Jun 18, 2009

Vennetia Ryckerens Danes : Vennetia Danes Kejutkan Peraih Nobel

Vennetia Danes Kejutkan Peraih Nobel
Oleh : Freddy Roeroe

Vennetia Ryckerens Danes (44) membuat dua pemegang Nobel kedokteran dari Max Plank Institute (Jerman), Prof Bert Sakmann dan Prof Erwin Neher, berdecak kagum. Kedua guru besar itu tidak menduga dokter kelahiran Manado, 27 Maret 1962, ini menyimpan potensi sebagai peneliti berkelas dunia.

Ketika menyaksikan penelitian yang sangat rumit yang dilakukan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado itu, selain terkagum-kagum, Bert Sakmann juga dengan terus terang menyatakan rasa bangganya. Terutama ketika Prof Sakmann ikut mencarikan jalan keluar saat teknologi patch clamping yang digunakan dalam penelitian Vennetia tidak mampu mengeluarkan data yang dibutuhkan.

Alat atau teknologi patch clamping temuan Sakmann dan Erwin Neher, yang mengantarkan kedua ahli kenamaan itu berhak atas hadiah Nobel bidang kedokteran, ternyata saat digunakan Vennetia sempat tidak berfungsi. Padahal, saat digunakan Sakmann dan Neher, teknologi itu berhasil meneliti sel-sel saraf guna mendapatkan solusi atas penyakit epilepsi.

Alat itu pula yang digunakan oleh Vennetia untuk meneliti sel-sel jantung. Vennetia hampir frustrasi ketika berbulan-bulan di laboratorium ia tidak menemukan apa-apa, padahal teknologi tersebut sudah menghasilkan Nobel bagi penemunya.

Waktu itu di suatu malam di Melbourne, Australia, ujar Vennetia, tepatnya pukul 23.00, dia keluar dari laboratorium untuk menghirup udara segar. ”Istirahat sejenak karena kebetulan peralatannya tidak bisa mengeluarkan data apa-apa. Di sebelah ruangan lab saya tampak Prof Sakmann, guru besar tamu kehormatan pembimbing saya masih aktif bekerja. Saya kemudian memberanikan diri memasuki ruangannya dan menjelaskan kebuntuan di lab saya. Ternyata Prof Sakmann malah mau mendatangi lab saya dan menerangkan banyak hal,” kata Vennetia yang telah memublikasikan 10 jurnal ilmiah internasional.

Keduanya berdiskusi sambil mengutak-atik sejumlah sel jantung yang masih hidup. Upaya pemecahan kebuntuan itu berlanjut hingga sehari penuh esoknya. Sakmann juga mengakui, penelitian sel-sel jantung dengan menggunakan alat patch clamping jauh lebih rumit ketimbang meneliti sel-sel saraf.

”Esoknya seluruh departemen gempar karena pagi-pagi benar, sekitar pukul 08.00, si Nobel sudah duduk langsung di lab saya, menerangkan sambil menggambar desain struktur alat baru yang akan diorder,” ujar Vennetia.

Prof Sakmann sendiri mengantar Vennetia turun ke lantai basement di workshop untuk memesan alat yang sudah didesain sendiri oleh Sakmann. Sepanjang hari itu Sakmann menyisihkan waktu untuk memecahkan persoalan yang dihadapi Vennetia.

Menurut Venne, panggilan akrab Vennetia, lewat teknologi patch clamping, aktivitas ion yang masuk keluar pada sel saraf neuron pada penderita epilepsi bisa diukur. Penemuan teknik itu telah membawa revolusi sangat berarti di bidang kedokteran, terutama di bidang sel, molekul, dan elektrofisiologi. Teknik ini dapat mengukur voltase, aliran listrik, serta aplikasi molekuler lainnya terhadap sel mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku, termasuk sel jantung.

Vennetia, istri tercinta dari Mochtar Siby, dosen Fakultas Teknik Unsrat, mengatakan, melalui teknologi itu pula ia melahirkan terobosan dalam penelitian bidang molecular and cellular cardiology yang kemudian mengantarkannya menemukan channel baru penyebab lain pembesaran dan kegagalan jantung. Lewat temuan itu pula, ibu dua anak, Nicky (18) dan Victoria (15), itu berhak atas gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya berjudul ”Cardiomyocyte Calcium and pH Regulation in Primary Cardiac Hypertrophy” pada Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, Victoria, Australia.

”Channel” baru

Channel baru penyebab pembesaran dan kegagalan jantung itu disebut LVACC (low voltage activated calcium current) di membran sel jantung yang mengatur masuk keluar kalsium di sel jantung dan juga mengatur ritme jantung. Sebelumnya (pada penemuan lebih dulu oleh ilmuwan lain), untuk masuknya kalsium di sel jantung kebanyakan melalui calcium channel tipe L dan sebagian kecil melalui tipe T dan sodium calcium exchanger yang ada di membran sel.

Ternyata, kata Vennetia, pada kasus penderita jantung membesar dan kegagalan jantung ditemukan kelainan aktivitas LVACC yang memengaruhi faktor arrhythmia (atau ketidakberaturan irama jantung). Protein- protein lain di membran, seperti Na/H exchanger (yang mengatur antara lain pH sel jantung), L dan T-type calcium channels serta sodium-calcium exchanger (yang mengatur mekanisme kerja kontraktilitas jantung), juga berubah. Akibatnya, itu memengaruhi perkembangan penyakit jantung membesar yang selanjutnya menuju ke kegagalan jantung.

Didapatkan pula, lanjut Vennetia, bahwa perbedaan pengaturan terhadap asam dan ion kalsium yang memengaruhi respons kontraktilitas dan elektikal dari sel-sel otot jantung ditentukan oleh faktor genetika yang mendasari setiap model pembesaran jantung. Menurut Vennetia, dari tingkat molekuler dan seluler penemuan kelainan pengaturan ionik di jantung sel ini akan dapat memberikan kontribusi pemahaman mekanisme kerja jantung pada keadaan patologis, yakni pada saat jantung membesar dan perjalanannya ke arah kegagalan memompa.

Anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Jan FA Danes dan Beatrice Adeleida Tirayoh ini mengungkapkan, sedikitnya 20 profesor kenamaan dunia di bidang jantung sempat bekerja sama dan jadi mitra diskusinya.

Dengan mereka, Vennetia berjanji akan bekerja sama meneruskan penelitiannya.

Mungkinkah suatu saat dapat Nobel? ”Saya bekerja bukan untuk mendapat Nobel, tetapi untuk kemanusiaan meskipun beberapa mitra saya sudah mengatakan, ’Venne, Anda telah memulai sesuatu yang besar di bidang kedokteran’,” kata penerima tujuh award dari berbagai lembaga internasional itu.

Sumber : Kompas, Jumat, 24 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks