Jun 12, 2009

Weda Kusuma dan Sastra Kakawin

Weda Kusuma dan Sastra Kakawin
Oleh : Ayu Sulistyowati

"Sebagai putra asli Bali tidakkah kau malu jika sastra asli Bali justru dikuasai oleh para ahli dari warga asing?"

Pertanyaan dari seorang pembimbing senior itu tiba-tiba menyentak dan mengusik hati Weda Kusuma ketika melanjutkan program doktornya di Universitas Indonesia, Jakarta, delapan tahun lalu.

Sontak, ia pun tertantang dan memutuskan menekuni sastra Bali. Ia pun memilih sastra kakawin asli tanah kelahirannya, Bali.

Kini Weda Kusuma, yang memiliki nama dan gelar lengkap Prof Dr I Nyoman Weda Kusuma MS (49), menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Sastra di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali. Ia adalah ilmuwan pertama yang menguasai sastra kakawin Bali kuno.

Sebagai akademisi dan pemerhati sastra Bali kuno, ia tidak bosan menggali. Tahun ini Weda Kusuma telah menyelesaikan buku yang berisi terjemahan delapan naskah dari sembilan naskah Raja Denpasar (1902-1906) I Gusti Ngurah Made Agung. Ia mengalihbahasakan dari turunan naskah aslinya yang bertuliskan aksara Bali di atas ratusan lembar daun lontar.

Hingga saat ini, Weda Kusuma tak berhenti menggali dan melakukan alih bahasa sastra kuno Bali ke bahasa nasional. Tujuannya, ia tidak ingin aksara Bali yang tertera di atas lontar hanya menjadi saksi bisu sejarah dan hanya terpajang di Perpustakaan Dokumentasi Kebudayaan Bali, atau hanya sebagai konsumsi mahasiswanya. Padahal, sastra kuno atau naskah lontar itu pun bisa dibaca dan dimengerti oleh seluruh kalangan.

Selain itu, guru besar ini pun mengkhawatirkan alih bahasa yang beredar tidak tepat sesuai dengan artinya karena itu bisa menyesatkan. Bukan pelestarian yang terjadi, tetapi justru sebaliknya. Itu karena ia pernah menemukan alih bahasa yang tidak sesuai dengan maksud keutuhan naskah kuno itu sendiri.

Pelajaran hidup

Membaca lontar tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dicermati dari huruf per hurufnya hingga cara melagukan antara kidung, geguritan, dan serat kakawin.

Weda Kusuma menjelaskan, geguritan lebih mirip macapat pada sastra Jawa, sedangkan kakawin merupakan kidung asli Pulau Dewata, sambil tangannya menunjuk perbedaan pembacaan huruf-huruf kuno itu pada sebaris kakawin. Lalu, ia pun melagukannya.

Dari pengalamannya melakukan alih bahasa sastra Bali, banyak hal yang membuatnya terkagum-kagum terhadap penulis lontarnya yang asli. Banyak pelajaran hidup dan kehidupan dapat dipelajari dari sastra lontar yang beratus-ratus lembar per kidung, geguritan atau kakawin.

Keseimbangan hidup

Beberapa hal masih membekas di hatinya ketika bertahun-tahun menelusuri naskah kuno tanah kelahirannya. Menurut dia, isi naskah-naskah itu luar biasa dan berisi pesan-pesan kehidupan hingga memaknai keseimbangan hidup itu sendiri.

"Saya sempat merinding. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari naskah berusia ratusan tahun ini," ungkap pria berputra tiga ini.

Dengan terus menekuni naskah berumur ratusan tahun itu, ia merasa mengalami perjalanan spiritual. Konsep-konsep ketuhanan dan dewa-dewa pun dapat ditemui di lembaran lontar kuno. Apalagi, lanjut dia, ketika bait demi bait atau baris demi baris aksara kuno itu dibaca dengan lagu yang benar, menjadi seperti hidup. Banyak petuah yang dapat diresapi dari kidung atau kakawin kuno Bali.

Di tengah menekuni kakawin asli Bali ini, ia menyatakan, terkagum-kagum atas terjemahan geguritan yang menceritakan perjalanan Islam masuk ke Bali. Geguritan itu memuat tentang agama Islam dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW

Ia menyayangkan di dalam naskah asli geguritan tentang Nabi Muhammad SAW itu tidak tercantum tahun pembuatan maupun nama pembuatnya. Lontar biasanya mengenal pencantuman tahun ketika naskah asli ditulis ulang seperti aslinya untuk kepentingan duplikasi.

Weda Kusuma memperkirakan geguritan itu ditulis pada masa masuknya Islam di Pulau Bali, melalui Singaraja, Buleleng, sekitar akhir abad ke-17. Naskah tersebut saat ini tersimpan di Ruang Lontar, Kantor Subdinas Dokumentasi dan Pemeliharaan Dinas Kebudayaan Bali di Renon, Denpasar.

Sayangnya, ia belum berhasil membukukan karya ilmiah geguritan tersebut. "Ya, siapa tahu saya nanti bisa bertemu dengan seseorang yang tertarik menjadi sponsor untuk karya ilmiah saya," ujarnya sambil tertawa.

Hidup sederhana

Pengalaman hidup mengajarkan Weda Kusuma untuk menghargai hidup dengan tenang, santai, dan sederhana. Meski memiliki mobil, ia tetap bersikukuh mengendarai sepeda motor bila pergi ke kampus. "Biarlah badan panas terkena sinar matahari, tetapi kepala tetap harus dilatih untuk terus dingin dan tak terbebani," ujarnya.

Cita-citanya tetap satu, setia pada sastra kakawin Bali. Ia tetap akan memburu dan menekuni lontar-lontar atau naskah-naskah kuno untuk dialihbahasakan. "Saya hanya ingin naskah-naskah di atas ribuan daun lontar bertuliskan aksara Bali ini tidak hanya tersimpan di dalam lemari. Karena tidak mudah membacanya, saya ingin sedikit demi sedikit menerjemahkan ke bahasa Indonesia," tuturnya.

Niatnya pun hanya sederhana sebagai seorang penekun. Ia ingin siapa pun, tidak hanya mahasiswanya, dapat membaca dan mengerti apa arti yang tertulis di naskah kuno Bali itu. Ia tidak mau kerumitan dan kesulitan membaca menjadi kendala bagi peminatnya untuk mengerti. Karena itu, ia terpanggil untuk terus mengalihbahasakan dan memperkecil kendala itu.

Sumber : Kompas, Kamis, 2 November 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks