Showing posts with label E. Show all posts
Showing posts with label E. Show all posts
Endang Wiharso, Energi Seni Kulit Telur
Jun 28, 2009
Entang Wiharso, Energi Seni Kulit Telur
Oleh : Efix Mulyadi
Para bakul telur puyuh mendapat rekanan baru yang unik: seorang perupa. Sang perupa tidak membeli isi untuk dimakan, melainkan hanya kulit semata untuk bahan pembuatan karya-karya seni.
"Semula saya beli telur puyuh untuk mendapat kulitnya. Lama-lama terpikir, wah, jadi mahal banget nih. Akhirnya saya temui bakul untuk membeli khusus kulitnya saja," tutur Entang Wiharso selagi asyik mengawasi pemasangan sejumlah patung atau obyek dari seni instalasinya untuk pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tanggal 8-17 April 2005. Pameran tunggalnya yang ke-14 ini bertajuk "Inter-Eruption".
Bagian permukaan patung dari bahan resin ia lapisi kulit telur dengan lem kayu. Jadilah permukaan patung, yang umum menggambarkan manusia atau makhluk mirip manusia, menjadi kasar. Warnanya didominasi oleh bercak coklat tua atau putih padam, yaitu warna asli kulit telur itu.
"Saya minta para bakul itu mengupas telur dengan hati-hati sehingga bisa diperoleh kulit-kulit dengan bentangan luas. Mereka mau. Rupanya mereka senang karena menjual kulit itu artinya sekaligus membuang sampah basah yang bau bukan main. Giliran saya yang terkena bau, he-he-he...," katanya tentang kulit telur yang mesti dijemur sampai setengah kering agar masih tetap lentur, sementara bau ikut pergi.
Justru berkat sifat gampang retak atau pecah itulah kulit telur menjadi berharga bagi dunia seni.
"Tiga teman yang mengerjakannya menjadi lebih berhati-hati agar tetap utuh ketika ditempel. Fragility itu yang saya cari. Saya menempelnya ke patung manusia seperti memberi sifat rapuh manusia kepada karya-karya tersebut," tutur Entang yang menampilkan karya kulit telur puyuh pertama kali untuk pamerannya di CP Artspace Jakarta pada tahun 2004.
Butuh berbulan-bulan lamanya untuk menemukan metafor yang tepat seperti itu. Pada awalnya ia tertarik pada cara tradisional ketika mencari telur ayam yang baik, yaitu dengan cara menerawangnya. Hal itu muncul untuk karyanya In the Name of President seiring dengan kesibukan orang Indonesia memilih pemimpin yang baru.
Ia lukis tubuh-tubuh yang koyak di kanvas ekstra besar untuk mengungkap kecemasan, ketegangan, atau teror yang membuat masyarakat sakit jiwa. Ia memasang ratusan biji mata seukuran kepalan tangan, gergaji, atau boneka untuk seni instalasinya di dalam kisah senada.
Memang berbagai pengalaman personal, yang tak jarang ternyata juga menyuarakan pengalaman bersama, menjadi semangat keseniannya. Tinggal di berbagai wilayah budaya, yaitu Tegal, Yogyakarta, dan sempat di Jakarta, menyuburkan pengalaman tersebut. Pengalaman Indonesia yang bangkrut, munculnya ancaman diskriminasi atas nama nilai tertentu, ikut memicu pencarian metafor yang tepat guna seperti kulit telur puyuh.
Belakangan, sesudah menikah dengan warga Amerika Serikat keturunan Italia, ia memasuki kancah perbenturan budaya juga dengan intensitas yang berbeda. Bersama keluarga ia bermukim di Kalasan, Yogyakarta, dan di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ketegangan budaya itu diimbuh dengan peristiwa 11 September, yang membuat banyak warga Amerika paranoid.
"Waktu itu keluar rumah sendirian terasa ngeri. Suhu patriotisme naik. Kalau paspor kita Indonesia, diperiksanya lebih lama dan rumit," tutur Entang tentang pengalaman tidak enak pada bulan-bulan selepas kejadian mencekam tersebut. "Saya naik pesawat Northwest, pesawat pertama yang masuk ke AS selepas 11 September. Saya diinterogasi selama tiga jam di Amsterdam."
Pengalaman seperti itu memicu kelahiran sejumlah karya, antara lain Portrait in the Gold Rain-disertakan di dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini. Lukisan tersebut membuat batal pameran tunggalnya di Rhode Island, AS, bulan Januari 2003. Ia menolak permintaan pihak galeri agar lukisan itu tidak disertakan karena menganggapnya illegal, jorok, dan menjurus seksual. Isi lukisan menonjolkan satu sosok lelaki telanjang tengah berjongkok.
"Saya tidak suka hal jorok, dan persoalan di lukisan itu juga bukan seksual. Saya ingin menggambarkan manusia yang ditindas oleh sistem, didiskriminasi, dilabelisasi, disisihkan, sampai terkentut-kentut," kata Entang.
Pencekalan itu memicu solidaritas para seniman setempat maupun para kurator, yang memindahkan pameran Entang ke tempat lain. Peristiwa yang terjadi di negara kampiun demokrasi itu menyulut dukungan di berbagai media massa terhadap seniman warga Indonesia tersebut. Sempat dibuat pula diskusi untuk membela haknya sebagai seniman.
Tinggal di AS juga membuatnya akrab dengan ikon dunia kartun seperti Bart Simpson, yang kemudian ia comot untuk karyanya. "Kartun Bart Simpson itu mengungkap masalah kita, manusia biasa di dalam kehidupan sehari-hari, bukan manusia super," tuturnya.
Belakangan sejumlah lukisan maupun karya instalasinya menampilkan sosok berkuping lebar mirip Teddy Bear. Boneka kesayangan anak itu ia sulap menjadi simbol Amerika, yang banyak dipuja tetapi lebih banyak lagi yang membenci.
"Saya tertarik ketika Dominic lahir, banyak kado berupa Teddy Bear. Saya tanya ke istri, apa maknanya? Ternyata itu berangkat dari kisah seorang Teddy Roosevelt, pemimpin Amerika saat itu, menyelamatkan bayi beruang," tutur Entang. Dominic Ensar Wiharso dan Marco Emil Wiharso adalah buah pernikahannya dengan Christine Cocca tahun 1997. Christine seorang ahli sejarah seni dan kini mengurus aktivitas seni suaminya.
Lelaki kelahiran Tegal, 19 Agustus 1967, ini menjalani masa mahasiswanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan kerja keras. Ia sempat cuti kuliah untuk membantu keluarga mengelola bisnis makanan kaki lima di Jakarta, yang dikenal sebagai "warung tegal".
Kini secara ekonomi kehidupannya sangat baik, tetapi sebagai seniman ia tak hendak mapan di dalam arti berhenti "mencari". Pamerannya di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Jumat (8/4) malam lalu membuktikan hal itu. Ia terpilih bersama tiga seniman lain untuk tampil di dalam Biennale Venesia pada bulan Juni tahun ini. (EFIX MULYADI)
Sumber : Kompas, Senin, 11 April 2005
Oleh : Efix Mulyadi
Para bakul telur puyuh mendapat rekanan baru yang unik: seorang perupa. Sang perupa tidak membeli isi untuk dimakan, melainkan hanya kulit semata untuk bahan pembuatan karya-karya seni.
"Semula saya beli telur puyuh untuk mendapat kulitnya. Lama-lama terpikir, wah, jadi mahal banget nih. Akhirnya saya temui bakul untuk membeli khusus kulitnya saja," tutur Entang Wiharso selagi asyik mengawasi pemasangan sejumlah patung atau obyek dari seni instalasinya untuk pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tanggal 8-17 April 2005. Pameran tunggalnya yang ke-14 ini bertajuk "Inter-Eruption".
Bagian permukaan patung dari bahan resin ia lapisi kulit telur dengan lem kayu. Jadilah permukaan patung, yang umum menggambarkan manusia atau makhluk mirip manusia, menjadi kasar. Warnanya didominasi oleh bercak coklat tua atau putih padam, yaitu warna asli kulit telur itu.
"Saya minta para bakul itu mengupas telur dengan hati-hati sehingga bisa diperoleh kulit-kulit dengan bentangan luas. Mereka mau. Rupanya mereka senang karena menjual kulit itu artinya sekaligus membuang sampah basah yang bau bukan main. Giliran saya yang terkena bau, he-he-he...," katanya tentang kulit telur yang mesti dijemur sampai setengah kering agar masih tetap lentur, sementara bau ikut pergi.
Justru berkat sifat gampang retak atau pecah itulah kulit telur menjadi berharga bagi dunia seni.
"Tiga teman yang mengerjakannya menjadi lebih berhati-hati agar tetap utuh ketika ditempel. Fragility itu yang saya cari. Saya menempelnya ke patung manusia seperti memberi sifat rapuh manusia kepada karya-karya tersebut," tutur Entang yang menampilkan karya kulit telur puyuh pertama kali untuk pamerannya di CP Artspace Jakarta pada tahun 2004.
Butuh berbulan-bulan lamanya untuk menemukan metafor yang tepat seperti itu. Pada awalnya ia tertarik pada cara tradisional ketika mencari telur ayam yang baik, yaitu dengan cara menerawangnya. Hal itu muncul untuk karyanya In the Name of President seiring dengan kesibukan orang Indonesia memilih pemimpin yang baru.
Ia lukis tubuh-tubuh yang koyak di kanvas ekstra besar untuk mengungkap kecemasan, ketegangan, atau teror yang membuat masyarakat sakit jiwa. Ia memasang ratusan biji mata seukuran kepalan tangan, gergaji, atau boneka untuk seni instalasinya di dalam kisah senada.
Memang berbagai pengalaman personal, yang tak jarang ternyata juga menyuarakan pengalaman bersama, menjadi semangat keseniannya. Tinggal di berbagai wilayah budaya, yaitu Tegal, Yogyakarta, dan sempat di Jakarta, menyuburkan pengalaman tersebut. Pengalaman Indonesia yang bangkrut, munculnya ancaman diskriminasi atas nama nilai tertentu, ikut memicu pencarian metafor yang tepat guna seperti kulit telur puyuh.
Belakangan, sesudah menikah dengan warga Amerika Serikat keturunan Italia, ia memasuki kancah perbenturan budaya juga dengan intensitas yang berbeda. Bersama keluarga ia bermukim di Kalasan, Yogyakarta, dan di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ketegangan budaya itu diimbuh dengan peristiwa 11 September, yang membuat banyak warga Amerika paranoid.
"Waktu itu keluar rumah sendirian terasa ngeri. Suhu patriotisme naik. Kalau paspor kita Indonesia, diperiksanya lebih lama dan rumit," tutur Entang tentang pengalaman tidak enak pada bulan-bulan selepas kejadian mencekam tersebut. "Saya naik pesawat Northwest, pesawat pertama yang masuk ke AS selepas 11 September. Saya diinterogasi selama tiga jam di Amsterdam."
Pengalaman seperti itu memicu kelahiran sejumlah karya, antara lain Portrait in the Gold Rain-disertakan di dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini. Lukisan tersebut membuat batal pameran tunggalnya di Rhode Island, AS, bulan Januari 2003. Ia menolak permintaan pihak galeri agar lukisan itu tidak disertakan karena menganggapnya illegal, jorok, dan menjurus seksual. Isi lukisan menonjolkan satu sosok lelaki telanjang tengah berjongkok.
"Saya tidak suka hal jorok, dan persoalan di lukisan itu juga bukan seksual. Saya ingin menggambarkan manusia yang ditindas oleh sistem, didiskriminasi, dilabelisasi, disisihkan, sampai terkentut-kentut," kata Entang.
Pencekalan itu memicu solidaritas para seniman setempat maupun para kurator, yang memindahkan pameran Entang ke tempat lain. Peristiwa yang terjadi di negara kampiun demokrasi itu menyulut dukungan di berbagai media massa terhadap seniman warga Indonesia tersebut. Sempat dibuat pula diskusi untuk membela haknya sebagai seniman.
Tinggal di AS juga membuatnya akrab dengan ikon dunia kartun seperti Bart Simpson, yang kemudian ia comot untuk karyanya. "Kartun Bart Simpson itu mengungkap masalah kita, manusia biasa di dalam kehidupan sehari-hari, bukan manusia super," tuturnya.
Belakangan sejumlah lukisan maupun karya instalasinya menampilkan sosok berkuping lebar mirip Teddy Bear. Boneka kesayangan anak itu ia sulap menjadi simbol Amerika, yang banyak dipuja tetapi lebih banyak lagi yang membenci.
"Saya tertarik ketika Dominic lahir, banyak kado berupa Teddy Bear. Saya tanya ke istri, apa maknanya? Ternyata itu berangkat dari kisah seorang Teddy Roosevelt, pemimpin Amerika saat itu, menyelamatkan bayi beruang," tutur Entang. Dominic Ensar Wiharso dan Marco Emil Wiharso adalah buah pernikahannya dengan Christine Cocca tahun 1997. Christine seorang ahli sejarah seni dan kini mengurus aktivitas seni suaminya.
Lelaki kelahiran Tegal, 19 Agustus 1967, ini menjalani masa mahasiswanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan kerja keras. Ia sempat cuti kuliah untuk membantu keluarga mengelola bisnis makanan kaki lima di Jakarta, yang dikenal sebagai "warung tegal".
Kini secara ekonomi kehidupannya sangat baik, tetapi sebagai seniman ia tak hendak mapan di dalam arti berhenti "mencari". Pamerannya di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Jumat (8/4) malam lalu membuktikan hal itu. Ia terpilih bersama tiga seniman lain untuk tampil di dalam Biennale Venesia pada bulan Juni tahun ini. (EFIX MULYADI)
Sumber : Kompas, Senin, 11 April 2005
Eddie Bloom : Eddie
Eddie
Oleh : Linda Christanty
KAMPUS Universitas Michigan. Suatu malam di bulan Oktober 1960. John Fitzgerald Kennedy, calon presiden Amerika ke-35, bercerita tentang impiannya.
Dia ingin generasi muda Amerika terlibat dalam perdamaian dan pembangunan di seluruh dunia. Dia mengajak mereka melawan tirani, kemiskinan, wabah penyakit, dan perang.
Kennedy meresmikan Peace Corps pada 1 Maret 1961.
Seorang pemuda Chicago bernama Eddie Bloom bergabung dengan Peace Corps, karena terkesan pada misi organisasi itu. Dia sarjana muda psikologi lulusan Western Illinois University. Dia mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain. Eddie tak ingin hanya memikirkan diri sendiri, meski hidupnya penuh kesulitan.
Dia anak ke-12 dari 16 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai salesman. Mereka tinggal di rumah milik pemerintah di Oak Lawn, di pinggiran Chicago, dan pindah dari sana menjelang dia masuk sekolah menengah. Eddie menyebut tempat itu “ghetto”. Mayoritas warga berkulit hitam. Perkelahian rasial sering terjadi si situ. Sekelompok pemuda kulit hitam dan kulit putih saling serang. Namun, Eddie punya banyak teman kulit hitam dan bergaul akrab dengan mereka.
“Waktu saya taman kanak-kanak, dari tiga puluh anak di kelas, hanya dua yang berkulit putih, yaitu saya dan seorang lagi,” kenangnya.
Dia melihat ketidakadilan berlangsung di negerinya. Orang kulit hitam sangat sedikit memperoleh pendidikan dan hidup layak. Diskriminasi menumbuhkan sikap anti-ras.
“Macam-macam diskriminasi masih terjadi di Amerika sampai hari, diskriminasi rasial, diskriminasi terhadap perempuan, banyak lagi…”
Peace Corps mengirim Eddie ke Afghanistan pada 1977. Masa tugas dua tahun tanpa jeda. Usianya 22 tahun ketika itu.
Afghanistan dalam konflik politik. Sardar Mohammed Daoud berkuasa setelah menggulingkan saudara tirinya Zahir Shah pada 1973. Masa pemerintahan Daoud diwarnai pertumpahan darah. Klimaksnya, Daoud dan seluruh keluarganya tewas dalam aksi kekerasan pada 1978. Pemerintahan terpecah dua; kubu sipil dan militer. Pemerintah Uni Soviet mendukung kubu militer, sedang pemerintah Amerika mendukung seterunya. Muhammad Taraki, “orang Moskow” yang menggantikan Daoud, juga tewas dieksekusi akibat perselisihan dua faksi kiri. Kematian Taraki membuat Uni Soviet marah.
Eddie ada di Kabul, ibu kota Afghanistan, saat peristiwa itu terjadi. Dia mengajar Bahasa Inggris di Universitas Kabul dan mengembangkan kurikulum untuk membaca serta menulis dalam Bahasa Inggris. Pihak intelijen selalu hadir di kelasnya, mendengar dan menunggu apakah dia melontarkan kata-kata yang bersifat politis.
“Seorang teman saya, juga anggota Peace Corps ditangkap militer, dijebloskan ke penjara, diinterogasi selama tiga hari dengan tuduhan sebagai mata-mata CIA,” kisah Eddie.
CIA atau Central Intelligence Agency merupakan lembaga intelijen pemerintah Amerika.
Huru-hara berdarah terus berlangsung. Tank-tank Uni Soviet mulai datang. Pesawat-pesawat jet tempur membelah langit Afghanistan, memekakkan telinga. Warga yang mengenal Eddie sering mampir ke rumahnya dan memohon padanya agar membawa mereka keluar dari wilayah yang makin terpuruk dalam konflik itu.
“Ketika suara tembakan datang, saya bersembunyi dalam rumah. Saat keadaan berangsur sepi, saya diam-diam mencoba mengintai di jendela, ingin mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Tiba-tiba tentara sudah di depan jendela dan mengarahkan moncong senjatanya pada saya, saya langsung merunduk lagi,” kisahnya.
Pembantaian terhadap Adolf “Spike” Dubbs, duta besar Amerika untuk Afghanistan, pada Juli 1979 membuat pemerintah Amerika memutuskan mengevakuasi warganya dari sana. Sebelum serbuan Uni Soviet ke negeri tersebut pada Desember 1979, Eddie sudah hengkang.
“Tapi Afghanistan sangat kuat. Sejak masa Jenghis Khan, Afghanistan tak bisa dikuasai. Seluruh Asia nyaris jadi taklukan Jenghis Khan, tapi tidak Afghanistan. Inggris berhasil menjajah India, Pakistan, dan menjadikan mereka daerah berbahasa Inggris, tapi tak bisa menaklukkan Afghanistan. Sepuluh tahun Rusia menginvasi Afghanistan dan lagi-lagi gagal, sama seperti Amerika kehilangan Vietnam.”
Masa-masa penuh ketegangan usai. Eddie pun melanjutkan kuliah di Ohio University. Dia belajar ilmu politik dan kajian internasional dengan Indonesia sebagai fokus.
Setelah lulus kuliah, Eddie bekerja di Texas Rehabilitation Commission atau disingkat TRC, lembaga milik pemerintah federal yang mengurus berbagai kepentingan warga, mulai dari pendirian sekolah untuk orang buta sampai pemberian tunjangan untuk pengangguran.
Eddie bekerja selama 23 tahun di TRC, menduduki berbagai posisi. Dia membawahi 900 staf saat menjabat Deputy Commissioner TRC. Ini jabatan terakhirnya sebelum minta berhenti.
“Teman-teman saya bilang, saya benar-benar gila, karena saya punya pekerjaan yang sangat baik, menghasilkan banyak uang, dan sekarang saya tidak menyukainya,” katanya, tersenyum.
Kini Eddie Vice President Austin International Rescue Operations (AIRO), sebuah yayasan yang membuat perahu dan jaring untuk nelayan Aceh pasca-tsunami.
“Di AIRO saya digaji sedikit,” katanya, seraya memamerkan jarak sempit antara jempol dan telunjuknya, “Saya justru banyak menghabiskan uang pribadi saya di sini,” lanjutnya, tersenyum lagi.
Meskipun hidup tak semapan dulu, Eddie bahagia bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.
Saya berkenalan dengan Eddie di sebuah kedai kopi di Ulee Kareng, Banda Aceh, pada 15 Januari lalu. Eddie biasa minum kopi di situ sambil membaca suratkabar The Jakarta Post. Penampilannya sederhana. Kaos oblong, celana jins, sepatu sandal. Bicara cepat, bersemangat.
Selain saya, tak seorang perempuan pun tampak di kedai itu.
“Coba kamu lihat! Semua laki-laki. Saya tidak bisa duduk atau bebas ngobrol dengan kamu di Afghanistan, tapi di sini kamu bisa sendirian bersama saya, kamu tidak mengenakan kerudung, tidak memakai baju lengan panjang. Islam di Aceh lebih fleksibel, lebih terbuka. Di Afghanistan kamu harus jadi muslim. Kamu harus patuh pada hukum Islam. Saya harus mengenakan pakaian muslim di sana,” kata Eddie.
Namun, tak berapa lama, dengan suara rendah, Eddie berkisah tentang pria yang sering mondar-mandir di depan kantornya.
Pria ini suatu ketika menegur Eddie, “Apa kamu muslim?”
Eddie menjawab, “Saya Katolik.”
“Kamu harus belajar agama Islam dan masuk Islam. Kalau muslim, kamu masuk surga. Kalau tidak, kamu masuk neraka,” balas si pria.
Perasaan Eddie jadi kecut.
“Tahu nggak, wajahnya serius sekali. Dan itu bukan becanda,” kata Eddie pada saya.
Hukum Islam mulai diterapkan di Aceh. Pada Jumat, 27 Januari lalu, sepasang kekasih dihukum cambuk di pelataran masjid Jamiek Lueng Bata, Banda Aceh. Mereka dituduh melanggar qanun tentang khalwat atau berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Qanun adalah aturan administrasi pemerintahan daerah Aceh. Serambi Indonesia, suratkabar dengan oplag terbesar di Aceh, pada 1 Februari 2006, memuat berita pelaksanaan hukum cambuk atas 14 pemuda yang berjudi. Dua di antaranya masuk rumah sakit, karena tak sanggup menahan sakit luka cambuk.
RUMAH merangkap kantor Eddie terletak di Jalan Hasan Krueng Kalee No.25, Lampulo, tepat di depan pasar Peunayong. Di belakang bangunan ini mengalir Krueng Aceh atau Kali Aceh yang hitam keruh. Warga membuang bangkai ayam, bebek, bahkan biawak serta sampah rumah tangga mereka ke dalamnya.
Bau busuk dan amis daging langsung menyerbu rongga hidung ketika saya melangkah di lorong sempit di muka jajaran toko dan kios itu.
Meja-meja kayu memenuhi jalan. Ayam hidup. Ayam mati. Daging sapi. Ikan tongkol. Ikan mata merah. Udang... Tanah becek. Air menggenang. Lalat-lalat hinggap, terbang, mendengung. Orang lalu-lalang, tawar-menawar. Pasar riuh.
Seorang perempuan berjilbab menunggu di muka pintu bangunan tiga lantai itu. Dia mempersilahkan saya masuk. Namanya, Diana. Dia sekretaris merangkap bagian keuangan AIRO.
“Nama kantor ini Big Fish. Kamu pernah nonton film Big Fish? Di film itu ada tokoh bernama Edward Bloom. Nama saya sebenarnya Edward, kemudian lebih sering dipanggil Eddie. Ini kebetulan. Edward Bloom dan Big Fish,” kata Eddie, bernada riang.
Big Fish, film yang disutradarai Tim Burton, mengisahkan hubungan ayah dan anak laki-lakinya, Edward Bloom dan Will Bloom. Ketika ayahnya meninggal, Will tertarik menyelidiki kebenaran dalam cerita hidup sang ayah yang fantastis. Dia ingin memilah fakta dari fiksi.
Lantai bawah bangunan ini relatif kosong. Ada sebuah kursi panjang kayu dekat pintu masuk. Di tengah ruang teronggok semacam peti kayu yang belum selesai. Lantai dua berfungsi sebagai kantor. Seperangkat komputer, meja tulis, dan beberapa kursi mengisi ruangan ini. Foto-foto kegiatan AIRO terpampang di salah satu dinding.
“Perahu pertama AIRO,” ujar Eddie, menunjuk potret tiga perahu biru berjajar.
AIRO punya tiga proyek di Banda Aceh, yaitu pembuatan perahu di Krueng Raya, rehabilitasi perahu di Lampulo, dan pembuatan jaring yang juga di Lampulo.
“Sudah 32 perahu yang jalan. Sekarang AIRO akan bikin 50 perahu lagi, kerja sama dengan LDS, dan bikin 30 perahu untuk kerja sama dengan UN-FAO. Di Lampulo, kami memperbaiki 6 perahu besar, panjangnya masing-masing 23 meter, terus… kami juga membuat 6 jaring untuk perahu nelayan di Lampulo,” jelasnya, panjang lebar.
LDS singkatan dari Latter-Day Saint Charities. Lembaga ini badan amal milik Gereja Mormon. UN-FAO atau United Nation-Food and Agriculture Organization adalah salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian.
Lampulo, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pasar Peunayong, adalah sentra ikan penting sebelum tsunami. Sirkulasi uang di situ hampir Rp 500 juta tiap hari.
“Pedagang kecil, pedagang besar, dari boat es, boat minyak, itu sirkulasi keuangan, jadi hiduplah orang itu, itu lebih kurang untuk muge… pedagang kecilnya aja lebih kurang 3000,” kata Yusrizal, salah seorang nelayan.
Menurut Yusrizal, dia pernah meminta bantuan perahu dari lembaga-lembaga besar, tapi mereka tak menanggapinya. Padahal seringkali bantuan itu mubazir dan salah sasaran.
“Misalnya, jumlah nelayan 40 orang, jumlah bantuan 60 boat, jadi 20 lagi yang terima terpaksa tukang becak atau yang jual kelontong di kedai, syukur-syukurlah mereka, apalagi itu bantuan pre (gratis) jadi kan diterima.”
Empat bulan lalu Eddie datang menemui panglima laut Lampulo dan menawarkan bantuan untuk nelayan di situ.
USIA AIRO baru setahun. Pembentukannya bersifat dadakan.
Pada Januari 2005, Eddie cuti kantor selama sebulan. Tapi cuti kali ini tidak untuk bersenang-senang. Dia dan dua teman akrabnya, kakak beradik Aaron dan Eric Lyman, memutuskan pergi ke Aceh yang dilanda tsunami pada 26 Desember 2004. Mereka nekad jadi relawan.
“Saya transit di Singapura tepat pada hari ulang tahun saya, 25 Januari 2005. Pada 26 Januari saya tiba di Jakarta, terus ke Aceh. Ketika pertama kali datang ke sini, keadaannya sangat parah, banyak mayat, di Krueng Raya, di Ulee Lheue, contohnya. Sebagian bahkan masih berada di air… Benar-benar menyedihkan dan itu membuat seluruh tenaga saya lenyap. Sesudah dua minggu, saya pikir mungkin lebih baik saya pulang saja. Saya beritahu teman saya, ‘tahu nggak, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa di sini, bencananya terlalu besar’, “ kata Eddie.
Eddie sampai lebih dulu di Banda Aceh. Penyakit hernia Aaron kumat dan dia harus dioperasi di Jakarta, sehingga Eric harus menemani kakaknya. Mereka juga sempat mengalami musibah di bandar udara Jakarta. Aaron kehilangan tas berisi pompa air canggih yang sengaja dibawanya untuk Aceh.
Eddie menumpang tidur di kantor Islamic Relief selama 4 minggu. Islamic Relief adalah sebuah lembaga internasional yang mendukung pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat lokal, tanpa peduli ras, agama, dan gender. Lembaga ini datang ke Aceh sehari sesudah tsunami. Mereka membangun rumah dan sekolah.
Seminggu kemudian, Eric menyusul Eddie. Aaron tetap di Jakarta untuk pemulihan pasca operasi.
“Saya bilang pada Aaron agar dia jangan ke sini dulu. Risiko terinfeksi sangat tinggi. Di sini kotor sekali.”
Dalam situasi tak menentu, Eddie dan Eric ikut pertemuan dengan berbagai organisasi dan pemerintah di media center. Mereka ingin membantu nelayan, tapi orang-orang yang hadir ingin data. Mereka diminta kembali minggu berikutnya setelah data terkumpul. Eddie tak menyerah.
Dia melihat Alwi Shihab, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, hadir di situ. Eddie langsung menemui Alwi Shihab dan mengungkapkan keinginannya membantu nelayan di Krueng Raya.
“Saya bilang kami di sini sudah empat minggu, saat dia pergi kami harus tinggal, kami tidak punya organisasi, kami tidak punya birokrasi, Alwi Shihab bilang, oke, kemudian dia menelepon orang untuk ke Krueng Raya. Kami kemudian mengajak pak khecik, panglima laut, setiap orang duduk menunggu dan kami mulai mencatat semua informasi demografi, populasi, mata pencarian, berapa jumlah orang yang hilang, berapa banyak orang yang tinggal di kamp pengungsian, sangat mudah,” kenang Eddie.
Namun, hambatan lain masih ada. Tiap mereka ikut pertemuan, orang bertanya mereka dari mana dan dengan ‘siapa’.
“Kami di sini tidak dengan siapapun, tidak dengan siapa-siapa, kami hanya tiga cowok, tapi mereka tidak menanggapi kami… sehingga kami menelepon Aaron. Aaron, kita harus jadi sebuah organisasi, kita tidak bisa hanya jadi tiga cowok begini. Kami berpikir soal nama… Aaron bilang bagaimana kalau AIRO, oke.”
Di Jakarta Aaron pun sibuk membuat kartu nama, kop surat, dan rompi. Eddie membeli stempel. Mereka kini punya organisasi.
“Waktu kami datang ke pertemuan yang sama di media center dan mereka tanya kami dengan siapa, kami bilang kami dengan AIRO, mereka bilang, Oh, AIRO, bagus, Bagaimana kami bisa membantu kamu?... Oh, kami perlu 10 perahu, oke di sini… kami perlu generator, oke pakai generator…kami perlu alat, oke, di sini, di sini, di sini… “
Setelah itu Eddie pulang ke Amerika. Dia kembali masuk kantor, sibuk, dan mengurus hal-hal rutin. Tapi hanya dua bulan. Dia gelisah. Dia ingin kembali lagi ke Aceh. Setelah menulis surat pengunduran diri dari TRC, dia langsung terbang ke Aceh.
“Saya menyukai tempat ini. Nggak tahu kenapa,” katanya, termenung-menung.
Dia kemudian bercerita bahwa banyak pedagang di depan kantornya tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka menatapnya heran saat dia menyapa, “Apakabar?” Namun, mereka berubah ramah begitu Eddie mengucap, “Pu haba?” ‘Pu haba’ sama dengan ‘apakabar’. Mereka justru membalasnya dalam Bahasa Inggris. Good morning!
KATA favorit Eddie yang selalu muncul dalam percakapan kami adalah ‘perahu’. Sore itu dia mengajak saya pergi ke tempat pembuatan perahu di Krueng Raya, sekitar 45 menit perjalanan mobil dari Banda Aceh. Seminggu sekali dia datang untuk melihat tukang-tukang bekerja, memperhatikan perahu-perahu dibuat.
“Tukang yang bekerja ada 14 orang, terikat kontrak, keahliannya dipelajari dari UN FAO. Tentang proyek Krueng Raya, baru pertama kali di Aceh, sebagai proyek percontohan. UN FAO mungkin baca koran atau tahu dari media, bahwa banyak bantuan yang tak bisa diserap karena mutu daripada kapal sendiri yang tidak bagus,” kata Bambang Irawan, salah seorang staf Eddie, yang ikut serta.
Bambang hampir setahun bekerja di kantor Eddie. “Dengan Eddie semua urusan jadi mudah, nggak rumit,” katanya. Bambang asal Malang, Jawa Timur. Ketika darurat militer di Aceh, dia memboyong anak dan istrinya ke Jawa.
Bangsal pembuatan perahu berada di tepi laut. Di belakang bangsal terdapat bangunan untuk menyimpan kayu. Kayu-kayu yang masih basah tak boleh disatukan dengan yang kering. Tiap balok kayu diberi tanda sesuai masa penjemuran.
Lima perahu berjajar dalam bangsal. Belum rampung pembuatannya. Dibutuhkan waktu 6 minggu untuk menyelesaikan lima perahu ini.
“Ini perahu Cadillac. Mahal. Tapi tahan lama. Perahu tradisional cuma tahan 3 tahun. Perahu ini tahan sampai 15 tahun,” kata Eddie, bangga.
Cadillac adalah merek mobil mewah buatan Amerika.
Paku untuk perahu terbuat dari baja, tahan karat. Kayu harus benar-benar kering agar tak mudah bocor. Perahu AIRO punya lebih banyak pasak penyangga di bagian dalam ketimbang perahu tradisional, sehingga dinding-dindingnya lebih kuat terhadap tekanan air. Bentuk perahu lebih ramping dan membuat lajunya lebih cepat. Perahu tradisional hanya punya satu lunas, sedang perahu AIRO tiga lunas.
“Lunas tiga membuat kapal kokoh dan kuat, awet dan tahan hempasan gelombang,” kata Bambang.
Balok memanjang di dasar perahu disebut lunas.
Sore itu Tengku Abdulhadi dari Langkah Raseuki, sebuah lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat, juga datang ke lokasi pembuatan perahu, langsung dari Lhokseumawe. Jarak Lhokseumawe-Banda Aceh sekitar 6 jam. Dia ingin AIRO menyumbangkan perahu untuk nelayan-nelayan di Lhokseumawe. Dia sudah mendengar tentang kualitas perahu Eddie.
“Tapi saya mau dibuat perjanjian hukumnya. Jadi nelayan tidak boleh menjual perahu ini. Barangsiapa yang menjual terkena sanksi. Mbak tahu sendirilah, kalau nelayan itu berhutang, terus dia bingung membayarnya, dia bisa bilang… ya sudah ambil saja itu perahu,” kata Abdulhadi.
Eddie tampak senang. Dia mondar-mandir menjelaskan ini itu pada Abdulhadi.
SABTU, 22 Januari 2006, dia mengundang saya makan malam. “Saya akan masak untuk kamu. Kamu suka apa? Udang? Oke, saya akan masak udang. Kamu harus datang sekitar jam setengah enam… untuk melihat matahari terbenam di atas Krueng Aceh, indah sekali.”
Saya melewati pasar yang ramai itu lagi, menyusuri lorong sempit, mencium aroma lumpur bercampur amis.
Sore itu saya memotret Eddie satu kali di tempat jemuran. Klik. Langit hitam, kelabu, jingga jadi latar belakang. Air Krueng Aceh berkilau di lensa.
“Dulu di sini berantakan sekali. Sampah tinggi sekali…” Eddie mengenang saat tsunami.
Malam itu dia memasak cap cay. Irisan jahe, bawang putih, kembang kol, wortel, udang… ditumis dalam kuali. Tak berapa lama nasi cap cay tersaji di meja.
“Kamu suka musik apa?”
“Hoobastank, Switchtoot, Finn Brothers,” kata saya.
Dia meraih iPod, mencari lagu grup musik kesayangan saya. Dia menggeleng putus asa. Tak ada. Dia suka Ray Charles dan Willie Nelson. Tapi akhirnya kami mendengar Eric Clapton.
Kami bercakap-cakap sambil makan. Ternyata warga biasa di Amerika ikut menyumbang dana untuk AIRO. Itu pula yang membuat dia dan kakak beradik Lyman, memilih yayasan sebagai bentuk organisasi mereka. “Bukan untuk bisnis, karena ada dana publik di situ,” katanya.
Dia bercerai dari istrinya sepuluh tahun lalu. Anak laki-lakinya, 19 tahun, baru kuliah tahun pertama di universitas di Amerika. Dia benci George Bush, presiden Amerika sekarang.
“Bush menciptakan banyak terorisme, mencipta kekerasan di mana-mana, karena kebijakannya. Tujuh puluh persen perlawanan rakyat di Irak karena melawan pendudukan tentara Amerika, tidak ada kaitan dengan Al Qaeda. Mengapa Hamas menang? Mengapa Iran membuat proyek nuklir? Mengapa di mana-mana muncul seperti ini?”
Tiba-tiba dia berhenti bicara. “Saya terlalu banyak bicara, ya?”
Dia juga cemas Aceh akan mengalami masa sulit setelah lembaga-lembaga bantuan asing pergi. Gelembung ekonomi pecah. Rakyat sengsara. Dia akan tinggal 18 bulan lagi di sini, setelah itu mungkin terbang ke Vietnam atau Australia. Dia suka mengelana.
“Meskipun saya sudah tidak di sini lagi. Nelayan-nelayan sudah pulih lagi kehidupannya, punya bisnis yang bagus, bisa membuat perahu yang bagus… Mereka akan ingat perahu Eddie, “ katanya.*
Sumber : Aceh Feature, 2 Februari 2006
Oleh : Linda Christanty
KAMPUS Universitas Michigan. Suatu malam di bulan Oktober 1960. John Fitzgerald Kennedy, calon presiden Amerika ke-35, bercerita tentang impiannya.
Dia ingin generasi muda Amerika terlibat dalam perdamaian dan pembangunan di seluruh dunia. Dia mengajak mereka melawan tirani, kemiskinan, wabah penyakit, dan perang.
Kennedy meresmikan Peace Corps pada 1 Maret 1961.
Seorang pemuda Chicago bernama Eddie Bloom bergabung dengan Peace Corps, karena terkesan pada misi organisasi itu. Dia sarjana muda psikologi lulusan Western Illinois University. Dia mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain. Eddie tak ingin hanya memikirkan diri sendiri, meski hidupnya penuh kesulitan.
Dia anak ke-12 dari 16 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai salesman. Mereka tinggal di rumah milik pemerintah di Oak Lawn, di pinggiran Chicago, dan pindah dari sana menjelang dia masuk sekolah menengah. Eddie menyebut tempat itu “ghetto”. Mayoritas warga berkulit hitam. Perkelahian rasial sering terjadi si situ. Sekelompok pemuda kulit hitam dan kulit putih saling serang. Namun, Eddie punya banyak teman kulit hitam dan bergaul akrab dengan mereka.
“Waktu saya taman kanak-kanak, dari tiga puluh anak di kelas, hanya dua yang berkulit putih, yaitu saya dan seorang lagi,” kenangnya.
Dia melihat ketidakadilan berlangsung di negerinya. Orang kulit hitam sangat sedikit memperoleh pendidikan dan hidup layak. Diskriminasi menumbuhkan sikap anti-ras.
“Macam-macam diskriminasi masih terjadi di Amerika sampai hari, diskriminasi rasial, diskriminasi terhadap perempuan, banyak lagi…”
Peace Corps mengirim Eddie ke Afghanistan pada 1977. Masa tugas dua tahun tanpa jeda. Usianya 22 tahun ketika itu.
Afghanistan dalam konflik politik. Sardar Mohammed Daoud berkuasa setelah menggulingkan saudara tirinya Zahir Shah pada 1973. Masa pemerintahan Daoud diwarnai pertumpahan darah. Klimaksnya, Daoud dan seluruh keluarganya tewas dalam aksi kekerasan pada 1978. Pemerintahan terpecah dua; kubu sipil dan militer. Pemerintah Uni Soviet mendukung kubu militer, sedang pemerintah Amerika mendukung seterunya. Muhammad Taraki, “orang Moskow” yang menggantikan Daoud, juga tewas dieksekusi akibat perselisihan dua faksi kiri. Kematian Taraki membuat Uni Soviet marah.
Eddie ada di Kabul, ibu kota Afghanistan, saat peristiwa itu terjadi. Dia mengajar Bahasa Inggris di Universitas Kabul dan mengembangkan kurikulum untuk membaca serta menulis dalam Bahasa Inggris. Pihak intelijen selalu hadir di kelasnya, mendengar dan menunggu apakah dia melontarkan kata-kata yang bersifat politis.
“Seorang teman saya, juga anggota Peace Corps ditangkap militer, dijebloskan ke penjara, diinterogasi selama tiga hari dengan tuduhan sebagai mata-mata CIA,” kisah Eddie.
CIA atau Central Intelligence Agency merupakan lembaga intelijen pemerintah Amerika.
Huru-hara berdarah terus berlangsung. Tank-tank Uni Soviet mulai datang. Pesawat-pesawat jet tempur membelah langit Afghanistan, memekakkan telinga. Warga yang mengenal Eddie sering mampir ke rumahnya dan memohon padanya agar membawa mereka keluar dari wilayah yang makin terpuruk dalam konflik itu.
“Ketika suara tembakan datang, saya bersembunyi dalam rumah. Saat keadaan berangsur sepi, saya diam-diam mencoba mengintai di jendela, ingin mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Tiba-tiba tentara sudah di depan jendela dan mengarahkan moncong senjatanya pada saya, saya langsung merunduk lagi,” kisahnya.
Pembantaian terhadap Adolf “Spike” Dubbs, duta besar Amerika untuk Afghanistan, pada Juli 1979 membuat pemerintah Amerika memutuskan mengevakuasi warganya dari sana. Sebelum serbuan Uni Soviet ke negeri tersebut pada Desember 1979, Eddie sudah hengkang.
“Tapi Afghanistan sangat kuat. Sejak masa Jenghis Khan, Afghanistan tak bisa dikuasai. Seluruh Asia nyaris jadi taklukan Jenghis Khan, tapi tidak Afghanistan. Inggris berhasil menjajah India, Pakistan, dan menjadikan mereka daerah berbahasa Inggris, tapi tak bisa menaklukkan Afghanistan. Sepuluh tahun Rusia menginvasi Afghanistan dan lagi-lagi gagal, sama seperti Amerika kehilangan Vietnam.”
Masa-masa penuh ketegangan usai. Eddie pun melanjutkan kuliah di Ohio University. Dia belajar ilmu politik dan kajian internasional dengan Indonesia sebagai fokus.
Setelah lulus kuliah, Eddie bekerja di Texas Rehabilitation Commission atau disingkat TRC, lembaga milik pemerintah federal yang mengurus berbagai kepentingan warga, mulai dari pendirian sekolah untuk orang buta sampai pemberian tunjangan untuk pengangguran.
Eddie bekerja selama 23 tahun di TRC, menduduki berbagai posisi. Dia membawahi 900 staf saat menjabat Deputy Commissioner TRC. Ini jabatan terakhirnya sebelum minta berhenti.
“Teman-teman saya bilang, saya benar-benar gila, karena saya punya pekerjaan yang sangat baik, menghasilkan banyak uang, dan sekarang saya tidak menyukainya,” katanya, tersenyum.
Kini Eddie Vice President Austin International Rescue Operations (AIRO), sebuah yayasan yang membuat perahu dan jaring untuk nelayan Aceh pasca-tsunami.
“Di AIRO saya digaji sedikit,” katanya, seraya memamerkan jarak sempit antara jempol dan telunjuknya, “Saya justru banyak menghabiskan uang pribadi saya di sini,” lanjutnya, tersenyum lagi.
Meskipun hidup tak semapan dulu, Eddie bahagia bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.
Saya berkenalan dengan Eddie di sebuah kedai kopi di Ulee Kareng, Banda Aceh, pada 15 Januari lalu. Eddie biasa minum kopi di situ sambil membaca suratkabar The Jakarta Post. Penampilannya sederhana. Kaos oblong, celana jins, sepatu sandal. Bicara cepat, bersemangat.
Selain saya, tak seorang perempuan pun tampak di kedai itu.
“Coba kamu lihat! Semua laki-laki. Saya tidak bisa duduk atau bebas ngobrol dengan kamu di Afghanistan, tapi di sini kamu bisa sendirian bersama saya, kamu tidak mengenakan kerudung, tidak memakai baju lengan panjang. Islam di Aceh lebih fleksibel, lebih terbuka. Di Afghanistan kamu harus jadi muslim. Kamu harus patuh pada hukum Islam. Saya harus mengenakan pakaian muslim di sana,” kata Eddie.
Namun, tak berapa lama, dengan suara rendah, Eddie berkisah tentang pria yang sering mondar-mandir di depan kantornya.
Pria ini suatu ketika menegur Eddie, “Apa kamu muslim?”
Eddie menjawab, “Saya Katolik.”
“Kamu harus belajar agama Islam dan masuk Islam. Kalau muslim, kamu masuk surga. Kalau tidak, kamu masuk neraka,” balas si pria.
Perasaan Eddie jadi kecut.
“Tahu nggak, wajahnya serius sekali. Dan itu bukan becanda,” kata Eddie pada saya.
Hukum Islam mulai diterapkan di Aceh. Pada Jumat, 27 Januari lalu, sepasang kekasih dihukum cambuk di pelataran masjid Jamiek Lueng Bata, Banda Aceh. Mereka dituduh melanggar qanun tentang khalwat atau berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Qanun adalah aturan administrasi pemerintahan daerah Aceh. Serambi Indonesia, suratkabar dengan oplag terbesar di Aceh, pada 1 Februari 2006, memuat berita pelaksanaan hukum cambuk atas 14 pemuda yang berjudi. Dua di antaranya masuk rumah sakit, karena tak sanggup menahan sakit luka cambuk.
RUMAH merangkap kantor Eddie terletak di Jalan Hasan Krueng Kalee No.25, Lampulo, tepat di depan pasar Peunayong. Di belakang bangunan ini mengalir Krueng Aceh atau Kali Aceh yang hitam keruh. Warga membuang bangkai ayam, bebek, bahkan biawak serta sampah rumah tangga mereka ke dalamnya.
Bau busuk dan amis daging langsung menyerbu rongga hidung ketika saya melangkah di lorong sempit di muka jajaran toko dan kios itu.
Meja-meja kayu memenuhi jalan. Ayam hidup. Ayam mati. Daging sapi. Ikan tongkol. Ikan mata merah. Udang... Tanah becek. Air menggenang. Lalat-lalat hinggap, terbang, mendengung. Orang lalu-lalang, tawar-menawar. Pasar riuh.
Seorang perempuan berjilbab menunggu di muka pintu bangunan tiga lantai itu. Dia mempersilahkan saya masuk. Namanya, Diana. Dia sekretaris merangkap bagian keuangan AIRO.
“Nama kantor ini Big Fish. Kamu pernah nonton film Big Fish? Di film itu ada tokoh bernama Edward Bloom. Nama saya sebenarnya Edward, kemudian lebih sering dipanggil Eddie. Ini kebetulan. Edward Bloom dan Big Fish,” kata Eddie, bernada riang.
Big Fish, film yang disutradarai Tim Burton, mengisahkan hubungan ayah dan anak laki-lakinya, Edward Bloom dan Will Bloom. Ketika ayahnya meninggal, Will tertarik menyelidiki kebenaran dalam cerita hidup sang ayah yang fantastis. Dia ingin memilah fakta dari fiksi.
Lantai bawah bangunan ini relatif kosong. Ada sebuah kursi panjang kayu dekat pintu masuk. Di tengah ruang teronggok semacam peti kayu yang belum selesai. Lantai dua berfungsi sebagai kantor. Seperangkat komputer, meja tulis, dan beberapa kursi mengisi ruangan ini. Foto-foto kegiatan AIRO terpampang di salah satu dinding.
“Perahu pertama AIRO,” ujar Eddie, menunjuk potret tiga perahu biru berjajar.
AIRO punya tiga proyek di Banda Aceh, yaitu pembuatan perahu di Krueng Raya, rehabilitasi perahu di Lampulo, dan pembuatan jaring yang juga di Lampulo.
“Sudah 32 perahu yang jalan. Sekarang AIRO akan bikin 50 perahu lagi, kerja sama dengan LDS, dan bikin 30 perahu untuk kerja sama dengan UN-FAO. Di Lampulo, kami memperbaiki 6 perahu besar, panjangnya masing-masing 23 meter, terus… kami juga membuat 6 jaring untuk perahu nelayan di Lampulo,” jelasnya, panjang lebar.
LDS singkatan dari Latter-Day Saint Charities. Lembaga ini badan amal milik Gereja Mormon. UN-FAO atau United Nation-Food and Agriculture Organization adalah salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian.
Lampulo, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pasar Peunayong, adalah sentra ikan penting sebelum tsunami. Sirkulasi uang di situ hampir Rp 500 juta tiap hari.
“Pedagang kecil, pedagang besar, dari boat es, boat minyak, itu sirkulasi keuangan, jadi hiduplah orang itu, itu lebih kurang untuk muge… pedagang kecilnya aja lebih kurang 3000,” kata Yusrizal, salah seorang nelayan.
Menurut Yusrizal, dia pernah meminta bantuan perahu dari lembaga-lembaga besar, tapi mereka tak menanggapinya. Padahal seringkali bantuan itu mubazir dan salah sasaran.
“Misalnya, jumlah nelayan 40 orang, jumlah bantuan 60 boat, jadi 20 lagi yang terima terpaksa tukang becak atau yang jual kelontong di kedai, syukur-syukurlah mereka, apalagi itu bantuan pre (gratis) jadi kan diterima.”
Empat bulan lalu Eddie datang menemui panglima laut Lampulo dan menawarkan bantuan untuk nelayan di situ.
USIA AIRO baru setahun. Pembentukannya bersifat dadakan.
Pada Januari 2005, Eddie cuti kantor selama sebulan. Tapi cuti kali ini tidak untuk bersenang-senang. Dia dan dua teman akrabnya, kakak beradik Aaron dan Eric Lyman, memutuskan pergi ke Aceh yang dilanda tsunami pada 26 Desember 2004. Mereka nekad jadi relawan.
“Saya transit di Singapura tepat pada hari ulang tahun saya, 25 Januari 2005. Pada 26 Januari saya tiba di Jakarta, terus ke Aceh. Ketika pertama kali datang ke sini, keadaannya sangat parah, banyak mayat, di Krueng Raya, di Ulee Lheue, contohnya. Sebagian bahkan masih berada di air… Benar-benar menyedihkan dan itu membuat seluruh tenaga saya lenyap. Sesudah dua minggu, saya pikir mungkin lebih baik saya pulang saja. Saya beritahu teman saya, ‘tahu nggak, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa di sini, bencananya terlalu besar’, “ kata Eddie.
Eddie sampai lebih dulu di Banda Aceh. Penyakit hernia Aaron kumat dan dia harus dioperasi di Jakarta, sehingga Eric harus menemani kakaknya. Mereka juga sempat mengalami musibah di bandar udara Jakarta. Aaron kehilangan tas berisi pompa air canggih yang sengaja dibawanya untuk Aceh.
Eddie menumpang tidur di kantor Islamic Relief selama 4 minggu. Islamic Relief adalah sebuah lembaga internasional yang mendukung pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat lokal, tanpa peduli ras, agama, dan gender. Lembaga ini datang ke Aceh sehari sesudah tsunami. Mereka membangun rumah dan sekolah.
Seminggu kemudian, Eric menyusul Eddie. Aaron tetap di Jakarta untuk pemulihan pasca operasi.
“Saya bilang pada Aaron agar dia jangan ke sini dulu. Risiko terinfeksi sangat tinggi. Di sini kotor sekali.”
Dalam situasi tak menentu, Eddie dan Eric ikut pertemuan dengan berbagai organisasi dan pemerintah di media center. Mereka ingin membantu nelayan, tapi orang-orang yang hadir ingin data. Mereka diminta kembali minggu berikutnya setelah data terkumpul. Eddie tak menyerah.
Dia melihat Alwi Shihab, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, hadir di situ. Eddie langsung menemui Alwi Shihab dan mengungkapkan keinginannya membantu nelayan di Krueng Raya.
“Saya bilang kami di sini sudah empat minggu, saat dia pergi kami harus tinggal, kami tidak punya organisasi, kami tidak punya birokrasi, Alwi Shihab bilang, oke, kemudian dia menelepon orang untuk ke Krueng Raya. Kami kemudian mengajak pak khecik, panglima laut, setiap orang duduk menunggu dan kami mulai mencatat semua informasi demografi, populasi, mata pencarian, berapa jumlah orang yang hilang, berapa banyak orang yang tinggal di kamp pengungsian, sangat mudah,” kenang Eddie.
Namun, hambatan lain masih ada. Tiap mereka ikut pertemuan, orang bertanya mereka dari mana dan dengan ‘siapa’.
“Kami di sini tidak dengan siapapun, tidak dengan siapa-siapa, kami hanya tiga cowok, tapi mereka tidak menanggapi kami… sehingga kami menelepon Aaron. Aaron, kita harus jadi sebuah organisasi, kita tidak bisa hanya jadi tiga cowok begini. Kami berpikir soal nama… Aaron bilang bagaimana kalau AIRO, oke.”
Di Jakarta Aaron pun sibuk membuat kartu nama, kop surat, dan rompi. Eddie membeli stempel. Mereka kini punya organisasi.
“Waktu kami datang ke pertemuan yang sama di media center dan mereka tanya kami dengan siapa, kami bilang kami dengan AIRO, mereka bilang, Oh, AIRO, bagus, Bagaimana kami bisa membantu kamu?... Oh, kami perlu 10 perahu, oke di sini… kami perlu generator, oke pakai generator…kami perlu alat, oke, di sini, di sini, di sini… “
Setelah itu Eddie pulang ke Amerika. Dia kembali masuk kantor, sibuk, dan mengurus hal-hal rutin. Tapi hanya dua bulan. Dia gelisah. Dia ingin kembali lagi ke Aceh. Setelah menulis surat pengunduran diri dari TRC, dia langsung terbang ke Aceh.
“Saya menyukai tempat ini. Nggak tahu kenapa,” katanya, termenung-menung.
Dia kemudian bercerita bahwa banyak pedagang di depan kantornya tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka menatapnya heran saat dia menyapa, “Apakabar?” Namun, mereka berubah ramah begitu Eddie mengucap, “Pu haba?” ‘Pu haba’ sama dengan ‘apakabar’. Mereka justru membalasnya dalam Bahasa Inggris. Good morning!
KATA favorit Eddie yang selalu muncul dalam percakapan kami adalah ‘perahu’. Sore itu dia mengajak saya pergi ke tempat pembuatan perahu di Krueng Raya, sekitar 45 menit perjalanan mobil dari Banda Aceh. Seminggu sekali dia datang untuk melihat tukang-tukang bekerja, memperhatikan perahu-perahu dibuat.
“Tukang yang bekerja ada 14 orang, terikat kontrak, keahliannya dipelajari dari UN FAO. Tentang proyek Krueng Raya, baru pertama kali di Aceh, sebagai proyek percontohan. UN FAO mungkin baca koran atau tahu dari media, bahwa banyak bantuan yang tak bisa diserap karena mutu daripada kapal sendiri yang tidak bagus,” kata Bambang Irawan, salah seorang staf Eddie, yang ikut serta.
Bambang hampir setahun bekerja di kantor Eddie. “Dengan Eddie semua urusan jadi mudah, nggak rumit,” katanya. Bambang asal Malang, Jawa Timur. Ketika darurat militer di Aceh, dia memboyong anak dan istrinya ke Jawa.
Bangsal pembuatan perahu berada di tepi laut. Di belakang bangsal terdapat bangunan untuk menyimpan kayu. Kayu-kayu yang masih basah tak boleh disatukan dengan yang kering. Tiap balok kayu diberi tanda sesuai masa penjemuran.
Lima perahu berjajar dalam bangsal. Belum rampung pembuatannya. Dibutuhkan waktu 6 minggu untuk menyelesaikan lima perahu ini.
“Ini perahu Cadillac. Mahal. Tapi tahan lama. Perahu tradisional cuma tahan 3 tahun. Perahu ini tahan sampai 15 tahun,” kata Eddie, bangga.
Cadillac adalah merek mobil mewah buatan Amerika.
Paku untuk perahu terbuat dari baja, tahan karat. Kayu harus benar-benar kering agar tak mudah bocor. Perahu AIRO punya lebih banyak pasak penyangga di bagian dalam ketimbang perahu tradisional, sehingga dinding-dindingnya lebih kuat terhadap tekanan air. Bentuk perahu lebih ramping dan membuat lajunya lebih cepat. Perahu tradisional hanya punya satu lunas, sedang perahu AIRO tiga lunas.
“Lunas tiga membuat kapal kokoh dan kuat, awet dan tahan hempasan gelombang,” kata Bambang.
Balok memanjang di dasar perahu disebut lunas.
Sore itu Tengku Abdulhadi dari Langkah Raseuki, sebuah lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat, juga datang ke lokasi pembuatan perahu, langsung dari Lhokseumawe. Jarak Lhokseumawe-Banda Aceh sekitar 6 jam. Dia ingin AIRO menyumbangkan perahu untuk nelayan-nelayan di Lhokseumawe. Dia sudah mendengar tentang kualitas perahu Eddie.
“Tapi saya mau dibuat perjanjian hukumnya. Jadi nelayan tidak boleh menjual perahu ini. Barangsiapa yang menjual terkena sanksi. Mbak tahu sendirilah, kalau nelayan itu berhutang, terus dia bingung membayarnya, dia bisa bilang… ya sudah ambil saja itu perahu,” kata Abdulhadi.
Eddie tampak senang. Dia mondar-mandir menjelaskan ini itu pada Abdulhadi.
SABTU, 22 Januari 2006, dia mengundang saya makan malam. “Saya akan masak untuk kamu. Kamu suka apa? Udang? Oke, saya akan masak udang. Kamu harus datang sekitar jam setengah enam… untuk melihat matahari terbenam di atas Krueng Aceh, indah sekali.”
Saya melewati pasar yang ramai itu lagi, menyusuri lorong sempit, mencium aroma lumpur bercampur amis.
Sore itu saya memotret Eddie satu kali di tempat jemuran. Klik. Langit hitam, kelabu, jingga jadi latar belakang. Air Krueng Aceh berkilau di lensa.
“Dulu di sini berantakan sekali. Sampah tinggi sekali…” Eddie mengenang saat tsunami.
Malam itu dia memasak cap cay. Irisan jahe, bawang putih, kembang kol, wortel, udang… ditumis dalam kuali. Tak berapa lama nasi cap cay tersaji di meja.
“Kamu suka musik apa?”
“Hoobastank, Switchtoot, Finn Brothers,” kata saya.
Dia meraih iPod, mencari lagu grup musik kesayangan saya. Dia menggeleng putus asa. Tak ada. Dia suka Ray Charles dan Willie Nelson. Tapi akhirnya kami mendengar Eric Clapton.
Kami bercakap-cakap sambil makan. Ternyata warga biasa di Amerika ikut menyumbang dana untuk AIRO. Itu pula yang membuat dia dan kakak beradik Lyman, memilih yayasan sebagai bentuk organisasi mereka. “Bukan untuk bisnis, karena ada dana publik di situ,” katanya.
Dia bercerai dari istrinya sepuluh tahun lalu. Anak laki-lakinya, 19 tahun, baru kuliah tahun pertama di universitas di Amerika. Dia benci George Bush, presiden Amerika sekarang.
“Bush menciptakan banyak terorisme, mencipta kekerasan di mana-mana, karena kebijakannya. Tujuh puluh persen perlawanan rakyat di Irak karena melawan pendudukan tentara Amerika, tidak ada kaitan dengan Al Qaeda. Mengapa Hamas menang? Mengapa Iran membuat proyek nuklir? Mengapa di mana-mana muncul seperti ini?”
Tiba-tiba dia berhenti bicara. “Saya terlalu banyak bicara, ya?”
Dia juga cemas Aceh akan mengalami masa sulit setelah lembaga-lembaga bantuan asing pergi. Gelembung ekonomi pecah. Rakyat sengsara. Dia akan tinggal 18 bulan lagi di sini, setelah itu mungkin terbang ke Vietnam atau Australia. Dia suka mengelana.
“Meskipun saya sudah tidak di sini lagi. Nelayan-nelayan sudah pulih lagi kehidupannya, punya bisnis yang bagus, bisa membuat perahu yang bagus… Mereka akan ingat perahu Eddie, “ katanya.*
Sumber : Aceh Feature, 2 Februari 2006
Eduardo Rodriguez Redakan Amuk Massa di Bolivia
Jun 27, 2009
Eduardo Rodriguez Redakan Amuk Massa di Bolivia
Oleh : Simon Saragih
HARI Kamis (9/6/2005) adalah titik balik yang menentukan bagi Bolivia. Masalahnya, sejak 17 Mei Bolivia diharu biru oleh aksi protes yang berhasil menjungkalkan Presiden Carlos Mesa. Protes tidak berhenti dengan pengunduran diri Mesa. Demonstran berjumlah hingga 100.000 orang juga menolak Ketua Kongres Hormando Vaca Diaz dan Mario Cossio.
Bolivia, diambil dari nama Simon Bolivar (pejuang kemerdekaan Amerika Latin dari Spanyol), tetap membara. Mereka hanya menerima Ketua Mahkamah Agung Eduardo Rodriguez sebagai presiden transisi hingga pemilu Desember 2005. Tekanan tersebut membuat Vaca Diaz dan Cossio sadar diri dan akhirnya mundur.
Ada apa dengan Rodriguez sehingga amuk massa di Bolivia langsung berhenti? Padahal, Rodriguez adalah juga keturunan Eropa yang juga kaya raya.
Tokoh di balik demonstrasi di Bolivia, Evo Morales, juga tokoh dari Indian Quechua, bisa menerima Rodriguez. "Kami bisa menerima Rodriguez," kata Morales. Rodriguez pun langsung dinobatkan sebagai presiden transisi. Bahkan, warga keturunan Indian seperti bergembira setelah merasa tuntutan mereka dipenuhi.
Rodriguez bisa diterima karena ia dinilai tidak berambisi dengan jabatan. "Saya hanya mau menjadi presiden jika itu legal dan membuat Bolivia tenang," ujarnya.
SIAPA>small 2small 0< Rodriguez? Dia tidak terlalu dikenal. Tokoh ini juga bukan politikus terpandang di Bolivia. Bahkan, dia baru menjadi politikus praktis setelah terjun pertama kali ke bidang itu, yakni saat dilantik menjadi presiden, Kamis, 9 Juni 2005.
Sebelumnya dia selalu menggeluti bidang hukum dan dinilai sebagai seorang brilian yang meniti karier di bidang hukum dan tak pernah keluar dari jalur itu. Namun, faktanya dia menjadi presiden ketiga dalam tiga tahun terakhir di Bolivia.
Tokoh ini lahir pada Maret 1956 di Kota Cochambamba, bagian tengah Bolivia. Dia kuliah hukum dan lulus pada 1981 dari Universidad Mayor de San Simon, lalu melanjutkan ke Harvard University untuk meraih gelar master administrasi negara di John F Kennedy School.
Kariernya baru mulai melejit pada tahun 1999 ketika mulai bekerja di Mahkamah Agung dan tahun 2004 menjadi Ketua MA. Sembari meniti karier di MA, dia juga mengajar di berbagai universitas di Bolivia.
Selain itu, dia adalah pengacara dan pernah bekerja sebagai penasihat di Kementerian Luar Negeri Bolivia yang menangani proyek-proyek yang memerlukan sentuhan ahli hukum internasional.
Karena kemampuannya, dia juga pernah diangkat sebagai koordinator yang bekerja di Institut Amerika Latin Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pencegahan Kriminal dan Penanganan atas Para Pelanggar (UN Latin American Institute for the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders).
Selama menangani berbagai masalah hukum, dia pernah melakukan riset soal penanganan kasus-kasus hukum di Bolivia. Seorang peneliti dari George Mason University (AS), Jose Miguel Fabbri, pernah menyarankan reformasi perundang- undangan di Bolivia. Sebagian dari saran itu diambil dari temuan Eduardo Rodriguez. Temuan tersebut antara lain menunjukkan, rata-rata penyelesaian kasus bisnis di Bolivia memakan waktu enam tahun. Kasus-kasus sipil memerlukan penyelesaian antara 12 hingga 15 tahun.
Rodriguez membeberkan kasus itu dalam rangka tugasnya untuk membenahi perundang-undangan di Bolivia yang tidak jalan dan telah membuat investor internasional menjauh dari Bolivia.
Aspek hukum yang mandul dan wabah korupsi juga membuat Bolivia merupakan negara paling korup. Negara kaya sumber alam, tetapi tergolong termiskin di dunia ini berada di urutan 69 pada 1988 dan melejit lagi menjadi urutan ke-85 pada 2001 sebagai negara paling korup. Memang masih kalah jauh dari Indonesia soal korupsi. Makin tinggi urutan, makin tinggi pula praktik korupsi, sebagaimana tertuang dalam indeks yang disusun lembaga Transparency International.
RODRIGUEZ terangkat karena keahliannya di bidang hukum. Tidak terlalu banyak informasi, apakah bapak empat anak ini merupakan politikus "putih". Yang jelas persepsi tentang dirinya cukup lumayan dan membuatnya bisa diterima massa.
Apakah Rodriguez bisa membawa Bolivia ke arah yang lebih cerah. Hal itu tidak bergantung pada Rodriguez semata. Negara ini sudah lama terkenal dengan politik yang carut-marut.
"Saya yakin bahwa salah satu tugas saya adalah akan mengumumkan proses pemilu yang diharapkan bisa menyeimbangkan demokrasi," katanya. Tentu, kata Rodriguez, jalan ke depan masih panjang dan banyak tugas yang harus ditangani.
"Akan tetapi, saya yakin Bolivia berhak memiliki hari-hari yang baik ke depan yang bisa kita turunkan kepada anak- anak kita. Saya ingin mengabdi sebagai hakim republik, dalam waktu singkat, yang dibantu kongres. Saya menerima jabatan presiden dan juga dengan harapan bisa mendapatkan niat baik dari Anda semua sehingga kami bisa menatap masa depan cerah," ujar Rodriguez.
Demonstran Bolivia menyambut gembira pidato Rodriguez. Dia juga menawarkan diskusi atas banyak hal yang menjadi tuntutan demonstran, antara lain pembatalan otonomi untuk wilayah kaya gas dan minyak di Bolivia, Santa Cruz dan sekitarnya. Dia juga mau membuka dialog soal nasionalisasi perusahaan minyak asing serta dialog soal perubahan undang-undang yang memberikan hak-hak lebih besar pada warga Indian.
Rodriguez bisa saja bermanis mulut saat dilantik sebagai presiden itu. Namun, massa di Bolivia melihatnya sebagai seorang yang tidak punya vested interest yang merupakan bagian dari kelompok kepentingan atau yang menjadi antek-antek AS, IMF, dan perusahaan asing yang menguasai bisnis minyak di Bolivia, seperti dituduhkan kepada mantan Presiden Mesa hingga Vaca Diaz.
Saat menyampaikan pidato pelantikannya, Rodriguez juga mengingatkan, "Saya bukanlah merupakan jagoan dari kelompok kepentingan, entah itu datang dari kelompok politik atau lainnya. Saya akan terus mempertahankan posisi saya itu," kata Rodriguez.
Apakah Bolivia akan menjadi lebih tenang dengan kehadiran Rodriguez? Rodriquez juga menyadari, mungkin dia bukan figur yang andal untuk mengatasi berbagai persoalan di Bolivia yang sudah tertanam ratusan tahun. Namun, setidaknya, figur Rodriguez bisa meredakan sementara huru-hara di Bolivia. (SIMON SARAGIH)
Sumber : Kompas, Selasa, 14 Juni 2005
Oleh : Simon Saragih
HARI Kamis (9/6/2005) adalah titik balik yang menentukan bagi Bolivia. Masalahnya, sejak 17 Mei Bolivia diharu biru oleh aksi protes yang berhasil menjungkalkan Presiden Carlos Mesa. Protes tidak berhenti dengan pengunduran diri Mesa. Demonstran berjumlah hingga 100.000 orang juga menolak Ketua Kongres Hormando Vaca Diaz dan Mario Cossio.
Bolivia, diambil dari nama Simon Bolivar (pejuang kemerdekaan Amerika Latin dari Spanyol), tetap membara. Mereka hanya menerima Ketua Mahkamah Agung Eduardo Rodriguez sebagai presiden transisi hingga pemilu Desember 2005. Tekanan tersebut membuat Vaca Diaz dan Cossio sadar diri dan akhirnya mundur.
Ada apa dengan Rodriguez sehingga amuk massa di Bolivia langsung berhenti? Padahal, Rodriguez adalah juga keturunan Eropa yang juga kaya raya.
Tokoh di balik demonstrasi di Bolivia, Evo Morales, juga tokoh dari Indian Quechua, bisa menerima Rodriguez. "Kami bisa menerima Rodriguez," kata Morales. Rodriguez pun langsung dinobatkan sebagai presiden transisi. Bahkan, warga keturunan Indian seperti bergembira setelah merasa tuntutan mereka dipenuhi.
Rodriguez bisa diterima karena ia dinilai tidak berambisi dengan jabatan. "Saya hanya mau menjadi presiden jika itu legal dan membuat Bolivia tenang," ujarnya.
SIAPA>small 2small 0< Rodriguez? Dia tidak terlalu dikenal. Tokoh ini juga bukan politikus terpandang di Bolivia. Bahkan, dia baru menjadi politikus praktis setelah terjun pertama kali ke bidang itu, yakni saat dilantik menjadi presiden, Kamis, 9 Juni 2005.
Sebelumnya dia selalu menggeluti bidang hukum dan dinilai sebagai seorang brilian yang meniti karier di bidang hukum dan tak pernah keluar dari jalur itu. Namun, faktanya dia menjadi presiden ketiga dalam tiga tahun terakhir di Bolivia.
Tokoh ini lahir pada Maret 1956 di Kota Cochambamba, bagian tengah Bolivia. Dia kuliah hukum dan lulus pada 1981 dari Universidad Mayor de San Simon, lalu melanjutkan ke Harvard University untuk meraih gelar master administrasi negara di John F Kennedy School.
Kariernya baru mulai melejit pada tahun 1999 ketika mulai bekerja di Mahkamah Agung dan tahun 2004 menjadi Ketua MA. Sembari meniti karier di MA, dia juga mengajar di berbagai universitas di Bolivia.
Selain itu, dia adalah pengacara dan pernah bekerja sebagai penasihat di Kementerian Luar Negeri Bolivia yang menangani proyek-proyek yang memerlukan sentuhan ahli hukum internasional.
Karena kemampuannya, dia juga pernah diangkat sebagai koordinator yang bekerja di Institut Amerika Latin Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pencegahan Kriminal dan Penanganan atas Para Pelanggar (UN Latin American Institute for the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders).
Selama menangani berbagai masalah hukum, dia pernah melakukan riset soal penanganan kasus-kasus hukum di Bolivia. Seorang peneliti dari George Mason University (AS), Jose Miguel Fabbri, pernah menyarankan reformasi perundang- undangan di Bolivia. Sebagian dari saran itu diambil dari temuan Eduardo Rodriguez. Temuan tersebut antara lain menunjukkan, rata-rata penyelesaian kasus bisnis di Bolivia memakan waktu enam tahun. Kasus-kasus sipil memerlukan penyelesaian antara 12 hingga 15 tahun.
Rodriguez membeberkan kasus itu dalam rangka tugasnya untuk membenahi perundang-undangan di Bolivia yang tidak jalan dan telah membuat investor internasional menjauh dari Bolivia.
Aspek hukum yang mandul dan wabah korupsi juga membuat Bolivia merupakan negara paling korup. Negara kaya sumber alam, tetapi tergolong termiskin di dunia ini berada di urutan 69 pada 1988 dan melejit lagi menjadi urutan ke-85 pada 2001 sebagai negara paling korup. Memang masih kalah jauh dari Indonesia soal korupsi. Makin tinggi urutan, makin tinggi pula praktik korupsi, sebagaimana tertuang dalam indeks yang disusun lembaga Transparency International.
RODRIGUEZ terangkat karena keahliannya di bidang hukum. Tidak terlalu banyak informasi, apakah bapak empat anak ini merupakan politikus "putih". Yang jelas persepsi tentang dirinya cukup lumayan dan membuatnya bisa diterima massa.
Apakah Rodriguez bisa membawa Bolivia ke arah yang lebih cerah. Hal itu tidak bergantung pada Rodriguez semata. Negara ini sudah lama terkenal dengan politik yang carut-marut.
"Saya yakin bahwa salah satu tugas saya adalah akan mengumumkan proses pemilu yang diharapkan bisa menyeimbangkan demokrasi," katanya. Tentu, kata Rodriguez, jalan ke depan masih panjang dan banyak tugas yang harus ditangani.
"Akan tetapi, saya yakin Bolivia berhak memiliki hari-hari yang baik ke depan yang bisa kita turunkan kepada anak- anak kita. Saya ingin mengabdi sebagai hakim republik, dalam waktu singkat, yang dibantu kongres. Saya menerima jabatan presiden dan juga dengan harapan bisa mendapatkan niat baik dari Anda semua sehingga kami bisa menatap masa depan cerah," ujar Rodriguez.
Demonstran Bolivia menyambut gembira pidato Rodriguez. Dia juga menawarkan diskusi atas banyak hal yang menjadi tuntutan demonstran, antara lain pembatalan otonomi untuk wilayah kaya gas dan minyak di Bolivia, Santa Cruz dan sekitarnya. Dia juga mau membuka dialog soal nasionalisasi perusahaan minyak asing serta dialog soal perubahan undang-undang yang memberikan hak-hak lebih besar pada warga Indian.
Rodriguez bisa saja bermanis mulut saat dilantik sebagai presiden itu. Namun, massa di Bolivia melihatnya sebagai seorang yang tidak punya vested interest yang merupakan bagian dari kelompok kepentingan atau yang menjadi antek-antek AS, IMF, dan perusahaan asing yang menguasai bisnis minyak di Bolivia, seperti dituduhkan kepada mantan Presiden Mesa hingga Vaca Diaz.
Saat menyampaikan pidato pelantikannya, Rodriguez juga mengingatkan, "Saya bukanlah merupakan jagoan dari kelompok kepentingan, entah itu datang dari kelompok politik atau lainnya. Saya akan terus mempertahankan posisi saya itu," kata Rodriguez.
Apakah Bolivia akan menjadi lebih tenang dengan kehadiran Rodriguez? Rodriquez juga menyadari, mungkin dia bukan figur yang andal untuk mengatasi berbagai persoalan di Bolivia yang sudah tertanam ratusan tahun. Namun, setidaknya, figur Rodriguez bisa meredakan sementara huru-hara di Bolivia. (SIMON SARAGIH)
Sumber : Kompas, Selasa, 14 Juni 2005
Elly Djamaluddin : Elly, Pendekar Hukum dari Mandar
Jun 26, 2009
Elly, Pendekar Hukum dari Mandar
Oleh: Reny Sri Ayu Taslim
Banyak yang terenyak ketika 23 anggota dan mantan anggota DPRD Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dijebloskan ke rumah tahanan awal Januari lalu. Mereka diduga terlibat penyalahgunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Majene tahun 2002-2004 sebesar Rp 6,1 miliar. Perempuan yang berani, komentar orang atas tindakan terhadap para wakil rakyat itu.
Perempuan yang dimaksud adalah Elly Djamaluddin (40-an), Kepala Kejaksaan Negeri Majene yang menangani langsung kasus ini yang juga mengeluarkan perintah penahanan. Di tengah maraknya kasus korupsi di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, termasuk di DPRD Sulawesi Selatan yang terkesan tak tersentuh hukum, wajar agaknya jika orang-orang menilai Elly berani.
Kalau dibilang berani, sebenarnya tidak juga, saya hanya sekadar menjalankan tugas dan berusaha melakukan sebaik-baiknya. Karena bukti awal sudah cukup untuk melakukan penahanan, maka atas nama hukum harus saya tahan. Syukur Tuhan membantu saya, begitu pun rekan-rekan kerja saya yang sangat pengertian, mau bekerja keras, dan kompak, kata Elly.
Kendati tak mau mengakui dirinya diteror, tetapi sejumlah sumber di Majene memastikan bahwa Elly sebenarnya mendapat tekanan luar biasa dalam menangani kasus ini. Selain teror, Elly juga mendapat sejumlah tawaran menggiurkan, mulai dari uang dan hadiah-hadiah lain, untuk sekadar menangguhkan penahanan atau bahkan melepas tersangka dari jerat hukum.
Elly sendirian menghadapi semua ini. Suami dan kedua anaknya tinggal di Jakarta dan hanya sesekali datang menjenguknya. Tetapi, semua itu tak membuatnya surut langkah. Para tersangka tetap ditahan, hingga kini memasuki empat bulan dan tetap akan ditahan hingga berkas perkara selesai dibuat dan dilimpahkan ke pengadilan.
Tak terpikirkan
Sebenarnya menjadi jaksa, apalagi hingga menjabat kepala kejaksaan negeri dan menangani kasus seperti saat ini, tidak pernah terpikirkan oleh Elly sebelumnya. Kuliahnya sendiri di Fakultas Sosial Politik Universitas Islam Jakarta, di mana waktu itu ia lakukan sembari bekerja di sebuah perusahaan swasta asing. Untuk yang terakhir itu, suaminya katanya kadang mengeluh karena membuat Elly tidak punya waktu luang untuk keluarga.
Saya sadar kerja di perusahaan swasta memang sangat menyita waktu dan saya hampir tidak bisa menyisakan waktu untuk keluarga, terutama anak. Makanya dengan kesadaran sendiri, saya memutuskan berhenti. Saat berhenti itulah sejumlah instansi membuka pendaftaran untuk pegawai negeri. Saya sama sekali belum berpikir untuk menjadi jaksa, melainkan pegawai biasa saja, kata istri dari Akmal ini.
Bekerja di kejaksaan membuat Elly mulai berpikir akan lebih baik menjadi jaksa jika ingin lebih berkembang. Maka, saya kemudian kuliah hukum di Universitas Negeri Jakarta. Kuliah saya selesai 3,5 tahun dan kemudian saya menjadi jaksa, kata ibu dari Yuli Prihartini Indri (27) dan Yuan Yulian (25) ini.
Ia sempat melanjutkan kuliahnya dengan mengambil master hukum. Perjalanan kemudian membuat Elly berpindah tugas dari Kejaksaan Negeri Cibinong, Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, hingga kemudian ditempatkan di Kabupaten Majene tiga tahun lalu dan menduduki jabatan kepala kejaksaan. Saya tidak pernah berpikir akan menangani kasus-kasus seperti ini. Yang selalu ada dalam benak saya adalah bekerja sebaik mungkin di mana pun saya berada. Maka, ketika berhadapan dengan persoalan ini, saya merasa biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang luar biasa, bukan pula karena punya keberanian lebih, katanya.
Asli Mandar
Lahir di Makassar dari keluarga suku Mandar, ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Baharuddin Lopa (almarhum), yang pernah menjadi Jaksa Agung sekaligus nama harum di dunia hukum kita. Ketika orang ingin mengaitkan keberaniannya itu dengan Baharuddin Lopa, dengan serta-merta dia menampik.
Terlalu berat beban saya kalau mau dikaitkan dengan Baharuddin Lopa. Saya masih kecil dan belum ada apa-apanya, katanya sembari menjentikkan kelingkingnya.
Melakukan proses hukum terhadap korupsi kata Elly tidak mudah. Ada banyak pertimbangan, tidak boleh gegabah. Kita harus punya bukti yang cukup kuat. Kebetulan saja di Majene, bukti-bukti awalnya cukup sehingga prosesnya lebih cepat dari kasus yang lain, ucapnya.
Atas apa yang dilakukannya selama ini di Majene, Elly mendapatkan penghargaan Adhikarya Nusantara sebagai salah seorang Citra Kartini 2005. Selain itu juga penghargaan Career Woman Award dan The Best Achievement for the Higher Dedication in Public Services 2005. *
Sumber : Kompas, Jumat, 1 Juli 2005
Oleh: Reny Sri Ayu Taslim
Banyak yang terenyak ketika 23 anggota dan mantan anggota DPRD Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dijebloskan ke rumah tahanan awal Januari lalu. Mereka diduga terlibat penyalahgunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Majene tahun 2002-2004 sebesar Rp 6,1 miliar. Perempuan yang berani, komentar orang atas tindakan terhadap para wakil rakyat itu.
Perempuan yang dimaksud adalah Elly Djamaluddin (40-an), Kepala Kejaksaan Negeri Majene yang menangani langsung kasus ini yang juga mengeluarkan perintah penahanan. Di tengah maraknya kasus korupsi di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, termasuk di DPRD Sulawesi Selatan yang terkesan tak tersentuh hukum, wajar agaknya jika orang-orang menilai Elly berani.
Kalau dibilang berani, sebenarnya tidak juga, saya hanya sekadar menjalankan tugas dan berusaha melakukan sebaik-baiknya. Karena bukti awal sudah cukup untuk melakukan penahanan, maka atas nama hukum harus saya tahan. Syukur Tuhan membantu saya, begitu pun rekan-rekan kerja saya yang sangat pengertian, mau bekerja keras, dan kompak, kata Elly.
Kendati tak mau mengakui dirinya diteror, tetapi sejumlah sumber di Majene memastikan bahwa Elly sebenarnya mendapat tekanan luar biasa dalam menangani kasus ini. Selain teror, Elly juga mendapat sejumlah tawaran menggiurkan, mulai dari uang dan hadiah-hadiah lain, untuk sekadar menangguhkan penahanan atau bahkan melepas tersangka dari jerat hukum.
Elly sendirian menghadapi semua ini. Suami dan kedua anaknya tinggal di Jakarta dan hanya sesekali datang menjenguknya. Tetapi, semua itu tak membuatnya surut langkah. Para tersangka tetap ditahan, hingga kini memasuki empat bulan dan tetap akan ditahan hingga berkas perkara selesai dibuat dan dilimpahkan ke pengadilan.
Tak terpikirkan
Sebenarnya menjadi jaksa, apalagi hingga menjabat kepala kejaksaan negeri dan menangani kasus seperti saat ini, tidak pernah terpikirkan oleh Elly sebelumnya. Kuliahnya sendiri di Fakultas Sosial Politik Universitas Islam Jakarta, di mana waktu itu ia lakukan sembari bekerja di sebuah perusahaan swasta asing. Untuk yang terakhir itu, suaminya katanya kadang mengeluh karena membuat Elly tidak punya waktu luang untuk keluarga.
Saya sadar kerja di perusahaan swasta memang sangat menyita waktu dan saya hampir tidak bisa menyisakan waktu untuk keluarga, terutama anak. Makanya dengan kesadaran sendiri, saya memutuskan berhenti. Saat berhenti itulah sejumlah instansi membuka pendaftaran untuk pegawai negeri. Saya sama sekali belum berpikir untuk menjadi jaksa, melainkan pegawai biasa saja, kata istri dari Akmal ini.
Bekerja di kejaksaan membuat Elly mulai berpikir akan lebih baik menjadi jaksa jika ingin lebih berkembang. Maka, saya kemudian kuliah hukum di Universitas Negeri Jakarta. Kuliah saya selesai 3,5 tahun dan kemudian saya menjadi jaksa, kata ibu dari Yuli Prihartini Indri (27) dan Yuan Yulian (25) ini.
Ia sempat melanjutkan kuliahnya dengan mengambil master hukum. Perjalanan kemudian membuat Elly berpindah tugas dari Kejaksaan Negeri Cibinong, Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, hingga kemudian ditempatkan di Kabupaten Majene tiga tahun lalu dan menduduki jabatan kepala kejaksaan. Saya tidak pernah berpikir akan menangani kasus-kasus seperti ini. Yang selalu ada dalam benak saya adalah bekerja sebaik mungkin di mana pun saya berada. Maka, ketika berhadapan dengan persoalan ini, saya merasa biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang luar biasa, bukan pula karena punya keberanian lebih, katanya.
Asli Mandar
Lahir di Makassar dari keluarga suku Mandar, ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Baharuddin Lopa (almarhum), yang pernah menjadi Jaksa Agung sekaligus nama harum di dunia hukum kita. Ketika orang ingin mengaitkan keberaniannya itu dengan Baharuddin Lopa, dengan serta-merta dia menampik.
Terlalu berat beban saya kalau mau dikaitkan dengan Baharuddin Lopa. Saya masih kecil dan belum ada apa-apanya, katanya sembari menjentikkan kelingkingnya.
Melakukan proses hukum terhadap korupsi kata Elly tidak mudah. Ada banyak pertimbangan, tidak boleh gegabah. Kita harus punya bukti yang cukup kuat. Kebetulan saja di Majene, bukti-bukti awalnya cukup sehingga prosesnya lebih cepat dari kasus yang lain, ucapnya.
Atas apa yang dilakukannya selama ini di Majene, Elly mendapatkan penghargaan Adhikarya Nusantara sebagai salah seorang Citra Kartini 2005. Selain itu juga penghargaan Career Woman Award dan The Best Achievement for the Higher Dedication in Public Services 2005. *
Sumber : Kompas, Jumat, 1 Juli 2005
Erni Munir : Erni, Bidan Penolong Sesama di Aceh
Jun 25, 2009
Erni, Bidan Penolong Sesama di Aceh
Oleh : Agnes Suharsiningsih
Saya tetap akan mengabdikan diri saya di Aceh. Tempat ini sudah seperti kampung halaman saya, tegas Erni Munir, seorang bidan berdarah Minang yang sudah menetap di Aceh selama 21 tahun. Bahkan, pengalaman pahit, mungkin terpahit, perempuan berkerudung itu sudah menjadi satu dengan tanah Aceh.
Sosok ibu empat anak ini memang tegar. Meski telah kehilangan suami dan tiga anak perempuannya dalam bencana tsunami 26 Desember 2004, Erni dengan pasti dan yakin mengatakan tidak akan meninggalkan Aceh. Atau tetap membaktikan keahliannya sebagai bidan di Bumi Rencong itu.
Keikhlasan Erni melayani masyarakat Aceh di tengah upayanya mengatasi kegalauan pribadi karena jenazah suami dan tiga putrinya tidak kunjung ditemukan membuahkan hasil yang memang pantas disandangnya. Tanggal 2 Agustus lalu, wanita berkacamata ini mendapatkan penghargaan dari The White Ribbon Alliance for Safe Motherhood.
Penghargaan atas jasanya menyelamatkan ibu melahirkan ditentukan dalam pertemuan ke-32 Health Council Conference di Washington DC. Selanjutnya penghargaan diserahkan kepada Erni oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada acara Pertemuan Regional Aliansi Pita Putih Se-Asia Pasifik di Denpasar, Bali, 1-5 Agustus.
Baginya, penghargaan itu merupakan cambuk untuk bekerja lebih baik. Katanya, bekerja melayani orang lain membuatnya bertahan hidup. Pekerjaan ini menumbuhkan kembali semangat hidup saya. Saya jadi semakin sadar bahwa masih banyak orang yang memerlukan pertolongan saya, apalagi anak sulung saya yang selamat dari bencana itu juga masih memerlukan dampingan saya, ujar Erni sambil menahan air matanya.
Pembicaraan di sela pertemuan regional itu membuka kembali kenangan akan dahsyatnya bencana tsunami. Bersama suami dan tiga anak perempuannya, Erni tinggal di Jalan Sisingamangaraja, Lampulo, Banda Aceh. Wilayah itu tersapu habis oleh tsunami dari laut yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Daerah permukiman nelayan yang semula berpenduduk 6.800 jiwa itu kini hanya tersisa 2.100 jiwa.
Saat itu saya, suami, dan anak-anak sedang di rumah. Tiba-tiba ada gempa. Tidak lama setelah itu, orang-orang berteriak menyuruh lari. Baru sempat kami lari sekitar lima ratus meter, tiba-tiba air laut menerjang kami. Kami tergulung di dalamnya, saya terpisah dari suami dan anak-anak saya, kenangnya.
Di tengah kebingungannya tentang apa yang terjadi, perempuan kelahiran Bukittinggi, 14 September 1956, itu kehilangan suami Dr Erwin Nurdin MS dan tiga putrinya, Lydia (22), yang saat itu berstatus mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala Banda Aceh semester VIII; Ilona (17), siswi kelas III SMA III Banda Aceh; dan Diana (10), siswi kelas V SD 20 Banda Aceh.
Erni selamat, namun harus rela kehilangan orang-orang yang dicintainya. Meski begitu, ia tetap berharap suami dan anak-anaknya selamat. Harapan ini tumbuh karena hingga kini dia belum menemukan jasad mereka.
Anak sulungnya, Yudha Nurdin (26), saat bencana tsunami datang sedang berada di Bandung. Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung itu mau tidak mau harus berjuang menerima kenyataan, kehilangan ayah dan tiga adik perempuannya.
Ibu dan anak yang selamat dari bencana itu kini terlihat tabah. Keakraban dan sikap saling mendukung terlihat jelas di antara mereka. Saat menerima penghargaan di Sanur, Bali, Erni ditemani oleh putranya. Kebahagiaan dan rasa haru hinggap dalam diri bidan itu.
Mama mendapat penghargaan bukan karena derita mama, tapi karena mama sanggup bangkit dari pengalaman buruk dan tetap mengabdikan diri kepada mereka yang membutuhkan keahlian mama, kata Yudha.
Pelayanan gratis
Bidan yang pernah mendampingi tugas suami sebagai duta besar di Thailand selama dua tahun setelah pernikahan mereka tahun 1978 itu kini membuka praktik di Jalan Imum Lueng Bata, Banda Aceh. Bersama enam anggota staf bidan, Erni membantu ibu yang hendak melahirkan dan juga memberikan pelayanan pengobatan dasar.
Tepatnya tanggal 11 Februari 2005, Erni membuka tempat praktik tersebut. Tempat yang disebut BPS (Bidan Praktek Swasta) itu berupa ruko (rumah toko). Di ruko itu pulalah kini Erni tinggal dan bekerja bersama stafnya.
Selama tiga bulan mereka memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis. Setelah tiga bulan berlalu, BPS tersebut kemudian menetapkan biaya bagi pasien. Namun, untuk pasien yang benar-benar tidak mampu, terlebih mereka yang menjadi korban tsunami, Erni tak menarik biaya sepeser pun.
Pascatsunami, Erni dan staf bidan yang ada di kliniknya sudah menolong 15 persalinan. Sementara pasien dengan keperluan pengobatan dasar sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Menurut Erni, sekitar 80 persen pasien yang datang ke kliniknya merupakan korban tsunami.
Berbagai bantuan mengalir ke klinik Erni, antara lain peralatan dan obat-obatan yang dikirim oleh sesama pelatih Asuhan Persalinan Normal dari Cirebon dan Jakarta. Sementara obat-obatan keluarga berencana dibantu oleh Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia.
Saya memang kehilangan suami dan tiga anak perempuan saya. Tapi saya tetap hidup. Ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menolong sesama sesuai keahlian saya, ucap Erni tegar.
Sumber : Kompas, Jumat, 12 Agustus 2005
Oleh : Agnes Suharsiningsih
Saya tetap akan mengabdikan diri saya di Aceh. Tempat ini sudah seperti kampung halaman saya, tegas Erni Munir, seorang bidan berdarah Minang yang sudah menetap di Aceh selama 21 tahun. Bahkan, pengalaman pahit, mungkin terpahit, perempuan berkerudung itu sudah menjadi satu dengan tanah Aceh.
Sosok ibu empat anak ini memang tegar. Meski telah kehilangan suami dan tiga anak perempuannya dalam bencana tsunami 26 Desember 2004, Erni dengan pasti dan yakin mengatakan tidak akan meninggalkan Aceh. Atau tetap membaktikan keahliannya sebagai bidan di Bumi Rencong itu.
Keikhlasan Erni melayani masyarakat Aceh di tengah upayanya mengatasi kegalauan pribadi karena jenazah suami dan tiga putrinya tidak kunjung ditemukan membuahkan hasil yang memang pantas disandangnya. Tanggal 2 Agustus lalu, wanita berkacamata ini mendapatkan penghargaan dari The White Ribbon Alliance for Safe Motherhood.
Penghargaan atas jasanya menyelamatkan ibu melahirkan ditentukan dalam pertemuan ke-32 Health Council Conference di Washington DC. Selanjutnya penghargaan diserahkan kepada Erni oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada acara Pertemuan Regional Aliansi Pita Putih Se-Asia Pasifik di Denpasar, Bali, 1-5 Agustus.
Baginya, penghargaan itu merupakan cambuk untuk bekerja lebih baik. Katanya, bekerja melayani orang lain membuatnya bertahan hidup. Pekerjaan ini menumbuhkan kembali semangat hidup saya. Saya jadi semakin sadar bahwa masih banyak orang yang memerlukan pertolongan saya, apalagi anak sulung saya yang selamat dari bencana itu juga masih memerlukan dampingan saya, ujar Erni sambil menahan air matanya.
Pembicaraan di sela pertemuan regional itu membuka kembali kenangan akan dahsyatnya bencana tsunami. Bersama suami dan tiga anak perempuannya, Erni tinggal di Jalan Sisingamangaraja, Lampulo, Banda Aceh. Wilayah itu tersapu habis oleh tsunami dari laut yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Daerah permukiman nelayan yang semula berpenduduk 6.800 jiwa itu kini hanya tersisa 2.100 jiwa.
Saat itu saya, suami, dan anak-anak sedang di rumah. Tiba-tiba ada gempa. Tidak lama setelah itu, orang-orang berteriak menyuruh lari. Baru sempat kami lari sekitar lima ratus meter, tiba-tiba air laut menerjang kami. Kami tergulung di dalamnya, saya terpisah dari suami dan anak-anak saya, kenangnya.
Di tengah kebingungannya tentang apa yang terjadi, perempuan kelahiran Bukittinggi, 14 September 1956, itu kehilangan suami Dr Erwin Nurdin MS dan tiga putrinya, Lydia (22), yang saat itu berstatus mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala Banda Aceh semester VIII; Ilona (17), siswi kelas III SMA III Banda Aceh; dan Diana (10), siswi kelas V SD 20 Banda Aceh.
Erni selamat, namun harus rela kehilangan orang-orang yang dicintainya. Meski begitu, ia tetap berharap suami dan anak-anaknya selamat. Harapan ini tumbuh karena hingga kini dia belum menemukan jasad mereka.
Anak sulungnya, Yudha Nurdin (26), saat bencana tsunami datang sedang berada di Bandung. Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung itu mau tidak mau harus berjuang menerima kenyataan, kehilangan ayah dan tiga adik perempuannya.
Ibu dan anak yang selamat dari bencana itu kini terlihat tabah. Keakraban dan sikap saling mendukung terlihat jelas di antara mereka. Saat menerima penghargaan di Sanur, Bali, Erni ditemani oleh putranya. Kebahagiaan dan rasa haru hinggap dalam diri bidan itu.
Mama mendapat penghargaan bukan karena derita mama, tapi karena mama sanggup bangkit dari pengalaman buruk dan tetap mengabdikan diri kepada mereka yang membutuhkan keahlian mama, kata Yudha.
Pelayanan gratis
Bidan yang pernah mendampingi tugas suami sebagai duta besar di Thailand selama dua tahun setelah pernikahan mereka tahun 1978 itu kini membuka praktik di Jalan Imum Lueng Bata, Banda Aceh. Bersama enam anggota staf bidan, Erni membantu ibu yang hendak melahirkan dan juga memberikan pelayanan pengobatan dasar.
Tepatnya tanggal 11 Februari 2005, Erni membuka tempat praktik tersebut. Tempat yang disebut BPS (Bidan Praktek Swasta) itu berupa ruko (rumah toko). Di ruko itu pulalah kini Erni tinggal dan bekerja bersama stafnya.
Selama tiga bulan mereka memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis. Setelah tiga bulan berlalu, BPS tersebut kemudian menetapkan biaya bagi pasien. Namun, untuk pasien yang benar-benar tidak mampu, terlebih mereka yang menjadi korban tsunami, Erni tak menarik biaya sepeser pun.
Pascatsunami, Erni dan staf bidan yang ada di kliniknya sudah menolong 15 persalinan. Sementara pasien dengan keperluan pengobatan dasar sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Menurut Erni, sekitar 80 persen pasien yang datang ke kliniknya merupakan korban tsunami.
Berbagai bantuan mengalir ke klinik Erni, antara lain peralatan dan obat-obatan yang dikirim oleh sesama pelatih Asuhan Persalinan Normal dari Cirebon dan Jakarta. Sementara obat-obatan keluarga berencana dibantu oleh Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia.
Saya memang kehilangan suami dan tiga anak perempuan saya. Tapi saya tetap hidup. Ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menolong sesama sesuai keahlian saya, ucap Erni tegar.
Sumber : Kompas, Jumat, 12 Agustus 2005
Eileen Marie Collins : Eileen Collins, Jiwanya di Angkasa
Eileen Collins, Jiwanya di Angkasa
Oleh : Simon Saragih
Sangat menegangkan dan menggelitik saraf-saraf! Begitulah yang dirasakan para astronot pesawat ulang alik Discovery, Eileen Collins, Jim Kelly, Soichi Noguchi, Steve Robinson, Andy Thomas, dan Wendy Lawrence sebelum mendarat kembali di Bumi dalam perjalanan ke angkasa selama dua minggu yang dimulai 26 Lalu.
Saat mengangkasa, sejumlah bahan penyekat di tank eksternal terkelupas. Hal serupa itu terjadi pada pesawat Columbia, yang meledak pada 1 Februari 2003. Para awak Discovery mengatakan kolega mereka yang meninggal 2,5 tahun terus terbayang selama misi dua minggu tersebut.
Asisten pilot Jim Kelly mengakui ketakutan saat Eileen Marie Collins—komandan penerbangan —mulai menyalakan mesin untuk keluar dari orbit. Kelly terus-menerus memantau sinyal, apakah ada yang tidak beres. Namun, astronot, tidak ada pilihan lain, harus percaya pada pusat kontrol di Bumi.
Nasib astronot Columbia, konon sudah diketahui sebelum mendarat karena ada kebocoran di bagian sayap, yang menyebabkan pesawat itu terbakar saat memasuki atmosfer. Pada posisi itu, suhu panas bisa mencapai 1.200 Celsius sementara bahan penyekat bisa menahan panas antara 1.275 hingga 1.650 derajat Celsius. Sedikit saja bahan itu terkelupas, artinya kiamat.
Ketegangan bertambah ketika Discovery ditunda turun karena kabut di Florida. Apakah Collins juga merasakan serupa? ”Pencapaian terbesar pada penerbangan ini sederhana saja, pesawat bisa terbang lagi,” demikian Collins dengan entengnya.
Syukurlah Discovery bisa mendarat kembali pada fajar Selasa 9 Agustus di California, pada kecepatan 200 mil per jam, setelah merampungkan penerbangan uji coba itu.
Di bawah kendali Collins, Discovery mendarat di landasan berhantu di runway 22, Edwards Air Force Base, Mojave Desert, California, pada pukul 8:11:22 pagi. Seharusnya pesawat mendarat di Kennedy Space Center, namun dialihkan oleh pemandu di Bumi LeRoy Cain ke California.
”Tampaknya fantastik,” demikian Collins soal kondisi pesawat, setelah astronot itu keluar untuk menjalani pemeriksaan setelah pendaratan.
Pendaratan Discovery itu adalah yang ke-50 di pusat percobaan Air Force itu, dan hanya enam pendaratan di antaranya yang berlangsung di saat hari sedang gelap gulita. Bagi Collins, lulus tahun 1990 dari Air Force Test Pilot School at Edwards, hal itu bukan masalah.
”Kami bahagia telah kembali dan mengucapkan selamat kepada semua tim yang ada di balik sukses semua itu,” kata Collins sebagaimana ditulis di CBS News.
Presiden AS George Walker Bush pun turut memberikan jumpa pers di ranch-nya di Texas. ”Ini penerbangan penting bagi NASA untuk mendapatkan kembali kepercayaan,” kata Bush yang juga merefleksikan kebanggaan AS, setelah Discovery mendarat sukses.
Pendaratan Discovery adalah yang terakhir dari 114 misi angkasa, sebuah perjalanan yang menempuh jarak 5,8 juta mil dan melakukan 219 pengorbitan sejak 26 Juli dari landasan 39B di Kennedy Space Center.
NASA kini harus memberi perhatian untuk mencari tahu, mengapa ada penyekat yang terkelupas dari Discovery, yang sekaligus dikecam sebagai tidak jelimetnya persiapan teknisi soal pengamanan penerbangan itu.
Collins lahir 19 November 1956 di Elmira, New York, adalah tokoh dalam penerbangan itu. Dia berkembang di Harris Hill, setelah pindah karena banjir di Elmira. Saat di Elmira, New York, ia menoleh ke pesawat yang menembus angkasa biru. Ketika itu juga, dia mematrikan mimpinya, suatu saat pasti terbang nyata.
Elmira, dijuluki sebagai ibu kota penerbangan AS, terkenal dengan sejarahnya yang kaya tentang penerbangan dan memiliki koleksi pesawat, dari buatan tahun 1890-an hingga paling mutakhir.
”Keluarga saya tak pernah punya uang untuk membayar les penerbangan atau... bahkan tak pernah bisa naik pesawat. Namun, hasrat saya untuk terbang tetap saja muncul,” kata Collins, yang harus mengalami perceraian orang tua pada tahun 1969. ”Di sekolah, saya tidak begitu suka pelajaran olahraga, namun saya selalu yakin, untuk terbang saya pasti bisa,” kata Collins, pengagum Amelia Earhart, pencipta rekor penerbangan internasional dekade 1930-an.
Dia pun membaca buku soal jenis-jenis pesawat. Saat usia 16 tahun, dia mulai bekerja dan menabung dan tiga tahun kemudian memulai karier sebagai pilot. ”Saya menabung uang 1.000 dollar AS dan pergi ke bandara lokal, saat berusia 19 dan minta tolong kepada orang di sana untuk mengajari saya terbang,” kata istri seorang pilot Pat Young dan ibu dari Bridget Marie (10), serta Luke (4).
Collins tidak peduli saat dikatakan bahwa penerbangan adalah urusan lelaki. Collins memulai pelatihan pilot militer di Angkatan Udara AS pada tahun 1978, bersamaan dengan dibukanya program penerbangan angkasa pertama untuk wanita oleh NASA. Pilot wanita elite pertama, yang masuk program itu, justru semakin menambah cita-citanya. menjadi astronot
Kerja keras berhasil membawanya ke NASA. ”Dia punya talenta soal dunia penerbangan. Cepat tangkap dan berani terbang solo dalam waktu singkat,” kata mantan pilot Angkatan Udara AS, AJ Davis, yang pernah melatih Collins.
Akan tetapi, menjadi astronot tak cukup hanya tahu soal terbang. Collins juga tertarik pada sains, astronomi, geologi, sejarah dan angkasa. Ia meraih sarjana muda matematika dan ekonomi di Syracuse University pada tahun 1978, gelar master pada bidang riset operasional dari Stanford University di 1986 dan master di bidang manajemen sistem angkasa dari Webster University pada tahun 1989 dengan nilai yang bagus.
”Dia itu belajar keras, perfeksionis dan mau mengajari orang. Tadinya saya mengira dia berbakat jadi guru,” kata Margaret Conklin, adik Collins. Berbekal semua itu, pendidikan dan rekomendasi berbagai pihak, Collins dipilih oleh NASA untuk bergabung pada tahun 1990.
Kemudian ia menjadi wanita pertama yang menjadi pilot Space Shuttle dan wanita pertama yang mengomandoi penerbangan angkasa.
Kecelakaan Challenger pada 28 Januari 1986 dan Columbia pada 1 Februari 2003, tidak menyurutkan niatnya untuk terus jadi astronot. ”Soalnya saya cinta pada bidang ini dan ingin berkontribusi. Kecelakaan itu membuat saya malah makin bersemangat. Kenangan akan astronot yang meninggal akibat kecelakaan itu membuat saya berutang budi. Mereka berani dan rela mati. Mengapa saya tidak,” demikian Collins sebagaimana ditulis di http://www.nasa.gov.
Untung Collins punya suami yang mendukung, yang ditemuinya saat belajar bersama di Angkatan Udara AS. ”Terserah, itu pilihan kamu,” kata suaminya, ketika Collins bertanya, masihkah suaminya setuju meneruskan karier astronot setelah dua kecelakaan itu.
Sumber : Kompas, Selasa, 16 Agustus 2005
Oleh : Simon Saragih
Sangat menegangkan dan menggelitik saraf-saraf! Begitulah yang dirasakan para astronot pesawat ulang alik Discovery, Eileen Collins, Jim Kelly, Soichi Noguchi, Steve Robinson, Andy Thomas, dan Wendy Lawrence sebelum mendarat kembali di Bumi dalam perjalanan ke angkasa selama dua minggu yang dimulai 26 Lalu.
Saat mengangkasa, sejumlah bahan penyekat di tank eksternal terkelupas. Hal serupa itu terjadi pada pesawat Columbia, yang meledak pada 1 Februari 2003. Para awak Discovery mengatakan kolega mereka yang meninggal 2,5 tahun terus terbayang selama misi dua minggu tersebut.
Asisten pilot Jim Kelly mengakui ketakutan saat Eileen Marie Collins—komandan penerbangan —mulai menyalakan mesin untuk keluar dari orbit. Kelly terus-menerus memantau sinyal, apakah ada yang tidak beres. Namun, astronot, tidak ada pilihan lain, harus percaya pada pusat kontrol di Bumi.
Nasib astronot Columbia, konon sudah diketahui sebelum mendarat karena ada kebocoran di bagian sayap, yang menyebabkan pesawat itu terbakar saat memasuki atmosfer. Pada posisi itu, suhu panas bisa mencapai 1.200 Celsius sementara bahan penyekat bisa menahan panas antara 1.275 hingga 1.650 derajat Celsius. Sedikit saja bahan itu terkelupas, artinya kiamat.
Ketegangan bertambah ketika Discovery ditunda turun karena kabut di Florida. Apakah Collins juga merasakan serupa? ”Pencapaian terbesar pada penerbangan ini sederhana saja, pesawat bisa terbang lagi,” demikian Collins dengan entengnya.
Syukurlah Discovery bisa mendarat kembali pada fajar Selasa 9 Agustus di California, pada kecepatan 200 mil per jam, setelah merampungkan penerbangan uji coba itu.
Di bawah kendali Collins, Discovery mendarat di landasan berhantu di runway 22, Edwards Air Force Base, Mojave Desert, California, pada pukul 8:11:22 pagi. Seharusnya pesawat mendarat di Kennedy Space Center, namun dialihkan oleh pemandu di Bumi LeRoy Cain ke California.
”Tampaknya fantastik,” demikian Collins soal kondisi pesawat, setelah astronot itu keluar untuk menjalani pemeriksaan setelah pendaratan.
Pendaratan Discovery itu adalah yang ke-50 di pusat percobaan Air Force itu, dan hanya enam pendaratan di antaranya yang berlangsung di saat hari sedang gelap gulita. Bagi Collins, lulus tahun 1990 dari Air Force Test Pilot School at Edwards, hal itu bukan masalah.
”Kami bahagia telah kembali dan mengucapkan selamat kepada semua tim yang ada di balik sukses semua itu,” kata Collins sebagaimana ditulis di CBS News.
Presiden AS George Walker Bush pun turut memberikan jumpa pers di ranch-nya di Texas. ”Ini penerbangan penting bagi NASA untuk mendapatkan kembali kepercayaan,” kata Bush yang juga merefleksikan kebanggaan AS, setelah Discovery mendarat sukses.
Pendaratan Discovery adalah yang terakhir dari 114 misi angkasa, sebuah perjalanan yang menempuh jarak 5,8 juta mil dan melakukan 219 pengorbitan sejak 26 Juli dari landasan 39B di Kennedy Space Center.
NASA kini harus memberi perhatian untuk mencari tahu, mengapa ada penyekat yang terkelupas dari Discovery, yang sekaligus dikecam sebagai tidak jelimetnya persiapan teknisi soal pengamanan penerbangan itu.
Collins lahir 19 November 1956 di Elmira, New York, adalah tokoh dalam penerbangan itu. Dia berkembang di Harris Hill, setelah pindah karena banjir di Elmira. Saat di Elmira, New York, ia menoleh ke pesawat yang menembus angkasa biru. Ketika itu juga, dia mematrikan mimpinya, suatu saat pasti terbang nyata.
Elmira, dijuluki sebagai ibu kota penerbangan AS, terkenal dengan sejarahnya yang kaya tentang penerbangan dan memiliki koleksi pesawat, dari buatan tahun 1890-an hingga paling mutakhir.
”Keluarga saya tak pernah punya uang untuk membayar les penerbangan atau... bahkan tak pernah bisa naik pesawat. Namun, hasrat saya untuk terbang tetap saja muncul,” kata Collins, yang harus mengalami perceraian orang tua pada tahun 1969. ”Di sekolah, saya tidak begitu suka pelajaran olahraga, namun saya selalu yakin, untuk terbang saya pasti bisa,” kata Collins, pengagum Amelia Earhart, pencipta rekor penerbangan internasional dekade 1930-an.
Dia pun membaca buku soal jenis-jenis pesawat. Saat usia 16 tahun, dia mulai bekerja dan menabung dan tiga tahun kemudian memulai karier sebagai pilot. ”Saya menabung uang 1.000 dollar AS dan pergi ke bandara lokal, saat berusia 19 dan minta tolong kepada orang di sana untuk mengajari saya terbang,” kata istri seorang pilot Pat Young dan ibu dari Bridget Marie (10), serta Luke (4).
Collins tidak peduli saat dikatakan bahwa penerbangan adalah urusan lelaki. Collins memulai pelatihan pilot militer di Angkatan Udara AS pada tahun 1978, bersamaan dengan dibukanya program penerbangan angkasa pertama untuk wanita oleh NASA. Pilot wanita elite pertama, yang masuk program itu, justru semakin menambah cita-citanya. menjadi astronot
Kerja keras berhasil membawanya ke NASA. ”Dia punya talenta soal dunia penerbangan. Cepat tangkap dan berani terbang solo dalam waktu singkat,” kata mantan pilot Angkatan Udara AS, AJ Davis, yang pernah melatih Collins.
Akan tetapi, menjadi astronot tak cukup hanya tahu soal terbang. Collins juga tertarik pada sains, astronomi, geologi, sejarah dan angkasa. Ia meraih sarjana muda matematika dan ekonomi di Syracuse University pada tahun 1978, gelar master pada bidang riset operasional dari Stanford University di 1986 dan master di bidang manajemen sistem angkasa dari Webster University pada tahun 1989 dengan nilai yang bagus.
”Dia itu belajar keras, perfeksionis dan mau mengajari orang. Tadinya saya mengira dia berbakat jadi guru,” kata Margaret Conklin, adik Collins. Berbekal semua itu, pendidikan dan rekomendasi berbagai pihak, Collins dipilih oleh NASA untuk bergabung pada tahun 1990.
Kemudian ia menjadi wanita pertama yang menjadi pilot Space Shuttle dan wanita pertama yang mengomandoi penerbangan angkasa.
Kecelakaan Challenger pada 28 Januari 1986 dan Columbia pada 1 Februari 2003, tidak menyurutkan niatnya untuk terus jadi astronot. ”Soalnya saya cinta pada bidang ini dan ingin berkontribusi. Kecelakaan itu membuat saya malah makin bersemangat. Kenangan akan astronot yang meninggal akibat kecelakaan itu membuat saya berutang budi. Mereka berani dan rela mati. Mengapa saya tidak,” demikian Collins sebagaimana ditulis di http://www.nasa.gov.
Untung Collins punya suami yang mendukung, yang ditemuinya saat belajar bersama di Angkatan Udara AS. ”Terserah, itu pilihan kamu,” kata suaminya, ketika Collins bertanya, masihkah suaminya setuju meneruskan karier astronot setelah dua kecelakaan itu.
Sumber : Kompas, Selasa, 16 Agustus 2005
Eddy Permadi : Melestarikan Alam Lewat Energi
Melestarikan Alam Lewat Energi
Oleh : Yenti Aprianti
Bekerja memajukan desa tidak bisa sepotong-sepotong. Pengalaman itulah yang dirasakan Eddy Permadi (47). Dia berhasil membuat listrik masuk ke desa dengan membuat turbin pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Tetapi, kemudian dia melihat itu saja tidak cukup sebab dapat berakibat masyarakat menjadi konsumtif, menggunakan listrik itu hanya untuk menonton televisi.
Berangkat dari pengalaman itu, Eddy lalu berpikir bagaimana listrik dari turbin pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) buatannya dapat lebih produktif. Lahirlah gagasan membuat mesin pengolah hasil pertanian. Yang dia contohkan di pabrik turbinnya adalah mesin pembuat serbuk jahe, bahan bandrek, yaitu minuman dari rempah-rempah, jahe, dan gula palem. Di situ dia juga membuat industri bandreknya sehingga mereka yang datang dapat melihat contoh yang terintegrasi.
Setelah mengundurkan diri sebagai dosen di perguruan tinggi teknik di Bandung tahun 1995, Eddy membuat industri turbin PLTMH di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Turbin untuk PLTMH sangat khusus, disesuaikan debit dan ketinggian air sungai ke rumah pembangkit. Kapasitas listrik yang dihasilkan pun berbeda. Itu sebabnya, penelitian tentang turbin sangat penting karena ukuran dan jenis turbin yang dipakai berbeda-beda.
Lama-lama, tempat uji cobanya sering dikunjungi masyarakat dari berbagai kota di Indonesia, juga dari mancanegara. Kebetulan, Eddy adalah pengusaha yang pernah dibina sebuah yayasan yang bekerja sama dengan lembaga dari Jerman untuk memperkenalkan dan membangun PLTMH di Indonesia.
Eddy lalu merenovasi tempat uji cobanya menjadi Sarana Percontohan dan Laboratorium Pengujian PLTMH. Pelajar pun banyak memanfaatkan laboratoriumnya untuk belajar tentang energi.
Mesin-mesin pengolah hasil pertanian dan mesin-mesin lain yang bisa digunakan di pedesaan yang dia produksi, antara lain mesin pengering jahe, pemipil jagung, dan pembordir yang dapat digunakan dengan menggunakan tenaga listrik PLTMH.
Produktif
”(Tadinya) listrik hanya dipakai penduduk habis-habisan untuk sekadar menonton televisi pada malam hari. Siang hari lebih baik mereka diberi pekerjaan seperti membordir atau mengolah hasil panennya sehingga memiliki nilai tambah ekonomi dan desa jadi lebih maju. Bukan malah menciptakan masyarakat konsumtif setelah listrik masuk,” tutur suami Ny Milly Emalia (44) dan ayah dari Firda Eidel Firdaus (16), Levina Maharani (13), serta Mohammad Farrel (9) ini.
Proyek listrik masuk desa sekaligus peningkatan produksi ini telah dilaksanakan antara lain di Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, yang kini penduduknya menjadi pembordir.
Usaha percontohan bandrek instan yang dikelolanya dikembangkan dengan menambah produk bajigur instan. Kini usaha bandrek dan bajigurnya beromzet sekitar Rp 3,5 juta sehari.
Ia mempekerjakan sekitar 25 karyawan tetap dan ratusan masyarakat di sekitar pabrik serta beberapa petani jahe dan gula palem untuk mendukung usaha minuman instannya. Karena usahanya, Eddy mendapatkan penghargaan Usaha Kecil Menengah Berprestasi tingkat nasional tahun 2004.
Saat memasang listrik, Eddy tak lupa memberi wawasan tentang lingkungan, terutama dalam menjaga lingkungan alam di sekitar desa agar tetap lestari. Mereka harus menjaga hutan yang menjaga pasokan air dalam tanah agar pada musim kemarau tetap ada pasokan listrik dan pada musim hujan rumah pembangkit listrik tidak hanyut oleh banjir.
Penyadaran lingkungan berhasil ia terapkan pada masyarakat Bungbulang, Kabupaten Garut. Penduduk desa yang biasanya menebangi pohon untuk kayu bakar pembuat gula aren kini berbalik memelihara pepohonan di sekitarnya karena kayu bakar sudah digantikan dengan kompor listrik.
Karena upayanya memberi penyadaran lingkungan dalam menjaga kelangsungan energi, pada Juli 2005, Eddy mendapat penghargaan Masyarakat Pengelola Lingkungan Hidup dari Gubernur Jawa Barat. ”Lewat energi saya harap alam Indonesia justru makin terjaga,” kata Eddy.
”Saya makin sibuk sekarang. Risikonya, anak-anak makin sering menelepon dan menanyakan kapan saya akan pulang,” kata Eddy yang sekarang lebih sering pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk menyurvei lokasi pemasangan PLTMH dan memberi seminar di hadapan mahasiswa maupun pelajar sekolah menengah.
Memang usaha Eddy mulai membuahkan hasil. Sebelumnya, sejak tahun 1995 hingga 2003 rata-rata ia hanya membuat satu turbin per tahun dengan omzet sekitar Rp 100 juta. Namun, sejak tahun 2004 permintaan makin meningkat dan ada yang dijual ke Jerman. Tahun ini ia membuat turbin untuk dikirim ke Swiss.
Sumber : Komaps, Selasa, 30 Agustus 2005
Oleh : Yenti Aprianti
Bekerja memajukan desa tidak bisa sepotong-sepotong. Pengalaman itulah yang dirasakan Eddy Permadi (47). Dia berhasil membuat listrik masuk ke desa dengan membuat turbin pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Tetapi, kemudian dia melihat itu saja tidak cukup sebab dapat berakibat masyarakat menjadi konsumtif, menggunakan listrik itu hanya untuk menonton televisi.
Berangkat dari pengalaman itu, Eddy lalu berpikir bagaimana listrik dari turbin pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) buatannya dapat lebih produktif. Lahirlah gagasan membuat mesin pengolah hasil pertanian. Yang dia contohkan di pabrik turbinnya adalah mesin pembuat serbuk jahe, bahan bandrek, yaitu minuman dari rempah-rempah, jahe, dan gula palem. Di situ dia juga membuat industri bandreknya sehingga mereka yang datang dapat melihat contoh yang terintegrasi.
Setelah mengundurkan diri sebagai dosen di perguruan tinggi teknik di Bandung tahun 1995, Eddy membuat industri turbin PLTMH di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Turbin untuk PLTMH sangat khusus, disesuaikan debit dan ketinggian air sungai ke rumah pembangkit. Kapasitas listrik yang dihasilkan pun berbeda. Itu sebabnya, penelitian tentang turbin sangat penting karena ukuran dan jenis turbin yang dipakai berbeda-beda.
Lama-lama, tempat uji cobanya sering dikunjungi masyarakat dari berbagai kota di Indonesia, juga dari mancanegara. Kebetulan, Eddy adalah pengusaha yang pernah dibina sebuah yayasan yang bekerja sama dengan lembaga dari Jerman untuk memperkenalkan dan membangun PLTMH di Indonesia.
Eddy lalu merenovasi tempat uji cobanya menjadi Sarana Percontohan dan Laboratorium Pengujian PLTMH. Pelajar pun banyak memanfaatkan laboratoriumnya untuk belajar tentang energi.
Mesin-mesin pengolah hasil pertanian dan mesin-mesin lain yang bisa digunakan di pedesaan yang dia produksi, antara lain mesin pengering jahe, pemipil jagung, dan pembordir yang dapat digunakan dengan menggunakan tenaga listrik PLTMH.
Produktif
”(Tadinya) listrik hanya dipakai penduduk habis-habisan untuk sekadar menonton televisi pada malam hari. Siang hari lebih baik mereka diberi pekerjaan seperti membordir atau mengolah hasil panennya sehingga memiliki nilai tambah ekonomi dan desa jadi lebih maju. Bukan malah menciptakan masyarakat konsumtif setelah listrik masuk,” tutur suami Ny Milly Emalia (44) dan ayah dari Firda Eidel Firdaus (16), Levina Maharani (13), serta Mohammad Farrel (9) ini.
Proyek listrik masuk desa sekaligus peningkatan produksi ini telah dilaksanakan antara lain di Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, yang kini penduduknya menjadi pembordir.
Usaha percontohan bandrek instan yang dikelolanya dikembangkan dengan menambah produk bajigur instan. Kini usaha bandrek dan bajigurnya beromzet sekitar Rp 3,5 juta sehari.
Ia mempekerjakan sekitar 25 karyawan tetap dan ratusan masyarakat di sekitar pabrik serta beberapa petani jahe dan gula palem untuk mendukung usaha minuman instannya. Karena usahanya, Eddy mendapatkan penghargaan Usaha Kecil Menengah Berprestasi tingkat nasional tahun 2004.
Saat memasang listrik, Eddy tak lupa memberi wawasan tentang lingkungan, terutama dalam menjaga lingkungan alam di sekitar desa agar tetap lestari. Mereka harus menjaga hutan yang menjaga pasokan air dalam tanah agar pada musim kemarau tetap ada pasokan listrik dan pada musim hujan rumah pembangkit listrik tidak hanyut oleh banjir.
Penyadaran lingkungan berhasil ia terapkan pada masyarakat Bungbulang, Kabupaten Garut. Penduduk desa yang biasanya menebangi pohon untuk kayu bakar pembuat gula aren kini berbalik memelihara pepohonan di sekitarnya karena kayu bakar sudah digantikan dengan kompor listrik.
Karena upayanya memberi penyadaran lingkungan dalam menjaga kelangsungan energi, pada Juli 2005, Eddy mendapat penghargaan Masyarakat Pengelola Lingkungan Hidup dari Gubernur Jawa Barat. ”Lewat energi saya harap alam Indonesia justru makin terjaga,” kata Eddy.
”Saya makin sibuk sekarang. Risikonya, anak-anak makin sering menelepon dan menanyakan kapan saya akan pulang,” kata Eddy yang sekarang lebih sering pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk menyurvei lokasi pemasangan PLTMH dan memberi seminar di hadapan mahasiswa maupun pelajar sekolah menengah.
Memang usaha Eddy mulai membuahkan hasil. Sebelumnya, sejak tahun 1995 hingga 2003 rata-rata ia hanya membuat satu turbin per tahun dengan omzet sekitar Rp 100 juta. Namun, sejak tahun 2004 permintaan makin meningkat dan ada yang dijual ke Jerman. Tahun ini ia membuat turbin untuk dikirim ke Swiss.
Sumber : Komaps, Selasa, 30 Agustus 2005
Edy Sulistyanto : Dunia Multidimensi Edy Amigo
Dunia Multidimensi Edy Amigo
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty
Saat teman seusianya tampil di atas panggung ketoprak tahun 1960-an, Edy Sulistyanto yang kala itu duduk di bangku sekolah dasar hanya menjadi penonton. Waktu saya melihat ketoprak, wayang orang, atau karawitan, rasanya ingin bergabung. Tapi tidak mungkin karena saya harus bekerja, tuturnya.
Anak keempat dari delapan bersaudara ini diserahi tanggung jawab untuk meneruskan bengkel sepeda sejak usia 11 tahun, ketika anak-anak seusianya masih bebas bermain atau berkegiatan.
Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga menjadi salah satu korban kekerasan dalam peristiwa politik di tahun 1965. Akibatnya, saya dan kakak laki-laki saya harus menggantikan posisi ayah untuk mencari nafkah bagi keluarga, ujar Edy saat ditemui di kediamannya yang asri di Jalan Pemuda, Klaten, Jawa Tengah.
Kehidupan keluarga ini sejak tahun 1965 ditopang dari bengkel sepeda yang dijalankan Edy dan toko sepatu yang dikelola Sarwanto, kakak pertama Edy.
Pengagum tokoh Bisma dalam kisah Mahabarata itu harus terjun ke dunia bisnis untuk menghidupi keluarganya yang terdiri dari ibu dan delapan anak. Dari bengkel berukuran 3 x 1,5 meter persegi yang terletak di Kampung Gambarejo, atau Jalan Pemuda, Klaten, saat ini, roda kehidupan keluarga bisa terus berputar.
Pegang janji
Terjun langsung ke dunia bisnis sejak usia dini mengasah naluri bisnis Edy yang lulusan SMA Jurusan Ilmu Pasti itu. Tahun 1976, Edy membuka toko pakaian dan sepatu bernama Bimbo di Kecamatan Delanggu, Klaten. Tiga tahun kemudian, ia juga mendirikan Toko Granada di Delanggu.
Bengkel sepeda yang sudah dijalankan Edy sekitar 15 tahun akhirnya tutup tahun 1981. Tutupnya bengkel itu bukan karena bangkrut, tetapi karena Edy merencanakan beralih usaha dengan membuka toko busana dan sepatu bernama Amigo. Saat ini toko yang menjual pakaian sesuai dengan tren tiap zaman itu mempunyai lima outlet di Klaten, Pedan, Sukoharjo, Boyolali, dan Gunung Kidul.
Tahun 1987, Edy membuka satu toko busana dan sepatu lagi di Prambanan. Toko ini dinamai Dinasti, seperti judul sebuah film layar kaca yang populer pada era itu.
Awal mendirikan Toko Bimbo, saya hanya mempekerjakan dua orang saja. Sekarang sudah ada sekitar 350 pekerja di delapan toko saya, kata pria kelahiran Klaten, 26 Agustus 1954, ini.
Dari pengalaman, Edy berpendapat bahwa jenjang pendidikan seseorang tidak sepenuhnya memengaruhi kualitas pekerjaan. â€Yang lebih penting adalah attitude dalam bekerja dan semangat mereka untuk maju,†papar suami Retno Widiastuti itu. Satu hal yang juga dipegang Edy, janji yang sudah diucapkan kepada konsumen harus ditepati.
Komitmen memegang teguh sebuah janji disadari Edy sebagai sebuah bagian dari tingkah laku seseorang. Menyadari bahwa tingkah laku seseorang bisa dibentuk, Edy merogoh sakunya untuk membiayai pelatihan bagi seluruh karyawan.
Setidaknya sekali dalam setahun, setiap karyawan mendapat pelatihan. Pelatihan yang antara lain berisi pembentukan tanggung jawab, kepemimpinan, atau keberanian itu disesuaikan dengan lamanya waktu bekerja atau jabatannya di toko.
Edy, yang menjadi salah satu anggota Komisi SD Kristen 3 Klaten, juga menerapkan model pelatihan bagi guru-guru di sekolah yang sempat hampir bangkrut di awal tahun 1990-an itu.
Ia menyimpan keinginan agar pendidikan formal tidak hanya mengembangkan sisi kognitif siswa, tetapi juga tingkah laku siswa. Sebelum memberikan pendidikan kepada siswa, Edy hendak membantu pengembangan tingkah laku dan wawasan para guru.
Memberikan pemahaman tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK, misalnya, tidak cukup hanya dengan pelatihan dua-tiga hari saja. Guru harus memahami roh kurikulum ini dan menerapkan model perlakuan yang sesuai untuk transformasi pendidikan. Untuk itu, pelatihan tentang model KBK perlu diberikan secara intensif, papar Edy.
Untuk memfasilitasi perkembangan siswa, Edy juga ikut memfasilitasi beragamnya kegiatan ekstrakurikuler di SD tersebut, termasuk gamelan, tari tradisional, dan vokal grup. Selain pengembangan kepribadian siswa, kesenian tradisional yang ditawarkan lewat kegiatan ekstrakurikuler itu merupakan salah satu bentuk penyaluran keinginan Edy untuk melestarikan kesenian tradisional.
Masih dalam rangka pengembangan kesenian tradisional, Edy duduk di Komite Tradisional Dewan Kesenian Klaten. Dialah pencetus Festival Ketoprak Klaten yang diadakan bulan Mei sampai Juni 2005.
Di samping itu, ia ikut mensponsori berbagai peristiwa seni yang diadakan di Klaten. Sebagai gantinya, spanduk bertuliskan Amigo dipasang di sisi-sisi panggung seni.
Sumber : Kompas, Jumat, 9 September 2005
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty
Saat teman seusianya tampil di atas panggung ketoprak tahun 1960-an, Edy Sulistyanto yang kala itu duduk di bangku sekolah dasar hanya menjadi penonton. Waktu saya melihat ketoprak, wayang orang, atau karawitan, rasanya ingin bergabung. Tapi tidak mungkin karena saya harus bekerja, tuturnya.
Anak keempat dari delapan bersaudara ini diserahi tanggung jawab untuk meneruskan bengkel sepeda sejak usia 11 tahun, ketika anak-anak seusianya masih bebas bermain atau berkegiatan.
Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga menjadi salah satu korban kekerasan dalam peristiwa politik di tahun 1965. Akibatnya, saya dan kakak laki-laki saya harus menggantikan posisi ayah untuk mencari nafkah bagi keluarga, ujar Edy saat ditemui di kediamannya yang asri di Jalan Pemuda, Klaten, Jawa Tengah.
Kehidupan keluarga ini sejak tahun 1965 ditopang dari bengkel sepeda yang dijalankan Edy dan toko sepatu yang dikelola Sarwanto, kakak pertama Edy.
Pengagum tokoh Bisma dalam kisah Mahabarata itu harus terjun ke dunia bisnis untuk menghidupi keluarganya yang terdiri dari ibu dan delapan anak. Dari bengkel berukuran 3 x 1,5 meter persegi yang terletak di Kampung Gambarejo, atau Jalan Pemuda, Klaten, saat ini, roda kehidupan keluarga bisa terus berputar.
Pegang janji
Terjun langsung ke dunia bisnis sejak usia dini mengasah naluri bisnis Edy yang lulusan SMA Jurusan Ilmu Pasti itu. Tahun 1976, Edy membuka toko pakaian dan sepatu bernama Bimbo di Kecamatan Delanggu, Klaten. Tiga tahun kemudian, ia juga mendirikan Toko Granada di Delanggu.
Bengkel sepeda yang sudah dijalankan Edy sekitar 15 tahun akhirnya tutup tahun 1981. Tutupnya bengkel itu bukan karena bangkrut, tetapi karena Edy merencanakan beralih usaha dengan membuka toko busana dan sepatu bernama Amigo. Saat ini toko yang menjual pakaian sesuai dengan tren tiap zaman itu mempunyai lima outlet di Klaten, Pedan, Sukoharjo, Boyolali, dan Gunung Kidul.
Tahun 1987, Edy membuka satu toko busana dan sepatu lagi di Prambanan. Toko ini dinamai Dinasti, seperti judul sebuah film layar kaca yang populer pada era itu.
Awal mendirikan Toko Bimbo, saya hanya mempekerjakan dua orang saja. Sekarang sudah ada sekitar 350 pekerja di delapan toko saya, kata pria kelahiran Klaten, 26 Agustus 1954, ini.
Dari pengalaman, Edy berpendapat bahwa jenjang pendidikan seseorang tidak sepenuhnya memengaruhi kualitas pekerjaan. â€Yang lebih penting adalah attitude dalam bekerja dan semangat mereka untuk maju,†papar suami Retno Widiastuti itu. Satu hal yang juga dipegang Edy, janji yang sudah diucapkan kepada konsumen harus ditepati.
Komitmen memegang teguh sebuah janji disadari Edy sebagai sebuah bagian dari tingkah laku seseorang. Menyadari bahwa tingkah laku seseorang bisa dibentuk, Edy merogoh sakunya untuk membiayai pelatihan bagi seluruh karyawan.
Setidaknya sekali dalam setahun, setiap karyawan mendapat pelatihan. Pelatihan yang antara lain berisi pembentukan tanggung jawab, kepemimpinan, atau keberanian itu disesuaikan dengan lamanya waktu bekerja atau jabatannya di toko.
Edy, yang menjadi salah satu anggota Komisi SD Kristen 3 Klaten, juga menerapkan model pelatihan bagi guru-guru di sekolah yang sempat hampir bangkrut di awal tahun 1990-an itu.
Ia menyimpan keinginan agar pendidikan formal tidak hanya mengembangkan sisi kognitif siswa, tetapi juga tingkah laku siswa. Sebelum memberikan pendidikan kepada siswa, Edy hendak membantu pengembangan tingkah laku dan wawasan para guru.
Memberikan pemahaman tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK, misalnya, tidak cukup hanya dengan pelatihan dua-tiga hari saja. Guru harus memahami roh kurikulum ini dan menerapkan model perlakuan yang sesuai untuk transformasi pendidikan. Untuk itu, pelatihan tentang model KBK perlu diberikan secara intensif, papar Edy.
Untuk memfasilitasi perkembangan siswa, Edy juga ikut memfasilitasi beragamnya kegiatan ekstrakurikuler di SD tersebut, termasuk gamelan, tari tradisional, dan vokal grup. Selain pengembangan kepribadian siswa, kesenian tradisional yang ditawarkan lewat kegiatan ekstrakurikuler itu merupakan salah satu bentuk penyaluran keinginan Edy untuk melestarikan kesenian tradisional.
Masih dalam rangka pengembangan kesenian tradisional, Edy duduk di Komite Tradisional Dewan Kesenian Klaten. Dialah pencetus Festival Ketoprak Klaten yang diadakan bulan Mei sampai Juni 2005.
Di samping itu, ia ikut mensponsori berbagai peristiwa seni yang diadakan di Klaten. Sebagai gantinya, spanduk bertuliskan Amigo dipasang di sisi-sisi panggung seni.
Sumber : Kompas, Jumat, 9 September 2005
Erwan dan Radio di Pedalaman
Jun 20, 2009
Erwan dan Radio di Pedalaman
Oleh : C Anto Saptowalyono
Carilah jalan. Jikalau tak kau temukan jalan, maka buatlah jalan. Bagi Erwan, warga Desa Baun Bango, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, ungkapan ini seolah termodifikasi menjadi carilah hiburan. Jikalau tak kau temukan hiburan, maka buatlah hiburan.
Menyadari minimnya hiburan di pedalaman Katingan, bermodal uang Rp 6 juta Erwan mencoba merakit instalasi radio dan sekaligus pemancar tiang tunggal setinggi 21 meter. Maka jadilah radio Asbun FM dengan penyiar tunggal Wiwin, istri Erwan.
Meski bangunannya hanya berupa bilik kayu ukuran 4 x 3 meter, kemeriahan ruang siar Asbun FM yang mengudara di frekuensi 97,45 FM ini tidaklah kalah dibandingkan dengan stasiun radio di perkotaan.
Karena orang Dayak terkenal memiliki sifat riang—suka menyanyi dan menari—tak heran apabila stasiun radio mini berdaya jangkau empat desa (radius sekitar 10 kilometer persegi) milik Erwan ini tidak pernah surut dari pendengar dan pengunjung, khususnya di acara karaoke.
Pengunjung dapat menyanyikan lagu pilihannya di ruang siaran, yang kemudian langsung disiarkan ke pendengar di empat desa sekitar. Sekali menyanyi, tiap pengunjung dikenai tarif karaoke Rp 1.000 per lagu.
Karena di pedalaman sulit mencari sponsor atau iklan, Asbun FM menggantungkan pemasukannya dari acara karaoke di udara ini. Rating acara ini cukup menjanjikan karena dalam sehari minimal ada 50 pengunjung yang berkaraoke.
Artinya, dalam sehari pemasukan radio tersebut mencapai Rp 50.000 atau setara Rp 1,5 juta per bulan. Dengan biaya rekening listrik per bulan rata-rata Rp 40.000, Erwan optimistis masa depan Asbun FM miliknya ini cukup menjanjikan.
”Senang juga karena tiap hari radio ini dikunjungi puluhan warga pedalaman sehingga kami bisa menggembirakan warga yang kurang hiburan,” kata Erwan di Baun Bango ketika dikunjungi Kompas sekitar pertengahan bulan Desember lalu.
Pernah di satu malam sejumlah warga pedalaman Katingan dengan menumpang 21 perahu kelotok bersandar di sekitar bilik Asbun FM untuk menikmati karaoke, sambil melihat para penyanyi yang notabene adalah tetangganya sendiri.
Minim suplai listrik
Satu-satunya kendala radio Asbun FM di pedalaman, kata Erwan, adalah minimnya suplai daya listrik. Sebagai gambaran, setiap harinya listrik di Baun Bango hanya menyala dari pukul 17.00 hingga 05.00.
Tak kurang akal, Erwan menggunakan empat aki untuk menyimpan listrik. Namun, tak jarang radio Asbun FM nyaris tidak bisa melanjutkan siaran apabila di siang hari banyak yang menyanyi karaoke.
Pasalnya, di acara karaoke itu peranti elektronik, seperti mixer, VCD player, dan televisi yang menampilkan gambar dan teks lagu, berada pada posisi menyala. Apabila ini terjadi, para pengunjung terpaksa masuk dalam daftar tunggu untuk menyanyi di malam hari, saat listrik sudah menyala kembali.
Keberadaan radio di pedalaman seperti Asbun FM terbukti juga mampu menjadi jembatan informasi bagi masyarakat. Sebagai gambaran, koran-koran lokal di Kalteng baru sampai di Baun Bango setiap lima belas hari sekali. Karena itu, sekali datang langsung sebanyak 15 eksemplar. Otomatis, informasi yang diterima warga melalui surat kabar pun sudah tidak lagi hangat. Di celah inilah radio pedalaman seperti Asbun FM ambil peranan.
Tiap pagi Asbun FM menyiarkan berita TVRI secara relai. Demikian pula informasi dari instansi pemerintah atau lembaga lain untuk penduduk Kecamatan Kamipang sering disampaikan melalui corong radio pedalaman ini.
”Khusus untuk informasi bagi masyarakat yang sifatnya sosial, kami tidak memungut biaya. Kalau berita keluarga, kami tetapkan tarif Rp 5.000. Itu pun kami siarkan berulang kali,” kata lelaki kelahiran 13 Agustus 1967 ini.
Di siang hari juga ada acara pilihan pendengar. Pengunjung dapat membeli tiga lembar kartu atensi seharga Rp 1.000 yang dapat digunakan untuk memilih lagu dan alamat yang dituju. Kartu atensi ini bersifat seperti voucer belanja sehingga dapat digunakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
Namun, karena hanya dikelola Erwan dan istrinya, ragam acara selain karaoke di Asbun FM sangat fleksibel. Tak heran apabila di dinding bilik radio tersebut tercantum nota bertuliskan: acara dapat berubah tanpa harus adanya pemberitahuan dan jika dianggap perlu.
Meski saat ini hanya mampu melayani pendengar di radius empat desa wilayah Kecamatan Kamipang, eksistensi Asbun FM telah dikenal di luar daerah. Ketika mengunjungi Kecamatan Tasik Payawan yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Baun Bango, seorang warga berujar, ”Kalau pergi ke Baun Bango, sempatkan menyanyi di Asbun FM.”
Sumber : Kompas, Jumat, 23 Desember 2005
Oleh : C Anto Saptowalyono
Carilah jalan. Jikalau tak kau temukan jalan, maka buatlah jalan. Bagi Erwan, warga Desa Baun Bango, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, ungkapan ini seolah termodifikasi menjadi carilah hiburan. Jikalau tak kau temukan hiburan, maka buatlah hiburan.
Menyadari minimnya hiburan di pedalaman Katingan, bermodal uang Rp 6 juta Erwan mencoba merakit instalasi radio dan sekaligus pemancar tiang tunggal setinggi 21 meter. Maka jadilah radio Asbun FM dengan penyiar tunggal Wiwin, istri Erwan.
Meski bangunannya hanya berupa bilik kayu ukuran 4 x 3 meter, kemeriahan ruang siar Asbun FM yang mengudara di frekuensi 97,45 FM ini tidaklah kalah dibandingkan dengan stasiun radio di perkotaan.
Karena orang Dayak terkenal memiliki sifat riang—suka menyanyi dan menari—tak heran apabila stasiun radio mini berdaya jangkau empat desa (radius sekitar 10 kilometer persegi) milik Erwan ini tidak pernah surut dari pendengar dan pengunjung, khususnya di acara karaoke.
Pengunjung dapat menyanyikan lagu pilihannya di ruang siaran, yang kemudian langsung disiarkan ke pendengar di empat desa sekitar. Sekali menyanyi, tiap pengunjung dikenai tarif karaoke Rp 1.000 per lagu.
Karena di pedalaman sulit mencari sponsor atau iklan, Asbun FM menggantungkan pemasukannya dari acara karaoke di udara ini. Rating acara ini cukup menjanjikan karena dalam sehari minimal ada 50 pengunjung yang berkaraoke.
Artinya, dalam sehari pemasukan radio tersebut mencapai Rp 50.000 atau setara Rp 1,5 juta per bulan. Dengan biaya rekening listrik per bulan rata-rata Rp 40.000, Erwan optimistis masa depan Asbun FM miliknya ini cukup menjanjikan.
”Senang juga karena tiap hari radio ini dikunjungi puluhan warga pedalaman sehingga kami bisa menggembirakan warga yang kurang hiburan,” kata Erwan di Baun Bango ketika dikunjungi Kompas sekitar pertengahan bulan Desember lalu.
Pernah di satu malam sejumlah warga pedalaman Katingan dengan menumpang 21 perahu kelotok bersandar di sekitar bilik Asbun FM untuk menikmati karaoke, sambil melihat para penyanyi yang notabene adalah tetangganya sendiri.
Minim suplai listrik
Satu-satunya kendala radio Asbun FM di pedalaman, kata Erwan, adalah minimnya suplai daya listrik. Sebagai gambaran, setiap harinya listrik di Baun Bango hanya menyala dari pukul 17.00 hingga 05.00.
Tak kurang akal, Erwan menggunakan empat aki untuk menyimpan listrik. Namun, tak jarang radio Asbun FM nyaris tidak bisa melanjutkan siaran apabila di siang hari banyak yang menyanyi karaoke.
Pasalnya, di acara karaoke itu peranti elektronik, seperti mixer, VCD player, dan televisi yang menampilkan gambar dan teks lagu, berada pada posisi menyala. Apabila ini terjadi, para pengunjung terpaksa masuk dalam daftar tunggu untuk menyanyi di malam hari, saat listrik sudah menyala kembali.
Keberadaan radio di pedalaman seperti Asbun FM terbukti juga mampu menjadi jembatan informasi bagi masyarakat. Sebagai gambaran, koran-koran lokal di Kalteng baru sampai di Baun Bango setiap lima belas hari sekali. Karena itu, sekali datang langsung sebanyak 15 eksemplar. Otomatis, informasi yang diterima warga melalui surat kabar pun sudah tidak lagi hangat. Di celah inilah radio pedalaman seperti Asbun FM ambil peranan.
Tiap pagi Asbun FM menyiarkan berita TVRI secara relai. Demikian pula informasi dari instansi pemerintah atau lembaga lain untuk penduduk Kecamatan Kamipang sering disampaikan melalui corong radio pedalaman ini.
”Khusus untuk informasi bagi masyarakat yang sifatnya sosial, kami tidak memungut biaya. Kalau berita keluarga, kami tetapkan tarif Rp 5.000. Itu pun kami siarkan berulang kali,” kata lelaki kelahiran 13 Agustus 1967 ini.
Di siang hari juga ada acara pilihan pendengar. Pengunjung dapat membeli tiga lembar kartu atensi seharga Rp 1.000 yang dapat digunakan untuk memilih lagu dan alamat yang dituju. Kartu atensi ini bersifat seperti voucer belanja sehingga dapat digunakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
Namun, karena hanya dikelola Erwan dan istrinya, ragam acara selain karaoke di Asbun FM sangat fleksibel. Tak heran apabila di dinding bilik radio tersebut tercantum nota bertuliskan: acara dapat berubah tanpa harus adanya pemberitahuan dan jika dianggap perlu.
Meski saat ini hanya mampu melayani pendengar di radius empat desa wilayah Kecamatan Kamipang, eksistensi Asbun FM telah dikenal di luar daerah. Ketika mengunjungi Kecamatan Tasik Payawan yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Baun Bango, seorang warga berujar, ”Kalau pergi ke Baun Bango, sempatkan menyanyi di Asbun FM.”
Sumber : Kompas, Jumat, 23 Desember 2005
Evo Morales, Sang Presiden Rakyat
Jun 19, 2009
Evo Morales, Sang Presiden Rakyat
Oleh : DI
Pakaian resmi bagi Evo Morales adalah kemeja tanpa dasi dan jaket kulit warna coklat. Dia lebih merasa nyaman memimpin demonstrasi jalanan daripada memperdebatkan kesepakatan di koridor- koridor kekuasaan. Gaya bicaranya yang berapi-api tidak memerlukan naskah pidato.
Tanggal 22 Januari mendatang Morales akan dilantik menjadi Presiden Bolivia setelah memenangi pemilu 18 Desember dengan mendapatkan 54 persen suara, jumlah perolehan suara terbanyak dalam sejarah Bolivia dua dekade ini.
Dia naik ke kekuasaan sebagai orang luar bagi dunia politik negara itu dan sebagai presiden Indian pertama untuk memerintah negara di Pegunungan Andes yang 65 persen penduduknya orang asli, tetapi selama ini selalu diperintah orang-orang keturunan Eropa.
Kemenangannya itu menimbulkan kekhawatiran di Washington karena janji-janjinya menghentikan kampanye dukungan AS untuk memberantas tanaman koka yang dipakai membuat kokain serta untuk menasionalisasi cadangan minyak dan gas Bolivia.
Siapakah pemimpin rakyat yang bisa mendapatkan dukungan begitu besar, mengalahkan dengan telak Jorge Quiroga yang mantan presiden itu?
Juan Evo Morales Aima dilahirkan 26 Oktober 1959 di sebuah keluarga Indian Aymara di Orinoca, kota tambang di daerah Oruro. Pada awal 1980-an keluarganya, seperti banyak penduduk asli dataran tinggi, bermigrasi ke dataran rendah tropis di Bolivia Timur. Mereka menetap di Chapare, tempat mereka bertani, antara lain bertanam koka untuk diambil daunnya.
Semasa kanak-kanak Morales menggembalakan llama (binatang beban dari keluarga unta yang khas Amerika Selatan itu). Dia menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya dan mengatakan pendidikan berikut didapatnya dari apa yang dia sebut ”universitas kehidupan”, termasuk wajib militer pada usia 17 tahun.
Morales menjadi pemimpin gerakan cocaleros, federasi petani daun koka yang menentang upaya Pemerintah AS memberantas tanaman koka di Provinsi Chapare. Tahun 1995 dia mendirikan MAS (Movimiento al Socialismo/Gerakan ke Sosialisme), sebuah partai politik berbasis India yang menginginkan nasionalisasi industri, legalisasi daun koka, dan pembagian lebih adil sumber daya nasional.
Sebagai pemimpin cocaleros, Morales terpilih menjadi anggota DPR tahun 1997 mewakili Provinsi Chapare dan Carrasco, daerah Cochabamba. Dia mendapat 70 persen suara di distrik itu, perolehan suara tertinggi dari 68 wakil rakyat yang dipilih langsung dalam pemilu tersebut.
Tahun 2002 dia menjadi kandidat dalam pemilu presiden, menduduki tempat kedua, sebuah perolehan yang mengejutkan partai-partai tradisional Bolivia. Dalam pemilu Desember 2005 dia menang dengan gemilang, membuktikan bahwa suara rakyat akhirnya menentukan sehingga Bolivia untuk pertama kalinya mempunyai seorang presiden Indian.
Tak dapat diduga
Gaya aktivis jalanannya yang jauh berbeda dari politisi tradisional Bolivia itu membantu mendekatkan dirinya dengan mayoritas Indian miskin negerinya. Namun, hal itu juga bisa menjadi kelemahan begitu dia menjadi presiden.
”Evo Morales adalah politikus yang tak dapat diduga,” kata Henry Oporto, analis politik Bolivia. ”Dia seseorang yang bisa mengatakan hal-hal tak terduga tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Sayangnya, saya rasa ini tak akan membantunya dalam perannya sebagai presiden,” ujarnya lebih lanjut.
Sebagai presiden dia akan menghadapi percekcokan sosial dan politik dari sebuah negara yang telah mengalami lebih dari 200 kudeta, kontrakudeta, dan pemberontakan jalanan dalam 180 tahun merdeka.
Morales memimpin demonstrasi kaum Indian yang menggulingkan dua presiden sejak 2003 dengan menggunakan blokade jalan raya dan demonstrasi massal. Kini Morales menjadi penguasa, berada di bagian dalam pemerintahan, di mana salah langkah bisa menimbulkan protes jalanan serupa.
Urusan mengenai tanaman koka adalah salah satu hal yang bakal menjadi duri dalam daging bagi AS. Orang Indian Amerika Selatan memakai daun koka selama ribuan tahun untuk keperluan pengobatan dan ritual.
Namun, karena daun itu juga menjadi bahan dasar kokain, Pemerintah AS telah menghabiskan jutaan dollar AS untuk berupaya memberantas tanaman tersebut di Bolivia dan negara-negara Amerika Latin lain.
Berulang kali dia mengatakan akan melegalisasi koka, menentang upaya eradikasi oleh AS itu. Namun, jika sebelumnya dia dengan berapi-api mengatakan akan memperjuangkan nasib cocaleros, akhir-akhir ini dia menambahkan bahwa dia menentang perdagangan kokain, salah satu langkah yang membuat para analis menilai aktivis jalanan itu memperlunak sikapnya.
Bagaimana dia akan memerintah masih menjadi tanda tanya besar. Belum juga diketahui apakah dia benar akan menasionalisasi sektor minyak dan gas. Sekarang pun, bahkan apakah dia akan memakai dasi untuk pelantikannya, masih sebuah misteri. Yang jelas, 8,5 juta rakyat Bolivia meletakkan harapan mereka di pundaknya.(AP/AFP/Reuters/BBCNews/DI)
Sumber : Kompas, Rabu, 4 Januari 2006
Oleh : DI
Pakaian resmi bagi Evo Morales adalah kemeja tanpa dasi dan jaket kulit warna coklat. Dia lebih merasa nyaman memimpin demonstrasi jalanan daripada memperdebatkan kesepakatan di koridor- koridor kekuasaan. Gaya bicaranya yang berapi-api tidak memerlukan naskah pidato.
Tanggal 22 Januari mendatang Morales akan dilantik menjadi Presiden Bolivia setelah memenangi pemilu 18 Desember dengan mendapatkan 54 persen suara, jumlah perolehan suara terbanyak dalam sejarah Bolivia dua dekade ini.
Dia naik ke kekuasaan sebagai orang luar bagi dunia politik negara itu dan sebagai presiden Indian pertama untuk memerintah negara di Pegunungan Andes yang 65 persen penduduknya orang asli, tetapi selama ini selalu diperintah orang-orang keturunan Eropa.
Kemenangannya itu menimbulkan kekhawatiran di Washington karena janji-janjinya menghentikan kampanye dukungan AS untuk memberantas tanaman koka yang dipakai membuat kokain serta untuk menasionalisasi cadangan minyak dan gas Bolivia.
Siapakah pemimpin rakyat yang bisa mendapatkan dukungan begitu besar, mengalahkan dengan telak Jorge Quiroga yang mantan presiden itu?
Juan Evo Morales Aima dilahirkan 26 Oktober 1959 di sebuah keluarga Indian Aymara di Orinoca, kota tambang di daerah Oruro. Pada awal 1980-an keluarganya, seperti banyak penduduk asli dataran tinggi, bermigrasi ke dataran rendah tropis di Bolivia Timur. Mereka menetap di Chapare, tempat mereka bertani, antara lain bertanam koka untuk diambil daunnya.
Semasa kanak-kanak Morales menggembalakan llama (binatang beban dari keluarga unta yang khas Amerika Selatan itu). Dia menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya dan mengatakan pendidikan berikut didapatnya dari apa yang dia sebut ”universitas kehidupan”, termasuk wajib militer pada usia 17 tahun.
Morales menjadi pemimpin gerakan cocaleros, federasi petani daun koka yang menentang upaya Pemerintah AS memberantas tanaman koka di Provinsi Chapare. Tahun 1995 dia mendirikan MAS (Movimiento al Socialismo/Gerakan ke Sosialisme), sebuah partai politik berbasis India yang menginginkan nasionalisasi industri, legalisasi daun koka, dan pembagian lebih adil sumber daya nasional.
Sebagai pemimpin cocaleros, Morales terpilih menjadi anggota DPR tahun 1997 mewakili Provinsi Chapare dan Carrasco, daerah Cochabamba. Dia mendapat 70 persen suara di distrik itu, perolehan suara tertinggi dari 68 wakil rakyat yang dipilih langsung dalam pemilu tersebut.
Tahun 2002 dia menjadi kandidat dalam pemilu presiden, menduduki tempat kedua, sebuah perolehan yang mengejutkan partai-partai tradisional Bolivia. Dalam pemilu Desember 2005 dia menang dengan gemilang, membuktikan bahwa suara rakyat akhirnya menentukan sehingga Bolivia untuk pertama kalinya mempunyai seorang presiden Indian.
Tak dapat diduga
Gaya aktivis jalanannya yang jauh berbeda dari politisi tradisional Bolivia itu membantu mendekatkan dirinya dengan mayoritas Indian miskin negerinya. Namun, hal itu juga bisa menjadi kelemahan begitu dia menjadi presiden.
”Evo Morales adalah politikus yang tak dapat diduga,” kata Henry Oporto, analis politik Bolivia. ”Dia seseorang yang bisa mengatakan hal-hal tak terduga tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Sayangnya, saya rasa ini tak akan membantunya dalam perannya sebagai presiden,” ujarnya lebih lanjut.
Sebagai presiden dia akan menghadapi percekcokan sosial dan politik dari sebuah negara yang telah mengalami lebih dari 200 kudeta, kontrakudeta, dan pemberontakan jalanan dalam 180 tahun merdeka.
Morales memimpin demonstrasi kaum Indian yang menggulingkan dua presiden sejak 2003 dengan menggunakan blokade jalan raya dan demonstrasi massal. Kini Morales menjadi penguasa, berada di bagian dalam pemerintahan, di mana salah langkah bisa menimbulkan protes jalanan serupa.
Urusan mengenai tanaman koka adalah salah satu hal yang bakal menjadi duri dalam daging bagi AS. Orang Indian Amerika Selatan memakai daun koka selama ribuan tahun untuk keperluan pengobatan dan ritual.
Namun, karena daun itu juga menjadi bahan dasar kokain, Pemerintah AS telah menghabiskan jutaan dollar AS untuk berupaya memberantas tanaman tersebut di Bolivia dan negara-negara Amerika Latin lain.
Berulang kali dia mengatakan akan melegalisasi koka, menentang upaya eradikasi oleh AS itu. Namun, jika sebelumnya dia dengan berapi-api mengatakan akan memperjuangkan nasib cocaleros, akhir-akhir ini dia menambahkan bahwa dia menentang perdagangan kokain, salah satu langkah yang membuat para analis menilai aktivis jalanan itu memperlunak sikapnya.
Bagaimana dia akan memerintah masih menjadi tanda tanya besar. Belum juga diketahui apakah dia benar akan menasionalisasi sektor minyak dan gas. Sekarang pun, bahkan apakah dia akan memakai dasi untuk pelantikannya, masih sebuah misteri. Yang jelas, 8,5 juta rakyat Bolivia meletakkan harapan mereka di pundaknya.(AP/AFP/Reuters/BBCNews/DI)
Sumber : Kompas, Rabu, 4 Januari 2006
Eden Arifin : Pelukis Arifin Menemukan SMB II
Pelukis Arifin Menemukan SMB II
Oleh : Djoko Poernomo
Melukis wajah seseorang hanya berdasarkan data minim bukan merupakan pekerjaan gampang. Namun, hal itu mampu dilakoni Eden bin Nur Arifin (61) alias Eden Arifin, pelukis senior asal Palembang, Sumatera Selatan.
Eden dalam waktu 22 hari bisa menciptakan wajah penguasa Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II—memerintah tahun 1774-1803—ke atas kanvas secara pas. Lukisan wajah SMB II karya Eden itulah yang kini diakui banyak pihak.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sebagai pemesan lukisan, cuma menyertakan data SMB II menyangkut usia, bijaksana, tampan, dan gagah berani.
â€Enam hari pertama saya habiskan untuk membuat sketsa di atas kertas,†tutur Eden, bapak enam anak dan kakek enam cucu itu. Di sela-sela pencarian wajah SMB II itu ia sempat membaca buku sejarah tentang sepak terjang SMB II melawan Inggris dan Belanda pada abad ke-17. Hingga hari ketujuh pun apa yang ia cari belum juga ketemu.
Pada hari ke-12 Eden mencoba membuat sketsa lagi berdasarkan keterangan kerabat dekat SMB II. â€Sejak itu tangan saya merasa ringan saat menggoreskan kuas. Seolah ada yang membimbing perasaan dan pikiran untuk segera menyelesaikan lukisan yang hanya tersisa 10 hari...,†katanya.
Permukaan kanvas tertutup cat pada hari ke-13. Namun, sosok SMB II baru muncul pada hari ke-17 dengan rambut gondrong sebatas bahu. Sehari kemudian Eden melengkapi dengan pernik-pernik, semisal tanjak kepudang (tutup kepala), baju jubah kelamkari, keris kepala burung dari gading, badong, serta baju tekep dado (baju dalam) yang berhiaskan dua kalimat syahadat dalam huruf Arab.
Setelah pekerjaan ini dirasakan cukup, Eden melangkah ke pekerjaan berikut, yakni melengkapi latar gambar yang terinspirasi dari peperangan loji (kantor dagang) di Sungai Aur, Palembang, ketika SMB II berperang melawan Belanda, 1811.
Akan tetapi, kata Eden lirih, sosok SMB II yang berambut gondrong memperoleh banyak kritik dari seniman setempat yang sengaja ia undang untuk memberikan penilaian akhir sebelum gambar itu diserahkan kepada pihak pemesan.
Rambut gondrong memberi kesan SMB II garang dan kejam, padahal tidak demikian. Dalam waktu singkat Eden mengubah rambut gondrong SMB II menjadi pendek, seperti terlihat dalam gambar sekarang ini.
SMB II sendiri naik takhta menggantikan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin. Ketika naik takhta, ia sudah siap memerintah Kesultanan Palembang Darussalam dengan segala permasalahan menghadapi Inggris dan Belanda.
Bambang Budi Utomo dari Puslitbang Arkeologi Nasional mencatat, SMB II wafat dalam pengasingan di Ternate pada akhir September 1852 (Kompas 21/11).
Ekspresi
Ada empat pelukis lain yang diminta menggambar SMB II. Namun, berdasarkan pemenuhan semua persyaratan, semisal ekspresi, ciri khas muka, watak dan mental, kemudian usia, serta aksesori yang dikenakan SMB II, karya Eden dinyatakan sebagai peraih nilai tertinggi. Atas karyanya ini Eden memperoleh penghargaan uang yang besarnya sangat relatif.
â€Yang memotivasi bukan uang, tetapi pengakuan dari masyarakat luas bahwa gambar SMB II lahir dari tangan saya,†tutur Eden yang sebulan terakhir banyak berada di Jakarta.
Lukisan karya Eden pun berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Selatan 5 November 1982 ditetapkan sebagai gambar resmi SMB II. Dua tahun berikutnya, tepatnya 29 Oktober 1984, SMB II diputuskan menjadi pahlawan nasional. Sejak itulah Eden Arifin, pelukis yang mewarisi bakat seni dari almarhum ayahnya, Nur Arifin, dikenal sebagai pencipta gambar pahlawan nasional SMB II.
Wajah SMB II yang dibuat Eden kini dipasang di Kantor Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sementara gambar duplikasi dipajang di gedung-gedung di provinsi yang sama, termasuk di bandar udara internasional di Palembang. â€Di dunia cuma ada satu lukisan SMB II,†kata Eden menegaskan.
Band
Eden Arifin remaja menyukai berbagai bentuk kesenian. Bidang fotografi pernah dia geluti, demikian pula bermusik di bawah bendera The Little Poor Brothers Band di Kota Palembang.
Pada tahun 1966 Eden yang menikahi gadis asli Palembang, Murniati, mulai menekuni seni lukis, diawali kumpul bersama para seniman di sebuah sanggar di kawasan Pasar Tengkuruk 16 Ilir, Palembang. Beberapa sanggar pernah ia masuki sampai akhirnya mendirikan sanggar sendiri di kawasan Kebon Gede, Palembang, yang diberi nama Violet pada tahun 1973. Gaya lukisan Eden Arifin adalah realis.
Dia antara lain pernah menjadi karyawan Departemen Agama, Departemen Penerangan, guru empu di SMSR Palembang, serta mengajar di beberapa sekolah swasta.
Tahun 2001 Eden memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan atas kreativitas, produktivitas, dan dedikasi terhadap karya seni lukis.
â€Untuk profesi seperti saya tidak ada kamus pensiun,†ujar Eden mantap. Ia melukis selama 39 tahun dan ribuan lembar lukisan potret diri telah ia hasilkan. Ia pun akan terus berkarya.
Sumber : Kompas, Kamis, 12 Januari 2006
Oleh : Djoko Poernomo
Melukis wajah seseorang hanya berdasarkan data minim bukan merupakan pekerjaan gampang. Namun, hal itu mampu dilakoni Eden bin Nur Arifin (61) alias Eden Arifin, pelukis senior asal Palembang, Sumatera Selatan.
Eden dalam waktu 22 hari bisa menciptakan wajah penguasa Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II—memerintah tahun 1774-1803—ke atas kanvas secara pas. Lukisan wajah SMB II karya Eden itulah yang kini diakui banyak pihak.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sebagai pemesan lukisan, cuma menyertakan data SMB II menyangkut usia, bijaksana, tampan, dan gagah berani.
â€Enam hari pertama saya habiskan untuk membuat sketsa di atas kertas,†tutur Eden, bapak enam anak dan kakek enam cucu itu. Di sela-sela pencarian wajah SMB II itu ia sempat membaca buku sejarah tentang sepak terjang SMB II melawan Inggris dan Belanda pada abad ke-17. Hingga hari ketujuh pun apa yang ia cari belum juga ketemu.
Pada hari ke-12 Eden mencoba membuat sketsa lagi berdasarkan keterangan kerabat dekat SMB II. â€Sejak itu tangan saya merasa ringan saat menggoreskan kuas. Seolah ada yang membimbing perasaan dan pikiran untuk segera menyelesaikan lukisan yang hanya tersisa 10 hari...,†katanya.
Permukaan kanvas tertutup cat pada hari ke-13. Namun, sosok SMB II baru muncul pada hari ke-17 dengan rambut gondrong sebatas bahu. Sehari kemudian Eden melengkapi dengan pernik-pernik, semisal tanjak kepudang (tutup kepala), baju jubah kelamkari, keris kepala burung dari gading, badong, serta baju tekep dado (baju dalam) yang berhiaskan dua kalimat syahadat dalam huruf Arab.
Setelah pekerjaan ini dirasakan cukup, Eden melangkah ke pekerjaan berikut, yakni melengkapi latar gambar yang terinspirasi dari peperangan loji (kantor dagang) di Sungai Aur, Palembang, ketika SMB II berperang melawan Belanda, 1811.
Akan tetapi, kata Eden lirih, sosok SMB II yang berambut gondrong memperoleh banyak kritik dari seniman setempat yang sengaja ia undang untuk memberikan penilaian akhir sebelum gambar itu diserahkan kepada pihak pemesan.
Rambut gondrong memberi kesan SMB II garang dan kejam, padahal tidak demikian. Dalam waktu singkat Eden mengubah rambut gondrong SMB II menjadi pendek, seperti terlihat dalam gambar sekarang ini.
SMB II sendiri naik takhta menggantikan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin. Ketika naik takhta, ia sudah siap memerintah Kesultanan Palembang Darussalam dengan segala permasalahan menghadapi Inggris dan Belanda.
Bambang Budi Utomo dari Puslitbang Arkeologi Nasional mencatat, SMB II wafat dalam pengasingan di Ternate pada akhir September 1852 (Kompas 21/11).
Ekspresi
Ada empat pelukis lain yang diminta menggambar SMB II. Namun, berdasarkan pemenuhan semua persyaratan, semisal ekspresi, ciri khas muka, watak dan mental, kemudian usia, serta aksesori yang dikenakan SMB II, karya Eden dinyatakan sebagai peraih nilai tertinggi. Atas karyanya ini Eden memperoleh penghargaan uang yang besarnya sangat relatif.
â€Yang memotivasi bukan uang, tetapi pengakuan dari masyarakat luas bahwa gambar SMB II lahir dari tangan saya,†tutur Eden yang sebulan terakhir banyak berada di Jakarta.
Lukisan karya Eden pun berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Selatan 5 November 1982 ditetapkan sebagai gambar resmi SMB II. Dua tahun berikutnya, tepatnya 29 Oktober 1984, SMB II diputuskan menjadi pahlawan nasional. Sejak itulah Eden Arifin, pelukis yang mewarisi bakat seni dari almarhum ayahnya, Nur Arifin, dikenal sebagai pencipta gambar pahlawan nasional SMB II.
Wajah SMB II yang dibuat Eden kini dipasang di Kantor Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sementara gambar duplikasi dipajang di gedung-gedung di provinsi yang sama, termasuk di bandar udara internasional di Palembang. â€Di dunia cuma ada satu lukisan SMB II,†kata Eden menegaskan.
Band
Eden Arifin remaja menyukai berbagai bentuk kesenian. Bidang fotografi pernah dia geluti, demikian pula bermusik di bawah bendera The Little Poor Brothers Band di Kota Palembang.
Pada tahun 1966 Eden yang menikahi gadis asli Palembang, Murniati, mulai menekuni seni lukis, diawali kumpul bersama para seniman di sebuah sanggar di kawasan Pasar Tengkuruk 16 Ilir, Palembang. Beberapa sanggar pernah ia masuki sampai akhirnya mendirikan sanggar sendiri di kawasan Kebon Gede, Palembang, yang diberi nama Violet pada tahun 1973. Gaya lukisan Eden Arifin adalah realis.
Dia antara lain pernah menjadi karyawan Departemen Agama, Departemen Penerangan, guru empu di SMSR Palembang, serta mengajar di beberapa sekolah swasta.
Tahun 2001 Eden memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan atas kreativitas, produktivitas, dan dedikasi terhadap karya seni lukis.
â€Untuk profesi seperti saya tidak ada kamus pensiun,†ujar Eden mantap. Ia melukis selama 39 tahun dan ribuan lembar lukisan potret diri telah ia hasilkan. Ia pun akan terus berkarya.
Sumber : Kompas, Kamis, 12 Januari 2006
Ellen Johnson Sirleaf : Sirleaf Mengobati Luka Liberia
Sirleaf Mengobati Luka Liberia
Oleh : Luki Aulia
Tanggal 23 November 2005 menjadi hari bersejarah bagi rakyat Liberia. Ellen Johnson Sirleaf (67) dinyatakan menang pemilu dan menjadi presiden perempuan pertama di Liberia bahkan di Afrika. Sirleaf berhasil melawan arus dominasi laki-laki di dunia politik Afrika dan membuka peluang perempuan Afrika untuk terjun ke dunia politik.
Kesuksesan Sirleaf ini tidak dengan mudah diperoleh. Selama ini Sirleaf dikenal sebagai ”Iron Lady” karena berkeinginan kuat dan gigih memperjuangkan apa yang diyakini benar. Karena sikap kerasnya ini Sirleaf pernah dua kali dijebloskan ke penjara selama 10 tahun oleh rezim militer Samuel Doe dan mendiang Presiden Charles Taylor. Keduanya dikenal sebagai diktator yang memimpin Liberia dengan brutal.
Dalam kepemimpinan mereka, selama 25 tahun Liberia tercabik-cabik akibat perang saudara yang berakhir tahun 2003. Jumlah korban akibat perang saudara itu mencapai 250.000 orang. Tidak tahan dengan rezim Doe dan Taylor, Sirleaf memilih menjadi oposisi. Padahal, awalnya Sirleaf mendukung Taylor yang memimpin pemberontakan untuk menggulingkan Doe. Tahun 1980-an untuk pertama kalinya Sirleaf dipenjara oleh Doe gara-gara kerap mengkritik tajam rezim Doe.
Segera setelah Doe terjungkal dan dibunuh, Taylor diangkat menjadi presiden. Ternyata gaya pemerintahan Taylor tidak jauh berbeda dengan Doe. Sirleaf berbalik menyerang Taylor. Akibatnya, Sirleaf kembali masuk penjara karena dianggap berkhianat. Setelah bebas dari penjara, mantan menteri keuangan pada masa kepemimpinan Presiden William Tolbert tahun 1970-an itu mengasingkan diri sekaligus mempersiapkan diri untuk kembali terjun ke politik di negara republik tertua di Afrika itu.
Tahun 1992 Sirleaf kembali muncul ke publik dengan menjadi ekonom untuk Bank Dunia dan Citibank di Afrika. Sirleaf kemudian mencurahkan sebagian besar waktunya mewakili Liberia di berbagai institusi keuangan regional dan internasional, termasuk di antaranya International Monetary Fund (IMF) dan African Development Bank. Selain menjadi ekonom, tahun 1997 Sirleaf kembali naik ke panggung politik dan berhadapan dengan Taylor pada pemilu Liberia, namun Sirleaf kalah.
Sirleaf kembali maju mencalonkan diri di pemilu 2005. Kali ini ia mendapat persaingan ketat dari bintang sepak bola George Weah. Namun, dengan payung Partai Persatuan, Sirleaf memenangi pemilu dengan jumlah perolehan 192.326 suara pada putaran pertama dan 478.526 suara (59,4 persen) pada putaran kedua.
Selama kampanye, Sirleaf menyatakan, jika ia menang, itu akan membangkitkan semangat perempuan di seluruh Afrika untuk terjun ke dunia politik dan meraih jabatan politik yang setinggi-tingginya. Namun, banyak pihak menilai Sirleaf akan menghadapi tantangan terberat di daerah pedesaan yang tradisi dominasi laki-lakinya masih kuat. Banyak yang menilai sulit bagi perempuan untuk menghadapi pemberontak di Liberia dan menyelesaikan konflik etnis.
Tantangan itu memang tidak akan mudah. Selain harus menyelesaikan konflik dan mengupayakan perdamaian, Sirleaf juga harus membangun kembali Liberia yang porak-poranda akibat perang. Mulai dari infrastruktur yang hancur total hingga persoalan minimnya persediaan air bersih dan listrik. Fasilitas kesehatan dan pendidikan juga masih terbatas, apalagi pendidikan untuk anak perempuan.
Mengantisipasi agar tidak lagi terjadi perang saudara, Sirleaf berjanji meninjau kembali sistem kepemilikan tanah agar tidak lagi menjadi sumber konflik antarkelompok etnis Liberia. Saat ini mayoritas tanah di Liberia diatur pemimpin lokal. ”Tantangan terbesar itu mengupayakan perdamaian dan stabilitas. Kita perlu mengubah citra Liberia dari negara yang bermasalah dan gagal menjadi negara yang memimpin Afrika,” kata Sirleaf.
BBC News menyebutkan, Sirleaf berniat menjadi presiden karena ingin memasukkan unsur keibuan dan emosi sebagai cara menyembuhkan Liberia yang hancur akibat perang saudara selama 25 tahun. ”Dulu saya dianggap orang keras, disiplin, dan berkeinginan kuat. Tetapi, sekarang saya akan menjadi ibu bagi Liberia. Saya ingin menyembuhkan luka negeri ini,” kata Sirleaf.
Perempuan lulusan Harvard University yang memiliki empat putra dan delapan cucu itu juga pernah bekerja di UN Nations Development Programme (UNDP), Yayasan Soros, dan lembaga International Crisis Group (ICG). ”Saya selalu berusaha menjadi diri sendiri. Mengisi hidup saya dengan berbagai kegiatan dan memperjuangkan apa yang saya yakini benar,” kata Sirleaf.
Lahir di Monrovia, 29 Oktober 1938, Sirleaf adalah anak warga asli koloni Liberia (mantan budak Afrika dari AS) yang dikenal sebagai Americo-Liberians. Tahun 1948-1955 Sirleaf menuntut ilmu ekonomi di College of West Africa di Monrovia. Setelah menikahi James Sirleaf pada usia 17 tahun, ia pindah ke AS (1961) untuk melanjutkan studi dan memperoleh gelar sarjana dari University of Colorado. Tahun 1969-1971 ia belajar ekonomi di Harvard University dan memperoleh gelar master bidang administrasi publik. Sirleaf memutuskan kembali ke Liberia dan bekerja dengan Tolbert. ”Liberia butuh identitas nasional untuk menyatukan kita. Selama ini kita menjadi anak tiri AS, tidak pernah menjadi Afrika yang seutuhnya,” kata Sirleaf.
Liberia terbentuk menjadi koloni setelah AS menghapuskan perbudakan tahun 1822. Konflik dimulai tahun 1980 ketika tentara Liberia pimpinan Doe menggulingkan Tolbert yang kemudian dibunuh di rumah dinasnya. Kemudian Doe memimpin. Akhir 1989, oposisi memimpin revolusi untuk menggulingkan Doe.
Kondisi yang terus-menerus tidak menentu itu semakin membuat Liberia terperosok. Namun, kini Liberia memiliki secercah harapan. Mungkin Liberia membutuhkan sentuhan perempuan untuk menyelesaikan segala konflik kekerasan. ”Saya beruntung dan bangga menjadi perempuan. Kini saatnya bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang mereka miliki dan bisa lakukan,” kata Sirleaf.
Sumber : Kompas, RAbu, 18 Januari 2006
Oleh : Luki Aulia
Tanggal 23 November 2005 menjadi hari bersejarah bagi rakyat Liberia. Ellen Johnson Sirleaf (67) dinyatakan menang pemilu dan menjadi presiden perempuan pertama di Liberia bahkan di Afrika. Sirleaf berhasil melawan arus dominasi laki-laki di dunia politik Afrika dan membuka peluang perempuan Afrika untuk terjun ke dunia politik.
Kesuksesan Sirleaf ini tidak dengan mudah diperoleh. Selama ini Sirleaf dikenal sebagai ”Iron Lady” karena berkeinginan kuat dan gigih memperjuangkan apa yang diyakini benar. Karena sikap kerasnya ini Sirleaf pernah dua kali dijebloskan ke penjara selama 10 tahun oleh rezim militer Samuel Doe dan mendiang Presiden Charles Taylor. Keduanya dikenal sebagai diktator yang memimpin Liberia dengan brutal.
Dalam kepemimpinan mereka, selama 25 tahun Liberia tercabik-cabik akibat perang saudara yang berakhir tahun 2003. Jumlah korban akibat perang saudara itu mencapai 250.000 orang. Tidak tahan dengan rezim Doe dan Taylor, Sirleaf memilih menjadi oposisi. Padahal, awalnya Sirleaf mendukung Taylor yang memimpin pemberontakan untuk menggulingkan Doe. Tahun 1980-an untuk pertama kalinya Sirleaf dipenjara oleh Doe gara-gara kerap mengkritik tajam rezim Doe.
Segera setelah Doe terjungkal dan dibunuh, Taylor diangkat menjadi presiden. Ternyata gaya pemerintahan Taylor tidak jauh berbeda dengan Doe. Sirleaf berbalik menyerang Taylor. Akibatnya, Sirleaf kembali masuk penjara karena dianggap berkhianat. Setelah bebas dari penjara, mantan menteri keuangan pada masa kepemimpinan Presiden William Tolbert tahun 1970-an itu mengasingkan diri sekaligus mempersiapkan diri untuk kembali terjun ke politik di negara republik tertua di Afrika itu.
Tahun 1992 Sirleaf kembali muncul ke publik dengan menjadi ekonom untuk Bank Dunia dan Citibank di Afrika. Sirleaf kemudian mencurahkan sebagian besar waktunya mewakili Liberia di berbagai institusi keuangan regional dan internasional, termasuk di antaranya International Monetary Fund (IMF) dan African Development Bank. Selain menjadi ekonom, tahun 1997 Sirleaf kembali naik ke panggung politik dan berhadapan dengan Taylor pada pemilu Liberia, namun Sirleaf kalah.
Sirleaf kembali maju mencalonkan diri di pemilu 2005. Kali ini ia mendapat persaingan ketat dari bintang sepak bola George Weah. Namun, dengan payung Partai Persatuan, Sirleaf memenangi pemilu dengan jumlah perolehan 192.326 suara pada putaran pertama dan 478.526 suara (59,4 persen) pada putaran kedua.
Selama kampanye, Sirleaf menyatakan, jika ia menang, itu akan membangkitkan semangat perempuan di seluruh Afrika untuk terjun ke dunia politik dan meraih jabatan politik yang setinggi-tingginya. Namun, banyak pihak menilai Sirleaf akan menghadapi tantangan terberat di daerah pedesaan yang tradisi dominasi laki-lakinya masih kuat. Banyak yang menilai sulit bagi perempuan untuk menghadapi pemberontak di Liberia dan menyelesaikan konflik etnis.
Tantangan itu memang tidak akan mudah. Selain harus menyelesaikan konflik dan mengupayakan perdamaian, Sirleaf juga harus membangun kembali Liberia yang porak-poranda akibat perang. Mulai dari infrastruktur yang hancur total hingga persoalan minimnya persediaan air bersih dan listrik. Fasilitas kesehatan dan pendidikan juga masih terbatas, apalagi pendidikan untuk anak perempuan.
Mengantisipasi agar tidak lagi terjadi perang saudara, Sirleaf berjanji meninjau kembali sistem kepemilikan tanah agar tidak lagi menjadi sumber konflik antarkelompok etnis Liberia. Saat ini mayoritas tanah di Liberia diatur pemimpin lokal. ”Tantangan terbesar itu mengupayakan perdamaian dan stabilitas. Kita perlu mengubah citra Liberia dari negara yang bermasalah dan gagal menjadi negara yang memimpin Afrika,” kata Sirleaf.
BBC News menyebutkan, Sirleaf berniat menjadi presiden karena ingin memasukkan unsur keibuan dan emosi sebagai cara menyembuhkan Liberia yang hancur akibat perang saudara selama 25 tahun. ”Dulu saya dianggap orang keras, disiplin, dan berkeinginan kuat. Tetapi, sekarang saya akan menjadi ibu bagi Liberia. Saya ingin menyembuhkan luka negeri ini,” kata Sirleaf.
Perempuan lulusan Harvard University yang memiliki empat putra dan delapan cucu itu juga pernah bekerja di UN Nations Development Programme (UNDP), Yayasan Soros, dan lembaga International Crisis Group (ICG). ”Saya selalu berusaha menjadi diri sendiri. Mengisi hidup saya dengan berbagai kegiatan dan memperjuangkan apa yang saya yakini benar,” kata Sirleaf.
Lahir di Monrovia, 29 Oktober 1938, Sirleaf adalah anak warga asli koloni Liberia (mantan budak Afrika dari AS) yang dikenal sebagai Americo-Liberians. Tahun 1948-1955 Sirleaf menuntut ilmu ekonomi di College of West Africa di Monrovia. Setelah menikahi James Sirleaf pada usia 17 tahun, ia pindah ke AS (1961) untuk melanjutkan studi dan memperoleh gelar sarjana dari University of Colorado. Tahun 1969-1971 ia belajar ekonomi di Harvard University dan memperoleh gelar master bidang administrasi publik. Sirleaf memutuskan kembali ke Liberia dan bekerja dengan Tolbert. ”Liberia butuh identitas nasional untuk menyatukan kita. Selama ini kita menjadi anak tiri AS, tidak pernah menjadi Afrika yang seutuhnya,” kata Sirleaf.
Liberia terbentuk menjadi koloni setelah AS menghapuskan perbudakan tahun 1822. Konflik dimulai tahun 1980 ketika tentara Liberia pimpinan Doe menggulingkan Tolbert yang kemudian dibunuh di rumah dinasnya. Kemudian Doe memimpin. Akhir 1989, oposisi memimpin revolusi untuk menggulingkan Doe.
Kondisi yang terus-menerus tidak menentu itu semakin membuat Liberia terperosok. Namun, kini Liberia memiliki secercah harapan. Mungkin Liberia membutuhkan sentuhan perempuan untuk menyelesaikan segala konflik kekerasan. ”Saya beruntung dan bangga menjadi perempuan. Kini saatnya bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang mereka miliki dan bisa lakukan,” kata Sirleaf.
Sumber : Kompas, RAbu, 18 Januari 2006
Embit Kartadarma : Peneliti Keamanan Pangan
Peneliti Keamanan Pangan
Oleh : Yenti Aprianti
Ia menyayangkan hingga kini bangsa ini masih berkutat dengan persoalan penggunaan zat-zat berbahaya dalam makanan. ”Sepertinya semua yang sudah kami lakukan cuma dianggap angin lalu,” kata Dr Embit Kartadarma (64), dosen dan ahli teknologi makanan dari Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.
Ia telah melakukan penelitian dan menyosialisasikan zat-zat alternatif pengganti zat-zat berbahaya kepada masyarakat sejak tahun 1970-an. Embit sering kali mendatangi pasar-pasar untuk mencari sampel. Jika dari penelitian di laboratorium ia menemukan zat mencurigakan pada sebuah makanan, ia pun segera menelusuri asal-muasal, termasuk mencari produsennya.
Di lapangan Embit sering kali berpura-pura sebagai pembeli biasa, agar lebih leluasa melakukan wawancara dan pedagang menjawab pertanyaan dengan lebih terus-terang.
Dalam perjalanannya meneliti, banyak zat berbahaya ia temukan dijadikan bahan untuk memproduksi makanan. Zat berbahaya itu bisa berupa pengawet, zat warna, maupun insektisida yang sudah dinyatakan berbahaya dalam perundang-undangan tentang pangan di Indonesia. Di antara makanan-makanan tersebut, banyak yang sangat populer dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Dalam hal ini, Embit merasa harus bersikap hati-hati. Sebab, biasanya industri makanan yang memproduksi makanan mengandung zat berbahaya melibatkan banyak orang, termasuk rakyat kecil yang membutuhkan penghidupan.
”Masih banyak rakyat Indonesia yang belum sejahtera sehingga bisa makan saja sudah untung. Mereka tidak berpikir lagi soal pentingnya makanan yang aman,” ujar Embit. Jalan tengah yang biasa ia lakukan adalah melaporkan penemuannya kepada dinas terkait yang lebih berwenang agar segera ditindaklanjuti.
Embit menilai pemerintah kurang bersungguh-sungguh memberantas penggunaan zat berbahaya pada makanan dan menyosialisasikan pengganti dari zat berbahaya yang termasuk aman. Pemerintah selalu berdalih tidak punya cukup anggaran untuk memberantasnya. Sementara produsen makanan tidak mau berusaha lebih keras mencari pengganti zat berbahaya dengan alasan kalaupun ada zat pengganti, harganya lebih mahal dan sulit didapat.
”Biasanya semua zat itu bisa dibeli di pedagang besar farmasi yang ada di setiap kota,” kata Embit, yang ikut menyusun buku Kodeks Makanan Indonesia.
Di toko farmasi itu, biasanya zat-zat tersebut dibagi dalam empat kelas, zat untuk kelas teknik, makanan, obat-obatan, dan zat murni untuk penelitian di laboratorium.
Keamanan pangan
Embit mengaku awalnya tidak tertarik meneliti soal makanan, tetapi lebih tertarik pada pengolahan makanan. Namun, setelah lulus dari sekolah asisten apoteker–setingkat sekolah menengah atas—di Bandung, ia meneruskan pendidikan ke ITB dan mengambil Jurusan Ilmu Farmasi. Karena ilmu tentang pengolahan atau teknologi makanan tidak dipelajari di perguruan tinggi tersebut, ia pun mengalihkan perhatiannya pada keamanan pangan. Menurutnya, menganalisis zat-zat dalam makanan memberikan kesenangan tersendiri.
Embit lulus kuliah tahun 1972 dan langsung menjadi dosen di almamaternya. Pada tahun 1982 ia berkesempatan meneruskan pendidikan tingkat strata dua dan tiga di University of New South Wales, Australia, dan menamatkan studinya tersebut pada tahun 1991.
Di Australia ia menambah pengetahuannya tentang berbagai proses mengolah makanan sebagai bekal untuk mempertajam analisisnya soal keamanan pangan.
Sehari-hari dia mengaku tidak membeli makanan sembarangan. ”Kalau ingin sesuatu, minta dibuatkan istri saja di rumah,” kata suami dari Mien Sumintarsin (53).
Soal makanan aman di keluarganya, Embit merasa bersyukur bisa bekerja sama dengan istrinya yang lulusan sekolah analis kimia. ”Karena bidang kami sama, jadi kalau berdiskusi nyambung, termasuk soal makanan untuk keluarga,” kata Embit yang mengaku ia dan istrinya sudah terbiasa tidak jajan sejak kecil.
”Waktu masa sekolah, saat teman-teman jajan, saya diam saja karena tidak boleh jajan oleh orangtua. Mereka mencegahnya dengan tidak memberi uang jajan. Kebetulan, istri saya pun selalu diberi bekal makanan sejak kecil oleh orangtuanya,” ujar Embit.
Ayah dari Supriadi Kartadarma (31), Supriatni Kartadarma (24), dan Suprihani Kartadarma (18) menanamkan hal serupa pada anak-anaknya. ”Mereka selalu makan di rumah,” kata Embit yang mengaku sering mendengar anak-anaknya diledek teman-temannya karena menolak jajan makanan di berbagai tempat karena khawatir mengandung zat berbahaya. ”Hal itu tidak terlalu menjadi masalah sebab anak-anak saya juga bisa memberikan wawasan pada teman-temannya,” tutur Embit.
Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Januari 2006
Oleh : Yenti Aprianti
Ia menyayangkan hingga kini bangsa ini masih berkutat dengan persoalan penggunaan zat-zat berbahaya dalam makanan. ”Sepertinya semua yang sudah kami lakukan cuma dianggap angin lalu,” kata Dr Embit Kartadarma (64), dosen dan ahli teknologi makanan dari Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.
Ia telah melakukan penelitian dan menyosialisasikan zat-zat alternatif pengganti zat-zat berbahaya kepada masyarakat sejak tahun 1970-an. Embit sering kali mendatangi pasar-pasar untuk mencari sampel. Jika dari penelitian di laboratorium ia menemukan zat mencurigakan pada sebuah makanan, ia pun segera menelusuri asal-muasal, termasuk mencari produsennya.
Di lapangan Embit sering kali berpura-pura sebagai pembeli biasa, agar lebih leluasa melakukan wawancara dan pedagang menjawab pertanyaan dengan lebih terus-terang.
Dalam perjalanannya meneliti, banyak zat berbahaya ia temukan dijadikan bahan untuk memproduksi makanan. Zat berbahaya itu bisa berupa pengawet, zat warna, maupun insektisida yang sudah dinyatakan berbahaya dalam perundang-undangan tentang pangan di Indonesia. Di antara makanan-makanan tersebut, banyak yang sangat populer dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Dalam hal ini, Embit merasa harus bersikap hati-hati. Sebab, biasanya industri makanan yang memproduksi makanan mengandung zat berbahaya melibatkan banyak orang, termasuk rakyat kecil yang membutuhkan penghidupan.
”Masih banyak rakyat Indonesia yang belum sejahtera sehingga bisa makan saja sudah untung. Mereka tidak berpikir lagi soal pentingnya makanan yang aman,” ujar Embit. Jalan tengah yang biasa ia lakukan adalah melaporkan penemuannya kepada dinas terkait yang lebih berwenang agar segera ditindaklanjuti.
Embit menilai pemerintah kurang bersungguh-sungguh memberantas penggunaan zat berbahaya pada makanan dan menyosialisasikan pengganti dari zat berbahaya yang termasuk aman. Pemerintah selalu berdalih tidak punya cukup anggaran untuk memberantasnya. Sementara produsen makanan tidak mau berusaha lebih keras mencari pengganti zat berbahaya dengan alasan kalaupun ada zat pengganti, harganya lebih mahal dan sulit didapat.
”Biasanya semua zat itu bisa dibeli di pedagang besar farmasi yang ada di setiap kota,” kata Embit, yang ikut menyusun buku Kodeks Makanan Indonesia.
Di toko farmasi itu, biasanya zat-zat tersebut dibagi dalam empat kelas, zat untuk kelas teknik, makanan, obat-obatan, dan zat murni untuk penelitian di laboratorium.
Keamanan pangan
Embit mengaku awalnya tidak tertarik meneliti soal makanan, tetapi lebih tertarik pada pengolahan makanan. Namun, setelah lulus dari sekolah asisten apoteker–setingkat sekolah menengah atas—di Bandung, ia meneruskan pendidikan ke ITB dan mengambil Jurusan Ilmu Farmasi. Karena ilmu tentang pengolahan atau teknologi makanan tidak dipelajari di perguruan tinggi tersebut, ia pun mengalihkan perhatiannya pada keamanan pangan. Menurutnya, menganalisis zat-zat dalam makanan memberikan kesenangan tersendiri.
Embit lulus kuliah tahun 1972 dan langsung menjadi dosen di almamaternya. Pada tahun 1982 ia berkesempatan meneruskan pendidikan tingkat strata dua dan tiga di University of New South Wales, Australia, dan menamatkan studinya tersebut pada tahun 1991.
Di Australia ia menambah pengetahuannya tentang berbagai proses mengolah makanan sebagai bekal untuk mempertajam analisisnya soal keamanan pangan.
Sehari-hari dia mengaku tidak membeli makanan sembarangan. ”Kalau ingin sesuatu, minta dibuatkan istri saja di rumah,” kata suami dari Mien Sumintarsin (53).
Soal makanan aman di keluarganya, Embit merasa bersyukur bisa bekerja sama dengan istrinya yang lulusan sekolah analis kimia. ”Karena bidang kami sama, jadi kalau berdiskusi nyambung, termasuk soal makanan untuk keluarga,” kata Embit yang mengaku ia dan istrinya sudah terbiasa tidak jajan sejak kecil.
”Waktu masa sekolah, saat teman-teman jajan, saya diam saja karena tidak boleh jajan oleh orangtua. Mereka mencegahnya dengan tidak memberi uang jajan. Kebetulan, istri saya pun selalu diberi bekal makanan sejak kecil oleh orangtuanya,” ujar Embit.
Ayah dari Supriadi Kartadarma (31), Supriatni Kartadarma (24), dan Suprihani Kartadarma (18) menanamkan hal serupa pada anak-anaknya. ”Mereka selalu makan di rumah,” kata Embit yang mengaku sering mendengar anak-anaknya diledek teman-temannya karena menolak jajan makanan di berbagai tempat karena khawatir mengandung zat berbahaya. ”Hal itu tidak terlalu menjadi masalah sebab anak-anak saya juga bisa memberikan wawasan pada teman-temannya,” tutur Embit.
Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Januari 2006
Eliza Kissya, Penjaga Adat dan Hutan Haruku
Jun 18, 2009
Eliza Kissya, Penjaga Adat dan Hutan Haruku
Oleh : M Zaid Wahyudi
Tatapannya tajam. Nada bicaranya tegas. Apalagi menyangkut pelestarian lingkungan dan perjuangan masyarakat adat. Dia tak peduli walau pekerjaannya penuh tekanan, berisiko tinggi, dan tak menghasilkan gaji.
Kecintaan Eliza Kissya untuk melestarikan lingkungan dan adat di Pulau Haruku justru mengalahkan ketakutan dan stres yang dialaminya selama ini. Pria yang disapa Om Ely itu adalah kepala kewang (polisi hutan) di Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku.
Negeri adalah sebutan lain dari ”desa” di Maluku bagian tengah yang meliputi Pulau Ambon, Pulau Seram, dan Pulau-pulau Lease. Ely adalah generasi keenam dari keluarga kewang di Haruku.
Tekanan berat yang dihadapi Ely sering kali membuatnya stres. Bahkan, Elizabeth, sang istri, dan anak-anaknya pernah memintanya untuk mengundurkan diri dari profesi itu. Terlebih lagi, banyak waktu keluarga terbuang oleh kesibukan Ely yang justru menimbulkan tekanan bagi dirinya.
Namun, beban moral untuk terus melestarikan adat tradisi dan kelestarian lingkungan membuatnya terus bertahan. Keluarga akhirnya pasrah dan mendukung keteguhan hatinya.
Tanggung jawab banyak
Ely yang lahir pada 12 Maret 1949 itu sudah 26 tahun menjadi kepala kewang, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Profesi itu seharusnya jatuh ke tangan kakaknya. Namun, karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa, maka ia yang ditunjuk mewakili marganya untuk menjadi kewang.
Tanggung jawab untuk melestarikan adat leluhur menjadi dorongan kuat bagi Ely untuk mau menjadi kewang. Tugas sebagai kepala kewang bukanlah hal yang mudah. Meskipun namanya polisi hutan, kewang di Negeri Haruku bukan hanya bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan, melainkan juga menjaga kelestarian sumber daya laut.
Kewang juga berkewajiban menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, memelihara norma susila, serta menegakkan hukum adat atas setiap pelanggaran aturan yang ada sejak zaman nenek moyang mereka.
Tantangan terberatnya sebagai seorang pemangku adat adalah tidak adanya pengakuan legal pemerintah atas sistem adat yang berlaku di negerinya. Pemberlakuan sistem desa di masa Orde Baru telah mengikis sebagian norma adat di sejumlah daerah, termasuk di Haruku.
Runyamnya penghargaan dan pemahaman anak muda terhadap sistem adat yang berlaku di daerah sangatlah kurang. Demikian pula penghargaan mereka atas profesi para pemangku adat. Tidak berlebihan bila Ely cemas, siapa yang akan meneruskan tugas mulia yang kini diembannya.
Tugas seorang kewang memang berat. Untuk menjaga kelestarian sumber daya hayati di wilayah perairan di zaman modern ini, para kewang harus berhadapan dengan para nelayan yang menggunakan bom ikan dan pemakaian mata jaring yang dapat menangkap benih-benih ikan.
Padahal, peralatan kewang sangatlah minim. Apalagi kewenangannya yang sangat terbatas membuat para kewang Haruku tidak dapat memberi sanksi kepada nelayan dari desa lain. Untuk menjaga ketertiban masyarakat, para kewang tidak hanya berpatroli keliling desa, tetapi juga harus menyelenggarakan peradilan adat untuk menghukum mereka yang melanggar ketentuan adat.
Masa-masa sulit yang dihadapi Ely adalah saat ia harus menjadi saksi dalam persidangan di pengadilan negeri atas kasus penangkapan ikan dengan bom. Selain menghadapi tekanan, Ely harus dikecewakan dengan vonis ringan yang dijatuhkan pengadilan terhadap perusak lingkungan tersebut. Upaya yang ia lakukan bersama para kewang lainnya terasa sia-sia.
Penghargaan
Bercermin dari kasus itu, Ely mengubah langkahnya. Seiring usia yang semakin matang, Ely memilih menggunakan cara-cara yang lebih lembut dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menanamkan pentingnya arti lingkungan kepada masyarakat, terutama kaum muda, menjadi pilihan perjuangan Ely saat ini. ”Saya hanya berharap anak-anak muda untuk mencintai lingkungannya,” kata Ely.
Upaya para kewang menjaga kelestarian sumber daya hayati Haruku diakui pemerintah berupa penghargaan Kalpataru untuk kategori penyelamat lingkungan pada tahun 1985 dan Satya Lencana Pembangunan tahun 1999.
Pengakuan pemerintah atas sistem pemerintahan adat dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diperbarui dengan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan kebahagiaan terbesar yang dirasakan Ely.
Pengakuan sistem pemerintahan adat memacu sejumlah desa di Maluku untuk kembali pada sistem pemerintahan adat setingkat desa, seperti ”negeri” untuk desa-desa di Maluku bagian tengah atau ”ohoy” di Maluku Tenggara.
”Saya lega bila apa yang saya perjuangkan berhasil tercapai,” ujar Ely.
Meskipun hanya tamatan sekolah dasar, Ely mempunyai cita-cita dan pemikiran yang maju. Kelestarian lingkungan harus tetap dipertahankan karena mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Menyadari pekerjaannya tak bergaji, dia pun menanam cengkeh, singkong, dan aneka sayur-mayur. Memang, hasil kebun terkadang tidak cukup. Namun, dengan kegigihannya, Ely mampu membesarkan enam anaknya yang beberapa di antaranya berhasil mengenyam pendidikan tinggi.
Bahkan, kini dibantu anak dan beberapa tenaga kerja, Ely menekuni pengembangan budidaya sayuran organik dan mengembangkan wisata budaya di desanya. ”Saya bahagia bisa menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain,” kata Ely.
Sumber : Kompas, Kamis, 23 Maret 2006
Oleh : M Zaid Wahyudi
Tatapannya tajam. Nada bicaranya tegas. Apalagi menyangkut pelestarian lingkungan dan perjuangan masyarakat adat. Dia tak peduli walau pekerjaannya penuh tekanan, berisiko tinggi, dan tak menghasilkan gaji.
Kecintaan Eliza Kissya untuk melestarikan lingkungan dan adat di Pulau Haruku justru mengalahkan ketakutan dan stres yang dialaminya selama ini. Pria yang disapa Om Ely itu adalah kepala kewang (polisi hutan) di Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku.
Negeri adalah sebutan lain dari ”desa” di Maluku bagian tengah yang meliputi Pulau Ambon, Pulau Seram, dan Pulau-pulau Lease. Ely adalah generasi keenam dari keluarga kewang di Haruku.
Tekanan berat yang dihadapi Ely sering kali membuatnya stres. Bahkan, Elizabeth, sang istri, dan anak-anaknya pernah memintanya untuk mengundurkan diri dari profesi itu. Terlebih lagi, banyak waktu keluarga terbuang oleh kesibukan Ely yang justru menimbulkan tekanan bagi dirinya.
Namun, beban moral untuk terus melestarikan adat tradisi dan kelestarian lingkungan membuatnya terus bertahan. Keluarga akhirnya pasrah dan mendukung keteguhan hatinya.
Tanggung jawab banyak
Ely yang lahir pada 12 Maret 1949 itu sudah 26 tahun menjadi kepala kewang, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Profesi itu seharusnya jatuh ke tangan kakaknya. Namun, karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa, maka ia yang ditunjuk mewakili marganya untuk menjadi kewang.
Tanggung jawab untuk melestarikan adat leluhur menjadi dorongan kuat bagi Ely untuk mau menjadi kewang. Tugas sebagai kepala kewang bukanlah hal yang mudah. Meskipun namanya polisi hutan, kewang di Negeri Haruku bukan hanya bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan, melainkan juga menjaga kelestarian sumber daya laut.
Kewang juga berkewajiban menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, memelihara norma susila, serta menegakkan hukum adat atas setiap pelanggaran aturan yang ada sejak zaman nenek moyang mereka.
Tantangan terberatnya sebagai seorang pemangku adat adalah tidak adanya pengakuan legal pemerintah atas sistem adat yang berlaku di negerinya. Pemberlakuan sistem desa di masa Orde Baru telah mengikis sebagian norma adat di sejumlah daerah, termasuk di Haruku.
Runyamnya penghargaan dan pemahaman anak muda terhadap sistem adat yang berlaku di daerah sangatlah kurang. Demikian pula penghargaan mereka atas profesi para pemangku adat. Tidak berlebihan bila Ely cemas, siapa yang akan meneruskan tugas mulia yang kini diembannya.
Tugas seorang kewang memang berat. Untuk menjaga kelestarian sumber daya hayati di wilayah perairan di zaman modern ini, para kewang harus berhadapan dengan para nelayan yang menggunakan bom ikan dan pemakaian mata jaring yang dapat menangkap benih-benih ikan.
Padahal, peralatan kewang sangatlah minim. Apalagi kewenangannya yang sangat terbatas membuat para kewang Haruku tidak dapat memberi sanksi kepada nelayan dari desa lain. Untuk menjaga ketertiban masyarakat, para kewang tidak hanya berpatroli keliling desa, tetapi juga harus menyelenggarakan peradilan adat untuk menghukum mereka yang melanggar ketentuan adat.
Masa-masa sulit yang dihadapi Ely adalah saat ia harus menjadi saksi dalam persidangan di pengadilan negeri atas kasus penangkapan ikan dengan bom. Selain menghadapi tekanan, Ely harus dikecewakan dengan vonis ringan yang dijatuhkan pengadilan terhadap perusak lingkungan tersebut. Upaya yang ia lakukan bersama para kewang lainnya terasa sia-sia.
Penghargaan
Bercermin dari kasus itu, Ely mengubah langkahnya. Seiring usia yang semakin matang, Ely memilih menggunakan cara-cara yang lebih lembut dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menanamkan pentingnya arti lingkungan kepada masyarakat, terutama kaum muda, menjadi pilihan perjuangan Ely saat ini. ”Saya hanya berharap anak-anak muda untuk mencintai lingkungannya,” kata Ely.
Upaya para kewang menjaga kelestarian sumber daya hayati Haruku diakui pemerintah berupa penghargaan Kalpataru untuk kategori penyelamat lingkungan pada tahun 1985 dan Satya Lencana Pembangunan tahun 1999.
Pengakuan pemerintah atas sistem pemerintahan adat dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diperbarui dengan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan kebahagiaan terbesar yang dirasakan Ely.
Pengakuan sistem pemerintahan adat memacu sejumlah desa di Maluku untuk kembali pada sistem pemerintahan adat setingkat desa, seperti ”negeri” untuk desa-desa di Maluku bagian tengah atau ”ohoy” di Maluku Tenggara.
”Saya lega bila apa yang saya perjuangkan berhasil tercapai,” ujar Ely.
Meskipun hanya tamatan sekolah dasar, Ely mempunyai cita-cita dan pemikiran yang maju. Kelestarian lingkungan harus tetap dipertahankan karena mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Menyadari pekerjaannya tak bergaji, dia pun menanam cengkeh, singkong, dan aneka sayur-mayur. Memang, hasil kebun terkadang tidak cukup. Namun, dengan kegigihannya, Ely mampu membesarkan enam anaknya yang beberapa di antaranya berhasil mengenyam pendidikan tinggi.
Bahkan, kini dibantu anak dan beberapa tenaga kerja, Ely menekuni pengembangan budidaya sayuran organik dan mengembangkan wisata budaya di desanya. ”Saya bahagia bisa menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain,” kata Ely.
Sumber : Kompas, Kamis, 23 Maret 2006
Erni Tamme : Pengabdian Guru Erni Tamme
Pengabdian Guru Erni Tamme
Oleh : Reinhard Nainggolan
Karena ketakutan, tiga dari lima guru Sekolah Dasar Negeri 13 Poso mengundurkan diri menyusul pembacokan dan penembakan siswi-siswi sekolah menengah atas di Poso pada akhir 2005. Seorang guru lainnya hanya mengajar dua kali seminggu, itu pun sering tidak masuk. Jadilah Erni Tamme (43) seorang diri mengajar murid kelas I hingga kelas VI.
Kepala SDN 13 Poso itu juga harus rela mengemban semua tugas di luar proses belajar-mengajar di dalam kelas, mulai dari membuka dan menutup pintu sekolah, memukul lonceng tanda pelajaran dimulai, sampai memimpin upacara bendera.
Setiap hari, pukul 06.15 Wita, Erni berangkat dari rumahnya di Kelurahan Kawua menuju SDN 13 yang terletak di Kelurahan Bukit Bambu, Poso. Dengan menggunakan jasa ojek, ia selalu melewati jalan setapak tempat tiga siswi SMA Kristen Poso dipenggal sekelompok pria tak dikenal, Oktober 2005.
Peristiwa sadis yang kemudian disusul dengan penembakan dua siswi SMEA Poso itulah yang membuat empat guru SDN 13 Poso ketakutan dan tidak lagi berani ke sekolah. "Sebenarnya, saya juga ketakutan. Tetapi, kasihan anak-anak kalau sampai tidak belajar," tutur Erni.
Sejak itu, pekerjaan Erni berlipat ganda. Tiba di sekolah, Erni membuka pintu kelas dan mulai menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan dipakai pada hari itu. Setelah murid-murid datang, Erni meminta mereka membersihkan ruang kelas masing-masing dan halaman sekolah.
Pukul 07.00 Erni memukul lonceng sekolah. Murid-murid pun berkumpul di halaman sekolah dan Erni mengatur mereka berbaris. Setiap Senin, Erni memimpin upacara bendera. Di hari lainnya, Selasa hingga Sabtu, Erni hanya memberikan pengarahan singkat.
Sampai tahap itu, Erni mengaku masih bisa mengatasinya. Namun, ketika semua murid dari kelas I-VI telah duduk di bangku masing-masing dan pelajaran harus segera dimulai, Erni mulai kebingungan harus mengajar dari kelas mana dulu.
"Biasanya saya mengajar di kelas I dan II dulu. Setelah saya terangkan isi pelajaran hari ini sebentar, mereka saya suruh membaca buku. Hal seperti itu juga yang saya lakukan di kelas III-VI. Setelah selesai menerangkan pelajaran di kelas VI, saya kembali ke kelas I," tutur Erni.
Menginap
Erni menyadari proses belajar-mengajar seperti itu tidak memberikan banyak tambahan pengetahuan kepada anak didiknya. Karena itu, seusai sekolah Erni masih menyediakan waktu untuk ditanyai murid-muridnya. Bahkan, Erni kerap kali harus menginap di salah satu rumah murid yang terletak di sekitar sekolah untuk memberikan pelajaran ekstra. Semua itu diberikan Erni tanpa mendapat imbalan apa pun.
"Saya sudah bersyukur kalau ada orangtua murid yang tinggal di sekitar sekolah mau menyediakan rumahnya untuk tempat saya istirahat siang maupun menginap. Kalau saya menginap, sore sampai malam hari anak-anak akan berkumpul untuk menanyakan pelajaran," kata Erni.
Menyadari waktu belajar di sekolah dan "les privat" yang diberikan belum juga memadai, Erni selalu memberikan pekerjaan rumah. Karena harus mengoreksi pekerjaan rumah itu, waktu Erni untuk mengurus anak-anaknya sendiri semakin terbatas. Syukur, tiga anaknya— Alfres (16), Suryani (13), dan Erens (9)—dapat memahami tanggung jawab dan kecintaan Erni pada profesinya. Begitu pula dengan Albar Ruminggo, suami Erni yang bekerja sebagai petani cokelat, ikut mendukung Erni memberikan pelajaran ekstra.
Di sela-sela kesibukannya mengajar dan mengurus rumah tangganya, Erni masih menyempatkan diri melanjutkan kuliah di jenjang Strata Satu (S-1) Fakultas Keguruan Universitas Terbuka Tadulako, Palu. Tamatan Diploma II Fakultas Keguruan ini merasa masih harus banyak menimba ilmu untuk dapat menjadi guru yang baik.
"Pelajaran SD itu tidak sulit. Yang sulit bagaimana membuat murid-murid dapat mengerti dan memahami pelajaran. Dari bangku kuliah, saya mendapat banyak masukan bagaimana mengajar yang baik, di antaranya harus memahami psikologi anak-anak," papar Erni.
Memahami psikologi anak-anak sekolah di Poso itulah, lanjut Erni, yang menjadi tantangan terberat bagi para guru di Poso. Konflik horizontal di Poso pada tahun 1998 dan 2000 telah menimbulkan trauma tersendiri bagi anak-anak sekolah. Selain hidup menderita di pengungsian, mayoritas dari mereka juga tidak dapat melanjutkan sekolah.
Tidak heran jika ada murid kelas III dan IV di SDN 13 Poso masih terbata-bata untuk membaca bacaan sederhana sekalipun. "Untuk mengajar murid-murid yang masih tertekan oleh masa lalu itu dibutuhkan kesabaran dan kasih sayang. Kita harus memperlakukan mereka seperti anak sendiri, tidak hanya sekadar murid," ucap Erni.
Harus mengajar murid kelas I sampai VI, memberikan pelajaran ekstra, mengurus rumah tangga, dan melanjutkan kuliah di jenjang S-1, ternyata tidak menjadi beban bagi Erni. Selain menyukai anak-anak, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. "Saya bahagia dengan pekerjaan ini. Hanya saja, saya suka sedih melihat minimnya fasilitas yang dapat digunakan anak-anak untuk belajar," katanya.
Apa yang harus kita berikan pada ketegaran, kecintaan, dan pengorbanan Erni itu selain penghormatan setinggi-tingginya kepadanya?
Sumber : Kompas, Kamis, 18 Mei 2006
Oleh : Reinhard Nainggolan
Karena ketakutan, tiga dari lima guru Sekolah Dasar Negeri 13 Poso mengundurkan diri menyusul pembacokan dan penembakan siswi-siswi sekolah menengah atas di Poso pada akhir 2005. Seorang guru lainnya hanya mengajar dua kali seminggu, itu pun sering tidak masuk. Jadilah Erni Tamme (43) seorang diri mengajar murid kelas I hingga kelas VI.
Kepala SDN 13 Poso itu juga harus rela mengemban semua tugas di luar proses belajar-mengajar di dalam kelas, mulai dari membuka dan menutup pintu sekolah, memukul lonceng tanda pelajaran dimulai, sampai memimpin upacara bendera.
Setiap hari, pukul 06.15 Wita, Erni berangkat dari rumahnya di Kelurahan Kawua menuju SDN 13 yang terletak di Kelurahan Bukit Bambu, Poso. Dengan menggunakan jasa ojek, ia selalu melewati jalan setapak tempat tiga siswi SMA Kristen Poso dipenggal sekelompok pria tak dikenal, Oktober 2005.
Peristiwa sadis yang kemudian disusul dengan penembakan dua siswi SMEA Poso itulah yang membuat empat guru SDN 13 Poso ketakutan dan tidak lagi berani ke sekolah. "Sebenarnya, saya juga ketakutan. Tetapi, kasihan anak-anak kalau sampai tidak belajar," tutur Erni.
Sejak itu, pekerjaan Erni berlipat ganda. Tiba di sekolah, Erni membuka pintu kelas dan mulai menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan dipakai pada hari itu. Setelah murid-murid datang, Erni meminta mereka membersihkan ruang kelas masing-masing dan halaman sekolah.
Pukul 07.00 Erni memukul lonceng sekolah. Murid-murid pun berkumpul di halaman sekolah dan Erni mengatur mereka berbaris. Setiap Senin, Erni memimpin upacara bendera. Di hari lainnya, Selasa hingga Sabtu, Erni hanya memberikan pengarahan singkat.
Sampai tahap itu, Erni mengaku masih bisa mengatasinya. Namun, ketika semua murid dari kelas I-VI telah duduk di bangku masing-masing dan pelajaran harus segera dimulai, Erni mulai kebingungan harus mengajar dari kelas mana dulu.
"Biasanya saya mengajar di kelas I dan II dulu. Setelah saya terangkan isi pelajaran hari ini sebentar, mereka saya suruh membaca buku. Hal seperti itu juga yang saya lakukan di kelas III-VI. Setelah selesai menerangkan pelajaran di kelas VI, saya kembali ke kelas I," tutur Erni.
Menginap
Erni menyadari proses belajar-mengajar seperti itu tidak memberikan banyak tambahan pengetahuan kepada anak didiknya. Karena itu, seusai sekolah Erni masih menyediakan waktu untuk ditanyai murid-muridnya. Bahkan, Erni kerap kali harus menginap di salah satu rumah murid yang terletak di sekitar sekolah untuk memberikan pelajaran ekstra. Semua itu diberikan Erni tanpa mendapat imbalan apa pun.
"Saya sudah bersyukur kalau ada orangtua murid yang tinggal di sekitar sekolah mau menyediakan rumahnya untuk tempat saya istirahat siang maupun menginap. Kalau saya menginap, sore sampai malam hari anak-anak akan berkumpul untuk menanyakan pelajaran," kata Erni.
Menyadari waktu belajar di sekolah dan "les privat" yang diberikan belum juga memadai, Erni selalu memberikan pekerjaan rumah. Karena harus mengoreksi pekerjaan rumah itu, waktu Erni untuk mengurus anak-anaknya sendiri semakin terbatas. Syukur, tiga anaknya— Alfres (16), Suryani (13), dan Erens (9)—dapat memahami tanggung jawab dan kecintaan Erni pada profesinya. Begitu pula dengan Albar Ruminggo, suami Erni yang bekerja sebagai petani cokelat, ikut mendukung Erni memberikan pelajaran ekstra.
Di sela-sela kesibukannya mengajar dan mengurus rumah tangganya, Erni masih menyempatkan diri melanjutkan kuliah di jenjang Strata Satu (S-1) Fakultas Keguruan Universitas Terbuka Tadulako, Palu. Tamatan Diploma II Fakultas Keguruan ini merasa masih harus banyak menimba ilmu untuk dapat menjadi guru yang baik.
"Pelajaran SD itu tidak sulit. Yang sulit bagaimana membuat murid-murid dapat mengerti dan memahami pelajaran. Dari bangku kuliah, saya mendapat banyak masukan bagaimana mengajar yang baik, di antaranya harus memahami psikologi anak-anak," papar Erni.
Memahami psikologi anak-anak sekolah di Poso itulah, lanjut Erni, yang menjadi tantangan terberat bagi para guru di Poso. Konflik horizontal di Poso pada tahun 1998 dan 2000 telah menimbulkan trauma tersendiri bagi anak-anak sekolah. Selain hidup menderita di pengungsian, mayoritas dari mereka juga tidak dapat melanjutkan sekolah.
Tidak heran jika ada murid kelas III dan IV di SDN 13 Poso masih terbata-bata untuk membaca bacaan sederhana sekalipun. "Untuk mengajar murid-murid yang masih tertekan oleh masa lalu itu dibutuhkan kesabaran dan kasih sayang. Kita harus memperlakukan mereka seperti anak sendiri, tidak hanya sekadar murid," ucap Erni.
Harus mengajar murid kelas I sampai VI, memberikan pelajaran ekstra, mengurus rumah tangga, dan melanjutkan kuliah di jenjang S-1, ternyata tidak menjadi beban bagi Erni. Selain menyukai anak-anak, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. "Saya bahagia dengan pekerjaan ini. Hanya saja, saya suka sedih melihat minimnya fasilitas yang dapat digunakan anak-anak untuk belajar," katanya.
Apa yang harus kita berikan pada ketegaran, kecintaan, dan pengorbanan Erni itu selain penghormatan setinggi-tingginya kepadanya?
Sumber : Kompas, Kamis, 18 Mei 2006
Enjo Suharjo : Jamur Kardus Enjo Suharjo
Jun 17, 2009
Jamur Kardus Enjo Suharjo
Oleh : Lis Dhaniati
Jamur kardus bukan jamur mainan terbuat dari kardus, melainkan salah satu komoditas pertanian yang menggunakan kardus sebagai bahan baku utama pembuatan media. Sejatinya, jamur kardus merupakan jamur merang (Volvarielle volvaceae).
Namun, media tanam dari kardus yang membuatnya layak disebut jamur kardus. Nama yang unik karena bisa memancing keingintahuan seseorang.
Di sebidang lahan tidur milik instansi militer di Kota Cirebon, Enjo Suharjo (61) bersama kelompok taninya membudidayakan jamur kardus. Karena membutuhkan lingkungan khusus, jamur itu ditanam dalam kumbung, yakni rumah berdinding anyaman bambu berukuran 4 meter x 6 meter. Di lahan tersebut, terdapat lima kumbung yang berjajar rapi.
Berbeda dari jamur tiram yang cenderung membutuhkan suhu udara medium, jamur kardus cocok tumbuh di lingkungan panas. "Jamur ini tumbuh optimal pada suhu 28 derajat Celsius dan masih tumbuh bagus pada suhu 32 - 35 derajat Celsius," kata Enjo.
Dia mengatakan, jamur kardus bukanlah teknologi baru. Tahun 1985, ketika masih berdinas sebagai penyuluh pertanian, Enjo menemukan sekelompok petani di Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, telah membudidayakan komoditas ini. Namun mereka tidak menggunakan media kardus, melainkan kertas bekas puntung rokok.
"Karena sudah ada teknologinya, mereka tinggal diarahkan mengganti media dari kertas rokok dengan kardus," ujar Enjo. Upaya ini mempermudah pembuatan media karena kardus lebih cepat didapat daripada kertas bekas puntung rokok.
"Dahulu kardus belum banyak dicari seperti sekarang," ujar Enjo. Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, usaha petani di Losari ini tidak bertahan. "Banyak yang sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskan," ujar Enjo.
Padahal, menurut Enjo, usaha ini menjanjikan keuntungan. Dengan masa panen tiga minggu untuk satu kali pembuatan media, keuntungan bisa dipetik sejak awal minggu ketiga. "Harga di tingkat petani sekitar Rp 10.000 per kilogram. Di konsumen akhir, harga bisa mencapai Rp 20.000," ujar ayah lima anak ini.
Namun, lebih dari itu, jamur kardus merupakan salah satu upaya menanggulangi masalah sampah perkotaan. "Kota Cirebon memproduksi sampah 60-70 meter kubik per hari. Padahal, penanganan sampah masih terbatas pada pembuangan di TPA. Perlu cara-cara baru mengurangi sampah," ujar suami Yeti Mulyaningsih (54) ini.
Banyak waktu
Pensiun tahun 2001 membuat Enjo punya lebih banyak waktu membudidayakan jamur kardus. Berbekal latar belakang penyuluh pertanian, Enjo tidak bergerak seorang diri, melainkan mengajak petani lain bergabung dalam kelompok.
Salah satu kelompok yang dia bina adalah kelompok petani perempuan yang diketuai oleh istrinya, Yeti. Pada tahun 2003 keberhasilan kelompok petani perempuan dalam ikut menjaga kebersihan lingkungan seraya mendapat nilai ekonomi dari limbah itu mendapat penghargaan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan untuk kategori daur ulang limbah.
Pada tahun yang sama Enjo meraih penghargaan lingkungan dari Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan untuk kategori peduli lingkungan. Kepedulian Enjo memang tidak hanya pada daur ulang limbah, tetapi juga perintisan pembuatan pemecah ombak di pantai utara menggunakan metode sederhana, yakni bambu dan kawat duri.
"Biayanya, salah satunya bersumber dari usaha jamur kardus," ujar Enjo. Sayangnya, upaya ini terhenti karena ada sekelompok nelayan yang menganggap pemecah gelombang model ini mengganggu mata pencaharian mereka.
Perhatiannya pada masalah sampah juga membuat dia tergerak membuat keranjang plastik berukuran 30 x 40 x 50 cm yang digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Setengah dari keranjang yang bagian dalamnya dilapis sejenis karpet itu diisi kompos sebagai pemicu proses dekomposisi sampah organik yang akan berlangsung satu bulan. Harga keranjang yang Rp 150.000 per buah itu memang masih butuh uji pasar untuk dapat diterima masyarakat.
Dari berbagai daerah
Perkembangan usaha budi daya jamur kardus Enjo menarik minat Pemerintah Kota Cirebon untuk memasukkannya sebagai salah satu program pendanaan kompetitif. Program ini bertujuan meningkatkan indeks pembangunan manusia yang sedang dikejar Provinsi Jawa Barat. "Saya menjadi narasumber bagi orangtua yang anaknya rawan drop out karena masalah ekonomi," ujar Enjo.
Ia pun aktif memberi ceramah dan praktik lapangan menanam jamur kardus kepada orangtua siswa dari enam sekolah negeri di Kota Cirebon. "Saya membuka konsultasi gratis untuk usaha ini," ujar Enjo.
Kapasitas sebagai konsultan tidaklah meragukan. Selain melalui praktik sendiri, Enjo telah berulang kali mengikuti seminar dan pelatihan tentang jamur di tingkat nasional dan internasional.
"Di China, jamur menjadi salah satu komoditas pertanian yang sudah berkembang luas," ujar Enjo yang pernah berkunjung ke sana untuk urusan jamur.
Rumah dia, yang diteduhi berbagai tanaman, terbuka untuk mereka yang ingin belajar budidaya jamur kardus. Di buku tamu yang dia sediakan tertulis nama-nama tamu yang berasal dari berbagai daerah, seperti Riau, Batam, Sulawesi, dan Kalimantan.
Sumber : Kompas, Rabu, 21 Juni 2006
Oleh : Lis Dhaniati
Jamur kardus bukan jamur mainan terbuat dari kardus, melainkan salah satu komoditas pertanian yang menggunakan kardus sebagai bahan baku utama pembuatan media. Sejatinya, jamur kardus merupakan jamur merang (Volvarielle volvaceae).
Namun, media tanam dari kardus yang membuatnya layak disebut jamur kardus. Nama yang unik karena bisa memancing keingintahuan seseorang.
Di sebidang lahan tidur milik instansi militer di Kota Cirebon, Enjo Suharjo (61) bersama kelompok taninya membudidayakan jamur kardus. Karena membutuhkan lingkungan khusus, jamur itu ditanam dalam kumbung, yakni rumah berdinding anyaman bambu berukuran 4 meter x 6 meter. Di lahan tersebut, terdapat lima kumbung yang berjajar rapi.
Berbeda dari jamur tiram yang cenderung membutuhkan suhu udara medium, jamur kardus cocok tumbuh di lingkungan panas. "Jamur ini tumbuh optimal pada suhu 28 derajat Celsius dan masih tumbuh bagus pada suhu 32 - 35 derajat Celsius," kata Enjo.
Dia mengatakan, jamur kardus bukanlah teknologi baru. Tahun 1985, ketika masih berdinas sebagai penyuluh pertanian, Enjo menemukan sekelompok petani di Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, telah membudidayakan komoditas ini. Namun mereka tidak menggunakan media kardus, melainkan kertas bekas puntung rokok.
"Karena sudah ada teknologinya, mereka tinggal diarahkan mengganti media dari kertas rokok dengan kardus," ujar Enjo. Upaya ini mempermudah pembuatan media karena kardus lebih cepat didapat daripada kertas bekas puntung rokok.
"Dahulu kardus belum banyak dicari seperti sekarang," ujar Enjo. Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, usaha petani di Losari ini tidak bertahan. "Banyak yang sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskan," ujar Enjo.
Padahal, menurut Enjo, usaha ini menjanjikan keuntungan. Dengan masa panen tiga minggu untuk satu kali pembuatan media, keuntungan bisa dipetik sejak awal minggu ketiga. "Harga di tingkat petani sekitar Rp 10.000 per kilogram. Di konsumen akhir, harga bisa mencapai Rp 20.000," ujar ayah lima anak ini.
Namun, lebih dari itu, jamur kardus merupakan salah satu upaya menanggulangi masalah sampah perkotaan. "Kota Cirebon memproduksi sampah 60-70 meter kubik per hari. Padahal, penanganan sampah masih terbatas pada pembuangan di TPA. Perlu cara-cara baru mengurangi sampah," ujar suami Yeti Mulyaningsih (54) ini.
Banyak waktu
Pensiun tahun 2001 membuat Enjo punya lebih banyak waktu membudidayakan jamur kardus. Berbekal latar belakang penyuluh pertanian, Enjo tidak bergerak seorang diri, melainkan mengajak petani lain bergabung dalam kelompok.
Salah satu kelompok yang dia bina adalah kelompok petani perempuan yang diketuai oleh istrinya, Yeti. Pada tahun 2003 keberhasilan kelompok petani perempuan dalam ikut menjaga kebersihan lingkungan seraya mendapat nilai ekonomi dari limbah itu mendapat penghargaan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan untuk kategori daur ulang limbah.
Pada tahun yang sama Enjo meraih penghargaan lingkungan dari Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan untuk kategori peduli lingkungan. Kepedulian Enjo memang tidak hanya pada daur ulang limbah, tetapi juga perintisan pembuatan pemecah ombak di pantai utara menggunakan metode sederhana, yakni bambu dan kawat duri.
"Biayanya, salah satunya bersumber dari usaha jamur kardus," ujar Enjo. Sayangnya, upaya ini terhenti karena ada sekelompok nelayan yang menganggap pemecah gelombang model ini mengganggu mata pencaharian mereka.
Perhatiannya pada masalah sampah juga membuat dia tergerak membuat keranjang plastik berukuran 30 x 40 x 50 cm yang digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Setengah dari keranjang yang bagian dalamnya dilapis sejenis karpet itu diisi kompos sebagai pemicu proses dekomposisi sampah organik yang akan berlangsung satu bulan. Harga keranjang yang Rp 150.000 per buah itu memang masih butuh uji pasar untuk dapat diterima masyarakat.
Dari berbagai daerah
Perkembangan usaha budi daya jamur kardus Enjo menarik minat Pemerintah Kota Cirebon untuk memasukkannya sebagai salah satu program pendanaan kompetitif. Program ini bertujuan meningkatkan indeks pembangunan manusia yang sedang dikejar Provinsi Jawa Barat. "Saya menjadi narasumber bagi orangtua yang anaknya rawan drop out karena masalah ekonomi," ujar Enjo.
Ia pun aktif memberi ceramah dan praktik lapangan menanam jamur kardus kepada orangtua siswa dari enam sekolah negeri di Kota Cirebon. "Saya membuka konsultasi gratis untuk usaha ini," ujar Enjo.
Kapasitas sebagai konsultan tidaklah meragukan. Selain melalui praktik sendiri, Enjo telah berulang kali mengikuti seminar dan pelatihan tentang jamur di tingkat nasional dan internasional.
"Di China, jamur menjadi salah satu komoditas pertanian yang sudah berkembang luas," ujar Enjo yang pernah berkunjung ke sana untuk urusan jamur.
Rumah dia, yang diteduhi berbagai tanaman, terbuka untuk mereka yang ingin belajar budidaya jamur kardus. Di buku tamu yang dia sediakan tertulis nama-nama tamu yang berasal dari berbagai daerah, seperti Riau, Batam, Sulawesi, dan Kalimantan.
Sumber : Kompas, Rabu, 21 Juni 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)

