Jun 18, 2009

Yudi Ahmad Tajudin : "Waktu Batu" Yudi

"Waktu Batu" Yudi
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty

Yudi Ahmad Tajudin (34) adalah seniman yang tak pernah berhenti. Pemikirannya di dunia teater dia tuangkan melalui bentuk-bentuk pertunjukan oleh Teater Garasi Yogyakarta, yang boleh dikata avant-garde.

Pada 21-24 April 2006 kelompok ini berada di Tokyo untuk kesekian kalinya dan mementaskan repertoar Waktu Batu#3.Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu.

Repertoar ini terus mengalami reinterpretasi. Sebelumnya pernah dipentaskan di Art Summit IV (2004) Jakarta dan In-Transit Festival (2005) di Berlin, Jerman.

Sebagai bidan dan direktur artistik Garasi, Yudi menelurkan sejumlah naskah. Waktu Batu, salah satu garapan lelaki lajang ini, seolah terlahir menjadi ikon Garasi. Repertoar ini lebih menampilkan gerak dan simbol daripada narasi verbal. "Karena itu, banyak orang berpikir Teater Garasi itu teater yang bergaya absurd," ucap Yudi.

Kegelisahan tentang masa transisi atau perpindahan zaman memberikan inspirasi lahirnya Waktu Batu. Proses transisi yang paling mengilhaminya adalah transisi kekuasaan pada 1998. "Pada masa transisi sekitar tahun 1998, kita belajar lagi tentang keragaman dalam hidup bermasyarakat yang paling riil. Banyak pertanyaan muncul, termasuk tentang identitas saya dan orang lain," paparnya.

Masa transisi bukanlah milik akhir abad ke-20 saja. Bersama anggota teaternya, Yudi berusaha merunut pengalaman transisi dalam sejarah bangsa ini. Sampailah ia pada Candi Sukuh di Gunung Lawu, Jawa Tengah, yang merupakan simbolisasi dari masa transisi pada abad XIV-XV.

Perunutan sampai berselang sekitar enam abad itu bukanlah tanpa alasan. Sebaliknya, karena ia terobsesi menjadikan teater yang lahir dari sebuah riset. Waktu Batu adalah representasi teater yang berdasarkan riset (theatre based on research), sesuai dengan idealisme Yudi untuk membuat teater yang tidak sekadar ruang berekspresi.

Dalam pandangan Yudi, teater tidak cukup didasarkan pada konsep sebuah "ruang praktik estetika" dan interaksi kesadaran sosial. "Teater adalah juga praktik pengetahuan. Ini yang paling kurang diperhatikan oleh kebanyakan teater di Indonesia. Padahal, unsur ini penting," ungkapnya.

Implikasi dari diterapkannya teater sebagai praktik pengetahuan ini tercermin dari perjalanan Teater Garasi. Di situ, soal dokumentasi karya dan proses merupakan sesuatu yang wajib karena dokumentasi itu akan dipakai untuk belajar di kemudian waktu.

Pencatatan atas segala hal yang ditemui dalam riset juga dilatih sebagai tradisi di dalam kelompok. Jika butuh memperkaya pengetahuan, ia dan teman-teman mengundang pembicara dari luar untuk berdiskusi bersama.

Pilihan hidup

Api kegelisahan dan pencarian Yudi mulai membara sejak kecil. Masa kecil putra ketiga dari pasangan Wahmad dan Romlah ini selalu dihadapkan pada situasi yang menuntutnya untuk menyelesaikan segala sesuatu sendiri. Maklumlah, karena alasan ekonomi, kedua orangtuanya menghabiskan waktu untuk mencari nafkah.

"Boleh dikatakan saya hidup sendiri sejak kecil. Kedua orangtua saya punya kesibukan masing-masing dan tidak sempat menemani saya untuk belajar di rumah. Sedangkan kedua kakak saya sudah tidak tinggal serumah lagi dengan kami," papar Yudi.

Karena kegigihannya untuk belajar, pria yang lahir dan besar di kawasan Tanjung Priok, Jakarta, ini sudah bisa membaca sebelum masuk sekolah dasar meskipun ia tidak menempuh pendidikan taman kanak-kanak. Kemampuan ini diperolehnya dari para tetangga serta "keusilannya" membongkar koran-koran bekas milik ibunya yang sedianya dipakai untuk bungkus barang dagangan. Koran-koran ini turut membantu kelancarannya mengeja huruf.

Yudi mulai terjun ke dunia teater sejak ia hijrah ke Yogyakarta, tahun 1988 saat berusia 15 tahun dan akan menginjak kelas III SMP.

Debut sebagai sutradara dimulainya dengan menyutradarai Teater Kertas SMAN 2 Yogyakarta, yang juga menjadi sekolah almamaternya, tahun 1992. "Saya juga pernah menjadi sutradara terbaik dalam Festival Teater Remaja, tahun 1993, lho," kata Yudi, yang saat ini memutuskan untuk serius menjadi sutradara.

Ketika kuliah di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada tahun 1993, ia bersama Y Kusworo Bayu Aji dan Puthut Yulianto mulai mendirikan Teater Garasi pada tanggal 4 Desember sebagai sebuah kelompok kegiatan mahasiswa Fisipol. Nama garasi diambil dari sebuah garasi di kampusnya yang saat itu sering dipakai sebagai tempat berkumpul.

Sejak memutuskan untuk menjadikan teater sebagai pilihan profesi dan pilihan hidupnya pada tahun 1997, Yudi tidak canggung "terjun-bebas" dalam dunia teater.

"Memang, tidak serta-merta saya langsung bisa hidup dari dunia teater. Saya masih mengikuti sejumlah kegiatan di luar Teater Garasi, yang masih berhubungan dengan dunia teater. Ya, untuk hidup," ucap Yudi yang telah menyutradarai sejumlah naskah untuk Teater Garasi, antara lain Les Paravents (2000), Carousel (1997), dan Kapai-Kapai (1997).

Sumber : Kompas, Sabtu, 22 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks