Jun 28, 2009

Soedjono : Pak Jon dan Keprihatinan Tembang "Dolanan" Jawa

Pak Jon dan Keprihatinan Tembang "Dolanan" Jawa
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari

Kidang Talun,
nduwe anak, talun
mil ketemil, mil ketemil,
si kidang mangan lembayung…

BISA dipastikan, petikan syair lagi dolanan bocah berjudul Kidang Talun itu tak lagi akrab di telinga anak zaman sekarang. Justru lagu-lagu bertema dewasa, seperti Cucak Rowo, Rondho Kempling, serta Bojo Loro, yang lebih mereka kenal.

Bukan karena lagu-lagu itu kurang bagus, tetapi rasanya sangat tidak tepat untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi, anak-anak pun tidak bisa disalahkan karena minimnya lagu-lagu yang baik bagi mereka." Kalimat itu meluncur dari bibir Soedjono (45), seorang guru agama yang juga pencipta lagu di Salatiga, sebuah kota sejuk nan alami di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Ia prihatin dengan kondisi itu. Katanya, "Setiap generasi mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan di segala sektor, termasuk budaya." Tidak adanya tembang dolanan anak-anak, lanjutnya, menjauhkan anak-anak dari kehidupan dan budaya yang seharusnya.

Pak Jon, begitu ia biasa dipanggil, lalu memberi contoh tembang dolanan berjudul Plek-emplek Ketepu.

"Plek-emplek ketepu, wong lanang goleko kayu, lamun golek aja dha menek, lamun menek aja dha mencit, lamun mencit aja dha tiba, lamun tiba aja nganti lara".

Lagu ini mengingatkan tentang peran seorang lelaki yang kelak menjadi kepala keluarga. Ia harus "mencari kayu", dalam arti mencari nafkah, tetapi tidak perlu ngoyo dan selalu waspada dalam hidup.

Dalam tembang Jago Kate, misalnya, Soedjono mengatakan, lagu yang bersyair "jago kate te te te, kukukluruuk … Kok! Amecece ce ce ce, kukuklurukkk… dibalang watu bocah kuncung, keok… mari umuk, mari ngece, sikate katon yen tukung" itu memang sebuah ledekan. Sasarannya seseorang bertubuh kecil, pendek, yang berlagak seperti jagoan tetapi ternyata gampang dikalahkan. Lagu itu menyiratkan sindiran kepada Jepang ketika menjajah Indonesia di era tahun 1942-an.

Katanya dengan tandas, "Kita, para orang tua dan guru, cukup risih ketika menyaksikan penampilan anak-anak di media audio visual, di mana mereka diperlakukan sebagai obyek eksploitasi untuk kepentingan komersial semata dengan mengabaikan perkembangan jiwa anak."

MAKA Soedjono tergerak untuk mengumpulkan, kemudian melestarikan tembang dolanan bocah tersebut. "Bagi saya, tembang dolanan bocah ini adalah warisan kebudayaan yang adiluhung, karena itu harus dilestarikan," ujarnya.

Selain itu, ia pun menangkap keresahan rekan-rekan seprofesi, khususnya guru taman kanak-kanak, sekolah dasar, atau pun madrasah aliah. Dalam arti, animo para guru untuk tetap mengajarkan filosofi dan nilai-nilai budaya kepada anak-anak cukup tinggi. Kendalanya, bahan maupun media tidak tersedia.

Hingga saat ini, ia berhasil mengumpulkan sekitar 70 lagu dolanan. Dari jumlah itu, 15 lagu telah ia kemas dalam bentuk satu rekaman kaset. "Semua itu semata-mata untuk keperluan sekolah karena banyak guru yang merasa tidak memiliki bahan dan media untuk mengajarkan tembang dolanan itu," ujarnya.

"Saya hanya berharap, anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya mereka. Selain itu, lagu adalah bahasa universal, karena itu tidak akan pernah lekang," katanya. Melalui volume I, rekaman yang telah ia buat, Soedjono sengaja mengambil lagu-lagu yang sudah jarang dinyanyikan. Sebut saja, misalnya, Kidang Talun, Dodo Satrio, Esuk-esuk Srengengene, Sinten Numpak Sepur, Jago Kate, ataupun Pitik Tukung.

Sengaja ia memilih lagu-lagu yang kurang top karena lagu lain, seperti Gundhul-gundhul Pacul dan Cublak-cublak Suweng, masih cukup sering dinyanyikan. Selain itu, ia mengaku bahwa upaya itu masih menggunakan modal sendiri. Untuk menelurkan volume I kumpulan tembang dolanan bocah itu, ia telah menghabiskan setidaknya Rp 70 juta, jumlah yang memang tidak sedikit.

Sementara itu, masih ada sekitar 55 lagu yang perlu dilestarikan. "Yah, pelan-pelanlah. Yang penting, sekarang ini para guru sudah bisa memiliki media untuk mengajar, dan sedikit demi sedikit tembang dolanan ini bisa dilestarikan," katanya perlahan.

SOEDJONO memang sosok yang unik. Tak terlalu salah rasanya jika mengatakan ia hidup di dua "dunia". Untuk menopang kehidupan sehari-hari, lulusan Fakultas Tarbiah IAIN ini mengajarkan Ilmu Agama Islam di sekolah dasar negeri di Salatiga. Selain itu, lebih karena seorang teman, ia diminta mengajar seni teater dan musik di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, serta khusus teater di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, juga di Salatiga.

Terlepas dari itu, ia adalah salah satu vokalis Ken Arok, kelompok musik dangdut ternama di Salatiga. Dengan kata lain, di siang hari ia bicara soal agama, sedangkan di malam hari ia sibuk dengan kegiatan musik yang sarat dengan goyang. Pria kelahiran Susukan, Kabupaten Semarang, 12 Agustus 1959, itu hanya tersenyum menghadapi "benturan" tersebut, jika kedua hal itu memang dibenturkan.

Bagi ayah empat anak ini, kedua soal itu tidaklah saling berlawanan. "Kita bicara agama adalah untuk mendasari hidup, sementara seni, khususnya musik dangdut, adalah realita," ujarnya.

Ia merasa tidak perlu membenturkan kedua hal tersebut.

"Bagi saya, semua ini justru membawa kita pada proses pendewasaan dan pematangan diri dalam beragama," kata pria berkulit sawo matang itu. "Malah yang saya takutkan adalah satu hal, jangan sampai saya mengharamkan orang lain, dan yang tidak baik lagi adalah jika saya munafik," ujarnya.

Di belantika musik dangdut, ia memang bukan orang asing, bahkan pada tingkat nasional. Tahun 1995, ia menerima penghargaan HDX Award untuk lagu Jodoh yang ia ciptakan.

"Lagu itu meledak cukup luar biasa ketika dinyanyikan kelompok (dangdut) Manis Manja," katanya sambil tersenyum.

Sumber : Kompas, Selasa, 12 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks