Jun 28, 2009

Ko Houw Houw : Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten

Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten
Oleh : MH Samsul Hadi

Sebagai Ko Houw Houw, ia tak dikenal. Namun, jika Iwan Nit-Net (40) yang disebut, warga Kampung Pamarican di Banten Lama hingga orang Baduy Dalam di Kampung Cibeo sekalipun akrab.

BERBEKAL kamera, ia suka keluar masuk kampung untuk mencatat dan merekam berbagai informasi seputar budaya Banten. Akibat hobinya itu, anak tunggal pasangan Ko Kian Hoe-Tjioe Lan Eng ini pernah dijuluki "China Edan".

"Saya bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari," tutur Iwan. "Saya kumpulkan data-data kesenian tradisional dan budaya Banten, mumpung orangnya (pelaku kesenian) masih ada."

Dokumentasi kesenian tradisional dan budaya Banten itu berupa catatan-yang juga ia simpan di komputer usang berperangkat Pentium 3-selain foto, rekaman kamera, dan barang antik. Semua terserak di ruang kerja yang sempit pada lantai dua rumahnya di Jalan Diponegoro, Kota Serang.

ADA juga tumpukan koran lama yang menyentuh langit-langit rumah. Tersimpan juga beberapa barang antik seperti Jejodog (tempat duduk) karya pahatan pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) yang diabadikan dalam lukisan Aku dan Istriku di Lonceng Kedua.

"Waktu aktif di lingkungan seni kampus, saya kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Orang-orang sini pun ketika ditanya soal itu, banyak yang tidak tahu," papar pria bernama lengkap Muhammad Iwan Subakti Koharjaya soal awal mula minatnya pada dokumentasi budaya Banten.

Sejak itulah ia berkelana dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Banten. Ia bertemu kiai, tokoh pendekar, hingga para kokolot (tokoh adat). Asal-usulnya yang keturunan Tionghoa tidak menghambat interaksinya dengan mereka.

Ia mampu menjalin persahabatan dengan Jaro Karis, tokoh jawara karismatik dari Lebak, sejak tahun 1985 dan sejumlah kokolot Baduy sejak tahun 2001. "Tidak benar kalau orang Banten fanatik. Kuncinya adalah komunikasi yang kita bangun," kata pria kelahiran Bandung, 23 November 1965, itu.

Iwan juga mengumpulkan benda-benda cagar budaya. Data tentang budaya Banten dan benda-benda cagar budaya tersebut menjadikan rumahnya seperti "bank data" budaya Banten.

Benda cagar budaya itu berupa gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno buatan Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Eropa. Sebagian dari benda-benda itu diserahkan pemiliknya karena bosan atau ingin ada yang merawatnya.

"Sebagian benda-benda tersebut masih disimpan pemiliknya sampai saya mempunyai mitra untuk membuat sebuah tempat penyimpanan," ujar Iwan. Ia bercita-cita benda-benda cagar budaya itu kelak mengisi museum daerah Banten, yang tengah dia rintis bersama rekan-rekannya.

"Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah tangan, berpindah tempat bahkan hingga ke luar negeri. Ini sangat merugikan Banten yang kelak sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten," kata ayah dari Mimosa Pudica Koharjaya (11), hasil perkawinannya dengan wanita asli Serang, Lia Mulyasih (35).

MINAT Iwan pada dokumentasi budaya Banten terbangun sejak ia masih di sekolah dasar. Saat itu ia sering diajak berkeliling ke berbagai tempat oleh ayahnya, Ko Kian Hoe (72) alias Sianfu atau Chemy SNF, wartawan dan pendiri majalah bulanan Oetoesan Banten, media cetak pertama di Banten setelah Indonesia merdeka, yang terbit tahun 1954.

Berbekal kamera yang dibelikan ayahnya waktu itu, ia mulai mengasah kemampuannya di bidang fotografi. Sebagian koleksi fotonya tentang budaya Banten telah dimuat di beberapa media cetak. Berkat kekayaan data-datanya, jebolan Fakultas Teknik Sipil Sekolah Teknik Tinggi Tirtayasa Cilegon tanpa ijazah itu dipercaya menggarap Menara Banten, majalah bulanan yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten, tahun 2003-2004.

Iwan sering didatangi mahasiswa yang menyusun skripsi tentang Banten maupun wartawan yang memerlukan foto-foto itu. "Semua itu saya berikan secara gratis dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.

Foto-foto mengenai budaya Banten tidak dia jual, kecuali kepada perusahaan, seperti kepada PT Angkasa Pura II yang membeli 50 lembar foto berukuran 10R untuk dipasang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Ia sering diminta memandu para pemburu khazanah budaya Banten. Beberapa peneliti di Badan Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Universitas Leiden (Belanda), Universitas Kyoto (Jepang), dan Pusat Kebudayaan Jepang juga sering mengontaknya untuk berdiskusi soal budaya Banten.

SEPERTI diakuinya, Iwan telah keluar dari stereotip tentang keturunan Tionghoa: piawai berbisnis, kurang peduli sekitar, dan pasti kaya raya. Berkali-kali usahanya gagal, mulai dari layanan jasa desain, perusahaan furnitur, hingga usaha warnet. Tidak ada peninggalan dari bekas usahanya kecuali nama "Nit-Net" yang dikutip dari nama warnetnya.

Selain menekuni jalur budaya, ia juga aktif dalam Yayasan Seng Pho-bergerak di bidang pendidikan dan dokumentasi sejarah-di mana ia menjadi salah satu pendiri dan sekretarisnya.

Iwan menggalang komunitas Wong Banten sebagai basis gerakan untuk membentuk karakter masyarakat lokal, dengan jaringan para warga Banten yang tersebar hingga ke luar negeri. Komunitas itu berupaya menggali identitas budaya lokal, yang hingga 4,5 tahun setelah Provinsi Banten berdiri, masih menjadi tanda tanya.

Belakangan ini ia mulai menggarap komunitas pertanian dengan menawarkan pupuk gratis kepada para petani sebagai uji coba meningkatkan produksi padi. "Jika produksi padi mereka meningkat lebih dari satu ton, petani memberikan gabahnya 50 kilogram yang dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan," tuturnya.

Dengan begitu, Iwan ingin membuktikan: bergerak di jalur budaya bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, teoretis, dan elitis. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bagaimana mau bicara soal character building plan jika perut masih kosong." (MH SAMSUL HADI)

Sumber : Kompas, Kamis, 14 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks