Jun 18, 2009

Yuhadi, Kesetiaan Penjaga Badak

Yuhadi, Kesetiaan Penjaga Badak
Oleh : Helena Francisca

”Mmm… entarlah, tepat jam satu aku ke tempatnya Ratu. Jam-jam segini dia masih berkubang. Lagi pula, dia baru mulai berkubang jam sepuluh tadi,” kata Yuhadi (32) kepada kawannya, Dede Nurdin, dengan sangat yakin.

Jangan salah, katanya mulai menjelaskan. Ratu adalah seekor badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang menempati kawasan Suaka Rhino Sumatera (SRS) sejak 20 September 2005.

Ratu bersama-sama dengan tiga badak lainnya, yaitu Bina, Rosa, dan Torgamba, badak jantan satu-satunya, dipelihara secara in situ, yaitu dipelihara di habitat seperti aslinya di hutan wilayah SRS, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Meski dibiarkan berkeliaran bebas dalam ”kandang” yang luas, mereka tetap dipantau pertumbuhan dan kesehatannya.

Badak sumatera bersifat soliter dan memiliki daerah jelajah yang luas. Untuk itu, setiap badak dibuatkan kandang seluas 100 hektar. Sementara untuk menghindari gangguan gajah, kandang badak dipagari kawat besi beraliran listrik.

Senin (13/3/2006) siang, sesuai tugas, Yuhadi pergi mengawasi Ratu. ”Kebetulan tempat berkubang Ratu tidak jauh, hanya empat kilometer dari rumah penjaga ini. Dia sekarang ditempatkan di kandang tiga,” kata Yuhadi sambil bersiap melaksanakan tugas.

Yuhadi adalah penjaga atau pawang badak yang memulai pekerjaan itu dari nol. Pada tahun 1998, ketika dipekerjakan membangun pagar kawat beraliran listrik, ia diajak Marcel, dokter hewan di SRS, untuk bekerja sebagai penjaga badak.

”Yang namanya badak seperti apa, saya waktu itu belum tahu,” katanya. Sewaktu bertemu badak untuk pertama kalinya, Yuhadi mengaku sangat takjub.

Usai membangun pagar, ia bersama tujuh penjaga lainnya dilatih penjaga senior dari Taman Safari Bogor, Kebun Binatang Ragunan Jakarta, hingga dari kebun binatang di Inggris tempat badak Torgamba dibudidaya ex situ, di luar habitat asli.

Setiap badak dipelihara dan diawasi secara ketat oleh dua penjaga. Tugas Yuhadi adalah pergi mengikuti ke mana pun badak berjalan. Sambil mengikuti, ia mencatat perilaku badak, termasuk kapan si badak berhenti dan makanannya.

”Itu tidak mudah, butuh kemauan kuat. Apalagi badak hewan penyendiri. Sekali tahu diikuti dan merasa terancam, dia bisa menyerang kita,” kata Yuhadi sambil mengenang betapa ia pernah lari terkencing-kencing dikejar badak asuhannya.

Mengikuti, mencatat, dan memerhatikan perilaku badak bukanlah tanpa tujuan. Hal itu berguna ketika si badak sakit.

”Karena sudah tahu kebiasaan Ratu atau Torgamba, misalnya, maka ketika mereka sakit, dengan mudah diketahui penyebabnya. Antisipasi bisa segera dikerjakan,” kata Yuhadi.

Mengikuti badak pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Badak baru bisa ditinggal bila sudah berkubang. ”Ia bisa tahan berkubang empat-lima jam,” kata Yuhadi. Setelah itu, ia akan bangun dan beraktivitas lagi. Itulah saat penjaga harus datang dan menguntit lagi.

Harus telaten

Yuhadi harus betul-betul sabar dan telaten. Setiap pagi, mulai pukul 07.00, ia harus bisa menggiring badak asuhannya kembali ke kandang. Harus bisa sebab badak adalah hewan soliter dengan daya jelajah luas.

Begitu badak masuk kandang, ia akan diberi makanan tambahan dan vitamin serta menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah menjalani rutinitas itu, si badak akan dilepas supaya beraktivitas di hutan.

Begitu terus setiap hari. ”Rutinitas itu bukan lagi sekadar menjalankan kewajiban. Saya sudah telanjur jatuh cinta pada badak,” kata Yuhadi.

Itu sebabnya sejak hari pertama bekerja hingga tahun kedelapan ini Yuhadi menjalani hari-hari mengawal badak dengan kesetiaan dan tulus hati. Tanpa ketulusan, mana ada yang mau mengikuti hewan yang tergolong liar itu? Di hutan, lagi!

Itu sebabnya, selain mengikuti dan memerhatikan perilaku badak, Yuhadi dan teman-teman juga dituntut berani berada di tempat sepi di dalam hutan serta berani mendekati dan menghadapi badak.

Belum bunting

Sebagai pencinta satwa langka itu, Yuhadi mengaku sangat sedih melihat hewan asuhannya belum juga bunting. Diperkirakan, itu karena kualitas sperma Torgamba kurang bagus. ”Pernah beberapa kali badak-badak itu kawin, tetapi tidak bunting-bunting juga,” kata Yuhadi sedikit kecewa.

Kekecewaan itu bukannya tanpa alasan. Pasalnya, pilihan pekerjaan yang pada awalnya ia anggap baru dan tidak terpikirkan itu ternyata sangat menantang. Bapak satu putri bernama Fitri Ariani (8) dari pernikahannya dengan Aningsih ini merasa bangga bisa turut membantu dan dipercaya dalam rangka penyelamatan hewan langka yang nyaris punah itu.

”Selama saya masih dipercaya di sini, saya dengan tulus dan penuh harap ingin melihat badak-badak itu berkembang biak. Mereka kan sudah sedikit jumlahnya,” katanya.

Tepat pukul 13.00, Dede Nurdin, penjaga lainnya, dengan lantang berteriak kepada Yuhadi. Dari rumah tempat para penjaga itu beristirahat, ia berlari mendekat ke tempat kami mengobrol. ”Sudah jam satu. Ayo, kita menengok mereka!”

Sepeda motor yang sudah disiapkan Yuhadi segera dihidupkan. Berboncengan mereka meluncur masuk ke dalam hutan. Mereka akan menuju tempat Ratu berkubang.

Sumber : Kompas, Senin, 20 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks