Jun 17, 2009

Yasuo Fukuda Tak Khawatirkan Cina

Yasuo Fukuda Tak Khawatirkan China
Oleh : Rakaryan Sukarjaputra

Nama Fukuda bagi warga Jepang adalah nama yang sangat mereka kenal. Melalui pemikiran Perdana Menteri Takeo Fukuda, Jepang kemudian mengenal apa yang disebut Doktrin Fukuda. Doktrin tersebut diumumkan dalam lawatan Fukuda ke Manila, Filipina, tahun 1977.

Ada tiga prinsip dalam Doktrin Fukuda itu yang membuat Jepang menjadi "sahabat" banyak negara di Asia meski mereka pada masa lalu pernah dijajah Jepang. Ketiga prinsip itu adalah Jepang tidak akan menjadi kekuatan militer adidaya, Jepang akan membangun hubungan berdasarkan rasa saling percaya dengan semua negara Asia, dan Jepang akan bekerja sama sebagai rekanan yang setara.

"Memang sesungguhnya apa yang dicanangkan dalam Doktrin Fukuda itu bukan suatu hal yang bisa dinilai secara obyektif. Meski demikian, kalau kita mengkaji perkembangan selama ini berdasarkan tiga prinsip utama dalam doktrin itu, saya rasa bisa dinilai inti dari doktrin itu dan jiwa dari doktrin itu sudah cukup dilaksanakan dengan baik oleh Jepang," demikian disampaikan Yasuo Fukuda, putra Takeo Fukuda, yang meneruskan nama besar ayahnya sebagai politisi terpandang di Jepang.

Yasuo Fukuda dalam kapasitasnya sebagai Presiden Japan Indonesia Association (Japinda), Jumat (23/6/2006), berada di Indonesia dan melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh di Indonesia. Anggota senior parlemen dari Partai Demokrat Liberal (LDP) itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat pengganti Junichiro Koizumi, PM Jepang yang akan mengakhiri masa tugasnya September 2006. Meski demikian, Fukuda masih harus bertarung ketat dengan pesaing utamanya, Shinzo Abe, yang konon lebih difavoritkan oleh Koizumi.

Tidak akan berubah

Meski akan ada penggantian pemimpin pemerintahan di Jepang, Fukuda kepada Kompas menyampaikan, penggantian pemimpin di Jepang tidak akan mengubah kebijakan terhadap Indonesia karena Indonesia selalu merupakan negara yang sangat penting bagi Jepang.

"Ketidakstabilan di Indonesia mengakibatkan ketidakstabilan di kawasan Asia. Indonesia selalu harus stabil, dan kami berharap demikian, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Oleh karena itu, Jepang selalu berusaha untuk bekerja sama semaksimal mungkin dengan Indonesia. Meskipun pemimpin berubah, saya rasa pemikiran seperti itu tidak akan berubah," ungkap politisi kelahiran 16 Juli 1936 itu.

Fukuda mengakui, setelah terjadi krisis di Indonesia, investasi Jepang ke Indonesia agak menurun. Meski demikian, dia yakin investasi Jepang itu akan meningkat lagi. "Bagi Jepang dan Indonesia, upaya memperbaiki keadaan ekonomi itu sangat penting. Tentu peranan yang diemban oleh Jepang dan China berbeda," katanya.

Fukuda menyadari serbuan produk-produk murah dari China ke Indonesia, yang bisa dilihat sebagai ancaman bagi produk-produk Jepang. "Jepang tidak akan pernah memproduksi semacam itu, setidaknya tidak akan menjual produk semacam itu ke Indonesia," katanya menegaskan.

Politisi yang pernah menjadi Ketua Sekretaris Kabinet Jepang (Oktober 2000 sampai Mei 2004) itu menguraikan, Jepang berinvestasi dengan membangun usaha juga pabrik sehingga dari kegiatan itu akan ada produksi. Produk-produk yang dihasilkan itu akan dijual di Indonesia dan negara-negara sekitar. Dengan kegiatan ini, timbul lapangan kerja di dalam negeri bagi rakyat Indonesia sehingga angka pengangguran akan ditekan.

"Saya kira selama ini China tidak bergerak dengan cara yang sama. Mereka hanya memproduksi barang di negara mereka, dan menjual barang yang murah ke Indonesia, sehingga yang terjadi adalah tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan semakin tinggi di sini," katanya.

Oleh karena itulah Fukuda mengungkapkan tidak prihatin dengan membanjirnya produk China ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. "Saya tidak begitu prihatin soal itu, justru yang harus prihatin masyarakat Indonesia," ujarnya.

Mengenai hubungan Jepang dengan AS yang sangat dekat, Fukuda menyampaikan, sebetulnya di dalam negeri Jepang situasinya tidak sesederhana itu.

"Anda mengetahui bahwa yang memiliki nuklir adalah China dan Korea Utara sehingga Jepang dalam keadaan yang terdesak. Kalau terjadi sesuatu, kami harus bergantung pada kekuatan militer AS. Apa yang dinamakan aliansi Jepang-AS sangat penting bagi Jepang. Tetapi adanya aliansi itu tidak berarti harus selalu sependapat dan bersama dengan apa yang dilakukan AS. Jepang selalu berpendirian dan mempunyai prinsip apa yang mesti dilakukan negeri sendiri. Oleh karena itu, saya meminta hal itu dipikirkan secara terpisah," ungkapnya.

Fukuda mencontohkan, Jepang dan AS sama-sama mengirimkan pasukan ke Irak, tetapi fungsi kedua pasukan ini sangat berlainan. Meski AS mengharapkan pasukan Jepang menggelar operasi di bidang keamanan seperti yang dilakukan Inggris, di lapangan pasukan bela diri Jepang hanya menggelar operasi di mana keadaan sudah menjadi pascapertempuran.

"Operasi mereka itu adalah untuk membantu masyarakat yang sedang menderita dan mendukung rehabilitasi. Tidak lebih dari itu," katanya.

Mengenai ketegangan yang timbul antara Jepang, China, dan Korea Selatan, yang menimbulkan kekhawatiran sejumlah negara lain di kawasan ini, ayah berputra dua itu menjelaskan, masalah yang timbul antara Jepang, China, dan Korea Selatan hanya menyangkut soal kunjungan ke Kuil Yasukuni.

"Saya rasa masalah tersebut dapat diselesaikan dengan keputusan arif yang diambil para politikus Jepang. Di samping itu, hubungan antara Jepang dan China di bidang ekonomi dan budaya semakin berkembang. Oleh karena itu saya tidak khawatir," ujarnya.

Sebagai Presiden Japinda, Fukuda memang terus mencari cara untuk semakin meningkatkan hubungan antara warga RI dan Jepang. Salah satu kuncinya meningkatkan hubungan di kalangan pemuda. "Saya rasa penting untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang belajar di Jepang," ujarnya sambil menyebut juga soal peningkatan wisatawan di antara kedua negara.

Sumber : Kompas, Sabtu, 24 Juni 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks