Jun 26, 2009

Darwin Karyadi, Perintis Litbang Gizi

Darwin Karyadi, Perintis Litbang Gizi
Oleh : FX Puniman

Mencuatnya temuan anak usia di bawah lima tahun dengan gizi buruk maupun busung lapar di beberapa daerah, seperti disiarkan berbagai media cetak maupun elektronik sejak pertengahan bulan lalu, sangat memprihatinkan. Pelayanan dasar keluarga miskin tidak terpenuhi.

Keprihatinan itu di antaranya diungkapkan Prof Dr Darwin Karyadi (72) dalam bincang-bincang dengan Kompas, Senin (27/6/2005), di rumahnya di Bogor. Darwin adalah perintis dan pelopor penelitian dan pengembangan gizi di Indonesia yang pensiun pada tahun 1993 dari Departemen Kesehatan RI. Meski sudah pensiun, ia masih terus membimbing kandidat doktor di bidang pangan dan gizi dari beberapa perguruan tinggi negeri.

Taman Gizi yang tahun 1970-an dirintisnya merupakan metode rehabilitasi anak usia di bawah lima tahun (balita) penderita gizi buruk. Seperti dikatakannya, inti pelayanan dalam Taman Gizi ini adalah pemberian makanan tambahan, pengobatan penyakit penyerta, pendidikan/penyuluhan gizi dan kesehatan, serta pola asuh. Taman Gizi merupakan cikal bakal pos penimbangan yang kemudian berkembang menjadi pos pelayanan terpadu (posyandu).

”Model rehabilitasi gizi buruk dengan rawat jalan itu kini dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Bogor yang menangani anak balita yang gizi buruk dan kurang berdasarkan rujukan dari puskesmas di Kota dan Kabupaten Bogor,” kata Darwin.

Menurut dia, kalau ibu-ibu PKK (program kesejahteraan keluarga) aktif, dipastikan anak-anak penderita gizi buruk dan kurang dapat diketahui secara dini. Dengan demikian, segera bisa dilakukan pencegahan.

Keunggulan tempe

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai pelopor pencegahan dan penanggulangan kekurangan vitamin A ini sempat mengatakan keunggulan tempe.

”Tempe memenuhi syarat sebagai makanan sehat dan bergizi, berkhasiat masa kini dan masa nanti secara nasional dan global,” kata Darwin yang mendapat penghargaan Centini Kencana Award pada tahun 1997 atas jasanya memasyarakatkan makanan tradisional Indonesia, tempe, yang bermanfaat mencegah berbagai penyakit infeksi dan degeneratif.

Selama 30 tahun terakhir ini, menurut Prof Darwin yang menjadi Direktur Regional SEAMEO–TROPMED UI (1994-2004) yang masih turut aktif berpartisipasi bersama Puslitbang Gizi dan Makanan Departemen Pertanian RI, para pakar ahli gizi, ahli teknologi pangan, ahli kesehatan anak merumuskan formula tempe membuka peluang yang sangat potensial untuk dijadikan makanan pendamping air susu ibu secara nasional dan global.

Hambatan

Selama Darwin menjadi Kepala Puslitbang Gizi dari tahun 1973 sampai 1993 telah dilakukan berbagai penelitian. Penelitian yang dilakukannya bersama sejumlah peneliti lainnya menyimpulkan, kekurangan gizi utama dapat mengakibatkan hambatan fisik dan mental, kebutaan, idiot, prestasi belajar menurun, prestasi olahraga menurun. Dia juga bisa menimbulkan penyakit, seperti, serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dan kanker.

”Busung lapar tidak mencuat di daerah Yogyakarta dan Bali karena warga Yogya mengonsumsi tempe cukup tinggi, sedangkan di Bali karena pendapatannya tinggi dari kegiatan wisata di Bali. Itu hipotesis, namun kenyataan memang tak dapat dimungkiri faktor lain seperti kemiskinan dan politik juga mengakibatkan terjadinya gizi buruk bagi anak balita di suatu tempat,” kata Darwin seraya menambahkan, gizi kurang dan gizi buruk yang diderita anak balita di daerah Kabupaten Bogor itu antara lain karena orangtuanya miskin.

Darwin yang menikah dengan Dra Lies Karyadi MSc dikaruniai tiga anak (Ir Elwin Karyadi, Dr Ir Elwan Karyadi, dan Dr dr Elvina Karyadi MSc). Dia mendedikasikan karya yang merupakan cetusan hatinya kepada setiap jiwa yang mencintai Indonesia dengan segenap hati untuk membangkitkan kembali hal-hal yang bernilai dari perjalanan kejayaan bangsa untuk diingat, diabadikan, dan dilanjutkan keberadaannya.

”Tantangan menginvestasi sumber daya manusia sejak balita, kehamilan, menyusui pada hari esok segera melayani kebutuhan penyediaan formula gizi dalam rangka mencegah dan menanggulangi kelaparan di seluruh Nusantara adalah agenda kita bersama,” kata Darwin yang sangat mencintai profesi gizi sehingga, meski telah pensiun, tetap menyumbangkan pemikirannya sebagai penasihat Persatuan Ahli Gizi Indonesia.

Sumber : Kompas, Senin, 4 Juli 2005

1 comments:

Juanita Luthan said...

Sumbangsih beliau kepada negara dan bangsanya hingga akhir hayat, sungguh luar biasa. Semoga segenap ilmu dan amal yang diberikan kepada pertiwi akan terus membawa manfaat serta cita cita yang masih terus dicanangkan, dapat dilanjutkan oleh generasi penerus. Amin

Selamat jalan Prof Dr dr Darwin Karyadi, putra terbaik 100%
Indonesia.
RIP

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks