Jun 20, 2009

Teuku Hariman T Zagloel : Hariman T Zagloel, Visualisasikan Citra Perusahaan

Hariman T Zagloel, Visualisasikan Citra Perusahaan
Oleh : M Clara Wresti

Citra adalah bagian yang penting bagi sebuah perusahaan. Dengan citra, nasib sebuah perusahaan sangat ditentukan. Tidak heran jika perusahaan mau merogoh koceknya untuk memvisualisasikan citra tersebut lewat berbagai media. Salah satunya lewat penampilan di pameran.

Penampilan sebuah perusahaan di ajang pameran sangatlah penting. Di sanalah perusahaan itu mengenalkan produknya kepada pengunjung. Jika berpenampilan buruk atau biasa saja, tentu pengunjung tidak tertarik mampir ke stan itu.

”Inilah bisnis saya. Membuat panggung atau ruangan yang mampu menarik pengunjung pameran. Ruangan ini harus mampu mencerminkan citra dari perusahaan yang dipamerkan. Ini bukan bisnis sembarangan karena tidak banyak orang yang mampu mendirikan panggung dalam waktu dua hari, lengkap dengan semua fasilitas dan ornamennya,” kata Teuku Hariman T Zagloel (39), Presiden Direktur PT Samudra Dyan Praga, kontraktor pameran.

Tidak banyak orang tahu akan bisnis yang satu ini. Bahkan, di awal tahun 1980-an, Indonesia kesulitan melakukan pameran berskala internasional karena belum ada kontraktor pameran. Yang ada hanyalah tukang kayu yang tidak memiliki kualitas standar internasional. Jika ada acara berskala internasional, Indonesia terpaksa mendatangkan kontraktor dari Singapura.

Adalah almarhum Teuku Zagloel, ayah Hariman, yang pertama kali terpikir untuk mendirikan perusahaan ini. Ketika itu, pada tahun 1982, almarhum yang menjabat Ketua Asosiasi Pengemasan Seluruh Indonesia akan menyelenggarakan pameran dan seminar tingkat internasional. Dengan asistensi perusahaan serupa dari Singapura, selesai pameran almarhum membuat perusahaan kontraktor pameran yang diberi nama Samudra Dyan Praga (SDP).

Menjadi satu-satunya kontraktor pameran tentu membuat SDP tumbuh baik. Ketika itu, SDP dijalankan oleh Cut Intan, putri Zagloel. Namun, sukses itu menumbuhkan keinginan orang lain untuk membuat perusahaan serupa. Akhir 1980-an, SDP bukan lagi satu-satunya kontraktor pameran. Dari semula sibuk menerima telepon, SDP mulai menelepon klien agar mau memakai jasanya.

”Rapornya merah terus selama beberapa tahun terakhir. Selain masih banyak perusahaan yang tidak tahu pentingnya citra, SDP juga mempunyai banyak saingan. Akhirnya pada tahun 1990 aku diserahi Ayah untuk mengambil alih SDP karena kakakku, Cut Intan, memilih untuk konsentrasi pada keluarganya,” kata Hariman.

Kepuasan klien

Gebrakan pertama Hariman untuk memperbaiki rapornya adalah investasi jenis pengunci dinding partisi. Jika semula jenis penguncinya hanya bisa mengikat empat dinding partisi, Hariman lalu membeli R8 dari Jerman, pengunci yang bisa mengikat delapan dinding. Jenis R8 membuat penampilan ruangan lebih rapi dan bagus.

”Aku ingin mengutamakan kepuasan klien. Jika puas, mereka akan mempromosikan ke kawannya. Soalnya, biar sudah 10 tahun, belum banyak perusahaan yang percaya pengaturan stan pameran bisa berdampak pada citra. Jangankan klien, bank pun masih belum memahami bisnis kami sehingga mereka tidak mau memberikan pinjaman. Kami kesulitan melakukan sosialisasi ini kepada masyarakat. Mereka menghitungnya masih dari harga bahan baku, sementara desain tidak dihitung sama sekali. Padahal, desain itu tidak hanya mengandung estetika dan kreativitas, tetapi juga tingkat keamanan,” cerita ayah dari tiga anak ini.

Saat ini ada belasan kontraktor pameran yang terdaftar di Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia. Mereka menangani sekitar 60 pameran yang digelar setiap tahun. Menurut Hariman, dari 60 pameran itu, hanya sekitar 10-15 pameran yang mementingkan citra perusahaan di mana klien berani membayar mahal untuk dekorasi stan. Yang paling gila-gilaan adalah pameran mobil. Kemudian pameran informasi dan teknologi serta pameran minyak dan gas. ”Untuk pameran ketiga jenis industri ini, biaya pembuatan panggung dan dekorasinya di atas Rp 1 juta per meter persegi. Bahkan, ada juga industri yang berani membayar Rp 5 juta per meter persegi untuk visualisasi citranya,” ujar Hariman.

Banyaknya kontraktor pameran dan keadaan ekonomi yang tidak menentu mendorong Hariman untuk melakukan terobosan terus-menerus. Kali ini dia menguatkan divisi daur ulang agar bisa memberikan harga yang ekonomis untuk klien. Semua bahan pameran yang bisa dipakai lagi disimpan atau diproses dibuat bentuk tertentu. Selain itu dia juga menawarkan kontrak jangka panjang.

”Klien harus tahu dalam setahun dia akan pameran berapa kali. Lalu semua ornamen yang identik dengan dia akan dipakai lagi untuk pameran yang berikut. Dengan cara ini, klien diuntungkan karena bisa menekan biaya,” tutur Hariman.

Sumber : Kompas, Kamis, 22 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks