Jun 18, 2009

Yudhi Oentoro : Eksklusivitas Kerajinan Batok Yudhi Oentoro

Eksklusivitas Kerajinan Batok Yudhi Oentoro
Oleh : Kris R Mada

Namanya tak bisa dilepaskan dari kerajinan batok Jawa Timur. Itulah Yudhi Oentoro (39), yang dari bengkelnya telah dilahirkan aneka kerajinan.

Perkenalannya dengan kerajinan batok dimulai tahun 1995. Di salah satu hotel di Bali, Yudhi mengenang, dia melihat perlengkapan kamar berlapis batok. Itu yang rupanya memberinya inspirasi, ketika setahun kemudian seorang rekan menawarkan pelapisan termos dengan batok. Ia terima tawaran itu meski diiringi kebingungan, dari mana mendapatkan bahan baku. ”Batok memang banyak, tetapi mencari yang sudah dibersihkan sulit. Waktu itu mana orang terpikir mengolahnya menjadi kerajinan,” kenangnya.

Awalnya dia memulai bisnisnya dengan dua tenaga kerja. Bahan baku didapat dari seorang kawan yang bersedia memasok satu karung batok bersih. Kini dalam sebulan bengkelnya memakai setengah truk batok bersih.

Bermula dengan sikap tidak terlalu serius menggulati bisnis melapisi termos dengan batok ini, waktu itu ia malah membuat lembaran papan berlapis batok. Akan tetapi, produk itu kehilangan pasar pada tahun 1997. Di tengah krisis, jarang orang mau memikirkan bahan eksotis untuk rumahnya.

Akhirnya ia fokus pada perlengkapan dan hiasan rumah. Ia melayani pesanan dari hotel-hotel. Dalam hal ini, Yudhi berusaha memberikan produk eksklusif kepada pelanggannya. Pesanan salah satu pelanggan biasanya dibuat sesuai dengan jumlah pesanan ditambah untuk kebutuhan pajangan. Produk itu tidak akan dijual ke pihak lain dalam jangka waktu setahun sejak pesanan diterima. Bengkelnya baru memproduksi lagi untuk pasar lebih luas setelah masa itu lewat. Dengan cara itu, pelanggan puas dan tetap memesan dari bengkelnya.

Dia yakin produknya tidak kehilangan pasar. Menurut dia, setiap produk kerajinan memiliki segmen pasar yang biasanya sulit menerima produk lain. Itu sebabnya promosi kerajinan tidak bisa memakai alat massal. Promosi dan pemasaran harus ditujukan langsung dan terfokus pada setiap segmen.

Itu juga yang membuatnya tidak khawatir dengan pesaing. Dalam bisnis kerajinan, setiap perajin punya ciri khas masing-masing. Keunggulan kerajinan buatan tangan adalah variasi pada setiap produk dan jenis. Perajin seharusnya menonjolkan itu, bukan kuantitas produk.

Perajin yang mementingkan kuantitas akan terbentur pada biaya produksi. Biaya produksi kerajinan buatan tangan akan semakin mahal jika dibuat semakin banyak. Pasalnya, waktu pembuatan lebih lama sehingga ongkos pembuatan semakin mahal. Hal itu tidak berlaku pada produk yang dibuat mesin. Semakin banyak dibuat, biaya semakin murah.

”Buat produk dalam jumlah terbatas saja. Selain memberi hak eksklusif pada pemesan, itu juga menghindari kemungkinan produk tidak laku akibat sudah ketinggalan mode,” ujarnya.

Persoalan mode dan tren amat penting dalam dunia kerajinan. Di sini Yudhi memanfaatkan jasa perancang untuk produknya. ”Kalau hanya mengandalkan pesanan, akan sulit bersaing di pasar. Perajin akan lebih mudah memperkirakan kebutuhan pasar jika bekerja sama dengan perancang,” ujarnya.

Saat ini ia memproduksi sekitar 60 jenis produk berlapis batok. Produknya antara lain lemari, kursi, meja, alat makan, serta hiasan rumah.

Pembuatan lembaran papan berlapis batok juga masih dilakukan. Produk itu khusus untuk diekspor, antara lain, ke Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Namun, saat ini ia tengah dipusingkan persoalan bahan baku produk lembaran berlapis batok. Di pasar domestik, amat sulit mencari kayu lapis berkualitas ekspor.

Di sini hanya ada produk sisa ekspor dan tidak mungkin dipakai di bengkelnya. Pelanggannya menuntut standar produk yang tinggi. Cacat sedikit saja membuat produk tidak diterima pasar. ”Produsen mau memasok kualitas ekspor kalau membeli 10 kontainer. Padahal, dalam sebulan, saya hanya butuh 200 lembar,” ungkapnya.

Bermodal tabungan

Yudhi mungkin tidak akan menggeluti kerajinan batok jika sebelumnya tidak berbisnis mebel kantor. Bisnis itu digeluti sejak masih kuliah di Jurusan Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknik Surabaya dengan menjadi tenaga pemasar. ”Kuliah di jurusan itu membuat saya terbiasa dengan detail,” ujarnya.

Setelah lulus kuliah pada tahun 1990, ia memutuskan membuat produk sendiri. Dengan modal tabungan hasil kerja selama kuliah, ia membuka bengkel di kawasan Medokan Ayu, Surabaya, Jawa Timur.

Saat ini, bengkel itu mempekerjakan 70 orang. Saat pesanan meningkat, Yudhi kerap menambah tenaga kerja lepas. Setiap bulan, omzet bengkel itu tidak kurang dari Rp 200 juta. Selain mebel kantor dan kerajinan batok kelapa, bengkel itu juga menghasilkan kerajinan kulit kerang dan kulit kayu manis. Dua produk itu mulai diproduksi awal tahun lalu.

Meski sudah banyak jenis kerajinan dihasilkan, Yudhi tidak mematenkan produknya. Hak paten dinilai tidak cocok untuk kerajinan. ”Buat apa punya hak paten tapi produk tidak bisa dipasarkan karena ketinggalan zaman,” tuturnya.

Sumber : Kompas, Kamis, 2 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks