawasan Satuan Permukiman (SP) 5, sekitar 40 menit berkendaraan dari kota Timika melewati jalan tanah, tujuh anak dan istrinya juga ikut melakoni seni ukir. Mereka membuat wemawe (patung leluhur), ombitoro (patung pesta pemotongan babi), kaware (pesta perahu), yamate (tameng/perisai), pekoro (piring kayu), otekapa (tongkat), dan anyam- anyaman.

Saya bantu anak-anak dengan membuat lukisan terlebih dahulu, sampai akhirnya mereka bisa membuat patung sendiri, kata lelaki yang tidak tamat sekolah guru bantu (SGB) di Enarotali karena dikeluarkan akibat berantem dengan pendeta setelah permohonan cutinya menengok orangtuanya yang sakit hingga meninggal tidak dikabulkan.

Menurut Thimo, setiap bulan ada saja pesanan untuk membuat patung, terutama dari orang asing. Tetapi tidak berarti dia bekerja sesuai dengan pesanan. Saya ini seniman. Saya ingin melestarikan warisan leluhur, ada atau tidak ada pesanan. Saya merasa miskin kalau tidak membuat patung. Apalagi segala yang saya miliki seperti rumah, alat pemotong chainsaw, perahu johnson, generator, televisi, semuanya dari patung, ujar Thimo.

Sumber : Kompas, Jumat, 16 Desember 2005
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks