Jun 12, 2009

Yovie Widianto dan Pop Bergizi

Yovie Widianto dan Pop Bergizi
Oleh : Dahono Fitrianto

Yovie Widianto (38) membuktikan diri sebagai salah satu musisi dan pencipta lagu paling andal di kancah musik pop Tanah Air saat ini dalam konsernya yang bertajuk "A Mild Live Magical Journey of Yovie Widianto" di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (14/9/2006) malam lalu.

Dengan alasan untuk mendapatkan feeling dan soul asli dari lagu-lagunya, Yovie sengaja tidak menampilkan pertunjukan musik yang diiringi orkestra seperti gaya konser yang sedang digemari pemusik/penyanyi lain. Sebagai gantinya, Yovie menampilkan format band combo dengan sentuhan seksi musik tiup (brass section) dan seksi musik gesek (string section) secukupnya.

"Pemain saya batasi tidak lebih dari 30 orang. Seluruh pemain, kecuali di brass dan string section, saya larang membaca partitur, untuk menampilkan spontanitas permainan band yang sesungguhnya," ujar Yovie yang merancang konsep konser, memilih lagu, memimpin band, dan ikut memainkan piano dan kibor dalam konser tersebut.

Lalu mengalirlah sekitar 23 lagu pop yang selama ini sangat akrab di telinga kita. Lagu-lagu terpopuler tersebut dibawakan secara bergantian oleh beberapa penyanyi yang dipilih Yovie untuk mendampinginya di konser ini, yakni Armand Maulana, Audy, Rio Febrian, Dea Mirella, dan Sita (dari kelompok Rida- Sita-Dewi).

Bagi yang tidak terlalu teliti mengamati perkembangan musik Indonesia mungkin akan kaget mengetahui bahwa lagu-lagu yang aslinya dibawakan sederetan nama top di belantika musik Tanah Air selama dua dekade terakhir ini ternyata ditulis dan digubah oleh satu orang. Sebut saja Merenda Kasih yang dibawakan Ruth Sahanaya pada akhir 1980-an, kemudian Untukku yang dipopulerkan Chrisye, Sebatas Mimpi-nya Rita Effendy, dan Janji di Atas Ingkar (Mendua) yang melambungkan nama Audy.

Mendayu-dayu

Di panggung musik Indonesia sejak periode 1990-an, nama Yovie Widianto hampir selalu diidentikkan dengan band asal Bandung, Kahitna. Yovie memang memotori band—yang awalnya bermain fusion jazz dan kemudian berbelok ke pop—itu sejak didirikan pada 1986.

Setelah sukses dengan Kahitna, Yovie membentuk band baru yang dinamakan Yovie & The Nuno. Dalam konser kemarin, tiga vokalis Kahitna dan dua vokalis Yovie & The Nuno, yakni Hedi Yunus, Carlo Saba, Ronnie Waluya, Dudi Oris, dan Gail Monoarta, turut tampil di bawah nama 5 Brother untuk membawakan lagu-lagu karya Yovie.

Meski beberapa nomor Kahitna dan Yovie & The Nuno tergolong lagu-lagu yang berirama rancak dan dinamis, Yovie lebih dikenal dengan lagu-lagu berirama pelan, mendayu-dayu, dan berlirik romantis.

Dalam hal mendayu-dayu itu, Yovie juga yang memelopori lagu-lagu pop romantis yang dibawakan hanya dengan iringan piano. "Pada awalnya, lagu-lagu seperti itu ditolak produser karena dianggap tidak bakal laku. Tetapi, setelah saya membuat Sebatas Mimpi, lagu model begitu ternyata laku keras, dan sejak itu musisi lain ikut-ikutan membuat lagu hanya dengan iringan piano," ungkapnya.

Pop bergizi

Sukses besar Yovie di kancah musik pop sebenarnya bukan niatan awal pria kelahiran Bandung, 21 Januari 1968, ini. Terlahir dari keluarga yang sangat dekat dengan musik, Yovie sempat dilarang ibunya berprofesi sebagai musisi.

Namun, jalan hidupnya sebagai musisi seolah sudah tak bisa dielakkan lagi sejak ia kecil. Saat berusia lima tahun, ia dikenalkan dengan musik jazz oleh pamannya, Hasbullah Ridwan, yang tidak lain adalah ayah Elfa Secioria, salah satu komposer dan musisi senior Indonesia.

Sejak saat itu, dunia Yovie tidak pernah lepas dari musik jazz. Nama-nama standar dalam jazz seperti Duke Ellington, Dizzy Gillespie, dan Louis Armstrong adalah santapan sehari-hari Yovie kecil. Saat ia menginjak masa remaja, musik "paling ringan" yang ia dengarkan adalah musik Chick Corea, Dave Grusin, dan Lee Ritenour. "Bahkan mendengarkan musik selain jazz dilarang sama pakde saya itu," kenang Yovie.

Akar jazz itu masih terus dibawa saat Yovie mulai bermain dalam band. Sejak di bangku SMP, Yovie sudah rutin bermain band setiap hari Senin dan Kamis di Hotel Savoy-Homann Bandung. Beberapa teman mainnya waktu itu, antara lain, Ruth Sahanaya dan Trie Utami.

Tahun 1986, Yovie mulai berkiprah di tingkat nasional dengan mengikuti Festival Band Tingkat Nasional di Balai Sidang Jakarta (sekarang Jakarta Convention Center/JCC). Tahun itu juga ia membentuk Kahitna. Dan sejak saat itu berbagai prestasi nasional dan internasional mulai diraih Yovie, salah satunya menjadi The Best Composer pada Young Star International Festival di Taipei, Taiwan, tahun 1991.

Perkenalan Yovie dengan musik pop terjadi saat suatu hari pada tahun 1986 ia berjalan-jalan di pasar loak di Jalan Cihapit, Bandung, dan menemukan album David Foster. "Mendengar David Foster saya jadi tahu bahwa musik pop bisa dibuat berbobot. Musik-musiknya memiliki melodi sederhana, tetapi chord-nya susah, dan satu lagu bisa memiliki beberapa nada dasar yang berbeda. Saya ingin membuat lagu pop seperti itu, pop yang bergizi," paparnya.

Sejak saat itu, Yovie mulai melirik industri musik pop Indonesia dengan patokan karya-karya "pop bergizi" David Foster dan Quincy Jones. "Awalnya saya sempat sembunyi-sembunyi pindah ke pop karena malu dengan teman-teman yang sudah mengenal saya sebagai pemusik jazz," kata Yovie.

Tahun 1995, Kahitna merilis album pertama berjudul Cerita Cinta. Dan sejak saat itu, sejarah kesuksesan seorang Yovie Widianto di dunia musik Indonesia dimulai....

Sumber : Kompas, Senin, 18 September 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks