Jun 18, 2009

Maria Bo Niok : Kisah Hidup Maria Bo Niok

Kisah Hidup Maria Bo Niok
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty

Awalnya Maria Bo Niok (40) adalah pengusaha yang mempekerjakan empat pekerja rumah tangga atau PRT. Kebakaran Pasar Wonosobo tahun 1995—yang juga menghanguskan empat tokonya—membuat keadaan berbalik 180 derajat. Tahun 1996 ia berangkat ke Hongkong, menjadi PRT.

Menjadi PRT di Hongkong adalah jawaban dari kebutuhan Bo Niok—yang ketika itu baru bercerai dari suaminya yang suka berjudi—untuk mendapatkan uang Rp 23 juta, agar utang-utangnya akibat kebakaran toko itu segera lunas.

”Kalau mau kerja lain, belum tentu saya bisa melunasi utang saya dengan cepat. Maklum, saya hanya tamat SMA,” ucap Bo Niok, yang bernama asli Siti Mariam Ghozali.

Tahun 1996-1998, Bo Niok meninggalkan tempat kelahirannya di Desa Lipursari, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dan bekerja sebagai PRT di Hongkong. Majikannya yang pertama dari Indonesia dan sering memaki perempuan berkulit langsat itu.

Jatah makan pun hanya diberikan semangkuk kecil nasi untuk sehari. Bo Niok tidak melawan karena ia sangat membutuhkan uang untuk melunasi utang.

Setelah lewat dua tahun, Bo Niok bisa melunasi seluruh utangnya. Ia tidak memperpanjang kontrak di Hongkong, tetapi ke Taiwan. Di sana ia menjadi PRT selama satu masa kontrak, dari tahun 1998 sampai 2000.

Setahun setelah di Taiwan, Bo Niok kembali menjadi PRT di Hongkong selama dua kali masa kontrak, atau empat tahun. Menjadi PRT di Hongkong untuk kedua kalinya tidak hanya dipakai untuk bekerja, tetapi juga menambah keterampilannya. Di waktu libur, Bo Niok mengambil kursus bahasa China di Abraham College.

Tak puas hanya dengan satu kursus, Bo Niok juga mendaftar kursus taekwondo di Korea Taekwondo Cheung Do Kwan. Selama 2,5 tahun menggeluti taekwondo, Bo Niok mendapatkan sabuk biru, atau tingkat enam dari 10 tingkat yang ada. Taekwondo inilah yang memupuk rasa percaya dirinya.

Menghadapi preman

Bermodalkan kepercayaan diri inilah, Bo Niok berani menghadapi preman-preman Bandara Soekarno-Hatta yang sering meminta uang kepada penumpang pesawat yang baru turun, apalagi pada tenaga kerja Indonesia (TKI) seperti PRT.

Sepulangnya dari Hongkong, awal April 2005, Bo Niok sengaja keluar lewat Terminal III, terminal yang menjadi momok para PRT karena banyaknya pungutan. Selama ini Bo Niok beruntung karena petugas bandara selalu membolehkan dia keluar dari pintu terminal yang lain.

”Saya juga sempat dimintai rokok oleh sekelompok orang. Saya tantang saja preman-preman itu untuk main catur. Kalau mereka bisa mengalahkan saya, saya akan beri uang. Tapi, sampai tujuh orang penantang tidak ada yang bisa mengalahkan saya,” ucap Bo Niok yang sempat dijuluki grand master catur oleh preman-preman yang dikalahkannya dalam ”turnamen” dadakan itu.

Keberanian yang menjadi kekuatannya itu tidak dimiliki oleh semua PRT. Sebagian PRT memilih sikap pasrah saja ketika berhadapan dengan preman.

Sikap ini yang juga ditunjukkan ketika PRT berhadapan dengan majikan mereka. Akibatnya, sebagian besar rekan-rekan Bo Niok menjadi bulan-bulanan majikan mereka.

Meskipun tidak mengalami sendiri, kisah sedih kehidupan PRT bukannya luput dari pendengaran Bo Niok. Di Hongkong, ia menjadi teman curahan hati dari PRT yang mengalami pemukulan fisik, upah di bawah ketentuan, pemutusan kontrak secara sepihak dari majikan, potongan dari perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), sampai segala tuduhan dari majikan untuk memojokkan PRT.

Victoria Park, taman luas yang menjadi ruang publik di Hongkong, adalah salah satu tempat berkumpul para PRT dan bertukar cerita, selain internet dan telepon. Dari cerita PRT dan kisah hidupnya, Bo Niok mulai menulis.

Awal tahun 2005, Bo Niok dan para PRT ini dikenalkan dengan milis kosakata, yang antara lain dimotori sastrawan seperti Bonari Nabonenar dan wartawan Ida Permatasari. Sebagian PRT mengirimkan cerita pendek (cerpen) dan puisi mereka ke tiga surat kabar berbahasa Indonesia yang terbit di Hongkong, yakni Intermezzo, Berita Indonesia, dan Rose.

Bo Niok yang gemar menulis sejak SMP sudah menghasilkan sejumlah cerpen, antara lain berjudul Batik, Kelobot Tembakau Kasih, Istana Rumbia, dan Sahabat Pohon Bergoa. Sebagian dari cerpen atau puisi dikirimkannya ke surat kabar tersebut. Ia juga memublikasikan puisi karyanya di situs web pribadi, http://geocities.com/gunkudus/mariam.

Kisah dalam karya sastra PRT adalah kisah tentang hidup mereka. Bagi Bo Niok, kisah-kisah PRT yang diceritakan oleh teman-temannya menjadi inspirasi bagi cerpen yang ditulisnya. Kisah-kisah tersebut biasanya digabungkan dengan kisah hidupnya.

Kini, setelah kontrak terakhir Maret 2005, Bo Niok masih tetap menulis. Di kampung halamannya, Bo Niok yang menjadi orangtua tunggal membesarkan enam anaknya baru merampungkan cerpen berjudul Hanya Karena Aku Ingin Menangis, yang merupakan cerpen perjalanan hidupnya. Bo Niok juga aktif memopulerkan karya sastra PRT ke sejumlah kota, seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Wonosobo, bersama Komunitas Terminal 3.

Sumber : Kompas, Selasa, 28 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks