Jun 20, 2009

Yohei Sasakawa, Berperang Melawan Kusta

Yohei Sasakawa, Berperang Melawan Kusta
Oleh : Evy Rachmawati

Kutukan itu bernama kusta. Banyak penderitanya yang menyandang cacat tetap, dikucilkan masyarakat, dan kehilangan hak untuk hidup normal. Namun, bagi Yohei Sasakawa (66) kusta bukan kutukan yang tak bisa ditolak, melainkan penyakit yang harus dilawan dan disembuhkan.

Melalui Nippon Foundation, Jepang, yayasan yang dipimpinnya, Yohei memerangi kusta selama hampir separuh hidupnya. Bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ia berupaya menemukan obat bagi penderita penyakit menular itu dan membagikannya ke seluruh penjuru dunia, terutama di Kawasan Asia dan Afrika, secara gratis sejak tahun 1995.

Upaya ini terbukti mampu menurunkan jumlah pasien kusta secara drastis. Lebih dari 14 juta penderita telah diobati. Beberapa negara dengan kasus penderita kusta tertinggi di dunia menjadi sasaran utama program pengobatan gratis ini, yakni India, Brasil, dan Indonesia.

Karena hal itu sangat efektif untuk meminimalisasi bertambahnya penderita baru kusta, Yohei Sasakawa kemudian ditunjuk WHO sebagai duta internasional untuk eliminasi kusta. Dia pun mengunjungi koloni-koloni penderita kusta di berbagai tempat di dunia.

Latar belakangnya sebagai pelaku bisnis terkemuka memudahkannya dalam membangun kemitraan dan memperluas jaringan di kalangan dunia usaha untuk terlibat. Upayanya ini juga didukung Pemerintah Jepang dan berbagai organisasi internasional dalam bentuk pendanaan dan fasilitas lainnya.

Yohei berupaya mengeliminasi kusta di setiap negara. Apalagi semenjak duduk dalam Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lebih dari satu tahun, sejak 2003 hingga 2004, Yohei mengangkat permasalahan kusta dan hak asasi manusia (HAM) hingga akhirnya mendapat peliputan khusus dari berbagai media internasional.

Selama 30 tahun berada di garis depan dalam pemberantasan kusta, ia melihat adanya rasa takut berlebihan di masyarakat terhadap kusta. Ketika mengunjungi sanatorium perawatan penderita kusta di Indonesia, ia berjumpa dengan perempuan berusia 85 tahun yang tinggal di tempat itu sejak berusia 12 tahun, padahal telah sembuh.

Hal itu tentu saja membingungkan Yohei. Namun perempuan itu mengatakan, kepulangannya malah akan menimbulkan kepedihan bagi keluarganya. Tidak ada pilihan baginya kecuali menanti ajal sendirian di situ. Diskriminasi itu terjadi karena alasan sederhana, ketakutan, tutur Yohei. Kusta bukan sebatas masalah kesehatan, melainkan juga berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia, kata Yohei. Akibat stigma masyarakat, banyak penderita kusta kehilangan masa depannya, seperti mati sebelum ajalnya.

Hak dasar manusia

Kesetiaan Yohei menggeluti masalah kusta merupakan refleksi prinsip hidupnya. Ia percaya manusia memiliki dua hak dasar, yakni akses pelayanan kesehatan dan tercukupi kebutuhan pangan. Dunia merupakan satu keluarga, terdiri dari saudara laki-laki dan perempuan. Untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, satu tindakan lebih bagus dibandingkan seratus diskusi, ujarnya.

Pria kelahiran Tokyo, 8 Januari 1939, ini mengaku belajar nilai-nilai kemanusiaan pada ayahnya, Ryochi Sasakawa, pendiri Nippon Foundation. Semasa muda, ayah saya bertemu gadis cantik di satu desa. Tetapi gadis itu lalu menghilang, dikucilkan warga karena menderita kusta. Meski tak pernah bilang, saya tahu ayah mencintai gadis itu. Dan, itu makin menumbuhkan kepeduliannya pada penderita kusta, tuturnya.

Setelah menyelesaikan kuliah ilmu politik dan ekonomi di Universitas Meiji tahun 1960, Yohei sempat berkarier di dunia bisnis. Lebih dari dua dekade, ia berhasil mentransformasikan manajemen perusahaan yang sederhana menjadi pelopor dalam bidang industri teknologi tinggi yang sukses.

Di sela-sela kegiatan bisnisnya, ia membantu kegiatan sosial ayahnya. Ketika menginjak usia 40 tahun, ia memutuskan mengesampingkan bisnisnya karena ingin mengemban misi lebih besar, yakni mendukung aktivitas kemanusiaan, dan membuat dunia lebih baik bagi manusia. Pertama kali bertemu penderita kusta di Korea, saya sangat shock, ujarnya.

Semula, sejumlah kalangan memperkirakan Yohei tidak akan sanggup mengambil alih pengelolaan yayasan itu. Namun kenyataannya, Yohei muda telah menunjukkan kemampuannya mengelola yayasan itu. Di awal karier kedua-nya itu, Yohei memfokuskan diri untuk mengembangkan kelompok donatur. Saat bergabung dengan Nippon Foundation, yayasan itu terlibat dalam kerja-kerja sosial tingkat dasar. Juga berperan secara proaktif mengeliminasi penyebaran kusta. Kemudian, Sasakawa Memorial Health Foundation (SMHF), yang didirikan tahun 1974, bekerja sama dengan WHO untuk menemukan obat kusta, memperluas cakupan pengobatan, serta menghapus stigma terhadap penderita kusta dan keluarganya.

Sejak memimpin Nippon Foundation, organisasi donor terbesar di dunia, pada tahun 1989, Yohei turut dalam berbagai upaya perbaikan masyarakat. Ia mengembangkan organisasi yang semula berorientasi pada masalah dalam negeri menjadi konglomerasi yang multikultur dan secara integral terkoordinasi dengan lembaga donor lainnya.

Organisasi itu memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan bagi masyarakat, pengobatan, dan kesejahteraan sosial. Selain jadi satu kekuatan dunia dalam memerangi kusta, sejak di bawah pimpinan Yohei, aktivitas yayasan itu makin luas, seperti meluncurkan beasiswa bagi mahasiswa kedokteran, yang mendanai pelatihan ribuan tenaga medis di China, mendampingi para korban bencana nuklir Chernobyl.

Yohei juga turut mengatasi bencana kelaparan di Afrika. Program Global Sasakawa 2000 yang didanai yayasan itu dan diimplementasikan Asosiasi Afrika Sasakawa, telah dilakukan sejak tahun 1986 di lebih dari sepuluh subnegara di kawasan itu bekerja sama dengan Carter Center yang dipimpin mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter.

Yohei telah menggunakan diplomasi pribadi untuk membuka pintu bagi perdamaian, keamanan, dan kehidupan yang lebih baik bagi semua umat manusia. Baginya, tiada kata akhir untuk melawan kusta, diskriminasi terhadap penderitanya dan berbagai masalah ketidakadilan sosial.

Sumber : Kompas, Kamis, 15 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks