Jun 27, 2009

Tajib, Kemiskinan dan Keprok Pulung

Tajib, Kemiskinan dan Keprok Pulung
Oleh : JA Noertjahyo*

DIA lincah dan energik. Meskipun menyandang gelar sarjana antropologi dari Universitas Gadjah Mada, ia tidak canggung bergaul dengan para petani miskin. Di lain pihak ia juga bisa akrab dengan para peneliti yang bergelar magister atau doktor. Praktis dia menjadi ”jembatan” antara para intelektual serta birokrat dan para petani di desa-desa. Khususnya petani jeruk di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Itulah figur Tajib (34), bujangan yang lebih suka menguber jeruk keprok pulung ketimbang cewek. Buah Citrus reticulata ini sejak zaman penjajahan dulu memang marak di daerah Kecamatan Pulung (Ponorogo). Karena itu kemudian dikenal dengan nama ”keprok pulung”. Namun kejayaannya hancur setelah beberapa kali diserang virus CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration).

Bencana terakhir terjadi tahun 1984 sehingga petani kapok menanamnya. Padahal, jeruk ini sudah dikenal luas dan memiliki banyak penggemar fanatik.

Sebagai warga asli Ponorogo kelahiran Desa Paringan di Kecamatan Jenangan, Tajib bertekad untuk menggairahkan kembali buah unggulan Bumi Reog itu. Oleh karena itu, setelah menamatkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1997, ia tidak tergiur pekerjaan sebagai pegawai negeri atau karyawan perusahaan.

Tajib memilih pulang kampung dan langsung menanam dua hektar keprok pulung. Saat itu di daerah Ponorogo sudah marak tanaman jeruk keprok siem di areal persawahan dengan menggusur tanaman padi.

Kedua jenis jeruk ini memang menyukai habitat yang berbeda. Keprok pulung cocok untuk tanah pada ketinggian 700 meter ke atas, sedangkan keprok siem tumbuh bagus apabila ditanam di dataran rendah.

TAJIB awalnya mengalami kesulitan merawat tanaman jeruknya. Ia pun giat belajar tentang budidaya jeruk dari literatur dan para petani yang berpengalaman. Namun, itu dirasakan belum cukup. Kemudian ia berhubungan dengan para peneliti di Loka Penelitian (Lolit) Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik Tlekung, Kota Batu. Juga dengan para peneliti di Balai Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur yang berkantor di Karangploso, Malang.

”Saya mendapat pengetahuan dan bimbingan banyak dari sana,” kata Tajib saat membonceng penulis meninjau berbagai lokasi tanaman jeruk di Ponorogo. Pengakuan ini terbukti saat melihat dia memberi petunjuk kepada para petani tentang pemberantasan hama dan pemupukan.

Atau cara memangkas ranting-ranting pohon yang tidak menguntungkan pembuahan. Demikian pula tentang pengairan, penjarangan buah, dan cara memanen buah pada usia yang tepat.

”Ia sudah menguasai teknik budidaya jeruk secara baik dan menjadi pembina petani di sana,” kata Dr Ir Q Dadang Ernawanto, Koordinator Peneliti di BPTP Jawa Timur.

Ketika dihubungi secara terpisah, Ir Arry Supriyanto MS, Kepala Lolit Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik Tlekung, juga mengutarakan komentar serupa. ”Dia memang luar biasa. Bekerja sebagai sukarelawan dengan penuh dedikasi,” ujarnya.

Mengikuti kegiatan Tajib memang cukup capek. Kami berdua berboncengan sepeda motor masuk keluar desa untuk meninjau kantong-kantong tanaman jeruk. Rasanya lebih dari 200 kilometer jalanan jelek yang kami lewati. Banyak turunan dan tanjakan yang tajam, terkadang dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.

Sebagian juga sempit dan berada di pinggir jurang yang dalam sehingga sering muncul rasa waswas dengan hati berdebar-debar. Jalan makadam itu pun dengan batu-batu yang cukup besar dan sebagian sudah rusak berat sehingga laju sepeda motor sering ”ajojing”. Namun, Tajib tampak begitu percaya diri dan tidak pernah mengeluh.

SAAT ditanya motivasinya dalam membina para petani, Tajib menjawab, ”Saya ingin keprok pulung bisa jaya lagi. Sekaligus juga mengentas para petani dari kemiskinannya.”

Luar biasa, dan saya tidak bisa memberikan komentar. Tajib menambahkan, untuk mendongkrak kembali kejayaan keprok pulung itu ia akan mengikuti ”lomba keprok” yang dilaksanakan 28-31 Juli mendatang di Lolit Tlekung. ”Saingan berat kami tampaknya hanya keprok soE,” tutur Tajib.

Untuk keperluan itu ia terus membina beberapa kelompok tani mempersiapkan buah yang bagus. Berhubung akhir-akhir ini panas cukup terik dan tanaman terkadang membutuhkan air, terpaksa dipasang slang-slang plastik untuk mengalirkan air. ”Untung hari ini ada hujan meskipun tidak lebat,” kata Tajib, sambil mengamati tanah yang sedikit basah.

Saat ini Tajib membina delapan kelompok tani yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Jambon, Jenangan, Pulung, Sooko, dan Ngebel. Jarak satu dengan lainnya cukup jauh dan bermedan berat. Maklum, lereng Gunung Wilis yang ditanami keprok pulung itu umumnya pada ketinggian 700-1.200 meter di atas permukaan laut. Banyak jalan berada di pinggiran jurang dan memiliki sekian banyak tanjakan.

Masing-masing kelompok memiliki anggota 40-70 petani. Lokasi tanaman mereka pun terpencar-pencar, tidak membentang dalam hamparan luas. Umumnya petani yang berlahan sempit itu memiliki 100-500 pohon jeruk. Hanya beberapa orang yang mampu menanam sampai sekitar seribu pohon, yaitu mereka yang tergolong ”kaya”.

Itulah gambaran ”medan petualangan” Tajib yang setiap saat digelutinya. Cukup sulit, berat, dan berbahaya. Padahal, untuk semua itu ia bekerja secara sukarela, dengan bimbingan Lolit Tlekung dan BPTP Jawa Timur.

Namun, Tajib tetap bersemangat demi kejayaan keprok pulung sekaligus perbaikan nasib para petani. Sudah sepantasnya dia pernah mendapat predikat ”Pemuda Pelopor Ponorogo”. Tahun ini Tajib masuk dalam nominasi untuk ”Pelaku Agribisnis” tingkat Provinsi Jawa Timur.

*JA Noertjahyo, Wartawan, Tinggal di Malang

Sumber : Kompas, Kamis, 23 Juni 2005

1 comments:

Anis Ulfa D. said...

tetanggaku itu... ╊╉ α╊╉ α ╊╉α ╊╉α ╊╉α ╊╉ α


saluuttt sangaat

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks