Jun 20, 2009

Thimotius Samin : Pelestari Roh Leluhur Kamoro

Pelestari Roh Leluhur Kamoro
Oleh : Subhan SD

Iri melihat tetangganya, suku Asmat yang begitu terkenal dengan ukirannya, Thimotius Samin pun bangkit untuk mengangkat identitas sukunya, Kamoro. Sebagai pematung, dia ibarat tameng yang mempertahankan warisan para leluhurnya itu.

Di Timika, patung-patung buah tangan ThimoĆ¢€”begitu dia disapaĆ¢€”dan kelompoknya menguasai banyak tempat, seperti di kompleks markas polres, kodim, pangkalan AL, kantor bupati, Hotel Sheraton, juga di kawasan kota Kuala Kencana. Lewat karyanya, dia juga memperkenalkan suku Kamoro ke berbagai daerah, termasuk ke mancanegara.

Memang dibanding suku Asmat, nasib suku Kamoro masih berada di belakang. Padahal, secara kualitas dan artistik, patung dan ukiran orang Kamoro tak kalah hebat. Hanya saja, entitas orang Kamoro belumlah terlihat, terlebih lagi di antara mereka sering timbul friksi.

Saya prihatin dengan budaya orang Kamoro, kadang di antara sesama saja saling ribut, terutama setelah masuknya pengaruh dari luar. Tetapi itulah tantangannya, saya justru ingin mempertahankan, melestarikan, sekaligus mempersatukan orang Kamoro. Lewat budaya, manusia diajak bicara tentang kejujuran dan kebenaran kata lelaki kelahiran 11 Mei 1950 itu.

Perubahan besar dalam diri Thimo untuk memunculkan identitas sukunya timbul setelah membaca sebuah surat kabar pada tahun 1991. Saya baca orang Asmat bisa pergi ke Amerika Serikat dengan budayanya. Lalu saya pikir, mengapa orang Kamoro tidak bisa? kata Thimo yang bertahun-tahun menjadi pemburu buaya ( 1973-1980-an). Hasratnya yang begitu besar membuat dia tak peduli saat memulai mematung pada usia 41 tahun.

Suami Modesta ini akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai Kepala Desa Kiyura, Distrik Kokonaw. Thimo pergi ke kota Timika, mendatangi tokoh adat yang juga pembuat patung, Yacobus Narpaya dan Johanes Waniyu. Saya bilang bahwa saya ingin membuat patung mbitoro (leluhur) setinggi satu meter sebagai cendera mata. Dengan alat yang saya pinjam dari mereka, saya mulai memahat, cerita Thimo yang juga anggota dewan adat di Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro itu.

Pemanggilan roh

Menurut Thimo, patung mbitoro adalah seni adiluhung yang dimiliki suku Kamoro. Patung mbitoro rata-rata memiliki tinggi di atas satu meter. Patung itu terbuat dari kayu bulat dan utuh, bahkan berdiameter sekitar satu meter. Patung itu harus dimiliki oleh sebuah karapao (rumah adat). Mbitoro berdiri tegak di depan rumah adat yang dihiasi dengan berbagai ornamen yang melambangkan kehidupan alam dan makhluk hidup.

Dalam tradisi orang Kamoro, pemancangan patung itu dilakukan pada saat ritual inisiasi, yaitu proses berangkat remaja (tauri). Patung itu kemudian diisi dengan roh para leluhur mereka. Setiap patung menjadi rumah bagi para leluhurnya. Roh-roh itu harus diberi ruangan. Setelah patung selesai, lalu dilakukan pemanggilan roh dengan mantra-mantra. Biasanya yang memanggil adalah turunannya, kata Thimo yang mengaku bisa memanggil roh. Mbitoro dipercaya bisa melindungi keluarga yang ditinggalkan.

Sebagai pematung, dia mulai muncul tahun 1992 ketika Camat Mimika Barat memfasilitasinya untuk ikut serta dalam ekspo di Jayapura. Ketika itu dia bergabung dalam anjungan Kabupaten Fakfak karena belum ada pemekaran Kabupaten Mimika. Tahun itu pula PT Freeport Indonesia menjadi bapak angkat bagi budaya suku Kamoro. Setelah itu, Thimo mulai mengirimkan patung-patung buatannya ke Hotel Sheraton Timika.

Dalam 15 tahun menekuni seni ukir patung, Thimo sudah berpameran di sejumlah tempat di Jakarta. Tahun 2003, selama tiga minggu, dia berpameran di Leiden, Belanda.

Di rumahnya di kawasan Satuan Permukiman (SP) 5, sekitar 40 menit berkendaraan dari kota Timika melewati jalan tanah, tujuh anak dan istrinya juga ikut melakoni seni ukir. Mereka membuat wemawe (patung leluhur), ombitoro (patung pesta pemotongan babi), kaware (pesta perahu), yamate (tameng/perisai), pekoro (piring kayu), otekapa (tongkat), dan anyam- anyaman.

Saya bantu anak-anak dengan membuat lukisan terlebih dahulu, sampai akhirnya mereka bisa membuat patung sendiri, kata lelaki yang tidak tamat sekolah guru bantu (SGB) di Enarotali karena dikeluarkan akibat berantem dengan pendeta setelah permohonan cutinya menengok orangtuanya yang sakit hingga meninggal tidak dikabulkan.

Menurut Thimo, setiap bulan ada saja pesanan untuk membuat patung, terutama dari orang asing. Tetapi tidak berarti dia bekerja sesuai dengan pesanan. Saya ini seniman. Saya ingin melestarikan warisan leluhur, ada atau tidak ada pesanan. Saya merasa miskin kalau tidak membuat patung. Apalagi segala yang saya miliki seperti rumah, alat pemotong chainsaw, perahu johnson, generator, televisi, semuanya dari patung, ujar Thimo.

Sumber : Kompas, Jumat, 16 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks