HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label J. Show all posts
Showing posts with label J. Show all posts
Jun 29, 2009
Jalal Talabani, Orang Kurdi yang Jadi Presiden Irak
Oleh : Musthafa Abd Rahman

SETIAP berakhirnya sebuah rezim di Irak ibarat suatu anugerah yang jatuh dari langit bagi Jalal Talabani. Puncak anugerah itu adalah tumbangnya rezim Saddam Hussein yang kini mengantarkannya ke kursi presiden.

TATKALA berakhir sistem monarki Irak tahun 1958, Talabani dibebaskan dari penjara yang didiaminya sejak tahun 1956 lantaran aktivitas politiknya yang antimonarki. Jatuhnya rezim Presiden Abdel Karim Kasim tahun 1962 membuka jalan pula bagi Talabani menjadi juru runding tangguh dengan presiden baru Irak, Abdel Salam Arif.

Era baru di Irak ternyata selalu memihak Talabani. Majelis Nasional Irak (parlemen) hari Rabu (6/4/2005) menggores sejarah dengan memilih Talabani, seorang pemimpin Kurdi, sebagai presiden di negeri yang mengusung atribut negara Arab. Memang kedengaran aneh, seorang Kurdi bisa menjadi presiden di negara Arab.

Seorang analis politik asal Irak, Mustafa Kadhimi, dalam artikelnya pada harian Asharq Al Awsat edisi Sabtu (2/4/2005), mengatakan, fenomena tampilnya tokoh-tokoh Kurdi pada posisi strategis di Irak, seperti Hoshyar Zebari sebagai menteri luar negeri dan Jalal Talabani sebagai presiden, memberi kesan positif bagi kehidupan demokrasi di negeri itu.

"Tampilnya Talabani sebagai presiden adalah sebuah era baru bagi negeri Irak yang ditandai oleh semakin kuatnya prinsip persamaan hak antara warga negaranya, tanpa melihat latar belakang etnis, agama, dan mazhab agama. Prinsip itu bisa berandil memperkuat persatuan Irak," kata Kadhimi.

MENURUT Kadhimi, terpilihnya Talabani sebagai presiden akan berandil besar mengurangi kecenderungan sektarianisme di Irak yang semakin mencemaskan karena sudah terhapus stigma bahwa presiden harus dari Sunni, perdana menteri dari Syiah, dan ketua parlemen dari Kurdi.

Talabani dilahirkan tahun 1933 di Desa Kelkan dekat Danau Dokan. Ia menjalani sekolahnya, dari SD sampai SMP, di kota Koy Sanjak. Kemudian dia pindah ke Erbil dan Kirkuk untuk melanjutkan ke SMA. Pada masa SMA, Talabani sudah dipercaya sebagai pengarah organisasi bawah tanah pelajar Kurdi di Irak yang misinya membangkitkan nasionalisme kaum Kurdi.

Seusai SMA, Talabani bergabung dengan Partai Demokrasi Kurdistan pimpinan Mulla Mustafa Barzani. Pada tahun 1951 ia terpilih sebagai anggota komite pusat partai tersebut.

Mungkin karena aktivitas politiknya, Talabani ditolak masuk pada sebuah fakultas bergengsi meskipun nilainya lebih dari mencukupi. Pada tahun 1953 Talabani diterima pada Fakultas Hukum Universitas Baghdad.

Semasa mahasiswa, Talabani menjadi sekretaris umum persatuan mahasiswa Kurdi di Baghdad. Pada tahun 1956 aparat keamanan menangkap Talabani karena aktivitas politiknya yang membuat studinya terhenti.

Seusai kudeta tahun 1958 yang mengakhiri sistem monarki di Irak, Talabani melanjutkan studinya. Ia sempat menjabat pemimpin redaksi dua koran terkemuka Kurdi yang menjadi corong sosialisasi misi Partai Demokrasi Kurdistan.

Lepas dari perguruan tinggi pada tahun 1959, ia menjalani latihan kemiliteran yang membuka jalan ke arah bergabungnya dengan Peshmerga (milisi bersenjata Kurdistan-Red). Ambruknya koalisi antara Kurdistan dan rezim Abdel Karim Kasim pada akhir tahun 1960 memaksa Talabani hengkang ke wilayah Kurdistan.

Pada bulan September 1961 meletus pertempuran antara pasukan pemerintah Irak dan Peshmerga. Talabani menjadi komandan militer di front Kirkuk dan Sulaimaniyah, melawan pasukan pemerintah Baghdad. Pada bulan Maret 1962 ia memimpin serangan balik untuk mengembalikan wilayah Sharbazhar dari tangan pasukan pemerintah Baghdad.

PERTEMPURAN kedua belah pihak berlanjut hingga jatuhnya rezim Abdel Karim Kasim. Pada masa pemerintahan Presiden Abdel Salam Arif tercapai kesepakatan gencatan senjata. Di tahun 1963 Talabani memimpin perundingan dengan Presiden Abdel Salam Arif, namun juga mengalami kegagalan.

Ketika Partai Baath kembali berkuasa di Baghdad pada tahun 1968, partai yang berbasis pada ideologi nasionalisme Arab itu berhasil memecah belah kesatuan Kurdi, antara kubu Talabani dan kubu Barzani, dalam tubuh Partai Demokrasi Kurdistan.

Perundingan antara pemerintah Baghdad dan Barzani menghasilkan kesepakatan pemberian otonomi pada kaum Kurdi. Kesepakatan itu ditolak oleh Talabani yang menilainya merugikan pihak Kurdi karena tidak memasukkan kota Kirkuk ke dalam wilayah otonomi.

Talabani lalu membentuk organisasi baru dengan nama Uni Patriot Kurdistan pada tahun 1975. Pecahnya Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 memberi peluang kepada Talabani yang berbasis di wilayah perbatasan dengan Iran untuk membangun kembali kekuatan militer Kurdi, guna melawan pasukan Pemerintah Irak yang sedang sibuk berperang dengan Iran.

Ia memanfaatkan Perang Iran-Irak itu untuk berunding dengan Baghdad, namun pemerintah Baghdad tetap menolak memberi konsesi kepada kaum Kurdi. Pasca-Perang Teluk I tahun 1991 dan didirikannya zona aman di wilayah Kurdistan menaikkan kembali bintang Talabani.

Pada pemilu parlemen pertama di wilayah Kurdistan Mei 1992, ia terpilih sebagai anggota parlemen serta juru bicara Kurdi pada forum regional dan internasional.

Pada tahun 1994 meletup konflik berdarah antara dua kekuatan utama Kurdi, yakni Partai Demokrasi Kurdistan di bawah pimpinan Masoud Barzani dan Uni Patriot Kurdistan di bawah pimpinan Jalal Talabani, menewaskan sekitar 3.000 orang. Keduanya mencapai gencatan senjata pada tahun 1998 di Washington dan setuju membagi wilayah Kurdistan menjadi dua bagian, dengan Barzani bermarkas besar di kota Erbil dan Talabani di Sulaimaniyah.

PADA tahun 2000 mereka sepakat melakukan normalisasi hubungan dan mengaktifkan kembali parlemen Kurdi yang beku total selama enam tahun. Perkembangan politik di Irak pascatumbangnya rezim Saddam Hussein semakin memuluskan rekonsiliasi Talabani-Barzani. Puncaknya menjelang pemilu 30 Januari lalu, ketika terbentuk Daftar Koalisi Kurdistan yang berintikan dari dua faksi utama Kurdistan tersebut.

Bersatunya dua kekuatan utama Kurdi itu mengantarkan mereka menduduki urutan kedua pada pemilu lalu dengan meraih 75 kursi parlemen dan membentangkan jalan terpilihnya Talabani sebagai presiden Irak. (MUSTHAFA ABD RAHMAN, dari Cairo)

Sumber : Kompas, Kamis, 7 April 2005
Read Full 0 comments

Johannes Maria Härmmerle, Dengan Museum Lestarikan Budaya Nias

Jun 28, 2009
Johannes Maria Härmmerle, Dengan Museum Lestarikan Budaya Nias
Oleh : Neli Triana

Awal April 2005, masyarakat Nias masih pada masa puncak kekhawatiran dan ketakutan akibat bencana gempa yang melanda 28 Maret lalu. Lebih dari 600 warga Nias meninggal dan ratusan lainnya luka-luka, kehilangan sanak keluarga serta pekerjaan.

Warga yang selamat sibuk dengan diri sendiri berusaha untuk tetap hidup. Mereka mengungsi di berbagai tempat, berusaha terus menjaga jarak dari rumah atau bangunan tertentu agar tak tertimbun jika sewaktu-waktu gempa mengguncang kembali. Namun, tidak demikian dengan sedikit pengurus Museum Pusaka Nias (MPN), Gunung Sitoli, Kabupaten Nias.<>

Dikomandoi oleh Johannes Maria Härmmerle, pengurus MPN berusaha mengamankan koleksi dan bangunan museum sejak hari pertama pascabencana. Sosok bule ini tampak menonjol di antara orang-orang yang sore itu pada pekan pertama bulan April berkumpul di halaman Kantor Museum Pusaka Nias. Mereka baru saja membersihkan paviliun tempat pajang koleksi yang porak-poranda akibat gempa.

Ketegasan dan keriangan yang selalu menyertai setiap tindakan serta ucapan pastor asal Jerman itu tidak mampu menutupi kesedihan akibat rusaknya koleksi museum. Dalam bahasa Indonesia yang lancar ia menceritakan nasib malang yang menimpa koleksi benda-benda tinggalan budaya Nias yang berumur ratusan tahun itu.

"Kami baru saja membersihkan bangunan utama museum tempat koleksi dipamerkan. Banyak sekali pecahan kaca menghampar di lantai. Beberapa patung kuno dari kayu dan juga dari batu patah, bahkan ada yang pecah berhamburan. Rusaknya koleksi menyebabkan hilangnya nilai historis, seni, dan budaya Nias yang tak tergantikan," kata Johannes Maria Härmmerle.

PRIA yang lahir 9 Juli 1941 dan masih tampak bugar ini menceritakan berbagai jenis tinggalan budaya berusia ratusan tahun yang tersimpan di Museum Pusaka Nias. Museum ini memiliki sekitar 6.500 koleksi tinggalan budaya Nias.

Memang secara umum masih dapat diselamatkan dari bencana gempa, tetapi tak urung terdapat ratusan koleksi yang rusak. Total kerugian materi mencapai puluhan miliar, tetapi diyakini kerugian akibat hilangnya nilai-nilai historis dan budaya tak terhitung.

Jenis-jenis koleksi MPN, antara lain, tinggalan megalitik berupa arca menhir, menhir, dan altar batu. Tinggalan megalitik tertua diperkirakan berasal dari 500-600 tahun lalu. Koleksi lainnya yang berusia sekitar 100 tahun lalu meliputi pahatan patung kayu, alat musik, peralatan dapur dari kayu maupun dari gerabah, pakaian dari anyaman rerumputan, kulit kayu, dan sejumlah barang berfungsi religius maupun peralatan sehari-hari lainnya.

Museum yang dikelola yayasan swasta terlepas dari pemerintah setempat ini didirikan tahun 1991. Johannes Maria Härmmerle, seorang pastor warga negara Jerman, merintis berdirinya museum ini sejak tahun 1972, berbarengan dengan kegiatannya sebagai misionaris yang mengharuskannya memasuki daerah-daerah terpencil di Nias.

Ia mengumpulkan benda-benda peninggalan budaya Nias, yang kemudian menjadi koleksi museum. Benda-benda itu didapatkannya dari berbagai pelosok Nias, termasuk dari daerah Nias Selatan, Nias Tengah, dan Kabupaten Nias.

Lebih dari 30 tahun lalu Johannes Maria Härmmerle muda baru saja menapakkan kakinya di Nias. Sebagai orang baru, ia cepat menemukan fakta perubahan drastis dalam pola pikir masyarakat Nias.

Masuknya agama baru membuat masyarakat berpandangan, berhubungan dengan apa pun yang terkait dengan kepercayaan lama yang pernah dianutnya adalah dosa. Kala itu, usaha penghancuran tinggalan budaya berupa patung atau alat-alat pemujaan marak dilakukan warga sendiri.

Seniman-seniman Nias yang melahirkan karya-karya patung kayu, baik untuk sarana pemujaan nenek moyang maupun sekadar hiasan rumah adat, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Pemeliharaan terdapat peninggalan megalitik yang pernah dianggap sebagai penghubung antara manusia dan dunia roh serta-merta terhenti. Hanya rumah-rumah adat saja yang tetap dipertahankan sebagaimana fungsinya sebagai tempat tinggal.

Härmmerle juga melihat situasi ini dimanfaatkan orang-orang luar Nias untuk mengeruk keuntungan berlipat. Calo-calo benda antik dari dalam dan luar negeri berdatangan ke Nias dan membeli murah peninggalan budaya yang sebenarnya bernilai material amat tinggi itu.

PRIHATIN melihat Nias yang semakin kosong dari benda-benda bernilai seni tinggi hasil karya sendiri dan pemiskinan kreativitas masyarakat akibat pemahaman agama baru yang masih minim, memicu Härmmerle untuk mencegahnya.

Mula-mula ia meminta warga yang ingin membuang benda-benda pemujaan agar memberikan saja kepadanya. Awalnya warga memberikan secara cuma-cuma. Tetapi, dengan maraknya jual-beli benda antik di Nias, warga mulai pasang harga. Härmmerle kelimpungan menghadapi kenyataan ini karena uang bukanlah hal yang banyak dimiliki seorang pastor seperti dirinya.

Melihat kenyataan makin tak terbendungnya perdagangan ilegal peninggalan budaya Nias, akhirnya Härmmerle sekuat tenaga berusaha membeli barang-barang sarat nilai itu. Ia pun mulai menghimpun bantuan dari sana-sini, khususnya dari relasinya sesama pemerhati budaya asal Jerman.

Dua puluh tahun kemudian, hasil jerih payahnya terkumpul amat beragam dan berjumlah ribuan. Muncullah masalah penyimpanan, yang kemudian mengilhaminya membuka sebuah museum. Realisasi ide ini bukanlah hal mudah karena mewujudkan museum berisi benda-benda yang dianggap bertentangan dengan agama banyak ditentang sesama rekan dalam kegiatan keagamaannya.

Hanya didukung segelintir sahabat, Härmmerle berkeras membuka museum. Ia mengawasi sendiri pembangunan lahan milik gereja dari Ordo Kapusin. Dari sekadar ruang sempit untuk menyimpan koleksi, keuletan Johannes dari tahun ke tahun membuahkan hasil. Museum yang dirintisnya kini menempati bangunan permanen terdiri dari empat paviliun dan didukung fasilitas lain, seperti taman dengan koleksi tanaman langka dan burung beo khas Nias, taman laut, dan tempat sederhana yang menyediakan makanan bagi pengunjung.

Di usianya yang hampir 65 tahun, Härmmerle tetap bersemangat dan yakin MPN tidak akan tutup. "Sulit memang mempertahankan museum, yang juga berarti mempertahankan kelestarian budaya Nias. Namun, kami tetap yakin usaha kami tidak sia-sia dan bantuan akan datang. Museum ini adalah milik warga Nias yang menelurkan karya-karya seni hebat. Tentunya, dukungan warga Nias sendiri dan para pemerhati budaya asli Indonesia akan amat berarti bagi kelangsungan museum ini," kata Härmmerle.

Sumber : Kompas, Kamis, 21 April 2005
Read Full 0 comments

Joseph Deiss, Perlunya Berpihak pada UKM

Joseph Deiss, Perlunya Berpihak pada UKM
Oleh : ppg/DI

BAGI kebanyakan orang di Indonesia, saat menyinggung soal Swiss (Switzerland), maka bayangan yang muncul adalah negara yang menjadi pusat dari beberapa kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Juga identik dengan sebuah negara kecil dan netral, tempat liburan bersalju. Swiss juga acap kali dituding tempat aman para koruptor menyimpan hasil "jarahan" mereka.

Pria kelahiran 18 Januari 1946 di Fribourg, Swiss, ini tahu secara rinci karena posisinya sebagai Menteri Perekonomian Swiss. Deiss berada di Jakarta awal bulan April lalu, dalam misi membawa belasan pimpinan perusahaan (chief executive officer/CEO) asal Swiss yang menjajaki investasi dan kerja sama bisnis di Indonesia.

"Sekarang ini bukan identitas nasabah saja yang diminta, tetapi juga harus disampaikan asal uang yang disimpan di bank-bank Swiss," ujar Deiss menjawab soal Swiss sebagai tempat "berlabuh" uang korupsi.

"Jika tidak bisa membuktikan, uang akan diblokir, bahkan dikembalikan ke negara asal," ujarnya seraya menyebutkan beberapa contoh yang dikembalikan ke negara asal.

Dan Swiss bukan sekadar bayangan di atas. Deiss juga berkisah, sekalipun Swiss kecil dengan tujuh juta penduduk, dengan 20 persennya orang asing, negara ini cukup punya peran dalam bisnis dunia. "Swiss punya peran besar dalam perdagangan global, yakni posisi lima dalam jasa dan posisi sembilan dalam perdagangan barang," ujarnya lantang meyakinkan.

Dan biar orang Indonesia lebih yakin soal Swiss, Deiss mengatakan bahwa negaranya masuk dalam 20 besar investor asing terbesar di Indonesia. Ada lebih dari 100 perusahaan Swiss di Indonesia dengan nilai investasi di atas 1,5 miliar dollar AS. "Nestle (pangan), Roche dan Novartis (farmasi), serta Clariant (kimia) adalah perusahaan asal Swiss," katanya.

Apa hanya sampai di situ?

DEISS, ayah dari tiga anak dan kakek dari empat cucu ini, memang perlu meyakinkan orang Indonesia soal Swiss, terutama dalam usaha kecil dan menengah (UKM). "Karena, di Swiss, UKM praktis menampung sekitar 60 persen dari angkatan kerja yang ada di sana," ujarnya. Itu sebabnya, UKM di Swiss selalu mendapat perhatian pemerintah.

"Demikian pula yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia bila dikaitkan dengan upaya penyerapan tenaga kerja," ujarnya. Perusahaan besar tidak perlu dibantu karena mereka punya nama, pengetahuan, dan akses ke pasar dan dana. "Kalau UKM harus dibantu," ujarnya.

Suami dari Elizabeth Deiss ini sangat tahu betul posisi lemah UKM karena dia banyak bersinggungan dengan ilmu ekonomi dan kondisi di lapangan bukan hanya karena posisinya sebagai menteri urusan ekonomi.

Deiss sendiri menyandang gelar S3 dalam ilmu ekonomi dan sosial dari Universitas Fribourg sekaligus juga menjadi pengajar di sana. Dia kemudian menyandang profesor ekonomi dan kebijakan ekonomi dari universitas yang sama.

Dalam kehidupan politik, Deiss juga dekat dengan kehidupan UKM. Dia pernah menjadi wali kota di Barbereche, konselor nasional, dan pengawas harga nasional. Kemudian Deiss menjabat Kepala Departemen Urusan Ekonomi Federal, yang tentu saja penekanannya jelas pada urusan UKM di negeri ini.

"Pokoknya UKM ini harus dibantu, terutama untuk ekspor. Mereka ini punya keterbatasan dalam bahasa, pengetahuan, serta dalam memperoleh pasar di luar negeri," ujarnya. Hal yang sama, menurut Deiss, juga dihadapi UKM di Indonesia.

Oleh karena itu, kehadiran Deiss antara lain ingin berbuat yang sama bagi UKM di Indonesia, sebagaimana yang telah dilakukan di Swiss. Bantuan teknis dan insentif bagi UKM tak perlu yang luar biasa, misalnya dalam modifikasi dan penyempurnaan prosedur kredit. Atau soal sistem penjualan dan pemasaran, dukungan teknologi informasi, serta penerapan kebijakan lingkungan.

"Untuk ini kami ikut serta dalam pengadaan dana 8 juta-10 juta dollar AS guna membantu sesama UKM di Indonesia. Pelaksanaan dari bantuan teknis dan insentif ini terserah kepada pihak IFC (International Finance Corporation) dari Bank Dunia," ujarnya menjelaskan.

Deiss yang sudah melihat lokasi bencana tsunami lantas memberikan perlakuan khusus dalam penyediaan bantuan bagi UKM di lokasi bencana. "Bukan apa-apa, bencana itu suatu hal yang sangat luar biasa. Saya tidak menyangka begitu hebat kerusakan yang ada," ujarnya. Dan membantu UKM di daerah bencana merupakan cara jitu untuk memulihkan kondisi perekonomian di sana.

Membantu soal akses ke pendanaan juga tidak keliru karena lebih dari 64 persen usaha kecil dan 82 persen usaha menengah di Indonesia mengaku membutuhkan pembiayaan dari bank. Ini belum soal bagaimana memenuhi prosedur perkreditan dan masalah lainnya. Jangan dulu bicara soal ekspor atau menemukan mitra di luar negeri.

Tetapi, bicara soal Indonesia tak lepas dari bicara soal korupsi dan birokrasi yang kronis. "Ya hal itu juga telah saya bicarakan dengan para pejabat negara Anda. Mereka bilang akan memperbaiki dengan menekan panjang birokrasi dari 150 hari menjadi 30 hari. Saya harap mereka bisa lakukan itu," ujar Deiss, kali ini dengan nada serius.

Deiss hanya berpesan, saat ini banyak negara lainnya yang cukup menarik untuk menjadi target investasi, khususnya dari Swiss. "Jadi ini persoalan dari pemerintah dan negara ini apakah mau memperbaiki diri untuk itu," ujarnya.

Misalnya soal menghadapi persaingan, Deiss berpandangan untuk tidak pernah takut menghadapi persaingan. "Kami menjual mesin-mesin, dan negara lain juga menjual produk yang sama dengan harga lebih murah. Tetapi kami tidak takut karena kualitas kami jauh lebih baik," ujarnya meyakinkan.

Deiss memang tak perlu takut. Bicaranya meyakinkan. Persoalan menjadi sangat lain apabila pria ini menjadi bagian dari warga masyarakat di negeri ini. Sudah tak berkualitas, harganya pun mahal, antara lain karena korup, birokrasi, berbagai pungutan, dan...! (ppg/di)

Sumber : Kompas, Senin, 2 Mei 2005
Read Full 0 comments

John Towner Williams : Mendengar "Star Wars" Lewat John Williams

Mendengar "Star Wars" Lewat John Williams
Oleh : Frans Sartono

JOHN Williams (73) disebut-sebut sebagai orang yang paling "terdengar" pada seluruh film Star Wars. Dialah komposer dan konduktor yang membuat Star Wars tersimpan dalam memori dengaran penonton. John Towner Williams, lelaki kelahiran Long Island, New York, Amerika Serikat, 8 Februari 1932, itu menggarap musik film untuk seluruh episode Star Wars yang didalangi George Lucas itu.

WILLIAMS berkenalan dengan Lucas pada pertengahan tahun 1970-an lewat kawan dekat Lucas, yaitu sutradara Steven Spielberg. Saat itu Lucas sedang mencari orang yang tepat untuk menggarap musik Star Wars Episode IV: A New Hope yang dirilis pada tahun 1977. Spielberg lalu merekomendasikan nama John Williams yang pernah menggarap beberapa film garapan Spielberg, termasuk Jaws.

Saat menggarap Star Wars, Williams tidak mengira bahwa film itu akan berkelanjutan menjadi enam episode. Yang kemudian terjadi, Star Wars laris di pasar dan berlanjut hingga enam episode.

Musik Williams dianggap menjadi salah satu penguat karakter film tersebut. Death Stars, pesawat sebesar planet yang ditumpangi tokoh bengis Darth Vader itu, misalnya, melintas dengan penuh wibawa dan penuh ancaman di bawah iringan musik garapan Williams. Suasana berwibawa, dahsyat, penuh ancaman itu merupakan interpretasi pribadi Williams. Ia menerjemahkan citra visual dengan suara.

"Saya tidak membaca skenario. Saya memang tidak suka membaca skenario," kata Williams dalam wawancara dengan Film Score Monthly.

Williams tidak membuat musik berdasar skenario. Ia benar-benar mendasari musiknya dari kesan visual. Membaca skenario sebelum melihat hasil visual akan menimbulkan prekonsepsi terhadap film.

"Saya masih ingat ketika menyaksikan film itu. Saya bereaksi pada atmosfer, energi, serta rhythm," kata Williams.

MESKI Star Wars disebut-sebut sebagai film fiksi-ilmiah atau futuristik, John Williams dalam penciptaan musik tidak pernah terpengaruh dengan kategori semacam itu. Ia malah menyebut musik Star Wars sebagai "sangat nonfuturistik". Ia memahami benar bahwa karakter atau lanskap film tersebut sangat asing dan belum pernah terwujudkan secara visual.

"Musik yang saya buat bukanlah musik yang bisa menjelaskan terra incognita- wilayah antah berantah-tapi justru sebaliknya, yaitu musik yang dapat membuat kita tersambung dan emosi kita yang telah akrab," ujar Williams.

Emosi tersebut ia terjemahkan lewat idiom opera abad kesembilan belas. Untuk film yang bermuatan mitologi lintas kultural seperti Star Wars itu, Williams memilih musik yang berakar pada kultur Barat, semisal gaya opera Wagner. Dalam menggarap Star Wars, ia menggunakan orkes simfoni yang banyak melibatkan musisi dari The London Orchestra.

"Orkes simfoni dalam hal ini sangatlah luwes dan pas karena ia elegan. Orkes simfoni itu sendiri merupakan salah satu penemuan terbesar dalam kultur artistik kita. Ia bisa menghasilkan cita suara indah dan mampu menjangkau emosi yang beragam," kata Williams.

Ia memberi contoh penggunaan instrumen tiup logam (brass) pada adegan munculnya tokoh Darth Vader yang digambarkan sebagai tokoh lalim dan otoriter. Begitu juga untuk adegan pembuka film yang secara visual mencekam, Williams menggunakan seksi tiup logam yang memberi efek tegas, gagah, tapi mengancam. Musik tersebut mengingatkan pada upacara militer yang serba tegas, gagah, tegap, semarak, yang menyerupai jenis mars. Saking tegas dan gagahnya, maka jika mendengar, canda Williams, orang seakan sampai harus berdiri tegap dan melakukan hormat.

JOHN Williams menjadi salah satu komposer produktif di Hollywood saat ini. Ia pernah mendapat 41 unggulan Oscar. Ia akhirnya kebagian lima Oscar antara lain untuk Fiddler on the Roof (1971) dan Jaws (1976). Ia juga pernah mendapat 18 penghargaan Grammy.

Musik film merupakan bagian dari kesenimanannya. Di luar urusan film, Williams pernah menjadi konduktor Boston Pops Orchestra pada kurun era 1980-1993. Dia memang terlahir dari lingkungan musik. Sang ayah, Johnny Williams, adalah pemain drum pada grup jazz The Raymond Scott Quintet. Anak Williams juga menjadi pemusik, yaitu Joseph Williams, yang pernah bergabung dalam band Toto pada tahun 1986.

Seperti sang ayah, Williams juga pernah menjadi pemusik jazz ketika remaja. Saat itu sebagai pianis ia sudah mencoba membuat aransemen musik. Umur 15 tahun dia berketetapan untuk menjadi pianis konser. Umur 19 dia telah tampil membawakan komposisi sendiri dalam bentuk piano sonata.

Williams memperdalam studi musik di Los Angeles City College yang kemudian dilanjutkan ke sekolah musik terkenal Juilliard di bawah bimbingan Rosina Lhevinne. Secara khusus ia belajar orkestrasi pada sejumlah komposer musik studio MGM. Pengalaman itu menjadi bekal Williams untuk bekerja sebagai penulis musik di Hollywood.

Ia mulai bekerja sebagai pianis yang antara lain pernah ikut menggarap musik serial televisi Peter Gunn pada tahun 1958. Dari posisi sebagai pianis, Williams mulai dipercaya menggarap musik untuk serial televisi seperti Lost in Space (1965). Sejak itu garapan Williams sering berada di belakang film kondang, seperti The Towering Inferno (1974), Superman (1978), E.T. (1982), JFK (1991), Jurassic Park (1993), dan Schindler’s List (1993).

Williams menjadi langganan sutradara Steven Spielberg. Hampir seluruh film Spielberg memang digarap Williams dan kebanyakan menjadi film laris, termasuk tiga sekuel Indiana Jones. Itulah mengapa duet Williams-Spielberg disebut sebagai blockbuster team. Julukan tim pembuat film laris juga dialamatkan kepada pasangan Williams-George Lucas lewat Star Wars.

Williams bekerja dengan penuh sukacita pada film tersebut. Secara bercanda ia mengatakan, "The Force did seem to be with us (The Force tampaknya selalu beserta kita)."

The Force adalah kekuatan misterius yang melindungi para kesatria dalam film Star Wars. Williams menyitir ucapan para tokoh dalam film tersebut yang sering berucap salam "May the Force be with you". (Frans Sartono)

Sumber : Kompas, Selasa, 31 MEi 2005
Read Full 0 comments

Justin Gatlin : Menanti Gatlin Menggusur Powell

Jun 25, 2009
Menanti Gatlin Menggusur Powell
Oleh : A Tomy Trinugroho

Keberhasilan Justin Gatlin menjuarai nomor lari 100 meter putra pada Kejuaraan Dunia Atletik 2005 bukan sesuatu yang mengejutkan. Sebelum kejuaraan dimulai, Gatlin telah diunggulkan merebut emas 100 meter karena rival utamanya, Asafa Powell, cedera dan tak bisa mengikuti kejuaraan.

Namun, dalam final lari 100 meter pada hari Minggu (7/8) malam, sprinter Gatlin tak sekadar memenangi perlombaan. Pemuda kelahiran Brooklyn, New York, itu menunjukkan prestasi yang ”nilainya” melampaui medali emas yang diterimanya.

Terhadap peraih perak Michael Frater, Gatlin mampu berlari dan menciptakan selisih waktu yang tercatat sebagai selisih waktu terbesar dalam sejarah kejuaraan dunia atletik. Dalam lomba hari Minggu itu, antara Gatlin dan Frater terpaut waktu 0,17 detik. Frater membutuhkan waktu 10,05 detik untuk berlari menempuh lintasan lomba, sedangkan Gatlin membutuhkan waktu 9,88 detik.

Sebelum itu, selisih waktu terbesar, 0,15 detik, diciptakan Carl Lewis pada tahun 1987 di Roma. Lewis yang merebut emas memiliki catatan waktu 9,93 detik, sedangkan Ray Stewart yang mendapat perak memiliki catatan waktu 10,08 detik. Saat itu gelar juara awalnya dipegang Ben Johnson, tetapi akhirnya dibatalkan karena ia terbukti menggunakan doping.

Dalam kehidupan sehari-hari, selisih waktu 0,17 detik atau 0,15 detik jelas hampir tidak ada artinya. Namun, dalam adu sprint tingkat dunia, perbedaan 0,02 detik memiliki arti besar. Dengan menciptakan selisih waktu 0,17 detik, Gatlin disejajarkan dengan Carl Lewis, atlet legendaris negeri Paman Sam yang mengantongi sembilan emas Olimpiade.

Sungguh? Jadi saya memegang sejenis rekor, begitu? ujar Gatlin, seperti dikutip www.usatoday.com, saat diberi tahu bahwa selisih waktu dengan Frater tercatat sebagai selisih waktu terbesar dalam sejarah kejuaraan yang digelar pertama kali pada tahun 1983 itu.

Namun, bukan karena itu saja Gatlin lantas disejajarkan dengan Lewis, tetapi juga karena emas yang direbutnya dalam kejuaraan dunia di Helsinki tersebut. Emas ini melengkapi emas lari 100 meter Olimpiade Athena yang juga direbut Gatlin.

Dengan prestasi itu, Gatlin menyamai prestasi Lewis, Donovan Bailey (Kanada), dan Maurice Greene (AS) yang juga pernah memegang supremasi di kejuaraan dunia dan Olimpiade.

Namun, emas Olimpiade 2004 dan sejarah baru yang ditorehkan di Helsinki bukan pencapaian tertinggi dari Gatlin.

Sprinter yang sebelumnya dipersiapkan sebagai atlet lari 110 meter gawang ini menargetkan menggusur rekor dunia milik Asafa Powell. Gatlin yang mengawali karier profesionalnya pada tahun 2002 telah mematok rekor dunia lari 100 meter yang akan diciptakannya, 9,75 detik. Target waktu ini berselisih 0,02 detik dengan rekor dunia sekarang yang diciptakan Asafa Powell pada pertengahan Juni 2005.

Beberapa saat setelah Powell mengukir rekor baru, telepon seluler Gatlin dibanjiri SMS yang mengabarkan prestasi sprinter Jamaika itu. Kepada USA Today, Gatlin mengatakan, sebelum musim tahun ini dimulai, ia telah memperkirakan rekor lari 100 meter pasti tercipta.

Entah oleh siapa. Dugaan saya benar, kan? Pemecahan rekor kedua juga akan terjadi dan orangnya adalah saya, katanya.

Semangat Gatlin mencetak rekor baru tak hanya tercermin saat beberapa hari setelah Powell membuat dunia tercengang. Semangat yang sama tetap dipancarkan Gatlin sampai sekarang.

Ia dengan tegas membantah bahwa emas di Helsinki akan gagal dikantonginya jika saja Powell ikut berlomba.

Kalau Asafa ikut berlomba, kami akan berlari lebih cepat lagi. Bersamanya, saya tentu akan melakukan yang terbaik, ujar Gatlin. Ia mengaku masih sangat haus akan prestasi besar.

Ia ingin seperti Carl Lewis yang dijuluki Gatlin sebagai jawaranya jawara. Karena itu, selain emas 100 meter, ia juga memburu emas di nomor lari 200 meter dan estafet 4 x 100 meter di Helsinki.

Sumber : Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005
Read Full 0 comments

Jacobus Busono : Bus, Teknologi Tak Dapat Dibeli

Bus, Teknologi Tak Dapat Dibeli
Oleh : Suprapto

Pura Group Kudus adalah salah satu dari sedikit perusahaan dalam negeri yang mengembangkan teknologi maju. Teknologi yang dikembangkan di bidang percetakan serta antipemalsuan ini sungguh luar biasa.

Layak jika Anugerah Riset Industri diberikan kepada Presiden Direktur Pura Group Kudus serta tim Research & Development,” tutur Ketua tim penilai, Prof Dr Ir Mien A Rifai.

Anugerah Riset Industri 2005 itu sendiri, yang merupakan bentuk penghargaan tertinggi bidang rekayasa untuk kategori pengembang, perancang, dan perekayasa teknologi, diberikan kepada Jacobus Busono selaku Presiden Direktur sekaligus pemilik Pura Group Kudus (PGK) langsung dari tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tanggal 10 Agustus lalu.

Ini penghargaan ketiga bagi Jacobus Busono dan PGK setelah tahun 2001 meraih Anugerah Teknologi dari Menteri Negara Riset dan Teknologi serta Anugerah Siddhakretya 2003 dari tangan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Penghargaan ini patut kita syukuri bersama karena prestasi yang dihasilkan bukan hanya datang dari diri saya, tapi juga didukung segenap direksi dan seluruh karyawan, tutur Pak Bus panggilan akrab Jacobus Busono yang didampingi Hassan Aoni dari bagian humas perusahaan, Minggu (14/8/2005).

Pak Bus adalah generasi penerus ketiga dari sebuah perusahaan milik keluarga yang berdiri sejak tahun 1908. Karena dibesarkan dalam lingkungan perusahaan percetakan, tidak mengherankan jika sejak masa mudanya Busono bercita-cita menjadi pengusaha percetakan. Saya sekolah di akademi percetakan di Belanda dan dilanjutkan ke Fach Hochschule di Jerman, termasuk mengikuti praktik kerja, tuturnya.

Sekembali ke Tanah Air, pada tahun 1970-an ia dipercaya mengelola sepenuhnya percetakan offset milik keluarga dengan karyawan 60 orang itu. Sekarang perusahaan yang berkantor pusat di Kudus ini merupakan sebuah grup yang terdiri atas lebih dari 23 unit produksi yang terintegrasi, saling terkait di bidang industri kertas, percetakan, kemasan, converting (pengolahan lanjut kertas, film, dan bahan lainnya), total security system (sistem antipemalsuan terpadu), kartu elektronik dan engineering (permesinan), dengan total karyawan sekitar 8.500.

Tak dapat dibeli

Teknologi tidak dapat dibeli, yang bisa dibeli hanya mesin dan formulanya. Itulah rumusan Pak Bus. Jadi, untuk menguasai teknologi tergantung pada sumber daya manusia yang jujur, rendah hati, senang pada pekerjaannya, berkarakter, bermoral-bermental baik, dan mampu menampung dan mengembangkannya, tuturnya.

Oleh karena itu, falsafah yang diterapkan PGK adalah mengembangkan produk-produk baru berkualitas dan berteknologi tinggi sebagai pengganti produk impor untuk pemasaran dalam dan luar negeri. Kemudian diciptakan budaya kerja sebagai pendukungnya, yaitu melakukan terobosan dan inovasi secara berkesinambungan di setiap jajaran dalam perusahaan.

Dengan falsafah dan budaya kerja tersebut, maka PGK tercatat sebagai perintis berbagai produk yang pertama di dunia. Seperti aplikasi hologram langsung pada blister aluminium, scratch hologram, penutup dan pengaman nomor kode pada kartu prabayar, serta modifikasi mesin cetak offset menjadi mesin cetak intaglio.

Selain itu, PGK juga telah membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkekuatan 13,5 MW atau 13.500.000 watt, yang sebagian besar untuk perusahaan sendiri dan sebagian disalurkan ke masyarakat umum lewat PT PLN.

Bahkan PGK ikut peduli petani/mendukung program peningkatan produksi pangan nasional, dengan memproduksi mesin pengering padi/jagung berkapasitas 7,5-10 ton, yang dilengkapi dengan fasilitas pelatihan, perawatan, hingga informasi teknik terbaru.

Nelayan pun diliriknya dengan menghadirkan teknologi pembuatan es serpih berkapasitas di bawah satu ton sampai lima ton lebih. Dengan teknologi ini, maka tingkat kerusakan ikan dapat ditekan dari 20 persen menjadi 6-9 persen saja.

Bahkan mesin es serpih buatan Divisi Permesinan ini bisa dipasang di kapal nelayan dan proses produksinya bisa menggunakan air laut hanya dalam waktu 15 menit. Dengan demikian, mampu menjaga kesegaran ikan hingga dua bulan.

Selain itu, untuk keperluan bank dan lembaga keuangan lainnya, PGK telah merancang dan membuat mesin sortir uang kertas otomatis berkecepatan tinggi yang digunakan untuk menyortir (memilah) uang kertas berdasarkan keaslian, kerusakan, atau kekotoran uang kertas. Mesin ini merupakan penggabungan teknologi mekanik dan elektronik.

Berbagai penemuan baru serta memiliki 29 hak paten (16 di antaranya sudah bersertifikat) merupakan bukti bahwa manajemen PGK berhasil menciptakan budaya kerja perusahaan untuk menghasilkan inovasi-inovasi terapan. Sekaligus ikut mendukung citra bangsa dan negara.

Sumber : Kompas, Selasa, 23 Agustus 2005
Read Full 0 comments

Jacques Maessen : Doa Terbaik Jacques Maessen

Doa Terbaik Jacques Maessen
Oleh: Haryo Damardono

Di beranda belakang rumahnya yang luas, apik, dan dipenuhi benda-benda seni Dayak, Pastor Jacques Maessen SMM (65) berkisah tentang tenun ikat Sintang. Seni tenun khas suku Dayak, Kalimantan Barat, ini dengan gigih diperjuangkannya agar tidak hilang ditelan zaman.

Karena kegigihannya, dia bahkan sempat dituding ingin melihat umatnya terus primitif. Awalnya mereka marah karena menganggap saya menghalangi kemajuan,� ujar Pastor Jacques, yang juga sempat dilecehkan anak-anak muda setempat yang menggemari T-shirt dan jins.

Ketika para ibu di betang atau rumah panjang khas suku Dayak berhasil dibujuknya untuk menekuni tenun ikat, kaum muda suku Dayak Desa dan Dayak Ketungau yang dibinanya tetap saja melecehkannya.

Tak putus asa, Jacques pun memasyarakatkan tenun ikat dengan cara memakai rompi berbahan tenun ikat, walau kerap dia dicemooh. Lambat laun, beberapa orang mulai suka dan pejabat setempat bangga memakainya. Saya sekarang malah tidak punya. Karena bila orang meminjam, pasti tidak mengembalikannya,� ujarnya. Bukan hanya busana, buku-buku budaya Dayak Jacques pun kerap raib.

Ujung dunia

Perjumpaan Jacques Maessen dengan kain tenun ikat Dayak di Kabupaten Sintang seolah diatur Tuhan. Kongregasi Katolik, Serikat Maria Monfortan, menugaskan dia berkarya di Sintang, Kalimantan Barat (sekitar 400 km dari Pontianak), sejak 1968.

Berangkat dari Belanda pada April 1968, setelah mengarungi samudra, dia baru sampai di Pontianak Juli 1968. Dari Pontianak, perjalanan dilanjutkan dengan perahu menyusuri Sungai Kapuas mencapai Sintang selama 88 jam perjalanan.

Oh Tuhanku, ketika itu saya berpikir telah tiba di ujung dunia. Ternyata masih ada kota Putussibau yang butuh waktu puluhan jam lagi bila menyusuri Sungai Kapuas, kenang Jacques. Sejak itu, dia menjelajahi Kalimantan Barat, jatuh cinta, bahkan pindah kewarganegaraan pada tahun 1982.

Suatu hari di tahun 1970-an, Jacques bertamu ke rumah umatnya warga Dayak Desa di Rumah Panjang Ensaid Pendek di kawasan Kelam. Ini bagian dari perjalanan misi yang kerap ditempuhnya berminggu-minggu dengan sampan.

Saya melihat sebuah kain tua, lalu memintanya, tapi tidak diperbolehkan tuan rumah. Mereka menolak, membuang kain itu, malah memberi saya kain yang dibeli di pasar. Orang itu tidak menghargai budaya sendiri, ujar Jacques.

Akhirnya kain itu berhasil direbut. Dan, betapa mengejutkan setelah menemukan kain itu adalah kain tenun yang saat itu di Sintang jarang dibuat lagi. Seketika, Jacques memutuskan untuk merevitalisasi tenun ikat Sintang.

Langkah Jacques merevitalisasi tenun ikat Sintang dimulai dengan membelikan kacamata. Sebab, ide ini hanya menarik bagi ibu-ibu lanjut usia. Padahal karena usia, mereka tidak dapat melihat jelas. Dia memasok bahan baku, memastikan keberhasilan pemasaran, dan lain-lain.

Pastor Jacques pun rajin menghubungi koleganya, sesama penggemar tenun asli Indonesia, untuk melebarkan pemasaran, sekaligus belajar merevitalisasi tenun ikat. Dia juga aktif memberikan informasi melalui e-mail kepada pencinta tekstil di seluruh dunia.

Tahun 2005 ini, misalnya, sekelompok pencinta kain Indonesia yang dipimpin Pia Alisjahbana mencarter pesawat dari Pontianak untuk menyaksikan fashion show anak Sintang dengan busana terbuat dari tenun ikat.

Beberapa ibu Dayak juga dibawa berkeliling ke Jawa dan Serawak. Hasilnya, seorang ibu bernama Lado langsung menenun motif Borobudur, Monas, kereta api, yang disambut Jacques dengan tangan dan senyum lebar.

Atas kegigihannya merevitalisasi tenun ikat Sintang selama 30 tahun pada HUT ke-60 Kemerdekaan RI Pastor Jacques dianugerahi Pemda Sintang penghargaan Pelestarian Kebudayaan. Setelah 60 tahun merdeka, Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia. Namun pada kemerdekaan ke-60, di Sintang-Kalimantan Barat, seorang kelahiran Belanda diakui jasanya, seloroh Pastor Jacques.

Kini Jacques berobsesi membangun museum tenun ikat di Sintang lantaran melihat banyak tenun ikat Sintang maupun wilayah di Kalimantan yang berpindah tangan kepada kolektor negara lain.

Dia berencana membuat buku corak dan motif tenun ikat Sintang sehingga tidak punah. Di kampung mereka tidak punya kain lagi karena langsung dijual. Maka kita coba bikin buku, dengan isi foto tenunan terbagus agar dapat ditiru, kata Jacques. Studi hingga negeri Belanda, meneliti kain-kain tenun ikat Indonesia yang dikoleksi di Belanda telah pula dilakukannya.

Karya saya di tengah masyarakat Dayak adalah doa yang terbaik,� kata Pastor Jacques Maessen SMM.

Sumber : Kompas, Rabu 21 September 2005
Read Full 0 comments

John Dosom, Lebih Cinta Pedalaman

Jun 23, 2009
John Dosom, Lebih Cinta Pedalaman
Oleh : Kornelis Kewa Ama

Mengabdi sebagai guru selama 15 tahun di pedalaman Tanah Merah, Papua, belum cukup bagi John Dosom. Dia justru bertekad, generasi muda di pedalaman itu mampu mengembangkan daerah mereka sendiri. Pendidikan adalah jalan keluar mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.

"Saya tidak mencari kekayaan di tengah kemiskinan dan keterbelakangan ini, saya datang karena panggilan sebagai guru. Pekerjaan saya bersama guru-guru lain di sini memang berat. Meskipun daerah ini dibuka tahun 1920-an, tetapi pendidikan belum maju dibanding daerah lain,” kata John Dosom di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel.

John Dosom adalah salah satu dari ratusan guru di Tanah Merah, sekitar 700 km arah utara Merauke. Masyarakat Tanah Merah menerima kehadirannya sebagai orang setempat.

Selama 15 tahun mengabdi di SLTP Negeri I Tanah Merah, dia melahirkan sejumlah pejabat daerah dan tokoh politik setempat. Misalnya, kepala dinas, anggota DPRD, anggota KPUD, dan calon sarjana yang saat ini tengah kuliah di Universitas Cenderawasih Jayapura dan juga di luar Papua.

Putra Flores ini mengaku, daya tangkap anak-anak tidak terlalu sulit karena pendidikan di daerah itu mulai dikembangkan gereja Katolik sejak tahun 1927. Meski demikian, secara keseluruhan sumber daya masyarakat setempat perlu ditingkatkan, terutama di daerah terpencil.

”Untuk ilmu sosial, anak-anak dapat memahami saat dijelaskan, tetapi ilmu eksakta agak sulit. SLTPN I kekurangan guru eksakta karena tidak ada generasi berikut orang Papua yang menekuni bidang itu. Hampir di semua sekolah, ilmu eksakta dikuasai guru dari Jawa dan daerah lain,” tutur Dosom.

Suku terasing

Tahun 1991 John Dosom tiba di Tanah Merah dengan KM Teluk Sekar. Ketika itu Tanah Merah masih sangat miskin dan terbelakang, banyak warga mengenakan cawat dari kayu dan koteka. Kini pakaian itu mulai ditinggalkan, seiring perkembangan pembangunan di daerah itu.

Di pedalaman itu Dosom mendapati masih ada suku yang tinggal di atas pohon dan berpindah-pindah tempat, seperti suku Koroway di daerah perbatasan RI-PNG. Suku ini hanya dapat dijangkau dengan pesawat Cessna berkapasitas 2-3 penumpang. Perjalanan dari Tanah Merah ke daerah ini butuh 25 menit dengan biaya tiket Rp 500.000 per penumpang.

Tradisi suku ini sangat aneh. Setiap anak kembar, satu di antaranya harus dibunuh karena diyakini akan membawa malapetaka bagi keluarga. Biasanya anak yang baru dilahirkan itu langsung dibuang di dalam lubang. Bila perlu, ibu yang tengah melahirkan anak kedua itu langsung duduk di atas lubang sehingga anak itu tidak perlu disentuh tangan lain karena dianggap anak haram.

Di sejumlah daerah pedalaman seperti di wilayah suku Koroway, nyamuk malaria hitam, lintah darat, pacet, ular, dan binatang buas lain masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat. Pembangunan belum menyentuh daerah-daerah tersebut karena keterbatasan infrastruktur.

Sedangkan sebagian besar masyarakat di Tanah Merah, kata Dosom, sudah cukup maju. Ada puluhan intelektual muda memiliki pemikiran cerdas dan terampil dengan gagasan yang orisinal.

”Pemekaran Boven Digoel menjadi kabupaten tersendiri, lepas dari kabupaten induk Merauke, sangat tepat. Para generasi muda setempat diberi kesempatan menjadi pemimpin di daerah mereka,” kata Dosom.

Selain mengajar di SLTPN I Tanah Merah, suami dari Yuama Soma ini juga dipercayakan sebagai Pjs Kepala SMKN Tanah Merah yang memiliki siswa sekitar 180 orang. Dari 180 siswa itu, ada 19 siswa berasal PNG. Kehadiran siswa PNG ini sesuai kerja sama antara pemerintah RI dan PNG beberapa waktu lalu.

Tak mau pulang

Dengan sekuat tenaga Dosom mengaktifkan SMK yang baru dimulai tahun ajaran 2005. Ada tiga jurusan di sekolah itu, yakni budidaya tanaman, teknik bangunan, dan agroindustri. Pendidikan keterampilan seperti inilah yang sangat diperlukan di Boven Digoel. Sumber daya alam yang besar di daerah itu membutuhkan sumber daya manusia yang terampil, kreatif, dan memiliki semangat membangun daerahnya, mampu mengatur kekayaan alamnya sendiri, dan mempertahankan agar tidak lagi dicaplok orang dari luar.

Kecintaannya pada masyarakat pedalaman di Papua, membuat Dosom tidak pernah berpikir pulang kampung di Manggarai, Flores. Ia justru lebih berkonsentrasi pada pendidikan generasi muda Boven Digoel. Dia bertekad mengarahkan generasi muda menguasai ilmu pengetahuan dan mampu menjauhkan diri dari kebiasaan mabuk dan mental malas.

”Tugas mencerdaskan generasi muda Boven Digoel tidak gampang. Butuh pengorbanan dan kerja keras semua pihak di daerah ini. Suatu saat, kalau masyarakat sudah maju, saya boleh minta pulang kampung,” tekad Dosom.

Sumber : Kompas, Rabu, 28 September 2005
Read Full 0 comments

Jefri Al-Buchori : Perjalanan Panjang Setelah Ketenaran

Jun 20, 2009
Perjalanan Panjang Setelah Ketenaran
Oleh : Nur Hidayati

Seperti tahun-tahun lalu, gebyar acara televisi selama Ramadhan selalu dimeriahkan banyak dai dan artis. Di antara sekian banyak dai yang ditampilkan televisi, Jefri Al-Buchori (32) seolah-olah sedang dinobatkan jadi bintang. Nonton Ustadz Jefri tuh asyik, ganteng, ngajinya juga oke, kata salah satu penggemar yang menungguinya untuk meminta foto bersama di sela-sela syuting.

Agenda kegiatan Uje panggilan akrabnya—selama Ramadhan ini sudah padat, bahkan sejak sekian bulan sebelumnya. Permintaan untuk mengisi lebih dari 200 acara selama Ramadhan tentu bukan gampang dilakoni.

Hari Sabtu (29/10/2005) lalu, misalnya, setelah melewatkan pagi di Anyer untuk rekaman dengan salah satu stasiun TV, siang itu agenda dengan stasiun televisi lain sudah menunggu di Jakarta. Segera setelah itu ia bergegas menghadiri forum buka puasa yang digelar seorang pengusaha nasional. Dalam acara buka puasa, ia bukan hanya berceramah, tapi juga memimpin shalat tarawih.

Selepas tarawih, ia ditunggu untuk ikut dalam siaran langsung yang ditayangkan mulai pukul 22.00 di sebuah stasiun televisi. Pulang menjelang tengah malam, pukul 02.00 dini hari Uje sudah harus kembali berada di studio untuk acara menjelang sahur yang juga ditayangkan langsung.

Waktu saya beristirahat, membaca, dan mempersiapkan bahan untuk tampil pada saat- saat sekarang ini hanya di mobil, dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, kata ayah dua anak, Adiba Kanza Az Zahra (5) dan Mohammad Abidzar Al Ghifari (3).

Bukan hanya gaya bahasa gaul dan penampilan menarik yang diminati berbagai kalangan dari Uje. Suaranya yang jernih dan mampu menggapai nada-nada tinggi ketika mengaji tak kalah digemari.

Awal Oktober lalu, ia juga mengukuhkan diri sebagai penyanyi dengan mengorbitkan album perdana Lahir Kembali. Sebelumnya, rekaman penuturan kisah masa lalunya sudah beredar dalam format kaset, CD, dan VCD bertajuk Perjalanan Hidup Jefri Al Buchori.

Mengomentari popularitasnya, Uje mengatakan, ”Cobaan yang sedang diberikan pada saya sekarang jauh lebih besar daripada yang pernah saya alami dulu.”

Padahal, sebelum dikenal sebagai dai, cobaan yang tidak ringan harus dilalui Uje: mengakhiri ketergantungannya pada narkotika dan obat-obatan terlarang.

Sebagai penari

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat menekankan pentingnya nilai-nilai agama, Uje, putra ketiga dari lima bersaudara pasangan M Ismail Modal dan Tatu Mulyana, cemerlang dalam pelajaran agama dan membaca Al Quran.

Namun, catatan kenakalan membuatnya tak menamatkan pendidikan pesantren. Pindah ke sekolah menengah umum, Uje tergila-gila menari di diskotek. Sejak usia 16 tahun, ia mulai mengakrabi narkoba.

Lepas dari SMA, ia tercatat sebagai penari, juga menggeluti dunia model dan bermain sinetron. Semua dijalani tanpa melepas kebiasaan menggunakan narkoba. Ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1992, penyesalan hanya hinggap sebentar di benaknya.

Kecanduan berat sempat membuat Uje mengidap paranoia. Berbulan-bulan ia mengunci diri di kamar, ketakutan, merasa seolah-olah banyak orang ingin membunuhnya. Kecanduan itu pula yang membuat namanya dicoret dari dunia model dan sinetron.

Dalam kondisi labil, ibadah umroh kembali membuat penyesalan hadir. Ia berjanji tak akan menyentuh narkoba, tetapi kemudian jatuh lagi dalam kubangan yang sama.

Seorang mantan model Pipik Dian Irawati menerima Uje yang saat itu belum sembuh dari ketergantungan obat. Mereka menikah tahun 1999. Pergulatan batin paling liat akhirnya dialami Uje ketika menantikan kelahiran anak pertama setahun kemudian.

Diajari agama itu seperti diberi bekal. Tapi, mau diapakan bekal itu terserah yang punya. Di situ dibutuhkan kedewasaan beragama. Sepanjang saat jatuh bangun itulah saya berproses menjadi lebih dewasa dalam beragama, kata Uje.

Uje pertama kali berdakwah dengan berbagi pengalaman sebagai bekas pencandu tahun 2000. Pengetahuan tentang sisi gelap dunia malam membuatnya mudah diterima kalangan anak muda. Namun, bagi sebagian kalangan lain, status yang disandang itu sempat membuatnya tak disambut baik.

Nyatanya, namanya segera meroket. Dalam usia muda dengan perjalanan yang masih akan panjang, Uje mengaku tak khawatir ketenaran itu akan surut. Saya pernah mengalami hilang akal dan hilang iman, tak ada yang lebih buruk dari itu, katanya.

Jika agenda kegiatan tak lagi sepadat sekarang, Uje berencana membangun pondok muhasabah, tempat yang mewadahi siapa pun berintrospeksi diri. Pondok ini direncanakan berkegiatan mulai dari diskusi hingga outbond.

Setelah kesuraman masa lalu serta puja-puji yang kini mewarnai hari-harinya, Uje masih memendam sebuah ketakutan. Saya takut su-ul khotimah, akhir hayat yang buruk, ujarnya.

Dengan kata lain, Uje mengakui perjalanannya masih panjang untuk berproses makin dewasa sebagai panutan umat.

Sumber : Kompas, Rabu, 2 November 2005
Read Full 0 comments

James Yee : Kapten James Yee, Korban Paranoid Washington

Kapten James Yee, Korban Paranoid Washington
Oleh : L Sastra Wijaya*

Dia adalah ulama Muslim pertama yang dikirim untuk mendampingi para tahanan di Teluk Guantanamo, di Kuba. Namun, ia kemudian dijatuhi tuduhan melakukan pengkhianatan dan pemberontakan terhadap negara, membantu musuh, dan melakukan tindakan mata-mata.

Semua tuduhan itu bila terbukti bisa membawanya menjalani hukuman mati. Namun, semua tuduhan itu kemudian tidak terbukti. Tetapi, itu pun setelah dia mengalami hal yang sama, menjadi tahanan di Guantanamo, dan akhirnya diberhentikan dengan hormat dari militer Amerika Serikat.

Itulah pengalaman yang ditulis oleh Kapten James Yee dalam bukunya, For God and Country (Untuk Tuhan dan Negara) yang diterbitkan bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, 4 November lalu.

Pada awalnya, James Yee hampir tidak percaya bahwa dia dikenai tuduhan tersebut. Namun, akhirnya dia harus menjalani tahanan selama 76 hari di Guantanamo.

Mereka tidak peduli bahwa pangkat saya kapten, lulusan West Point, akademi taruna paling bergengsi di Amerika Serikat. Mereka tidak peduli bahwa dalam kepercayaan Islam saya tidak memperbolehkan telanjang di hadapan orang tidak dikenal. Mereka tidak peduli bahwa belum ada dakwaan resmi yang dijatuhkan. Mereka tidak peduli bahwa istri dan anak-anak saya tidak tahu di mana keberadaan saya. Dan, pasti saja mereka tidak peduli saya adalah warga Amerika yang sah, dan di atas segalanya, tidak bersalah.

Itulah yang dirasakan oleh James Yee ketika dia dimasukkan ke dalam tahanan. Cukilan buku James Yee itu baru-baru ini dimuat di mingguan Inggris The Sunday Times.

Keterlibatan James dengan Guantanamo dimulai enam bulan setelah peristiwa 11 September 2001. Pada awalnya dia keberatan ditugaskan di Guantanamo karena istrinya, Huda, dan putrinya, Sarah, baru saja tiba di Amerika Serikat dan harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana.

James Yee sebenarnya bukan dilahirkan sebagai warga Muslim. Dia adalah generasi ketiga warga China yang pindah ke Amerika Serikat, yang pertama kali beremigrasi di tahun 1920-an.

Pada awalnya dia mengikuti jejak orangtuanya dibesarkan sebagai warga Protestan Lutheran. Perjumpaannya dengan Islam terjadi ketika dia berlibur ke Suriah dan bertemu calon istrinya, Huda, setelah lulus dari akademi taruna West Point. Di Suriah itulah James kemudian menghabiskan waktu selama empat tahun untuk belajar Islam dengan serius.

Dia pernah bertugas selama Perang Teluk pertama di Irak, kemudian diizinkan oleh militer Amerika Serikat untuk menunaikan ibadah haji di Mekkah. Sekembalinya dari Tanah Suci, James Yee baru melihat ternyata tidak ada perwira ulama Muslim guna membantu militer Amerika.

Menurut James Yee, kejahatan yang dilakukannya di Guantanamo adalah dia mencoba memastikan bahwa para tahanan Taliban dan Al Qaeda yang berada di sana diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka, salah satu hak paling dasar yang dijamin oleh konstitusi Amerika Serikat.

Menurut James, orang yang mengakibatkan dan merekayasa semua tuduhan terhadapnya adalah Mayor Jenderal Geoffrey Miller, Komandan Kamp X-Ray di sana.

Memecah belah

Selama menjadi ulama Muslim dan membantu para tahanan, James banyak melihat berbagai pelanggaran yang dilakukan para penjaga di sana dalam usaha mereka untuk menundukkan para tahanan.

Hukuman yang semula dijatuhkan terhadap sekitar 600 tahanan di sana juga dirasakan oleh James Yee.

Militer Amerika Serikat juga berusaha memecah belah keluarganya, dengan memberi tahu istrinya, Huda, bahwa James menyeleweng dengan wanita lain.

Tidak mengherankan bila di suatu hari Huda menelepon dan mengatakan dia hendak bunuh diri dengan pistol yang sudah diarahkan ke kepalanya. Untung saya masih bisa membujuknya dan kemudian menelepon polisi untuk mendatangi rumah saya guna menyita pistol tersebut, demikian ungkap James Yee.

Sampai kemudian dinyatakan bebas tahun lalu, setelah mengajukan banding, James Yee pernah dituduh sebagai bagian dari jaringan mata-mata terbesar dalam sejarah Amerika. Dia juga dituduh melakukan perselingkuhan dan memiliki bahan-bahan pornografi.

Semua hal tersebut tidak terbukti. Dan, di bulan April 2004, James Yee diberhentikan dengan hormat dari dinas militer. Namun, dia tidak mendapatkan permintaan maaf secara resmi dari militer Amerika Serikat.

Menurut James Yee, dia hanya menjalankan tugas, mendampingi para tahanan di Guantanamo. Dia menjadi terlalu dekat dengan para tahanan, hal yang tidak disukai oleh militer Amerika.

James Yee merasa dia telah menjadi korban sikap paranoid jajaran militer Amerika Serikat. Padahal, tugas saya hanyalah ingin mengabdi kepada negara dan Tuhan.

*L Sastra Wijaya, Kontributor Kompas dan Penyiar BBC di London

Sumber : Kompas, Selasa, 15 November 2005
Read Full 0 comments

Joko Sasmito, Penemu Biochip

Jun 19, 2009
Joko Sasmito, Penemu Biochip
Oleh : Irma Tambunan

Ilmu pengetahuan mampu menjelaskan hal-hal yang semula dianggap tak mungkin menjadi mungkin. Melalui ilmu pengetahuan pula Joko Sasmito berhasil menciptakan biochip, yang dalam perkembangannya sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran. Semua berawal dari Siklus Kaifa.

Sejumlah produk teknologi yang bermanfaat untuk kesehatan telah dibuatnya bersama kelima anaknya. Alat-alat ini antara lain pengetes gelombang otak, pengetes emosi diri, pengetes penyakit kanker getah bening dan kanker hati, magnetic resonance imaging (MRI), alat pemeriksa saraf, otot, dan jantung, serta modem. Produk yang disebut terakhir ini belakangan direncanakan untuk diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Produk ini sendiri merupakan hasil penelitian selama delapan tahun oleh keluarga Joko bersama sejumlah tetangga yang tergabung dalam santri Isiteks (Islam Teknologi dan Seni) di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penemuan-penemuan teknologi di bidang kedokteran ini sebenarnya bukanlah tujuan awal Joko. Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada ini bersama sejumlah santri semula bermaksud menciptakan alat-alat elektronik mini yang dapat menghemat ruang.

Dalam perkembangan kegiatan penelitiannya, Joko malah lebih dulu berhasil menciptakan biochip sebagai alat pengetes kesehatan tubuh, yang sangat bermanfaat di bidang kedokteran, serta biochip sebagai alat terapi.

Biochip adalah benda organik sebagai materi inti. Ramuan dari sari hewan dan tumbuhan ini diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram, lalu dilekatkan pada lempengan kecil kawat, dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Alat ini berbeda dengan biochip-biochip lain yang, meski juga dibuat sebagai hasil teknologi, bahan utamanya dari anorganik.

Pada setiap kegiatan pengecekan dan terapi kesehatan terhadap pasien-pasiennya, Joko mentransfer materi inti pengobatan ini lewat gelombang (udara maupun listrik), disalurkan ke tubuh penderita.

Hantaran energi melalui gelombang ini pada tahap berikutnya, memampukan Joko mengobati pasien secara jarak jauh. Dengan menggunakan telepon biasa ataupun seluler, pengobatan yang berpusat dalam sistem komputer di rumahnya akan dihantar masuk ke pasien melalui gelombang.

”Saya berpikir bahwa ilmu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dan, bentuk pengobatan ini sangat dapat dijelaskan secara ilmiah,” tuturnya.

Empat dalil

Kita mungkin akan tak percaya bagaimana terapi biochip yang ditransfer lewat gelombang bisa menyembuhkan seseorang. Namun, Joko dapat menjelaskan secara ilmiah atas setiap produk temuannya.

Teori Siklus Kaifa menjadi dasar untuk setiap penemuan ini. Siklus ini mengacu pada salah satu ayat dalam sebuah surat di Al Quran. Ayat ini diterjemahkan menjadi empat dalil, yaitu adaptasi, filter, kecocokan, dan nilai integrasi. Setiap uji coba yang dilakukannya melalui empat dalil tersebut dan akhirnya menghasilkan karya chip non-bio. Namun, dalam perkembangannya, dia mengkreasikan chip dengan racikan bahan-bahan organik.

Tujuan Joko adalah supaya racikan bahan biochip ini tidak dapat ditiru tanpa harus dipatenkan. Kelebihan biochip ini adalah memiliki kepekaan lebih tinggi dalam mendeteksi suatu penyakit.

Joko mendidik lima anaknya untuk menjadi peneliti sekaligus penemu di bidang iptek meski mereka harus keluar dari sekolah formal. Ida Saraswati (23), anak pertama, kini telah membuat banyak perangkat lunak atau software dan Dika Sistrandari (21), Agus Siklawida (16) serta Tifa Siklawati (11) sebagai pembuat komponen data atau hardware. Adapun kemampuan membuat biochip diturunkan kepada anak ketiganya, Sikla Estiningsih (19).

Menurut Joko, merupakan pergumulan besar saat harus memberi pilihan bagi anak-anaknya untuk bersekolah formal atau belajar padanya. Saat anak-anak ini memutuskan untuk belajar pada Joko dan keluar dari sekolah masing-masing, tumbuh kesadaran akan konsekuensi bahwa kelimanya takkan memiliki ijazah pendidikan. ”Memang ada konsekuensi atas setiap pilihan,” tutur Sikla, anak ketiga.

Saat Kompas berkunjung kedua kalinya, sekira pertengahan bulan Januari, Joko tengah sibuk mengurusi salah seorang pasiennya yang sakit kritis. Hasil identifikasi biochip yang terpampang lewat komputer menunjukkan pasien tersebut mengidap penyakit kanker hati. Komputer lainnya dipakai mendeteksi gerak jantung yang melambat, juga melalui biochip. Lalu, sebuah biochip lagi dipasang untuk menurunkan tingkat entropi (kerentaan fungsi organ). ”Kalau sudah kondisi darurat, kami harus gerak cepat menolong pasien,” tuturnya.

Sumber : Kompas, Kamis, 26 Januari 2006
Read Full 0 comments

Jeno Harumbrojo : Empu Keris Ki Jeno Harumbrojo

Empu Keris Ki Jeno Harumbrojo
Oleh : Djoko Poernomo

Cuaca di atas Kota Yogyakarta dan sekitarnya yang sering mendung membuat hati Ki Empu Jeno Harumbrojo galau. Pasalnya, pekerjaan menjamasi (membersihkan) tosan aji, utamanya keris dan tombak, menjadi terbengkalai.

Jika mendung datang di luar bulan (Jawa) Suro sesuai dengan kalender Masehi jatuh antara 31 Januari dan 1 Maret kegalauan Jeno tentu tak seperti sekarang. ”Mendung membuat penjamasan tak bisa sempurna,” tegas Jeno (77), empu terakhir dari zaman Kerajaan Majapahit, pekan lalu. Empu artinya orang yang sangat ahli, terutama membuat keris (Kamus Besar Bahasa Indonesia/2002).

Sesuai dengan tradisi Jawa, pemilik keris umumnya memilih bulan Suro sebagai bulan penjamasan. Karena pekerjaan ini harus dilakukan seorang ahli, sebagian menyerahkan kepada Ki Empu Jeno Harumbrojo dari Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Sleman, 12 kilometer sebelah barat Kota Yogyakarta. Selama Suro, tak kurang dari 60 keris biasa dijamas Jeno. Sebegitu jauh ia tak bersedia menyebut biaya penjamasan.

Yang banyak dijamas adalah keris koleksi pribadi. ”Proses penjamasan diawali pembersihan karat dan kerak. Setelah itu, keris dicelupkan ke air bercampur perasan jeruk nipis ditambah warangan, dan diakhiri pengeringan,” tuturnya.

Maksud pemberian warangan, kata Jeno, untuk mengeluarkan pamor atau motif logam pada keris. Namun, jika cuaca mendung, penjamasan bakal gagal atau biasa disebut kluron.

”Bilah keris berwarna hitam. Pamor-nya pun tak tampak. Padahal, indahnya keris bisa dilihat dari rumitnya pamor,” tutur Jeno. Hingga kini dikenal 200-an pamor.

Keturunan empu

Keahlian membuat keris yang otomatis juga menjamas diwarisi dari Empu Supodriyo, empu ternama dari zaman Majapahit. Empu Jeno merupakan urutan ke-16, sedangkan bapaknya, Empu Supowinangun, urutan ke-15. Jeno termasuk empu yang berasal dari Jenggalan/Yogyakarta, begitu pula sang bapak dan sang kakek, Empu Joiruno. Satu empu lagi yang berasal dari wilayah sama adalah Empu Joyosemito, orangtua Joiruno.

Sebagaimana orang yang bergulat di dunia yang agak berbau mistis, Jeno gemar olah keprihatinan, sebuah upaya membersihkan jiwa. ”Ya, beginilah saya...,” ujarnya.

Jeno bertutur, keterlibatannya dalam pembuatan keris merupakan dawuh atau tanggung jawab moral guna menguri-uri (melestarikan) budaya adiluhung. ”Sebagai anak empu, saya wajib meneruskan titah…,” katanya. Tentu saja pekerjaan ini semakin penting setelah pada tahun 2005 >small 2small 0< memasukkan keris sebagai warisan budaya dunia.

Sejak berusia 15 tahun, Jeno kecil bayak membantu Empu Supowinangun di besalen (bengkel kerja). Ini yang kemudian membuatnya mampu membuat tosan aji, utamanya keris. Jeno memiliki tiga kakak laki-laki. Namun, dalam perkembangan, hanya Jeno yang menekuni pekerjaan tersebut.

Salah satu keponakannya, Sungkowo (50), kini mengikuti jejak Jeno. ”Ini calon pengganti saya,” kata Jeno. Sungkowo, karyawan Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, setelah berdinas biasanya langsung ke besalen bersama Jeno guna menyelesaikan pesanan. Seandainya ada yang memesan sekarang, menurut Jeno, baru bisa diambil empat tahun mendatang atau tahun 2010.

”Selain harus telaten, laku-nya itu lho yang berat. Laku di sini termasuk puasa pada hari-hari tertentu serta mematuhi berbagai pantangan...,” ungkap Jeno, pemegang tanda kehormatan Bintang Budaya Parama yang diterima pada 12 Agustus 2003.

Keprihatinan

Memang benar apa yang dikatakan Jeno. Untuk membuat sebilah keris, selain butuh ketelitian dan keprihatinan, juga waktu lama. Ini tergantung pula pada jenis keris sebagai cendera mata atau tayuhan.

Keris tayuhan adalah keris yang proses pembuatannya didahului tapabrata sang empu. Jika seseorang telah membicarakan pesanan, termasuk menyetujui tangguh (asal), pamor (gambaran), luk (keluk), dan mahar (biaya), sang empu mulai melakukan tapabrata menyucikan diri sambil mohon daya yoni kepada Yang Maha Kuasa. (Citra Yogya, No 20-21/1991).

Secara umum, ada empat jenis bahan baku keris, yakni batu meteorit, besi, baja, dan nikel. Bahan-bahan ini ditempa di atas arang kayu jati pada suhu 1.300 derajat Celsius sambil dipuntir serta dibuat berlapis antara delapan hingga 4.096. Masih ada proses lain sebelum keris diserahkan kepada pemesan.

”Mungkin banyak yang tidak percaya setelah jadi keris hanya memiliki berat 2 ons,” ungkap Jeno. Padahal, berat bahan baku bisa mencapai 16 kilogram. Selama berkarier, Jeno telah memproduksi puluhan keris tayuhan dan 300-an keris cendera mata. Keris tayuhan terakhir dikoleksi seorang mantan menteri pada Kabinet Persatuan Nasional dengan mahar puluhan juta rupiah.

Menurut Jeno, usahanya mulai mapan tahun 1974 setelah mendapat hadiah dari FA Moel (warga Belanda) berupa 14 kilogram nikel, menyusul penyebarluasan karyanya ke 13 negara di Eropa.

Merupakan berkah ketika tahun 1984 dan 1985 Sri Sultan Hamengku Buwono IX memesan dua bilah keris: Jangkung Mengku Negoro dan Sinom Jalak Tuding. Satu lagi: Tombak Cokronegoro, tetapi keburu ditinggal wafat sang pemesan.

Sumber : Kompas, Selasa, 7 Februari 2006
Read Full 1 comments

Jamal, Penjaga Hutan Bakau

Jun 18, 2009
Jamal, Penjaga Hutan Bakau
Oleh : Helena Francisca

”Apa hakmu melarang kami? Kamu, toh, bukan siapa-siapa! Pergi sana!!”

Dengan mimik muka prihatin, laki-laki berperawakan kecil berkulit hitam itu menirukan perkataan pencari cacing merah di kawasan hutan bakau Gunung Lahu, Pantai Ringgung, Lampung Selatan, yang baru saja ia temui.

Sabtu (25/3/2006) siang itu Jamal (55) memang baru saja usai mengawasi dan menjaga hutan bakau sekitar Pantai Ringgung. Sehari itu ia bertemu beberapa kelompok pencari cacing merah dan pencuri kayu bakau.

”Bagaimana tidak prihatin? Saya hanya bisa mengingatkan pencari cacing merah tanpa bisa melakukan tindakan apa pun atas perbuatan mereka. Padahal, mereka mengeduk akar bakau dan itu mematikan tanaman,” katanya dengan sorot mata sedih.

Sambil memandu ke titik-titik hutan bakau yang rusak atau gundul, Jamal mengungkapkan, ia mulai terpanggil menjaga hutan bakau sejak 2004. Niat itu muncul ketika ia melihat empasan gelombang air laut mencapai halaman depan rumahnya.

Memang, dilihat dari perairan sebelah luar Sidodadi bisa dikatakan hutan itu lebat. Namun, begitu menyusuri bagian dalamnya, hutan itu gundul.

Panggilan untuk menjaga hutan bakau secara sukarela pada laki-laki keturunan Pandeglang, Jawa Barat, yang menetap di Padang Cermin, Kabupaten Lampung Selatan, sejak 1967 itu semakin kuat saat menonton tayangan tsunami di Aceh melalui televisi.

Pada salah satu tayangan, ia mendapatkan pengetahuan bahwa hutan bakau dengan ketebalan tertentu mampu menahan gelombang tsunami sampai ratusan kilometer.

”Saya terkaget-kaget waktu itu. Langsung, tiap selesai kerja di kebun, saya selalu mampir ke hutan bakau ini,” ujarnya.

Merasa terpanggil, setiap kali ada nelayan datang dengan membawa alat pemusnah demi mendapat ikan, ia peringatkan. Setiap kali ada pencari cacing merah, ia larang mereka mengeduk akar karena akan mematikan bakau. Bahkan, setiap kali ada orang luar yang datang mencuri kayu bakau ia nasihati untuk tidak memotong.

Ia lebih suka melihat pencari cacing merah datang dengan umpan ampas kelapa karena itu akan lebih aman bagi akar bakau.

”Tetapi, orang-orang yang datang itu, lho. Mereka seenaknya mencuri kayu dan mematikan bakau. Betapa rindunya saya melihat hutan ini pulih,” ujarnya gemas.

Tunas bakau

Dengan kerinduan itu, bapak enam anak—Syamsu (8), kembar Rana-Rini (6), kembar laki-laki Jaman-Jamin (4), dan bayi Herman (7 bulan)—itu selalu berusaha menyelamatkan tunas dan tanaman bakau di lokasi itu.

Kerinduan Jamal memang cukup beralasan. Ia pernah mendengar dari Kepala Dusun Sidodadi 1 Ali Amrani, dasar laut Pantai Ringgung di selatan Bandar Lampung memiliki potensi bencana berupa patahan benua. Sedangkan di depannya terdapat Anak Gunung Krakatau yang selalu diawasi aktivitasnya.

”Dua-duanya merupakan sumber bahaya. Saya hanya mencoba mencegah sebelum terlambat. Artinya, menyelamatkan hutan bakau ini akan membantu menyelamatkan Lampung,” katanya.

Menelisik kawasan hutan bakau Gunung Lahu, Padang Cermin seluas 40 hektar, tampak lahan yang kosong cenderung gundul. Di sudut-sudut lain kawasan itu gundukan pasir membuat akar bakau mencuat kering ke sana-kemari.

”Bakau yang akarnya sudah mencuat akibat pengerukan lahan seperti itu sebentar lagi ia akan mati. Padahal, di akar-akar seperti itu ikan dan kepiting hidup. Sekarang, mana bisa?” tuturnya sedih.

Ia mengutip pernyataan Ali Amrani bahwa bakau juga berfungsi menahan abrasi gelombang air laut. ”Sekarang mana bisa? Lihat, sekitar 15 meter dari pohon bakau ini ke depan sudah laut bebas,” tuturnya sambil menunjuk ke laut di depan sana.

Terhambat

Bekerja sukarela menjaga bakau justru menyulitkan Jamaludin. Sebagai penjaga sukarela, ia memang tidak memiliki kartu identitas atau surat tugas dari aparat desa setempat. Alhasil, dengan keterbatasan itu, ia hanya bisa mengingatkan pencuri dan pencari cacing merah tanpa bisa bertindak apa pun.

Paling-paling, ia hanya mampu melaporkan tindakan pemburu cacing atau pencuri kayu itu ke Pak Ali. Apabila tindakan itu sudah sangat keterlaluan, misalnya seperti menebang kayu bakau dengan gergaji mesin, Pak Ali akan melaporkan ke Kepala Desa Sidodadi Harris Alhamdani.

”Saya ingin betul diberi wewenang atau surat tugas supaya bisa mengingatkan mereka dengan tegas. Atau bahkan meyakinkan bahwa perbuatan mereka salah. Karena tidak ada surat tugas itu, mereka selalu mencibir saya. Siapakah saya?” ucap suami Janah (25) ini lirih.

Memang, tanpa suatu kewenangan ia sering harus berhadapan dengan pencuri kayu atau pencari cacing merah yang bersenjata. Untuk menghindari konflik, ia biasanya memilih tidak meladeni.

”Kalau pencari cacing sendirian, saya masih berani menghadapi. Tetapi, kalau sudah berkelompok dan bersenjata pula, saya memilih menghindari konflik,” tutur pria yang hanya sekolah sampai kelas III sekolah dasar ini. Ia mendambakan pemerintah membuat peraturan yang bisa berlaku keras dan tegas terhadap pencuri dan perusak bakau. ”Pasti hutan ini bisa diselamatkan,” ujarnya.

Sumber : Kompas, Rabu, 5 April 2006
Read Full 0 comments

Judi Knight Achjadi : Judi Achjadi dan Kain-kain Adati

Judi Achjadi dan Kain-kain Adati
Oleh : Mulyawan Karim

Helai-helai kain hinggi itu tak cuma dibentang, dipandang, dan diraba untuk dikaji ragam hias dan teknik pembuatannya. Untuk mengetahui jenis pewarna dan jumlah serat benangnya, kain-kain tenun Sumba itu pun diteropong dengan kaca pembesar. Sebagian bahkan dicium untuk mengidentifikasi jenis benang yang dipakai.

Begitulah antara lain yang dilakukan Judi Knight- Achjadi di hari-hari menjelang pameran kain tenun Sumba di Bentara Budaya Jakarta, yang rencananya akan diresmikan Jumat (7/4/2006) malam ini. Dalam kegiatan pemeran berjudul ”Heavenly Cloths of Sumba” itu, Judi (71) berperan sebagai kurator yang bertugas menyeleksi dan menulis keterangan bagi setiap helai kain yang akan dipertontonkan.

Menjadi kurator pameran kain tradisional Indonesia bukan pertama dilakukan Judi. Ia sudah pernah melakukannya untuk sejumlah pameran lain, termasuk pameran koleksi kain Wastraprema dalam rangka peringatan 25 tahun perhimpunan pencinta kain adati Indonesia itu di Museum Tekstil Jakarta, tahun 2001.

Tahun lalu, bersama kurator lain, ia juga ikut menyiapkan pameran tentang pengaruh China dalam busana dan tekstil tradisional Indonesia yang diselenggarakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Museum Nasional.

Pada tahun 1999, perempuan berdarah Kanada ini bahkan dipercaya menjadi kurator Museum Tekstil Jakarta, yang memperoleh sebagian koleksi awalnya dari perkumpulan Wastraprema, yang antara lain dimotori oleh para kolektor kain terkemuka, seperti Jo Seda dan Herawati Diah.

Meski selalu menolak disebut ahli, keluasan dan kedalaman pengetahuan Judi soal kain adati Indonesia tak bisa diragukan. Ia bisa bicara panjang-lebar dan penuh semangat tentang kain dan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari kain ulos Batak, baju kurung Minangkabau, songket Palembang, kain kebaya Jawa, sampai macam-macam kain tenun dari kawasan Indonesia timur, termasuk Sumba.

Buku

Di kalangan kolektor, peneliti, dan pencinta wastra (kain) tradisional Indonesia, nama Judi Achjadi tak asing lagi. Sudah puluhan tahun istri Achjadi, pensiunan diplomat Departemen Luar Negeri RI itu berkecimpung di dunia busana dan kain adati Nusantara.

Berkat ketekunannya meneliti dan membuat catatan, Judi sudah menghasilkan tak kurang dari 11 buku, baik yang sepenuhnya ditulis sendiri maupun yang digarap bersama para penulis lain. Hampir semua berbicara tentang kain dan busana tradisional Indonesia. Buku-bukunya, antara lain, Indonesia’s Arts & Crafts (1982), Batik: Spirit of Indonesia (1999), dan Butterflies and Phoenixes: Chinese Influence in Indonesia’s Textile Arts (2005).

Apa yang membuat Judi heran, tak banyak orang Indonesia yang berminat mempelajari dan menulis tentang kain adat dan busana tradisionalnya.

”Sejak saya menulis buku tentang busana tradisional perempuan Indonesia pada 1970-an, rasanya tak ada lagi orang lain yang melakukannya,” kata Judi menunjuk buku pertamanya, Traditional Indonesian Women’s Costumes, yang terbit pertama kali pada 1976. Menurut Judi, buku itu, yang sudah dua kali dicetak ulang, sampai kini masih digunakan sebagai buku pelajaran di beberapa sekolah di Kanada.

Judi, yang kelahiran Montreal tahun 1935, mengaku sejak kecil sudah senang pada berbagai kebudayaan tradisional. ”Saya mewarisi kesenangan ibu saya pada antropologi, arkeologi, dan sejarah,” kisahnya. Ia juga mengaku, saat remaja sempat bercita-cita menjadi seorang antropolog yang melakukan penelitian di negeri-negeri asing nan jauh.

Akan tetapi, Judi baru jatuh hati pada Indonesia, khususnya pada pakaian dan kain tradisionalnya, setelah ia mulai tinggal di Indonesia tahun 1958. Ketika itu ia mengikuti suami, Achjadi, seorang diplomat muda Indonesia di Kanada, yang menikahinya. Judi kemudian sempat mendampingi sang suami yang ditempatkan di berbagai negara, termasuk Vatikan.

Ingin berkebaya

Menurut Judi, ketika baru tinggal di Jakarta, sebagai perempuan muda ia ingin berpakaian seperti perempuan Indonesia umumnya. Ia pun mencoba memakai kain kebaya, yang waktu itu masih sangat umum dipakai. ”Tapi, mengenakan kebaya ternyata tak sesederhana yang saya bayangkan sebelumnya. Meski ada yang memuji, tapi ada pula yang menunjukkan kesalahan saya, dalam memilih dan cara memakai kain, misalnya,” kata Judi yang sudah jadi WNI sejak tahun 1959.

Judi, yang kini sudah jadi ibu tiga anak dan nenek lima cucu, mengatakan, pengalaman inilah yang membangkitkan minatnya mempelajari berbagai tradisi berbusana di Indonesia. Meski tak pernah belajar antropologi secara formal, sejak itu Judi mengaku rajin mengumpulkan informasi dan mencatat semua hal yang terkait dengan tradisi berbusana di berbagai daerah di Indonesia.

Ia juga secara khusus mendalami pengetahuan tentang berbagai kain tenun tradisional Nusantara. Ia kerap pergi ke berbagai daerah untuk menimba ilmu langsung dari para penenun di desa-desa.

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan tradisi kain tenun, katanya. Kain tenun dari setiap daerah memiliki keindahan tersendiri. Ia sangat menyayangkan banyak orang Indonesia yang tak lagi menghargai, apalagi memakainya.

Saat meneliti kain, Judi selalu menciumnya lebih dulu.

”Saya kebetulan alergi terhadap benang pintal tangan yang kasar. Dengan mencium sehelai kain saya bisa segera tahu jenis benang apa yang dipakai, benang pabrik atau benang yang dipintal dengan tangan,” katanya di sela-sela kesibukannya menyiapkan pameran di Bentara Budaya Jakarta.

Sumber : Kompas, Jumat, 7 April 2006
Read Full 0 comments

Ralem Ginting & Jakub Tarigan : Duo Penyelamat Hulu Sungai Deli

Duo Penyelamat Hulu Sungai Deli
Oleh : Andy Riza Hidayat

Dari Sibolangit, air Sungai Deli mengalir jernih hingga memperlihatkan batu-batuan di dalamnya. Pohon pun rimbun di sekitarnya. Sungai ini menampakkan wajah aslinya setelah dilihat dari Desa Kuala dan Desa Sayum Sabah, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, sekitar 35 kilometer selatan Kota Medan.

Sehari-hari warga Kota Medan hanya tahu wajah bopeng Sungai Deli yang kotor, keruh, dan penuh limbah. Wajah itu adalah wajah kawasan kumuh perkotaan. Di Sibolangit, pemandangan itu tak ditemukan. Wajah ayu Sungai Deli menyegarkan raga.

Pada tahun 1980-1990, keasrian hulu sungai itu nyaris hilang. Saat itu masyarakat mengeksploitasi ikan besar-besaran dengan menggunakan racun, bahan peledak, dan setrum listrik. Akibatnya, populasi ikan menurun drastis. Dari sebelas jenis ikan di sungai itu, hanya tersisa lima jenis. Pepohonan di daerah aliran sungai menghilang satu per satu. Erosi menjadi ancaman setiap kali hujan datang.

Pada pertengahan tahun 1990-an, dua warga Sibolangit dari desa yang berbeda, Ralem Ginting (54) dan Jakub Tarigan (49), mengutarakan kerisauan mereka di sebuah kedai kopi. Kedua petani itu risau dengan kerusakan lingkungan di hulu Sungai Deli, sungai yang di hilir membelah Kota Medan. Tidak hanya mereka berdua, warga di desa-desa di hulu Sungai Deli juga meresahkan rusaknya lingkungan sungai.

Kesepakatan

Saat itu sungai bukan menjadi lingkungan yang menyenangkan. Beruntung, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Sumatera Utara membantu mengatasi keresahan warga. LSM itu memfasilitasi terbentuknya sebuah forum bersama yang terdiri dari masyarakat setempat. Pada tahun 1998, atas inisiatif sebagian warga, terbentuklah Forum Masyarakat Pelestari Sungai Deli (FMPS).

Karena kiprahnya, Ralem duduk sebagai ketua FMPS dan Jakub sebagai bendaharanya. Melalui forum itu, dibuatlah bermacam kesepakatan untuk menjaga sungai.

Kesepakatan pertama adalah menyelamatkan hulu Sungai Deli. Kesepakatan kedua, pemberian sanksi bagi mereka yang melanggar kesepakatan. Akhirnya sanksi disepakati, bagi mereka yang kedapatan mencari ikan dengan menggunakan racun, bahan peledak, atau setrum dihukum setidaknya menebar bibit ikan sebanyak yang ia bunuh. Hukuman terberat adalah denda senilai Rp 3 juta. Selanjutnya, kesepakatan itu dibuat dalam bentuk peraturan desa (perdes).

Desa Sayum Sabah, tempat tinggal Ralem; Desa Kuala, tempat tinggal Jakub; Desa Mbelin; dan Desa Bengkurung mengawali membuat kesepakatan itu. Sementara 26 desa lain di Sibolangit belum berkeinginan membuat perdes serupa. Pro dan kontra kesepakatan itu mengemuka.

"Mengubah perilaku tidak mudah. Tetapi, jika tidak dimulai, kapan lagi sungai ini diselamatkan," kata Ralem. Di awal kesepakatan itu dibuat, Ralem dan Jakub kerap kali harus menerima cibiran dari tetangga.

Apa boleh buat, kesepakatan telah dibuat dalam perdes yang juga didukung mayoritas penduduk. Suatu hari setelah kesepakatan dibuat, salah seorang warga Desa Kuala kedapatan menyetrum ikan di sungai. Warga melaporkannya ke kantor desa. Musyawarah desa yang dipimpin kepala desa memutuskan menjatuhkan hukuman denda menebar bibit ikan sebanyak 500 ekor ke sungai sebagai hukuman perbuatannya. Lambat laun, warga mulai sadar dan menghentikan mencari ikan yang merusak lingkungan.

Terus berupaya

Ralem dan Jakub juga memelopori penanaman pohon di sepanjang DAS Deli bagian hulu. Dalam pertemuan FMPS, warga memilih jenis pohon yang mempunyai nilai ekonomis rendah, tetapi mempunyai produktivitas buah yang tinggi. Maksudnya, agar masyarakat tidak menebang pohonnya saat besar. Akhirnya dipilih pohon duku, manggis, dan asam glugur.

Tidak hanya itu, bersama Jakub, Ralem memelopori penebaran 20.000 ikan limeduk, paitan, patin, dan tawas di sungai untuk memulihkan lagi populasi ikan yang semakin berkurang. Warga hanya diperbolehkan mencari ikan di sungai dengan menggunakan kail pancing.

Ralem dan Jakub adalah dua warga desa yang mempunyai tujuan sama. Mereka ingin warga dan lingkungannya menyatu dengan sungai. Mereka merancang kampanye penyelamatan dengan memasang papan larangan di kedai-kedai kopi, menyebarkan brosur ke warga, dan kampanye di kedai kopi tempat warga bercengkerama.

Salah satu pusat kampanye itu adalah kedai kopi milik Jakub di Desa Kuala. Untuk menambah wawasan warga, di kedai kopi milik Jakub berdiri Satelit Kotak Tambar/SKT (taman bacaan rakyat). SKT di tempat Jakub memanfaatkan buku-buku yang berasal dari pemerintah daerah dan sejumlah LSM pendamping mereka. "Buku-buku yang ada di sini bisa dibaca mulai dari anak-anak sampai orang tua. Mereka biar tahu cara menjaga lingkungan desa," tutur Jakub saat berbincang bersama Ralem di kedainya.

Di seluruh Sibolangit, ada empat SKT yang sudah berdiri. Seluruh SKT itu berada di kedai kopi. Penempatan itu tepat sebab warga Sibolangit kerap menghabiskan waktunya bercengkerama di kedai kopi setelah bekerja di ladang atau kebun. Jika didirikan di balai desa, tutur Jakub, orang akan malas datang. Sebab, nuansa kedai kopi jelas berbeda dengan kantor desa.

Keberadaan SKT disambut baik warga. Tidak hanya petani warga desa setempat yang meminjam buku perpustakaan SKT, tetapi orang yang bertempat tinggal 15 kilometer dari kedai juga kerap meminjam buku. Semua layanan peminjaman diberlakukan gratis. Jakub, yang juga sebagai petani kakao dan padi, merasa senang. Tempatnya semakin ramai dikunjungi orang. Otomatis, kedai kopinya juga semakin ramai meski mereka yang meminjam buku tidak selalu membeli makanan dan minuman di kedainya.

"Kami ingin hidup dari sungai. Kami ingin budidaya ikan sendiri dari air sungai. Desa ini ingin kami jadikan sebagai tempat kunjungan wisata alam yang menyenangkan," tutur Ralem. Ralem dan Jakub masih menapaki langkah awal menyelamatkan Sungai Deli bagian hulu. Pemberdayaan masyarakat untuk menyelamatkan sungai kini diikuti sebagian besar desa di DAS Deli di Sibolangit. Lima tahun lagi, siapa tahu Sibolangit menjadi kecamatan pariwisata.

Sumber : Kompas, Selasa, 11 April 2006
Read Full 0 comments

Joni P sakti : Joni Sakti, Sampah, dan Energi

Jun 17, 2009
Joni Sakti, Sampah, dan Energi
Oleh : FX Puniman*

Lautan sampah terjadi di Kota Bandung pekan terakhir ini. Sementara itu, di Jakarta, sampah yang berjumlah ratusan truk tak bisa dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang karena operator alat berat di TPA tersebut mogok.

Hal itu membuat Joni P Sakti (50), doktor bidang rekayasa dan manajemen lingkungan dengan bidang minor kimia dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, lulusan tahun 1993 dengan predikat magna cum laude, sangat prihatin.

"Sedih dan prihatin. Masalah sampah tampaknya tidak kunjung tuntas teratasi. Padahal, sampah sebetulnya bisa kita konversi menjadi energi dan produk berharga lain bila kita mampu mengolah dan mengelolanya secara benar," ungkap Joni pertengahan Mei lalu.

Lelaki kelahiran Jepara, Jawa Tengah, tahun 1956 yang menyelesaikan sarjana teknik sipil di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1982 dan kini tinggal di Bogor, itu memaparkan konsep mengolah sampah organik menjadi energi dan produk bernilai jual tinggi, berdasarkan hasil penelitiannya yang sudah dipublikasikan di beberapa jurnal di AS, antara lain Applied Biochemistry & Biotechnology, Anaerobic Digestion: A Waste Treatment Technology, dan Resources & Conservation.

Menurut Joni, pengolahan sampah menjadi energi (WTE) sudah dilakukan di luar negeri antara lain di Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, bahkan Singapura, dan menjadi populer belakangan ini karena harga minyak dan gas terus naik tajam.

"Sampai saat ini WTE belum diimplementasikan dalam skala industri oleh tenaga ahli Indonesia," kata Joni yang tujuh tahun bekerja di perusahaan konsultan bidang teknik dan manajemen lingkungan di AS.

Dia kemudian bekerja di Indonesia dan Singapura setelah pulang pada tahun 1994 atas saran dosennya, Prof Dr Paul Mac Berthouex, yang pernah menjadi konsultan teknik dan manajemen lingkungan Pemerintah Indonesia, untuk berkarya di Indonesia yang membutuhkan tenaga di bidang lingkungan.

"Sejak beberapa tahun lalu, terutama setelah kenaikan gila-gilaan harga bahan bakar minyak, saya mengembangkan konsep WTE yang menggunakan keuntungan kompetitif dan kacamata Indonesia. Teknologi ini berdasarkan riset saya di AS dikombinasi dengan kajian mendalam dari berbagai industri WTE di negara maju, misalnya RefCoM & Sebac (AS), Dranco (Belgia dan Jerman), Valorga (Perancis), dan Italba (Italia). Teknologi ini kemudian saya beri nama BioConvension of Organic Refuse to Energy with Total Recycling System (BioCORE TRS)," kata Joni.

BioCORE TRS

BioCORE, menurut Joni yang menikah dengan Sherley Chandra MBA, adalah proses di mana sampah organik, yaitu sampah yang mudah membusuk, seperti segala sayuran, buah, daging, ikan, telur, nasi, mi, rumput, dan daun, diubah menjadi energi, sedangkan produk berharga lainnya seperti biogas, listrik, bahan makanan ternak, pupuk organik plus, dan atau briket sampah organik. Metode yang dipakai adalah fermentasi anaerobik.

TRS sendiri adalah daur ulang menyeluruh. Semua sampah anorganik sisa sampah organik menjalani daur ulang semaksimal mungkin. Segala jenis sampah yang bisa didaur ulang, seperti kertas dan produk dari kertas, logam, kaca, tekstil, plastik, kayu, dan karet, dimanfaatkan lagi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, sampah yang tersisa adalah dari jenis keramik, abu, lumpur, debu, dan jenis lain yang mempunyai karakteristik seperti tanah itu sendiri, bebas dari bahan kimia berbahaya.

"Sampah yang tersisa ini bisa digunakan untuk bahan timbunan sehingga materi yang benar-benar dibuang ke TPA volumenya berkurang sampai dengan 97 persen dari total volume sampah. Dengan begitu, lahan yang diperlukan sangat minimal," ujar Joni.

Bahan gratis

Bahan baku BioCORE adalah sampah yang diproduksi setiap hari, termasuk sumber energi yang terbarukan dan tersedia gratis di mana-mana.

"Dengan mengubah sampah menjadi energi, negara kita akan menjadi lebih bersih, nyaman, dan terbebas dari pencemaran udara, air, dan tanah yang disebabkan sampah, bahkan dapat membantu mencabut subsidi minyak tanah tanpa membebani rakyat miskin, karena harga energinya bisa Rp 1.130, setara satu liter minyak tanah," papar Joni.

Selama studi di AS tahun 1983-1993, Joni hanya enam bulan pertama dibiayai orangtuanya. Selanjutnya, dia hidup mandiri dengan menjadi asisten dosen di tempatnya kuliah pascasarjana di Universitas Texas di El Paso, AS.

Joni optimistis industri BioCORE TRS dapat dikembangkan di Indonesia dengan sangat efisien, efektif, dan kompetitif.

Menurut Joni, selain dapat menjadi solusi optimal untuk mengatasi permasalahan kritis sampah dan energi, industri BioCORE TRS juga dapat menjadi bisnis yang sangat potensial di Indonesia. Sebagai ilustrasi, dengan retribusi sampah gratis, tingkat pengembalian modal bisa mencapai lebih dari 24 persen dengan potensi pendapatan lebih dari 3 miliar dollar AS per tahun. Bahkan, kata Joni lagi, suatu ketika industri BioCORE dapat membeli sampah dengan harga layak. "Alangkah baiknya bila nama TPA diubah menjadi pusat pengolahan sampah menjadi energi dan daur ulang," ujarnya.

*FX Puniman Wartawan, Tinggal di Bogor

Sumber : Kompas, Jumat, 26 Mei 2006
Read Full 0 comments

Julius Salaka Produsen Gitar

Julius Salaka Produsen Gitar
Oleh : Ingki Rinaldi

Kreativitas seseorang bisa meletup tatkala dihadapkan pada tantangan. Hal serupa berlaku pada Julius Salaka, sembilan tahun lalu.

Kemapanan sebagai karyawan perusahaan kontraktor di Surabaya sejak 1990 mesti dia tinggalkan sejak hantaman krisis menerjang pada 1997. Alumnus Politeknik Sipil Universitas Brawijaya Malang, yang meraih gelar diplomanya pada 1990, itu lantas putar otak.

Berbekal pengetahuan perkayuan yang didapat, pria kelahiran Japanan, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, 23 Juli 1968, ini lantas memberanikan diri menekuni pembuatan gitar elektrik.

"Waktu itu yang pertama kali pesan seseorang dari Balikpapan. Harganya Rp 1,2 juta dengan suku cadang elektronik sepenuhnya buatan Korea. Saya pun tidak pernah bertemu orangnya dan kami hanya mengandalkan korespondensi," sebut Joel, sapaan karibnya.

Sejak itulah, perjalanan Joel sebagai seorang luthier atau pembuat instrumen musik bersenar di Nusantara dimulai. Tanpa pendidikan formal maupun kursus berbau akademis, Joel terus menambah ilmu lewat ensiklopedi dan berselancar di internet.

"Memang, ibu saya bisa main harmonika dan ayah juga main gitar. Tetapi, kami bukan keluarga musisi," urai pemain gitar dan bas yang sejak SMP telah memainkan komposisi Queen dan Led Zeppelin bersama kelompok musiknya ini.

Tetapi, aktivitas di periode 1997-1998 disebut Joel tak lebih hanya sekadar kegiatan menjiplak saja. Berbagai order membuat aneka merek gitar ternama dengan spesifikasi serupa nyaris tak ditampik Joel semasa itu.

Tahun 1998-1999 Joel sudah tidak mau lagi mencantumkan merek tertentu untuk setiap gitar yang dibuatnya. Pada periode ini, Joel murni jadi pembuat gitar custom sesuai spesifikasi pesanan. Barulah setelah anak keduanya, Jonathan Allen Cahyanugraha lahir tahun 2000, Joel membuat keputusan berani. "Itulah turning point saya. Kalau saya teruskan menjiplak, berarti saya tidak menghargai karya orang lain," sebut Joel.

Maka, resmilah pada tahun itu lahir gitar bermerek Stephallen berdesain mandiri dari sebuah tempat kecil di wilayah Japanan. Stephallen diambilkan dari nama depan anak pertama Joel, Stephen Chandra Satyanugraha (8), yang digabung dengan nama tengah anak keduanya bersama Sylvia Puspa Dewi yang dinikahinya 1997 silam.

Kondang

Tetapi, puncak tertinggi penjualan baru benar-benar mulai terjadi saat I Wayan Balawan yang kondang dengan teknik ketuk delapan jari (eight finger tapping) memutuskan memakai Stephallen pada tahun 2005. "Balawan memang punya banyak pengaruh. Sejak saat itu sudah 10 gitar per bulan bisa terjual, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang 4-5 gitar per bulan," tutur Joel yang menghitung setidaknya ada 800 gitar yang sudah diproduksi selama sembilan tahun terakhir dan telah mempekerjakan setidaknya enam pegawai.

Selain Balawan, dua eksponen Trisum lain, Dewa Budjana dan Tohpati, belakangan juga memutuskan memakai Stephallen. "Tetapi, saya tetap tidak mau jadi endorsment company, sekalipun butuh musisi top untuk menjual gitar saya. Saya ingin orang beli karena yakin pada kualitas gitar saya," kata penggemar gaya permainan gitaris Deep Purple yang juga pernah bergabung dengan Kansas dan Dixie Dregs, Steve Morse itu.

Soal pengaruh gitaris terkenal bagi penjualan, Joel mengaku banyak terinspirasi dari kesuksesan Paul Reed Smith (PRS) yang membuat gitar bagi Carlos Santana. "Mungkin jalannya, ya, memang harus seperti itu, ya," katanya.

Gitaris Brian May dari kelompok musik Queen malah setuju untuk mempromosikan Stephallen di negaranya. Komitmen Brian didapat lewat jasa musisi Inggris Rob McKnay seusai manggung di Sheraton Surabaya beberapa waktu lalu.

"Saya kenal Rob lewat jasa teman. Rob yang berteman dengan Brian bilang kalau Brian juga tertarik membantu," kata Joel sembari mengelus Stepphallen Mainstream berbodi kayu mahoni dengan dua pick up Seymour Duncan serta bridge model Gibson yang ujung senarnya mengunci masuk ke bodi.

Kini Joel punya delapan seri gitar yang siap diproduksi. Termasuk di dalamnya artist series dan signature series yang berada dalam lingkup custom.

Soal desain gitar, Joel yang berpembawaan kalem mengaku gitar buatannya dikritik berpenampilan terlalu sopan. "Mungkin karena saya suka jazz, jadi ketika bikin gitar untuk musisi rock bergaya shredder sering dibilang kurang garang. Berbekal itulah, beberapa model terakhir saya sesuaikan dengan permintaan," ungkap Joel yang kini juga memproduksi tiga varian gitar bas.

Kunci Joel mungkin pada kesungguhan dan kesempurnaan. "Saya tidak pernah pusing targetnya seperti apa. Yang penting kualitas bagus, enak dimainkan, seterusnya hasil kerja akan dihargai dengan sendirinya," tutur penggemar gitar merek Gibson dan PRS yang mengaku masih sulit menghitung marjin keuntungan tiap produknya itu.

Joel mengatakan, kandungan lokal Stephallen paling banyak hanya 30 persen saja dari seluruh bagiannya. Komponen lokal itu terutama berupa kayu mahoni untuk membentuk bodi yang bisa berasal dari Jawa Timur atau Jawa Tengah.

Sementara untuk sejumlah seri Stephallen yang menggunakan leher terpisah, lapisan kayu mapple dari Kanada lazim dipergunakan. Bagian lain, seperti bridge, pick up, dan tuning peg dipercayakan produk buatan Paman Sam. Ada pula sejumlah suku cadang yang dipercayakan pada buatan Korea.

"Soalnya harganya juga enggak ngejar kalau pakai buatan Amerika semua," kata Joel yang juga menggemari gaya permainan alumnus Deep Purple lainnya, Joe Satriani.

Untungnya, Joel punya andalan lain. Sebuah pabrik mebel dengan orientasi ekspor kini berdiri di kawasan Porong, Sidoarjo, sejak 2005. Di tempat itu pula, enam karyawan "numpang" membentuk Stephallen dari bagian paling dasar dengan proses sentuhan akhir tetap dikerjakan Joel.

Harapannya, produk mebelnya yang saat ini sudah berjaya di pasaran Amerika, Jepang, dan Australia dengan rata-rata pengiriman hingga enam kontainer per bulan itu bisa mendongkrak penjualan Stephallen. "Tetapi, saya pun masih ragu-ragu untuk berinvestasi secara penuh dan membuat Stephallen ini menjadi benar-benar massal," ungkap Joel.

Sumber : Kompas, Kamis, 15 Juni 2006
Read Full 0 comments

Johnnie Syam : Bursa Mobil Johnnie Syam

Jun 16, 2009
Bursa Mobil Johnnie Syam
Oleh : FX Puniman*

Tidak terbayangkan jika mantan pengemudi bemo di Kota Bogor tahun 1968-an ini suatu saat menjadi pengelola Pasar Mobil Kemayoran, Jakarta. Dari semula lahan kecil di kawasan Kota Baru Bandar Kemayoran yang dipenuhi semak belukar, dia garap menjadi sebuah kawasan Pasar Mobil Kemayoran terbesar di Indonesia. Bahkan boleh dikata terbesar di Asia.

Tak terbayangkan, karena awalnya susah mengajak pedagang datang kemari, kata Johnnie Syam (56), akhir Juni lalu. Pasar Mobil Kemayoran (PMK) yang mulai dirintis tahun 1995 dengan 30-an pedagang mobil, termasuk sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil, awalnya menempati lahan seluas 28.000 meter persegi. Secara bertahap sampai tahun 2003 hingga kini luas lahan yang dipergunakan mencapai 90.000 meter persegi atau 9 hektar. Adapun Kota Baru Bandar Kemayoran (KBBK) luas totalnya 454 hektar.

"Saat ini tercatat ruang pamer mobil sebanyak 205 unit, kios onderdil dan variasi sebanyak 810 unit. Jumlah pedagang sekitar 5.000 orang, montir 800 orang, petugas satuan pengamanan sekitar 100 orang, petugas kebersihan 150 orang, dan pedagang makanan dan minuman sekitar 200 orang, di luar maupun di dalam PMK. Sebanyak 30 pedagang di antaranya menempati tiga kantin yang berada di dalam PMK," kata Johnnie seraya menambahkan, sekitar 2.000 mobil bekas dan baru, dari harga puluhan juta rupiah sampai satu miliar rupiah per unit, dipasarkan di PMK.

Adapun pajak pertambahan nilai yang dibayar tahun 2005 sebesar Rp 1,5 miliar dan pajak penghasilan tahun 2005 sebesar Rp 1,5 miliar. Sedangkan pajak bumi dan bangunan tahun 2005 yang dibayar sebesar Rp 67 juta.

"Selain itu, saya juga membayar sebesar 30 persen kepada Koperasi Karyawan Direksi Pelaksana Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran (DP3K) dari pendapatan yang kami peroleh dari uang sewa yang dibayar pedagang," kata Johnnie tentang kontribusinya kepada pemerintah dan pengelola kawasan DP3K.

Suami dari Grace Puspasari yang telah dikaruniai dua putri ini menyebutkan, awalnya sangat susah membujuk pedagang mobil untuk menempati lahan di depan Pekan Raya Jakarta (PRJ). "Mereka menganggap daerah ini tak bakal didatangi orang. Orang tak yakin menjadi pusat perdagangan. Saya bujuk satu per satu agar mereka mau menempati lahan tersebut. Kebetulan sejumlah pedagang mobil, sejumlah ruang pamer mobil di Kelapa Gading kena gusur karena lahannya akan diperuntukkan pembangunan apartemen," katanya. Akhirnya mereka inilah yang mau menempati lokasi di depan PRJ.

"Kami akhirnya berhasil mengumpulkan 30-an pedagang mobil. Saya lalu mengajak ATPM untuk menempati kawasan itu. Kesediaan ATPM sejumlah otomotif ini membuat pedagang mobil mulai berdatangan secara bertahap," kata Johnnie yang meraih gelar Sarjana Administrasi Niaga pada sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta tahun 1978.

Semula bursa mobil

Awalnya, kawasan yang dirintis ini diberi nama Bursa Mobil Kemayoran. Tulisannya cukup mencolok pada sebuah billboard di pintu masuk. Nama itu menjadi perhatian Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja yang pulang seusai peresmian PRJ pada tahun 1996.

"Saya kena tegur Direksi DP3K. Saya katakan nama bursa itu hanya untuk gagah-gagahan saja, bukan usaha penanaman modal yang besar. Sesuai saran Direksi DP3K, nama itu saya ubah menjadi PMK," tuturnya.

Namun, pihak Pemerintah Provinsi DKI, toh, tetap menegur Johnnie untuk membuat surat izin peruntukan penggunaan tanah (SIPPT). Akhirnya Johnnie memenuhi teguran untuk membuat SIPPT ke Pemerintah Provinsi DKI. "SIPPT dengan biaya yang cukup besar itu selesai dalam waktu enam bulan," kata Johnnie yang meraih gelar Magister Manajemen dari STIE Nusantara Jakarta tahun 2006 dan sebelumnya, tahun 1991, meraih gelar Master of Business Administration.

Sesuai dengan kontrak kerja sama bagi hasil dengan Koperasi Karyawan DP3K sampai dengan 30 April 2010, Johnnie pun hanya mengembangkan usahanya seluas 9 hektar.

"Setelah berhasil mengumpulkan pedagang mobil, saya lalu membujuk pedagang onderdil dan variasi di berbagai tempat di Jakarta satu per satu. Berkumpulnya pedagang mobil di tahap pertama itu telah menjadi daya tarik bagi pedagang lain. Pedagang mobil pun akhirnya berdatangan untuk ikut bergabung. Saya lalu melakukan perluasan tahap kedua seluas 3 hektar pada tahun 1997, kemudian disusul tahap III seluas 1,5 hektar dan tahap IV 2 hektaran pada tahun 2003 sehingga total menjadi 9 hektar," kata Johnnie seraya menyebutkan sehari sekitar 1.000 pengunjung datang ke PMK.

Bangunan ruang pamer di PMK masing-masing luasnya 8 x 10 meter, untuk kios onderdil dan variasi antara 2,7 x 5 meter dan 2 x 6 meter, serta tenda untuk bengkel montir ukuran 2 x 3 meter. Sewa ruang pamer Rp 30 juta-Rp 45 juta per tahun, kios onderdil dan variasi sebesar Rp 25-an juta per tahun, sedangkan untuk bengkel montir Rp 150.000 per bulan. PMK dibuka mulai pukul 09.00 hingga pukul 18.00

Citra pasar yang bersih juga diupayakan Johnnie. "Petugas kebersihan aktif di sini. Setiap pagi sebelum PMK dibuka, lahan seputar PMK tampak bersih," ucapnya.

Dan tidak seperti pasar lain, mereka yang buang air kecil di PMK tak dipungut bayaran. Sebanyak delapan toilet umum dibangun terpencar, masing-masing dua kamar untuk pria dan dua kamar untuk wanita, dengan menempatkan petugas kebersihan agar senantiasa tetap bersih dan tak bau.

Mushala pun dibangun. Asrama satpam juga dibangun di lokasi PMK. Bahkan kini sudah ada empat bank beroperasi untuk memudahkan konsumen dan pedagang dalam bertransaksi.

Kiatnya? Semboyan usaha Johnnie ini pun unik: Sasamu, alias sama-sama untung....

*FX Puniman, Wartawan, Tinggal di Bogor

Sumber : Kompas, Senin, 3 Juli 2006
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks