Jun 18, 2009

Yous Hamdan : Yous, Sastrawan Kepala Desa

Yous, Sastrawan Kepala Desa
Oleh : Her Suganda*

Begitu tahu namanya diumumkan sebagai pemenang Hadiah Sastra ”Rancage” 2006 untuk karya dalam bahasa Sunda, Yous Hamdan segera melakukan sujud syukur. Kepala Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, itu mengaku tidak pernah membayangkan kumpulan cerita pendeknya, ”Geus Surup Bulan Purnama” (Bulan Purnama Telah Masuk Peraduan), yang diterbitkan PT Kiblat Buku Utama akan menyisihkan 19 judul buku-buku Sunda lainnya.

Buat saya, ini merupakan penghargaan tertinggi dan sekaligus pemicu agar berkarya lebih baik,” katanya tentang penghargaan sastra yang dimotori Prof H Ajip Rosidi itu.

Yous yang akrab dipanggil Pak Haji, bukan sekali ini meraih penghargaan untuk karyanya. Lewat kumpulan puisinya, pada tahun 1993 ia menyabet penghargaan sastra DK Ardiwinata dari Paguyuban Pasundan. Dua tahun kemudian, tahun 1995, kembali meraih penghargaan dari Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) untuk cerita pendeknya Simpe di Makam (Suasana Hening di Pemakaman).

Akrab, ramah, dan terbuka, ayah lima anak dari perkawinannya dengan Ny Mamah Djuariah itu sebelumnya adalah pendidik. Yous Hamdan pernah menjadi guru SD dan SMP Muhammadiyah dan kemudian guru SMP negeri di Garut (1978-1981). Kariernya sebagai pendidik berakhir ketika ia dialihtugaskan ke Bagian Kebudayaan Kanwil (Kantor Wilayah) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat di Bandung (1981-1987). Namun setelah tahun 1987, ia diangkat menjadi guru SMA Negeri Margahayu, sampai akhirnya pensiun pada tahun 2001.

Pernah menjadi juara pertama Lomba Mengarang Tingkat SLTA yang diselenggarakan Yayasan Bakti Haruman, selama itu karya- karyanya, baik berupa cerpen maupun naskah drama, tidak pernah dikirimkan ke surat kabar atau majalah. ”Malu, dan takut ditolak oleh redaksinya,” kata Yous.

Naskah-naskah itu akhirnya dibacakan sendiri di depan corong radio swasta di sekitar daerah Sayati, yang saat itu sedang marak. Naskah drama dipentaskan di sekitar daerahnya bersama para pemuda lainnya. ”Saya jadi penulis, jadi sutradara, dan semuanya sendiri saja,” katanya sambil tertawa lebar.

Perjalanan kepengarangannya boleh jadi tidak akan berkembang jika tidak berkenalan dengan pengarang Sunda senior Olla Saleh Sumarnaputra atau Mang Olla. Melalui Mang Olla, Yous dikenalkan dengan komunitas pengarang di Bandung. Bahkan atas dorongannya, pada tahun 1974, ia memiliki keberanian mengirimkan naskahnya ke majalah Sunda Hanjuang.

Bahasa yang halus

Lahir di Sayati, Bandung, 6 Agustus 1947, Yous mengalami masa-masa produktif dalam kurun waktu 1980-1990. Karya-karyanya berupa cerita pendek dan puisi banyak dimuat di penerbitan berbahasa Sunda, seperti majalah Hanjuang, Mangle, Galura, dan Giwangkara. Salah satu karyanya berupa kumpulan puisi ”Kalakay Budah” diterbitkan pada tahun 1994.

”Geus Surup Bulan Purnama” yang menjadi judul bukunya merupakan salah satu judul dari 12 cerita pendeknya yang pernah dimuat di penerbitan tersebut. Karya itu menceritakan riwayat Rasulullah SAW yang dituturkan dari sudut Bilal. Bilal adalah seorang budak yang dibebaskan dengan cara ditebus dan kemudian dipercaya menjadi muazin Masjid Nabawi di Madinah.

Dengan bahasa yang halus, menyentuh perasaan, Yous berhasil menempatkan diri sebagai Bilal yang merasakan kehilangan amat sangat pada saat Rasulullah SAW wafat. Sehingga pada waktu shalat tiba, ia tidak mampu mengumandangkan azan yang menjadi tugas rutinnya.

Kerongkongannya serasa tersumbat. Kepergian Rasulullah SAW untuk selama-lamanya itu diibaratkan bulan purnama yang sudah masuk peraduan.

Naskah-naskah cerita pendek tersebut sebenarnya sudah dianggap hilang jika saja Direktur Utama Penerbit PT Kiblat Buku Utama Rahmat Taufik Hidayat dan Pemimpin Redaksi Majalah Sunda Cupumanik, Drs Hawe Setiawan, tidak mendesaknya untuk menerbitkan kembali. Naskahnaskah itu baru ditemukan Yous setelah dengan payah dicari karena tertimbun barang-barang lainnya pada saat rumahnya direnovasi. ”Kertasnya sudah kumal berwarna kekuning-kuningan,” katanya.

Menjadi kepala desa

Yous Hamdan sebenarnya bercita-cita melanjutkan dunia kepengarangannya, begitu ia memasuki masa pensiun. ”Saya memperoleh kepuasan batin dalam mengarang,” katanya.

Akan tetapi, tahun 2001 sejumlah tokoh dan pemuka masyarakat, serta teman-temannya yang dahulu beraktivitas kesenian mendesaknya agar mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Berkat dukungan warga, Yous berhasil menyisihkan empat calon lainnya. Namun, keberhasilan itu harus ditebus mahal. Ia terpaksa menunda cita-citanya, paling tidak untuk sementara. Dengan posisinya itu, ia lebih banyak menggulati persoalan sehari-hari masyarakat di desa yang dipimpinnya.

”Semua itu saya endapkan, sehingga suatu saat akan dituangkan menjadi karangan,” ia mengungkapkan jiwa dan semangatnya yang masih belum padam sebagai pengarang.

*Her Suganda, Pengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat (FWP-JB)

Sumber : Kompas, Rabu, 1 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks