Jun 12, 2009

Timbul Haryono Membaca Masa Lalu

Timbul Haryono Membaca Masa Lalu
Oleh : Maria Hartiningsih dan Agnes Rita Sulistyawati

Benda-benda peninggalan masa lalu adalah penanda agar manusia yang hidup pada masa sesudahnya menemukan kearifan dari peristiwa yang pernah terjadi. Dalam nyawa benda "mati" itu kita memahami rahasia alam.

"Peringatan tentang gempa tektonik di Yogyakarta dan sekitarnya sebenarnya tertulis di prasasti-prasasti," ujar Prof Dr Timbul Haryono MSc (60), arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Di daerah Kedu ditemukan prasasti baru lagi yang juga menyebut adanya gempa pada sekitar tahun 926. "Kalau suatu kejadian tertulis dalam prasasti, berarti itu dianggap peristiwa besar," sambungnya.

Menurut prasasti pula, diketahui antara abad ke 10 hingga ke-11 di tanah Jawa ini terjadi apa yang disebut sebagai "mahapralaya".

"Ada yang mengartikan malapetaka besar itu adalah meletusnya Gunung Merapi, ada pula yang mengatakan mahapralaya terjadi karena serangan musuh. Dalam prasasti tak disebut sebab-sebabnya," ungkap Timbul.

Kalau dikaitkan dengan meletusnya Gunung Merapi—"Mungkin juga Gunung Merbabu yang dulu juga aktif," kata Timbul—ditemukan bukti Candi Sambisari, Candi Kedulan, yang terpendam sampai empat meter di bawah tanah.

Candi Sambisari masih utuh berdiri, hanya atapnya runtuh. Sementara Candi Kedulan, di daerah Kalasan, tubuh bangunannya ditemukan rusak dalam pendaman, tetapi ditemukan prasasti yang ada tahunnya.

"Kalau kita lihat gambarnya, lapisan tanah di candi-candi itu memang tampak endapan lahar karena peristiwa banjir lahar," ujarnya.

Kearifan lokal

Jadi, gempa sebenarnya bukan hal yang baru. "Gempa tektonik dipahami sebagai bersemayamnya seekor naga, Sanghyang Ontoboga, di perut bumi. Orang Jawa kuno menafsirkan berbagai peristiwa atas dasar pengetahuan budayanya," ungkap Timbul.

Sampai sekarang pun masih banyak orang di Jawa yang membuat interpretasi-interpretasi suatu kejadian dengan fenomena alam.

"Wilayah keraton yang hancur, misalnya, dianggap tidak sakral lagi. Lihat saja hancurnya peradaban keraton Mataram Hindu di wilayah Jawa Tengah sehingga muncul kedinastian yang luar biasa di Jawa Timur pada abad ke-10," lanjut Timbul seraya menjelaskan siklus 200 tahunan.

Menurut dia, kearifan lokal harus digali dari peninggalan dan catatan-catatan lama. Ia memberi contoh konsep pembangunan candi yang di bawahnya ditopang batu kali atau batu gundul yang berfungsi seperti roda.

"Jadi, kalau ada goyangan gempa hanya bergeser, tidak hancur. Kemampuan teknologi masa lalu sudah memperhitungkan faktor itu," paparnya.

Dikatakan, manusia harus memahami tiga titik waktu yang saling berhubungan. "Masa sekarang ini adalah kelanjutan masa lampau untuk menengok masa depan," ujar Timbul. Karena itu, orientasi pada aspek ekonomi saat ini sebaiknya ditinjau ulang agar kita masih mampu menangkap pesan dari masa lalu.

Dengan begitu, orang mengenal sejarahnya; mengenal kesalingan dalam kebudayaan. Kebudayaan pra-Hindu bercampur dengan kebudayaan Hindu dan Buddha selama lebih kurang 1.000 tahun. Ketika Islam masuk, akar yang 1.000 tahun itu tak bisa dihilangkan begitu saja.

Dari situ terjawab mengapa dalam tradisi Sekatenan di depan masjid keraton dibunyikan gamelan yang berasal dari masa pra-Islam. "Itu adalah pengetahuan arkeologi, ilmu yang mempelajari masa lampau lewat benda-benda yang ditinggalkan," ungkapnya.

Timbul menyebut bangunan masjid di beberapa tempat yang artefaknya disesuaikan dengan kondisi setempat. "Masjid Kudus dengan menara Kudus itu secara arsitektural adalah arsitektur pra-Islam. Atap tumpang mengingatkan pada bangunan-bangunan meru di Bali," ujarnya.

Pada masa lampau kita memiliki sistem birokrasi yang seharusnya kita gali lagi ketika bersinggungan dengan sistem dari luar. Sejak dulu, nenek moyang kita sudah mampu memilih dan memilah aspek-aspek budaya dari luar untuk dikombinasikan dengan kekayaan sendiri.

"Saya kira, yang diperlukan sekarang adalah pembelajaran kesadaran akan kesejarahan. Kita memiliki riwayat sejarah yang panjang dan akar budaya itu kuat. Kalau tidak, saya khawatir kita akan kehilangan identitas budaya dan terus terombang-ambing dalam perkembangan saat ini."

Candi Ijo

Timbul kecil sudah akrab dengan candi. Kelahiran Dusun Gunung Pegat, Prambanan, 5 Oktober 1945, itu dibiarkan ayahnya, Mitrawiharja, petani tak bertanah, untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, sambil bermain.

"Saya suka naik ke pegunungan Ijo. Di sana ada reruntuhan Candi Ijo, yang menurut prasasti sudah ada sejak abad ke-9," kenangnya.

Dari situ, kecintaannya pada benda-benda peninggalan masa lalu berkembang bersamaan dengan kecintaannya pada seni tradisi.

Ayah lima anak, kakek lima cucu, ini mendapatkan masternya di bidang arkeologi dari Universitas Pennsylvania, AS, gelar doktor serta guru besar dari UGM, dan gelar kebangsawanan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Gempa 27 Mei lalu telah meluluhlantakkan bangunan di sekitar tempat tinggalnya di Kelurahan Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten. Ketika gempa terjadi, ia terkurung di kamar mandi. Seluruh keluarganya selamat, meski rumahnya retak-retak.

"Ketika akhirnya bisa keluar, sebagian besar rumah di dekat sini sudah roboh," tuturnya. Di lingkungan RW-nya, 28 warga tewas.

Sumber : Kompas, Kamis, 7 September 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks