Jun 26, 2009

Venus Williams : Juara Wimbledon, Hadiah Ketegaran Venus Williams

Juara Wimbledon, Hadiah Ketegaran Venus Williams
Oleh : Yunas Santhani Azis

Final tunggal putri Wimbledon, Sabtu (2/7/2005), Venus Williams yang tertinggal 4-5 membuat kesalahan servis ganda, membuat lawannya, Lindsay Davenport, tinggal mencari satu angka untuk juara. Namun, itu bukan akhir cerita. Venus jadi pemenang dan menjadi orang pertama dalam 70 tahun terakhir yang bisa menjuarai Wimbledon meski lawan sudah championships point.

Venus (25) mengikuti jejak adiknya, Serena Williams, dan putri Belgia, Justine Henin-Hardenne. Mereka adalah tiga petenis putri yang tahun ini mampu kembali merebut lambang supremasi tertinggi tenis perseorangan dunia, grand slam, setelah kariernya terpuruk berbulan-bulan oleh sakit dan cedera.

Serena lebih dulu mengumumkan kebangkitannya dengan menjuarai Australia Terbuka, Januari silam. Henin-Hardenne mengikuti dengan kemenangan di Perancis Terbuka, awal Juni lalu.

Namun, dibandingkan dengan Serena dan Henin-Hardenne, Venus sebelumnya dipandang paling sulit untuk bisa bangkit kembali. Semua orang punya teori untuk itu seperti yang ditulis wartawan Associated Press, Howard Fendrich.

Pertama, dia selalu di bawah bayang-bayang adiknya, Serena, khususnya di tahun 2002-2003. Dalam dua tahun itu, Venus selalu kalah dari Serena di enam final grand slam meski sebelumnya dia adalah ratu Wimbledon dan AS Terbuka yang jadi juara dua kali berturut-turut.

Teori kedua, kesibukannya di luar tenis, terutama bisnis desain interior, dianggap semakin memupuskan perhatiannya pada pertandingan. Ketiga, cedera tangan, otot perut, dan bahu sejak medio tahun 2003 terlalu bertubi untuk diatasi. Keempat, Venus perlu pelatih lain menggantikan ayah-ibunya, Richard dan Oracene. Kelima, kematian adik yang sangat dia sayangi, Yetunde, awal tahun lalu, merupakan pukulan yang sangat pedih.

Semua teori semakin pas dengan kenyataan karena setelah absen enam bulan dan balik lagi ke arena awal tahun lalu, Venus yang merupakan putri kebanggaan AS hanya dua kali juara sepanjang tahun 2004.

Tahun ini, sebelum Wimbledon, pun dia cuma sekali jadi pemenang, yaitu di Istanbul, medio Mei lalu. Turnamen Piala Istanbul sesungguhnya bukanlah kelas Venus di masa-masa jayanya dalam kurun tahun 1998-2003.

Grafik prestasi yang melorot demikian nyata. Dalam dua tahun terakhir hingga Istanbul, Venus cuma bisa empat kali mengusung trofi kemenangan. Dalam periode lima tahun sebelumnya, 1998-2002, Venus meraup 28 gelar juara.

Wimbledon titik balik

Wimbledon akhirnya menjadi kebangkitan Venus meski dia tampil hanya sebagai unggulan ke-14 atau dengan kata lain, bukan menjadi pemain yang diperhitungkan bakal menang. Namun, tak ada istilah keberuntungan bagi Venus Williams.

”Dalam hati saya selalu merasa sebagai juara karena saya melakukan yang terbaik dalam setiap langkah yang saya ayunkan di lapangan. Apa pun keadaannya, saya selalu bermain 100 persen,” ujar Venus.

Keteguhan hati seperti itu tidaklah datang sekejap. Usaha Venus untuk membentuk mental juara sejak kecil jelas tergambar dalam biografi Dave Rineberg, My Seven Years as Hitting Coach for The Williams Sisters. Rineberg adalah pelatih yang berperan sebagai lawan tanding (hitting coach) sejak Venus berumur 12 tahun dan Serena 11 tahun di Florida Selatan.

Di mata Rineberg, Venus sudah mencoba tegar sejak usia itu. Ujian pertama dia hadapi ketika Richard, sang ayah, tak puas dengan bentuk latihan di Delray Beach Tennis Academy, tempat Venus berlatih. Richard menginginkan karakter putrinya lebih agresif dengan meminta Venus terus maju ke lapangan depan menyongsong bola.

Instruksi Richard tidak sejalan dengan kurikulum akademi yang menekankan Venus untuk terampil memukul bola dari garis belakang. Venus terjepit di antara dua ”kekuasaan”, ayahnya dan pelatih akademi.

Akibatnya sering tidak menyenangkan. Venus sering tampil kikuk, membuat banyak kesalahan, tetapi satu yang tak pernah dia lakukan, menyerah atau menangisi keadaan.

Richard pernah marah besar dengan kekikukan Venus dan Rineberg yang datang mencoba menghibur. Bukannya merajuk atau mengadu, Venus justru menampik tangan Rineberg yang mencoba merangkul bahunya.

”Saya tidak punya masalah,” ujar Venus tegas dan terus kembali memasuki lapangan untuk meneruskan latihan. Setahun pertama melatih Venus di awal tahun 1994, Rineberg membubuhkan nilai sangat baik (excellent) untuk faktor ketangguhan mental (mental toughness) muridnya itu.

Ada dua kalimat yang menjelaskan nilai tersebut. Pertama, Venus membenci melihat bola memantul dua kali dalam lapangannya. Kedua, Venus tak pernah terlihat terintimidasi dalam posisi terdesak atau tertinggal.

Lebih dari 10 tahun kemudian, penilaian Rineberg dalam buku rapor itu masih tetap berlaku. Masa-masa sulit dalam dua tahun terakhir tak mampu mengintimidasi Venus. Dia mengatasi semua tekanan dan keluar sebagai juara Wimbledon.

Sumber : Kompas, Selasa, 5 Juli 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks