Jun 18, 2009

Menik Indah Winarni : Menik Bekerja Bersama Perempuan Cacat

Menik Bekerja Bersama Perempuan Cacat
Oleh : Djoko Poernomo

Tinggi badan Aisyah kurang dari satu meter. Padahal, tahun ini usianya hampir seperempat abad. Kondisi fisik yang kurang normal itu tidak membuat gadis lulusan sekolah menengah pertama tersebut rendah diri.

Saat diminta pemilik industri rumahan, Ny Menik Indah Winarni (56), mendemonstrasikan cara membatik di kantor sekaligus bengkel kerja di Jalan Wonosari Kilometer 6, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, awal pekan lalu, Aisyah cukup luwes memainkan canting. Industri rumahan itu berbendera CV dengan nama Indah Citra Nugraha (ICN).

”Di sini baru sekitar dua tahun. Tetapi, telah menjadi andalan,” tutur Menik tentang Aisyah, alumnus Pusat Rehabilitasi Centrum (RC) Solo.

Tempat rehabilitasi khusus bagi warga cacat ini setahun sekali mengirim alumninya ke CV ICN untuk magang. Jika mereka betah, Menik tidak berkeberatan seandainya mereka ingin terus bergabung. Namun, sekiranya sudah mampu mandiri, ia pun tidak bakal menghalangi.

Aisyah sendiri mengaku ilmu membatik yang diperolehnya masih perlu dikembangkan. Karena itu, ia belum merencanakan keluar. ”Saya masih pengin ikut di sini,” ungkapnya sambil menyeka keringat.

Seperti pekerja-pekerja lain, Aisyah makan dan tidur secara gratis di rumah Menik, sementara gaji berdasarkan banyak/sedikitnya garapan populer disebut borongan dikirim ke orangtuanya di Wonosobo, Jawa Tengah. Keberanian Menik mempekerjakan sejumlah perempuan cacat perlu diapresiasi. Kebijakan itu diambil lebih dari 10 tahun lalu.

”Saya, kok, melihat banyak perusahaan yang menolak perempuan cacat fisik. Lalu siapa yang akan menampung mereka?” gumam ibu empat anak dan nenek lima cucu yang pernah tinggal di asrama TNI AU Maospati, Jawa Timur, sebelum akhirnya pindah ke Bantul dan membuka industri rumahan. Untuk mengendalikan usaha CV ICN, ia dibantu anak sulungnya, Imawan Sahirudin (35), lulusan Fakultas Hukum Universitas Proklamasi, Yogyakarta.

Aisyah yang pertumbuhan badannya kurang normal dan Ngatiyem (46) yang kedua kakinya mengecil merupakan perempuan cacat yang setia bergabung dan tinggal di sana. Di luar keduanya masih ditemukan puluhan perempuan lain, baik cacat maupun normal, yang minta dan menerima pekerjaan dari industri rumahan itu tetapi tinggal di rumah masing-masing karena sudah berkeluarga.

Diakui, membantu penyandang cacat bagi Menik lebih merupakan bagian dari ibadah. ”Jika dihitung dari segi ekonomi memang tak sebanding. Wong, mereka enggak bisa bekerja secara full. Tetapi, ini ibadah sehingga untuk sementara masalah untung rugi dikesampingkan,” ungkapnya. Ia merintis usaha sejak tahun 1987 dengan modal dari penjualan dua gelang emas serta bantuan keluarga sebesar Rp 2 juta.

Keterlibatan perempuan penyandang cacat fisik bekerja di rumah Menik diawali kebiasaan merayakan ulang tahun di panti-panti asuhan. Suatu ketika, peristiwa ini berlangsung di sebuah panti asuhan ”milik” RC Solo. Di situ ia melihat sejumlah perempuan cacat yang mempunyai keterampilan merajut dan menganyam.

”Apakah saya boleh mengambil beberapa orang untuk membantu pekerjaan saya,” tuturnya seperti pernah disampaikannya 11 tahun lalu. Untuk tahap pertama (1991), ia mengajukan permohonan 15 orang. ”Dari mereka yang diundang, kok, enggak ada yang tidak hadir. Jadilah 15 orang berkumpul di sini,” ungkap Menik yang juga berprofesi sebagai perias pengantin adat Jawa dan Sunda.

Model SBY

Bersama para karyawan setempat Menik saat ini sedang merampungkan pekerjaan membuat baju pengantin yang tengah digandrungi para remaja putri, yakni seperti yang dikenakan presenter Aulia Larasati Pohan saat bersanding di pelaminan bersama Letnan Satu (Inf) Agus Harymurti Yudhoyono di Istana Bogor, awal Juli 2005.

”Mengingat Agus adalah putra Presiden, demi mudahnya para remaja putri menyebut pakaian yang tengah nge-tren sebagai model SBY,” tuturnya. Berapa pun jumlah model SBY produksi CV ICN dilempar ke pasar pasti laku. Malah boleh disebut kewalahan menerima order. Satu potong pakaian pengantin model SBY dijual seharga Rp 200.000-Rp 300.000. ”Jika dilihat dari arah belakang, model SBY memang seksi. Ini yang membuat calon pengantin demen. Kalau perias pengantin tak memiliki koleksi model SBY, bisa disebut kuno,” tambahnya. Ia biasa melempar model SBY ke pasar di Jakarta dan Bandung dua minggu sekali.

Pernah pula Menik menerima order pakaian penari striptease dari sebuah biro perjalanan asal Jerman. Baju penutup aurat yang penuh dengan manik-manik tersebut diproduksi sebanyak 20 buah. ”Saya hanya dikirimi gambar lewat faksimile. Lalu saya buat, dan contoh pakaian saya kirim ke pemesan. Lho, kok, cocok. Buktinya ditindaklanjuti dengan pengiriman uang,” ungkapya.

Menggunakan jasa faksimile pula, CV ICN saat ini merampungkan pesanan puluhan baju kebesaran untuk para datuk asal Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur.

Atas pesanan-pesanan tersebut, Menik bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga tamat perguruan tinggi.

Sumber : Kompas, Jumat, 17 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks