Jun 21, 2009

Taufik : Kliwon, Pengembang Kompor Briket Batu Bara

Kliwon, Pengembang Kompor Briket Batu Bara
Oleh : Ilham Khoiri

Ketika ibu-ibu rumah tangga sengsara harus mengantre minyak tanah hingga berjam-jam, Kliwon sibuk mengutak-atik desain kompor bio briket batu bara. Saat pemerintah benar-benar menaikkan harga bahan bakar minyak 1 Oktober lalu, dia telah menemukan desain kompor yang dinilai pas. Saat ini, lelaki itu kebanjiran order untuk memproduksi kompor lebih banyak lagi.

Jumat (7/10/2005) siang yang panas itu, Kliwon sibuk menguji sebuah kompor baru di belakang rumahnya yang bersahaja di Kelurahan Talang Putri, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Air sebanyak tujuh liter dimasukkan ke dalam baskom dan dipanaskan di atas kompor berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan bahan bakar bio briket batu bara. Sekitar 45 menit kemudian air sudah mendidih.

”Kompor batu bara ini memang lebih cepat dan lebih panas. Kalau pakai kompor minyak tanah biasa, mungkin air baru mendidih sekitar satu jam lebih,” papar Kliwon sambil memperlihatkan kompor berbentuk bulat itu.

Kompor batu bara buah tangan Kliwon yang dibuat dari pelat, besi, dan kawat itu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kompor serupa produksi pabrik. Bio briket batu bara yang dimasukkan dalam kaleng kompor mudah menyala, bara api terbakar dengan merata, lebih panas, dan panas itu mengumpul di lubang atas. Bahan makanan atau minuman yang dimasak pun lebih cepat matang.

Kualitas itu didapatkan karena desain kompor telah dimodifikasi sesuai dengan karakter alam batu bara dan panas yang dibutuhkan. Kompor produksi Kliwon memiliki tiga lubang angin besar di bagian bawah. Bagian tengah dilengkapi sekitar 18 lubang udara besar. Bentuk ember yang memuat briket itu bundar dan melebar di bagian bawah, sedangkan dasar ember dibuat dari jeruji kawat yang ditata berjajar.

Dengan desain seperti itu, angin mudah masuk ke dalam kompor, naik ke atas, dan keluar. Perputaran angin sangat dibutuhkan agar briket mudah menyala, bara api merata, dan panasnya bisa mengumpul ke atas.

”Sudah 120 kompor yang kami buat sebulan ini, sebagian besar untuk memasak sehari-hari. Kami mendapat pesanan 500 kompor baru, kemudian 1.000 kompor lagi,” kata Kliwon. Untuk memenuhi pesanan itu, dia dibantu empat pekerja dari warga lingkungan sekitar.

Kliwon lebih bersemangat membuat kompor karena bio briket batu bara bisa menjadi bahan bakar alternatif yang cukup murah dan mudah didapatkan, di tengah situasi minyak tanah yang mahal dan sering langka.

Kompor jenis rumah tangga dijual dengan harga relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp 24.000 sampai dengan Rp 60.000, tergantung ukurannya. Adapun bio briket batu bara yang diproduksi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral Batu Bara (Tekmira) di Cirebon, Jawa Barat, sekitar Rp 1.000 per kilogram.

Dari kompor minyak tanah

Kliwon lahir di perkampungan padat dekat kilang minyak di Plaju, Palembang, 49 tahun lalu. Kliwon hanyalah panggilan akrab karena nama sebenarnya adalah Taufik. Kemahirannya mengutak-atik kompor membuat banyak orang mengira dia lulusan STM, minimal pernah mengikuti kursus teknik. Tetapi lelaki ini hanya jebolan kelas IV SD di Kelurahan Talang Puteri, tak jauh dari rumahnya.

Setelah mencoba berbagai usaha untuk memperbaiki nasib, Kliwon tertarik untuk membuat kompor minyak tanah sejak tahun 1988. Saat itu, minyak tanah masih murah dan banyak warga mengandalkannya untuk memasak sehari-hari.

Tahun 2005—sekitar bulan Agustus—PT Bayu Patria Sukses Mandiri, distributor bio briket batu bara, membawa contoh kompor dan meminta Kliwon membuat tiruannya. Sejak itulah dia mulai mengutak-atik kompor briket batu bara dan tertantang untuk menyempurkannya.

Menurut Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Sumsel, Roliansyah Basnan, kompor hasil kerja Kliwon termasuk yang terpilih untuk digunakan dalam peragaan memasak dengan bio briket batu bara di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor, awal Oktober. Kompor itu juga dipamerkan dalam Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional VII di Palembang, akhir September lalu. Rencananya, kompor itu akan dikembangkan secara massal.

Kliwon bertekad untuk terus mengembangkan desain berbagai jenis kompor briket batu bara yang lebih sempurna, sesuai dengan kebutuhan rumah tangga dan industri. Meskipun kompornya mendapat banyak pujian dan sempat diperagakan di depan presiden, Kliwon tetap rendah hati. Bahkan dia rela jika ada orang lain menjiplak desain kompornya.

”Kalau ada yang mau meniru kompor saya, tak masalah. Asal rakyat kecil tidak lagi sengsara karena tergantung minyak tanah yang semakin mahal, itu sudah sangat membahagiakan,” katanya dengan bersahaja.

Sumber : Kompas, Jumat, 14 Oktober 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks