Jun 18, 2009

Yutaka Iimura Purba Pakpak

Yutaka Iimura Purba Pakpak
Oleh : Myrna Ratna

Senin (20/3/2006) lusa akan menjadi saat menyedihkan bagi Yutaka Iimura Purba Pakpak (59). Ia akan meninggalkan Indonesia setelah bertugas sebagai Duta Besar Jepang selama tiga tahun tujuh bulan, rekor terlama bagi duta besar Jepang yang pernah bertugas di Indonesia.

Saya sangat sedih,” katanya pelan. ”Saya memiliki banyak kenangan di negara ini, dan memiliki komitmen emosional yang sangat dalam dengan Indonesia,” lanjut Iimura dalam perbincangan dengan Kompas, Kamis sore. Berkali-kali ia menyebut soal ”keterikatan yang telanjur dalam dengan negeri ini”, yang kini harus diputus.

”Seandainya saja saya kini diberi tahu bahwa tugas saya diperpanjang, saya sangat siap untuk tinggal,” katanya berandai.

Sepanjang tiga tahun tujuh bulan, Iimura mencoba mengenal Indonesia dengan segenap hatinya. Bukan saja sebagai wakil Pemerintah Jepang, tetapi juga sebagai pribadi yang ingin menjalin keakraban tanpa dibatasi rambu protokoler.

Sejak dua tahun lalu, setiap hari Sabtu, Iimura secara rutin mengajar bela diri iaido bela diri dengan menggunakan samurai di Gedung Skyline, Jakarta. Muridnya sebagian besar warga Indonesia. ”Sepanjang sejarah Indonesia, baru pertama kali olahraga iaido diperkenalkan di sini, meskipun olahraga seperti karate dan judo sudah sangat terkenal di sini,” kata Iimura yang telah mempelajari iaido selama 10 tahun dan aikido delapan tahun.

Berkat olahraga ini, ia bisa menggalang persahabatan dengan para praktisi olahraga bela diri lainnya. Hari Minggu besok ia akan memperoleh penghargaan dari Pendekar Pencak Silat Indonesia. ”Tahun lalu saya pernah tampil membawakan iaido dalam festival pencak silat yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri. Mereka bertepuk tangan setelah menyaksikan penampilan saya. Wah, itu pengalaman yang tak terlupakan,” kata Iimura yang juga fasih berbahasa Perancis.

Sosok yang ramah dan rendah hati ini memang mudah diterima masyarakat Indonesia. Siapa pun yang mengenalnya akan mengingat Iimura sebagai tokoh bersahabat.

Ia juga sangat santun. Bila perbincangan mulai menyinggung keburukan yang ada di Indonesia, seperti praktik korupsi yang merajalela, misalnya, Iimura buru-buru menimpali, ”Tapi di negara saya juga ada korupsi.”

Pada bulan Mei 2004, Iimura memperoleh marga Purba Pakpak di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, setelah terlebih dulu mendapat restu para tetua marga di sana. Bagi dia, penganugerahan itu merupakan bukti bahwa dirinya bisa diterima sebagai pribadi.

Komitmen bagi Indonesia

Kecintaannya terhadap Indonesia membuat Iimura selalu memikirkan masa depan negeri ini. ”Saya sering mengatakan kepada teman-teman, Indonesia harus bisa berkompetisi di era globalisasi ini,” ujarnya.

Dunia, katanya, berubah dengan cepat. Dan globalisasi berarti kompetisi. ”Jadi, setiap negara harus bisa berkompetisi agar mampu bertahan. Semua negara di dunia sekarang berupaya mereformasi diri agar tidak tertinggal. Kita berkompetisi dengan waktu,” tekannya.

Apa yang dibutuhkan Indonesia adalah ”sense of urgency”, untuk memahami betapa pentingnya berkompetisi dengan waktu tersebut. ”Sense of urgency ini harus dirasakan bukan saja oleh kalangan pebisnis dan politisi, tapi oleh semua pihak.”

Iimura sepakat bahwa pembenahan ekonomi merupakan faktor yang sangat penting dalam proses transisi di Indonesia, dan Jepang berkomitmen untuk membantu agar proses itu berlangsung mulus.

”Indonesia tetap menarik bagi investor Jepang. Hal itu terbukti bahwa Jepang merupakan negara penanam modal nomor satu di sini. Tapi memang benar, para pebisnis Jepang juga mulai berhati-hati (cautious) dengan iklim investasi di sini,” katanya.

Apa yang harus dilakukan Indonesia, ujarnya, adalah membenahi masalah infrastruktur yang benar-benar terabaikan setelah krisis ekonomi tahun 1998 dan mengurangi ekonomi biaya tinggi. ”Sebut saja, sistem perpajakan, perburuhan, dan perlunya kepastian hukum,” ujarnya.

Secara halus, Iimura menolak untuk mengatakan bahwa iklim investasi di negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Thailand, lebih atraktif dibandingkan di sini. ”Jepang memang tidak bisa mengonsentrasikan investasinya di satu negara saja, para investor juga menginginkan diversifikasi. Negara tujuan investasi yang potensial saat ini adalah Thailand dan Vietnam. Namun semua itu tergantung dari sektornya. Untuk industri otomotif dan elektronik, Indonesia lebih potensial,” katanya.

Iimura pertama kali datang ke Indonesia tahun 1991 sewaktu kunjungan Kaisar Jepang. Ia terkesan dengan modernitas di Jakarta (khususnya Jalan Sudirman-Thamrin) yang dipenuhi gedung tinggi. Tetapi ia juga menemukan kenyataan lain. ”Di belakang gedung-gedung tinggi itu terdapat kenyataan yang sangat kontras. Modernitas berhadapan dengan kemiskinan,” katanya.

Penghapusan kemiskinan dan rekonstruksi ekonomi menjadi semacam ”obsesinya” dalam membingkai hubungan bilateral Jepang-Indonesia. Jadi jangan heran, bila ditanya pengalaman apa yang paling sulit dilupakan dalam kariernya selama menjadi duta besar, Iimura akan cepat mengatakan, ”Pertama, terlibatnya Jepang dalam program-program rekonstruksi ekonomi di Indonesia, khususnya dalam mempromosikan investasi bagi negeri ini, menciptakan lapangan kerja dan menghapus kemiskinan. Hal lainnya adalah membantu rekonstruksi Aceh setelah bencana tsunami dan ikut berkontribusi dalam proses perdamaian di Aceh,” ujarnya.

Dalam pesta perpisahan bersama para sahabatnya, awal pekan ini, Iimura sempat berpesan, ”Saya yakin, saya optimis, akan masa depan Indonesia.”

Sumber : Kompas, Sabtu, 18 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks