Jun 25, 2009

Zaidi Puang Matoa : Bissu Zaidi, Penjaga Tradisi Bugis

Bissu Zaidi, Penjaga Tradisi Bugis
Oleh : Reny Sri Ayu Taslim

Perhelatan adat, budaya, maupun tradisi Bugis kuno di Sulawesi Selatan bisa dipastikan akan melibatkan bissu. Bissu akan berperan dalam menentukan hari baik dan hari buruk, mengatur prosesi adat, menyiapkan peralatan upacara, dan ritual lain-lain yang terkait.

Dalam Sureq Galigo, komunitas bissu yang merupakan wanita adam (wadam) banyak disebut-sebut, termasuk perannya dalam kerajaan maupun dalam masyarakat adat. Bissu juga menjadi penghubung manusia dan Sang Pencipta, sekaligus menjadi penghubung masa lalu dan masa akan datang. Di kekinian, bissu boleh dikata menjadi benteng terakhir yang melindungi peradaban atau tradisi Bugis kuno.

Di antara bissu yang tenaganya banyak digunakan untuk keperluan ritual itu adalah Zaidi Puang Matoa. Dialah sesepuh atau pimpinan bissu yang tinggal di komunitasnya di Segeri, Kabupaten Pangkep.

Sebut saja upacara pernikahan putri Gubernur Sulsel M Amin Syam beberapa waktu lalu yang disebut-sebut salah satu prosesi pernikahan adat lengkap. Tak hanya putri gubernur, pernikahan putra-putri pembesar lainnya, termasuk keturunan raja, di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel juga melibatkan Zaidi. Selain itu, di acara adat lain seperti syukuran, bernazar, naik rumah, memulai tanam padi, menebar benih ikan di tambak, Zaidi juga terlibat.

Tak jarang Zaidi juga terbang ke Jakarta dan kota-kota lain, setiap ada panggilan, terutama dari orang-orang Bugis yang berdiam di luar Sulsel, untuk urusan serupa. Selain yang terkait soal adat, Zaidi juga punya kelebihan mengobati orang dan melihat masa depan atau kejadian-kejadian penting yang akan terjadi.

Karena ke-bissu-an dan pengetahuannya itu, termasuk pemahamannya akan bahasa torilangi (bahasa dewata) yang banyak terdapat dalam naskah I La Galigo, sejak tahun 2003-2005, Zaidi menjadi satu-satunya bissu yang terlibat dalam pementasan teater keliling dunia, yang mengangkat cerita dari naskah kuno Sureq Galigo. Pementasan yang disutradarai Robert Wilson, salah satu sutradara teater terbaik di dunia, dibawa berkeliling di antaranya ke Singapura, Italia, Perancis, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat.

Masih terkait dengan naskah I La Galigo, Zaidi pun dilibatkan oleh sejumlah guru besar dari Universitas Hasanuddin untuk menerjemahkan sebagian naskah itu. ”Karena memang ada bahasa dalam naskah I La Galigo yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh siapa pun kecuali oleh bissu, karena memang itu adalah bahasa dewata atau bahasa torilangi,” ujar bissu kelahiran 31 Desember 1963 ini.

Kepedulian Zaidi pada tradisi Bugis kuno bukan hanya ditunjukkan dengan mau terlibat dan memberi masukan di sejumlah perhelatan adat, tetapi juga kerap berkeliling kabupaten atau tempat lain untuk mencari benda-benda kuno yang dia percayai masih merupakan peninggalan pendahulunya dan sudah ada sejak zaman Sawerigading (tokoh sentral dalam cerita I La Galigo).

Diusir orangtua

Bagi Zaidi, menjadi bissu bukanlah cita-cita atau pengaruh, apalagi ikut-ikutan, melainkan panggilan dan takdir. Panggilan ini bahkan sudah dirasakan Zaidi sejak masih berusia sembilan tahun. Tak heran di antara komunitas bissu yang ada di Pangkep dan daerah lain seperti Bone, Luwu, Soppeng, dan Wajo, Zaidi cukup dikenal.

Seangkatannya, Zaidi-lah satu-satunya bissu. Angkatan lain jauh di atas maupun di bawah Zaidi. Perbedaan yang cukup jauh ini disebabkan adanya pemberantasan bissu tahun 1980-an yang menyebabkan komunitas itu jadi berkurang.

Dia masih sangat kecil saat tertarik menjadi bissu, sementara kami boleh dikata sudah tua. Waktu itu kami heran, soalnya, selain masih sangat kecil, tidak ada di antara kami yang pernah mengajak dia untuk ikut menjadi bissu. Kalau ada acara ma’bissu atau acara adat lain yang melibatkan bissu, biasanya dia yang datang paling duluan. Sering pula kami dapati dia main bissu-bissu-an dengan teman-temannya. Makanya kami heran, kisah Puang Lolo, wakil Puang Matoa di komunitas bissu di Pangkep.

Menurut Zaidi, begitu kedua orangtuanya mengetahui minatnya menjadi bissu, mereka pun murka. Tiap hari saya dipukuli dan disiksa sampai badan saya luka-luka, bengkak, dan berdarah. Saya bahkan beberapa kali dilarikan ke UGD rumah sakit akibat pukulan orangtua saya. Tapi anehnya hal itu tidak mematikan keinginan saya menjadi bissu, katanya.

Bahkan, ketika orangtuanya memberikan pilihan angkat kaki dari rumah dan dikucilkan keluarga atau tidak menjadi bissu, Zaidi memilih meninggalkan rumah. Bukan hanya dari keluarga, tantangan juga datang dari masyarakat dan pemuka agama. Zaidi akhirnya bukan hanya meninggalkan rumah, tetapi juga meninggalkan kampungnya hingga situasi masyarakat membaik.

Orangtuanya akhirnya mau menerimanya kembali setelah seorang tokoh masyarakat menemui orangtuanya dan memintanya untuk menerima Zaidi apa adanya. Orang tua itu bilang kepada orangtua saya bahwa suatu saat saya akan jadi orang penting dan dicari oleh orang-orang penting. Dia juga bilang bahwa bissu sudah menjadi takdir saya dan karena itu orangtua saya harus ikhlas menerima apa adanya, katanya.

Kini, bersama rekan-rekannya sesama bissu di Pangkep yang jumlahnya tinggal sekitar 10 orang, Zaidi terus menjaga adat dan peradaban Bugis. Zaidi pun tak jemu-jemunya mengajarkan kepada siapa pun, terutama bissu-bissu baru yang jumlahnya kian berkurang kian hari, tentang adat dan kebijakan para pendahulu.

Adat masih ada saja tatanan kehidupan sudah kacau seperti sekarang. Pemimpin dan pembesar sudah banyak yang bertindak tidak benar. Peradilan sudah tidak adil, banyak orang kaya yang melupakan orang miskin dan tidak peduli lagi sekitarnya, alam dirusak sedemikian rupa. Bagaimana jadinya kalau adat dan kebijakan atau falsafah hidup orang dulu sudah hilang sama sekali. Karena itu, saya sangat berharap akan semakin banyak orang mau mendalami budaya dan adat istiadat pendahulu kita, katanya.

Sumber : Kompas, Kamis, 25 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks