Jun 28, 2009

Timothy Theodore "Tim" DUncan : Duncan, Tanggung Jawab Seorang Bintang

Duncan, Tanggung Jawab Seorang Bintang
Oleh : J Waskita Utama

TIMOTHY Theodore "Tim" Duncan akhirnya bisa tersenyum, meski hanya sekilas, saat bunyi bel mengakhiri game kelima final wilayah Barat di America West Arena, Phoenix. Dua angka terakhir Amare Stoudemire tak mampu melepaskan tuan rumah Phoenix Suns dari kekalahan keempat, dan San Antonio Spurs melaju ke final NBA.<>

Hal ini berbeda dengan suasana seusai game keempat di SBC Center, San Antonio. Duncan meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk karena Suns mengalahkan timnya 106-111, satu-satunya kemenangan Suns atas Spurs di final wilayah. Selama dua hari berikutnya, Duncan mengasingkan diri dan tak ada seorang pun diajaknya bicara, termasuk Pelatih Spurs, Greg Popovich.

DUNCAN menyalahkan diri sendiri atas kekalahan Spurs karena hanya menyarangkan enam dari 12 lemparan dan tiga dari 12 lemparan bebas, atau total 15 angka. Sangat jauh dibandingkan dengan rata-rata 30,5 angka pada empat pertandingan lainnya.

"Tim selalu membebankan kesalahan pada dirinya sendiri setiap kali dia bermain jelek. Dia merasa sangat bertanggung jawab atas kekalahan itu," ujar rekan setimnya asal Argentina, Manu Ginobili.

Alih-alih menyalahkan rekan setim atau rasa sakit di engkel kaki sebagai penyebab kekalahan, Duncan memanfaatkan hari kosong di sela pertandingan untuk berlatih tembakan bebas dan lemparan lompat seorang diri. Dia juga hadir sangat awal di lapangan, untuk memastikan mendapat touch-nya kembali.

Hasilnya langsung terlihat, Duncan membukukan total 31 angka dan 15 rebound. Dia juga menjadi pusat pertahanan Spurs dalam menghadapi permainan ofensif Phonix Suns.

"Tim Duncan seorang individual. Anda tak akan mengenalnya hanya dengan melihat wajahnya atau berbicara dengannya. Saat seperti ini, dia tidak membutuhkan siapa pun untuk berbicara, apalagi seorang pelatih. Dia sangat bertanggung jawab, dan tahu apa yang harus dilakukan," ujar Popovich.

Bagi Duncan, tantangannya bukan pada memperbaiki kesalahan dan memastikan hal itu tidak terjadi lagi. "Aku hanya tak senang bermain buruk. Aku tak ingin meninggalkan sesuatu di lapangan yang seharusnya tidak kulakukan, padahal aku bisa melakukan sesuatu yang berbeda," ujarnya.

Tanggung jawab untuk selalu bermain baik inilah yang menjadikannya salah satu pemain terbaik NBA pascamundurnya mahabintang Michael Jordan. Bergabung ke San Antonio Spurs sebagai pilihan pertama draft musim 1997-1998, Duncan langsung menunjukkan kebintangannya.

Di akhir musim pertama, dia merebut gelar pemain pendatang baru terbaik, dan langsung terpilih sebagai satu dari lima pemain terbaik dalam NBA first team. Setelah itu, posisi di tim pertama NBA tak pernah luput darinya selama delapan tahun berturut-turut hingga musim 2004-2005. Prestasi yang hanya dimiliki oleh empat pemain sebelumnya, yaitu Larry Bird, Oscar Robertson, Bob Pettit, dan George Mikan.

Duetnya bersama David Robinson, center Spurs, menjadi dua menara yang sulit ditembus lawan. Hanya perlu satu musim, The Twin Towers membawa Spurs ke final NBA 1999, yang pertama sejak bergabung ke NBA musim 1975-1976. Hebatnya, Spurs dan Duncan langsung berhasil pada kesempatan pertama.

Gelar juara direbutnya lagi bersama Spurs pada tahun 2003. Pada dua kesempatan itu, Duncan tampil sebagai pemain terbaik (MVP) final, melengkapi dua MVP babak reguler yang diraihnya dua tahun berturut-turut, musim 2002-2003 dan 2003- 2004.

DILAHIRKAN di St Croix, Kepulauan Virgin, Amerika Serikat, pada tanggal 25 April 1976, basket bukanlah olahraga pertama bagi Duncan. Hingga usia 13 tahun, Duncan adalah perenang andal di nomor 400 meter gaya bebas, salah satu yang terbaik di AS untuk kelompok umurnya.

Namun, topan Hugo yang menyerang Kepulauan Virgin pada tahun 1989 menghancurkan kolam renang di Pulau St Croix, dan Tim kecil ini banting setir menjadi pemain basket. Setahun kemudian, ibunya meninggal dunia karena kanker payudara, meninggalkan pengaruh yang sangat dalam pada diri Duncan.

"Mama adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Dia sangat mendukung apa yang kami pilih, dan membuat kami berjanji untuk kuliah. Janji itu yang membuatku menyelesaikan empat tahun masa kuliah sebelum bergabung ke NBA," ujar peraih gelar Sarjana Psikologi dari Wake Forest University ini kepada situs slamduncan.com.

Bersama dengan Amy, istri yang dinikahinya tahun 2001, Duncan lalu membentuk Yayasan Tim Duncan yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembinaan kaum muda. Selama lima tahun terakhir, yayasan ini mengumpulkan lebih dari 600.000 dollar AS untuk riset bidang pengobatan dan pencegahan kanker, serta 135.000 dollar AS untuk pendidikan kaum muda.

"Good, better, best/ never let it rest/ until your Good is Better, and your Better is Best. Mama selalu mendendangkan ini sebelum aku tidur, dan memberi inspirasi tentang pentingnya kerja keras dan karakter yang baik untuk anak- anak. Inilah yang ingin kulakukan dengan yayasan ini," ujarnya.

Di waktu senggang, Duncan menjalani hobinya mengoleksi berbagai macam pisau, termasuk sebilah pedang samurai sepanjang tiga kaki. Dia juga menggemari musik, khususnya reggae, rap, dan musik alternatif. Setahun terakhir, orang selalu melihat earphones di telinganya saat melakukan pemanasan menjelang pertandingan. "Aku menyukai energi dari jenis musik itu, yang membantuku fokus pada pertandingan," paparnya.

NAMUN, ritual paling menarik yang dilakukannya adalah menggunakan celana pendek dengan sisi depan berada di belakang saat latihan. "Pada suatu latihan di masa kuliah, aku keluar dari ruang ganti dengan celana terbalik, yang baru kusadari belakangan. Ternyata latihan berjalan sangat baik sehingga aku menjadikannya tradisi sampai sekarang," tuturnya.

Kini, Duncan hanya terpaut tujuh pertandingan lagi dengan cincin juara NBA yang ketiga. Untuk mewujudkannya, dia harus berhadapan dengan Shaquille O’Neal dan Miami Heat, atau Ben Wallace dan Detroit Pistons, di final NBA yang akan dimulai 9 Juni. (J Waskita Utama)

Sumber : Kompas, Sabtu, 4 Juni 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks