Jun 12, 2009

Muhammad Sofyan : Sofyan, Etos Petani Peneliti

Sofyan, Etos Petani Peneliti
Oleh : Khaerudin

Bagi Muhammad Sofyan (45), bekerja sebagai petani tidak hanya sekadar meneruskan hobi nenek moyang bercocok tanam. Sofyan tak percaya kemiskinan petani adalah takdir yang tak bisa diubah. "Untuk apa bertani kalau pada akhirnya hanya merugi," ucapnya.

Maka, saat pertama kali mendapatkan warisan sepetak sawah dari orangtuanya pada tahun 1988, dimulailah tekad Sofyan memutus mata rantai kemiskinan petani.

Sawah pemberian orangtuanya itu seluas lima rante atau sekitar 7.500 meter persegi. Luas sawahnya bertambah saat dia menikahi Misgiati tahun 1989. Mertuanya menyerahkan sawah seluas tiga rante atau sekitar 4.500 meter persegi untuk dikelola Sofyan. Itulah masa depan yang ditangkap Sofyan.

Setelah tamat pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas, ia bekerja sebagai instruktur perikanan di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Deli Serdang, tetapi kemudian dia tinggalkan. "Dari kecil tidak ada cita-cita untuk jadi pegawai," ujar Sofyan yang tinggal di Desa Sidodadi, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, ini.

Saat ada kesempatan membeli lahan yang lebih murah, dia berani menggadaikan sawah warisan orangtua dan pemberian mertua untuk membelinya. "Hasil dari sawah yang saya beli dipakai untuk mengembalikan gadai sawah warisan," ceritanya.

Bunga sakura

Layaknya petani lain, bekalnya bercocok tanam hanyalah mengikuti kebiasaan yang telah ada, termasuk penggunaan pupuk kimia dan pestisida.

Sedikit pengetahuan diraih saat Sofyan termasuk dalam petani peserta Sekolah Lanjutan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) tahun 1995. Inilah sekolah petani rancangan Departemen Pertanian yang bertujuan menjadikan petani sekaligus pengamat hama di lapangan.

Pengalaman belajar di SLPHT membawa Sofyan bergaul dengan banyak petani dari daerah lain, termasuk para petani di Pulau Jawa. Saat Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu (IPPHT) memberinya kesempatan belajar tentang ekologi tanah di Yogyakarta tahun 2004, Sofyan mulai berkenalan dengan praktik pembuatan pupuk organik. Apalagi beberapa tahun sebelumnya Pemerintah Kabupaten Deli Serdang memulai kampanye penggunaan pupuk organik.

Ditambah pengalaman belajar ekologi tanah selama di Yogyakarta, Sofyan makin sadar, sudah saatnya petani membatasi pemakaian pupuk kimia dan pestisida. Dia menuturkan, meski tak diajari cara meracik pupuk organik, instrukturnya membagi pengetahuan tentang pemanfaatan bahan-bahan alami dan buah-buahan untuk menyuburkan tanah dan melindungi tanaman dari serangan hama.

Mulailah Sofyan belajar meracik dan membuat komposisi pupuk cair organik yang pas dari berbagai bahan alami dan buah- buahan. Kotoran dan air seni sapi yang diternakkan di belakang rumah tak terbuang percuma. Dia memanfaatkan dengan memfermentasikan air seni sapi dicampur buah-buahan.

"Buah kan kaya nutrisi. Saya percaya jika kita bisa mengambil manfaat dari nutrisi buah-buahan, maka nutrisinya bisa diambil untuk dijadikan pupuk. Sedangkan air seni hewan ternak dipercaya bisa menjadi zat pelindung tanaman," paparnya.

Hasilnya bisa terlihat, dia bisa mempertahankan panenan padi sawahnya delapan ton per hektar dengan penggunaan pupuk organik.

Hal yang sama dia lakukan saat membuat pestisida organik. Sofyan memanfaatkan tanaman di pekarangan rumahnya. Suatu ketika dilihatnya ada tanaman yang tak pernah terserang ulat. Daunnya beraroma bau bawang putih jika diremas-remas. Dari bau daun tersebut, Sofyan percaya ada kandungan di dalamnya yang membuat hama atau ulat pengganggu enggan memakannya.

"Sampai sekarang saya belum tahu apa tanaman ini, tetapi karena bunganya mirip bunga sakura seperti yang saya lihat di televisi, saya namakan daun tanaman ini daun sakura. Daun ini ikut saya campur dengan fermentasi air seni sapi," tuturnya.

Percobaan demi percobaan terus dilakukan lelaki kelahiran 18 Juni 1961 ini, untuk menyempurnakan pembuatan pupuk cair organik dan pestisida organiknya.

Dia memfermentasikan air seni sapi dicampur dengan daun mindi, bratawali, daun sakura, dan kulit jeruk untuk pestisidanya. Sudah empat kali musim tanam, pupuk cair organiknya diujicobakan. Hasilnya, menurut Sofyan, sangat memuaskan meski dia yakin pupuk cair organik racikannya jauh dari sempurna.

Pestisida organik yang dia buat sudah terbukti membuat hama, seperti wereng dan ulat, tak menyerang tanaman padinya. Tikus pun tak suka dengan bau pestisida yang dibuat Sofyan. Saat diujicobakan di tanaman palawija, kutu, ulat, dan ureng-ureng tak berani menyerang. Hanya hama penggerek batang yang masih belum bisa dimusnahkan dengan pestisida organik buatan Sofyan.

Petani peneliti

"Saya terus mencoba-coba formula baru untuk pestisida organik ini. Saya ini jadi kayak petani peneliti," ujar Sofyan sambil tersenyum. Pupuk cair organik dan pestisida buatannya kini sudah banyak dikenal. Beberapa temannya yang dulu sama-sama sekolah di SLPHT sering meminta pupuk cair organik dan pestisida buatan Sofyan.

Setelah hampir 20 tahun bertani, Sofyan kini bisa tersenyum. Jalan hidup yang dia ambil tak keliru. Jauh-jauh hari, dia sudah menginvestasikan semuanya. Anaknya yang pertama, Nur Aisah (16), dibekali dengan asuransi pendidikan; anak keduanya, Siti Halimah (12), dibekali dengan ternak sapi di belakang rumah; sedangkan anak bungsunya, Tria Silvia (6), tak bakal terbengkalai pendidikannya dengan dua hektar sawah yang jadi simpanan keluarga.

"Saya ini sudah telanjur jadi petani. Saya enggak percaya, orang jadi miskin gara-gara bertani. Kalau ada kemauan, sesungguhnya petani juga bisa sejahtera," katanya.

Sumber : Kompas, Kamis, 19 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks