Jun 18, 2009

Aisma Tutu : Tutu, Operator Alat Berat

Tutu, Operator Alat Berat
Oleh : Khaerul Anwar

Perempuan menjadi sopir haul truck (truk pengangkut berukuran raksasa), siapa takut! Itulah jawaban Aisma Tutu, warga Desa Beru, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tutu memang salah satu dari 18 operator alat berat berbagai unit kerja di PT Newmont Nusa Tenggara, perusahaan penambangan emas dan tembaga di Batu Hajau, Desa Sekongkang.

Kendaraan berat yang jadi pegangannya sehari-hari berupa haul truck 793, jenis truk terbesar dengan kapasitas 240 ton sekali angkut. Sebagai gambaran, diameter roda (ban) kendaraan berat ini saja setinggi tiga meter dari total tinggi truk tujuh meter, lebar baknya lima meter, dan tonasenya 101 ton. Bisa dibayangkan bagaimana harus mengoperasikan kendaraan "raksasa" ini.

Pengangkutan batuan di kawasan penambangan itu sudah ditentukan lokasinya. Misalnya, batuan yang nilainya high grade (tingkat tinggi) langsung dibawa dari lubang tambang ke lokasi crusher (mesin penghancur). Kemudian, batuan kategori medium dan low grade (tingkat rendah) ditumpuk di area penyimpanan stok, sedangkan batuan yang nilainya rendah disimpan di area dumping.

Sejak perusahaan PT Newmont melakukan eksploitasi kawasan perbukitan setinggi 600 meter di atas permukaan laut itu pada tahun 2000, kini kedalaman penambangan sekitar 700 meter, atau di bawah titik nol (minus 0,90). Di situlah Tutu mondar-mandir, siang-malam, terkadang makan-minum dan shalat dilakukan di atas truk itu.

Tidak ada teman di dalam kabin truk, kecuali tombol-tombol dan radio gelombang FM sebagai hiburan. Malam hari adalah jam kerja paling berat, terutama ketika harus menahan kantuk.

"Paling gawat sekitar pukul 04.30, mendekati jam tugas berakhir, rasanya kepala ini ingin secepatnya diparkir di atas bantal," tuturnya bernada canda. Dalam keadaan seperti itu, Tutu terpaksa mencuci wajahnya dengan air mineral untuk mengusir kantuk.

Seperti karyawan lainnya, Tutu bekerja 12 jam, yaitu pukul 06.00-18.00 (tugas siang) dan pukul 18.00-06.00 (tugas malam). Tiap empat hari bekerja, ia diberi waktu istirahat empat hari. Pergi pulang dari rumah ke tempat kerjanya berjarak sekitar 15 kilometer, dan ditempuh dengan angkutan umum. "Kalau tugas siang, saya harus sudah bangun pukul 03.00. Kalau tidak sempat sarapan, saya beli makanan di warung dekat tempat kerja, lalu saya makan di truk," tuturnya.

Mengemudikan kendaraan berat seperti haul truck niscaya dituntut kesehatan fisik dan konsentrasi yang prima. Lengah sedikit, urusannya fatal, nyawa taruhannya. Kewaspadaan harus ditingkatkan, khususnya di musim hujan, karena tanah yang dilindas kendaraan amat licin.

Makanya, begitu masa istirahat tiba, Tutu "merasa jadi orang paling bebas, tidak punya beban apa-apa". Masa bebas tugas itu dimanfaatkan istri Nurhamka ini untuk mengasuh anaknya, Sofira Ratu Zakira, yang selama bertugas diasuh oleh sang nenek.

Tampilnya Tutu sebagai sopir alat berat membuktikan tak perlu adanya pembagian kerja yang sifatnya seksual (jender), apalagi didasari pertimbangan yang mengada-ada. Bahkan, dia juga terampil mengoperasikan alat berat lain, yaitu escavator 5230, jenis alat keruk terbesar, dengan kapasitas 30 ton sekali keruk. Tutu pun menjadi kebanggaan masyarakat karena ia menjadi salah satu tenaga kerja lokal di sejumlah desa lingkar tambang.

Pengin menyetir

Tutu tidak pernah membayangkan akan menggeluti pekerjaan sebagai operator kendaraan berat. Dengan tubuh setinggi 150 sentimeter dan tergolong kurus, orang tidak percaya Tutu punya "pegangan" kendaraan berat seukuran satu unit rumah rumah sangat sederhana.

"Dalam benak saya, saat lulus sekolah, saya ingin bekerja di poskewan (pos kesehatan hewan)," ungkapnya. Tutu lulusan Sekolah Menengah Teknologi Pertanian Jurusan Peternakan pada tahun 1996 di Desa Sakra, Lombok Timur.

Selepas sekolah, Tutu melamar menjadi pegawai negeri. Dua tahun menunggu, panggilan tidak kunjung tiba. Tahun 1998, perusahaan tempatnya bekerja—PT Newmont Nusa Tenggara—sedang mencari tenaga operator kendaraan. "Saya penasaran. Suatu ketika, saya pernah melihat haul truck itu cuma bagian baknya saja. Bagaimana bentuk utuhnya, saya pengin menyetirnya," ujar Tutu menuturkan awal ia tertarik menjadi sopir haul truck.

Seleksi administrasi dilaluinya tanpa hambatan. Kemudian dia dipanggil untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan selama empat bulan, baik teori maupun praktik, di Mataram, sebelum dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat sebagai operator kendaraan-kendaraan berat.

Pada awalnya Tutu takut, khawatir, dan meragukan kemampuannya menyetir kendaraan "raksasa" itu. Terlebih lagi dia sebenarnya tidak bisa mengendarai mobil. Medan tempuhnya pun bukan jalan raya beraspal, melainkan jalan berkelok-kelok, terjal, dan naik-turun.

Namun, keinginan dan dorongan yang kuat memupuskan keraguan dan ketakutannya. Belakangan dia jadi terbiasa mengoperasikan alat berat itu. Apalagi kendaraan itu seluruhnya digerakkan dengan sistem komputer sehingga praktis pengemudinya tinggal mengatur kecepatan dan kemudi.

Jika ingin istirahat, buang air kecil, dan lainnya, pengemudi tinggal menekan tombol tertentu yang diprogram khusus, sebagai pemberitahuan kepada petugas pemantau yang memonitor pergerakan mobil di seputar lokasi penambangan lewat layar monitor yang dipasang di ruang monitor (dispatch).

Sampai kapan menjadi pengemudi? Tutu menjawab, "Untuk saat ini saya masih senang jadi operator. Mungkin nanti ketika dalam usia tertentu, manajemen mempertimbangkan saya untuk bekerja di unit kerja lain di perusahaan ini."

Sumber : Kompas, Jumat, 21 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks