Jun 12, 2009

Tiurlan Pangaribuan : Tiurlan Membimbing Anak di Tengah Konflik

Tiurlan Membimbing Anak di Tengah Konflik
Oleh : Aryo Wisanggeni Genthong

Rintik hujan turun membasahi aspal rusak Jalan Kanguru, Kwamki Lama, Mimika. Tiurlan Pangaribuan, Rabu (13/9/2006) pagi itu menggandeng seorang muridnya keluar dari Gereja Kemah Injili, tempat penampungan warga yang tidak ikut berperang di kampung itu.

Sejak pertikaian meletus di Kwamki Lama, Kabupaten Mimika, Papua, Taman Kanak-kanak (TK) Penuai I yang dikepalai Tiurlan menjadi satu-satunya sekolah yang masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sepanjang perang, tiga kali kali TK Penuai I terpaksa meliburkan murid, karena ketegangan perang meningkat.

Akan tetapi, setelah libur satu-dua hari, para guru TK Penuai I membuka kembali sekolahnya. Padahal, orangtua yang terlibat pertikaian tidak berani mengantar anaknya sekolah. Orangtua takut anak mereka menjadi korban pertikaian.

Sementara sekolah-sekolah belum dibuka kembali sejak pertikaian meletus, TK Penuai I yang baru berumur enam hari ketika harus diliburkan pertama kali karena pecah perang pada 23 Juni 2006, tetap mencoba terus buka.

"Dunia anak itu kan bermain. Kalau pun ada perang, itu permasalahan para orangtua mereka. Itu bukan masalah si anak. Anak harus tetap dibiarkan bermain, karena itu dunianya. Suasana perang tidak boleh melingkupi si anak," paparnya.

Meski yakin para anak di Kwamki Lama tidak memiliki trauma mendalam akibat pertikaian itu, ia menemukan satu dua anak memiliki ketakutan terhadap suasana perang. "Kalau melihat sekelompok orang berlarian, beberapa murid takut dan berlari menghampiri para guru. Mereka pun memegang ibu guru mereka. Tetapi, beberapa saat kemudian mereka lupa, dan kembali bermain. Karena memang itulah dunia mereka," ungkap perempuan kelahiran Medan, 12 Oktober 1964 ini.

Menjadi guru TK di Kwamki Lama memang tidak mudah. Ekspresi anak Kwamki Lama cenderung agresif dibanding anak-anak di lingkungan yang berbeda.

"Anak di sini cenderung lebih ringan tangan. Kalau mereka marah, tangan mereka akan memukul. Mereka juga lebih sulit meminta maaf dengan tulus. Kami sendiri tidak ingin mendidik dengan memarahi mereka, karena bisa-bisa mereka malah tidak mau bersekolah. Kami ingin mereka berada dalam suasana penuh kasih, dan itu sulit," ujarnya.

Kesulitan itu menjadi lebih terasa, lantaran pertikaian di Kwamki Lama berkepanjangan. Tiurlan dan lima guru yang mengajar di TK Penuai I bukan orang yang tidak takut terhadap suasana pertikaian. "Kami ini manusia biasa, juga punya takut. Tetapi, kalau sudah bertemu dengan anak-anak, semangat timbul dan mengalahkan ketakutan kami," tuturnya.

Istri Jairun Hutahaean ini tidak pernah membayangkan jika ia akan menjadi kepala sekolah TK. Apalagi menjadi guru sebuah kampung yang dilanda pertikaian seperti Kwamki Lama.

Setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru Negeri I di Pematang Siantar pada 1981, ia menjadi mahasiswa Program Diploma 2 Psikologi, Fakultas Pendidikan Universitas Nomensen, Pematang Siantar. Belum lagi sempat mengajar, pada 1984, ia menerima pinangan Hutahaean, dan diboyong ke Tembagapura.

Pada tahun 1986, Tiurlan kembali ke Medan, dan mengajar di SMP 5 Medan. Ia kemudian bersekolah lagi di Sekolah Pendidikan Guru Sekolah Menengah Tingkat Pertama di Medan, mengambil program Diploma 1. Tahun 1989, ia bersekolah di Seminari Bethel di Jakarta, mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen, dan lulus tahun 1993. Tetapi, karena sibuk menjadi Majelis Gereja Bethel di Petamburan Jakarta, ia tidak sempat mengajar.

Tahun 1997, aksi mahasiswa yang menuntut reformasi terjadi di Jakarta. Merasa tidak aman, dia membawa anaknya, Imanuel Plerusthe, berkumpul kembali dengan suaminya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Mimika, Papua.

"Sejak 1997, saya tinggal di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika. Saya belum juga mengajar. Beberapa kali dalam kegiatan gereja di Kalikopi, Mimika, saya menyempatkan diri mengajar di SD Kalikopi. Saya tidak tega melihat satu guru harus mengajar ratusan murid di sana," kata Tiurlan.

Anak berkarakter

Ia meyakini jalan yang diatur Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan Hadili, Ketua Yayasan Pendidikan Kelompok Belajar Murid Yesus pada Mei 2006. Kala itu, Hadili sedang pusing mencari kepala sekolah untuk TK Penuai I. TK di Jalan Cenderawasih Kwamki Lama itu sebelumnya bernama TK Austin, tetapi telah ditutup. Hadili ingin membuka kembali TK di Kwamki Lama itu, dan ia membutuhkan kepala sekolah yang memiliki pendidikan formal di bidang pendidikan.

"Begitu saya diajak melihat, saya langsung bersedia menjadi Kepala Sekolah TK Penuai I. Setelah mengurus izin penerimaan murid baru, pada 12 Juni 2006 kami menerima 92 murid baru," kata Tiurlan Pangaribuan.

Pada 17 Juli, murid TK Penuai I masuk untuk pertama-kalinya. Tetapi, pada 23 Juli pertikaian warga Kwamki Lama pecah. Kini, setelah tiga kali meliburkan TK Penuai I, Tiurlan Pangaribuan tetap bertekad mempertahankan TK Penuai I menjadi tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kwamki Lama.

"Kami tidak ingin membuat anak pintar. Kami hanya ingin membuat anak yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa. Keinginan utama kami, ingin agar anak murid kami memiliki karakter. Buat apa orang pintar jika tidak memiliki karakter. Saya masih ingin mengajar di Kwamki Lama, dan semoga saya akan tetap begitu," ujarnya.

Sumber : Kompas, Selasa, 19 September 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks