Jun 12, 2009

Syamsu Indra Usman : Indra, Penyair dari Ulu Musi

Indra, Penyair dari Ulu Musi
Oleh : Ilham Khoiri

Air keruh kembali keruh/banjiri sungai menjadi air mata/gemuruh di hulu menyeret langkah/menjadi mimpi yang menakutkan/mengikis buih menghanyutkan lumut. Menjelma pekik memilukan/malam menjadi sangat kelam/ratusan hujan bersahutan/meluapkan musibah banjir Galang.

Penggalan puisi berjudul Air Keruh Kembali Keruh itu dibaca Syamsu Indra Usman dengan hikmat di rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, pada suatu malam yang dingin, akhir September lalu.

Puisi itu ditulis untuk mengenang banjir bandang Sungai Betung, anak Sungai Musi, yang menghantam Desa Galang tahun 1996. Banjir yang menerjang saat warga terlelap pada dini hari itu menyapu habis perkampungan di tepian sungai serta menewaskan banyak orang.

Seluruh penduduk di Desa Galang akhirnya direlokasi ke Desa Galang Baru, sekitar tiga kilometer dari lokasi lama. Musibah itu dipicu gundulnya ratusan hektar hutan lindung Bukit Barisan di atas desa tersebut yang dibuka untuk dijadikan lahan kebun kopi. Saat hujan deras, kawasan itu tak mampu lagi menahan curah air sehingga memicu banjir bandang.

"Betapa manusia harus diperingatkan lewat musibah yang keras agar benar-benar insaf. Perambahan di atas Desa Galang sudah berkurang, tetapi hutan lindung Bukit Barisan di daerah lain masih terus dijarah," papar Indra, begitu Syamsu Indra Usman biasa disapa, dengan nada sedih.

Puisinya di atas merupakan salah satu dari 200-an puisi bertema sungai yang pernah ditulis Indra. Hampir semua puisi itu menyuarakan keprihatinan atas kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia. Kerusakan lingkungan membuat sungai, yang awalnya menjadi berkah dan sumber kehidupan, menjadi bencana bagi warga yang tinggal di dekatnya.

Sekitar tahun 1960-an, Sungai Musi di bagian hulu, di dekat rumah Indra, masih asri. Meski musim kemarau, aliran air sungai itu masih sedalam tiga meter lebih dengan lebar sekitar 30 meter. Namun, saat kemarau tahun 2006 ini, air sungai itu tinggal sedalam sekitar satu meter dan lebarnya melar jadi 60-an meter. Bagian sempadan sungai yang berada di pinggir jalan raya Ulu Musi-Kepahyang, Bengkulu, tergerus erosi.

Semua perkembangan sungai itu dicatat Indra, sebagian besar dalam bentuk puisi, sebagian lagi dalam cerpen atau lagu daerah. Penyair ini sangat mencintai sungai dan segenap kehidupan warga kampung di sekelilingnya.

Kekurangan fisik

Indra memang memilih tinggal di Desa Lubuk Puding selama 24 tahun terakhir ini. Dia tinggal di rumah panggung kayu sederhana di tengah perkampungan lama di dekat hulu Sungai Musi di kaki Bukit Barisan. Untuk menuju rumahnya, orang harus meniti 80 meter jembatan gantung yang dibuat pada zaman Belanda.

Penyair ini menjalani hidup sebagaimana lumrahnya petani desa. Dia mandi di sungai pada pagi dan sore hari. Siang hari, dia bergulat mengurus enam hektar kebun kopi, tiga hektar kebun kemiri, dan satu hektar kolam ikan. Hasil pertanian itu diandalkan untuk menafkahi istri dan tiga anaknya.

"Mata cangkul dan mata pena tak bisa lepas dari kehidupan saya. Saya senang tinggal di desa karena masih kental dengan sikap bersahaja, jujur, penuh kekeluargaan, dan gotong royong," ungkapnya.

Meski hidup jauh dari pusat informasi, Indra termasuk penyair yang produktif. Sudah sekitar 4.500 puisi yang dibuatnya. Sebagian puisi diterbitkan dalam tujuh buku antologi, antara lain Tembang Duka (1994), Sesembah Air Mata (2003), dan Mencari Ayat-ayat-Mu (2003).

Di luar itu, ada 109 karya tulis lagi yang sudah dijilid dalam bundelan-bundelan yang rapi. Ada 96 bundel kumpulan puisi, lima novel, dan satu kumpulan cerpen. Indra juga tekun mendokumentasikan budaya Empat Lawang, yaitu kawasan permukiman tepian sungai di Lahat yang berbatasan dengan Bengkulu.

Dia menulis dua naskah lagu-lagu daerah, menyusun satu kumpulan sastra tutur lokal yang disebut rejung, kumpulan petatah-petitih, resep masakan daerah, adat-istiadat, serta kamus bahasa Empat Lawang yang memuat sekitar 5.000 entri kata.

Karya-karya sastra dan artikel budaya Indra banyak dimuat di koran-koran lokal di Sumsel dan Bengkulu. Dia menjadi salah satu tokoh rujukan budaya Empat Lawang.

Banyak orang terkesan dengan energi dan produktivitas penyair itu. Maklum, Indra bertubuh mungil, hanya setinggi sekitar 100 sentimeter. Pertumbuhan badannya mandek akibat menderita kelainan tulang punggung sejak kecil. Kekurangan fisik itu tak menghalanginya tampil eksentrik dengan memelihara rambut panjang sepinggang. Dia ramah, riang, dan percaya diri.

"Kekurangan tubuh jadi pemicu untuk berkarya dan mengabdi lebih banyak pada masyarakat," kata Indra yang lahir di Lahat, 12 Oktober 1956, ini. Atas pengabdian dan prestasinya, Indra memperoleh penghargaan seni sastra dari Gubernur Sumsel tahun 2004.

Memasuki usia 50 tahun, Indra sudah mengurangi sebagian besar kesibukan itu. Dia memilih untuk hidup tenang sebagai petani desa sambil terus menulis puisi. Dan, sebagian puisi itu terus menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan.

Tulisnya dalam puisi Hutan Perawan: "Hutan perawan kini mengidap luka/hewan langka gelisah/cari tempat berlindung/di antara manusia pengumbar nafsu. Hutan larangan dibuat lahan perkebunan komoditi ekspor/rimba dijegal, kawasan dibabas/air mengalir/tanah terkikis erosi/banjir datang, mengamuk, mengancam."

Sumber : Kompas, Rabu, 18 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks