Jun 12, 2009

Tony Prasetiantono : Tony, Ekonom Kepala, dan Jazz

Tony, Ekonom Kepala, dan Jazz
Oleh : Djoko Poernomo

Terpilihnya Dr Muhammad Yunus dari Banglades sebagai pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2006, Jumat (13/10/2006) lalu, membuat Dr A Tony Prasetiantono, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, ikut sibuk.

Pasalnya, seusai nama M Yunus tersiar di Indonesia pada sore hari, ia langsung "ditodong" sebuah stasiun radio di Jakarta untuk memberi komentar. Padahal, saat itu Tony tengah bersiap menonton sebuah film garapan sutradara favoritnya, Martin Scorsese, di sebuah mal di Yogyakarta. Acara menonton pun sedikit terinterupsi. Malam harinya pukul 22.30, radio tersebut kembali mewawancarai secara live mengenai sosok sang pemenang Nobel.

"Saya pertama kali bertemu ketika Dr Yunus berceramah di Bank Dunia, pada musim panas 1991. Waktu itu bersama teman kuliah bermobil dari Philadelphia, khusus untuk mendengarkan ceramahnya di Washington DC," ujar mantan Mahasiswa Teladan UGM tahun 1985 yang lulus dari Fakultas Ekonomi UGM setahun kemudian.

Menurut Tony, ia pada tahun 1997 bertemu lagi Dr Yunus di kantornya di daerah Mippur, Dhakka, Banglades, markas besar Grameen Bank, ketika melakukan studi tentang kredit mikro Bank Grameen. Dalam bahasa Bengali, grameen berarti ’pedesaan’.

"Dr Yunus pernah diunggulkan memenangi Nobel, namun gagal. Uniknya, pada tahun 2006 ini, liputan media massa begitu menjagokan tokoh-tokoh di sekitar perdamaian Aceh, tiba-tiba muncul pemenang yang ’tak terduga’," ungkap Tony, penggemar olahraga bulu tangkis dan tenis serta suka menyaksikan gelar basket NBA.

Pidato wisuda

Ketika diwisuda sebagai sarjana ekonomi tahun 1986, Tony pernah "membuat berita", yakni saat diminta naik ke mimbar menyampaikan pidato mewakili para wisudawan. Pidato Tony "meledak-ledak" dan esok harinya hampir seluruh surat kabar menjadikannya berita di halaman satu.

Pada waktu itu isi pidato anak bungsu keluarga Pratiwo (74), seorang pensiunan pegawai negeri sipil di Muntilan (Jawa Tengah), dinilai "terlalu berani" karena sebagian mengkritik kebijakan pemerintah di bidang perekonomian.

Tony mengaku, memilih Fakultas Ekonomi agar hobi menulis tersalur. "Jangan lupa, waktu itu timbul polemik tentang Ekonomi Pancasila, yang dimotori Pak Mubyarto dan Pak Boediono. Media massa (cetak, belum ada TV swasta) mengekspos besar-besaran. Saya, kan, hobi menulis. Jadi kalau masuk FE, hobi saya rasanya bakal tersalurkan. Spekulasi saya terbukti benar, kan...," tutur kolumnis di berbagai surat kabar tersebut sambil terkekeh.

Enam buah buku karyanya telah dipublikasikan, terakhir di bawah judul Rambu-rambu yang Diabaikan (Penerbit Buku Kompas, 2005).

Topik lain

Meski mengagumi perjuangan memerangi kemiskinan di Banglades, ternyata Tony malah memilih topik lain ketika mengerjakan disertasi PhD-nya di Australian National University (ANU), Canberra. Di bawah tim pembimbing Profesor Glenn Withers, Dr Chris Manning, dan Profesor Hal Hill, Tony menulis The Political Economy of Privatization of State-owned Enterprises in Indonesia, yang diselesaikan akhir 2005.

Mengapa? "Topik privatisasi BUMN merupakan isu kontemporer yang menarik untuk dianalisis," kilahnya.

Dalam disertasi tersebut antara lain terungkap bahwa penjualan saham Telkom di New York dan London (1995) mengalami rintangan yang terjal. Selain karena faktor timing (waktu) yang kurang tepat—karena pada tahun-tahun tersebut ada 19 perusahaan telekomunikasi kelas dunia yang juga menjual sahamnya; termasuk Deutsche Telekom, Telstra, dan Telefonica—keberadaan para pemburu rente (rent seekers) yang notabene adalah keluarga dan kroni Presiden Soeharto, juga menjadi pengganggu yang signifikan.

Pelajaran terpenting dari kasus-kasus itu, dalam pandangan Tony, privatisasi dengan metode strategic partner kepada investor asing amat rawan menyulut resistensi karena sulitnya menjamin transparansi dalam prosesnya, serta adanya resistensi berlandaskan sentimen nasionalisme dari sebagian masyarakat.

Sebaliknya, privatisasi melalui metode initial public offering (IPO) di bursa efek nyaris tak menuai kontroversi. "Pengalaman privatisasi BUMN di Indonesia sejak 1991 memang colourful, sehingga mengasyikkan untuk dibuat buku," tutur Tony, alumnus SMA Kolese de Britto, Yogyakarta tahun 1981.

Aktivis jazz

Kini, pria kelahiran Muntilan, Jawa Tengah, 27 Oktober 1962, ini selain sibuk mengajar di UGM, juga memegang posisi chief economist (ekonom kepala) di Bank BNI. Ia membagi waktunya separuh pekan di Yogyakarta dan lainnya di Jakarta. "Kesepakatan saya sejak awal masuk BNI adalah saya tetap mengajar dan membimbing tesis mahasiswa di Yogya," ujar Tony.

Bapak seorang putri, Meidyana Sashaputri (9), dan suami dari Eva Supita Dewi (36) ini juga dikenal sebagai "aktivis" penyelenggara konser jazz di Kampus UGM, yang sudah dirintisnya sejak 1987. Malah pernah pula mengasuh acara musik jazz di Radio Geronimo, Yogyakarta, selama bertahun-tahun.

"Saya ingin mempertemukan pianis Bubi Chen dan Indra Lesmana. Kebetulan UGM memiliki grand piano merek Steinway & Sons yang dahsyat. Om Bubi dan Indra pasti senang memainkannya berdua," katanya.

Mantan komisaris independen Bank Mandiri tersebut tampak menikmati benar beragam aktivitasnya. Ternyata dunia kampus, industri perbankan, dan jazz, bisa juga bersinergi di tangan ekonom yang baru saja genap 44 tahun ini.

Sumber : Kompas, Sabtu, 28 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks