Jun 26, 2009

Baba Gendu : Memanusiakan dengan Doa dan "Pitua"

Memanusiakan dengan Doa dan "Pitua"
Oleh : Cokorda Yudistira

Usianya sudah hampir 90 tahun. Kerut di raut wajah, rambut bahkan alis pun memutih, tetapi ia masih tetap bersemangat saat diajak berbincang. Tuturnya lugas dan blak-blakan.

Baba Gendu, demikian lelaki kelahiran 10 Agustus 1916 ini biasa dipanggil warga Kampung Poncol, Bekasi Timur. Di usia tuanya, Baba Gendu menangani dan mengobati ratusan pasien cacat mental dan gangguan jiwa, yang ditampung di pantinya, Yayasan Galuh Rehabilitasi Cacat Mental, di Jalan M Hasibuan, Margahayu, Bekasi Timur. Sebuah kegiatan yang sudah dijalankan Baba Gendu sejak 23 tahun silam.

Ditemui Sabtu (2/7/2005) di panti sekaligus tempat tinggal bagi 220 pasien dan rumah bagi sekitar 20 pengurus panti, Baba Gendu bertutur, beberapa pejabat yang pernah berkunjung ke panti rehabilitasi ini kerap mengeluh soal kebersihan dan kelayakan panti ini.

Betapa tidak. Di tanah seluas 1.700 meter persegi ini berdiri sebuah bangsal besar, yang diapit deretan kamar bagi pasien, deretan kamar-kamar mungil berimpitan untuk pengurus yayasan dan sebuah dapur umum serta sebuah kantor yayasan. Sementara di sisi timur berjejer kandang bagi belasan kuda milik Baba Gendu beserta tempat tinggal bagi para kusir delman.

”Ya, di sini memang bau, tetapi saya jamin, pagi bau, tetapi malamnya dibersihkan, jadi baunya hilang. Rumah sakit saja masih ada baunya, bahkan lebih keras baunya karena obat-obatan. Pejabat itu diam,” kata Baba Gendu dengan serius.

Terketuk hatinya

Perkenalan Baba Gendu, yang bernama asli Gendu Mulyatip, dengan perawatan dan pengobatan orang-orang cacat mental serta gangguan jiwa berawal tahun 1982. Saat menjabat sebagai Kepala Lingkungan di Kampung Poncol, Baba Gendu menolong seorang perempuan kurang waras yang hampir dikeroyok warga gara-gara melukai seorang anak Kampung Poncol.

”Kebetulan saya lewat. Perempuan gila itu saya bawa pulang ke rumah, saya suruh dia mandi, kasih baju salinan, kasih makan, suruh tidur. Besoknya, saya obatin. Dua minggu kemudian, dia sudah mulai sadar, bisa cerita. Saya suruh dia pulang. Dua bulan kemudian, dia datang lagi, sudah bawa KTP (kartu tanda penduduk). Di situ hati saya mulai terketuk,” ujar Baba Gendu.

Sejak itu, setiap sore Baba Gendu mulai berkeliling, dari pos penjagaan sistem keamanan lingkungan (siskamling) ke pos penjagaan siskamling lainnya. Dengan dua sedan bututnya, Toyota Crown warna hitam tahun 1989 dan Toyoto Corolla warna merah tahun 1978, Baba Gendu keluar kota hanya untuk menjemput mereka yang mengalami gangguan mental dan mengantar ke rumah tatkala mereka sembuh.

Kabar pun berkembang. Nama Baba Gendu dikenal sebagai penyembuh gangguan jiwa. Giliran rumah Baba Gendu, yang didatangi orang-orang atau bahkan petugas dinas sosial yang membawa pasien gangguan jiwa. Karena banyak yang harus ditampung sementara lahan rumah terbatas dan sempit, Baba Gendu memindahkan tempat penampungannya ke lokasi baru, yang sekarang lebih dikenal sebagai panti.

Jumlah pasien yang ditampungnya pun bertambah. Tahun 2003 Yayasan Galuh menampung sekitar 250 pasien gangguan kejiwaan, sementara daya tampungnya terbatas, sekitar 120 orang. Di panti ini juga diobati dan dirawat pasien gangguan jiwa akibat kecanduan narkotika. ”Bahkan ada orang jompo dan orang telantar dibawa ke sini juga. Jadi penuh. Kami bingung menampungnya,” papar Baba Gendu.

Gagasan leluhur

Yayasan Galuh Rehabilitasi Cacat Mental resmi dipakai sejak tahun 1995. Galuh sendiri, menurut Baba Gendu, adalah singkatan dari Gagasan Leluhur. Nama ini demi mengingatkan putra dari pasangan Murdani dan Rodiah ini atas asal mula kemampuan dan metode pengobatan yang diterapkan di panti ini.

Yayasan ini dikelola Baba Gendu bersama kedua istrinya yang masih hidup, 10 anak, puluhan cucu dan cicit, serta 35 karyawan. Demi menunjang kegiatan panti, termasuk menjamin setiap pasien memperoleh makanan yang memadai, Yayasan Galuh bertumpu dari sumbangan keluarga pasien, donatur, dan bantuan tidak tetap dari pemerintah. Selain itu, Baba Gendu juga memberikan seluruh penghasilan dari penyewaan 15 delman dan jual beli kuda ke yayasan.

Dalam kesehariannya, Baba Gendu menerapkan lima cara pengobatan, yaitu doa, pitua atau nasihat, ramuan, urut, dan pijat. Doa, misalnya, diterapkan bagi pasien yang mengalami tekanan batin atau stres. Sementara pitua atau nasihat bagi pasien yang terkena gangguan jin dan makhluk halus atau karena tidak kuat belajar ilmu.

”Kuncinya adalah sabar, jujur, rendah hati, murah hati, dan bijaksana. Itu kunci segala ilmu pangkal jaya. Itu yang kami jiwai di panti ini,” kata Baba Gendu.

Sumber : Kompas, Rabu, 6 Juli 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks