Jun 18, 2009

Donatus Remi : Pengusaha Unggas dari Ende

Pengusaha Unggas dari Ende
Oleh : Samuel Oktora Batarede

Tidak banyak pengusaha unggas di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, meski penduduknya saat ini mencapai sekitar 230.000 jiwa. Kebutuhan telur kabupaten ini pun sebenarnya tidak sedikit, yaitu mencapai sekitar 160.000 butir per minggu. Akan tetapi, nyatanya, kelompok pengusaha yang ada jumlahnya cuma 10 orang. Itu pun rata-rata hanya menghasilkan 400 butir telur per hari per perusahaan.

Donatus Remi adalah salah satu di antara 10 pengusaha unggas ayam petelur dari Ende itu. Meski masih tergolong skala kecil untuk ukuran Nusa Tenggara Timur (NTT) sekalipun, Donatus Remi tergolong paling menonjol.

Indikatornya? Catatan saja, perusahaan peternakannya yang bernama UD Sari saat ini memiliki 3.700 ekor ayam petelur. Produksinya sekitar 3.000 butir per hari atau sebanyak 21.000 butir per minggu. Itu berarti sumbangan UD Sari milik Donatus Remi cukup dominan di antara total produksi telur Ende yang mencapai sekitar 28.000 butir per minggu dari 10 perusahaan unggas di kabupaten ini.

Sudah banyak perusahaan sejenis di Ende yang merangkak di tempat atau bahkan gulung tikar. Bagi pengusaha Donatus Remi, yang menarik agaknya justru kisah di balik kesuksesannya. Kisahnya tidak hanya harus melalui perjalanan berliku dan terjal, tetapi juga menyentuh kalbu.

Yang pasti, Donatus merupakan sosok yang tidak takabur. Hingga sekarang tidak pernah henti-hentinya menyampaikan terima kasih paling tulus secara khusus kepada sejumlah orang yang dianggap paling berjasa dalam perjalanan hidupnya. Mereka adalah keluarga dr Wahyu Nugroho dan sejumlah orangtua angkatnya ketika Donatus menjadi yatim piatu sejak berusia dua tahun.

Nenek pun meninggal

Donatus Remi, kelahiran Ende, 6 Maret 1963, adalah anak tunggal dari pasangan Andreas Kade dan Martina Sabu. Namun baru berusia dua tahun, Donatus harus menjadi yatim piatu. Donatus kecil lalu diasuh oleh neneknya, Maria Loi, di Detusoko, 33 kilometer timur Kota Ende.

Oleh sang nenek, Donatus disekolahkan di SD Katolik Detuelu, Detusoko. Ternyata kehidupan bersama sang nenek tidak berlangsung lama. Ketika Donatus di bangku kelas V SD, neneknya malah dipanggil Tuhan. Untung saja masih ada yang bermurah hati, tiga orang ibu langsung menyanggupi menjadi ibu angkat Donatus. Mereka adalah Mama Martina Juli, Theresia Semu, dan Magdalena Tera.

Berkat bantuan dan kasih sayang ketiga ibu angkatnya, Donatus berhasil menamatkan SMP, tahun 1980. Karena ketiga ibu angkatnya tidak mampu lagi menyediakan biaya untuk kelanjutan sekolahnya, Donatus yang mulai memasuki usia remaja memilih merantau ke Kota Ende.

”Kurang lebih setahun saya menganggur. Tapi, rupanya sudah merupakan jalan Tuhan, tahun 1981, tiba-tiba ada seorang dokter umum mencari pembantu rumah tangga. Syaratnya, harus anak yatim piatu dan minimum lulusan SMP. Jadi, ya terpilihlah saya,” kisah bapak tiga anak ini dengan mata berkaca-kaca.

Ketika bersama keluarga dr Wahyu, Donatus diberi tugas khusus mengurus rumah dan juga memelihara ternak itik jawa. ”Pagi pukul empat, saya sudah bangun untuk bersih-bersih, lalu mengurus itik hingga pukul 12.00. Begitu juga sore kembali mengurus itik. Semua ini saya lakukan dengan tekun, karena setibanya di Kota Ende, yang saya pikirkan bukan pendidikan tinggi, melainkan bagaimana bisa bekerja untuk hidup. Syukur-syukur bisa hidup lebih baik,” kisah suami dari Maria Imelda Seni itu.

Di tangan Donatus, usaha itik keluarga dr Wahyu yang awalnya hanya 50 ekor dalam waktu sembilan bulan berkembang menjadi 500 ekor. Ini semua adalah berkat kerja keras dan ketekunan Donatus. Mungkin karena keuletannya itulah hingga keluarga dr Wahyu memutuskan untuk membiayai sekolah Donatus hingga tamat SMA.

Ketika usaha itik mulai berkembang, ada kendala yang menghadang, yaitu kesulitan pemasaran di Ende. Karena itu, dr Wahyu lalu memutuskan untuk menggantinya dengan beternak ayam. ”Saya tidak mempunyai pengalaman apa-apa soal ternak ayam. Namun, Pak Wahyu tetap memutuskan mendatangkan DOC (day old chick) dari Surabaya, yang untuk tahap awal tahun 1982 itu langsung dengan 500 ekor DOC,” kenang Donatus.

Menyaksikan usaha peternakan ayam berkembang baik, Donatus tidak hanya disekolahkan ke SMA, tetapi juga pernah diberi kesempatan mengikuti pelatihan peternakan unggas di Farm Terindo II di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur.

Terus berterima kasih

Perusahaan milik Donatus Remi yang berlokasi di Boanawa, Kelurahan Rukun Lima, Kota Ende, awalnya adalah perusahaan milik keluarga dr Wahyu Nugroho. Namun, sang dokter bersama istri, Giene Ongkiana Muljono, dan keluarga kemudian pindah dan menetap di Surabaya, sejak 1986.

Dalam tenggang waktu cukup lama, perusahaan terus dalam kendali keluarga dr Wahyu. Perusahaan ini sepenuhnya baru diserahkan kepada Donatus Remi sejak tahun lalu (2005). Perjanjiannya, Donatus diminta mengembalikan aset milik dr Wahyu, senilai Rp 250 juta, dan hingga kini angsuran yang masih tersisa Rp 50 juta.

Tentang aset milik dr Wahyu yang dihargai dengan Rp 250 juta, dinilai Donatus sebagai sangat murah karena meliputi tanah 4.760 meter persegi ditambah bangunan fisik serta peralatan peternakan.

Dari kisahnya tergambar perjalanan hidup Donatus melalui jalan terjal dan terus merangkak penuh tantangan. Adalah perjalanan selama 23 tahun hingga status perusahaan benar-benar menjadi miliknya.

Dari kerja kerasnya selain usaha berkembang baik, kini bukanlah beban berat bagi Donatus membiayai ketiga anaknya yang sudah di tingkat SMP dan SMA. Ia juga sudah memiliki rumah di atas lahan 800 meter persegi di Kota Ende.

”Saya tidak ada apa-apanya tanpa Pak Dokter Wahyu. Karena itu, kami sekeluarga tidak pernah akan melupakan jasa baik Pak Dokter Wahyu bersama keluarganya,” ujar Donatus Remi.

Sumber : Kompas, Sabtu, 25 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks