Jun 28, 2009

Wayan Sadha : sadha, Kartun, dan Anjing "Sompret"

Sadha, Kartun, dan Anjing "Sompret"
Oleh : Putu Fajar Arcana

BAGI orang "desa" seperti Wayan Sadha (57), pariwisata Bali menimbulkan banyak ironi. Kurang dari 10 tahun, Jimbaran, di mana ia dilahirkan 29 Juli 1948, berubah pesat. Dulu desa di selatan kota Denpasar itu hanyalah dusun nelayan kecil yang hanya memiliki akses ke kota lewat laut. Kini kata Jimbaran sendiri mengenangkan akan seafood cafe yang berderet di sepanjang pantai. Lalu turis-turis yang bersantai sembari meneguk berbotol-botol bir.

SECARA ekonomi, gerusan perubahan itu jauh meninggalkan Sadha seorang diri. Ia tetap tidak terangkut oleh mesin industri yang bergerak cepat meraih obsesi "kemakmuran". Sebagai manusia "masa lalu", tetapi hidup di riuh industri masa kini, Sadha hadir sebagai paradoks.

Sebelum memutuskan hidup sebagai kartunis, Sadha menjalani beragam profesi, yang erat kaitannya dengan kelaparan yang menyertainya sejak kecil.

IA pernah menjadi pedagang ikan keliling dengan sepeda ontel di kawasan Denpasar Selatan. Desa-desa seperti Jimbaran, Pecatu, Kedonganan, Suwung, Sesetan, Pemogan, dan sekitarnya adalah wilayah-wilayah yang jadi pasaran ikannya. Tahun-tahun 1970-an, bisa jadi Sadha adalah sedikit dari lelaki Bali yang mau berjualan. Tak lama sesudah itu, dengan sepeda yang sama ia hidup sebagai tukang foto keliling.

"Mungkin waktu itu saya satu-satunya tukang foto keliling di wilayah Denpasar Selatan," tutur Sadha. Bagi desa-desa tadi, berfoto menjadi ritual yang "mahal" dan "aneh" karena masih sangat jarang orang yang memiliki kamera.

Justru Sadha yang hanya sampai kelas I SR (sekolah rakyat) mengisi peluang itu. Ia belajar memotret dari pengalaman, sebagaimana pula nantinya ia lakukan ketika memutuskan menjadi kartunis.

"Saya selalu dipanggil kalau ada upacara, terutama perkawinan. Bahkan pernah pula memotret untuk pembuatan KTP, hi-hi-hi," kenang Sadha terkekeh. Ketika kemudian banyak orang memiliki kamera dan studio foto merebak di mana- mana, profesi tukang potret keliling itu tak lagi laku. Sadha pun kehilangan pekerjaan, padahal ia menanggung enam orang adik.

Ibunya, Ni Ketut Jegu, meninggal tahun 1969. Sementara, kata Sadha, ayahnya, I Nyoman Cateng, termasuk nelayan yang kurang rajin. "Jadi sebagai anak tertua saya harus menanggung hidup keluarga," katanya. Tadinya pekerjaan ibunya sebagai buruh angkut di Pasar Badung cukup membantu kehidupan keluarga mereka.

SEKITAR awal tahun 1980-an, setelah bersentuhan dengan antropolog asal Perancis Jean Couteau, Sadha memutuskan menjadi kartunis sekaligus wartawan untuk sebuah majalah berbahasa Inggris terbitan lokal Bali bernama Archipelago. Tentulah itu sebuah "profesi" yang sungguh asing bagi orang "desa" seperti dia. Menggambar kartun hampir-hampir tak dikenal dalam tradisi rupa di Bali. Kalau toh sekarang banyak kartunis berasal dari Bali, itu terjadi bukan karena kesadaran tradisi. Profesi kartunis secara langsung "diadopsi" dari dunia Barat.

Pada Sadha soalnya menjadi unik. Mungkin kartun-kartunnya ia bikin untuk kepentingan siaran di media massa, tetapi secara bentuk dan isi ia mencerminkan "kedesaan". Gambar-gambarnya mengingatkan pada ilustrasi-ilustrasi yang dibikin untuk dongeng-dongeng Bali. Sementara isinya, yang diungkapkan dalam bahasa Bali, sebagian besar mengisahkan ironi-ironi hidup di alam tradisi yang digempur pariwisata.

Dalam satu kartun yang dimuat pada buku Bali To Day karya Jean Couteau, Sadha "menyindir" perilaku para gigolo di Bali. Ia melukiskan seorang gigolo sedang membeli bensin. Seorang karyawan bertanya, "Ngudiang diketone ngejang pipis." (Kok pada itumu menyimpan duit). Dijawab, "Mapan icang ngalih gae nganggon ikut." (Itu karena aku kerja dengan ekor). Gambarnya memperlihatkan seorang lelaki di atas sepeda motor bermerek "Gigolo", membonceng turis perempuan, sedang mengeluarkan uang dari dalam celananya.

Tanpa harus menjelaskan modal kerja seorang gigolo untuk meraih uang, kita sudah paham apa yang dimaksudkan Sadha. Di luar soal itu, inilah ironi-ironi yang dibangun Sadha untuk mengkritik berbagai kepincangan yang dihasilkan pariwisata. Ia tidak berangkat dari narasi-narasi di dalam buku, tetapi menjadi saksi pola perilaku "saudara-saudaranya" ketika "bergembira" menyambut pariwisata.

HAMPIR pada setiap karyanya suami dari Ni Made Kondri ini memunculkan tokoh anjing bernama Sompret. "Sompret adalah anjing kacang, di mana tak seorang majikan pun yang sudi merawatnya," ujar Sadha. Sompret selalu nyeletuk untuk menyuarakan kepincangan, ketidakadilan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.

Mungkin Sompret hanya metafor. Dalam bahasa Indonesia sompret artinya terompet. Dan anjing kacang adalah terompet untuk menyuarakan aspirasi orang-orang marjinal, seperti Sadha.

Apa yang dilakukan Sadha mengingatkan kita kepada cerita-cerita rakyat di Bali tentang tokoh-tokoh yang bodoh dan miskin, tetapi justru selalu beruntung, atau dengan kebodohannya bisa memperdayai orang lain. Ini juga cerminan hidup Sadha sehari-hari sekarang, yang sepenuhnya bergantung pada kebisaannya menggambar kartun di media-media lokal.

Kartun bagi Sadha tak sekadar media untuk menyindir. Ia juga cerminan dari kondisi-kondisi sosial yang kini melanda Bali dengan perspektif lokal. Oleh karena itu, ujar Sadha, apa yang ia kerjakan itulah yang sesungguhnya terjadi. "Tidak ada bumbu-bumbu, saya hanya mengucapkan apa yang saya lihat sehari-hari," tuturnya.

Selain tidak terangkut oleh gemuruh industri pariwisata, sebagai kartunis Sadha juga sesungguhnya sebuah anomali. Ia tidak mengikuti arus besar diskursus gambar dan isi kartun di Tanah Air. Bahasa Bali yang digunakannya adalah bahasa rakyat, tetapi ia memotret sebuah realitas aktual yang sedang riuh rendah melanda daerah ini. Maka di situlah ironi-ironi itu berkembang menjadi penggambaran sebuah pencapaian yang timpang dari cita-cita "kemakmuran".

Karya-karya Sadha kini tersebar di berbagai penerbitan lokal Bali. Bahkan, tahun 2006 ia berhasrat memamerkan karya-karyanya sebagaimana orang menikmati lukisan. Karya-karya Sadha merupakan cermin yang lain di dalam memahami Bali secara lebih menyeluruh.

Sumber : Kompas, Rabu, 13 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks