Jun 12, 2009

Filli Pratama : Inovasi Pangan Filli Pratama

Inovasi Pangan Filli Pratama
Oleh : BM Lukita Grahadyarini

"Tanah Air Indonesia kaya akan sumber daya alam. Sudah sepantasnya jika kekayaan itu dimanfaatkan untuk kemajuan pangan bangsa".

Sepenggal pemikiran itu yang mendorong Filli Pratama (40) bertekun membuat produk pangan yang praktis dari bahan-bahan alami dengan sentuhan teknologi yang tidak harus rumit.

Salah satu produk pangan yang dihasilkannya adalah tekwan kering cepat saji. Penganan basah khas Palembang yang dikemas kering untuk oleh-oleh ini biasanya harus direndam dulu selama delapan jam supaya lunak, sebelum direbus dan disajikan. Tekwan yang lazim adalah mekanan berkuah sejenis bakso yang terbuat dari bahan tepung tapioka dan ikan tenggiri.

Namun, melalui pembuatan alat sederhana, tekwan kering cepat saji itu cukup direndam 15-20 menit agar lunak. Peralatan sederhana itu dibuat sedemikian rupa agar struktur tekwan kering yang kenyal dan padat menjadi lebih berpori, sehingga cepat lunak sewaktu direndam dan praktis disajikan.

Tekwan kering cepat saji itu langsung ludes dibeli sewaktu dipamerkan pada Festival Sriwijaya, Juni lalu, dan Gelar Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Agustus lalu, di Palembang. Ketika itu, tekwan dia kemas dalam plastik.

Inovasi pembuatan tekwan tidak berhenti pada pembuatan tekwan kering. Filli juga membuat bumbu tekwan rasa udang, dengan memanfaatkan limbah kepala udang yang banyak terbuang.

Tekwan kering cepat saji secara bertahap diperkenalkan kepada perajin tekwan di Palembang melalui alih teknologi pada tahun 2006, atau dua tahun setelah produk itu dipatenkan.

"Saya bergerak di teknologi pangan, maka sayang kalau hasil temuan itu tidak diperkenalkan ke khalayak," tutur Filli yang kini menjabat Kepala Laboratorium Kimia Hasil Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.

Ketika pemakaian zat pengawet berbahaya formalin untuk tahu merebak awal tahun 2006, Filli langsung tergerak untuk membuat bahan pengawet alternatif yang tidak membahayakan kesehatan konsumen. Ia menggunakan daun sirih yang sejak dulu dikenal sebagai tanaman obat berkhasiat.

Hasilnya, pemakaian daun sirih pada tahu terbukti bermanfaat untuk mengawetkan tahu sampai tiga hari. Sifat daun sirih yang antibakteri mengawetkan tanpa merusak kandungan tahu.

Penelitian yang dilakukannya seakan tiada henti. Baru-baru ini, ia membuat produk pewarna makanan dengan bahan baku serat kayu pohon secang (Caesalpinia sappan). Pada masa lalu, serat kayu yang banyak tumbuh di pekarangan itu sering digunakan untuk obat diare. Kini, air rebusan dari serutan kayu secang dipakai sebagai alternatif pewarna makanan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pewarna sintetis.

Dalam waktu dekat, ia berencana membuat gula rendah kalori untuk penderita diabetes dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di alam.

Sembilan paten

Filli lahir di Palembang, 30 Juni 1966. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga pengusaha. Ayah-ibunya adalah wiraswasta di bidang pakaian. Ketertarikannya terhadap pertanian dimulai sewaktu ia mempelajari ilmu hayat di bangku sekolah menengah.

Sukses Filli dalam mengembangkan pangan terlihat sejak ia menempuh pendidikan strata 1 (S1) jurusan teknologi pertanian di Fakultas Pertanian Unsri tahun 1985-1989. Dalam skripsinya, ia menciptakan teknologi pembuatan beras instan. Beras itu cukup direbus selama dua menit supaya matang.

Saat menempuh kuliah strata dua (S2) jurusan Food Science di University of Western Sidney, Australia, tahun 1992-1994, ia masih bertekun dalam inovasi beras. Dalam tesisnya, ia membuat beras instan yang mengandung vitamin B1.

Gelar doktor (S3) dari jurusan Food Science di University of Western Sidney, Australia, disandangnya tahun 2000 dengan keberhasilan melakukan diversifikasi beras melalui teknologi pascapanen. Ia membuat beras wangi dengan aroma yang beragam, di antaranya pandan, dan santan kelapa, tanpa mengubah bentuk asli butiran beras.

Sepulang dari Australia, ia menjadi pengajar pada jurusan teknologi pertanian Fakultas Pertanian Unsri. Penelitian dilanjutkan setiap tahun. Dalam mewujudkan gagasan penelitan, perempuan yang sejak dulu bercita-cita menjadi guru itu selalu melibatkan para mahasiswanya.

Sejauh ini, sudah sembilan hasil penelitiannya yang dipatenkan. Beberapa di antaranya, pewangian beras menggunakan karbondioksida cair, kopi blok siap seduh, tekwan kering cepat saji, kaldu udang blok, pembuatan sambal lingkung berkadar lemak rendah, dan alat pencuci antibiotik pada produk perikanan segar.

Tetapi, rupanya jiwa wiraswasta kedua orangtuanya tidak mengakar padanya. Ia mengaku tidak memiliki kelihaian dalam mempromosikan, apalagi memasarkan hasil penelitian yang sudah dia patenkan itu kepada masyarakat.

"Saya senang meneliti dan menyumbangkan karya-karya ilmiah. Tetapi, saya tidak ambil pusing bagaimana memasarkan produk. Yang penting, teknologi hasil pertanian harus dikembangkan agar semua yang masuk ke tubuh itu sehat," ujar Filli.

Apa yang dilakukan Filli tak lepas dari motivasinya untuk mengembangkan pertanian secara berkelanjutan. Kepuasan baginya apabila bisa mengembangkan ilmu. Perjalanan panjang itu didukung oleh suami dan tiga anaknya. Mereka juga yang sering kali menjadi pencicip sekaligus kritikus produk pangan yang dihasilkannya bersama dengan mahasiswanya.

Keprihatinan yang sampai kini Filli rasakan, yaitu masih adanya jurang yang lebar antara peneliti perguruan tinggi dengan masyarakat. Dalam pandangan Filli, kalangan akademisi seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan masyarakat dengan cara menyebarluaskan hasil penemuan mereka.

Tetapi, sampai sekarang, sebagian peneliti masih terbentur kesulitan untuk memublikasikan karya ilmiah mereka ke khalayak. Belum ada koordinasi antara departemen, dinas, atau instansi pemerintah dengan perguruan tinggi untuk menyebarkan hasil penelitian dan temuan para ilmuwan ke masyarakat.

Penyebaran penelitian itu sesungguhnya sangat penting untuk mempersempit jurang keilmuan antara perguruan tinggi dengan publik. "Dengan begitu, masyarakat akan semakin mengenal potensi lingkungannya," kata Filli.

Sumber : Kompas, Jumat, 27 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks